Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

I. Judul
Analisis garam beriodium dengan titrasi iodometri
II. Tujuan
Menentukan kandungan iodium dalam bentuk iodat pada garam beriodium
perdagangan
III. Dasar Teori
Gondok merupakan penyakit yang disebabkan oleh kekurangan iodium. Untuk
menaggulangi penyakit ini, pemerintah melalui departemen kesehatan telah
melakukan langkah preventif berupa pemasyarakatan penggunaan garam beriodium.
Garam beriodium merupakan garam seperti pada umumnya namun memiliki
kelebihan adanya kandungan iodium di dalamnya, dalam bentuk senyawa iodat.
Pemeritah melalui departemen kesehatan mengawali langkahnya dengan
proses iodisasi garam yang diproduksi oleh industri maupun pada garam rakyat.
Proses iodisasi garam merupakan proses penambahan iodium dalam bentuk KIO 3.
Iodium merupakan salah satu zat yang sangat dibutuhkan dalam tubuh dalam
pembentukan hormon tiroid. Iodium yang masuk ke dalam tubuh akan berubah
menjadi iodida dan diserap dalam usus halus masuk ke dalam darah. Setiap harinya
diperlukan 100-200 mikrogram iodium untuk memepertahankan fungsi normal tiroid.
Kandungan iodium yang ditambahkan dalam garam tidaklah sembarangan
karena kelebihan kadar iodium dalam tubuh juga dapat menyebabkan penyakit. Untuk
itu, perlu dilakukan analisis kadar garam dalam garam beriodium yang beredar di
pasaran. Analisis kadar iodium pada garam dapat dilakukan melalui titrasi iodometri.
Titrasi iodometri merupakan salah satu titrasi redoks yang melibatkan perpindahan
elektron. Dalam titrasi iodometri analit direduksi dengan KI sehingga menghasilkan I 2
yang berwarna kuning, reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut:
Oksanalit + I- Redanalit + I2
I2 yang terbentuk selanjutnya ditambahkan indikator larutan kanji. Indikator
larutan kanji lebih sering digunakan karena memberikan perubahan warna yang
mudah diamati dan jelas. Penambahan indikator larutan kanji akan mengakibatkan
terbentunya komplek biru pekat dari I2 dengan amilum. I2 yang terbentuk selanjutnya
dititrasi dengan natrium tiosulfat (Na2S2O3) sehingga terjadi reaksi sebagai berikut:
2S2O3-2 + I2 S4O6-2 + 2I-

Larutan Na2S2O3 yang digunakan merupakan larutan standar sekunder karena


bersifat tidak stabil dalam jangka waktu yang lama. Untuk itu larutan tiosulfat
tersebut distandarisasi terlebih dahulu oleh larutan standar primer KIO3. Secara garis
besar tahapan-tahapan dalam analisis garam beriodium dengan titrasi iodometri dapat
dituliskan sebagai berikut:
1. Membuat larutan standar sekunder Na2S2O3
2. Membuat larutan standar primer KIO3
3. Membuat larutan indikator (larutan kanji)
4. Membuat larutan asam (HCl 35%)
5. Menstandarisasi larutan Na2S2O3 dengan larutan KIO3
6. Menganalisis iodat pada garam beriodium
7. Menghitung kadar iodium dalam garam berdasarkan data hasil percobaan

