Anda di halaman 1dari 10

Makalah Rancang Bangun Ekonomi Islam

(Ekonomi Mikro Syariah)


29 Maret 2016ananalalena

Ekonomi Islam: Perbedaan Sudut Pandang

Ekonomi konvensional melihat ilmu sebagai sesuatu yang sekuler, dan sama sekali tidak
memasukkan Tuhan serta tanggung jawab manusia kepada Tuhan di akhirat dalam bangun
pemikirannya. Oleh karena itu, ilmu ekonomi konvensional menjadi bebas nilai (positivistik).
Sementara itu, ekonomi islami justru dibangun atas prinsip-psrinsip relijius (berorientasi pada
kehidupan dunia dan sekaligus kehidupan di akhirat). Sampai saat ini, ekonom-ekonom Muslim
kontemporer dapat mengklafikasikan 3 mazhab, yakni:

Mazhab Baqir as-Sadr

Madzhab ini dipelopori oleh Baqir as-Sadr dalam bukunya Iqtishaduna (ekonomi kita). Mazhab
ini berpendapat bahwa ilmu ekonomi tidak pernah sejalan dengan Islam. Ekonomi tetap
ekonomi, dan Islam tetap Islam. Keduannya tidak akan pernah bisa disatukan karena keduanya
berasal dari filosofi yang saling kontradiktif yang satu anti-Islam, yang lainnya Islam.

Mazhab ini berpendapat bahwa keinginan manusia yang terbatas itu tidak benar karena pada
kenyataannya keinginan manusia itu terbatas. Selain itu. mazhab Baqir juga menyatakan bahwa
masalah ekonomi itu muncul bukan karena sumber daya yang terbatas, namun keserakahan
manusialah yang tidak terbatas untuk mengeksploitasi seluruh sumber daya sehingga berdampak
pada pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah.

Mazhab Mainstream

Mazhab ini berpendapat bahwa masalah ekonomi muncul karena sumber daya yang terbatas
yang dihadapkan pada keinginan manusia yang tidak terbatas. Hal ini sesuai dengan dalil dan
sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang yang sabar.

Sedangkan keinginan manuisa yang tidak terbatas dianggap sebagai hal yang alamiah. Yang
sesuai dengan dalil Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke liang
kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)

Perebedaannya terletak dalam cara menyeleseaikan masalah tersebut. Dilema sumber daya yang
terbatas versus keinginan yang tak terbatas memaksa manusia untuk melakukan pilihan-pilihan
atas keinginanya. Kemudian manusia membuat skala prioritas pemenuhan keinginan, dari yang
paling penting sampai yang paling tidak penting. Pilihan skala prioritas dalam Islam dilakukan
dengan mempertaruhkan hawa nafsunya. Tetapi dalam ekonomi islami, keputusan pilihan ini
tidak dapat dilakukan semuanya saja. Perilaku manusia dalam setiap aspek kehidupannya-
termasuk ekonomi-selalu dipandu oleh Allah lewat Alquran dan As-sunnah.

Mazhab Alternatif-Kritis

Mazhab ini adalah sebuah mazhab yang kritis. Mereka berpendapat bahwa analisis kritis bukan
saja harus dilakukan terhadap sosialisme dan kapitalisme, tetapi juga terhadap ekonomi islami itu
sendiri. Mereka yakin bahwa Islam pasti benar, tetapi ekonomi islami belum tentu benar karena
ekonomi islami adalah hasil tafsiran manuisa atas Alquran dan Sunnah, sehingga nilai
kebenarannya tidak mutlak. Proposisi dan teori yang diajukan oleh ekonomi islami harus selalu
diuji kebenarannya sebagaimana yang dilakukan terhadap ekonomi konvensional.[1]

Prinsip-prinsip Umum Ekonomi Islam

Walaupun pemikiran para pakar tentang ekonomi islami terbagi-bagi ke dalam tiga mazhab
tersebut, namun pada dasarnya mereka setuju dengan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya.
Prinsip-prinsip ini membentuk keseluruhan kerangka ekonomi islami.

Bangunan ekonomi islami didasarkan atas lima nilai universal, yakni: Tauhid (keimanan), Adl
(keadilan), Nubuwwah (Kenabian), Khilafah (Pemerintahan), dan Maad (Hasil). Kelima ini
menjadi dasar inspirasi untuk menyusun proposisi-proposisi dan teori-teori ekonomi islami.

