Anda di halaman 1dari 24

BAB : I

PENDAAHULUAN

A. Latar Belakang

Virus adalah organisme subselluler yang bersifat parasit dengan siklus


hidupnya di dalam sel dan tidak mempunyai aktivitas metabolisme di luar sel dan
hanya mempunyai asam nukleat RNA ( ribonukleo acid ) atau DNA
( dioxyribonukleo acid ) sebagai materi genetik. Pada saat ini, virus diketahui
sebagai suatu pathogen yang jauh berbeda dari mikroorganisme parasitik lain.
Akibat infeksi virus pada sel mengakibatkan tiga kemungkinan dengan implikasi
yang berbeda, di antaranya akan terjadi transformasi sel, sel menjadi lisis, dan
kemungkinan terjadi infeksi laten / persisten yang mengakibatkan virus tidak
dapat dihilangkan dari dalam tubuh.

Penyakit yang disebabkan oleh virus, sangat berperan dalam


morbiditas dan mortalitas hewan serta menyebabkan kerugian ekonomi yang
nyata. Selain itu, bila penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut menyerang
hewan piaraan, bukan tidak mungkin akan menambah masalah baru dengan
menyebabkan kematian pada manusia. Tubuh manusia tidak mungkin
terhindar dari lingkungan yang mengandung mikroba pathogen
disekelilingnya. Mikroba tersebut dapat menimbulkan penyakit infeksi pada
manusia. Mikroba patogen yang ada bersifat poligenik dan kompleks. Oleh
karena itu respon imun tubuh manusia terhadap berbagai macam mikroba
patogen juga berbeda

Umumnya gambaran biologic spesifik mikroba menentukan


mekanisme imun mana yang berperan untuk proteksi. Begitu juga respon
imun terhadap bakteri khususnya bakteri ekstraseluler atau bakteri intraseluler
mempunyai karakteriskik tertentu pula.Tubuh manusia akan selalu terancam
oleh paparan bakteri, virus, parasit, radiasi matahari, dan polusi. Stress
emosional atau fisiologis dari kejadian ini adalah tantangan lain untuk
mempertahankan tubuh yang sehat. Biasanya kita dilindungi oleh system
pertahanan tubuh, sistem kekebalan tubuh, terutama
BAB II

Tinjauan pustaka

A. Pengertian imunologi

Imunologi adalah ilmuyang mencakup kajian mengenai semua aspek sistem


imun (kekebalan) pada semua organisme. Imunologi memiliki berbagai penerapan
pada berbagai disiplin ilmu dan karenanya dipecah menjadi beberapa subdisiplin
seperti: malfungsi sistem imun pada gangguan imunologi (penyakit
autoimun, hipersensitivitas, defisiensi imun, penolakan allograft); karakteristik fisik,
kimiawi, dan fisiologis komponen-komponen sistem imun. Imunologi juga di katakan
sebagai suatu bidang ilmu yang luas yang meliputi penelitian dasar dan penerapan
klinis , membahas masalah antigen, antibodi, dan fungsi fungsi berperantara sel
terutama yang berhubungan dengan imunitas terhadap penyakit , reaksi biologik yang
bersifat hipersensitif, alergi dan penoloakan jaringan asing.

Imunologi merupakan pemeriksaan darah yang bertujuan untuk mendeteksi awal


adanya infeksi virus, memperkirakan status imun dan pemantauan respon pasca
vaksinasi. Imunologi adalah spesialisasi medis yang berkaitan dengan kekebalan dan
semua aspek dari kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit yang
disebabkan oleh patogen (organisme penyebab penyakit, yang biasanya adalah mikro-
organisme). .

Imunolgi terbagi menjadi 2 yaitu imunologi infeksi dan imunologi kanker.

1. Imunologi infeksi

Bila suatu mikroorganisme menembus kulit atau selaput lendir, maka tubuh
akan mengerahkan keempat komponen sistem imun untuk menghancurkannya,
yaitu antibodi fagosit, komplemen dan sel sel sistem imun. Bila suatu antigen
pertama masuk kedalam tubuh, dalam beberapa hari pertama antibodi dan sel
sistem imun spesifik lainnya lainnya belum memberikan respons. Tetapi
komplemen dan pagosit serta komponen imun nonspesifik lainnya dapat
bekerja langsung untuk menghancurkannya.

2. Imunulogi kanker

Peran penting imunitas lainnya adalah untuk menemukan dan


menghancurkan tumor. Sel tumor menunjukan antigen yang tidak ditemukan
pada sel normal. Untuk sistem imun, antigen tersebut muncul sebagai antigen
asing dan kehadiran mereka menyebabkan sel imun menyerang sel tumor.
Antigen yang ditunjukan oleh tumor memiliki beberapa sumber; beberapa
berasal dari virus onkogenik seperti papilloma virus, yang menyebabkan kanker
leher rahim, sementara lainnya adalah protein organisme sendiri yang muncul
pada tingkat rendah pada sel normal tetapi mencapai tingkat tinggi pada sel
tumor.

