Anda di halaman 1dari 8

Nama :

Rizki Oktaviani 6411415064


Ais Dafitri 6411415066
Rombel : 03

Tugas Mata Kuliah Analisis Kesehatan Lingkungan

Tugas 1

1. Eutrofikasi
Eutrofikasi adalah proses pengayaan nutrien dan bahan organik
dalam jasad air. ini merupakan masalah yang dihadapi di seluruh dunia yang
terjadi di ekosistem air tawar maupun marin. Eutrofikasi memberi kesan
kepada ekologi dan pengurusan sistem akuatik yang mana selalu disebabkan
masuknya nutrient berlebih terutama pada buangan pertanian dan buangan
limbah rumah tangga.
2. Mekanisme Eutrofikasi
Eutrofikasi merupakan proses alamiah dan dapat terjadi pada
berbagai perairan, tetapi bila terjadi kontaminasi bahan-bahan nitrat dan
fosfat akibat aktivitas manusia dan berlangsung terus menerus, maka proses
eutrofikasi akan lebih meningkat. Kejadian eutrofikasi seperti ini
merupakan masalah yang terbanyak ditemukan dalam danau dan waduk,
terutama bila danau atau waduk tersebut berdekatan dengan daerah urban
atau daerah pertanian.
Dilihat dari bahan pencemarannya eutrofikasi tergolong pencemaran
kimiawi. Eutrofikasi adalah pencemaran air yang disebabkan oleh
munculnya nutrient yang berlebihan kedalam ekosistem perairan.
Eutrofikasi terjadi karena adanya kandungan bahan kimia yaitu fosfat (PO3-
). Suatu perairan disebut eutrofikasi jika konsentrasi total fosfat ke dalam
air berada pada kisaran 35-100g/L. Eutrofikasi banyak terjadi di perairan
darat (danau, sungai, waduk, dll). Sebenarnya proses terjadinya Eutrofikasi
membutuhkan waktu yang sangat lama (ribuan tahun), namun akibat
perkembangan ilmu teknologi yang menyokong medernisasi dan tidak
diiringi dengan kearifan lingkungan maka hanya dalam hitungan puluhan
atau beberapa tahun saja sudah dapat terjadi Eutrofikasi.
3. Penyebab Eutrofikasi
Emisi nutrien dari pertanian merupakan penyebab utama eutrofikasi
di berbagai belahan dunia. Rembesan phospor selain dari areal pertanian
juga datang dari peternakan, dan pemukiman atau rumah tangga. Akumulasi
phospor dalam tanah terjadi saat sejumlah besar kompos dan pakan ternak
digunakan secara besar-besaran untuk mengatur prosduksi ternak hewan.
Sumber fosfor penyebab eutrofikasi 10 % berasal dari proses alamiah di
lingkungan air itu sendiri (background source), 7 % dari industri, 11 % dari
detergen, 17 % dari pupuk pertanian, 23 % dari limbah manusia, dan yang
terbesar, 32 %, dari limbah peternakan. Paparan statistik di atas
menunjukkan bagaimana besarnya jumlah populasi dan beragamnya
aktivitas masyarakat modern menjadi penyumbang yang sangat besar bagi
lepasnya fosfor ke lingkungan air.
Limbah kotoran ikan dan sisa pakan ikan yang mengandung unsur
hara fosfor dan nitrogen akan merangsang pertumbuhan fitoplankton atau
alga dan meningkatkan produktivitas perairan. Sebaliknya, dalam keadaan
berlebihan akan memicu timbulnya blooming algae yang justru merugikan
kehidupan organisme yang ada dalam badan air, termasuk ikan yang
dibudidayakan di perairan danau. Penumpukan bahan nutrien ini akan
menjadi ancaman kehidupan ikan di badan danau pada saat musim
pancaroba. Adanya peningkatan suhu udara, pemanasan sinar matahari, dan
tiupan angin kencang akan menyebabkan terjadinya golakan air danau. Hal
ini menyebabkan arus naik dari dasar danau yang mengangkat masa air yang
mengendap. Masa air yang membawa senyawa beracun dari dasar danau
hingga mengakibatkan kandungan oksigen di badan air berkurang.
Rendahnya oksigen di air itulah yang menyebabkan kematian ikan secara
mendadak.
Pestisida, obat-obatan dan pakan ternak merupakan sumber elemen
yang dapat menyebabkan eutrofikasi. Pestisida dapat hilang selama
penggunaan melalui penyemprotan yang tidak terarah, dan penguapan.
Pestisida lepas dari tanah melalui pengaliran air. Pola reaksi pelepasan
pestisida seangat tergantung pada afinitas bahan kimia yang digunakan
terhadap tanah dan air, jumlah dan kecepatan hilangnya pestisida
dipengaruhi oleh waktu dan kecepatan curah hujan, penggunaan, jenis tanah
dan sifat dari pestisidanya. Pestisida dapat mencapai badan air jika
tumpahan yang terjadi selama proses pengisian pencampuran pencucian dan
