Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Fobia berasal dari kata Phobos, nama salah satu Dewa Yunani yang dapat
menimbulkan rasa takut. Sang Dewa digambarkan sebagai satu lukisan memakai
kedok/topeng dan pelindung untuk menakuti lawan dalam peperangan. Kata phobia
berasal dari namanya yang diartikan dengan kekhawatiran, ketakutan, atau kepanikan.
Fobia sosial (social phobia) dalam DSM IV-R disebut juga gangguan ansietas sosial
(social anxiety disorder). Lebih situasi-situasi sosial atau perbuatan/ penampilan
(performance) tatkala orang tersebut dihadapkan/dipertemukan dengan orang-orang yang
tak dikenalnya, atau kemungkinan untuk diperhatikan dengan cermat oleh orang lain.
Individu tersebut takut bahwa dia akan berbuat sesuatu (menunjukkan gejala ansietas)
yang memalukan.1,5
Fobia sosial merupakan salah satu di antara jenis gangguan cemas (neurosis-cemas)
dengan gelaja utama perasaan takut yang disertai keinginan untuk menghindar. Fobia
sosial sebagai penyakit dikenal sejak tahun 1960, dan sebelumnya diagnosis fobia sosial
jarang dibuat. Gangguan ini bukan disebabkan oleh gangguan organik. Belum banyak
diketahui tentang penyebab fobia sosial, tetapi sejumlah penelitian menunjukkan banyak
komponen kompleks yang terlibat. Karakteristik temperamen seseorang seperti rasa malu,
behavioral inhibition, selfconsciousness, embarrassment dan keturunan (heredity)
merupakan faktor predisposisi terjadinya fobia sosial.Prevalensi fobia sosial pada
kelompok eksekutif di Indonesia besarnya antara 9,6 -16%, yang timbul sejak usia muda
dan terus berlangsung sampai pada usia dewasa.Di negara maju prevalensi fobia sosial
besarnya 2-13%, dan secara bermakna mengganggu pekerjaan, status akademik dan
hubungan seseorang. Penelitian epidemiologi yang telah dilakukan di berbagai negara-
negara dengan ruang lingkup kehidupan yang beragam dan berdasarkan kriteria diagnostik,
instrumen penelitian dan lingkup budaya yang berbeda menunjukkan prevalensi yang
bervariasi antara 0,5% sampai 22,6%. Ada kecendrungan kenaikan angka prevalensi fobia
sosial, seiring dengan perubahan perilaku (gaya hidup) masyarakat. Fobia sosial timbul
sejak masa kecil, 40% di antaranya di bawah 10 tahun. Sisanya di bawah usia 20-tahun.2

1
Fobia sosial merupakan gangguan kejiwaan nomor tiga, setelah gangguan
penyalahgunaan zat (substance abuse) dan gangguan depresi berat. Perhatian terhadap
fobia sosial masih kurang, dan sering dinyatakan sebagai gangguan cemas yang
terabaikan. Kurangnya perhatian terhadap fobia sosial disebabkan oleh sedikitnya
penderita yang mencari pengobatan untuk gangguan fobia yang dideritanya. Penderita
berobat bukan untuk fobia sosial tetapi untuk keluhan lain.2 Social Phobia International
Classification of Disease (ICD) 10 dan Diagnostic and Statistical Manual Mental
Disorders (DSM) IV serta Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ)
III memberi definisi fobia sosial berdasarkan gejala-gejala yang ditimbulkan, meliputi
perasaan takut sehubungan dengan prediksi (ramalan) akan timbulnya rasa malu sebagai
reaksi pada saat menghadapi objek, aktivitas atau situasi tertentu, misalnya :3
1. Menggunakan telepon umum, atau menelpon seseorang yang belum dikenal
dengan baik.
2. Makan atau minum di tempat umum, atau bila buang air kecil pada fasilitas umum.
3. Tampil dan berbicara di depan umum.
4. Menghadiri pesta dan tempat ramai.
5. Menulis atau mengerjakan sesuatu dan pada saat yang bersamaan diawasi oleh
orang lain.
6. Berhadapan muka dengan orang yang asing dan tak dikenal sebelumnya.
7. Bila memasuki ruangan, di dalam ruangan tersebut telah banyak orangnya.
8. Bila harus mengemukakan ketidak setujuannya.
Kondisi tersebut akan menimbulkan rasa takut sehingga dalam kehidupan nyata,
individu tersebut lebih baik menghindar. Prediksi akan timbulnya rasa malu, akan
menimbulkan rasa takut, yang disertai dengan perasaan ingin menghindar, wajah menjadi
merah dan panas, debaran jantung yang bertambah cepat, disertai dengan gejala
kesemutan, keringat dingin, rasa tak enak di dalam perut, otot di daerah pundak yang
terasa tegang dan kerongkongan menjadi kering. Fobia sosial yang timbul pada usia dini,
menimbulkan gangguan yang serius dalam perkembangan psikologis, pendidikan,
pekerjaan, kemampuan membina relasi, atau pencapaian tujuan hidup. Dalam pada itu
penderita fobia sosial sering menderita gangguan psikiatri lainya seperti depresi, gangguan
makan atau gangguan penyalahgunaan zat.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Fobia Sosial (Sosial Phobia)

