Anda di halaman 1dari 22

Rancang Bangun dan Pengujian Mengenai Turbin Angin

Sumbu Horizontal Sebagai Penggerak Mula Pompa Torak

Disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Tugas Operasi Sistem Energi

Disusun Oleh :

1. Hafiyyan Kautsar (141711043)


2. Ilham Nugraha (141711046)
3. Kurniawan (141711047)

DEPARTEMEN TEKNIK KONVERSI ENERGI


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2017

I-1
I-2

BAB I
PENDAHULUAN
I. 1. Latar Belakang

Salah satu energi terbarukan yang berkembang pesat di dunia saat ini adalah energi
angin. Energi angin merupakan energi terbarukan yang sangat fleksibel. Indonesia merupakan
negara tropis yang memiliki potensi angin, namun sampai saat ini tenaga angin masih jarang
dimanfaatkan sebagai sumber energi. Energi angin sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk
berbagai keperluan misalnya untuk pemompaan air untuk irigasi, pembangkit listrik, pengering
atau pencacah hasil panen, aerasi tambak ikan/udang, pendingin ikan pada perahu-perahu
nelayan dan lain-lain. Selain itu, pemanfaatan energi angin dapat dilakukan baik di daerah
landai maupun dataran tinggi, bahkan dapat di terapkan di laut.

Salah satu jenis turbin angin yang umumnya digunakan adalah jenis turbin angin
sumbu horizontal. Turbin angin sumbu horizontal merupakan turbin angin yang memiliki
sumbu putar terletak sejajar dengan permukaan tanah, selain itu sumbu putar rotornya selalu
searah dengan arah angin. konsep turbin axial adalah menyerupai baling-baling yang
menangkap energi angin dan mengubahnya menjadi energi gerak poros. Layaknya seperti
mesin pada umumnya, setiap turbin angin memiliki nilai efisiensi yang berbeda beda dan hal
ini ditentukan oleh bentuk sudu, sudut sudu, bentuk ekor, material bahan pembuat turbin angin,
bentuk transmisi, dan jumlah sudu.

Daya keluaran yang dihasilkan turbin angin ini akan dimanfaatkan sebagai penggerak
mula pompa. Pompa merupakan alat konversi energi yang mengubah energi putar menjadi
energi tekan untuk dapat menaikkan atau mengalirkan fluida dari satu tempat ke tempat lainnya.
Jenis pompa yang digunakan yaitu pompa torak. Hal ini dikarenakan pompa ini dapat
memanfaatkan gerak rotasi dari poros menjadi gerak translasi untuk dapat menarik air.

Dalam tugas mata kuliah operasi sistem energi ini akhir ini kami akan melakukan
rancang bangun dan pengujian mengenai turbin angin sumbu horizontal sebagai penggerak
mula pompa torak.
I-3

I. 2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas dapat dirumuskan masalah
masalah yang akan dihadapi dalam tugas akhir ini diantaranya adalah

1. Proses perancangan turbin angin.


2. Cara menentukan kontruksi, material, dan proses pembuatan turbin angin sumbu
horizontal
3. Mengidentifikasi kinerja turbin angin sumbu horizontal sebagai penggerak mula
pompa torak.

I. 3. Tujuan

Adapun Tujuan dari pelaksanaan tugas akhir ini adalah :

1. Membuat turbin angin sumbu horizontal upwind.


2. Mengidentifikasi kinerja turbin angin sumbu horizontal upwind

I. 4. Batasan Masalah

Batasan masalah dalam pembuatan alat ini yaitu :

1. Pembuatan turbin angin sumbu horizontal upwind didesain dengan sudu tipe
multiblades dengan daya poros yang direncanakan sebesar 15 Watt.
2. Turbin angin yang akan dibuat dirancang untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah
tangga. Kecepatan angin yang diambil sebagai acuan minimumnya adalah 3 m/s.

