Anda di halaman 1dari 123

&lG

"?.
e,ls
b
*
G
PADI
*
k

8@ 9p

*cw
+
$
e

t *
,
oscE
PADI Survival Style
(obiective structured ctinical Examinations)

TIM MATERI PADI


OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

OSCE: PADI Survival Style


zot6

o 2016 PADI
PADI Matraman
PADI Kelapa Cading
PADlJogjakarta

Disclaimer
Semua nama dan skenario kasus dalam buku iniadalah karangan belaka.
Adanya kesamaan tempat, nama, atau kasus adalah sebuah ketidaksengaiaan.

Semua informasidi dalam buku ini hanya untuk tujuan pendidikan saja.
lnformasi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran tenaga
medis.

Disclaimer
AII nomes and case scenario inthis book are fictional.
Any resemblance to real place, name, or case scenario is purely coincidental.

The information on this book is provided for educational purposes only;


it is not intended to be a substitute for professional medical odvice
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Daftar Isi

Metabolik - Endokrin. .'.....,............, 6l

................ IO2

Apendiks: Daftar Obat Terpilih (P-drugs) ...................... .................II9

Apendiks: Script Pertanyaan Sensitif - Kasus Psikiatri...... .........r22


OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Tentang OSCE

.&rye Et* {:lSBXtr?


't
Ini adalah bentuk
OSCE singkatan dari Obiectiue Structured Clinical Examination
ujian yang banyak dilakukan di ilmu-ilmu kesehatan. Ujian ini adalah ujian
yang menguji keterampilan klinik (termasuk anamnesis, bagaimana
keterampilan pemeriksaan fisis), di samping komunikasi dan profesionalisme.
Selama di ruang ujian, Anda akan diuji layaknya Anda seorang dokter dan
sebagaimana Anda berpraktik di ruang praktik pribadi.

Biasanya akan ada pasien simulasi dalam ujian ini. Ajaklah pasien simulasi itu
untuk berinteraksi, seolah-olah ia adalah pasien sesungguhnya. Jika tidak ada
pasien simulasi, kemungkinan besar stqtion ini menggantikan pasien simulasi
dengan manekin.

Akan ada 14 station, di mana 12 station di antaranya berisi soal dan 2 station
istirahat. |adi, di satu sesi dan tempat ujian, akan ada 4 peserta yang ujian.
Anda mulai di satu station, lalu berotasi hingga menjalani 14 station.

Anda memiliki waktu 15 menit di setiap station.r menit pertama dimulai dengan
membaca soal yang tertempel di pintu luar station.

Seorang laki-laki, berusia T4tahun datang dengan keluhan demam sejak 7 hari yang lalu.

Instruksi untuk pasien ujian:


t. Lakukan anamnesis pada pasien.
2. Lakukan pemeriksaan fisik pada pasien
). Mintalah hasil pemeriksaan penunjang kepada penguji.
4. Tegakkan diagnosis dan dua diagnosis banding, lalu sampaikan kepada penguji.
5. Lakukan tatalaksana farmakoterapi, tulis resp, dan sampaikan kepada penguji.
6. Lakukan edukasi keoada oasien.

Setelah satu menit terlampaui, bel masuk station dibunyikan. Di dalam ruang,
lakukan sesuai dengan instuksi. Anda punya waktu r) menit untuk
menyelesaikan station. Akan ada bel pengingat sisa waktu 3 menit. Setelah
selesai, bel akhir station dibunyikan dan Anda punya waktu r menit untuk
keluar dari station tersebut dan berjalan pindah ke station selanjutnya. Tunggu
di depan station selanjutnya sampai bel dibunyikan tanda Anda dipersilakan
membaca soal di station berikutnya. Demikian seterusnya sampai Anda
menyelesaikan ujian.

htftq{$m sE t-$K{vtiryij

I. Kardiovaskular
) Respirasi
1. Neurobehavior
4. Gastrointestinal
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

5. Reproduksi
6. Muskuloskeletal
T. Metabolik - Endokrin
8. Hematologi - Onkologi
9. Genitourinlria
lo. Head & Neck
II. Special Sensory
Iz. Psikiatri

Menurut borang penilaian OSCE, peserta akan dinilai dari segi:


r. Anamnesis
2. Pemeriksaan fisik
). Melakukan tes/prosedur klinik atau interpretasi data untuk menunjang
diagnosis banding/diagnosis
4. Menentukan diagnosis atau diagnosis banding
5. Tatalaksananon-farmakoterapi
6. Tatalaksanafarmakoterapi
7. Komunikasi dan edukasi pasien
8. Perilakuprofesional

Poin perilaku profesional p4qg dinilai di semua station, sedangkan poin r


sampai 7 bervariasi antar-station. Perilaku profesional dijabarkan sebagai
kehati-hatian dalam bertindak, hormat kepada pasien, serta merujuk jika kasus
yang disajikan bukan kasus kompetensi penuh dokter umum.

Penguji hanya akan menilai apa yang tertera di soal. |adi Anda tidak akan
mendapatkan poin untuk hal yang Anda lakukan namun tidak diminta oleh
soal.

tr*m*nittnat ffi#f i:],r"'#ft *l$flffi,


Kelulusan OSCE melibatkan nilai nasional. Jadi kriteria lulus OSCE ditentukan
oleh peserta OSCE di seluruh Indonesia.

t. Yakinkan diri bahwa Anda pasti bisa lulus UKMPPD, termasuk OSCE.
Ini bukanlah hal yang sangat menakutkan.
2. fika ada bimbingan di kampus (terutama kampus menyediakan alat-alat
/ manekin yang tidak mudah Anda akali), manfaarkan kesemparan
belajar tersebut.
). Petakan kekuatan Anda. Cari tahu bagian mana yang Anda rasa masih
perlu perbaikan. Fokuslah pada hal ini.
4. Buatlah kelompok belajar. Targetkan apa yang ingin Anda pelajari
dalam satu sesi. Misal: hari ini Anda akan belajar sistem gastrointestinal.
Cari tahu kasus apa yang mungkin keluar, lalu gunakan sebagai sarana
untuk saling berlatih. Satu orang menjadi dokter, satu orang menjadi
pasien simulasi, dan yang lain observasi. Ulangilah sampai lancar!
5. Berdoa, karena after You do your best, God will do the rest.

6
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Keterampilan Umum
Dalam bagian ini, akan ada tiga keterampilan yang harus Anda kuasai, yakni
anamnesis, pemeriksaan fisis, dan komunikasi/edukasi. Ketiga keterampilan
dasar ini perlu Anda pelajari secara terpisah karena dapat diaplikasikan untuk
semua kasus.
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Anamnesis
Anamnesis hampir selalu diujikan dalam setiap pos OSCE UKMPPD. Kunci
memiliki keterampi.lan anamnesis yang baik adalah dengan berlatih sebanyak-
banyaknya. Persiapkan diri Anda sebaik-baiknya. Tujuan anamnesis adalah
memperoleh data atau informasi tentang permasalahan yang sedang dialami
atau dirasakan oleh pasien. Apabila anamnesis dilakukan dengan cermat, maka
informasi yang didapatkan akan sangat berharga bagi penegakan diagnosis.

;.:",2pl* ffi#$$tr'*i s;c:;L. ?**ynfu*::==i*E F#i..*{ ;}} -ifri*r


Sapa pasien (usahakan dengan berjabat tangan) dan persilakan pasien untuk
duduk. Tunjukan komunikasi non-verbal yang menunjukkan sikap terbuka,
yaitu tersenyum, mencondongkan tubuh ke depan, tidak melipat tangan atau
memasukkan tangan ke dalam saku, mempertahankan kontak mata pada pasien,
dan mendengarkan pasien sebaik-baiknya.

ffi *vk*wm* kmm #{r} &m**;.a

Contoh: "Nama saya Dokter Cantik. Saya dokter jaga yang bertugas hari ini."

)::'.".'.:-$ifu.trffi
$!n- k'tp #w .w,.+r?$ffi C#ffi.z?",r* $+* mfums**;srt *3*d$$

Contoh: "setelah ini, saya akan menanyakan identitas, keluhan, dan hal-hal terkait
penyakit Bapak. langan khawatir, Bapak boleh bicara seleluasa mungkin karena ini
akan menjadi rahasia medis."

'tf*"^"-* 8"** :--.e*-. *l** * * *:


-"*
E ffiilymKdr'fi IffeClIi{;}5- #*}}fitrrE

Sekurang-kurangnya tanyakan nama, usia, dan pekerjaan pasien. Identitas


dikatakan lengkap jika nama, usia, alamat, pekerjaan, riwayat pernikahan, suku,
agama berhasil Anda dapatkan.

'$"*m5r*k*rx km*ufumm ait#ffi?e ,' :

Keluhan utama adalah hal yang sangat penting bagi pasien, karena keluhan ini
yang membawa pasien datang ke dokter. Bila pasien menjawab "diabetes",
"hipertensi", atau penyakit kronis/keluhan non-spesifik lainnya, gali lebih
mendalam.
OSCE: SURVIVAL

Tanyakan kronologis penyakit pasien (sejak


6 hal yang wajib Anda gali dari
pertama kali keluhan muncul hingga saat data4g
keluhan utama adalah:
kepada Anda), gali keluhan utama pasien untuk
Lokasi (di mana, penjalaran)
mengarahkan pa{a diagnosis yang paling mungkin,-
Onset dan kronologis (kapan
serta singkirkan diagnosis banding yang ada. Dari
terjadinya, berapa lama)
keluhan utama sebaiknya Anda sudah mulai .
Kuantitas keluhan (ringan atau
memikirkan beberapa kemungkinan diagnosis .
berat, seberapa sering?)
banding yang berhubungan dengan keluhan utama.
Kualitas keluhan (seperti apa
rasanya)
Faktor yang memperberat
Faktor yang meringankan

Tanyakan apakah pasien pernah mengalami sakit yang dialaminya sekarang


di
masa lampau. Bila ya, tanya kapan terjadinya, sudah berapa kari,
dan *"rrduput
pengobatan apa saja. Tanyakan pura mengenai riwayat penyakit lain
yang
terjadi pada pasien di masa lampau, terutama yang berkaitan dengan
diagnosis
pasien saat ini.

Pada berusia 35 tahun atau rebih, tanyakan riwayat penyakit


degeneratif;
misalnya diabetes, hipertensi, dan lain-lain. Riwayat operasi dan ri.^,ayat
rawat
inap juga ditanyakan pada bagian ini. pada pasie, p"."-p,ran,
tanyakan
mengenai riwayat menstruasi dan riwayat obstetri ginekologi (riwayat
kehamilan/parrirs/abortus, riwayat menderira penya.tcit ginekologis).
Contoh:
"Apakah Bapak pernah mengalami sakit kepala
seperti ini sebelumnEa?"
"ceritakan mengenai penyakit apa saja gang perntah
Bapak arami di masa rampau,,
"Ap akah B ap ak m en d erit a d ar ah tin g g i / ken cin g m ani s l p e ny akit r ainn "
g a?

Fi: i auim?.*'e paffi H# ki f *<,e )q,$;* rff #


Tanyakan riwayat penyakit serupa di keluarga pasien. Tanyakan
punya
mengenai penyakit degeneratif atau penyakit lain yang relevan
yang terjadi
pada keluarga pasien

;:t }..z,rn ts;* ?p* ffi (g {.} *e Bij; c** # x sr ;j s rffi


6 i
Tanyakan riwayat pengobatan yang pasien konsumsi. Tanyakan
pula mengenai
riwayat alergi pasien, meliputi makanan dan obat.
contoh: "obat apa saja yang sudah Bapak minum untuk mengatasi nyeri
kepala
ini? Adakah jenis pengobatan yang rain, misalnya dipijai? Apakah Bapak
memiliki alergi makanan atau obat?"
I

OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

#myx h*du*p, p*$c*rpmmm, d*m sr#$ ps*Eamsm**x3


Tanyakan hal-hal lain yang Anda perlukan untuk memantapkan perkiraan
diagnosis pasien. Anda dapat menanyakan mengenai pola makan pasien,
aktivitas fisik, ri#ayat pekerjaan, riwayat merokok, riwayat konsumsi alkohol,
pola tidur, stres psikis, keuangan, asuransi, dan lain-lain.

Contoh: "Bagaimana pola makan Bapak sehari-hari? Apakah Bapak rutin


berolah raga? Biasanya jenis olah raga apa yang Bapak lakukan?"

Contoh: "Baik pak, saya coba rangkum ya. Jadi, nama Bapak Udin, usia 48 tahun.
Bapak mengeluh nyeri kepala sejak kemarin ya, Pak. Nyeri tanpa demam,
dirasakan seperti tertekan di dahi, belakang kepala, hingga pundak. Nyeri
muncul terus menerus, walau kadang-kadang membaik sendiri namun
kemudian menjadi sakit lagi. Nyeri seperti ini pernah Bapak rasakan kira-kira 3
bulan yang lalu..."
t

u'+\pffi
H*rl';; r;de H#ffi# r:t{}i.'r r*r'*r:p*k;*mf"
Sebelum menutup anamnesis, sempatkan diri untuk menanyakan pertanyaan
ini.

,.i g*s rm*ia w"uk*lr &ffi ffi $H*E#$is

I r. Beri kesempatan pasien menceritakan masalahnya.


2. Gunakan pertanyaan terbuka dan tertutup secara tepat. Mulailah
dengan pertanyaan terbuka, dan jika perlu sampaikan pertanyaan
tertutup. Fungsi pertanyaan tertutup adalah untuk menognfirmasi hal-
hal yang belum jelas.
3. fangan memotong pembicaraan pasien.
4. Iadilah pendengar yang aktif.
5. Kenali isyarat verbal dan non-verbal yang ditunjukkan pasien.
6. Gunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh pasien. Hindari
penggunaan istilah medis.

Pemeriksaan Fisik
satu komponen lain dalam aspek penilaian adalah pemeriksaan fisik. perlu
I diperhatikan, instruksi yang sering tercantum dalam soal adalah "lakukan
pemeriksaan fisik yang relevan".

Anda wajib melakukan dua hal


Hp*mxsr*ks;*m ru ${sEfu y#F}# r#*#wes
berikut yakni cuci tangan dan
pemeriksaan keadaan umum + Relevan artinya sesuai dengan apa diagnosis
tanda vital. banding yang Anda pikirkan selama melakukan
anamnesis. |ika masih ada beberapa diagnosis

10
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

banding dan (seharusnya) dapat disingkirkan dengan p"*"rikruu., fisik,


lakukan. Namun, jika Anda merasa pemeriksaan fisik yang Anda perlukan tidak
menambah nilai diagnosis (artinya, dengan melakukan pemeriksaan tersebut
hasil yang Anda peroleh tidak bermakna dalam menyingkirkan diagnosis),
artinya pemeriksaan fisik tersebut "kurang relevan".
Hal yang dapat diperiksa ketika melakukan pemeriksaan fisik adalah:

' Keadaan umum: tampak sakit ringan/sedang/berat, BB, TB, dan IMT
' Tanda vital: TD, suhu, nadi, pernapasan
' Kepala dan leher, termasuk di antaranya kelenjar getah bening
' Mata: inspeksi, pupil, visus, tekanan bola mata, lapangan pandang,
funduskopi,
. THT: telinga (inspeksi, palpasi mastoid dan tragus, otoskopi, tes penala),
hidung (inspeksi, palpasi sinus paranasal, rinoskopi), dan tenggorok
(inspeksi cavum oris, tenggorok)
. Paru (depan dan belakang) dengan inspeksi, palpasi, perkusi,
auskultasi
' fantung (inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi)
. Abdomen (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi)
. Genitourinaria (vesika urinaria, ginjal, nyeri ketok CVA, genitalia
eksterna)
. Neurologi (kesadaran, MMSE, nervus kranialis, motorik, sensorik
raba/nyeri/suhu, refleks fisiologis, refleks patologis, keseimbangan)
' Muskuloskeletal dan ekstremitas (akral dan CRT, look, feel, moue,
edema)
. Kulit
. Metabolik dan endokrin (kelenjar tiroid, sensori ekstremitas bawah)
. Psikiatri (status mental)
. Spesifik umur: pediatrik
o Lingkar kepala (terutama usia <24 bulan)
o Status nutrisi (WHO/CDC)

Beberapa hal yang tercetak tebal adalah hal yang sedapat mungkin Anda
kerjakan selama pemeriksaan fisik. Untuk keterangan lengkap, Anda dapat
melihat masing-masing bab.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan fisik, tutup pemeriksaan fisik dengan
kata-kata seperti "Pak, pemeriksaannya sudah selesai. Silakan pakai pakaian lagi,
lalu silakan duduk kembali pak untuk kita bahas lebih lanjut ya."

, : : I I 1;

Pasien simulasi adalah pasien sehat yang sudah dilatih untuk menunjukkan
kelainan sesuai dengan skenario. Sebagai contoh, untuk kasus nyeri, ketika
Anda menekan m. gastrocnemius, pasien dapat berteriak/mengeluhkan
munculnya nyeri.
Sementara itu untuk kelainan yang tidak dapat disimulasikan, seperti ikterus
pada mata, hasil akan disampaikan oleh penguji kepada peserta ujian. Namun
jangat terkejut jika Anda dapat menemukan "lesi kulit" pada pasien simulasi.

11
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

&"p*3t*?x $ffibsft p*rm ammmga*#ffi# $ss?#$t*ila-Bam6**mfu p*xt*r*ksemre


{mt*u* {}*r*;}ek*re}?
Anda tidak perlu rqengucap "baiklah, saya akan melakukan palpasi dangkal dengan
meletakkan iari telunjuk tangan kanan saAa...". Sebaliknya, silakan berkomunikasi
dengan pasien simulasi. Sebagai contoh, "Bapak, saya akan raba perut bapak, ya,
saya ingin lihat apakah ada nyeri atau teraba benjolan. lika nyeri, silakan sampaikan
kepada saya, ya Pak"

Niscaya dengan berkomunikasi kepada pasien, penguji juga akan mengetahui


bahwa Anda tidak lupa melakukan palpasi abdomen dibanding Anda
menyampaikan langkah pemeriksaan fisik abdomen.

*.. : .. :.... * 1 -:.r


Pr'tun&sE t {{E?!t!}"64 {}A'''}f {EtEtE f-tSfE#fl!ffiql} H::?:: lEi} E:qT!!:: il l:?r_l

' -#-' _-d -- -" **"1""

Ini adalah bagian dari skenario yang dimainkan oleh pasien. Anda justru dapat
menunjukkan empati Anda dengan mengatakan "Pak, saAa sangat memahami
saat ini bapak dalam keadaan nyeri yang sangat hebat. Namun demikian untuk
memberikan obat, saga perlu melakukan pemeriksaan teflebih dahulu. Saya akan
melakukan senAaman dan sesingkat mungkin, dan nanti segera setelah selesai, kita
dapat laniut untuk pemberian obat-obatan lain. Terima kasih ga pak..."

ildukasi
Secara sederhana, edukasi adalah menjelaskan kondisi medis pasien dan
keadaan lain terkait pasien menggunakan bahasa yang sesederhana mungkin.
Anda akan dijelaskan cara memberikan Edukasi Diagnosis, Edukasi Terapi, dan
Edukasi Rujukan. Selain itu, edukasi spesifik untuk pos tertentu (seperti edukasi
minum obat pada TB dan edukasi diet pada DM) akan dijelaskan di bab terkait.

ffidq*${*** #Exxgn*sfis

Bahasa medis + Bahasa sederhana + Sehingga

Bahasa medis
"Ibu mengalami kondisi yang dalam bahasa medis disebut sebagai carpal tunnel syndrome atau CTS..."

Bahasa sederhana

"... dalam bahasa yang sederhana, saraf lbu di sini keiepit..."

(tunj uk p er g el ang an tan g an)

Sehingga

12
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

"... oleh karena itu lbu mengeluhkan rasa sakit dan kesemutan di jari tangan. Ini dapatberhubungan
dengan pekerjaan lbu sebagai buruh cuci"

L#{j.: i, t* Hffl'r : i *t 1* tr;t#ffiH-


! i 4 ,t
"
;

Rencana yang akan dilakukan + Keuntungan + Kerugian

Rencana yang akan dilakukan


"Nah, saya akan memberi obatbuat mengurangi sakit, diminum 3x sehari sesudah makan..."

Keuntungan
"... obat ini bisa mengurangi rasa sakit lbu, supaya aktiuitas Ibu sehari-hari tidak terganggu..."

Kerugian
"... pada beberapa orang, obat ini bisa menimbulkan efek samping berupa mual. Tapi apabila diminum
sesuai dosis dan sesudah makan, maka umumnga efek samping tidak tertalu mengganggu."

idw$u*#I flr.{jffike?

Kondisi pasien + Rujuk ke mana + Keuntungan

Kondisi pasien
"Dari hasil pemeriksaan saga, suami lbu mengalami kondisi yang kita sebut sebagai depresi ..."

Rujuk ke mana
"... selaniutnya, saAa merencanakan untuk mengkonsultasikan Bapak ke dokter spesialis keiiwaan atau
psikiatri..."

Keuntungan
"... kalau berkonsultasi dengan dokter spesialis, ada beberapa keuntungan. Suami lbu bisa mendapatkan
pemeriksaan gang lebih bagus, bisa mendapat obat yang lebih baik, dan juga angka kesembuhannya
iuga
lebih tinggi"

try

-
13
r:
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Keterampilan Khusus
Bagian ini akan berisi pendalaman materi untuk setiap sistem organ tubuh.
Pada umumnya Rida akan menemui hal-hal di bawah ini:

l. Kotak ceklis. Kotak ceklis berisi rangkuman pengetahuan dan


keterampilan yang akan Anda dapatkan setelah membaca dan
mengikuti bimbingan OSCE di topik tersebut. Beri tanda cek (r) untuk
memantau perkembangan belajar Anda.
2. Kasus yang sering ditemui. Memberikan gambaran kasus yang sering
ditemui di sistem organ ini.
). Pendekatan klinis. Bagaimana mengembangkan pola pikir yang
sistematis dari satu keluhan utama.
4. Keterampilan pemeriksaan fisik khusus. Penielasan tentang
bagaimana cara melakukan pemeriksaan fisik khusus.
5. Farmakoterapi. Penatalaksanaan farmakoterapi berupa rangkuman
nama obat dan dosis.
6. Koleksi kasus. Koleksi beberapa kasus sesuai dengan sistem organ
terkait.
7. Simulasi kasus. Lembar kerja simulasi kasus dapat digunakan untuk
latihan secara berpasangan. Satu orang berperan sebagai dokter,
pasangannya berperan sebagai pasien (sekaligus 'penguii'). Dokter
melihat soal yang terdapat di dalam kotak. Pasien memegang lembar ini,
memberikan tanda cek apabila dokter menanyakan dan/atau
melakukan hal tertentu sesuai ceklis. Pasien simulasi menjawab sesuai
dengan jawaban yang tertera di kolom jawaban. Di akhir sesi, pasien
simulasi (sekaligus'penguji') memberikan umpan balik kepada dokter
tentang apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan.

14
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE
t

Kardiovaskular dan Bantuan Hidup Dasar

${*.t.eiq t+|1:,i|y

Iangan lupa untuk beri tanda cek (r)


Kasus yang sering ditemui

Pendekatan klinis kasus kardiovaskular


Pemeriksaan fisik sistem kardiovaskular
Keterampilan klinis khusus: BLS dan ACLS
Keterampilan klinik khusus: pemasangan EKG dan interpretasi EKG
Simulasi kasus

i.'=,;s :r s* s y tl,ii {:lr x, * {' :i "i *


ffi # i t * rg} *i
t. Henti jantung (dengan fokus kepada algoritma BLS dan ACLS)
2. Gagal jantung kongestif
3. Sindroma koroner akut (STEMI, NSTEMI, UAP)

' ':' l' I*,.-r. ,:;ffi . ;ffi*, 1,#, {".,,,#-'ki i. }

Pendekatan klinis pada kasus kardio bergantung pada masing-masing temuan


awal. Temuan awal yang sering muncul pada kasus
kardiovaskular ialah:
Gangguan kardiovaskular
bermanifestasi sebagai gangguan
I. Terjatuh/tidaksadar sirkulasi, misalnya sesak, pucat,
2. Nyeri dada biru, pingsan/tidak sadar,
). Bengkak bengkak, nyeri dada, hingga henti
4. Sesak napas dan henti jantung.

Temuan awal Pendekatan klinis Diaenosis


Terjatuh/tidak Pada pasien yang ditemukan terjatuh Henti jantung
sadar atau tidak sadar, anamnesis dilakukan dd/ takikardia tidak stabil
pada orang lain (alloanamnesis). dd/ koma hipoglikemia
Tanyakan mengenai riwayat penyakit dd/ gagal jantung akut
dan pengobatan pasien, kegiatan yang dd/ KAD/HONK
pasien lakukan sebelumnya dan dd/ gangguan konversi
makanan yang pasien konsumsi, apakah dd/ malingering
pernah terjadi sebelumnya.

Namun, anamnesis bukanlah hal


pertama yang harus dilakukan pada
kasus ini. Bila ditemukan pasien terjatuh
atau tidak sadar, pertama kali PASTII(AN
KESADARAN pasien (lihat algoritma
ACLS cardiac arrest di bawah)
Nyeri dada Pada pasien dengan nyeri dada, pertama- Sindrom koroner akut
tama pastikan apakah nyeri dada yang (STEMI/NSTEMI/UAP)
pasien alami merupakan ANGINA atau dd/ Ansina oektoris stabil

15
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

bukan. dd/ refluks gastroesfoageal


(GERD)
Tanyakan: dd/ ulkus peptikum
(kata-kata dalam tanda kurung dd/ pleuritis
.n kara kteris tik nyeri dad a
".rrptukr.,
angina)
. Sensasi nyeri dada (tertimpa
beban berat?)
. Lokasi (di belakang
bawah/retrosternal?)
. Durasi (lebih dari 3o menit?)
. Dipengaruhi aktivitas (memberat
dengan aktivitas?
' Geiala konstitusi (apakah
terdapat keringat dingin?
Mual/muntah?)
' Penjalaran (menjalar ke lengan
kiri, bahu kiri, punggung,
rahang?)

Tanyakan pula riwayat sebelumnya


(apakah pasien memiliki riwayat angina
pektoris stabil -- nyeri dada khas angina
ketika beraktivitas berat dan membaik
dengan istirahat atau pemberian nitrat)
Sesak dan Mengarahkan pada gagal jantung Edema paru akut
bengkak kongestif. dd/ gagal jantung kongestif

. Sejak kapan mengalami sesak Pikirkan pula


dan bengkak kemungkinan sesak lain,
. Karakteristik sesak (Apakah yakni sesak paru
episodik dan reversibelt apakah (pneumonia, TB, asma)'
kronik progresif?)
. Apakah sesak dipengaruhi posisi?
. Tanyakan ciri khas CHF: dyspnea
on effort (sesak saat beraktivitas),
p aroxA smal no cturnal dy spnea
(terbangun di malam hari karena
sesak), ortopnea (tidur dengan z
bantal atau lebih karena sesak),
seiak kapan mengalami sesak dan
bengkak
. Apakah terdapat penurunan
jumlah urin?
. Apakah terdapat demam?
. Tanyakan riwayat infark miokard
. Tanyakan riwayat hipertensi dan
diabetes
. Tanyakan riwayat sakit paru

16
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

P*ffi *rB ksaa m f$ s! tq s* ; t* irl kmrd ?*w*s$qq.* $mn


Kesadaran. Lakukan pemeriksaan kesadaran pada pasien kasus kardio,
terutama pada kasus henti jantung. Pemeriksaan kesadaran dapat dilakukan
dengan metode AVPU (lihat algoritma ACLS cardiac arrest di bawah).

Tanda vital. Pada pos kardio, pemeriksaan tanda vital harus dilakukan.
Lakukan dengan benar pemeriksaan tekanan darah, hitung frekuensi nadi
dalam I menit, hitung frekuensi napas dalam I menit, ukur suhu. Pada pasien
yang dilaporkan tidak sadar, cek apakah nadi teraba atau tidak dalam lo detik.

Mata. Cukup cek apakah konjungtiva anemis atau tidak karena anemia berat
dapat menyebabkan gangguan fungsi jantung.

Tekanan vena jugularis (JVP). Langkah-langkah pemeriksaan fVP:


r. Pasien berbaring telentang, leher fleksi 3oo, kepala menoleh ke kiri 45o
2. Untuk mencari titik pulsasi tertinggi vena jugularis, bendunglah vena
jugularis di bagian proksimal, lalu bendung bagian distal, lalu lepas
bendungan proksimal
3. Ukur jarak vertikal antara titik tersebut dengan bidang horizontal yang
dibentuk oleh angulus Ludovici
4. Bidang horizontal tersebut dianggap 5 cm. ladi, bila titik pulsasi terletak
di bawahnya, jaraknya menjadi 5 - .. . cmHzO.
5. Inspeksi dan palpasi ictus cordis. Cari iktus kordis. Iktus kordis terletak
kira-kira di sela iga ke-5, r jari medial linea midklavikula sinistra. Raba
iktus kordis (terutama bila tidak terlihat). Nilai apakah ada thrill. Bila
sulit teraba, pindahkan pasien ke posisi left lateral decubitus.

Perkusi batas jantung dan pinggang jantung


r. Ukur batas jantung kanan. Susuri linea midklavikula dekstra ke bawah
sampai menjadi pekak (batas paru-hati). Pindahkan jari sekitar dua jari
keatas, lalu ketuk ke arah medial sampai menjadi pekak (batas jantung
kanan). Normalnya batas jantung kanan terletak di sela iga ke-4, linea
parasternalis dekstra.
2. Ukur batas jantung kiri. Susuri linea aksilaris anterior sinistra ke bawah
sampai menjadi timpani (batas paru-lambung). Pindahkan jari sekitar
dua jari ke atas, lalu ketuk ke arah medial sampai menjadi pekak.
Normalnya batas jantung kiri terletak di sela iga k"-4, linea
m idklavikula sinistra.
i. Ukur pinggang jantung. Ketuk dari sela iga ke-2, linea aksilaris anterior
sinistra ke arah medial sampai menjadi pekak. Normalnya pinggang
jantung terdapat di sela iga ke-2, linea parasternalis sinistra.

Auskultasi bunyi jantung. Auskultasi menggunakan diafragma stetoskop pada


keempat titik berikut:

I. Mitral: iktus kordis/apeks


2. Trikuspid: sela iga ke-4 atau ke-5, linea parasternalis kiri atau kanan
7. Aorta: sela iga ke-2, linea parasternalis kanan
4. Pulmonal: sela iga ke-3, linea parasternalis kiri

Ekstremitas. Perhatikan keempat ekstremitas, apakah ditemukan sianosis,


teraba dingin, terlihat pucat, nadi teraba kuat atau tidak.

17
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

ffi *r"r'l *l :' i ks## ffi S* Bi ffi mjmm g

I. EKG o-lead
2. Enzim jantung (CK-MB, Troponin T)
). Darah leng\ap
4. SGOT/SGPT
5. Ureum dan kreatinin
6. AGD dan elektrolit
7. Rontgen toraks

Fi;*rmmln*t".*fl#ffii k.:sflr:'.i;'{i"',vffi xB*r

Tuiuan Rekomendasi Obat Dosis


Ouerload dan gejala Furosemide rx4o mg per oral
sesak napas oada CHF
Antihipertensi 2x2s ms. oer oral
Antianeina Tablet s me sublinsual
Antitrombotik
Clopidogrel loo mg (z tablet @Uq r"gl-

H{.'jH;*"ifl \,r-!, "


lflEH

Edukasi
Angina pectoris Ielaskan bahwa kondisi pasien merupakan kegawatan dan
(termasuk STEMI menSancam nyawa
setelah kondisi
emergensi ditangani) |elaskan rencana tindakan: rujuk untuk kateterisast untuk melihat
asal sumbatan

Ubah gaya hidup sesuai pola hidup sehat, termasuk untuk


mengurangi asupan lemak dan garam dan melakukan aktivitas
rutin 1-sx/minggu
Gagal jantung |elaskan bahwa penyakit pasien membutuhkan kontrol rutin dan
kongestif pengobatan seumur hidup

|elaskan mengenai komplikasi akut (edema paru akut dan henti


iantung)
Kontrol tekanan darah
Ubah gaya. hidup sesuai pola hidup sehat, termasuk untuk
mengurangi asupan lemak dan garam dan melakukan aktivitas
rutin l-5xlminggu
Edukasi mengenai macam-macam obat yang harus dikonsumsi
(beta bloker, ACE-I/ARB, digoksin, furosemid)

).
,CY
\

18
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

$\u*a*B 4s$$r$f $E4s{t rd^tttii} ;qia{,{}qJ}, $L# L.{{g{B J4"1*!-.}

Cek kesadaran

Pasien henti jantrlng masuk dengan temuan awal tidak sadar,


maka langkah pertama yang harus dilakukan ialah cek kesadaran.
Cek kesadaran dengan metode AVPU:

' Alert ) Setelah diperiksa pasien tampak sadar. Periksa


orientasi pasien dalam 3 hal: identitas/nama, tempat,
waktu
' Voice ) Panggil pasien dengan keras, cek apakah pasien
sadar setelah dipanggil dengan keras
. Pain ) Ketika pasien tidak respons dengan suara, beri rangsang nyeri
dengan menggunakan kepalan tangan di sternum
. (Jnresponsive ) Artinya pasien sama sekali tidak sadar walaupun sudah
diberikan rangsang suara dan nyeri

Panggil bantuan
Segera panggil bantuan, di mana pun settingnya (di jalan raya
maupun di IGD). Inti dari memanggil bantuan adalah meminta
bantuan alat, obat, tenaga.
Contoh:
Ada pasien tidak sadar di IGD, tidak respons setelah dilakukan
pengecekan AVPU.