Di atas semua nilai dan prinsip yang telah diuraikan di atas, dibangunlah konsep yang
memayungi kesemuanya, yakni konsep akhlak. Akhlak menempati posisi puncak, karena inilah
yang menjadi panduan para pelaku ekonomi dan bisnis dalam melakukan aktivitasnya.[2]

Nilai-Nilai Universal : Teori Ekonomi

Nilai-nilai ini menjadi dasar inspirasi untuk membangun teori-teori islami antara lain:

Tauhid (Ke-Esa-an Tuhan)

Tauhid merupakan pondasi ajaran islam. Dengan tauhid manusia menyaksikan bahwa tiada
sesuatupun yang layak disembah selain Allah dan tidak ada pemilik langit, bumi dan isinya
selain dari pada Allah. Maka dari itu segala aktivitas manusia dalam hubungannya dengan alam
(sumber daya) dan manusia (muamalah) dibingkai dengan kerangka hubungan dengan Allah.
Karena kepadanNya kita akan mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita, termasuk
aktivitas ekonomi dan bisnis.

Adl (Keadilan)

Allah tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap makhluknya secara dholim. Dalam banyak
ayat Allah memerintahkan manusia umtuk berbuat adil karena dalam islam adil didefinisikan
sebagai tidak mendzolimi dan tidak di dzolimi. Implikasi ekonomi dari nilai ini adalah bahwa
pelaku ekonomi tidak di bolehkan untuk mengejar keuntungan pribadi bila hal itu merugikan
orang lain atau merusak alam.

Nubuwwah (Kenabian)

Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk kepada manusia
tentang bagaimana hidup yang baik yang benar di dunia dan mengajarkan jalan untuk kembali
(taubah) ke asal muasal segalanya. Fungsi Rasul adalah untuk menjadi modal terbaik yang harus
di teladani manusia agar mendapat keselamata di dunia dan akhirat. Sifat-sifat utama yang harus
di teladani oleh manusia dan pelaku ekonomi dan bisnis sebagai berikut: sidiq, amanah, fatonah,
tabligh.

Khilafah (pemerintahan)

Dalam Al-Quran, Allah berfirman bahwa manusia di ciptakan untuk menjadi khzaifah di bumi
artinya untuk menjadi pemimpin dan pemakmur bumi. Oleh karena itu, pada dasarnya setiap
manusia adalah pemimpin. Nabi bersabda: Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan akan
dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Dengan fungsi utamannya adalah
agar menjaga keteraturan interaksi (muamalah) antar kelompok, termasuk dalam bidang
ekonomi, agar kekacauan dan keributan dapat dihilangkan atau dikurangi.

Maad (Hasil)

Maad secara harfiah berarti kembali, karena kita semua akan kembali kepada Allah. Hidup
manusia bukan hanya di dunia, tetapi terus berlanjut hingga alam setelah dunia yaitu akhirat.

Allah menandaskan bahwa manusia diciptakan di dunia untuk berjuang dan perjuangan ini akan
mendapatkan ganjaran, baik di dunia maupun di akhirat. Maad diartikan juga sebagai imbalan
atau ganjaran, seperti perbuatan baik pasti dibalas dengan kebaikan yang berlipat-lipat dan
perbuatan jahat dibalas dengan hukuman yang setimpal, meskipun pembalasannya nanti di
akhirat. Implikasi nilai ini dalam kehidupan ekonomi dan bisnis misalnya yaitu diformulasikan
oleh Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa motivasi para pelaku bisnis adalah untuk
mendapatkan laba, laba dunia dan laba akhirat. Karena itu konsep profit mendapatkan legitimasi
dalam islam.[3]

Sumber nilai ekonomi Islam adalah Al-Quran sebagai rekaman wahyu Ilahi. Menurut A.M.
Syaifuddin nilai-nilai keislaman itu secara hierarkis dapat dibedakan ke dalam dua kategori.
Pertama adalah nilai-nilai fundamental, dan kedua adalah nilai-nilai instrumental.

