Anda di halaman 1dari 22

KPK Kelompok 1

Penanganan Perkara Pidana Kelas A


KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI
REPUBLIK INDONESIA
Untuk Keadilan

SURAT TUNTUTAN
NO. REG PERKARA : BP-12/XII/2016

Majelis Hakim yang Terhormat,


Saudara Penasihat Hukum yang kami hormati,

Terlebih dahulu kami ucapkan terima kasih kepada Majelis Hakim yang
memimpin persidangan perkara ini, dan telah memberikan kesempatan
kepada kami untuk menyampaikan tuntutan pidana kami selaku Jaksa
Penuntut Umum dalam perkara ini.

Majelis Hakim yang Terhormat,


Selama pemeriksaan persidangan berjalan, Majelis Hakim telah
memimpinnya dengan tertib, aman dan lancer, tidak diketemukan
hambatan yang berarti.
Jaksa Penuntut Umum Pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),
setelah memperhatikan hasil pemeriksaan dalam perkara atas nama
terdakwa :

Nama : EKO SUDJATMIKO


Tempat Lahir : JAKARTA
Umur/Tgl Lahir : 24 MEI 1980
Jenis Kelamin : PRIA
Agama : ISLAM
Kewarganegaraan : INDONESIA
Pekerjaan : SWASTA
Alamat : KOMPLEK CENDANA NO. V/12 RUMBAI,
PROVINSI RIAU

1
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Terdakwa ditahan oleh penyidik sejak tanggal 10 November 2016


sampai dengan 30 November 2016
Diperpanjang oleh Ketua KPK sejak 1 Desember 2016 sampai dengan
7 Desember 2016
Diperpanjang oleh Ketua Pengadilan Tindak Pidana Korupsi sejak 8
Desember 2016 sampai dengan 17 Januari 2017

Berdasarkan Surat Penetapan Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi


Jakarta No. 18/XII/Tipikor.JKT tanggal 8 Desember 2016. Terdakwa
dihadapkan ke muka persidangan dengan dakwaan sebagai berikut :

DAKWAAN
Bahwa ia Terdakwa EKO SUDJATMIKO, pada hari Rabu tanggal 9
November 2016 atau setidak-tidaknya pada hari lain di bulan November
2016, sekitar pukul 12.30 WIB atau setidak-tidaknya pada suatu waktu di
hari Rabu tanggal 9 November 2016, di Rumah Makan Sindang Telolet Jl.
Ahmad yani No. 16 Kota Pekanbaru, atau setidak-tidaknya pada suatu
tempat dalam wilayah hukum Republik Indonesia, telah melakukan
dengan memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara
negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan
dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, yang
dilakukan sebagai berikut:

Bahwa pada pertengahan tahun 2016 PT Citra Abadi mengalami


kesulitan keuangan. Akibat menurunnya omset perusahaan, sehingga
beberapa kewajiban seperti gaji pegawai, pembayaran pajak, dan
hutang ke bank tidak dapat terbayarkan. PT Citra Abadi beralamat di
Jalan Mekarsari No 27 Pekanbaru. Perusahaan ini bergerak dibidang
perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau. Dalam rangka memenuhi
kebutuhannya PT Citra Abadi telah melakukan berbagai cara salah
satunya adalah melakukan pinjaman ke berbagai Bank. Tetapi karena

2
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

keuangan perusahaan yang terus menurun, maka pihak bank tidak


dapat menyetujui/mengabulkan permintaan (berupa pinjaman)
terhadap PT Citra Abadi tersebut.
Bahwa pada tanggal 10 Oktober 20116, Saksi TONI WIJAYA (Direktur)
memanggil Terdakwa EKO SUJATMIKO (wakil Direktur) beserta Saksi
SHINTA WULANDARI (bagian keuangan) untuk membahas masalah
keuangan dari perusahaan tersebut.
Bahwa berdasarkan analisis dari Shinta Wulandari bahwa pembayaran
gajih pegawai harus segera dibayarkan, karena jika para pegawai
terus menerus tidak di bayar maka mereka akan melakukan demo.
Serta pembayaran hutang ke Bank harus segera dibayar, karena jika
tidak dibayar maka pihak Bank akan menyita seluruh aset perusahaan.
Bahwa kemudian Saksi TONI WIJAYA merasa tertekan lalu berinisiatif
untuk mengakali pembayaran tunggakan pajak selama 5 tahun.
Tagihan pajak perusahaan jatuh tempo pada tanggal 1 November
2016. Saksi TONI WIJAYA menyuruh Terdakwa EKO SUDJATMIKO
untuk menemui Saksi ADE ANDALAS (Kepala kantor Keuangan Pajak)
pada tanggal 11 Oktober 2016, yang bertujuan untuk menjajaki
kemungkinan jatuh tempo pembayaran pajak di mundurkan. Namun
Saksi ADE ANDALAS tidak dapat mengabulkan permintaan tersebut.
Bahwa kemudian Terdakwa EKO SUDJATMIKO menyanggupi
pembayaran pada tanggal 1 November tetapi dengan syarat bahwa
PT. Citra Abadi hanya membayar Rp. 40.000.000.000 (empat puluh
miliyar rupiah), atau ada pengurangan kewajiban pembayaran
tanggungan pajak sebesar Rp. 10.000.000.000 (sepuluh miliyar
rupiah).
Bahwa atas syarat permintaan yang diajukan oleh Terdakwa EKO
SUDJATMIKO tersebut, kemudian Saksi ADE ANDALAS meminta agar
Terdakwa EKO SUDJATMIKO kembali ke kantornya pada tanggal 5
November 2016, yang mana sampai dengan tanggal tersebut
tanggungan tunggakan pajak perusahaan PT. Citra Abadi masih belum
lunas.

