Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

MANAJEMEN OPERASI PENANGKAPAN IKAN

TENTANG

Kajian Keramahan Lingkungan Alat Tangkap Menurut Klasifikasi Statistik


Internasional Standar FAO

(Analysis Environmental Friendly for International Standard Statistical Classification on


Fishing Gears /ISSCFG )

OLEH :

RULLIANSYAH FIRDAUS (G1C109002)


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS PERIKANAN

BANJARBARU

2012

I. PENDAHULUAN

Dalam rangka mewujudkan perikanan tangkap yang berkelanjutan (sustainable fisheries


cupture) sesuai dengan ketentuan pelaksanaan perikanan yang bertanggung jawab (FAO Code
of conduct for Responsible Fisheries/CCRF) maka eksploitasi sumberdaya hayati laut harus
dapat dilakukan secara bertanggung jawab (Responsible fisheries).

Data dari SOFIA (The State of World Fisheries and Aquaculture) menyatakan bahwa 5 % dari
perikanan dunia dalam status deplesi atau penurunan produksi secara terus menerus, 16 %
terlah dieksploitasi secara berlebihan dan melampaui batas optimum produksi, 52 % telah
penuh eksploitasi, 23 % pada tahap moderat yang artinya produksinya masih dapat
ditingkatkan meskipun dalam jumlah yang kecil, 3 % sumberdaya ikan masih dibawah
tingkat eksploitasi optimumnya dan hanya 1 % yang dalam proses pemulihan melalui
program-program konservasi.

Berdasarkan data tersebut, untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan perlu dikaji
penggunaan alat-alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan dari segi pengoperasian alat
penangkapan ikan, daerah penangkapan dan lain sebagainya sesuai dengan tata laksana untuk
perikanan yang bertanggung jawab atau Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF).
Kedepan, trend pengembangan teknologi penangkapan ikan ditekankan pada teknologi
penangkapan ikan yang ramah lingkungan (environmental friendly fishing tecnology) dengan
harapan dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan. Teknologi
penangkapan ikan ramah lingkungan adalah suatu alat tangkap yang tidak memberikan
dampat negatif terhadap lingkungan, yaitu sejauh mana alat tangkap tersebut tidak merusak
dasar perairan, tidak berdampak negatif terhadap biodiversity, target resources dan non target
resources.

Di Indonesia saat ini dikenal 3 (tiga) klasifikasi alat penangkapan ikan :

1. menurut klasifikasi A. Von Brandt (1964).

2. Klasifikasi statistik internasional alat tangkap standar FAO

3. Klasifikasi standar alat tangkap berdasarkan statistik perikanan Indonesia (Anonim,


2007).
Adapun alat analisis yang digunakan menurut FAO (1995) sesuai dengan standar Code of
Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) yaitu terdapat 9 (sembilan ) kriteria suatu alat
tangkap dikatakan ramah terhadap lingkungan, antara lain :

1. Mempunyai selektifitas yang tinggi


2. Tidak merusak habitat
3. Menghasilkan ikan yang berkualitas tinggi
4. Tidak membahayakan nelayan
5. Produksi tidak membahayakan konsumen
6. By-catch rendah
7. Dampak ke biodiversty rendah
8. Tidak membahayakan ikan-ikan yang dilindungi
9. Dapat diterima secara sosial
II. ISI DAN PEMBAHASAN

1. Kriteria Alat Tangkap Ikan Yang Ramah Lingkungan.

Di Indonesia saat ini, telah banyak dikembangkan metode penangkapan yang tidak merusak
lingkungan (Anonim. 2006). Selain karena tuntutan dan kecaman dunia internasional yang
akan memboikot ekspor dari negara yang sistem penangkapan ikannya masih merusak
lingkungan, pemerintah juga telah berupaya untuk melaksanakan tata cara perikanan yang
bertanggung jawab.
Food Agriculture Organization (FAO, sebuah lembaga di bawah naungan Perserikatan
Bangsa Bangsa yang menangani masalah pangan dan pertanian dunia), pada tahun 1995
mengeluarkan suatu tata cara bagi kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab (Code
of Conduct for Resposible Fisheries- CCRF). Dalam CCRF ini, FAO menetapkan
serangkaian kriteria bagi teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan. Sembilan kriteria
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Alat tangkap harus memiliki selektivitas yang tinggi.

