Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Herpes Zoster merupakan penyakit yang disebabkan oleh reaktivasi infeksi


virus varisela-zoster yang terjadi sebelumnya, yang menyebabkan munculnya ruam
kulit yang terlokalisir dan sangat nyeri, biasanya disertai vesikel yang ditemukan di
atas kulit eritema.1,2,5
Herpes zoster terjadi secara sporadis sepanjang tahun, prevalensinya tidak
tergantung musim. Kejadian herpes zoster tidak dipengaruhi oleh prevalensi varisela
dan tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa herpes zoster dapat ditularkan
melalui kontak dengan orang yang sedang mengalami varisela atau herpes zoster.
Insiden penyakit ini ditentukan oleh faktor yang mempengaruhi hubungan antara
hospes dengan virus (virus varisela-zoster).2,7,11 Di seluruh dunia., insiden herpes
zoster diperkirakan antara 2-3 kasus per 1000 penduduk tiap tahunnya. Insiden
penyakit ini meningkat pada orang dengan penurunan sistem kekebalan tubuh atau
pada orang tua, insidennya mencapai 50%.3,4
Patogenesis herpes zoster belum sepenuhnya diketahui. Selama terjadinya
varisela, VZV (varicela-zoster virus) berpindah tempat dari lesi kulit dan permukaan
mukosa ke ujung saraf sensoris dan didistribusikan ke ganglion sensoris. Pada
ganglion tersebut terjadi infeksi laten (dorman), dan sewaktu-waktu dapat terjadi
reaktivasi virus. Herpes zoster pada umumnya terjadi pada dermatom sesuai dengan
lokasi ruam varisela yang terpadat. Aktivasi virus ini diduga karena suatu kedaan
tertentu yang berhubungan dengan imunosupresi.2,6,7
Komplikasi herpes zoster dapat terjadi pada 10-15% kasus, komplikasi yang
terbanyak adalah neuralgia paska herpetik yaitu berupa rasa nyeri yang persisten
setelah krusta terlepas. Komplikasi ini terutama dijumpai pada pasien dengan usia di
atas 40 tahun. Makin tua penderita, makin tinggi kemungkinan komplikasi yang
ditimbulkan.5,7,11
Secara umum pengobatan herpes zoster mempunyai 3 tujuan utama yaitu
mengatasi infeksi virus akut, mengatasi nyeri akut yang ditimbulkan oleh virus herpes
zoster dan mencegah timbulnya neuralgia paska herpetik.5,10
Sebuah penelitian kohort retrospektif menemukan penurunan kejadian herpes
zoster pada seseorang dengan usia 60 tahun atau lebih yang mendapatkan vaksinasi
herpes zoster. Sebuah penelitian lain mengungkapkan bahwa imunisasi terhadap virus
1
varisela zoster dapat mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan penyakit herpes
zoster serta komplikasinya terutama neuralgia post herpetik.4,5,9
Pentingnya pemahaman terhadap herpes zoster, sehingga dapat mencegah
komplikasi terutama neuralgia paska herpetik dan memberikan penanganan yang tepat
terhadap komplikasi yang ditimbulkan.2,5

2
BAB II
STATUS PASIEN

2.1 IDENTITAS
Nama : Tn. A S
Usia : 30 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Kuli Bangunan
Status : Menikah
Alamat : Mangunjagan Rt 11/Rw 05
Tanggal Pemeriksaan : 27/06/2016