Nilai-nilai fundamental yang sering disebut oleh para pemikir ekonomi Islam, kurang lebih ada 9
dengan perbedaan urutan sesuai dengan alirannya:

a). Aliran Moral-Sosial

1. Keadilan dan kebaikan (al adl wa al ihsan).


2. Kerja-sama (al taawun).
3. Solidaritas (ukhuwah).
4. Musyawarah (al syura).
5. Saling percaya (al amanah).
6. Saling pengertian dan penghargaan (al taruf).
7. Pertengahan (al wasathan)
8. Keseimbangan (al mizan)
9. Kedaulatan manusia (al khilafah)

b) Aliran Moral Pasar

1. Kedaulatan manusia (al khilafah).


2. Saling percaya (al amanah).
3. Saling penghargaan (al taaruf).
4. Musyawarah (al syura).
5. Solidaritas (al ukhuwah).
6. Kerjasama (al taawun).
7. Keseimbangan (al mizan).
8. Pertengahan (al wasathan).
9. Keadilan dan kebaikan (al adl wa al ihsan).

Dan dari kesembilan nilai fundamental diatas, menghasilkan prinsip ekonomi sebagai berikut:

1. Hak milik berfungsi sosial. Usaha bersama dalam kekeluargaan.


2. Tanggung-jawab moral. Keseimbangan.
3. Toleransi dalam kemajemukan.
4. Komunikasi deliberatif. Pertengahan atau moderasi.
5. Solidaritas sosial. Keadilan distributif.

Sedangkan nilai instrumental itu berwujud prinsip-prinsip prudensialitas dalam industri


keuangan. Yang menjadi persoalan ekonomi sosial Islam adalah proses kelembagaan yang
mengandung nilai instrumental yang tinggi yang tergantung pada kapasitas kelembagaannya dan
kekuatan mentalitasnya dalam mengelola sumberdaya ekonomi.

Ekonomi Islam menekankan pada prinsip kehati-hatian dan mengahindari perilaku yang
membahayakan atau mengandung resiko. Sudah dikatakan bahwa Allah tidak merubah nasib
suatu kaum, kecuali jika kaum itu merubah faktor-faktor yang terdapat pada pribadinya (QS.
Ar-Rad:11). Dengan demikian, maka ekonomi Islam menekankan pada penguatan kepribadian
dengan penerapan nilai-nilai keutamaan. Dengan penekanan itu, maka perekonomian Islam tidak
terombang-ambing oleh perkembangan lingkungan yang selalu berubah dan sering tidak
menentu, melainkan mengendalikan lingkungan itu. Dalam konteks sistem ekonomi pasar, maka
sistem ekonomi Islam dan pelaku ekonomi tidak diditerminasi oleh pasar, melainkan pasar harus
dikendalikan oleh nilai-nilai moral dan hukum.[4]

Prinsip-prinsip Derivatif : Ciri-ciri Sistem Ekonomi Islam


Dari kelima nilai-nilai yang menjadi dasar inspirasi untuk menyusun teori-teori dan proposisi
ekonomi islami diatas dapat menurunkan tiga prinsip derivatif yang menjadi ciri-ciri sistem
ekonomi islam, antara lain:

Multitype Ownership (Kepemilikan Multijenis)

Prinsip ini adalah penjelasan dari nilai tauhid yaitu pemilik primer langit, bumi dan seisinnya
adalah Allah, sedangkan manusia diberi amanah untuk mengelolannya. Jadi manusia dianggap
sebagai pemilik sekunder. Dengan demikian, konsep kepemilikan swasta diakui dan namun
untuk menjamin keadilan maka cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara. Dengan demikian, kepemilikan negara dan nasionalisasi juga
diakui. Sistem kepemilikan campuran juga mendapat tempat dalam islam, baik campuran swasta-
negara, swasta domestik-asing, atau negara-asing.