Kata fobia berasal dari bahasa Yunani, phobos, yang berarti takut. Konsep takut
dan cemas bertautan erat. Takut adalah perasaan cemas dan agitasi sebagai respon terhadap
suatu ancaman.7
Perbedaan fobia spesifik dengan fobia general yaitu pada fobia spesifik contohnya
adalah takut berbicara di depan umum, sedangkan fobia general yaitu individu itu
mengalami cemas, gelisah dan tidak nyaman di hampir seluruh situasi sosial.
Gangguan fobia adalah rasa takut yang persisten terhadap objek atau situasi dan
rasa takut ini tidak sebanding dengan ancamannya. Pada gangguan fobia, ketakutan yang
dialami jauh melebihi penilaian tentang bahaya yang ada. Orang dengan gangguan fobia
tidak kehilangan kontak dengan realitas, mereka biasanya tahu bahwa ketakutan mereka
itu berlebihan dan tidak pada tempatnya.
Fobia sosial merupakan suatu ketakutan yang bermakna dan terus menerus dari
satu atau lebih situasi-situasi sosial yang dapat membuat malu. Fobia sosial bisa
disebabkan oleh berbagai faktor. Gambaran klinis tidak dapat digeneralisasi, seperti saat
berbicara di depan umum, makan atau minum di tempat umum. Fobia sosial merupakan
ketakutan yang dapat terjadi pada hampir semua situasi sosial yang asing.
Fobia sosial merupakan gangguan yang biasanya mulai timbul sejak dini dan
bersifat kronik. Bila tidak diobati akan dapat menimbulkan berbagai keterbatasan dalam
kehidupan sosial, aktivitas profesional, kemampuan mencari nafkah, dan kontribusi
terhadap masyarakat luas. Fobia sosial dapat terjadi komorbiditas (terjadi berdasarkan)
depresi, dengan penyakit penyalahgunaan zat atau alkohol. Fobia sosial merupakan
gangguan yang kronik dan kepada pasien perlu dijelaskanbahwa terapi membutuhkan
waktu yang panjang.
Untuk didiagnosis fobia sosial, individu harus mengenali bahwa rasa takutnya
tersebut berlebihan atau tidak masuk akal dan selalu menghindari situasi-situasi yang
ditakuti atau tetap bertahan dengan rasa tidak nyamannya yang ekstrim. Sebagai tambahan,

3
rasa takut atau perilaku menghindari tersebut mampu menyebabkan distres atau
interference yang signifikan terhadap kegiatan rutin sehari-hari atau fungsi normal
individu.
Kriteria seseorang mengalami fobia sosial, yaitu:
1. Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi
primer dari anxietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya
waham atau pikiran obsesif.
2. Anxietas harus mendominasi atau terbatas pada situasi sosial tertentu (outside the
family circle).
3. Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol.
Menurut DSM-IV, fobia sosial adalah ketakutan yang tidak beralasan atau
ketakutan yang berlebihan terhadap situasi sosial, dan interaksi dengan orang lain yang
secara otomatis dapat membawa perasaan-perasaan self-consciousness, judgement,
evaluasi, dan perasaan inferior. Fobia sosial merupakan rasa takut dan kecemasan untuk
dinilai dan dievaluasi negatif oleh orang lain, yang mengarahkan kepada perasaan
ketidakmampuan, rasa malu, hina, dan depresi.7
Fobia sosial adalah gangguan kecemasan yang dicirikan dengan rasa takut yang
ekstrim dan menghindari stimulus fobik dari situasi sosial dan situasi performa.

2.2 Epidemiologi

Fobia sosial terdapat pada 3 sampai 5 persen populasi. Pria dan wanita memiliki
angka kejadian yang seimbang. Onset penyakit biasanya dimulai awal umur belasan tahun,
walaupun tidak menutup kemungkinan terjasi pada tiap tahap kehidupan. Menurut survey
yang dilakukan di Amerika sejak tahun 1994, fobia sosial adalah gangguan jiwa nomer 3
terbesar di Amerika Serikat. Prevalensi fobia sosial terlihat meningkat pada ras kulit putih,
orang yang menikah, dan individu dengan taraf pendidikan yang baik. Fobia sosial
umumnya bermanifestasi pada orang dewasa tapi biasa terdapat pada anak-anak atau
remaja.6

4
2.3 Etiologi

Sampai sekarang belum ditemukan penyebab yang pasti. Walaupun demikian, penelitian
mengenai etiologi banyak dilakukan saat ini. Seperti banyak kondisi kesehatan mental
lainnya, fobia sosial muncul dari interaksi yang kompleks dari berbagai faktor, antara lain :