I. 5. Metodologi
I. 5. 1. Studi Literatur

Studi literatur dilakukan dengan cara mencari informasi-infoormasi yang berhubungan


dengan turbin angin tipe horizontal dan pembuatannya dengan cara mempelajari materi-materi
dari buku-buku, mengunjungi situs internet, dan mengunjungi lembaga-lembaga atau pihak-
pihak yang berhubungan dengan bidang tersebut.
I-4

I. 5. 2. Bimbingan

Melakukan tanya jawab dan diskusi dengan pembimbing yang berkaitan dengan
penyusunan obyek studi tugas akhir yaitu pembuatan turbin angin tipe horizontal sebagai
penggerak mula pompa torak.

I. 5. 3. Pembuatan Alat

Pada pembuatan alat dilakukan terlebih dahulu peracangan turbin angin untuk
menentukan komponen rotor berupa sudu, batang sudu, dan hub. Penentuan komponen rotor
turbin angin diperlukan untuk mempermudah dalam proses pembuatannya. Perancangan alat
pertama-tama dilakukan dengan penentuan daya output turbin yang diinginkan. Hal ini
berdasarkan spesifikasi pompa torak yang akan digunakan sebagai pengujian. Setelah
perhitungan berdasarkan pada daya keluaran turbin, maka dapat ditemukan diameter sudu.
Tahap selanjutnya ditentukan lebar dan tebal sudu yang didapat berdasarkan perhitungan
dengan menggunakan rumus.

I. 5. 4. Pengujian Alat

Turbin angin tipe horizontal upwind yang telah selesai dibuat diuji di area dengan
target kecepatan angin 3-7 m/s.

I. 5. 5. Analisa dan unjuk kerja turbin

Unjuk kerja turbin dianalisa dengan melakukan pengambilan data dari turbin dengan
tujuan mengetahui performansi dari turbin angin tipe horizontal yang telah dibuat.

I. 5. 6. Pembuatan Laporan

Pembuatan laporan dapat dilihat secara rinci pada Sub Bab 1.6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
II. 1. Tinjauan Umum Mengenai Angin
II. 1. 1. Pengertian Angin

Angin adalah udara yang bergerak dari tekanan udara yang lebih tinggi ke
tekanan udara yang lebih rendah. Perbedaan tekanan udara disebabkan oleh adanya
perbedaan suhu udara akibat terjadinya pemanasan atmosfir yang tidak merata oleh
sinar matahari. Udara yang bergerak ini memiliki kecepatan tertentu, sehingga
udara tersebut memiliki energi kinetik.

II. 1. 2. Karakteristik Angin

Letak geografis Indonesia sebagai negara tropis yang berada di garis


khatulistiwa menyebabkan karakteristik angin di Indonesia sangat berbeda dengan
karakteristik angin di negara-negara maju yang sudah banyak memanfaatkan tenaga
angin sebagai pemasok energi listrik alternatifnya. Beberapa karakteristik angin di
Indonesia, antara lain :

1. Arah angin yang sering berubah-ubah.


2. Sering terjadi turbulensi.
3. Kecepatan rata-rata angin yang relatif rendah.
4. Kecepatan bertambah terhadap ketinggian (energi sebanding dengan
pangkat tiga kecepatan).
5. Potensi aktual ditentukan oleh distribusi kecepatan angin (topografi) lokasi.

II. 2. Turbin Angin Sumbu Horizontal

Turbin angin sumbu horizontal ialah jenis turbin angin yang paling banyak
digunakan. Turbin ini terdiri dari sebuah menara yang di puncaknya terdapat sebuah
baling-baling yang berfungsi sebagai rotor dan menghadap atau membelakangi arah
angin.

II-1
II-2

Dilihat dari jumlah sudu, turbin angin sumbu horizontal terbagi menjadi:

1. Turbin angin satu sudu (single blade)


2. Turbin angin dua sudu (double blade)
3. Turbin angin tiga sudu (three blade)
4. Turbin angin banyak sudu (multi blade)

1 2 3 4

Gambar II-1 Jenis turbin angin berdasarkan jumlah sudu

(Sumber: Sathyajith Mathew , hal 17)

Turbin angin sumbu horizontal dibedakan juga terhadap datangnya arah


angin terhadap rotor turbin, yaitu :

1. Upwind, apabila turbin angin diletakan mengahadap arah angin


(upwind memiliki rotor yang menghadap arah datangnya angin.
2. Downwind, apabila turbin angin dihadapkan membelakangi arah
angin
II-3

Gambar II-2 TASH Upwind dan Downwind

(Sumber : Eric Hau, 2006)

II. 3. Teori Momentum Elementer Betz

Turbin angin yang di asumsikan oleh Beltz adalah turbin angin yang ideal
yaitu turbin angin yang tidak mempunyai poros dan mempunyai jumlah sudu yang
tak terbatas tapi tidak menimbulkan gaya hambat (Drag Force) pada angin yang
melaluinya. Beltz mengasumsikan kecepatan udara yang melewati rotor dianggap
bergerak secara aksial.

