Anda di halaman 1dari 21

PAJAK PENGHASILAN UMUM

DIFINISI

Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap subyek pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam suatu tahun pajak.

DASAR HUKUM

Peraturan perundang undangan yang mengatur Pajak Penghasilan di Indonesia


adalah UU Nomor 7 Tahun 1983 yang telah disempurnakan dengan UU Nomer 7 Tahun
1991, UU Nomor 10 Tahun 1994, UU Nomor 17 Tahun 2000, UU No 36 Tahun 2008,
Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden , Keputusan Mentri Keuangan, Keputusan
direktur Jendral Pajakdan Surat Edaran.

SUBJEK PAJAK

Subjek Pajak Pajak Penghasilan adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk
memperoleh penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan Pajak Penghasilan. Jilka
Subjek Pajak telah memenuhi kewajiban pajak secara objektif maupun subjektif mak disebut
wajib pajak. Pasal 1 UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang KUP menyebutkan bahwa wajib
Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang
undangan Perpajaknan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan , termasuk
pemungutan pajak dan pemotongan pajak tertentu.
Berdasarkan pasal 2 ayat (1) UU Nomor 36 Tahun 2008 , Subjek Pajak dikelmpokkan
Sebaga berikut:

1. Subjek pajak orang pribadi


2. Subjek Pajak warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang
berhak
3. Subjek Pajak badan
4. Subjek Pajak Bentuk Usaha Tetap

Subjek Pajak Dalam Negri dan Subjek Pajak Luar Negri

Pengelompkannya diatur dalam pasal 2 aayat (2) UU Nomor 36 Tahun 2008

1. Subjek Pajak Dalam Negri


a. Orang pribadi yang bertempat tinggal diindonesia , orang pribadi yang berada di
Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, atau orang
pribadi yang dalam satu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat
untuk bertempat tinggal di Indonesia.
b. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan diindonesia, kecuali unit
tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
1) Pembentukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang undangan ;
2) Pembiayaan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau
Anggaran Pendaatan dan Belanja Daerah;
3) Penerimaan dimasukkan salam Anggaran Pemerintahan Pusat atau
Pemerintah daerah; dan pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan
fungsional negara;
c. Warisan yang belum terbagi satu kesatuan menggantikan yang berhak.
2. Subjek pajak Luar Negri
a. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang
tinggal di indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan,
dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia,
yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di
Indonesia
b. Orang prbadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang
berada di indonesia tidak lebih drai 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan,
dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempatkedudukan di Indonesia, yang
dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonsia

Kewajiban Pajak Subjektif

Kewajiban pajak subjektif berarti kewajiban pajak yang melekat pada subjeknya dan
tidak dapat dilimpahkan pada orang atau pihak lain.

Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif untuk setiap subjek pajak diuraikan
dalam tabel berikut ini

Jenis Subjek Kewajiban pajak subjektif Dimulai Kewajiban Pajak Subjektif Berakhir
Pajak
Dalam Negri Saat dilahirkan Saat meninggal
Saat berada di indonesia atau Saat meninggalkan Indonesia
Orang
Pribadi berniat bertempat tinggal di untuk selama lamanya
indonesia
Dalam Negri Saat didirikan atau bertempat Saat dibubarkan atau tidak lagi
Badan kedudukan di Indonesia bertempat kedudukan di
indonesia
Luar Negri Saat menjalankan usaha atau Saat lagi tidak menjalankan
Melalui BUT melakukan kegiatan memalui BUT usaha atau melakukan
di Indonesia kegiatan memalui BUT di
Indonesia
Luar Negri Saat menerima atau memperoleh Saat tidak lagi menerima atau
tidak penghasilan dari Indonesia memperoleh penghasilan dari
Memalui Indonesia
BUT
Warisan Saat timbulnya warisan yang Saat warisan selesai dibagi
Belum belum terbagi
Terbagi

Apabila kewajiban pajak subjektif orang pribadi yang bertempat tinggal atau yang
berada di Indonesia hanya meliputi sebagian dari tahun pajak maka bagian tersebut
menggantikan tahun pajak.

Tidak Termasuk Subjek Pajak

Baerdasarkan Pasal 2 UU Nomor 36 Tahun 2008 adalah:

1. Kantor perwakilan negara asing;


2. Pejabat- pejabat perwakilan diplomtik dan konsultan atau pejabat-pejabal lainnya;
3. Organisasi-organisasi lnternasional dengan syarat Indonesia menjadi anggota;
4. Pejawat-pejawat perwakilan organisasi Internasional;
5. Organisasi-organisasi Internasional yang berbentuk kerjasama;
6. Dalam hal terdapat ketentuan perpajakan yang diatur dalam perjanjian Internasional.