2.2. ANAMNESIS (Autoanamnesa)


Keluhan Utama:
Muncul gelembung-gelembung berisi cairan keruh keabuan yang
bertambah banyak disertai rasa semakin nyeri dan panas di kulit pinggang
dan punggung kiri sejak 5 hari SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke Poliklinik Kulit Kelamin
RSUD Banjar dengan keluhan muncul gelembung-gelembung berisi cairan
keruh keabuan yang bertambah banyak disertai rasa semakin nyeri dan panas
di kulit pinggang dan punggung kiri sejak 5 hari SMRS. Pasien mengatakan
sebelum muncul keluhan pada kulitnya, pasien tiba-tiba merasakan demam
yang dirasakan hilang timbul saat malam hari sekitar jam 6 hingga 10 malam
namun tidak pernah mengukur suhu tubuhnya, demam disertai lemas, dan
pusing. Pasien juga mengeluhkan nyeri, pegal, perih, dan panas pada
pinggang dan punggung kirinya. Kemudian beberapa hari setelah pasien
merasakan keluhan tersebut pada kulit muncul bintik bintik kecil
kemerahan, bintik bintik tersebut semakin lama semakin banyak, dua hari
kemudian, bintik bintik tersebut menjadi membesar membentuk gelembung
gelembung. Kemudian kulit yang bergelembung tersebut awalnya berisi
cairan jernih yang lama kelamaan menjadi keruh keabuan. Pasien mengeluh
gatal, perih, panas dan nyeri pada kulit yang bergelembung tersebut. Keluhan
3
gatal dirasakan saat pasien sedang beristirahat, sedangkan panas, perih dan
baal dirasakan pasien setiap saat. Pasien mengaku bahwa tidak pernah
menggaruk-garuk kulitnya saat gatal.
Pasien mengaku belum pernah mengalami keluhan yang sama
sebelumnya, tetapi pasien mengatakan pernah terkena sakit cacar air ketika
masih duduk di bangku sekolah menengah atas, pasien menyangkal menderita
penyakit kronis seperti TB Paru, dan HIV. Pasien menyangkal pernah
melakukan hubungan seksual selain dengan istirnya, pasien tidak
mengkonsumsi obat-obatan jangka waktu panjang, tidak terpapar bahan kimia
sebelumnya, menyangkal terkena gigitan serangga, tidak ada alergi terhadap
obat, makanan maupun udara. Keluarga pasien tidak ada yang mengalami hal
seperti ini. Tetangga ataupun rekan kerjanya juga tidak ada yang seperti
pasien.
Pasien mengatakan sudah berobat ke puskesmas, diberikan salep
acyclovir 2 kali sehari, dan obat acyclovir yang diminum 5 kali sehari, namun
belum ada perbaikan.
Sehari hari pasien bekerja sebagai kuli bangunan, akhir akhir ini
pasien merasakan pekerjaan bertambah berat sehingga pasien kelelahan, dan
pasien merasa tertekan karena masalah rumah tangganya. Pasien mengaku
rutin mandi untuk menjaga kebersihan tubuhnya, sehari pasien mandi 1-2 kali
sehari. Namun karena sakit 5 hari belakang ini hanya di usap atau dibersihkan
dengan air hangat saja di badannya.

2.3. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan
Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
RR : 22 x/ menit
Suhu : 37.2 0 C
Nadi : 80 x/ menit

Status Generalisata:
Kepala : Normochepal, rambut hitam distribusi merata
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Hidung : Septum deviasi (-), sekret (-/-)
Mulut : Mukosa bibir kering (-), stomatitis (-)

4
Leher : Pembesaran KGB (-)
Thorax : Paru : Pergerakan dada simetris, vesikuler (-/-)
Jantung : Ictus cordis teraba di ICS 5, BJ I dan II reguler
Abdomen : Tampak datar, supel, BU normal
Ekstremitas : Akral hangat (+/+), edema (-/-)

Status Dermatologikus

Distribusi Regional, unilateral, segmental


Pinggang kiri setinggi persarafan T11-L1 dan punggung kiri
A/R
setinggi persarafan T7-L2
Multipel, sebagian diskret sebagian konfluens, batas tegas,
menimbul permukaan kulit, ukuran terkecil 0.5cm x 0.3cm x
Lesi
0.3cm ukuran terbesar 1.5cm x 0.6cm x 0.4cm, sebagian basah
dan sebagian kering
Makula eritematosus, papul eritematosus, vesikel, bula, pustul,
Efloresensi
krusta, skuama halus

