Anda di halaman 1dari 70

PT.

PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

1. PENGENALAN SUTT/SUTET

1.1. Pendahuluan

Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra
Tinggi (SUTET) berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik dari Pusat Pembangkit
ke Gardu Induk atau dari Gardu Induk ke Gardu Induk atau dari Gardu Induk ke
konsumen tegangan tinggi. Berdasarkan besaran tegangan yang saat ini masih
digunakan PLN, SUTT memiliki tegangan 70 kV dan 150 kV sedangkan SUTET
memiliki tegangan 500 kV. Pembangunan SUTT/SUTET adalah merupakan
rangkaian proses yang panjang yang dimulai dari survey jalur, pengadaan lahan,
pekerjaan pondasi, pengadaan material (tower, konduktor, isolator dan asesoris),
erection tower, pembebasan jalur dari tanaman dan tumbuhan (ROW) dan
pemasangan konduktor (stringing).

Kegiatan pemasangan konduktor merupakan bagian akhir dari seluruh


rangkaian proses pembangunan SUTT / SUTET namun bukan merupakan kegiatan
yang mudah. Ada faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilah penarikan
konduktor ini. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
penarikan konduktor ini terdiri atas faktor eksternal dan faktor internal. Faktor
eksternal yang menentukan keberhasilan penarikan konduktor adalah :
- Tahapan pembangunan SUTT / SUTET yang mengawali sebelum
penarikan kawat dilakukan, telah diselesaikan seluruhnya. Penarikan konduktor
tidak bisa dilakukan apabila didalam satu section penarikan masih ada tower yang
belum berdiri lengkap atau urugan tanahnya belum sempurna bahkan apabila
tahanan pembumiannya belum sesuai dengan spesifikasi teknis.
- Bisa juga penarikan dimulai untuk beberapa section penarikan namun
harus ada jaminan bahwa pada saat kegiatan di section penarikan telah
dilakukan, section yang lainnya harus sudah siap. Dengan demikian diharapkan
tidak ada kekosongan kegiatan penarikan karena hal ini akan mengakibatkan
target penyelesaian jalur tidak tercapai.

On Becoming the Center of Excellence


1
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

- Tersedianya dana pendukung operasional penarikan konduktor


- Tidak adanya permasalahan sosial di sepanjang jalur SUTT / SUTET.

Faktor internal yang menentukan keberhasilan penarikan konduktor adalah:


- Tersedianya peralatan penarikan konduktor dengan jumlah yang cukup
untuk melaksanakan penarikan secepat mungkin,
- Tersedianya SDM yang benar-benar terampil serta berpengalaman
(berkompeten) di bidang penarikan konduktor.

Penarikan Konduktor pada dasarnya adalah Kerja Tim yang melibatkan PLN
selaku pemilik proyek dan Kontraktor selaku pelaksana. Setiap individu didalam Tim
tersebut harus dapat bekerja sama secara sinergis untuk melaksanakan kegiatan
penarikan konduktor sesuai jadwal yang sudah disepakati bersama. Peran PLN
dalam Tim tersebut utamanya adalah :
Memastikan kebutuhan material (konduktor, GSW/OPGW, isolator, asesoris)
untuk stringing tersedia lengkap.
Memastikan bahwa proses pembayaran untuk ROW berjalan lancar.
Memastikan bahwa semua permasalahan sosial yang timbul dapat diselesaikan
dengan baik.
Memastikan koordinasi dengan pihak pihak yang terkait untuk kelancaran
proses penarikan berjalan dengan baik.

Sedangkan peran Kontraktor dalam Tim adalah :


Memastikan peralatan utama (engine dan tensioner) dan peralatan bantu
stringing berfungsi baik dan cukup lengkap.
Memastikan regu pembersihan jalur, regu penarikan, regu sagging clamping
terampil dan cukup jumlahnya.
Memastikan akomodasi (base camp), transportasi, peralatan safety dan
penempatan peralatan stringing terlaksana dengan baik.
Memastikan bahwa upah buruh pekerja dapat dibayar sesuai jadwal.

On Becoming the Center of Excellence


2
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Apabila Tim Stringing dapat bersinergis maka diharapkan proses penyelesain


pekerjaan pemasangan konduktor dapat mememnuhi target waktu yang ditentukan.
1.2. Pengenalan SUTT/SUTET
Secara umum setiap SUTT/SUTET terdiri dari :
- Pondasi
- Tower
- Konduktor dan kawat tanah
- Isolator dan kelengkapannya
- Asesoris

1.2.1. Pondasi
Pondasi adalah suatu bangunan dibawah tanah sebagai titik tumpu berdirinya tower.
Bangunan pondasi harus kuat karena tower yang berdiri diatasnya memberikan 2
(dua) jenis gaya, yaitu :
- Gaya vertikal yang dihasilkan oleh beratnya tower
- Gaya transversal yang dihasilkan oleh adanya tiupan angin dan tarikan
konduktor

Kekuatan pondasi dipengaruhi oleh kondisi tanah dimana pondasi itu dibangun.
Luasan tanah yang diperlukan untuk membangun pondasi tower ditentukan
berdasarkan jenis tower yang akan dibangun. Pada umumnya kebutuhan luasan
tanah untuk lattice tower yang banyak dibangun PLN adalah sebagai berikut :

Tower Luasan tanah yang diperlukan (m2)


Lattice 70 kV 150 kV 500 kV
Suspension 8x8 12 x 12 25 x 25
Tension 10 x 10 15 x 15 35 x 35

Adapun jenis jenis tanah yang biasa dijumpai adalah : tanah normal, tanah
berlumpur, tanah berpasir dan tanah berbatu. Dengan demikian, jenis pondasi tower
dapat dikelompokkan berdasarkan jenis tanahnya sebagai berikut :
a. Normal Fondation
Adalah jenis pondasi untuk tanah normal seperti gambar berikut ini :

On Becoming the Center of Excellence


3
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Stub

Plinth Chimney

Slab

Pondasi Normal

b. Special Fondation
Pondasi ini dipergunakan untuk keadaan tanah yang lembek. Pondasi ini tidak
perlu tinggi tapi harus lebar untuk menjaga agar tower tidak roboh (L x L = L 2).

c. Rock Fondation
Jenis pondasi ini dipergunakan pada tanah berbatuan dimana bearing capacity
tanahnya > 5 Kg/cm2. Semua pondasi di cor, chimney tidak perlu tinggi (30 50
cm) dan hanya untuk membungkus besi stub agar tidak karatan.

d. Raft Fondation
Jenis pondasi ini dipergunakan untuk daerah yang keadaan tanahnya sangat
lembek dan berair. Ketinggian pondasi kurang lebih 50 cm namun cukup luas
dan lebih besar dari pondasi spesial jadi seperti rakit dan seolah olah
mengambang.

e. Auger Fondation (Bor Pile)


Jneis pondasi ini dipergunakan sebagai pengganti pondasi tipe normal pada
kondisi lahan yang cukup sulit.

f. Rock Drilled Fondation


Jenis pondasi ini merupakan perbaikan dari tipe rock dengan membuat beberapa
lobang dengan diameter 10 cm dan kedalaman 6 10 m dengan menggunakan
peralatan Jack Hammer. Setiap lobang diisi dengan besi beton dan diberi cabang
cabang yang dilas untuk menjaga agar batang besi beton tepat ditengah lobang.

On Becoming the Center of Excellence


4
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Setelah pembesian kemudian dilakukan pengecoran dengan semen cair dan


sedikit pasir dan dipadatkan dengan menggunakan vibrator.

g. Special Pile
Jenis pondasi ini merupakan pengembangan dari jenis special. Dibuat dengan
concrete cetakan dengan penampang bujur sangkar (30x30 cm atau 40x40 cm)
atau penampang lingkaran dengan diameter 30 40 cm.

1.2.2. Tower
Tower adalah struktur bangunan tinggi diatas pondasi yang berfungsi untuk memikul
beban konduktor dan kawat tanah. Tower listrik harus kuat terhadap beban yang
bekerja padanya, antara lain yaitu:
- Gaya berat tower dan kawat penghantar (gaya tekan).
- Gaya tarik akibat rentangan kawat.
- Gaya angin akibat terpaan angin pada kawat maupun badan tower.

Tower dapat dibedakan berdasarkan material konstruksi dan fungsi.


Berdasarkan struktur material, ada 2 jenis tower yaitu :
a. Tower rangka baja.
Tower rangka baja adalah jenis tower yang strukturnya disusun dari material
baja. Ada dua jenis tower tower rangka baja yaitu steel pole dan lattice tower.
i) Konstruksi steel pole tower terbuat dari baja berbentuk pipa (tubular).
Tower jenis ini banyak digunakan didaerah perkotaan karena tidak
membutuhkan lahan untuk pondasi yang luas.
ii) Konstruksi lattice tower terbuat dari baja siku dan plat. Tower jenis ini
banyak digunakan diluar perkotaan karena membutuhkan lahan pondasi
yang luas. Ada beberapa model tower lattice, seperti :
Triangle Arrangement digunakan untuk single circuit 3 phasa, satu
earth wire.
Horisontal Arrangement digunakan untuk single circuit 3 phasa, dua
earth wire.
Piramide Vertical Arrangement digunakan untuk double circuit 3 phasa,
satu atau dua earth wire.

On Becoming the Center of Excellence


5
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

b. Tower beton
Konstruksi tower beton sama seperti tower steel pole, hanya saja materialnya
terbuat dari beton.

Berdasarkan fungsinya ada dua jenis tower, yaitu tower penyanggah (suspension
tower) dengan sudut penyimpangan < 3 0 dan tower tarik (tension tower) dengan
sudut penympangan > 30. Tabel berikut memperlihatkan penamaan tipe tower
berdasarkan besaran sudut penyimpangan:

TEGANGAN TINGGI TEGANGAN EXTRA TINGGI


No
SINGLE DOUBLE SINGLE DOUBLE
. SUDUT SUDUT
CIRCUIT CIRCUIT CIRCUIT CIRCUIT
1. A AA 0 A AA 0-2
2. B BB 3-20 B BB 2-10
3. C CC 20-60 C CC 10-30
4. D DD 60-90 D DD 30-60
5. E EE >90 E EE 60-90
6. DR DDR >90 F FF 0-45
Jenis jenis tower suspension dan tower tension berdasarkan fungsinya dilapangan
sebagai berikut :
a. Dead end tower, yaitu tiang akhir yang berlokasi di dekat Gardu induk, tower ini
hampir sepenuhnya menanggung gaya tarik.
b. Section tower, yaitu tiang penyekat antara sejumlah tower penyangga dengan
sejumlah tower penyangga lainnya karena alasan kemudahan saat
pembangunan (penarikan kawat), umumnya mempunyai sudut belokan yang
kecil.
c. Suspension tower, yaitu tower penyangga, tower ini hampir sepenuhnya
menanggung gaya berat, umumnya tidak mempunyai sudut belokan.
d. Tension tower, yaitu tower penegang, tower ini menanggung gaya tarik yang
lebih besar daripada gaya berat, umumnya mempunyai sudut belokan.
e. Transposision tower, yaitu tower tension yang digunakan sebagai tempat
melakukan perubahan posisi kawat fasa guna memperbaiki impendansi
transmisi.
f. Gantry tower, yaitu tower berbentuk portal digunakan pada persilangan antara
dua Saluran transmisi. Tiang ini dibangun di bawah Saluran transmisi existing.