Artinya, alat tangkap tersebut diupayakan hanya dapat menangkap ikan/organisme lain yang
menjadi sasaran penangkapan saja. Ada dua macam selektivitas yang menjadi sub kriteria,
yaitu selektivitas ukuran dan selektivitas jenis. Sub kriteria ini terdiri dari (yang paling rendah
hingga yang paling tinggi):

- Alat menangkap lebih dari tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh.

- Alat menangkap tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh

- Alat menangkap kurang dari tiga spesies dengan ukuran yang kurang lebih sama.
- Alat menangkap satu spesies saja dengan ukuran yang kurang lebih sama.

2. Alat tangkap yang digunakan tidak merusak habitat, tempat tinggal dan berkembang biak
ikan dan organisme lainnya.

Ada pembobotan yang digunakan dalam kriteria ini yang ditetapkan berdasarkan luas dan
tingkat kerusakan yang ditimbulkan alat penangkapan. Pembobotan tersebut adalah sebagai
berikut (dari yang rendah hingga yang tinggi):

- Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang luas.

- Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang sempit

- Menyebabkan sebagian habiat pada wilayah yang sempit

- Aman bagi habitat (tidak merusak habitat)

3. Tidak membahayakan nelayan (penangkap ikan).

Keselamatan manusia menjadi syarat penangkapan ikan, karena bagaimana pun, manusia
merupakan bagian yang penting bagi keberlangsungan perikanan yang produktif.
Pembobotan resiko diterapkan berdasarkan pada tingkat bahaya dan dampak yang mungkin
dialami oleh nelayan, yaitu (dari rendah hingga tinggi):

- Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat kematian pada nelayan

- Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat cacat menetap (permanen) pada
nelayan.

- Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat gangguan kesehatan yang sifatnya
sementara

- Alat tangkap aman bagi nelayan

4. Menghasilkan ikan yang bermutu baik.

Jumlah ikan yang banyak tidak berarti bila ikan-ikan tersebut dalam kondisi buruk. Dalam
menentukan tingkat kualitas ikan digunakan kondisi hasil tangkapan secara morfologis
(bentuknya). Pembobotan (dari rendah hingga tinggi) adalah sebagai berikut:

- Ikan mati dan busuk

- Ikan mati, segar, dan cacat fisik

- Ikan mati dan segar

- Ikan hidup

5. Produk tidak membahayakan kesehatan konsumen.


Ikan yang ditangkap dengan peledakan bom pupuk kimia atau racun sianida kemungkinan
tercemar oleh racun. Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan tingkat bahaya yang
mungkin dialami konsumen yang harus menjadi pertimbangan adalah (dari rendah hingga
tinggi):

- Berpeluang besar menyebabkan kematian konsumen

- Berpeluang menyebabkan gangguan kesehatan konsumen

- Berpeluang sangat kecil bagi gangguan kesehatan konsumen

- Aman bagi konsumen

6. Hasil tangkapan yang terbuang minimum.

Alat tangkap yang tidak selektif (lihat butir 1), dapat menangkap ikan/organisme yang bukan
sasaran penangkapan (non-target). Dengan alat yang tidak selektif, hasil tangkapan yang
terbuang akan meningkat, karena banyaknya jenis non-target yang turut tertangkap. Hasil
tangkapan non target, ada yang bisa dimanfaatkan dan ada yang tidak. Pembobotan kriteria
ini ditetapkan berdasarkan pada hal berikut (dari rendah hingga tinggi):

- Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis (spesies) yang tidak laku
dijual di pasar.

- Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis dan ada yang laku dijual di
pasar.

- Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan laku dijual di pasar.

- Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan berharga tinggi di pasar.

7. Alat tangkap yang digunakan harus memberikan dampak minimum terhadap keanekaan
sumberdaya hayati (biodiversity).

Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasasrkan pada hal berikut (dari rendah hingga tinggi) :

- Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian semua mahluk hidup dan merusak
habitat.

- Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies dan merusak habitat.

- Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies tetapi tidak merusak
habitat

- Aman bagi keanekaan sumberdaya hayati

8. Tidak menangkap jenis yang dilindungi undang-undang atau terancam punah.

Tingkat bahaya alat tangkap terhadap spesies yang dilindungi undangundang ditetapkan
berdasarkan kenyataan bahwa:
- Ikan yang dilindungi sering tertangkap alat

- Ikan yang dilindungi beberapa kali tertangkap alat

- Ikan yang dilindungi .pernah. tertangkap

- Ikan yang dilindungi tidak pernah tertangkap

9. Diterima secara sosial.

Penerimaan masyarakat terhadap suatu alat tangkap, akan sangat tergantung pada kondisi
sosial, ekonomi, dan budaya di suatu tempat. Suatu alat diterima secara sosial oleh
masyarakat bila:

(1) biaya investasi murah,

(2) menguntungkan secara ekonomi,

(3) tidak bertentangan dengan budaya setempat,

(4) tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.

Pembobotan Kriteria ditetapkan dengan menilai kenyataan di lapangan bahwa (dari yang
rendah hingga yang tinggi):

- Alat tangkap memenuhi satu dari empat butir persyaratan di atas

- Alat tangkap memenuhi dua dari empat butir persyaratan di atas

- Alat tangkap memenuhi tiga dari empat butir persyaratan di atas

- Alat tangkap memenuhi semua persyaratan di atas

Bila ke sembilan kriteria ini dilaksanakan secara konsisten oleh semua pihak yang terlibat
dalam kegiatan penangkapan ikan, maka dapat dikatakan ikan dan produk perikanan akan
tersedia untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hal yang penting untuk diingat bahwa
generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan ketersediaan sumberdaya
ikan bagi generasi yang akan datang dengan pemanfaatan sumberdaya ikan yang
berkesinambungan dan lestari. Perilaku yang bertanggung jawab ini dapat memelihara,
minimal mempertahankan stok sumberdaya yang ada kemudian akan memberikan
sumbangan yang penting bagi ketahanan pangan (food security), dan peluang pendapatan
yang berkelanjutan.

2. Jenis-jenis Alat Tangkap Ikan Menurut Klasifikasi FAO

1. Surrounding net (Jaring Lingkar)

Jaring lingkar merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan
dengan cara melingkari gerombolan ikan sasaran tangkap menggunakan jaring yang
dioperasikan dengan perahu atau kapal serta didukung sarana alat bantu penangkapan sesuai
untuk mendukung efektivitas dan efisiensi pengoperasiannya. Desian dan konstruksi jaring
ingkar berkembang disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga
terdapat bergagai bentuk dan ukuran jaring lingkar serta sarana apung maupun alat bantu
penangkapan yang digunakan.

Alat ini ditujukan sebagai penangkap ikan pelagis yang bergerombol di permukaan. Pada
umumnya, alat ini berbentuk empat persegi panjang dilengkapi yang dilewatkan melalui
cincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring (tali ris bawah. Dengan menarik tali kerucut
bagian bawah ini, jaring dapat dikuncupkan (lihat gambar) dan jaring akan membentuk
semacam mangkuk.

Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang


dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap jaring lingkar terdiri
dari :

- With purse lines (Purse seines)

a. One boat operated purse seines

b. Two boats operated purse seines

- Without purse lines (lampara)

Purse seine (Sumber: Subani dan Barus 1989)

2. Seine net (Pukat)

Seine nets atau pukat atau pukat tarik merupakan alat penangkapan ikan berkantong tanpa
alat pembuka mulut jaring. Pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan ikan dan
menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui
kedua bagian sayap tali selambar.

Desain dan konstruksi pukat tarik disesuaikan dengan terget ikan tangkapan yang
dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran pukat tarik serta sarana apung
maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang
dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap pukat tarik terdiri
dari :

- Beach seines

- Boat or vessel seines

a. Danish seines

b. Scottish seines

c. Pair seines

- Seine nets (not specified)


Pukat (Sumber: Subani dan Barus 1989)

3. Trawl

Secara teknis, baik menurut umum ataupun mengikuti standar ISSCFG (International
Standard Statistical Classification Fishing Gear), FAO (Nedelec and Prado 1990) Trawl
adalah alat penangkap ikan yang mempunyai target spesies baik untuk menangkap ikan
maupun untuk udang. Trawl memiliki kreteria yaitu : (a) jaring berbentuk kantong (pukat)
baik yang berasal dari karakteristik asli maupun hasil modifikasi. (b) miliki kelengkapan
jaring (pukat) untuk alat pembuka mulut jaring baik palang/gawang (beam) atau sepasang
papan rentang (otter board) dengan cara operasi dihela atau diseret (towing) oleh sebuah
kapal (c) Tanpa memiliki kelengkapan jaring (pukat) dengan cara operasi dihela oleh dua
buah kapal.