"Ada pasien tidak sadar. Mohon bantuan tenaga, alat dan obat
emergensi."

Cek nadi

Pendekatan ACLS saat ini adalah C-A-B (tidak lagi A-B-C). Maka,
setelah memanggil bantuan, segera periksa nadi arteri karotis.
Pertama-tama raba kartilago tiroid dengan dua jari. Lalu,
pindahkan kedua jari tersebut kira-kira dua jari ke lateral, di
situlah kira-kira Ietak arteri karotis.
Lakukan palpasi selama ro detik

Bila jelas ada nadi, beri napas bantuan setiap 5-6 detik, dan periksa ulang nadi
setiap z menit

Bila tidak ada/tidak jelas ada nadi, mulai RIP

RIP

RIP dimulai dengan kompresi. Lokasi untuk melakukan


kompresi dada adalah pada sternum, dua jari di atas procesus
xiphoideus (lihat gambar). Posisikan tangan dominan di atas
tangan non-dominan (orang kidal meletakkan tangan kiri di atas
tangan kanan).

19
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Lakukan RIP dengan kualitas yang baik, yaitu: (r) frekulnsi minimal roo
kali/menit; (z) kedalaman sekurang-kurangnya 5 cm; (3) interupsi minimal; (4)
recoil dada sempurna; (5) hindari ventilasi (pemberian nafas buatan) yang
berlebihan r

RJP dilakukan dengan teknik compression only bila hanya


terdapat satu penolong (bantuan belum datang). Bila sudah
datang penolong lain, maka R]P dilakukan dengan
perbandingar, )o kompresi dan z ventilasi. Dalam setting
IGD, ventilasi diberikan melalui bag ualve mask yang
dihubungkan dengan selang konektor ke
tabung
oksigen/oksigen sentral dengan kecepatan Io-rz L/menit.

Sesuai prinsip interupsi minimal pada RJP yang baik, hanya ada dua hal yang
dapat menghentikan RJP:

I. Saat melakukan pengecekan monitor untuk menentukan irama.


z. Saat melakukan syok/defibrilasi.

Selain dua kondisi di atas, jangan menghentikan RlP, kecuali bila ada indikasi
menghentikan RIP seperti peolong kelelahan dan pasien tidak respons terhadap
resusitasi

Setelah bantuan datang ) PASANG MONITOR. Tetap lakukan kompresi dan


mintalah tenaga kesehatan lain untuk memasang monitor. Saat pemasangan
monitor, jangan hentikan R)P.
Setelah monitor terpasang, cek monitor. Kemungkinan irama jantung pada
pasien dengan henti jantung hanya ada empat, yaitu dua irama shockable (YT
tanpa nadi dan VF) dan dua irama nonshockable (PEA dan asistol):

YT (Yentricular tachycardia) tanpa nadi ) seperti huruf n bersambung, dan


harus tanpa nadi.

YF (Yentricular fibrillation) ) seperti sandi rumput

f v, :j#:, Y YI
iiitl rrr.::.:.L;1 l+ , l*;u::i
!::',il l: -:i*._. ,"if '
I$ : ::, ll:.
i
1.: I

20
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

ada aktivitas listrik namun tidak ada nadi

Asistol ) garis datar

:.,
i:::::filiflll:j ll*:i : :: :: : l::l:::r;ri::rrl i:

Lakukan penanganan ritme


Penanganan irama shockable

Bila menemukan VF atau VT, lanjutkan RfP sambil seorang asisten men'charge
defibrilator. |angan lupa memberi gel pada paddle. Setelah defibrilator siap,
hentikan R]P, pastikan tidak ada yang menyentuh pasien (I'm clear, you're clear,
everybody's clear), lalu berikan sebuah shock dengan
cepat.
Untuk pemeriksaan irama kedua,
ketiga, dan seterusnya, bila Anda
Setelah shock diberikan, segera lanjutkan RJP tanpa
menemukan irama VT, cek nadi
melihat irama terlebih dahulu. R)P dimulai lagi terlebih dahulu. Ingat, VT dapat
dari kompresi. RfP dilanjutkan selama dua menit, bersifat dengan nadi atau tanpa
baru periksa kembali irama. Untuk seterusnya, nadi. Bila Anda menemukan nadi,
pemeriksaan irama dilakukan setiap dua menit RfP. berarti pasien sudah tidak
mengalami henti jantung (tidak
boleh di-shock)

Penanganan irama non- shockable

Asistol berarti tidak ada aktivitas listrik pada jantung. Bila menemukan irama
asistol, pastikan monitor terpasang dengan baik, lalu langsung lanjutkan RJP
dan berikan epinefrin I mg IV. RIP dimulai lagi dari kompresi. Periksa kembali
irama setelah dua menit RJP. PEA juga kasus yang termasrtknon-shockable.

21
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

,A.pa itu PEA? Bila ada nadi, berarti pasien sudah tidak
Bila Anda menemukan irama mengalami henti jantung' Mulailah penanganan
teratur (aktivitas listrik apapun, pascahenti;'antung. Selamat, upaya resusitasi Anda
kecuali VF dan VT), lanlsung berhasil!
periksa nadi. fika tidak ada nadi,
ini adalah PEA (pulseless electrical
activity).

;:,;a a"*g ?2"ig m*ffi p#* ffi 6i"^ I * ksx it**x $?#'r t j ae r* u t re g
"'
. Bila menemukan VF ) shock

. Bila menemukan asistol ) jangan shock ) lanjutkan RIP


. Bila menemukan VT ) cek nadi

o Tidak ada nadi ) shock

o Ada nadi ) jangan shock ) hentikan RIP


. Bila menemukan ritme selainW, asistol, atauVT ) jangan shock ) cek nadi

o Tidak ada nadi ) lanjutkan RIP


o Adanadi ) hentikan RfP

22
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

AlgoritmaALCS 2oIo untuk penanganan henti jantung adalah sebagai berikut:

S.F*T *ia*1*-C*
* Fs,L L*J iirt iftlh{,.&
Ad*l{ *ardi** Arr*st :li1 r:ati rf*YJ tiir+!
l.1r tri;{}i:r}:1n*, itr.{: *S:a}
ffifu *q..r *.x i-$ril'I grl**m 4*rr$r6ie rtl*s.l r*$*il
! blifrtiiif{} la}tr$lllm{tr}s*S *t
! IBlq#l rlu$rB*S'i4. trrilll$#lhr;
S*srt *PS . ft+f;&t* .r;r:#??flm*s'rlr *qr&{rd
+ '$iris qtxyr*r:*
* ilftrm:|t s$-r?alr!i-{tr.iqj:ilin}l;}lt:{ , tt,t4W,tww#MoW|
ilrf r. ruro*a*ie,-
r;ffitly,itv.fr t*tfu
i ikis#lhriltidq$ s*r,'*i**nr

- # Pt'ttl.'- "::.1{1}
'/?,r?.ln6..
stt{4?64{s rj}-li* s
{;S4 #.,isll.
r tnrl?*i,.?i+ir)# tr.r::"+$':i.;r::{x
- r! :?-3.1i*jl:r?1.r:j{1 Si},:!i*.1
i+!*'59.ni1*; i'r6t:t Jr*
4ffi ;rr_ _?i l.t*_ ii{:rsw
la ir$*ssv* $Ftr{ c$*dlfu
*grrr?v* s* $s{}rltsn#s$s
,kry*s*tlp** 't&&**i
* f&&*
CF* * nrin $ Sb.J*pt
rlvri k*.r*+* ,ve*x*x
* {f.rll)i!b*xr*inq, S;:$l*ir\1&1
iJr*..i*iir$ ;* re:**^
i{.}.+}qri}11} ;*+ {'/,.}-l!S
6 S#*tt:i?s:.il{tr* *flf :.S

iv!{r:*-;tr$*e!El *1r:err+i;r.,.;

$lx**.lr tn*rgy
* #t$rdMe*fuufixit
r$*{:dI:*lB**8i}t"1}1
r:liltll rs::.rr;t* ,*l
* **-i:t{},J.!; i., irrr&*r?{{,}1"
'41,
riile 1ry$-*i#i *ra.xil**"
{le*:*rai xx x***qsi*8.
t*s** #e*&]* fo* exp,r6uur
.** *PH# rn$i{
* g$&*{s$+rf{i}# gr#? #"S rinir}
* iV. jlg} ig;i;r6$is {$lsd t}# f.{Hrsi#r+}*,
r **r*s$xt ${f'**rgw.l x*srat. * &i,n#5*:*s *+,nry $.$ * i* * *wt#w;i*;3$:lJ
* ***r*,x<&*f ;t$V$*#ed *iru+;iv, Sn*w Hr*re*ry
+ Xpirm@**$i.{ti}*aw
1 $*# ffitrF F* lrrm{ri#
* Y**ffi*s*r*Sf*X(}S*ss
fifB* *f ,rsw,4}*g *c$e *t
Bilsi $$:r{*!4?
* fttr*::denrm frf/,ld, &*x*:
l1{',1 4.4W...flSJ l}]!ir 5**Ji
:1iE("rX4']tI 4rffidl -t-
I}{i *'1i:1.

&*xwmxd &irwxy
r {&@r*{,}k}i+i{} i:ii:**gr{;e*
*ifio#irs *$****#wi
#Ffl * nctr* #Ffr I ruiul d sfBftqttsra {i$t}rr*/#*F*}:
A$sts@** TtM{fr** &*$d.i*ei
]lt*r$ qm+,:.:*-*fu *wl*a {43 *{fffi#rr *fl* :}*."Ks
}jf &rl*sfss}*$iq*':1
* 9.:]# hw*.*m ilx.r n*x;+$
.^.,rr, -i.!!rd.4,,!c J.,-s r

s.:**Mxrsft".rg
&ss@rfi&t* #srs&s
-* ffiF$*t/{dw*'}1
HYfr xiixl
* l*y.rir+g#n1*{{ctffi$
* M
ff !.,$ ryiltw ig'ri$iqn S**eS rlr? -* ffy,9"{ktS@*Ma
*$*rdarre*s *iru#s#*n
HlMlwM
.fpl$I {s.tr t'f
- T*{r*i*{t Mhsi#}w*{sNrs
#o$ B*) -. Tsr*ps*Ms"#+p$ffi
I B H{IW: ..M !A

ffa*$.,#**:{ia* "4rv**:l {:::'.s * Tlira :S*.s$is- *ii.j$*ar*r*


frj f*t* r?.r?l::a: e$#1. !4htbtn: j ;:e
-. Tf,r.i1,!:.:i.ti)*-*+ i:.a3ryx*fd

23
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

ffi E*ktn*knr a$ I*g ra*'at ffi#} I


{ffi
t
i
i

': !:,::= I

'!W
*s
...,.i.i': ;-
ffiil
S"451

i
ffir r-
'i;t:.
::tir
!..
-.-*
Y""
*; :r.
-a::-r
\E=;'ii:='
l
:rt::
..:

Untuk melakukan pemasangan EKG, ikuti panduan berikut:


l. Membersihkan kulit dengan kapas alkohol di kedua pergelangan tangan,
kaki, dan bagian dada.
2. Bubuhkan gel elektrolit pada keenam elektroda hisap dan lempeng ATAU
pada kulit dada dan kedua pergelangan tangan dan kaki.
3. Memasang elektroda lempeng pada tangan dan kaki dengan baik.
4. Memasang elektroda prekordial yang tepat di dada, yakni pada lokasi:
A) Vl di sela iga IV garis sternal
kanan
B) Vz di sela iga IV garis sternal kiri
C) V3 di antara Yz danY4 I
D) Y4 di sela igu V garis j
midklavikula kiri : I
E) V5 di sejajar horizontal melalui i
V4, pada garis aksila anterior i
F) V6 di sejajar ,horizontal melalui , j
V4, pada garis aksila media i
5. Pastikan kabel, terhubung dengan i
tepat: t
A) Kabel merah di lengan kanan
B) Kabel kuning di lengan kiri
C) Kabel hijau di tungkai kiri
D) Kabel hitam di tungkai kanan
E) Kabel prekordial sesuai urutan
6. Melakukanperekamanelektrokardiogram.
7. Mencabut elektroda dan membersihkan bekas gel yang menempel di
tubuh pasien.

Cara melakukan interpretasi EKG:

Singkatan yang dapat diingat: LIRA-PQRST (Layak-Irama-Rate-Axis-


Gelombang P, kompleks QRS, segmen ST, gelombangT)

24
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

I. L: Periksa kelayakan (apakah lead atausadapan sudah dipasang a"rrgu,


benar?):
caranya dengan memastikan lead AyR memperlihatkan gambaran defleksi
negatif
2. I: Irama atau rhythm\

Syarat untuk dibilang Sinus Rhythm (SR):

a. Ada gelombang p di semua sadapan

b. ]arak R-R di semua sadapan sama


c. Semua gelombang P diikuti eRS sempit

d. P di lead II positif dan di lead AVR negatif

). R: QRS rate )
Hitung jarak antar-kompleks eRS, kemudian masukkan ke
rumus: QRS rate = loo : jumlah kotak sedang atau r5oo : jumlah kotak kecil.
eRS
rate menandakan frekuensi denyut iantung, menentukan takikardia, bradikardia,
atau frekuensi normal

4. A: aksis ) proyeksi ianrung bila dihadapkan dalam vektor dua dimensi (vektor
dua dimensi yang dimaksud ialah garis-garis yang dibentuk oleh sadapan pada
pemeriksaan EKG)

!L'iBPnD

-1$:\
i:R
ts
r '::_*
idvA
-t )0:
-., .'-t
lixl a:,

{ (;

.. - ,,
ilu
,t' i l;.r,.
:
1:0i5
,*NIil'
Rln

Cara menentukan aksis:

Lihat hasil lead I dan.hasil lead aVF, perhatikan


resultan gelombang di kompleks eRS. ]ika Normal jika lead I (+), avF (+)
resultan gaya Q, R dan S positif, maka lead I arau LAD jika lead I (+), avF(-)
lead aVF = positif (+), jika resultannya negarif RAD jika lead I (-), avF (+)
maka lead I atau lead aVF = negarif (-).

5. Gelombang P: menggambarkan depolarisasi atrium. Gerombang p yang


normal:
lebar < o,Iz detik, tinggi < o,3 mv, positif di lead II, negarif di avR. Gelombang p
yang abnormal dapat berupa P pulmonal (tinggi >o,3 mv, biasanya terjadi
pada
hipertrofi atrium kanan) atau p mitral (rebar >o,rz derik, biasanya terjadi pada
hipertrofi atrium kiri) atau p bifasik (biasanya berkaitan juga dengan hipertrofi
atrium kiri)
6. PR [nterval: jarak dari awal gelombang p sampai awal kompleks
eRS, normal
o,rz-o,zo detik

7. Kompleks QRS: merupakan representasi depolarisasi ventrikel. Lebarnya o,o6-


o,rz detik.

25
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

. Gelombang Q: adalah defleksi pertama setelah interval


rn gelombang P'
^tau
Qpatologisbiladurasinya>o,o4detikataudalamnya>r/3tinggigelombang
R

Variasi KomPleks QRS Interval @ Q dengan akhir gelombang S.

Normalnya o,o6-o,rz detik


atau kiri (RVH/LVH)
Tentukan apakah terdapat hipertrofi ventrikel kanan
RVH jika tinggi R atau tinggi S di Vt > t
LVH iika tinggi R V5 + tinggi S Vt > l5

[&f
[,
YI
*.* n'l
i\ 1i .{: 11 I
iLJL t V
t*&' +5

8.SegmenST:garisantaraakhirkompleksQRSffiu'i'
dengan awal gelombang T ) merepresentasrkan isoelektrik
akhir dari depolarisasi hingga awal repolarlsasr Elevasi (berada di atas garis
ventrikel isoelektrik, menandakan adanYa
g. Gelombang T: menggambarkan repolarisasi infarkmiokard)
ventrikel Depresi (berada di bawah garis
isoelektrik, menandakan iskemik)
. Normal: positif di semua lead kecuali aVR
. adanya iskemik)
Inverted: negatif di lead selain avR (T inverted menandakan

26
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Ventricular Ekstrasistol

l ,/ --1', -, ' t I \
--^^,i'.*n !r !J !,&r' : :i :

.
., L vs -\ *..' t
.- .,'\--'-.r'. r.;- -
"''.'.,r*l*.
t,;,,,,,;.tj t..1,
,.;. ,,, i,',i, :.'r' .',

:1
:hll
, | '11
*..,
A* -..----.-u-w--.;**-i*
tt

;,.----r-jl,r-.:._ ". .* , -tL"_.) *


^- ^-;",!^_:_-^^-*"

STEMI anterolateral
Sumber: lifeinthefastlane.com

r;; :: ei;:'i

--.-,".-" ,'., ".".^':.. |.':


!.
. : : t\,:1,. V3

ST elevasi ekstensif anterior


Sumber: lifeinthefastlane.com

(Gambaran EKG lain dapat dilihat di bagian Bantuan Hidup Dasar)

27
F

OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

S*ffiq*$*si k*sus - ffimm*mmrx h$*daxsp ffims;ar

Laki-laki 45 tahun terjatuh di depan IGD saat Anda sedang bertugas.


Lakukan tindakan pertolongan pertama pada pasien ini.

Cek Tusas fawaban


Memeriksa kesadaran Pasien tidak sadar (unresponsive)
Memanggil bantuan Meminta bantuan alat, obat, tenaga
Memeriksa nadi Nadi tidak teraba
Melakukan kompresi (RlP) Kompresi dengan kualitas yang baik
Perbandingan kompresi: ventilasi lo:z
Pasang monitor ketika bantuan Pasang monitor TIDAK menghentikan RfP
datang
InterDretasi hasil monitor Fibrilasi ventrikel (VF)
Tata laksana sesuai hasil yang terbaca Syok 36o ]
pada monitor RIP
Pasang IV line dan intubasi
Setelah siklus RJP pertama pasca- Hasil: VF
pemasangan monitor, lihat kembali
monitor
Tata laksana sesuai hasil yang terbaca Syok 36o I
pada monitor Kompresi kecepatan Ioox/menit selama z menit
8x/menit
Epinefrin t mg iv
Setelah 2 menit, cek kembali monitor Hasil: VF
Tata laksana sesuai hasil yang terbaca Syok 36o I
pada monitor Kompresi kecepatan roox/menit selama z menit
8x/menit
Amiodaron 3oo mg iv
Setelah z menit. cek kembali monitor Hasil: VF
Tata laksana sesuai hasil yang terbaca Syok 36o I
pada monitor Kompresi kecepatan roox/menit selama z menit
8x/menit
Epinefrin I mg iv
Setelah z menit, cek kembali monitor Hasil: asistol
Tata laksana sesuai hasil:yang terbaca Kompresi kecepatan toox/menit selama z menit
pada monitor 8x/menit
TANPA OBAT
Setelah 2 menit, cek kembali monitor Hasil: VF
Tata laksana sesuai hasil yang terbaca Syok 36o )
pada monitor Kompresi kecepatan roox/menit selama z menit
8x/menit
Epinefrin r mg iv
Setelah z menit, cek kembali monitor Hasil: VF
Tata laksana sesuai hasil yang terbaca Syok 36o )
pada monitor Kompresi kecepatan roox/menit selama z menit
8x/menit
Amiodaron r5o mg iv
Setelah z menit, cek kembali monitor Hasil: sinus
Cek nadi Teraba
Lakukan perawatan pasca-henti
jantung Recovery position
Pantau ketat monitor dan tanda vital

28
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Cari penyebab (5H,4T) ) lakukan pemeriksaan


Rawat di ICUIICCU

Identitas Laki-laki 58 tahun Perempuan,40 tahun Anak laki-laki, 15 tahun


dan keluhan Sesak yang memberat Nyeri dada sejak zo Sesak dan nyeri dada
utama sejak z hari yang lalu menit yang lalu sejak 4 hari yang lalu
terutama saat
berbaring di malam
hari
Keterangan/ Sesak muncul saat Nyeri di bagian Sesak dirasakan
Keluhan istirahat. Pasien sering belakang dada, seperti terutama ketika
lain terbangun di malam tertimpa beban berat, beraktivitas. Sesak
hari karena sesak. muncul ketika pasien pada malam hari (+).
Tidur dengan >r bantal sedang berolahraga. Sekitar 3 bulan
(+). Berdebar-debar (+). Keringat dingin (+). sebelumnya, pasien
Kedua kaki bengkak Berdebar-debar (+). mengalami keluhan
Nyeri membaik ketika serupa disertai nyeri
pasien beristirahat. sendi dan demam.
Nyeri tidak
dipengaruhi
pernapasan atau posisi.
Riwayat lain Riwayat hipertensi (+) Pasien sering Riwayat penyakit
Io tahun mengalami nyeri dada jantung bawaan
seperti ini, membaik disangkal. Riwayat
bila minum obat atau dirawat di rumah sakit
istirahat. (-)

Riwayat hipertensi (-)


Riwayat diabetes (+) 5
tahun
Temuan TD t6o/9o mmHg Tampak sakit sedang JVP meningkat
pada PF dan
pemeriksaan Batas jantung melebar, TD r5o/9o mmHg, Bunyi jantung: murmur
penunjang fVP meningkat, edema tanda vital dalam batas pansistolik grade 3-4 di
pretibial (+/+) normal. PF generalis apeks
dalam batas normal.
Rontgen toraks:
kardiomegali EKG: normal
EKG: kesan LVH Lab: enzim jantung
tidak meningkat,
terdapat
hiperkolesterolemia
dan dyslipidemia
Dx dan dx G ag al j antung kon ge stif Angina pektoris stabil Penyakit iantung
banding dd/ Edema paru akut dd/ Angina pektoris reumatik
dd/ Gagal ginjal kronis tidak stabil dd/ Demam reumatik
dd/ Pneumonia ddi Pleuritis akut
dd/ Sindrom dispepsia dd/ Penyakit katup
mitral
Tatalaksana Furosemide Ix4o mg ISDN 3x5 mg Benzatin penisilin o,6-
Captopril 2x25 rng sublingual yz jutaunit IM setiap 4

29
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Captopril2x25rl"l,g minggu

Prednison z
mg/kg/hari, dibagi
dalam 4 dosis

Aspirin roo mg/kg/hari


dibagi dalam 4 dosis

Rujuk

30
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

[Seurologi

g*tftH. {#W**s
t
]angan lupa untuk beri tanda cek (r;
Kasus yang sering ditemui

Pendekatan klinis kasus neurologi

Pemeriksaan fi sik neurologi


Simulasi kasus

?{- **r*r%'3i=} :} ffi $Bri rS # *t*t* t"t }

t. Nyeri kepala primer (TTH, migraine)


2. Neuropati
). Sindroma terowongan karpal (CTS)
4. Herniasi nukleus pulposus (HNP)
5. Stroke iskemik

?:*atd*km't*re kfr E m$x fu*sws *.*wra:**gE

Temuan awal Anamnesis khas


Nyeri kepala Bagaimana sifatnya, dalam bentuk serangan atau terus menerus?
Dimana lokasinya?
Apakah progresif, makin lama makin berat atau makin sering?
Apakah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari?
Muntah Apakah disertai rasa mual atau tidak?
Apakah muntah ini tiba-tiba, mendadak, seolah-olah isi perut
dicampakkan keluar (proyektilX
Vertigo Pernahkah anda merasakan seolah sekeliling Anda bergerak,
berputar atau Anda merasa diri anda yang bergerak atau
berputar?
Apakah rasa tersebut ada hubungannya dengan perubahan
sikap?
Apakah disertai rasa mual atau muntah?
Apakah disertai tinitus (telinga berdenging, berdesis)?
Visus Apakah ketajaman penglihatan anda menurun pada satu atau
kedua mata?
Apakah anda melihat dobel (diplopia)?
Pendengaran Adakah perubahan pada pendengaran anda?
Adakah tinitus (bunyi berdenging/berdesis pada telinga)?
Sarafotak lain Adakah gangguan pada penciuman, pengecapan, salivasi
(pengeluaran air ludah), lakrimasi (pengeluaran air mata), dan
perasaan di wajah?
Apakah bicara jadi cadel dan pelo?
Apakah sulit menelan (disfagia)?
Fungsi luhur Apakah Anda jadi pelupa?
Bagaimana kemampuan membaca, menulis, berbahasa?
Kesadaran Pernahkah Anda mendadak kehilangan kesadaran, tidak
mengetahui apa yang terjadi di sekitar anda? Pernahkah Anda
mendada merasa lemah dan seperti mau pingsan (sinkop)?
Motorik Adakah bagian tubuh Anda yang meniadi lemah, atau lumpuh

31
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

(tangan, lengan, kaki, tungkai)?


Adalah g".uku, pada bagian tubuh atau ekstremitas badan yang
ub.rormJl dan tidak dapat Anda kendalikan (khorea, tremor, tikX
Sensibilitas @atau gangguan perasaan pada bagian tubuh
atau ekstremitas?
Adakah rasa baal, semutan, seperti ditusuk, seperti dibakar?
Adakah menialar?
Sarafotonom @kecil (miksi), buang air besar (defekasi),
dai nafsu seks (libido) anda? Adakah retensio atau inkontinesia
urin atau alvi?

Kepala dan Leher


Tanda rangsang fut , t rrdrk, Kernig, Lasegue, Brudzinski
meninseal
Sarafkranial Nervus II (optikus): PuPil
Nervus III, IV, VI: pergerakan bola mata, reflex pupil
Nervus VII (fasialis): otot waiah, dahi
Nervus vIII (vestibulo-koklearis): bila pasien keluhan pusing berputar.
Pemeriksaa n' p ast P ointing test'
Tes Romber
.I.onus: rigid. Kekuatan dari Uo (lumpuh
uurlryurr total)
LVL*'/- )5
Motorik tlaccrd, hlpotonr' SpaStrK, rltlq. NeKuaLaIl Lrdrr
(kekuatan normai). Yang penting adalah dilakuFqn pada.ke_du3 sisi. .-
,--'---r c^l^1., l^1,,,1.^- li Lo.lrra
uNarr rdi kedua cici rlqn
sisi dan
Sensori Nyerr, suhu' raoa, getar' proPrlusePL,' L)Erdru r4^l'ukan
selalu lakukan lebih dari tut .t o
Refleks fis , KPR (knee patella refle*),achiless
Refleks patologis Kaki
- gabinski
Stimulus : penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke
anterior.
- Chaddock
stimulus : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral, sekitar
malleolus lateralis dari posterior ke anterior.
- Oppenheim
Stimulus : pengurutan crista anterior tibiae dari proksimal ke distal
- Gordon
Stimulus : penekanan betis secara keras

Tangan
- Hoffman
Stimulus : goresan pada kuku jari tengah pasien
- Tromner
Stimulus : colekan

#**"mwk*3*r#p& kmsm* ffi '*{sr#fi *iE $

Kondisi Rekomendasi Obat


Nveri umum Ibuorof-en 1x2oo Pro re nata, bila nyeri
TTH lbunrofen a x Pro re nata, bila nyeri
Migraine/cluster Sumatriptan 25 ng diulang Pro re nata, bila nYeri
tiap z jarn bila masih nYeri
Hati-hati pada riwaYat gangguan
vaskular

32
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Migraine/cluster Ergotamin 2 mg diulang Pro re nata, bila nyeri


dalam 3o menit bila masih
nyerl
Nyeri neural Carbamazepine zxzoo m Pro re nata, bila nyeri
Bells Palsy, CTS I Kortikosteroid
Prednison : x

$+m*fl';s* k;rurs
Seorang wanita, z8 tahun, datang d""@
I. Lakukan anamnesis pada pasien ini
2. Lakukan pemeriksaan fisik yang relevan

3. Tentukan diagnosis dan diagnosis banding

4. Tuliskan pengobatan untuk pasien ini

Cek Tu awaban
Dokter memperkenalkan diri
Menanyakan nama dan umur pasien Ellen, z8 tahun
Menanyakan pekeriaan pasien Model catwalk
Keluhan utama Sakit kepala
Onset keluhan utama Seiak r hari lalu
Karakteristik Sisi kanan, berden
Lama hingga 6 jam dalam sehari. Kadang
bisa mencapai lebih darizdiam
Faktor mem rberat Suara bising, silau, berserak
Faktor va merr nkan Suasana tenang, istirahat, lam
dimatikan
Keluhan lain Mual dan muntah.
Tidak melihat cahaya sebelum
Penslihatan Tidak ada masalah
Riwayat pengobatan Minum parasetamol 3 tablet s"ha.i, ,rr.arih
n
Riwayat penyakit sebelumnya Riwayat serupa dialami rekita. tuhun luhr,
tidak seberat sekarang, hanya 3hari. Sembuh
dengan obat dari dokter, obat tak tahu
Riwayat a Tidak ada
Riwayat penyakit Keluhan seru a kakak perempuan
Riwayat Sosial Pasien bekerja sebagai model .utwullg .ry"ri
memberat bila dipotret menggunakan flash,
namun ditahan oleh pasien.
Kebiasaan minum alkohol setelah show,
wine l-z gelas. Rokok disanekal.
Menentukan diagnosis dan diagnosis Migraine tanpa aura dd/ migraine derlgan
bandins aura dd/ cluster headache
Meresepkan obat secara tepat dengan Sumatriptan 25 :mgdiulang dalam z jarn
penulisan resep yang tepat
Melakukan edukasi kepada pasien Kemungkinan kambuh lagi, mungkin
memerlukan pengobatan profilaksis
Asam valproat 2x

33
t-

OSCE: PADI SURVIVAL ;iG


Fsikiatri -

f angan lupa untuk beri tanda cek (z)

Kasus yang sering ditemur

Deskripsi status mental

l
Wawancara kasus psikiatri: non-psikotik
i

Wawancara kasus psikiatri: psikotik


Edukasi khusus untuk pasien dan keluarga
Farmakoterapi psikiatri dasar

i4eaa;* yffiHt$# $#r$*# *$!c*r*art

t. Depresi
2. Gangguan cemas
3. Mania (gangguan moodbipolar\
4. Skizofrenia
5. PenyalahgunaanNAPZA

#*ska.*p*E sq#t.a"i$ *ru*ffi t# $

Status mental merupakan salah satu kunci utama dalam ilmu psikiatri. Anda
harus mampu mendeskripsikan status mental pasien. Beberapa di antaranya
adalah:
. Appearance: gimana pasien ini keliatannya?
. Attitude: apakah kooperatif atau tidhk?
. Behavior: apa yang dilakukan si pasien ini?
' Mood: bagaimana suasanya perasaan?
. Afek bagaimana kemampuan pasien mengekspresikan emosi?
' Speech: bagaimana pasien berbicara?
. Proses pikir: bagaimana cara pikir pasien?-
' Isi pikir: apakah terdapat waham atau hal yang dipikirkan oleh pasien
terus menerus?
. Persepsi: apakah ada halusinasi atau tidak?
. Kognitif, bagaimana kognitif pasien?.
. Insight (tilikan): bagaimana pasien memandang penyakitnya?

Untuk berlatih, silakan isikan status mental yang normal (default), dan yang
mengalami kelainan sesuai dengan tabel di bawah ini:

Status mental Deskripsi dalam keadaan normal...


Appearance
Attitude Yoooe r,^ fif-'
Behavior

Afek
Speech

34
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Proses pikir
Isi pikir
Persepsi
Kosnisi
Insight (tilikan)

\1*- i3 51- ;1:.L1,'1 1 3. ltli lk i;; t -li!.:.:i t


:, r- ; l: t11 11 k x;4 x.1 L;; .$: i

Kasus non-psikotik adalah kasus di mana pasiennya masih dapat diajak


berbicara seperti pasien normal pada umumnya, misalnya cemas' depresi, fobia,
PTSD (gangguan stres pascatrauma).

Hal yang harus selalu Anda ingat untuk pasien dengan kasus non-psikotik:
bahwa pasien tidak pernah datang ke pos psikiatri dengan keluhan depresi.
Pasien mungkin datang dengan keluhan tidak nafsu makan atau cepat lelah.
Demikian pula pasien tidak datang dengan keluhan cemas, namun datang
dengan keluhan sulit tidur atau iantung berdebar-debar.