Gambar 1 : Gambaran Dermatom Sensorik

5
6
GAMBAR 1 FOTO PASIEN

2.4 RESUME

Seorang laki-laki, 30 tahun dengan keluhan muncul gelembung-


gelembung berisi cairan keruh keabuan yang bertambah banyak disertai rasa
semakin nyeri dan panas di kulit pinggang dan punggung kiri sejak 5 hari
SMRS. Sebelum muncul keluhan pada kulitnya, pasien merasakan demam
(+), lemas (+), pusing (+), nyeri (+), pegal (+), perih (+), dan panas pada
pinggang dan punggung kirinya. Setelah itu muncul bintik bintik kecil
kemerahan, yang semakin banyak, kemudian, menjadi membesar
membentuk gelembung gelembung, berisi cairan jernih yang menjadi
keruh keabuan. Pasien mengeluh gatal, dan nyeri pada kulit yang
bergelembung tersebut, sedangkan panas, perih dan baal dirasakan pasien
setiap saat. Pasien pernah terkena sakit cacar air. Pasien mengaku kelelahan
dan stress. Higenitas kurang.

Pemeriksaan Fisik :
Status Dermatologikus :

7
Distribusi : Regional, unilateral, segmental
A/R : Pinggang kiri setinggi persarafan T11-L1 dan punggung kiri setinggi
persarafan T7-L2
Lesi : Multipel, sebagian diskret sebagian konfluens, batas tegas, menimbul
permukaan kulit, ukuran terkecil 0.5cm x 0.3cm x 0.3cm ukuran terbesar
1.5cm x 0.6cm x 0.4cm, sebagian basah dan sebagian kering
Efloresensi : Makula eritematosus, papul eritematosus, vesikel, bula, pustul,
krusta, skuama halus

2.5 DIAGNOSIS BANDING

Herpes Zoster Thoracolumbalis Sinistra


Herpes Simpleks
Impetigo Vesikobulosa

2.6 DIAGNOSIS KERJA


Herpes Zoster Thoracolumbalis Sinistra
2.7 ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium : Darah rutin, test fungsi hati dan ginjal

Tzanck smear

2.8 RENCANA PENATALAKSANAAN

o Non-Medikamentosa
1. Menerangkan kepada pasien mengenai penyakit yang diderita
pasien.
2. Menyarankan agar pasien tidak keluar rumah karena penyakit
tersebut merupakan penyakit menular.
3. Memberikan informasi agar pasien beristirahat yang cukup serta
meningkatakan intake makanan.
4. Memberikan informasi agar lesi tidak digaruk dan memakai baju
yang longgar.

8
5. Memberikan informasi bahwa lesi boleh dibersihkan dengan air,
tapi jangan digosok agar gelembung tidak pecah.
6. Kontrol jika obat habis.

o Medikamentosa

Sistemik
Asam Mefenamat 3 x 500 mg
Mecobalamin 3 x 500 mg
Acyclovir 5 x 800 mg/hari, selama 7-10 hari

2.9 PROGNOSIS
Quo Ad Vitam : Ad Bonam
Quo Ad Functionam : Ad Bonam
Quo Ad Sanationam : Ad Bonam

BAB III
ANALISA KASUS

A. Mengapa pada pasien ini di diagnosis Herpes Zoster?


1. Berdasarkan Anamnesis

Seorang laki-laki berusia 30 tahun.