Trawl asli adalah jaring (pukat) trawl yang dirancang bukan dari hasil modifikasi tidak ada
perubahan dari aspek desain konstruksi, karakteristik dan metoda pengoperasian dengan
ciri-ciri yaitu (a) karakteristik bentuk konstruksi masih sesuai ketentuan teknis jaring yang
lazim (b) banyak menggunakan potongan miring (cutting rate) pada bagian jaring (c) miliki
bagian jaring berupa medan jaring atas (square) bagi trawl dasar (bottom trawl) atau medan
jaring bawah (bosoom trawl) pertengahan permukaan (mid water trawl) (d) cara operasi
dirancang dengan dihela / diseret oleh sebuah atau dua buah kapal.

Trawl hasil modifikasi adalah alat tangkap yang masuk kategori trawl, karena adanya
perubahan desain konstruksi , karakteristik jaring dan metode operasi penangkapan dengan
ciri-ciri (c) ada perubahan bentuk dan ukuran dari jaring aslinya , terutama pemendekan
ukuran sayap (b) teknik pemotongan bagian jaring masih menggunakan potongan lurus (all
point dan all mesh), (c) kebanykan belum menambah bagian medan jaring (square) masih
tetap seperti kondisi aslinya (d) ada penambahan kelengkapan janng berfungsi alat pembuka
mulut jaring baik berupa palang/gawang (beam) maupun papan rentang (otter board) dad
kondisi aslinya. Okda perubahan metode pengoperasian dari cara ditarik dari atas perahu atau
pantai menjadi cara dengan diseret / dihela oleh sebuah kapal.

Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang


dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap trawl terdiri dari:

- Bottom trawls

a. beam trawls

b. otter trawls

c. pair trawls

d. nephrops trawls

e. shrimp trawls

f. bottom trawls (not specified)


- Midwater trawls

- Otter twin trawls

- Otter trawls (not specified)

- Pair trawls (not specified)

- Other trawls (not specified)

4. Dredge (Penggaruk)

Penggaruk merupakan alat penangkap ikan berbingkai kayu atau besi yang bergerigi atau
bergancu di bagian bawahnya, yang dilengkapi atau tanpa jaring/bahan lainnya. Penggaruk
dioperasikan dengan cara menggaruk di dasar perairan dengan atau tanpa perahu untuk
menangkap kekerangan dan biota lainnya.

Desain dan konstruksi penggaruk disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang
dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran penggaruk serta sarana apung
maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan.

Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang


dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap penggaruk terdiri
dari : 1 ). Boat Dredges dan; 2). Hand Dredges.
Metode pengoperasian penggaruk dilakukan dengan cara menarik ataupun menghela
pengaruk di dasar perairan sehingga hasil tangkapan berupa kekerangan, teripang, dan
lainnya bisa terkumpul dan tertangkap serta masuk ke dalam penggaruk.

5. Lift net (Jaring Angkat)

Jaring angkat dioperasikan dengan menurunkan dan mengangkatnya secara vertikal. Jaring
ini biasanya dibuat dengan bahan jaring nion yang menyerupai kelambu, karena ukuran mata
jaringnya yang kecil (sekitar 0,5 cm). Jaring kelambu kemudian diikatkan pada bingkai
bambu atau kayu yang berbentuk bujur sangkar.

Dalam penggunaannya, jaring angkat sering menggunakan lampu atau umpan untuk
mengundang ikan. Biasanya dioperasikan dari perahu, rakit, bangunan tetap, atau langsung.

Dari bentuk dan cara penggunaannya, jaring angkat dapat mencakup bagan perahu, bagan
tancap (termasuk kelong), dan serok Jaring Angkat.