On Becoming the Center of Excellence


6
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

g. Combined tower, yaitu tower yang digunakan oleh dua buah saluran transmisi
yang berbeda tegangan operasinya.

Bagian bagian tower diperlihatkan pada gambar berikut ini :

Peak Cross Arm

Upper Cross Arm

Middle Cross Arm

Lower Cross Arm

Body Parts (BP I sd BP IV)

Body Extension (+ 0, + 3, + 6, + 9)

Kaki Tower (Leg)

1.2.3. Konduktor dan Kawat Tanah

On Becoming the Center of Excellence


7
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Konduktor (kawat penghantar) berfungsi untuk mengalirkan arus listrik dari suatu
tempat ke tempat lainnya. Penghantar untuk saluran transmisi lewat udara
(Overhead Lines) adalah kawat-kawat tanpa isolasi (bare, telanjang) yang
bentuknya :
- padat (solid),
- berlilit (stranded) atau
- berongga (hollow),
dan terbuat dari logam biasa, logam campuran (alloy) atau logam paduan
(composite). Untuk tiap-tiap fasa penghantarnya dapat berbentuk tunggal maupun
sebagai kawat berkas (bundled conductors). Menurut jumlahnya ada berkas yang
terdiri dari dua, tiga atau empat kawat. Kawat berkas penggunaannya untuk
menyalurkan daya dalam jumlah besar. Beberapa SUTT terutama yang
diperhitungkan atau direncanakan untuk menyalurkan daya dalam jumlah yang
besar, kawat berkas digunakan dalam sistem tegangan ekstra tinggi.

Konduktor berkas 2 kawat Konduktor berkas 4 kawat


(twin conductors) (quadruple)

Bahan konduktor yang dipergunakan untuk saluran energi listrik perlu memiliki
sifat sifat sebagai berikut :
a. konduktivitas tinggi
b. kekuatan tarik mekanikal tinggi
c. tidak berat
d. biaya rendah
e. tidak mudah patah

On Becoming the Center of Excellence


8
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Untuk memenuhi syarat ini biasa digunakan bahan aluminium atau tembaga.
Kawat yang dipasang tidak solid melainkan terdiri atas jalinan beberapa kawat
(stranded).

Jenis-jenis konduktor yang banyak digunakan pada SUTT/SUTET PLN saat


ini antara lain :
a. Konduktor ACSR (Alluminium Conductor Steel Reinforced)
Konduktor ACSR terdiri dari aluminium dan baja dimana kawat baja berfungsi
memikul kekuatan mekanikal sedangkan aluminium berfungsi sebagai
penghantar.

b. Konduktor TACSR (Thermal ACSR)


Konduktor ini merupakan pengembangan dari ACSR yang mempunyai kuat
hantar arus lebih tinggi 1,5 kali ACSR. Hal ini disebabkan TACSR memiliki
kemampuan tahan panas yang lebih tinggi daripada ACSR sehingga saat
dibebani tinggi konduktor mengalami pemuaian yang lebih dibanding ACSR
biasa.

c. Konduktor GTACSR (Gap Thermal ACSR)


Konduktor GTACSR merupakan teknologi baru setelah TACSR yang mempunyai
karakteristik hantar arus kurang lebih 1,6 kali sampai 2 kali.

d. Konduktor ACCC (Aluminium Conductor Compsite Core)


Konduktor ACCC mempunyai kuat hantar arus kurang lebih 2 kali dibandingkan
konduktor ACSR.

Tabel capacity penyaluran daya untuk berbagai jenis dan ukuran konduktor
dapat dilihat pada lampiran 1.

Kawat Tanah atau yang biasa disebut denga Ground Steel Wire (GSW)
biasanya terdiri dari lilitan kawat baja (St 35 atau St 50) yang ditempatkan diatas
kawat penghantar berfungsi sebagai pelindung kawat penghantar terhadap

On Becoming the Center of Excellence


9
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

sambaran petir langsung. Selain GSW, kawat tanah lainnya yang banyak
digunakan adalah jenis OPGW (Optic Ground Wire).

Kawat Tanah jenis OPGW terdiri dari lilitan kawat aluminium baja (ACS :
Alluminium Clad Steel Wire) yang berintikan kawat aluminium berongga. Rongga
ini ditempati oleh saluran fiber optik yang digunakan untuk keperluan
telemetering, telekomunikasi, teleproteksi, teledata dan lain sebagainya.

1.2.4. Isolator dan kelengkapnnya.


Isolator berfungsi untuk memisahkan konduktor yang bertegangan dengan tower
yang terhubung dengan tanah. Isolator dipasang atau digantung pada cross arm
(travers) sedangkan konduktor yang bertegangan dipasang pada jepit isolator.

Isolator dibuat dari bahan porselen, gelas atau polymer (composite) dan memiliki
kekuatan yang mampu untuk memikul beban mekanikal dan elektrikal.

Renteng isolator SUTET 500 kV


siap dirangkai untuk dipasang di tower

On Becoming the Center of Excellence


10
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Panjang jarak rayap isolator (creepage distance) adalah panjang jarak yang
diukur dari salah satu elektroda menyusuri bentuk permukaan isolator hingga
elektroda yang lain. Dengan demikian jarak rayap yang besar mempunyai tahanan
permukaan yang tinggi. Berdasarkan panjang jarak rayap ini kemudian ditentukan
jumlah renteng isolator untuk besaran tegangan yang digunakan sebagai berikut :
a. 70 kV = 5 piringan isolator
b. 150 kv = 12 piringan isolator
c. 500 kV = 30x2 = 60 piringan isolator (tergantung type tower)

Type Isolator :
a. Fog
b. Anti Fog
c. Special Fog

Macam-macam pemasangan isolator :


a. Single suspension isolator

b. Double Suspension Isolator

On Becoming the Center of Excellence


11
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

c. Model V : Suspension Isolator (untuk 500 kV)

d. Strain Isolator (untuk tower sudut)

String set adalah perlengkapan untuk memegang konduktor agar tidak jatuh. String
set terdiri dari : Suspension dan tension
Suspension set terdiri dari:
- Shackle,
- Ball eye,
- Arcing horn,
- Insulator,
- Socket tongue,
- Suspension clamp,
- Armorod.

Tension string set terdiri dari :


- Straight link,
- Sackle,

On Becoming the Center of Excellence


12
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

- Yoke plate,
- Ball clevis,
- Single racket,
- Arcing horn,
- Insulator,
- Sag adjuster,
- Dead end clamp.
- Terminal Jumper.

1.2.5. Asesoris
Asesoris adalah peralatan yang digunakan pada konduktor dan kawat tanah untuk
memenuhi ketentuan teknis yang dipersyaratkan. Beberapa asesoris yang
digunakan pada SUTT/SUTET adalah sebagai berikut :

a) Sambungan Konduktor (Joint)


Sambungan (Joint) ini biasa dipakai untuk menyambung konduktor saat penarikan
karena adanya keterbatasan panjang dalam satu drum (haspel) konduktor.
Sambungan (joint) harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain :
a. konduktivitas listrik yang baik
b. kekuatan mekanis dan ketahanan yang tangguh.

Dalam proses penyambungan konduktor, perlu diperhatikan :


Joint jangan terlalu dekat dengan titik tower (sebaiknya > 25 meter dari cross
arm)
Joint jangan dilakukan di lokasi crossing (persilangan) dengan utilities lainnya
seperti rel KA, jalan raya, sungai, SUTT/SUTET lainnya dll.
Dalam 1 span sebaiknya hanya ada 1 joint.

b) Perentang (spacer)
Perentang (spacer) dipasang untuk kawat berkas agar konduktor dalam satu fasa
tidak mendekat atau bertumbukan karena adanya gaya elektromekanis atau angin.
Spacer dipasang di dekat tiang dengan jarak sesuai ketentuan yang berlaku dalam

On Becoming the Center of Excellence


13
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

kontrak, pada umumnya 15 40 meter untuk SUTT 150 kV dan 75 meter untuk
SUTET 500kV dan ditengah span (midspan).

Spacer untuk Konduktor berkas 4


kawat
(quadruple)

c) Pelindung Konduktor (armour rod)


Pelindung konduktor yang oleh pekerja biasa disebut Armour rod dipasang di
tower suspensi untuk melindungi konduktor dari jepitan fitting suspension clamp
saat konduktor bergerak karena pengaruh angin (swing).

Arching
horn

Armour rod

Damper

konduktor

On Becoming the Center of Excellence


14
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

d) Peredam (damper)
Peredam (damper) dipasang dekat pengapit (fitting clamp isolator) untuk
menghidarkan kelelahan penghantar karena getaran (vibration).

e) Jumper terminal
Adalah terminal untuk pennyambung konduktor pada tiang tension.

f) Arcing Horn
Adalah tanduk api untuk menghindarkan terjadinya loncatan api listrik akibat
kelebihan muatan sehingga loncatan api listrik terjadi antar arcing horn bukan
antar konduktor dengan tiang melalui permukaan isolator.

g) Dead-end clamp
Adalah kompresion klem yang dipasang pada tiang tension untuk menjepit
konduktor.

h) Sag Adjuster
Adalah peralatan untuk memudahkan/mengatur andongan konduktor pada waktu
sagging .

i) Yoke Plate
Adalah peralatan transmisi yang digunakan untuk menggantungkan isolator
(suspension) dan memegang tarikan konduktor pada tiang tension.

j) Suspension Clamp
Adalah klem yang berfungsi untuk memegang konduktor pada tiang
penyangga(suspension tower).
Gambar selengkapnya dari aksesoris string set tersebut bisa dilihat pada
lampiran.

k) Protector tube

On Becoming the Center of Excellence


15
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Adalah alat untuk mengamankan sambungan /Joint konduktor supaya tidak terjadi
kerusakan pada waktu konduktor ditarik melalui montage roll.
2. PERALATAN STRINGING DAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD)

Peralatan kerja penarikan konduktor antara lain :


- Engine winch (mesin penarik)
- Tensioner (mesin penegang)
- Montage roll untuk konduktor
- Montage roll untuk GSW
- Mesin press (Hydraulic pressure machine)
- Come along (termasuk lidah come along)
- Hand wind (BV)
- Tirfor 2 ton, 3 ton (sesuai beban yang akan ditarik)
- Kunci, obeng, tang
- Tambang
- Keranjang peralatan kerja (tools bag)
- Lever hoist (tackle rantai)
- Anchor sackle (begel)
- Tangga aspan
- Snatch block
- Seling bantu (untuk mencantolkan peralatan)
- Screw anchor
- Seling untuk skur
- Joint protector
- Gunting konduktor untuk memotong dan menyambung konduktor.
- Drum jack (drum stand) untuk menempatkan konduktor dalam gulungan (haspel)
- Kaki tiga (sebagai pengganti crane)
- Mini engine winch
- Handy talky
- Swivel
- Scaffolding.

On Becoming the Center of Excellence


16
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Peralatan safety sebagai alat pelindung diri, antara lain :


o Helmet
o Sarung tangan
o Sepatu kerja/sepatu panjat
o Sabuk pengaman (safety belt)
o Kaca mata (bila diperlukan)

On Becoming the Center of Excellence


17
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

On Becoming the Center of Excellence


18
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

3. TEKNIK MEMANJAT TOWER

3.1 Safety Procedure dalam memanjat tower


Bekerja pada suatu ketinggian merupakan pekerjaan dengan resiko
bahaya yang tinggi, demikian juga halnya dengan pekerjaan pekerjaan yang
dilakukan pada tower transmisi tenaga listrik dan tower telekomunikasi.