3
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Bahwa pada tanggal yang disepakati tersebut, dalam hal ini telah
terjadi pertemuan kedua antara Saksi ADE ANDALAS dan Terdakwa
EKO SUDJATMIKO, yang mana pertemuan ini diketahui dan atas
persetujuan dari Saksi TONI WIJAYA, disepakati bahwa PT. Citra Abadi
hanya membayar Rp. 40.000.000.000 (empat puluh miliyar rupiah),
namun ada imbalan yang harus dibayarkan kepada Saksi ADE
ANDALAS sebesar Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah). Atas
permintaan Saksi ADE ANDALAS tersebut, Terdakwa EKO
SUDJATMIKO menyanggupinya setelah terlebih dahulu meminta
persetujuan dari Saksi TONI WIJAYA selaku Direktur Utama PT. Citra
Abadi.
Bahwa nilai imbalan yang dijanjikan kepada Saksi ADE ANDALAS,
sebesar Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah), akan diserahkan
dalam bentuk mata uang Dollar Amerika, dengan nilai 97.000 USD
yang akan dibayarkan secara tunai, melalui perantara bernawa Saksi
IWAN yang merupakan ajudan dari Saksi ADE ANDALAS. Bahwa
setelah kesepakatan ini tercapai, maka kemudian Saksi ADE
ANDALAS mengakali tunggakan pajak perusahaan PT. Citra Abadi
menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh miliyar rupiah), dari
seharusnya Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliyar rupiah), dan pada
hari itu juga, tanggal 5 November 2016, tunggakan pajak PT. Citra
Abadi langsung dilunasi sebesar Rp. 40.000.000.000 (empat puluh
miliyar rupiah), tanpa denda keterlambatan dari seharusnya batas
waktu pembayaran pada tanggal 1 November 2016.
Bahwa pada tanggal 9 November 2016, sesuai kesepakatan
sebelumnya, Terdakwa EKO SUDJATMIKO menyerahkan uang tunai
sebesar 97.000 USD kepada Saksi IWAN, perantara yang ditunjuk
oleh Saksi ADE ANDALAS untuk menerima uang tersebut di RM.
Sindang Telolet Kota Pekanbaru. Namun belum sesaat setelah uang
tersebut berpindah tangan kepada Saksi IWAN, KPK melakukan
operasi tangkap tangan dan menggagalkan penyerahan tersebut.

4
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Berbekal keterangan dari operasi tersebut, KPK kemudian menangkap


Saksi TONI WIJAYA di kantor PT. Citra Abadi dan Saksi ADE
ANDALAS di KPP Kota Riau.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam


Pasal 5 ayat (1) huruf b UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi.

KETERANGAN SAKSI-SAKSI UNTUK TERDAKWA


Saksi Shinta Wulandari
SAKSI Shinta Wulandari baru mengetahui bahwa Perusahaan PT.
Citra Abadi memiliki tunggakan pajak pada saat bapak Direktur Utama
memanggil SAKSI Shinta Wulandari untuk melakukan perhitungan
terhadap tunggakan-tunggakan yang dimiliki oleh PT. Citra Abadi
SAKSI Shinta Wulandari sempat merasa curiga atas tunggakan pajak
perusahaan, namun demikian dasar kecurigaan SAKSI Shinta
Wulandari tersebut selalu SAKSI Shinta Wulandari tutupi, mengingat
SAKSI Shinta Wulandari hanyalah staff Bagian Keuangan dan bagian
pajak perusahaan merupakan bagian SAKSI Shinta Wulandari.
Sebagai staff Bagian Keuangan di Perusahaan PT. Citra Abadi, SAKSI
Shinta Wulandari hanya bertugas menghitung pemasukan dari
perusahaan dan memberikan saran mengenai stabilitas keuangan
perusahaan.
SAKSI Shinta Wulandari menyampaikan bahwa untuk meghindari
disitanya aset-aset perusahaan oleh bank maka mau tidak mau harus
memotong dari gaji pegawai perusahaan atau uang pembayaran
penunggakan pajak. Untuk tindak lanjutnya yang dilakukan sdr TONI
WIJAYA, karena merasa tertekan, dan kemudian dari mulutnya
terlontar ucapan untuk mengakali pembayaran tunggakan pajak
selama 5 tahun yang akan jatuh tempo pada 1 November 2016. Disaat
itu SAKSI Shinta Wulandari mengusulkan untuk menjajaki