1. Faktor biologis
a. Predisposisi genetis. Faktor genetik dapat berperanan dalam fobia sosial.
Analisa pedigree/silsilah memperlihatkan silsilah pertama dari proband
dengan fobia sosial tiga kali beresiko mendapat sosial fobia dibanding kontrol.
Namun, gen spesifik belum pernah diisolasi. Perangai anak yang selalu
dilarang telah dihubung-hubungkan dengan perkembangan fobia sosial di masa
dewasa. Beberapa studi telah menguji apakah faktor genetik berperan dalam
fobia. Fobia darah dan penyuntikan sangat familiar, 64 % fobia darah dan
penyuntikan memiliki sekurang-kurangnya satu kerabat tingkat pertama yang
menderita gangguan yang sama, sedangkan prevalensi gangguan dalam umum
hanya 3 sampai 4 % . Hal itu juga berlaku baik untuk fobia sosial maupun
fobia spesifik, prevalensinya lebih tinggi dibanding rata-rata pada keluarga
tingkat pertama pasein, dan studi terhadap orang kembar menunjukan
kesesuaian yang lebih tinggi pada kembar monozigot. Terkait dengan
penemuan ini adalah penelitian Jerome Kagan mengenai karakter terhambat
atau pemalu . Beberapa bayi usia empat menjadi terganggu dan menangis
ketika ditunjuki mainan atau stimulasi lain. Pola prilaku ini, yang mungkin
diturunkan, dapat menjadi tahap awal bagi perkembangan fobia kelak. Dalam
satu studi, sebagai contoh, anak-anak yang mengalami hambatan memiliki
kemungkinan lima kali lebih besar dibanding anak-anak yang tidak terhambat
untuk mengalami fobia kelak.7
b. Iregularitas dalam fungsi neurotransmitter, yakni serotonin dan norepinephrin.
c. Abnormalitas dalam jalur otak yang memberi sinyal bahaya atau yang
menghambat tingkah laku.
2. Faktor sosial-lingkungan .7
a. Pemaparan terhadap peristiwa yang mengancam atau traumatis.
b. Mengamati respon takut pada orang lain.
c. Kurangnya dukungan sosial.

5
3. Faktor behavioral .7
a. Pemasangan stimuli aversif dan stimuli yang sebelumnya netral (classical
conditioning).
b. Kelegaan dari kecemasan karena melakukan ritual kompulsif atau menghindari
stimuli fobik (operant conditioning).
c. Kurangnya kesempatan untuk pemunahan (extinction) karena penghindaran
terhadap objek atau situasi yang ditakuti.
4. Faktor kognitif dan emosional .7
a. Konflik psikologis yang tidak terselesaikan (Freudian atau teori
psikodinamika).
b. Faktor-faktor kogntif, seperti prediksi berlebih tentang ketakutan, keyakinan-
keyakinan yang self-defeating atau irasional, sensitivitas berlebih tehadap
ancaman, sensitivitas kecemasan, salah atribusi dari sinyal-sinyal tubuh, dan
self-efficacy self-efficacy yang rendah.
Ada beberapa teori yang mencoba mengungkapkannya, antara lain:6

I. Teori psikoanalisa

Menurut Freud, fobia sosial atau hysteria-ansietas merupakan


manifestasi dari konflik Oedipal yang tidak terselesaikan. Selain adanya
dorongan seksual yang kuat untuk melakukan incest, terdapat pula rasa takut
terhadap kastrasi. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik dan ansietas.
Akibatnya, ego berusaha menggunakan mekanisme- pertahanan represi
yaitu membuang jauh dari kesadaran. Tatkala represi tidak lagi berhasil, ego
berusaha mencari mekanisme pertahanan tarnbahan. Mekanisme pertahanan
tambahan adalah displacement. Konflik seksual ditransfer dari orang yang
mencetuskan konfilk kepada sesuatu yang sepertinya tidak penting atau objek
yang tidak relevan atau situasi yang sakarang mempunyai kekuatan untuk
membangkitkan ansietas. Situasi atau obyek yang dipilih atau disimbolkan
biasanya berhubungan langsung dengan sumber konflik. Dengan
Menghindari objek tersebut pasien dapat lari dari penderitaan ansietas yang
serius.6

6
II. Teori genetik

Faktor genetik dapat berperanan dalam fobia sosial. Analisa


pedigree/silsilah memperlihatkan silsilah pertama dari proband dengan fobia
sosial tiga kali beresiko mendapat sosial fobia dibanding kontrol. Namun, gen
spesifik belum pernah diisolasi. Perangai anak yang selalu dilarang telah
dihubung-hubungkan dengan perkembangan fobia sosial dimasa dewasa.6

III. Teori Neurotransmiter

A. Mekanisme Dopaminergik

Dari penelitian didapatkan bahwa fobia sosial berhubungan dengan


gangguan pada system dopaminergik. Kadar homovanilic acid (HVA)
pada penderita fobia sosial lebih rendah blia dibandingkan dangan
penderita panik atau kontrol. Adanya perbaikan gejala fobia sosial dengan
pemberian monoamine oxidase inhibitor (MAOI) menunjukkan bahwa
kinerja dopamine terganggu pada fobia sosial. 6

B. Mekanisme Serotonergik

Pemberian fenilfluramin pada panderita fobia sosial menyebabkan


peningkatan kortisol sehingga diperkirakan adanya disregulasi serotonin.
Walaupun demikian, pada pemberian methchlorphenylpiperazine
(MCPP), suatu serotonin agonis, tidak ditemukan adanya perbedaan
respons prolaktin antara pendarita fobia sosial dengan kontrol normal.
Begitu pula, pengukuran ikatan platelet (3H)-paroxetine, suatu petanda
untuk mangetahui aktivitas serotonin; tidak terlihat adanya perbedaan
antara fobia sosial dengan gangguan panik atau kontrol normal.6

C. Mekanisme Noradrenergik

Penderita fobia sosial sangat sensitif terhadap perubahan kadar


epinefrin sehingga dengan cepat terjadi peningkatan denyut jantung,
berkeringat dan tremor. Pada orang normal, gejala fisik yang timbul
akibat peningkatan epinefrin mereda atau menghilang dengan cepat.
Sebaliknya pada penderita fobia sosial tidak terdapat penurunan gejala.