Wajib Pajak Dalam Negri dan Pajak Luar Negri

Subjek pajak oeang pribadi dalam negri menjadi wajib pajak apabila telah menerima
atau memperoleh penghasilan yang besarnya melebihi penghasilan tidak kena pajak.
Sedangkan Subjektif pajak luar negri ,baik orang pribadi maupun badan, sekaligus menjadi
wajib pajak karena menerima dan memperoleh penghasilan yang bersumber dati
Indonesiamelalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

Perbedaan yang penting antara wajib pajak dalam negri dan wajib pajak luar negri terletak
dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, antara lain:

1. Wajib pajak dalam negri dikenai pajak atas penghasilan baik yang diterima atau
diperoleh dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, Sedangkan wajib pajak luar
negri dikenai pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di
Indonesia
2. Waib pajak dalam negri dikenai pajak berdasarkan penghasilan neto dengan tarif
umum, sedangkan wajib pajak luar negri dikenakan pajak berdasarkan penghasilan
bruto dengan tarif pajak sepadan
3. Wajib pajak dalam negri wajib menyampaikan surat pemberitahunan pajak
penghasilan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam satu tahun
pajak, sedangkan wajib pajak luar egri tidak mrnyampaikan surat pemberitahuan
pajak penghasilan karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak
yang bersifat final.
4. Bagi wajib pajak luar negri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui
bentuk usaha tetap di Indonesia, pemenuhan kewajiban perpajakannya dipersamaan
dengan pemenuhan kewajiban perpajakan wajib pajak badan dalam negri
sebagaimana diatur dalam UU PPh dan undang-undang yang mengatur mengenai
ketentuan umum dan tata cara perpajakan.

OBJEK PAJAK PENGHASILAN

Objek pajak mnghasilan merupakan segala sesuatu ( barang,jasa,kegiatan,atau


keadaan) yang dikenakan pajak. Objek penghasilan adalah penghasilan,yaitu setiap
tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak.

Penghasilan dapat dikelompokan menjadi:

1. Penghasilan dari perkerjaan


2. Penghasilan dari usaha atau kegiatan
3. Penghasilan dari modal
4. Penghasilan lain-lain
Penghasilan yang termasuk Objek pajak

Berdasarkan Pasal 4 ayat (10 UU Nomor 36 tahun 2008, penghasilan yang termasuk objek
pajak adalah:

1. Pengganti atau imbalan


2. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan
3. Laba usaha
4. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta
5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan
pembayaran tambahan pengembalan pajak
6. Bunga temasuk premium,diskon,dan imbalan kerja karena jaminan pengembalian
utang
7. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk dividen dari perusahaan
asuransi kepada pemegang pilis, dan pemegang sisa hasil usaha koprasi.
8. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak
9. Sewa dan penghasilan lain sehubung dengan penggunaan harta
10. Penerima atau perolehan pembayaran berkala
11. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang
ditetapkan dengan peraturan pemerintah
12. Keuntungna selisih kurs mata uang asing
13. Selisih kurang lebih karena penilaian kembali aset
14. Premi asuransi
15. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri atas
wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
16. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak
17. Penghasilan dari usaha yang berbasis syariah
18. Imbalan bunag sebagaimana yang dimaksud dalam undangundang yang mengatur
mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan
19. Surplus Bank Indonesia

Penghasilan yang PPh-nya bersifat Final

Berdasarkan Pasal 4 ayat (2) UU PPh, penghasilan yang dikenakan PPh bersifat final:

1. Penghasilan berupan bunga deposito dan tabungan lainnya


2. Penghasilan berupa hadiah undian
3. Penghasilan dari teransaksi saham dan skuritas lainnya
4. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah daan atau bangunan
5. Penghasilan tertentu lainnya yang diatur dalam peraturan pameritah.

Penghasilan Tidak termasuk Objek Pajak


Berdasarkan Pasal 4 ayat (3) UU Nomor 36 Tahun 2008, terhadap penghasilan-penghasilan
tertentu yang diterima atau diperoleh wajib pajak, dikecualikan dari pengenaan pajak
penghasilan (bukan merupakan objek pajak). Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak
menurut ketentuan tersebut adalah