5
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

kemungkinan pembayaran dapat ditunda atau dilakukan setelah 1


November 2016.
SAKSI Shinta Wulandari sepenuhnya sadar bahwa tindakan mengakali
tunggakan pajak perusahaan PT. Citra Abadi menjadi Rp.
40.000.000.000 (empat puluh miliyar rupiah), dari seharusnya Rp.
50.000.000.000 (lima puluh miliyar rupiah) merupakan tindak pidana,
maka dari itu SAKSI Shinta Wulandari mengusulkan untuk mencari
jalan lain dari pada mengakali penunggakan pajak.
SAKSI Shinta Wulandari tidak mengetahui secara pasti mengenai
penyuapan kepada ADE ANDALAS selaku Kepala KPP Kota Riau
yang dilakukan oleh sdr TONI WIJAYA, tetapi SAKSI Shinta Wulandari
mencurigai adanya tindakan tersebut karena ketika SAKSI Shinta
Wulandari membayarkan tunggakan pajak perusahaan nominal yang
harus dibayarkan hanyalah Rp. 40.000.000.000 (empat puluh miliyar
rupiah).
Saksi Sunarya
SAKSI Sunarya memiliki tugas yang pada intinya adalah sebagaimana
petugas keamanan pada umumnya. Mengontrol, mengawasi dan
menjaga kondusifitas RM. Sindang Telolet, terkadang SAKSI Sunarya
juga membantu para konsumen Rumah Makan yang akan parkir,
namun itu tergantung dari kondisi dan situasi, karena sebenarnya
sudah ada petugas yang diserahi tanggung jawab untuk mengatur
perparkiran.
SAKSI Sunarya pada tanggal 9 November 2016 di RM. Sindang Telolet
sedang menjalankan tugas sebagaimana biasanya. SAKSI Sunarya
hadir di RM. Sindang Telolet sejak Pukul 07.00 WIB, atau sekitar satu
jam sebelum RM. Sindang Telolet buka pada Pukul 08.00 WIB. Sekitar
pukul 12.00 WIB siang, SAKSI Sunarya melihat mobil Toyota Kijang
Innova warna hitam, dengan plat nomor merah dengan nomor polisi
BM 1327 F memasuki rumah makan, namun demikian pengendara
kendaraan tersebut tidak turun dari mobil, dan SAKSI Sunarya tidak
melihat bahwa pada kendaraan tersebut ada penumpang yang duduk

6
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

di kursi penumpang depan maupun belakang. Belakangan SAKSI


Sunarya ketahui dari hasil penangkapan oleh KPK, bahwa pengendara
mobil tersebut adalah Iwan. Kemudian sekitar pukul 12.30 WIB, SAKSI
Sunarya juga melihat ada mobil Toyota Fortuner berwarna hitam
dengan plat nomor BM 2341 AA memasuki rumah makan, belakangan
SAKSI Sunarya ketahui bahwa mobil tersebut dikendarai oleh Eko
Sudjatmiko.
SAKSI Sunarya tidak menaruh kecurigaan dengan mobil Toyota Kijang
Innova warna hitam, dengan plat nomor merah dengan nomor polisi
BM 1327 F yang memasuki rumah makan, namun demikian
pengendara kendaraan tersebut tidak turun dari mobil, , karena pada
waktu tersebut memang RM. Sindang Telolet dalam keadaan ramai
karena bertepatan dengan jam makan siang. SAKSI Sunarya berpikir
bahwa kendaraan tersebut dibawa oleh supir dan hanya akan
menjemput salah satu tamu/konsumen yang sedang makan di Rumah
Makan, sehingga wajar bila supirnya diam di kendaraan dan tidak
turun. Keadaan lain yang menguatkan perkiraan SAKSI Sunarya ini
adalah, karena kendaraan tersebut adalah kendaraan plat merah milik
pemerintah, dan pada saat itu di dalam rumah makan memang ramai
oleh pegawai negeri yang memakai seragam dinas.
SAKSI Sunarya melihat mobil Toyota Fortuner berwarna hitam dengan
plat nomor BM 2341 AA yang memasuki rumah makan, pengendara
mobil tersebut turun dari mobil dengan membawa tas koper dan
langsung memasuki rumah makan. Di dalam rumah makan dia duduk
sendiri di meja untuk 4 orang, dan sempat memesan makanan kepada
pelayan. Tidak lama setelah memesan makanan, pengendara mobil
tersebut (Eko Sudjatmiko), kemudian keluar kembali dan mendekat ke
mobil Toyota Kijang Innova warna hitam, dengan plat nomor merah
dengan nomor polisi BM 1327 F sembari membawa tas yang
dibawanya.
SAKSI Sunarya sempat menanyakan kepada sdr. Eko Sudjatmiko
mengapa keluar kembali, dan beliau sempat menjawab bahwa ada

7
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

barangnya yang ketinggalan di dalam mobil. Namun anehnya dia


mendekat bukan ke mobilnya yang sebelumnya dia kendarai, tapi ke
mobil lain, yakni mobil yang dikendarai oleh seseorang yang
belakangan SAKSI Sunarya ketahui namanya Iwan. Disitu SAKSI
Sunarya mulai curiga.
SAKSI Sunarya menyatakan Eko Sudjatmiko mendekat ke mobil
Toyota Kijang Innova warna hitam, dengan plat nomor merah dengan
nomor polisi BM 1327 F yang dikendarai oleh Iwan, dan melihat sdr.
Eko Sudjatmiko masuk ke pintu penumpang belakang mobil dan diam
disana sekitar 5 menit, SAKSI Sunarya tidak bisa melihat jelas apa
yang dilakukan di dalam mobil.
SAKSI Sunarya menyatakan sekira setelah 5 menit, Eko Sudjatmiko
keluar tanpa membawa tas yang sebelumnya dibawanya mengarah ke
rumah makan. Namun belum beberapa saat dia melangkah keluar,
tiba-tiba dari dalam rumah makan ada sekitar 5 orang tamu/konsumen
yang mendekatinya dan mengarahkannya kembali ke mobil yang
sebelumnya dia naiki (mobil Iwan). Belakangan SAKSI Sunarya
ketahui bahwa ke-5 orang tersebut adalah petugas KPK yang sedang
melakukan operasi tangkap tangan.
Saksi Iwan
SAKSI Iwan mengaku baru mengenal Eko Sudjatmiko saat bertemu di
RM. Sindang Telolet
SAKSI Iwan mengaku dirinya dipertintahkan oleh Ade Andalas untuk
mengambil uang yang akan diserahkan oleh Eko Sudjatmiko
SAKSI Iwan menyatakan mengetahui bahwa bungkusan yang
diterimanya dari Eko Sudjatmiko adalah uang.
SAKSI Iwan tidak mengetahui jumlah uang tersebut.
SAKSI Iwan mengaku diperintahkan untuk menyerahkan uang yang
diterimanya langsung dari Eko Sudjatmiko kepada Ade Andalas.
Saksi Toni Wijaya
SAKSI Toni Wijaya menyatakan bahwa awalnya hanya berniat
untuk meminta keringanan tanggal jatuh tempo atas pembayaran
tunggakan pajak, namun keringanan tersebut tidak dapat disetujui
oleh Ade Andalas selaku Kepala KPP Kota Riau.

