Anda di halaman 1dari 9

PANDUAN

MANAJEMEN RESIKO KLINIS


PUSKESMAS KREBET

PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN


DINAS KESEHATAN
UPT PUSKESMAS KREBET
Jalan Raya Gawang Utara No.55 Telp. 0351-386379
MADIUN
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Manajemen risiko klinis merupakan suatu upaya sistematis yang dilakukan di


Puskesmas dalam rangka mengurangi risiko akibat pelaksanaan pelayanan medis.
Risiko klinis dapat berupa bahaya, kesalahan, musibah atau potensi terjadinya hal-
hal yang merugikan pasien terkait dengan atau sebagai dampak asuhan klinis yang
diberikan kepadanya. Manajemen risiko klinik secara spesifik fokus pada
peningkatan kualitas dan keselamatan pelayanan kesehatan dengan cara
mengidentifikasi faktor kemungkinan yang mengakibatkan pasien berisiko cedera
dan kemudian tindakan yang dilakukan untuk mengontrol risiko tersebut.

B. Tujuan

1. Mengurangi terjadinya medical error, adverse events , dan harms pada


pasien.
2. Meningkatkan keamanan pasien dan mutu asuhan
3. Memenuhi objektif secara optimal dengan pemanfaatan sebaik-baiknya sumber
daya yang ada
4. Meningkatkan kepercayaan publik bahwa dengan program manajemen risiko
klinis yang baik, keamanan menjadi lebih terjamin.

C. Pengertian

1. Risiko adalah kemungkinan menimbulkan musibah atau kerugian dan mungkin


terkait dengan orang-orang (pasien, pengunjung, staf dan kontraktor), bangunan,
properti, peralatan dan bahan habis pakai, sistem, manajemen, keuangan dan
bisnis organisasi.
2. Manajemen risiko adalah proses mengenal, mengevaluasi, mengendalikan,
meminimalkan risiko dalam suatu organisasi secara menyeluruh.
3. Manajemen risiko klinis (Clinical Risk Management) adalah meminimalkan risiko
terhadap pasien dengan mengenal kesalahan atau kemungkinan kesalahan
selama mendapat asuhan klinis, mengenal faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap terjadi kesalahan/risiko, belajar dari pengalaman terhadap setiap
adanya adverse event, memastikan bahwa dilakukan tindakan untuk mencegah
terjadi kesalahan/risiko, dan membangun sistem untuk mengurangi terjadinya
risiko.
4. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) adalah cedera atau hasil yang tidak sesuai
dengan harapan, yang terjadi bukan karena kondisi pasien tetapi oleh karena
penanganan klinis (clinical management).
5. Kejadian Tidak Cedera (KTC) adalah penanganan klinis yang tidak sesuai tetapi
tidak sampai menimbulkan cedera.
6. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) adalah kejadian dimana hampir saja dilakukan
kesalahan dalam penanganan klinis tetapi kesalahan tersebut tidak jadi
dilakukan.
7. Kondisi Berpotensi Menyebabkan Cedera (KPC) adalah keadaan tertentu dalam
pelayanan klinis yang berisiko atau berpotensi menimbulkan cedera. Misalnya
tempat tidur yang tidak dilengkapi pengaman berpotensi menimbulkan kejadian
pasien jatuh, lantai yang licin berpotensi menimbulkan cedera.
BAB II. RUANG LINGKUP

A. Patient care related risk: risiko yang terkait dengan pelayanan pasien
B. Clinical staff related risk: risiko yang terkait dengan staf klinis dalam bekerja
C. Employee related risk: risiko yang terkait dengan staf yang lain dalam bekerja
D. Property related risk: risiko akibat kondisi prasarana dan sarana
E. Financial risk: penyalahgunaan asset, penyalahgunaan laporan keuangan,
ketidak disiplinan dalam pencatatan keuangan
F. Other risk: risiko lain yang tidak termasuk di atas, misalnya ambulans mengalami
kecelakaan.
BAB III. TATA LAKSANA

