Anda di halaman 1dari 20

Kelompok 1

KANTOR HUKUM Penanganan Perkara Pidana Kelas A


WARDHANA DAN REKAN
Jalan Buyung No. 23, Kota Pekanbaru,
Provinsi Riau

NOTA PEMBELAAN (PLEDOI)


NO. REG PERKARA : BP-12/XII/2016

Majelis Hakim yang terhormat;


Terlebih dahulu perkenankanlah kami MOHAMMAD SETYA
WARDHANA, SH. MH, Advokat/Penasehat hukum. Berkantor pada kantor
Hukum WARDHANA & REKAN alamat Jalan Buyung No. 23, Kota
Pekanbaru, Provinsi Riau, yang dalam hal ini bertindak selaku Penasehat
Hukum dari terdakwa EKO SUDJATMIKO menyampaikan ucapan terima
kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk mempelajari
dan memperoleh berkas perkara serta selanjutnya menyusun Pledoi ini.

Majelis Hakim yang terhormat;


Sebagai pembuka, kami ingin menyampaikan bahwasanya
membuat Pledoi atas perkara korupsi adalah pekerjaan yang sulit karena
kita sendiri dan masyarakat sedang marah kepada korupsi. Namun
demikian, demi tegaknya keadilan kepada terdakwa yang kami bela, kami
akan menyampaikan Pledoi ini agar Pledoi ini dapat menyentuh dan
memberi keyakinan kuat bagi majelis Hakim untuk sebuah keadilan
sehingga terdakwa yang kami bela dapat bebas.

Sebelum kami melanjutkan pembelaan, perkenankan kami untuk


menyampaikan kata pengantar dalam pembelaan ini sebab, dari situ kami
bertolak dan kesitu pula kami kan berlabuh kembali.
1. Bahwa jika kita membicarakan hukum, maka akan sama halnya jika kita
membicarakan mata uang coin. Mata uang itu jika dilihat dari depan
nampak bundar, tetapi jika di lihat dari samping nampak gepeng.
Mengapa demikian ?

1
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Hal itu terjadi karena perbedaan sudut memandangnya. Maka dari itu jika
nanti terdapat perbedaan kesimpulan antara jaksa dengan kami selaku
penasihat hukum Terdakwa, janganlah dinilai secara apriori sebab, Jaksa
mempunyai sudut pandang yang subyektif dalam kedudukannya yang
obyektif dan sedangkan kami selaku pembela mempunyai sudut pandang
yang obyektif dalam kedudukannya yang subyektif. Sedangkan Hakim
mempunyai sudut pandang yang obyektif dalam kedudukannya yang
obyektif pula.
Namun demikian sekalipun sudut pandang masing-masing berbeda, tetapi
semuanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu mencari kebenaran
materiel.
2. Bahwa menurut Prof Van Bemmelen telah mendidik kita yaitu :
sebelum duduk dibelakang meja hijau (yaitu sebagai Penuntut atau
sebagai hakim), kita harus tidak punya prasangka buruk kepada Terdakwa
sebab, jika kita sudah punya prasangka buruk lebih dulu kepada
Terdakwa, maka apa yang dikatakan oleh Terdakwa tidak bakal kita
terima, tetapi apa yang dikatakan oleh saksi walaupun dengan penuh
Kebohongan, akan kita terima. Dan kami melihat Jaksa dan Majelis Hakim
telah malaksanakan ajaran Van Bemmelen dengan konsisten.
Itulah penjabaran dari asas Praduga tak bersalah dari Van Bemmelen dan
di anut juga oleh Hukum Pidana Kita.

Majelis Hakim yang mulia;


Jaksa Penuntut yang kami hormati;
Setelah menyimak dan membaca Surat Tuntutan Jaksa Penuntut
Umum (JPU) terhadap terdakwa EKO SUDJATMIKO, sekarang tibalah
saatnya kami, sebagai Tim Penasehat Hukum Terdakwa, untuk
menyampaikan pledoi ini. Tentunya, pledoi ini bukanlah suatu pendapat
dan atau pembelaan yang serta-merta agar terdakwa dapat bebas diluar
pertimbangan-pertimbangan hukum yang berlaku, tetapi pledoi ini lebih
merupakan ikhtiar kami untuk merangkai kembali fakta-fakta sebenarnya

2
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

yang telah berlangsung di muka persidangan selama ini, sehingga


sebelum yang terhormat Majelis Hakim memberi putusan, telah
mendapatkan keterangan, gambaran dan atau bukti-bukti yang terang dan
jelas atas perbuatan pidana yang dituduhkan kepada Terdakwa.