(Sumber: Subani dan Barus. 1989)

6. Falling gear (alat yang dijatuhkan)

Alat yang dijatuhkan atau ditebarkan merupakan alat penangkapan ikan yang
pengoperasiannya dilakukan dengan ditebarkan atau dijatuhkan untuk mengurung ikan
dengan atau tanpa kapal.
Desain dan konstruksi alat yang dijatuhkan atau ditebarkan disesuaikan dengan target ikan
tangkapan yang dihendaki. Berkaitan dengan hal ini maka terdapat berbagai bentuk dan
ukuran serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan. Menurut
International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan
oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap yang dijatuhkan atau ditebarkan
terdiri dari: 1) Cast nets; dan 2); Falling gears (not specified).

7. Gill net, entangling nets (Jaring Insang Dan Jaring Puntal)

Jaring insang (gill net) merupakan alat penangkapan ikan berbentuk empat persegi panjang
yang ukuran mata jaringnya merata dan dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas
dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah.
Jaring insang digunakan untuk menangkap ikan dengan cara menghadang ruaya gerombolan
ikan. Ikan-ikan yang tertangkap pada jaring umumnya karena terjerat di bagian belakang
penutup insang atau terpuntal oleh mata jaring. Biasanya ikan yang tertangkap dalam jaring
ini adalah jenis ikan yang migrasi vertical maupun horizontalnya tidak terlalu aktif.

Ada berbagai jenis jaring insang, yang terdiri dari satu lapis jaring, dua lapis, maupun tiga
lapis jaring. Jaring insang memiliki mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh badan
jaring. Jaring ini kemudian dibentangkan untuk membentuk semacam dinding yang dapat
menjerat. Jaring insang dilengkapi dengan pelampung di bagian atas jaring dan pemberat
pada bagian bawahnya.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang
dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap jaring insang terdiri
dari:

- Set gillnets (anchored)

- Driftnets

- Encircling gillnets

- Fixed gillnets (on stakes)

- Trammel nets

- Combined gillnets-trammel nets

- Gillnets and entangling nets (not spicied)

- Gillnets (not specified)

Jaring Insang (Sumber: Subani dan Barus. 1989)

8. Trap (perangkap)

Perangkap merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan
cara memperangkap ikan dengan menggunakan jaring dan atau bahan lainnya yang
dioperasikan dengan atau tanpa perahu atau kapal.
Desain dan konstruksi perangkap disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang
dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran perangkap.

Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang


dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap perangkap terdiri
dari:

- Stationary uncovered pounds nets

- Pots

- Fyke nets

- Stow nets

- Barriers, fences, weirs, dll

- Aerial traps

- Traps (not specified)

9. Hook and line (pancing)

Hook and line (pancing) merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip
penangkapan dengan memancing ikan target sehingga terkait dengan mata pancing yang
dirangkai dengan tali menggunakan atau tanpa umpan.
Desain dan konstruksi pancing disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki,
sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran pancing serta sarana apung maupun alat bantu
penangkapan ikan yang digunakan.

Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang


dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap hooks and lines ini
terdiri dari:

- Handlines and pole-lines (hand operated)

- Handlines and pole-lines (mechanized)

- Set longlines

- Drifting longlines

- Longlines (not specified)

- Trolling lines

- Hook and lines (not specified)

10. Grappling and wounding gear (pengait dan alat yang melukai).
Alat pengait/penjepit dan alat yang melukai merupakan alat penangkapan ikan yang
mempunyai prinsip penangkapan dengan cara menerkam, mengait/menjepit, melukai atau
membunuh sasaran tangkap yang dilakukan dari atasu kapal atau tanpa menggunakan kapal.
Desain dan konstruksi alat penjepit dan melukai mempunyai bentuk runcing/tajam pada salah
satu ujungnya.
Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang
dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap pengait dan alat
yang melukai ini adalah harpoon.

11. Harvesting machine (mesin pemanen)

Yang dimaksud dengan Pump fishing adalah suatu alat tangkap tanpa menggunakan jaring
tetapi dengan menggunakan pompa untuk menyedot ikan,udang,cumi-cumi dan krill plankton
masuk ke dalam kapal. Alat tangkap ini dioperasikan pada kedalaman 110 meter dengan
catchable area 20cm. Efektifnya menangkap cumi-cumi .