Sesuai dengan teori Pada studi epidemiologi di Amerika Serikat, hampir
100% dari orang dewasa yang seropositif antibodi anti-VZV oleh dekade ketiga
kehidupan dan dengan demikian beresiko reaktivasi laten VZV. Lebih dari
500.000 kasus HZ per tahun. Kejadian seumur hidup kumulatif: 10-20%.
Penyakit ini lebih sering pada usia dewasa, biasanya 20-50 tahun.1,7
2/3 kasus dilaporkan usia >50 tahun dari 10 % usia <20 tahun. Herpes zoster
jarang dijumpai pada usia dini, namun bila terjadi kemungkinan dihubungkan
dengan terjadinya verisela saat kehamilan.5,11

Awal keluhan hanya berupa bintik-bintik merah kecil. Semakin lama, bintik-
bintik tersebut semakin membesar membentuk gelembung yang berisi
cairan keruh keabuan disertai rasa gatal, nyeri, panas dan baal sesuai
dermatomal.

9
Sesuai dengan teori Eritema dalam waktu singkat menjadi vesikel
herpetiformis dengan dasar eritematus dan edema terbatas pada kulit yang
terinervasi saraf sensoris yang terasa nyeri. Vesikel tersebut berisi cairan yang
jernih, kemudian menjadi keruh, dapat menjadi pustul dan krusta. Terkadang
vesikel mengandung darah yang disebut sebagai herpes zoster hemoragik. Dapat
pula menimbulkan infeksi sekunder sehingga menimbulkan ulkus dengan
penyembuhan berupa sikatrik. 2,4,6 Rasa gatal, nyeri, panas dan hiperestesi pada
daerah yang terkena memberi gejala yang khas.1,2,5,7

Sebelum muncul keluhan pada kulit terdapat gejala prodormal yakni demam,
lemas, pusing, pegal badan, nyeri otot dan nyeri.
Sesuai dengan teori Gejala prodromal dapat berupa gejala sistemik dan gejala
lokal. Gejala sistemik seperti demam, malaise, dan nyeri kepala. Gejala lokal
berupa nyeri otot atau tulang, gatal, pegal, dan nyeri atau neuralgia pada daerah
dermatom yang terkena.2,3,7,11

Pernah terkena sakit cacar saat masih duduk di bangku sekolah menegah atas.
Sesuai dengan teori Penyakit ini merupakan reaktivasi dari virus setelah
infeksi primernya dalam bentuk varisela.2,6,7

Akhir-akhir ini pasien kelelahan dan stress


Sesuai dengan teori Virus varicella akan masuk ke ganglion sensoris dan
disana ia menetap sebagai infeksi laten. Pada suatu saat apabila ada trigger
seperti imunosupresi, trauma tumor, dan usia tua. Maka virus akan teraktivasi. 2,7

2. Berdasarkan pemeriksaan fisik ditemukan adanya efloresensi makula


eritematosus, papul eritematosus, vesikel, bula, pustul, krusta, skuama halus
Sesuai dengan teori Eritema dalam waktu singkat menjadi vesikel
herpetiformis dengan dasar eritematus dan edema terbatas pada kulit yang
terinervasi saraf sensoris yang terasa nyeri. Vesikel tersebut berisi cairan yang
jernih, kemudian menjadi keruh, dapat menjadi pustul dan krusta. 2,4,6,11

10
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang di dapatkan, dan
disesuaikan dengan teori yang ada, sehingga dapat memenuhi kriteria diagnosis
Herpes Zoster.

3. Berdasarkan Anjuran Pemeriksaan Penunjang pada pasien ini


didapatkan

Pemeriksaan laboratorium : Darah rutin, test fungsi hati dan ginjal

Pada pasien ini belum dilakukan pemeriksaan penunjang, namun
berdasarkan teori Herpes Zoster dapat dilakukan pemeriksaan Tzanck
smear melihat multinucleated giant cell, untuk virus dan
vesikobulosa.2,4,10

