Anda di halaman 1dari 38

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 latar belakang


Takut dan Cemas merupakan suatu perasaan yang bisa dialami oleh setiap
orang dalam kehidupannya setiap hari. Setiap orang akan mengalaminya pada
waktu yang berbeda-beda. Takut dan cemas sering berhubungan erat. Saat
orang merasa takut akan sesuatu, orang tersebut sering merasa cemas juga.
Walaupun perasaan cemas dan takut keduanya berhubungan erat, keduanya
berbeda.Ansietas merupakan satu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir
disertai dengan gejala somatik yang menandakan suatu kegiatan berlebihan
dari Susunan Saraf Autonomic (SSA). Ansietas merupakan gejala yang umum
tetapi non-spesifik yang sering merupakan satu fungsi emosi.
Rasa khawatir, gelisah, takut, waswas, tidak tenteram, panik dan
sebagainya merupakan gejala umum akibat cemas. Namun sampai sebatas
mana situasi jiwa berupa cemas itu dapat ditoleransi oleh seorang individu
sebagai kesatuan utuh. Karena seringkali cemas menimbulkan keluhan fisik
berupa berdebar-debar, berkeringat, sakit kepala, bahkan gangguan fungsi
seksual dan beragam lainnya.Begitu banyak manifestasi gejala akibat cemas.
Begitu banyak pula penderita yang terkecoh, menganggap fisiknya yang sakit,
sehingga mereka gonta-ganti dokter sampai minta dilakukan operasi dan
bahkan ada yang minta bantuan dukun. Dengan begitu, bahwa cemas
menjadikan seseorang tidak rasional lagi. Karena itu, selagi Anda masih dapat
berpikir rasional, kenalilah gejala cemas yang sakit (anxietas) itu.
Kecemasan pada umumnya berhubungan dengan adanya situasi yang
mengancam atau membahayakan. Dengan berjalannya waktu, keadaan cemas
tersebut biasanya akan dapat teratasi sendiri. Namun, ada keadaan cemas yang
berkepanjangan, bahkan tidak jelas lagi kaitannya dengan suatu faktor
penyebab atau pencetus tertentu. Hal ini merupakan pertanda gangguan
kejiwaan yang dapat menyebabkan hambatan dalam berbagai segi kemampuan
dan fungsi sosial bagi penderitanya. Tidaklah mudah untuk membedakan
cemas yang wajar dan cemas yang sakit. Karena keduanya merupakan respons
yang umum dan normal dalam kehidupan sehari-hari. Perkiraan prevalensi
gangguan ansietas di masyarakat (per 1000 orang) adalah: gangguan ansietas

1
menyeluruh 30, gangguan panik 15, agoraphobia 20, fobia sosial 30, fobia
sederhana 45, dan gangguan obsesif-kompulsif (yang tidak berkomorbid
dengan gangguan ansietas lain) 10. (Narrow, et al., 2002)
Di pelayanan kesehatan primer prevalensinya adalah: gangguan ansietas
menyeluruh 7,9%, dan gangguan panic/agoraphobia 2,6%. Maramis, 2009)

1.2 Rumusan masalah


Bagaimanakah pelaksanaan asuhan keperawan pada pasien ansietas?

1.3 Tujuan penulisan


Tujuan umum
Mengetahui pelaksanaan asuhan keperawatan paada pasien ansietas?
Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi pengkajian pada pasien ansietas
2. Mengidentifikasi diagnosa keperawatan pada pasien ansietas
3. Mengidentifikasi intervensi keperawatan pada pasien ansietas
4. Mengidentifikasi implementasi keperawatan pada pasien ansietas
5. Mengidentifikasi evaluasi pada pasien ansietas

1.4 Manfaat
1. Mahasiswa mampu mendiskripsikan konsep dasar ansietas
2. Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien
ansietas

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi
Banyak para ahli yang menguraikan definisi ansietas, namun dari sekian
banyak definisi yang dikemukakan pada dasarnya pengertian ansietas akan
mengarah pada suatu kesimpulan yang sama.Kata ansietas berasal dari bahasa
latin, angere yang berarti tercekik atau tercekat. Gangguan ansietas adalah

2
keadaan tegang yang berlebihan atau tidak pada tempatnya yang ditandai oleh
perasaan khawatir, tidak menentu atau takut. (Maramis, 2009)
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan
dengan perasaan tak berdaya dan tidak pasti, tidak memiliki objek yang
spesifik, dialami secara subyektif dan dikomunikasikan secara interpersonal.
Ansietas merupakan suatu sensasi distress psikologis (buku keperawatan jiwa
edisi 5 hal 144).
Menurut Capernito (2001) kecemasan adalah keadaan individu atau
kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas
sistem saraf autonom dalam berespons terhadap ancaman yang tidak jelas, non
spesifik. Kecemasan merupakan unsur kejiwaan yang menggambarkan
perasaan, keadaan emosional yang dimiliki seseorang pada saat menghadapi
kenyataan atau kejadian dalam hidupnya (Rivai,2000).
Kecemasan adalah perasaan individu dan pengalaman subjektif yang tidak
diamati secara langsung dan perasaan tanpa objek yang spesifik dipacu oleh
ketidak tahuan dan didahului oleh pengalaman yang baru (Stuart dkk,1998)
Berdasarkan definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kecemasan
adalah perasaan yang tidak menyenangkan, tidak enak, khawatir dan gelisah.
Keadaan emosi ini tanpa objek yang spesifik, dialami secara subjektif dipacu
oleh ketidak tahuan yang didahului oleh pengalaman baru, dan
dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal.

2.2 Etiologi
Gangguan ansietas pada dasarnya mempunyai penyebab multifaktorial,
baik dari diri sendiri, faktor biologis, faktor sosial, psikologis,
penyalahgunaan/pemakaian obat tertentu secara berlebihan, maupun gejala
yang timbul dari suatu penyakit lain. (Fracchione:2004).
2.2.1 Faktor Predisposisi :
1. Dalam pandangan psikoanalitik ansietas adalah konflik emosional
yang terjadi antara dua elemen kepribadian id dan superego. Id
mewakili dorongan insting dan implus primitif seseorang.
Sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan
dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego atau Aku.

3
Berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan,
dan fungsi ansietas adalah mengigatkan ego bahwa ada bahaya.
2. Menurut pandangan interpersonal ansietas timbul dari perasaan
takut terdapat tidak adanya pnerimaan dan penolakan interpersonal.
Ansitas juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti
perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kelemahan spesifik.
Orang dengan harga diri rendah terutama mudah mengalami
perkembanag ansietas yang berat.
3. Menurut pandanagan prilaku ansietas merupakan produk frustasi
yaitu segala sesuatu yang menggangu kemampuan seseorang utuk
mencapai tujuan yang diinginkan. Ansietas dapat disebabkan
karena frustasi, konflik, tekanan, krisis, ketakutan yang terus
menerus yang disebabkan oleh kesusahan dan kegaglan yang
bertubi-tubi, adanya kecenderungan-kecenderungan harga diri yang
terhalang, respressi terdapat macam-macam masalah emosional,
akan tetapi bisa berlangsung secara sempurna(incomplete repress),
atau dorongan-dorongan seksual yang tidak terdapat kepuasan dan
terhambat,sehingga mengakibatkan banyak konflik batin
(Cameroon,2004).
4. Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas
merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Ada
tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan
ansietas dengan depresi. Ansietas juga dapat disebabkan karena ada
pengaruh faktor genetik dari keluarga. Penelitian telah melaporkan
bahwa dua pertiga sampai tiga perempat pasien yang tertekan
ansietas memiliki sekurang-kurangnya satu anak saudara derajat
pertama dengan ansietas spesifik tipe spesifik yang
sama(Brust,2007)
5. Kajian biologis menunjukan bahwa otak mengandung reseptor
khusus untuk benzodiazepines. Reseptor ini mungkin membantu
mengatur ansietas. Penhambat asam aminobutirik-gamma
neroregulator (GABA) juga mungkin memainkan peran utama
dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas,
sebagaimana halnya dengan endorfin.