Berdasarkan data U.S. Occupational Safety and Health Administration


(OSHA) tahun 2006 dilaporkan bahwa dari 100.000 pekerja yang mengalami
kecelakaan pada pemanjatan tower/pendakian menara sebanyak 184 orang,
pilot 88 orang, petani 37 orang, Utility line (Jaringan Listrik) 35 orang dan
roofers (pekerja atap bangunan) 34 orang.
Dari data tersebut terlihat bahwa kecelakaan pada pekerjaan pemanjatan
tower/pendakian menara merupakan kecelakaan paling tinggi (184 orang)

Untuk melaksanakan pekerjaan pada tower transmisi tenaga listrik


maupun tower telekomunikasi diperlukan pemanjatan pada tower tersebut,
Untuk memastikan dan menjamin keselamatan bagi pemanjat maka
diperlukan suatu prosedur keselamatan (Safety Prosedure) dalam memanjat
tower yang benar dan aman.

3.1.1 Bahaya Bahaya Dalam Memanjat Tower.


Bahaya bahaya yang dapat timbul pada saat memanjat tower adalah
sebagai berikut
a. Terjatuh / terpeleset.
b. Tersengat listrik.
c. Gangguan binatang berbisa.

On Becoming the Center of Excellence


19
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

d. Kondisi cuaca.

3.1.2 Alat Pelindung Diri (APD)


Alat pelindung diri yang digunakan untuk memanjat tower antara lain ;
a) Full Body Harnes
Contoh full body harness dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1.

Berfungsi sebagai pengaman personil dari bahaya jatuh.

b) Lanyard
Contoh Lanyard dapat dilihat pada gambar 3.2.

Gambar 3.2.

Berfungsi sebagai pengaman personil saat memanjat.

c) Safety Helmet
Contoh Safety Helmet dapat dilihat pada gambar 3.3.

On Becoming the Center of Excellence


20
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 3.3.
Berfungsi sebagai pelindung kepala dari benturan pada bagian keras dan
benda jatuh.

d) Safety Shoes
Contoh Safety Shoes dapat dilihat pada gambar 3.4.

Gambar 3.4.
Berfungsi untuk melindungi kaki dari bahaya terbentur serta material
tajam.

e) Kacamata Pengaman
Contoh Kacamata Pengaman dapat dilihat pada gambar 3.5.

Gambar 3.5.

On Becoming the Center of Excellence


21
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Berfungsi untuk melindungi mata dari bahaya sinar ultra violet langsung
serta material kecil (debu )

f) Sarung Tangan Kulit / Katun


Contoh Sarung Tangan Kulit / Katun dapat dilihat pada gambar 3.6.

Gambar 3.6.

Berfungsi untuk melindungi tangan.

g) Keyker / Teropong
Contoh Keyker / Teropong dapat dilihat pada gambar 3.7.

Gambar 3.7.

Berfungsi sebagai alat bantu visual untuk memeriksa bagian-bagian


tower yang kurang jelas dari posisi jarak tertentu.

h) Peralatan Komunikasi
Contoh Peralatan Komunikasi dapat dilihat pada gambar 3.8.

On Becoming the Center of Excellence


22
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 3.8.
Berfungsi sebagai alat komunikasi 2 (dua) arah.
3.1.3 Prosedur keselamatan (Safety Procedure) dalam memanjat tower
Persyaratan personil yang akan memanjat tower :
a. Sehat jasmani dan rohani
b. Mempunyai kompetensi dalam memanjat tower.
c. Ada pengawasan dalam setiap pemanjatan.
d. Memahami pekerjaan yang akan dilaksanakan.

Tahapan Safety Procedure dalam memanjat tower :

I. Tahap I Persiapan
Hal-hal yang harus dilakukan :
1) Pelajari rencana kerja (pekerjaan yang akan dilaksanakan pada tower
harus direncanakan dengan sebaik-baiknya).
2) Pelajari dan pahami surat perintah kerja (SPK) / instruksi kerja (IK)
3) Pastikan kondisi jasmani dan rohani dalam keadaan siap
4) Siapkan peralatan kerja dan material yang diperlukan.
5) Siapkan dan periksa alat pelindung diri (APD) yang diperlukan.
6) Pastikan sudah ada pembagian tugas yang harus dilakukan oleh para
pemanjat.
7) Pahami dan antisipasi tempat tempat yang rawan bahaya.
8) Pastikan lokasi tower (nomor tower) yang akan dipanjat sudah betul
9) Pastikan kondisi tower dalam keadaan aman untuk dipanjat
10)Pastikan cuaca dalam keadaan baik

II. Tahap II Pelaksanaan Pekerjaan/Pemanjatan


Hal-hal yang harus dilakukan

On Becoming the Center of Excellence


23
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

1) Lakukan Doa Bersama


2) Gunakan / pakai APD yang sudah disiapkan
3) Laksanakan pemanjatan tower dengan benar dan aman :
- Pemanjatan dilakukan melalui step bolt/people ladder
- Gunakan lanyard atau camlok vertical rope fall protection , perhatikan
contoh Instruksi Kerja (IK) tentang pemanjatan tower yang telah
dibuat oleh PLN P3B Jawa Bali (ada pada lampiran materi ini).
- Atur jarak antar pemanjat.
4) Jaga konsentrasi selama melakukan pemanjatan.
5) Gunakan keseimbangan kaki dan tangan untuk memanjat (tumpuan
badan lebih dominan pada kaki).
6) Jika mengalami kelelahan, pemanjat dapat beristirahat sejenak
(kaitkan body harnes pada tower) sebagai pengaman.
7) Laksanakan pekerjaan sesuai rencana kerja (pastikan posisi pemanjat
selalu dalam keadaan aman)

III. Tahap II Pekerjaan selesai dan turun kembali dari tower.


Hal-hal yang harus dilakukan :
1) Periksa hasil pekerjaan, (apakah sudah sesuai dengan rencana ?)
2) Periksa semua peralatan kerja / material (apakah tidak ada yang
tertinggal ?)
3) Pemanjat turun dari atas tower (Gunakan lanyard atau camlok
vertical rope fall protection), perhatikan contoh Instruksi Kerja (IK)
tentang pemanjatan tower yang telah dibuat oleh PLN P3B Jawa
Bali (ada pada lampiran materi ini).
4) Periksa / rapihkan kembali peralatan kerja dan alat pelindung diri
5) Lakukan doa bersama
6) Buat laporan sesuai format yang sudah disiapkan

3.1.4 Formulir yang digunakan


1) Formulir Pemeriksaan Kesiapan Personil Sebelum Memanjat / Bekerja
Diatas Tower
2) Formulir Pembagian Tugas Dan Pemakaian Alat-Alat Pelindung Diri

On Becoming the Center of Excellence


24
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

3) Formulir Pernyataan Pekerjaan Selesai.

3.1.5 Instruksi Kerja (IK) Pemanjatan Tower.


Di PLN P3B Jawa Bali telah dibuat dan ditetapkan Instruksi Kerja yang
berkaitan dengan pemanjatan tower SUTT / SUTET untuk beberapa macam
pekerjaan yang dilakukan diatas tower SUTT / SUTET (Working On Top
Tower). Instruksi Kerja (IK) tersebut dapat dilihat dalam lampiran materi ini.
III.2 Teknik tali menali

III.2.1 Manfaat Tali Menali


Mengingat tidak semua pekerjaan dapat dikerjakan dengan menggunakan
peralatan mesin-mesin pengangkat, maka fungsi dari tali akan
menggantikannya. Oleh karena itu beberapa teknik tali menali yang tepat
sangat diperlukan untuk kelancaran pekerjaan.

III.2.2 Jenis Jenis Tali Menali


Jenis tali menali terdiri dari :
a. Simpul Reef Knot
b. Simpul Sheet Bend
c. Simpul Pangkal
d. Simpul Clove Hitch
e. Simpul Tarik
f. Simpul Bowline
g. Simpul Double Bowline
h. Simpul Laso

III.2.3 Simpul Reef Knot


Ikatan macam ini sebenarnya cenderung sebagai cara penyambungan.
Melihat namanya maka ini dapat diartikan sebagai suatu ikatan yang bersifat
pengunci. Simpul Reef knot digunakan hanya untuk tali yang memiliki ukuran
dan jenis yang sama. sebab bila tidak sama akan sangat membahayakan
dalam penggunaannya dilapangan. Contoh Simpul Reef Knot dapat dilihat
pada gambar 3.9.

On Becoming the Center of Excellence


25
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 3.9.
III.2.4 Simpul Sheet Bend
Seperti halnya simpul Reef Knot, Ikatan ini juga sebagai ikatan
penyambungan yang bersifat khusus yaitu jenis bahan tali yang berbeda satu
dengan yang lainnya.
Bagian yang elastis digunakan pada bagian yang menyilang.
Contoh Simpul Sheet Bend dapat dilihat pada gambar 3.10.
Bagian yang
menyilang

Gambar 3.10.

III.2.5 Simpul Pangkal


Seperti sebutannya Simpul Pangkal, demikian juga dengan kenyataannya
bahwa simpul ini umumnya ditempatkan pada pangkal. bagian dimana pada
bagian ujungnya diperlukan untuk menahan, suatu tarikan yang bersifat tetap.
Artinya kita bermaksud menahan suatu beban dalam beberapa waktu, kita
dapat menambatkannya pada suatu patok atau bagian lain yang cukup kuat,
cara itu dapat menggunakan cara ikatan atau simpul pangkal seperti yang
tampak dalam gambar berikut. Contoh Simpul Pangkal dapat dilihat pada
gambar 3.11.

On Becoming the Center of Excellence


26
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 3.11.
III.2.6 Simpul Clove Hitch
Simpul ini digambarkan sebagai Ikatan Kelopak Bunga Cengkeh. Simpul ini
sama dengan pola ikatan simpul pangkal. Penggunaan simpul ini adalah
untuk mengikat benda agar tidak bergeser pada media yang tidak berujung.

Contoh Simpul clove Hitch dapat dilihat pada gambar 3.12.

Gambar 3.12.

III.2.7 Simpul Tarik


Penggunaan simpul jenis ini adalah untuk ikatan - ikatan yang sedikitnya
dapat dikendalikan dari bawah, dimana tujuannya adalah agar setiap
keadaan dimana dibutuhkan dapat dilepaskan oleh petugas dari bagian
bawah. Demikian juga halnya oleh petugas yang berada diatas tiang / tower
dapat melepaskan ikatan.

Namun mengingat kondisi ini sangat membahayakan, maka setiap


penggunaan simpul macam ini harus selalu dalam pengawasan yang ketat,
sehingga hanya petugas yang ditunjuk baik dari bagian bawah ataupun dari
bagian atas saja yang dibenarkan membukanya. Sebab jika tidak, akan

On Becoming the Center of Excellence


27
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

membahayakan jatuhnya peralatan yang berakibat rusaknya peralatan serta


kecelakaan bagi petugas yang ada dibawahnya.

Contoh Simpul Tarik dapat dilihat pada gambar 3.13.

Gambar 3.13.

III.2.8 Simpul Bergerak (Simpul Bowline)


Simpul ini pada dasarnya hampir sama dengan laso dimana ikatannya
berada diujung tali, namun ia tidak lagi bersifat menjepit melainkan mengunci
pada ikatan yang tetap, sehingga tidak lagi dikhawatirkan akan merusak
barang yang diikat serta barang yang diikat itu sendiri dapat bebas bergerak-
gerak. Dilapangan umumnya lebih dikenal dengan simpul Mata Itik.