1. a. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat diterima oleh badan amil zakat atau
lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintahan dan yang
diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya
wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia , yang diterima oleh lembaga
keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh
penerima sumbangan yang berhak, yang keuntungannya diatur dengan atau
berdasarkan peraturan pemerintah;
b.harta hibahan yang diterima oleh keluargasedekah dalam garis keturunan lurus
satu derajat ,badan keagamaan,badan pendidikan,badan sosial termasuk
yayasan,koperasi, atau orang prib adi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang
keuntungannya diatur dengan atau berdasarkan peraturan Mentri akeuangan ,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha , pekerjaan, kepemilikan,atau
pengusaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan.
2. Warisan
3. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 2 ayat (10 huruf b UU PPh sebagai pengganti saham atau sebagai
pengganti penyertaan modal
4. Penggantian atau imbalan sehubung dengan pekerjaan atau jasa diterima atau
diperoleh dalam bentuk natural dan/atau kenikmatan dari wajib pajak atau
pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan wajib pajak,wajib pajak yang
dikenakan pajak secara final atau wajib pajak yang menggunakan norma
penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 15 UU
PPh;
5. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan
asuransi kesehatan, asuaransi kecelakaan, asueansi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi beasiswa
6. Deviden atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatassebagai
wajib pajak daklam negri, koperasi,badan usaha milik negeri, atau badan usaha milik
daerah dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat
kedudukan di indonesia dengan syarat
a. Deviden berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
b. Bagi persepoan terbatas , badan usaha milik negara dan badan usaha milik
daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang
memberikan dividen paling rendah 25% modal yang disetor
7. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disalahkan
mentri keuangan, baik yang dibayar oleh penerima kerja maupun pegawai;
8. Penghasil dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksudkan
pada angka 7, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dalam keputusan
Mentri Keuangan;
9. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham ,persekutuan,perkumpulan,firma,dan
kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif
10. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan model vantura berupa
bagaimana laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha
atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:
a. Merupakan perusahaaan mikro, kecil menengah , atau yang menjalankan
kegiatan dalam sektor sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Mentri Keuangan; dan
b. Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia
11. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yyang ketentuannya diatur lebih
lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Mentri Keuangan Indonesia;
12. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba bergerak di
bidang pendidikan dan atau bidang penelitian dan pengembangan, yang telah
terdaftar pada intansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk
sarana dan perasarana kegiatan pendidikan dan atau penelitian dan pengembangan,
dalam jangka waktu paling lama empat tahun sejak diperolehnyasisa lebih tersebut,
yang ketentuanya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Mentri
Keuangan
13. Bantuan atau sumbangna yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
berdasarkan kepada Wajib Pjak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan atau berdasarkan peraturan Mentri Keuangan.

OBJEK PAJAK PENGHASILAN BENTUK USAHA TETAP


Berdasarkan Pasal 5UU Nomor 36 Tahubn 2008, Objek pajak Bentuk Usaha tetap adalah:

1. Penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk Usaha tetap tersebut dan dari harta
yang dimiliki atau dikuasai oleh Bentuk Usaha Tetap;
2. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan , penjualan barang, dan
pemberian jasa di indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau dilakukan oleh
Bentuk Usaha Tetap di indonesia;
3. Penghasilan sebagaimana tersebut dalam pasal 26 yang diterima atau diperoleh oleh
kantor pusat sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk Usaha tetap dan
harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan tersebut.

Penentuan laba Bentuk Usaha Tetap

Dalam menentukan besarnya laba suatu Bentuk Usaha tetap, perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut.

1. Biaya biaya yang berkenaan dengan penghasilan kentor pusat dari usaha atau
kegiatan, penjualan barang, atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis denga
yang dijalankan atau yang dilakukan oleh Bentuk Usaha Tetap di Indonesia, Serta
biaya-biaya yang berkenaan dengan penghasilan sebagaimanatersebut dalam pasal
26 yang diterima atau diperoleh kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan efektif
antara Bentuk Usaha Tetap dan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan
tersbut, diperoleh untauk dibebankan sebagai biaya bagi Bentuk Usaha Tetap.
2. Biaya administrasi kantor pusat yang diperoleh untuk dibebankan adalah baiaya yang
berkaitan denngan usaha atau kegiatan bentuk Usaha Tetap, yang besarnya
ditetapkan oleh direktur jendral pajak.
3. Pembayaran kepada kantor pusat yang tidak diperoleh dibebankan sebagai biaya
adalah
a. Royalti atau imbalan lainnya sehubung dengan [enggunaan harta,paten, atau
hak-hak lainny;
b. Imbalan sehubung denganjasa manajemen dan jasa lainnya
c. Bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan.
4. Pembayaran sebagaimana tersebut pada nomor 3 yang diterima atau diperoleh dari
kantor pusat tidak dianggap sebagai Objek Pajak, kecuali bunga yang berkenaan
dengan usaha perbankan.

Pembagian Bentuk Usaha Tetap (BUT)yang Ditanamkan Kembali di indonesia


Atas penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu Bentuk Usaha Tetap
di zindonesia dikenakan pajak sesuai Ketentuan Pasal 26 ayat (4) Undang-Undang Pajak
Penghasilan dengan tarif sebesar 20%. Apabila atas {enghasilan Kena Pajak sesudah
dikurangi pajak Penghasilan pasal 26 ayat (4) tersebut ditanamkann kembali di ndonesia ,
atas penghasilan tersebut tidak dipotong pajak; dengan syarat:

1. Penanaman kembali dilakukan atas seluruh Penghasilan Kena Pajak setelah dikurangi
Pajak Penghasilan dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan yang baru
didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pendiri dan peserta pendiri;
2. Penanaman kembali dilakukan dalam Tahun Pajak berjalan atau selambat-lambatnya
Tahun Pajak berikutnya dari Tahun Pajak diterima atau diperoleh penghasilan
tersebut;
3. Tidak melakukan pengalihan atas penanaman kembali tersebut paling sedikit dalam
jangka waktu 2 tahun sesudah perusahaan tempat penanaman dilakukan
berproduksi secara komersial.

