Anda di halaman 1dari 23

ENERGI BARU TERBARUKAN

Cadangan Energi di Indonesia

Oleh
KELOMPOK 3

1. Agung Kurniawan 03021181320037

2. Mayang Sari 03021181419009

3. Christian Alessandro S. 03021181419017

4. Reza Laudha 03021181419029

5. Miftahur Rahma 03021181419047

6. Firda Atika 03021181419189

7. Muhammad Anggara I T 03021281419079

8. M. Adam Mafruhi 03021281419087

9. Ivo Mario 03021281419089

10. Hesti Khairunisa 03021281419169

11. Abdul Hanif 03021281419177

12. Rangga Yudistira 03021381419147

13. Rezkyardi Andriensyah 03021181419027


14. Muhammad Sihat Judin 03021181419057

15. Canda Muammal 03021281419078

16. Edo Wijaya 03021281419188

Jurusan Teknik Pertambangan


Fakultas Teknik
Universitas Sriwijaya Indralaya
2017
Potensi Sumber Daya Energi Fosil

Indonesia memiliki beberapa potensi sumber daya energy fosil diantaranya minyak
bumi, gas bumi dan batubara. Pada tahun 2014, cadangan terbukti minyak bumi sebesar 3,6
miliar barel, gas bumi sebesar 100,3 TCF dan cadangan batubara sebesar 32,27 miliar ton. Bila
diasumsikan tidak ada penemuan cadangan baru, berdasarkan rasio R/P (Reserve/Production)
tahun 2014, maka minyak bumi akan habis dalam 12 tahun, gas bumi 37 tahun, dan batubara 70
tahun. Cadangan ini bahkan akan lebih cepat habis dari tahun yang disebut diatas karena
kecenderungan produksi energi fosil yang terus meningkat. Energi fosil telah menjadi penggerak
pertumbuhan ekonomi Indonesia dimasa lalu dan saat ini. Di masa depan diharapkan tren
pengembangan energi akan bergeser dari energi berbasis fosil menjadi energi baru terbarukan,
sepanjang keekonomiannya memenuhi. Hal ini disebabkan karena energi fosil merupakan
sumber daya yang tidak dapat diperbarui sehingga lambat laun akan habis, padahal Indonesia
mempunyai sumber daya energi terbarukan yang signifikan.

Potensi Sumber Daya Energi Baru dan Terbarukan


Potensi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Salah satu peraturan yang mengatur pemanfaatan EBT adalah Perpres No. 5 tahun 2006 tentang
Kebijakan Energi Nasional. Untuk mendukung pengembangan EBT di Indonesia, diperlukan
pemetaan potensi EBT yang ada di Indonesia.

Kebutuhan Energi Per Jenis

Kebutuhan energi mengikuti laju perkembangan PDB nasional karena PDB dibentuk dari sektor-
sektor pengguna energi, seperti sektor industri, transportasi, rumah tangga, komersial, dan
lainnya. Oleh karena itu, perubahan asumsi laju pertumbuhan PDB baik untuk skenario dasar
maupun skenario tinggi akan memberikan perbedaan pada proyeksi pemakaian energi final.
Pada skenario dasar, laju pertumbuhan PDB rata-rata 6% per tahun akan mendorong kebutuhan
energi tahun 2050 menjadi 5,8 kali dari tingkat kebutuhan pada tahun 2014. Untuk skenario
tinggi dengan laju pertumbuhan PDB rata- rata 6,9% per tahun, kebutuhan energi pada tahun
2050 naik menjadi 7,6 kali lipat terhadap kebutuhan energi tahun 2014.

Bahan bakar minyak (bensin, minyak solar, minyak bakar, minyak tanah dan avtur) masih
mendominasi kebutuhan energi nasional dengan pangsa 31,5% pada tahun 2014, kemudian di
tahun 2050 meningkat menjadi 40,7% untuk skenario dasar dan 42,5% untuk skenario tinggi. Hal
ini terjadi karena penggunaan teknologi peralatan berbahan

bakar BBM masih lebih efsien dibandingkan peralatan lainnya, terutama di sektor transportasi.

Penggunaan batubara untuk kebutuhan industri terus meningkat, namun pangsanya masih jauh di
bawah BBM. Laju pertumbuhan batubara adalah 4,9% per tahun untuk skenario dasar dan 5,7%
per tahun untuk skenario tinggi.