7
Bangkitan gejala fisik yang meningkat semakin mengganggu penampilan
di depan umum. Pengalaman ini juga membangkitkan kecamasan pada
penampilan berikutnya sehingga mengakibatkan orang tidak berani tampil
dan menghindari panampilan selanjutnya.6

D. Pencitraan Otak

Dengan magnetic resonance imaging (MRI) terlihat adanya


penurunan volume ganglia basalis pada penderita fobia sosial. Ukuran
putamen berkurang pads fobia sosial. 6

Bila tidak diobati, gangguan kecemasan sosial dapat membuat seseorang menjadi
lemah. Kecemasan dapat mengendalikan hidup. Mereka dapat mengganggu pekerjaan,
sekolah, hubungan atau kenikmatan hidup. Seseorang mungkin dianggap sebagai under
achiever (tidak berhasil), walaupun pada kenyataannya ketakutan tersebut telah menahan
dari berprestasi, bukan karena kemampuan atau motivasi yang rendah. Pada kasus yang
berat dapat menyebabkan putus sekolah, kehilangan pekerjaan atau kehilangan
persahabatan. Gangguan kecemasan sosial dapat menyebabkan:

Rendah diri

Kesulitan bersikap tegas

Suka menjelek-jelekkan diri sendiri

Hipersensitif terhadap kritik

Miskin keterampilan sosial

Prestasi kerja yang buruk

Prestasi akademik rendah

Isolasi dan hubungan sosial sulit

Penyalahgunaan zat

Minum alkohol yang berlebihan terutama pada pria

Bunuh diri

8
2.4 Faktor Risiko

Gangguan kecemasan sosial adalah salah satu gangguan mental yang paling umum.
Ini biasanya dimulai pada awal hingga pertengahan belasan tahun, meskipun kadang-
kadang bisa lebih awal pada masa kanak-kanak atau dewasa.4

Sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko terserang gangguan kecemasan sosial


(social anxiety disorder), termasuk

Jenis Kelamin. Perempuan lebih mungkin dibandingkan laki-laki untuk terkena


gangguan kecemasan sosial.

Riwayat keluarga. Seseorang lebih mungkin untuk mengembangkan gangguan


kecemasan sosial jika orang tua biologis atau saudara memiliki kondisi tersebut.

Lingkungan. Gangguan kecemasan sosial mungkin merupakan perilaku yang


dipelajari. Artinya, seseorang dapat terkena gangguan setelah menyaksikan
perilaku cemas orang lain. Selain itu, mungkin ada hubungan antara gangguan
kecemasan sosial dan orang tua yang sangat mengendalikan atauterlalu melindung
anak-anak mereka.

Temperamen. Anak-anak yang pemalu, penakut, ditarik atau tertahan ketika


menghadapi situasi yang baru atau orang-orang mungkin menghadapi risiko lebih
besar.

Tuntutan pekerjaan atau sosial baru. Bertemu orang baru, memberikan pidato di
depan umum atau melakukan presentasi pekerjaan penting untuk pertama kalinya
dapat memicu gejala gangguan kecemasan sosial. Gejala ini biasanya memiliki
akar pada masa remaja,

Memiliki kondisi kesehatan yang menarik perhatian. Cacat wajah, gagap, penyakit
Parkinson dan kondisi kesehatan lain dapat meningkatkan perasaan rendah diri, dan
dapat memicu gangguan kecemasan sosial pada beberapa orang.

9
2.5 Onset

Fobia sosial biasanya dimulai pada masa kanak-kanak atau remaja, biasanya pada
usia 13 tahun. Diagnosis bahwa seseorang mengalami fobia sosial jika orang tersebut
memiliki gejala setidaknya selama 6 bulan. Fobia sosial tipikal bermula pada masa kanak-
kanak atau remaja dan seringkali diasosiasikan dengan riwayat rasa malu. Orang-orang
dengan fobia sosial umumnya melaporkan bahwa mereka pemalu semasa kanak-kanak .
Sekali fobia sosial tercipta, hal tersebut akan berlanjut pada perjalanan yang kronis dan
persisten sepanjang hidup .7
Pada anak, fobia sosial tidak dapat langsung didiagnosis kecuali anak tersebut
memunculkan kecemasan yang berlebihan. Mereka mengekspresikan rasa cemasnya
tersebut dengan cara menangis, tantrum, menjadi pendiam atau menghindari situasi sosial.
Bagi individu yang berusia di bawah 18 tahun, maka diagnosis fobia sosisal tidak dapat
ditegakkan kecuali gangguannya sudah terjadi selama 6 bulan .7

2.6 Prevalensi
Estimasi prevalensi seumur hidup untuk fobia sosial berkisar antara 3% sampai 13%
. Gangguan ini tampaknya lebih sering terdapat pada perempuan dibandingkan laki-laki,
mungkin karena tekanan sosial dan kultural yang lebih besar diletakkan dipundak
perempuan-perempuan muda untuk menyenangkan orang lain dan dengan demikian
mendapatkan persetujuan mereka.7
Berdasarkan data dari The National Comorbidity Survey yang dilakukan terhadap
lebih dari 8000 individu menyatakan bahwa sekitar 13,3% orang dewasa (11,1% laki-laki,
11,5% perempuan) memiliki kriteria fobia sosial berdasarkan DSM-III-R. Data tersebut
diperkirakan lebih tinggi dari data sebelumnya yang diperoleh dari The Epidemologic
Catchment Area Survey, yang menyatakan prevalensi sebesar 2,73%.
Menurut survey yang dilakukan di Amerika sejak tahun 1994, fobia sosial adalah
gangguan jiwa nomer 3 terbesar di Amerika Serikat. Prevalensi fobia sosial terlihat
meningkat pada ras kulit putih, orang yang menikah, dan individu dengan taraf pendidikan
yang baik. Fobia sosial umumnya bermanifestasi pada orang dewasa tapi biasa terdapat
pada anak-anak atau remaja.8