4
6. Penyalahgunaan atau penggunaan obat/zat tertentu yang berlebihan
juga merupakan salah satu penyebab utama ansietas. Seperti
alkoholisme, intoksikasi kafein, hipertiroidisme, dan
feokromositoma harus disingkirkan dalam mengatasi gejala
ansietas ini (Brust, 2007). Karena sebagai besar orang akan berlari
ke hal-hal tadi untuk menhadapi ansietas yang timbul pada dirinya.
2.2.2 Menurut Teori neurobiology
1. Kimia otak dan factor perkembangan Penelitian menunjukkan
bahwa sistem syaraf otonom atau noradrenergic yang menyebabkan
seseorang mengalami kecemasan lebih besar tingaaktannya dari
orang lain
2. Abnormalitas regulasi substansia kimia otak seperti serotonin dan
GABA (gamma-aminobutyric acid) berperan dalam perkembangan
cemas
3. Amygdala sebagai pusat komunikasi antara bagian otak yang
memproses input sensori dan bagian otak yang menginterpretasikan
input (amygdala mengidentfikasi informasi sensori yang masuk
sebagai ancaman dan kemudian menimbulkan perasaan
cemas/takut). Amygdala berperan dalam phobia, mengkoordiasikan
rasa takut, memory, dan emosi, dan semua respon fisik terhadap
situasi yang penuh dengan stressor
4. Locus ceruleus, adalah satu area otak yang mengawali respon
terhadap suatu bahaya dan mungkin respon tersebut berlebihan pada
beberapa individu sehingga mneyebabkan seseorang mudah
mengalami cemas khususnya PTSD (post traumatic sindrom
disorder)
5. Hippocampus, bertanggung jawab terhadap stimuli yang
mengancam dan berperan dalam pengkodean informasi ke dalam
memori
6. Striatum, berperan dalam control motorik, terlibat dalam OCD
(obsessive compulsive disorder)
7. Jaras saraf assendens yang mengandung noradrenalin dan 5-
hidroksitriptamin menginervasi lobus limbic dan neokorteks.
Meningkatnya aktivitas saraf noradregenik akan menimbulkan
meningkatnya keterjagaan; meningkat nya aktivitas saraf 5-

5
hidroksitriptamin akan meningkatkan respon terhadap stimulus
yang bersifat aversif. (Maramis, 2009)
8. Penyakit fisik
9. Exposure of subsntace
10. Paparan bahaya/trauma fisik dan psikologis.
2.2.3 Menurut Teori psikologi
a. Harga diri rendah
b. Pemalu pada masa kanak-kanak
c. Orang tua yang pemarah, terlalu banyak kritik
d. Ketidaknyamanan dengan agresi
e. Sexual abuse
f. Mengaami peristiwa yang menakutkan
g. Teori kognitif : cemas sebagai manifstasi dari penyimpangan
berpikir dan membuat persepsi/kebiasaan/perilaku individu
memandang secara berlebihan terhaap suatu bahaya.

2.2.4 Beberapa Faktor Resiko Ansietas


a. Wanita 2x lebih besar dari pada laki-laki
b. Etnik
c. Perpisahan
d. Pernah mengalami kekerasan fisik saat anak-anak, sexual
abuse
e. Status sosial dan ekonomi rendah
f. Riwayat keluarga (pernah adanya penyimpangan yang hampir
sama)
g. Substance or stimulant abuse <

2.3 Rentang Respon Ansietas


2.3.1 Rentang respon individu terhadap ansietas berfluktuasi antara respon
adaptif dan maladaptif seperti terlihat pada gambar :

Respon adaptif --------------------------------------- Respon Maladaptif


_______________________________________________________
antisipasi ringan sedang berat panik

Respon ansietas sering kali tidak berkaitan dengan ancaman yang


nyata, namun tetap dapat membuat seseorang tidak mampu bertindak
atau bahkan menarik diri

2.3.2 Tingkat ansietas


Beberapa teori membagi ansietas kedalam emapt tingkat sesuai
dengan rentang respon ansietas yaitu :

6
1) Ansietas ringan.
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan kehidupan
sehari-hari. Pada tingkat ini lapang persepsi meningkat dan
individu akan berhati-hati dan waspada. Pada tingkat ini individu
terdorong untuk belajar dan akan menghasilkan pertumbuhan dan
ktreativitas.

2) Ansietas sedang
Pada tingkat ini lapang persepsi terhadap lingkungan menurun.
Individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan
mengesampingkan hal lain.
3) Ansietas berat
Pada ansietas berat, lapang persepsi menjadi sangat menurun.
Individu cenderumng memikirkan hal yang kecil saja dan
mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir berat
lagi dan membutuhkan banyak pengarahan.
4) Ansietas panic
Pada tingkat ini individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi
dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi walaupun sudah diberi
pengarahan.

2.4 Penilaian Tingkat Kecemasan


Untuk test kecemasan dapat dilakukan dengan cara memberikan
pertanyaan langsung, mendengarkan cerita serta mengobservasinya, terutama
perilaku non verbal. Hal ini berguna untuk menentukan adanya kecemasan
dan tingkat kecemasannya (Maramis, 1995).
2.4.1 Dalam penilaian kecemasan dipakai skor HARS (Hamilton Anxiety Rating
Scale) yang dianggap baku, gejala-gejala yang tercantum pada HARS dari 14
item dengan perincian sebagai berikut :

No Gx. Psikologi Gx. Fisik


Cemas Gejala Somatik
- Firsat buruk Nyeri otot
- Takut pada pikiran sendiri Kaku
- Mudah tersinggung Gigi gemeretak
Ketegangan
Iman tidak setabil
- Merasa tegang
- Lesu Gejala Sensorik
- Mudah terkejut Penglihatan kabur
- Tidak bisa tidur dengan nyenyak Merasa lemah

7
- Mudah menangis Gejala Kardiovaskuler
- Gemetar Berdebar-debar
- Gelisah Nyeri dada
Ketakutan <24 Denyut nadi lemah
- Pada gelap Rasa lemah seperti mau pingsan
- Ditinggal sendiri Gejala Pernafasan
- Pada orang asing Rasa tertekan didada
- Pada binatang besar Perasaan tercekik
- Pada kerumunan orang banyak Merasa sesak
Gangguan Tidur Gejala Gastrointestinal
- Sukar masuk tidur Sulit menelan
- Terbangun malam hari Ganngguan pencernaan
- Tidak pulas Mual muntah
- Mimpi buruk Berat badan berkurang
Gangguan Kecerdasan Konstipasi
- Daya ingat menurun Gejala Urogenitalia
- Sering bingung Sering kencing
Perasan Depresi Tidak dapat menahan kencing
- Kehilangan minat Amenorhoe
- Berkurangnya kesenangan pada hobi Impoten
- Sedih Gejala Vegetatif
- Bangun dini hari Mulut kering
- Perasaan berubah-ubah sepanjang Muka kering
Mudah berkeringat
hari
Sakit kepala
Bulu roma berdiri
Perilaku saat wawancara
- Gelisah
- Tidak tenang
- Muka tegang
- Mengerutkan kepala
- Jari gemetar
- Muka marah
Nafas pendek

2.4.2 Penentuan derajat kecemasan adalah:


1. Apabila skore <6 maka tidak ada kecemasan
2. Apabila skore 6-14 terdapat kecemasan ringan
3. Apabila skore 15-27 terdapat kecemasan sedang
4. Apabila skore > 27 terdapat kecemasan berat
2.4.3 Cara penilaian tingkat kecemasan :
1. Apabila tidak ada gejala sama sekali
2. Apabila satu dari gejala yang ada
3. Apabila separuh dari gejala yang ada
4. Apabila lebih dari separuh dari gejala yang ada
5. semua ada gejala Apabila