8
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

SAKSI Toni Wijaya menyatakan bahwa inisiatif suap datang


sepenuhnya dari Eko Sujatmiko.
Saksi Ade Andalas
SAKSI Ade Andalas menyampaikan bahwasanya didirnya memang
memiliki peluang untuk mengakali pembayaran tunggakan pajak
karena jabatan yang melekat pada dirinya dan karena koneksi serta
relasinya di Ditjen Pajak, namun dirinya menyatakan bahwa dirinya
tidak pernah menawarkan jasa semacam itu kepada setiap
perusahaan, dalam hal ini dia menyatakan bahwa dirinya melihat
kesempatan untuk melakukan perbuatan tersebut setelah
mendengar bahwa PT. Citra Abadi berada pada kondisi keuangan
yang terdesak.
PETUNJUK
Petunjuk diperoleh dari keterangan saksi-saksi yang ada persesuaiannya
dengan keterangan terdakwa serta tindak pidana ini (Pasal 188 KUHAP).

Dari hasil pengembangan penyidikan, diketahui bahwa inisiatif suap


datang sepenuhnya dari Eko Sujatmiko, bahwa Toni Wijaya hanya
sebatas menyetujui usulan dari Eko Sujatmiko tersebut. Toni Wijaya
menyatakan bahwa awalnya hanya berniat untuk meminta keringanan
tanggal jatuh tempo atas pembayaran tunggakan pajak, namun
keringanan tersebut tidak dapat disetujui oleh Ade Andalas selaku
Kepala KPP Kota Riau.
Sedangkan Eko Sudjatmiko, mengaku bahwa awalnya tidak berniat
melakukan suap, namun dirinya melihat peluang bahwa pemberian
suap dimungkinkan untuk mengurangi jumlah tunggakan pajak
sejumlah Rp. 10.000.000.000 (sepuluh miliyar rupiah), setelah bertemu
dengan Ade Andalas yang dalam pertemuan tersebut seolah-olah
menurut apa yang disampaikan Eko Sujatmiko, memberikan kesan
bahwa pengurangan tunggakan pajak dimungkinkan dengan
mengorbankan hal-hal tertentu.

9
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Ade Andalas, dalam pemeriksaan menyampaikan bahwasanya


didirnya memang memiliki peluang untuk mengakali pembayaran
tunggakan pajak karena jabatan yang melekat pada dirinya dan karena
koneksi serta relasinya di Ditjen Pajak, namun dirinya menyatakan
bahwa dirinya tidak pernah menawarkan jasa semacam itu kepada
setiap perusahaan, dalam hal ini dia menyatakan bahwa dirinya
melihat kesempatan untuk melakukan perbuatan tersebut setelah
mendengar bahwa PT. Citra Abadi berada pada kondisi keuangan
yang terdesak.
Sedangkan Iwan, dalam pemeriksaan menyatakan bahwa dirinya tidak
tahu bahwa bungkusan yang diterimanya berisi uang suap yang
diminta oleh atasannya, Ade Andalas. Iwan, yang sehari-hari
merupakan ajudan Ade Andalas mengaku hanya menjalankan tugas
dan amanah dari atasasnnya untuk mengambil titipan yang akan
diberikan oleh Eko Sujatmiko di RM. Sindang Telolet, dan atas
tugasnya tersebut, Iwan mengaku tidak dijanjikan upah tambahan apa-
apa dari Ade Andalas, maupun dari Eko Sujatmiko. Dalam
pemeriksaan tersebut juga Iwan menyatakan bahwa dirinya kerapkali
ditugaskan untuk mengambil barang titipan atasannya, namun tidak
pernah tahu dan tidak pernah diberi tahu mengenai isi dari barang
titipan tersebut.

KETERANGAN TERDAKWA
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko mengenal sdr TONI WIJAYA sejak
tahun 2010, pada saat itu posisi TERDAKWA adalah Kepala Bagian
Pemasaran di PT. Citra Abadi, dan sdr TONI WIJAYA adalah Wakil
Direktur Bidang Aset Perusahaan di perusahaan yang sama, pada saat
itu TERDAKWA mengenal dari hubungan kerja sebagai rekan kerja
dan karena beliau sebagai salah satu petinggi perusahaan yang
menjadi atasan TERDAKWA, walaupun bukan atasan langsung.
Hubungan kami hanya sebatas hubungan profesional dalam

