Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

BAB II
PEMBAHASAN

Kas adalah satu-satunya akun yang termasuk dalam beberapa siklus. Kas merupakan
bagian dari setiap siklus kecuali persediaan dan pergudangan. Audit saldo kas merupakan
bidang audit terakhir yang dipelajari karena bukti yang diakumulasikan untuk saldo kas
sangat tergantung pada hasil pengujian di dalam siklus lain. Misal, apabila pemahaman
terhadap pengendalian intern dan pengujian pengeandalian serta pengujian substantif atas
transaksi dalam siklus perolehan dan pelunasan kembali modal menyebabkan auditor percaya
dan yakin bahwa layak untuk mengurangi risiko pengendalian yang ditetapkan, maka auditor
dapat mengurangi pengujian terinci atas saldo akhir kas. Akan tetapi, jika auditor
menyimpulkan bahwa risiko pengendalian yang ditetapkan harus lebih tinggi, maka pengujian
yang ekstensif pada akhir tahun diperlukan.
Sketsa kasus pada pembuka pembahasan ini memberikan satu contoh tentang akibat
yang terjadi jika auditor tidak hati-hati menetapkan risiko dalam pelaksanaan audit kas. Kas
itu penting diawasi karena sangat rentan terjadinya pencurian, dan kas juga sering disajikan
dengan salah sebagaimana dalam ilustrasi kasus Parmalat. Bagian pembahasan ini menyoroti
tentang kaitan kas di bank dengan siklus transaksi dan menjelaskan tes substantif atas saldo
kas.
Instrumen keuangan, termasuk investasi berupa hutang dan modal dalam bentuk surat-
surat berharga dan juga instrumen derivatif, berbeda signifikan antara klien yang satu dan
yang lain. Dari persentase kecil kepemilikan aset pada suatu perusahaan manufaktur hingga
persentase besar kepemilikan aset pada suatu institusi keuangan. Penilaian atas instrumen
keuangan bisa menjadi rumit karena adanya standar akuntansi yang harus dipatuhi. Untuk itu,
perlu melibatkan peran tenaga ahli terkait. Bagian ini membahas kategori investasi,
pengendalian relevan dan prosedur audit yang dirancang untuk menguji saldo instrumen
keuangan.

A. Jenis-jenis akun Kas

Pembahasan akan di awali dengan membahas jenis-jenis akun kas dan instrumen
keuangan yang biasa digunakan oleh banyak perusahaan. Penting untuk memahami jenis akun
kas yang berbeda-beda karena pendekatan audit untuk masing-masing jenis akun itu juga
berbeda-beda. Auditor lebih suka mempelajari berbagai jenis saldo kas dan instrumen
keuangan saat mereka sudah memeproleh pemahaman atas bisnis klien. Sewaktu memperoleh
pemahaman bisnis klien, auditor cenderung mempelajari macam-macam jenis saldo kas yang
ada. Misalnya, sewaktu mempelajari operasi di berbagai lokasi perusahaan, auditor mungkin
mendapatkan informasi tentang akun kas yang diselenggarakan di tingkat kantor pusat dan
kantor cabang. Berikut ini jenis akun-akun kas yang utama.

1. Akun Kas Umum (General Cash Account)


Bagi banyak entitas, akun kas umum merupakan titik perhatian utama dari akun kas
bagi karena sesungguhnya seluruh penerimaan dan pengeluaran kas melalui akun ini. Sebagai
contoh, pengeluaran untuk siklus akuisisi dan pembayaran normalnya dibayar dari akun ini,
sedangkan penerimaan kas dari siklus penjualan dan penagihan disetorkan ke dalam akun ini.
Selain itu, setoran dan pengeluaran untuk semua akun kas lainnya biasanya dilakukan melalui
akun kas umum.

2. Akun Impres/dibayar dimuka (Imprest Account)


Sebagai sarana memperbaiki pengendalian intern, banyak perusahaan menetapkan
akun bank impres yang terpisah untuk segala hal seperti pembayaran gaji karyawan atau akun
penerimaan kas terpisah dan akun pengeluaran untuk bank cabang. Dalam akun imprest, saldo
tetap, misalnya $5,000, ditempatkan pada akun bank terpisah, yaitu pada akun bank
penggajian sebagai imprest (dibayar dimuka). Segera sebelum setiap periode pembayaran,
selembar cek atau transfer secara elektronik ditarik dari akun kas umum guna menyetorkan
jumlah total gaji bersih ke dalam akun gaji. Setelah semua cek gaji dikliring ke akun gaji
imprest, akun bank harus memiliki saldo $5,000. Setoran yang terdapat dalam akun tersebut
hanya untuk gaji mingguan dan tengah bulanan, dan satu-satunya pengeluaran adalah
pembayaran kepada karyawan. Untuk perusahaan dengan banyak pegawai, penggunaan akun
gaji impres dapat memperbaiki pengendalian intern dan mengurangi waktu yang dibutuhkan
untuk merekonsiliasi akun-akun bank.
Jenis akun impres yang agak berbeda terdiri dari satu akun bangk untuk penerimaan
dan satu lagi untuk pengeluaran. Bisa saja terdapat beberapa akun tersebut pada divisi yang
berbeda dalam suatu perusahaan. Semua penerimaan disetorkan ke dalam akun impres, dan
total keseluruhannya ditransfer ke akun umum secara periodik. Akun pengeluaran disusun
pada imprest basis, tetapi dengan cara yang berbeda dari akun gaji impres. Suatu saldo yang
ditetapkan diselenggarakan dalam akun imprest, dan pegawai yang berwenang menggunakan
dana tersebut untuk pengeluaran sesuai kebijakannya sendiri, selama pembayaran tersebut
tidak bertentangan dengan kebijakan perusahaan. Ketika saldo kas telah habis, maka suatu
pengeluaran dilakukan ke akun pengeluaran imprest dari akun umum setelah pengeluaran
disetujui, biasanya melalui transfer online. Penggunaan akun bank imprest semacam ini dapat
memperbaiki pengendalian atas penerimaan dan pengeluaran kas. Banyak perusahaan yang
menggunakan akun bank imprest memiliki akses online ke banknya. Sehingga manajemen
dapat menggunakannya untuk memonitor saldo kas harian. Bilamana dana perlu ditransfer ke
akun umum untuk menutup pengeluaran, maka pegawai perusahaan yang menyetujui dapat
memprakarsai transfer elektronik itu melalui sistem online.

3. Akun Bank Cabang (Branch Bank Account)


Untuk perusahaan yang beroperasi di beberapa lokasi, sering dianjurkan untuk
memiliki saldo bank yang terpisah di setiap lokasi. Akun bank cabang bermanfaat untuk
membina hubungan dengan masyarakat di lingkungan sekitar perbankan sehingga dapat
memungkinkan pemusatan kegiatan di tingkat cabang.
Di beberapa perusahaan, setoran dan pengeluaran pada setiap cabang dilakukan
melalui akun bank terpisah, dan kelebihan kas secara periodik dikirim ke akun bank kantor
pusat. Akun bank dalam contoh ini hampir serupa dengan akun kas umum, tetapi pada tingkat
cabang.

4. Dana Kas Kecil Imprest (Imprest Petty Cash Fund)


Dana kas kecil imprest pada dasarnya bukan merupakan akun bank, tetapi hampir
serupa dengan kas di bank sehingga perlu dikelompokkan sebagai kas di bank. Akun kas kecil
seringkali berupa sejumlah kas yang telah ditentukan jumlahnya yang dipindahkan ke kotak
kas untuk digunakan jika ada beban insidental. Kas kecil digunakan untuk akuisisi secara
tunai bernilai kecil yang mana bisa dengan mudah dan cepat jika dibayar dengan kas daripada
dengan cek, atau untuk memudahkan karyawan dalam meng-uangkan cek-cek pribadi atau
cek gaji. Akun kas kecil ditetapkan dengan dasar yang sama dengan akun bank cabang
imprest, tetapi nilai pengeluarannya dilakukan dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Beban
yang lazim meliputi perlengkapan kantor bernilai kecil, perangko, makanan ringan untuk
pegawai. Akun kas kecil biasanya tidak melebihi beberapa ratus dolar dan tidak diisi ulang
lebih dari satu atau dua kali dalam sebulannya.
Banyak organisasi menggunakan pre-approved purchased card (dikenal dengan P-
cards) untuk melakukan pembelian menggantikan penggunakan dana petty cash. Kartu
belanja ini berfungsi seperti kartu kredit, tetapi terdapat pembatasan pada sejumlah jenis
barang dan jumlah pembelian yang dapat dilakukan.
5. Setara Kas (Cash Equivalent)
Perusahaan sering menginvestasikan kelebihan dana yang terkumpul selama bagian-
bagian tertentu dari siklus operasi yang akan dibutuhkan dalam waktu dekat (di masa
mendatang) dalam bentuk setara kas jangka pendek yang sangat likuid. Contohnya, deposito
berjangka, sertifikat deposito, dan sertifikat pasar uang. Setara kas yang mungkin sangat
material jumlahnya dimasukkan ke dalam laporan keuangan sebagai bagian dari akun kas
hanya jika bersifat investasi jangka pendek yang siap dikonversi menjadi kas, dan tidak ada
risiko perubahan nilai yang signifikan akibat perubahan suku bunga. Surat berharga yang
dipasarkan dan investasi berjangka panjang yang berbunga tidak dikelompokkan sebagai
setara kas.

