Anda di halaman 1dari 8

PANDUAN

ASESMEN PASIEN TERMINAL

Jl. Raya Kalijaten No. 11-15 Taman Sidoarjo 61357


Telp. (031) 7885011 Fax. (031) 7873633
Email : soerya.rsab@yahoo.com
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya Buku Pedoman
Asesmen Pasien Terminal RSU Bunda Thamrin telah selesai disusun.

Sangat penting diketahui untuk kita, sebagai tenaga kesehatan tentang bagaimana cara menangani pasien
yang menghadapi sakaratul maut atau dalam kondisi terminal. Inti dari penanganan pasien yang
menghadapi sakaratul maut adalah dengan memberikan perawatan yang tepat seperti memberikan perhatian
yang lebih terhadap pasien sehingga pasien dan keluarga lebih sabar dan ikhlas dalam menghadapi kondisi
sakaratul maut.

Untuk meningkatkan pelayanan akan kebutuhan yang unik ini di Rumah Sakit diperlukan suatu Panduan.
Buku panduan ini diharapkan dapat menjadi pegangan atau acuan dalam memberikan pelayanan terhadap
pasien tahap terminal secara komprehensif dan juga terhadap pasien dalam kondisi sakaratul maut di RSU
Bunda Thamrin Medan.
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................................... i


Daftar Singkatan .................................................................................................................. ii
Daftar Isi ............................................................................................................................... iii

PENDAHULUAN ................................................................................................................ 1

I Definisi ...................................................................................................................
II Ruang Lingkup .......................................................................................................
III Pelaksanaan ............................................................................................................
IV Dokumentasi ..........................................................................................................

PENUTUP ............................................................................................................................. 8
PENDAHULUAN

Kehilangan dan kematian adalah peristiwa dari pengalaman manusia yang bersifat universal dan unik secara
individual.Hidup adalah serangkaian kehilangan dan pencapaian.Dukacita adalah respon alamiah terhadap
kehilangan. Penting artinya untuk diperhatikan bahwa apapun yang dikatakan disini tentang proses dukacita
dan kehilangan yang terdapat dalam perspektif sosial dan historis mungkin berubah sepanjang waktu dan
situasi. Menjadi tua adalah proses alamiah yang akan dihadapi oleh setiap mahluk hidup dan meninggal
dengan tenang adalah dambaan setiap insan. Namun sering kali harapan dan dambaan tersebut tidak
tercapai. Kondisi terminal merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami sakit atau penyakit yang
tidak mempunyai harapan untuk sembuh dan menuju pada proses kematian dalam 6 (enam) bulan atau
kurang. Dalam masyarakat kita, umur harapan hidup semakin bertambah dan kematian semakin banyak
disebabkan oleh penyakit-penyakit degeneratif seperti kanker dan stroke. Pasien dengan penyakit kronis
seperti ini akan melalui suatu proses pengobatan dan perawatan yang panjang. Jika penyakitnya berlanjut
maka suatu saat akan dicapai stadium terminal yang ditandai dengan oleh kelemahan umum, penderitaan,
ketidak-berdayaan, dan akhirnya kematian.

Proses terjadinya kematian diawali dengan munculnya tanda-tanda yaitu sakaratul maut dalam istilah
disebut dying. Untuk itu perlu adanya pendampingan terhadap pasien yang menghadapi sakatarul maut
(dying).

Dr. Elisabeth Kubler-Ross telah mengidentifikasikan lima tahap berduka yang dapat terjadi pada pasien
menjelang ajal :
1. Denial (Pengingkaran)
Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal dan dia tidak dapat menerima informasi
ini sebagai kebenaran, dan bahkan mungkin mengingkarinya.
2. Anger (Marah)
Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan bahwa ia akan meninggal.
3. Bargaining (Tawar menawar)
Merupakan tahapan proses berduka dimana pasien mencoba menawar waktu untuk hidup.
4. Depression (Depresi)
Tahap dimana pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa ia akan segera mati. Ia sangat sedih
karna memikirkan bahwa ia tidak akan lama lagi bersama keluarga dan teman-teman.
5. Acceptance (Penerimaan)
Merupakan tahap selama pasien memahami dan menerima kenyataan bahwa ia akan meninggal dan
ia berusa keras untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum selesai.

Tujuan disusunnya Buku Pedoman Asesmen Pasien terminal ini adalah :


Menghargai nilai yang dianut pasien, agama, dan preferensi budaya.
Mengikutsertakan pasien dan keluarga dalam aspek pelayanan kesehatan.
Memberikan respon pada hal psikologis, emosional, spiritual, dan budaya dari pasien dan
keluarganya.
Diharapkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam kaitannya dengan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat.