Hal ini justru memudahkan pemeriksa dalarn Tidak dianjurkan untuk bertanYa
melakukan pendekatan kepada pasien. Ini "apakah sedang ada yang
disebabkan kondisi psikiatri seperti 'depresi' d"an
mengganggu. pikiran" sejak awal
'cemas' itu adalah sesuatu yang tidak ada
anamnesis.
bentuknya, sulit untuk didisuksikan. Di sisi lain,
kondisi umum seperti makan, lelah, tidur, dan
berdebar justru merupakan sesuatu yang cenderung berbentuk, mrrdah untuk
didiskusikan.

Langkah untuk melakukan pendekatan untuk kasus ini adalah:

Langkah r: Elaborasi, anggap pasien biasa

Berlakulah seperti pura-pura tidak tahu apa diagnosisnya. |adi, elaborasi


tentang gejala yang dialami. Sudah berapa lama tidak nafsu makan? Apa yang
dirasakan? Kenapa tidak nafsu makan, apakah mual? Atau mungkin ada nyeri
menelan? Ada keluhan serupa sebelumnya? Seperti yang sudah kita harapkan,
kemungkinan besar kondisinya bagus (tidak ada mual, nyeri menelan, riwayat
gangguan lambung).

fangan bingung, iustru ini adalah pertanda yang bagus untuk maju ke langkah
selanjutnya.

Langkah z: Fisik normal, Psikis terganggu, Cari!

Di langkah sebelumnya, kita bertanya kepada pasien seolah dia pasien non-
psikiatri. Setelah anamnesis, kita mendapat kesan bahwa kondisi fisiknya
terkesan dalam batas normal. Di langkah yang kedua ini, sampaikan ini kepada
pasien kemudian ajukan kemungkinan bahwa kondisinya mungkin akibat
masalah psikis atau pikiran.

Fisik normal
"Baik, iadi Bapak datang dengan keluhan tidak nafsu makan ya.
Dari hasil oemeriksaan saua tadi, saua bisa lihat bahwa kondisi bapak secara fisi

35
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

baihkok..."
+
Psikis terganggu
"... Nah, biasany-a keadaan seperti ini bisa iadi keluhannya bukan gangguan pada
'
bodor, tapi muncul dari kondisi pikiran ..."

ciir
"Bisa Bapak menceritakan, apakah belakangan ini ada hal yang mengganggu pikiran
Ba

Langkah 1: Masuk ke pertanyaan seputar psikiatri


Setelah berhasil mengelaborasi dan menjelaskan bahwa kemungkinan masalah
berasal dari psikis, di langkah ketiga ini baru dapat kita tanyakan hal-hal yang
berhubungan dengan psikiatri.
Sederhananya, berikut ini adalah pertanyaan "minimal" pada wawancara
psikiatri.
i: suasana hati murung, cepat lelah hobi hilang, menarik
diri, ide bunuh diri, halusinasi, riwayat zat
2. Khas cemas: susah tidur, halusinasi, banyak hal yang dipikirkan,
riwayat zat
3. Khas mania: energi tidak habis, pasien merasa spesialihebat, halusinasi,
riwayat depresi sebelumnya, riwayat zat
4. Khas skizorenia: halusinasi, waham (terutama kejar), menarik diri, tidak
bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari (lihat di bagian psikotik)

Langkah a: Akhiri dengan indah


Di langkah sebelumnya, sudah dapat digali riwayat terkait psikiatri. Wawancara
ini perlu ditutup dengan baik. Bagaimana caranya?
Perlu diingat bahwa semua gejala psikiatri yang Anda tanyakan di atas,
sepanjang apapun itu, tak lebih dari sekedar 'riwayat penyakit sekarang'. |adi,
setelah RPS , apa yang harus kita tanyakan?

Yak, betul. RPD, riwayat keluarga, riwayat sosial. Kemudian rangkum dan
lakukan edukasi kepada pasien.

\-x: ilt: r_r . ri1_+ ll: ih i# 1$.3.t*ipk kq,rit$-.fislk**,k


Secara sederhana, kasus psikotik adalah kasus di mana kita kita mudah
menemui perbedaan dengan kasus non-psikotik. Pasien ini secara jelas tampak
berbeda dengan pasien pada umumnya, contohnya manik (bicaranya cepat,
banyak, dan lompat-lompat), hingga skizofrenia (halusinasi dan waham yang
kuat).

Hal yang harus selalu Anda ingat untuk pasien dengan kasus psikotik pasien
dngan gejala psikotik biasanya tidak datang sendiri, melainkan diantar oleh
orang lain.
Dapat dikatakan pasien dalam kategori psikotik lebih mudah diwawancara,
karena sudah cukup jelas hal-hal yang harus dikejar dalam wawancara psikaitri'

36
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Keberadaan pengantar pasien malah memudahkan pekerjaan kita dalam


menggali informasi tentang pasien, karena akan ada sumber informasi yang
bisa kita tanyakan untuk menunjang informasi.

Secara ringkas, halyang perlu akan Anda lakukan:

Langkah r: Kenalan: Kenali siapa orang di hadapan Anda (Ini siapa? yang ini
siapa? Yang mau berobat siapa?)

Langkah z: Pengantar: Sebaiknya buka wawancara


Tanyakan keluhan utama
dengan bertanya kepada orang yang sehat (dalam
mengapa pasien sampai dibawa
hal ini: pengantar). Secara logika, jika pasien harus
ke dokter, dapatkan beberapa
sampai harus diantar oleh orang lain, maka
informasi dasar. Tanyakan
kemungkinan sulit untuk bicara secara normal.
kepada pengantar, apakah
Langkah 1: Pasien: Lakukan konfirmasi pernyataan pasiennya bisa diajak ngomong
pengantar, tanyakan kepada pasien. Bila Anda ragu atau tidak - target waktu r menit
dengan jawaban pasien, coba konfirmasi juga ke atau kurang.
pengantar. Lakukan wawancara seperti biasa
kepada pasien.

Langkah 4: Rangkum: Kembali kepada penganrar. Rangkum dan edukasi pada


pengantar. (karena kemungkinan tilikan pasien buruk dan menyangkal
keberadaan penyakit)
Di bawah ini merupakan contoh skenario wawancara psikiatri untuk kasus
psikotik.

Kenalan
"selamat pagi, Pak. saya dokter Nobi. Dengan bapak siapa? Ini ibu siapa? Ini
siapanya, Pak? Yang mau berobat yang mana? ..."
+
Pengantar
".'. saya ngobrol sama bapak dulu, ya. Kenapa istrinya dibawa ke sini?
oh ngurung
diri... sudah berapa lama, pak? Istrinya bisa diajak ngomong nggak, pak?"saga "
ngomong sama ibu ya..."
+
Pasien
"... selamat pagi, Bu. Kata suaminya, Ibu ngurung diri di kamar? oh bener ya.
Alasannya kenapa?..."
+
Konfirmasi
"... Pak, kan istrinya tadi ngomong kalau dia habis d.irampok minggu lalu. Bener tuh,
pak...?
+
Rangkum
"say_a-rangkum
aq, Pak. /adi, tadi Bapakmembawa istri ke sinikarena istri ngurung
diri di kamar. Dari pemeriksaan, istri bapak menunjukkan gejala gang disebui seba{ai
depresi...

37
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE
I
Edukasf; khusr"xs $ntuk Pa$ien dan keluarga
a
t',
t))
prinsipnya sederhana saja. |elaskan seperti biasa kepada keluarga dan pasien.
Samalep"rti And* menielaskan ke pasien di penyakit sistem organ yang lain. :l
Kalau Anda menyampaikan dengan biasa-biasa saia, maka pasien akan
menganggapnya sebagai hal yang biasa. Kalau Anda menyampaikan
dengan a
b-
-{
gugupatauperasaanragu-ragu,makapasienpunbisamendeteksikeraguan
Anda. >)
sebagai contoh, hal-hal seperti memperlambat nada, menurunkan
nada, atau
F
menghentikan sejenak pembicaran dapat mengindikasikan bahwa
dokter
menyampaikan suatu hai yang "tidak biasa'. Cara melakukan edukasi dengan l--
d"-iki", serupa dengan keterampilan umum, yakni edukasi diagnosis, edukasi :
rujukan, du, terapi dan/atau tindakan (lihat bagian cara melakukan
E-
"d.rkurl
edukasi umum). ts
Fsrrmakmterffi P* Psfi kfimtr* Sasar
b:
Kondisi Rekomendasi Obat dan D$sis Keterangan obat C
Depresi Fluoxetin caps I x 20 mg Baru bekerja dalam beberaPa ,_
lr.
minggu. Sampaikan hal ini
,., kepada Pasien.
E
': minum malam atau saat serangan l-,-
muncul
Lithium tab 3 x roo ffg . Perlu pengawas minum obat.
Mania
Efek samping cukup banYak.
C
Skizofrenia Risperidonerx2mg Efek samping ekstraPiramidal, L^
was minum obat
C
--
L
Simu[asi kxsets
an lemas dan tidak nafsu makan'
.z
c
2. Tuliskan status mentaftas-ieiiini. .'
). Tuliskan resep dan set*[ikin kepa peng,ii: ., ..
Lakukan edukasi kepada pasien teikait masalah ke5ehatan lr-

rkenalkan diri
ban t z

Doktermem
Menan nama dan umur TnTon tahun t a

Menan
Keluhan utama
keri Mantan secu
Brdu. lemas, tidak nafsu makan t z

Onset keluhan utama r bulan lalu


Semakin waktu semakin terasa
e
Faktor
Faktor menn Tidak ada
N"fr" *"kr"
berkurang, tidak ada mual atau
f
Nafsu makan 4
muntah. Masih bisa I
Keluhan lain Batu lek, demam, mu4 muntah
I
I
38 I
i
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

disanskal
Suasana perasaan Tidak semangat
Aktivitas Berkurang, karena cepat lelah walaupun
tidur terus
Melaksanakan hobi Suka memancing, tapi minggu lalu diajak
teman dan menolak dengan alasan malas
Aktivitas saat ini Di rumah saja, mencari pekerjaan tapi tidak
dapat.
Penurunan berat badan
Ide bunuh diri Tidak ada
Riwayat pengobatan Minum vitamin tapi tetap lemas
Riwayat penyakit sebelumnya Tidak ada yang signifikan
Riwayat alergi Tidak ada
Riwayat penyakit keluarga Tidak ada yang relevan
Riwayat pekerjaan Tidak bekerja
Riwavat Sosial Minum alkohol, rokok, dan narkotika
disangkal.
Riwayat keluarga Menikah, dengan I orang anak yang masih
kecil. Saat ini hubungan dengan istri baik.
Menanyakan isi pikir Tidak ada waham, pasien merasa rendah diri
karena gagal sebagai kepala keluarga
Menanyakan persepsi Tidak ada halusinasi atau ilusi
Menentukan diagnosis dan diagnosis Depresi sedang
banding
Meresepkan obat secara tepat dengan Fluoxetine Ix2o mg
penulisan resep yang tepat
Melakukan edukasi kepada pasien Obat diminum teratur dan mungkin
memerlukan waktu Iama untuk berefek
Menyampaikan kemungkinan
konsultasi ke dokter spesialis
Meniadwalkan untuk kontrol u

39
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Obstetri dan Ginekologi

K*emk u;,*fuHEs
t

|angan lupa untuk beri tanda cek (r)


Asuhan antenatal
Asuhan persalinan normal
Resusitasi neonatus
Pemasangan AKDR

Pemasangan dan pencabutan implan


Pemeriksaan Papsmear dan IVA

ffimsass )?,. *ffi $#r*ffiS #$t*u*a:E

r. Kehamilan dan pelayanan antenatal


2. Asuhan persalinan normal
j. Resusitasi neonatus
4. Keluarga berencana dan kontrasepsi

Asu fu ;* fi aE ffi {,#t}* *.,"- r

Kekhususan anamnesis obstetrik adalah:

Menanyakan riwayat obstetri k


I. Gravida/para/abortus beserta kelainan/penyulit kehamilan pada
riwayat kehamilan berikutnya
2. Riwayat menstruasi: menarche, siklus, hari pertama haid terakhir,
durasi, teratur/tidak, jumlah pembaltrt per hari, nyeri
3. Riwayat perkawinan dan kontrasepsi

Menanyakan kemungkinan penyulit kehamilan/persalinan dan komorbid


r. Hiperemesis gravidarum: mual, muntah mengganggu aktivitas
2. Hipertensi gestasional/preeklamsia: rekanan darah tinggi, bengkak pada
kaki, pandangan kabur
). Anemia: pusing, pucat, lelah
4. Diabetes pada kehamilan
5" Kelainan plasenta: perdarahan merah segar tanpa nyeri abdomen
(plasenta previa) versus perdarahan merah gelap dengan nyeri
abdomen yang hebat (solusio plasenta)
6. Ancaman abortus: perdarahan per vaginam disertai mulas sebelum usia
gestasi zo minggu
7, Ancaman partus prematurus: mulas sebelum usia gestasi aterm
8. Kehamilan ektopik terganggu: perdarahan hebat, nyeri perur hebat,
gangguan tanda vital
g. Kelainan letak/presentasi janin

Menanyakan proses kehamilan yang tengah berialan


t. Riwayat pemeriksaan kehamilan (ANC)

40
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

2. Gerakan janin
). Riwayat gizi (nutrisi, susu, suplemen)
4. Riwayat imunisasiTT

!:Ls:::ls,$,ii-s,'.njj r]$k* hlllff..ir-'5.*sl-"+ei:-.1

Leopold r rnulqi h'irnoflry I


Letakkan sisi lateral telunjuk kiri pada
|angan lupa meminta ibu untuk
puncak fundus uteri untuk menentukan
berkemih dan jangan
tinggi fundus.
lupa untuk cuci tangan!
Angkat jari telunjuk kiri (dan jari-jari yang
memfiksasi uterus bawah) kemudian atur
posisi pemeriksa sehingga menghadap ke bagian kepala ibu.
Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada fundus uteri dan
rasakan bagian bayi yang ada pada bagian tersebut dengan jalan
menekan secara lembut dan menggeser telapak tangan kiri dan kanan
secara bergantian.

Leopold z
. Letakkan telapak tangan kiri pada dinding perut lateral kanan dan
telapak tangan kanan pada dinding perut lateral kiri ibu secara sejajar
dan pada ketinggian yang sama.
. Mulai dari bagian atas tekan secara bergantian geser ke arah bawah dan
rasakan adanya bagian yang rata dan memanjang (punggung) atau
bagian-bagian kecil (ekstremitas).

Leopold 3

' Atur posisi pemeriksa pada sisi kanan dan menghadap ke bagian kaki
ibu.
' Letakkan telapak tangan kiri di dinding lateral kiri bawah, telapak
tangan kanan bawah perut ibu.
. Tekan secara lembut untuk mentukan bagian terbawah bayi (bagian
keras,bulat dan hampir homogen adalah kepala sedangkan tonjolan
yang lunak dan kurang simetris adalah bokong).

Leopold 4
. Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada lateral kiri dan
kanan uterus bawah, ujung- ujung jari tangan kiri dan kanan berada
pada tepi atas simfisis
. Temukan kedua ibu jari kiri dan kanan lemudian rapatkan semua jari-
jari tangan yang meraba dinding bawah uterus.
' Perhatikan sudut yang terbentuk oleh jari-jari konvergen atau divergen.
. Setelah itu pindahkan ibu jari dan telunjuk tangan kiri pada bagian
terbawah bayi
. Fiksasikan bagian tersebut ke arah pintu atas panggul kemudian
letakkan jari-jari tangan kanan diantara tangan kiri dan simfisis untuk
menilai seberapa jauh bagian terbawah telah memasuki pintu atas
panggul.

Informasikan hasil pemeriksaan

41
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

#$ fueffi p#fl$ffi$gffieffi $t#r$ttffi$

r. Mendengar & melihat adanya tanda persalinan Kala Dua


2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan
). MemakaiAPD
4. Membersihkan vulva dan perineum. Melakukan pemeriksaan dalam
-
pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.
5. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus sLlesai -
pastikan DIJ dalam baras normal (tzo - r6o x/menit).
6. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik,
meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa
ingin meneran.
7. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang
kuat untuk meneran.
8. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5-6 cm,lakukan
perasat. stenan (perasat untuk melindungi perineum dngan satu tangan,
dibawah kain bersih dan kering, ibu jari pada salah saiu sisi perinJum
dan 4 jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang
kepala bayi. Tahan belakang kepala bayi afar posisi kepala retap fleksI
pada saat keluar secara bertahap melewati introitus dan perineum).
9. Setelah kepala keluar menyeka mulut dan hidung bayi dengan kasa
steril kemudian memeriksa adanya lilitan tali pusat padaleher janin
ro. Menunggu hingga kepala janin selesai merakukan putaran paksi luar
secara spontan. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang
lecara biparental. Dengan lembut gerakan kepala kearah uawal-aai
distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian
gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
II. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk
menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan rangan
atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas.
rz. setelah badan dan lengan lahir, tanga., t iri menyusuri punggung
kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk ml-egurg trr"gt ul
(selipkan ari telinjuk rangan kiri diantara kedua lutut -
!1ry*
t3. Melakukan penilaian selintas: ,anin;
a. Bayi cukup bulan?
b. Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan?
c. Apakahbayibergerakaktif?
14. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh
lainnya kecuali bagian tanpa membersihkan verniks. iaruh bayi
!3nqan
di atas perut ibu untuk IMD.
I5. Memeriksa kembali uterus untuk memasrikan tidak ada lagi bayi dalam
uterus.
16. Dalam waktu r menit setelah bayi rahir, suntikan oksitosin ro unit IM
(intramaskuler) di rl3 paha atas bagian distal lateral (lakukan
aspirasi
sebelum menyuntikan oksitosin).
rT. Setelah z menir pasca-persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira
3
cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali p.rsut ke arah Jistal (ibu) dan jepit
kembali tali pusat padaz cm distal dari klem pertama.
I8. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan
pengguntingan tali pusat diantara z klem tersebut.
t9. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di
fepala tayi lanjutkan dengan inisiasi menyusui dini. cegah b-ayi'dari
hipoglikemia dan hipotermia.
zo. Manaiemen aktif kala III:
a. Suntik oksitosin ro IU

42
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

b.
Peregangan tali pusat terkendali: 5-ro cm di depan vulva dan
menekan uterus kea rah dorsokranial
c. Masase fundus uteri setelah plasenta lahir
2t. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak -ro cm dari vulva
5
)', Meletakat satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis,
untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
2). Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan
kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati keaiah
doroskrainal. ]ika plasenta tidak lahir setelah 30 - 40 detik, hentikan
penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi
berikutnya dan mengulangi prosedur.
24. Lakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta
terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusaidengan
arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan
lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).
25. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta
dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plur"rrta
dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu
pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.
Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri
dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian
palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus reraba
keras)
27. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan
untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah
lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia.
28. Evaluasi kemungkinan Iaserasi pada vagina du. p".i.r"rrL. M"lukrku.,
penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.

Penyebab Hemoragic Post-Partum (HPp) ada 4T:

Tone: masase fundus uteri sambil menilai tonus uteri

Tissue: dengan obstetric hand apaakah ada siba jaringan plasenta

Tear/Trauma: apakah ada robekan vagina dan perineum (Ruptur perineum


grade I-lV)

. Grade I: robekan pada vagina saja (kompetensi dr.Umum)


' Grade II: robekan pada vagina dan perineum (kompetensi dr.Umum)
' Grade III: robekan sudah mengenai m. Sfingter ani internum
(kompetensi Sp.OG)
' Grade IV: sudah 'bolong' dan mengenai m. Sfingter ani eksternum
(kompetensi Sp.OG)
Trombin: apakah ada ganggua, koagulasi/pembekuan darah (DIC, HELLP
syndrome)

29. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak teriadi


perdarahan pen'aginam.
3o. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kurit di dada ibu
paling sedikit r jam.
Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes
mata antibiotik profilaksis, dan vitamin Kl r mg intramaskuler di paha
kiri anterolateral.

43
-
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

32. Setelah satu jam pemberian vitamin Kr berikan suntikan imunisasi


Hepatitis B di paha kanan anterolateral.
)). Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan
pervaginam.
)4. Mengfiarkan ibuikeluarga cara melakukan masase uterus dan
menilai kontraksi.
35. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
)6. Memeriksakan nadi ibu (tanda vital) dan keadaan kandung kemih
setiap r5 menit selama r jam pertama pasca persalinan dan setiap 3o
menit selama jam kedua pasca persalinan.
37. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas
dengan baik.
38. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin
o,5olo untuk dekontaminasi (ro menit). Cuci dan bilas peralatan
setelah di dekontaminasi.

{t*sux s$B*$i x*qsmmta.a s

Pertanyaan evaluasi:
Usia kehamilan cukup bulan?
Tonus otot baik?
Menangis/bernafas adekuat?

Langkah awal resusitasi (dalam;o detik)

' Letakkan bayi di tempat hangat


. Posisikan bayi dengan kepala setengah ekstensi
. Suction mulut dan hidung
. Keringkan bayi (handuk basah diganti dengan yang kering)
' Posisikan ulang
. Rangsang taktil

Langkah ventilasi (dalam lo detik)


. Bila bayi apnea/frekuensi denyut iantung < roo kali/menit ) VTP
. Posisikan kepala bayi setengah ekstensi
. Ventilasi 4o-6o kali/menit
. Evaluasi
Langkah Kompresi (dalam 3o detik)
' Frekuensi denyut jatung < 6o kaliimenit ) kompresi dada bersamaan
dengan VTP
' Kompresi dada dilakukan dengan menekan r/3 bawah sternum sebanyak
Ioo kali per menit menggunakan ibu jari atau z jari.

' Rasio kompresi dengan ventilasi adalah 1 kompresi: r ventilasi.


. Evaluasi resusitasi. Pertimbangkan pemberian epinefrin IV (o,r-o,3
cc/kgBB diencerkan r:ro.ooo) dan intubasi bila tidak ada perbaikan
keadaan

Algoritma resusitasi neonatus adalah sebagai berikut:

44
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

i:li$r
I
I
t
I
I
I

I
I
I
I

I
li;j :;;+t

I
I

I
I
?argeted Prductal spop
I Alter Blrth
I
1 tnin 60Yr-65%
2 min E5Ys*70%
3 nin 70?6.-?5%
4 rnin 75Ya.B0%
5 min 8096-8s%
10 rnin 85%-S5%

S ugqv
T g(l\4-r. F,,^t
q 'qrwa)
La, b
I
or- hg
I

e
0Kstfufin lx -) ltnus fitastl, Jelek
f
l11ds0st ut@r,u t,
W+tgriit" ,

S 2010 Amerimn Hmrt.Assehtim

H*mrms*psi

Tt"tti:* H.t:r.,:;,.:."1'!i.t.-r'.'lt;t
.. U:nu,,t ltrJnl*L
: :1..'..:' .:..:.:.Y'..:..r.:j.-::.'.*:.t Lr,:,..'li-' 1),'1';ililtti:
r.1j.".1'." ..:." l.\ u .:. ::: " '"'.:._Y.:.. ldfl,;l
.-.

Alamiah (KB tambahan saja, jangan jadikan utama): metode amenorea laktasi
(MAL) 6 bulan awal & harus ASI eksklusif; koitus interuptus; pantang senggama
(metode kalender tengah siklus haid, lendir servix lebih kental, dan
peningkatan suhu basal)

Mekanik: kondom (wanita, pria), IUD (l-8 tahun). IUD Cu-T dengan reaksi
peradangan menghambat fertilisasi dan implantasi ke endometrium

45
r

OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Hormonal:pil,suntik,implan'patch(bel.umadadilndonesia)Uit"p'og'""::-t:
estrogen' Saat ini sudah ada IUD
dengan
saja, bisa kombinasi p'og'"""ton
& progresteron' bertah at )-5 tahun'
hormonal berisi eslrogen
(untuk
Kontap (KB mantap): tubektomi' vasektomi
usia wanita >35 tahun)
rufi;TroR daPat bertahan
Pasien dengan obesitas ' hipertensi'
dislipidemia
untuk
5-8 tahun dan mudah merupakan kontraindikasi penggunqan
kontrasepsi
kembali ingin memPunYai anak ter dap at estogr en'
hormonal karena
(hanya dengan mengeluarkan
tidak boleh
AKDR dari rahim) sehingga Pasien yang sedang ASI eksklusif iuga
perencanaan kehamilan daPat irrrog" karena inhibisi terhadap hormon
dLiberikaln
diprediksi prolaktin untuk ASI
mantap dan akan sulit lagi dilakukan
trrb"ktorrri meruPakan kontrasePsi memiliki anak
reanastomosis tuba kembali apabila' masih ingin
pemakaian yang
seperti-karet yang bocor dan
Kondom dapat terjadi kegagalan
kehamilan tidak dapat diprediksi'
tidak tepat sehingga p""t""glf'""

lus:*si-*-i''Lxc"B+"i::'+:-i':xEll$-i
5.es.$:eh-i:s:-p-llls*irgl:s:11*-l-i*mr.
t. Informed consent pemasangan AKDR
2. Ibu diminta BAK
)- cuci tangal,meja periksa dengan pt)sisi litotomi
; Pasien ttlit t " nyerl
; Palpasi perut adanya benjolan atau
6. Pasang kain PenutuP
7. Atur lampu, gunakan sarung tangan
8. Siapkan alat menilai kelayakan pemasangan
9. Lakukan pemeriksaan fisik untuk
AKDR
to. Inspeksi dan palpasi genitalia eksterna
fluor atau fluxus
;;. it;t'."g ,puL.,t'* HhIt adanya p""'"'ik'uun
lakukan bimanual' cari adanya nyeri
rz. Lepas spekulum lalu (antefleksi
goyang porsio, ku"ai-ki'i' t"'u' du' posisi'uterus
^a'"ftt" yaitu ke arah belakang)
yaitu ke urun a"!u'utu" '"ttofleksi
11. LePas sarungtangan
;;. ;il;*ie, iinitui lavak ) siap]<1n AKDR pendorong ke dalam tabung
15. Buka seperti k"il;;3;;g' *ut'ttttu" lengan ke dalam
16. Pegang tubmg-'i*pai-'lengan -"I'iput' -u']'kkut'
tabung
s.peculum
17. Pakai sarung tangan baru' p.asang
dinding vagrna
t8. Asepsis dan antisepsis
i9. f utu"g tenakulum di srviks atah jamrz dan ukuran uterus
arah
zo. Masukkan sonde untuk mengukur
zt. Ukur tabung dengan sonde
,i. i"gurgtubu"ng dJt'gutt leher biru horizontal servis atau ada tahanan
rr Masukkan sampai llher biru menyentuk
pendorong dan buang
;. ;;il;;u.rng, klluarkanadu tahu,'ui lalu tarik 1-4 cm' gunting benang
25. Dorong t"brr; J;;ui ^;;;;;""g,
26. Keluarku,,uutui*
t"fu' tenakulum' periksa perdarahan'
lePas sPeculum, bersihkan ibu ,
larutan klorin
27. Masukkur, ,u""g tangan ke dalam
pasca-pemasangan AKDR
28. Cuci tangan, tuttt''ttu" fonseling

46
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

I)"r'r:r.lc ru,r., * i r""


"rl^*

I. Minta pasien untuk mencuci lengan atas dengan air dan sabun, antiseptik,
dan suntik anestesi lokal.
) Lapisi penyangga lengan atau meja samping dengan kain.
3. Persilakan klein berbaring dengan lengqn, tempatkan di atas meja
penyangga, lengan atas membentuk 3oo terhadap bahu dan sendi siku 9o".

Kapsul dipasang tepat di bawah kulit, di atas lipat siku, di daerah medial lengan
atas. Pilihlah lengan klien yang jarang digunakan.

Tentukan tempat yang optimal, 8 cm di atas lipat siku. Posisi kapsul


nantinya ada di bawah kulit (subdermal).
Siapkan peralatan dan bahan, serta buka bungkus implan dan letakkan
secara steril.
Cuci tangan dengan sabun, pasang sarung Untuk beberapa jenis implan,
tangan steril. kapsul implan sudah terdapat di
7. Persiapkan tempat insisi. Bila ada,pakai doek
dalam trokar
steril. Isi spuit dengan anestesi sekitar 3 cc,
lalu infiltrasi di sekitar lokasi. Sebelum
menyuntikkan, lakukan aspirasi terlebih dahulu.
Pegang skalpel, buat insisi kecil, dengan lokasi 8 cm di atas lipat siku. Insisi
dangkal, hanya sekedar menembus kulit.
9. Masukkan trokar, dan lepaskan kapusl (tergantung jenis trokar dan jumlah
kapsul yang dimasukkan). Perhatikan jenis trokar yang digunakan. Selama
pemasangan, angkat trokar ke atas hingga kulit terangkat.
IO. Setelah kapsul pertama masuk, masukkan kapsul berikutnya ke dalam
trokar, dan masukkan kembali trokar untuk peletakkan kapsul berikutnya.
Beberapa jenis trokar tidak memerlukan langkah ini karena sudah
terdapat dua kapsul di dalam trokar.
Sebelum mencabut trokar, pastikan posisi kapsul dengan merabanya.
Temukan tepi insisi dan gunakan plester (atauband aid) .Luka insisi tidak
perlu dijahit. Periksa adanya perdarahan.
t3. Rapikan alat dan dekontaminasi alat.

47
7- -,

OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

14. Beri edukasi kepada klien tentang keungkinan memar, b"ngiak; untuk
meniaga luka insisi tetap kering dan bersih selama 48 iam, serta tanda
bahaya ru"t *" rlukan perhatian khusus'

-ll *i: t;ll r: ilLiL ! 15 ;.3tr 4: :

l. Ajak klien untuk bicara dan alasan pencabutan implan'


2. Mirtu klien untuk mencuci tangan dan lengan dengan sabun dan air
mengalir.
3. Sebelu menggunakan sarung tangan, tentukan lokasi kapsul terlebih
dahulu, dan llfu p".1,, beri tan-da dengan spidol untuk setiap posisi kapsul'
4. Beri alas b"rrih d^i tempat tidur klien, bila perlu gunakan meja samping.
i. Siapkan alat-alatYang steril.
a. Cuii tangan dengan tlub,rt dan air, gunakan sarung tangan steril'
7.
' Usap leigan kl[n dengan antiseptik (gunakan klem untuk memegang
kasa). Bila tersedi a doeksferil, gunakan doek stedl tersebut.
8. Raba sekali lagi kapsul untuk memastikan' ,
g. Siapkan anesGsi iml (lidokain, tanpa epinefrin). Masukkan
jarum secara
-
subdermal ke bagian bawah uiung kapsul'
ro. Buat insisi melinlang kecil (4 --ld"rgun skalpel di bawah uiung kapsul' .
rr. Dorong ujung t apJut ke arah insisi dengan jari tangan sampai muncul
pada lika insisi. Setelah uiung kapsul muncul, gunakan klem lengkung
ke atas' jepit dan
irrrorquito / crile) dengan l",gkt"'gut' jepitan-mengarah
tarik.keluar.Jikaperlu,bebaskankapsuldarijaringanikatyang
melingkupinya.denganmenggunakanskalpelataukasasteril.
12. Lakukan iencabutan sampai seluruh kapsul tercabut'
kasa antiseptik, dekatkan
ry. Bersihkan tempat insisi din sekitarnyrdengan
kedua tepi luka dengan band-aid lkasa steril. Luka tidak perlu dijahit'
14. Buang sampah dan limbah, lakukan dekontaminasi'
15. Berikin edukasi tentang pasca-pencabutan implan'

Sryr**ri s6\effi ffi;*psfl??#*r *mm fW&

)ika ada instruksi untuk melakukan pemeriksaan pap-smear dan IVA,


lakukan pemeriksaan pap-smear terlebih dahulu!
I. Informed consent
2. Pastikan kandung kemih kosong, posisi litotomi dan terapasang duk
-3. Siapkan: spatrrla ayre, sitobrush, object glass-, spidok, alcohol 95%'
po,r:ido, iodine, kassa, lampu, speculum, handschoen
4, Cuci tangan, Pakai sarung tangan
5. Lakukan tindakan asePsis
6. Pasang spekulum
7. Masukan spatula sampai ke porsio lalu diputar 36o
8. Keluarkan lalu putar di sebelah kiri obiect glass
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

9. Masukkan cgtobrush sampai ke porsio, putar r8o


ro. Keluarkan lalu putar di sebelah kanan
II. Buang cgtobrush
12. |ika akan melakukan IVA, bersihkan porsio dengan kasa.
t3. Ambil liditapas dan masukkan ke dalam larutan asam asetat
r4. Tampakkan porsio dan squamo-columnar junction, lalu olesi di
sekitarnya
15. Tunggu hingga r menit dan lihat hasilnya
t6. Bersihkan portio kembali dengan kasa
17. Lepaskan spekulum cocor bebek, bershikan ibu
r8. Tuliskan keterangan nama di object glass, rendam dalam alkohol Ialu
keringkan
Rendam alat, lepas sarung tangan

49
r
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

G*nitourinaria
lr ,:. "1, .*,8.1-:*
t

)angan lupa untuk beri tanda cek (z)


Kasus yang sering ditemui

Pendekatan klinis kasus genitourinaria

Keterampilan pemeriksaan fisik genitourinaria


Keterampilan khusus: pemasangan kateter urin
Keterampilan khusus: sirkumsisi
Farmakoterapi kasus geniturinaria
Simulasi kasus

ffiaxLcs ye## strr*ffi# d{aemq;i


l. Uretritis gonorrhea
2. Herpes genitalis z co ndil 0ft1a , Jifl li5 .