4. Diagnosis Banding yang dipilih?


Pada laporan kasus ini, diambil beberapa diagnosis kerja yaitu Herpes Zoster,
Herpes Simpleks dan Impetigo Vesiko-bulosa berdasarkan gejala klinis dan
teori.
1. Herpes Zoster
a. Definisi : Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela-
zoster.2,5,6,7
b. Penyebab : Virus varisela-zoster.1,2,5,7,11
c. Umur : Lebih sering pada orang dewasa, Lebih dari 66%
adalah> 50 tahun; 5% dari kasus pada anak-anak <15 tahun.1,2,7,11
d. Jenis Kelamin : Frekuensi pria sama dengan wanita
e. Transmisi :Populasi pada suatu tempat mempermudah penularan.
(penularan : dapat kontak langsung) 7,11
f. Faktor risiko : Peningkatan usia, berkurang kekebalan, Pemberian
terapi imunosupresif, Immunocompromise.1,2,5,8
g. Predileksi : Thorakal (> 50%), ophthalmic (10-20%) lumbosakral
dan servikal (10-20%).7,8,11
h. Efloresensi : Makula eritematosa, papul dan vesikel berkelompok,
bulla,krusta.1,2,8,9
i. Gejala Klinis : Sebelum timbul gejala kulit terdapat, gejala prodromal
baik sistemik [demam, pusing, malese], maupun gejala prodromal
lokal [nyeri otot-tulang, gatal, pegal, dan sebagainya], anoreksia dan
rasa terbakar, pembesaran KBG. 1,2,7,11

11
Pada kasus pasien ini didapatkan :
-
Usia lebih sering pada dewasa.1,8,10,11
-
Demam, lemas, pusing, pegal badan, nyeri otot dan nyeri, sebelumnya pernah
terkena cacar, kelelahan dan stress diduga sebagai faktor predisposisi
reaktivasi virus varisela zoster.2,5,7
-
Pasien mengeluh gatal, perih, panas dan nyeri pada kulit yang bergelembung
yang merupakan gejala prodromal.2,4,5
-
Distribusi lesi : regioner, unilateral, segmental Sesuai dengan teori;
lokalisasi penyakit ini adalah unilateral dan bersifat dermatomal sesuai dengan
tempat persarafan. 1,2,8
-
Predileksi pinggang dan punggung sesuai teori terjadinya herpes zoster
didaerah Thorakal, ophthalmic, lumbosakral dan servikal.1,7,11
-
Adanya efloresensi makula eritematosus, papul eritematosus, vesikel, bula,
pustul, krusta, skuama halus sesuai dengan teori; setelah timbul eritema
yang dalam waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar
kulit yang eritematosa dan edema. Vesikel ini berisi cairan yang jernih,
kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu), dapat menjadi pustul dan krusta.
2,7,10

2. Herpes Simpleks
a. Definisi : Penyakit yang disebabkan oleh virus herpes simpleks.2
b. Penyebab : VHS tipe I dan II.2
c. Umur : Infeksi primer VHS tipe 2 usia anak-anak. VHS tipe
2 pada usia decade II/III.1,2
d. Jenis Kelamin : Pria sama dengan wanita

12
e. Transmisi :Biasanya kulit-kulit, kulit-mukosa, mukosa-kulit
(Berhubungan dengan aktivitas seksual).7,9,11
f. Faktor risiko : Individu yang aktif secara seksual, Imunodefisiensi.
g. Predileksi :Labialis:HSV-1(80-90%), HSV-2(10-20%). urogenital:
HSV-2(70-90%), HSV-1 (10-30%). Herpetic whitlow: <20 tahun
biasanya HSV-1; > 20 tahun, biasanya HSV-2.2,5,6
h. Efloresensi :Papul eritema, vesikel herpetiformis, krusta,
erosi/ulkus.2,9,11
i. Gejala Klinis : Demam, malaise, nyeri kepala, myalgia, anoreksia,
pembesaran KBG, Infeksi rekuren biasanya didahului gatal atau
sensasi terbakar setempat pada lokasi yang sama dengan lokasi
sebelumnya. 7,10,11

Pada kasus pasien ini didapatkan :