Gambar 23-1 Hubungan Antara Kas Umum dengan Akun Kas Lain

Akun bank Cabang Akun gaji imprest


(Branch bank Account) (Imprest payroll Account)

Kas umum
(General Cash)

Dana Kas Kecil imprest


Setara Kas
(Imprest petty cash fund)
(cash equivalent)

6. Instrumen Keuangan
Akun instrumen keuangan, termasuk investasi, dalam perdagangan surat berharga
berupa hutang dan modal dalam bentuk surat-surat berharga, instrumen derivatif, dan aktivitas
hedging. Investasi pada instrumen keuangan dapat dikelompokkan menjadi perdagangan
sekuritas, sekuritas siap jual, atau sekuritas yang dimiliki-hingga-jatuh tempo. Sementara
derivatif dapat dikelompokkan menjadi asset atau kewajiban, sesuai dengan standar akuntansi
keuangan yang berlaku. Perusahaan dapat membeli sekuritas sebagai investasi jangka pendek
saat ada kelebihan kas atau berinvestasi pada instrumen keuangan derivatif dengan cara
hedging. Contohnya, perusahaan penerbangan akan berinvestasi dengan melakukan hedging
untuk pengadaan bahan bakar pesawat guna mencegah meningkatnya biaya bahan bakar.

B. Kas di Bank dan Siklus Transaksi

Pembahasan singkat mengenai hubungan antara kas di bank dengan siklus transaksi
lainnya mnuguhkan dua fungsi:
1. Menunjukkan pentingnya pengujian terhadap berbagai siklus transaksi pada audit kas.
2. membantu memahami lebih lanjut integrasi siklus transaksi yang berbeda-beda.
3.
Gambar 23-2 menggambarkan hubungan berbagai siklus transaksi, dengan akun kas
umum (Kas di Bank) sebagai fokus perhatian. Pembahasan Gambar 23-2 menunjukkan
mengapa akun kas umum dianggap signifikan dalam hampir seluruh audit bahkan sewaktu
saldo akhirnya tidak material. Jumlah kas yang mengalir masuk dan keluar dari akun kas
seringkali lebih besar dari jumlah pada akun lainnya yang terdapat dalam laporan keuangan.
Lebih jauh lagi, kas lebih mudah diselewengkan daripada jenis asset lainnya karena sebagian
besar asset harus dikonversi menjadi kas sebelum dapat dimanfaatkan.
Dalam audit kas, auditor harus bisa membedakan antara verifikasi rekonsiliasi saldo
pada rekening bank klien terhadap saldo dalam buku besar dan verifikasi apakah kas
dibukukan secara benar di dalam buku besar sehingga mencerminkan seluruh transaksi kas
yang terjadi selama tahun yang bersangkutan. Relatif lebih mudah memverfikasi rekonsiliasi
atas saldo klien dalam akun bank ke buku besar, tetapi bagian yang signifikan dari audit
menyeluruh terhadap perusahaan berkaitan dengan verifikasi apakah transaksi kas dibukukan
dengan benar. Misalnya setiap dari salah saji akhirnya mengakibatkan pembayaran yang tidak
layak atau gagal menerima uang tunai, tetapi sama sekali tidak akan ditemukan sebagai
bagian dari audit rekonsiliasi bank:
Gagal menagih pelanggan.
Menagih pelanggan dengan harga yang lebih rendah daripada yang ditetapkan oleh
kebijakan perusahaan.
Penggelapan kas dengan cara menahan hasil penerimaan kas dari pelanggan sebelum
dibukukan, dan akun itu dihapus sebagai piutang tak tertagih.
Pembayaran ganda atas satu faktur dari pemasok.
Pembayaran yang tidak seharusnya atas pengeluaran pribadi pejabat perusahaan.
Pembayaran untuk bahan baku yang tidak pernah diterima.
Pembayaran kepada karyawan dengan jumlah jam kerja melebihi seharusnya.
Pembayaran bunga ke pihak yang memiliki hubungan istimewa diatas suku bunga
yang berlaku saat ini.

Gambar 23-2 Hubungan Kas di Bank dan Siklus Transaksi

Siklus Perolehan dan Pelunasan Kembali Modal Siklus Perolehan dan


Pelunasan Kembali
(1)
Modal Saham Biasa Hutang Deviden
Hutang Usaha
Penarikan Penerbitan Pembayaran
Kembali Saham Dividen Pembayara
Saham
n

Tambahan Modal
disetor di atas pari
biasa
(1) Penarikan
Penerbitan
Kembali Saham
Saham

(1) Penurunan Kas

Siklus Penjualan dan Penerimaan Kas Siklus Perolehan dan


Pelunasan Kembali Modal
Penjualan Kotor Kas di
Upah, Gaji, Bonus dan
Penjualan Bank
Tunai Komisi terhutang
Saldo
Piutang Usaha Potongan awal Pembayaran
Penjualan Tunai
Tunai

Saldo Pemotongan pajak


Akhir penghasilan dan potongan
lainnya
Pembayaran

Beban pajak penghasilan


terutang

Pembayaran
Apabila salah saji di atas tidak ditemukan selama audit, maka temuan-temuan tersebut
harus melalui pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi. Dua jenis salah saji
di atas dapat dijumpai dalam audit siklus penjualan dan pengumpulan. Tiga yang berikutnya
dapat ditemukan pada audit siklus akuisisi dan pembayaran, serta dua yang terakhir masing-
masing dapat ditemui dalam pengujian siklus personalia dan penggajian, dan siklus akuisisi
modal dan pembayaran kembali.
Seluruh jenis salah saji yang berbeda dapat pada umumnya akan terungkap ketika
melakukan pengujian pengendalian atas rekonsiliasi bank. Misalnya:
Kegagalan memasukkan selembar cek yang belum dikliring bank ke daftar cek
beredar, walaupun sudah dicatat dalam buku pengeluaran kas.
Kas diterima oleh klien sesudah tanggal neraca tetapi dicatat sebagai pemerimaan kas
dalam tahun berjalan.
Setoran dicatat dalam buku kas mendekati akhir tahun, disetorkan ke bank dan
dimasukkan ke dalam rekonsiliasi bank sebagai setoran dalam perjalanan.
Pembayaran wesel wesel bayar didebet langsung ke saldo bank oleh bank tetapi tidak
dimasukkan ke dalam catatan klien.
Setoran diterima oleh bank atas nama perushaaan dari agen kartu kredit dan pemasok
lainnya yang melakukan pembayaran secara elektronik, tetapi tidak dibukukan ke
dalam catatan klien.