8
2.5 Respon Tubuh Terhadap Ansietas, sumber koping, dan Mekanisme
Koping Terhadap Ansietas.
2.5.1 Respon Tubuh Terhadap Ansietas
Ansietas dan gangguannya dapat muncul dalam berbagai tanda dan
gejala fisik dan psikologik seperti gemetar, rasa goyah, nyeri
punggung dan kepala, ketegangan otot, napas pendek, mudah lelah,
sering kaget, hiperaktivitas autonomik seperti wajah merah dan
pucat, berkeringat, tangan rasa dingin, diare, mulut kering, sering
kencing, rasa takut, sulit konsentrasi, insomnia, libido turun, rasa
mengganjal di tenggorok, rasa mual di perut dan sebagainya seperti
tercantum dalam tabel dibawah ini.
Sistem tubuh Respons
Kardiovaskuler Palpitasi, Jantung berdebar, tekanan darah
meninggi, rasa mau pingsan*, pingsan*,
tekanan darah menurun*, denyut nadi
menurun*.
Pernapasan Napas cepat, napas pendek, tekanan pada
dada, napas dangkal, pemnengkakan pada
tenggorok, sensasi tercekik, terengah-engah.
Neuromuskular Refleks meningkat, reaksi kejutan, mata
berkedip-kedip, insomnia, tremor, rigiditas,
gelisah, wajh tegang, kelemahan umum, kaki
goyang, gerakan yang janggal.
Gastromtestinal Kelihatannya nafsu makan, menolak
makanan, rasa tidak nyaman pada abdomen*,
mual*, rasa terbakar pada jantung*, diare*,
Traktus Tidak dapat menahan kencing*,sering
urinarius berkemih,
Kulit Wajah kemerahan, berkeringat setempat
(telepk tangan), gatal, rasa panas dan dingin
pada kulit, wajah pucat, berkeringat seluruh
tubuh.
* Respons parasimpatis.
2.5.2 Sumber Koping Ansietas :

9
Individu dapat mengatasi stress dan ansietas dengan mengerakkan
sumber koping dilingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal
ekonomik, kemampuan penyelesaian masalah, dukungan sosial, dan
keyakinan budaya dapat membantu seseorang mengintergrasikan
penbgalaman yang menimbulkan stres dan mengandopsi strategi
koping yng berhasil.
2.5.3 Mekanisme Koping
Ketika mengalami ansietas, individu menggunakan berbagai
mekanisme koping untuk mencoba mengatasinya, dan ketidak
mampuan mengatasi ansietas secara konstruktif merupakan penyebab
utama terjadinya perilaku patologis. Pola yang cenderung digunkan
seseorang untuk mengatasi ansietas ringan cenderung tetap dominan
ketika ansietas menghebat. Anseitas tingat ringan sering
ditanggulangi tanpa pemikiran yang serius. Perilaku adaptasi
psikologis juga mengacu pada mekanisme koping (coping
mechanism), yang berorentasi pada tugas (task oriented) dan
mekanisme pertahanan diri (ego oriented). Tingkat ansietas sedang
dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme koping:
a. Reaksi yang berorientasi pada tugas (task oriented). Reaksi ini
melibatakan penggunaan kemampuan kognitif untuk mengurangi
stres dan memecahkan masalah upaya yang disadari, dan
berorentasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistik
terhadap tuntutan situasi stres.
b. Perilaku menyerang digunakan untuk mengubah atau mengatasi
hambatan pemenuhan kebutuhan
c. Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun
psikologis untuk memindahkan seseorang dari sumber stres.
d. Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang
mengopersaikan, mengganti tujuan, atau mengorbankan aspek
kebutuhan personal seseorang.
e. Mekanisme pertahanan ego. Reaksi ini dikenal sebagai
mekanisme pertahanan diri secara psikologis untuk mencegah
gangguan psikologis yang didalam. Membantu mengatasi ansietas
ringan dan sedang, tetapi jika berlangsung pada tingkat tidak

10
sadar dan melibatkan penipuan diri dan distorsi realistas, maka
mekanisme ini dapat merupakan respon maladatif terhadap stres.
Tabel mekanisme pertahanan ego :
Mekanisme pertahanan
Definisi
diri
Kompensasi Proses dimana seseorang dengan citra
diri yang kurang berupaya mengantikan
dengan menekankan pada kelebihan
yang dianggapnya sebagai asset.
Mengingkari (denial) Menghindarkan relitas ketidaksetujuan
dengan mengabaikan atua menolak
untuk mengenalinya; kemungkinan
merupakan mekanisme pertahana diri
yang paling sederhana dan primitif.
Mengalihkan(Displaceme Mengalihkan emosi yang seharusnya
nt) diarahkan pada orang atua benda
tertentu ke benda atau orang yang netral
atau yang tidak membahayakan
Disosiasi Pemisahan dari setiap kelompok mental
atau proses perilaku dari seluruh
kesadaran atau indentitas
Indentifikasi Proses individu mencoba untuk menjadi
seperti seseorang yang dikagumi oleh
individu tersebut dengan menirukan
pikiran, perilaku, atau kesukaannya
Intelektualisasi Alasan atau logika yang berlebihan
yang digunakan untuk menghindari
perasaan-perasaan mengganggu yang
dialami
Introyeksi Tipe indentifikasi yag hebat dimana
individu menyatukan kualitas atau
nilai-nilai orang lain atau kelompok ke
dalam struktur egonya sendiri;salah
satu mekanisme terdini pada anak-anak;

11
penhting dalam pembentukan hati
nurani.
Isolasi Memisahkan komponen emosional dari
pikiran, yang dapat temporer atau
jangka panjang
Projeksi Mengkaitkan pikiran atau implus
dirinya, terutama keinginan yang tidak
dapat ditoleransi, perasaan emosional,
atau motivasi, kepada orang lain.
Rasionalisasi Memberikan penjelasan yang diterima
secara sosial atau tampaknya masuk
akal untuk menyesuikan implus,
perasaan, perilaku, dan motif yang
tidak dapat diterima
Reaksi formasi Pembentukan sikak kesadaran dan pola
perilaku yang berlawanan denganpapa
yang benar-benar dirasakan atau akan
dilakukan oleh orang lain
Regresi Meghindari stres terhadap karakteristik
perilaku dari tahap perkembangan yang
lebih awal
Represi Dorongan involunter dari pikiran yang
mennyakitkan atau konflik, atau
ingatan dari kesadaran; pertahanan ego
yang primer, yang lebih cenderung
memperkuat mekanisme ego lainnya.
Spliting Memandang orang dan situasi sebagai
semuanya baik atau semuanya buruk;
gagal untuk mengintegarikan kualitas
negatif dan positif seseorang
Sublimasi Penerimaan tujuan pengganti yang
diterima secara sosial karena dorongan
yang merupakan saluran norma
ekspresi terhambat
Suspensi Suatu proses yang sering disebut

12
sebagai mekenisme pertahana diri,
tetapi benar merupakan analogi represi;
pencetusan kesadaran bertujuan; suatu
ketika dapat mengarah pada represi
Undoing Bertindak atau berkomunikasi yang
secara sebagian meniadakan yang
sudah ada sebelumnya; mekanisme
pertahanan diri primitif
2.5.4 Mekanisme pertahanan terhadap stres.
1. Menurut Kubler-Ross
1) Denial
a. Fase penolakan
b. Respon window for shopping (mencari pelayanan lain
utuk meyakinkan bahwa penyakitnya tidak benar/salah)
c. Tidak mau mencurahkan sakitnya (isolasi diri) pada
orang lain
d. Optimis/merasa tidak sakit (tingkah laku sehat)
e. Sifat fase dinal relative
2) Angry
a. Menyalahkn orang lin/tuhan Mengapa harus saya?Apa
dosa saya?
b. Proyeksi : menyalahkan orang lain
3) Bargaining
a. Fase tawar menawar
b. Kata-kata tawar-menawar
c. Sadar bahwa dibalik kata itu hikmah yang baik
d. Diakhiri suatu kesadaran dari diri sendiri
4) Depression
a. Penyebab sedih yang berkepanjangan
b. Terjadi ambang antara nerosa-psikosa
c. Klien tidak ada minat dan keinginan untuk bertahan hidup
d. Klien mengatakan; say tidak bersuami lagi, karena saya
tidak bisa punya anak. Kata-kata orang depresi
5) Acceptance
a. Tahap menerima
b. Pasien siap menerima pengobatan/kematian

2.6 Gangguan Terkait Ansietas


Ciri utama sindrom ansietas terdiri atas meningkatnya keterjagaan
(Hyperarousal), meningkatnya aktivitas simpatetik dan perasaan subjektif
ketakutan serta kecemasan. Beberapa gangguan terkait ansietas dapat dilihat
pada bagan berikut ini.

