Anda di halaman 1dari 2

LAPORAN JURNAL REFLEKSI

PASIEN DENGAN GANGGUAN GANGGUAN ISOLASI


SOSIAL PADA TN. S DI UGD RSJD dr. AMINO
GONDOHUTOMO JAWA TENGAH

Nama Mahasiswa : Fara Dila Santi

NIM : P1337420916012

Program Studi Profesi NERS Poltekkes Kemenkes Semarang

KRONOLOGI PENERIMAAN DAN PENGKAJIAN PASIEN

Pasien berinisai Tn. S 28 tahun dengan status belum menikah, belum bekerja datang ke
UGD RSJD dr. Amino Gondohutomo Jawa Tengah pada pukul 10.15 WIB di bawa oleh ibunya.
Alasan masuk adalah pasien sudah seminggu setelah pulang dari RSJD dr. Amino Gondohutomo
tidak mau makan dan mandi, hanya berdiam diri di kamar saja. Pasien sudah bolak-balik di rawat
di RSJD dr. Amino Gondohutomo Jawa Tengah selama 2 tahun ini.

Pada saat pengkajian, didapatkan hasil pemeriksaan fisik, TD: 120/70 mmHg, N: 90x/
menit, S: 36,4oC, dan RR: 19x/ menit dengan BB 54 Kg, dan TB 160 cm dan tidak memiliki
keluhan fisik. Pasien memiliki gangguan psikosoisal yaitu pasien enggan berinteraksi dengan
orang lain, ia hanya berdiam diri di kamar saja. Status mental pasien tergambarkan oleh
penampilan pasien yang tidak rapi dan kucel, pembicaraan koheren lambat, aktivitas motorik
normal, afek dan emosi afek baik, alam perasaan datar, interaksi selama wawancara kontak mata
pasien kurang. Pasien memiliki gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran yang masih
kuat, namun jarang terjadi selama wawancara, pasien mengatakan ia seseorang laki-laki
membisikkan sesuatu yang tidak jelas, ia mengatakan halusinasinya sering muncul sejak sekitar
2 hari yang lalu. Proses piker pasien baik, kesadaran composmentis, daya ingat jangka panjang
dan pendek pasien baik. Tingkat konsentrasi pasien rendah, pasien tidak memiliki gangguan
penilaian, daya tilik dirinya baik. Kegiatan hidup sehari-hari pasien terdapat gangguan pada
pemenuhan kebutuhan istirahat tidur pasien yang terganggu, ia sering tidak bisa tidur dan apabila
pasien bisa tertidur ia sering terbangun dan pasien juga enggan untuk mandi dan makan.
Setelah pengkajian selesai, Tn.S dilakukan pemeriksaan penunjang seperti EKG dan
pengambilan sampel darah untuk pengecekan laboratorium. Setelah pengambilan darah pasien
dipindahkan ke bangsal transit, yaitu bangsal Srikandi guna pengawasan lebih lanjut dan
sebelum pasien dipindahkan ke bangsal maintenance.

DISKRIPSI PERASAAN

Sebagai mahasiswa saya merasa beruntung karena diijinkan praktek di IGD sebuah RSJ
sehingga bisa melihat kondisi pasien yang pertama kali di bawa ke RSJ. Ekspektasi awal saya
adalah saya akan melihat pasien-pasien yang mengamuk di pintu IGD, meracau tidak karuan
bahkan membahayakan bagi kami mahasiswa praktikan dan perawat IGD. Ternyata saya salah,
tidak semua pasien yang dibawa di IGD RSJ adalah pasien yang gaduh gelisah, dengan perilaku
kekerasan. Adapula pasien yang kooperatif seperti Tn.S ini, dengan diagnose isolasi sosial dan
defisit perawatan diri mandi dan makan. Pasien kooperatif namun memang agak sulit diajak
berinteraksi karena pasien terlihat ketakutan apabila ibunya pergi dari sampingnya.

Bedasarkan paparan tersebut implikasi pada diri saya saya harus meningkatkan
kemampuan saya dalam hal pengkajian, terutama pada pasien dengan gangguan isolasi sosial
karena dibutuhkan trust yang tinggi untuk menggali permasalahan pada pasien, dengan waktu
yang cukup singkat karena pasien harus menjalani pemeriksaan diagnostic lainnya untuk
menunjang penegakkan diagnose. Oleh karena itu dibutuhkan jam terbang yang tinggi untuk
menghapal format pengkajian pasien jiwa sehingga kita tidak terpaku pada kertas saat melakukan
pengkajian dan trust akan lebih cepat terjalin antara pasien dan perawat.