C. Audit Akun Kas Umum

Pada neraca saldo Hillsburg Hardware Co, hanya ada akun kas. Catatan, tetapi semua
siklus, kecuali persediaan dan pergudangan, mempengaruhi saldo kas di bank.
Dalam pengujian saldo akhir tahun akun kas umum, auditor harus mengumpulkan
bahan bukti yang cukup untuk mengevaluasi apakah kas, seperti dinyatakan dalam neraca,
telah dinyatakan secara wajar dan diungkapkan secara layak sesuai dengan lima dari delapan
tujuan audit terkait saldo yang digunakan untuk semua pengujian terinci atas saldo (existance,
completeness, accuracy, cut-off, dan detail tie-in). Hak terhadap kas umum, klasifikasinya
pada neraca dan nilai kas yang dapat direalisasi bukanlah masalah.
Gambar 23.3 Metodologi Pengujian Terinci Atas Saldo untuk Kas di Bank

Identifikasi risiko bisnis


klien yang mempengaruhi
Tahap I
Kas di Bank

Tentukan salah saji yang


dapat ditolerir dan menilai
Tahap I
risiko bawaan untuk Kas di
Bank

Menilai risiko pengendalian


Tahap I
untuk Kas di Bank

Merancang dan
melaksanakan pengujian
pengendalian dan pengujian Tahap II
substantif atas transaksi
untuk beberapa siklus

Merancang dan
melaksanakan prosedur
Tahap III
analitik untuk saldo Kas di
Bank

Merancang pengujian terinci Proses Audit


atas saldo Kas di Bank Besar Sample
untuk memenuhi tujuan Tahap III
Unsur yang dipilih
audit saldo terkait
Waktu

Siklus dipengaruhi mencakup penjualan dan


penerimaan kas, penggajian dan kepegawaian dan
peroleh dan perolehan dan pembayaran kembali
modal.

1. Berikut ini tahapan-tahapan dalam melakukan audit akun kas umum


Tahap I
a. Identifikasi Pengaruh Risiko Bisnis Klien terhadap Kas
Metodologi untuk audit kas akhir tahun pada hakikatnya sama dengan semua akun
neraca lainnya. Kebanyakan perusahaan cenderung tidak mempunyai risiko bisnis klien yang
signifikan mempengaruhi saldo kas. Tetapi, risiko bisnis klien dapat timbul dari kebijakan
pengelolaan kas atau pengelolaan dana dipercayakan pada pihak lain. Misalnya, satu
perusahaan jasa keuangan baru-baru ini diketahui terlibat dalam kecurangan yang dengan
sengaja menarik saldo kas dalam jumlah signifikan.
Risiko bisnis klien lebih cenderung muncul dari setara kas dan jenis investasi lainnya.
Kaitan antara risiko bisnis klien dengan investasi akan dibahas secara lengkap pada bagian
selanjutnya, audit akun instrumen keuangan. Auditor harus memahami risiko dari strategi dan
kebijakan investasi klien, demikian pula pengendalian manajemen yang mengurangi dampak
buruk dari risiko tersebut.
b. Menetapkan Salah Saji yang Dapat Ditolerirdan Menetapkan Risiko Bawaan.
Saldo kas tidak material dalam kebanyakan audit, tetapi transaksi kas yang
mempengaruhi neraca hampir selalu sangat material. Oleh karena itu, seringkali terjadi
potensi salah saji kas yang material. Karena kas mudah diselewengkan atau rawan pencurian
dibandingkan dengan aset. Terdapat risiko bawaan menyangkut tujuan audit keberadaan,
kelengkapan dan keakuratan. Tujuan-tujuan tersebut biasanya menjadi fokus dalam audit
saldo kas. Biasanya, risiko inhern rendah untuk semua tujuan audit lainnya.
c. Menetapkan risiko Pengendalian
Pengendalian internal atas saldo kas akhir tahun di dalam akun umum dapat dibagi
menjadi dua kategori:
1. Pengendalian atas siklus transaksi yang mempengaruhi pembukuan penerimaan
kas dan pengeluaran kas.
2. Rekonsiliasi bank independen
Pengendalian yang mempengaruhi pembukuan transaksi kas telah dibahas dalam
pembahasan terdahulu. Pengendalian tersebut penting dalam penetapan risiko pengendalian
untuk kas. Contohnya dalam siklus akuisisi/perolehan dan pembayaran, pengendalian utama
mencakup pemisahan tugas yang memadai antara fungsi otorisasi cek dan fungsi utang usaha.
Penandatangan cek hanya oleh orang yang berwenang. Penggunaan cek diberikan nomor-
nomor tercetak terlebih dahulu yang dicetak pada kertas khusus. Pengendalian yang memadai
atas blanko cek dan cek yang dibatalkan, penelaahan yang cermat atas dokumentasi
pendukung oleh penandatangan cek sebelum cek ditandatangani. Pengendalian yang memadai
atas inisiasi dan persetujuan transfer dana melalui kawat/elektronik, dan verifikasi intern yang
mencukupi. Jika pengendalian yang mempengaruhi transaksi yang berkaitan dengan kas telah
berjalan efektif, pengujian audit untuk rekonsiliasi bank akhir tahun dapat dikurangi.
Rekonsiliasi bank bulanan terhadap akun bank umum secara tepat waktu oleh
dilakukan oleh seseorang yang menangani atau membukukan penerimaan dan pengeluaran
kas merupakan pengendalian yang esensial atas saldo kas. Perusahaan yang memiliki saldo
kas yang signifikan dan transaksi kas dalam volume besar dapat melakukan rekonsiliasi kas
secara harian dengan pembukuan online banking. Jika perusahaan menangguhkan penyiapan
rekonsiliasi bank untuk perode yang lama, nilai pengendalian itu akan berkurang sehingga
dapat mempengaruhi penilaian auditor atas risiko pengendalian kas. Rekonsiliasi itu penting
untuk memastikan bahwa saldo kas pembukuan mencerminkan jumlah yang sama dengan
jumlah kas di bank aktual (saat itu juga), setelah mempertimbangkan unsur yang
direkonsiliasi. Tetapi bahkan yang lebih penting, rekonsiliasi independen memberikan
kesempatan untuk verifikasi internal terhadap transaksi penerimaan dan pengeluaran kas. Jika
rekening koran diterima dalam keadaan tertutup oleh yang melakukan rekonsiliasi, maka
pengendalian fisik diselenggarakan atas laporan sampai rekonsiliasi selesai, meng-copy cek
yang dibatalkan, menggandakan bukti setoran, dan dokumen lainnya yang tercakup dalam
laporan itu dapat diperiksa tanpa adanya kekhawatiran terhadap kemungkinan pengubahan,
penghapusan, atau penambahan.
Rekonsliasi yang cermat oleh pegawai klien yang kompeten mencakup hal-hal berikut:
Bandingkan cek-cek yang dibatalkan dengan jurnal pengeluaran kas mengenai
tanggal, penerima dan jumlah.
Periksa cek-cek yang dibatalkan mengenai tanda tangan, pemberian cap stempel dan
pembatalan.
Bandingkan setoran di bank dengan penerimaan kas yang dibukukan mengenai
tanggal, pelanggan dan jumlah.
Telitilah urutan nomor cek, dan selidiki cek yang hilang.
Rekonsiliasi semua pos yang menimbulkan perbedaan antara saldo buku dan saldo
bank serta verifikasi penyebabnya.
Rekonsiliasi total debet rekening koran dengan total pada jurnal pengeluaran kas.
Rekonsiliasi total kredit rekening koran dengan total pada jurnal penerimaan kas.
Telaah transfer antar bank pada akhir tahun mengenai kelayakan dan ketepatan
pembukuannya.
Tindak lanjuti secara periodik cek-cek yang masih beredar dan pemberitahuan
pembatalan pembayaran.
Kebanyakan software akuntansi memasukkan rekonsiliasi bank sebagai bagian dari
prosedur akhir bulan. Walaupun software tersebut mengurangi aktifitas klerikal dalam
melaksanakan rekonsiliasi bank, perekonsiliasi masih perlu melakukan sebagian besar
prosedur yang tercantum diatas. Pengendalian atas rekonsiliasi bank akan bertambah baik jika
ada pegawai kompeten yang meninjau kembali rekonsiliasi bulanan sesegera mungkin setelah
penyelesaian.

Tahap II:
Merancang dan Melaksanakan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas
Transaksi.
Saldo kas dipengaruhi oleh seluruh siklus lainnya kecuali inventory dan pergudangan,
karena itu hampir seluruh transaksi akan berpengaruh pada kas. Pengujian pengendalian dan
pengujian substantif yang memadai sudah dibahas secara rinci dalam beberapa bab
sebelumnya seperti audit atas setiap siklus. Contohnya pengendalian atas penerimaan kas
pada audit siklus penjualan dan penagihan, pengendalian atas pengeluaran kas pada audit
siklus akuisisi dan pembayaran. Transaksi kas dalam setiap siklus ini pasti dilakukan
pengujian audit.