Freedom to act (Kebebasan Bertindak/ Berusaha)

Dalam nilai-nilai nubuwwah yaitu pada keempat sifat-sifat nabi, yakni siddiq, amanah, fathanah,
dan tabligh bila digabungkan dengan nilai khilafah (good governance) akan melahirkan prinsip
freedom to act pada setiap muslim, khususnya pelaku bisnis dan ekonomi. Freedom to act bagi
setiap individu akan menciptakan mekanisme pasar dalam perekonomian, karena itu mekanisme
pasar adalah keharusan dalam islam dengan syarat tidak ada distorsi (proses penzaliman). Negara
bertugas menyingkirkan atau paling tidak mengurangi market distortion. Dengan demikian,
negara atau pemerintah bertindak sebagai wasit yang mengawasi interaksi (muamalah) pelakuk-
pelaku ekonomi dan bisnis dalam wilayah kekuasaannya untuk menjamin tidak dilanggarnya
syariah, supaya tidak ada pihak-pihak yang zalim atau terzalimi, sehingga tercipta iklim ekonomi
dan bisnis yang sehat.

Social Justice (Keadilan Sosial)

Gabungan nilai khilafah dan nilai maad melahirkan prinsip keadilan sosial. Dalam islam,
pemerintah bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya dan
menciptakan keseimbangan sosial antara yang kaya dan yang miskin. Semua sistem ekonomi
mempunyai tujuan yang sama yaitu menciptakan sistem perekonomian yang adil. Namun, tidak
semuannya sistem tersebut mampu dan secara konsisten menciptakan sistem yang adil. Sistem
yang baik adalah sistem yang dengan tegas dan secara konsisten menjalankan prinsip-prinsip
keadilan. Dalam sistem sosialis, keadilan akan terwujud apabila masyarakatnya dapat menikmati
barang dan jasa dengan sama rasa dan sama rata. Sedangkan dalam sistem kapitalis, adil apabila
setiap individu mendapatkan apa yang menjadi haknya.

Dalam islam, keadilan diartikan dengan suka sama suka dan satu pihak tidak menzalimi pihak
lain. Islam menganut sistem mekanisme pasar, namun tidak semuanya diserahkan pada
mekanisme harga, karena segala distorsi yang muncul dalam perekonomian tidak sepenuhnya
dapat diselesaikan maka islam membolehkan adanya beberapa intervensi, baik intervensi harga
maupun pasar. Selain itu, islam juga melengkapi perangkat berupa instrumen kebijakan yang
difungsikan untuk mengatasi segala distorsi yang muncul.[5]
Rancang Bangun Ekonomi Islam

Pada pokoknya mendirikan suatu bangunan itu dimulai dengan meletakkan fondasi yang kuat,
kemudian dibangun lantai dasar, dan ditegakkan tiang-tiang peenyangga, lalu dibangun plafon
dan yang paling atas dibangun atap. Pada bangunan tumah juga ada pintu dan jendela yang
menghubungkan ruang dunia dalam dan dunia luar. Sedang, masalahnya adalah, bagaimana
menginpretasi bangunan rumah atau gedung dengan bangunan ekonomi yang bersifat abstrak.
Intepretasi itu adalah material atau bahan-bahan bangunan.

Dalam ekonomi Islam, bahan bangunan itu adalah ajaran Islam yang bersumber dari al-Quran
dan as-Sunnah serta tradisi pemikiran yang telah dikembangkan oleh para ulama, filsuf dan
tindakan-tindakan para pemimpin Islam, seperti para sahabat dan pemimpin-pemimpin
berikutnya yang dicatat dalam sejarah perkembangan perekonomian.

Suroso Imam Djazuli dari Universitas Erlangga berpendapat bahwa hakekat Ekonomi Islam
adalah praktek kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Dari
pandangan itu nampak dua elemen bangunan Ekonomi Islam, yaitu elemen normatif dan elemen
historis-sosiologis.

Dalam prakteknya, pengetahuan mengenai Ekonomi Islam lebih didasarkan pada kajian para
pemikir ulama, seperti Abu Yusuf, Abu Ubeid, Ibn Ruyd, Al Ghazali, dan Ibn Taimiyah. Kajian
ini mneghasilkan dua jenis ilmu. Yang pertama adalah fiqh muamalah dan kedua adalah kalam
atau teologi ekonomi yang menghasilkan moral dan etika ekonomi. Namun yang berkembang
menjadi arus utama (mainstream) adalah kajian ekonomi fiqh yang menghasilkan ekonomi
hukum (legal economics) yang menjadi fondasi ekonomi syariah dewasa ini memfokuskan pada
ekonomi keuangan dan perbankan yang mengandung nilai instrumental yang tinggi.[6]