PENGURANGAN PENGHASILAN

Pajak penghasilan dihitung dari tarif dikalikan dengan penghasilan kena pajak. Penhgkasilan
kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap ditentukan berdasarkan
penghasilan bruto dikurangi dengan pengurangna atau pengeluaran tertentu. Apengeluaran
tersebut dinamakan juga biaya atau beban. Pengeluaran/ beban/ biaya yang dapat dikurangi
dari penghasilan bruto dapat dibagi dalam 2 golongna yaitu;

1. Pengeluaran/beban/biaya yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari satu tahun
yang merupakan biaya pada tahun yang bersangkutan , misalnya gaji, biaya
administrasi dan bunga, biaya rutin pengolahan limbah, dan sebagainya;
2. Pengeluaran/bebean/ biaya yang mempunyai masaa manfaat tidak lebih dari satu
tahun yang pembebananya dilakukan melelui penyusutan atau amortisasi, misalnya
aset tetap atau harta berwujud, aset tak berwujud , dan sebagainya.

Biaya yang Diperkenankan sebagai Pengurangan (Deductible expense)


Pasal 6 ayat (1) UU Nomor 36 Tahun 2008 menyatakan bahwa besarnya penghasilan Kena
pajak bagi Wajib Pajak dalam negridan Bentuk Usaha Tetap ditentukan berdasarkan
penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan termasuk;

1. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan
usahaantara lain :
a. Biaya pembelian bahan
b. Biya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah
,gaji,honorarium,bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk
uang;
c. Bunga, sewa,dan royalty
d. Biaya perjalanan
e. Biaya pengolahan limbah;
f. Premi asuransi
g. Biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan peraturan
Mentri keuangan;
h. Biaya administrasi; dan
i. Pajak kecuali pajak penghasilan
2. Penyusunan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi
atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa
manfaat lebih dari satu tahun
3. Iuran kepada dana pensiun yang mendirikannya telah disahkan oleh mentri
keuangan;
4. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam
perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan
5. Kerugian selisih kurs mata uang asing
6. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di indonesia
7. Biaya beasiswa , magang, dan pelatihan
8. Piutang yang nyata tidak dapat ditagih, dengan syarat
a. Telah dibebankansebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
b. Wajib pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada
direktorat jendral pajak; dan
c. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negri atau Instansi
Pemerintahan yang menangani piutang negara
d. Syarat pada huruf c tidak berlaku untuk menghapuskan piutang tak tertagih
debitur kecil yang pelaksanaannya siatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan
Peraturan Mentri keuangan
9. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang kditetepakan
dengan Peraturan Pemerintah
10. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia
yang ketentuannya diatur dalam peratura Pemerintah
11. Biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
pemerintah
12. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah
13. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dzlam
Peraturan Pemerintah

Kompensasi Kerugian : Apabila penghasilan buto setelah pengurangan tersebut didapat


kerugian, kerugian tersebut di kopensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak
berikutnya berturut- turut sampai dengan lima tahun.

Penghasilan Tidak Kena Pajak: Penghasilan kena pajak (PTKP) merupakan jumlah
penghasilan tertentu yang tidak dikenakan pajak.Untuk menghitung besarnya penghasilan
kena pajak wajib pajak kena pribadi dalam negri,penghasilan notenya dikurangi debgan
jumlah penghasilan tidak kena pajak .PTKP yang ditetapkan dalam pasal 7 ayat (1) Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2000 mengalami beberapa kali perubahan seiring dengan
perkembangan ekonomi dan moneter serta perkembangan harga kebutuhan pokok setiap
tahunnya. Penyesuaian besarnya PTKP terakhir diatur dalam peraturan Mentri keuangan No.
122/PMK.010/2015 yang diberlakukan efektif tahun pajak 2015.

Wajib pajak yang mempunyai anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis
keturunan lurus yang menjadi tenggungan sepenuhnya, misal orang tua, mertua, anak
kandung atau anak angkat diberi tambahan penghasilan tidak kena pajak untuk paling
banyak tiga orang. Anggota keluarga tersebut dapat menjadi tanggungan sepenuhnya
apabila tidak mempunyai penghasilan dan seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh wajib
pajak.

Penghasilan Tidak kena Pajak Bagi Wanita : Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam menentukan besarnya penghasilan tidak kena pajak untuk wajib kena pajak wanita.