Tahap III:
a. Merancang dan Melaksanakan Prosedur Analitik
Dalam banyak audit rekonsiliasi bank akhir tahun dilakukan dengan audit yang
ekstensif. Karena itu, penggunaan prosedur analitik untuk menguji kelayakan saldo kas
kurang penting dibandingkan dengan kebanyakan audit lainnya. Sudah umum bagi auditor
untuk membandingkan saldo akhir atas rekonsiliasi bank, setoran yang masih dalam
perjalanan, cek yang beredar, dan unsur rekonsiliasi lainnya dengan rekonsiliasi tahun
sebelumnya. Demikian pula, auditor biasanya membandingkan saldo kas akhir dengan saldo
bulan sebelumnya. Prosedur analitik tersebut mungkin tidak dapat mengungkap salah saji
dalam kas.

b. Merancang Pengujian Terinci atas Saldo Kas


Titik awal verifikasi saldo akun bank umum adalah memperoleh rekonsiliasi bank dari
klien untuk dimasukkan ke dalam kertas kerja auditor. Gambar 23-4 menunjukkan rekonsiliasi
bank setelah klien melakukan penyesuaian saldo akun. Perhatikan bagian bawah pada gambar
skedul audit. Itu merupakan saldo setelah penyesuaian dalam general ledger, yang mana
merupakan saldo yang harus muncul dalam laporan keuangan. Auditor harus menentukan
bahwa klien telah membuat penyesuaian seperti pada bagian bawah Gambar 23-4 jika
penyesuaian itu material.
Dalam mengaudit kas di bank, auditor perlu memverifikasi apakah rekonsiliasi bank
yang diterima dari klien sudah benar. Tujuan audit terkait saldo dan pengujian umum atas
rincian saldo pada audit akun kas disajikan pada Tabel 23-1. Tujuan audit yang sangat penting
tersebut adalah keberadaan, kelengkapan dan keakuratan. Karena adanya hubungan erat
dalam audit kas akhir tahun, keberadaan kas yang tercatat di bank, keakuratan, dan
dimasukkannya kas yang ada (kelengkapan) semuanya digabungkan. Ketiga tujuan ini
merupakan yang paling penting bagi kas dan karena itu perlu mendapat perhatian yang paling
besar. Melengkapi tujuan audit berkaitan dengan saldo kas, auditor juga perlu melakukan
pengujian terkait empat tujuan penyajian dan pengungkapan. Seperti meninjau kembali
catatan dan perjanjian pinjaman guna menjelaskan jika ada pembatasan kas yang harus
diungkapkan. Sebagaimana dalam bidang audit lainnya, prosedur audit aktual tergantung pada
materialitas dan pada risiko yang telah diidentifikasikan oleh auditor dalam bagian audit yang
berkaitan dengan kas.

Tabel 23-1 Tujuan Audit Terkait-Saldo dan Pengujian Terinci atas


Saldo untuk Kas Umum di Bank
Tujuan Audit Terkait Saldo Prosedur Terinci atas Saldo Komentar
Umum
Kas di Bank seperti yang - Jumlahkan daftar cek Pengujian-pengujian tersebut
dinyatakan pada rekonsiliasi yang beredar dan setoran dilakukan secara keseluruhan
bank penjumlahannya benar dalam perjalanan. pada rekonsiliasi bank,
dan cocok dengan buku besar - Buktikan rekonsiliasi dengan mengacu ke dokumen
(kecocokan rincian) bank mengenai atau catatan lain selain buku

penambahan, besar.

pengurangan, termasuk
semua pos-pos yang
dibukukan.

- Telusuri saldo buku pada


rekonsiliasi ke buku besar.
Kas yang ada di bank nyata - Penerimaan dan pengujian Ini merupakan tiga tujuan
adanya sebagaimana yang konfirmasi bank. terpenting atas kas di bank.
dinyatakan pada rekonsiliasi Prosedur itu dikombinasikan
bank (keberadaan). Kas yang - Penerimaan dan pengujian karena erat
ada di bank dibukukan mengenai rekening koran ketergantungannya satu sama
(kelengkapan). Kas di bank pisah batas. lain. Tiga prosedur terakhir
jumlahnya akurat - Pengujian rekonsiliasi harus dilakukan hanya jika
sebagaimana yang bank. Buktikan kas. pengendalian intern lemah.
dinyatakan pada rekonsiliasi
- Pengujian atas kitting.
(akurasi)
Transaksi penerimaan kas Penerimaan Kas Bilamana penerimaan kas
dan pengeluaran kas - Hitung kas yang ada pada yang diterima setelah
dibukukan ke dalam periode hari terakhir dari akhir akhir tahun dimasukkan
yang semestinya (pisah batas) tahun kemudian telusuri ke dalam jurnal, akan

ke setoran dalam muncul posisi kas yang

perjalanan dan jurnal lebih baik dari

penerimaan kas. sebenarnya. Disebut juga


jurnal pengeluaran
- Telusuri setoran dalam
kepemilikan terbuka.
perjalanan ke rekening
Kepemilikan terbuka atas
koran periode berikutnya
pengeluaran kas
(rekening koran pisah
mengurangi hutang usaha
batas)
dan biasanya
Pengeluaran Kas
melebihsajikan rasio
- Bukukan nomor cek lancar.
terakhir pada hari terakhir
Prosedur pertama yang
saat akhir tahun,
didaftar guna pengujian
kemudian telusuri ke cek
pisah batas penerimaan
yang beredar dan jurnal
dan pengeluaran
pengeluaran kas.
membutuhkan kehadiran
- Telusuri cek yang beredar auditor dengan
ke rekening koran periode persetujuan klien pada
berikutnya. akhir hari terakhir tahn
bersangkutan.
Kas di bank disajikan dan - Periksa notulen rapat, Contoh pembatasan atas
diungkapkan dengan perjanjian pinjaman, dan penggunaan kas yaitu kas
semestinya (penyajian dan dapatkan konfirmasi yang disetorkan ke agen
pengungkapan) mengenai pembatasan atas untuk pembayaran bunga
pengggunaan kas dan hipotek dan pajak atas hasil
saldo yang dari hipotek bangunan. Saldo
dikompensasikan. kompensasi yaitu perjanjian

- Telaah laporan keuangan klien dengan banj untuk

unuk memastikan: (a) menyelenggarakan minimum

rekening tabungan dan tertentu dalam akn gironya.

setoran sertifikat, (b) kas


yang dibatasi untuk
penggunaan tertentu dan
saldo yang
dikompensasikan
diungkapkan dengan
semestinya. (c) cerukan
bank (bank overdraft)
dimasukkan sebagai
hutang lancar.