Analisis Garam Beriodium


Daya reduksi ion iodida cukup besar sehingga titrasi ini banyak digunakan
diterapkan dalam penentuan berbagai analit salah satunya yang dianalisis dalam titrasi
ini adalah analisis ion IO3- dalam garam beriodium.
Titrasi ini dapat dilakukan tanpa indikator dari luar karena I 2 yang dititrasi
akan hilang apabila titik akhir dicapi. Perubahan warna yang terjadi adalah dari coklat
agak tua, coklat muda, kuning, kuning muda, dan sampai akhirnya hilang. Apabila
diamati perubahan warna tersebut dengan cermat, maka titik akhir titrasi dapat
ditentukan dengan cukup jelas. Konsentrasi ~ 5 x 10 -6 M iod masih tepat dapat dilihat
dengan mata dan memungkinkan titrasi dihentikan dengan kelebihan hanya sebanyak
1 tetes iod 0,05 M.
Indikator Amilum
Indikator yang digunakan untuk mengetahui bahwa reaksi telah lengkap
adalah amilum. Indikator amilum lebih sering digunakan karena memberikan
perubahan warna yang mudah diamati dan jelas. Dalam titasi iodometri bila oksidanya
telah habis maka tetesan terakhir dari titran (Na 2S2O3) akan menghilangkan warna
biru dari titratnya. Amilum dengan I2 membentuk kompleks berwarna biru tua yang
masih sangat jelas, meskipun jumlah I2 sangat sedikit. Pada titik akhir titrasi, iod yang
terikat bereaksi dengan titran sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahan
warnanya tampak sangat jelas. Penambahan amilum dilakukan pada saat mendekati
titik akhir titrasi (warna kuning muda). Hal ini dilakukan agar amilum tidak
membungkus iod dan menyebabkan sukar lepas kembali, sehingga dapat dihindari
kesulitan hilangnya warna biru.
IV. Alat dan bahan
No Nama alat Spesifikasi Jml No Nama bahan Spesifikasi Jml
1 Mikro buret - 1 buah 1 Na2S2O3. 5H2O - secukupnya
2 Statif - 1 buah 2 Aquades - secukupnya
3 Klem - 1 buah 3 Garam beriodium - secukupnya
4 Erlenmeyer - 4 buah 4 Amilum - secukupnya
5 Gelas kimia 100 mL 5 buah 5 Asam Borat - secukupnya
6 Gelas kimia 250 mL 2 buah 6 KIO3 - secukupnya
7 Gelas ukur 50 mL 1 buah 7 NaCl - secukupnya
8 Gelas ukur 10 mL 1 buah 8 KI - secukupnya
9 Labu ukur 250 mL 2 buah 9 HCl pekat - secukupnya
10 Labu ukur 50 mL 2 buah - secukupnya
11 Corong Besar/kecil 1 buah
12 Pipet tetes - 2 buah
13 Pipet volume 1 buah
14 Neraca analitik 1 buah
15 Kaca arloji Besar/kecil 4 buah
16 Spatula - 1 buah
17 Batang pengaduk - 1 buah
V. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan

No. Prosedur Kerja Reaksi yang terjadi Hasil Pengamatan


4.1 Membuat Larutan standar sekunder Na2S2O3 0,I N
a. Sebanyak 6,25 gram Na2S2O3. Terbentuk larutan tidak berwarna Menimbang sebanyak 6,2545 gram Na2S2O3. 5H2O
5H2O ditimbang dan dilarutkan yang berupa serbuk putih
dengan aquades mendidih dalam
labu ukur 250 mL. Selanjutnya
dikocok hingga homogen.

Dan melarutkannya dalam aquades mendidih,


sehingga terbentuk larutan yang tidak berwarna.

b. Dilakukan pengenceran 20 kali Reaksi yang terjadi: Sebelum dilakukan pengenceran dilakukan
S2O3-2 S4O6-2 + 2e
sehingga konsentrasi Na2S2O3 Larutan tetap tidak berwarna. perhitungan sebagai berikut :
Keadaan awal :
menjadi 0,005 N. 6,2545 gram
Mol Na2S2O3 = 248 gram/mol
Mol Na2S2O3 = 0,025 mol
0,025 mol
[Na2S2O3] = 0,25 L
[Na2S2O3] = 0,1 M