13
2.6.1 Gangguan Ansietas Fobik
Fobia adalah ketakutan yang berlebihan yang disebabkan oleh benda,
binatang ataupun peristiwa tertentu. sifatnya biasanya tidak rasional,
dan timbul akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami individu.
Fobia juga merupakan penolakan berdasar ketakutan terhadap benda
atau situasi yang dihadapi, yang sebetulnya tidak berbahaya dan
penderita mengakui bahwa ketakutan itu tidak ada dasarnya. Fobia
simpel: sumber binatang, ketinggian, tempat tertutup, darah. Yang
menderita banyak wanita, dimulai semenjak kecil. Gangguan ansietas
fobik dibagi menjadi:
1. Fobia Spesifik
Fobia spesifik dahulu dikenal dengan fobia sederhana.
Fobia spesifik ditandai oleh ketakutan yang tidak rasional akan
objek atau situasi tertentu. Gangguan ini termasuk gangguan
medik yang paling sering didapati, namun demikian sebagian
kasus hanyalah ringan dan tidak perlu mendapatkan pengobatan.
misalnya: ketakutan terhadap kucing (ailurfobia), ketakutan
terhadap ketinggian (acrofobia), ketakutan terhadap tempat
tertutup (agorafobia).
2. Fobia Sosial
Fobia sosial dikenal juga dengan gangguan ansietas sosial,
fobia sosial adalah ketakutan akan diamati dan dipermalukan di
depan publik. Hal ini bermanifestasi sebagai rasa malu dan tidak
nyaman yang sangat berlebihan di situasi sosial. Hal ini
mendorong orang untuk menghindari situasi sosial dan ini tidak
disebabkan karena masalah fisik atau mental (seperti gagap,
jerawat, atau gangguan kepribadian).
3. Agorafobia
Agorafobia berasal dari kata latin agora yang berarti pasar
di luar ruang. Agorafobia sering disalahartikan sebagai ketakutan
akan ruang terbuka. Agorafobia ditandai oleh ketakutan hebat
yang membuat tidak berdaya akan tempat atau situasi yang sulit
untuk meloloskan diri atau sulit untuk mendapatkan pertolongan
apabila terjadi serangan cemas. Akibatnya, orang dengan

14
agorafobia mambatasi geraknya sebatas tempat yang dirasa aman,
biasanya di dalam rumah.
Pada fobia terjadi salah pindah kecemasan pada barang atau
keadaan yang mula-mula menimbulkan kecemasan itu. Jadi
terdapat dua mekanisme pembelaan, yaitu salah pindah dan
simbolisasi. Apabila berhadepan dengan objek atau situasi
tersebut, orang dengan fobia akan mengalami perasaan panik,
berkeringat, berusaha menghindar, sulit untuk bernapas, dan
jantung berdebar. Sebagian besar orang dewasa yang menderita
fobia sebagian besar menyadari bahwa ketakutannya tidak
rasional dan banyak yang memilih untuk mencoba menahan
perasaan ansietas yang hebat dari pada mengungkapkan
gangguannya. (Maramis, 2009)
2.6.2 Gangguan Panik
Gangguan panik ditandai dengan serangan ansietas atau teror yang
berkala (serangan panik) setiap episode berlangsung sekitar 15 30
menit, meskipun efek sisa dapat berlangsung lebih lama. Selama
serangan panik, penderita merasakan sangat ketakutan atau tidak
nyaman yang disertai oleh jantung berdebar, nyeri dada, perasaan
tercekik, berkeringat, gemetar, mual, pusing, perasaan yang tidak riil,
dan takut mati atau takut menjadi gila.
Serangan panik dapat terjadi secara spontan ataupun sebagai respon
terhadap situasi tertentu. Frekuensi serangan sangan bervariasi, ada
yang sering (setiap minggu), tetapi berlangsung berbulan-bulan. Ada
juga yang mengalami serangkaian serangan tetapi diikuti periode
tenang selama berminggu-minggu. Serangan panik juga dapt terjadi
pada gangguan ansietas lain seperti pada fobia dan gangguan stres
pascatrauma. Kerena itu diperlukan ketelitian dalam membedakan
cirri-ciri gangguan tersebut dengan gangguan panik.
Penatalaksanaan. Serangan panik awal seringkali diobati di unit
gawat darurat karena individu tersebut mengira bahwa ia mengalami
serangan jantung. Kondisi medis lainnya harus diabaikan sebelum
diagnosis gangguan panik terdeteksi.

15
a. Medikasi. Digunakan obat antiansietas, seperti benzodiazepine
dan buspiron. Antidepresan, terutama antidepresan trisiklik, telah
dinyatakan efektif untuk mengobati gangguan panik. The Food
and Drug Administration (FDA) baru-baru ini menyetujui
penggunaan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI),
paroksetin (Paxil) dan sentralin (Zoloft) dalam pengobatan
gangguan panic. Meskipun inhibitor monoamina oksidase dapat
digunakan namun obat ini membutuhkan restriksi diet.
b. Terapi perilaku kognitif adalah terapi yang bertarget proses
berpikir penyebab panik dan perilaku yang menimbulkan dan
mempertahankan gejala ansietas. Teknik-teknik spesifik yang
termasuk dalam terapi ini antara lain adalah penyuluhan klien,
resktrukrisasi kognitif, dan pernafasan relaksasi terkendali.
2.6.3 Gangguan ansietas menyeluruh

Gangguan ansietas menyeluruh termasuk yang paling banyak


dijumpai disamping gangguan panik. Gambaran umum penyakit ini
adalah adanya kekhawatiran atau ansietas yang kurang lebih konstan,
yang tidak sebanding dengan tingkat stressor sesungguhnya dalam
kehidupan. Ansietas tersebut terjadi dalam jangka waktu yang
panjang meskipun tampaknya tidak ada stressor yang spesifik atau
nyata, meskipun stress dapat memperburuk gangguan ini. Penderita
kesulitan untuk mengendalikan ansietasnyi dan cenderung untuk
tidak yakin pada diri sendiri.
Untuk diagnosis gangguan anxietas menyeluruh, anxietas harus
dibedakan dengan anxietas yang ada pada gangguan anxietas lain.
Apa lagi, lebih dari separuh penderita gangguan anxietas menyeluruh
juga menderita gangguan anxietas lain atau depresi.
Gejala lain yang mungkin ditemukan adalah rasa gelisah, kelelahan,
sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, ketegangan otot, dan
gangguan tidur.
2.6.4 Gangguan campuran anxietas dan depresif
Gangguan ini merupakan penyakit tersendiri dan dinamakan
demikian karena secara bersamaan didapati gejala-gejala depresi dan

16
ansietas pada penderita. Perlu diperhatikan bahwa baik gejala-gejala
depresi maupun gejala-gejala anxietas yang ada tidak memenuhi
kriteria diagnosis untuk periode depresi dan gangguan anxietas.
Apabila gejala-gejala yang ada memenuhi kriteria untuk episode
depresi dan gangguan anxietas, maka hal itu adalah komordibitas
antara keduanya.
2.6.5 Gangguan stress pascatrauma (post-traumatic stress disorder
(PTSD)).
Ciri penting dari gangguan ini adalah pikiran dan perasaan yang
terjadi berulang-ulang berkaitan dengan trauma tertentu yang buruk
(missal pengalaman berperang, perkosaan, kecelakaan yang serius,
deprivasi atau penyiksaan yang buruk). Etiologi dari gangguan ini
diantaranya yaitu
a. Terdapat hubungan langsung antara trauma yang berat dan resiko
PTSD. Angka gangguan ini pada kaum veteran pria adalah 31%.
b. Factor resiko psikososial dapat meningkatkan kerentanan
seseorang terhadap PTSD setelah trauma yang buruk. Faktor-
faktor ini antara lain adalah terpisah dari orang tua pada waktu
anak-anak, riwayat gangguan ansietas dalam keluarga, dan
ansietas atau depresi yang sudah ada sebelumnya, atau keduanya.
Karakteristik Gangguan Stres Pascatrauma yaitu dapat
berupa respons akut atau lambat, dapat juga menjadi kronik,
gejala-gejalanya meliputi respons terkejut yang berlebihan,
gangguan tidur, rasa bersalah (rasa bersalah dari orang yang
berhasil bertahan hidup), mimpi buruk dan kilasan-kilasan
ingatan, rasa merah dengan penumpulan emosi-emosi lain selain
itu penderita sering menggunakan obat-obatan, alcohol, atau
keduanya untuk mengobati sendiri gejala yang mereka rasakan.
Penatalaksanaan Gangguan stress pascatrauma (post-traumatic
stress disorder (PTSD)).
a. Medikasi. Obat antiansietas, terutama benzodiazepine, harus
digunakan secara hati-hati karena beresiko menimbulkan
penyalahgunaan atau ketergantungan. Antidepresan digunakan
untuk mengobati gangguan depresi yang menyertainya.