10
Fobia sosial cukup jamak terjadi, dengan angka prevalensi sepanjang hidup 11 %
pada laki-laki dan 15 % pada perempuan. Fobia ini memiliki tingkat komorbiditas tinggi
dengan berbagai gangguan mood dan penyalahgunaan alkohol.

2.7 Gejala Fobia Sosial


Individu akan merasa gugup dalam beberapa situasi sosial. Hal tersebut terjadi bila
harus pidato atau memberikan presentasi. Namun dalam gangguan kecemasan sosial, juga
disebut fobia sosial, interaksi sehari-hari menyebabkan kecemasan irasional, rasa takut,
kesadaran diri berlebihan dan malu.

Gangguan kecemasan sosial adalah suatu kondisi kesehatan mental kronis, tetapi
pengobatan seperti konseling psikologis, pengobatan dan belajar keterampilan coping
(mengatasi sesuatu masalah) dapat membantu mendapatkan kepercayaan diri dan
meningkatkan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain.2

Gangguan kecemasan sosial mempengaruhi emosi dan perilaku. Hal ini juga dapat
menyebabkan gejala fisik yang signifikan.

1. Tanda tanda dan gejala emosi dan perilaku kecemasan sosial, termasuk:2

Takut secara berlebihan ketika berinteraksi dengan orang asing

Takut situasi di mana seseorang itu dapat dinilai

Khawatirkan memalukan atau memalukan diri sendiri

Ketakutan bahwa orang lain akan melihat bahwa kita terlihat cemas

Kecemasan yang mengganggu rutinitas harian, pekerjaan, sekolah atau kegiatan


lain

Menghindari melakukan sesuatu atau berbicara dengan orang karena takut malu

Menghindari situasi di mana mungkin menjadi pusat perhatian

Kesulitan membuat kontak mata

Kesulitan berbicara.

2. Tanda tanda fisik tanda-tanda dan gejala gangguan kecemasan sosial:2

Blushing (muka merah)

Berkeringat

11
Gemetar atau bergetar

Detak jantung cepat

Gangguan perut

Mual

Suara gemetar

Ketegangan otot

Kebingungan

Diare

Tangan dingin, basah

Perasaan malu atau tidak nyaman dalam situasi tertentu belum tentu tanda-tanda
gangguan kecemasan sosial, khususnya pada anak. Hal tersebut disebut gangguan fobia
sosial bila gejala yang jauh lebih parah dan menyebabkan menghindari situasi sosial
yang normal.3

Secara umum, pengalaman sehari-hari yang mungkin dapat memicu timbulnya


gangguan kecemasan sosial meliputi:

Menggunakan WC atau telepon umum

Mengembalikan barang toko

Berinteraksi dengan orang asing

Menulis di depan orang lain

Membuat kontak mata

Memasuki sebuah ruangan di mana orang sudah duduk

Memesan makanan di restoran

Diperkenalkan kepada orang asing

Memulai percakapan

Gejala gangguan kecemasan sosial dapat berubah seiring waktu. Mereka mungkin
muncul jika menghadapi banyak stres atau tuntutan atau jika benar-benar menghindari
situasi yang biasanya akan membuat mereka cemas, meskipun mungkin tidak memiliki

12
gejala. Meskipun menghindari memungkinkan untuk merasa lebih baik dalam jangka
pendek, kecemasan cenderung bertahan dalam jangka panjang jika tidak mendapatkan
pengobatan.

2.8 Diagnosa Fobia Sosial

Ketika memutuskan untuk mencari pengobatan untuk gejala gangguan kecemasan


sosial, mungkin harus mendapat pemeriksaan fisik dan dokter akan menanyakan sejumlah
pertanyaan. Pemeriksaan fisik dapat menentukan apakah mungkin ada sebab-sebab
fisikyang memicu gejala. Menjawab pertanyaan ini akan membantu dokter atau penyedia
kesehatan mental mencari tahu tentang kondisi psikologis pasien.

Tidak ada tes laboratorium untuk mendiagnosis gangguan kecemasan sosial,


namun. Dokter atau petugas kesehatan mental akan meminta anda menjelaskan tanda-
tanda dan gejala, seberapa sering mereka terjadi dan dalam situasi apa. Dia dapat meninjau
daftar situasi untuk melihat apakah mereka membuat cemas atau telah mengisi kuesioner
psikologis untu membantu menemukan diagnosis.

Untuk dapat didiagnosis dengan gangguan kecemasan sosial, seseorang harus


memenuhi kriteria dijabarkan dalam Diagnostic dan Statistic Manual of Mental Disorders
(DSM)-5.4

Kriteria untuk fobia sosial untuk dapat didiagnosis meliputi:

A. Ketakutan irrasional yang jelas dan menetap terhadap satu atau lebih situasi sosial
atau tampil di depan orang-orang yang belum dikenal atau dengan kemungkinan
dinilai oleh individu yang tak dikenal. Individu akan merasa takut bahwa ia akan
bertindak dengan cara (atau menunjukkan gejala kecemasan) yang akan memlukan
atau merendahkan.