Pada tahun 2050 pemanfaatan listrik meningkat pesat hingga hampir 6,1 kali lipat untuk skenario
dasar dan menjadi lebih dari 7,5 kali lipat untuk skenario tinggi. Hal ini terjadi karena teknologi
berbasis listrik terus berkembang pesat dan dominan digunakan hampir di semua sektor, terutama
di sektor rumah tangga dan komersial. Juga sejalan dengan peningkatan taraf hidup masyarakat
yang menyebabkan masyarakat lebih memilih teknologi yang mudah dalam pengoperasiannya
yang pada umumnya mengggunakan energi listrik
Peranan bahan bakar nabati (BBN) yang berupa biodiesel pada tahun 2014 hanya 0,85 %.
Kemudian pada tahun 2050 peranannya meningkat menjadi 2,63 % untuk skenario dasar dan
2,75 % untuk skenario tnggi. Pemanfaatan BBN ini didukung dengan adanya mandatori biofuel
yang dinyatakan dalam Permen ESDM No. 12/2015 yang merupakan revisi dari regulasi
sebelumnya yang telah menetapkan pemakaian biodiesel (B-100) maksimum 30%

Mengingat rendahnya efsiensi peralatan berbahan bakar biomassa teknologi yang digunakan
banyak beralih menjadi teknologi berbahan bakar yang lebih efsien seperti BBM dan listrik. Oleh
karena itu peranan biomassa selama kurun waktu 2014 - 2050 diperkirakan akan menurun hingga
sebesar 2,4% untuk skenario dasar dan skenario tinggi.

Sesuai dengan kemampuan produksi gas dan LPG yang sudah mengandalkan impor, maka
pemakaiannya hanya meningkat sebesar 5,2% dan 2,2% per tahun untuk skenario dasar dan 6,0%
dan 2,3% untuk skenario tinggi. Pada tahun 2050 peran gas akan meningkat menjadi 13,8%
untuk kedua skenario, sedang peran LPG akan turun menjadi 2,0% untuk skenario dasar dan
1,6% untuk skenario tinggi. Rendahnya peran LPG karena LPG mayoritas digunakan di sektor
rumah tangga yang pertumbuhannya terbatas karena terkait dengan pertumbuhan penduduk.

Minyak Bumi dan BBM

a. Neraca minyak bumi

Indonesia sudah memproduksi minyak bumi lebih dari 100 tahun lalu, sejalan dengan usia
lapangan minyak yang sudah tua dan sulitnya menambah cadangan minyak bumi baru karena
terletak di daerah frontier, maka produksi minyak bumi Indonesia menurun sekitar 5% per tahun.
Pada tahun 2014 produksi minyak bumi mencapai 288 juta barel dan diperkirakan terus menurun
menjadi 52 juta barel tahun 2050 (skenario dasar).

Produksi minyak bumi terus didorong oleh pemerintah melalui peningkatan produksi lapangan
eksisting atau lapangan minyak bumi baru seperti blok Cepu yang mulai berproduksi sejak tahun
2015. Namun produksi minyak ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan minyak bumi
nasional. Untuk meningkatkan cadangan minyak bumi dan mendorong produksi minyak bumi
perlu kebijakan baru yang dapat menarik minat para investor untuk berinvestasi dalam kegiatan
eksplorasi minyak.

Di sisi lain kebutuhan minyak bumi akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan kebutuhan
BBM dan kebijakan Pemerintah untuk memperkuat ketahanan BBM nasional melalui
pembangunan kilang minyak bumi baru. Kebutuhan minyak bumi diperkirakan akan meningkat
3 kali lipat dari 300 juta barel pada tahun 2014 menjadi 967 juta barel pada tahun 2050 (skenario
dasar), atau 1.269 juta barel pada skenario tinggi.

Sebagai konsekuensi dari penurunan produksi minyak bumi dan kenaikan kebutuhan minyak
bumi, impor minyak bumi diperkirakan meningkat 8 kali lipat dari 122 juta barel tahun 2014
menjadi 933 juta barel pada tahun 2050 (skenario dasar) dan 1.235 juta barel (skenario tinggi).
Impor minyak bumi yang tinggi menyebabkan Indonesia sudah menjadi negara net importir
minyak bumi sejak tahun 2013. Untuk mengurangi peningkatan impor minyak bumi tersebut
selama periode kajian dibutuhkan penambahan 5 kilang minyak bumi baru dengan kapasitas @
300 MBCD dan upgrading kilang minyak bumi yang sudah ada, seperti Kilang Balikpapan,
Kilang Cilacap, Kilang Musi, dan Kilang Dumai.

Rencana pembangunan kilang baru sudah direncanakan sejak 10 tahun lalu, namun sampai saat
ini belum terlaksana. Banyak permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan
kilang baru diantaranya pembebasan lahan, belum ada kesepakatan mengenai besaran insentif
fskal dan nonfskal, kepastian investasi, kendala perizinan dan regulasi, serta jaminan pembelian
produk BBM oleh pemerintah.

Untuk daerah terpencil, khususnya daerah yang dekat dengan sumur marginal yang sudah
ditinggalkan oleh produsen akan dibangun kilang minyak mini tang menghasilkan minyak solar.
Kebijakan pembangunan kilang mini akan diatur dalam peraturan mentri KESDM.
Pembangunan kilang mini akan dibedakan kedalam beberapa kluster wilayah sekaligus bertujuan
agar ketahanan energy daerah dalam memenuhi kebutuhan BBM secara mandiri dapat tercapai

Kilang minyak yang ada rata-rata merupakan kilang yang sudah tua sehingga produksi BBM
relatif terbatas. Selain itu, tidak ada pembangunan kilang minyak bumi baru sejak tahun 1994,
mengakibatkan ketergantungan terhadap impor BBM semakin besar. Kondisi ini menyebabkan
Indonesia menjadi negara net importer BBM sejak tahun 2004.