17
Bloker beta dapat digunakan untuk mengurangi efek
fisiologik dari ansietas.
b. Terapi perilaku-kognitif terutama restrukturisasi kognitif
digunakan untuk membantu individu memandang dirinya
sebagai orang yang berhasil bertahan hidup dan bukan sebagai
korban.
c. Terapi kelompok pendukung, terutama dengan individu yang
mengalami trauma serupa (missal kelompok perang veteran,
kelompok trauma perkosaan)
2.6.6 Gangguan obsesif-kompulsif
Istilah obsesi menunjuk pada suatu idea atau bayangan mental yang
mendesak ke dalam pikiran secara berulang. Pikiran atau bayangan
obsesif dapat berupa kekhawatiran yang bisa tentang apakah pintu
sudah di kunci atau belum, sampai fantasi yang aneh dan menakutkan
tentang bertindak kejam terhadap orang yang disayangi.
Istilah kompulsif menunjukkan pada dorongan atau impuls yang tidak
dapat ditahan untuk melakukan sesuatu. Sering suatu pikiran obsesif
mengakibatkan suatu tindakan kompulsif. Tindakan kompulsif dapat
berupa berulang kali memeriksa pintu yang sudah terkunci. Kompor
yang sudah mati atau menelpon orang yang dicintai untuk
memastikan keselamatannya. Sebagian orang sangat terdorong untuk
berulang kali mencuci tangan setiap beberapa manit atau
menghabiskan sangat banyak untuk membersihkan sekelilingnya
dengan tujuan untuk mengurangi rasa takut akan terkontaminasi.
Terdapat beberapa persamaan antara obsesi dan kompulsi
a. Suatu pikiran atau dorongan mendesak ke alam sadar secara gigih
dan terus-menerus.
b. Timbul perasaan takut yang hebat dan penderita berusaha untuk
menghilangkan pikiran atau dorongan itu.
c. Obsesi dan kompulsi itu dirasakan sebagai asing, tidak disukai,
tidak dapat diterima, tetapi tidak dapat ditekan.
d. Pasien tetap sadar akan gangguan ini, ia tetap mengenal bahwa
hal ini tidak wajar dan tidak rasional, biarpun obsesi atau
kompulsi itu sangat hebat.
e. Pasien merasakan suatu kebutuhan yang besar untuk melawan
obsesi dan kompulsif itu.

18
Individu menghilangkan kecemasannya dengan perbuatan atau
buah pikiran yang berulang-ulang. Pasien mengetahui bahwa
perbuatan dan pemikirannya itu tidak masuk akal, tidak pada
tempatnya atau tidak sesuai dengan kedaaan, tetapi ia tidak dapat
menghilangkannya dan ia juga tidak mengerti mengapa ia
mempunyai dorongan yang begitu kuat untuk berbuat dan berpikir
demikian. Bila ia tidak menurutinya, maka akan timbul kecemasan
yang hebat.
Lebih dari separuh pasien gangguan obsesif konpulsif (GOK)
mempunyai pemikiran obsesif tanpa perilaku kompulsif yaang
ritualistik. GOK sering menyertai depresi atau gangguan aaxietas
laen. Ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa gejala akan membaik
dengan waktu dan ha,pir separuhnya akan pulih atau hanya menderita
gejala yang ringan.
Terdapat juga beberapa gangguan yang merupakan bagian dari,atau
dengan kuat dihubungkan dengan, spektrum GOK, termasuk:
1. Gangguan dismorfik tubuh (body dysmorphic disorder). Pada
gangguan ini orang terobsesi dengan keyakinan bahwa mereka
buruk rupa atau bagian tubuh mereka berbentuk tidak normal.
2. Trikotilomania. Orang dengan trikhotilomania terus menerus
mencabuti rambut mereka sehingga timbul daerah-daerah
botak.
3. Sindrom tourettes. Gejala sindrom tourettes meliputi gerakan
yang pendek dan cepat, tik dan ucapan kata-kata kotor yang tak
terkontrol.
2.6.7 Neurastenia
Istilah ini mulai tidak banyak digunakan di inggris dan amerika,
tetapi dinegara lain masih dipakai. Banyak tumpang tindih dengan
apa yang dikenal sebagai sindrom kelelahan kronik (chronic fatigue
syndrome). Pada gangguan ini yang menonjol adalah keluhan fisik
adalah berupa kelelahan fisik dan mental disertai nyeri dan keluhan
lain, tanpa adanya penyakit fisik yang bisa diidentifikasi. Pasien
merasa khawatir tentang penyebab keluhannya, juga mengalami
kesulitan untuk berkonsentrasi. Akibat dari kelelahannya, ia akan
menghindari aktivitas fisik yang banyak.

19
Diagnosis banding neurastenia adalah kelelahan yang disebabkan
oleh penyakit fisik atau gangguan depresi dan ansietas.
Metode pengobatan yang cukup berhasil antara lain adalah terapi
perilaku kognitif dan peningkatan bertahap aktivitas fisik, obat anti
depresan tidak terlalu efektif meskipun banyak digunakan. Prognosis
penyakit ini buruk dengan kecenderungan menjadi kronis. Gejala
menghindari aktifitas fisik dan kekhawatiran berlebihan akan
penyebab dihubungkan dengan prognosis yang buruk.
2.6.8 Gangguan Disosiatif (Konversi)
Gangguan ini disebut disosiatif karena dahulu dianggap terjadi
hilangnya asosiasi antara berbagai proses mental seperti identitas
pribadi dan memori, sensori dan fungsi motorik. Ciri utama adalah
hilangnya fungsi yang tidak dapat dijelaskan secara medis.
Istilah konversi didasarkan pada teori kuno bahwa perasaan dan
anxietas dikonversikan menjadi gejala-gejala dengan akibat
terselesaikannya konflik mental (keuntungan primer) atau didapatkan
keuntungan praktis atau perhatian dari orang lain (keuntungan
sekunder).Gangguan disosiatif ini dahulu juga disebut histeria atau
berasal dari istilah dan keyakinan zaman dahulu bahwa penyebabnya
adalah uterus yang berkeliaran (wandering uterus).
Hal ini yang perlu dipertimbangkan adalah kemungkinan dibuat-
buatnya gejala tersebut. Disini ada 2 kemungkinan, gangguan buatan
atau berpura-pura. pada gangguan buatan, gejala-gejala disebut
dengan sengaja untuk mendapatka perawatan medis, sedangkan pada
berpura-pura untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Menentukan
hal ini tidaklah mudah dan mungkin memerlukan bukti bahwa ada
inkonsistensi dalam gejalanya.
Penderita mungkin tampak acuh tak acuh akan penyakitnya.
Penampilan acuh ini mungkin juga terjadi pada gangguan organik dan
tidak spesifik untuk penyakit ini. Yang penting dalam
penatalaksanaan adalah menerima gejala pasien sebagai hal yang
nyata, tetapi menjelaaskan bahwa itu reversible. Diupayakan untuk
kembali kefungsi semula dengan bertahap. Apabila ada depresi
komorbid, hal ini harus diobati dengan baik.psikoterapi dapat