Energi mekanik yang dihasilkan turbin angin besarnya akan sama dengan
energi kinetik angin sebelum melewati turbin angin dikurangi dengan energi kinetik
angin sesudah melewati turbiin angin. Jika angin yang melewati turbin angin
dianggap inkompresible, maka menurut hukum kontinuitas dapat ditulis:

1 1 = 2 2 ............................................................... (2.1)

Gambar II-3 Kondisi aliran udara akibat ekstraksi energi mekanik dari aliran
udara bebas sesuai dengan teori momentum elementer.
(Sumber : Eric Hau, 2006)

Energi kinetik dari massa udara sebesar m yang bergerak pada kecepatan
v dinyatakan sebagai :

1
= 2 ............................................................................... (2.2)
2
II-4

Dengan menganggap udara melalui luas penampang A pada waktu


tertentu, maka laju aliran udara tersebut menjadi

= . .....................................................................................(2.3)

Dan bila kerapatan udara adalah , maka laju aliran massa udara adalah

= . . ..................................................................................(2.4)

Dari persamaan-persamaan di atas didapat ekspresi daya angin seperti


berikut :

1
= . . 3 . ......................................................................... (2.5)
2

Energi mekanik yang dapat diekstraksi oleh konverter piringan dari


aliran udara merupakan selisih daya aliran udara sebelum dan sesudah melewati
konverter, yaitu :

1 1
= . 1 . 1 3 . 2 . 2 3 .................................................. (2.6)
2 2

Persamaan kontinuitas mensyaratkan :

. 1 . 1 = . 2 . 2 .................................................................. (2.7)

sehingga, daya yang dapat diekstraksi menjadi

1
= . 1 . 1 . (1 2 2 2 ) ..................................................... (2.8)
2

Pengolahan lebih lanjut terhadap persamaan-persamaan sebelumnya akan


menghasilkan ekspresi daya yang dapat diekstraksi menjadi

1
= . . (1 2 )(1 + 2 ) ................................................ (2.9)
4

sedangkan daya angin sebelum mencapai rotor adalah (persamaan 2.5)


II-5

1
= . . 3 .
2

Rasio antara daya mekanik yang dapat diekstraksi dan daya angin sebelum
mencapai rotor disebut koefisien daya (power coefficient) Cp, yaitu :

1
(1 2 2 2 )+(1 2 +2 2 )
= = 4 1 ........................................... (2.10)
2
2

atau dapat dinyatakan dalam bentuk :

1 2 2
= = 2 |1 (2 ) | |1 + (2 ) | ..................................... (2.11)
1 1

Gambar II-4 Hubungan koefisien daya dengan rasio v1/v2


(Sumber : Eric Hau)

Dari persamaan 11 dan kurva di atas, maka Cp maksimum atau


koefisien daya ideal terjadi pada saat v2/v1 = 1/3 dan besarnya adalah

16
= 27 = 0,593
II-6

II. 4. Profil Airfoil untuk Turbin Angin

Profil airfoil memberikan nilai koefisien drag yang kecil jika dibandingkan
dengan lift yang diberikan. Bentuk airfoil pada turbin umumnya melengkung pada
bagian atas dan lebih datar pada bagian bawah, ujung tumpul pada bagian depan
dan lancip pada bagian belakang. Bentuk airfoil yang demikian menyebabkan
kecepatan udara dibagian atas akan lebih kecil daripada kecepatan udara dibagian
bawah. (Mulyadi, 2010).