1. RINGKASAN SURAT DAKWAAN SEBAGAI DASAR


PERSIDANGAN DAN TUNTUTAN JAKSA

Majelis Hakim Yang Terhormat,


Persidangan Yang Kami Muliakan,

Saudara Penuntut Umum dalam Surat Dakwaannya, telah mencoba


menggambarkan suatu peristiwa pidana yang dilakukan oleh Terdakwa
EKO SUDJATMIKO; Jalinan peristiwa pidana tersebut, sebagaimana yang
terurai dalam Surat Dakwaan, dilakukan pada hari Rabu tanggal 9
November 2016 atau setidak-tidaknya pada hari lain di bulan November
2016, sekitar pukul 12.30 WIB atau setidak-tidaknya pada suatu waktu di
hari Rabu tanggal 9 November 2016, di Rumah Makan Sindang Telolet Jl.
Ahmad yani No. 16 Kota Pekanbaru, atau setidak-tidaknya pada suatu
tempat dalam wilayah hukum Republik Indonesia, dan didakwa telah
melakukan dengan memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau
penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang
bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam
jabatannya.

Perbuatan tersebut, seperti yang terekam dalam Surat Dakwaan,


dilakukan Terdakwa dengan cara-cara antara lain sebagai berikut:

Bahwa pada pertengahan tahun 2016 PT Citra Abadi mengalami


kesulitan keuangan. Akibat menurunnya omset perusahaan, sehingga
beberapa kewajiban seperti gaji pegawai, pembayaran pajak, dan

3
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

hutang ke bank tidak dapat terbayarkan. PT Citra Abadi beralamat di


Jalan Mekarsari No 27 Pekanbaru. Perusahaan ini bergerak dibidang
perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau. Dalam rangka memenuhi
kebutuhannya PT Citra Abadi telah melakukan berbagai cara salah
satunya adalah melakukan pinjaman ke berbagai Bank. Tetapi karena
keuangan perusahaan yang terus menurun, maka pihak bank tidak
dapat menyetujui/mengabulkan permintaan (berupa pinjaman)
terhadap PT Citra Abadi tersebut.
Bahwa pada tanggal 10 Oktober 20116, Saksi TONI WIJAYA (Direktur)
memanggil Terdakwa EKO SUJATMIKO (wakil Direktur) beserta Saksi
SHINTA WULANDARI (bagian keuangan) untuk membahas masalah
keuangan dari perusahaan tersebut.
Bahwa berdasarkan analisis dari Shinta Wulandari bahwa pembayaran
gajih pegawai harus segera dibayarkan, karena jika para pegawai
terus menerus tidak di bayar maka mereka akan melakukan demo.
Serta pembayaran hutang ke Bank harus segera dibayar, karena jika
tidak dibayar maka pihak Bank akan menyita seluruh aset perusahaan.
Bahwa kemudian Saksi TONI WIJAYA merasa tertekan lalu berinisiatif
untuk mengakali pembayaran tunggakan pajak selama 5 tahun.
Tagihan pajak perusahaan jatuh tempo pada tanggal 1 November
2016. Saksi TONI WIJAYA menyuruh Terdakwa EKO SUDJATMIKO
untuk menemui Saksi ADE ANDALAS (Kepala kantor Keuangan Pajak)
pada tanggal 11 Oktober 2016, yang bertujuan untuk menjajaki
kemungkinan jatuh tempo pembayaran pajak di mundurkan. Namun
Saksi ADE ANDALAS tidak dapat mengabulkan permintaan tersebut.
Bahwa kemudian Terdakwa EKO SUDJATMIKO menyanggupi
pembayaran pada tanggal 1 November tetapi dengan syarat bahwa
PT. Citra Abadi hanya membayar Rp. 40.000.000.000 (empat puluh
miliyar rupiah), atau ada pengurangan kewajiban pembayaran
tanggungan pajak sebesar Rp. 10.000.000.000 (sepuluh miliyar
rupiah).

4
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Bahwa atas syarat permintaan yang diajukan oleh Terdakwa EKO


SUDJATMIKO tersebut, kemudian Saksi ADE ANDALAS meminta agar
Terdakwa EKO SUDJATMIKO kembali ke kantornya pada tanggal 5
November 2016, yang mana sampai dengan tanggal tersebut
tanggungan tunggakan pajak perusahaan PT. Citra Abadi masih belum
lunas.
Bahwa pada tanggal yang disepakati tersebut, dalam hal ini telah
terjadi pertemuan kedua antara Saksi ADE ANDALAS dan Terdakwa
EKO SUDJATMIKO, yang mana pertemuan ini diketahui dan atas
persetujuan dari Saksi TONI WIJAYA, disepakati bahwa PT. Citra Abadi
hanya membayar Rp. 40.000.000.000 (empat puluh miliyar rupiah),
namun ada imbalan yang harus dibayarkan kepada Saksi ADE
ANDALAS sebesar Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah). Atas
permintaan Saksi ADE ANDALAS tersebut, Terdakwa EKO
SUDJATMIKO menyanggupinya setelah terlebih dahulu meminta
persetujuan dari Saksi TONI WIJAYA selaku Direktur Utama PT. Citra
Abadi.
Bahwa nilai imbalan yang dijanjikan kepada Saksi ADE ANDALAS,
sebesar Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah), akan diserahkan
dalam bentuk mata uang Dollar Amerika, dengan nilai 97.000 USD
yang akan dibayarkan secara tunai, melalui perantara bernawa Saksi
IWAN yang merupakan ajudan dari Saksi ADE ANDALAS. Bahwa
setelah kesepakatan ini tercapai, maka kemudian Saksi ADE
ANDALAS mengakali tunggakan pajak perusahaan PT. Citra Abadi
menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh miliyar rupiah), dari
seharusnya Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliyar rupiah), dan pada
hari itu juga, tanggal 5 November 2016, tunggakan pajak PT. Citra
Abadi langsung dilunasi sebesar Rp. 40.000.000.000 (empat puluh
miliyar rupiah), tanpa denda keterlambatan dari seharusnya batas
waktu pembayaran pada tanggal 1 November 2016.
Bahwa pada tanggal 9 November 2016, sesuai kesepakatan
sebelumnya, Terdakwa EKO SUDJATMIKO menyerahkan uang tunai