1. Dalam hal wajib pajak adalah wanita kawin daan suami menerima atau memperoleh
penghasilan , besarnya PTKP setahun untuk dirinya sendiri, yaitu 36.000.000
2. Dalam hal wajib pajak adalah wanita kawin yang menunjukkan ketarangan tertulis
dari pemerintah daerah setempat (bserendah-rendahnya kecamatan) bahwa
suaminya tidak mmemperoleh atau menerima penghasilan, besarnya PTKP setahun
disamping untuk dirinya sendiri ( sebesar Rp 360.000.000 setahun ) juga ditambah
PTKP untuk status kawin dan anggota keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya
paling banyak tiga orang masing-masing sebesar Rp.3.000.000 setahun
3. Dalam hal wajib pajak tidak kawin, maka besarnya PTKP setahun disamping untuk
menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak tiga orang masing-masing sebesar
Rp.3.000.000 setahun

Penyusutan ( Depresiasi): Pengeluaran pengeluaran untuk mmperoleh harta berwujud


yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun harus dibebankan sebagai biY ntuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan dengan cara mengalokasikan
pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta yang bersangkutan melalui penyusutan
(depresiasi).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan besarnya biaya penyusutan
adalah sebagai berikut:

1. saat dimulainya penyusutan.


Penyusutan harta berwujud dimulai pada bulan selesainya pengerjaan suatu harta
sehingga penyusutan pada tahun pertama pada bulan selesainya pekerjaan suatu
harta sehingga penyusutan pada tahun pertama dihitung secara prorata.
2. metode penyusutan.
Metode penyusutan yang diperoleh untuk kelompok harta berwujud dikelompokkan
menjadi dua, yaitu Penyusutan harta berwujud bangunan dan harta berwujud selain
(bukan) bangunan. Untuk harta berwujud selain (bukan ) bangunan, wajib Pajak
direrbolehkan memilih metode penyusutan , yaitu dilakukan dalam bagian bagian
yang sama besar selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif
penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku
disusutkan sekaligus, dengan syarat dilakukan dengan tata asas.
3. kelompok masa manfaat dan tarif penyusutan
Besarnya penyusutan suatu periode dipengaruhi oleh metode yang digunakan ,
besarnya harga perolehan harta berwujud, dan masa manfaat dari harta berwujud
tersebut. Untuk memberikan kepastiaan hukum bagi wajib pajak dalam melakukan
penyusutan atas pengeluaran harta berwujud, pasal 11 UU Nomor 36 Tahun 2008
mengatur masa manfaat harta berwujud dan tarif penyesuaian, baik menurut
metode garis lulus atsu daldo menurun.
Masa manfaat dan tarif penyusutan harta berwujud diatur sebagai berikut:

Kelompok harta berwujud Masa Tarif penyusutan


manfaat Garis Lurus Saldo menurun

I. Bukan bangunan
Kelompok I 4 tahun 25% 50%
Kelompok II 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok III 16 tahun 6,25% 10%
Kelompok IV 20 tahun 5% -
Kelompok V - - -
II. Bangunan
Permanen 20 tahun 5% -
Tidak permanan 10 tahun 10% -

4. harga perolehan.
Tahap harta berwujud tertentu berikut ini. Penyusutannya diatur secara khusus
a. Atas biaya perolehan atau pembelian telepon seluler yang dimiliki dan digunakan
perusahaan untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya dapat
dibebankan sebagai biaya perusahaan srbesr 50% dari jumlah biaya perolehan
atau pembelian melalui penyusutan aset tetap kelompok I.
b. Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar kendaraan bus,
minibus,atau yang sejeisnya yang dimiiki dan digunakan perusahaan untuk antar
jemput para pegawai dapat dibebankan seluruhnya sebagai biaya perusahaan
melaluai penysutan aset tetap kelompok II.
c. Aset biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar kendaraan sedan atau
yang sejenis yang dimiliki dan digunakan perusahaan untuk pegawai tertentu
karena jabatan atau pekerjaan dapat dibankan sebagai biaya perusahaan sebesar
50% dari jumlah biaya perolehan atau pembelian perbaikan besar melalui
penyusutan aset tetap kelompok II.
5. Penysutan /Amortisasi untuk Perencanaan Modal Bidang Tertentu
Untuk penanaman modal dalam bidang bidang usaha tertentu dan / atau daerah
daerah tertentu diberikan Fasilitas terhadap percepatan penyusutan dan amortisasi .
sesuai PP No.1/2007 (Amendemen PP No.148/2000), jenis usaha,tarif penyusutan,
dan amortisasi yang dipercepat adalah
1. Jenis industri terdiri atas industri makanan lainnnya;tekstil dan pakaian
jadi;bubur kertas, kertas, dan karton; bahan kimia lain; barang jadi porselen
logam dasar besi dan barang dari karet; barang kimia lainnya;dan pengolahan
usaha terpadu. Fasilitas tersebut hanaya akandiberikan kepada wajib pajak
dalam negri berbentuk perseroan terbatas dan koperasi
2. Tarif penyusutan dan Amortisasi dipercepat, dapat dilihat pada tabel berikut:

Kelompok aset Tetap berwujud Masa Tarif penyusutan/ Amortisasi


manfaat Garis Lurus Saldo menurun

menjadi
III. Bukan bangunan
Kelompok I 2 tahun 50% 100%
Kelompok II 4 tahun 25% 50%
Kelompok III 6 tahun 16,667% 33,33%
Kelompok IV 8 tahun 12,5% 25%

IV. Bangunan
Permanen 10 tahun 10% -
Tidak permanan 5 tahun 20% -

Amortisasi: Pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan


pengeluara lainnya termasuk perpanjangan hak-hak atas tanah yang mempunyai masa
manfaat lebih dari satu tahun,di amortisasi dengan metode garis lurus maupun metode
saldo menurun.