Gambar II-5 Bagian-bagian pada airfoil


(sumber : http://vignette2.wikia.nocookie.net)

II. 5. Persamaan yang Digunakan


II. 5. 1. Pemilihan Diameter Sudu

Diameter sudu yang dipilih berkaitan dengan besar luaran daya yang
diperlukan. Pemilihan diameter sudu ini, berdasarkan daya yang dibutuhkan dengan
pedoman nilai Cp = 0,3 -0,4 untuk turbin modern yang mempunyai sudu sebanyak
3 buah. (Piggott Hugh, 2005).


= 3 ......................................................................... (2.12)
. . .
2 4

Dimana :

P = Daya Poros yang diinginkan (Watt)

Cp = Coefficient Of Performance
II-7


= massa jenis udara (3 )

= kecepatan udara (m/s)

Selain luaran daya, kecepatan angin mula juga menjadi pertimbangan


pemilihan diameter rotor. Semakin besar diameter rotor, maka kecepatan angin
minimal yang diperlukan untuk memutar rotor menjadi lebih kecil.

Pemilihan jumlah sudu berkaitan dengan rasio kecepatan ujung (tip speed
ratio) yang diinginkan dan juga aspek keindahan. Jumlah sudu yang banyak akan
menghasilkan tip speed ratio yang kecil. Sedangkan jumlah sudu yang lebih sedikit
akan menghasilkan tip speed ratio yang besar.

II. 5. 2. Tip Speed Ratio

Tip speed ratio (rasio kecepatan ujung) adalah rasio kecepatan ujung rotor
terhadap kecepatan angin bebas. Hal yang perlu diperhatikan dalam merancang
turbin angin adalah berapa daya yang ingin dihasilkan dan berapa kecepatan angin
yang bisa didapatkan. Hal pertama yang harus diperhitungkan adalah TSR (Tip
Speed Ratio) atau perbandingan kecepatan ujung dan kecepatan angin yang didapat
oleh kincir. TSR dapat dihitung sebagai berikut :

2

60
= = = ............................................................ (2.13)
60

Dimana :

= Kecepatan angular (rps)

D = diameter sudu turbin angin (m)

v = Kecepatan Angin (m/s)

n = Putaran (rpm)
II-8

II. 5. 3. Penentuan Geometri Sudu

Bentuk sudu adalah fungsi dari tsr, diameter rotor dan jumlah sudu.
Elemen penting yang dipilih dalam merancang sudu adalah bentuk planform sudu,
lebar sudu (chord), jari-jari pangkal (root radius), tebal sudu dan sudut pitch.


16( )

= ........................................................................(2.14)
92

Dimana:

C = lebar sudu chord (m) B = jumlah sudu

R = jari-jari rotor (m) = tip speed ratio

r = jarak dari pusat rotasi (m)

II. 5. 4. Penentuan Kecepatan Putaran

Kecepatan putaran dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai


berikut:

60
= (.) ......................................................................(2.15)

Dimana :

n = putaran (rpm)

= tip speed ratio dan

D = Diameter rotor (m)

II. 5. 5. Penentuan Torsi

Besarnya torsi dapat dihitung sebagai berikut :

= ..................................................................................(2.16)
II-9

= ......................................................................... (2.17)

Dimana :

F = gaya (N) T = torsi (Nm)

m = masa (kg)

g = gravitasi (/ 2 )
10

BAB III
METODE DAN PROSES PENYELESAIN
III. 1. Perhitungan Daya Turbin Angin

Perhitungan Daya rancangan rotor dapat dihitung dengan cara menghitung terlebih
dahulu daya total udara dengan persamaan 2.5. Contoh Perhitungan dilakukan pada kecepatan
angin sebesar 3 m/s dengan diameter rotor sebesar 2 meter.

0=1 3
2

0=11.2 [ ](3.141[]2 )3[]3


2 3

0=50.868 []

Berdasarkan aturan Betz, daya yang terserap turbin angin tidak akan melebihi 0,593
bagian dari daya total udara yang melalui area sapuan rotor. Tabel berikut menunjukkan daya
maksimum rotor yang dapat diektraksi oleh rotor dengan koefisien dayanya sebesar 0,3 dan asumsi
tidak ada losses, tidak ada turbulensi, dan efek perubahan luas area diabaikan. Perhitungan pada
tabel dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan 2.10.