Salah satu contoh adalah enzim yang disebut tirosinase yang ketika
ditunjukan pada tingkat tinggi, merubah beberapa sel kulit (seperti melanosit)
menjadi tumor yang disebut melanoma. Kemungkinan sumber ketiga antigen
tumor adalah protein yang secara normal penting untuk mengatur
pertumbuhan dan proses bertahan hidup sel, yang umumnya bermutasi
menjadi kanker membujuk molekul sehingga sel termodifikasi sehingga
meningkatkan keganasan sel tumor.Sel yang termodifikasi sehingga
meningkatkan keganasan sel tumor disebutonkogen.

Respon utama sistem imun terhadap tumor adalah untuk


menghancurkan sel abnormal menggunakan sel T pembunuh, terkadang
dengan bantuan sel T pembantu. Antigen tumor ada pada molekul MHC kelas
I pada cara yang mirip dengan antigen virus. Hal ini menyebabkan sel T
pembunuh mengenali sel tumor sebagai sel abnormal. Sel NK juga
membunuh sel tumor dengan cara yang mirip, terutama jika sel tumor
memiliki molekul MHC kelas I lebih sedikit pada permukaan mereka daripada
keadaan normal; hal ini merupakan fenomena umum dengan tumor.Terkadang
antibodi dihasilkan melawan sel tumor yang menyebabkan kehancuran
mereka oleh sistem komplemen

Beberapa tumor menghindari sistem imun dan terus berkembang


sampai menjadi kanker.Sel tumor sering memiliki jumlah molekul MHC kelas
I yang berkurang pada permukaan mereka, sehingga dapat menghindari
deteksi oleh sel T pembunuh. Beberapa sel tumor juga mengeluarkan produk
yang mencegah respon imun; contohnya dengan mengsekresikan sitokin TGF-
, yang menekan aktivitas makrofaga danlimfosit. Toleransi imunologikal
dapat berkembang terhadap antigen tumor, sehingga sistem imun tidak lagi
menyerang sel tumor.

Makrofaga dapat meningkatkan perkembangan tumor ketika sel tumor


mengirim sitokin yang menarik makrofaga yang menyebabkan dihasilkannya
sitokin dan faktor pertumbuhan yang memelihara perkembangan tumor.
Kombinasi hipoksia pada tumor dan sitokin diproduksi oleh makrofaga
menyebabkan sel tumor mengurangi produksi protein yang
menghalangi metastasis dan selanjutnya membantu penyebaran sel kanker.
telah mengidentifikasikan sel kanker. Ketika melampaui batas menyatukan
dengan sel kanker, makrofaga (sel putih yang lebih kecil) akan menyuntkan
toksin yang akan membunuh sel tumor.

B. Jenis Pemeriksaan Immunologi

No Jenis Pemeriksaan Metode


1 Anti HIV ELISA
2 Anti HIV I Rapid
3 HbsAg Rapid
4 Anti HCV Rapid
5 Anti HBs Rapid
6 HbsAg ELISA
7 Anti HbsAg ELISA
8 HbeAg Rapid
9 HbeAg ELISA
10 Anti HAV Ig G/Ig M Rapid
11 RPR Aglutinasi
Hemagluti
12 TPHA
nasi
13 TPHA Rapid
14 Ig G Herpes Simplex 1 ELISA
15 Ig G Herpes Simplex 2 ELISA
16 Ig G Herpes Simplex ELISA
17 Cytomegalovirus Ig G ELISA
18 Cytomegalovirus Ig M ELISA
19 Dengue Ig G/Ig M Rapid
20 Rheumatoid Factor Aglutinasi
21 Toxoplasma gondii Ig G ELISA
22 Toxoplasma gondii Ig M ELISA
23 Widal Aglutinasi
24 Tes Kehamilan Rapid
25 ASTO (Anti Streptolisin-O) Aglutinasi
26 CRP (C-Reactive Protein) Aglutinasi

C. Pengertian serologi

Pemeriksaan serologis adalah pengujian yang menggunakan serum sebagai


sampel. Prinsip utama uji serologis adalah mereaksikan antibodi dengan antigen yang
sesuai. Antibodi adalah zat kekebalan yang dilepaskan oleh sel darah putih untuk
mengenali serta menetralisir antigen (bibit penyakit baik virus maupun bakteri) yang
ada dalam tubuh.

Pemeriksaan serologi Serologi merupakan cabang imunologi yang mempelajari


reaksi antigen-antibodi secara invitro. Reaksi serologis dilakukan berdasarkan asumsi
bahwa agen infeksius memicu host untuk menghasilkanantibodi spesifik, yang akan
bereaksi dengan agen infeksius tersebut. Reaksi serologis dapat digunakanuntuk
mengetahui respon tubuh terhadap agen infeksius secara kualitatif maupun
kuantitatif.