Simpul ini mempunyai dua bentuk yakni :


a) Simpul Bowline
Contoh Simpul bowline dapat dilihat pada gambar 3.14.

On Becoming the Center of Excellence


28
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 3.14.

b) Simpul Double Bowline


Contoh Simpul Double bowline dapat dilihat pada gambar 3.15.

Gambar 3.15.

III.2.9 Simpul Laso


Simpul ini umumnya diperlukan pada saat kita memerlukan suatu ikatan yang
sifatnya sedikit menjepit tetapi tidak bersifat ikatan, simpul mati dimana tetap
mudah melepaskan ikatannya.
Mengingat sifatnya yang demikian, tentunya kita tahu persis sifat dari bentuk
benda mana yang dapat dan boleh diikat. Dengan cara demikian misalnya
benda-benda yang berkaitan dan tidak rusak akibat terjepit sedemikian rupa .

Contoh Simpul Lasso dapat dilihat pada gambar 3.16.

On Becoming the Center of Excellence


29
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 3.16.

III.3 Pole Top Rescue (PTR)

3.3.1 Pengertian dan Tujuan Pole Top Resque (PTR)


Pole Top Resque adalah suatu metode penanganan kasus kecelakaan
petugas diatas tower pole pada saat melaksanakan pekerjaan.
Pole Top Resque dimaksudkan untuk menyelamatkan manusia, barang dan
bahkan diri sendiri diatas tower sewaktu sedang bekerja. Oleh karena itu
penanganan semacam itu harus dilakukan secara benar dan aman.
Pada prinsipnya PTR bisa diterapkan pada tower pole maupun tower lattice.

3.3.2 Contoh Pelaksanaan PTR


Beberapa contoh pelaksanaan PTR dapat dijelaskan sebagai berikut ;

Gambar 3.17. Menunjukan sikap dan posisi sempurna seorang petugas


yang sedang memanjat/bekerja diatas tiang dengan perlengkapan

Gambar 3.17.

On Becoming the Center of Excellence


30
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 3.18. menunjukan posisi dan kondisi seseorang petugas yang


sedang pingsan / kehilangan kesadaran diatas tiang. Kondisinya masih dapat
tertolong karena petugas tersebut dalam keadaan memakai sabuk pengaman
/ safety belt. Bisa dibayangkan jika yang bersangkutan tidak memakai sabuk
pengaman.

Gambar 3.18
.
Dalam kondisi yang demikian, segera salah seorang petugas memanjat ke
tiang / tower dengan membawa tambang dan memeriksa kondisi petugas
yang mengalami kecelakaan. Selanjutnya bila perlu segera berikan
pertolongan napas bantuan.

On Becoming the Center of Excellence


31
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 3.19.

Bila kondisi darurat sudah dapat dilalui seperti yang tampak pada gambar
3.20. maka dilakukan persiapan tali dengan penempatan yang tepat agar
tidak membahayakan.

Gambar 3.20.

Setelah diberikan aba-aba kepada petugas yang berada di bawah, Untuk


selanjutnya tambang dikendalikan dari bawah. Sementara yang lainnya
mempersiapkan tempat yang teduh sambil tetap menghubungi petugas dari
dinas kesehatan terdekat untuk memberikan pertolongan lebih lanjut .
(perhatikan gambar 3.21.)

On Becoming the Center of Excellence


32
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 3.21.
Selanjutnya perhatikan gambar 3.22. yang menyesuaikan penempatan tali
kelengkapan pelaksanaan Pole Top Rescue.

Letakkan simpul pada bagian dada korban dari sebelah kanan sehingga tidak
menghimpit jantung. Atur pula posisi badan dengan sedikit kekiri memberikan
bobot bagian atas dengan mambiarkan kepala terkulai kekiri, yang perlu diingat
adalah tetap tidak melepaskan Helm / topi pengaman agar memberikan
perlindungan terhadap benturan benda keras saat menggereknya ke bawah.

Gambar 3.22.

On Becoming the Center of Excellence


33
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Sedangkan yang tampak pada gambar 3.23. adalah cara membuat simpul yang
di rekomendasikan untuk sampai pada tingkat aman dengan melebihkan bagian
ujung tali sedikitnya satu meter atau lebih.

Gambar 3.23.

Kalau diperhatikan gambar 3.25. menunjukan bahwa meletakkan tambang


penggereknya pun tidak boleh sembarangan, sebab jika tidak seperti gambar
3.24. akan berakibat sangat fatal dimana bebannya akan jatuh tanpa terkendali.
Tambang yang dipergunakan harus dililitkan dua kali serta terkendali atau tidak
dibagian pinggir sehingga mudah tergelincir.

On Becoming the Center of Excellence


34
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 3.24. Gambar 3.25.

Sedangkan pada gambar 3.26. adalah prosedur penurunan beban, namun pada
kedua gambar tersebut ada sedikit perbedaan dimana disarankan sebaiknya
diperhatikan gambar A yang menempatkan ujung sisi beban justru dibagian
dalam dan posisi penguncinya. Hal ini memungkinkan lebih meyakinkan dari
kemungkinan, akan bergeser dan terlepas keluar dari posisinya.

Gambar 3.26.

Gambar A Gambar B

Setelah kemudian korban diturunkan dengan selamat dan ditempatkan pada


tempat yang teduh, hendaknya bagian dari pakaian atau pengikatnya
dikendurkan lalu diberi selimut seperti yang tampak pada gambar 3.27.

On Becoming the Center of Excellence


35
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 3.27.

On Becoming the Center of Excellence


36
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

4. PENCEGAHAN KECELAKAAN
DALAM PEMASANGAN KONDUKTOR SUTT / SUTET

4.1 Peraturan Keselamatan


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan unsur utama dan harus menjadi
perhatian yang serius dalam melaksanakan pemasangan konduktor SUTT / SUTET.
Hal ini mengingat bahwa :
- Pekerjaan pemasangan konduktor merupakan pekerjaan yang
dilaksanakan di ketinggian tertentu
- Dalam bekerja di ketinggian mengalami keterbatasan tempat bergerak dan
berpijak.
- Dimungkinkan untuk melaksanakan pemasangan konduktor sirkit kedua
dimana sirkit pertama telah beroperasi (hot line stringing conductors)
- Lokasi SUTT / SUTET dimungkinkan untuk melalui kawasan padat
penghuni dan karena nampak asing bagi masyarakat, maka menimbulkan minat
masyarakat untuk melihat pelaksanaan pemasangan konduktor tersebut.

Uraian diatas menunjukkan bahwa pekerjaan pemasangan konduktor di SUTT dan


SUTET merupakan pekerjaan yang beresiko cukup tinggi.
Oleh karena itu faktor keamanan dan keselamatan dalam melaksanakan pekerjaan
penarikan konduktor harus ditangani dengan sangat serius. Lengah sedikit, cacat
atau nyawalah taruhannya.
Saat ini K3 sudah dikembangkan dan dilaksanakan dengan lebih baik di lingkungan
PLN. Bahkan pelaksanaan K3 merupakan bagian dari Kontrak Kinerja setiap unit
PLN.
Dalam melaksanakan K3 harus memperhatikan aturan tertulis seperti :
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku :
- UU No. Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
- Peraturan Pemerintah No 04 tahun 1996 tentang SMK3.
- UU No 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan.
Ketentuan-ketentuan yang berkaitan antara lain SNI

On Becoming the Center of Excellence


37
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Peraturan internal PLN :


- Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 090.K/DIR/2005 tentang
Pedoman Keselamatan Instalasi di lingkungan PT PLN (Persero),
- Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 091.K/DIR/2005 tentang
Pedoman Keselamatan Umum di Lingkungan PT PLN (Persero)
- Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 092.K/DIR/2005 tentang
Keselamatan Kerja di Lingkungan PT PLN (Persero)

4.2 Pengertian Kecelakaan

Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan / tidak diharapkan,


yang dapat menimbulkan berbagai kerugian, baik kerugian harta benda
(rusaknya peralatan) maupun kehilangan jiwa manusia. Kecelakaan Kerja
tidak selalu diukur dari adanya korban manusia cidera atau mati.
Upaya pencegahan kecelakaan ditujukan untuk menjamin keutuhan dan
kesempurnaan baik jasmani maupun rohani setiap tenaga kerja pada
khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya, untuk
meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja.

4.3 Jenis-jenis Kecelakaan

Kecelakaan yang terjadi pada perusahaan dapat berupa :


- Near Miss (Kejadian Hampir Celaka)
- Kecelakaan Kerja (Ringan, Berat).
- Kerusakan Harta dan Kerugian Proses.
- Musibah (Bencana alam) dan Kehilangan.
- Penyakit Akibat Kerja.

4.4 Penyebab Terjadinya Kecelakaan

Suatu kecelakaan dapat terjadi disebabkan oleh 2 (dua) hal, yaitu :


4.4.1 Unsafe Action

On Becoming the Center of Excellence


38
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Unsafe Action adalah Sikap atau tingkah laku manusia yang tidak aman
(berbahaya).
Contoh-contoh Unsafe Action diantaranya adalah :
- Lalai, ceroboh
- Bergurau di tempat kerja
- Bekerja dengan cara yang salah
- Menggunakan alat yang rusak
- Bekerja tanpa wewenang
- Tidak nenakai alat Pelindung diri (AD)
- Dan lain-lain.

4.4.2 Unsafe Condition


Unsafe Condition adalah Kondisi / Keadaan tempat Kerja atau peralatan
kerja yang tidak aman (berbahaya).
Contoh-contoh Unsafe Condition diantaranya adalah :
- Tempat kerja licin, bau dan pengap
- Peralatan rusak / tidak laik pakai
- Peralatan listrik yang masih bertegangan
- Peralatan / Mesin tanpa pelindung
- Terdapat Bahaya Kebakaran / Ledakan
- Dan lain-lain.

Prosentase perbandingan penyebab kecelakaan :


- Unsafe Action (Kesalahan Manusia) : 80 %
- Unsafe Condition (Kerusakan Alat/lingkungan) : 18 %
- Lain-lain : 2%

4.5 Kerugian-kerugian Akibat Kecelakaan

Terhadap Karyawan :
a. Luka ringan , luka berat, cacat atau bahkan tewas.
b. Penderitaan dan kesedihan
c. Beban Masa Depan
d. Dan sebagainya.
On Becoming the Center of Excellence
39
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Terhadap Perusahaan
a. Kehilangan Jam Kerja
b. Timbulnya biaya pengobatan
c. Kerusakan Instalasi
d. Merusak nama baik perusahaan
e. Kelambatan produksi
f. Dan sebagainya.

Terhadap Masyarakan
a. Kerusakan Lingkungan
b. Kerusakan Harta Benda
c. Kehilangan jiwa
d. Dan Sebagainya.

4.6 Alat Pelindung Diri (APD)

4.6.1 Fungsi APD


Mengurangi akibat / resiko dari suatu kecelakaan :
APD bukan untuk mencegah kecelakaan
Pemakaian AD tidak menjamin pemakaian bebas dari kecelakaan,
karena :
- Kecelakaan ada sebabnya , pencegahan kecelakaan hanya bisa
dilaksanakan jika sebab-sebab kecelakaan dihilangkan
- Adanya gerakan tak sadar / reflek dari pemakainya.
- APD mempunyai kemampuan terbatas.

