Anda di halaman 1dari 4

Opini Hoax dan Sikap Masyarakat

Penulis: Ahmad Nugraha Bayu Mukti

www.bayumukti.id
bayu7124

Pendahuluan
Hoax atau berita palsu Kini marak disebarkan di lini masa dengan sengaja atau tidak. Mayoritas
pengguna media sosial tidak mengetahui apakah berita yang disebarluaskan merupakan fakta atau
opini, walaupun isi dari pemberitaan tersebut bersifat hal yang negatif. Menjadi sebuah
kecenderungan untuk menyebarkan berita negatif tersebut dimana salah satu alasannya ialah untuk
memperingatkan teman, saudara, komunitas, dan kenalan-kenalan yang dimiliki kontak nya di
perangkat selular.

Tentu akan sangat mudah menyebarkannya, fitur berbagi kini ada dari dan untuk berbagai sosial
media, dan lebih sulit untuk mencari informasi kebenaran dari berita tersebut dibandingkan dengan
membagikannya kepada daftar kontak yang kita miliki. Mari kita perkirakan, apabila kita memiliki 100
kontak (misalkan, saya saja punya ribuan kontak di daftar simpan telepon saya) dan masing-masing
dari kontak kita memiliki 100 kontak yang berbeda, jumlah total jumlah kontak yang sudah disebarkan
berita palsu 1x100x100=10.000 kontak. Bayangkan jika rantai kontak diperpanjang atau jumlah kontak
diperbesar, seberapa banyak fitnah yang telah timbul?

Sumber Berita Palsu


Mengapa Hoax tersebar dengan mudah nya? Beberapa kemungkinan sebagai opini penulis adalah
sebagai berikut:

1. Niat tidak baik sumber berita palsu

Berita palsu dengan konten negatif dibuat pasti dengan niat tidak baik. Sedari dahulu sejak jaman
dahulu misal pada saat Indonesia berjuan melawan Kolonialisme, Berita palsu di berikan untuk
memecah belah Pejuang Indonesia agar menjadi lemah dan mudah dikalahkan oleh Kolonialis. Saat ini
dimana opini masyarakat merupakan fondasi yang dianggap sangat penting baik bagi Pribadi, Bisnis,
maupun aktivitas, sangat mudah menyebarkan berita palsu untuk menghancurkan reputasi
perseorangan hingga institusi.

Kasus yang sangat jelas motif nya ialah berita palsu yang muncul saat PEMILU baik itu Pemilihan
Presiden maupun pemilihan Kepala Daerah. Berita palsu muncul menyerang kedua sisi. Apakah
keduanya terlibat saling menyerang ataupun hanya ulah salah satu pihak yang menjadikan dirinya
tertindas, kita tidak pernah tahu. Kasus lainnya ialah saat sebuah institusi bisnis di beritakan negatif
sehingga produknya tidak layak dibeli, dikonsumsi bahkan hingga di boikot. Saat klarifikasi diberikan
untuk membersihkan reputasi, berita palsu terlanjut tersebar dan klarifikasi tersebut jauh dari cukup
untuk mengembalikan kerugian perusahaan.

Beberapa kasus berita palsu yang diragukan motif nya atau mungkin hanya iseng belaka seperti
penyebaran berita Orang Gila yang menjadi penculik anak disebarkan melalui akun sosial media
dengan foto publikasi dari kepolisian. Terlepas dari kewajiban orang tua untuk menjaga anaknya (tidak
lengah karena memang banyak kasus penculikan terjadi), korban orang Gila yang dipukuli marak di
berbagai daerah. Apakah korban tersebut layak mendapatkan perlakuan demikian dikarenakan berita
palsu yang dengan mudah nya menyebar dan memancing emosi?

2. Kesulitan Dalam mencari kebenaran sumber berita

Sumber berita palsu (red: pembuat berita palsu) sulit di cari. Tentu saya belum pernah menemukan
berita palsu negatif dimana sumber berita menuliskan nama nya dalam berita tersebut kecuali jika dia
tidak tahu bahwa yang dia tulis itu merupakan fitnah. Klarifikasi berita palsu diberikan jika berita
tersebut dikaitkan dengan institusi lain misal Kasus pemberitaan orang gila penculik anak di klarifikasi
oleh Kepolisian, Kasus fitnah halal/haram makanan di klarifikasi oleh MUI maupun tenant pemilik
Makanan yang diberitakan negatif, dan sebagainya. Tentu klarifikasi tersebut hadir setelah informasi
mengenai berita palsu terdengan oleh pihak terkait dimana penyebaran informasi sudah meluas.

Candaan frase yang ditemui di dunia maya segala hal yang ditemukan di internet adalah benar
mungkin secara emosional dapat diakui. Betapa tidak, meyakinkan orang bahwa dia dibodohi amat
lebih sulit dibandingkan membodohi orang (terjemahan dari quote Mark Twain). Hilangnya nilai fakta
dari sebuah berita lahir dari gagalnya penulisan sejarah secara utuh. Sejarah dituliskan berdasarkan
kepentingan penguasa. Pengkhianat jaman dahulu dapat menjadi pahlawan di masa depan saat
mempelajari sejarah.