Sesuai dengan skenario dasar, untuk memenuhi kebutuhan BBM yang meningkat dari 74 juta
kilo liter menjadi 379 juta kilo liter, Indonesia perlu mengimpor BBM lebih dari 8 kali lipat dari
36 juta kilo liter pada tahun 2014 menjadi 239 juta kilo liter pada tahun 2050. Sedangkan pada
skenario tinggi, diperkirakan perlu mengimpor BBM lebih dari 8 kali lipat, meningkat menjadi
296 juta kilo liter. Walaupun produksi BBM pada skenario tinggi sudah dapat ditingkatkan dari
39 juta kilo liter menjadi 209 juta kilo liter, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan BBM
nasional.
Impor BBM yang terus meningkat menguras devisa negara bahkan menjadi pemicu melemahnya
nilai tukar rupiah terhadap mata uang Amerika Serikat. Untuk itu, upgrading kilang minyak bumi
yang sudah ada dan pembangunan kilang minyak bumi baru menjadi suatu keharusan bagi
Pemerintah Jokowi untuk merealisasikannya. Untuk itu telah ditetapkan Peraturan Presiden
Nomor 146 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Pembangunan dan Pengembangan Kilang Minyak
dalam Negeri. Diharapkan dengan kebijakan ini dan berbagai kemudahan yang diberikan oleh
pemerintah akan mendorong investor untuk berinvestasi di kilang minyak, sehingga impor BBM
dapat dikurangi.

b. Neraca bahan bakar cair

Bahan bakar cair (BBC) terdiri dari bahan bakar minyak (BBM); biodiesel dan bioethanol
(BBN); dan batubara cair (CTL). BBN dan CTL merupakan bahan bakar yang diproduksi di
dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan atas BBM yang impornya terus meningkat.

Selama kurun waktu 2014-2050, sesuai skenario dasar, kebutuhan BBC akan mengalami
peningkatan rata-rata 4,9% per tahun dari 76 juta kilo liter pada tahun 2014 menjadi 422 juta kilo
liter pada tahun 2050. Di sisi lain, produksi BBC hanya meningkat dari dari 41 juta kilo liter
menjadi 191 juta kilo liter, sehingga diperlukan impor BBC sebanyak 230 juta kilo liter pada
tahun 2050.

Biodiesel dan bioethanol akan memegang peranan penting karena pemerintah telah menetapkan
mandatori BBN sebagaimana diatur dalam Permen ESDM 12/2015. Campuran biodiesel
merupakan 30% dari minyak solar dan campuran bioethanol merupakan 20% terhadap bensin
pada tahun 2025. Biosolar dan biopremium merupakan merek dagang Pertamina yang dijual di
SPBU. Biosolar merupakan campuran antara biodiesel dan minyak solar sedangkan biopremium
meruppakan campuran antara bioethanol dengan premium.

Pemanfaatan biosolar sesuai mandatori BBN terus didorong oleh pemerintah guna mengurangi
impor minyak solar. Untuk itu telah ditetapkan Peraturan Pemerintah 24/2015 yang mewajibkan
pelaku usaha perkebunan untuk membayar iuran untuk pengembangan perkebunan yang
berkelanjutan. Detail pemungutan iuran tersebut diatur dalam Perpres 61/2015 dan
PMK.114/PMK.05/2015. Pemanfaatan iuran tersebut diantaranya untuk mendukung
pemanfaatan biodiesel.

Iuran yang sama untuk pelaku usaha perkebunan tebu belum diatur karena perkebunan tebu tidak
bersifat massal dan bahan baku molases untuk pembuatan bioethanol jauh lebih menguntungkan
pabrik gula tebu jika dijual sebagai non energi. Dengan demikian pemanfaatan bioethanol
sebagai energi masih sulit berkembang meskipun telah ada mandatori BBN.

Sementara itu, produksi CTL dalam kajian BPPT-OEI 2016 diproyeksikan baru dapat
berproduksi paling cepat pada tahun 2040. Total produksi CTL diperkirakan sebanyak 18,1 juta
barel hingga tahun 2050. Dengan demikian, konstribusi CTL dalam BBC relatif terbatas.
Neraca Gas Bumi

Dalam kurun waktu 20142050 total pemanfaatan gas bumi diprakirakan akan tumbuh rata-rata
sebesar 4,7% per tahun untuk skenario dasar dan sebesar 5,2% per tahun untuk skenario tinggi.
Pengunaan gas bumi meningkat dari 1.578 BCF pada tahun 2014 menjadi 2.605 BCF pada tahun
2025 dan menjadi 6.584 BCF pada tahun 2050 untuk skenario dasar. Pertumbuhan pemanfaatan
gas bumi terbesar adalah di sektor komersial yang meningkat rata- rata sebesar 6,1% per tahun
diikuti oleh sektor transportasi (5,9%), industri (5,2%), pembangkit listrik (3,9%), dan rumah
tangga (0,9%) sedangkan own-use dan rugi-rugi di kilang diproyeksikan akan terus menurun.