5
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

sebesar 97.000 USD kepada Saksi IWAN, perantara yang ditunjuk


oleh Saksi ADE ANDALAS untuk menerima uang tersebut di RM.
Sindang Telolet Kota Pekanbaru. Namun belum sesaat setelah uang
tersebut berpindah tangan kepada Saksi IWAN, KPK melakukan
operasi tangkap tangan dan menggagalkan penyerahan tersebut.
Berbekal keterangan dari operasi tersebut, KPK kemudian menangkap
Saksi TONI WIJAYA di kantor PT. Citra Abadi dan Saksi ADE
ANDALAS di KPP Kota Riau.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam


Pasal 5 ayat (1) huruf b UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi.

Selanjutnya, berdasar dakwaan di atas serta analisa fakta persidangan


yang dilakukan oleh JPU; maka dalam risalah tuntutannya pada tanggal
30 Desember 2016, JPU menuntut terdakwa berdasarkan Pasal 5 ayat (1)
huruf b UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.,
yang amar tuntutannya sebagai berikut:
1. Manyatakan terdakwa bersalah melakukan bersalah melakukan
tindak pidana dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b UU No. 20 Tahun 2001
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
2. Menjatuhkan Pidana selama 3 tahun penjara potong masa tahanan
dan denda sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
3. Menyatakan barang bukti berupa :
a. Satu buah koper berwarna hitam, disita untuk negara.
b. Uang Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah) dalam
pecahan 97.000 USD, disita untuk negara.
c. Dua buah handphone merek Nokia, dikembalikan kepada
terdakwa.

6
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

4. Menyatakan terdakwa membayar ongkos perkara sebesar Rp.


20.000,- (dua puluh ribu rupiah)
5. Menyatakan terdakwa tetap dalam rumah tahanan negara
DENPOM GUNTUR.

2. FAKTA-FAKTA DALAM PERSIDANGAN

1. KETERANGAN SAKSI-SAKSI UNTUK TERDAKWA


a. Saksi Shinta Wulandari
SAKSI Shinta Wulandari baru mengetahui bahwa Perusahaan PT.
Citra Abadi memiliki tunggakan pajak pada saat bapak Direktur Utama
memanggil SAKSI Shinta Wulandari untuk melakukan perhitungan
terhadap tunggakan-tunggakan yang dimiliki oleh PT. Citra Abadi
SAKSI Shinta Wulandari sempat merasa curiga atas tunggakan pajak
perusahaan, namun demikian dasar kecurigaan SAKSI Shinta
Wulandari tersebut selalu SAKSI Shinta Wulandari tutupi, mengingat
SAKSI Shinta Wulandari hanyalah staff Bagian Keuangan dan bagian
pajak perusahaan merupakan bagian SAKSI Shinta Wulandari.
Sebagai staff Bagian Keuangan di Perusahaan PT. Citra Abadi, SAKSI
Shinta Wulandari hanya bertugas menghitung pemasukan dari
perusahaan dan memberikan saran mengenai stabilitas keuangan
perusahaan.
SAKSI Shinta Wulandari menyampaikan bahwa untuk meghindari
disitanya aset-aset perusahaan oleh bank maka mau tidak mau harus
memotong dari gaji pegawai perusahaan atau uang pembayaran
penunggakan pajak. Untuk tindak lanjutnya yang dilakukan sdr TONI
WIJAYA, karena merasa tertekan, dan kemudian dari mulutnya
terlontar ucapan untuk mengakali pembayaran tunggakan pajak
selama 5 tahun yang akan jatuh tempo pada 1 November 2016. Disaat
itu SAKSI Shinta Wulandari mengusulkan untuk menjajaki
kemungkinan pembayaran dapat ditunda atau dilakukan setelah 1
November 2016.