4.6.2 Jenis-jenis APD


Alat Pelindung wajah
Alat Pelindung mata
Alat Pelindung pernafaasan
Alat Pelindung telinga
Alat Pelindung badan
Alat Pelindung tangan

On Becoming the Center of Excellence


40
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Alat Pelindung kaki


Alat Pelindung jatuh
Alat Pelindung tenggelam
Pelindung Kepala

4.6.3 Hambatan Dalam Pemakaian APD


1. Hambatan dari Manajemen
2. Hambatan tingkah laku / sikap tenaga kerja
3. Hambatan dalam penyediaan.

4.7 Hak dan Kewajiban Setiap Tenaga Kerja Dalam K3


Sesuai dengan Pasal 12 UU No. 1 Tahun 1970, dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Memberikan keterangan yang benar tentang K3, bila diminta oleh
Pengawas / ahli K3.
2. Memakai alat-alat pelindung diri yang diwajibkan.
3. Mematuhi dan mentaati semua syarat K3
4. Minta kepada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat K3 yang
diwajibkan.
5. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat K3 dan alat
pelindung diri yang diwajibkan diragukan olehnya, kecuali dalam hal-hal
khusus ditentukan lain oleh pengawas dalam batas-batas yang masih
dapat dipertanggungjawabkan.

4.8 Kasus-Kasus Kecelakaan


Beberapa kasus kecelakaan yang pernah terjadi pada pekerjaan Stringing :
a. Suatu siang seorang pekerja pemasangan konduktor telah
menyelesaikan kerjanya. Dalam bekerja ia menggunakan sarana K3
lengkap. Karena pekerjaan telah diselesaikannya maka ia bermaksud turun
ke tanah. Untuk bisa turun maka sabuk pengaman dilepasnya sehingga ia
bergerak bebas. Entah sudah sangat letih atau sedang lengah, kakinya
terpeleset saat menginjak step bolt . Akibatnya ia jatuh ketanah dan
meninggal dunia.

On Becoming the Center of Excellence


41
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

b. Seorang pekerja penarikan kawat SUTET 500 kV bermaksud untuk


mengerjakan clamping sirkit kedua. Sirkit pertama telah dioperasikan
terlebih dahulu. Ia bermaksud untuk memasang grounding sementara di
kawat agar proses clamping yang dilakukannya aman dari sengatan listrik.
Karena keterbatasan alat digunakannya wire rope yang disambung ke
kawat ground stick. Sebagian wire rope tambahan ini dililitkan ke
badannya. Sewaktu ground stick hendak ditempelkan ke konduktor yang
akan diclampingnya, tiba-tiba dia tersengat listrik dan perutnya mengalami
kerusakan yang luar biasa sehingga si petugas clamping menghembuskan
nafas terakhirnya.
c. Beberapa pekerja sedang memasang konduktor dalam rangka
mengalihkan sirkit existing ke jurusan baru. Konduktor diturunkan dan
dipegang oleh 3 orang ground crew. Kebetulan jalur SUTT crossing
dengan JTR jenis twisted cables. Tiba-tiba ketiga pekerja menggelepar-
menggelepar di tanah. Beruntung saja ada teman yang melihat dan cepat
tanggap. Diraihnya sebatang kayu dan dipukulkan ke konduktor yang
sedang dipegang ketiga temannya sehingga ketiga temannya bisa
terselamatkan. Dalam SOP bersama telah disepakati untuk mematikan
JTR, namun ternyata tidak dimatikan dan isolasi twisted cable bocor.
d. Seorang anak menggapai kawat yang sedang bergerak. Tanpa sadar
si anak ikut naik keatas tower. Seolah memang mungkin mengasyikkan
tapi begitu kawat yang dipegangnya mendekati montage roll (conductor
sheave) ia panik takut tangannya terjepit montage roll maka tanpa sadar
dilepaskannya kawat yang dipegangnya. Akibatnya si anak tersebut jatuh
ketanah dan meninggal dunia.
e. Schaffolding (perancah / stegger) yang mengurung SUTM menarik
minat anak anak untuk naik. Tanpa sadar ia terus naik dan masuk ke jarak
tidak aman karena sudah sangat dekat dengan kawat SUTM. Akibatnya ia
tersengat listrik dan meninggal dunia
f. Suatu siang yang terik, menarik minat seorang anak kecil untuk
berteduh dibawah (kolong) truk. Karena angin bertiup semilir membuat
sang anak merasa nyaman di kolong truk dan tertidur dengan lelapnya. Tak
lama kemudian, pengemudi truk datang ke truknya, menyalakan mesin dan

On Becoming the Center of Excellence


42
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

langsung tancap gas. Sang tunas bangsa terlindas ban truk tanpa pernah
sempat bangun dari tidurnya serta meninggal dunia.

Beberapa contoh tersebut diatas bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti,


namun semata ingin menggambarkan bahwa kejadian-kejadian tersebut diatas
terjadi karena kurangnya berkonsentrasi dalam bertugas sesuai preosedur
keselamatan.

Gambaran diatas juga menunjukkan bahwa masalah K3 tidak hanya sekedar


memakai sabuk atau pakai helm semata.

Ada masalah lain yang harus diperhatikan antara lain masalah koordinasi pihak
manajemen dengan pelaksana dilapangan, masalah perlunya pengawas K3
dilapangan, pengecekan ulang tentang aturan yang sudah menjadi
kesepakatan bersama serta menyusun petunjuk kerja berikut check list
sebagai senjata pengamanan.

4.9 Pencegahan kecelakaan dalam pemasangan konduktor SUTT/SUTET.

Dari kasus kecelakaan yang pernah terjadi pada saat melaksanakan


Pemasangan Konduktor sebagaimana diuraikan diatas, maka langkah-langkah yang
harus dilakukan oleh pihak Manajemen, pihak Pelaksana,Pengawas K3 dan Kepala
Regu untuk mencegah terjadinya kecelakaan dalam pekerjaan pemasangan
konduktor adalah sebagai berikut :

Pihak manajemen :
a. Pihak Manajemen harus memberikan jaminan kerja yang sesuai dengan
peraturan yang berlaku (misalkan jaminan Asuransi Tenaga Kerja dalam jangka
waktu serta lokasi kerja yang sesuai peruntukannya)
b. Pihak Manajemen selalu terus menerus memperhatikan dan melaksanakan
aturan K3 yang telah ada di lingkungan PT PLN (Persero)
c. Pihak manajemen harus selalu memonitor penggunaan dan kondisi peralatan K3
(alat pelindung diri) yang digunakan oleh pekerja.

On Becoming the Center of Excellence


43
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

d. Pihak Manajemen harus terbuka terhadap umpan balik kondisi peralatan K3 dari
pelaksana di lapangan serta mengambil langkah strategis sesuai bidang
tugasnya.
e. Buat surat pengumuman ke khalayak ramai terutama seluruh daerah yang akan
dilalui oleh SUTT / SUTET tentang hal-hal antisipasi yang harus diketahui oleh
warga masyarakat saat Pemasangan Konduktor berlangsung. Penjelasan dalam
surat pengumuman harus jelas, menggunakan bahasa yang sederhana sehingga
mudah dipahami masyarakat luas.

Pihak pelaksana
a. Selalu memulai kegiatan dengan berdoa sesuai agama masing-masing.
b. Pelaksana pekerjaan Penarikan Konduktor harus selalu melakukan pengecekan
sebelum Peralatan Pengaman dan Pelindung Diri digunakan,
c. Gunakan Peralatan Pengaman dan Pelindung Diri dengan baik dan benar (sabuk
pengaman/body hardness, helm pengaman, kacamata ultra violet, masker anti
polusi udara, sepatu panjat)
d. Jangan sekali-kali menggunakan peralatan Pengaman dan Pelindung Diri yang
diperkirakan rusak atau berpotensi rusak saat digunakan sehingga
membahayakan penggunanya.
e. Gunakan peralatan Pengaman dan Pelindung diri yang memenuhi standar serta
telah teruji dengan baik (bila perlu lakukan pengujian langsung di lapangan).
f. Sebelum memasang grounding sementara ke konduktor, yakinkan bahwa
konduktor tersebut telah bebas tegangan antara lain dengan cara :
- Melakukan koordinasi dengan pengawas lapangan, operator GI, dispatcher,
Unit Pengelola Transmisi, bahwa SUTT / SUTET telah bebas tegangan dan
bukan padam karena ada gangguan sehingga tidak mungkin dilakukan
pemasukan kembali oleh operator GI di kedua sisi.
- Melakukan pengecekan tegangan dengan menggunakan Voltage Detector.
- Ada ijin kerja dari Pengawas Lapangan / Kepala regu sesuai ketentuan yang
ada di perusahaan.
g. Grounding stick harus standar dan dipasang sesuai urutan. Sebagai contoh bila
akan memasang grounding ke konduktor, maka yang terlebih dahulu harus
dipasang adalah kabel grounding yang dihubungkan ke body tower. Bila kabel

On Becoming the Center of Excellence


44
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

grounding yang dihubungkan ke body tower telah terpasang dengan baik,


lanjutkan dengan memasangkan ujung groundstick ke konduktor yang telah
bebas tegangan.
h. Jangan sekali-kali memegang ataupun sampai membelitkan / mengalungkan
kabel grounding stick ke tubuh pekerja.
i. Lakukan pemeriksaan secermat mungkin disepanjang jalur saat penarikan
berlangsung terutama di daerah yang banyak anak-anak berlalu lalang dan
melihat kegiatan pemasangan konduktor.
j. Bila penarikan dilakukan di daerah penggaraman tinggi (tambak air asin),
usahakan konduktor selalu dalam posisi mengapung. Kawat pancingan yang
berpotensi terkena air asin harus dicelup larutan oli agar terhindar dari karat.
k. Kepada pengemudi sebelum menjalankan kendaraannya agar meluangkan
waktu sesaat untuk mengecek apakah tidak ada benda atau manusia yang
berada dibawah kolong kendaraan.
l. Pasang schaffolding (perancah / stegger) di lokasi yang diperkirakan
membahayakan konduktor dan aktivitas dibawahnya antara lain : crossing jalan
raya, crossing rel kereta, crossing SUTM/SUTR, crossing SUTT lainnya, atap
rumah penduduk
m. Buat dan pasang tanda larangan memanjat di schafollding (perancah / stegger)
n. Beri tanda yang jelas (bisa memantulkan sinar lampu kendaraan) di schafollding
yang terletak di tepi jalan raya sehingga bisa dilihat oleh pengemudi kendaraan
di malam hari.
o. Bila disekitar area lokasi mesin penarik dan mesin penegang banyak anak-anak
kecil yang menonton, maka harus dilakukan pencegahan terhadap perilaku
mereka terhadap peralatan yang sedang bergerak jangan sampai kena sentuhan
anak-anak.
p. Mesin penarik, mesin penegang harus dilengkapi dan terhubung dengan sistem
pembumian sementara.
q. Mesin penarik, mesin penegang harus di schoor arah gaya lawan yang cukup
kuat agar tidak terguling karena sentakan gaya lawan.

Pengawas K3 pemasangan konduktor SUTT / SUTET :

On Becoming the Center of Excellence


45
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

a. Pengawas K3 harus membuat check list semua kegiatan pengamanan yang


dilakukan oleh pelaksana apakah sudah dilaksanakan seluruhnya
b. Membuat laporan tertulis tentang pelaksanaan pengawasan K3 termasuk
membuat daftar peralatan Pengaman dan Pelindung diri yang sudah tidak laik
digunakan untuk diajukan penggantian kepada pihak manajemen.