Saat ini pangsa terbesar pemanfaatan gas adalah untuk sektor industri dengan pangsa mencapai
43% dari total pemanfaatan gas dan akan meningkat pada tahun 2050 menjadi 65%. Gas bumi di
sektor industri selain untuk bahan bakar juga digunakan sebagai bahan baku. Pada tahun 2050,
pengguna gas yang dominan selain sektor industri adalah sektor pembangkit listrik (30%) dan
komersial (1%).

Net impor gas diprakirakan akan terjadi mulai tahun 2027 untuk skenario dasar dan tahun 2026
untuk skenario tinggi. Gas impor dalam bentuk LNG menjadi penopang kebutuhan gas di masa
depan jika produksi gas domestik tidak dapat ditingkatkan lagi. Impor gas dalam bentuk LNG
diperkirakan akan dimulai pada tahun 2025 untuk skenario dasar dan volumenya akan meningkat
dari 118 BCF menjadi menjadi 2645 BCF pada tahun 2050, atau meningkat rata-rata 13,2% per
tahun. Produksi coal bed methane (CBM) sedikit membantu pasokan gas mulai tahun 2021
namun pangsanya sangat kecil. Kemampuan ekspor gas cenderung terus menurun, pada tahun
2014 pangsanya sekitar 48% dari produksi gas nasional, pada tahun 2025 menjadi sebesar 12%
dan tahun 2047 kemampuan ekspor gas sudah di bawah 1% dari produksi gas.

Pengembangan CBM yang saat ini diharapkan sudah berproduksi, namun masih banyak
mengalami kendala. Gas dari CBM diharapkan sudah dapat diproduksi mulai tahun 2021 untuk
menambah pasokan gas dalam negeri. Produksi CBM meningkat dari 1,0 BCF pada tahun 2021
menjadi 5,0 BCF pada tahun 2025 dan menjadi 30 BCF pada tahun 2050. Shale gas meskipun
berpotensi untuk dikembangkan namun belum dipertimbangkan pemanfaatannya dalam BPPT-
OEI 2016 ini karena belum ada kepastian untuk eksplorasi lebih lanjut.
Kebutuhan gas bumi untuk dalam negeri meningkat dari 1.577 BCF pada tahun 2014 menjadi
2.605 BCF pada tahun 2025 dan menjadi 6.584 BCF pada tahun 2050 atau meningkat rata-rata
4,0% per tahun untuk skenario dasar. Sedangkan untuk skenario tinggi, kebutuhan gas meningkat
rata-rata 4,7% per tahun. Sampai tahun 2024, seluruh kebutuhan gas domestik dapat dipenuhi
dari produksi gas bumi dalam negeri. Impor gas akan mulai signifkan pada tahun 2025 yakni
sebesar 118 BCF atau 4,5% dari total kebutuhan gas domestik. Pada tahun 2050 impor gas akan
mencapai 2.645 BCF atau 40% dari total kebutuhan gas, sehingga perlu dipersiapkan
penambahan infrastruktur impor gas agar tidak mengganggu keberlanjutan pasokan gas dalam
negeri. Kemampuan ekspor gas selama kurun waktu 2014-2050 menurun rata-rata sebesar 10,4%
per tahun, begitu juga dengan produksi gas yang menurun rata-rata sebesar 1,0% per tahun.
Sedangkan impor gas mengalami kenaikan rata-rata sebesar 13,2% per tahun.

Sumber gas non konvensional yang dapat diharapkan untuk memasok kebutuhan domestik selain
dari gas bumi adalah CBM. Pangsa pemanfaatan CBM pada tahun 2050 dapat mencapai 0,8%
dari total pasokan gas. Gas sintetik dari gasifkasi batubara diperkirakan masih sangat kecil
pangsanya karena sampai saat ini masih banyak kendala baik dari sisi teknologi maupun
keekonomiannya. Gas sintetik dari batubara ini berpotensi untuk memasok kebutuhan gas di
sektor industri dan pembangkit listrik.

LNG
Paradigma pemanfaatan migas saat ini sudah bergeser dari sebagai penerimaan negara menjadi
penggerak perekonomian dalam negeri. Oleh karena itu, jumlah dan kapasitas infrastruktur
untuk distribusi gas dalam negeriterus ditingkatkan. Floating Storage Regasifcation Unit (FSRU)
diharapkan dapat berperan lebih besar dalam memasok kebutuhan gas bumi di Indonesia.
Pembangunan FSRU mempunyai prospek yang lebih baik bila dibandingkan dengan jaringan
transmisi gas antar pulau. Hal ini terkait dengan ketersediaan sumber gas jangka panjang dan
kondisi wilayah geografs Indonesia sebagai negara kepulauan.