). Batu saluran kemih (kolik ureter)


4. Infeksi saluran kemih.
5. Pembesaran prostat jinak, (q p rus lot ,

6. Fimosis dan/atau parafimosis


l. Sirkumsisi

ffimm#*k*txs? k${xr{r fu *sms ##tr}it#ffi aBffi*y$*


Secara garis besar, kasus genitourinaria yang sering ditemui dapat dibagi
menjadi infeksi menular seksual, infeksi saluran kemih, dan batu saluran kemih.
Temuan awal Anamnesis khas Kemungkinan diagnosis
Keluar nanah Sejak kapan keluar nanah dari Uretritis gonorea
dari saluran saluran kemih tersebut? dd/ chlamydia infection/
kelamin Karakteristik nanah: uretritis non-GO
Purulen/putih kekuningan?
Ada darah/tidak
Menanyakan keluhan penyerta:
Rasa panas ketika BAK
Nyeri ketika BAK
Nyeri ketika berhubungan
Demam
Apakah ada keluhan serupa pada
pasangan seksual pasien?
Apakah ada riwayat promiskuitas?
Bila ada, kapan riwayat hubungan
seksual yang terakhir?
Riwayat keliuhan serupa
sebelumnya
Riwayat infeksi menular seksual
sebelumnya
Riwayat pengobatan
Nyeri pinggang Seiak kapan nyeri berlangsung? Ureterolitiasis

50
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

kal,'art yang Karakteristik nyeri: dd/ nefrolitiasis


relenjalar hingga Hilang timbul (kolik) atau tidak dd/ pielonefritis akut
skrotum Penjalaran nyeri
Apakah ada gangguan BAK:
r Tidak bisa BAK
BAK tersendat
BAK bercabang
BAK dipengaruhi posisi
BAK berpasir
Keluar batu ketika BAK
BAK berdarah
Apakah ada gejala penyerta?
Keringat dingin
Mual, muntah
Demam
Riwayat keluhan serupa
sebelumnya
Riwayat penyakit sempa dalam
keluarga
Riwayat pekerjaan dan kebiasaan:
Pekerjaan pasien
farang minum/tidak
BAK tidak Tanyakan mengenai gejala-gejala Hiperplasia prostat jinak
lampias, tidak LUTS dd/ keganasan prostat
dapat menahan Frekuensi BAK meningkat, tapi
BAK, sering yang keluar hanya sedikit
BAK di malam Urgensi untuk BAK
hari (pasien BAK harus mengedan
laki-laki usia BAK terasa tidak lampias
tua) Aliran urin terasa lemah
Selesai BAK selalu ada sisa
menetes di celana
Apakah gejala-gejala tersebur telah
berlangsung lama dan semakin
memberat (kronik-progresif) ?
Apakah ada gejala penyerta?
Demam
Nyeri ketika BAK
Riwayat pengobatan

Fm rmm $**B#tr* F$ $q.+ sq,a s #*ffi E fr {-\r;:"* ffi # r$e

Kondisi Rekomendasi Obat


Antibiotik untuk ISK Siprofloksasin 2x5oo mg per oral selama 5 hari
bawah (uretritis, sistitis)
Antibiotik untuk ISK atas Seftriakson 2xI g rv
(ureteriti!, pielonefritis)
Uretritis gonorea Seftriakson r25 mg IM (dosis
tunggal)
Doksisiklin 2xroo mg per oral selama 7 hari
Ba,kterial vaginosis Metronidazole zx5,oo mg per oral selama 7 hari
Trikomoniasis Metronidazole z3xloo mg per oral selama 7 hari
Hiperplasia prostat iinak Tamsulosin Ix O,4 mg per oral

51
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Antibiotik alternatif untuk ISK (pengganti Solongan fluorokuinolon) adalah


kot.rimoksazol. Padl ISK komplikata, antibiotik diberikan selama z minggu.

Egmtt :er
K*'<:*r*rm5:i:titir*ra'ffi.lzcs*t$s; E3'*rffi#F.*?t#i? ur a: r : '1

I. Memperkenalkan diri, informed consent


2. Memasang perlak di bawah bokong pasien
). Menuang akuades dan betadin dalam cawan
4. Membuka bungkus kateter dan urine bag dan meletakkanya
di daerah
steril
5. Mencuci tangan, pakai sarung tangan steril
6. Masukkan aqua steril dalam sPuit
7. Disinfeks: glans penis melingkar, dorsal penis, ventral penis, skrotum,
perineum (melingkar dari dalam ke luar, satu arah, tidak diulang-ulang,
memakai kassa yang direndam antiseptik dan diiepit dengan klem yang
dipegang dengan tangan kanan)
8. Pasang duk steril
9. Memposisikan penis (gunakan tangan non dominan) dalam kemiringan
7o-5o derajat kea rah umbilikus, masukkan lidokain gel 3 cc ke dalam
orifisum uretra eksterna (dengan tangan dominan). Tekan ujung glans
penis dengan gentle untuk mempertahankan lidokain gel dalam uretra.
IO. Memasukkan ujung katater perlahan (dengan tangan dominan) dan
pangkal kateter tetap ada di nierbekken. Masukkan sampai ada urin
yang keluar dari pangkal kateter. Perhatikan kenyamanan pasien.
Masukkan kateter hingga pangkal kateter.
rr. Hubungkan kateter dengan urine bag secara asepsis
tz. Masukkan aqua steril perlahan untuk mengembangkan balon sesual
dengan jumlah yang tertulis di pangkal kateter (t3cc). Tarik kateter
perlahan agar balon yang dikembangkan menutupi orifisium uretra
internum.
11. Lepaskan duk, fiksasi kateter di atas lipat paha
14. Gantung urine bag lebih rendah dari kandung kemih
t5. Lepaskan perlak dan sarung tangan. Cuci tangan.

ffi*t*rmmpE*mm kfu s6*a*s;' si r6{e#ffi$Bs*

I. Asepsis dan antisepsis


2. Pasang duk steril
1. Lakukan anestesi blok dan infiltrasi
4. Bersihkan sulkus koronarius
5. Klem preputium di arah jam I, It, dan 6
6. Lakukan dorsumsisi
T. Lakukan sirkumsisi
8. Evaluasi perdarahan ) tekan dengan kassa steril/jepit pakai klem
bengkok/ligase
9. )ahit kulit dan mukosa (arah jam 9,o, danl) ) simple interrupted. Jahit
frenulum (arah jam 6) ) jahit "o" atatl "8"
IO. Balut dengan kassa dan antibiotik
II. Observasi selama 3o menit
12. Pemberian obat (antibiotik, analgesik, vitamin) dan edukasi
13. Edukasi yang diberikan meliputir jangan terlau banyak antkvitias,
jangan menggunakan celana, cara BAK seperti rukuk/agak menunduk

52
OSCE: PADI SU RVIVAL STYLE

ke bawah, jangan terkena air, dan jaga higiene personal agar tetap
bersih.

q q g\\E +,i, lii:s *{ 2at 5,q.

Laki-laki 45 tahun datang dengan keluhan sulit BAK sejak 5 hari yang lalu

I. Lakukan anamnesis pada pasien


2. Lakukan pemeriksaan fisik pada pasien
3. Diagnosis pada pasien ini?
4. Lakukan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan
5. Lakukan rencana tatalaksana dan edukasi pada pasien

Cek Tugas f awaban


Dokter memperkenalkan diri
Menanyakan nama dan umur pasien Tn. Doni,45 tahun
Menanyakan pekeriaan pasien Karyawan swasta
Keluhan utama Sulit BAK
Onset keluhan utama 5 hari yang lalu (semakin memberat)
Faktor yang memicu Tidak ada. Semakin lama dirasa
semakin sulit untuk BAK
Faktor yang meringankan Tidak ada
Nyeri pinggang dan penialarannya bila ada Ada. Tidak menlalar
Karakteristik nyeri pinggang Hilans timbul
Nyeri di daerah lain (suprapubik, di sekitar Ada nyeri suprapubik
skrotum, di penis)
Riwayat BAK berpasir Ada, kira-kira setahun yang lalu
Riwayat passina stone (-)
Riwayat BAK berdarah Sejak setahun yang lalu, BAK kadang
berwarna merah
Mual Ada
Muntah Ada
Keringat dingin Ada
Demam Tidak ada
Gangguan BAB Tidak ada
Riwayat pengobatan Obat-obatan herbal untuk pelancar
kencing namun tidak ada manfaatnya
Riwayat sakit serupa sebelumnya Belum pernah
Riwayat penyakit sebelumnya Diabetes (-), hipertensi (-),
tidak ada riwayat
hiperurisemia (-),
operasi ataupun dirawat di rumah
sakit
Riwayat alergi Tidak ada
Riwayat penyakit keluarga Tidak ada
Riwayat diet Pasien suka mengonsumsi daging dan
minum soda. Pasien jrgu sering
minum minuman bernergi agar tidak
mengantuk saat lembur di kantor.
Pasien jarang,minum air putih.
Riwayat pekerjaan Pasien bekerja sebagai karyawan
swasta seiak zo tahun yang lalu. Pasien

53
F

OSCE: PADI SURVIVAL STYLE


t
I

kebanyakan duduk ketika bekeria. (


Riwayat merokok/alkohol Tidak pernah merokok/konsumsi
alkohol I
Riwayat aktivitas fisik
. Pasien tidak punya kebiasaan
berolahraga i
Ri*uyut keluarga Menikah, dengan 3 orang anak
(
Melakukan rangkuman dan transisi ke
meriksaan fisik
Mencuci ta sebelum melakukan PF I
Menilai status generalis, termasuk BB dan Tampak sakit sedang - TD r4ol9o, HR
{
TB dan tanda vital ro4x/menit, RR zoxlmenit, suhu
afebris. TB r7o cm, BB 83 kg (status gizi
kur
Melakukan PF yang relevan dengan lege artis Didapatkan nyeri ketok kostovertebral
(+), nyeri suprapubik (+). LainnYa
dalam batas normal
Mencuci tansan setelah melakukan PF
Meminta hasil pemeriksaan penunjang Urinalisis: kesan hematuria
(+),leukouria (+)
Ureum/kreatinin: 7olI,8

BNO IVP Interpretasi:


Preperitoneal fat line kanan kiri baik.
Psoas line tegas, simetris.
Kontur kedua ginjal tidak jelas tervisualisasi.
Distribusi udara usus mencapai distal.
Tidak tampak dilatasi/penebalan dinding-dinding usus.
Tidak tampak udara bebas ekstralumen.
Tampak bayangan batu radioopak di hemiabdomen kanan setinggi vertebra
Thtz-L1 yang sebagian mengikuti bentuk sistem pelviokalises, proyeksi
ginjal kanan.
Tampak bayangan batu radioopak di hemiabdomen kiri setinggi vertebra
Thtz-L3 yang sebagian mengikuti bentuk sistem pelviokalises, proyeksi
ginjal kiri.
Tampak bayangan batu radioopak berbentuk bulat dengan gambaran
double layer di rongga pelvis minor proyeksi buli.
Tulans-tulans dan iaringan lunak kesan baik.
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Kesan : Batu cetak ginjal kanan kiri. Batu buli.

Menentukan diagnosis dan diagnosis Diagnosis kerja: Nefrolitiasis


banding (Batu cetak ginjal/staghorn)
dan vesikolitiasis
DD: Ureterolitiasis, pielonefritis
Meresepkan obat secara tepat dengan Analgesik: parasetamol
penulisan resep yang tepat 3x5oo mg
Terapi medis: tamsulosin Ixo,4 mg
Merencanakan untuk rujuk dan menulis
ruiukan dengan benar
Melakukan edukasi kepada pasien Edukasi bahwa pasien menderita batu
ginjal kanan dan kiri, rencana untuk
dirujuk untuk menentukan rencana
terapi berikutnya (ESWL/tindakan
bedah), dan edukasi untuk
meningkatkan asupan cairan serta
menghindari konsumsi jeroan, garam,
dan protein berlebih
Menanyakan apa yang ingin ditanyakan
pasien

Hffi$*KSt H*5{$$

Identitas Laki-laki z5 tahun Perempuan,35 tahun Anak laki-laki,3


dan keluhan Timbul lenting BAK tidak lampias tahun
utama berair pada alat sejak r hari yang lalu Penis tampak
kelamin yang terasa menggembung
gatal dan panas bila BAK
sejak z hari yang
lalu
Keluhan lain Sebelum lenting Nyeri bagian perut Anak sering
muncul, sendi terasa bawah namun tidak menderita ISK
nyeri dan demam berat/mengganggu berulang. Kulit
(+). aktivitas. Demam (-). prepusium penis
BAK berwarna kuning tidak bisa ditarik.
agak pekat, berpasir (-),
berdarah (-). Nyeri
ketika BAK (r). Pasien
juga tidak bisa
menahan BAK.
Riwayat lain Istri pasien Pasien bekerja sebagar Anak sering
mengeluh keluhan sekretaris. Sering dirawat di RS
yang serupa. duduk lama, menahan karena demam
Riwayat BAK, dan lupa minum tinggi akibat ISK
promiskuitas (+), bila sedang bekerja.
terakhir t minggu
yang lalu
Temuan Tampak sakit Nyeri tekan Kulit prepusium
pada PF dan ringan, tanda vital suprapubik (+) penis tidak bisa
pemeriksaan dalam batas normal diretraksi
penunjang Teraba pembesaran Urinalisis: keruh,
KGB bilateral pada eritrosit (-), leukosit
lipat paha esterase (+), nitrit (+)
Genitalia: lenting

55
E

OSCE: PADI SURVIVAL STYLE
t
berair multiPel Pada
(
region genitalia
E
Tes Tzanc\:
multinucleated giant

Sistitis Fimosis E
Dx dan dx Herpes genitalis
dd/ uretritis dd/ parafimosis
banding dd/ sifilis t
Siprofloksasin 2x5oo Sirkumsisi dengan
Tatalaksana Asiklovir 5x2oo mg anestesi blok dan
(
mg selama 5 hari
6 hari) infiltrasi
(
Edukasi untuk banYak
minum, meningkatkan Pemberian (
aktivitas fisik, dan analgetik,
tidak menahan BAK antibiotik, dan
vitamin setelah I
sirkumsisi i
(

56
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

hlematologi - Onkalogi - lnfeksi

t
Jangan lupa untuk beri tanda cek 1;;
Kasus yang sering ditemui

Pendekatan klinis kasus hematologi - infeksi

Keterampilan intubasi endotrakeal


Keterampilan pemasangan infus
Farmakologi obat-obatan di bidang hematologi - onkologi - infeksi
Simulasi kasus

.c" -r"r{,J$ 's#ffiff s#fl*ffi# ori?#ftt'; :

I. Anemia defisiensi besi


2. Demam berdarah dengue
). Malaria
4. Leptospirosis
5. Renjatan (syok) anafilaktik

F:*;***km*srt i.;i i *: $ s km**;c fu *rexc;* i* g i * a r$* k s?

Anamnesis berangkat dari keluhan utama yang disampaikan oleh pasien.


Untuk semua keluhan utama, jangan lupa konsep utama (lihat bab
keterampilan anamnesis umum). )angan lupa untuk menanyakan keluhan lain
seperti pada penjelasan di bab anamnesis awal. Untuk setiap temuan awal,
pikirkanlah beberapa kemungkinan diagnosis berdasarkan sistem.
Lehhnga
Temuan awal Anamnesis khas Kemungkinan diagnosis
Pucat, mudah Gejala: Fatigue (cepat lelah), sesak + bo.tuK Hematologi
lelah napas, jantung berdebar, nyeri dada, Anemia defisiensi besi
nyeri perut, perut tidak enak, perut Anemia penyakit kronik
begah. Nafsu makan menurun. Talasemia
Kehilangan ilarah: Muntah darah,
perdarahan saluran cerna (BAB hitam dd/b er das arkan sisten or g an
atau berdarah), operasi, pascaoperasi, lqin
menstruasi dan jumlah darah sleep depriu ation, depr esi,
menstruasi p eny alah gunaan ob at, anemia,
Diet konsumsi daging, sayur, buah; gagal jantung, TB paru,
minum teh setelah makan, konsumsi
iamu dan obat-obat penghilang rasa
sakit, konsumsi vitamin/suplemen lain
Peny akit kr onik: batuk, demam, keringat
malam (TB), penurunan BB, benjolan
leher (keganasan), riwayat DM, kencing
berkurang (gagal ginjal kronik)
Riwayat penyakit terkait darah pada
keluarqa
Pernahkah mengukur suhu tubuh? Infeksi
Pola demam? Apakah membentuk Demam dengue - demam

57
r
Perdqrdhn:rghrqlosil ,t
t . t t,<o,,^,/t lrorr h@:\noYmdl&[[' pADt suRVtvAL srYLE
*l^^los**,o
Fa+rh'r''

siklus tertentu? Kapan demam berdarah dengue

1bD
, 19 f t9q anl fury*dirasakan paling tinggi?
Mensgigil? Malaria
Leptospirosis
. fup\d Kelu\an lain: sakit kepala, mata merah, HIViAIDS
Uvta4dla
ikterili, mimisan, gusi berdarah, mual-
ifi.I tgn(r, onh' muntah, batuk-pilek, sesak napas, nyeri
' g(rrrrkeflu. perut, diare/mencret, konstipasi, BAB dd/ infeksi akut organ lain
Lerdarah/hitam, sakit saat berkemih, seperti pneumonia,
keputihan dan nyeri Perut bawah, ga str o enter itis, int' eksi s alu r an

nyeri otot dan badan Pegal-Pegal, kemih, int'eksi saluran genital,


muncul bintik-bintik merah di kulit. dan infeksi lokallain (sePerti
infeksi telinga).
Faktor risiko: berpergian ke daerah
endemis, lokasi rumah banyak nyamuk
dan banak air menggenang, lingkungan
baru banjir, jarang menggunakan alas
kaki,
Beniolan Kupu., pertama kali muncul, dan di Onkologi
payudara mana? Bagaimana dan beraPa lama Fibroadenoma mamae
benjolan membesar? Apakah terdapat (FAM)
nyeri? Apakah puting Pernah Fibrokistik
mengeluarkan cairan? Kanker payudara
Bagaimana hubungan benjolan dengan
siklus menstruasi? dd/ berdasarkan penYebab lain
Apakah saat ini sedang menyusui? Cara m astitis, br ea st eng or g ement
menyusui saat ini?
Penurunan BB, demam, nafsu makan
menurun?
Riwayat keluarga tentang keganasan

.tgrl*-'r:i&.sat'::,:-*s$ tq::!q*j"t-he$"::gl:*.r:"irttit,#.,:$slid::;;$r--jg-f*:k}r
Sepeti pada kasus-kasus yang lain, pemeriksaan fisik dimulai dari hal umum
meliputi keadaan umum dan tanda vital. Perhatian khusus pada tanda vital,
d"-"rn merupakan keluhan yang sering dari keadaan infeksi, sehingga
pengukuran suhu tubuh tidak boleh dilupakan.
Pada keadaan anemia defisiensi besi, beberapa. hal
yang cukup diagnostik dan dapat ditemukari antara !$rii.,ll,l
':1i !i:t:':
lain koniungtiva pucat, atrofi papil lidah dan
koilonikia (kuku sendok). ::7
,: lUili
litsx

Pemeriksaan keleniar getah bening iuga hal yang :::7 I Lltf.ril

penting sebab pembesaran sering meniadi hal yang


:.;i,lilE
jlsffi;;=

menandakan kasus hematologi, keganasan (leukemia), ::?liL#i;:

serta kasus infeksi secara umum. Perabaan perlu


dilakukan secara sistematis di sekitar wilayah kepala -
leher (atau inguinal pada kasus tertentu)' Agar
sistematis, perabaan dapat dimulai dari submental lalu ke submandibula,
jugular chain (anterior dari m. sternocleidomastodieus), lalu ke posterior triangle
(posterior dari m. sternocleidomastoideus), menuju ke postaurikular dan
preaurikular, lalu terakhir ke supraklavikula' Untuk kasus kecurigaan Pada

58
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

keganasan payudara, kelenjar getah bening aksila dapat diperilsa (ihat bab
pemeriksaan fisik payudara untuk lebih lengkap).

Pemeriksaan kardiovaskular perlu dilakukan. Pada kasus anemia (terutama


anemia berat), dapit terdengar bising jantung sistolik akibat peningkatan curah
jantung sebagai kompensasi anemia pada pasien.

Pemeriksaan abdomen bermakna pada kasus hanatologi, terutama anemia.


Anemia karena dugaan talasemia dapat diperkirakan apabila terdapat
pembesaran organ (splenomegali dan hepatomegali). Sementara itu kasus
infeksi malaria juga dapat mengakibatkan splenomegali.

Untuk kasus leptospirosis, jangan lupa untuk melakukan pemijatan terhadap m.


gastrocnemius. Pada umumnya pijatan terhadap otot ini menimbulkan rasa
nyeri.

ffi*r,-**;h*r; *;"e Fff$t{.rej**r; i,.*sms ?:*mq*t*f *g* - <lrtkr:i*uffE * EmBs i:r'


Jenis Pemeriksaan
Panel
Hematologi Hb, Ht, Leukosit, Hitung |enis/Diff Count,
l rombosrt
MCV, MCH, MCHC
Morfologi/gambaran darah tepi
Retikulosit
Studi besi / Serum Iron (SI)
iron stuilg Total lron Binding Capacity (TIBC)
Saturasi Transferin
Panel infeksi DBD: IgMiIgG anti-dengue, NSr
Malaria: hapus darah tipis dan tebal, rapid
diagnostic test (RDT)
Leptospirosis: IsM/IeG anti-leptospira

H*t*rxx,tpi$mm klfu s*sffi $: $ ffi tH* hffi si * md*rakfu es

ludi&*$i ,-

t. Pasien dengan penurunan kesadaran (GCS < 8)


2. Pasien dengan kemungkinan aspirasi
). Pasien dengan kemungkinan obstruksi jalan nafas
4. Pasien dengan usaha nafas yang tidak adekuat
5. Apnea
6. Pasien yang memerlukan anestetik umum

$.**:.:.*3x$l k a*r r+le*{,


r. Traumamaksilofasial
2. Kecurigaan cedera servikal
j. Kontraindikasiabsolut
4. Fraktur laring
Lr-rrr.!,!*.rd! I raf 3 I !aar.! tr e!?{r\$ ). r l/,! 1
r@
ScOr{
r. Penilaian derajat kesulitan intubasi fnOt0(dlh
2. Ventilasi dan oksigenasi yang optimal

59
F

OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

). Kosongkan isi lambung


4. Obat analgesia,.pedasi, amnesia, pelumpuh otot (sesuai kebutuhan)
Fe nl-,c,rrzrrl g b"gbhlbot1.]rS
P l l-)
t Skor Mallampati

,'i ..'!-, l:

./\
, ,.-**:*- \
.'l':J-"**!.:-\. 1,

. t,:: r-l i
ili,l---*--',\)li
':.1 '.t'* d&E'lli
i1^,"-'"r4(...Y \r"l!
!.! i J!
r\'r i? /
\ i.t

il ::i: ii l irl : K ::.:r-: i i i;: :,r.


j.
*,,, +];t i
. Anamnesis : Riwayat kesulitan intubasi
. Pemeriksaan Fisik
o Buka Mulut
o Pergerakan rahang
o Inspeksi bagian dalam mulut
o Pergerakan C-Spine
o Mallampati
. PemeriksaanRadiologi

.t....i..1:.n.1.1.1...1.1..i..+L1f..j.l-'.r-S..+.i.:.f-.1.1..f}r:l.r' "5 r.(-&sr-rrl-.1j..+:-54.!:j4

o Premedikasi
o Fentanyl: I - z pg/Kg IV bolus
o Lidocaine: I.5 mg/Kg IV bolus
o Induksi
o Propofol: z-7 mglKg IV bolus
o Pelumpuh otot
o Succinylcholine: o3 - zmglKg IV bolus
o Rocuronium: o.6 - r mg/Kg IV bolus

ilrti3q:1 ik;rr i 1*rt.u b#gi il $dqrt r,i ker*

Saat Intubasi Saat ekstubasi


Trauma, Trakeomalasia,
Perdarahan, Kesulitan ekstubasi,
Fraktur/subluksasi C-Spine, Aspirasi isi lambung
Aspirasi isi lambung, Obstruksi jalan nafas,
Emfi sema mediastinum/pneumothoraks,
Falls route

60
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Selama terintubasi Pasca ekstubasi


Perubahan posisi ETT Kerusakan neryus
Obstruksi jalan nafas Sakit tenggorokan
Aspirasi isi lambung Paralisis pita suara
Ruptur trakea/brunkus Edema glotis
Perubahan suara

;,-;; ;;";;;; ,"" raringoskop dengan 1;;;


bilahnya) ) sambungkan dan periksa apakah ,.r,r.
- "
,'a,-
tlr
.

i ,r1i
,.'i:'{i:'
il..:.,, :.. !
a. - 'ai ...,
berfungsi dengan baik dan sumber cahaya adekuat. i. "-,:j.) 1i
-/
,.*:
i'"'"i-ii ''r:ij.J
T: tube (ETT, persiapkan nomor 7 serta setegah
\ \. \;i.,
'-ln \ "-. \ ..,.
.:-*.
,\*.. z
,
ukuran di atasnya dan dibawahnya ) 6,5 dan7,5) j-1 '
-. 4".-./a -':r\
A: airway (oropharyngeal airway/OPA) , -..:....
/\!,. - .. t.
l
,/\:\
;.. .' '\-,i-.:
\-i-

T: tape (Plester) t '' ' iit-,;.,/ 'r:,iti.';..


\ -/-\ ".-- \i
,

\\/ .--
,>"-;r.
I: introducer (stylet)
-4
t' ' -'l'
C: connector (mandrain)
.i: ii

S: suction

l.; rg-t;*hl
r. Posisikan pasien supinasi. Pada keadaan trauma kepala dan leher harus
dipertahankan dalam I garis lurus (in-line immobilization)
2. Persiapkan alat
1. Cuci tangan dan pakai sarung tangan
4. Operator berdiri di bagian kepala tempat tidur. Tempat tidur posisi
datar.
i. Memegang laringoskop pada tangan kiri
6. Preoksigenasi 3o detik dengan oksigen Ioool0. Kemudian ventilasi selama
3o detik menggunakan bag balve mask
7. Lakukan penekanan pada krikoid untuk mencegah aspirasi. Apabila
pasien sadar lakukan induksi dengan pelemas otot.
8. Bersihkan rongga mulut dari cairan/benda asing. Bila perlu gunakan
suction.
g. Buka mulut pasien perlahan dengan tangan kanan menggunakan cross
finger technique (ibu jari tangan kanan ditempatkan di depan gigi
bawah mandibula dan jari telunjuk di depan gigi atas maksila).
Io. Masukkan laringoskop ke dalam mulut
II. Posisikan lidah pasien ke sisi kiri dorong hingga mencapai posisi yang
tepat. Posisi yang tepat:
a. Bilah lurus di bawah epiglotis
b. Bilah lengkung dimasukkan ke dalam vallecula epiglotica di atas
epiglotis
Iz. Visualisasikan pita suara dan pembukaan epiglotis
r). Dengan tangan kanan masukan pipa endotrakea melalui pita suara
dengan lembut
14. Angkat stylet dan laringoskop dengan hati-hati. ETT dipertahankan
pada posisinya
ry. Kembangkan balin untuk menciptakan sekat

61
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

I6.Lepaskan tekanan pada krikoid


jangan terlalu lama membiarkan lT.Lakukan ventilasi dengan kantung
pasien tanpa ventilasi. Usahakan udara pada pasien dan perhatikan gerakan simteris
melakukan intubasi dalam r kali pada dinding dada. Auskultasi pada lima titik
menahan nafas. Jika t puyu untuk memeriksa masuk/tidaknyaudara
(epigastrium, apeks paru kanan, apeks paru kiri,
intubasi gagal dilakukan dalam
lobus bawah paru kanan, dan lobus bawah paru
waktu tersebut, pasien harus kiri). Periksa adanya pengembunan pada pipa
segera mendapat ventilasi dengan endotrakea saat pasien ekshalasi.
kantung udara sebelum usaha IS.Fiksasi posisi pipa endotrakea
intubasi kembali dilakukan. dengan plester pada posisi setinggi bibir.
rg.Rapikan peralatan dan buang
sampah di tempatnya
zo. Cuci tangan

'*sny***iE
.\.#E,trr+*E ! g.Jf rsx"
fi
.:* r t*fl#Il{H# t lltfW5
^*? :/:;
I. Periksa kelengkapan alat, cuci tangan dan kenakan handschoen.
) Persipakan cairan infus: gantungkan cairan infus, kunci selang infus,
tusukkan infus set.
). Buka kunci selang infus dan arahkan selang ke atas, sampai cairan
mengalir dan tidak ada udara di selang infu. Kunci kembali selang infus.
4. Cari lokasi vena, pasang duk / kain pengalas. Raba vena target, pasang
karet pembendung proksimal.
5. Disinfeksi permukaan kulit yang akan ditusuk.
6. Tegangkan kulit, tusukkan kanul dengan mandrain ke vena dengan posisi
yang tepat, Mandrain dicabut perlahan sambil kanul dimasukkan. fika
sudah masuk yakin posisi kanul telah masuk, tarik mandrain keluar.
7. Lepaskan karet pembendung vena, lalu sambungkan selang infus ke kanul.
8. Buka kunci infus, dan pastikan tetesan aliran mengalir dengan lancar. Jika
lancar, tutup kembali.
9. Lakukan fiksasi dengan baik.
IO. Buka tetesan infus sesuai dengan kebutuhan.
II. Rapikan alat.
12.

'{ n $ **i:,".8-*** -il $,*:*it***" l*..**s*t**l **6."-E-..*1


"--*"";J "* iF* '**"'*** -;l'
imff*ks$

H,;:islu.--ac_si:ti*ri*:f!+t"*l,isrL:.rt.i

r. Faktor risiko anemia defisiensi bqsi antara lain faktor diet yang kurang
mengandung daging, banaak konsumsi teh setelah makan, peld3rahg4
me n a h un, oan EEFs truiil]--
2. p""Sgrr"r" .ba, p"r akit dan/atau iqMr-iamu dapat
meningkatkan risiko radane lambqng dan menyebabkan perdarahan
menahun.
3. Pengobatan anemia dengan menggunakan preparat besi. Rasanya
kurang enak d-an-Eiiyak efek samping, terutanif-e ng saluran

4. F-rry"rupu., besi terbaik adalah jika diminum s@!um makan, namun


efek samping bertambah.

62
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

5. Minum preparat besi setelah makan mengurangi efek samping' namun


penyerapan kurang optimal sehingga dapat diberikan y!!gm!g1Q untuk
meningkatkan penyerapan.
6. Dengan demikian zat asam seperti buah ieruk dapat meningkatkan
oenvlraoafivitamin C.
7. Wiiauprin g+ta sudah membaik, pengobatan perlu diteruskan untuk
mengisi cderle-lesi yang sempat berkurang.

'#svaetmk*$c7#i {.$i i+?#*utg **s'rx'*'g#(<s t - *;=k"ea}'#{:E - $ra$:.: . - *

Obat dan Dosis Keterangan tambahan


K':ndisi
Anemia defisiensi besi Sulfas ferosus 1x)25 )25mgFe-sulfat = 65:mB Fe elemental
mg tab Penyerapan terbaik saat perut kosong,
namun efek samping (mual, muntah)
menjadi dominan. Alternatif: berikan
setelah makan dan juga berikan vitamin C
untuk meningkatkan penyerapan. Efek
samping laiw heartburn, konstipasi, dan
BAB hitam. r

Malaria Artemi.sinin Primakuin kontraindikasi anak <lo tahun


)tS th
C-l bln .t[q Combtnqtron
Therapy (ACT)
ACT: dihidroartemisinin ) x I tab I
piperakuin 3 x I tab selama 3 hari
7- ll = l/" P. falciparum: ACT
1^
3d + primakuin Id ?r, mo l"t,tn I rl q rcE eok,ttra \Q tr^'ar

t*q 1 I P. uivax/ovale: ACT


5-9.2 3d + primakuin I4d
P. malariae: ACT
Leptospirosis Doksisiklin 2 x Ioo Kontraindikasi untuk anak
[\) -lg. 3 mg kaps
Ampisilin4xlgram
Kasus leptospirosis berat membutuhkan
terapi injeksi penisilin (e.g: ampisilin)
IV

$Effiqilxsfi kmsars

Seorang perempuan,z5tahnn, datang dengan keluhan mudah lelah.

l. Lakukan anamnesis pada pasien.