Tiga tujuan audit berikut layak mendapatkan pembahasan tambahan karena arti
penting dan kerumitannya: menerima konfirmasi bank, menerima laporan cut-off bank dan
pengujian rekonsiliasi bank.
2. Penerimaan Konfirmasi Bank
Konfirmasi bank tidaklah wajib bagi audit atas entitas non-publik atau dibawah
standar audit internasional. Tetapi, biasanya auditor memperoleh bukti konfirmasi dari setiap
bank atau lembaga keuangan lainnya yang melakukan bisnis dengan klien, kecuali jika ada
sejumlah luar biasa besar akun tidak aktif. Jika bank tidak merespon permintaan konfirmasi,
auditor dapat mengirim permintaan kedua atau mengajak klien agar menghubungi pihak bank
untuk meminta mereka agar menyiapkan dan memberikan konfirmasi itu kepada auditor.
Untuk memudahkan auditor dan juga bankir yang diminta menyiapkan konfirmasi bank,
AICPA telah menyetujui penggunaan formulir konfirmasi bank standar. Gambar 23-5
merupakan ilustrasi mengenai sebuah formulir konfirmasi standar yang lengkap. Formulir
tersebut dinamakan formulir standar untuk mengkonfirmasi informasi saldo akun dengan
saldo akun pada lembaga keuangan. Formulir standar ini sudah disepakati oleh AICPA dan
American Banker Association. Konfirmasi bank seringnya dikirim dalam bentuk data
elektronik melalui pihak ketiga yang ditunjuk sebagai perantara.
Pentingnya konfirmasi bagi audit meluas tidak hanya sekedar verifikasi atas saldo kas
aktual. Menjadi kelaziman bahwa bank mengkonfirmasi informasi pinjaman dan saldo bank
dengan formulir yang sama. Konfirmasi pada Gambar 23-5 menunjukkan tiga pinjaman yang
beredar. Informasi atas pinjaman ke bank untuk wesel, hipotek, dan utang lainnya biasanya
meliputi jumlah pinjaman, tanggal pinjaman, tanggal jatuh tempo, tingkat bunga, dan
keberadaan jaminan.
Bank tidak bertanggung jawab untuk mencari catatan mengenai saldo bank atau
pinjaman yang terdapat di luar formulir klien dari kantor akuntan publik itu. Pernyataan yang
sebelum bagian paling bawah formulir itu mewajibkan bank untuk menginformasikan kepada
Kantor Akuntan Publik mengenai setiap pinjaman yang tidak terdapat dalam konfirmasi tetapi
dengan sepengetahuan bank. Akibat dari keterbatasan tanggung jawab ini mengharuskan
auditor untuk mencari sendiri segala hal tentang tujuan kelengkapan atas saldo bank dan
pinjaman yang tidak tercatat dengan cara lain. Begitu pula, bank diharapkan tidak memberi
tahu auditor mengenai batas dan syarat kredit, persyaratan saldo yang dikompensasi, atau
kewajiban bersyarat untuk menjaminkan pinjaman ke pihak lain. Jika auditor ingin
mengkonfirmasi jenis informasi ini, konfirmasi terpisah untuk menyelesaikan masalah yang
menjadi perhatian itu harus diperoleh dari lembaga keuangan.
Setelah konfirmasi bank diterima, saldo dalam akun bank yang dikonfirmasikan oleh
bank harus ditelusuri ke jumlah yang dinyatakan pada rekonsiliasi bank. Demikian pula
semua informasi yang lain pada rekonsiliasi harus ditelusuri ke skedul audit yang relevan.
Dalam kasus apapun, jika informasi tidak cocok, harus dilakukan investigasi atas perbedaan
itu.
3. Penerimaan Rekening Koran pada Titik Pisah-Batas (Cut-off)
Laporan Bank Pisah-Batas adalah laporan bank untuk sebagian periode beserta cek
yang dibatalkan, duplikat slip setoran, dan dokumen terkait lain yang termasuk ke dalam
laporan bank yang dikirim oleh bank secara langsung ke kantor akuntan publik. Tujuan
rekening koran pisah-batas yaitu untuk memverifikasi pos-pos rekonsiliasi pada rekonsiliasi
bank klien pada akhir tahun dengan bahan bukti yang tidak dapat diakses oleh klien. Untuk
memenuhi tujuan ini, auditor meminta klien agar bank mengirimkan langsung rekening koran
ke auditor pada hingga 10 hari sesudah tanggal neraca.
Banyak auditor memverifikasi rekening koran pada periode berikutnya jika laporan
pisah-batas tidak diterima langsung dari bank. Tujuan verifikasi ini yaitu untuk menguji
apakah pegawai klien menghilangkan, menambahkan, atau merubah salah satu dokumen yang
melampiri rekening koran. Jelaslah ini merupakan pengujian atas salah saji yang disengaja.
Auditor melaksanakan verifikasi pada bulan setelah tanggal neraca:
Menjumlahkan semua cek yang dibatalkan, memo debet, setoran, dan memo kredit.
Memverifikasi laporan saldo bank apabila menggunakan penjumlahan ke bawah.
Menelaah pos-pos dalam penjumlahan untuk memastikan bahwa semuanya telah
dibatalkan oleh bank dalam periode yang sesuai dan tidak termasuk penghapusan atau
pengubahan.

4. Pengujian atas Rekonsiliasi Bank


Seperti yang dinyatakan sebelumnya, rekonsiliasi bank independen yang dipersiapkan
dengan baik merupakan pengendalian intern yang esensial atas kas. Alasan pengujian
rekonsiliasi bank adalah untuk menentukan apakah pegawai klien telah mempersiapkan
rekonsiliasi bank dengan seksama dan untuk memverifikasi apakah saldo klien yang
dibukukan bank berjumlah sama dengan jumlah yang seharusnya yang ada di bank kecuali
setoran dalam perjalanan, cek yang beredar, dan pos-pos rekonsiliasi lain.
Dalam memverifikasi rekonsiliasi, auditor menggunakan informasi pada laporan
rekening koran cut-off bank untuk memverifikasi kelayakan item-item yang direkonsiliasi.
Beberapa prosedur auditor dalam memverifikasi rekonsiliasi:
Verifikasi bahwa rekonsiliasi bank klien secara matematis telah akurat.
Telusuri saldo pada konfirmasi bank dan atau saldo awal pada laporan cut-off juga
saldo per bank pada rekonsiliasi bank untuk memastikan apakah telah sama.
Telusuri cek-cek yang sudah ditulis sebelum akhir tahun dan termasuk dengan laporan
cut-off bank ke daftar cek yang beredar pada rekonsiliasi bank dan ke jurnal
pengeluaran kas dalam periode tertentu atau periode sebelum tanggal neraca. Semua
cek-cek yang dikliringkan bank setelah tanggal neraca dan sudah termasuk ke dalam
jurnal pengeluaran harus dimasukkan ke daftar cek yang beredar. Seandainya cek
dimasukkan ke dalam jurnal pengeluaran kas, maka harus dikelompokkan sebagai cek
yang beredar jika belum diselesaikan sebelum tanggal neraca. Demikian pula jika cek
dikliring kan bank sebelum tanggal neraca, maka tidak boleh dimasukkan ke dalam
rekonsiliasi bank.
Investigasi semua cek-cek dengan jumlah signifikan yang termasuk ke dalam daftar
cek yang beredar yang belum dikliring pada laporan cut-off. Langkah pertama dalam
investigasi ini adalah dengan menelusuri jumlah suatu pos yang belum selesai ke
jurnal pengeluaran kas. Alasan mengapa cek tersebut belum diuangkan harus dibahas
dengan klien, dan jika auditor tertarik dengan kemungkinan adanya kecurangan, saldo
hutang klien pemasok harus ditegaskan untuk menetapkan apakah pemasok telah
mengakui penerimaan kas tersebut dalam pembukuannya. Disamping itu, cek-cek
yang telah diuangkan harus diteliti sebelum hari terakhir jika cek-cek itu tersedia.
Sebagai tambahan, kopian atau akses ke gambar digital atas cek yang dibatalkan harus
diperiksa sebelum hari terakhir audit jika cek tersebut memang tersedia.
Telusuri setoran dalam perjalanan ke laporan berikutnya. Seluruh penerimaan kas yang
belum disetorkan ke bank pada akhir tahun harus ditelusuri ke laporan bank cut-off
untuk meyakinkan bahwa semuanya disetorkan segera setelah awal tahun baru.
Hitung semua pos rekonsiliasi lainnya dalam rekening koran bank dan rekonsiliasi
bank. Pos-pos tersebut meliputi pos-pos seperti beban jasa bank, kesalahan dan
koreksi bank, dan transaksi wesel belum tercatat yang didebet atau dikredit secara
langsung ke rekening bank oleh bank. Pos-pos penyesuaian harus diselidiki dengan
cermat untuk memastikan bahwa semuanya telah diperlakukan dengan baik oleh klien.

Gambar 23-6 mengilustrasikan bagaimana jenis-jenis pengujian audit digunakan untuk


mengaudit akun kas umum. Amati pada gambar, tampak bahwa pengujian pengendalian,
pengujian substantif atas transaksi dan prosedur analitis telah selesai dilaksanakan untuk
setiap siklus transaksi yang berkaitan dengan akun kas.

Gambar 23-6 Jenis Pengujian Audit yang Digunakan Untuk Kas Umum
Kas di Bank
Saldo Awal
Peneriman Kas Pengeluaran Kas

Diaudit oleh TOC-T, Diaudit oleh TOC-T,


STOT, dan AP STOT, dan AP

Saldo Akhir

Diaudit oleh TOC-B,


AP dan TDB

Uji Uji Uji Prosedur Uji Bukti


Pengendalian Pengendalian substantif Analitik terinci cukup
dalam siklus atas atas (AP) atas kompete
+ + transaksi + + saldo = n
transaksi * rekonsiliasi
(STOT) (TDB) menurut
(TOC-T) bank (STOT-B) SPAP)

** Pengujian pengendalian dalam siklus transaksi, pengujian substantif atas transaksi,


dan prosedur analitik dilakukan untuk empat siklus transaksi yang termsuk di dalam
Gambar 22-1. Pengujian yang utama atas saldo akhir adalah pengujian terinci atas
saldo.