penggunaan, melalui aliran air, melalui pelepasan kedalam air permukaan
yang berbahaya karena dapat mencemari perairan jika tidak diperlakukan
dengan hati-hati
4. Dampak Eutrofikasi
Selain menurunkan konsentrasi oksigen terlarut, menghasilkan
senyawa beracun dan menjadi tempat hidup mikroba patogen yang
menyengsarakan fauna air; dekomposisi juga menghasilkan senyawa
nutrien (nitrogen dan fosfor) yang menyuburkan perairan. Nutrien
merupakan unsur kimia yang diperlukan alga (fitoplankton) untuk hidup dan
pertumbuhannya. Sampai pada tingkat konsentrasi tertentu, peningkatan
konsentrasi nutrien dalam badan air akan meningkatkan produktivitas
perairan, karena nutrien yang larut dalam badan air langsung dimanfaatkan
oleh fitoplankton untuk pertumbuhannya sehingga populasi dan
kelimpahannya meningkat. Peningkatan kelimpahan fitoplankton akan
diikuti dengan peningkatan kelimpahan zooplankton, yang makanan
utamanya adalah fitoplankton. Akhirnya karena fitoplankton dan
zooplankton adalah makanan utama ikan, maka kenaikan kelimpahan
keduanya akan menaikan kelimpahan (produksi) ikan dalam badan air
tersebut. Akan tetapi peningkatan konsentrasi nutrien yang berkelanjutan
dalam badan air, apalagi dalam jumlah yang cukup besar akan menyebabkan
badan air menjadi sangat subur atau eutrofik dan akan merangsang
fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang-biak dengan pesat sehingga
terjadi blooming sebagai hasil fotosintesa yang maksimal dan menyebabkan
peningkatan biomasa perairan tersebut. Sehubungan dengan peningkatan
konsentrasi nutrien dalam badan air, setiap jenis fitoplankton mempunyai
kemampuan yang berbeda dalam memanfaatkannya sehingga kecepatan
tumbuh setiap jenis fitoplankton berbeda. Selain itu setiap jenis fitoplankton
juga mempunyai respon yang berbeda terhadap perbandingan jenis nutrien
yang terlarut dalam badan air. Fenomena ini menyebabkan komunitas
fitoplankton dalam suatu badan air mempunyai struktur dan dominasi jenis
yang berbeda dengan badan air lainnya. Selain merugikan dan mengancam
keberlanjutan fauna akibat dominasi fito-plankton yang tidak dapat dimakan
dan beracun. Blooming yang menghasilkan biomasa (organik) tinggi juga
merugikan fauna, karena fenomena blooming selalu diikuti dengan
penurunan oksigen terlarut secara drastis akibat pe-manfaatan oksigen yang
ber lebihan untuk de-komposisi biomasa (organik) yang mati. Seperti pada
analisis dampak langsung tersebut diatas maka rendahnya konsentrasi
oksigen terlarut apalagi jika sampai batas nol akan menyebabkan ikan dan
fauna lainnya tidak bisa hidup dengan baik dan mati. Selain menekan
oksigen terlarut proses dekomposisi tersebut juga menghasilkan gas beracun
seperti NH3 dan H2S yang pada konsentrasi tertentu dapat membahayakan
fauna air, termasuk ikan. Selain badan air didominasi oleh fitoplankton yang
tidak ramah lingkungan seperti tersebut diatas, eutrofikasi juga merangsang
pertumbuhan tanaman air lainnya, baik yang hidup di tepian (eceng gondok)
maupun dalam badan air (hydrilla). Oleh karena itulah maka di rawa-rawa
dan danau-danau yang telah mengalami eutrofikasi tepiannya ditumbuhi
dengan subur oleh tanaman air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes),
Hydrilla dan rumput air lainnya. Permasalahan lainnya, cyanobacteria
(blue-green algae) diketahui mengandung toksin sehingga membawa risiko
kesehatan bagi manusia dan hewan. Algal bloom juga menyebabkan
hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional, dan pariwisata sehingga
dibutuhkan biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya
5. Penanggulangan Eutrofikasi
Pada umumnya ada dua cara untuk menanggulangi eutrofikasi:
a. Attacking symptoms
Mencegah pertumbuhan vegetasi penyebab eutrofikasi
Menambah atau meningkatkan oksigen terlarut di dalam air
Bila menggunakan cara ini, ada beberapa metode yang dapat digunakan :
Chemical treatment yang dimaksudkan untuk mengurangi
kandungan nutrien yang berlebihan di dalam air
Aerasi
Harvesting algae (memanen alga) yang dimaksudkan untuk
mengurangi alga yang tumbuh subur di permukaan air
b. Getting at the root cause
Mengurangi nutrient dan sedimen berlebih yang masuk ke dalam air
Tugas 2