Tabel III-1 Daya Rotor pada berbagai kecepatan angin


Kecepatan Kecepatan Angin Daya Rotor
Daya Rotor (Watt)
Angin (m/s) (m/s) (Watt)
1 0,565 9 412,031
2 4,522 10 565,200
3 15,260 11 752,281
4 36,173 12 976,666
5 70,650 13 1241,744
6 122,083 14 1550,909
7 193,864 15 1907,550
11

18 289,382

III. 2. Perancangan Rotor


III. 2. 1. Perhitungan Diameter Rotor

Dalam menentukan diameter rotor perlu mempertimbangkan beberapa parameter


diantaranya besar daya yang ingin dihasilkan, kecepatan angin, koefisien daya, dan pertimbangan
lain yang berkaitan dengan aspek keindahan, ketersediaan lahan, dan lainnya.

Daya rotor yang ingin dihasilkan pada turbin angin mutiblade sebesar 15 Watt pada
kecepatan 3 m/s dengan koefisien daya sebesar 0,3 yang dapat dilihat pada gambar

Gambar III-1 Koefisien Daya terhadap berbagai desain


(Sumber : Eric Hau)

Sesuai dengan persamaan 2.12, maka diameter rotor dapat dihitung :


12


= 3

2 4

15 []
=

1.2 [ 3 ] 3.14

0.3 3 [ ]3
2 4

= 1.9826 2

III. 2. 2. Perhitungan Tip Speed Ratio

Tip speed ratio adalah nilai perbandingan kecepatan angin sisi terluar (ujung) rotor
terhadap kecepatan angin. Tip speed ratio dapat dihitung dengan persamaan 2.13.


= 60

3.142[]100[]
=
603[ ]

= 3.49

Tabel berikut menunjukkan besarnya tip speed ratio dengan berbagai kecepatan putaran
rotor.

Tabel III-2 Nilai Tip Speed Ratio Berdasarkan Putaran Rotor


No. Kecepatan Angin [m/s] Putaran [rpm]
1 10 0,35
2 20 0,70
3 30 1,05
4 40 1,40
5 50 1,74
3
6 60 2,09
7 70 2,44
8 80 2,79
9 90 3,14
10 100 3,49
13

III. 2. 3. Perancangan Geometri Sudu

Untuk mendapatkan bentuk geometri sudu yang optimal dilakukan perhitungan dengan
persamaan 2.14. Perhitungan dilakukan dengan mengambil nilai = 3,49, kecepatan angin 3 m/s,
jumlah sudu sebanyak 6 buah, dan jarak antara penampang 0,1 meter.


16( )

= 92

1[]
163.141[]( )
0.3[]
= 93,492 6

= 0,255

Hasil perhitungan chord ditunjukan dalam tabel.

Tabel III-3 Data Perhitungan Chord Sudu Rotor


Penampang r [m] R [m] B C [m]

1 0,30 1 3,49 6 0,255

2 0,40 1 3,49 6 0,191

3 0,50 1 3,49 6 0,153

4 0,60 1 3,49 6 0,127

5 0,70 1 3,49 6 0,109

6 0,80 1 3,49 6 0,095

7 0,90 1 3,49 6 0,085

8 1,00 1 3,49 6 0,076

III. 2. 4. Profil Airfoil

Pembentukan airfoil mengacu pada jurnal Francincus Lungan yang berjudul


Perancangan dan Pembuatan Turbin Angin Sumbu Horizontal Tiga Sudu Berdiameter 3.5 Meter
14

dengan Modifikasi Pemotong dan Pengaturan sudut Pitch yang menggambarkan batasan
pembentukan airfoil dan diperlihatkan pada gambar

Gambar III-2 Bentuk Penampang Airfoil


(Sumber : Francincus Lungan)

Dimana :

d0 : lebar sudu

d1 : lokasi titik puncak, diambil 25% dari lebar sudu awal

d2 : tinggi titik puncak, diambil 10% dari lebar sudu

d3 : tinggi arc leading edge, diambil 5% dari lebar sudu

d4 : lokasi mulai trailing edge, diambil 25% dari lebar sudu

d5 : tinggi mulai trailing edge, diambil 2.5% dari lebar sudu

Berikut ukuran batasan airfoil yang digunakan :