D. Prosedur Berorientasi Kecurangan


Pertimbangan utama dalam audit saldo kas umum adalah kemungkinan terjadinya
kecurangan. Auditor harus memperluas prosedur audit kas akhir tahun guna menentukan
kemungkinan kecurangan yang material bilamana terdapat pengendalian intern yang tidak
memadai, khususnya pemisahan tugas yang semestinya antara penanganan kas dan
pembukuan transaksi kas dalam catatan akuntansi.
Dalam merancang prosedur audit guna menemukan kecurangan, auditor harus dengan
hati-hati mempertimbangkan kelemahan pada lingkungan pengendalian internal, jenis
kecurangan yang mungkin diakibatkan oleh kelemahan, potensi materialitas kecurangan dan
prosedur audit yang paling efektif dalam menemukan kecurangan.
Bilamana auditor secara khusus menguji untuk menemukan kecurangan, mereka dapat
mempertimbangkan bahwa prosedur audit selain uji rincian saldo kas dapat digunakan.
Prosedur guna menemukan kecurangan pada penerimaan kas meliputi:
Konfirmasi piutang usaha
Lakukan pengujian untuk mendeteksi adanya lapping (tumpang tindih)
Periksa kembali jurnal pada buku besar dalam akun kas untuk pos-pos yang luar biasa
Membandingkan pesanan pembelian pelanggan dengan penjualan dan penerimaan kas
yang menyertainya
Pemeriksaan persetujuan dan dokumen pendukung untuk piutang tak tertagih dan
pencadangan serta retur penjualan
Pengujian serupa dapat digunakan untuk pengujian atas kemungkinan adanya kecurangan
dalam pengeluaran kas.
Bahkan dengan prosedur yang berorientasi kecurangan terperinci sekalipun, sangatlah
sulit untuk mendeteksi kecurangan, khususnya pencurian kas, penghilangan dan pengabaian
transaksi dan saldo akun. Jika misalkan perusahaan mempunyai akun kas luar negeri yang
tidak legal dan melakukan setoran ke akun tersebut dari penjualan yang tidak dibukukan ,
auditor cenderung tidak akan menemukan kecurangan. Bagaimanapun juga, auditor
bertanggung jawab atas segala usaha untuk mendeteksi kecurangan bilamana auditor memiliki
alasan untuk mempercayai bahwa kecurangan itu mungkin ada.

Berikut prosedur untuk menemukan kecurangan yang terkait langsung dengan saldo kas akhir
tahun:
a. Pengujian yang Diperluas atas Rekonsiliasi Bank
Bilamana auditor percaya bahwa rekonsiliasi bank akhir tahun mungkin disalahsajikan
dengan sengaja, maka layak melakukan pengujian yang diperluas atas rekonsiliasi akhir
tahun. Tujuan prosedur pengujian yang diperluas yaitu untuk memverifikasi apakah semua
transaksi yang termasuk di dalam jurnal akhir bulan pada tahun yang bersangkutan benar-
benar termasuk atau tidak termasuk di dalam rekonsiliasi bank dan untuk memverifikasi
apakah semua pos pada rekonsiliasi bank telah dimasukkan dengan benar. Asumsikan bahwa
kelemahan pengendalian internal klien cukup material dan akhir tahun yang digunakan klien
adalah 31 Desember. Dengan menggunakan pendekatan umum, maka auditor harus
melakukan:
1. Memulai dengan rekonsiliasi bank untuk bulan November dan membandingkan seluruh
pos rekonsiliasi itu dengan cek yang dibatalkan dan dokumen lain dalam rekonsiliasi
bank bulan Desember.
2. Membandingkan seluruh sisa cek yang dibatalkan dan slip setoran dalam rekening koran
dengan pengeluaran kas dan jurnal penerimaan bulan Desember.
3. Semua pos yang belum selesai dalam rekening koran bulan November serta jurnal
pengeluaran kas dan penerimaan bulan Desember harus dimasukkan ke dalam rekonsiliasi
bank klien 31 Desember.
4. Semua pos yang direkonsiliasi dalam rekonsiliasi 31 Desember harus merupakan pos-pos
rekonsiliasi bank bulan November dan jurnal bulan Desember yang belum diselesaikan
oleh bank.
Disamping pengujian yang baru diuraikan, auditor juga harus melaksanakan prosedur
akhir tahun dengan menggunakan laporan cut-off bank. Pengujian-pengujian tersebut akan
dilaksanakan dalam cara yang sama seperti yang dibahas sebelumnya.

b. Pembuktian Kas
Terkadang auditor menyiapkan pembuktian kas jika klien memiliki kelemahan yang material
pada pengendalian intern kas. Auditor menggunakan pembuktian kas untuk menentukan
apakah hal-hal berikut telah dilakukan:
Semua penerimaan kas yang dibukukan telah disetor
Semua setoran di bank dibukukan ke dalam catatan akuntansi
Semua pengeluaran kas dibayarkan oleh bank
Semua jumlah yang telah dibayarkan oleh bank sudah dibukukan
Pembuktian kas mencakup hal-hal berikut:
Rekonsiliasi saldo pada rekening koran terhadap saldo buku besar pada awal periode
pembuktian kas.
Rekonsiliasi penerimaan kas yang disetorkan terhadap jurnal penerimaan kas pada
periode tertentu.
Rekonsiliasi cek yang dibatalkan yang dikliring bank terhadap jurnal pengeluaran kas
periode tertentu.
Rekonsiliasi saldo pada rekening koran terhadap saldo buku besar pada akhir periode
pembuktian kas.

Pembuktian kas semacam itu biasa disebut pembuktian kas empat kolom yang mana
satu kolom digunakan untuk setiap jenis informasi yang disebutkan di atas. Pembuktian kas
dapat dilaksanakan untuk satu bulan (interim-month) atau lebih, satu tahun keseluruhan, atau
bulan terakhir pada tahun tertentu. Fokus perhatian pada penyusunan pembuktian kas bulan
tertentu (interim-month), sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 23-7, tidak dengan saldo kas
akhir. Sebaliknya, fokus auditor ada pada rekonsiliasi jumlah pencatatan menurut buku
dengan termasuk jumlah menurut laporan bank.
Sewaktu pembuktian kas dilakukan, auditor menggabungkan pengujian substantif atas
transaksi dan pengujian terinci atas saldo. Misalnya pembuktian penerimaan kasnya adalah
dengan pengujian transaksi yang dibukukan, padahal rekonsiliasi banknya adalah pengujian
saldo kas pada pada waktu tertentu. Pembuktian kas merupakan metode yang sangat bagus
untuk membandingkan penerimaan dan pengeluaran yang tercatat dengan rekening bank, dan
dengan rekonsiliasi bank. Akan tetapi auditor harus mengakui bahwa pembuktian pengeluaran
kas tidak bermanfaat untuk mengungkapkan cek yang ditulis dengan jumlah yang salah, cek-
cek yang tidak sah, atau kesalahan-kesalahan lain dimana jumlah nilai uangnya tidak benar.
Begitu pula pembuktian kas tidak membantu untuk menemukan pencurian penerimaan kas
atau pencatatan dan penyetoran kas yang tepat.