Keadaan akhir :
Diharapkan konsentrasi setelah pengenceran 20
kali adalah 0,005 N . Dari reaksi berikut :
2 S2O3-2 S4O6-2 + 2e
Berarti 1 mol S2O3-2 melepaskan 1e sehingga n
= 1 ekiv/mol, maka:
N=nxM
0,005 N
M= dengan 1N = 1 ekiv/L maka
1 ekiv/mol
0,005 ekiv/L
M=
1 ekiv/mol
M = 0,005 M
Dalam pengenceran diharapkan volume akhir
adalah 100 mL sehingga:
V1 x M1 = V2 x M2
V2 x M 2
V1 =
M1
100 mL 0,005 M
V1 = 0,1 M
V1 = 5 mL
Jadi, larutan Na2S2O3 awal yang diambil adalah 5
mL kemudian ditambahkan dengan 95 mL aquades,
larutan tetap bening tidak berwarna.

d. Sebanyak 1 gram amilum dan 1 Terbentuk gelatin yang jernih Menimbang sebanyak 1,000 gram tepung kanji
gram asam borat dimasukkan ke
dalam 100 mL aquades. Dididihkan
sampai membentuk gelatin yang
jernih dan selanjutnya didinginkan.

Menimbang sebanyak 1,000 gram asam borat


Setelah amilum dan asam borat ditambahkan
aquades terbentuk larutan putih dan sedikit amilum
yang belum larut. Setelah dididihkan terbentuk
gelatin yang jernih seperti koloid.

4.2 Membuat larutan standar primer KIO3 0,005 N


a. Ditimbang 1,7834 gram KIO3 dan Terbentuk larutan tidak berwarna Menimbang sebanyak 1,7834 gram KIO3
dilarutkan dengan aquades dalam
labu ukur ukuran 50 mL dan
dikocok sampai homogen.
Disimpan dalam botol yang sesuai.

dan dilarutkan dengan aquades dalam labu ukur 50


mL sehingga terbentuk larutan yang tidak berwarna

b. Dilakukan pengenceran 200 kali Reaksi yang terjadi: Keadaan awal


1,7834 gram
sehingga konsentrasi KIO3 menjadi IO3- + 5I- + 6H+ 3I2 + 3 H2O Mol KIO3 = 213,9 gram/mol
0,005 N. Terbentuk larutan tidak berwarna
Mol KIO3 = 0,0083 mol
0,0083 mol
[KIO3] = 0,05 L
[KIO3] = 0,166 mol/L
[KIO3] = 0,166 M
Keadaan akhir
Diharapkan konsentrasi KIO3 setelah pengenceran
adalah 0,005 N dengan volume akhir 100 mL.
dengan reaksi sebagai berikut :
IO3- + 5I- + 6H+ 3I2 + 3 H2O

1 mol IO3- akan memerlukan 6 mol H+ sehingga n


= 6 ekiv/mol, maka
0,005 ekiv/L
M = M = 0,00083 mol/LM =
6 ekiv/mol
0,00083 M
V1 x M1 = V2 x M2
100 mL 0,00083 M
V1 = 0,166 M
V1 = 0,5 mL

Jadi, perlu mengambil 0,5 mL larutan KIO3 untuk


diencerkan 200 kali supaya konsentrasinya 0,005 N.
untuk itu perlu ditambahkan aquades sebanyak 99,5
mL.
4.3 Standarisasi larutan Na2S2O3 0,005 N dengan KIO3
a. Dilarutkan 12,5 gram NaCl dalam Terbentuk larutan tidak berwarna. Menimbang sebanyak 12,5016 gram NaCl
50 mL aquades dan dimasukkan ke
dalam erlenmeyer.

Setelah ditambahkan aquades terbentuk larutan tidak


berwarna.

b. Ditambahkan berturut-turut 0,005 Terbentuk larutan berwarna biru pekat. Setelah ditambahkan larutan KIO3 dan HCl, larutan
gram KI: 2,5 mL KIO3 0,005 N; 2 tetap tidak berwarna
mL larutan kanji 1% dan 1 mL HCl
0,1M
Setelah ditambahkan KI, larutan menjadi berwarna
kuning.
Selanjutnya setelah ditambahkan larutan kanji
larutan menjadi berwarna biru pekat.