20
bermanfaat untuk gangguan disosiatif dan dalam beberapa kasus
kronis yang mengenai fungsi motorik mungkin diperlukan rehabilitasi
medis.
2.6.9 Gangguan Somatoform
Ini mencangkup pasien-pasien yang terutama menunjukkan
keluhan somatis yang tidak dapat dijelaskan dengan adanya gangguan
depresif, anxietas atau penyakit medis. Ada dua gangguan yang
termasuk dalam kelompok gangguan somatoform: pertama, yang
gambaran utamanya adalah kekhawatiran bahwa gejala yang ada
merupakan bukti adanya penyakit (hipokondriasis) atau deformitas
(dismorfofobia), dan kedua, yang gambaran utamanya adalah
kekhawatiran tentang gejala somatik itu sendiri (antara lain gangguan
somatisasi, disfungsi autonomik persisten, dan gangguan nyeri
somatoform persisten)
Keluhan somatif yang ada atau kekhawatirannya tidak dapat
dijelaskan atau tidak proporsional secara medis dan cukup berat
sehingga menimbulkan distres, serta telah berlangsung setidaknya 6
bulan. Apabila didapatkan gejala depresi atau anxietas, gejala-gejala
tersebut tidak cukup berat untuk dapat didiagnosis sebagai gangguan
depresi atau anxietas.
Gejala-gejala bukan merupakan waham, harus dibedakan dengan
waham atau halusinasi somatik pada gangguan psikotik. Gejal-gejala
itu juga tidak dengan sengaja dibuat-buat. Penganiayaan atau
penelantaran anak merupakan faktor resiko bagi gangguan
somatoform.
Penanganan gangguan somatoform harus berhati-hati karena bukan
hanya pasien tetapi seringkali dokter juga yakin bahwa gejala-gejala
yang ada merupakan tanda penyakit fisik dan bukan merupakan
gangguan psikistrik.
Kekhawatiran pasien akan keluhan somatiknya harus ditanggapi
dengan serius, jangan dengan sikap meremehkan sebagai hanya
psikis saja, juga tidak terbawa oleh keyakinan yang tidak berdasar
mengenai penyebab medik yang tidak terbukti, atau bahkan dengan

21
ucapan-ucapan dan cara-cara pemeriksaan yang tambah menakut-
nakuti pasien.
Pemeriksaan medis harus ditentukan berdasarkan penilaiian dokter
terhadap gejala yang ada, bukan oleh permintaan pasien. Yakinkan
bahwa penjelasan yang benar dan gamblang diberikan secara
konsisten oleh semua dokter yang menangani. Untuk penanganan
yang efektif diperlukan liaison yang erat antara para dokter yang
terlibat.
Obat antidepresan bermanfaat dalam sebagian besar kasus
meskipun tidak ada depresi yang menyertai. Tetapi penggunaannya
harus disertai penjelasan yang memadai agar tidak dianggap
mengada-ada.
Terapi perilaku kognitif (CBT, Cognitif Behaviour Therapy) akan
bermanfaat jika diadaptasi untuk keluhan somatis utama. Pasien
mungkin perlu dibantu untuk mengenali dan mengatasi stresor sosial
yang dialami, juga perlu didorong untuk kembali ke fungsi normal
dan mengurangi perilaku sakit (illnes behaviour) secara bertahap.
2.6.10 Hipokondriasis dan Dismorfofobia
Ciri utama dari kedua gangguan ini adalah kekhawatiran atau
preokupasi terhadap kemungkina menderita penyakit fisik atau
deformitas yang serius.
Pasien dengan hipokondriasis mempunyai preokupasi bahwa ia
menderita penyakit medis yang serius padahal tidak. Hal ini dapat
dianggap sebagai suatu bentuk anxietas dan obsesi-kompulsi. Pasien
berulang-kali mencari pemeriksaan atau keterangan medis, tetapi
tetap tidak dapat diyakinkan. Gejala yang ditampilkan sering berupa
permintaan pemeriksaan medis yang berulang-ulang.
Obat antidepresan dan terapi perilaku kognitif dalam kasus ini
efektif. Mungkin perlu membantu pasien membatasi permintaan
pemeriksaan berulang-ulang. Prognosisnya berfariasi dan cenderung
menjadi kronis.
Dismorfobia juga dikenal dengan istilah gangguan dismorfik tubuh
(body dysmorphic disorder). Preukupasinya adalah terhadap
penampilan fisik yang tidak normal padahal kenyataannya tidak
demikian. Hal ini berakibat penghindaran terhadap interaksi sosial.

22
Penatalaksanaan mengikuti prinsip gangguan somatoform. Pasien
sering meminta operasi bedah kosmetik, yang kadang kala dapat
menolong, tetapi sering membawa kepada ketidakpuasan berikutnya.
Penilaiian spesialis dianjurkan sebelum dilakukan operasi.
Diagnosis banding kedua gangguan ini adalah gangguan depresif,
yang sering terdapat kekhawatiran hipokondriaka dan kekhawatiran
terhadap penampilan, dan gangguan psikotik dengan waham
hipokondriaka atau halusinasi somatik.

2.7 Obat Terpilih untuk Klien Gangguan Ansietas


Dosis
Nama Dewasa Rasional
Klasifikasi
Generik/Dagang (mg/hari Penggunaan
)
Benzodiazepine Alprazolam (Xanax) 0,25-1,5 Meningkatkan
Klonazepam 0,5-6 kadar GABA, yang
(Klonopin) 0,5-2 akan menurunkan
Lorazepam (Ativan) 5-25 stimulasi system
Klordiazepoksid limbic sehingga
(Librium) mengurangi
Azapirones 5-15 ansietas.
Buspiron (BuSpar) Digunakan untuk
pengobatan jangka
pendek gangguan
Antidepresan 75-300 ansietas umum,
trisiklik Imipramin (Tofranil) gangguan panik,
dan fobia sosial
Bekerja pada
Klompramin reseptor serotonin,
(Anafranil) menyebabkan
neuron prasinapsis
melepaskan
serotonin lebih

23
sedikit. Penurunan
serotonin dianggap
Selective 20-50 dapat mengurangi
serotonin 20-80 ansietas.
reuptake inhibitor 100-300 Digunakan untuk
(SSRI) Paroksetin (Paxil) 50-150 gangguan ansietas
Fluoksetin (Prozac) umum, gangguan
Fluvoksamin (Luvox) 45-90 panik, fobia sosial
Inhibitor Sertralin (Zoloft) Menghambat
monoamina ambilan
oksidase Fenelzin (Nardil) neurotransmitter
(serotonin dan
50-100 norepinefrin)
Bloker beta 80-240 sehingga
memungkinkan
Ateronol (Tenormin) peningkatan
Propranolol (Inderal) kadarnya pada
sinaps. Kekurangan
serotonin di
amandel dianggap
signifikan dalam
terjadinya
gangguan ansietas.
Digunakan untuk
mengobati
gangguan ansietas
umum, gangguan
panik, fobia sosial
dan OCD.
Secara selektif
menghambat
ambilan serotonin

24
di sinaps sehingga
terjadi peningkatan
serotonin.
Digunakan untuk
gangguan panik
(Paxil) dan OCD.

Sifat menghambat
dari enzim
(monoamina
oksidasi) yang
memecah
serotonin, dapat
meningkatkan
kadar serotonin.
Digunakan untuk
gangguan panik,
dan agoraphobia

Mendorong
blockade
adrenergic-beta
perifer, karenanya
mengurangi
fisiologik dari
ansietas.
Digunakan untuk
fobia sosial, PTSD
* Dosis ini adalah dosis dewasa biasa untuk dosis tunggal setiap obat.
Dosis ini bukan dosis harian biasa.
GABA = gamma-aminobutyric acid (asam gamma aminobutirat),
OCD = obsessive-compulsive disorder (gangguan obsesif kompulsif),
PTSD = post-traumatic stress disorder (gangguan pascatrauma).