c. Pengujian atas Transfer Antar Bank


Para penyeleweng kadang-kadang menutupi kecurangan kas dengan cara yang disebut
kitting. Yaitu mentransfer uang dari bank tertentu ke bank lain dan membukukan transaksi
itu secara tidak tepat. Mendekati tanggal neraca, ditarik selembar cek dari satu rekening bank
dan segera disetorkan ke rekening bank kedua untuk dikreditkan sebelum akhir periode
akuntansi. Dalam melakukan transfer ini, penyeleweng dengan seksama mengupayakan agar
cek disetorkan dengan lambat sehingga tidak dapat dikliring oleh bank pertama sampai
setelah akhir periode. Dengan asumsi bahwa transfer tersebut tidak dicatat sebelum lewatnya
tanggal neraca, jumlah transfer tersebut akan dibukukan sebagai aset pada kedua bank
tersebut. Walaupun masih ada cara lain untuk melakukan kecurangan ini, masing-masing
melibatkan sarana utama berupa menaikkan saldo bank untuk menutup kekurangan dengan
menggunakan transfer antar bank.
Untuk melakukan pengujian kitting, dan juga kesalahan-kesalahan yang tak
disengaja dalam pencatatan transfer antar bank, auditor dapat membuat daftar seluruh transfer
antar bank yang dibuat beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal neraca serta menelusuri
masing-masing ke catatan akuntansi untuk memastikan apakah dicatat dengan semestinya.
Gambar 23-8 menunjukkan skedul transfer antar bank dengan empat transfer antar bank
dilakukan segera sebelum dan sesudah tanggal neraca. Ada beberapa hal yang harus diaudit
pada skedul transfer antar bank:
Akurasi informasi mengenai skedul transfer antar bank harus diverifikasi.
Auditor harus membandingkan informasi penerimaan dan pengeluaran pada skedul itu
ke catatan akuntansi pengeluaran kas dan penerimaan kas untuk memastikan bahwa
hal itu telah akurat. Selain itu, tanggal pada skedul untuk transfer yang diterima dan
dikeluarkan harus dibandingkan dengan rekening koran. Akhirnya, catatan
pengeluaran dan penerimaan kas harus diperiksa guna memastikan bahwa semua
transfer beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal neraca telah dimasukkan dalam
skedul itu. Penjelasan tanda telah dicek (tick-mark) pada skedul dalam Gambar 23-8
menunjukkan bahwa langkah-langkah ini telah diambil.
Transfer antar bank harus dibukukan baik ke bank masuk maupun ke bank keluar.
Misalnya, jika terdapat transfer $10,000 dari Bank A ke Bank B tetapi hanya
dibukukan pengeluaran saja, maka bukti ini merupakan usaha untuk menyembunyikan
pencurian kas.
Tanggal pembukuan pengeluaran dan penerimaan untuk setiap transfer harus berada
dalam tahun fiskal yang sama.
Dalam Gambar 23-8, tanggal dalam dua kolom tanggal dibukukan ke dalam buku
[(4) dan (7)] adalah pada periode yang sama untuk setiap transfer. Karena itu,
keduanya benar. Jika penerimaan kas tertentu dibukukan ke dalam tahun fiskal yang
sama dan pengeluaran dibukukan ke dalam tahun fiskal berikutnya, hal ini merupakan
upaya menutupi kekurangan kas.
Pengeluaran pada skedul transfer antar bank harus dimasukkan atau tidak
dimasukkan dengan benar dari rekonsiliasi bank akhir tahun sebagai cek yang
beredar.
Dalam Gambar 23-8, rekonsiliasi bank 31-12-13 untuk akun kas umum harus
memasukkan cek yang beredar untuk transfer yang kedua dan transfer yang ketiga
tetapi tidak untuk dua yang lainnya. [Bandingkan tanggal dalam kolom (4) dan (5)].
Pemahaman mengenai cek yang beredar pada rekonsiliasi bank menunjukkan
kemungkinan kitting.
Penerimaan pada skedul transfer antar bank harus dimasukkan atau tidak
dimasukkan dengan benar dari rekonsiliasi bank akhir tahun sebagai setoran dalam
perjalanan.
Dalam Gambar 23-8, rekonsiliasi bank 31-12-13 untuk akun tabungan dan akun
penggajian harus menunjukkan setoran dalam perjalanan untuk transfer yang ketiga
dan bukan untuk tiga yang lainnya. [Bandingkan tanggal untuk setiap transfer dalam
dua kolom terakhir]. Kelebihan menyatakan setoran dalam perjalanan pada
rekonsiliasi bank itu menunjukkan kemungkinan kitting.
Sekalipun pengujian audit transfer antar bank biasanya berorientasi kecurangan,
semuanya sering dilaksanakan untuk audit dimana terlibat beberapa transfer antar bank, tanpa
memperhatikan struktur pengendalian internnya. Selain kemungkinan kitting, penanganan
transfer yang tidak akurat dapat mengakibatkan salah mengklasifikasikan antara kas dan
utang. Tingkat materialitas transfer dan relatif mudah melaksanakan pengujian membuat
banyak auditor yakin bahwa mereka harus melakukannya.

E. Transfer Kas Secara Elektronik


Banyak organisasi menggunakan transfer secara elektronik bilamana mereka
mentransfer antara bank, menerima tagihan tunai dari pelanggannya, dan membayar pemasok.
Perusahaan melakukan aktivitas penjualannya melalui e-commerce akan menerima dana
secara elektronik dari agen kartu kredit yang menyerahkan pembayaran atas nama pelanggan.
Menurut sistem ini, uang tunai ditransfer langsung. Misal, bilamana Perusahaan A menerima
tagihan dari Agen Kartu Kredit X, uang tunai itu langsung di transfer dari akun bank agen
tersebut ke akun bank Perusahaan A. Tidak ada cek.
Transfer secara elektronik berpotensi meningkatkan pengendalian intern dimana tidak
ada uang tunai yang ditangani oleh pegawai. Namun, terdapt juga potensi risiko pencurian
uang tunai melalui transfer kas yang tidak layak. Penting bahwa pengendalian intern yang
sempurna harus diterapkan pada transfer kas secara elektronik.

F. Audit Atas Akun Ban Gaji Imprest


Pengujian atas rekonsiliasi bank atas gaji dan upah dapat dilaksanakan hanya dalam
beberapa menint jika ada akun gaji dan upah imprest dan rekonsiliasi yang independen atas
akun-akun seperti yang diuraikan untuk akun umum. Biasanya pos-pos yang direkonsiliasi
hanya cek-cek yang beredar. Dalam pengujian saldo akun gaji dan upah perlu diperoleh
rekonsiliasi bank, konfirmasi bank, yakni laporan bank pisah batas (cut-off). Prosedur
rekonsiliasi dilaksanakan dengan cara yang sama seperti yang diuraikan untuk kas umum.
Umumnya diperlukan perluasan prosedur bilamana pengendalian yang ada ternyata tidak
mencukupi atau bilamana akun bank tidak cocok dengan saldo kas impres di buku besar.

G. Audit Kas Kecil Imprest


Kas kecil merupakan akun yang unik, karena seringkali jumlahnya tidak material,
tetapi selalu diperiksa dalam audit. Akun ini diverifikasi terutama karena adanya
kemungkinan kecurangan dan adanya permintaan klien akan penelaahan audit meskipun
jumlah tersebut tidak material.

a. Pengendalian Intern atas Kas Kecil


Pengendalian intern terpenting atas kas kecil adalah penggunaan dana imprest yang
merupakan tanggung jawab satu orang. Disamping itu, dana kas kecil tidak boleh dicampur
dengan penerimaan lain dan dana itu harus dipisahkan dari aktifitas lainnya. Harus ada
batasan atas jumlah pengeluaran tertentu dari kas kecil, dan juga atas jumlah total dana. Jenis
pengeluaran yang dapat dilakukan dari transaksi kas harus diidentifikasikan dengan tegas
melalui kebijakan perusahaan.
Bilamana dilakukan pengeluaran melalui kas kecil, pengendalian intern yang baik
memerlukan persetujuan petugas yang berwenang atas formulir kas kecil yang telah diberi
nomor terlebih dahulu. Total kas dan cek aktual dalam dana ditambah jumlah total formulir
kas kecil yang belum diganti yang menunjukkan pengeluaran aktual harus sama dengan
jumlah total dana kas kecil yang ditetapkan dalam buku besar. Secara berkala, harus dilakukan
penghitungan mendadak dan rekonsiliasi dana kas kecil oleh auditor intern atau petugas lain
yang berwenang.
Bilamana saldo kas kecil banyak berkurang, harus buat cek untuk dibayarkan ke
pengelola kas kecil dari akun kas umum untuk mengganti kas kecil tersebut. Cek tersebut
harus berjumlah sebesar voucher yang diberi nomor terlebih dahulu, yang diserahkan sebagai
bukti pendukung pengeluaran yang sebenarnya. Voucher-voucher ini harus diverifikasi oleh
petugas utang dan dibatalkan untuk mencegah penggunaannya kembali.