Apabila terjadi adverse event atau insiden yang mengakibatkan cidera (harm), kehilangan (loss),
atau kerusakan (damage) maka potensi yang mungkin terjadi adalah :
1. Adanya kasus medikolegal dimana kasus adverse event atau yangdianggapsebagai
adverse event akibat asuhan klinis/medis, yang dibawa ke pengadilan oleh pasien atau
keluarga (biasanya diwakili oleh advokat) dengan klaim ganti rugi.
2. Dokter dapat dituduh melakukan malpraktek
3. Manajemen Rumah Sakit dapat dituduh lalai (negligence)
Untuk itu perlu dilakukan langkah untuk melakukan manajemen risiko klinis sebagai berikut :
a. Identifikasi Risiko
Identifikasi risiko adalah usaha mengidentifikasi situasi yang dapat menyebabkan
cedera, tuntutan atau kerugian secara finansial. Identifikasi akan membantu langkah-
langkah yang akan diambil manajemen terhadap risiko tersebut.
Instrumen yang diperlukan :
1) Keluhan Pasien
Data keluhan pasien ini dapat diperoleh dari keluhan tertulis pada lembar kesan
pelanggan yang disediakan di masing-masing unit / bagian di Rumah Sakit Islam
Purwokerto maupun dari keluhan secara lisan.
2) Klaim
3) Laporan Insiden (Incident Report)
Laporan insiden (incident report) terdiri atas :
o Pelaporan setiap masalah atau kejadian yang menyimpang dari yang
direncanakan atau secara normal seharusnya tidak terjadi dan berdampak
pada keselamatan pasien
o Pelaporan atas masalah / kejadian yang menghadapkan pasien pada
keadaan beresiko
o Pelaporan atas masalah / kejadian yang bertendensi / berpotensi
menghadapkan rumah sakit pada tuntutan hukum
o Masalah / kejadian tidak harus selalu sudah menyebabkan cedera. Tetapi
termasuk juga suatu keadaan yang potensial menyebabkan cedera.
o Pelaporan atas masalah / kejadian yang dapat dijadikan pelajaran untuk
mengeliminasi atau menurunkan risiko
o Pelaporan dari masalah / kejadian yang mempunyai dampak terhadap
anggaran dan risiko ketersediaan keuangan, peralatan maupun supplies.

4) Audit Medik, diselenggarakan oleh Sub komite Mutu Komite Medik.


b. Analisa Risiko
Analisa risiko merupakan upaya untuk menentukan estimasi risiko secara kuantitatif atau
kualitatif berdasarkan tehnik-tehnik evaluasi maupun matematis. Dan merupakan proses
untuk mengenali bahaya yang mungkin terjadi dan bagaimana potensi kegawatan dari
bahaya tersebut. Analisa risiko dilaksanakan untuk menentukan :
1) Risiko apa yang dapat terjadi.
2) Kapan risiko tersebut dapat terjadi.
3) Faktor yang berhubungan dengan
Instrumen yang diperlukan :
1) Severity Assessment
Memilih kejadian untuk dilakukan investigasi.
2) Root Cause Analysis (RCA)
RCA dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Investigasi kejadian
o Menentukan masalah
o Mengumpulkan bukti-bukti yang nyata
o Melakukan wawancara
o Meneliti lingkungan kejadian
o Mengenali faktor-faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya kejadian
o Menggambarkan rantai terjadinya kejadian
b. Rekonstruksi kejadian
o Mengenali kejadian-kejadian yang mengawali terjadinya adverse event ataupun
near miss
o Melakukan analisis dengan menggunakan pohon masalah untuk mengetahui
kegiatan atau kondisi yang menyebabkan timbul kejadian
o Lanjutkan sehingga dapat dikenali sistem yang melatar belakangi timbulnya
kejadian atau sampai tidak beralasan lagi untuk melanjutkan
c. Analisis sebab
o Mengidentifikasi akar-akar penyebab yang dapat bersumber dari :
1. Manusia
- Kelelahan
- Kurang terlatih
- Komunikasi yang buruk
- Kekuasaan / pengendalian
- Keterbatasan waktu
- Poor Judgement
- Keraguan (heuristic)
- Logic error
- Over confidence
2. Organisasi
- Rancang bangun ruang kerja
- Perencanaan kebijakan
- Administrasi / pembiayaan
- Insentif / dinsentif / kepemimpinan
- Manajemen suplai
- Supervisi / umpan balik
- Ketidakjelasan tugas
- Salah menempatkan personil
3. Teknikal
- Poor automation
- Peralatan yang buruk
- Keterbatasan peralatan
- Tidak memiliki decision support
- Kompleksitas
- Kurang terintegrasi
- Terlalu banyak informasi
- Tidak menggunakan checklist
o Rumuskan pernyataan akar masalah
d. Menyusun rencana tindakan
o Menetapkan strategi yang tepat untuk mengatasi penyebab yang diidentifikasi,
dan dapat diterima oleh pihak yang terkait dengan kejadian.
o Rencana tindakan disusun untuk tiap akar penyebab kejadian dan pengukuran
untuk menilai efektifitas tindakan thd akar penyebab
o Dapatkan persetujuan dari kepemimpinan dalam organisasi
e. Melaporkan proses analisis dan temuan
o Catat proses dan alat yang digunakan
o Biaya yang dibutuhkan
o Ringkasan kejadian
o Proses investigasi dan analisis
o Temuan
3) Failure Mode And Effect Analysis (FMEA)
FMEA adalah Suatu alat mutu untuk mengkaji suatu prosedur secara rinci, dan
mengenali model-model adanya kegagalan/kesalahan pada suatu prosedur, melakukan
penilaian terhadap tiap model kesalahan/kegagalan, dengan mencari penyebab
terjadinya, mengenali akibat dari kegagalan/kesalahan, dan mencari solusi dengan
melakukan perubahan disain/prosedur.
FMEA dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Bentuk tim FMEA: orang-orang yang terlibat dalam suatu proses
b. Tetapkan tujuan, keterbatasan, dan jadual tim
c. Tetapkan peran dari tiap anggota tim
d. Gambarkan alur proses yang ada sekarang
e. Kenalilah Failure modes pada proses tersebut
Tipe medical eror :
1. Kekeliruan konsep meliputi :
- Wrong concept of disease (Kekeliruan konsep penyakit)
- Wrong concept of treatment (Kekeliruan konsep perawatan)
2. Kekeliruan Diagnostik
- Misdiagnosis
- Late diagnosis
- Gagal melakukan prosedur diagnosis
- Menggunakan prosedur yang usang
- Gagal melakukan pemantauan dan follow-up hasil pemeriksaan
penunjang
3. Kekeliruan Terapi
- Kesalahan melakukan tindakan medik / operasi
- Kekeliruan dalam memberikan terapi
- Kekeliruan dalam menetapkan dosis
- Kekeliruan dalam menetapkan cara pemberian obat
- Terlambat memberikan terapi padahal indikasi berdasarkan hasil
diagnostik sudah jelas
- Melakukan tindakan medik tidak adekuat dan tanpa indikasi
- Teknik yang keliru
4. Kekeliruan Pencegahan
- Gagal melakukan terapi pencegahan sesuai yang diperlukan
- Tidak adekuat melakukan pemantauan hasil terapi
5. Lainnya
- Gagal dalam berkomunikasi dengan pasien atau tenaga kesehatan
lainnya
- Kegagalan peralatan
- Kegagalan sistem laiinya