Keluhan berupa bitnik-bintik kecil merah, semakin lama, bintik-bintik merah
tersebut semakin membesar membentuk gelembung yang berisi cairan keruh
keabuan disertai rasa nyeri, panas dan baal sesuai dermatom tidak sesuai
dengan teori; vesikel pada dasar eritematous kemudian muncul, diikuti dengan
adanya pustule dan ulserasi. 1,9,11
Distribusi lesi, tidak sesuai dengan teori herpes simpleks biasanya tersebar
pada daerah mukokutan HSV 1 dikaitkan dengan penyakit orofacial,
sedangkan HSV 2 dikaitkan dengan penyakit genital.2,7,9

3. Impetigo vesikobulosa
a. Definisi : Penyakit yang disebabkan oleh Staphylococcus
aureus. 2,7
b. Penyebab : Staphylococcus aureus
c. Umur : Umumnya bayi dan anak-anak <5 tahun.1,2

13
d. Jenis Kelamin : Frekuensi pria sama dengan wanita
e. Transmisi : Kontak langsung
f. Faktor risiko : Higienitas yang buruk, immunocompromised
g. Predileksi : Ketiak, dada, punggung.2,8,11
h. Efloresensi : Eritema, bula, dan bula hipopion,
koleret.1,2,4
i. Gejala Klinis : Gatal, diare, sering bersama-sama miliaria.2,9

Pada kasus, dari segi usia tidak sesuai dengan teori karena pada penyakit
impetigo bullosa ini dapat menyerang anak-anak.2
Diketahui pasien mempunyai keluhan atau lesi yaitu vesikel berisi cairan
keruh, pasien juga mengeluh nyeri pada gelembung-gelembung tersebut
namun pada impetigo bullosa tidak ditemukan keluhan seperti ini.8,10
Awal keluhan hanya berupa bintik-bintik kecil di pinggang dan punggung kiri,
semakin lama bintik-bintik merah tersebut semakin membesar membentuk
gelembung yang berisi cairan keruh keabuan disertai rasa nyeri, panas, baal
sesuai dermatom tidak sesuai dengan teori; tempat predileksi tersering pada
impetigo bulosa adalah di ketiak, dada, punggung.6,7,11
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik sudah dapat menyingkirkan diagnosa
Impetigo Vesikobulosa namun untuk lebih memastikan dapat pula dilakukan
pemeriksaan Tzanck smear.
Tabel Diagnosis Banding :

KETERANGAN PASIEN HERPES ZOSTER HERPES SIMPLEKS IMPETIGO


VESIKOBULOSA
Penyakit yang disebabkan oleh virus + + -
Usia 30 tahun + + -/+
Jenis kelamin laki-laki + + +
Muncul gelembung-gelembung

14
berisi cairan keruh keabuan yang + + -
bertambah banyak disertai rasa
semakin nyeri dan panas
Sebelumnya pasien merasakan nyeri,
pegal, perih, dan panas pada + + -
pinggang dan punggung kirinya,
mengeluh demam, lemas, dan pusing
Riwayat terkena cacar di bangku + - -
sekolah menengah atas
Kelelahan, stress, insomnia + - -
Tempat predileksi pasien : Pinggang
dan punggung kiri + - +
Lesi pada pasien: Multipel, sebagian
diskret sebagian konfluens, batas
tegas, menimbul permukaan kulit,
ukuran terkecil 0.5cm x 0.3cm x + + -
0.3cm ukuran terbesar 1.5cm x
0.6cm x 0.4cm, sebagian basah dan
sebagian kering
Efloresensi pada pasien : Makula
eritematosus, papul eritematosus, + + -
vesikel, bula , krusta, skuama halus

5. Berdasarkan Penatalaksanaan
Terapi yang diberikan pada pasien :
Non-Medikamentosa
1. Menerangkan kepada pasien mengenai penyakit yang diderita
pasien.
2. Menyarankan agar pasien tidak keluar rumah karena penyakit
tersebut merupakan penyakir menular.
3. Memberikan informasi agar pasien beristirahat yang cukup dan
menghindari kelelahan serta meningkatkan intake makanan.
4. Memberikan informasi agar lesi tidak digaruk dan memakai baju
yang longgar.
5. Memberikan informasi bahwa lesi boleh dibersihkan dengan air, tapi
jangan digosok agar gelembung tidak pecah.
6. Kontrol jika obat habis.