Hingga saat ini, banyak sekali identitas terbentuk karena fakta sejarah yang di belokkan. Misal sejarah
mengenai NAZI yang melakukan Genosida terhadap kaum Yahudi di Eropa, sejarah membuktikan
dengan berbagai foto dan cerita yang ditulis. Kebencian timbul terhadap Nazi dan kroni nya. Disisi
lainnya, ada segelintir kelompok pendukung NAZI yang termakan hasutan alasan genosida Yahudi di
Eropa ataupun memiliki informasi teori peristiwa bahwa Genosida tersebut tidak mungkin dilakukan
oleh Nazi dan yang terkena genosida saat itu bukanlah Yahudi. Mana yang benar? Saya pun tidak bisa
yakin 100% secara objektif.

3. Emosional Pembuat Berita Palsu dan Pembaca

Cerita sejarah Nazi hanya salah satu dari sekian banyak paradox yang bisa kita temukan. Mulai dari
adanya manusia hingga saat ini sangat dimungkinkan berbagai hal dipandang dari dua sisi. Jika kita
tidak memiliki panduan keyakinan yang benar dan hanya menanggapi isu yang dituliskan manusia,
akan sangat sulit bagi siapapun untuk menilai dengan benar. Apa hubungan nya berita palsu jaman
dahulu dengan berita palsu saat ini?

Secara konsisten, Berita palsu membentuk karakter penerima berita palsu. Kebencian diantara kedua
sisi, ketakutan alih-alih kewaspadaan, hingga saling menyerang menjadi karakter. Tidak hanya dengan
musuh, kita pun saat ini bisa jadi kurang memiliki rasa percaya dengan kawan atau terlalu percaya
hingga kehilangan kewaspadaan. Contoh saat kita menerima informasi suatu produk ternyata haram,
karena produk tersebut cenderung tidak kita sukai, dengan mudah nya kita meyakini berita palsu dan
menyebarkan nya dengan merasa benar kepada kontak kita (red: McD dan Solaria diberitakan Haram).

Hal tersebut diperburuk dengan kualitas pendidikan baik itu dirumah maupun di sekolah. Lihat saja
sebelum internet dengan mudah diakses, dahulu program televisi mengenai Gosip lebih tinggi rating
nya dibandingkan program edukasi. Bahkan pergeseran yang terjadi ialah saat ini beritapun mengulas
mengenai hal-hal yang meresahkan masyarakat. Demi mengejar rating, program televisi seperti
sinetron pun demikian, tujuan edukasi tipis dirasakan dibandingkan tujuan hiburan dengan konten
negatif. Jadi dunia maya tidak dapat disalahkan sepenuhnya dalam hal penyebaran berita palsu toh
sedari dahulu sebelum ada internet kita pun lebih menyukai berita palsu.
Terlebih lagi, berita palsu mengarah kepada hal yang penting bagi pembaca berita. Pembuat berita
palsu dapat dikatakan memiliki karakter buruh karena dengan sengaja membuat fitnah dengan tujuan
negatif. Namun pembaca yang menerima berita tersebut dan menyebarkannya dengan mudah tanpa
klarifikasi menurut saya terserang oleh berita tersebut. Misal saja orang tua yang memiliki anak
dibawah umur, merasa takut jika berita orang gila yang menculik anak adalah benar, pendukung
pasangan calon pada pilkada merasa lawan calonnya berbuat seuatu yang tidak pantas sehingga tidak
layak terpilih, berita mie instan yang menggunakan bumbu dengan kandungan babi dan sebagainya.

4. Ketidakjelasan Akun sosial media

Mayoritas Berita palsu saat ini dibuat dan disebarkan melalui sosial media. Tidak hanya berita utama,
komentar dari suatu berita yang sarat dengan fitnah dan konten negatif sangat banyak sekali mulai
dari komentar yang saling menghina, menyerang pribadi lawannya secara sporadis. Salah satu
penyebab dari itu semua yaitu karena mudah nya masyarakat membuat akun yang tidak sesuai dengan
identitas asli.

Untuk membuat email, pengguna cukup memasukkan nama pengguna yang diharuskan berbeda
dengan yang lain bukan diharuskan sama dengan identitas asli. Pun begitu untuk membuat akun
media sosial cukup memasukkan email dan pengguna bebas menggunakan nama alias atau nama
samaran. Pengguna tidak dibatasi dalam pembuatan jumlah akun sosial media sehingga satu
pengguna dapat memiliki 2, belasan, hingga puluhan akun sesuai kebutuhan.