2. Lakukan pemeriksaan fisik yang relevan pada pasien.
3. Mintalah hasil pemeriksaan penunjang kepada penguji.
4. Tentukan diagnosis dan diagnosis banding, lalu sampaikan kepada
penguji.
5. Tuliskan resep dan serahkan kepada penguji.
6. Lakukan edukasi kepada pasien terkait masalah kesehatannya.

Cek Tueas |awaban


Dokter memperkenalkan diri
Menanyakan nama dan umur pasien Ny. Metlu, lg tahr.,
Menanvakan pekeriaan pasien lbu rumah
Keluhan utama Badan terasa mudah lelah
Onset keluhan utama 6 bulan yang lalu

63
r
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Faktor yang memperberat Mencuci pakaian, kerja rumah tangga sehari-


hari
Faktor yang meringankan Tidur
Nafsu makan Nafsu makan biasa saia
Poliuria, polidipsia, p'olifasia Disanskal
Istirahat malam Setiap malam tidur jam Io malam, bangun
iam 5 pagi
Demam, keringat malam Tidak ada
Sesak napas Tidak ada
Penurunan berat badan Tidak ada
Penglihatan Tidak ada masalah
Keluhan terkait iantung Tidak ada nyeri dada, tidak berdebar-debar
Keluhan terkait abdomen Tidak ada perut begah, kembung, nyeri
perut, tidak ada perubahan pola BAB
Riwayat menstruasi Menstruasi 8 hari baru bersih, setiap kali
menstruasi darah keluar "cukup banyak",
ganti pembalut 3-4 kali setiap hari. Nyeri
menstruasi ada, namun tidak sampai
mengganggu.
Riwayat konsumsi obat-obatan Tidak ada konsumsi obat-obat maupun jamu
Riwayat pengobatan Pernah konsumsi vitamin penambah
stamina, namun tidak ada perbaikan
Riwayat penyakit sebelumnya Tidak ada yang signifikan
Riwayat alergi Tidak ada
Riwayat penyakit keluarga Tidak ada riwayat penyakit darah dalam
keluarga.
Riwayatyang lain tidak signifikan.
Riwayat diet Pasien makan zx sehari, pagi dan malam.
porsi dirasakan biasa saja, sering makan
sayur. Pasien menghindari konsumsi daging
dan ikan karena takut terkena kolesterol.
Pasien juga gemar minum teh setiap kali
makan.
Riwayat pekerjaan Pasien adalah ibu rumah tangga, bekerja
sehari-hari mengurus rumah.
Riwayat merokok/alkohol Tidak pernah merokok/konsumsi alkohol.
Riwayat aktivitas fisik Pasien jarang berolahraga, namun aktivitas
fisik di rumah cukup tinesi.
Riwayat keluarga Menikah,: dengan r orang anak. Saat
hubungan dengan keluarsa baik.
Melakukan rangkuman dan transisi
ke pemeriksaan fisik
Mencuci tangan sebelum melakukan
PF
Menilai status generalis, termasuk BB Tampak sakit ringan, TD rzol8o, HR
dan TB dan tanda vital 9ox/menit, RR zzxlmenit, suhu afebris
Melakukan PF yang relevan dengan Terutama PF mata, KGB, THT (rongga
lege artis mulut), jantung, dan abdomen, serta melihat
ekstremitas (kuku)
Mencuci tangan setelah melakukan
PF
Meminta hasil pemeriksaan Hb 9,5 gldL; Ht 7oo/o; Leu 6.ooo; Tr zz1.ooo.
penunjang MCV 7o, MCH zz, MCHC 28, gambaran
darah tepi: kesan anemia mikrositik

64
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

hipokrom, dengan anisositosis dan


poikilositosis, banyak ditemukan sel pensil.
Tidak ada sel target. Studi besi tidak
dilakukan karena keterbatasn biaya.
Menentukan diagno dan diagnosis Diagnosis kerja: anemia suspek defisiensi
banding besi
Meresepkan obat secara tepat dengan Misal: sulfas ferosus ) x )25 mg
penulisan resep yang tepat Viitamin C 3 x I tab (5o mg), setelah makan
untuk meningkatkan penyerapan besi
Melakukan edukasi kepada pasien Edukasi terkait anemia defisiensi besi:
etiologi, faktor risiko, cara tatalaksana, efek
samping obat
Menanyakan apa yang ingin
ditanyakan pasien
Menjadwalkan kunjungan ulang
pasien

Identitas dan Laki-laki,3o tahun Laki-laki,18 tahun Perempuan,2I tahun


keluhan utama Badan demam sejak 4 Demam sejak 4 hari Demam sejak 4 hari
hari yang lalu. yang lalu. Demam yang lalu. Demam
Demam dirasakan dirasakan naik turun mendadak tinggi,
mendadak tinggi. dengan pola tidak dan kemarin demam
Sudah diobati teratur. |ika demam turun namun justru
dengan penurun sampai menggigil. mengaku badan
panas namun naik Sudah diobati dengan meniai sangat
lagi. penurun panas namun lemah.
naik lagi.
Keluhan lain Badan lemas, nafsu Badan terasa lemas dan Menjadi terlihat
makan berkurang. berkeringat, nafsu lebih mengantuk,
Nyeri kepala. Nyeri makan juga bekurang. dan lemas. Kemarin
otot dirasakan, Sakit kepala ringan, tidak makan karena
terutama di otot betis. mata tidak ada keluhan. pasien tidak mau
t hari yang lalu mata Kejang dan penurunan makan. Hidung
pasien terlihat kuning, kesadaran disangkal. mimisan, gusi
BAK sedikit lebih Tidak berdebar maupun berdarah ada.
kuning dibanding sesak napas. Perut terasa Muntah darah
biasa., jumlah tidak tidak enak, terutama di disangkal. BAB
berkurang.: Nafsu sebelah kiri. BAK biasa, darah/hitam
makan menurun. tidak berkurang disangkal. Rumple
Mual ada, tidak maupun menjadi leede test positif.
muntah. Nyeri perut kuning.
disangkal.
Riwayat lain Lingkungan rumah I bulan yang lalu dari Lingkungan rumah
sedang banjir sejak z NTT. Di sana tidak banyak nyamuk.
minggu yang lalu. mendapatkan obat- Pernah sakit serupa
Membersihkan rumah obatan pencegah. saat usia remaja,
tidak menggunakan Riwayat penyakit serupa sembuh dengan
alas kaki. Riwayat sebelumnya disangkal. rawat inap di rumah
sakit serupa dan sakit sakit.
kuning pada pasien
disangkal. Sakit
serupa pada anggota
keluarga lain

65
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

disangkal.
Temuan pada Kompos mentis Kompos mentis Somnolen - Apatis
PF Suhu 38,roC Suhu 38,3oC TD roo/8o, HR
Tidak ada Abdomen: splenomegali 9ox/menit, nadi kuat
pelnbesaran KGB Sz-S3. dan teratur, RR
Injeksi konjungtiva (+) zox/menit, suhu
Abdomen: tidak ada 37,2 L
nyeri tekan, tidak ada Abdomen:
pembesaran organ Hepatomegali
Nyeri tekan pada otot Tes Rumple-Leed (+)
gastrocnemius
bilateral
Dx dan dx Leptospirosis Malaria akibat P. Demamberdarah
banding dd/ hepatitis viral akut falciparum dengue
dd/ infeksi viral dan dd/ leptospirosis dd/ demam dengue
bakterial lain dd/ demam tifoid dd/ infeksi viral lain

Tindak lanjut DPL Hb awal 16, HtAwal


DPL
SGOTiSGPT, 48o/o,Tr awalTT.ooo
bilirubin SGOT/SGPT, bilirubin DPL, serial untuk
lJreum, kreatinin lJreum, kreatinin memantau kadar Hb.
Elektrolit Eketrolit Ht, dan Trombosit
Kultur darah, serologi Rapid test malaria Serologi dengue
anti-leptospira Sediaan darah tebal/tipis (IgM/IgG anti-
malaria: gambaran dengue) It
Untuk dd: rapid test
malaria, tifoid
accole (+)
27
Tatalaksana Doksisiklin2xloomg Rawat inap
Suportif ACT 3d + Primakuin td Terapi cairan sesuai
Suportif perhitungan WHO
Edukasi tentang Edukasi tentang penyakit Suportif
higiene personal, cara malaria, cara Edukasi tentang
penularan leptospira, pengobatan, dan cara penyakit, faktor
faktor risiko yang ada iiencegahan di risiko, modifikasi
pada pasien kemudian hari faktor lingkungan
untuk preventif di
kemudian hari.
J,
ferbatl.alr
<ls '.1*,1@
- Carlar, tAN[Lc4( Wb h-E

ritrrr z V Sorn B'r: lS-t1oig : S nt l9k


d, fu ,Yr,, l"l n hertol^"p hb >,.10lz 3nt ltgwe
dtn^ q 'b ldw u
9q5uui t^l,nir lotr
| rJ'rK t0$)
2,-bhr br-sl dihn ^0 z 1-4L I n311 l+n0!dl It
httotrr .

- 2c rnl /hLl FL /l"n r hlc d


- nh[.''tilvlxtt an,uldn
se\drnd 'rc tnQh,l '

Irloid ,-o - *\ )tqri


no x 3o
"nt
^, bDl:1 py6
/kg
66
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Metabolik - Endokrin

*awq4e*H tu\i;!.ssd t

|angan lupa untuk beri tanda cek (r;


Kasus yang sering ditemui

Pendekatan klinis terkait masalah metabolik - endokrin

Obat-obatan terkait di bidang metabolik - endokrin


Simulasi kasus

6ztt,.<lvy\ f.tJfl '.

(o,ttc,trg : ' tP[r]'"if


I. Diabetes mellitus / - l>eto osa
) Dislipidemia
3. Komplikasi akut diabetes mellitus
4. Hipertiroid /
5. Hipotiroid

ffi*xrdwk**are fu"*$w!s **rfum$B rE"I#$#Effi$t l,ffi#qffi**S$k - **sg*krsm

Anamnesis berangkat dari keluhan utama yang disampaikan oleh pasien.


Untuk semua keluhan utama, jangan lupa konsep utama anamnesis umum.

Temuan awal Anamnesis khas Kemungkinan diagnosis


Badan lemas vs lemas
Bedakan lemas "fatigue" Endokrin
neurologi DM
Endokrin: poliuria, . polidipsia, Hipotiroid
polifagia; kesemutan;
penunrnan/kenaikan BB yang tidak dd/berdasarkan sisten organ
jelas; benjolan leher; intoleransi dingin; lain
konstipasi; kulit kering sleep deprivation, depresi,
Psikiatri: kualitas tidur; mood; pengalahgunaan obat, anemia,
konsumsi obat-obatan gagal jantung, TB paru,
Hematologi: riwayat makan, riwayat
perdarahan saluran GI, riwayat
perdarahan menstruasi
Infeksi: batuk; batuk darah; sesak
napas; keringat malam
fantung: berdebar-debar; kaki bengkak

Penurunan Tanyakan tidak diinginkan vs Endokrin


berat badan diinginkan DM
Endokrin: poliuria, polidipsia, Hipertiroid
polifagia; kesemutan; gangguan
penglihatan; mata menonjol; jantung dd/ berdasarkan sistem organ
berdebar-debar; banyak berkeringat; lain
tidak tahan udara panas; anoreksia nervosa, bulimia
GI: nafsu makan; sulit menelan; diare; neruosa, infeksi kronik (TB
nyeri ulu hati; perubahan pola BAB; paru), keganasan
BAB berdarah
Infeksi: batuk; batuk darah; sesak
napas; keringat malam

67
r'

OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Onkologi: demam tidak terlalu tinggi;


badan lemas; benjolan leher
fantung Endokrin: gangguan penglihatan; mata Endokrin
berdebar-debar menonjol; banyak berkeringat; tidak Hipertiroid
tahant udara panas; penurunan berat
badan dd/ berdasarkan sistem organ
Psikiatri: mood, gejala serangan panik, lain
gejala gangguan cemas menyeluruh, serangan panilg gangguan
gejala fobia cemas menAeluruh, gangguan
fantung: nyeri dada; sesak napas; fobia, spektrum angina
keringat dingin pektoris stabil - acute coronarA
sundrome, aritmia

Melaporkan hasil pemeriksaan


kelenjar tiroid: .,,.,1..! ".;",
j**t**l:l..j.jj
Terdapat pembesaran pada regio
Pemeriksaan fisis kelen;'ar tiroid dan klinis lain
colli anterior (leher depan), yang
terkait gangguan hormon tiroid:
bergerak dengan penelanan.
Pembesaran simetris(difus) I Informed consent, cuci tangan sebelum memeriksa
noduler, jumlah tunggal/multiple, pasren.
dengan ukuran x cffi, Minta pasien duduk dan sedikit ekstensi kepala.
konsistensi lunak/kistik/keras,
batas tegas/difus, nyeri INSPEKSI dari depan pasien.
tekan/tidak nyeri tekan, dengan Berdiri di belakagn pasien, lakukan PALPASI
kulit dan jaringan lunak di region tiroid sambil meminta pasien melakukan
sekitarnya kesan baik. gerakan menelan.

AUSKULTASI regio tiroid untuk mendengarkan


bruit.
INSPEKSI lain: ekspresi wajah, mata (eksoftalmus), ekstremitas (tremor, minta
pasien untuk meluruskan kedua lengan ke depan, bila perlu letakkan kertas di
antara kedua tangannya), refleks (patella), kulit (basah, kering), miksedema.

PALPASI lain: nadi (ireguler/regular - kemungkinan terdapat atrial fibrilasi


pada kondisi hipertiroid).

Sx a.ffi m $s"*ts#fl s F? A Wwsz*n w *ta i** $ * fu - *md*kr9 m

Obat Keterangan tambahan


Kondisi
DM Metformin )x5oo mg tab
Glibenklamid rx5 mg tab Minum 3o menit sebelum makan
Acarbose 3x5o mg tab Minum bersama suapan pertama
Dislipidemia Simvastatin rxlo mg tab Minum malam hari
Hipotiroid Levotiroksin Ix5o mcg tab
Hipertiroid PTU 3x5o mg tab
Propanolol3xro mg tab

58
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

ffis**rkss? kfuaxsxs ffi$ltesk *<***xs #frmfu***s xr*i$*t*es

. Edukasi tentang penyakit DM, diagnosis, faktor risiko, tatalaksana, dan


komplikasi
. Perencanaan makan DM: karbohidrat kompleks dan serat, biasakan
makan pagi - serta ajarkan menghitung kebutuhan kalori dengan rumus
Broca (BB idaman adalah [TB - roo] o 9oo/o) - tidak perlu dikali 9oo/o
apabila Lk <16o cm dan Pr_<I5o cm.
. CRIPE: continuous, rhytmical, interval, progressive, endurance. Latihan
minimal3 hari dalam seminggu.
. Obat-obatan diperlukan untuk mengontrol DM seumur hidup. Obat
terutama jenis sulfonilurea dan insulin perlu dipastikan pasien makan
sebelum meminum/menyuntik obat.
' Komplikasi akut DM: hipoglikemia, KAD, HHS; kronik stroke,
retinopati, kardiovaskular, nefropati, disfungsi ereksi, neuropati.

"FE$
n Bs-{ t$}l .t' :3"t E"E i

Seorang perempuan, 28 tahun, datang dengan keluhan badan lemas.

t. Lakukan anamnesis pada pasien.


z. Lakukan pemeriksaan fisik yang relevan pada pasien.
). Mintalah hasil pemeriksaan penunjang kepada penguji.
4. Tentukan diagnosis dan diagnosis banding, lalu sampaikan kepada
penguji.
i. Tuliskan resep dan serahkan kepadapenguji.
6. Lakukan edukasi kepada pasien terkait masalah kesehatannya.

Cek Tugas )awaban


Dokter memperkenalkan diri
Menanyakan nama dan umur pasien Ny. Anita, 5r tahun
Menanyakan pekerjaan pasien Akuntan publik
Keluhan utama Badan terasa lemas
Onset keluhan utama 8 bulan yans lalu
Faktor yang memperberat Bekerja berat
Faktor yang meringankan Istirahat
Nafsu makan Nafsu makan bertambah, jumlah nasi lebih
banyak dibandingkan biasa
Poliuria, polidipsia, polifagia Sering haus, cepat lapar dan porsi makanan
bertambah
Istirahat malam Sering terbansun untuk BAK
Demam, keringat malam Tidak ada
Batuk Tidak ada
Penurunan berat badan Ada, sejak 6 bulan yang lalu turun sekitar 5
ks
Penglihatan Tidak ada masalah
Iantung Tidak ada nyeri dada, berdebar-debar
Abdomen Tidak ada perut begah, kembung, nyeri
perut, tidak ada perubahan pola BAB
Neurologi Tidak ada kesemutan, tidak ada kelemahan
otot

69
r
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Riwayat pengobatan Minum vitamin tambah darah, namun


tidak ada perbaikan
Pernah mengecek gula darah Tidak pernah
sebelumnya
Riwayat penyakit sebelumnya Tidak ada yang signif kan
Riwayat alergi Tidak ada
Riwayat penyakit keluarga Ayrh pasien menderita kencing manis,
sudah meninggal saat ia berusia 6o tahun.
Ibu oasien sehat.
Riwayat diet Makan tidak teratur, porsi banYak.
Makanan favorit makanan manis, banyak
mil, minum teh dan k
Riwayat pekerjaan Pekerjaan memaksa pasien untuk banyak
duduk di n komouter.
Riwayat merokok/alkohol Tidak pernah merokok/konsumsi alkohol.
Riwayat aktivitas fisik Pasien jarang berolahraga, malas berjalan
kaki.
Riwayat keluarga Menikah, dengan 2 orang anak. Saat ini
hubunsan den keluarea baik.
Melakukan rangkuman dan transisi ke
meriksaan fisik
Mencuci tansan sebelum melakukan PF
Menilai status generalis, termasuk BB Tampak sakit ringan, BB 8o kg, TB 16o cm -
dan TB dan tanda vital TD t3ol8o, HR 8oximenit, RR zoxlmenit,
suhu afebris
Melakukan PF yang relevan denganlege Terutama PF iantung, abdomen,
artis ekstremitas (pulsasi ekstremitas bawah),
dan neurologi (refleks, sensasi ekstremitas
bawah)
Mencuci tansan setelah melakukan PF
Meminta hasil pemeriksaan penunjang Hb lc-3lLeu Sooo/Tr 33).oooiGDP nl
GDzPP z
Menentukan diagnosis dan diagnosis Diagnosis diabetes mellitus tipe
bandine obesitas

Melakukan edukasi kepada pasien Mencakup 4 pilar penatalaksanaan DM: (t)


tentang DM; (z) makanan; G) aktivitas fisik;
dan (a) farmakoterapi
Menanyakan apa yang ingin ditanyakan
pasien
Meniadwalkan kuniungan ulang pasien

Perempuan, S8 tahun Perempuan,ST tahrw Laki-laki,5r tahun


Identitas Badan lemas sejak 4 bl Badan lemas sejak r hr
Jantung berdebar
dan yang lalu, dirasakan sejak z bulan yang yang lalu. Saat ini
keluhan sepanjang waktu, lalu. Keluhan pertama terbaring lemah, tidak
utama diperberat dengan kali. dapat bekerja.
aktivitas, membaik
dengan istirahat.
Keluhan pertama kali.
Keluhan BB naik 5 kg dalam 3 Cepat berkeringat, Tremor,
lain bulan, tidak tahan telapak tangan sering diaforesis.

70
OSCE: PADI SU RVIVAL STYLE

ruangan dingin, BAB basah. BB turun 4 kg


jarang tanpa dalam z bulan tanpa Riwayat bekerja pagi-
perubahan poladiet. perubahan pola makan. malam, lupa makan
Diare sesekali. Nyeri namun tetap minum
dada disangkal. obat DM.
Gangguan menstruasi
(+).
Tidak ada yang Riwayat DM disangkal. Riwayat DM (+), sejak 3
signifikan. Riwayat sakit jantung tahun. Pengobatan
sebelunya disangkal. dengan glibenklamid
dan metformin, bau t
bulan terakhir.
Kompos mentis Nadi rrox/menit, Apatis-somnolen
Nadi 6ox/menit, ireguler. Suhu 37,ooC. TD roo/8o, nadi
reguler Leher: pembesaran rtox/menit
Tidak ada pembesaran difus, bilateral, 5x5 cm, Diaforesis
kelenjar tiroid batas tegas, bruit (+).
Kulit kering Ekstremitas: tremor
Refleks fisiologis halus,
menurun
Dx dan dx Hipotiroid Hipertiroid susp. graves Hipoglikemia
banding dd/ DM tipe z disease dd/ ketoasidosis
dd/ aritmia jantung diabetikum dd/
ddi hiperhidrosis hiperosmolar non-
ketotik
Tindak DPL DPL DPL
lanjut Panel tiroid Panel tiroid Panel gula darah
Panel gula darah Panel gula darah (terutama GDS)
EKG

Tatalaksana Levotiroksin PTU Air gula per oral atau


Propanolol 3X\O tc(b dekstrosa IV z fl.

i
71 I
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Dermatologi

sqw4M$H bu**4{d t

)angan lupa untuk beri tanda cek (r;


Kasus yang sering ditemur

Pendekatan klinis kasus dermatologi


Efloresensi dan cara mendeskripsikan efloresensi
Temuan mikroskopik jamur kulit
Farmakoterapi kasus dermatologi dan penulisan resep
i

Simulasi kasus

Kmsues H*rag $srg*# *{t*waci


I. Infeksi bakterial: pioderma
2. Infeksi jamur: tinea, kandidiasis, pitiriasis versicolor
). Infestasi parasit skabies, pedikulosis, cutaneous larva migrans
4. Infeksi virus: herpes zoster, varicella
5. Dermatitis kontak iriun, dermatitis kontak alergi
I

F*wC*l-.,*:,]* :".:rr i " k**r.ts d*t'rnrl;;#ffi8


Sedikit berbeda dengan sistem lain, pada umumnya setelah mendapatkan
keluhan utama, pemeriksa akan melihat lesi kulit terlebih dahulu sebelum
melakukan anamnesis lebih lanjut.
Riwayat penyakit sekarang untuk suatu lesi
Tanyakan fabgl_.*i\o yang mencakup onset timbulnya, lokasi awal (dan
berkaitan jika Anda menduga apakah semakiil meluas, serta di mana pertama
diagnosis tertentu. Sementara itu kali timbul jika lesi meluas), bagiamana perubahan
untuk riwayat pasien, tanyakan bentuk lesi tersebuL apakah terdapat rasa gatal,
riwayat alergi, riwayat pajanan nyeri, atau mati:'rasa (baal), faktor pemicu, faktor
sinar matahari, riwayat kontak yang, meringankan, pengobatan yang telah
dengan bahan-bahan kimia atau
dilakukan, serta gejala dan keluhan lain. fangan
kosmetik tertentu, serta riwayat lupa tanyakan apakah terdapat lesi lain di bagian
higiene personal.
tubuh yang lain.
Pemeriksaan fisik kulit dilakukan dengan inspeksi dan palpasi. Terkadang
diperlukan pemeriksaan berupa penggunaan lampu wood untuk membuat lesi
tertentu berpendar.

Hf i r r e sc ns i d m n { a s"# ry}#ffi d *s f,+ ;" I B s i km lt wym

Deskripsikan jenis lokasi lesi, ienis lesi, jumlah, bentuk, ukursn, batas, uarna, tebturl@-e@W
susunin(koniiqurasi),dafiaisir6GfG"iffi.
- - - - -

72
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Makula Patch Papul Plakat Nodul


Perubahan warna Perubahan warna Penoniolandi Infiltratberbatas Penjoniolan di
semata-mata semata-mata, pemukaan kulit, tegas dengan permukaankulit, uk
lebih besar konsistensipadat, konsistensipadat, >I Cm
dibandingkan uk. <o,5 cm ukuran >r cm
makula '+s*-
.
*tu* *d$ffi
"' ".#ffiw
"" aft' ffiw"'
., i*,,.. '+f"= ; -. . ff

Vesikel Bula Pustul Erosi Ulkus


Gelembung berisi Vesikel dengan Vesikel berisi pus Kehilangan Kehilangan
cairan serosa, ukuran >o,5 cm Bilaberukuran iaringan kulit, iaringankulit,
berbatas tegas, bulamenjadibula tidak melebihi melebihi stratum
ukuran <o,5 cm hipopion stratum basale papilare

Urtika Burrow Krusta Likenifikasi Skuama


(terowongan) Cairan tubuh Penebalan kulit Stratum korneum
(serosa hingga disertai relief kulit yang terlepas
darah) yang yang makin ielas
mengering di
permukaan kulit
Diad*ptcsi dcri A*t*iti*t Ac*tlemq *t {-}*rwtat*!*r1y; Pan,}u*rt []r*ktis i\.4*rfoloqi d**
T e r*cLnal*r4{ P e n ry iskit {* ilit

.hwn Blrh) S?besar 5ca-t


Ukuran: milier, Ientikuler,-futata, numuler, plakat. Lebih baik jika dapat
dideskripsikan dengan ukuran eksak, seperti sentimeter

fumlah lesi: multipel vs tunggal


u
Konfigurasi: linear, sirsiner, arsiner, polisiklis, dermatomal, iriformis, {:rifl:"?rybolq
korimbiformis \nqYara^ bvlatn&.bir
6tvL otqalh \esi sa{tlt'
dan ind,',rk Sebaran: regional (satu lokasi saja), universalis (hampir rooo/o tubuh),
generalisata (>5oo/o tubuh), bilateral, simetris, unilateral, diskret (lesi tersebar
satu-per-satu, ada di mana-mana)

73
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

ilr: r:t*h car:a -Be.&{.[*ghr*-$ik&sjgsl

Pada regio ekstensor lutut Pada regio pektoral kiri, Pada regio fleksor lengan
bilateral, terdapat plakat terdapat vesikel eritematosa kanan, terdapat rriakula
eritematosa multipel berbentuk multipel bergerombol dengan hiperpigmentasi multiPel
bulat ireguler, ukuran 5 cm, ukuran 2-5 rnm, batas tegas, berukuran ,-Ioo ffih, batas
batas tegas, dengan skuama yang tersebar secara tegas, dengan susunan Yang
putih di permukaan atasnya dermatomal. tidak beraturan.
(scaly plaque).

Y*mxxrt ffi ? *qvm* kq) pE B<


-i* r*w r kqlhat.

'.*l "*l;, .,*


*
#
$ffif
.r
.+$#"i ,\ff ' ;.
Hifa panjang, bersekat @bergerombol Pseudohifa dengan
blastospora
Membentuk gambaran
"sphagetti and meatball"
Infeksi dermatofita atau Infeksi Malasessia furfur atau Kandidiasis kulit
dermatofitosis (tinea itriasis versicolor (panu

Fmr*tak*'**v*i:i kmrxm s #**'rux{*$*g fr

Ienis Keterangan tambahan


Antibiotik topikal Mupirocin 2o/o cream
S z dd appl
Antijamur topikal Miconazole 2o/o cream Pemberian sampai batas lesi sejauh
S zddappl I-2 cm agar memastikan eradikasi
Selenium sulfida t,8o/o jamur. Tinea ditatalaksana dengan
shampoo obat ini sampai z minggu lesi
S zx/minggu menghilang (umumnya minimal z-
minggu)
Antijamur oral Itraconazole zxroo mg tab Terutama jika lesi luas, atau lesi di
atau tempat yang tidak dapat digunakan
Griseofulvin zxtz5 mg tab obat topikal (misal: rambut)
Antiviral oral Asiklovir 5 x 8oo mg (r tab = Kasus untuk herpes simpleks: 5 x
zoo ms tab
arrtiprr*it Permetrin ro/o atan Jo/o cream t% untuk pefikulosis kapitis

74
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

S u.c 5% untuk skabies, diaplikasikan ke


seluruh tubuh kecuali leher ke atas
malam hari, biarkan sampai esok

topikal S z dd appl hidrokortison saja.


Clobetasol propionat o,o5Vo Efek samping: atrofi kulit, striae,
cream sistemik jika penggunaan banyak
S r dd appl dan pada kulityang terbuka
Emolien/pelembab Ureazoo/o Pelembab kulit, terutama untuk
St dd appl drq skin dan dermatitis atopi
Antihistamin oral CTM + mg tab Dosis anak: o,I mg/kgBB/kali,
Sjddtabl lxlhari
Efek samping: mengantuk.

.llld'EESii{Sb! +{*tr:+X}

Seorang laki-laki, z9 tahun, datang dengan keluhan gatal di lipat paha sejak z minggu yang lalu.

I. Lakukan anamnesis pada pasien.


2. Sebutkan deskripsi efloresensi dan sampaikan kepada penguji.
3. Mintalah hasil pemeriksaan penunjang kepada penguji.
4. Tentukan diagnosis dan diagnosis banding, lalu sampaikan kepada penguji.
5. Tuliskan resep dan serahkan kepada penguji.
6. Lakukan edukasi kepada pasien terkait masalah kesehatannya.

Cek Tugas |awaban


Dokter memperkenalkan diri
Menanyakan nama dan umur pasien Tn. Vino, z8 tahun
Menanyakan pekeriaan pasien Mandor proyek
Keluhan utama Gatal di kedua lipat paha
Onset keluhan utama z minggu yang lalu
Lokasi awal Lipat paha
Progresif Semakin membesar, hingga saat ini
Gatal Ya, terutama saat berolahraga
Nyeri Tidak
Baal Tidak
Faktor yang memicu Sedang sibuk mengawasi proyek besar,
cuaca panas dan berkeringat
Faktor yang meringankan Tidak ada
Sudah diobati Belum
Keluhan di baeian tubuh yans lain Tidak ada
Riwayat kebersihan diri Mandi hanya pagi hari, karena kerja di
proyek sampai sore-malam tidak mandi
malam hari
Riwayat berpakaian Pakaian proyek, ketat dan panas, tidak
menyerap keringat
Riwayat bertukar alat personal hiqiene Tidak
Sebelah kiri, terasa berdenyut seperti nyert
pada mata kirinya
Riwayat sakit serupa sebelumnya Belum pernah
Riwayat penyakit sebelumnya DM disangkal, yang lain tidak a4g fgng

75
r
i
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

signifikan
Riwayat alergi Tidak ada
Riwayat penyakit keluarga Tidak ada yang signifikan
Riwayat diet Tidak ada yang signifikan
Riwayat pekeriaan Mandor proyek, saat ini sedang sibuk
Riwayat merokok/alkohol Merokok, r bungkus/hari sudah zo tahun.
Alkohol tidak ada.
Riwayat aktivitas fisik Di hari libur pasien suka lari pagi.
Riwayat keluarga Menikah, dengan 3 orang anak. Saat ini
hubungan dengan keluarga baik.
Melakukan rangkuman dan transisi ke
pemeriksaan fisik
Mencuci tangan sebelum melakukan PF
Menilai status generalis, termasuk BB Tampak sakit berat - TD rzol8o, HR
dan TB dan tanda vital 8ox/menit, RR zoxlmenit, suhu afebris

Melakukan PF yang
relevan dengan lege
Mendeskripsikan lesi
artis
dengan tepat:

Pada regio cruris bilateral, terdapat plak


eritematosa berukuran plakat, berbentuk
bulat ireguler, batas cenderung tegas,
dengan tepi lesi yang lebih aktif
dibandingkan bagian lain (central healing).

Mencuci tangan setelah melakukan PF


Meminta hasil pemeriksaan penunjang KOH: ditemukan hifa sejati, panjang, dan
bersekat
Menentukan diagnosis dan diagnosis Diagnosis kerja: tinea kruris dd/ kandidiasrs
bandine kulit

Melakukan edukasi kepada pasien Edukasi tentang penyakit, higiene personal,


pakaian yang menyerap keringat, dan cara
penggunaan obat.
Menanyakan apa yang ingin ditanyakan
pasien
Menentukan kapan waktu untuk
kuniugan ulang

76
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

dq#$*li$, Kffis$.$5

Anak laki-laki, rr tahun Perempuan,3l tahun Laki-laki,5z tahun


Identitas dan
Rambut rontok sejak 2 Borok di kaki sejak 1 Lenting berair di
keluhan
minggu yarlf, lalu hari yang lalu punggung belakang sejak
utama
kemarin
Keluhan Gatal pada tempat yang bekerja di hutan, Lenting terasa nyeri dan
lain rontok (+), terutama jika terkena ranting- panas. Lesi kulit lain
berkeringat. Nyeri tidak ranting pohon. Lesi disangkal.
ada. Baal tidak ada. Lesi kulit lain disangkal,
kulit lain disangkal. pasien tidak
menggunakan alas
kaki waktu bekerja.
Riwayat serupa disangkal. Riwayat Riwayat Riwayat penggunaan
serupa disangkal. "pil hijau" setelah
Higiene personal: mendapatkan informasi
mandi rx/hari karena dari temannya.
sulit air di Pernah cacar air waktu
daerahnya. DM kecil.
disangkal. Riwayat serupa
disangkal.
Temuan
pada PF

Dx dan dx Tinea kapitis Ektima Herpes zoster


banding ddi alopesia areata dd/ impetigo bulosa dd/ dermatitis venenata
Tindak uii KoH Pewarnaan gram Uji Tzanck (tidak rutin)
lanjut
Tatalaksan Griseofulvin oral Kompres terbuka Acyclovir 5x8oo mg oral
a Selenium sulfida KMnO4 ' NSAID oral
shampoo Antibiotik topikal
Higiene personal, jangan Higiene personal
menggunakan
handuk/pakaian bersama

Identitas Laki-laki, 18 tahun Laki-laki, zr tahun Laki-laki,33 tahun


dan Baal di kulit lengan bawah Gatal di pergelangan Gatal di sekitar pusar sejak
keluhan kanan seiak 3 bulan yang tangan sejak 3 hari yang I minggu yang lalu.
utama lalu lalu. Gatal memberat di Keluhan muncul saat baru
malam hari. ganti ikat pinggang
dengan kepala ikat
pinsqans berbahan nikel.
Keluhan Gangguan saraf, Lesi kulit Iain Lesi kulit lain disangkal.
lain perubahan wajah disangkal.
disangkal. Lesi kulit lain
disangkal.
Riwayat Ayah pasien penderita Riwayat tinggal di kos Riwayat alergi (+),

77
r
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

lain kusta. Higiene personal (+), teman satu kamar terutama makanan laut.
baik. Riwayat pajanan- kos terlebihdahulu Riwayat pajanan dengan
sinar matahari dalam punya keluhan yang bahan-bahan kimia tidak
batas normal. sama, dan belum ada. Riwayat seperti ini
berobat. sebelumnva disanekal.