7
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

SAKSI Shinta Wulandari sepenuhnya sadar bahwa tindakan mengakali


tunggakan pajak perusahaan PT. Citra Abadi menjadi Rp.
40.000.000.000 (empat puluh miliyar rupiah), dari seharusnya Rp.
50.000.000.000 (lima puluh miliyar rupiah) merupakan tindak pidana,
maka dari itu SAKSI Shinta Wulandari mengusulkan untuk mencari
jalan lain dari pada mengakali penunggakan pajak.
SAKSI Shinta Wulandari tidak mengetahui secara pasti mengenai
penyuapan kepada ADE ANDALAS selaku Kepala KPP Kota Riau
yang dilakukan oleh sdr TONI WIJAYA, tetapi SAKSI Shinta Wulandari
mencurigai adanya tindakan tersebut karena ketika SAKSI Shinta
Wulandari membayarkan tunggakan pajak perusahaan nominal yang
harus dibayarkan hanyalah Rp. 40.000.000.000 (empat puluh miliyar
rupiah).
b. Saksi Sunarya
SAKSI Sunarya memiliki tugas yang pada intinya adalah sebagaimana
petugas keamanan pada umumnya. Mengontrol, mengawasi dan
menjaga kondusifitas RM. Sindang Telolet, terkadang SAKSI Sunarya
juga membantu para konsumen Rumah Makan yang akan parkir,
namun itu tergantung dari kondisi dan situasi, karena sebenarnya
sudah ada petugas yang diserahi tanggung jawab untuk mengatur
perparkiran.
SAKSI Sunarya pada tanggal 9 November 2016 di RM. Sindang Telolet
sedang menjalankan tugas sebagaimana biasanya. SAKSI Sunarya
hadir di RM. Sindang Telolet sejak Pukul 07.00 WIB, atau sekitar satu
jam sebelum RM. Sindang Telolet buka pada Pukul 08.00 WIB. Sekitar
pukul 12.00 WIB siang, SAKSI Sunarya melihat mobil Toyota Kijang
Innova warna hitam, dengan plat nomor merah dengan nomor polisi
BM 1327 F memasuki rumah makan, namun demikian pengendara
kendaraan tersebut tidak turun dari mobil, dan SAKSI Sunarya tidak
melihat bahwa pada kendaraan tersebut ada penumpang yang duduk
di kursi penumpang depan maupun belakang. Belakangan SAKSI
Sunarya ketahui dari hasil penangkapan oleh KPK, bahwa pengendara

8
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

mobil tersebut adalah Iwan. Kemudian sekitar pukul 12.30 WIB, SAKSI
Sunarya juga melihat ada mobil Toyota Fortuner berwarna hitam
dengan plat nomor BM 2341 AA memasuki rumah makan, belakangan
SAKSI Sunarya ketahui bahwa mobil tersebut dikendarai oleh Eko
Sudjatmiko.
SAKSI Sunarya tidak menaruh kecurigaan dengan mobil Toyota Kijang
Innova warna hitam, dengan plat nomor merah dengan nomor polisi
BM 1327 F yang memasuki rumah makan, namun demikian
pengendara kendaraan tersebut tidak turun dari mobil, , karena pada
waktu tersebut memang RM. Sindang Telolet dalam keadaan ramai
karena bertepatan dengan jam makan siang. SAKSI Sunarya berpikir
bahwa kendaraan tersebut dibawa oleh supir dan hanya akan
menjemput salah satu tamu/konsumen yang sedang makan di Rumah
Makan, sehingga wajar bila supirnya diam di kendaraan dan tidak
turun. Keadaan lain yang menguatkan perkiraan SAKSI Sunarya ini
adalah, karena kendaraan tersebut adalah kendaraan plat merah milik
pemerintah, dan pada saat itu di dalam rumah makan memang ramai
oleh pegawai negeri yang memakai seragam dinas.
SAKSI Sunarya melihat mobil Toyota Fortuner berwarna hitam dengan
plat nomor BM 2341 AA yang memasuki rumah makan, pengendara
mobil tersebut turun dari mobil dengan membawa tas koper dan
langsung memasuki rumah makan. Di dalam rumah makan dia duduk
sendiri di meja untuk 4 orang, dan sempat memesan makanan kepada
pelayan. Tidak lama setelah memesan makanan, pengendara mobil
tersebut (Eko Sudjatmiko), kemudian keluar kembali dan mendekat ke
mobil Toyota Kijang Innova warna hitam, dengan plat nomor merah
dengan nomor polisi BM 1327 F sembari membawa tas yang
dibawanya.
SAKSI Sunarya sempat menanyakan kepada sdr. Eko Sudjatmiko
mengapa keluar kembali, dan beliau sempat menjawab bahwa ada
barangnya yang ketinggalan di dalam mobil. Namun anehnya dia
mendekat bukan ke mobilnya yang sebelumnya dia kendarai, tapi ke