Pemeriksaan serologik sering dilakukan sebagai upaya menegakkan diagnosis.


Walaupun saat ini pemeriksaan serologik tidak terbatas pada penyakit infeksi, namun
untuk menunjang diagnosis penyakit infeksi memang hal yang sering dilkukan.
memungkinkan dilakukannya pengamatan secara in vitro terhadap perubahan
kompleks antigen-antibodi (Ag-Ab). Pengujian tersebut berdasar pada proses
presipitasi atau aglutinasi atau aktivasi komplemen yang diakibatkan oleh perubahan
status fisik kompleks.

Reaksi antigen-antibodi secara in vitro dapat dimanfaatkan untuk:

1. Identifikasi antigen

Apabila antigen tidak diketahui, misal :

a) Reaksi presipitin untuk mengklasifikasi grup streptokokus

b) Reaksi aglutinasi untuk mengklasifikasi serotipe salmonella, shigella

c) Reaksi presipitin untuk mengidentifikasi antigen variola pada lesi smallpox

2. Deteksi kuantitasi antibodi yang disekresi pada serum, air susu, dan cairan
tubuh lainnya. Pada kasus ini antibodi tidak diketahui. Pemeriksaan antibodi
dapat digunakan untuk:

a) Menilai imunitas terhadap rubella, mumps, poliomyelitis

b) Menilai prevalensi infeksi oleh mikroorganisme dalam suatu komunitas atau


survei serologik pada kelompok umur

c) Mendeteksi jaringan yang diinvasi suatu mikroorganisme, mis: Haemophilus


influenza pada bronkitis kronis atau antibodi E. coli pada infeksi traktus
urinarius.

d) Mendiagnosa penyakit, misalnya: brucellosis, tifoid, VD, DHF, dsb

Pada pemeriksaan terhadap spesimen serum tunggal, konklusi yang dapat dibuat
sangat terbatas, mengingat bahwa banyak kasus antibodi dapat distimulasi setiap
saat, tidak selalu berkaitan dengan penyakit yang sedang terjadi.
Sebaiknya dilakukan pemeriksaan tehadap 2 sera, satu dikoleksi pada saat
penyakit timbul, dan yang lain 10-14 hari brikutnya. Kenaikan titer antibodi
spesifik sampai 4 kali lipat spesimen uji, merupakan indikasi signifikan yang
menunjukkan bahwa sedang terjadi infeksi aktif.

Faktor-Faktor Penting Yang Harus Diperhatikan Pada Pemeriksaan Serologi

1. serum kontrol: dalam hal ini harus diperhatikan beberapa sifat serum kontrol

a. sifat antikomplementer

b. tidak memiliki inhibitor spesifik

c. tidak toksik terhadap kultur sel

d. memiliki aglutinin

e. dapat menghasilkan presipitat non spesifik

2. Kontrol antigen: antigen yang digunakan harus memiliki aktivitas tinggi.


Antigen dapat bersifat antikomplementer, oto-aglutinasi, dan mungkin
terkontaminasi, hal-hal tersebut dapat berpengaruhpada pengujian.

3. Kontrol pelarut: pelarut yang digunakan ada kemungkinan terkontaminasi, hal


ini dapat menyebabkan terjadi perubahan pH, efek toksisk, dsb.

4. Antisera standar: antigen cenderung tidak stabil pada penyimpanan dibanding


sera, kontrol uji untuk standar sera negatif dan standar sera positif yang telah
diketahui titernya

D. Reaksi Antigen-Antibodi Yang Digunakan Pada Serologi Diagnostik

1. Uji Presipitasi

Presipitasi terjadi antara molekul Ab dan Ag pada bentuk solubel. Pada


pengujian ini antigen berbentuk koloidal. Laju presipitasi sangat tergantung
pada proporsi antigen dan antibodi pada campuran. Terdapat beberapa cara
pengujian pada metode presipitasi, yaituni:

a. Uji tabung

Dengan mencampur pada tabung, masukkan dilusi antigen atau antibodi dengan
jumlah tertentu. Dilusi dilakukan dari konsentrasi tinggi (tabung pertama) sampai
konsentrasi terendah (tabung terakhir). Presipitat timbul pada tabung yang
mengandung Ag dan Ab secara proporsional.

b. Presipitasi Cincin

Antigen dilapiskan pada serum (antibodi), terjadi difusi setelah mencapai ikatan
proporsional dengan antibodi akan menghasilkan presipitasi berbentuk cincin.

c. Difusi Gel

Pada pengujian ini memungkinkan antigen dan antubodi berdifusi perlahan dari
arah tertentu melalui gel. Pada cara ini homogenitas dan derajat kemurnian dari
berbagai antigen dapat diuji. Pita presipitasi terbentuk pada setiap antigen dapat
saling bertemu, atau bersilangan menunjukkan:

- bersambungan, antigen identik secara imunologik (terhadap serum uji)

- bercabang, antigen berhubungan sebagian

- bersilangan, menunjukkan antigen tidak berhubungan

Metode difusi tunggal

Di sini anti serum dalam agar semi solid, zona buffer dari agar dan antigen
terpisah secara vertikal dalam tabung. Garis presipitasi terbentuk dalam zona
buffer.

a) Metode difusi ganda

Agar dituang pada plat. Di bagian tengah diisi antigen atau antiserum
sedangkan sera atau ekstrak di bagian tepi. Pita presipitasi terbentuk dalam gel
pada posisi Ag dan Ab mencapai proporsi optimal setelah berdifusi. Dapat
dimodifikasi dengan uji mikrodilusi menggunakan obyek gelas

b) Immunoelektroforesis

Jika terdapat sejumlah Ag dalam larutan seperti serum, sulit memisahkan pita
presipitasi yang timbul pada setiap reaksi Ab-Ag, bila hanya menggunakan
cara difusi di atas. Komponen serum dipisahkan dengan elektroforesis dalam
agar gel dan antiserum dibiarkan berdifusi melalui komponen yang dihasilkan
pada pita-pita yang terbentuk.

c) Elektroforesis "roket"
Merupakan metode kuantitatif, dilakukan elektroforesis antigen ke dalam gel
yang telah mengandung antibodi. Presipitasi yang terjadi berbentuk roket,
panjang masing-masing roket menunjukkan konsentrasi antigen.

d) Immunodifusi radial tunggal

Antiserum monospesifik ditambahkan ke dalam gel, kemudian dituang pada


slide petridisk atau lempeng plastik. Dibuat lubang gel, larutan antigen
dimasukkan pada lubang. Terjadi difusi sehingga terbentuk zona sirkuler yang
menunjukkan jarak proporsional dengan jumlah antigen yang ditambahkan
pada setiap lubang. Kuantitasi antigen yang diperiksa diketahui dari
perbandingan cincin presipitasi dibandingkan dengan cincin presipitasi
kontrol.

2. Uji aglutinasi

Digunakan untuk antigen berukuran besar, pada reaksi ini antibodi


dikontakkan dengan antigen yang merupakan bagian permukaan suatu
material misalnya eritrosit, mikroorganisme atau partikel anorganik
(polystyrenelatex) yang telah dicoated dengan Ag. Reaksi Ab-Ag membentuk
agregat yang dapat diamati atau aglutinasi.

3. Uji Litik

Uji ini tergantung pada proses lisis dari darah atau bakteri dari suatu sistem
yang mengandung antigen, direaksikan dengan antibodi dan komplemen.
Antigen yang digunakan berupa :

a. Sel (uji litik langsung)

b. Bahan yang diadsorbsikan pada eritrosit atau lekosit (uji litik tidak
langsung)

4. Serological Inhibition Test

Untuk mendeteksi netralisasi antigen dan antibodi dengan mendemonstrasikan


hambatan pada reaksi tertentu yang secara normal terjadi pada antigen atau
organisme.

Aplikasi:

- Deteksi antistreptolisin O

- Animal protection test


- Viral haemagglutination inhibition

- Viral neutralization test menggunakan CPE pada kultur

5. Immunoflourescence

Cat flourescence atau rhodamin diikatkan pada antibodi tanpa merusak


spesifitasnya. Suatu konjugat dikombinasi dengan antigen (misalnya potongan
jaringan) dan diikat oleh antibodi akan tampak dengan mikroskop UV,
distribusi Ag pada jaringan atau sel

6. Skin Test

Memanfaatkan reaksi kulit sebagai indikator sistem. Ada dua cara:

o Pasif, bila antigen dan serum diinokulasikan, misalnya menguji toksin-


antitoksin

o Aktif, bila status immunologik diuji

- Skin test digunakan untuk mengetahui adanya:

- Antibodi terhadap bakteri

- Reaksi alergi

7. Antigen Binding Techniques

Metode ini digunakan untuk mengethui level antibodi dengan menentukan


kapasitas antiserum dalam kompleks dengan antigen radioaktif, atau dengan
mengukur jumlah immunoglobulin yang mengikat larutan antigen yang
diberikan. Ada dua macam cara pada metode ini:

- Radioimmunoassay

- Teknik sandwich

E. Jenis Pemeriksaan Serologi

Keuntungan melakukan pemeriksaan serologis untuk menegakkan


diagnosa suatu penyakit antaralain karena reaksi serologis spesifik untuk suatu
agen infeksius, waktu yang diperlukan lebih singkat dari pada pemeriksaan
kultur/identifikasi bakteri, dan pengambilan sampel relatif mudah yaitu darah.
Beberapa uji serologi :

a. Reaksi serologis untuk salmonella Typnosa

Pemeriksaan serologis yang digunakan untuk diagnosa penyakit


demam typhoid yang disebabkanoleh Salmonella disebut pemeriksaan Widal.
Uji Widal dirancang secara khusus untuk membantudiagnosis demam typhoid
dengan cara mengaglutinasikan basilus typhoid dengan serum penderita.
Namun,istilah ini kadang-kadang diterapkan secara tidak resmi pada
uji aglutinasi lain yang menggunakan biakanorganisme yang dimatikan
dengan panas selain Salmonella.

- Pemeriksaan Widal digunakan untuk :

Pemeriksaan Widal adalah pemeriksaan yang bertujuan mengetahui


adanya demam tifoid yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella
typhi atau Salmonella paratyphi A,B,C. Pemeriksaan Widal sering
menunjukkan reaksi silang dengan kuman yang berasal dari usus sehingga
pemeriksaan ini tidak bersifat spesifik. Untuk mendeteksi infeksi
dengan Salmonella typhi yang spesifik dapat diperiksa Salmonella typhiIgM.
1. Mengetahui diagnosa thypus abdominalis dan penyakit parathyposa A, B, C,
D

2. Mengetahui prognosa penyakit

3. Mengetahui ada tidaknya aglutinin dalam serum penderita.

Salmonela mempunyai 3 macam antigen, yaitu antigen H, O, dan Vi.


Dari hasil pemeriksaan Widaldapat diambil kesimpulan :

1. Kenaikan titer O menunjukkan masih ada infeksi aktif

2. Kenaikan titer H menunjukkan kemungkinan post vaksinasi atau infeksi telah


berlalu

3. Kenaikan titer Vi menunjukkan kemungkinan karier


b. Reaksi serologi untuk treponema

Reaksi serologi untuk treponema dilakukan dalam menegakkan diagnosa


penyakit sifilis. Sifilisadalah suatu penyakit yang ditularkan melalui hubungan
seksual, disebabkan oleh TreponemaPallidum.Infeksi treponema pallidum
dalam tubuh akan menimbulkan dua macam antibodi, yaitu:

1. Antibodi non treponema (reagin)

2. Antibodi treponema

Pemeriksaan serologi untuk treponema dibagi menjadi dua jenis yaitu:

1. Non treponemal antigen test

reaksi flokulasi : Kahn, VDRL, Murata, Kline, Mazzini, Hinton


partikel antigen yang berupa lipid akan mengalami flokulasi setelah dikocok
dengan regain.

reaksi fiksasi komponen : Wasserman, Kolmerserum yang mengandung reagin


dapat mengikat komplemen jika ada cardiolipin sebagai antigen.

Oleh karena antigen yang digunakan bukan antigen spesifik maka dapat
terjadi BFPR (BiologicalFalse Positive Reaction). Penyakit lain yang dapat
menimbulkan BFPR pada test ini antara lain adalah malaria, lepra, relapsing fever,
lupus eritematosus, leptospirosis, rhemathoid arthritis.

2. Treponemal antigen test

reaksi aglutinasi : TPHA ( Treponema Pallidum Haem Aglutination)

reaksi fiksasi komplemen : TPCF ( Treponema Pallidum Complement


Fixation)- imobilisasi : TPI (Treponema Pallidum Immobolization)

imunofluoresen : FTA ( Flouresan Treponema Antibody)

Pemeriksaan ini lebih spesifik dari pada non treponemal antigen test.

a. ELISA(Enzyme-linked immunosorbent assay )


merupakan metode determinasi konsentrasi protein berdasarkan
spesifitas reaksi immunologis antara antigen dan antibodi yang dirangkai
dengan reaksi enzimatis.Uji ini memiliki beberapa keunggulan seperti teknik
pengerjaan yang relatif sederhana, ekonomis, dan memiliki sensitivitas
yang cukup tinggi. ELISA diperkenalkan pada tahun1971 oleh Peter Perlmann
dan Eva Engvall untuk menganalisis adanyainteraksi antigen dengan antibodi
di dalam suatu sampel dengan menggunakan enzim sebagai pelapor (reporter
label ).
Prinsip kerja ELISA reader sama dengan spektofotometer.Umumnya
ELISA dibedakan menjadi dua jenis, yaitu competitive assay yang menggunakan
konjugat antigen enzim atau konjugat antobodi enzim, dan non-
competitive assay yang menggunakan dua antibodi. Pada ELISAnon-
competitive assay antibodi kedua akan dikonjugasikan dengan enzim sebagai
indikator.
Teknik kedua ini seringkali disebut sebagai Sandwich ELISA. Uji ini
dilakukan pada plate 96- well berbahan polistirena.Untuk melakukan teknik
Sandwich ELISA ini, diperlukan beberapa tahap yang meliputi:

1. Well dilapisi atau ditempeli antigen.


2. Sampel (antibodi) yang ingin diuji ditambahkan.
3. Ditambahkan antibodi kedua yang dikonjugasikan dengan enzim tertentu
seperti peroksidase alkali. Antibodi kedua ini akan menempel pada antibodi
sampel sebelumnya.
4. Dimasukkan substrat enzim yang dapat menimbulkan warna tertentu saat
bereaksi
5. Intensitas warna campuran diukur dengan spektrofotometer yang disebut
ELISA reader hingga mendapatkan hasil berupa densitas optis (OD). Dengan
menghitung rata-rata kontrol negatif yang digunakan, didapatkan nilai cut-
off untuk menentukan hasil positif-negatif suatu sampel. Hasil OD yang
berada di bawah nilai cut-off merupakan hasil negatif, dan demikian juga
sebaliknya
Uji ini memiliki beberapa kerugian, salah satu di antaranya adalah
kemungkinan yang besarterjadinya hasil false positive karena adanya
reaksi silang antara antigen yang satu dengan antigen lain.
a) Serologi untuk hepatitis B
Hepatitis B merupakan penyakit infeksi pada hati yang angka kejadiannya
tinggi dan dapat menimbulkan masalah kronis seperti sirosis hepatis dan
kanker hati. Diagnosis hepatitis Bdikerjakan dengan melakukan tes terhadap
beberapa marker serologis dari virus hepatitis B dan dengan menambahkan tes
tambahan untuk menyingkirkan penyebab lain seperti virus hepatitis Adan C.
Sedangkan untuk penyaring, cukup dilakukan pemeriksaan HBsAg dan Anti
HBs.
HBs Ag
Jika positif, pasien dianggap terinfeksi hepatitis B. Pengulangan tes setelah 6 bulan
untukmenentukan infeksi telah sembuh atau kronik. HBsAg positif setelah 6 bulan
tetap terdeteksi dalamdarah selama lebih dari enam bulan berarti telah menjadi
kronis.
Anti HBs
Jika positif, pasien dianggap memiliki kekebalan terhadap hepatitis B (baik
karena infeksi yang telahsembuh atau karena vaksinasi). Hepatitis B karier
kronis dapat menunjukkan HBsAg dan Anti HBs positif. positif untuk HbsAg
dan anti HBs pada saat yang bersamaan, tetapi hal ini sangat jarang terjadi
(<1%). Jika negatif pasien belum memiliki kekebalan terhadap virus hepatitis
B
HbeAg
HBeAg positif berhubungan dengan tingkat infeksi yang tinggi dan pada
karier kronik dengan peningkatan resiko sirosis. Tes ini dapat digunakan untuk
mengamati perkembangan hepatitis Bkronik.
HBV DNA
HBV DNA positif menunjukkan infeksi aktif, bergantung pada viral
load (jumlah virus). Tes ini dapatdigunakan untuk mengetahui prognosis dan
keberhasilan terapi.
Anti HBc
Jika positif, pasien telah terinfeksi oleh VHB. Infeksi telah sembuh (HBsAg
negatif) atau masihberlangsung (HBsAg positif). Jika infeksi
telah sembuh, pasien dianggap mempunyai kekebalan alami terhadap infeksi
VHB. IgM anti HBc mungkin menjadi satu-satunya marker yang dapat
terdeteksi selama masa window period ketika HbsAg dan anti-HBs masih
negatif.
Anti Hbe
Umumnya Anti HBe positif dengan HBeAg negatif menunjukkan tingkat
replikasi virus yang rendah.Namun hal ini tidak berlaku pada virus hepatitis B
mutan.
Pemeriksaan tambahan

Anti HCV dan Anti HAV untuk menyingkirkan adanya infeksi hepatitis C dan
A
F. Jenis Jenis Pemeriksaan Imonologi Dan Serologi

1. Uji Crp

Tujuan : untuk mendeteksi adanya infeksi kerusakan jaringan, inflamasi

Metode : kualitatif

Prinsip : aglutinasi pasif terbalik dimana latex dilapisi antibodi CRP dan yang
dideteksi adalah antigen CRP dalam serum dengan kadar tinggi, aglutinasi
terlihat dalam waktu 2 menit

Alat Pemeriksaan : kaca obyek, transferpet + tip, pengaduk

Bahan : serum

Reagen : Latex (suspensi polysterin latex)

Cara Kerja : masukkan 50 mikroL serum dalam test slide, tambahkan satu
tetes suspensi, campurkan suspensi dengan cara digoyang. Putar test slide
selama dua menit lihat aglutinasi yang terjadi.

Interpretasi Hasil : hasil positif = aglitunasi kasar ; positif lemah = aglutinasi


halus ; hasil negatif = tidak ada aglutinasi

2. Uji Aso/Asto

Tujuan : mengetahui arah Stertolysin O dalam serum secara kualitatif


dimurnikan.

Prinsip : suspensi latex dicampur dengan serum dengan kadar meningkat,


aglutinasi terjadi dalam waktu 2 menit

Alat pemeriksaan : pengaduk, slide test, mikropipet

Bahan : serum

Reagen : kontrol (+) = mengandung antibodi ASO ; kontrol () = tidak


mengandung antibodi ASO ; reagen latex = suspensi partikel latex polysiterin
yang dilapisi Streptolysin O

Cara Kerja : reagen dan seum diinkubasi dalam suhu kamar, teteskan 50
mikroL serum pasien ke dalam lubang slide. Kocok reagen latex, kemudian
teteskan ke dalam lubang dengan penetes yang disediakan. campur tetesan
menggunakan alat disposable untuk memastikan seluruh lubang test
tercampur. putar test slide, selama 2 menit lihat aglutinasi yang terjadi.

3. Pengujian Rf

Tujuan : mengetahui Rheumatoid Factor dalam serum secara kualitatif.


Metode :AglutinasiLatex

Prinsip : Partikel latex yang dilapisi gamma globulin manusia yang telah
dimurnikan,ketika suspensi latex dicampur dengan serum
yangkadarRFnyameningkat,aglutinasijelasterlihatdalamwaktu2menit.

Alat Pemeriksaan : pengaduk, test slide, mikropipet.


Bahan : serum

Reagen : kontrol (+) = mengandung antibodi RF ; kontrol () = bebas antibodi


RF ; latex = suspensi latex polyesterin dilapisi fraksi FC termodifikasi dari
IgG dalam buffer stabil.

Cara Kerja :reagen dan seum diinkubasi dalam suhu kamar, teteskan 50
mikroL serum pasien ke dalam lubang slide. Kocok reagen latex, kemudian
teteskan ke dalam lubang dengan penetes yang disediakan. campur tetesan
menggunakan alat disposable untuk memastikan seluruh lubang test
tercampur. putar test slide, selama 2 menit lihat aglutinasi yang terjadi.

4. Pemeriksaan Rpr

Tujuan : digunakan untuk test flokulasi non treponemal untuk penentuan


adanya reagen antibodi dalam serum

Metode : Slide Test

Prinsip : pencampuran terjadi antara kolesterol/cardiolipin/tetrasiklin dalam


reagen yang juga terdapat partikel karbon dengan reagen antibodi dalam
serum, hasil dapat dilihat secara mikrokopis dalam bentuk gumpalan hitam.
AlatPemeriksaan :pipet serologi,testslide,pengaduk

Bahan :serumReagen :RPRAg,Kontrol(+),kontrol()

Cara Kerja : reagen dan seum diinkubasi dalam suhu kamar, teteskan 50
mikroL serum pasien ke dalam lubang slide. tambahkan 1 tetes reagen antigen
pada test spesimen, putar pada 100 Rpm selama 8 menit.
G. Nilai Normal