Hal - hal lain yang perlu mendapat perhatian untuk ketertiban dan keselamatan

a. Team Work
Penarikan konduktor adalah kerja beregu (team work). Artinya pelaksanaan
pekerjaan ini harus dilakukan bersama-sama dalam bentuk tim kerjasama yang
saling mendukung antara satu dan lainnya.
Pelaksanaan pekerjaan mengandung kerawanan terutama bila terjadi salah
komando penarikan. Untuk itu sebagai tambahan, perlu diberikan pengertian
pentingnya nilai kebersamaan (team work) kepada seluruh petugas.
Peran Kepala Regu sangat sentral. Selain mengendalikan pelaksanaan
pekerjaan di lapangan, setiap malam Kepala Regu merencanakan kegiatan esok
harinya serta membagi tenaga kerjanya. Rencana ini dibahas bersama kepala
kelompok kerjanya.
Sebagai contoh dalam satu hari pekerjaan yang akan dilakukan adalah
persiapan maka langkah yang dilakukan sesuai jumlah SDM yang ada :
- memasang isolator dan montage roll
- memasang perancah
- mengatur lokasi mesin penegang
- mengatur lokasi mesin penarik
- mengatur kendaraan yang diperlukan lengkap dengan pengemudinya,
dan lain sebagainya.

Setelah rencana kegiatan harian disusun, Kepala regu mengatur kelompok


kerjanya seperti siapa saja yang harus memasang isolator berikut jumlahnya,
siapa yang memasang perancah berikut lokasinya, siapa yang bertugas di mesin
penegang, siapa yang bertugas di mesin penarik. Setelah kegiatan dan personil
disusun, Kepala regu cukup menempelkan hasil rancangan rencana kerja di

On Becoming the Center of Excellence


46
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

papan pengumuman. Malam hari atau esok paginya petugas tinggal melihat
tugasnya apa langsung bersama regunya menyiapkan segala sesuatu yang
diperlukan serta menuju ke kendaraan yang akan membawanya ke lokasi yang
telah ditentukan.

Dengan demikian tidak terjadi kerancuan kerja karena semua telah sepakat
untuk bekerja sesuai target yang ditentukan.

b. Dapur Umum
Lokasi penarikan SUTT / SUTET umumnya terletak jauh dari pemukiman.
Akibatnya relatif tidak mudah untuk mendapatkan konsumsi yang diperlukan oleh
pekerja. Pekerjaan penarikan konduktor merupakan kerja berat yang
membutuhkan fisik prima sehingga perlu ditunjang oleh makanan dan minum
(terutama air putih) dalam jumlah yang cukup dan bergizi.

Selain itu kadang waktu makan siang tiba ketika petugas sedang berada di atas
tower. Turun untuk makan dan kembali lagi memanjat keatas merupakan satu
faktor yang berat. Kenyataannya banyak yang memilih makan diatas tower (tentu
saja sarana safety telah terpasang dengan baik).

Dari hal tersebut diatas, pengalaman penulis dalam memimpin pelaksanaan


pekerjaan penarikan konduktor selalu membuka dapur umum. Untuk membuka
dapur umum diperlukan petugas masak yang menyiapkan makan pagi dan siang
sekaligus sebelum petugas berangkat kelapangan.

Peran petugas masak juga diperlukan saat petugas pulang dari lapangan,
makanan sebaiknya juga sudah harus siap karena rata-rata petugas pulang
dengan kondisi lapar.

c. Pengembalian peralatan kerja dan sisa material


Setelah seluruh pekerjaan diselesaikan tuntas, segera lakukan pengembalian
peralatan kerja serta sisa material ke tempat kedudukan awal yang telah
ditentukan.

On Becoming the Center of Excellence


47
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Pelaksanaan pengembalian ini harus cermat dan jangan sampai ada yang
tertinggal karena memang sifatnya harus dipertanggungjawabkan dengan pihak
penerima (petugas gudang peralatan dan petugas gudang material)

On Becoming the Center of Excellence


48
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

5. PROSEDUR STRINGING
(PEMASANGAN KONDUKTOR) SUTT / SUTET

Stringing adalah pekerjaan pemasangan kondutor saluran udara tegangan


tinggi/ekstra tinggi baik untuk kawat penghantar fasa maupun kawat tanah. Ini
merupakan tahap akhir dari seluruh kegiatan pembangunan SUTT/SUTET.
Prosedur stringing terdiri dar tahapan tahapan sebagai berikut :
- Persiapan pelaksanaan.
- Pekerjaan persiapan.
- Penempatan dan pemasangan peralatan stringing.
- Pelaksanaan penarikan kawat.
- Sagging dan clipping in.
- Pemasangn jumper (jumpering).
- Pemasanngan asesoris.

Secara umum metode stringing yang digunakan adalah Metode Tegang


(Tension Method), dimana kawat penghantar dipertahankan pada kondisi tegang
selama proses stringing berlangsung. Beberapa hal perlu diperhatikan yaitu:
Konduktor dijaga dari gesekan langsung dan terus menerus dengan tanah.
Konduktor harus bebas dan terlindung dari kemungkinan bersentuhan
dengan bagian sistem instalasi lainnya yang dalam keadaan bertegangan.
Rintangan lainnya,seperti rintangan terhadap pandangan dll.

5.1. Persiapan pelaksanaan.


5.1.1. Pemeriksaan spesifikasi teknik dan gambar
Spesifikasi teknik dan gambar pelaksanaan, line profile dan route map
diteliti dengan baik dan telah disetujui. Demikian juga dengan
peralatan stringing dan alat kerja lainnya sebaiknya dipastikan
berfungsi baik.
5.1.2. Pemeriksaan Right of Way dan jalan masuk ke lokasi
Kondisi tanam tumbuh sepanjang jalur telah bebas.
Kondasi tanah, topografi sepanjang jalur SUTT/SUTET, halang
On Becoming the Center of Excellence
49
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

rintang yang harus dilewati/dipindah.


Jalan tol, jalan propinsi, saluran telepon, SUTR dan SUTM yang
harus dilewati.
Ketersediaan lahan untuk penempatan puller dan drum site.
Kesiapan tower untuk memulai pekerjaan stringing.

5.1.3. Pembuatan jadwal pelaksanaan stringing.


Pembagian stringing section dan tension section sepanjang jalur
SUTT/SUTET.
Rencana lokasi puller dan drum site
Penentuan sagging methode.
Rencana temporary back staying tower dan perkuatan cross arm.
Rencana pemasangan scaffolding(guard structure).
Pengaturan perlatan stringing dan alat kerja lainnya
Dengan tersusunnya jadwal pelaksanaan stringing yang baik maka
akan dapat ditargetkan penyelesaian pekerjaan.

5.2. Pekerjaan persiapan


5.2.1. Pemeriksaan tower
Seluruh tower dalam stringing section harus diperiksa dengan teliti
terutama kelengkapan member tower, pengerasan baut dan plat, dan
telah dilakukan pengukuran pentahanan tower.

5.2.2. Back staying guys


Back staying guys dipasang pada kedua ujung tower dalam satu
stringing section yang berfungsi sebagai penyeimbang pada saat
stringing dan sagging, biasanya menggunakan tali atau kawat.
Demikian juga pada mid-span tower dimana beban yang timbul
selama proses stringing dapat lebih besar dari beban design juga
diperkuat dengan back staying guys.
Pemasangan back staying guys diikatkan pada main post tower
pada setiap level cross arm pada arah center line tower atau pada
sisi yang berlawanan dari titik beban konduktor.
On Becoming the Center of Excellence
50
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Cross arm yang akan dibebani dengan gaya tarik yang berlebihan
juga harus dipasang temporary skur.

5.2.3. Pengaturan alat komunikasi


Pengaturan alat komunikasi diperlukan pada posisi drum site, puller
site, main guard structure dan lokasi lainnya yang dianggap perlu. Alat
komunikasi juga diperlukan untuk petugas yang mengikuti stringing
yoke selama proses paying out konduktor.

5.2.4. Pemasangan guard structure/scaffolding/staiger.


Guard structure/schaffolding/staiger dipasang pada setiap jalur kawat
yang akan melewati bangunan ataupun fasilitas umum (SUTR, SUTM,
saluran komunikasi, rel kereta api, jalan umum, jalan tol) yang
diperkirakan akan membahayakan makhluk hidup yang ada
dibawahnya pada saat proses penarikan kawat. Apabila selama proses
penarikan kawat tersebut tidak bisa dihindarkan menyentuh guard
structure terus menerus maka harus dipasang stringing sheaves
(roller).
Jarak minimum standard guard structure terhadap tegangan listrik
sebagai berikut :
Tegangan Jarak bebas
(m)
SUTR 380/220 V 1,2
SUTM 20 kV 1,8
70 kV 2,2
150 kV 3,2
SUTT
500 kV 8,5

5.3. Penempatan dan pemasangan peralatan Stringing


Penempatan peralatan stringing dilakukan setelah adanya kepastian akan
ketersediaan lahan yang akan dipakai/disewa.

5.3.1. Penempatan puller site


Luas area yang diperlukan untuk puller site pada umumnya 150

On Becoming the Center of Excellence


51
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

300 m2. Puller site biasa disebut dengan stringing car, reel winders
dan reel untuk messanger wire ditempatkan dengan susunan sesuai
gambar berikut :

Reel winder Stringing Car Tower

Dalam pemilihan lokasi perlu diperhatikan bahwa kondisi tanah


cukup keras, rata dan akses jalan masuknya mudah.

a. Pemasangan Stringing Car


Stringing car harus diletakkan pada posisi dimana shaft capstan
harus tegak lurus terhadap arah penarikan konduktor. Antara tower
dan stringing car dipasang snatch block agar messanger wire
masuk ke capstan secara horisontal sehingga akan meminimalkan
daya angkat (lifting force) pada saat penarikan. Selain itu stringing
car harus dijangkar ke bumi dengan menggunakan sling baja. Bila
pekerjaan stringing berdekatan dengan saluran tenaga listrik yang
bertegangan, maka stringing car harus diketanahkan.

b. Pemasangan Reel Winder


Reel winder dipasang horisontal tepat dibelakang stringing car dan
dijangkar ke bumi dengan sling baja. Reel winder didesain untuk
mengukur panjang messenger wire yang telah digulung oleh puller
kedalam reel. Bila reel telah penuh dengan kawat maka harus
digantikam dengan reel yang masih kosong.

5.3.2. Penempatan Drum site.


Luas area yang diperlukan untuk drum site umumnya 500 1000
m2. Drum site ditempatkan sesuai susunan seperti gambar berikut :

On Becoming the Center of Excellence


52
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Drum Stand Tensioner Tower

Drum

c. Pemasangan Tensioner
Tensioner ditempatkan segaris dengan arah penarikan
konduktor dan berfungsi untuk memberikan tegangan
konstan pada penarikan. Bila konduktor ditarik dari tensioner
dengan sudut >50 terhadap horisontal maka didepan
tensioner harus dipasang snatch block yang berfungsi untuk
memperkecil sudut atau dapat juga dengan memasang
stringing sheaves (montage roll).

d. Pemasangan Drum Stand


Drum stand ditempatkan segaris dengan tensioner pada
posisi tetap dan dijangkar ke tanah + 10 m dibelakang
tensioner. Drum stand berfungsi untuk menyangga drum
konduktor yang akan ditarik.

5.3.3. Pemasangan stringing sheaves (montage roll).


Stringing sheaves terbuat dari alluminium alloy dengan alurnya
dilapisi dengan polyrethane rubber sehingga dapat digunakan untuk
messanger wire dan konduktor secara bersamaan. Pada tower
suspension stringing sheaves dipasang pada suspension insulator
string set, sedangkan pada tower tension dipasang langsung pada
cross arm dan diperkuat dengan skur untuk menjaga agar posisinya
tetap pada saat penarikan.