9
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

mobil lain, yakni mobil yang dikendarai oleh seseorang yang


belakangan SAKSI Sunarya ketahui namanya Iwan. Disitu SAKSI
Sunarya mulai curiga.
SAKSI Sunarya menyatakan Eko Sudjatmiko mendekat ke mobil
Toyota Kijang Innova warna hitam, dengan plat nomor merah dengan
nomor polisi BM 1327 F yang dikendarai oleh Iwan, dan melihat sdr.
Eko Sudjatmiko masuk ke pintu penumpang belakang mobil dan diam
disana sekitar 5 menit, SAKSI Sunarya tidak bisa melihat jelas apa
yang dilakukan di dalam mobil.
SAKSI Sunarya menyatakan sekira setelah 5 menit, Eko Sudjatmiko
keluar tanpa membawa tas yang sebelumnya dibawanya mengarah ke
rumah makan. Namun belum beberapa saat dia melangkah keluar,
tiba-tiba dari dalam rumah makan ada sekitar 5 orang tamu/konsumen
yang mendekatinya dan mengarahkannya kembali ke mobil yang
sebelumnya dia naiki (mobil Iwan). Belakangan SAKSI Sunarya
ketahui bahwa ke-5 orang tersebut adalah petugas KPK yang sedang
melakukan operasi tangkap tangan.
c. Saksi Iwan
SAKSI Iwan mengaku baru mengenal Eko Sudjatmiko saat bertemu di
RM. Sindang Telolet
SAKSI Iwan mengaku dirinya dipertintahkan oleh Ade Andalas untuk
mengambil uang yang akan diserahkan oleh Eko Sudjatmiko
SAKSI Iwan menyatakan mengetahui bahwa bungkusan yang
diterimanya dari Eko Sudjatmiko adalah uang.
SAKSI Iwan tidak mengetahui jumlah uang tersebut.
SAKSI Iwan mengaku diperintahkan untuk menyerahkan uang yang
diterimanya langsung dari Eko Sudjatmiko kepada Ade Andalas.
d. Saksi Toni Wijaya
SAKSI Toni Wijaya menyatakan bahwa awalnya hanya berniat untuk
meminta keringanan tanggal jatuh tempo atas pembayaran tunggakan
pajak, namun keringanan tersebut tidak dapat disetujui oleh Ade Andalas
selaku Kepala KPP Kota Riau.
SAKSI Toni Wijaya menyatakan bahwa inisiatif suap datang sepenuhnya
dari Eko Sujatmiko.
e. Saksi Ade Andalas

10
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

SAKSI Ade Andalas menyampaikan bahwasanya didirnya memang


memiliki peluang untuk mengakali pembayaran tunggakan pajak karena
jabatan yang melekat pada dirinya dan karena koneksi serta relasinya di
Ditjen Pajak, namun dirinya menyatakan bahwa dirinya tidak pernah
menawarkan jasa semacam itu kepada setiap perusahaan, dalam hal ini
dia menyatakan bahwa dirinya melihat kesempatan untuk melakukan
perbuatan tersebut setelah mendengar bahwa PT. Citra Abadi berada
pada kondisi keuangan yang terdesak.

2. KETERANGAN TERDAKWA
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko mengenal sdr TONI WIJAYA sejak
tahun 2010, pada saat itu posisi TERDAKWA adalah Kepala Bagian
Pemasaran di PT. Citra Abadi, dan sdr TONI WIJAYA adalah Wakil
Direktur Bidang Aset Perusahaan di perusahaan yang sama, pada saat
itu TERDAKWA mengenal dari hubungan kerja sebagai rekan kerja
dan karena beliau sebagai salah satu petinggi perusahaan yang
menjadi atasan TERDAKWA, walaupun bukan atasan langsung.
Hubungan kami hanya sebatas hubungan profesional dalam
pekerjaan, dan hubungan kami semakin meningkat ketika RUPS
menunjuk sdr. Toni Wijaya sebagai Direktur Utama PT. Citra Abadi dan
TERDAKWA sebagai Wakil Direktur PT. Citra Abadi pada tahun 2014.
Semenjak itu hubungan kami meningkat menjadi mitra kerja dalam
membangun perusahaan, dan tidak pernah berhubungan lain selain
urusan profesional pekerjaan.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko sebelumnya sama sekali tidak
mengenal sdr ADE ANDALAS maupun IWAN. Dan baru mengenal sdr
ADE ANDALAS setelah sdr TONI WIJAYA menghubungkan dan
mengarahkan TERDAKWA untuk menghadap yang bersangkutan
untuk mengurus masalah tunggakan pajak perusahaan. Sedangkan
terhadap IWAN, TERDAKWA mengenal setelah diarahkan dan
dikenalkan oleh sdr ADE ANDALAS untuk melakukan serah terima

11
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

uang. Sejauh ini hubungan TERDAKWA dengan keduanya hanya


sebatas pada pertemuan tersebut saja.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko baru mengetahui bahwa
Perusahaan PT. Citra Abadi memiliki tunggakan pajak pada saat
TERDAKWA menjabat sebagai Wakil Direktur pada Tahun 2014.
Namun pada saat itu TERDAKWA hanya mendengar dari rekan-rekan
kerja saja, dan tidak mengetahui mengenai nominal tunggakan yang
belum dibayar tersebut.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko sempat merasa curiga atas besar
nominal tunggakan pajak tersebut, namun demikian dasar kecurigaan
TERDAKWA tersebut selalu TERDAKWA tutupi, mengingat
TERDAKWA masih orang baru di jajaran direksi perusahaan.
Sementara itu, jajaran direksi lain sangat terutup dan tidak pernah
menyampaikan kepada TERDAKWA mengenai masalah ini, baik
secara informal maupun melalui forum/pertemuan resmi direksi.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko mengetahui nominal tunggakan
pajak tersebut pada saat TERDAKWA dipanggil oleh sdr. TONI WIJAYA
pada pertengahan tahun 2016 setelah yang bersangkutan
menyampaikan kepada TERDAKWA sebagai Wakil Direktur,
bahwasanya Perusahaan PT. Citra Abadi sedang mengalami kesulitan
keuangan. Yang kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan secara
formal dengan bagian keuangan pada tanggal 10 Oktober 2016.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko memiliki wewenang dan tanggung
jawab yang terbatas sebagai Wakil Direktur di Perusahaan PT. Citra
Abadi, mengingat posisi ini sebenarnya hanya berada pada bayang-
bayang Direktur Utama. Lebih dari itu, pada posisi ini TERDAKWA
memiliki keseganan kepada sdr TONI WIJAYA karena posisinya
sebagai Direktur Utama dan lebih senior di Perusahaan PT. Citra Abadi
dibandingkan TERDAKWA, oleh karenanya TERDAKWA merasa
rendah diri dan hanya sebatas menjalankan pekerjaan rutin untuk
memantau jalannya perusahaan dan mengatasi masalah-masalah
yang bersifat lokal, dalam artian tidak menyangkut hajat hidup