15
I. Sistemik
1. Analgetik
Analgetik diberikan untuk mengurangi neuralgia yang ditimbulkan
oleh virus herpes zoster. Obat yang biasa digunakan adalah asam
mefenamat atau golongan acetaminofen. Dosis asam mefenamat adalah
1500 mg/hari diberikan sebanyak tiga kali, atau dapat juga dipakai
seperlunya ketika nyeri muncul.10,11
Asam Mefenamat merupakan kelompok antiinflamasi non steroid,
bekerja dengan cara menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan
tubuh dengan menghambat enzim siklooksigenase sehingga
mempunyai efek analgesik, anti inflamasi dan antipiretik.11
Indikasi : Meredakan nyeri ringan sampai sedang sehubungan dengan
sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena
trauma, nyeri otot dan nyeri sesudah operasi.
Kontra indikasi : Pasien yang hipersensitif terhadap Asam
Mefenamat, pasien yang dengan aspirin mengalami bronkospasme,
alergi rhinitis dan urtikaria, penderita dengan tukak lambung dan usus,
penderita dengan gangguan ginjal yang berat.
Efek Samping : Sistem pencernaan: mual, muntah, diare dan rasa sakit
pada abdominal. Sistem hematopoetik, leukopenia, eosinophilia,
trombocytopenia, dan agranulocytopenia. Sistem saraf: rasa
mengantuk, pusing, penglihatan kabur dan insomnia. Dosis Pemakaian
Dewasa dan anak-anak > 14 tahun. Dosis awal : 500 mg, kemudian
dianjurkan 250 mg tiap 6 jam sesuai kebutuhan. 9,10,11,12

2. Antiviral
Indikasi obat antiviral ialah herpes zoster oftalmikus dan pasien
dengan defisiensi imunitas mengingat komplikasinya. Obat yang biasa
digunakan ialah asiklovir dan modifikasinya, misalnya valasiklovir.
Obat yang lebih baru ialah famsiklovir dan pensiklovir yang
mempunyai waktu paruh eliminasi yang lebih lama sehingga cukup
diberikan 3x250 mg sehari. Obat-obat tersebut diberikan dalam 3 hari
pertama sejak lesi muncul. Dosis asiklovir yang dianjurkan ialah 5x800