LNG dari tanker akan ditampung dan diregasifkasi di FSRU untuk memasok gas ke pembangkit
listrik, sektor industri, dan rumah tangga. FSRU pertama yang memanfaatkan LNG dari sumber
domestik sudah beroperasi pada tahun 2012 di Teluk Jakarta, Jawa Barat yang dioperasikan oleh
PT Nusantara Regas dengan kapasitas 400 MMSCFD. FSRU ini memperoleh pasokan LNG dari
Kilang Bontang untuk memasok gas ke PLTGU Muara Karang.

Pada tahun 2014 beroperasi FSRU di Lampung milik PGN dengan kapasitas 240 MMSCFD.
FSRU ini mendapat pasokan LNG dari Kilang Tangguh untuk memasok kebutuhan gas di
pembangkit listrik dan sektor industri di Jawa Barat yang terinterkoneksi melalui pipa gas South
Sumatera West Jawa (SSWJ) dan memasok kebutuhan gas di Sumatera. Sampai dengan tahun
2030 direncanakan akan ditambah 9 unit FSRU baru di beberapa wilayah di Indonesia.

LPG

Kebutuhan LPG diperkirakan meningkat dari 6,09 juta ton pada tahun 2014 menjadi 8,07 juta ton
pada tahun 2025 dan menjadi 13,26 juta ton pada tahun 2050 untuk skenario dasar. Kebutuhan
LPG akan meningkat rata-rata sebesar 2,2% per tahun untuk skenario dasar dan relatif sama
nilainya untuk skenario tinggi. Pertumbuhan produksi LPG untuk skenario dasar rata-rata sebesar
1,5% per tahun dan pertumbuhan impor rata-rata sebesar 2,9% per tahun selama kurun waktu
tersebut.

Peningkatan penggunaan LPG dipengaruhi oleh adanya program substitusi minyak tanah dengan
LPG untuk rumah tangga dan pertumbuhan jumlah penduduk. Pada tahun 2014 kebutuhan LPG
sebagian besar (41%) dipasok dari impor. Meskipun sudah ada penambahan 6 unit kilang minyak
selama kurun waktu 2014-2050 namun belum dapat mencukupi kebutuhan LPG domestik yang
terus meningkat. Impor LPG akan meningkat dari 2,49 juta ton pada tahun 2014 menjadi 7,04
juta ton pada tahun 2050. Pangsa impor terhadap produksi LPG akan meningkat dari 41% pada
tahun 2014 menjadi 63% pada tahun 2021. Setelah tahun 2022 pangsanya cenderung menurun
pada angka 50% karena adanya penambahan kilang minyak.

Neraca Batubara

Neraca batubara yang terdiri atas produksi, ekspor, impor, dan konsumsi dalam negeri.
Berdasarkan skenario dasar terlihat bahwa produksi batubara selama kurun waktu 2014-2050
akan meningkat dengan pertumbuhan rata- rata 1,53% per tahun atau meningkat hampir dua kali
lipat dari sekitar 498 juta ton pada tahun 2014 menjadi 861 juta ton pada tahun 2050. Sementara
itu, ekspor batubara diperkirakan menurun terus, yaitu dari 382 juta ton (2014) menjadi 209 juta
ton (2050). Meskipun ekspor batubara menurun, namun pada tahun 2014 sampai dengan 2026,
ekspor batubara masih lebih besar dibanding konsumsi batubara.

Dalam periode waktu 2014 sampai dengan 2050, konsumsi batubara dalam negeri diproyeksikan
akan meningkat dengan pertumbuhan hampir 5% per tahun, sehingga konsumsi batubara
meningkat hampir enam kali lipat dari 118 juta ton pada 2014 menjadi 655 juta ton pada 2050.
Impor batubara diproyeksikan masih akan dilakukan dalam bentuk kokas, karena batubara
produksi dalam negeri umumnya kurang baik bila dibuat menjadi kokas. Impor kokas tersebut
pada tahun 2014 mencapai 2,54 juta ton yang diproyeksikan akan meningkat menjadi 3,36 juta
ton pada 2050. Kokas dipergunakan sebagai pereduksi dalam industri logam.

Pada skenario tinggi, neraca batubara tidak jauh berbeda dengan scenario rendah, hanya terjadi
peningkatan produksi dan konsumsi. Produksi batubara meningkat dengan pertumbuhan rata-rata
2,15% per tahun, dari 498 juta ton pada 2014 menjadi 1.071 juta ton pada 2050. Sedangkan
konsumsi batubara meningkat lebih tinggi lagi, yaitu 5,68% per tahun, yang meningkat dari 118
juta ton (2014) menjadi 865 juta ton (2050).