Judul Artikel : Pendugaan Status Pencemaran Air dengan Plankton Sebagai


Bioindikator di Pantai Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.

a. MAKHLUK HIDUP YANG DIGUNAKAN : Plankton


Plankton adalah organisme yang memiliki keragaman habitat, ada
jenis-jenis plankton yang bisa hidup di perairan tercemar dimana plankton
jenis lain tidak bisa hidup, dan ada jenis plankton yang hanya bisa hidup
kalau kondisi perairan masih tergolong baik. Pada saat kondisi perairan
menurun karena terjadinya pencemaran, maka jenis-jenis plankton yang
hanya bisa hidup di lingkungan perairan tergolong baik tidak akan bisa
hidup. Hal ini menyebabkan pada perairan yang tercemar sangat mungkin
terjadi dominasi oleh jenis-jenis plankton tertentu. Sehingga dengan
mengamati jenis plankton yang bisa bertahan hidup di perairan yang
tercemar bisa menggunakan plankton sebagai bioindikator pencemaran air.
a. TUJUAN :
Untuk mengetahui secara pasti tingkat pencemaran yang terjadi di perairan
pantai Kabupaten Banyuwangi
b. ZAT YANG INGIN DI DETEKSI :
Hal yang ingin di deteksi dalam penelitian ini adalah Jenis dan kepadatan
plankton di perairan pantai Kabupaten Banyuwangi. Jenis dan kepadatan
plankton dijadikan indikator air di daerah tersebut sudah tercemar atau
belum.
c. METODE :
1. Materi Penelitian
Materi penelitian ini adalah pengamatan jenis dan kepadatan plankton pada
perairan pantai Kabupaten Bnyuwangi.
2. Metode Pengamatan jenis dan kepadatan plankton
Metode pengamatan jenis dan kepadatan plankton terdiri dari pengumpulan
sampel, pengawetan, pencacahan, dan analisis Indeks Diversitas Shannon.
Untuk menangkap plankton digunakan jaring Kitahara dengan ukuran lebar
mata jaring 0,08 mm, untuk pengawetan digunakan larutan formalin 4%.
3. Lokasi Pengamatan
Pengamatan plankton sebagai bioindikator pencemaran dilakukan di 8
stasiun yaitu 2 stasiun PPI Kalimoro, 2 stasiun di laut dekt muara Kalimoro,
2 stasiun di Pantai Kayuaking yang tidak ada perumahan penduduk, 2
stasiun di Pantai Kayuaking yang dekat dengan perumahan penduduk.
4. Waktu Pengamatan
Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Oktober 2010 pada waktu
musim kemarau.
Daftar Pustaka

repository.unhas.ac.id/bitstream/
https://www.env.go.jp/en/water/ecs/pdf/indonesian.pd