Tabel III-4 Ukuran airfoil


Ukuran [cm]
Penampang
d0 d1 d2 d3 d4 d5
1 25,5 6,38 2,55 1,28 6,38 0,64
2 19,1 4,78 1,91 0,96 4,78 0,48
3 15,3 3,83 1,53 0,77 3,83 0,38
4 12,7 3,18 1,27 0,64 3,18 0,32
5 10,9 2,73 1,09 0,55 2,73 0,27
6 9,5 2,38 0,95 0,48 2,38 0,24
7 8,5 2,13 0,85 0,43 2,13 0,21
8 7,6 1,90 0,76 0,38 1,90 0,19
15

III. 3. Pembuatan Turbin Angin


III. 3. 1. Pembuatan Sudu Turbin

Sudu merupakan komponen turbin angin yang sangat signifikan. Sudu berkontak dengan
udara yang mengakibatkan sudu bergerak (berputar) karena adanya gaya drag dan lift. Pangkal
sudu menempel pada suatu hub yang menghubungkan antara sudu dengan poros. Gerak putar sudu
akan memutar poros yang dijadikan sebagai penggerak mula pompa. Oleh karena itu kontruksi
sudu pun harus dibuat sebaik mungkin.

Pada perancangan ini dibuat sudu dengan tipe multi blades. Meskipun memiliki efisiensi
rendah, tetapi dapat menghasilkan momen gaya awal yang cukup besar untuk mulai berputar.
Kontruksi ini memiliki profil sudu yang tipis, kecil, kelengkungan halus, dan konstruksi yang
solid.

Gambar III-3 Sudu turbin dengan penampang airfoil


(Sumber : Dokumen Pribadi)
16

III. 3. 2. Pembuatan Hub

Hub adalah bagian rotor yang berada di pusat rotasi. Hub dibuat dari pelat besi dengan
tebal 3 mm yang melalui proses pemesinan sehingga memungkinkan untuk dipasangi batang sudu.
Hub dibuat dengan diameter 300 mm dan untuk pencekaman sudu dengan menggunakan clamp.

Gambar III-4 Desain Hub Turbin Angin


(Sumber : Dokumen Pribadi)

III. 3. 3. Pembuatan Poros

Poros (shaft) adalah elemen mesin yang digunakan untuk mentransmisikan daya dari satu
tempat ke tempat lainnya. Poros merupakan suatu bagian stasioner yang beputar, berpenampang
bulat dan pada poros ini akan di pasang bevel gear yang berfungsi untuk merubah putaran
horizontal menjadi putaran vertical yang nantinya akan diteruskan sebagai daya poros untuk
penggerak mula pompa torak. Poros ini harus bisa menerima beban lenturan, beban tarikan, beban
tekan atau beban puntiran yang bekerja sendiri-sendiri atau berupa gabungan satu dengan lainnya.
Poros yang dibuat dengan diameter sebesar 20 mm dengan bahan besi galvanis pipa.
17

Gambar III-5 Desain Pembuatan Poros Turbin


(sumber : Dokumen Pribadi)

III. 3. 4. Pembuatan Yaw Mechanism

Yaw Mechanism adalah komponen yang menghubungkan antara tiang penyangga dan
rangka turbin. Fungi yaw mechanism adalah menjaga arah turbin angin sehingga sudu rotor selalu
menghadap arah datangnya angin. Prinsip kerja yaw mechanism berupa putaran pada sumbunya
dimana ketika sudu menerima angin dari arah samping, yaw mechanism akan berputar sehingga
sudu tetap menghadap angin dan dapat berputar.

Yaw Mechanism terdiri dari beberapan komponen mekanis, seperti poros dalam, poros
luar, dan bearing. Poros luar terhubung dengan dengan rangka turbin angin. Sebuah rangka turbin
angin terdiri dari sudu dan ekor. Untuk poros luar yang berhubungan dengan rangka cenderung
bergerak karena adanya gerak angin. Poros ini selalu berputar mengikuti putaran rangka turbin.
18

Gambar III-6 Desain Yaw Mechanism


(Sumber : Dokumen Pribadi )