Sistem ekonomi yaitu suatu satu kesatuan mekanisme dan lembaga pengambilan keputusan
dimana keputusan itu diimplementasikan terhadap produksi, distribusi dan konsumsi dalam suatu
wilayah. Untuk membentuk suatu sistem ekonomi ada beberapa faktor, seperti ideologi, nilai-
nilai yang dianut, kebudayaan, sistem politik, keadaan alam, sejarah dan lain-lain. Faktor lain
yang juga mempengaruhi sistem ekonomi yaitu didasarkan pada pemikirian, konsep, atau teori-
teori ekonomi tertentu yang diyakini kebenarannya.

Menurut Gregory and Stuart (1985) elemen kunci dari suatu sistem ekonomi adalah:

Hak kepemilikan.
Mekanisme provisi informasi dan koordinasi dari keputusan-keputusan.
Metode pengambilan keputusan.
Sistem insentif bagi perilaku ekonomi.[7]

Kepemilikan Dalam Islam

Ekonomi Islam mengajarkan prinsip hak milik yang berbeda dari sistem kapitalis yang
menekankan pada hak milik individu dan komunisme yang menekankan pada hak milik kolektif.
Menurut Ibn Taimiyah, dalam Islam terdapat tiga kriteria hak milik, antara lain:
1. Hak milik individual (milkiyah fardhiah/private ownership), yang mengandung amanah
moral. Yaitu amanah yang memberikan pedoman perilaku baik/buruk, salah/benar,
haram/halal.
2. Hak milik umum atau publik (milkiyahammah/public ownership), yang mengandung
amanah sosial. Yaitu berkaitan dengan kemaslahatan umum.
3. Hak milik negara (milkiyah daulah/state ownership), yang mengandung amanah politik.
Yaitu yang berkaitan dengan penentuan siapa memperoleh apa.

Dalam perekonomian Islam, hak milik itu harus menghasilkan barang-barang yang halal dan
bermutu (halalan thoyyiban) sebagai amanah moral dan sosial.[8]

Kepemilikan individu merupakan persyaratan yang mendasar bagi tercapainya kesejahteraan


masyarakat. Seorang individu diberikan kebebasan untuk memanfaatkan sumber daya dengan
syarat: (a) cara perolehan dan penggunaannya tidak bertentangan dengan syariah Islam; dan (b)
tidak menimbulkan kerugian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Kepemilikan umum hal ini muncul karena pemanfaatan suatu benda diperuntukkan bagi
masyarakat umum sehingga menjadi kepentingan bersama. Hak kepemilikan umum
diperuntukkan dalam benda-benda umum dengan karakteristik sebagai berikut:

1. Merupakan fasilitas umum.


2. Bahan tambang yang relatif tidak terbatas jumlahnya.
3. Sumber daya alam yang sifatnya tidak dapat dimiliki secara individu.
4. Harta benda waqf.[9]

Hak milik negara adalah kekuasaan negara atas suatu aset atau kekayaan negara yan hasilnya
masuk ke dalam pendapatan negara yang dipakai untuk penyelenggaraan negara dan anggaran
belanja negara. Pendapatan negara bisa pula diwujudkan dalam kegiatan infak atau investasi
guna menciptakan atau memperluas kesempatan kerja.[10]

Mashlahah sebagai Insentif Ekonomi

Konsep dan pemahaman tentang harta kepemilikan membawa implikasi kepada motivasi dan
insentif setiap individu. Ketika seseorang meyakini bahwa harta yang dimilikinya adalah dalam
kekuasaannya merupakan hak miliknua secara mutlak, maka seseorang itu akan merasa memiliki
kebebasan dan kekuasaan atas harta tersebut.