Berdasarkan skenario dasar, dianalisis satu kasus (kasus pengurasan cadangan batubara) yang
mengasumsikan ekspor batubara akan tumbuh sesuai dengan tren data historis karena untuk
jangka panjang harga batubara diasumsikan dapat meningkat kembali. Dengan kasus pengurasan
cadangan batubara ini produksi batubara akan mencapai puncaknya pada tahun 2032 dengan
produksi mencapai 1.400 juta ton per tahun. Indonesia akan menjadi net importir batubara pada
tahun 2046.
Energi Baru dan Terbarukan

Secara nasional pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia belum optimal
karena dengan harga energi fosil yang rendah, maka investasi EBT yang tinggi akan menyulitkan
EBT untuk masuk dalam persaingan pemanfaatan energi. Dengan adanya program pembangunan
35 GW yang merupakan program jangka pendek yang terantum dalam nawacita membuat
pemanfaatan EBT semakin terbatas karena untuk mencapai sasaran Nawacita tersebut diperlukan
pembangkit skala besar berbahan bakar energi fosil.

Pada tahun 2015, bauran EBT hanya sekitar 7,5% terhadap total penyediaan energi. Bauran EBT
didominasi oleh biomassa disusul oleh tenaga air dan panas bumi. Biomassa yang dimaksud
adalah biomassa yang dapat diperjualbelikan yang digunakan pada sektor industri, sector
komersial, serta bahan bakar pembangkit Penyediaan EBT dalam kurun waktu 2014 2050 akan
berkembang dengan laju pertumbuhan cukup tinggi, yaitu sekitar 6,8% per tahun pada skenario
dasar dan 7,3% per tahun pada skenario tinggi.
Bauran EBT pada tahun 2025 dalam kajian ini pangsanya hanya sebesar 12,5% atau lebih rendah
dari target Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang mencapai 23%. Ke depan, dominasi EBT
bergeser menjadi panas bumi, BBN, biomassa, dan tenaga air. Hingga tahun 2025 pangsa EBT
pada skenario tinggi mempunyai pangsa yang sama dengan skenario dasar. Hal ini terjadi karena
kenaikan kebutuhan energi pada skenario tinggi selaras dengan kenaikan EBT terutama BBN
yang didasari oleh biofuel

mandatory. Namun setelah tahun 2035, rasio kontribusi EBT pada skenario tinggi lebih rendah
dari skenario dasar karena perkembangan EBT belum mampu menyaingi kenaikan kebutuhan
energi fosil yang tinggi. Meskipun energi nuklir sudah mulai dipertimbangkan sebagai bahan
bakar pembangkit listrik, namun kapasitas PLTN masih sangat kecil disbanding pembangkit
berbasis. Demikian juga dengan pembangkit listrik berbasis EBT lainnya seperti energi coal bed
methane (CBM), coal to

liquid (CTL), surya, energi angin, energi air (minihidro dan mikrohidro), biomassa, sampah, dan
kelautan masih belum dapat bersaing dengan pembangkit listrik berbasis energi fosil, karena
harga listrik yang dihasilkan oleh energi fosil masih lebih rendah dibandingkan dengan EBT.
Selain itu, ketersediaan listrik yang dihasilkan pembangkit berbasis EBT sangat tergantung pada
lokasi sumbernya seperti PLTP, PLTMH, PLTB, dan PLT kelautan.

Oleh karena itu, pada tahun 2050 konstribusi EBT terhadap penyediaan energi nasional hanya
mencapai 14,6% pada skenario dasar dan 13,4% pada skenario tinggi, padahal KEN menargetkan
bauran EBT minimal 31% terhadap total bauran energi nasional. Untuk itu diperlukan berbagai
regulasi, dukungan kelembagaan, dukungan penelitian dan pengembangan, serta subsidi agar
konstribusi EBT dapat memenuhi sasaran yang ditetapkan dalam KEN.
Saat ini masih banyak penggunaan biomassa dan energi alternatif di sektor industri yang belum
dipertimbangkan dalam statistic kebutuhan energy. Industri pulp menggunakan sludge yang
merupakan hasil olahan limbah untuk pemenuhan bahan bakar boiler di industri pulp and kertas.
Industri semen sudah memanfaatkan energi alternatif seperti biomassa, lumpur minyak, kemasan
bekas, limbah padat, serbuk kayu, dan ban bekas. Demikian juga dengan pemanfaatan tandan
kosong, cangkang dan serat yang digunakan sebagai penghasil uap dan listrik di industri kelapa
sawit. EBT di industri gula menggunakan bagas (ampas tebu) yang dimanfaatkan sebagai bahan
bakar boiler.

Pemanfaatan bahan bakar nabati yang berupa biodiesel dan bioetanol belum berkembang secara
signifkan. Meskipun sudah dicanangkan biofuel mandatory, namun bahan baku bioetanol berupa
molasses lebih ekonomis untuk diolah di industri makanan, sebagai akibatnya sejak tahun 2010
bioetanol belum diproduksi lagi. Perlu adanya kebijakan mengenai teknologi dan insentif bagi
pengembang bioetanol sebagai bahan bakar alternatif.