Baal (+) pada


pemeriksaan sensori
Dx dan dx Morbus hansen tipe PB Skabies D erm atiti s kontak al erg i
banding dd/ hipopigmentasi dd/ dermatitis kontak dd/ dermatitis kontak
pascainflamasi alergi iritan
dd/ pitiriasis versikolor dd/ dermatitis kontak
iritan
Tindak Pemeriksaan skin smesr Pemeriksaan Tes alergi (patch test)
laniut mikroskopis
Tatalaksan Regimen pengobatan Permetrin 5% krim Hidrokortison cream
a MB: Teman harus diobati Hindari pajanan
Rifampisin rx6oo Seprai, bantal harus terhadap benda yang
mg/bulan dicuci dengan air sama
Dapson IxIoo mg/hari panas

7a
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Gftalrnclogi
-n
ffi#Y&ii {#Hg{$
t
|angan lupa untuk beri tanda cek (;;
Kasus yang sering ditemui

Pendekatan klinis kasus oftalmologi


Farmakoterapi kasus oftalmologi
Simulasi kasus

M'\F"' +<'4'o'9 v4tll furu^


ffi**:sc* .\illr,*e* s#x.'4ffi# s*Srtt*st*1 ?er\ctLov' :

t. Blefaritis
2. Konjungtivitis
j. Pterigium
4. Dry eye
5. Kelainan refraksi
6. Glaukoma (akut dan kornik)
7. Retinopati (diabetik, hipertensi)

S*cr{**k*t*m k#$reis kxs us etfft*$mt* l*g}


Pendekatan dimulai dengan anamnesis. Ada 4 kemungkinan temuan awal yang
dapat menjadi panduan untuk ke arah diagnosis. Masing-masing temuan awal
memiliki arah diagnosisnya masing-masing. Dari kemungkinan diagnosis yang
ada, tanyakan hal-hal yang diperlukan unruk mengarahkan (dan
menyingkirkan) diagnosis-diagnosis yang mungkin.
Untuk membedakan mata merah dengan mata tenang, umumnya pasien sendiri
yang akan mengeluhkan (ditambah inspeksi sekilas dari mata).

Untuk membedakan mata merah visus turun perlahan atau visus turun
mendadak, jika pasien dapat menyebutkan dengan pasti (misal: "r hari yang lalu
dok"), kemungkinan besar visus turun mendadak. Jika pasien tidak jelas
menjawab "gak tahu dok, udah lama dan makin lama makin burem", atau jelas-
jelas waktunya kronik "udah dari 3 bulan yang lalu dok", ini adalah kasus visus
turun perlahan.

Temuan awal Anamnesis khas Kemunskinan diaenosis


Mata merah visus tetap* Konjungtiva: sekret (ada/tidak, Konjungtiva
konsistensi, warna), nyeri, gatal, Konjungtivitis akut viral,
rasa mengganjal, fotofobia, bakterial, alergi
sakit kepala. Riwayat ISPA, Pterigium
kemasukan benda asing, Perdarahan subkonjungtiva
trauma mata, alergi, riwayat
kontak dengan yang sakit, Aparatus lakrimal
riwayat pajanan matahari. Dry-eye (terutama pada
Aparatus lakrimal: usia, sekret, geriatri)
nyeri, gatal, rasa mengganjal,

79
,),
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE
U,f
riwayat pekerjaan, riwayat
baca/komputer, riwayat
penyakit sistemik, riwayat lensa
kontak.

Mata merah YISUS Kornea: sekret (ada/tidak, Kornea


menurunn konsistensi, warna), nyeri, gatal, Keratitis
fotofobia, sakit kepala. Riwayat Ulkus korena
penggunaan dan Perawatan
lensa kontak, trauma mata, Uvea
tertusuk tanaman. Uveitis anterior
Uvea: gejala konstitusional
(demam, penurunan BB), nYeri Tekanan intraokular
sendi, riwayat PenYakit Glaukoma akut (glaukoma
autoimun. sudut tertutup)
Tekanan intraokular: nyeri,
sakit kepala, sekret, melihat
pelangi/halo, mual-muntah,
keadaan sebelum timbul
serangm
Mat^ t"na.tg visus turun Lensa: cek usia (usia sekolah? Lensa
perlahan usia tua?), deskripsi "kabur", Katarak
progresivitas, silau, gangguan Kelainan refraksi (miopia,
penglihatan warna, riwayat hipermeteropia,
trauma mata, riwayat DM, astigmatisma)
riwayat keluarga.
Tekanan intraokular: nyeri, Tekanan intraokular
sakit kepala, sekret, melihat Glaukoma kronik (glaukoma
pelangi/halo, gangguan lihat sudut terbuka)
warna, gangguan penglihatan
perifer (sering menabrak) Retina
riwayat keluarga serupa. Retinopati diabetikum
Retina: progresivitas, gangguan Retinopati hipertensi
penglihatan warna, melihat
tirai/sesuatu yang
mengambang, riwayat DM,
riwayat hipertensi

Mata tenang visus turun Retina: visus 'turun Retina


mendadak sebelumnya, melihat Ablasio retina
tirai/sesuatu yang
mengambang, riwayat DM,
riwavat hipertensi.
Keluhan lain Bengkak dan beniolan di Kelopak mata
kelopak mata Blefaritis
Bengkak kelopak visus, nyeri, Hordeolum internum,
panas, sekret. Demam. Riwayat eksternum
ISPA, riwayat trauma, riwayat Kalazion
manipulasi bulu mata, riwayat
beni k sebelumnya.

Gejalaitanda Konj. Konj.viral Konj. alergi Glaukoma


bakteri akut

80

t
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Fotofobia
Gatal 2-3
Kualitas purulen, waterg waterA, minim, tergantung tidak ada
sekret sedikit - hingga banyak cenderung etiologi,
sedang t mucous, berair bervariasi
sedang-
banyak
Temuan lain Injeksi Injeksi Injeksi Injeksi Injeksi In;'eksi
konjungtiva konjungtiva, konjungtiva, silier, pupil silier, silier,
folikel folikel dan middilatasi, temuan keratik
pembesaran papi1, refleks eksudat prespitat,
KGB riwayat pupil pada hipopion
preaurikular alergi menurun kornea
(korena
keruh)

[.] 1i, .'.".,,: ii .' ..- it .,

Pemeriksaan oftalmologi biasanya dilakukan dengan urutan sebagai berikut

r. Tajam penglihatan / visus: lebih detil di bagian bawah


2. Tekanan intraokular: lebih detil di bagian bawah
ttJ kot pntalr '
3. Gerakan bola mata (serupa dengan pemeriksaan gerak bola mata dalam

x x:
0o 0S 6.
neurologi, yakni membentuk huruf "H")
Bola mata secara keseluruhan: posisi bola mata, ukuran bola mata
Kelopak mata atas dan bawah: bengkak, benjolan (nodul), warna, sekret,
pteosis, aparatus lakrimal, bulu mata dan alis
Konjungtiva: bulbi, forniks, dan palpebra. Nilai warna (pucat?),
pembuluh darah (injeksi konjungtiva), kemosis (edema koniungtiva),
folikel, dan benda asing.
7. Sklera: warna, nodularitas.
8. Kornea: ukuran, bentuk, permukaan, kekeruhan, ulkus.
g. Pupil dan refleksnya: bentuk, ukuran, refleks cahaya langsung dan tidak
langsung
Io. Kedalaman bilik mata depan (anterior chamber): dalam vs dangkal
II. Lensa: letak, shadow test.
tz. Oftalmoskopi: lebih detil di bagian bawah.

-P*meriksatn v;$us
r
2.
Informed
Minta pasie uk6
ffi
.Wffi

xqwN
** (,

).
(atau zo feet)
Tutup mata kiri dengan occluder, periksa mata 'r . ., B',\.
ffi {!M
;!sIE
r. ," ffi
kanan terlebih dahulu.
4. Minta pasien membaca humf terbesar, terus -1ltw^
-!lW/;\
turun hingga huruf terkecil. Apabila pasien \*J
salah kurang dari tlz j:umlah huruf dalam satu baris, teruskan ke bawah.
5, Catat hasil pemeriksaan visus tersebut sebagai 6/x, di mana x adalah
angka di samping baris yang mana masih dapat dibaca minimal I/z
jumlah hurufnya oleh pasien.
AVOD 6/18, pinhole maju
AVOS 6lz4,pinhole maju
6. Lakukan pin-hole terhadap mata yang sedang diperiksa.
7. Lakukan pemeriksaan pada mata yang lainnya.

81
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

{ie mari k_saan tapan X panri-*$S

Metode sederhana menggunakan metode konfrontasi Donder (kampimetri).

t. Informed consent,jelaskan prosedur.


2. Duduk berhadapan dengan pasien dengan jarak Im.
3. Minta pasien menutup mata kiri, pemeriksa menutup mata kanan. Mata
pasien menatap mata pemeriksa.
4. Dengan jari, letakkan di lapangan pandang atas, bawah, temporal, dan
nasal. Bandingkan luas lapangan pandang pasien dengan lapangan
pandang pemeriksa.

t. Informed consent.
2. Jika perlu, mata pasien dapat diteteskan tropikamid ro/o untuk
melebarkan pupil. Hati-hati tropikamid pada keadaair glaukoma.
). Periksa terlebih dahulu mata kanan, dengan menggunakan mata kanan
pemeriksa.
4. Nyalakan oftalmoskop, minta pasien melihat jauh.
j. Dekatkan oftalmoskop dengan mata pasien. Lakukan adjustement
dengan memutar putaran yang berada di tubuh oftalmoskop hingga
terlihat jelas. Cari papil nervus optikus, permukaan fundus (retina),
serta refleks makula.
6. Nilai: refleks fundus, bentuk papil, batas papil, cup-disk ratio (CDR),
permukaan fundus (vaskularisasi, perdarahan, cotton woll spot),
pembuluh darah arteri/vena, dan refleks makula.

Beb erapa g ambaran hasil oftalmoskopi ilan kondisi klinisng a:

Refleks fundus (+), papil bulat, Refleks fundus (+), papil Refleks fundus (+), papil
batas tegas, CDR o,3-o,4; aalvv bulat, batas tegas, CDR o,8- bulat, batas tegas, CDR o,4-
zl), tidak ada perdarahan o,9) aalw 2lj, tidak ada o,5; aalvv z/3, cotton wool
retina, tidak ada proliferasi perdarahan retina, tidak ada spot (+), dot-and-blot
pembuluh darah, refleks proliferasi pembuluh darah, hemorrhage (+), tidak ada
makula positif. refleks makula positif. proliferasi pembuluh darah,
refleks makula positif.
Normal Glaukoma kronik (sudut Retinopati diabetik non-
tertutup) proliferatif

Jenis Obat Keterangan tambahan


Antibiotik Kloramfenikol r% eye drops Pada fase awal bisa diteteskan
S6ddqttI setiap z iam sekali.
Antialergi Natrium cromogylcate zolo Untuk koniungtivitis alergi, suatu
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

eye drops mast-cell stabilizer


St dd qtt I
Air mata buatan Hidroksietilselulosa eye Untuk mengatasi gejala mata
drops kering (drg eye)
56ld qtt I
Vasokonstriktor Tetrahidrozoline o,o57o eye Untuk mengurangi gejala mata
drops merah
StddqttII
Antiglaukoma Timolol o,Jo/o ele drops Acetazolamid untuk fase akut
Szddgttl sebaiknya diberikan dalam sediaan
IV, baru diikuti acetazolamid per
Acetazolamid 5oo mg tab oral
Stddtabl
Midriatikum Tropicamid Iolo eye drops I tetes sebelum pemeriksaan
diagnostik. Hati-hati glaukoma
akutl
Miotikum Pilocarpine zo/o eye drops fuga digunakan untuk glaukoma
sudut tertutup akut

Seorang perempuan,52 tahun, datang dengan keluhan mata merah.

I. Lakukan anamnesis pada pasien.


2. Lakukan pemeriksaan fisik yang relevan pada pasien.
1. Mintalah hasil pemeriksaan penunjang kepada penguji.
4. Tentukan diagnosis dan diagnosis banding, lalu sampaikan kepada penguji.
5. Tuliskan resep dan serahkan kepada penguji.
6. Lakukan edukasi kepada pasien terkait masalah kesehatannya.

Cek Tugas |awaban


Dokter memperkenalkan diri
Menanyakan nama dan umur pasien Ny. Suwarni,5z tahun
Menanyakan pekerjaan pasien Ibu rumah tangga
Keluhan utama Mata kiri merah
Onset keluhan utama 3 jam yang lalu
lektor yang memicu Saat sedang bertengkar dengan suaminya
Faktor yang meringankan Tidak ada
Tajam penglihatan Menurun tajam, mata kiri sangat kabur.
Mata kanan normal.
Nyeri Nyeri hebat mata kiri, terasa berdenyut
Tidak
Sakit kepala Sebelah kiri, terasa berdenyut seperti nyeri
pada mata kirinya
Berair Sedikit
Trauma Disangkal
Seperti melihat pelangi Ya, pada mata kiri
Riwayat lensa kontak Tidak pernah
Riwayat trauma sebelumnya Tidak pernah
Riwayat sakit kepala kronik Tidak pernah
Riwayat pengobatan Belum diobati
Riwayat sakit serupa sebelumnya Ini yang pertama kali

83
r
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Riwayat penyakit sebelumnya Tidak ada yans sisnifikan


Riwayat alersi Tidak ada
Riwayat penyakit keluarsa Tidak ada yang sienifikan
Riwayat diet Tidak ada yang sisnifikan
Riwayat pekeriaan Ibu rumah tangga
Riwayat merokok/al kohol Tidak pernah merokok/konsumsi alkohol.
Riwayat aktivitas fisik Pasien jarang berolahraga, malas berjalan
kaki.
Riwayat keluarga Menikah, dengan I orang anak. Saat
hubungan dengan keluarga baik.
Melakukan rangkuman dan transisi ke
pemeriksaan fisik
Mencuci tangan sebelum melakukan PF
Menilai status generalis, termasuk BB Tampak sakit berat - TD r4olgo, HR
dan TB dan tanda vital goximenit, RR zoxlmenit, suhu afebris
Melakukan PF yang relevan denganlege Terutama PF oftalmologi, termasuk
artis antaranya tekanan intraokular
Mencuci tangan setelah melakukan PF
Meminta hasil pemeriksaan penunjang TIO OS 41rnmHg, OD t9 mmHg
Menentukan diagnosis dan diagnosis Diagnosis kerja: glaukoma akut dd/ nyen
bandine kepala cluster

Melakukan edukasi kepada pasien Edukasi tentang penyakit, tentang


penatalaksanaan, dan tentang bagaimana
mencegah serangan selaiutnya
Menanyakan apa yang ingin ditanyakan
pasien
Melakukan rujukan ke spesialis mata

ed***$"*l E.**".*
r&'&#twHq.ss *\sssl*3

Perempuan, zl tahun Laki-laki,5o tahun Laki-laki, T4tahun


Identitas Kedua mata merah sejak Pandangan kabur Benjolan di kelopak
dan mata kiri sejak 3 hari
3 hari yang lalu. sejak z tahun yang
keluhan Awalnya kiri, saat ini lalu, semakin yang lalu
utama keduanya. membuiuk.
Keluhan Pandangan tidak kabur. Mata tidak merah, Pandangan tidak kabur,
lain Mata menjadi berair, sering tersandung terasa panas. Pasien
kotoran mata (+), tidak kalau berjalan, suka tidak demam. Sekret
lengket saat bangun tidak melihat benda di tidak ada.
tidur. Nyeri disangkal. samping kiri dan
Teman kuliah juga kanannya. Trauma
mengalami hal serupa. disangkal.
Riwayat Riwayat trauma tidak Riwayat DM dan Riwayat mencabut bulu
lain ada. Riwayat alergi tidak hipertensi disangkal. mata seminggu yang
ada. Riwayat ISPA tidak Riwayat trauma lalu.
ada. disanekal.

84
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Visus normal, injeksi Nyeri tekan pada


AVOD 6/24, pinhole (-
konjungtiva, sekret benjolan
jernih. ), shadow test (-). TIO
OD 3o mmHg, OS l+
mmHg. Lapangan
pandang menyempit.
Funduskopi sesuai
gambaan di atas.
Dx dan dx Ibniunqtivitis uiral Glaukoma kronik Hordeolum internum
banding dd/ konjungtivitis dd/ dd/ hordeolum
bakterial eksternum
dd/ konjungtivitis alergi dd/ kalazion
Tindak Tidak ada Tidak ada Tidak ada
lanjut
Tatalaksan Vasokonstriktor topikal Anti-glaukoma Antibiotik
a Edukasi higiene personal Rujukan ke Sp.M Antipiretik
Edukasi pasien mungkin Edukasi higiene
menularkan ke orang personal
lain

85
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

THT

K t*k **fuE?s
t
|angan lupa untuk beri tanda cek (z)
Kasus yang sering ditemui

Pendekatan klinis kasus THT


Farmakologi kasus THT
Simulasi kasus

H+>u '. ' ' 2."j. $i rEfl ) #i,"#ffirffii


I. Otitis media akut
2. Otitis media supuratif kronik
7. Presbiakusis
4. Rinitis akut, alergi
5. Sinusitis

F*stdekai*r'r kidmi* fu.el*s'l 1r i

Anamnesis khas Kemungkinan diagnosis


Temuan awal
Pendengaran Telinga luar: nyeri telinga, demam, Telinga luar
berkurang sekret, riwayat mengorek telinga Otitis eksterna
(trauma), riwayat memasukkan benda Impaksi serumen
asing ke telinga, riwayat berenang Benda asing di telinga
Telinga tengah: nyeri telinga, demam,
sekret, nyeri wajah, gangguan Telinga tengah
neurologi (mulut mencong, OMA berbagai stadium
penglihatan), riwayat ISPA, riwayat OMSK
mengorek telinga (trauma)
Telinga dalam: usia, pusing berputar, Telinga dalam
mual/muntah tinitus, riwayat Presbiakusis
pekerjaan, riwayat pajanan suara,
riwayat gangguan neurologi. :

Nyeri pada Telinga luar: pendengaran berkurang, Telinga luar


telinga sekret , demam, riwayat mengorek Otitis eksterna
telinga (trauma)
Telinga tengah: pendengaran Telinga tengah
berkurang, sekret, nyeri wajah, OMA berbagai stadium
gangguan neurologi (mulut mencong,
penglihatan), riwayat ISPA, riwayat
mengorek telinga (trauma)
Sekret telinga Telinga luar: pendengaran berkurang, Telinga luar
sekret, demam, riwayat berenang Otitis eksterna
Telinga tengah: riwayat mengorek
telinga (trauma) Telinga tengah
OMA stadium supuratif
OMSK
Sekret hidung, Kualitas sekret, demam, ISPA (batuk, Rinitis akut infeksius
hidung pilek, nyeri tenggorok), sekret I Rinitis alergi

86
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

tersumbat gangguan mata (konjungtivitis alergi), Sinusitis


sakit kepala, nyeri daerah sinus, post-
nasal drip, bersin.
Riwayat atopi (asma, urtikaria, alergi
makanln), riwayat tempat tinggal
(pajanan sekitar), riwayat kontak
penyakit serupa.

Beberapa diagnosis banding otitis:

Otitis Otitis ekstera OMA OMA OMSK


eksterna difusa stadium stadium
sirkumskripta supurasi perforasi

Nyeri telinga +, mereda

Gangguan +, jika besar


pendengaran
Sekret tidak ada tidak ada ada ada/tidak ada

Nyeri tekan
traSus

Otoskop: liang
telinga sempit
ran perforasi,
timpani dapat sentral
atau marginal

t), .,.-";t, ."-* +;.,;1, t"iI i'

Sebelum melakukan pemeriksaan fisik THT, lakukan informed consent dan


siapkan lampu kepala.

Telinga
Inspeksi: preaurikuler dan postaurikuler, apakah terdapat bengkak,
hiperemis, hematoma, dan sikatriks
Palpasi: preaurikuler dan postaurikuler,
tekan tragus dan mastoid, cek apakah
terdapat nyeri tekan.
Otoskopi: inspeksi liang telinga (apakah
lapang, terdapat serumen, sekret,
furunkel), inspeksi membran tipani
(refleks cahaya, intak/tidak), lakukan
manuver valsava (minta pasien meniup)
dan toynbee (minta pasien menelan) dan perhatikan gerakan membran
timpani.

Hidung (dan sinus paranasal)

Inspeksi: deformitas, edema, hiperemis, vestibulum nasi (tekan ujung


hidung ke atas dengan ibu jari).
Palpasi: nyeri tekan

87
r
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Rinoskopi anterior (dengan spekulum hidung): vestibulum nasi


(lapang/tidak), sekret, edema, hiperemis, ukuran konka inferior dan
media.
Sinus paranasal: palpasi untuk nyeri tekan pada sinus frontalis dan
maksilaris.t

Tenggorok
. Inspeksi: lidah, mukosa oral, palatum mole dan drum, uvula, arkus
faring, tonsil (nilai ukuran tonsil, kriptus, detritus, hiperemis/tidak),
faring (hiperemis, post-nasal drip).

Pemeriksaan menggunakan garpu tala


Garputala yang digunakan umumnya berfrekuensi 5tz Hz. Untuk semua
pemeriksaan penala, lakukan informed consent dan jelaskan kepada pasien
prosedur pemeriksaan. Umumnya, jika pasien mendengar bunyi garpu tala,
angkat tangan. Turunkan tangan jika pasien tidak mendengar bunyi sama sekali.
Duduk berhadapan, dengan saling bersilang.
Rinne: getarkan, lalu tempelkan di mastoid pasien sampai pasien tidak
mendengar. |ika sudah tidak mendengar, letakkan di depan telinga pasien.
Lakukan sebaliknya untuk konfirmasi. Rinne positif jika setelah di mastoid
sudah tidak mendengar, pasien masih mendengar suara saat diletakkan di
depan telinga.

Weber; getarkan, lalu templkan di garis tengah wa1'ah pasien (misal: dahi tengah,
pangkal hidung, dagu, atau gigi). Tanyakan kepada pasien di sisi mana suara
terdengar lebih keras. Sisi yang lebih keras adalah sisi yang mengalami
lateralisasi. |ika pasien tidak dapat membedakan sisi mana yang lebih keras,
artinya weber tidak mengalami lateralisasi.
Schwabacht getarkan, lalu tempelkan di mastoid pasien hingga pasien merasa
suara hilang, lalu segera tempelkan ke mastoid pemeriksa dan nilai apakah
masih ada suara. Lakukan sebaliknya. Memendek dibanding pemeriksa adalah
ketika pasien mengatakan sudah tidak mendengar suara, pemeriksa masih
dapat mendengar suara getaran garpu tala.

Hasil Rinne Weber Schwabach


(Pemeriksa
dianggap normal)
Tuli seresorineural Positif Lateralisasi ke sisi Memendek
sehat dibanding
pemeriksa
Tuli konduktif Negatif Lateralisasi ke sisi Memanjang
sakit dibanding
pemeriksa

F,,:s mtn k*t#tr#Elf k',*ii$ ?ffiY


Rekomendasi P-drugs Keterangan tambahan
!enis

88
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Antibiotik telinga Kloramfenikol 5o/o ear drop s Untuk kasus otitis eksterna
Stdd qtt II
Seruminolitik Karbogliserin Io% ear drops Digunakan jika impaksi serumen
selama 3 hari berturut-turut

Cairan pencuci HrOr3o/o


telinga

Seorang laki-laki, 33 tahun, datang dengan keluhan kurang mendengar telinga kiri.

l. Lakukan anamnesis pada pasien.


2. Lakukan pemeriksaan fisik yang relevan pada pasien.
). Tentukan diagnosis dan diagnosis banding, lalu sampaikan kepada penguji.
. Lakukan edukasi kepada pasien terkait masalah kesehatannya.

Tugas Iawaban
Dokter memperkenalkan diri
Menanyakan nama dan umur pasien Tn. Nando,33 tahun
Menanyakan pekerjaan pasien Pegawai swasta
Keluhan utama Telinga kiri kurang mendengar
Onset keluhan utama 6 bulan yans lalu
Perjalanan penyakit Sempat nyeri dan mengeluarkan cairan di
telinga warna kuning sejak 6 bulan yang
lalu selama r minggu, tidak berobat ke
dokter. Saat ini sudah kering.
Masih keluar cairan Tidak
Nyeri telinga Tidak, namun 6 bulan lalu sempat nyeri.
Pusing berputar Tidak
Sakit kepala Tidak
Telinga berdenging Tidak
Trauma Disangkal
Riwayat mengorek telinga , Disangkal
Riwayat berenang Disangkal
Riwayat kelemahan sesisi wajah Disangkal
Riwayat herpes Disangkal
Riwayat sakit serupa sebelumnya Ini yang pertama kali
Riwayat penyakit sebelumnya Tidak ada yang signifikan
Riwayat alergi Tidak ada
Riwayat penyakit keluarga Tidak ada yang signifikan
Riwayat diet Tidak ada yans sisnifikan
Riwayat pekeriaan Pegawai swasta
Riwayat merokok/alkohol Merokok r/z bungkus per hari sejak Io
tahun yang lalu
Riwayat aktivitas fisik Tidak ada yans sisnifikan
Melakukan rangkuman dan transisi ke
pemeriksaan fisik
Mencuci tangan sebelum melakukan PF
Menilai status generalis, termasuk BB Tampak sakit ringan - TD I3ol9o, HR
dan TB dan tanda vital 8ox/menit, RR zoxlmenit, suhu afebris
Melakukan PF yang relevan denganleqe Terutama PF THT, termasuk di antaranya

89
7

OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

artis tes penala dan PF neurologi neryus


kranialis.

Telinga: inspeksi tidak keluar cairan, tidak


hiperemis, liang telinga lapang
Otoskopi: tampak perforasi membran
timpani sentral telinga kiri. Tidak tampak
kolesteatoma.

Tes penala: Rinne AS negatif, Weber


lateralisasi ke kiri. Schawach AS
memanjang.

Hidung: dalam batas normal


Tenggorok: dalam batas normal

Neurologi nervus kranialis: dalam batas


normal
Mencuci tangan setelah melakukan PF
Menentukan diagnosis dan diagnosis Diagnosis kerja: otitis media supuratif
banding kronik benigna AS dd/ otitis media
supuratif kronik maligna AS
Melakukan edukasi kepada pasien Edukasi tentang penyakit, tentang
penatalaksanaan, dan tentang bagaimana
mencegah serangan selajutnya.
Menanyakan apa yang ingin ditanyakan
pasien

t.**r*$tlS i,uld.*5

Anak laki-laki, rz Perempuan, z9 tahun Laki-laki,68 tahun


Identitas tahun Hidung sering Pendengaran
dan Keluar cairan dari tersumbat seiak r berkurang sejak 6
keluhan telinga kanan sejak 4 tahun yang lalu. bulan yang lalu.
utama bulan yang lalu. Dipicu jika ada di
dalam rumah dan
bangun tidur.
Berkurang jika di luar
rumah.
Keluhan 6 bulan yang lalu Bersin sering, sulit Sering salah
lain sempat nyeri telinga, dihentikan. Hidung menangkap
kemudian terasa gatal. Terkadang pembicaraan dan
mengeluarkan cairan. mata sering merah dan berbicara mendadak
Saat ini nyeri tidak ada. gatal pula. keras.
Cairan kental, kuning,
berbau busuk. Nyeri
wajah dan sakit kepala
disangkal.
Riwayat Riwayat keluar cairan z Riwayat urtikaria (+), Riwayat pekerjaan
lain tahun yang lalu, tidak sering muncul sejak 3 tidak signifikan.
berobat dan kering tahun yang lalu.
sendiri.
Alergi tidak ada. Sering
sakit bauk-pilek sjeak
kecil.

90
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Temuan Sekret kuning purulen, Sekret hidung cair. Otoskop: normal


pada PF berbau busuk. Allergic shinner Schwabach kedua
Otoskop: membran Allegic crease telinga memendek
timpani perforasi Mukosa nasalliuide Weber tidak lateralisasi
marginal t
Dx dan dx Otitis media supuratif Rinitis alergi Presbiakusis
banding kronik tipe benigna dd/ rinitis akut dd/ otosklerosis
dd/ OMSK tipe maligna infeksius dd/ tuli sensorineural
dd/ oMA dd/ rinitis vasomotor

Tindak Tidak ada Sitologi sekret hidung Audiometri


lanjut Lab: DPL (eosinofil),
IgE dan IgE spesifik
Tes alergi (skin prick
test)
Tatalaksana HrO, untuk cuci telinga Edukasi alergi dan Edukasi kemungkinan
Rujukan ke Sp.THT alergen rumah diagnosis
Antihistamin Rujukan untuk alat
Dekongestan oral bantu dengar
(awas rinitis
medikamentosa!)

Tu\i Konotut<4,f : Binr^e e


v'tQ-wr \at-trat,sosi V lg sqVtl'
Su)riarcl hemqr,lohg

Tttlr ler,llo ,,rvurrl\ ' Rin6a e


weber [q+eratisas i t{ Y9 sut"dt
944,f ,, r\^ f"rOl^rrl*df,L .