On Becoming the Center of Excellence


53
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

5.3.4. Pemasangan isolator dan montage roll konduktor serta montage roll
GSW di tower suspensi.
Untuk tower tension hanya dipasang montage roll, sedangkan
isolator di tower tension dipasang saat sagging.

Urutan pemasangan isolator dan montase rol :


Material siap dilokasi tower, yaitu insulator disc dan fitting
kemudian keduanya dirangkai sehingga terbentuk insulator set
Rangkaian insulator terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu Suspension
insulator set dan tension insulator set.
Insulator set diangkat dengan bantuan tackle untuk dipasang
(dikaitkan) pada cross arm paling atas (upper cross arm),
selanjutnya dilakukan hal yang sama insulator set dipasang
pada middle cross arm dan lower cross arm
Pada saat pemasangan insulator set di upper, middle dan lower
cross arm, masing masing diikuti pemasangan running out
block/roll block/montage roll. Di tension tower, running out block
telah digantung langsung dibawah titik crossarm dari landing
plate.
Pemasangan sudah benar sesuai dengan gambar referensi
Disck insulator nya dalam kondisi baik dan bersih dari kotoran
lumpur, tidak ada yang retak, gumpil dll.
Fitting dalam keadaan baik, tidak ada yang cacat, galvanize
nya dalam kodisi baik (tidak luka/terbuka/terkelupas).
Posisi sackle yang dipasang / dikaitkan ke cross arm tower
sudah benar (posisi baut/mur sudah benar).

5.4. Pelaksanaan penarikan kawat.


5.4.1. Penarikan messenger wire.
Setelah penempatan dan pemasangan peralatan stringing
dipastikan selesai, maka proses penarikan kawat sudah dapat
dilaksanakan. Penarikan kawat ini dimulai dengan penarikan pilot

On Becoming the Center of Excellence


54
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

wire (steel wire) 8 mm, yang biasa disebut dengan kawat pancingan,
dilakukan secara manual dari tower ke tower sepanjang stringing
section. Apabila stringing section tersebut melewati sungai yang
lebar, rawa rawa, lembah atau daerah yang sulit untuk dilewati
dengan berjalan kaki ataupun tidak adanya moda transportasi yang
bisa digunakan, maka pilot wire digelar dengan menggunakan
messanger wire gun. Messenger wire gun ini mampu membawa
pilot wire dalam jarak + 300 m dengan pilot wire dari nylon rope,
yang nantinya akan diganti dengan steel wire.

Apabila penggelaran pilot wire selesai, maka ujung pilot wire


disambung menggunakan shackle dengan ujung messenger wire
(anti twist wire rope 12 mm 25 mm) yang telah digulung pada reel
pada posisi drum site. Pilot wire kemudian ditarik dengan stringing
car melalui capstan membawa messanger wire. Bersamaan dengan
itu pilot wire digulung dan sambungannya dengan messanger wire
dilepas bila pilot wire tersebut telah melewati capstan.

5.4.2. Penarikan konduktor/kawat tanah.


Setelah messenger wire selesai ditarik maka penarikan selanjutnya
adalah penarikan kawat tanah, konduktor pada cross arm top, midle
dan bottom.
a. Drum site
Konduktor/ kawat tanah ditarik dari drum yang telah ditempatkan
pada drum stand dan diulur melalui tensioner ke arah tower.
Konduktor masuk ke tensioner dari sisi kiri melalui guide roll dan
keluar melalui sisi kanan menghadap ke penarikan. Ujung
konduktor disambung dengan messenger wire dengan
menggunakan stringing yoke, clamp grip dan swivel. Counter
weight dipasang pada stringing yoke untuk mencegah
terputarnya yoke akibat puntiran messenger wire.
Konduktor dan kawat tanah yang dapat ditarik oleh stringing
yoke dalam satu tarikan tergantung dari jadwal stringing.

On Becoming the Center of Excellence


55
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Messenger wire yang akan digunakan untuk penarikan


konduktor lainnya juga harus dipasang stringing yoke.

b. Puller site
Setelah semua persiapan yang diperlukan siap maka konduktor
ditarik dengan stringing car melalui messenger wire yang
dilewatkan melalui capstan dan digulung pada reel yang
dipasang pada reel winder menurut arah penarikan. Tegangan
tarik maksimum yang diberikan pada konduktor selama
penarikan berlangsung dijaga agar < 1/3 tegangan sagging
maksimum konduktor atau dijaga agar konduktor tetap diatas
semua halangan halangan yang terdapat ditanah. Untuk
mengetahui kuat tarikan konduktor/kawat tanah dapat diketahui
melalui Tension meter.

Kecepatan penarikan konduktor tergantung pada tenaga tarikan


stringing car dan kemampuan tensioner. Secara umum
kecepatan penarikan dijaga pada 30 m/menit untuk konduktor
tunggal dan 20 m/menit untuk twin konduktor.
Pelu diperhatikan bahwa pada saat proses penarikan harus ada
komunikasi yang baik antara operator pada stringing car,
operator tensioner, petugas yang mengikuti stringing yoke dan
petugas yang ditempatkan pada lokasi crossing utama.

c. Pemindahan stringing yoke yang melewati stringing sheaves.


Apabila stringing yoke mendekati stringing sheaves, maka
petugas yang mengikuti stringing yoke menginformasikan ke
operator stringing car untuk menurunkan kecepatan tarikan dan
menghentikannya bilamana stringing yoke tiba di stringing
sheaves. Prosedur perpindahan stringing yoke melewati
stringing sheaves sebagai berikut :
Stringing yoke dinaikkan dengan bantuan lever block
yang telah disiapkan sebelumnya pada cross arm.

On Becoming the Center of Excellence


56
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Kemudian digantung pada sambungan messenger wire


sedemikian rupa sehinga beban stringing yoke
dipindahkan dari stringing sheaves pada insulator string
ke lever block.
Gate stringing sheaves dibuka dan messenger wire
dikeluarkan. Kemudian stringing sheaves ditarik mundur
kearah sisi tensioner dari stringing yoke sehingga
konduktor dapat dimasukkan ke kedalam stringing
sheaves, kemudian gate ditutup kembali.
Kemudian stringing yoke diturunkan dengan menggulung
lever block ke stringing sheaves. Setelah itu pindahkan
sling lever block dari stringing yoke.
Setelah pelepasan stringing yoke selesai, tarik
messenger wire dengan perlahan lahan dan proses
penarikan dilanjutkan.

d. Penyambungan konduktor / kawat tanah.


Bila seluruh konduktor /kawat tanah telah habis ditarik dari
drum pertama, maka ujung konduktor/kawat tanah
disambung dengan ujung konduktor/kawat tanah pada drum
kedua. Sambungan ini dilakukan dibelakang tensioner dan
sifatnya sementara dengan menggunakan stringing clamp
atau pulling grip. Setelah melewati tensioner maka
sambungan sementara ini diganti dengan compression joint
permanen (joint sleeve).
Prosedur penyambungan compression joint adalah sebagai
berikut :
Setelah penyambungan sementara melewati tensioner,
proses penarikan dihentikan.
Dengan menggunakan come along, konduktor yang
terdapat diantara ujung tower dan tensioner diikat dengan
jangkar pada base tensioner. Akibatnya tegangan tarik
konduktor dipindahkan ke sling come along dengan

On Becoming the Center of Excellence


57
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

menggulungnya dengan winch atau lever hoist yang telah


dipasang untuk mengontrol tegangan tarik come along.
Konduktor diturunkan ketanah untuk dilakukan
pengupasan kawat aluminium sampai ke inti baja pada
jarak tertentu untuk kedua ujung konduktor yang akan
disambung.
Penyambungan inti baja pertama sekali dilakukan dengan
menggunakan compression joint untuk inti baja
menggunakan hydraulic compressor machine (mesin
press).. Perlu diperhatikan didalam compression joint
untuk inti baja harus ada grease untuk memudahkan
pemasangan.
Selanjutnya inti baja yang telah tersambung dimasukkan
kedalam compression joint kawat aluminium untuk
dilakukan compression joint permanen menggunakan
hydraulic compressor machine.
Setelah penyambungan selesai tegangan tarik
dikembalikan ketensioner dan come along dilepas
dengan hati - hati.

Setelah semua konduktor dan kawat tanah ditarik dalam


stringing section maka konduktor ditegangkan sementara
dengan tegangan 80% - 90% dari tegangan sagging yang
telah direncanakan.

e. Penegangan sementara pada puller site.


Konduktor ditarik dengan stringing car sampai pada
tegangan yang diinginkan, kemudian dijangkar sementara
ke tanah dengan menggunakan come along.
Pada tower section puller site, tension clamp dipasang ke
ujung konduktor yang telah dipotong dan dirangkai ke
tension insulator string yang telah dipasang pada cross
arm.

On Becoming the Center of Excellence


58
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

f. Penegangan sementara pada drum site.


Pada drum site, come along dipasang pada konduktor
dan dilewatkan dengan hand winch ke tanah. Kemudian
konduktor ditarik dengan sling come along melalui snatch
block yang telah diikat pada cross arm dan tower leg.
Pada tower section drum site, tension clamp dipasang ke
ujung konduktor yang telah dipotong dan dirangkai ke
tension insulator string yang telah dipasang pada cross
arm.

g. Konduktor ditegangkan ke section stringing yang telah


ditegangkan sementara.
Pada drum site, konduktor yang telah ditegangkan
sementara dijangkar ke tanah dengan sling come along,
maka konduktor yang akan ditegangkan disambung ke
konduktor yang telah dijangkar tadi.
Konduktor ditarik dari puller site, sementara itu come
along pada drum site dilepas dari konduktornya dengan
maksud memindahkan tegangan konduktor pada
stringing section sebelumnya ke konduktor pada stringing
section berikutnya.

5.5. Sagging dan Clipping In


Konduktor dan kawat tanah yang telah selesai ditarik dalam satu stringing
section harus disagging sesuai dengan rencana sagging schedule yang
telah disetujui. Sebelum pekerjaan sagging dilaksanakan harus
dipersiapkan pengaturan thermometer, pemasangan transit dan arget
pada sagging span, fasilitas komunikasi antara sagging winch site dan
sag sighting site.
Sagging konduktor tidak boleh dilaksanakan pada kondisi angin kencang
karena dapat mengakibatkan terangkatnya konduktor akibat tekanan
angin.

On Becoming the Center of Excellence


59
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Pada umumnya sagging dilaksanakan dengan 2(dua) metode, yaitu :


5.5.1. Metode Sending out
Pada metode ini, konduktor yang ditegangkan sementara ditarik
kedepan sedemikian rupa, sehingga konduktor disagging dari arah
dimana sagging section sebelumnya telah selesai.

Metode send out


Gambar diatas memperlihatkan konduktor yang berada pada
posisi yang berlawanan dengan sagging section harus diikat ke
cross arm dengan menggunakan come along untuk
meminimalkan tegangan tarik yang tidak seimbang pada tower.
Come along yang berada pada sagging section ditarik dengan
wire rope dari winch yang dipasang di tanah melalui snatch block
yang dirangkai ke cross arm dan tower leg.
Setelah panjang konduktor yang terdapat pada sagging section
diatur, maka konduktor diklem pada sagging side dari tower.
Ujung konduktor yang berlawanan dengan tower dipasang pada
tension insulator string dengan menggunakan tension clamp.