B. Pemaparan dengan situasi sosialyang ditakuti hampir selalu mencetuskan


kecemasan, yang dapat berupa serangan panic yang berkaitan dengan situasi atau
dipredispiosisikan oleh situasi.

C. Orang menyadari bahwa ketakutan adalah berlebihan atau tanpa alasan.

D. Situasi social atau di depan umum yang ditakuti dihindari, atau dihadapi dengan
kecemasan atau distress yang berat.

13
E. Penghindaran, antisipasi kecemasan, atau distress dalam situasi sosisal atau tampil
di depan umum secara bermakna mengganggu rutinitas normal, fugsi pekerjaan
(akademik),atau aktivitas social dan hubungan dengan orang lain atau ada distress
yang jelas ketika mengalami fobia

F. Pada individu berusia di bwah 18 tahun, durasi sekurang-kurangnya adalah 6 bulan.

G. Ketakutan atau penghindaran tidak karena efek fisiologis suatu zat (misalnya obat
yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medik umum, dan tidak lebih baik
diterangkan oleh gangguan mental lain( misalnya gangguan panic dengan atau
tanpa agoraphobia, gangguan cemas perpisahan, gangguan dismorfik tubuh,
gangguan perkembangan persevasif, atau gangguan kepribadian schizoid).

H. Bila terdapat suatu kondisi medik umum atau gangguan mental lain, ketakutan
pada kriteria A tidak berhubungan dengannya, misalnya gagap, gementar pada
penyakit Parkinson, atau gangguan perilaku abnormal da anoreksia nervosa atau
bulimia nervosa.

Sedangkan berdasarkan PPDGJ - III diagnosis fobia sosial ditegakkan


bardasarkan yaitu 4

Semua kriteria di bawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti:

a. gejala psikologis, perilaku atau otonomilk yang timbul harus merupakan


manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain
seperti misalnya waham atau pikiran obsesif;
b. anxietasnya harus mendominasi atau terbatas pada situasi sosial tertentu
(outside the family circle); dan
c. menghindari situasi fobik harus atau sudah merupaken gejala yang menonjol
Bila terlalu sulit untuk membedakan antara fobia sosial dengan agorafobia,
hendaknya diutamakan diagnosa agorafobia. 4

Kecemasan sosial memiliki gejala gejala gangguan kecemasan yang sama dengan
gangguan psikologis lainnya, termasuk gangguan kecemasan lain. Penyedia kesehatan
mental akan menentukan apakah salah satu kondisi lain mungkin menyebabkan kecemasan
sosial, atau jika memiliki gangguan kecemasan sosial bersama dengan gangguan kesehatan
mental yang lain. Seringkali kecemasan sosial terjadi bersama dengan kondisi kesehatan
mental, sperti masalah penggunaan zat, depresi dan gangguan dismorfik tubuh.
14
2.9 Penatalaksanaan Sosial Fobia

Dua jenis pengobatan yang paling umum untuk gangguan kecemasan sosial adalah
obat-obat dan konseling psikologis (psikoterapi). Kedua pendekatan dapat dilakukan
dalam kombinasi.2,5
a) Psikoterapi
Konseling psikologis (psikoterapi) menyembuhkan gejala pada sebagian besar
orang dengan gangguan kecemasan sosial. Dalam terapi, seseorang belajar bagaimana
mengenali dan mengubah pikiran negatif tentang diri sendiri. Terapi perilaku kognitif
adalah jenis yang paling umum dari konseling untuk kecemasan. Jenis terapi ini didasarkan
pada gagasan bahwa pikiran diri sendiri bukan orang lain atau situasi, menentukan
bagaimana kita berperilaku atau bereaksi. Bahkan jika situasi yang tidak diinginkan tidak
bisa berubah, kita dapat mengubah cara berpikir dan berperilaku.
Terapi perilaku kognitif juga dapat dilakukan dengan terapi eksposur. Dalam jenis
terapi ini, seseorang secara bertahap dipaparkan dengan situasi sampai dia menghadapi
situasi paling ditakuti. Hal ini memungkinkan dia untuk menjadi lebih baik serta terampil
mengatasi kecemasan ini dan untuk mengembangkan kepercayaan diri dalam menghadapi
hal hal tersebut. Seseorang juga dapat berpartisipasi dalam pelatihan keterampilan atau
bermain peran (role play) untuk melatih kemampuan sosial dan mendapatkan kenyamanan
dan rasa percaya diri berhubungan dengan orang lain. Profesioanal kesehatan mental dapat
membantu untuk mengembangkan tekhnik relaksasi atau manajemen stress.

b) Obat Pilihan Pertama

Beberapa jenis obat dapat digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan sosial.
Namun kebanyakan obat pilihan pertama untuk gejala menetap dari kecemasan sosial
adalah selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI). Dokter mungkin meresapkan obat
SSRI yang meliputi:

Paroxetine ( Paxil)
Sertraline (Zoloft)
Fluvoxamine (Luvox)
Fluoxetine ( Prozac, Sarafem)

15
Serotonin dan norepinefrin reuptake inhibitor (SNRI) venlafaxine (Effexor) juga dapat
menjadi pilihan untuk gangguan kecemasan sosial.Untu mengurangi resiko efek smaping,
dokter akan mulai dengan resep obat dosis rendah dan kemudian akan ditingkatkan dengan
dosis penuh. Ini bisa memakan waktu hingga tiga bulan pengobatan sebelum gejala- gejala
terasa membaik.

c) Obat Pilihan Lain

Dokter atau petugas kesehatan mental juga mungkin meresepkan obat lain untuk
gejala kecemasan sosial, termasuk :

Antidepresan lain. Seseorang mungkin harus mencoba antidepresan yang berbeda


untuk menemukan mana yang paling efektif dan memiliki efek samping paling
sedikit tidak menyenangkan.