Amortisasi di bidang Penambahan minyak dan gas bumi: pengeluaran untuk memeroleh
hak dan pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun di bidang
penambahan minyak dan gas bumi di amortisasikan dengan metode satuan produksi

Amortisasi dibidang penambangan selain minyak dan gas bumi : Pengeluaran untuk
memperoleh hak penambahan selain minyak dan gas bumi, hak pengusahaan hutan, atau
hak pengusahaan sumber alam serta hasil alam serta hasil alam lainnya seperti hak
pengusahaan metode suatu produksi dengan jumlah paling tinggi 20% aetahun.
Amortisasi atas penagihan harta tak berwujud/ hak: Dalam hal terdapat pengalihan harta
tak berwujud/hak,nilai sisa buku harta atau hak tersebut dibebenkan sebagai kerugian,
sedangka jumlah penggantian dibukukan sebagai penghasilan pana tahun terjadinya
penagihan.

Penentuan niai perolehan: Penghitungan penyusutan atau amortisasi dipengaruhi oleh


etode,masa manfaat,dan jumlah yang disusutkan atau harga perolehan. Dalam hal
perolehan harta secara umum, harga perolehan dihitung dari harga jual beli ditambah
dengan biaya-biaya yang dikeluarkan sampai harta tersebut siap untuk digunakan.

1. Penilaian dalam hal jual beli harta


2. Penilaian dalam hal tukar menukar
3. Pengalihan harta dalam angka pengembangan usaha berupa likuiditas,
penggabungan , peleburan, pemekaran, dan pengembalalihan usaha
4. Penilaian kena hibah,bantuan,dan sumbangan
5. Pengalihan harta sebagai pengganti saham

Penilaian persediaan dan harga pokok penjualan: Harga pokok penjualan merupakan
salah satu biaya langsung yang berkaitan dengan usaha terutama usaha dagang dan
manufaktur.

Biaya yang Tidak Diperkenankan sebagai Pengurangan (Non- Deductible Expense)

Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh wajib pajak dapat dibebankan antara


pengurangan yang boleh dikurangi dari penghasilan bruto dan yang tidak boleh
dibebankan sebagai biaya (non- deductible). Pada prinsipnya biaya yang boleh
dikurangakan dari penghasilan bruto adalah biaya yang mempunyai hubungan langsung
dengan usaha atau kegiatan untk mendapatkan menagih, dan memelihara penghasilan
yang merupakan Objek Pajak.

Berikut ini pengeluaran-pengeluaran yang tidak diperkenankan dikurangkan dari


penghasilan bruto bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, sesuai pasal
9ayat (1) Nomor 36 Tahun 2008.

1. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apa pun seperti deviden, termasuk
deviden yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis,dan
pembagian sisa hasil usaha koperasi
2. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham,sekutu,atau anggota.
3. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali (pmk No. 03/2009dan PMK
No. 219/PMK.011/2012
4. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan,asuransi jiwa asuransi dwiguna,dan
asuransi beasiswa yang dibayar oleh wajib pajak orang pribadi,kecuali jika dibayar
oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi wajib pajak
yang bersangkutan
5. Penggantian atau imbalan sehubung dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan
dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman
bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan
kenikamtan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan
yang ditetepkan dengan Keputusa Mentri Keuangan.
6. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayar kepada pemegang saham atau kepada
pihak yang mempunya hubungan istimewa sebagai imbalan sehubung dengan
pekerjaan yang dilakukan
7. Harta yang diibahkan, bantuan atau sumbangan,dan warisan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 4 ayat (3) huruf a dan b UU PPh,kecuali sumbangan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m UU PPh serta zakat
yang yang ditetima oleh badan azmil zakat atau amil zakat yang dibentuk atau
disahkan oleh pemerinrah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi
pemeluk agama yang diakui di indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan
yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan
atau berdasarkan peraturan pemerintah
8. Pajak penghasilan
9. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi wajib pajak atau
orang yang menjadi tanggungan
10. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan,firma,atau perseroan komanditer
yang modalnya tidak berbagi atas saham
11. Sanksi administrasi berupa bunga,denda,dan kenaikan secara sanksi pidana berupa
denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang
perpajakan

MENGHITUNG PAJAK PENGHASILAN


Pajak penghasilan yang terutang diutang dengan mengalihkan tarif tertentu tertentu
terhadap dasar pengenaan pajak. Dalam pembahasan pajak penghasilan, dasar
pengenaan pajak biasa disebut dengan penghasilan kena pajak (PKP). Jadi penghasilan
kena pajak merupakan dasar penghitungan untuk menentukan besarnya PPh yang
terutang.PPh dapat dipungut dengan self assessment system,official assessment
system,dan withholding system.