Perkembangan biodiesel cukup baik yang dibuktikan dengan campuran yang sudah digunakan
mengikuti tahapan yang ditetapkan dalam biofuel mandatory Rendahnya serapan biodiesel tahun
2015 karena selisih harga biodiesel mencapai dua kali lipat dari harga acuan solar di Mean Oil
Platts Singapore (MOPS). Namun demikian program B20 akan tetap berjalan dengan
menerapkan CPO Fund, karena hal ini dapat menekan angka impor BBM. Jika semua
pemanfaatan EBT disertai dengan penerapan program efsiensi dan konservasi energi yang
optimal, dan adanya program subsidi EBT, maka target konstribusi EBT di tahun 2025 dan 2050
yang dicanangkan pemerintah dapat tercapai.

Energi Primer

Untuk memenuhi kebutuhan energi diperlukan penyediaan energi primer untuk skenario dasar
sebesar 1.552 juta SBM pada tahun 2014 kemudian meningkat hampir 5 kali lipat di tahun 2050
menjadi 7.397 juta SBM. Meningkatnya kebutuhan energi pada skenario tinggi akan mendorong
penyediaan energi hingga 9.494 juta SBM pada tahun 2050 atau meningkat dengan laju
pertumbuhan 5,2% per tahun.

Energi fosil mendominasi penyediaan energi dengan pangsa sebesar 76,8% pada tahun 2014.
EBT yang dipertimbangkan pada tahun 2014 merupakan jenis EBT yang sudah diterapkan, yaitu
berupa bahan bakar nabati, biomassa, kayu bakar (non-komersial) untuk rumah tangga, hidro,
panas bumi, surya, angin, dan sampah. Kemudian pada tahun 2050 peranan energi fosil
meningkat menjadi sebesar 83,4% pada skenario dasar dan 84,9% pada skenario tinggi, EBT
yang digunakan lebih beragam dengan tambahan berupa coal bed methane, coal to liquid,
kelautan, dan nuklir.

Diantara dominasi energi fosil dalam penyediaan energi, batubara menempati posisi tertinggi
yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di sektor industri dan pembangkit
listrik. Selama kurun waktu 36 tahun pasokan batubara meningkat dengan laju pertumbuhan
sebesar 4,9% per tahun pada skenario dasar dan pada scenario tinggi meningkat sebesar 5,7% per
tahun. Kemudian disusul dengan penyediaan minyak bumi yang sebagian besar digunakan di
sektor transportasi meningkat sebesar 4,6% per tahun (skenario dasar) dan 5,5% per tahun untuk
skenario tinggi. Pasokan gas bumi meningkat cukup tinggi yaitu sebesar 4,4% per tahun.
Sedangkan diantara EBT, bahan bakar nabati menempati posisi paling banyak dengan laju
pertumbuhan 9,0% per tahun (skenario dasar) dan meningkat 9,5% per tahun (skenario tinggi).
Total penyediaan EBT pada tahun 2014 adalah sebesar 360,7 juta SBM kemudian di tahun 2050
meningkat menjadi 1.225,7 juta SBM pada skenario dasar dan menjadi 1.424,1 juta SBM pada
skenario tinggi.

Jika tidak mempertimbangkan kebutuhan kayu bakar di rumah tangga, bauran energi fosil berupa
batubara, minyak bumi, dan gas bumi pangsanya berturut turut menjadi 36,2%, 35,6%, dan
20,7% pada tahun 2014, sedangkan peranan EBT adalah sebesar 7,8% Peranan batubara menjadi
dominan akibat makin berperannya PLTU batubara dalam penyediaan energi nasional untuk
memenuhi program 35 GW yang dicanangkan pemerintah.

Pada tahun 2050, posisi dominasi peranan energi tetap sama namun terjadi perubahan pangsa.
Pada skenario dasar pangsa batubara, minyak bumi dan gas bumi terjadi sedikit penurunan
menjadi 35,7%, 32,4% dan 17,3%. Sementara peranan EBT meningkat menjadi 14,6%. Batubara
dan minyaknbumi tetao mendominasi, serta pangsa gas mengalami penurunan karena
keterbatasan cadangan dan penurunan produksi tambang yang sebagian besar sudah tua (mature)
menyebabkan penyediaan gas bumi tidak terlalu banyak berubah, sedangkan adanya penemuan
baru masih sangat sedikit untuk bisa mengimbangi kebutuhan gas bumi yang terus meningkat.
Pada skenario tinggi pangsa bauran energi di tahun 2050 hanya mengalami sedikit perubahan
dengan pangsa batubara mencapai 36,5%, minyak bumi dan gas bumi menurun menjadi 33,6%
dan 16,4%, sedangkan EBT menjadi 13,4%. Pengembangan EBT masih belum bisa menyaingi
energi fosil dalam memenuhi kebutuhan energi karena sumber daya yang terbatas dan investasi
teknologi berbasis EBT masih tinggi dibanding teknologi berbasis energi fosil.