12. Alat tangkap lainnya.

Alat-alat lainnya merupakan alat penangkapan ikan yang tidak termasuk ke dalam
penggolongan kelompok sebelumnya, dimana prinsip penangkapan tidak dengan cara
menjerat, memancing, memerangkap, mencengkram, mengait / menjepit, melukai atau
membunuh sasaran tangkap.

Desain dan konstruksi alat tangkap lainnya ini merupakan konstruksi yang bentuknya tidak
terdapat pada setiap kelompok sebelumnya. Sehingga dapat digolongkan sebagai kelompok
tersendiri dan dimungkinkan akan mengalami perkembangan sesuai dengan modifikasi dan
kreatifitas nelayan dalam rangka menciptakan rancang bangun alat penangkap ikan ke depan
sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi penangkapan ikan yang ada.

Menurut International Standard Statistical Classificarion on Fishing Gear (ISSCFG) yang


dikeluarkan oleh FAO (Nedelec and Prado 1990), kelompok alat tangkap lainnya ini adalah:
Miscellaneous Gear. Sebagai informasi, di Indonesia alat tangkap muro ami, serok teri dan
alat penangkap lobster termasuk dalam kategori alat tangkap ini.

Kajian Keramahan Lingkungan Alat Tangkap Menurut Klasifikasi Statistik Internasional


Standar FAO, Metode yang digunakan dalam kajian keramahan alat tangkap ikan ini dengan
pendekatan destkriptif yaitu menilai dan mengkaji karakteristik dari suatu alat tangkap
menurut klasifikasi statistik internasional standar FAO dengan ke-9 (sembilan) kriteria
keramahan menurut standart FAO. Disebabkan karena banyaknya jenis alat tangkap dalam
suatu klasifikasi, maka untuk memudahkan pengkajiannya penulis membatasi salah satu alat
tangkap saja yang disebutkan sebagai dalam contoh yang termasuk dalam klasifikasi alat
tangkap tersebut.

3. Adapun alat tangkap menurut klasifikasi statistik internasional standar FAO yang
ramah Lingkungan :

1. Surrounding net (Jaring Lingkar)


Contoh : Jaring Lingkar/Puse seine

Dari sembilan kriteria yang digunakan dalam mengkaji keramahan alat tangkap surrounding
net, dua kriteria yang kurang memenuhi sebagai persyaratan puse seine yang ramah
lingkungan. Kedua kriteria tersebut adalah :

1. Selektifitas. Khusus selektifitas ini diperlukan penelitian lebih lanjut terutama untuk
mengetahui berapa spesies yang tertangkap dalam satu kali hauling dan ukuran catch
(panjang total dan lingkar tubuh) di fishing ground tertentu. Hal ini disebabkan dapat saja
diketahui selektifitas yang berbeda pada fishing ground yang berbeda pula.

2. Biaya investasi yang tinggi dalam satu unit penangkapan. Dari kedua kriteria tersebut
dapat diberikan solusi untuk meningkatkan keramahannya, untuk selektifitas diperlukan
penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan kurva selektifitasnya. Biaya investasi yang tinggi
dapat diatasi dengan memberdayakan kelompok nelayan,setiap anggota mempunyai saham
sesuai dengan jenis dan besarnya kontribusinya.

2. Seine net (Pukat)

Contoh : Pukat pantai/Beach seine

Dari sembilan kriteria yang digunakan dalam mengkaji keramahan alat tangkap pukat pantai,
terdapat satu kriteria yang kurang memenuhi sebagai persyaratan puse seine yang ramah
lingkungan. Kedua kriteria tersebut adalah :

Selektifitas, sama halnya dengan puse seine, pukat pantai juga diperlukan penelitian lebih
lanjut dalam hal selektifitasnya ukuran catch (panjang total dan lingkar tubuh) pada suatu
fishing ground tertentu.

Dari kriteria tersebut solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya,
diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan kurva selektifitasnya.

3. Dredge (Penggaruk)
Contoh : Scoop Nets

Pada alat tangkap ini Ke-sembilan kriteria memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang
ramah lingkungan.