I.DEFINISI

Pelayanan pada tahap terminal adalah pelayanan yang diberikan untuk pasien yang mengalami sakit atau
penyakit yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh dan menuju pada proses kematian dalam 6
(enam) bulan atau kurang. Pasien yang berada pada tingkat akhir hidupnya memerlukan pelayanan yang
berfokus akan kebutuhannya yang unik. Pasien dalam tahap ini dapat menderita gejala lain yang
berhubungan dengan proses penyakit atau terapi kuratif atau memerlukan bantuan berhubungan dengan
faktor psikososial, agama, dan budaya yang berhubungan dengan proses kematian. Keluarga dan
pemberi layanan dapat diberikan kelonggaranmelayani pasien tahap terminal dan membantu
meringankan rasa sedih dan kehilangan.
Penyakit terminal adalah suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan lagi.Kematian adalah tahap akhir
kehidupan.Kematian bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan atau mengikuti periode sakit yang panjang.

Kondisi terminal adalah suatu proses yang progresif menuju kematian berjalan melalui suatu tahapan
proses penurunan fisik , psikososial dan spiritual bagi individu.

Pasien terminal adalah pasien pasien yang dirawat, yang sudah jelas bahwa mereka akan meninggal
atau keadaan mereka makin lama makin memburuk.

Pendampingan dalam proses kematian adalah suatu pendampingan dalam kehidupan karena mati itu
termasuk bagian dari kehidupan .Manusia dilahirkan, hidup beberapa tahun, dan akhirnya mati. Manusia
akan menerima bahwa itu adalah kehidupan, dan itu memang akan terjadi, kematian adalah akhir dari
kehidupan.

Sakaratul Maut (dying) merupakan kondisi pasien yang sedang menghadapi kematian, yang memiliki
berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal.

Kematian (death) merupakan kondisi terhentinya pernafasan, nadi, dan tekanan darah serta hilangnya
respons terhadap stimulus eksternal, ditandai dengan terhentinya aktifitas otak atau terhentinya fungsi
jantung dan paru secara menetap.

Selain itu, dr.H.Ahmadi NH,Sp.KJ juga mendefininisikan Death :

1. Hilangnya fase sirkulasi dan respirasi yang irreversible.


2. Hilangnya fase keseluruhan otak, termasuk batang otak.

Dying dan death merupakan dua istilah yang sulit untuk dipisahkan, serta merupakan suatu fenomena
tersendiri.Dying lebih ke arah suatu proses, sedangkan death merupakan dari hidup.

II. RUANG LINGKUP

Ruang Lingkup daripada Asesmen Pasien Terminal meliputi dokter yang merawat. Apabila dokter yang
merawat sedang tidak berada di tempat, dapat diwakilkan oleh dokter ruangan. Perawat juga turut
melakukan asesmen pasien terminal. Dan apabila pasien menginginkan adanya keterlibatan daripada
pemuka agama yang dianut, maka RSU bunda Thamrin menyediakan pelayanan tersebut.

III. PELAKSANAAN

Tatalaksana kegiatan pelayanan pada tahap terminal akhir hidup di RSU Bunda Thamrin antara lain :
Menghormati keputusan dokter untuk tidak melanjutkan pengobatan dengan persetujuan pasien dan
atau keluarganya
Melakukan asesmen dan pengelolaan yang sesuai terhadap pasien dalam tahap terminal.
Problem yang berkaitan dengan kematian antara lain:
1. Problem fisik berkaitan dengan kondisi atau penyakit terminalnya
2. Problem psikologi, ketidak-berdayaan, kehilangan kontrol, ketergantungan, dan kehilangan
diri dan harapan.
3. Problem sosial, isolasi dan perpisahan
4. Problem spiritual
5. Ketidak sesuaian antara kebutuhan dan harapan dengan perlakuan yang didapat ( dokter,
perawat, keluarga dan sebagainya )
Memberikan pelayanan dan perawatan pada pasien tahap terminal dengan hormat.
Melakukan intervensi untuk mengurangi rasa nyeri, secara primer atau sekunder serta memberikan
pengobatan sesuai permintaan pasien dan keluarga.
Menyediakan akses terapi lainnya yang secara realistis diharapkan dapat memperbaiki kualitas
hidup pasien, yang mencakup terapi alternatif atau terapi tradisional
Melakukan intervensi dalam masalah keagamaan dan aspek budaya pasien dan keluarga.
Melakukan asesmen status mental terhadap keluarga yang ditinggalkan serta edukasi terhadap
mekanisme penanganannya.
Peka dan tanggap terhadap harapan keluarganya.
Menghormati hak pasien untuk menolak pengobatan atau tindakan medis lainnya.
Mengikut-sertakan keluarga dalam pemberian pelayanan.

Layanan tahap akhir di rumah sakit dilakukan di instalasi gawat darurat dan di unit rawat inap. Adapun
proses operasional pelayanan ini dilakukan oleh perawat/bidan dengan kualifikasi lulusan D3/D4/S1
keperawatan atau kebidanan yang mempunyai surat tanda registrasi (STR) dan telah bekerja minimal 6
bulan, yang meliputi intervensi atau mengurangi rasa sakit, gejala primer, dan atau sekunder, mencegah
gejala dan komplikasi sedapat mungkin intensitas dalam hal masalah psikologis, pasien dan keluarga,
masalah emosional dan kebutuhan spiritual mengenai kematian dan kesusuhan, intervensi dalam
masalah keagamaan dan aspek budaya pasien dan keluarga, serta mengikutsertakan pasien dan keluarga
dalam pemberian pelayanan. Sedangkan asesmen pasien terminal dilakukan oleh dokter yang merawat
dan boleh diwakilkan oleh dokter ruangan apabila dokter yang merawat sedang tidak berada di tempat.