Menghitung PPh yang terutang atas penghasilan yang diperoleh Wajib pajak yang
bersangkutan akan dibahas tentang Rekonsiliasi Fiskal dan Praktik Pengisian SPT.
Menghitung PPh yang dipotong atas penghasilan yang dibayarkan akan dibahas pada
bab-bab berikutnya melipoti PPh Pasal 21,23,24 ayat (2). Secara umum, pajak
penghasilan yang terutang dihitung dengan formal sebagai berikut.

PPh Terutang= Tarif Pajak x Penghasilan Kena Pajak

Tarif Pajak

Tarif pajak merupakan persentase tertentu yang digunakan untuk menghitung besarnya
PPh. Tarif PPh yang berlaku di Indonesia dikelompokkan menjadi dua, yaitu tarif umum
dan Khusus

Penghasilan Kena Pajak (PKP)

Secara umum , besarnya penghasilan Kena Pajak wajib pajak dalam negri dan bentuk
usaha tetap ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk
mendapatkan,mengalihkan, dan memelihara penghasilan. Penghasilan bruto yang
dimaksud adalah penghasilan sesuai dengan pasal 4 ayat (1) UU PPh tidak termasuk
penghasilan yang dikenakan PPh bersifat final sebagaimana diatur dalam Pasal ayat (2)
dan penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak. Biaya-biaya yang dimaksud adalah
biaya biaya atau pengeluaran sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) UU PPh.

Penentuan Penghasilan kena pajak dikelompokkan menjadi.

1. Wajib pajak orang pribadi dan badan yang memiliki peredaran usaha tertentu.
1. Tarif yang dikenakan adalah 1%
2. Penghasilan kena pajak yang dimaksud adalah peredaran bruto sebulan
3. PPh terutang dihitung dari tarif dikalikan penghasilan kena pajak.
PPh terutang = Tarif x PKP
= 1% x Peredaran bruto sebulan
2. Wajib paja orang pribadi menggunakan norma perhitungan
1. Tarif yang dikenakan adalah tarif Pasal 17 UU PPh ayat (1) huruf a UU PPh
2. Penghasilan kena pajak dihitung sebagai berikut.
PKP = Penghasilan neto PTKP
= (Peredaran bruto x % NPPN) PTKP
3. PPh terutang dilihat dari tarif dikalikan penghasilan kena pajak:
PPh terutang = Tarif x PKP
= Tarif x (Peredaran bruto x % NPPN) PTKP
Keterangan:
PTKP : Penghasilan tidak kena pajak
NPPN : Norma perhitungan penghasilan neto
Selanjutnya perhitungan PKP dan PPh terutang diinformasikan sebagai berikut.
PKP = Penghsilan neto Zakat atas penghasilan PTKP
=( Peredaran bruto x % NPPN) Zakat atas penghasilan PTKP
PPh terutang = Tarif x PKP
=( Peredaran bruto x % NPPN) Zakat atas penghasilan PTKP
3. Wajib pajak orang pribadi menyelenggarakan pembukuan
1. Tarif yang dikenakan adalah tarif pasal 17 UU PPh ayat (1) huruf a UU PPh
2. Penghasilan kena pajak dihitung seperti berikut:
PKP = Penghasilan neto PTKP
= (peredaran bruto Pengeluaran / biaya yang boleh dikurangkan) PTKP
3. PPh terutang dihitung dari tarif dikalikan penghasilan kena pajak:
PPh Terutang = Tarif x PKP
= tarif x {( Peredaran bruto Pengeluaran/ biaya yang boleh
dikurangi ) PTKP}
Perhitungan PKP dan PPh terutang diinformulasikan sebagai berikut:
PKP = Penghasilan neto Zakat atas apenghasilan PTKP
= ( Peredaran bruto Pengeluaran/ biaya yang boleh dikurangkan ) Zakat
atas penghasilan Sisa rugi dikompensasikan PTKP
PPh terutang = Tarif x PKP
= Tarif x {( Peredaran bruto Pengluaran/biaya yang boleh
dikurankan) Zakat atas penghasilan sisa rugi dikompensasikan PTKP }
4. Wajib pajak badan dalam negri menyelenggarakan pembukuan
1. Tarif yang dikenakan adalah tarif pasal 31 E UU PPh
2. Penghasilan kena pajak dihitung sebagai berikutz;
PKP = Penghasilan neto
= ( Peredsrsn bruto Pengeluaran / biaya yang boleh dikurangkan)
3. PPh terutang dihitung dari tarif dikalikan penghasilan kena pajak:
PPh terhitung = Tarif x PKP
= Tarif x ( peredaran bruto Pengeluaran /biaya yang boleh
dikurangi
Perhitungan PKP dan PPh terutang di formulasikan sebagai berikut:
PKP = Penghasilan neto Sisa rugi di kompensasikan
= ( Peredaran bruto Pengeluaran / biaya yang boleh dikurangi ) Sisa
rugi Dikompensasikan
PPh Terutang = Tarif x PKP
= Tarif x {( peredaran bruto Pengluaran/ biaya yang boleh
dikurangkan ) Sisa rugi di kompensasikan)
5. Wjib pajak bentuk usaha tetap
1. Tarif yang dikenakan adalah tarif pasal 17 (1) huruf b UU PPh.
2. Penghasilan kana pajak dihitung sebagai berikut
PKP = Penghasilan neto
(peredaran bruto Pengeluaran / biaya yang boleh dikurangkan)
3. PPh terutang dihitung dari tarif dikalikan penghasilan kena pajak
PPh terutang = Tarif x PKP
= Tarif x ( peredaran bruto pengeluaran/ biaya yang boleh
dikurangkan).