Saat ini, sumber daya energy nasional sudah tidak mencukupi kebutuhan energy yang terus
meningkat sehingga impor energi tidak dapat dihindari. Kebutuhan bahan bakar minyak dan
minyak mentah sebagai intake kilang minyak sudah tergantung pada komoditas impor sejak
tahun 2004. Pada tahun 2020 ketergantungan impor terhadap pasokan energi adalah sebesar
27,1% pada skenario dasar dan pada skenario tinggi rasio impor adalah sebesar 26,5%.
Ketergantungan impor yang menurun ditengah meningkatnya kebutuhan energi karena produksi
batubara fleksibel untuk ditingkatkan dalam jangka pendek guna mengisi kebutuhan industri dan
pembangkit listrik. Pada skenario tinggi produksi dalam negeri masih dapat meningkat sehingga
mengurangi ketergantungan terhadap impor. Namun mulai tahun 2030, produksi dalam negeri
tidak mampu mengimbangi kenaikan kebutuhan energi sehingga ketergantungan terhadap impor
akan terus meningkat. Secara total impor energi akan meningkat sebesar 6% per tahun untuk
skenario dasar dan meningkat sebesar 6,7% per tahun pada skenario tinggi.

Komoditas minyak mentah dan BBM mendominasi besarnya rasio impor terhadap pasokan
energi, dengan pangsa sebesar 42,7% dan 48,7% terhadap total impor di tahun 2020.
Diperkirakan mulai tahun 2025 impor gas dalam bentuk LNG mulai dilakukan karena hasil
produksi gas bumi nasional tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan gas bumi. Pada tahun 2050
impor LNG berperan sekitar 19,3% terhadap total impor atau sebesar 3,345 BCF karena
beberapa teknologi minyak mulai digantikan oleh teknologi berbasis gas bumi terutama di sektor
ketenagalistrikan. Namun demikian impor BBM di tahun 2050 tetap mendominasi yaitu sebesar
48,3% terhadap total impor karena pemanfaatan teknologi berbasis minyak di sektor transportasi
belum tergantikan, dan penambahan kapasitas kilang minyak hanya sekitar 2,84 kali lebih besar
dari kapasitas kilang saat ini, yaitu menjadi 3.313 MBCD.

Neraca Energi

Secara umum neraca energi merupakan keseluruhan sistem energi dalam suatu negara yang berisi
informasi mengenai produksi energi dan pemenuhan kebutuhan energi baik dari dalam negeri
maupun luar negeri. Pada skenario dasar, penyediaan energi fosil meningkat cukup rendah
dengan laju pertumbuhan 0,8% per tahun, sedangkan penyediaan EBT mengalami kenaikan yang
cukup tinggi dengan laju pertumbuhan sebesar 3,2% per tahun. Sementara kenaikan kebutuhan
energi yang dinyatakan dalam net pasokan dalam negeri lebih tinggi dari kenaikan penyediaan
energi yaitu 4,4% per tahun. Hal ini mengakibatkan terdorongnya impor energi sehingga
meningkat dengan laju sebesar 6,3% per tahun. Sehingga dalam kurun waktu 2014 2028,
secara nasional pemenuhan kebutuhan energi domestik masih dapat dilakukan dengan
mengandalkan produksi dalam negeri baik energi fosil maupun EBT, namun mulai tahun 2029
produksi energi nasional yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sudah lebih
rendah dari impor energi yang terus meningkat. Sebagai akibatnya Indonesia sudah menjadi
negara net importer mulai tahun 2029 dan untuk memenuhi penyediaan energi nasional sangat
tergantung atas impor energi.

Selanjutnya, pada skenario tinggi Indonesia akan menjadi negara net importer energi dalam
waktu lebih cepat karena net pasokan dalam negeri meningkat lebih besar yaitu sebesar 5,1% per
tahun dibanding pada skenario dasar. Sehingga pada skenario tinggi diperkirakan Indonesia
menjadi net importer pada tahun 2028.

Indonesia sebagai negara net importir akan menjadi krisis energi nasional apabila tidak
diantisipasi dengan bijak sejak dini. Untuk itu, perlu didorong pemanfaatan energi terbarukan
selama memenuhi keekonomiannya, mengurangi kebutuhan energy dengan melakukan
konservasi energy kepada semua pengguna energy. menjadikan sumber energi sebagai penggerak
ekonomi nasional dari pada sebagai komoditi ekspor, melakukan eksplorasi dan eksploitasi
energi di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan lainnya. Tak kalah pentingnya
adalah perlunya lembaga energi setingkat eselon I yang melakukan perencanaan energi secara
terpadu dan terpusat agar pemantauan dan evaluasi berbagai kebijakan dan program lintas sektor
dapat dilakukan secara komprehensif.