Ciri-ciri pokok pasien yang akan meninggal

Pasien yang menghadapi sakaratul maut akan memperlihatkan tingkah laku yang khas antara lain :
1. Penginderaan dan gerakan menghilang secara berangsur-angsur yang dimulai pada gerakan paling
ujung khususnya pada ujung kaki, tangan, ujung hidung, yang terasa dingin dan lembab.
2. Kulit nampak kebiru-biruan, kelabu atau pucat
3. Nadi mulai tak teratur lemah dan pucat
4. Terdengar suara mendengkur disertai gejala nafas cyene nokes
5. Menurunnya tekanan darah peredaran darah perifer menjadi terhenti dan rasa nyeri bila ada
biasanya menjadi hilang. Kesadaran dan tingkat kekuatan ingatan bervariasi dari individu. Otot
rahang menjadi mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas tampak lebih pasrah
menerima.

Prosedur Asesmen Pasien Terminal

Dokter yang merawat / dokter ruangan / perawat melakukan asesmen tanda-tanda klinis menjelang
kematian :
1. Kehilangan Tonus Otot,yang ditandai dengan :
a. Relaksasi otot muka sehingga dagu menjadi turun.
b. Kesulitan dalam berbicara, proses menelan dan hilangnya reflek menelan.
c. Penurunan kegiatan traktus gastrointestinal, ditandai: nausea, muntah, perut kembung,
obstipasi.
d. Penurunan control spinkter urinari dan rectal.
e. Gerakan tubuh yang terbatas.
2. Kelambatan dalam Sirkulasi, yang ditandai dengan :
a. Kemunduran dalam sensasi.
b. Cyanosis pada daerah ekstermitas.
c. Kulit dingin, pertama kali pada daerah kaki, kemudian tangan, telinga dan hidung.
3. Perubahan-perubahan dalam tanda-tanda vital
a. Nadi lambat dan lemah.
b. Tekanan darah turun.
c. Pernafasan cepat, cepat dangkal dan tidak teratur.
4. Gangguan Sensori
a. Penglihatan kabur.
b. Gangguan penciuman dan perabaan.

Tanda-tanda Klinis Saat Meninggal :


1. Pupil mata melebar.
2. Tidak mampu untuk bergerak.

3. Kehilangan reflek.

4. Nadi cepat dan kecil.

5. Pernafasan chyene-stoke dan ngorok.

6. Tekanan darah sangat rendah

7. Mata dapat tertutup atau agak terbuka.

Tanda-tanda Meninggal secara klinis :


1. Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total.

2. Tidak adanya gerak dari otot, khususnya pernafasan

3. Tidak ada reflek.

4. Gambaran mendatar pada EKG.

Kemudian perawat akan melakukan evaluasi pada saat pasien menjelang ajal, dimana :
1. Klien merasa nyaman dan mengekpresikan perasaannya pada perawat
2. Klien tidak merasa sedih dan siap menerima kenyataan
3. Klien selalu ingat kepada Tuhan dan selalu bertawakkal

4. Klien sadar bahwa setiap apa yang diciptakan Tuhan akan kembali kepadanya

IV. DOKUMENTASI

Berkas-berkas yang didokumentasikan pada Asesmen Pasien Teminal adalah :


1. Status pasien

2. Catatan Terintegrasi

3. Asesmen pasien terminal

4. Buku catatan pelayanan kerohanian

5. Surat kematian.

PENUTUP

Pelayanan tahap terminal merupakan bagian dari pelayanan kesehatan paripurna di rumah sakit, yang terkait
dengan keenam dasar fungsi RS, yaitu peningkatan, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, pendidikan,
dan penelitian.

Dengan pelayanan Tahap terminal yang tepat dan berhasil guna akan membantu pasien dan keluarganya
dalam melewati fase kritisnya.

Perawatan kepada pasien yang menghadapi sakaratul maut (dying) oleh petugas kesehatan dilakukan
dengan cara memberi pelayanan khusus jasmaniah dan rohaniah sebelum pasien meninggal. Perawat
memiliki peran untuk memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis, psikologis, dan spiritual pasien sakaratul
maut dengan memperhatikan moral, etika serta menumbuhkan sikap empati dan caring kepada
pasien.Penanganan pasien perlu dukungan semua pihak yang terkait, terutama keluarga pasien dan perlu
tindakan yang tepat dari perawat.

Panduan Asesmen Pasien Terminal ini merupakan panduan bagi pelaksana pelayanan pada tahap terminal
yang diselenggarakan di RSU Bunda Thamrin.Dengan ini, diharapkan pelayanan pada tahap terminal yang
diselenggarakan dapat terlaksana dengan baik dan dapat ditingkatkan seiring dengan kemajuan RS.