Obat Anti-kecemasan. Suatu jenis obat anti-kecemasan yang disebut benzodiazepin


dapat mengurangi tingkat kecemasan. Meskipun mereka sering bekerja dengan
cepat, mereka dapat membentuk kecanduan. Karena itu, mereka sering diresepkan
hanya untuk penggunaan jangka pendek. Obat tersebut juga berefek sebagai
penenang. Jika dokter meresepkan obat anti-kecemasan, pastikan untuk mencoba
minum obat tersebut sebelum berada dalam situasi sosial sehingga tahu bagaimana
obat tersebut akan mempengaruhi diri.

Beta blockers. Obat-obat ini bekerja dengan menghalangi efek merangsang


epinefrin (adrenalin). Mereka dapat mengurangi denyut jantung, tekanan darah,
detak jantung, dan suara gemetar dan anggota badan. Karena itu, mereka dapat
bekerja dengan baik ketika digunakan untuk mengendalikan gejala untuk situasi
tertentu, seperti memberikan pidato. Mereka tidak direkomendasikan untuk
pengobatan umum gangguan kecemasan.

d) Upaya Memulihkan Diri Fobia Sosial

Meskipun gangguan kecemasan sosial umumnya memerlukan bantuan dari seorang


ahli medis atau psikoterapis yang berkualitas, dapat dicoba beberapa self help teknik untuk
menangani situasi yang dapat memicu gejala sosial fobia.

Pertama, pertimbangkan untuk mengidentifikasi situasi yang paling mencemaskan.


Kemudian secara bertahap berlatih kegiatan ini sampai hal tersebut tidak atau kurang

16
mencemaskan. Mulailah dengan langkah- langkah kecil dalam situasi yang tidak
berlebihan.

Sebagai contoh :

Makan dengan teman, kerabat dekat atau kenalan di tempat umum

Membuat kontak mata dan mengembalikan salam dari orang lain, atau menjadi
yang pertama menyapa

Memberikan seseorang pujian

Meminta petugas toko swalayan untuk membantu menemukan barang yang perlu

Memberikan seseorang pujian

Meminta petunjuk dari orang asing

Menunjukkan minat pada orang lain , bertanya tentang anak, rumah, cucu, hobi

Memanggil teman untuk membuat rencana

Pada awalnya, hal tersebut terasa berat. Meskipun demikian, jangan berhenti untuk
terus mecoba melakukan kegiatan- kegiatan yang membuat anda cemas. Jangan
menghindar dari kegiatan tersebut. Dengan secra teratur menghadapi situasi semacam
ini, kita akan terus memebangun dan memperkuat keterampilan coping untuk
mengatasi gejala kecemasan.

e) Terapi Perilaku Kognitif Untuk Sosial Fobia

Penderita sosial fobia mempunyai pola pikir yang kurang sehat yang menyebabkan
mereka selalu cemas. Kecemasan pada sosial fobia terutama karena penderita sosial fobia
tidak ingin mendapatkan penilaian yang jelek atau penolakan dari orang lain.

Beberapa belief atau kepercayaan atau pikiran pada diri sendiri seorang penderita
sosial fobia yang sring ditemui adalah:

Saya harus kelihatan mampu

Saya harus kelihatan menarik atau saya akan gagal

Bila mereka melihat saya cemas atau gelisah, mereka akan menilai bahwa saya
lemah

Bila tidak ada yang bisa saya sampaikan atau omongkan, itu akan jadi bencana

17
Mereka akan mulai tidak menyukai saya.

Beberapa pikiran atau belief yang menurut penderita sosial fobia dimilki orang lain
ketika melihat dirinya bila ia tidak tampil dengan baik:

Orang bodoh

Orang tersebut kelihatan tidak becus

Dia tidak bisa mengendalikan dirinya

Tingkah lakunya aneh

Karena punya pikiran seperti di atas, seorang penderita sosial fobia akan selalu
cemas dan mearik diri atau menghindar dari melakukan tugas- tugas di mana ia harus
tampil atau kelihatan. Untuk itu, dalam mengobati sosial fobia langkah yang harus
dilakukan adalah:

Belajar untuk mengidentifikasi pikiran yang lewat di kepala penderita fobia sosial
dalam menganggapi peristiwa, dan interpretasi mereka terhadap peristiwa atau
situasi tersebut.

Belajar bagaimana melihat setiap pikiran pikiran secara objektif, dan


memutuskan apakah pikiran pikiran tersebut mewakili penilaian yang
wajar dari situasi .

Menata ulang setiap pikiran yang tidak realistis atau tidak


membantudengancara yang lebih mencerminkan realitas situasi dan lebih
membantu dalam kehidupannya.

Menempatkan keyakinan baru yang lebih bermanfaat dalam praktek


dengan mendasarkan perilakunya pada pikiran atau kepercayaan baru
tersebut.