25
2.8 Pohon Masalah

ISOLASI SOSIAL

GANGGUAN KONSEP DIRI

KOPING INDIVIDU TIDAK EFEKTIF

GANGGUAN POLA TIDUR

ANSIETAS

STRESSOR

26
BAB 3

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 pengkajian
Padalah langkah awal dan dasar proses keperawatan secara
menyeluruh. Pada tahap ini pasien yang dibutuhkan dikumpulkan untuk
menentukan masalah keperawatan (tim Depkes RI, 2004).
Pengkajian terdiri dari 3 kegiatan yaitu: pengumpulan data,
pengelompokan data atau analisa data dan perumusan diagnosa
keperawatan. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber data yaitu
sumber data primer (klien) dan sumber data sekunder seperti keluarga,
teman terdekat klien, tim kesehatan, catatan dalam berkas dokumen medis
klien dan hasil pemeriksaan. Untuk mengumpulkan data dilakukan dengan
berbagai cara, yaitu: dengan observasi, wawancara dan pemeriksaan fisik.

Beberapa faktor yang perlu dikaji

1. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart (2007, hal. 146 ) terdapat beberapa teori yang dapat
menjelaskan ansietas, diantaranya
a. Pandangan Psikoanalitis, ansietas adalah konflik emosional
yang terjadi antara antara dua elemen kepribadian: id dan
superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif,
sedangkan superegomencerminkan hati nurani seseorang dan
dikendalikan oleh norma-norma budayaseseorang. Ego atau aku,
berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan
tersebut dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada
bahaya.
b. Pandangan Interpersonal, ansietas timbul dari perasaan takut
terhadap tidak adanya penerimaan/ persetujuan dan penolakan
interpersonal. Ansietas berhubungan dengan perkembangan

27
trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan
kelemahan tertentu. Orang yang mengalami harga diri rendah
terutama mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat.
c. Pandangan Perilaku, ansietas merupakan produk frustasi yaitu
segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang
untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pakar perilaku
menganggap sebagaidorongan belajar berdasarkan keinginan
dari dalam untuk menghindari kepedihan. Individu yang
terbiasa dengankehidupan dini dihadapkan pada ketakutan
berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas dalam kehidupan
selanjutnya.
d. Kajian Keluarga, ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam
keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan
antara gangguan ansietas dengan depresi.
e. Kajian Biologis, Otak mengandung reseptor khusus untuk
benzodiazepine. Reseptor ini membantu mengatur ansietas.
Penghambat GABA (asam gama- aminobutirat) juga berperan
utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas
sebagaimana halnya dengan endorfin. Ansietas mungkin disertai
dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas
seseorang untuk mengatasi stressor.
2. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dibedakan menjadi ( Stuart & Sundeen, 1998 hal. 181 ):
a. Ancaman terhadapintegritas seseorang meliputi ketidakmampuan
fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk
melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
b. Ancaman terhadapsistem diri seseorang dapat membahayakan
identitas , harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.
3. Penilaian Stressor
Pemahaman tentang ansietas perlu integrasi banyak faktor, termasuk
pengetahuan dari perspektif psikoanalisis, interpersonal, perilaku, genetik,
dan biologis. Penilaian mendorong pengkajian perilaku dan persepsi
pasien dalam mengembangkan intervensi keperawatan yang tepat.
Penilaian juga menunjukkan berbagai faktor penyebab dan menekankan
hubungan timbal balik antara factor-faktor tersebut dalam menjelaskan

28
perilaku yang terjadi. Dengan demikian , pemahaman yang benar tentang
ansietas bersifat holistik (Stuart, 2007, hal. 147 )
4. Sumber Koping
Individu dapat mengatasi stres dan ansietas dengan menggerakkan
sumber koping di lingkungan. Sumber koping tersebut yang berupa model
ekonomi, kemampuan penyelesaian masalah, dukungan sosial, dan
keyakinan budaya dapat membantu individu mengintergrasikan
pengalaman yang menimbulkan stres dan mengadopsi strategi koping
yang berhasil (Stuart, 2007, hal. 147 )
5. Mekanisme Koping
Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme
koping sebagai berikut ( Stuart & Sundeen, 1998 hal. 182 ):
a. Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan
berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan
situasi stres, misalnya perilaku menyerang untuk mengubah atau
mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan, Menarik diri untuk
memindahkan dari sumber stress, Kompromi untuk mengganti
tujuan atau mengorbankan kebutuhan personal.
b. Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan dan
sedang, tetapi berlangsung tidak sadar dan melibatkan penipuan diri
dan distorsi realitas dan bersifat maladaptif.

Setiap melakukan pengkajian, tulis tempat klien dirawat dan


tanggal dirawat. Isi pengkajiannya meliputi:

1. Identifikasi klien
Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak
dengan klien tentang: Nama klien, panggilan klien, Nama perawat,
tujuan, waktu pertemuan, topik pembicaraan.

2. Keluhan utama / alasan masuk


Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien dan
keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk
mengatasi masalah dan perkembangan yang dicapai.
29
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami
gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami,
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam
keluarga dan tindakan kriminal.

4. Riwayat Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon.

5. Riwayat Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP,
pertumbuhan dan perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan
anak-anak.

6. Sosial Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan,
kerusuhan, kerawanan), kehidupan yang terisolasi serta stress yang
menumpuk.

7. Aspek fisik / biologis


Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi, suhu,
pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan, kalau perlu kaji fungsi
organ kalau ada keluhan.

8. Aspek psikososial
a. Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi yang
dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga, masalah yang
terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.

b. Konsep diri
1) Citra tubuh : mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian
yang disukai dan tidak disukai.
2) Identitas diri : status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan
klien terhadap status dan posisinya dan kepuasan klien sebagai
laki-laki / perempuan.

30
3) Peran : tugas yang diemban dalam keluarga / kelompok dan
masyarakat dan kemampuan klien dalam melaksanakan tugas
tersebut.
4) Ideal diri : harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas,
lingkungan dan penyakitnya.
5) Harga diri : hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan
penghargaan orang lain terhadap dirinya, biasanya terjadi
pengungkapan kekecewaan terhadap dirinya sebagai wujud harga
diri rendah.
6) Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam
kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat.
9. Status mental
Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien,
aktivitas motorik klien, alam perasaan klien (sedih, takut, cemas), afek
klien, interaksi selama wawancara, persepsi klien, proses pikir, isi pikir,
tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentasi dan berhitung,
kemampuan penilaian dan daya tilik diri.
10. Kebutuhan persiapan pulang
a. Kemampuan makan klien, klien mampu menyiapkan dan
membersihkan alat makan.
b. Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC
serta membersihkan dan merapikan pakaian.
c. Mandi klien dengan cara berpakaian, observasi kebersihan tubuh
klien.
d. Istirahat dan tidur klien, aktivitas di dalam dan di luar rumah.
e. Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan setelah
minum obat.
11. Masalah psikososial dan lingkungan
Dari data keluarga atau klien mengenai masalah yang dimiliki klien.

12. Pengetahuan
Data didapatkan melalui wawancara dengan klien kemudian
tiap bagian yang dimiliki klien disimpulkan dalam masalah.

13. Aspek medik


Terapi yang diterima oleh klien: ECT, terapi antara lain seperti
terapi psikomotor, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spiritual,

31
terapi okupasi, terapi lingkungan. Rehabilitasi sebagai suatu
refungsionalisasi dan perkembangan klien supaya dapat melaksanakan
sosialisasi secara wajar dalam kehidupan bermasyarakat.

3.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan adalah penilaian atau kesimpulan yang
diambil dari pengkajian (Gabie, dikutip oleh Carpernito, 1983).
Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual atau
potensial dan berdasarkan pendidikan dan pengalamannya perawat mampu
mengatasinya (Gordon dikutip oleh Carpernito, 1983).
Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan
dari hasil pengkajian adalah:
1) Ansietas berat b.d. prestasi sekolah yang buruk dimanifestasikan dg
denial dan rasionalisasi yang berlebihan.

3.3 Intervensi Keperawatan


Diagnosa : Ansietas berat b.d. prestasi sekolah yang buruk dimanifestasikan
dg denial dan rasionalisasi yang berlebihan.
Tujuan umum : : memberi dukungan, melindungi, dan menurunkan tingkat
ansietas berat pada klien.

Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Rasional : hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran
hubungan interaksinya.
Tindakan :
a. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri,
jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kontrak yang jelas (topik, waktu, tempat).
b. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi : katakan
perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman,
gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
2. Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Rasional : dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi
perawat dapat merencanakan untuk memenuhinya dan lebih

32
memperhatikan kebutuhan klien tersebut sehingga klien merasa nyaman
dan aman.
Tindakan :
a) Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
b) Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di
rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
c) Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya ansietas.
d) Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan
memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk ansietasnya
3. Klien dapat menggunakan obat dengan benar.
Rasional : penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan
mempengaruhi proses penyembuhan dan memberikan efek dan efek
samping obat.
Tindakan :
a. Diskusikan dengan klien tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan
efek samping minum obat.
b. Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien,
obat, dosis, cara dan waktu).
c. Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang
dirasakan.
d. Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

4. Klien dapat dukungan dari keluarga.


Rasional : dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan
mambentu proses penyembuhan klien.
Tindakan:
a. Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang:
gejala ansietas, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow
up obat.
b. Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.

3.4 Implementasi
3.4.1 Strategi Pelaksanaan untuk Pasien ansietas
1. Strategi pelaksanaan pada Pasien
a. Mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi
b. Melatih pasien memenuhi kebutuhannya
c. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

33
Contoh komunikasi yang dapat di praktekkan pada pasien:
1) Orientasi
a) salam Teraupetik
Assalamualaikum, Selamat pagi dek! Saya perawat
yang bertugas pada pagi ini, saya suster Cicilia, adik S
bisa memanggil saya suster Cici saja. Saya mahasiswa
dari stikes ABI. Nama Ibuk siapa?
e) Bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang adik
rasakan sekarang?
f) Berapa lama mau kita berbincang-bincang?
Bagaimana kalau 15 menit?
g) Dimana enaknya kita berbincang-bincang, bang?
2) Kerja
a) Nah...sekarang coba adik ceritakan apa yang adik
rasakan saat ini
b) kenapa, adik. Coba adik ceritakan pada suster?
c) Tenang adik. Adik ceritakan pelan-pelan ada apa
dengan guru dan teman-teman adik?
d) iya adik. Yang perlu adik ketahui adalah adik saat ini
berada pada tingkat kecemasan yang berat. Kalau
masalah ini tidak diatasi, dapat mengganggu kondisi
adik nantinya. Untuk itu, adik perlu melakukan terapi
disaat adik merasakan perasaan cemas yang sedang.
Terapi ini akan membantu menurunkan tingkat
kecemasan adik
e) Baiklah adik, bagaimana kalau sekarang kita coba
mengatasi kecemasan adik dengan latihan relaksasi
dengan cara tarik nafas dalam, ini merupakan salah satu
cara untuk mengurangi kecemasan yang adik rasakan.
Bagaimana kalau kita latihan sekarang, Saya akan
lakukan, adik perhatikan saya, lalu adik bisa mengikuti
cara yang sudah saya ajarkan. Kita mulai ya adik
f) adik silakan duduk dengan posisi seperti saya.
Pertama-tama, adik tarik nafas dalam perlahan-lahan,
setelah itu tahan nafas dalam hitungan tiga setelah itu
adik hembuskan udara melalui mulut dengan meniup

34
udara perlahan-lahan. Nah, sekarang coba adik
praktikkan.?
g) Wah bagus sekali, adik sudah mampu melakukannya.
adik bisa melakukan latihan ini selama 5 sampai 10 kali
sampai adik merasa relaks atau santai

3) Terminasi
a) Bagaimana perasaan adik setelah kita ngobrol tentang
masalah yang adik rasakan dan latihan relaksasi? Coba adik
ulangi lagi cara yang sudah kita pelajari,
b) Bagaimana perasaan adik setelah berbincang-bincang
dengan saya?
c) Apa saja tadi yang telah kita bicarakan? Bagus
3.4.1 Strategi Pelaksanaan untuk Keluarga Pasien ansietas
2. Strategi pelaksanaan pada keluarga Pasien
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam
merawat pasien
b. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala ansietas.
c. Menjelaskan cara-cara merawat pasien ansietas
Contoh komunikasi yang dapat di terapkan pada keluarga klien
1) Orientasi:
a) Assalamualaikum pak, bu, perkenalkan nama saya Ani, saya
perawat yang dinas di ruang melati ini. Saya yang merawat
adik S selama ini. Nama bapak dan ibu siapa, senangnya
dipanggil apa?
b) Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang
masalah adik S dan cara merawat adik S di rumah?
2) Kerja
a) pertama: bapak dan ibu harus lebih sering memuji B jika ia
melakukan hal-hal yang baik.
b) Kedua: hal-hal ini sebaiknya dilakukan oleh seluruh
keluarga yang berinteraksi dengan B
c) Bapak/Ibu dapat bercakap-cakap dengan B tentang
kebutuhan yang diinginkan B, misalnya: Bapak/Ibu percaya
B punya kemampuan dan keinginan. Coba ceritakan kepada
bapak/ibu. B khan punya kemampuan (kemampuan yang
pernah dimiliki oleh anak)

35
d) Ketiga: Bagaimana kalau dicoba lagi sekarang?(Jika anak
mau mencoba berikan pujian) Pak, bu, B perlu minum obat
ini agar pikirannya jadi tenang, tidurnya juga tenang
e) Obatnya ada tiga macam, yang warnanya oranye namanya
CPZ gunanya agar tenang, yang putih ini namanya THP
guanya supaya rileks, dan yang merah jambu ini namanya
HLP gunanya agar pikiran tenang semuanya ini harus
diminum secara teratur 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang,
dan jam 7 malam, jangan dihentikan sebelum berkonsultasi
dengan dokter karena dapat menyebabkan B kambuh
kembali (Libatkan keluarga saat memberikan penjelasan
tentang obat kepada klien). Bang B sudah mempunyai
jadwal minum obat. Jika dia minta obat sesuai jamnya,
segera beri pujian.
3) Terminasi
a) Bagaimana perasaan bapak dan ibu setelah kita
bercakap-cakap tentang cara merawat B di rumah?
b) Baiklah bagaimana kalau dua hari lagi bapak dan ibu
datang kembali kesini dan kita akan mencoba melakukan
langsung cara merawat B sesuai dengan pembicaraan kita
tadi
c) Jam berapa bapak dan ibu bisa kemari?
d) Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya pak,
bu
3.5 Evaluasi
a. Klien percaya dengan perawat, terbuka untuk ekspresi ansietas
b. Klien menyadari kaitan kebutuhan yg tdk terpenuhi dg kecemasannya
saat ini
c. Klien dapat melakukan upaya untuk mengontrol ansietas
d. Keluarga mendukung dan bersikap terapeutik terhadap klien
e. Klien menggunakan obat sesuai program.

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

36
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar,
berkaitan dengan perasaan tak berdaya dan tidak pasti, tidak memiliki objek
yang spesifik, dialami secara subyektif dan dikomunikasikan secara
interpersonal. Ansietas merupakan suatu sensasi distress psikologis (buku
keperawatan jiwa edisi 5 hal 144). Kecemasan adalah perasaan individu dan
pengalaman subjektif yang tidak diamati secara langsung dan perasaan
tanpa objek yang spesifik dipacu oleh ketidak tahuan dan didahului oleh
pengalaman yang baru (Stuart dkk,1998)
Ada berbagai macam tingkat ansietas yaitu ingkat ansietas Ansietas
ringan, ansietas sedang, ansietas berat, ansietas panic selain itu gangguan
terkait ansietas pun sangat beragam diantaranya agoraphobia, gangguan
ansietas umum dan gangguan obsesif kompulsif

4.2 Saran
Dalam mengatasi ansieta tidak hanya terapi farmakologis yang
diberikan akan tetapi efek terepeutik dari perawat sangat membantu dalam
proses kesembuhan klien dengan ansietas. Agar efek dari ansietas dapat
konstruktif individu hasrus dapat menggunakan koping yang efektif
sehingga efek destruktif dari ansietas dapat dihindari.

DAFTAR PUSTAKA

Maramis, Willy F. and Maramis Albert A. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran


Jiwa. Airlangga University Press. Surabaya.

37
Anonim. Standar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa. 2004. Surabaya :
RS. Jiwa Menur.

Anonim. Pedoman Diagnosis Keperawatan Jiwa. 2007. Jakarta : RS. Jiwa


Prof. Dr. Soeroyo Magelang.

38