4. Falling gear (alat yang dijatuhkan)

Contoh : Jala Lempar/Hand cast nets

Pada alat tangkap jala lempar ini apabila dioperasikan di daerah pasir atau lumpur tidak
dioperasikan di daerah karang maka, kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat
tangkap yang ramah lingkungan, adalah :

Selektifitasnya rendah, hal ini disebabkan dapat menangkap ikan kecil sampai ikan dewasa
yang masuk dalam catchable area alat tangkap ini.
solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya ialah diperlukan penelitian
lebih lanjut untuk mengetahui dan meningkatkan selektifitasnya.

5. Gill net, entangling nets (jaring insang dan jaring puntal)


Contoh : Trammel nets

Pada alat tangkap ini delapan kriteria memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah
lingkungan. Kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah
lingkungan, adalah :

By-catch, target spesies alat tangkap ini adalah udang tetapi juga menangkap ikan.seperti
misalnya ikan gulamah. Perlu juga diketahui alat tangkap ini direkomendasikan untuk
menggantikan pengoperasian trawl karena dapat menangkap udang dengan efektif. Solusi
yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keramahannya ialah perbaikan mesh size terutama
inner net dari bahan multifilamen.

6. Hook and line (pancing).

Contoh : Pancing (Hand line)

Dari semua alat tangkap, yang dibahas dalam makalah ini pancing adalah alat tangkap yang
paling selektif dan ramah terhadap lingkungan, sangat memenuhi dari Ke-sembilan kriteria
persyaratan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan.

7. Alat tangkap lainnya.

Contoh : Tangan , pisau dan sabit

Alat ini digunakan untuk mengumpulkan rumput laut dan kerang-kerangan. Paling selektif
dan ramah terhadap lingkungan, sangat memenuhi Ke-sembilan kriteria persyaratan sebagai
alat tangkap yang ramah lingkungan

4. Adapun alat tangkap menurut klasifikasi statistik internasional standar FAO yang
belum memenuhi syarat alat tangkap ramah Lingkungan :

1. Trawl
Contoh : Pukat dasar/bottom trawl

Pada alat tangkap trawl ini saat dioperasikan sesuai dengan habitat pengoperasiannya yaitu
didaerah pasir atau lumpur maka, kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai
botttom trawl yang ramah lingkungan, adalah :

1. Selektifitasnya rendah, hal ini disebabkan dapat menangkap ikan juvenil sampai yang
dewasa.

2. By-catchnya rendah, menangkap tidak saja pada target spesies tetapi juga terkadang
banyak menangkap ikan non target spesies.
3. Dampak pada biodiversity tinggi, sering juga tertangkap biota yang dilindungi seperti
penyu,dll.

Kadang menimbulkan koflik sosial, terutama dengan nelayan bubu. Dari ketiga kriteria
tersebut solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya, untuk selektifitas
dan by-catch yang rendah diperlukan perbaikan mesh size terutama pada codend. Pada
dampak biodiversity diperlukan pemasangan BED (By catch excluder devise) dan TED
(Turtle excluder devise) dengan sistem pengawasan yang terpadu. Sedangkan konflik yang
terjadi dengan nelayan bubu biasanya masalah pengoperasian alat tangkap yang sama dengan
bubu, maka solusi yang dapat diberikan dengan pengaturan fishing ground trawl diluar zona I
dan Zona II.

2. Lift net (Jaring Angkat)

Contoh : Bagan perahu

Pada alat tangkap bagan perahu ini kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat
tangkap yang ramah lingkungan, adalah :

1. Selektifitasnya rendah, khususnya ikan teri, bagan apung cukup selektif terhadap ikan ini.

2. By-catch tinggi, menangkap tidak saja pada target spesies tetapi juga terkadang banyak
menangkap ikan non target spesies.

3. Konsumsi BBM.

Dari ketiga kriteria tersebut solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya,
untuk selektifitas dan by-catch yang rendah diperlukan perbaikan mesh size. Untuk konsumsi
BBM yang tinggi dianjurkan menggunakan solar cell sebagai alternatif yang perlu dicoba .

3. Trap (perangkap)

Contoh : Bubu

Pada alat tangkap bubu kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap yang
ramah lingkungan, adalah :

1. Selektifitas, perlu penelitian tentang ukuran panjang total dan ukuran lingkar tubuh ikan
yang tertangkap dengan bubu untuk mengetahui selektifitasnya pada setiap fishing ground.