b. Pengendalian Audit terhadap Kas Kecil


Penekanan dalam verifikas kas kecil harus diarahkan ke pengujian transaksi kas kecil, bukan
pada saldo akhir tahun tersebut. Sekalipun jumlah kas kecil itu sedikit, tetapi ada
kemungkinan terjadinya transaksi yang tidak wajar dalam jumlah besar jika dana itu sering
diganti.
Bagian penting pengujian kas kecil pertama-tama adalah menetapkan prosedur klien
untuk menangani dana itu dengan membahas struktur pengendalian intern bersama pengelola
kas dan memeriksa dokumen beberapa transaksi terkait. Sebagai bagian dari pemahaman atas
struktur pengendalian internal tersebut perlu diidentifikasi pengendalian intern dan
kelemahannya. Meskipun pada umumnya sistem kas kecil tidak rumit, seringkali perlu
digunakan bagan arus dan kuesioner pengendalianintern, terutama untuk dokumentasi dan
audit selanjutnya.
Pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi tergantung jumlah
dan besar penggantian kas kecil serta pengendalian dan tingkat risiko pengendalian yang
dinilai auditor. Bilamana risiko pengendalian dinilai terlalu rendah dan hanya sedikit saja
pembayaran penggantian yang dilakukan dalam tahun tersebut, maka biasanya auditor tidak
melakukan pengujian lagi karena alasan materialitas. Bilamana auditor memutuskan untuk
menguji kas kecil, maka dua prosedur yang paling umum adalah menghitung saldo kas kecil
dan melaksanakan pengujian terinci atas satu atau dua transaksi penggantian. Dalam hal
demikian, prosedur utama yang dilakukan harus mencakup penjumlahan ke bawah mengenai
total voucher-voucher kas kecil untuk melihat otorisasi dan pembatalannya, serta pemeriksaan
dokumentasi pita kas register faktur dan bahan bukti penerimaan.
Pengujian kas kecil biasanya dapat dilakukan setiap saat pada tahun bersangkutan,
tetapi untuk memudahkan biasanya dilaksanakan pada tanggal interim. Jika saldo kas kecil
dianggap material, yang biasanya jarang terjadi, maka jumlahnya harus dihitung pada akhir
tahun. Pengeluaran-pengeluaran yang belum diganti harus diperiksa pada saat penghitungan
tersebut untuk menetapkan apakah jumlah beban yang belum dibukukan tersebut sudah
material.

H. Beberapa Kasus Kecurangan Saldo Kas

1. Konfirmasi Bank Palsu Menyembunyikan Kecurangan Masif

Calisto Tanzi mendirikan Parmalat pada tahun 1961 pada usia 22 tahun setelah
mewarisi sebuah pabrik pasteurisasi kecil yang dijalankan oleh keluarga di Parma, sebuah
kota kecil di Italia. Pada tahun 1990, perusahaan mulai go public terdaftar pada Milan Stock
Exchange. Di penghujung decade 90-an, Parmalat mempekerjakan lebih dari 30.000
karyawan di 30 negara, menjadikannya perusahaan terbesar kedelapan di Italia, dan pemegang
merek consumer yang berusaha menjadi Coca-cola of milk atau Coca-cola-nya produk
susu.
Parmalat mulai terlibat dalam transaksi curang dengan melakukan penjualan fiksi pada
awal tahun 1993. Penyidik menyatakan bahwa tanpa adanya kecurangan, Parmalat akan
melaporkan kerugian setiap tahunnya dari tahun 1990 sampai kecurangan tersebut
diungkapkan pada tahun 2003. Selama periode, perusahaan menaikkan tingkat hutang sampai
pada tingkat akuisisi keuangan internasional. Guna meraih banyak uang dan meningkatkan
penjualan, Parmalat mendirikan tiga perusahaan cangkang (perusahaan antara) di Caribia.
Perusahaan cangkang ini berpura-pura menjual produk Parmalat, dan Parmalat
menggunakan surat hutang dari perusahaan cangkang untuk mendapatkan uang dari bank.
Pada tahun 1999, aktivitas perusahaan cangkang dipindahkan ke Pulau Cayman.
Dua auditor eksternal diduga datang dengan temuan yang berani dari sebuah produsen susu
tiruan di Singapura yang menghasilkan 300.000 ton bubuk susu ke seorang importir dari Cuba
melalui anak perusahaan di pulau Cayman. Parmalat mengklaim bahwa anak perusahaan
Pulau Cayman memiliki 3.95 miliar Euro dalam bentuk kas di sebuah bank di New York,
tetapi akunnya tidak ada. Suatu konfirmasi bank yang dipalsukan dikirim ke auditor anak
perusahaan guna mendukung kecurangan saldo kas.
Kerugian Parmalat sejumlah 12 miliar Euro pada tahun 2008, Tanzi dijatuhi hukuman
10 tahun penjara atas perannya dalam kecurangan. Perusahaan direstrukturisasi dan pada
tahun 2005 kembali terdaftar pada Milan Stock Exchange.

2. Masyarakat Berharap Banyak Dari Auditor

Bert Sampson adalah controller Pardoe Manufacturing Company. Dari tahun 1997
hingga tahun 2001, Bert membayar dirinya sendiri sejumlah ekstra bonus sebesar $2 juta. Ia
melakukan ini dengan memindahkan dana dari akun umum, menuliskan cek yang ditujukan
ke dirinya dari akun gaji, memusnahkan cek tersebut ketika menerimanya dari bank, dan
membukukan langsung ke dalam berkas komputer perusahaan untuk mengelabui pencurian.
Bert mampu melakukan ini karena ia mengendalikan sepenuhnya proses akuntansi
perusahaan.

Jack Becker dari Kantor Akuntan Publik Tramenier & Baker, adalah mitra bagi audit
Pardoe. Walaupun Baker mendapati lingkungan pengendalian yang kuat pada Pardoe serta
sistem penganggaran dan pelaporan yang baik, ia menilai risiko pengendalian berada pada
tingkat maksimum karena terbatasnya pemisahan tugas. Oleh karema itu, Baker menggunakan
pendekatan substantif atas audit yang dilakukannya. Baker menerapkan pengujian terinci
atas saldo dan prosedur analitik terhadap laporan keuangan akhir tahun. Ia tidak melakukan
pengujian pengendalian atau pengujian substantif atas transaksi.
Karena Sampson menderita kerugian $2 juta dan Pardoe tidak mempunyai asuransi
obligasi kebenaran (fidelity bond insurance), perusahaan itu menggugat kantor akuntan publik
Tramenier dan Baker atas kerugian tersebut, dengan mengklaim adanya pelanggaran kontrak.
Baker melawan gugatan itu dengan menyatakan bahwa audit telah dilaksanakan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Sidang pengadilan menghadirkan kesaksian dua orang saksi ahli. Saksi untuk
perusahaan itu bersikeras bahwa walaupun auditor telah melakukan pendekatan substantif atas
audit itu, auditor harus melihat bahwa Sampson mempunyai kesempatan untuk melakukan
pencurian, sehingga auditor harus memperluas auditnya, agar dapat menemukan kesalahan
itu.
Saksi ahli mempertahankan argumennya bahwa pendekatan audit substantif diijinkan
olej standar pedoman audit umum. Sampson telah memanipulasi catatan dengan begitu cermat
sehingga prosedur substantif atas akun macam-macam gaji tidak menunjukkan bahwa telah
terjadi pencurian. Karena tidak ada bendera merah yang dapat menjadi bukti bagi auditor
untuk kemudian memperluas pengujiannya, maka audit itu jelaslah memuaskan.
Juri menentang pada auditor ahli itu, sehingga kantor akuntan publik, Tramanier dan
Baker diminta membauar $3,3 juta sebagai ganti rugi. Sewaktu anggota juri diwawancarai
mengenai keputusannya, mereka menunjukkan bahwa mereka tidak benar-benar memahami
sifat tehnik dari argumen yang dibuat oleh saksi ahli, tapi tampak jelas bagi mereka bahwa
orang yang melakukan audit tersebut adalah orang yang pandai dan kompeten. Dengan
demikian, anggota juri percaya penuh bahwa pada auditor pasti memiliki kemampuan untuk
menemukan pencurian itu dan fakta bahwa mereka tidak mampu menemukan berarti bahwa
mereka gagal melakukan tugas hingga batas potensi atau kemampuannya.