12
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

perusahaan secara masif dan berkelanjutan, semisal masalah


kerusakan bangunan, gaji pegawai dan lain lain, untuk kemudian
dilaporkan kepada sdr TONI WIJAYA. Pada posisi Wakil Direktur,
TERDAKWA tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan
tertentu tanpa persetujuan Direktur Utama.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko menyampaikan berdasarkan
analisis dari SHINTA WULANDARI dari Bagian Keuangan Perusahaan
PT. Citra Abadi, bahwa pembayaran gajih pegawai harus segera
dibayarkan, karena jika para pegawai terus menerus tidak di bayar
maka mereka akan melakukan demo. Serta pembayaran hutang ke
Bank harus segera dibayar, karena jika tidak dibayar maka pihak Bank
akan menyita seluruh aset perusahaan. Pada kesempatan ini
TERDAKWA melihat bahwa sdr TONI WIJAYA merasa tertekan, dan
kemudian dari mulutnya terlontar ucapan untuk mengakali pembayaran
tunggakan pajak selama 5 tahun yang akan jatuh tempo pada 1
November 2016. Pada kesempatan itu, usulan awal yang
bersangkutan adalah untuk menjajaki kemungkinan pembayaran dapat
ditunda atau dilakukan setelah 1 November 2016. Atas pertimbangan
tersebut, kemudian sdr TONI WIJAYA meminta TERDAKWA untuk
menemui Kepala KPP Kota Pekanbaru, ADE ANDALAS, setelah
sebelumnya dihubungkan dan dibuatkan janji untuk bertemu pada
tanggal 11 Oktober 2016.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko sama sekali tidak berkeberatan
atas perintah sdr TONI WIJAYA tersebut, karena TERDAKWA anggap
hal ini adalah tindakan yang dapat menyelamatkan Perusahaan PT.
Citra Abadi. Selain itu, posisi TERDAKWA sebagai Wakil Direktur tidak
memungkinkan untuk membantah perintah dari Direktur Utama.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko Pada 11 Oktober 2016 setelah
makan siang sekira pukul 13.00 WIB, TERDAKWA sendiri
mendatangani KPP Kota Pekanbaru dan langsung menuju ruangan
ADE ANDALAS di lantai 2. Sdr ADE ANDALAS yang sebelumnya
sudah dihubungi oleh sdr TONI WIJAYA, langsung menyambut

13
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

TERDAKWA di ruangannya. Kami berbicara panjang lebar sebelum


membahas masalah topik utama, yaitu masalah pajak perusahaan.
Pertemuan itu berlangsung tertutup, dan hanya dihadiri oleh
TERDAKWA dan sdr ADE ANDALAS. Pada saat itu, TERDAKWA tetap
selalu berkomunikasi dengan sdr TONI WIJAYA yang berada di Kantor
Perusahaan PT. Citra Abadi melalui pesan singkat di telepon seluler
untuk memberi kabar dan menyampaikan perkembangan pertemuan
yang TERDAKWA lakukan. Sekira pukul 14.00 WIB, TERDAKWA
berinisiatif untuk memotong pembicaraan yang terlalu melebar kesana
kemari, dengan menyampaikan bahwa Perusahaan PT. Citra Abadi
sedang mengalami kesulitan keuangan dan bermaksud untuk meminta
keringanan pembayaran pajak, dengan menunda jatuh tempo dari
tanggal 1 November 2016 ke tanggal lain, atau dimundurkan. Atas
usulan ini, sdr ADE ANDALAS tidak menyanggupinya, dan hal ini
langsung TERDAKWA sampaikan kepada sdr TONI WIJAYA melalui
pesan singkat. Sembari TERDAKWA menunggu jawaban dari sdr TONI
WIJAYA, sdr ADE ANDALAS menyinggung bahwa kemungkinan untuk
membantu Perusahaan PT. Citra Abadi tetap ada, dan beliau
menyatakan bahwa kemungkinan tersebut dianggap dapat
menguntungkan semua pihak, walaupun ada hal-hal tertentu yang
harus dikorbankan, namun tidak akan membuat rugi perusahaan.
TERDAKWA menganggap pernyataan dari sdr ADE ANDALAS itu
seolah-olah bermaksud bahwa yang bersangkutan meminta imbalan
atau balas jasa tertentu untuk membantu Perusahaan PT. Citra Abadi,
sehingga kemudian dari mulut TERDAKWA, sembari bercanda
TERDAKWA mengatakan bahwa bagaimana bilamana Perusahaan PT.
Citra Abadi tetap membayar tunggakan pada 1 November 2016,
namun nominal pembayaran dikurangi sebesar Rp. 10.000.000.000
(sepuluh miliyar rupiah) menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh
miliyar rupiah). Tanpa TERDAKWA duga sebelumnya, ucapan
TERDAKWA yang bernada canda tersebut, ditanggapi oleh sdr ADE