On Becoming the Center of Excellence


60
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Urutan pelaksanaan Metode Sending Out

Kemudian konduktor untuk span berikutnya diulur dengan


merewinding winch dan mengendurkan tegangan sling dari come
along.
Konduktor harus ditarik bersamaan oleh winch yang ditempatkan
pada ujung dari sagging secion berikutnya agar tegangan
konduktor tidak mengakibatkan terjadinya ketidak seimbangan
beban pada tower.
Come along kemudian dibuka setelah beban tarikan dipindahkan
keseluruhannya ke tension insulator string.

5.5.2. Metode Seimbang.


Metode ini digunakan untuk sagging 2 (dua) section pada saat yang
bersamaan untuk mempercepat jadwal penyelesaian.

Sagging dengan metode seimbang

On Becoming the Center of Excellence


61
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Konduktor diklem ke tension insulator string pada tower di kedua


ujung dari 2 (dua) sagging section berdekatan yang mempunyai
tegangan sedikit lebih kecil dari tegangan sagging.
Kemudian konduktor pada kedua section ditegangkan dan diklem
serentak pada section tower untuk menjaga keseimbangan
tegangan pada tower.
Metode sagging seimbang ini menghasilkan sisa konduktor yang
tidak terpakai lebih banyak.
5.5.3. Pemasangan Sagging Winch.
Sagging winch digunakan untuk pengaturan tegangan konduktor
pada saat sagging dan dipasang di kaki tower. Ada 2 (dua) jenis
winch yaitu portable hand winch atau engine driver winch. Winch
harus memiliki kapasitas gulungan dan kekuatan yang cukup untuk
operasi sagging. Pemasangan winch pada lokasi sedemikian rupa
sehingga aman buat orang yang bekerja ditower maupun di tanah.
Portable hand winch yang dipasang pada main post harus dilapisi
dengan material pengaman sehingga tid ak merusak tower.

5.5.4. Pemasangan come along


Untuk menahan konduktor pada saat penegangan digunakan come
along yang dihubungkan ke bagian atas tension insulator string
dengan wire rope langsung atau dapat juga dikombinasikan dengan
pulling block yang disusun diantara come along dan insulator string.
Wire rope diarahkan ke winch melalui snatch block yang
ditempatkan ditower.

Come along dipasang pada konduktor pada posisi + 3 m didepan


tension clamp ketika konduktor ditegangkan. Setelah come along
dipasang, maka pulling block dihibingkan ke come along. Pada
konduktor yang lebih besar diameternya lebih baik menggunaan
counter weight untuk mencegah rotasi come along akibat gaya
puntir yang timbul karena penarikan.

On Becoming the Center of Excellence


62
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

5.5.5. Sambungan wire rope


Wire rope dikencangkan ke bagian atas tension insulator string
yang, dilewatkan melalui block yang dipasang di tower, kemudian
dilewatkan melalui block yang dipasang pada come along dan
ditarik ke cross arm dan diarahkan ke winch melalui block yang
dipasang di tower.
Untuk single insulator string, clamp insulator replacer dapat
digunakan untu mengencangkan wire rope ke insulator string
Untuk double insulator string, wire rope dikencangan ke yoke dari
double insulator string.

5.5.6. Pemasangan snatch block


Snatch block diikatkan pada bagian bawah cross arm sedemikian
rupa sehingga wire rope dapat lewat melalui main member cross
arm dan body tower.

5.5.7. Pemasangan Tension Clamp


Tension clamp dipasang pada ujung konduktor dan dipasangpada
tension insulator string sebagai berikut :
Konduktor antara come along dan insulator set ditndai pada titik
yang akan menjadi bagian atas insulator hardware.
Konduktor dipotong pada posisi yang telah ditandai untuk
tension clamp.
Tension clamp kemudian dipasang pada ujung konduktor
dengan menggunakan hydraulic compressor.
Konduktor ditarik ke arah tower dengan winch sehingga tension
clamp dapat dipasangkan pada insulator string, setelah itu
konduktor digulung ulang denngan winch.
Come along kemudian dibuka setelah seluruh tegangan
konduktor dipindahkan ke tension insulator.

5.5.8. Pengukuran Sag (Andongan)


Andongan diukur dengan transit dan target yang dipasang pada

On Becoming the Center of Excellence


63
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

tower yang dianggap sebagai sighting span. Sighting span pada


suatu section dipilh bergantung pada jarak span dalam 1 (satu)
sagging section sebagai berikut :

Jumlah span/sagging Jumlah sighting span Pemilihan sighting


section span
1
3 span atau kurang Span panjang
6 span atau kurang 2 atau lebih Span terpanjang atau
span akhir
7 span atau kurang 3 atau lebih Span panjang diikat
dengan pusat section
dan span pendek
dngan kedua ujung
section

Jika terdapat beberapa span dengan perbedaan level yang cukup


besar diantara tower tower pada keseluruhan section, maka
sighting span harus dipilih span yang berdekatan dengan kedua
ujung. Target (sagging board) dan transit (pocket compass)
dipasang pada tower yang berada pada kedua sisi sighting span
dibawah titik penopang konduktor sesuai hasil perhitungan sag.

5.5.9. Pengukuran temperature pada saat sagging dengan menggunakan


glass thermometer. Untuk mengetahui temperature dalam
konduktor, maka core wire harus diambil untuk memasukkan
thermometer kedalamnya. Untuk menghindari efek radiasi panas
maka contoh konduktor harus ditempatkan + 3 meter diatas tanah.

5.5.10. Pelaksanaan Penentuan Andongan.


Setelah semua persiapan selesai dan petugas yang terlibat telah
On Becoming the Center of Excellence
64
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

berada ditempat sesuai tugasnya, maka konduktor ditarik dengan


mengoperasikan sagging winch atas komando komunikasi antara
winch operator dan setiap transit observer sehingga andongan
memenuhi target.
Bila panjang konduktor yang ditarik melebihi beberapa span,
maka tegangan pada pulling end menjadi lebih tinggi
dibandingkan dengan ujung yang lain akibat gesekan dengan
sheaves. Untuk mengatur konduktor pada andongan yang
dikehendaki pada tegangan tertentu pada seluruh span, maka
konduktor harus ditarik hati hati dengan tegangan sedikit lebih
tinggi daripada tegangan pada andongan yang dikehendaki,
kemudian andongan diatur sesuai target.
Konduktor tidak boleh di sagging dengan level yang sama
dengan span sebelumnya. Andongan setiap span tergantung
pada jarak antar tower, ketinggian dan lain sebaginya.

5.5.11. Clamping
Sekali konduktor telah ditarik dan diatur sesuai target, maka
konduktor harus di klem ke tension insulator string pada section
tower.
Untuk SUTT dengan twin konduktor dan SUTET Quaddrupple,
untuk meminimalkan perbedaan antara 2 (dua) sag sub
konduktor, maka come along salah satu sub konduktor dilengkapi
dengan tambahan lever block ditarik dan diatur untuk
menentukan posisi pemotongan konduktor untuk clamping.
Sag untuk konduktor twin dan konduktor Quaddruple dapat diatur
dengan sag adjuster.

5.5.12. Pemasangan Armour Rod dan Clipping In.


Dalam waktu 48 jam setelah semua konduktor pada 1(satu)
section stringing selesai di sagging, stringing sheaves harus
dibuka dari intermediate suspension tower dan konduktor harus di
clip in ke suspension insulator clamp secara permanen, bersama

On Becoming the Center of Excellence


65
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

sama dengan armour rod.


Prosedure pemasangan armour rod dan clipping in sebagai
berikut :
Konduktor ditandai langsung dibawah titik insulator attachment
pada cross arm.
Konduktor ditopang dengan lever block yang telah disiapkan
pada cross arm dengan menggunakan sebuah konduktor hook
untuk memindahkan berat konduktor dari stringing sheaves dan.
Stringing sheaves dilepas dari insulator string.
Armour rod dipasang pada konduktor tepat dibawah yang
ditandai pada konduktor dan merupakan titik tengah suspension
clamp.
Suspension clamp dipasang pada insulator konduktor kemudian
di clipping in bersama - sama dengan armour rod.

5.6. Jumpering
Sebagai tindak lanjut proses clamping dan clipping in, pada kedua sisi
tension tower jumper dipasang diantara kedua tension clamp.
Pemasangan jumper ini untuk mendapatkan jarak bebas yang cukup antar
tower member dengan konduktor. Panjang konduktor untuk jumper untuk
setiap tower tension ditentukan dengan pengukuran langsung
menggunakan jumper buatan dalam bentuk busur. Jumper socket dari
tension clamp dipasang pada kedua ujung dari jumper konduktor dengan
menggunakan hydraulic compressor sesuai spesifikasi pabrikan. Jumper
untuk setiap phase harus dibentuk sama/identik. Khusus untuk twin
konduktor, jumper harus diatur pada level yang sama dan ditempatkan
seragam dengan jumper spacer.

5.7. Pemasangan Asesories.


5.7.1. Pemasangan Vibration Dampers.
Vibration dampers berfungsi untuk mencegah kerusakan yang mungkin
terjadi akibat vibrasi akibat angin. Lokasi pemasngan vibration
dampers harus ditentukan terlebih dahulu dengan toleransi 5 cm dari

On Becoming the Center of Excellence


66
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

lokasi yang telah ditentukan.

5.7.2. Pemasangan Spacer


Spacer hanya dipasang pada SUTT/SUTET dengan twin konduktor
setelah selesai clipping in. Pemasangannya dengan menggunakan
conductor car yang dijalankan dari tower ke tower. Lokasi spacer pada
setiap span ditentukan berdasarkan jarak maksimum dari clamp dan
spacer yang berdekatan dalam posisi + 60 cm dari posisi yang telah
ditentukan.

5.7.3. Penggunaan Conductor Car.


Conductor car dipasang pada tower site dan 4 (empat) rodanya
ditempatkan dengan sebaik baiknya pada kedua sub konduktor.
Rem tangan dan pengukur jarak (distance couter) harus dipasang
dengan benar pada konduktor. Pengukur jarak harus diatur dalam
posisi 0 (nol) sebelum dijalankan.
3 (tiga) conductor car harus digunakan pada saat bersamaan,
masing masing pada konduktor atas, tengah dan bawah.
Distribusi beban orang, car dan alat kerja harus dijaga agar tidak
menambah andongan, sehingga dapat merusak konduktor pada
saat conductor car lewat.
Conductor car sebaiknya digerakkan sendiri oleh petugas yang
bersangkutan ke lokasi spacer yang telah ditentukan atau ditarik
dari tanah oleh petugas yang lain.
Supaya conductor car tidak merusak conductor strands, maka
conductor car harus dimaju mundurkan didekat pemasangan
spacer.

On Becoming the Center of Excellence


67
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Arah tarikan
sagging

Pemotongan konduktor untuk di Persiapan sagging. Petugas


press ke tension clamp siap di tangga sagging (aspan)

Contoh pemasangan schoor saat sagging

On Becoming the Center of Excellence


68
Pelaksanaan pengepresan
Sayang sekali petugas alpa menggunakan sarung tangan bahkan ada
yang tidak menggunakan safety helmet.
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Pemasangan jumper support SUTET 500 kV


Konduktor berkas 4 (quadruple)

On Becoming the Center of Excellence


69

Jumper Tower Tension SUTT 150 kV


PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Lampiran Materi 3. Teknik Memanjat Tower

On Becoming the Center of Excellence


70