2. Dapat merusak habitat karang, apabila digunakan batu karang sebagai pemberat

Dari kedua kriteria tersebut solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya,
untuk selektifitas diperlukan penelitian lebih lanjut tentang hasil tangkapan hubungannya
dengan selektifitasnya. Untuk penggunaan batu karang diperlukan modifikasi bahan seperti
dengan menggunakan bahan dari besi,kawat dan sebagainya sehingga tidak diperlukan lagi
batu karang sebagai pemberat.

4. Grappling and wounding gear (pengait dan alat yang melukai)


Contoh : Tombak/Harpoon

Pada alat tangkap tombak atau harpoon kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai
alat tangkap yang ramah lingkungan, adalah :

Dapat membahayakan nelayan. Apabila digunakan tidak menggunakan prinsip kehati-hatian


maka alat tangkap ini dapat melukai operator(nelayan). Solusi yang dapat diberikan untuk
meningkatkan keramahannya ialah dengan menggunakan pendekatan prinsip kehati-hatian
dalam pengoperasian alat tangkap tombak.

5. Harvesting machine (mesin pemanen)

Contoh : Pump fishing

Yang dimaksud dengan Pump fishing adalah suatu alat tangkap tanpa menggunakan jaring
tetapi dengan menggunakan pompa untuk menyedot ikan,udang,cumi-cumi dan krill plankton
masuk ke dalam kapal. Kriteria yang kurang memenuhi persyaratan sebagai alat tangkap
yang ramah lingkungan, adalah :

1. Selektifitasnya rendah

2. Menghasilkan ikan dengan kualitas yang rendah

3. By-catch tinggi

Solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan keramahannya ialah untuk selektifitas dan
dan by-catch yang rendah agar menggunakan alat bantu penangkapan seperti cahaya
kemudian dalam catchable area yang remang-remang(cahaya redup) alat tangkap di tawing
ke perairan sehingga cumi-cumi saja yang mendekat dan tertangkap(untuk metode ini perlu
penelitian lebih lanjut)sedangkan untuk ikan yang berkualitas rendah sebaiknya alat tangkap
ini menangkap cumi-cumi dan krill plankton saja agar untuk menghindari penurunan kualitas
hasil tangkapan
III. KESIMPULAN

Dari makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) yaitu terdapat 9 (sembilan ) kriteria
suatu alat tangkap dikatakan ramah terhadap lingkungan, antara lain :

1. Mempunyai selektifitas yang tinggi


2. Tidak merusak habitat
3. Menghasilkan ikan yang berkualitas tinggi
4. Tidak membahayakan nelayan
5. Produksi tidak membahayakan konsumen
6. By-catch rendah
7. Dampak ke biodiversty rendah
8. Tidak membahayakan ikan-ikan yang dilindungi
9. Dapat diterima secara sosial

Dari data di atas maka dapat disimpulkan ada beberapa alat tangkap yang memenuhi kriteria
alat tangkap yang ramah lingkungan dan ada beberapa alat tangkap yang masih belum ramah
terhadap lingkungan dan masih digunakan di perairan Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan Indonesia. Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan
Perikanan. Jakarta.

Anonim. 2006. Panduan Jenis-Jenis Penangkapan Ikan. Ramah Lingkungan. COREMAP II.
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Departemen Kelautan Dan
Perikanan. Jakarta.

Baskoro,S.B,2002. Metode Penangkapan Ikan. Diktat Kuliah (tidak dipublikasikan) Fakultas


Perikanan dan ilmu Kelautan IPB, Bogor.

Brant A Vont,1984. Fish Catch Methods of the World, Fishing News Book Ltd England.

Nedelec, C. and J. Prado. 1990. Definition and Clasification of Fishing Gears Categories.
FAO FISEHRIES TECHNICAL PAPER 222 Rev.1, FAO Fisheries Industries Division,
Rome. 92p.

Nomura,M 1985. Fishing Techniques 1,2,3, Kanagawa International Training Center , JICA,
Tokyo

Subani, W dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indoensia. Jurnal
Penelitian Perikanan Laut, BPPL, BPPP, Departemen Pertanian, Jakarta.