10
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

pekerjaan, dan hubungan kami semakin meningkat ketika RUPS


menunjuk sdr. Toni Wijaya sebagai Direktur Utama PT. Citra Abadi dan
TERDAKWA sebagai Wakil Direktur PT. Citra Abadi pada tahun 2014.
Semenjak itu hubungan kami meningkat menjadi mitra kerja dalam
membangun perusahaan, dan tidak pernah berhubungan lain selain
urusan profesional pekerjaan.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko sebelumnya sama sekali tidak
mengenal sdr ADE ANDALAS maupun IWAN. Dan baru mengenal sdr
ADE ANDALAS setelah sdr TONI WIJAYA menghubungkan dan
mengarahkan TERDAKWA untuk menghadap yang bersangkutan
untuk mengurus masalah tunggakan pajak perusahaan. Sedangkan
terhadap IWAN, TERDAKWA mengenal setelah diarahkan dan
dikenalkan oleh sdr ADE ANDALAS untuk melakukan serah terima
uang. Sejauh ini hubungan TERDAKWA dengan keduanya hanya
sebatas pada pertemuan tersebut saja.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko baru mengetahui bahwa
Perusahaan PT. Citra Abadi memiliki tunggakan pajak pada saat
TERDAKWA menjabat sebagai Wakil Direktur pada Tahun 2014.
Namun pada saat itu TERDAKWA hanya mendengar dari rekan-rekan
kerja saja, dan tidak mengetahui mengenai nominal tunggakan yang
belum dibayar tersebut.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko sempat merasa curiga atas besar
nominal tunggakan pajak tersebut, namun demikian dasar kecurigaan
TERDAKWA tersebut selalu TERDAKWA tutupi, mengingat
TERDAKWA masih orang baru di jajaran direksi perusahaan.
Sementara itu, jajaran direksi lain sangat terutup dan tidak pernah
menyampaikan kepada TERDAKWA mengenai masalah ini, baik
secara informal maupun melalui forum/pertemuan resmi direksi.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko mengetahui nominal tunggakan
pajak tersebut pada saat TERDAKWA dipanggil oleh sdr. TONI WIJAYA
pada pertengahan tahun 2016 setelah yang bersangkutan
menyampaikan kepada TERDAKWA sebagai Wakil Direktur,

11
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

bahwasanya Perusahaan PT. Citra Abadi sedang mengalami kesulitan


keuangan. Yang kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan secara
formal dengan bagian keuangan pada tanggal 10 Oktober 2016.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko memiliki wewenang dan tanggung
jawab yang terbatas sebagai Wakil Direktur di Perusahaan PT. Citra
Abadi, mengingat posisi ini sebenarnya hanya berada pada bayang-
bayang Direktur Utama. Lebih dari itu, pada posisi ini TERDAKWA
memiliki keseganan kepada sdr TONI WIJAYA karena posisinya
sebagai Direktur Utama dan lebih senior di Perusahaan PT. Citra Abadi
dibandingkan TERDAKWA, oleh karenanya TERDAKWA merasa
rendah diri dan hanya sebatas menjalankan pekerjaan rutin untuk
memantau jalannya perusahaan dan mengatasi masalah-masalah
yang bersifat lokal, dalam artian tidak menyangkut hajat hidup
perusahaan secara masif dan berkelanjutan, semisal masalah
kerusakan bangunan, gaji pegawai dan lain lain, untuk kemudian
dilaporkan kepada sdr TONI WIJAYA. Pada posisi Wakil Direktur,
TERDAKWA tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan
tertentu tanpa persetujuan Direktur Utama.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko menyampaikan berdasarkan
analisis dari SHINTA WULANDARI dari Bagian Keuangan Perusahaan
PT. Citra Abadi, bahwa pembayaran gajih pegawai harus segera
dibayarkan, karena jika para pegawai terus menerus tidak di bayar
maka mereka akan melakukan demo. Serta pembayaran hutang ke
Bank harus segera dibayar, karena jika tidak dibayar maka pihak Bank
akan menyita seluruh aset perusahaan. Pada kesempatan ini
TERDAKWA melihat bahwa sdr TONI WIJAYA merasa tertekan, dan
kemudian dari mulutnya terlontar ucapan untuk mengakali pembayaran
tunggakan pajak selama 5 tahun yang akan jatuh tempo pada 1
November 2016. Pada kesempatan itu, usulan awal yang
bersangkutan adalah untuk menjajaki kemungkinan pembayaran dapat
ditunda atau dilakukan setelah 1 November 2016. Atas pertimbangan

12
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

tersebut, kemudian sdr TONI WIJAYA meminta TERDAKWA untuk


menemui Kepala KPP Kota Pekanbaru, ADE ANDALAS, setelah
sebelumnya dihubungkan dan dibuatkan janji untuk bertemu pada
tanggal 11 Oktober 2016.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko sama sekali tidak berkeberatan
atas perintah sdr TONI WIJAYA tersebut, karena TERDAKWA anggap
hal ini adalah tindakan yang dapat menyelamatkan Perusahaan PT.
Citra Abadi. Selain itu, posisi TERDAKWA sebagai Wakil Direktur tidak
memungkinkan untuk membantah perintah dari Direktur Utama.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko Pada 11 Oktober 2016 setelah
makan siang sekira pukul 13.00 WIB, TERDAKWA sendiri
mendatangani KPP Kota Pekanbaru dan langsung menuju ruangan
ADE ANDALAS di lantai 2. Sdr ADE ANDALAS yang sebelumnya
sudah dihubungi oleh sdr TONI WIJAYA, langsung menyambut
TERDAKWA di ruangannya. Kami berbicara panjang lebar sebelum
membahas masalah topik utama, yaitu masalah pajak perusahaan.
Pertemuan itu berlangsung tertutup, dan hanya dihadiri oleh
TERDAKWA dan sdr ADE ANDALAS. Pada saat itu, TERDAKWA tetap
selalu berkomunikasi dengan sdr TONI WIJAYA yang berada di Kantor
Perusahaan PT. Citra Abadi melalui pesan singkat di telepon seluler
untuk memberi kabar dan menyampaikan perkembangan pertemuan
yang TERDAKWA lakukan. Sekira pukul 14.00 WIB, TERDAKWA
berinisiatif untuk memotong pembicaraan yang terlalu melebar kesana
kemari, dengan menyampaikan bahwa Perusahaan PT. Citra Abadi
sedang mengalami kesulitan keuangan dan bermaksud untuk meminta
keringanan pembayaran pajak, dengan menunda jatuh tempo dari
tanggal 1 November 2016 ke tanggal lain, atau dimundurkan. Atas
usulan ini, sdr ADE ANDALAS tidak menyanggupinya, dan hal ini
langsung TERDAKWA sampaikan kepada sdr TONI WIJAYA melalui
pesan singkat. Sembari TERDAKWA menunggu jawaban dari sdr TONI
WIJAYA, sdr ADE ANDALAS menyinggung bahwa kemungkinan untuk

13
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

membantu Perusahaan PT. Citra Abadi tetap ada, dan beliau


menyatakan bahwa kemungkinan tersebut dianggap dapat
menguntungkan semua pihak, walaupun ada hal-hal tertentu yang
harus dikorbankan, namun tidak akan membuat rugi perusahaan.
TERDAKWA menganggap pernyataan dari sdr ADE ANDALAS itu
seolah-olah bermaksud bahwa yang bersangkutan meminta imbalan
atau balas jasa tertentu untuk membantu Perusahaan PT. Citra Abadi,
sehingga kemudian dari mulut TERDAKWA, sembari bercanda
TERDAKWA mengatakan bahwa bagaimana bilamana Perusahaan PT.
Citra Abadi tetap membayar tunggakan pada 1 November 2016,
namun nominal pembayaran dikurangi sebesar Rp. 10.000.000.000
(sepuluh miliyar rupiah) menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh
miliyar rupiah). Tanpa TERDAKWA duga sebelumnya, ucapan
TERDAKWA yang bernada canda tersebut, ditanggapi oleh sdr ADE
ANDALAS dengan persetujuan, namun harus ada imbalan sebesar
Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah). Menanggapi hal tersebut,
TERDAKWA menyatakan bahwa TERDAKWA tidak berada pada posisi
untuk mengambil atau menyanggupi keputusan tersebut, melainkan
harus berkonsultasi kepada sdr TONI WIJAYA selaku Direktur Utama.
Kemudian sdr ADE ANDALAS menyuruh TERDAKWA untuk
menelepon sdr TONI WIJAYA saat itu juga dan menyampaikan hal
tersebut. TERDAKWA kemudian mengubungi sdr TONI WIJAYA, dan
pembicaraannya tersebut di-loudspeaker, yang kemudian pada intinya
sdr TONI WIJAYA menyanggupi usulan dari sdr ADE ANDALAS untuk
mengurangi tunggakan pajak sebesar Rp. 10.000.000.000 (sepuluh
miliyar rupiah) menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh miliyar
rupiah), walaupun ada imbalan sebesar Rp. 1.000.000.000 (satu
miliyar rupiah). Pada pertemuan ini sdr ADE ANDALAS dan sdr TONI
WIJAYA sebenarnya belum sepakat sepenuhnya. Kemudian karena
sudah sore pertemuan ini diakhiri, dan dijanjikan untuk saling bertemu
kembali pada tanggal 5 November 2016 di tempat yang sama.

14
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko pada pertemuan kedua tersebut


disepakati bahwa imbalan sebesar Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar
rupiah), akan diserahkan dalam bentuk mata uang Dollar Amerika,
dengan nilai 97.000 USD yang akan dibayarkan secara tunai, melalui
perantara bernawa IWAN yang merupakan ajudan dari ADE
ANDALAS, yang akan diserahkan pada tanggal 9 November 2016 di
RM. Sindang Telolet melalui TERDAKWA dan IWAN. Pada saat
pertemuan ini juga ADE ANDALAS mengakali tunggakan pajak
perusahaan PT. Citra Abadi menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh
miliyar rupiah), dari seharusnya Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliyar
rupiah), dan pada hari itu juga, tanggal 5 November 2016, tunggakan
pajak PT. Citra Abadi langsung dilunasi sebesar Rp. 40.000.000.000
(empat puluh miliyar rupiah), tanpa denda keterlambatan dari
seharusnya batas waktu pembayaran pada tanggal 1 November 2016.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko sempat berhubungan dengan sdr.
TONI WIJAYA pada rentang waktu antara pertemuan pertama pada 11
Oktober 2016 dan pertemuan kedua pada 5 November 2016.
Pertemuan tersebut biasanya dilakukan secara intensif di Kantor PT.
Citra Abadi pada hari kerja, yang dilakukan dengan sangat tertutup dan
hanya dihadiri kami berdua, umumnya menyangkut bagaimana teknis
pemberian imbalan dan pada intinya dari pertemuan-pertemuan
tersebut kemudian disepakati mengenai tanggal pemberian pada 9
November 2016 dan pecahan pembayaran senilai 97.000 USD.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko menyatakan bahwa baik oleh sdr
TONI WIJAYA maupun sdr ADE ANDALAS, keduanya tidak
menjanjikan apa-apa kepada TERDAKWA, baik imbalan balas jasa
materi maupun promosi jabatan.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko merasa tertekan oleh sdr. TONI
WIJAYA karena TERDAKWA merasa sebagai bawahan, dan beliau
sebagai atasan TERDAKWA. TERDAKWA takut apabila TERDAKWA
melanggar atau menolak perintahnya akan diturunkan jabatan
TERDAKWA dari Wakil Direktur.

15
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko sepenuhnya sadar bahwa


tindakan mengakali tunggakan pajak perusahaan PT. Citra Abadi
menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh miliyar rupiah), dari
seharusnya Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliyar rupiah) merupakan
tindak pidana, dan saat ada balas jasa imbalan sebesar Rp.
1.000.000.000 (satu miliyar rupiah) TERDAKWA sadar bahwa tindakan
ini melanggar hukum. Namun tetap terpaksa harus TERDAKWA
lakukan, karena TERDAKWA merasa ini perintah atasan dan
merupakan langkah yang harus diambil untuk menyelamatkan
perusahaan PT. Citra Abadi dari pailit.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko menyatakan pada tanggal 9
November 2016, sesuai kesepakatan sebelumnya, TERDAKWA sendiri
menyerahkan uang tunai sebesar 97.000 USD kepada IWAN,
perantara yang ditunjuk oleh ADE ANDALAS untuk menerima uang
tersebut di RM. Sindang Telolet Kota Pekanbaru. Namun belum sesaat
setelah uang tersebut berpindah tangan kepada Iwan, KPK melakukan
operasi tangkap tangan dan menggagalkan penyerahan tersebut.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko tidak mengetahui darimana
sumber uang Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah) dalam pecahan
97.000 USD, uang tersebut sudah disiapkan oleh sdr TONI WIJAYA
pada tanggal 8 November 2016 di ruangannya, diserahkan langsung
oleh yang bersangkutan kepada TERDAKWA dalam koper tertutup dan
tidak TERDAKWA hitung jumlahnya baik pada saat itu maupun
setelahnya.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko mengakui bahwa pada saat
dirinya tertangkap tangan, bersamaan dengan itu turut diamankan pula
satu buah koper berisi uang Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah)
dalam pecahan 97.000 USD.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko pada intinya mengaku bahwa
awalnya tidak berniat melakukan suap, namun dirinya melihat peluang
bahwa pemberian suap dimungkinkan untuk mengurangi jumlah
tunggakan pajak sejumlah Rp. 10.000.000.000 (sepuluh miliyar

16
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

rupiah), setelah bertemu dengan Ade Andalas yang dalam pertemuan


tersebut seolah-olah menurut apa yang disampaikan Eko Sujatmiko,
memberikan kesan bahwa pengurangan tunggakan pajak
dimungkinkan dengan mengorbankan hal-hal tertentu.
Bahwa TERDAKWA Eko Sudjatmiko mengakui dan menyesali
perbuatannya.
BARANG BUKTI
Barang bukti yang diajukan ke persidangan adalah :
1. Satu buah koper berwarna hitam.
2. Uang Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah) dalam pecahan
97.000 USD.
3. Dua buah handphone merek Nokia.
Barang bukti yang diajukan dalam persidangan ini telah disita secara sah
menurut hukum, karena itu dapat digunakan untuk memperkuat
pembuktian. Hakim Ketua sidang telah memperlihatkan barang bukti
tersebut kepada terdakwa dan oleh saksi-saksi yang bersangkutan telah
membenarkannya.

Sidang Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi yang terhormat.

ANALISA HUKUM
Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, maka
sampailah kami kepada pembuktian mengenai unsur-unsur tindak pidana
yang didakwakan.
Bahwa menurut kami terdakwa tepat untuk dipersalahkan melakukan
perbuatan yang didakwakan dalam dakwaan telah melakukan dengan
memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara
karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan
kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya,
sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b
UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor

17
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dengan


unsur-unsur sebagai berikut :
- Memberi sesuatu
- Pegawai negeri atau penyelenggara negara.
- Karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan
dngan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

a. Unsur Memberi Sesuatu :


Hadiah atau yang dalam penjelasan Pasal 12 B ayat 1 UU No.
20/2001, disebut gratifikasi adalah pemberian uang, barang, rabat
(discount), komisi, pinjaman tampa bunga, tiket perjalanan wisata,
pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.
Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun
diluar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik
atau tanpa sarana elektronik. Sedangkan janji adalah pemberian harapan
untuk memberikan gratifikasi pada waktu tertentu dan dengan syarat
tertentu.
Dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada
jabatan atau kedudukannya, maksud dari unsur ini adalah bahwa hadiah
atau janji tersebut diberikan karenakekuasaan atau wewenang yang
melekat pada jabatanatau kedudukan orang yang diberi hadiah atau janji.
Pengertian lain kekuasaan atau wewenang yang melekat pada
jabatan atau kedudukan itu tidak ada, maka tidak aka nada hadiah atau
janji itu.
Oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau
kedudukantersebut, dengan pengertian bahwa orang yang memberikan
hadiah atau janji itu mendasarkan pemberiannya pada kekuasaan atau
wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukan orang yang diberi
hadiah atau janji. Hadiah atau janji ditujukan agar orang yang diberi
hadiah atau janji melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan yang

18
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

berhubungan dengan kekuasaan atau wewenang yang melekat pada


jabatan atau kedudukannya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan persidangan, TERDAKWA telah
terbukti memberikan satu buah koper berisi uang Rp. 1.000.000.000
(satu miliyar rupiah) dalam pecahan 97.000 USD yang dapat
dikategorikan sebagai bentuk pemebrian hadiah atau gratifikasi.

b. Unsur Pegawai negeri atau penyelenggara negara :


Pegawai negeri menurut Pasal 1 UU No. 31 tahun 1999 meliputi :
- Pegawai negeri sebagai mana dimaksud dalam undang-undang tentang
kepegawaian menurut UU No. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
kepegawaian sebagaimana dirubah dengan UU No. 43 Tahun 1999.
- Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan Negara atau
daerah;
- Orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang
menerima bantuan dari keuangan Negara atau daerah; atau
- Orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang
mempergunakan modal atau fasilitas dari Negara atau masyarakat.

Sesuai dengan perluasan pengertian pegawai negeri dalam ketentuan


tersebut diatas, maka dapat dirinci lebih luas lagi tentang subjek yang
termasuk dalam kategori pegawai negeri yaitu :
- Pegawai Mahkamah Agung RI dan Mahkamah Konstitusi
- Pegawai pada kementerian/Departemen dan Lembaga Pemerintahan
Non Departemen.
- Pegawai pada Kejaksaan Agung RI
- Pimpinan dan Pegawai pada Sekretariat MPR, DPR, DPD, DPRD
Propinsi/daerah Tingkat II;
- Pegawai pada Perguruan Tinggi Negeri;

19
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

- Pegawai pada Komisi dan Badan yang dibentuk berdasarkan UU,


Keputusan Presiden, Sekretaris cabinet (sekab) dan Sekertris Militer
(sekmil);
- Pegawai pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD);
- Pegawai pada badan Peradilan (Peradilan Umum, Peradilan Agama,
Peradilan Militer, Peradilan Tata usaha Negara);
- Anggota TNI dan POLRI serta PNS di Lingkungan TNI dan POLRI;
- Pimpinan dan Pegawai di Lingkungan Pemerintah Daerah;

Berdasarkan hasil pemeriksaan persidangan, TERDAKWA telah terbukti


memberikan satu buah koper berisi uang Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar
rupiah) dalam pecahan 97.000 USD yang dapat dikategorikan sebagai
bentuk pemberian hadiah atau gratifikasi, kepada sdr. ADE ANDALAS
yang merupakan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Riau, yang
merupakan Instansi Vertikal di bawah Direktorat Jenderal Pajak,
Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yang mana hal tersebut
menunjukan bahwa ADE ANDALAS merupakan PEGAWAI NEGERI
karena merupakan Orang yang menerima gaji atau upah dari
keuangan Negara atau daerah.

c. Unsur Karena atau berhubungan dengan sesuatu yang


bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan
dalam jabatannya :
Bahwa tindakan sdr. ADE ANDALAS yang merupakan Kepala Kantor
Pelayanan Pajak Riau, yang merupakan Instansi Vertikal di bawah
Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan Republik Indonesia
dengan telah sengaja mengurangi tunggakan pajak perusahaan PT. Citra
Abadi menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh miliyar rupiah), dari
seharusnya Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliyar rupiah) adalah
bertentangan dengan tugas pokok, fungsi dan kewajibannya.

20
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Berdasarkan hasil pemeriksaan persidangan, TERDAKWA telah terbukti


memberikan satu buah koper berisi uang Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar
rupiah) dalam pecahan 97.000 USD yang dapat dikategorikan sebagai
bentuk pemberian hadiah atau gratifikasi, kepada sdr. ADE ANDALAS
yang merupakan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Riau, yang merupakan
Instansi Vertikal di bawah Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian
Keuangan Republik Indonesia, yang mana hal tersebut menunjukan
bahwa ADE ANDALAS merupakan PEGAWAI NEGERI karena merupakan
Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan Negara atau daerah,
agar kemudian sdr. ADE ANDALAS mengurangi tunggakan pajak
perusahaan PT. Citra Abadi menjadi Rp. 40.000.000.000 (empat puluh
miliyar rupiah), dari seharusnya Rp. 50.000.000.000 (lima puluh
miliyar rupiah) yang bertentangan dengan tugas pokok, fungsi dan
kewajibannya.

Hal-hal yang memberatkan terdakwa :


1. Bahwa tindakan terdakwa telah merugikan keuangan negara
2. Bahwa tindakan terdakwa telah mencederai semangat anti korupsi
3. Bahwa tindakan terdakwa telah mengakibatkan pegawai negeri
menjadi tergoda melakukan kecurangan
4. Bahwa tindakan terdakwa telah menguntungkan pihak-pihak
tertentu
Hal-hal yang meringankan terdakwa :
1. Bahwa terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya
2. Bahwa terdakwa mengakui perbuatannya
3. Bahwa terdakwa berlaku baik selama persidangan

MENUNTUT
Agar Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, yang
memeriksa dan mengadili perkara ini menyatakan terdakwa :
Nama : EKO SUDJATMIKO
Tempat Lahir : JAKARTA

21
Kelompok 1
Penanganan Perkara Pidana Kelas A

Umur/Tgl Lahir : 24 MEI 1980


Jenis Kelamin : PRIA
Agama : ISLAM
Kewarganegaraan : INDONESIA
Pekerjaan : SWASTA
Alamat : KOMPLEK CENDANA NO. V/12 RUMBAI, PROVINSI RIAU

1. Manyatakan terdakwa bersalah melakukan bersalah melakukan


tindak pidana dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b UU No. 20 Tahun 2001
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
2. Menjatuhkan Pidana selama 3 tahun penjara potong masa tahanan
dan denda sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
3. Menyatakan barang bukti berupa :
a. Satu buah koper berwarna hitam, disita untuk negara.
b. Uang Rp. 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah) dalam
pecahan 97.000 USD, disita untuk negara.
c. Dua buah handphone merek Nokia, dikembalikan kepada
terdakwa.
4. Menyatakan terdakwa membayar ongkos perkara sebesar Rp.
20.000,- (dua puluh ribu rupiah)
5. Menyatakan terdakwa tetap dalam rumah tahanan negara
DENPOM GUNTUR.

Demikianlah tuntutan Pidana ini.

Jakarta, 30 Desember 2016.


Jaksa Penuntut Umum pada KPK

1. Suheti Juandari, S.H., M.H.


Jaksa Muda, NIP 230614543

2. Ario Patra S.H., M.H.


Jaksa Muda, NIP 230013562

22