16
mg sehari dan biasanya diberikan 7 hari. Sedangkan valasiklovir cukup
3x1000 mg sehari karena konsentrasi dalam plasma lebih tinggi. Jika
lesi baru masih tetap muncul obatobatan tersebut masih dapat
diteruskan dan dihentikan sesudah 2 hari sejak lesi baru tidak timbul
lagi.2
Indikasi : Untuk mengobati herpes zoster, herpes simplex virus, herpes
zoster. Herpes labialis, HVS encephalitis, neonatal HSV, mukokutan
HSV pada pasien yang memiliki respon imun yang diperlemah
(immunocompromised).10,11,12
Kontraindikasi : hipersentifitas pada acyclovir, valaclovir, atau
komponen lain dari formula.
Efek samping : pada sistem saraf pusat dilaporkan terjadi malaise
sekitar 12% dan sakit kepala 2%. Sistem pencernaan terjadi mual 2-
5%, muntah 3% dan diare 2-3%. Peningkatan sementara enzim-enzim
yang berhubungan dengan bilirubin dan hati, sedkit peningkatan urea
dan kreatinin darah.
3. Mecobalamine
Metilkobalamin adalah metabolit dari vitamin B12 yang berperan
sebagai koenzim dalam proses pembentukan methionin dari
homosystein. Reaksi ini berguna dalam pembentukan DNA, serta
pemeliharaan fungsi saraf. Melalui reaksi metilasi metilkobalamin juga
berperan dalam pembentukan lesithin, suatu protein yang sangat
berperan pada regenerasi saraf tepi termasuk proses pembentukan
myelin. Proses ini membuat metilkobalamin banyak dipakai pada
kasus-kasus neuropati, misalnya neuropati diabetika dimana dasar
proses patologis yang tejadi adalah kerusakan saraf akibat reaksi-reaksi
yang terjadi dalam kondisi hiperglikemia. Kerusakan saraf ini akan
menimbulkan ectopic discharge, suatu kondisi yang dapat menjelaskan
timbulnya gejala-gejala, terutama gejala positif pada neuropati
diabetika. Integritas fungsi metilkobalamin dalam proses pembentukan
DNA dan regenerasi saraf menjadi dasar penggunaan obat ini pada lesi
saraf tepi lainnya seperti lesi traumatik, vertigo perifer, tinitus,
neuralgia trigeminal ataupun oksipital, dan lain-lain. 8,9,11
Indikasi : Neuropati perifer dan neuropati diabetik.8,12
17
Kontraindikasi : Pasien yang hipersensitif
Efek samping : Termasuk nyeri kepala dan sensasi rasa panas (<1%),
diaforesis dan nyeri/indurasi pada tempat penyuntikan, Dengan terapi
oral, gejala traktus gastrointestinal seperti anoreksia, mual/muntah, dan
diare adalah manifestasi yang sering terjadi, tetapi insidensinya kurang
dari 1%. kejadian reaksi anafilaksis dan ruam hipersensitif telah
dilaporkan terjadi pada pasien dengan insidens < 0,1%. Tidak
ditemukan perubahan kadar merkuri pada darah maupun rambut dari
pasien-pasien yang menerima terima oral metilkobalamin.810,11

6. Analisis Prognosis
Quo Ad vitam: Ad Bonam Tidak ada gejala atau tanda yang mengarah
kepada ancaman kematian. Keadaan umum, kesadaran, dan tanda vital pasien
masih dalam batas normal.
Quo Ad functionam: Ad Bonam tidak menimbulkan lesi yang tidak
mengganggu fisiologis kulit secara bermakna.
Quo Ad Sanactionam: Ad Bonam Dengan menghilangkan faktor
predisposisi maka penyakit ini dapat diobati secara tuntan dan sembuh.

Terhadap penyakitnya pada dewasa dan anak-anak umumnya baik,


tetapi usia tua risiko terjadinya komplikasi semakin tinggi, dan secara
kosmetika dapat menimbulkan makula hiperpigmentasi atau sikatrik. Dengan
memperhatikan higiene & perawatan yang teliti akan memberikan prognosis
yang baik & jaringan parut yang timbul akan menjadi sedikit.3,4

BAB IV
PENUTUP
18
4.1 Kesimpulan

Herpes zoster adalah radang kulit akut dan setempat yang khas ditandai oleh
adanya nyeri radikuler unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang terbatas pada
dermatom yang dipersarafi serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf
sensoris dari nervus kranialis. Infeksi ini merupakan reaktivasi virus varisela zoster
endogen yang menetap dalam fase laten di ganglia sensoris. Pada pasien ini
didiagnosa dengan herpes zoster karena berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik
menunjang kearah diagnosis penyakit herpes zoster. Terapi pada pasien ini meliputi
terapi sistemik dengan tujuan untuk mengatasi infeksi virus akut, mengatasi nyeri akut
yang ditimbulkan oleh virus herpes zoster, mencegah timbulnya neuralgia pasca
herpetik. Herpes zoster merupakan suatu konsekuensi klinis dari reaktivasi virus VZV
yang dormant, diduga reaktivasi virus ini akibat suatu proses imunosupresi.

19