91
STYLE
OSCE: PADI SURVIVAL

Muskuloskeletal

Hmxk c*k-*Es, r
beri tanda cek (v)
)angan lupa untuk
Kasus Yang sering drtemul
loskeletal

skeletal
Radiologi kasus traul
Tt"d^k"" t"trpeutik kasus trauma musku

f"t"tu*Pilan inieksi
@ka(hecting)

b{.*sacs'Y#Y}# **t'{ * g d te*r:*u i


radius' ulna' femur' tibia)'
fraktur
r. Fraktur tulang panjang (os.hume rus,
Patella, dan
fraktur klavikula
2. SPrain dan strain
). Osteoartritis
4. Artritis gout
# tf3 f -r'; ftl s k"a ** #sk* } *t x *
F r* x * * k * tx lt p1:aT t- S I; # # &'1 t {"8

cepat
d-engan melakukan penilaian
. Primary survey perlu dilakukan'
cirJulation' dengan menghentikan
terhadap oir"o[, breathing' dan
p"rdu,a'h,,,f^;^l|:|i1iJil.lf f ll;:li-::t,i?'Jll'*1":i;'^""T0'
exposu're
pupil, tanda lateralisasi) ' dan
asuk seiondara suruea.'' lad\
. Anamn"ri, pudu?;';;*i hasil
*"1"1 l"-:i
primarg ditanyakan obat
;;;;; iilrk,kut' jika Mrdl"tl"" p"'1"
l"*ry al"m
SUIV?A dalam keadaan
KcaLld4rr baik.
ucr\'
., rr yang
yang sedang
seLrdrr6 difnslst'
"yang anamn"t':-^\:T p"rr"yutut grrruu., alkohol
penting dari dan
Hal - tt+::fl
,rurrrru alalah:, mekanisme
keadaan sebelum trauma' ser ,rurt otit u
y1"g :^ iil"k'ku" Last-meal P(:rlu ditanyakan
pena-nganl:l
'rebel,'im (rru4wa
seDelulrr dibawa ke I '"1;-
'\v rumah
sakit' berhubung terkadang diperlukan
,--: ^-^-^.i cito
U"f.""ita" trauma meliputi: dimana posisi tindakan
sepert i operasi ^ir^
-"p"r"r'
[."ji;;;, menggunakln. sabuk
k"ttdu'uurr roda 4)' apakah
pengaman (dalam. k;;;;ffi kecelakaanledakan'
teriadi
terjatuh, apaah terlrndas' apakah
AMPLE: ottergu'try"dicatty pJe
Keadaan sebelum t;;;;t^ meliputi'
illness,last-rneal,evUlenu-y9nryeft-
. 'fr;"'tffi" ;"oa+oilii*ination' dengan fokus
trauma'
pzrda daerah yang

dilrtigaii dilaporkan mengalami

frffis$h*a*s-f,$e
Padakasustrauma,tandavitalmenjadisesuatuyangsansatpenting.Sebelum
lebih lengkap' Anda harus
berpikir tentang *"'"t'ft"' pemeriksaan
dahulu'
rri tanda vital pasien terlebih
-"ng",ut

92
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Look:ApakahsudahterpaSan8bidai?K,Ii.,p@., k"skk,
bengkok, posisi, bandingkan dengan sisi kontralateral.
Feel: Palpasi nadi perifer, CRT, otot dan jaringan lunak sekitarnya, stabilitas
sjldi, krepitasi, funtsi sensori dan denyut nadi arteri perifer.
Move: ROM (range of motion), baik pasif maupun aktif. Pada lokasi fraktur
kemungkinan terdapat pseudoartrosis (seolah-olah menjadi suatu sendi).

ffi ;s *t)Et>;;= I k*sqss t::m u ntx mt urk t*:'zk"*$ *:;* B

Pada umumnya pemeriksaan fisis tidaklah cukup. Anda perlu melakukan


permintaan pemeriksaan penunjang berupa foto -
radiologi.
Permintaan foto menggunakan
Cara menginterpretasi foto polos tulang adalah Rule of z: foto harus melibatkan z
sebagai berikut, dan cara ini berlaku untuk sendi (pyksimal dan distal dari
interpretasi foto polos tulang pada kondisi trauma tulang yhng dicurigai fraktur), z
dan non-trauma: proyeksi (AP/PA dan lateral), z
ekstremi tas (sisi kontralateral)
' A(lignment): lihat tulang- terhadap sendi
proksimal dan distal serta terhadap tulang.
lain. Sebagai contoh, jika dicurigai
' B(one): dinilai tulang itu sendiri, terjadi fraktur humerus
kiri,
bagaimana densitas tulang, apakah intak, mintalah foto fraktur humerus
apakah terdapat fraktur, reaksi periosteal, kiri dan kanan (z ekstremitas),
reaksi litik dan blastik. dengan melibatkan sendi siku
' C(artilage): menilai apakah terdapat (articulatio cubiti) dan sendi bahu
penyempitan celah sendi (articulatio glenohumeral)
' S(oft tissue): penebalan dan peningkatan dengan z proyeksi (AP dan
densitas jaringan tulang
Mendeskripsikan fraktur: jumlah fragmen, lateral).
llgh
garis fraktur, hubungan fragmen satu dengan yang
nffiungan fraktur dengan dunia luar.
. Fraktur dengdn r jumlah fragmen: fraktur simpel; lebih dari z ,'umlah
fragmen: fraktur kominutif
. Arah garis fraktur: transverlal (tegak luarus dengan sumbu panjang
tulang) atau diagonal/oblique
. Hubungan fragmen satu dengan yang lain:
o displacement atau seberapa iauh segmen distal bergeser
o angulation atau sudut antara fragmen distal dengatt proksimal
o
shortening atau pemendekan karena segmen Aang satu tumpang
tindih dengan segmen grtng lain
o rotation atau rotasi fragmen satu terhadap fragmen yang lain
. Hubungan fraktur dengan dunia luar: terbuka atau tertutup
-^-
J
6' ,,D
H
Sn
\ek

93
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Hubungan fragmen satu dengan fragmen lain. A: displacement; B: angulation; C:


shortening.
(Learning Radiologg: Recognizing the Basics, zorz)

I S{E\4t: ffi#.lS tr ..:B :+f#s {+ : ft \+A;SE*;} &S +r6ir'+:a

I r..rl<t r: r II :I!1r:iv ilrJ r:iilr iri

Bidai pada kasus fraktur harus dilakukan sesegera mungkin, bahkan saat
diagnosis pasti belum ditegakkan. Bagian yang dicurigai mengalami fraktur
perlu dibidai sesegera mungkin.
t. Informed consent kepada pasien.
2. Ekspos bagian yang dicurigai mengalami fraktur.
). Cek neurovaskular proksimal dan distal dari ekstremitas yang cedera,
bandingkan dengan sisi kontralateralnya. Periksa pula sensorik dari
ekstremitas yang cedera.
4. Tu!up_!g\u yang ada dengan balutan steril.
5. Bidai dengan menggunakan minimal z buah spalklpapan Adapun
syarat pembidaian adalah:
a. Uglipgtt j__gggdi yang berhubungan dengan tulang yang
mengalami fraktur
b. Bidai pada posisi sedapat mungkin anatomis, bila tidak coba
terlebih dahulu luruskan ekstremif6f-lffitsi). Selalu cek
neurovaskular dan sensorik r"tiu!ilukrkiirrrunipulasi posisi.
c. i".
6. Setelah dilakukan pemasahgan bidai, cek kembali neurovaskular dan
sensorik untuk memastikan tidak ada masalah yang terjadi akibat
pemasangan bidai.
T. Konsultasi ke TS ortopedi diperlukan.

94
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Kasus fraktur os humerus

Lakukan pembidaian. Siku terlipat, lengan


bawah disangga dengan sling menggunakan
mitella.

Kasus fraktur os ulna/radius


Lakukan pembidaian. Lengan bawah
disangga dengan sling menggunakan mitella.

t-
I .-.'f'\*'I
1 t it. A

Ws#fr
Kasus fraktur os femur
Bidai dipasang sampai pinggang (jika lokasi
fraktur di atas paha), sementara cukup sampai
pinggul (jika lokasi fraktur di bawah paha).

Kasus fraktur os clavicula

Dengan sling and swathe, tekuklah siku sisi


yang cedera.

Kasus fraktur os patella

Imobilisasi fraktur dengan mengikat di 4 titik,


yakni tepat di bawah lutut, tepat di aras lutut,
di perlengangan kakildan di paha. |angan
tutupi os patella itu sendiri sebab
kemungkinan pembengkakan di regio
tersebut sangat besar.

qti"","

Sling digunakan untuk mengistirahatkan ekstremitas atas yang mengalami


cedera. Sling dibuat dengan menggunakan kain berbentuk segitiga.

95
7
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

lld I
{{.4}
\ i,{l
1-'r{
tft

if."'1I
I
r
(AWt e\
'\_l r/'{\-
l,*
-_M,__
I

i *J---"^
t
l-/\
.t-.-"--
y'* --q '"
-{?itB
i" f
\+----r ..'
Fal*-FFr"-r
{"t
\t!r,
I

Sprain adalah cedera pada ligamen (ligamentous sprain), terjadi karena stres
yang berlebihan.

Syrain adalah cedera pada olot (muscle strain), terjadi karena sties yang
berlebihan.
Pada kasus memar, sprain, serta strain, penatalaksanaan berupa RICE (rest, ice,
comp r e s sion, el eu ation).

Perlu diingat, bahwa cek pulsasi r. Rest: istirahatkan ekstremitas yang


dan warna setelah mengalami cedera. Pada umumnya jangan
mengaplikasikan bandage untuk melgb:lhi 48 ,pn. Begitu nyeri dan pembengkakan
sEl-ah mereda, ekstremitas harus kembali
memastikan tidak terlalu keras
perlahan-lahan digunakan.
dan tidak mengganggu 2. Icei es memiliki efek anti-inflamasi
vaskularisasi. dan antinye.i Es hglgg dibgtre*ggdalam kantong
plastik atau handuk atau elastic-barldaqe sebelum
ditempelkan ke bagian tubuh yang-tEtfera. Tempelkan selama makimal
zo menit setiao iam.
3. Compression:, kompresi dengan elastic-
bandage di atas balok es (atau f ika tidak ada, dapat langsung
kompresi). fangan terlalu kuat hingga menganggu aliran
darah.
4. Eleuation: elevasi ekstremitas di atas iantung,
ekstremitas dapat ditopang dengan bantal atau benda lain.
Setelah fase awal 48 jam pada umumnya dapat digunakan
air hangat unt;F- membantu penyembuhan dan
mengurangi ketegangan otot-otot.

96
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

i{*"{ + rm l- p E$ ;s ffi *{ i i l-r i ;; k fu ;; x a* s : ? m c * ks E

.e$'
{' r,"r it'i*i:2.=l.si:ti;t= :*a:ri?{Ii:r:*j.al

.. ....::r;,i\I .-*

'|
r. Informed consent dan cuci tangan.
2. Ambil spuit baru, buka, buang sisa udara.
3. Ambil ampul, patahkan ujung ampul.
4. Aspirasi obat, lalu buang sisa udara.
5. Gunakansarungtangan.
6. Tentukan lokasi penyuntikkan, disinfeksi dengan kapas alcohol, tunggu
hingga kering.
7. Dengan ibu jari dan telunjuk jari tangan non-dominan, regangkan
daerah tersebut.
8. Masukkan jarum 9oo dengan perlahan, aspirasi sebelum suntik -
pastikan tidak ada darah yang terhisap, lalu suntikkan secara ';erlahan
(jika terdapat darah terhisap, angkat spuit, lalu ganti dengan jarum
baru).
9. Tekan daerah bekas suntikkan dengan kapas alcohol, lepaskan, pastian
tidak ada perdarahan
Buang bekas suntikan pada tempat sampah medis.

F+sn$!Hi$ ti**r.ffi
{it* a,f/. if4 :iirga{
t:.::i:aj4 r:n:* i:),!nr i
ffiw:
,I {-- #.:
:

ir+ 9fite4ri] Sr$ t ,l


L.... "*d*..-ae , .,.
, **"--,--. '
G.llrt l1\a::i::;ii[Y t+ rt*t6q16162 s*1r - f i lj { :,#,
$r$ ifP r*---a
ftl : .! '. rryt .1 :r', iel .1 d' .
f
{,i@ii-,r.i.i\$il8
## tt:1i:-rs Bhi'f-]i3
= ir+ tit#"fj :,1$Ef g
-i.ir.+l! i.F, :jf+t {}Sn r*,*
&sr:=3@'F*3 ".:#{ ;F:i" +irP4tr:W . **,
""s.:.,,:e tf
:::?i i+:Lr ::trj4$ s::*::+ fu :_l=
';' lii{ rii$ r,,+ ,i$ltst:;ir ?/,fl*::+ ,,r,1,Xt
{t:.:ri,

l:,4-di*s

:lt Ss*$6S}{.q*# *it* 4


{ aa*ry*t pm*rti:d$*sh$:rsffi{k
,*+++r.. -.!S,__*i$#gl:r+
' r; $ i. ^ r( 4 lltiJ $EE*::. r i" 1,e rll ffir..: it$ *riE*i{,r:i:gg$+#4e +=*s. 4Ertrr:;g
Hd# r tt +i ia' 14#i iv. i /.? ef t + g\{n*.: q,&i+n'*{FE*+* :4.. . ..I
".1#- *rs Pt ,"rI ,' \ u' .a*dr. - tfril.

Beberapa lokasi injeksi intramuskular dan cara menentukan lokasinqa (BD, zotz)
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Keter*nx ilrilnxl i lrj*hsi sHhk{}ar:

Contoh aplikasi: injeksi insulin

l. Informed qonsent dan cuci tangan


2. Pastikan tprit yurg digunakan sesuai dengan jenis insulin'
). Ambil spuit baru, buka, buang sisa udara'
4. Aspirasi obat, buang sisa udara.
5. Gunakansarungtangan.
6. Tentukan lokasi penyuntikkan. Umumnya di abdomen, tidak di sekitar
umbilikus.Disinfeksidengankapasalcohol,tungsuhinggakering-
7. Dengan ibu jari dan telunjuk jaii tangan non-dominan, cubit kulit dan
jaringan lemak subkutan.
g. t turrlkkun jarum 45-go" ke daerah tersebut dengan perlahan, aspirasi
sebelum suntik - pastikan tidak ada darah yang terhisap, lalu suntikkan
secara perlahan.
g. *
Biarkan jarum tetap berada di lokasi selama 5 lo detik, baru angkat
jarum.
-B,.ru.rg
,o. bekas suntikkan pada tempat sampah medis'

ffi,:"n

Trnl=

lenis spuit insulin Aang tersedia


Kiri: insulin roo IJ /mL (tutup orange); Kanan: insulin 4o {.1 /mL (tutup merah).
Pastikan vial sediaan insulin memilikikonsentrasi Aang sama dengan spuit insulin'
Umumnga konsentrasi insulin adalah rco U/mL'

H*t-fer*mp.S*x-;r*.q)i $i.it; ]
Contoh aplikasi: skin-test untuk uii alergi, tes mantoux (tubetkulin) dan imunisasi
BCG

I. lnformed consent dan cuci tangan.


a Ambil spuit baru (I cc), buka, buang sisa udara.
). Aspirasibahan yang akan disuntukkan lalu buang sisa udara'
4. Menentukan lokasi penyuntikkan, disinfeksi dengan kapas alcohol
tunggu hingga kering.
5. O"ri[u" ibu jari danielunjuk jari tangan non-dominan, regangkan kulit.
6. Sunt]kkan jarum dengan arah nyaris parallel (maksimal I5o) dengan
permukaan kulit, se;'auh kurang lebih z mm. Pastikan posisi jarum
menghadap ke atas. Suntikkan bahan (tanpa perlu aspirasi). iika
i

I suntlkkan t"rur, akan timbul indurasi dan tidak mengeluarkan darah.


secara
|ika tidak timbul indurasi, kemungkinan Anda menyuntikkannya
N

subkutan.

98

I
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Aspek anterior lengan Dada bagian anterior Aspek posterior lengan


bawah atas
Beberapa lokasi injeksi intramuskular (BD, zorz)

ff *ar;::+ ff : $ B;lz m i *.e kx i fu *r<ti ;..: g;

Kasus yang sering muncul adalah vulnus laseratum (luka robek),


dan Anda
diminta untuk melakukan tindakan penjahitan luka sederh ana (simple interupted,
horizontal mattress, atau vertical mattress). Umumnya gunakan
benang yang non-
ab sorb able,seperti nilon.
Horizontal mattress

I. Informed consent.
2. Anamnesis luka (mekanisme luka), serta riwayat alergi obat sebelumnya.
3. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
4.
Y"::":i tangan, menggunaka., iururrg rangan steril.
Melakukan tindakal asepsis dan antisepsisllalu pasang duk.
5.
6. Anestesi infiltrasi lokal.
7. Dengan
needle holder, jarum o,5_r cm dari tepi luka,
_tusukkan
tembuskan jarum. Ambil dengan pinset, ralu tuiukkan di iepi ,"t"rurg.
8. Tusukkan kembalijarum di permukaan dalam
yung r"irfuii"-frrU,
jarum, lalu ambil dengan pisnet, serta tusukku.,
ii tJpi,"U"ru"g.
9. Buat simpul bedah.
IO. Pembeian ATS dan TT, analgetik, antibiotik.
II. Edukasi kepada pasien kapan kontrol dan cara membersihkan
luka.

Vertical mattress

r. Informed consent.
2. Anamnesis luka (mekanisme luka), serta riwayat alergi
obat sebelumnya.
). Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
4. Mencuci tangan, menggunaku.r.u*.rg tangan steril.
5. Melakukan tindakan asepsis dan antisepsis, lalu pasang
duk.
6. Anesresi infiltrasi lokal.
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

7.
' Dengan needle holder, tusukkan jarum r cm dari tepi luka, tembuskan
jaruir. Ambil dengan pinset,lalu tusukkan di tepi seberang'
g. Tusukkan kembfi iaium di sisi yang sama dengan titik keluar tadi,
berjarak amm dari tepi luka, lalu ambil jarum dan pindahkan ke sisi
tepisebelahnya, juga berjarak 5 mm dari tepi luka'
g. Buat simpul bedah.
io. Pembeiu" etS dan TT, analgetik, antibiotik'
rr. Edukasi kepada pasien kapan kontrol dan cara membersihkan luka.

i'{. s s ts s fll? ffi -ti k "G


* # ;. k * $ +.'t m t fl'* * ffi - 6 n &
=s
g'il . &

tl:, t'1":r-*q:ri

dan
Tanyakan onset, lokasi (terutama bedakan sendi kecil vs sendi besar,
jumiah sendi apakah tunggal atau multipel), durasi, severiras, faktor yang

memperberat nyeri, faktor yang meringankan nyeri' Apakah nyeri


disertai
keluhan
bengkak, edema, kemerahan' maupun hangat pada perabaan' Cari
,*r- seperti demam, keringat malam, malaise, serta penurunan berat badan.
Tanyakan riwayat trauma sebelumnya'
l+ .t
*1
tri.qfi .irt il r;;l.ii i r.tla

. Keadaan umum, termasuk gait (cara berjalan) dan postur


. Tanda vital
. PF umum
' PF lokal berupa LOOK, FEEL, MOVE sendi
o
LOOK: simetris, bengkak, Posisi
o FE4lthangat/dingin, benjolan, pulsasi, nyeri tekan
o MOVE: paiif lgerakkan sgndi pasien) dan aktif (minta pasien
mengerakkan)

l:;:,u* i*r*ltal *fu + t.*.fo*til* -s.3 11'5kld-{}-lhelii's$.}.

Kondisi Rekomendasi P-dru Keteransan tambahan


Osteoartritis Parasetamol 3x5oo mg Tatalaksana simPton latik
Ibuprofen lx4oo mg iika tidak membaik dengan
rasetamol
Artritis gout Allopurinol zxroo mg f;er:g** [:*ri]r** i:Ii*lp*r'i*e:,1 ra;x
s*I:,iirl$;isl ilk:.;.j. Saat serangan akut
berikan NSAID

H*t*fus* k**ss*

Identitas Perempuan r 6z tahttrr Laki-laki,5o tahun Perempuan,lz tahlun


Nyeri di kedua lutut Nyeri mendadak di Kaku di sendi-sendi
dan
keluhan sejak z tahun yang ibu jari kaki kiri seiak kecil kedua tangan
lalu, makin memberat. r hari yang lalu saat seiak 3 bl yang lalu.-
utama
Sangat sulit untuk sedang istirahat Kaku pada pagi,
berjalan karena malam. Nyeri sekitar z iam baru,
semakin memberat bertambah berat jika menghilang. Belum

100
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

jika dipakai berjalan. mencoba pernah diobati.


Nyeri membaik jika mengerakkan, sedikit
beristirahat/duduk. berkurang saat
Belum pergah diobati. istirahat.
Keluhan Kaku sendi kedua lutut Tidak ada Nyeri hilang-timbul
lain (+), terutama saat pada sendi tersebut,
bangun tidur, kaku dan cenderung
selama 3o" berkurang jika sendi
digerakkan. Demam
tidak tinggi sejak z
tahun lalu.
Riwayat Trauma disangkal Trauma disangkal Trauma disangkal
lain Pernah serangan Riwayat serupa pada
serupa 6 bulan yang ibu pasien (+)
lalu, sembuh sendiri
Temuan IMT 3r,3 kg/m' MTPI sinistra edema, Boutonniere dan swan-
pada PF Tidak hiperemis, hiperemis. Sendi yang neck deformity pada
bengkak sendi lain dalam batas MCP dan PIP. Sendi
minimal. Krepitasi normal. tidak hiperemis
pada articulatio genu maupun ey'ema. Yang
bilateral. Gait lain dalam batas
terganggu. Sendi yang normal.
lain dalam batas
normal.
Dx dan dx Osteoartritis genu Artritis gout Rheumatoid artritis
banding bilateral dd/ osteoartritis dd/ lupus eri.tematostts
dd/ rheumatoid artitis dd/,artritis septik sistemik
dd/ artritis septik dd/ monoartropati akut
Tindak DPL DPL DPL
lanjut LED Aspirasi cairan sendi LED,
Foto polos genu Kadar asam.urat CR,P
bilateral Rheumatoid factor (RF)
ANA
Foto polos sendi
Tatalaksana Parasetamol NSAID atau kolkisin Prednison a 7<S"g
Edukasi penurunan BB saat serangan akut Rujukke Sp.PD
Allopurinol di luar
serangan akut

rt\trisrn dwctt I a-x-gx-.t lry [rr'@o,s"g)


OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Gastrointestinal

t
|angan lupa untuk beri tanda cek (r)
Kasus yang sering ditemui

Pendekatan klinis kasus gastrointestinal


Keterampilan khusus: pemasangan pipa nasogastrik (NGT)
Keterampilan khusus: interpretasi foto polos abdomen
Farmakoterapi kasus gastrointestinal
Simulasi kasus

I. Dispepsia(gastritis) 2
2. Infestasi paiasit gastrointestinal 3 .ielor , 6l1,y,1
). Diare akut I

4. lkterus (contoh: hepatitis akut) 45irosiS luprh5

Secara garis besar, penyelesaian kasus klinis gastrointestinal dapat dimulai dari
pendekatan organ, yang dapat dibagi menjadi gaster, usus, dan ekstraintestinal
(hepar dan kandung empedu). Pendekatan lain yang dapat dilakukan ialah
dengan pendekatan gejala, seperti tampak pada tabel di bawah ini.

Temuan awal Anamnesis khas Kemungkinan diagnosis


Nyeri perut Sejak kapan nyeri dirasakan? Sindrom dispepsia
(bedakan akut dan kronik) . Ulkus peptik
Karakteristik nyeri? Lokasi nyeri GERD
dan penjalarannya?
Apakah terus menerus dtau hilang Sindrom dispepsia Iebih
timbul (kolik), apakah tajam tepat dibandingkan
(somatik) atau tut'npul (viseral). dengan gastritis karena
Nyeri di ulu hati dapat disebabkan diagnosis ditegakkan
oleh berbagai organ, mulai dari melalui pendekatan
kardiak, pleura, gaster, pankreas, ej ala.
sistem hepatobilier.
Penjalaran dan karakteristik'nyeri
dapat memperkirakan organ yang
terlibat
Faktor-faktor yang rnemperberati
memperingan keluhan?
Apakah ada tanda-tanda bahaya?
Apakah disertai dengan penurunan
berat badan, muntah terus
menerus, nyeri/kesulitan menelan,
muntah/BAB darah, kuning, tumor
yang teraba di perut?
Apakah ada riwhyat keluarga yang
menderita keganasan saluran
cerna?

102
RT --rS+
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE
- muKoss
- 'ho bilr, I padc
Apakah ada riwayat operasi
- - 0l^nputa rVcfi
lambung sebelumnya?
Bila ada tanda bahaya, lebih Lualoto Ma(^)
dicurigai ke arah keganasan
Aphkah ada gejala lainnya?
- 0rD\|41
Apakah ada demam, malaise, mual, - dr r'drt', prusla1
muntah, gangguan BAB?-
Sejak kapan diare berlangsung? Diare akut (sertakan Mna
Bedakan akut dan kronik tingkat dehidrasi) ec: dctral^
Kasus diare Karakteristik diare? infeksi rotavirus, bakteri, lf)
pada ujian Volume diare- : untuk jamur, dan lain-lain
biasanya memperkirakan banyaknya cairan Disentri.
terjadi pada yang hilang Demam tifoid .

anak. Untuk Warna, adanya lendir, darah, bau


kasus diare, busuk untuk memperkirakan
terutama pada etiologi diare
anak, Apakah ada gejala-gejala Penentuan tanda dehidrasi
anamnesls tambahan? padaanak(WHO):
Demam : penanda infeksi
,uga harus Mual, muntah, kehilangan nafsu Tanpa dehidrasi: tidak ada
meliputi
penentuan makan : dapat menyebabkan tanda dehidrasi di bawah ini
status diare kehilangan cairan lebih banyak
dan etiologi Perut kembung Dehidrasi ringan/sedang:
diare tersebut Apakah ada tanda-tanda dehidrasi? rewel, mata cekung, minum
Apakah pasien cenderung tertidur? lahap, cubitan kembali
Apakah ada kejang? (penanda lambat (minimal z tanda)
dehidrasiberat)
Apakah pasien rewel? Apakah Dehidrasi berat:
pasien masih mau minum? Letargis/tidak sadar, mata
(penanda dehidrasi ringan-sedang) cekung, tiak bisa
Apakah saat menangis, pasien minum/malas minum,
mengeluarkan air mata? Kapan cubitan sangat lambat
terakhir BAK? Bagaimana (minimal z tanda)
warnanya? (penanda banyaknya
cairan yang hilang)
Apakah ada faktor-faktor lain yang
berhubungan?
Makanan yang dikonsumsi?
Apa sedang mengkonsumsi obat-
obat (antibiotik) tertentu?
Untuk pasien anak, jangan lupa
menanyakan riwayat
kehamilan/kelahiran, riwayat
tumbuh kembang, riwayat
imunisasi, dan makanan
Kuning Sejak kapan kuning terjadi? Hepatitis (A/B/C)
Bedakan akut dan kronik Leptospirosis
Apakah ada gejala-gejala Sirosis hepatis
tambahan? Gangguan sistem bilier
Demam (kolangitis, koledokolitiasis)
Mual, muntah
BAK seperti teh
BAB dempul
Asites
Nyeri kepala
Nyeri perut

103
r
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Nyeri otot
Penurunan kesadaran
Penurunan berat badan
Lainnya
Alakah ada riwayat tertentu?
Jajan sembarangan
Terpapar urin hewan
Berisiko terinfeksi hepatitis B atau
hepatitis C: pengguna narkoba
suntik, riwayat promiskuitas
Riwayat konsumsi alkohol

fl ;* $ rsrm k{}'**1"* * * k m s * * ## $*t'a { ffi tss? I ffi ffi {

Tuiuan
Dispepsia Antasida SxtVz jarn ac
Ranitidin I50 mg 2XlI I
GERD Omeprazole 20 mg lxl (zo mg)
Antiemetik Domperidon Io mg lxI
Antidiare Atapulgite z tab setiap BAB
Oralit r sachet untuk zoo ml air
Zinc (untuk kasus Syrup ro mgl5 ml ATAU <6 bulan: I x Io mg untuk ro hari
diare pada anak) Tablet 20 mg, >6 bulan: I x 20 mg untuk to hari
Antibiotik Siprofloksasin 5oo mg zxr (5oo mg)
Kloramfenikol 5oo mg 4xI
Kotrimoksazol (4oo/8o) mg 2x2
Henatoprotektor Curcumin lxr

Perhitungan kebutuhan cairan pada kasus diare'akut pada anak-anak:

Nilai dehidrasi pada anak, tentukan masuk ke dalam kategori mana (A, B, atau
C) menurut WHO. Di bawah ini adalah rangkuman penatalaksanaan cairan
awal untuk anak dengan diare:

Rencana Kategori A Oralit, setiap kali BAB


berikan:
(diare akut tanpa
dehidrasi) <z tahun:5o - too mL
>z tahun: roo - zoo mL
Rencana Kategori B Oralit, sebanyak 75 ml/kgBB Contoh: z tahun BB tz kg
dalamwaktu ) jam.
(diare akut = 9oo ml dalam waktu 3 jam
(3oo ml/jam)
dehidrasi ringan- Atau gunakan tabel di bawah
sedang) untuk kebutuhan cairan dalam 3
jam:
/2
?s-
rD
b

104
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

400 700 900 r4oo


ml ml ml ml

Rencana Kategori C Cairan IV, seperti RL (atau NaCl) Contoh: 16 bulan ro kg


(diare aku! Bayi <Iz bulan: 3o ml/kg r jam, = 1,oo ml dalam 3o menit,
dehidrasi berat) dilanjutkan 7o ml/kg dalam 5 dilanjutkan 7oo ml dalam 2,5
jam IV RL
iam
Anak >r tahun: 3o ml/kg dalam
3o menit, dilanjutkan 7o ml/kg
dalam 2,5 jam

Secara ringkas penatalaksanaan diare akut pada anak adalah menggunakan


prinsip: rehidrasi, zinc, teruskan makan-minum/ASI, antibiotik selektif, dan
.,l'.,-

edukasi.

ffi *9*rm rar pE tx m fu * * x s kfu


$ +"s si* s ; p*m"es* * Sffi ffi N *?
Indikasi
I. Bilas lambung
2. Mencegah aspirasi
). Pemberian nutrisi
4. Dekompresi gastrointestinal (pada ileus atau pasca-operasi)
Kontraindikasi
Kecurigaan fraktur basis cranii

Komplikasi
I. False route (masuk ke trakea) "'
2. Insersi gagal
). Selang menggulung di nasofaring
4.
Perdarahan
Langkah-langkah
I. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
2. Ukur panjang selang yang dibutuhkan (ukur jarak dari ujung lubang
hidung ke telinga ditambah jarak dari lubang hidung ke processus
xiphoideus). Beri tanda.
). Lumuri selang nasogastrik dengan air atau pelumas sepanjang lebih
kurang 15 sentimeter.
4. Masukkan selang nasogastrik dengan perlahan-lahan. Dorong ke arah
oksipital.
5. Bila perlu minta pasien untuk minum air (menelan). Berhenti
melakukan insersi bila pasien batuk. Kemudian lanjutkan kembali
insersi.
Bila panjang selang nasogastrik yang dibutuhkan sudah tercapai,
periksa apakah selang nasogastrik sudah berada di lambung. Lakukan
pemeriksaan dengan meniupkan udara menggunakan spuit Io cc,
dengarkan suara di lambung (akan terdengar suara "plop")
7. Bila ujung selang nasogastrik tidak berada di lambung, tarik selang dan
ulangi prosedur.
8. Fiksasi selang nasogastrik pada hidung dan sisi wajah
9. Ujung pipa ditutup bila tidak digunakan.
ro. Cuci tangan

105
SURVIVAL

ffi xtl*rmxt g.:$ I **


kE *'t i s'$.fu xsus s : r*fr *,n+rsBm st $*t* p* $*s * fu *{mm*at
E 1

t
Radiografi konvensional abdomen yang sering dilakukan adalah foto BNO/foto
polos abdomen, foto abdomen 3 posisi (posisi supine, erect. dan lateral
decubitus untuk menilai kegawatan abdomen seperti ileus atau peritonitis), dan
pemeriksaan BNO IVP untuk menilai patensi fungsi ekskresi traktus urinarius.

Urutan pembacaan foto BNO / foto polos abdomen:

@ontur - ada/tida ginirl - distribusi udara usus


penebabalan/dilatasi dinding usus - adaltidak udara bebas ekstralumen
ada/tidak bayangan batu radioopak sepaniang traktus urinarius - tulan
dan jaringan lunak

Yang harus diidentifi kasi:

1, {*,yx }; * LL1* i1 $ * ilili,6,1-l"t* gq5:;rrg k 11 l#.t i, *}x*


Distribusi udara usus tidak mencapai distal dan terdapat dilatasi segmen usus
dengan penebalan dinding usus ) gambaran ileus

Distribusi udara usus mencapai distal atau tidak


Ada atau tidaknya dilatasi maupun penebalan dinding-dinding usus
Massa fekal intraluminal usus prominen atau tidak

r';tr l a j 1i e lsfu tr 3:+ iid i:! ri,], fu qi: + t. -11 .t *Ll$;.r -c.$

Udara bebas ekstralumen menggambarkan adanya keadaan


1

pneumoperitoneum/perforasi organ. Gambaran udara bebas ini paling mudahl


dievaluasi di subdiafragma kanan, karena di subdiafragma kiri secara normalf
terdapat udara gaster sehingga menyulitkan identifikasi udara bebas. I

l/\
ln- \
\l \\
[ilr,',,J^Ln u traktus urinarius,
lJr..,/1,i" s, yaitu di proyeksi
L-)
Harus berhati-hati jika menemukan kalsifikasi bulat kecil-kecil di rongga pelvis
minor, kemungkinan itu adalah suatu phlebolith (kalsifikasi Vena yang
terpotong orthograd), bukan merupakan batu buli. Cara membedakannya
adalah pada phlebolith terdapat double layer dimana area sentralnya tampak
lebih lusen dibanding area sekitarnya yang lebih opak (bayangkan aliran darah
yang dikelilingi oleh pembuluh darah yang berkalsifikasi)

*"&{$ssai}:--qic.struijr::l j-}.}l*.-+lsilLx.+h

Hanya memberikan. infotmasi terbatas, misalnya pembesaran organ abdomen


atas yang-mendorong diafragma ke atas menggambarkan massa hepar misalnya
hepatoma, jika terdapat gambaran batu di traktur urinarius, dilihat kontur

106

t"
)SCE: PADI SURVIVAL STYLE

ginjal unilateral, biasanya akan terlihat lebih beqar dibandingkan ginjal


kontra66refa,yangmenggam\arkansuatrhidJoffi -*is.
iika terdapat kesuraman di preperitoneal fat line (batas antara jaringan iemak
preperitonealdenganiarimnya)dapatdictriigaisuatu
peritonitis.

fika kontur psoas line tidak tegas dan asimetris dapat dicurigai suatu.massa /
infeksi di rongga retroperitoneal.
ffi
Y
Pada gambaran asites dijumpai kesuraman di seluruh rongga abdomen, psoas tt\^
line dan kcintur ginial sulit dievaluasi hamun biasanya preperitoeal fat line
masih baik dan simetris. Asites dapat mendorong usus-usus ke sentral, sehingga
gambaran distribusi udara usus terpusat di area
sentral.