PELUNASAN PAJAK PENGHASILAN

Pelunasan pajak penghasilan dalam tahun berjalan dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu pelunasan pajak memalui pihak lain dan oleh wajib pajak sendiri. Pelunasan pajak
penghasilan dalam tahun berjalan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 138 Tahun
2000.Dalam pelunasan pajak dilakukan oleh pihak lain.

Pelunasan Pajak dalam Tahun Berjalan Melalui Pihak Lain

Pelunasan pajak dalam tahun berjalan melalui pihak lain (pemberian penghasilan /
pemotongan pajak) dikelompokkan sebagai berikut:

1. Pemotongan pajak penghasilan oleh pihak lain atas penghasilan brtupa gaji, upah,
honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk
apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan , jasa, dan kegiatan yang
dilakukan oleh wajib pajak orang pribadi dalam negri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21 ayat (1) Undang-undang Pajak Penghasilan terutang pada akhir bulan
dilakukannya pembayaran atau pada akhir bulan terutangnya penghasilan yang
bersangkutan , terutang peristiwa yang terjadi terlebih dahulu.
2. Pemungutan pajak penghasilan oleh pihak badan pemerintahan berkenaan dengan
pembayaran atas penyerahan barang; dan badan- badan tertentu baik badan
pemerintah maupun swasta berkenaan dengan kegiatan dibidang imor atau kegiatan
usaha dibidang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) Undang-undang
Pajak Pengahasilan, terutang pada saat pembayaran, kecuali ditetepkan lain oleh
Mentri Keuangan.
3. Pemotongan pajak penghasilan oleh pihak lain atas penghasilan berupa deviden
,bunga, royalty, penghargaan, hadiah, bonus, dan lain-lainnya yang diterima oleh
Wajib Pajak dalam negri atau bentuk usaha tetap , sebagaimana dimaksud dalam
pasal 23 UU Pajak Penghasilan , terutang pada akhir bulan dilakukannya pembayaran
atau akhir bulan terutangnya pajak penghasilan yang bersangkutan tergantung
peristiwa yang terjadi terlebih dahulu.
4. Pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima oleh wajib pajak luar negri selain
bentuk usaha tetap sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 26 ayat (1) dan aya (2)
Undang-undang pajak penghasilan, terutang pada akhir bulan dilakukannya
pembayaran atau akhir bulan terutangnya penghasilan yang bersangkutan, terutang
peristiwa yang terjadi terlebih dahulu .
5. Pelunasan pajak atas penghasilan penghasilan tertentu ( bunga, deposito, dan
simpanan lain di bank,hadiah undian ,teransaksi saham dan skuritas lain, dan
sebagaimana ) yang diatur tersendiri dengan Peraturan Pemerintah , sebagaimana
yang dimaksud Pasal 4 ayat (2) Undang- Undang Pajak.

Pelunasan Pajak dalam Tahun Berjalan oleh Wajib Pajak Sendiri

Disamping melalui pihak lain, pelunasan pajak dapat dilakukan sendiri oleh wajib pajak.

1. Wajib pajak orang pribadi dalam negri yang menerima penghasilan sehubung dengan
pekerjaan dari badan badan yang tidak wajib melakukan pemotongan, penyetoan,
dan pelaporan pajak sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 21 ayat (2) UU Pajak
Penghasilan ,wajib memiliki NPWP dan meleksanakan sendiri penghitungan dan
pembayaran pajak penghasilan yang terutang dalam tahun berjalan saat melaporkan
nya dalam Surat Pemberitahunan Tahunan.
2. Wajib pajak membayar sendiri pajak atas penghasilanyang diperoleh atau diterima
melalui angsuran Pajak Penghasilan dalam Tahun Pajak berjalan ( PPh pasal 25)

Pelunasan Pajak saat sesudah Akhir Tahun Pajak

Pelunasan pajak saat sesudah akhir tahun pajak dilakukan dengan:


1. Membayar pajak yang kurang disetor dengan menghitung sendiri jumlah PPh yang
terutanguntuk satu tahun pajakdikurangi denngan jumlah kredit pajak tahun yang
bersangkutan sebagaimana diatur dalam Pasal 29 UU PPh
2. Membayar pajak yang kurang disetor karena menerima surat ketetapan pajak (SKPKB
atau SKPKBT) ataupun surat tagihan pajak yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak.