Anda di halaman 1dari 3

Jakarta, April 2016 ( Humas MAN 6 Jakarta )

Artikel

GERAKAN LITERASI SEKOLAH


Oleh : Siti Maryani, S.Pd

MENJADIKAN MAN 6 JAKARTA SEBAGAI MADRASAH YANG BERBUDAYA LITERASI

Apa literasi itu ? secara sederhana literasi dasar diterjemahkan sebagai kemampuan untuk memahami
dan menggunakan bentuk bahasa tertulis,atau literasi adalah kemampuan membaca dan menulis
( Satria Darma dalam Workshop Gerakan Literasi Sekolah ).Mengapa harus literasi? Nabi Muhammad
SAW adalah rasul terakhir dan penutup,nabi Muhammad diutus oleh tuhan untuk seluruh umat
manusia dan bukan hanya untuk masyarakat Quraisy saat itu.Ajarannya adalah untuk membangun
peradaban demi kesejahteraan seluruh alam semesta ( QS. 21 : 107) . Membaca adalah perintah
pertama dan utama bagi umat islam. Dalam Al-Quran, kata kerja Katab ( menulis ) beserta kata
bentukkannya disebutkan 303 kali dan kata qaraa ( membaca ) sebanyak 89 kali. Membaca merupakan
salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan
membaca (Glenn Doman). Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak,
maka tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat akan membuka peluang
kesuksesan hidup yang lebih baik.

Farr (1984) menyebutkan "Reading is the heart of education". Bagi komunitas Muslim, perintah
pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad adalah membaca (Iqra) . Kita perlu menanamkan budaya
membaca pada anak sejak di sekolah dasar dengan kegiatan membaca setiap hari (bukan dengan
himbauan atau slogan dan jargon). Permasalahan dalam konteks Indonesia, minat baca masyarakat kita
sangat mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan berbagai permasalahan, seperti: hampir semua kota-kota
besar di Indonesia tidak punya perpustakaan yang memadai; padahal hal itu merupakan salah satu ciri
kota modern,perpustakaan yang ada di sebagian kecil kota-kota besar sangat kecil jumlah kunjungan
pembacanya. Di Jakarta, contohnya, dari sekitar 10 juta orang penduduk, yang berkunjung ke
perpustakaan hanya 200 orang/hari dan hanya 20% di antaranya yang meminjam buku. Ini berarti
masyarakat kita tidak membaca . Lebih dari 250.000 sekolah di Indonesia hanya 5% yang punya
perpustakaan. Ini juga berarti siswa kita tidak membaca. Anak-anak kita berkali lipat lebih banyak
menghabiskan waktunya untuk menonton TV daripada membaca. Bahkan di sekolah, di mana anak-
anak kita menghabiskan sebagian besar waktunya, kita tidak memiliki program untuk menumbuhkan
budaya membaca. Kita melompat dari kondisi pra-literer ke pasca-literer tanpa masuk ke kondisi atau
budaya literer. Budaya menonton telah menguasai masyarakat kita. Hasil studi Vincent Greannary yang
dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan Education in Indonesia From Crisis to
Recovery tahun 1998, menunjukkan kemampuan membaca siswa kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia
hanya 51,7. Jauh dibandingkan dengan Hongkong (75,5), Singapura (74,0), Thailand (65,1) dan Filipina
(52,6). Hasil studi ini membuktikan kepada kita bahwa membaca belum kalau tidak mau dikatakan
bukan - menjadi program yang integral dengan kurikulum.
Tanpa upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca sebagai dasar untuk belajar dan
mengembangkan keterampilan hidup maka bangsa kita akan terus menjadi bangsa kuli,untuk hal
tersebut gerakan literasi sekolah merupakan suatu keniscayaan. MAN 6 jakarta sebagai bagian dari
lembaga pendidikan yang berada di wilayah DKI juga mengambil peranan dalam upaya menumbuhkan
minat baca dan tulis bagi siswa-siswinya. Ekstrakulikuler Jurnalistik menjadi wadah komunitas untuk
menyalurkan minat dan bakat .program-program dalam upaya menanamkan budaya membaca kini
menjadi pusat perhatian dari program kerja kesiswaan,besar harapan kami program ini mendapat
dukungan dari seluruh warga MAN 6 Jakarta .SM16