2.10 Prevensi
Fobia sosial dapat dicegah dengan cara memberikan pola asuh yang dapat
menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian pada anak sehingga anak mampu
beradaptasi dan membina hubungan sosial yang baik dengan orang lain.

18
2.11 Kualitas Hidup
Fobia sosial dapat mempunyai pengaruh besar pada fungsi sehari-hari dan kualitas
hidup seseorang. Fobia sosial dapat menghalangi orang untuk menyelesaikan sasaran
pendidikannya, maju dalam karier atau bertahan dalam pekerjaan yang membutuhkan
interaksi dengan orang lain. Makin banyak jumlah situasi yang ditakuti, makin besar
gangguan fungsinya.7

2.12 Prognosis
Fobia sosial biasanya mulai pada usia dini sehingga dapat menyebabkan
gangguan di semua bidang akademik seperti rendahnya kemampuan sekolah, menghindar
dari sekolah, dan sering putus sekolah. Pemilihan karirnya sangat terbatas dan sering
berhenti dari pekerjaan. Fobia sosial cenderung menjadi kronik. Bila tidak diobati dapat
menjadi komorbiditas dengan gangguan lain seperti depresi, penyalahgunaan alkohol atau
obat. Pada penderita agorafobia dan fobia sosial, pemakaian alkohol sering merupakan
usaha untuk mengobati diri sendiri. Anak yang memiliki kegiatan sekolah dan aktivitas
sosial memiliki prognosis yang lebih baik.

19
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Fobia sosial merupakan gangguan kecemasan ketika berhadapan dengan situasi


sosial atau melakukan performa di depan umum. Ada dugaan terdapat perubahan biokimia
dan fungsional otak pada penderita fobia sosial. Fobia sosial dapat menjadi suatu masalah
yang serius karena berpengaruh pada keberfungsian fisik maupun psikologis. Fobia sosial
merupakan ketakutan atau kecemasan pada situasi sosial yang timbul bila seseorang
menjadi pusat perhatian. Penderita fobia sosial biasanya tidak menganggap masalahnya
perlu untuk diobati. Bila tidak diobati dapat menimbulkan keterbatasan dalam berbagai
segi kehidupan.
Fobia sosial harus dibedakan dari gangguan mental lainnya. Orang yang
mengalami depresi seringkali menghindari untuk menghabiskan waktu bersama teman
dikarenakan kurangnya motivasi dan ketertarikan dalam bersosialisasi. Akan tetapi,
individu yang mengalami depresi tersebut, tidak menghindari situasi sosial ketika mereka
dalam kondisi normal. Begitu pula dengan orang-orang yang dengan gangguan schizoid
seringkali menghindari untuk bersosialisasi. Namun, mereka tidak mengalami distres
akibat kekurangan aktivitas sosial dan mereka juga tidak secara khusus tertarik dengan
kegiatan sosial. Individu dengan kepribadian menghindar cenderung menghindari
bersosialisasi karena mereka takut akan kritik dari orang lain. Faktanya, orang dengan
gangguan fobia sosial general kriterianya seringkali sesuai dengan kriteria diagnostik bagi
orang yang memiliki kepribadian menghindar. Walaupun kedua gangguan tersebut
berbeda secara kuantitatif dan kualitatif.
Fobia sosial tidak didiagnosis ketika kecemasan individu tersebut dianggap sebagai
gangguan mental. Seseorang yang memiliki serangan panik, maka diagnosisnya dengan
menggunakan diagnosis gangguan panik dan biasanya perilaku menghindar tersebut
berhubungan dengan kemungkinan mengalami serangan panik serta tidak dapat keluar dari
situasi tersebut. Sedangkan untuk gangguan agoraphobia, individu menghindari tempat-
tempat ramai seperti mall, jalan yang ramai atau menggunakan transportasi umum. Jadi,
meskipun ketiga gangguan tersebut tampak sama dalam menghindari situasi sosial, tetapi
mereka tetap memiliki perbedaan pada rasa takutnya yang akan dinilai negatif.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Saddock BJ, Saddock VA, Fobia sosial. Dalam: Kaplan and Saddock Buku Ajar
Psikiatri Klinis. Ed ke-2. Jakarta: EGC, 2004, h.203-7

2. Elvira DS, Hadikukanto G., Fobia. Dalam: Buku ajar psikiatri. Edisi 2. Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia

3. Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH,. Buku ajar psikiatri edisi 2. Jakarta: EGC;2011

4. Muslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkasan dari PPDGJ-III
dan DSM-5. Jakarta: FK UNIKA Atmajaya.

5. Schneier FR. Social anxiety disorder. N Engl J Med 2006;355:1029-36.

6. Kaplan, Harold I, Benjamin J. Sadock, Jack A. Grebb. Gangguan Kecemasan.


Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri- Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis.
Edisi-7. Jilid-2. 1997. Jakarta: Binarupa Aksara. Hal: 477-56.

7. Nevid, J S., Rathus, S.A., & Greene, B. 2005. Psikologi Abnormal Edisi Kelima
Jilid I

8. http://eemoo.wordpress.com/2009/01/20/fobia-sosial/08/06/2016

9. American Psychiatric Association. (2000) Diagnostic and Statistic Manual of


Mental Disorders Fourth Edition Text Revision, DSM-IV-TR. Arlington, VA:
American Psychiatric Association.

21