14
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

ANDALAS dengan persetujuan, namun harus ada imbalan sebesar


Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah). Menanggapi hal tersebut,
TERDAKWA menyatakan bahwa TERDAKWA tidak berada pada posisi
untuk mengambil atau menyanggupi keputusan tersebut, melainkan
harus berkonsultasi kepada sdr TONI WIJAYA selaku Direktur Utama.
Kemudian sdr ADE ANDALAS menyuruh TERDAKWA untuk
menelepon sdr TONI WIJAYA saat itu juga dan menyampaikan hal
tersebut. TERDAKWA kemudian mengubungi sdr TONI WIJAYA, dan
pembicaraannya tersebut di-loudspeaker, yang kemudian pada intinya
sdr TONI WIJAYA menyanggupi usulan dari sdr ADE ANDALAS untuk
mengurangi tunggakan pajak sebesar Rp. 10.000.000.000 (sepuluh
miliyar rupiah) menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh miliyar
rupiah), walaupun ada imbalan sebesar Rp. 1.000.000.000 (satu
miliyar rupiah). Pada pertemuan ini sdr ADE ANDALAS dan sdr TONI
WIJAYA sebenarnya belum sepakat sepenuhnya. Kemudian karena
sudah sore pertemuan ini diakhiri, dan dijanjikan untuk saling bertemu
kembali pada tanggal 5 November 2016 di tempat yang sama.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko pada pertemuan kedua tersebut
disepakati bahwa imbalan sebesar Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar
rupiah), akan diserahkan dalam bentuk mata uang Dollar Amerika,
dengan nilai 97.000 USD yang akan dibayarkan secara tunai, melalui
perantara bernawa IWAN yang merupakan ajudan dari ADE
ANDALAS, yang akan diserahkan pada tanggal 9 November 2016 di
RM. Sindang Telolet melalui TERDAKWA dan IWAN. Pada saat
pertemuan ini juga ADE ANDALAS mengakali tunggakan pajak
perusahaan PT. Citra Abadi menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh
miliyar rupiah), dari seharusnya Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliyar
rupiah), dan pada hari itu juga, tanggal 5 November 2016, tunggakan
pajak PT. Citra Abadi langsung dilunasi sebesar Rp. 40.000.000.000
(empat puluh miliyar rupiah), tanpa denda keterlambatan dari
seharusnya batas waktu pembayaran pada tanggal 1 November 2016.

15
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko sempat berhubungan dengan sdr.


TONI WIJAYA pada rentang waktu antara pertemuan pertama pada 11
Oktober 2016 dan pertemuan kedua pada 5 November 2016.
Pertemuan tersebut biasanya dilakukan secara intensif di Kantor PT.
Citra Abadi pada hari kerja, yang dilakukan dengan sangat tertutup dan
hanya dihadiri kami berdua, umumnya menyangkut bagaimana teknis
pemberian imbalan dan pada intinya dari pertemuan-pertemuan
tersebut kemudian disepakati mengenai tanggal pemberian pada 9
November 2016 dan pecahan pembayaran senilai 97.000 USD.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko menyatakan bahwa baik oleh sdr
TONI WIJAYA maupun sdr ADE ANDALAS, keduanya tidak
menjanjikan apa-apa kepada TERDAKWA, baik imbalan balas jasa
materi maupun promosi jabatan.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko merasa tertekan oleh sdr. TONI
WIJAYA karena TERDAKWA merasa sebagai bawahan, dan beliau
sebagai atasan TERDAKWA. TERDAKWA takut apabila TERDAKWA
melanggar atau menolak perintahnya akan diturunkan jabatan
TERDAKWA dari Wakil Direktur.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko sepenuhnya sadar bahwa
tindakan mengakali tunggakan pajak perusahaan PT. Citra Abadi
menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh miliyar rupiah), dari
seharusnya Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliyar rupiah) merupakan
tindak pidana, dan saat ada balas jasa imbalan sebesar Rp.
1.000.000.000 (satu miliyar rupiah) TERDAKWA sadar bahwa tindakan
ini melanggar hukum. Namun tetap terpaksa harus TERDAKWA
lakukan, karena TERDAKWA merasa ini perintah atasan dan
merupakan langkah yang harus diambil untuk menyelamatkan
perusahaan PT. Citra Abadi dari pailit.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko menyatakan pada tanggal 9
November 2016, sesuai kesepakatan sebelumnya, TERDAKWA sendiri
menyerahkan uang tunai sebesar 97.000 USD kepada IWAN,
perantara yang ditunjuk oleh ADE ANDALAS untuk menerima uang