c. Titrasi larutan tersebut dengan Terbentuk larutan yang tidak berwarna Pada saat dititrasi dengan Na2S2O3 warna biru mulai
Na2S2O3 0,005 N sampai warna memudar dan terbentuk larutan yang tidak berwarna.
biru dari larutan hilang.
Dicatat volume titran yang IO3-(aq) + 5I-(aq) + 6H+ 3I2 + 3H2O No Titrasi Volume titran
S4O62-(aq) + 2I-(aq) ke
diperlukan sampai titik akhir titrasi I2(aq) + 2S2O32-(aq)
1 I 1,92 mL
dan dilakukan strandarisasi ini 2 II 2,18 mL
minimal sebanyak 3 kali. 3 III 1,87 mL
Dari tabel di atas, dapat dihitung konsentrasi larutan
Na2S2O3 sebagai berikut:
Pada titrasi pertama
Ekivalen titran = ekivalen titrat
Ekivalen S2O3- = ekivalen IO3-
N1 x V1 = N2 x V2
N 2 x V2
N1 =
V1
0,005 N x 2,5 mL
N1= 1,92 mL
N1 = 0,0065 N
Pada titrasi kedua
Ekivalen titran = ekivalen titrat
Ekivalen S2O3- = ekivalen IO3-
N1 x V1 = N2 x V2
N 2 x V2
N1 =
V1
0,005 N x 2,5 mL
N1= 2,18 mL
N1 = 0,0057 N
Pada titrasi ketiga
Ekivalen titran = ekivalen titrat
Ekivalen S2O3- = ekivalen IO3-
N1 x V1 = N2 x V2
N 2 x V2
N1 =
V1
0,005 N x 2,5 mL
N1= 1,87 mL
N1 = 0,0066 N
Dari perhitungan yang telah dilakuakan maka
didapatkan konsentrasi Na2S2O3 sebagai berikut:
0,0065 0,0057 0,0066
N=
3

N= 0,0062 N
2 2 3
Jadi, konsentrasi larutan Na S O setelah

distandarisasi adalah 0,0062 N

4.4 Analisis iodat pada garam beriodium


a. Dilarutkan 25 gram garam Terbentuk larutan agak keruh. Garam yang digunakan adalah garam beriodium
beriodium dalam 25 mL aquades dengan merk Kerapan Sapi.
dan membaginya membagi 4
bagian serta memasukkannya ke
dalam masing-masing labu
Erlenmeyer.

Menimbang sebanyak 25 gram garam

Garam yang ditimbang dilarutkan dalam aquades


dan terbentuk larutan yang agak keruh
b. Ditambahkan berturut-turut 0,1 Terbentuk larutan biru pekat Pada saat larutan garam ditambahkan larutan HCl,
gram KI, 2 mL larutan kanji 1 % larutan tidak mengalami perubahan warna.
dan 1 mL HCl 0,1 M

Setelah ditambahkan KI larutan berubah warna


menjadi kuning.
Setelah ditambahkan larutan kanji larutan berubah
warna dari kuning menjadi biru pekat.

c. Dititrasi larutan di atas dengan Terbentuk larutan tidak berwarna. Pada saat dititrasi dengan Na2S2O3 warna biru mulai
memudar dan terbentuk larutan yang tidak berwarna
larutan Na2S2O3 yang telah
distandarisasi sampai warna biru
dari larutan menghilang.

- - +
d. yang IO3 + 5 I + 6 H 3 I2 + 3 H2O No Titrasi ke Volume titran
Dicatat volume titran
2- 2- - 1 I 3,21 mL
diperlukan sampai titik akhir dan 2 S2O3 + I2 S4O6 + 2 I 2 II 2,80 mL
dilakukan titrasi sebanyak 3 kali. 3 III 2,95 mL

e Diperoleh kadar iodium dalam garam perdagangan


Ditentukan kadar iodium (dalam
persen iodat) dan garam yang Kerapan Sapi yaitu 26,1 ppm
dianalisis