Pria

Hematologi
Jenis Spesimendarah
Darah Lengkap
Eritrosit : 4.5 5.9 (4.5 5.5) (juta/ul)
Haemoglobin (Hb) : 13.5 17.5 (13 16) (g/dl)
Hematokrit (Ht) : 41.0 53.0 (40 54) (%)
Trombo sit : 150.000 440.000 (150.000 400.000) (/ul)
Leukosit : 4.000 11.000 (5.000 10.000) (/ul)
Laju Endap Darah (LED) : 0 10 (mm/jam)
Diff count / Hitung Jenis Leukosit
Basofil : 0 1 (%)
Eosinofil : 1 3 (%)
Batang : 2 6 (%)
Segmen : 50 70 (%)
Limfosit : 20 40 (%)
Monosit : 2 8 (%)
Urinalisa
Jenis Spesimen : urine midstream / porsi tengah
Urine Lengkap
Warna : kuning
Kejernihan : jernih
Glukosa : negatif
Bilirubin : negatif
Keton : negatif
Berat jenis : 1.005 1.030 (1.003 1.030)
Darah samar : negatif
Ph : 4.5 8.0 (5 8)
Protein : negatif
Urobilinogen : 0.1 1.0 (EU/dl)
Nitrit : negatif
Esterase leukosit : negatif
Sedimen
Leukosit : 0 5 (0 3) (/LPB)
Eritrosit : 0 1 (/LPB)
Silinder : negatif (/LPK)
Epitel : +1
Kristal : negatif
Lain-lain : negatif
Kimia Darah
Glukosa N : 80 100 (mg/dl)
Glukosa PP : 100 120 (mg/dl)
Glukosa S : < 150 (mg/dl)
Kolesterol total : < 200 (mg/dl)
Trigliserida : < 150 (mg/dl)
HDL Kolesterol : > 55 (mg/dl)
LDL kolesterol : < 150 (mg/dl)
Ureum : 15 40 (mg/dl)
Kreatinin : 0.5 1.5 (mg/dl)
Asam urat : 3.4 7.0 (mg/dl)
Bilirubin total : 0.2 1 (mg %)
Bilirubin direk : 0 0.2 (mg %)
Bilirubin indirek : 0.2 0.8 (mg %)
SGOT : 5 40 (u/l)
SGPT : 5 41 (u/l)
Alkali Fosfatase : 45 190 (iu/l)
Gamma GT : 6 28 (mu/ml)
Protein total : 6.1 8.2 (gr %)
Albumin : 3.8 5.0 (gr %)
Globulin : 2.3 3.2 (gr %)
Imunologi dan Serologi
Widal
Salmonella typhy
Salmonella paratyphy A
Salmonella paratyphy B
Salmonella paratyphy C
VDRL : negatif
HbSAg
Anti Hbs
RF : < 8 (lu/dl)
CRP : < 0.8 (Mg/dl)
ASTO : < 200 (lu/dl)
Wanita
Hematologi
Jenis Spesimen : darah
Darah Lengkap
Eritrosit : 4 5 (juta/ul)
Haemoglobin (Hb) : 12 15 (g/dl)
Hematokrit (Ht) : 36 47 (%)
Trombo sit : 150.000 400.000(/ul)
Leukosit : 5.000 10.000(/ul)
Laju Endap Darah (LED) : < 15 (mm/jam)
Diff count / Hitung Jenis Leukosit
Basofil : 0 1 (%)
Eosinofil : 1 3 (%)
Batang : 2 6 (%)
Segmen : 50 70 (%)
Limfosit : 20 40 (%)
Monosit : 2 8 (%)
Urinalisa
Jenis Spesimen : urine midstream / porsi tengah
Urine Lengkap
Warna : kuning
Kejernihan : jernih
Glukosa : negatif
Bilirubin : negatif
Keton : negatif
Berat jenis : 1.003 1.030
Darah samar : negatif
pH :58
Protein : negatif
Urobilinogen : 0.1 1.0 (EU/dl)
Nitrit : negatif
Esterase leukosit : negatif
Sedimen
Leukosit : 0 3 (/LPB)
Eritrosit : 0 1 (/LPB)
Silinder : negatif (/LPK)
Epitel : +1
Kristal : negatif
Lain-lain : negatif
Kimia Darah
Glukosa N : 80 100 (mg/dl)
Glukosa PP : 100 120 (mg/dl)
Glukosa S : < 150 (mg/dl)
Kolesterol total : < 200 (mg/dl)
Trigliserida : < 150 (mg/dl)
HDL Kolesterol : > 65 (mg/dl)
LDL kolesterol : < 150 (mg/dl)
Ureum : 15 40 (mg/dl)
Kreatinin : 0.5 1.5 (mg/dl)
Asam urat : 2.4 5.7 (mg/dl)
Bilirubin total : 0.2 1 (mg %)
Bilirubin direk : 0 0.2 (mg %)
Bilirubin indirek : 0.2 0.8 (mg %)
SGOT : 5 40 (u/l)
SGPT : 5 41 (u/l)
Alkali Fosfatase 45 190 (iu/l)
Gamma GT : 4 18 (mu/ml)
Protein total : 6.1 8.2 (gr %)
Albumin : 3.8 5.0 (gr %)
Globulin : 2.3 3.2 (gr %)
Imunologi dan Serologi
Widal
Salmonella typhy
Salmonella paratyphy A
Salmonella paratyphy B
Salmonella paratyphy C
VDRL : negatif
HbSAg
Anti Hbs
RF : < 8 (lu/dl)
CRP : < 0.8 (Mg/dl)
ASTO : < 200 (lu/dl)
BAB III
PENUTUPAN

A. Kesimpulan
Imunologi adalah ilmuyang mencakup kajian mengenai semua aspek sistem
imun (kekebalan) pada semua organisme. Imunologi memiliki berbagai
penerapan pada berbagai disiplin ilmu dan karenanya dipecah menjadi beberapa
subdisiplin.
Pemeriksaan serologis adalah pengujian yang menggunakan serum sebagai
sampel. Prinsip utama uji serologis adalah mereaksikan antibodi dengan antigen
yang sesuai.
B. Saran.
Semoga makalah yang di buat oleh kami bermaanfat bagi mahasiswa dan dapat
dicermati apa yang di paparkan. Bila ada salah kata kami mengucapkan minta
maaf sebanyak-sebanyaknya dan kami sangat mengharapkan partipasi anda
untuk menyempurnakan hasil makalah kami.

DAFTAR PUSTAKA

Pelczar and Chan. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. Jakarta: UI Press.


Budiani, Dyah Ratna. 2012. Petunjuk Praktikum ELISA. Surakarta:
Laboratorium Biomedik FakultasKedokteran Universitas Sebelas Maret.
Maryani, dkk. 2011.Buku Praktikum Serologi. Surakarta: Laboratorium
Mikrobiologi FakultasKedokteran Universitas Sebelas Maret.

Lequin, RM (2005). "Enzyme Immunoassay (EIA)/Enzyme-Linked


Immunosorbent Assay(ELISA)".Clinical Chemistry 51 (12): 241 2418.

Walker, JM (1994). Basic Protein and Peptide Protocols, Volume 32 New Jersey:
Humana Press Inc.