16
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

tersebut di RM. Sindang Telolet Kota Pekanbaru. Namun belum sesaat


setelah uang tersebut berpindah tangan kepada Iwan, KPK melakukan
operasi tangkap tangan dan menggagalkan penyerahan tersebut.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko tidak mengetahui darimana
sumber uang Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah) dalam pecahan
97.000 USD, uang tersebut sudah disiapkan oleh sdr TONI WIJAYA
pada tanggal 8 November 2016 di ruangannya, diserahkan langsung
oleh yang bersangkutan kepada TERDAKWA dalam koper tertutup dan
tidak TERDAKWA hitung jumlahnya baik pada saat itu maupun
setelahnya.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko mengakui bahwa pada saat
dirinya tertangkap tangan, bersamaan dengan itu turut diamankan pula
satu buah koper berisi uang Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah)
dalam pecahan 97.000 USD.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko pada intinya mengaku bahwa
awalnya tidak berniat melakukan suap, namun dirinya melihat peluang
bahwa pemberian suap dimungkinkan untuk mengurangi jumlah
tunggakan pajak sejumlah Rp. 10.000.000.000 (sepuluh miliyar
rupiah), setelah bertemu dengan Ade Andalas yang dalam pertemuan
tersebut seolah-olah menurut apa yang disampaikan Eko Sujatmiko,
memberikan kesan bahwa pengurangan tunggakan pajak
dimungkinkan dengan mengorbankan hal-hal tertentu.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko mengakui dan menyesali
perbuatannya.

3. KESIMPULAN DAN PERMOHONAN

Majelis hakim yang bijaksana.


Rekan JPU yang sangat kami cintai.
Para pengunjung persidangan yang berbahagia.

17
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Dari sedemikan banyak fakta persidangan yang telah kami susun, urai,
dan paparkan dalam pledoi ini, maka kami, Tim Penasehat Hukum dari
terdakwa EKO SUDJATMIKO berkesimpulan:

a. Bahwa terdakwa EKO SUDJATMIKO hanya menjalankan perintah dari


atasannya dalam hal melakukan penyuapan, yang mana dalam hal ini
atasannya adalah sdr. Toni Wijaya.
b. Bahwa terdakwa EKO SUDJATMIKO tidak pernah terbukti sekalipun
untuk menyatakan suatu inisiatif untuk memulai perbincangan
mengakali tunggakan pembayaran pajak dengan sdr. Ade Andalas.
c. Bahwa segala tindakan yang dilakukan oleh terdakwa EKO
SUDJATMIKO adalah didasari perasaan untuk menyelamatkan
perusahaan PT. Citra Abadi.
d. Bahwa sebenarnya dalam menjalankan setiap tindakan yang
berhubungan dengan perkara ini, terdakwa EKO SUDJATMIKO merasa
berada dalam tekanan sdr. Toni Wijaya.
e. Bahwa terdakwa EKO SUDJATMIKO sudah mengakui semua
perbuatannya dalam perkara ini, dan menyesali perbuatannya tersebut.
f. Bahwa terdakwa EKO SUDJATMIKO bersedia membantu untuk
mengungkap segala fakta-fakta yang berhubungan dengan perkara ini
demi tegaknya keadilan.

Berdasar kesimpulan tersebut, maka kami memohon kepada Majelis


Hakim yang terhormat, agar Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi Jakarta yang berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini,
Memutuskan:

Primer

1. Menyatakan Terdakwa EKO SUDJATMIKO, tidak terbukti telah


melakukan dengan memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau
penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang
bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam

18
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

jabatannya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b UU


No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

2. Membebaskan terdakwa dari dakwaan dan tuntutan pemidanaan yang


diajukan oleh jaksa penuntut umum.

3. Membebaskan terdakwa dari denda yang di ajukan jaksa sebesar Rp.


50.000.000 (lima puluh juta rupiah).

5. Melakukan rehabilitasi terhadap nama baik dan martabat terdakwa.

6. Menetapkan biaya perkara ditanggung oleh negara.

7. Menetapkan terdakwa dibebaskan dari rumah tahanan negara


DENPOM GUNTUR.

Subsider

Apabila hakim berpendapat lain, mohon keputusan seadil-adilnya.

Demikianlah pledoi ini kami sampai dengan niat baik untuk mencari
keadilan yang berketuhanan; semoga niat baik kami mendapat perhatian
yang layak dari Majelis Hakim yang terhormat. Terimakasih.

Atas perhatian dari Majelis Hakim dan sdr. Jaksa Penuntut Umum,
maka kami MOHAMMAD SETYA WARDHANA, SH. MH, selaku
Penasehat Hukum dari terdakwa EKO SUDJATMIKO menyampaikan
ucapan terima kasih.
Jakarta, 7 Januari 2017.

19
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Hormat kami,
Kuasa/Penasehat Hukum
Mohammad Setya Wardhana, S.H. M.H.

20

Anda mungkin juga menyukai