f. Kenalilah penyebab terjadinya failure untuk tiap model kesalahan/kegagalan


g. Kenalilah apa akibat dari adanya failure untuk tiap model kesalahan/kegagalan
h. Lakukan penilaian untuk tiap model kesalahan/kegagalan:
Sering tidaknya terjadi (occurrence): (Occ)
0 : tidak pernah, 10 sangat sering
Kegawatannya (severity): (SV)
0 : tidak gawat, 10 sangat gawat
Kemudahan untuk terdeteksi: (DT)
0 : mudah dideteksi, 10 : sangat sulit dideteksi
i. Hitung Risk Priority Number (RPN) dengan mengkalikan: Occ x SV x DT
j. Tentukan batasan (cut-off point) RPN yang termasuk prioritas
k. Tentukan kegiatan untuk mengatasi (design action/solution)
l. Tentukan cara memvalidasi apakah solusi tersebut berhasil
m. Gambarkan alur yang baru dengan adanya solusi tersebut
c. Pembahasan
Pembahasan berupa diskusi event-event yang berisiko yang ada di rumah sakit dan
memilih mana yang paling prioritas.Yang terlibat dalam pembahasan manajemen risiko
klinis adalah Panitia Audit Medik, Ketua SMF yang terkait, Dokter yang terkait, dan Tim
Manajemen Risiko Klinik.

Jika terjadi adverse event, hal yang harus dilakukan adalah :


1. Merespons terhadap kebutuhan segera dari pasien dan pihak-pihaklain yang terlibat, termasuk
staf.
2. melakukan tindakan koreksi untuk menciptakan kembali suasanayang aman.
3. Semua bahan bukti dibiarkan sebagaimana adanya dan segera diamankan untuk pemeriksaan
kemudian. Semua obat dan alat yangrusak dihentikan penggunaannya dan juga diamankan.
4. Berkomunikasi dengan pasien atau keluarga, mereka yang mengurus pasien, teman, dll tentang
apa yang sudah terjadi dalam waktuyang tepat.
5. Berkomunikasi secara lisan dan melalui laporan tertulis denganpejabat kesehatan setempat
sesuai dengan asas positif dan bukanuntuk menghukum siapapun (non-punitive).
6. Berkomunikasi dengan dokter keluarga atau dokter spesialis yangmengirim pasien.
7. Memberi informasi kepada stakeholder eksternal yang relevan.
8. Menghadapi pers dengan baik.
9. Belajar dari musibah agar kejadian yang sama tidak lagi terulang,dengan melakukan analisis
mendalam (root cause analysis) untukmencari penyebab sebenarnya dari adverseevent yang
telah terjadi. Menyusun strategi dan rencana kegiatan (baru) untuk perbaikan.
10. Memantau dan mengevaluasi efektifitas tindakan-tindakan perbaikan yang dilakukan.
11. Membangun budaya melapor pada pasien dan staf tentang adverse incidents, adverse events,
dan near misses yang dialami, agar dapat dilakukan analisis mendalam tentang kejadian-
kejadian tetentu itu.
BAB IV. PENUTUP.

Demikian pedoman manajemen risiko klinis ini disusun agar dapat menjadi acuan
penyelenggaraan manajemen risiko klinis di Puskesmas Krebet.