Bayangkan bagaimana mudahnya masuk dalam bayangan dan membuat bahkan dengan sengaja
menyebarkan berita palsu. Pengguna dibebaskan dari isi berita yang di sebarkan dan sulit dilacak
karena ketidakjelasan akun yang digunakan untuk menyebarkan berita palsu. Dari situ pun muncul
haters yang secara bebas menghujat suatu pihak. Dibutuhkan usaha serius dari pihak berwajib untuk
menangkap haters yang mengganggu karena nama akun yang digunakan bukan lah nama asli, itu pun
jika pihak yang terganggu melaporkan kepada pihak berwajib agar dapat ditindaklanjuti.

Jumlah pengguna yang memiliki akun ganda memang sedikit dibandinkan yang memang benar-benar
menggunakan akun sosial media dengan benar, namun jumlah yang minoritas ini mempengaruhi
pengguna mayoritas. Disadari atau tidak oleh pengguna mayoritas, opini mereka digiring oleh
pengguna minoritas. Dan janganlah sepelekan pengguna mayoritas yang tidak tahu mana yang benar
dan mana yang salah, kerusakan yang ditimbulkan dapat bersifat masif.

Mengurangi Hoax
Hoax dapat dikurangi secara signifikan untuk menyebar di sosial media walaupun tidak akan hilang
jika terlepas dari sosial media. Sedari dahulu pun, Gosip selalu ramai dibicarakan. Melihat dari
sumber nya, beberapa solusi dapat diupayakan untuk mengurangi Berita Palsu, yaitu:

1. Dewasa dalam Menanggapi Berita Negatif

Munculkanlah kesadaran bahwa apapun yang kita lakukan lekat dengan akhirat. Demikian kita dapat
mengurangi bahkan menghilangkan kebutuhan akan Gosip dan sejenisnya. Berita negatif adalah hal
yang harus disimpan dan jika bermaslahat untuk disebarkan sebagai peringatan harus dicari terlebih
dahulu kebenarannya. Tidak ada manfaat nya bagi kita untuk mengetahui keburukan publik figur yang
bahkan tidak kita kenal dan tidak berpengaruh apapun dalam kehidupan kita. Namun saat kita
mendengar dan aktif menyebarkan fitnah maka kita akan jauh lebih buruk dibandingkan orang yang
kita fitnah. Ingat, berita negatif jika benar dan disebarkan akan menjadi Ghibah dan jika salah akan
menjadi fitnah. Keduanya tidak diperbolehkan.
Saat terbukti berita yang kita sebarkan merupakan fitnah, selayaknya kita pun yang menyebarkan
berita tersebut dengan aktif meminta maaf kepada subjek berita dan semua kontak yang telah kita
informasikan. Itu pun belum tentu menghilangkan kerugian yang dialami oleh subjek berita negatif.

2. Penggunaan nama asli sebagai nama akun

Keharusan penggunaan nama asli akan membantu mengurangi jumlah akun ganda dan mendorong
pengguna media sosial untuk bertanggung jawab terhadap setiap opini yang dimunculkan di lini masa.
UU ITE dapat diterapkan dengan lebih mudah kepada pengguna media sosial yang di tenggarai
menyebarkan fitnah di media sosial. Jika tidak memungkinkan secara penuh sama dengan identitas
asli dikarenakan banyaknya nama yang sama, bisa saja akun media sosial di verifikasi oleh moderator
dan mengharuskan melampirkan pindaian identitas asli seperti halnya KTP.

Penggunaaan nama asli tidak lah membatasi kebebasan pengguna untuk berpendapat melainkan
mendorong pengguna untuk bertanggung jawab terhadap setiap pendapat yang dikeluarkan agar
pendapat yang dimaksud tidak mengganggu pengguna lain. Jika fitur ini diberlakukan, maka fitur lain
dengan mudah dan efektif dapat diterapkan seperti fitur Laporkan, Blokir, dan penghapusan BOT
(pengguna dikendalikan komputer). Saling hujat di media sosial pun tidak akan lebih bebas saat saling
hujat secara langsung saat tatap muka karena pengguna media sosial tahu dengan siapa dia berbicara.

3. Fitur tambahan dari penyedia sosial media

Hal terakhir yang menurut saya dapat mengurangi Hoax adalah fitur penambahan data referensi
saat pengguna meneruskan informasi dari opini pengguna lain maupun saat kita melakukan copy dan
paste. Contoh seperti saat saya membuat tulisan dan ada teman kontak saya di media sosial
meneruskan informasi dan atau copy paste, maka link dari media sosial saya akan ikut kedalam setiap
kiriman teman kontak saya tersebut, hingga siapapun yang menerima kiriman tersebut dapat melihat
darimana opini tersebut diawali.

Dengan fitur tersebut, semakin sulit untuk pengguna memberikan informasi negatif kepada pengguna
lain. Diharapkan setiap kiriman opini merupakan kiriman yang dapat dipertanggunjawabkan secara
penuh oleh penulis. Tentu selalu ada celah bagi mereka yang berniat tidak baik untuk menebarkan isu
negatif, namun janganlah kita menjadi korban baik itu sebagai objek dari berita palsu maupun subjek
yang menyebarkan berita tersebut. Terlebih jangan sampai kita menjadi pelaku pembuat berita palsu.