{k-r*tl;i: ki*lrrs
: Dispepsia
Radiografi BNO AP:
a Preperitoneal fat line kanan kiri baik. -
a Psoas line tegas, simetris.
o Kontur kedua ginjal kesan baik.
o Distribusi udara usus mencapai distal.
a Tidak tampak dilatasi/penebalan
dinding-dinding usus..
o Tidak tampak udara bebas ekstralumen.
a Tidak tampak bayangan batu
radioopak sepanjang proyeksi traktus
urinarius.
. Tulang-tulang dan jaringan lunak kesan baik.
Kesan:
a Tak tamp ak tanda-tanda ileus maupun udara bebas ekstralumen. -
o Tak tamp ak bayangan batu radioopak di sepanjAng traktus urinarius.,

t-._
.]
ililU
!;.tt

Kli nis Peru t kem bung, tidak BAB sejak z hari


ilv

107
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Radiografi abdomen 3 posisi:

. Preperitoneal fat line kanan kiri baik.


. Psoas Iine dan kontur kedua ginjal tertutup bayangan prominent udara
USUS.
. Distribusi udara usus tidak mencapai distal.
. Tampak dilatasi dan penebalan dinding sebagian segmen usus halus
dengan gambaran multipel air fluid level.
. Tidak tampak udara bebas ekstralumen.
. Tidak tampak bayangan batu radioopak sepanjang proyeksi traktus
urinarius.
a Tulang-tulang dan jaringan lunak kesan baik.
Kesan:
o Gambaran small bowel obstruction / Gambaran ileus obstruktif letak
tinggi.
. Tidak tampak udara bebas ekstralumen.

St:ffiqi$ms* kmsa.Bs

Seorang anak berusia 16 bulan dibawa oleh ibunya ke Anda dengan keluhan mencret sejak z hari
yang lalu.

r. Lakukan anamnesis pada pasien


2. Lakukan pemeriksaan fisis pada pasien
1. Tentukan diagnosis yang paling tepat untuk kasus ini.
, Tentukan tata laksana yans tepat untuk pasien ini,

108

t
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Cek Tu awaban
Dokter memperkenalkan diri
Menanyakan nama palien dan umur An. Desi, r5 bulan
Ien
Keluhan utama BAB mencret seiak z hari lalu
Frekuensi 6-8 kali sehari, hari ini sudah 4 kali dari

Is.araKterrstrl( trnra Cair, tidak berbau, ampas sedikit, tidak ada


Iendir, tidak berbau asam

Cairan putih kekun

Gelisah / rewel Ya
Makan/minum Ya, masih n makan/minum
Lemas Ya
air kecil terakhir e iam lalu, iumlah masih sama rti biasa
Riwayat penggunaan obat-obatan Tidak ada
sebelumnya
Apa yang sudah dilakukan ibu Memberi ASI lebih sering, belum
memberikan obat-obatan
Berat badan terakhir sebelum sakit
Riwayat penyakit sebelumnya Riwayat opname tidak ada, riwayat diare
tidak ada
kit kelu Tidak ada ifikan
Riwayat tumbuh ke Sesuai de usla
Riwayat makan Sebelum sakit, makan makanan keluarga 3
kali sghari, masih minum ASI
Melakukan rangkuman dan transisi
ke pemeriksaan fisik
Mencuci tangan sebelum melakukan
PF
Menilai status generalis, tef-aflrk gB Coapos mentis, tampak sakit sedang -
dan TB dan tanda vital I4o-x/fi eniti..regulei, isi cukup; frekuensi"adi
napas 4ox/menit, Lratur, dalam, suhu
badin :
38,5"A'
BB saat ini: ro
Melakukan PF yang relevan dengan Mata cekung, mukosa mulut dan bibii
lege artis basah, cubitan pada kulit/turgor kembali
lambat

PF lain dalam batas normal


Mencuci tangan setelah melakukan
PF
Menentukan diagnosis dan diagnosit
hpdirg . -. - Ii,gi.r-seqarff
ud" pemantauin dilakukan di klinik
pasien Diberikan oralit sebanyakT5o ml dalam 1
)am
Pemberian zinc r x zo mg PO
Pemberian antipiretik:

109
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

rzo ml (r sdt
Melakukan edukasi kepada pasien Edukasi cara pemberian oralit, pemberian
cairan tambahan, pemantauan kondisi anak
iika teriadi perburukan.
Menanyakan apa yang ingin
ditanyakan pasien

Anak perempuan, 5 Laki-laki,35 tahun Laki-laki,3o tahun


Identitas tahun Mata tampak kuning Demam disertai nyeri
dan keluhan Berat tidak naik disertai mual muntah otot dan mata kuning
utama padahal nafsu makan sejak I minggu yang
baik. Tubuh tampak lalu.
kecil.
Keluhan lain Perut kembung dan Awalnya demam tinggi Nyeri kepala, nyeri
begah. Ada diare hilang namun sekarang perut, badan terasa
timbul. Kadang ada demam sudah mulai lemah, tidak nafsu
nyeri perut hilang menurun. BAK warna makan, mual, muntah
timbul. kuning gelap. BAB
dempul (-).
Riwayat lain Di sekitar rumah Riwayat bekerja Riwayat kebanjiran to
banyak anak tetangga sebagai supir bis hari yang lalu
yang cacingan. malam, promiskuitas
(r), transfuse darah (-),
alkohol (-), narkoba
suntik (+)
Temuan Tampak distensi Sklera ikterik +l+, Keadaan umum
pada PF dan abdomen hepar teraba membesar tampak sakit sedang,
pemeriksaan dengein tepi tajam dan suhu tubuh meningkat
penunjang Ditemukan telur cacing konsistensi lunak, nyeri
dalam feses pasien tekan pada kuadran Pemeiiksaan I fisik
hipokondrium dekstra generalis pada kasus
leptospirosis umumnya
Bilirubin total 2,5, direk dalam batas normal,
Ikterik, gangguan fungsi
o,9, indirek r,6 mg/dl hati dan ginjal
SGOT 6o UlL, SGPT ditemukan pada kasus
r5o u/L leptospirosis lanjut
(sindrom Weil)
IgM anti HAV RNA
anti HCV (-) Pemeriksaan penuniang
yang harus dilakukan:
HBsAg (+), ISM anti Laboratorium: Hb,
HBc (+), HBeAg (+) leukosit, trombosit,
eritrosit, hitung jenis,
LED, bilirubin,
SGOT/SCPT, ureum,
kreatinin, elektrolit,
kultur, PCR, uii
serologis:: MAT ,' d-an
ELISA/SAT.
Pemeriksaan terkait
malaria, tifoid, dan
hepatitis untuk
m en yi n gkirkan
diasnssis bandin

110
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Radiologis: rontgen
toraks dan EKG.
Dx dan dx Ascariasis Leptospirosis
banding dd/malnutrisi dd/ malaria, demam
dd/malabsorpsi tifoid, hepatitis viral,
demam dengue
Tatalaksana Farmakologi (Bersifat suportif- Manifestasi ringan
Albendazole 4oo mg simtomatis) Oral: Doksisiklin zxtoo
PO dosis tunggal mg ATAU amoksisilin
Non-farmakologi Tirah baring (pasien 4x5oo mg ATAU
faga kebersihan dirawat inap) ampisilin 4x5oo mg
Diet seimbang DAN terapi suportif
)angan lupa untuk Parasetamol bila
mengeliminasi demam 3xI (5oo mg) Manifestasi berat
penyebab kasus berat Hepatoprotektor 3xt IV: benzil penisilin 6
badan tidak naik pada
anak Iainnya, yaitu Ondansentron ,'uta unit ATAU
intake yang kurang, muntah IxI amp ampisilin 4xI g ATAU
peningkatan sefalosporin generasi
pengeluaran nutrisi ketiga misalnya
(muntah, diare), dan sefotaksim 3xt g
peningkatan
metabolisme (infeksi,
hipertiroid). Jangan
lupa pula untuk
menyingkirkan penyakit
jantung bawaan dan
diagnosis banding
lainnya. Oleh karena
itu, penting pada kasus
anak untuk melengkapi
status nutrisi, tumbuh
kembang, kehamilan
dan persalinan, serta
i munisasi.

111
7
trd v',
Na'viq
.ti fu RIL
'
lLu F( OSCE: PADI SURVIVAL STYLE S,.1ovat \agat bo.^d,.lrlTf),il
dtl^.tl
&e.t4k ,t bla ' z *lrt 'rgu
31y
xesprrasr
h..r le(t otl-ir-
5c+"\'a,,t5 gttA
Saat it\\p trat\/
,t. ... \ --1, *'*:{rBte
tbk*{{{r - &r
--1rqVw,
Iangan lupa untuk beri tanda cek (r)
-'wizaio(h nt r'n t lndo, " [\ao\rrwafia!.
- o,"ovya ?\orgasi I larV.
Kasus yang sering ditemur - lu, lgzsct, r aw Jav l*-V
Pendekatan klinis kasus respirasi Rad t ) tvgn 7aw / TIY
Pemeriksaan fisik sistem respirasi v asl,,r,l r ?u1,v\r 2b
- cr) aL,etn b\rn l^,,, @
y

Keterampilan klinis khusus: interpretasi foto toraks - #E-a fralLe,,.


Simulasi kasus - lt y ttl I c avi]ur, rarr.1 ld,wnt )-

Fimsacs F***)ff $*v*1.,# #*'fi*txui


I. Asma ->,
2. PPOK
j. Pneumonia
4. Tuberkulosis paru -r
Fc*,ra*s*{afs+er fuf $m{g a*gxg fl$ffiig#$#tr*
" ";ir-

Temuan awal yang sering ditemukan pada kasus respirologi adalah sesak napas
dan batuk. Cukup banyak diagnosis yang dapat dipikirkan, namun satu hal yang
cukup penting adalah membedakan apakah penyebabnya infeksi atau non-
infeksi.

Temuan awal Pendekatan klinis Diagnosis


Batuk berdahak . Sejak kapan batuk dikeluhkan pasien? Tuberkulosis paru
lama ' Karakteristik batuk (berdzihak/tidak dd/ pneumonia
dan karakteristik dahak) dd/ bronkitis
Menanyakan keluhan penyerta:
o Demam
o Penurunan berat badan
o Penurunann nafsu makan
o Keringat malam
o Riwayat kontak

: Iiffiii
'
sebelumnya
*
Riwayat peirgobatan
u*rii,r."''*Ii,

' Riwayat sosial, termasuk tempat


tinggal
Sesak napas . Sejak kapan pasien mengalami sesak Asma bronkial
kambuhan . Seberapa sering sesak kambuh dd/ PPOK
. Pencetus sesak
dd/ Sindrom obstruksi
. oasca-tuberkulosis
I
Kapan sesak napas muncul? Kapan
sesak membaik?
. Adakah bunyi mengi? Adakah

112
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE
I C.l

riwayat atopi di pasien dan keluarga?


Apakah pasien merokok? Bila iya, 1,
berapa bungkus per hari dan sejak 6
kapan? Adakah saat ini mengalami
infeRsi saluran pernapasan atas
(batuk dan pilek)?
Adakah DOE? PND? OP? Adakah
riwayat kelainan jantung?
Berapa kali dalam seminggu pasien
mengalami sesak napas?
Apakah terdapat gangguan dalam
beraktivitas fisik?
a Riwayat keluhan dalam keluarga
a Riwayat penyakit serupa dalam
keluarga
Riwayat pekeriaan dan kebiasaan

$)*,*+y$fi.n : *oro si,, IE",d^ ..,4 ft e;


".'*ffi- I t*: :J.f"*efi
qJtEfEdE

Periksa apakah terdapat napas cuping hidung, serak, mengi, stridor.

Inspeksi: massa, ginekomastia, retraksi m. Lakukan inspeksi, palpasi,


interkostalis, penyempitan/pelebaran sela igu, perkusi, dan auskultasi pula
frekuensi, sifat napas, irama, simetris statis dinamis, untuk dada bagian belakang
bentuk dada, abnormalitas tulang belakang (punggung).
Palpasi: umum, ekspansi, fremitus vokal.

Perkusi: dari apeks, bandingkan kiri kanan secara sistematis. Perkusi pula batas
paru-hati, paru-lambung
Auskultasi: dari atas ke bawah, bandingkan kanan dan kiri. Bunyi napas primer
dan bunyi napas tambahan dapat tersedia.

ffi mrmrumk*pt*vsp* kmsws fl*sp*r*,*#i


Tuiuan Rekomendasi Obat
Bronkodilatator Salbutamol 1x 4 mg per oral
Kortikosteroid Deksametason lxo,Smg
Mukolitik Ambroxol I x 30 mg per oral
Antibiotik Amoksisilin 1,x 5OO mg per oral
Amoksiklav 1x625 mg per oral
Siprofloksasin 2x5oomg
Bronkodilatator Salbutamol 7x 4rng, per oral
OAT (ObatAnti- Paket RHZE Dewasa )o-17kg:txztablet
tuberkulosis) (FDC Dewasa) )8-54kg:rx3tablet
Fase intensif: zRHZE 55-70kg:rx4tablet
Fase laniutan: + RH >7o kg: I x 5 tablet

B/ - e - ",* "-. - 9$ - "- *"*9*:* j"*s""","- "" - e* -11 edErdq


ff * a -, *da+Eri*{$
.-
Be,4$F{SiLi*t'}.sg1**ts*'\
gqGS6, Etr*Sx*** E.S*""*."*"
mSEffi#W#e Il8*qs }'SEifiiIflgtsef svBw {ve -*w{
5
ffi*rSgd3SffifiE mfie*Sn# BdE 66##*

Foto toraks dibaca dengan urutan:

113
7

OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

fantung- aorta- mediastinum- trakea- hilus- paru- diafragma -sinus


kostofrenikus- tulang dan iaringan lunak - alat tambahan

|antung:
Ukuran tidak merlbesar (cardiothoracic ratio foto PA <5oo/o,foto AP <6o0/o).lika
membeSar diidentifikasi bagian jantung mana yang membesar dengan ciri khas
masing-masing (ventrikel kiri:.apeks tertanam, ventrikel kanan: apeks terangkat,
atrium kanan: pembesaran jantung kanan, atrium kiri: double contour)
Aorta:
Dilihat tanda-tanda degenerasi dan atherosclerosis (aorta elongasi, kalsifikasi,
dilatasi)

Mediastinum;
Disebutkan bila ada pelebaran mediastinum superior baik sisi kiri, kanan,
maupun keduanya, disebutkan juga bila ada pendorongan/stenosis trakea
akibat pelebaran mediastinum. Yang sering menyebabkan pelebaran
m e diastinu-, lrrgfad g lgpgti, stlxll3 inll4gln\al, timg ma
Trakea:
Dalam kondisi normal posisi trakea seharusnya di garis tengah, jika ada
pendorongan oleh atau p=eng4lqn 3l<rbqlslleleqxksis
@
paru maka trakea akan terdeviasi.

Hilus paru terdiri dari pembuluh darah (terutama arteri pulmgl4is), KGB, dan
b.-q$gr i.{ormalnya libar masing-*urirrg t itr. tiaut ffif"r'u, d*i l"bu,
trakea. |ika ada kesuraman di daerah hilus, dicurigai adanya patologi dari salah
satu komponen hilus tersebut, misalnya limfadenopati, massa bronkus, atau
yang tersering adalah arteri pulmonaliq.yalg_+rorninent akibat hipertensi
pulmgral atau edema paru.
Paru:

Dideskripsika! berbagai kelainan yang bisa ditemukan pada paru : infi-l,trat,


nodul, kavitas, bullae, abses, fibrosis, kalsifikasi, konsolidasi, ateletaksis,
emfisema, massa.

Diperhatikan pula komponen pleura, jika terdapat area lusensi yang avascular
berarti ada pneumotoraks, jika area lusensi tersebut disertai dengan air fluid
level berarti ada hidropneumotoraks, bila ada penebalan pleura dapat dicurigai
suatu pleuritis.

Diafragma:
Normalnya diafragma kanan terletak lebih tinggi dari diafragma kiri dan
perbedaan antara diafragma kanan dan kiri tidak lebih dari z korpus vertebra.
)ika lebih dari itu maka dikatakan salah satu diafragma letak tinggi. Penyebab
tersering dari diafragma letak tinggi adalah adanya proses subdiafragma seperti
asites atau massa hepar yang mendorong diafragma kanan ke kranial. Dibawah

114
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

diafragma kanan dapat pula ditemukan gambaran ,duru bebas


(pneumoperitoneum)

Sinus kostofrenikus :

Normalnya keduar sinus kostofrenikus adalah lancip. Jika tumpul dengan


gambaran meniscus sign maka terdapat efusi pleura. lika sinus kostofrenikus
tumpul disertai dengan infiltrate di paru sekitarnya, dapat dicurigai suatu
pleuropneumonia.
Tulang dan jaringan lunak:
Diperhatikan pula struktur tulang dan jaringan lunak sekitar, jika terdapat
kelainan dapat dideskripsikan. Misalnya jika tampak fraktur tulang costae atau
clavicula, scoliosis vertebra thorakalis atau bila ada kalsifikasi jaringan lunak di
proyeksi mammae, atau penebalan jaringan lunak di regio colli.

.{i:-l-:.i*-b-Sasrrs:
Klinis: Normal
Foto toraks proyeksi PA:

|antung besar dan bentuk dalam batas normal.,


CTR <5o%.
Aorta dan mediastinum superior tidak melebar.
Trachea di tengah.

Kedua hilus tidak menebal.

Corakan bronkovaskular kedua paru baik.

Tidak tampak infiltrate/nodul pada kedua paru.


Lengkung diafragma licin dan kedua sinus
kostofrenikus lancip.
Tulang dan jaringan lunak kesan baik.
Kesan: Jantung dan paru dalam batas normal

Lqlr3gli"gatu.;
Klinis : Korban kecelakaan, ada jejas di daerah dada, tampak sangat sesak
Foto toraks proyeksi AP :

fantung tampak terdorong ke sisi kiri. Ukuran


kesan tidak membesar.

Aorta sulit dievaluasi.


Tampak pendorongan trakea dan struktur
mediastinum ke sisi kiri.

115
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Hilus kiri tidak menebal, hilus kanan sulit dievaluasi.


Tampak area lusensi avaskular yang memenuhi seluruh hemidiafragma kanan,
menyebabkan pendorongan trakea, iantung, dan struktur mediastinum ke sisi
kiri. I
Diafragma kanan scalloping, diafragma kiri licin. Kedua sinus kostofrenikus
kesan lancip.

Tulang - tulang tampak intak.


Kesan :
Pneumotoraks kanan yang menyebabkan pendorongan trakea,
iantung, dan struktur mediastinum ke sisi kiri.

.{.'.r* ltii S{+lut -:

Klinis: batuk, sesak


Foto toraks proyeksi PA:

Batas jantung kiri tertutup bayangan perselubungan. |antung kesan tidak


membesar.

Aorta dan mediastinum superior tidak melebar.


Trachea di tengah.
Kedua hilus tidak menebal.

Tampak perselubugan homogen di


laterobasal paru kiri yang menutupi sebagian
batas jantung kiri, hemidiafragma, dan sinus
kostofrenikus kiri disertai dengan gambaran
meniscus sign.

Corakan bronkovaskular paru kanan tampak


baik.
Lengkung diafragma kanan, sinus
kostofrenikus kanan lancip.
Tulang dan jaringan lunak kesan baik.
Kesan : Efusi pleura kiri

l: }tr1. )I *." -}!: :":{f}:}t"El}


i, i "-.,
"-${
* * ,-*

Seorang perempuan berusia z1 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak nafas yang muncul
tiba-tiba sejak 3o menit yang lalu.

5. Lakukan anamnesis pada pasien


6. Lakukan pemeriksaan fisis pada pasien
7. Tentukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan dan tentukan diagnosis pada kasus ini
8. Tentukan tata laksana vans teDat untuk pasien ini

Cek Tusas Iawaban


Dokter memperkenalkan diri

116

t
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Menanyakan nama dan umur Nn. Sani. za tahun


Menanyakan pekerjaan pasien Mahasiswi
Keluhan utama Sesak napas
Onset keluhan utama menit vans lalu
Apakah serangan pernah terjadi Serangan sesak napas sudah sering dialami pasi
sebelumnya
Mengi Ada
Batuk Ada
Demam Ada
Riwayat asma Ada
Riwayat pengobatan Obat batuk waruns, namun tidak membaik
Riwayat serangan serupa sebelumnya 4 bulan yang lalu
Riwayat penyakit sebelumnya Riwayat TB paru (-), riwayat sakit paru sebelumr
Riwayat alergi Ada, asap rokok dan debu
Riwayat atopi Dermatitis atopi dan rinitis alergi di masa kecil (
Riwayat penyakit keluarga Asma (+) pada ibu pasien, DA (+) pada kakak per
pasien
Riwayat merokok/alkohol Tidak pernah merokok/konsumsi alkohol
Riwayat aktivitas fisik Pasien tidak punya kebiasaan berolahrasa
Riwayat keluarga Pasien belum menikah
Melakukan rangkuman dan transisi
ke pemeriksaan fisik
Mencuci tangan sebelum melakukan
PF
Menilai status generalis, termasuk BB Tampak sakit sedang - TD lzol8o, HR roox/men
dan TB dan tanda vital zzxlmenit, suhu afebris. TB 16o cm, BB 53 kg (sta
seimbang)
Melakukan PF yang relevan dengan Didapatkan wheezing ekspirasi pada kedua lapa
leqe artis (-t)
Mencuci tangan setelah melakukan
PF
Meminta hasil pemeriksaan Spircimetri: APE 8o%, variabilitas APE ro%, VEI
penunjang prediksi
Darah perifer lengkap: dalam batas normal
Menentukan diagnosis dan diagnosis Diagnosis kerja: Asma serangan
banding ringan pada asma intermiten
dd/ Asma serangan sedang pada
asma persisten ringan
dd/Rinitis alersi
Meresepkan obat secara tepat dengan Inhalasi salbutamol
penulisan resep yang tepat
Merencanakan untuk rujuk dan
menulis rujukan dengan benar
Melakukan edukasi kepada pasien Edukasi untuk menghindari pencetus
Menanyakan apa yang ingin
ditanyakan pasien

Km$eks* kxsms

Identitas dan Laki-laki, zltahun Laki-laki, 64 tahun Perempuan,4o tahun


keluhan utama Sesak napas yang
muncul mendadak Sesak sejak z bulan Batuk dan sesak yang

117
v

OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

sejak 3o menit yang yang lalu semakin memberat


lalu sejak 3 hari yang lalu
Keluhan lain Sesak muncul Batuk berdahak Batuk berdahak
mepdadak. Riwayat warna hijau kekuningan, demam
sesak, batuk, demam kekuningan (+). (+). Penurunan berat
disangkal. Demam (-). PND, badan disangkal.
DOE, OP (-) Nafsu makan
menurun. Keringat
-alqq 4!e-gkal.
Riwayat/keterangan Pasien berpostur Riwayat merokok z Riwayat keluhan
lain tinggi dan kurus. bungkus per hari serupa sebelumnya (-
Riwayat penyakit selama 3o tahun. ). R.iwayat sakit paru
lain sebelumnya Riwayat asma (-) sebelumnya
disanekal. diturL4!-
Temuan pada PF Dada kanan Barrel chest (+), Frekuensi napas
dan pemeriksaan tertinggal, perkusi perkusi hipersonor di zzxlmenit
penunjang pulmo dekstra kedua lapang paru,
hipersonor, wheezing di kedua Ronki basah kasar di
auskultasi pulmo lapang baru, ronki kedua lapang paru,
dekstra vesikuler basah kasar minimal wheezing (-/-)
menurun di kedua lapang paru
Rontgen toraks:
Rontgen toraks: Rontgen toraks: sela infiltrat di kedua
lapang paru kanan iga melebar, infiltrat lapang paru (+/t)
avaskuler minimal
Dx dan dx banding Pneumotoraks spontan PPOK eksaserbasi akut Pneumonia komunitas
primer dd/ Bronkitis dd/ TB paru
dd/ Asma bronkial dd/ Pneumonia dd/ Bronkiektasis
dd/ Emfisema
subkutis
Tatalaksana Torakosentesis Stop merokok Amoksiklav 1x6z5rr'g
Siprofloksasin z x Ambroksol rxro mg
5oomg
Salbutamol )x4rr,g
Deksamethason 3xo,5
mg

118
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Apendiks: Daftan Obat Terpilih {p-druEs}


Konsep yang tepat adalah lebih baik Anda menggunakan satu-dua macam obat,
namun Anda menggasai cara kerja, sediaan, dosis, efek samping, hingga harga
obat tersebut dibandingkan dengan Anda menguasai puluhan jenis obat secara
superfisial. Hal ini berlaku pula untuk osCE, di mana Anda disarankan
menggunakan obat yang telah Anda kuasai sebelumnya, dibandingkan
"bereksperimen" saat ujian dengan menggunakan obat yang belum Anda kenal
dengan baik.

Melalui tabel di bawah ini, kami telah memilihkan beberapa obat untuk
masing-masing kelompok obat yang dapat menjadi pertimbangan Anda.
Selamat memilih!

Kelompok Nama generik Bentuk sediaan obat Dosis, efek samping ,dan
obat
Antipiretik Parasetamol Tablet 5oo mg )-4 x 5oo mg (maksimal 3
Sirup rzo rngl5mL g/hari)
Anak )-4x sehari, ro-r5
Antiinflamasi Asam mefenamat Kaplet 5oo mg )x5oo mg PO
non-steroid Tidak dianjurkan untuk
anak-anak
Steroid Deksametason Tablet o.5,4mg Tergantuna indikasi
Umumnya dapat
digunakan 3 xo ms PO
Antialergi Tablet ro mg IxromgPO
Sirup 5 mg /5 mL <2 th: I x2,5 mg PO; z-5 th: 5

Klorfeniramin Tablet 4 mg
(cTu; Efek samping sedasi, dapat
digunakan untuk kurangi
I (karena efek sedasi)
Antibiotik Tablet z5o mg, 5oo )x5oo mg PO
Anak 3x(t5-25 mg/kgBB )
Sirup kering n5 mgl5 Awas risiko alergi
mL
Ampisilin Vial z5o mg, rooo mg 4x5oo mg IV/IM
Anak: 4x
(15-25 mg/kgBB )
Awas risiko alerqi
Kotrimoksazol Tablet 4ool8o ffig, zx96o mg (forte) PO
8oo/16o mg (forte) Anak TMP zx (a mg/kgBB)
Suspensi zool4o mg l5
mL
Eritromisin Kapsul 25o mg 4x(z5o - 5oo) mg PO
Tablet 5oo mg
Sirup zoo ms/s mL
Antihipertensi Amlodipin Tablet 5, ro mg Ix5 mg PO inisial. Efek

Captopril Tablet r2.5,25 mg 2xr2,5 mg PO inisial,


tingkatkan bertahap. Efek
samping: batuk kering. Jika
batuk kering dan tidak

119
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

toleransi, ganti ke ARB r

(e.g: losartan, valsartan)

Antasida Antasida Tablet AI(OH), 2oo r 3 x r rablet PO, di antara


kombinali (DOEN) Mg (OH),zoo mg makan dan sebelum tidur
Omperazole Kapsul zo mg t-2x2o mg PO
Ranitidin Tablet r5o mg 2 x r5o mg PO
Injeksi z5 mglmL 3 x 5o mg IM
Anak: zx(zmglkg,BB) PO
Antiemeteik Domperidon Tablet ro mg 3 x ro mg PO
Suspensi 5mgl5rr,L Anak ) x (o,z - o,4
me/ksBB) PO
Vitamin Vitamin C Tablet 50 mg, 25o rng V x 50 mg PO, setelah
makan untuk
meningkatkan penyerapan
besi
VitaminB TabletBkompleks IxItabPO
kompleks
Sumber: Formularium Nasional (Keputusan Menteri Kesehatan RI)

PO: per-oral, IV: intrauena, IM: intramuskular

120

t
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Apendiks: Singkatan Hesep


a.c.: ante cibum (sebelum m.f.: misce fac (buatlah)
makan)
i m.f.l.a: buatlah dengan
a.d.: auricula dextra dosis di atas
ad.lib: ad libitum (use as mane: pagi hari
much as one desires)
noct.: nocte (malam hari)
a.m.: ante meridiem (pagi)
o.d.: oculus dester
applic part dol: oleskan di
o.m.: omne mane (setiap
tempat yang sakit
pagi)
a.s.: auricula sinistra
o.n.: omne nocte (setiap
a.u.: auris utraque (kedua malam)
telinda)
o.s.: oculus sinister
bis: dua kali sehari
o.u.: oculus uterque (kedua
b.d./b.i.d.: bis in die (dua mata)
kali sehari)
p.c.: post cibum (setelah
i.m.m:in manu medicae makan)
(berikan pada petugas
medis)
p.m.: post meridiem
(malam)
cap./caps.: capsula (kapsul)
p.o.: per os (per oral)
dd: de die (kali sehari)
p.r.: per rectum
d.t.d.: dentur tales doses
prn: pro re nata (bila perlu)
(berikan dosis tersebut)
pulv: pulvus (puyer)
flc.: flacon
PV: per vaginam
fls.: botol
q: quaque (setiap)
gtt: gutta(e) (tetes)
q.a.d.: quaque alternis die
IM: intra muscular
(setiap hari)
Inf.: infus
die ante
q.a.m.: quaque
Inj.: injeksi meridiem (setiap hati
IU: international unit sebelum malam)

q.d.s.: quater die sumendus


(empat kali sekali)

121
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Ap*ndiks: Script Pertanyaan Sensitif - Xasus


Psikiatri
Salah satu hal yan! menjadi kendala dalam anamnesis atau wawancara psikiatri
adalah adanya kasus-kasus "sensitif' yang mungkin sulit ditanyakan dengan
cara biasa (contoh: halusinasi, ide bunuh diri, waham). Di sini, kami akan
memberikan contoh naskah yang bisa Anda pertimbangkan dalam melakukan
anamnesis atau wawancara psikiatri.

Menanyakan kehilangan minat


Formula: tanya dulu hobi/kesenangannya, tanyakan apakah masih
dilakukan
"Tadi Bapak bilang hobi memancing. Sekarang apakah hobinya masih dilskukan, Pak?"

Menanyakan halusinasi/waham
Formula: berangkat dari perilaku anehnya, tanya halusinasi/waham terkait
hal tersebut
"Kata istri Bapak, akhir-akhir ini Bapak sering diam saja di kamar dan seperti bengong
lama sekali. Apa sebenarnAa Aang teriadi, Pak? Apa saat itu Bapak sedang mendengar
au b erkomunikasi den g an s e s e or an g ? "
su ar a- su ar a at

"Bapak mengatakan tidak mau lagi bertemu tetangga-tetangga Bapak. Kenapa Pak?
Apa Bapak mencurigai akan disakiti atau diperlakukan buruk oleh mereka?"

"Mengapa akhir-akhir ini Bapak suka membanting barang-barang di rumah? Apakah


Bapak kesal akan sesuatu? Atau apakah ada seseorang Aang menAuruh Bapak
melakukannya?"

Menanyakan gambaran umum pasien (misal pasien berpakaian aneh)


i

Formula: jangan men-iudge apa yar.g dilakukan pasien adalah aneh/tidak


normal
"Apakah ada yang pernah berkomentar tentang penampilan Bapak?"

"Menurut Bapak, dengan berpakaian seperti ini, Bapakterlihat seperti apa?

"Mengapa Bapak memilih berpenampilan seperti ini?"

Menan)rakan keinginan bunuh diri pada depresi


i

Formula: normalisasi (tindakan pasien dapat dilakukan oleh siapa pun


dalam kondisinya)
"Pak, biasanAa orang yang sedang dalam bangak masalah seperti ini pernah terpikir
untuk bunuh diri saja. Apa Bapak pernah iuga mengalaminya?"

Bisa juga untuk menanyakan halusinasi/waham:

ini (misal: mengurung diri di rumah),


"Palg pasien saya dengan keluhan seperti bapak
biasanga ada gang mendengar suara Aang menyuruh atau menakut-nakuti. Apa
B ap ak men g alami h al s am a? "

Menanyakan tilikan

122
OSCE: PADI SURVIVAL STYLE

Formula: jangan mengatakan kondisi pasien saat ini sedang mengalami


gangguan
"Menurut Bapak, bagaimana kondisi Bapak saat ini?,,
t
"Gimana pendapat Bapak mengenai kondisi Bapak saat ini, terutama bila
dibandingkan dengan kehidupan Bapak sebelumnya? Apakah sama saja, atau ada
yang berbeda?"
:'{
"Kalau dari Bapak sendiri, apa
aang bapak inginkan?" (cari tahu apakah dia ingin
.a berobat agar bisa kembali seperti dulu lagi, atau ingin mati saja, atau malah
menyalahkan orang lain)

123