Dalam kegiatan ekonomi, islam mengakui adanya insentif material maupun nonmaterial. Karena
ajaran Islam memberikan peluang individu untuk memenuhi kepentingan individunya,
kepentingan sosial dan kepentingan beribadanya. Insentif ekonomi dalam pandangan Islam
dibagi menjadi dua, yaitu insentif yang diterima di dunia dan insentif yang diterima di akhirat.
Insentif di dunia yaitu pendapatan yang mungkin diterima oleh individu atau masyarakat, baik
dalam kegiatan produksi, ditribusi maupun konsumsi.
konsumsi. Sedangkan insentif di akhirat yaitu berupa imbalan (pahala atau hukuman) yangmana
hanya akan dirasakan di akhirat saja, seperti yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. Kesemua
insentif ini yang disebut sebagai mashlahah.[11]

Musyawarah sebagai Prinsip Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan dibedakan menjadi dua sistem, yaiu sistem setralisasi dan sistem
desentralisasi. Sistem sentralisasi yaitu pengambilan keputusan dilakukan oleh satu otoritas,
contohnya adalah pemerintah pusat, dan para pelaku ekonomi berperan sebagai pelaksana
pengambilan keputusan saja. Sistem sentralisasi dilahirkan oleh paham sosialisme, dan sistem ini
akan menghasilkan suatu perekonomian terencana (planned economy). Sedangkan sistem
desentralisasi, pengambilan keputusannya cenderung diserahkan kepada setiap pelaku ekonomi
sehingga tidak diperlukan otoritas tunggal dalam pengambilan keputusan ekonomi. Sistem
desntralisasi dilahirkan oleh paham kapitalisme, dan sistem ini akan menghasilkan suatu pasar
persaingan yang bebas.

Secara umum, dalam pandangan ekonomi islam pengambilan keputusan didasarkan atas prinsip
mekanisme pasar, namun tetap memandang nilai-nilai kebaikan bersama dan nilai-nilai
kebenaran. Oleh karena itu, prinsip yang digunakan untuk mendapatkan kesepakatan atas dasar
kemashlahatan dan untuk pengambilan keputusan yang sesuai dengan ajaran Islam adalah
dengan menggunakan prinsip musyawarah (shuratic process). Musyawarah merupakan
kombinasi antara proses desentralisasi dan proses sentralisasi yang dikendalikan dengan nilai-
nilai mashlahah.[12]

Pasar yang Adil sebagai Media Komunikasi

Dalam paham kapitalisme, mekanisme pasar atau transaksi dianggap sebagai mekanisme yang
paling tepat untuk pemenuhan kehendak setiap individu. Alasannya karena setiap individu harus
sadar dan termotivasi oleh kepentingannya. Jika setiap individu memiliki pola pikir
individualistik, maka akan tercipta suatu mekanisme transaksional, dimana bahwa seseorang
akan memberikan sesuatu yang dimilikinya jika ia juga mendapatkan apa yang diinginkannya.
Dan mekanisme seperti inilah yang dikenal sebagai mekanisme pasar.

Kebebasan individu yang harmoni dengan kebutuhan sosial dan moralitas Islam akan terwujud
dalam suatu mekanisme pasar yang mengutamakan aspek moralitas dan kerja sama. Menurut Ibn
Taimiyah menyatakan bahwa mekanisme ini dengan istilah pasar yang adil atau gabungan
antara persaingan dan kerja sama (cooperation). Mekanisme pasar murni bukanlah menjadi
kendala perilaku pada pelaku ekonomi, namun pasar juga dikendalikan oleh pemerintah dan
masyarakat (citizenship) dalam upaya mencapai keadilan dan mashlahah maksimum.[13]

Perbandingan Sistem Ekonomi Islam dengan Sistem Ekonomi Utama

Mekanisme
Pengambilan
Paham Ekonomi Insentif Kepemilikan Informasi dan
Keputusan
Koordinasi
Kapitalisme (pure Material Mutlak individual Mekanisme pasar Desentralistik
capitalism)
Kapitalisme negara Material dan Individual atas pengawasan Mekanisme pasar Sentralistik dan
(state capitalism) Norma sosial negara dan negara Desentralistik
Kapitalisme
Material dan norma Mekanisme pasar Sentralistik dan
campuran (mixed Mutlak individual
sosial dan negara Desentralistik
capitalism)
Sosialisme (pure
Norma sosial Mutlak negara Negara Sentralistik
sosialism)
Pasar sosialisme Material dan norma Mutlak negara atau Mekanisme pasar
Sentralistik
(market sosialism) sosial komunitas dan negara
Mashlahah (dunia Individual, sosial dan negara Mekanisme pasar Musyawarah berba
Islam
dan akhirat) atas dasar mashlahah yang adil mashlahah

Pelaku Ekonomi dalam Islam

1. Pasar dalam Ekonomi Islam

Dalam ajaran Islam sangat menghargai pasar sebagai tempat bertransaksi secara halal dan baik,
sehingga merupakan mekanisme alokasi dan distribusi sumber daya ekonomi yang ideal. Pasar
merupakan mekanisme transaksi yang memenuhi kriteria tersebut. Mekanisme pasar merupakan
suatu kekuatan yang bersifat massal (impersonal) dan alamiah (natural) sehingga mencerminkan
kondisi ekonomi masyarakat lebih luas. Dalam situasi bersaing yang sempurna (perfect
competition market), tak seorang pelaku pasar secara individual dapat mengendalikan
mekanisme pasar, hanya Allah-lah yang mengatur naik turunnya harga di pasar.

Pasar Islami adalah free co-opetition market, dimana para pelaku pasar tidak hanya mengejar
keuntungan material saja namun juga mengejar barakah dari Allah SWT.

Meskipun pasar merupakan mekanisme distribusi dan alokasi sumber daya yang paling efisien,
pasar juga memiliki kelemahan dan kekurangan, misalnya penyediaan barang dan fasilitas
publik, penyelesaian masalah eksternalitas, penegakan keadilan sosial dan distirbusi pendapatan,
dan lain-lain. Mekanisme pasar juga sering tidak tepat untuk mengalokasikan barang dan jasa
yang sesuai dengan prioritas kebutuhan yang seharusnya. Hal-hal tersebutlah yang dinamakan
kegagalan pasar (market failure). Pasar yang tidak sempurna (market imperfection) dapat
mengakibatkan alokasi sumber daya yang pada akhirnya tidak seefisien yang diharapkan.

1. Pemerintah dalam ekonomi Islam

Pemerintah adalah pemegang amanah Allah dan Rasul-Nya serta amanah dari masyarakat untuk
menjalankan tugas-tugas kolektif dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan (al-adl wal
ihsan) bagi seluruh umat. Pemerintah mempunyai peran yang dibagi menjadi tiga, yaitu: (a)
peran yang berkaitan dengan implementasi nilai dan moral Islam, (b) peran yang berkaitan
dengan menyempurnakan mekanisme pasar (market imperfection), dan (c) peran yang berkaitan
dengan kegagalan pasar (market failures).
Dalam ajaran Islam, pemenuhan kebutuhan dasar dan pemerataan distribusi pendapatan dan
kekayaan merupakan kewajiban kolektif seluruh masyarakat. Begitu juga dengan negara, yang
harus menjamin kebutuhan dasar dan pemerataan distribusi pendapatan dan kekayaan. Desain
pembangunan ekonomi secara keseluruhan tidak bisa diserahkan begitu saja pada mekanisme
pasar, karena pasar memiliki ketidaksempurnaan dan kegagalan. Untuk itu negara bertugas untuk
membuat perencanaan sekaligus mengawasi jalannya pembangunan ekonomi.

1. Peran Masyarakat dalam ekonomi Islam

Masayarakat dalam ekonomi memiliki beberapa peran, diantaranya seperti sebagai pertukaran
(changeable) dengan pemerintah sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh negara.
Peran masyarakat juga muncul karena adanya konsep hak milik umum atau publik dalam
ekonomi Islam, seperti waqf.

Dalam pandangan Islam, masyarakat bisa diartikan secara sempit dan luas tergantung dari
tanggung jawab dan hak masing-masing. Namun masyarakat juga memiliki kelemahan dalam
peranannya, contohnya adalah kemungkinan adanya konflik kepentingan yang serius dari
anggota masyarakat sehingga peran yang dilakukan lebih mencerminkan kepentingan individu
daripada kepentingan kebutuhan ekonomi masyarakat yang sesungguhnya.[14]

DAFTAR PUSTAKA

Rahardjo, M. Dawam, Rancang Bangun Ekonomi Islam,

http://ekonomisyariah.org/download/artikel/Arsitektur%20Ekonomi%20Islam.pdf

Karim, Adiwarman A., Ekonomi Mikro Islam, Edisi Keempat, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2012.

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam/P3EI, Ekonomi Islam, Edisi Kelima,
Jakarta: Rajawali Pers, 2013.