Anda di halaman 1dari 18

PENGENALAN INSEKTISIDA

(Laporan Praktikum Pengendalian Hama Tanaman)

Oleh

Fitriyani
1514121039
Kelompok 3

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I.PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Hama adalah herbivor (hewan) yang merusak tanaman dan menyebabkan


kerugian ekonomik. Penyebab hama tanaman dapat berupa serangga dan hewan
vertebrata (seperti tikus, burung, babi hutan), tungau, dan moluska.
Serangga adalah salah satu kelas avertebrata di dalam filum arthropoda yang
memiliki exoskeleton berkitin , tubuh yang terbagi tiga bagian (kepala, thorax,
dan abdomen), tiga pasang kaki yang pangkalnya menyatu, mata majemuk, dan
sepasang antena. Serangga termasuk salah satu kelompok hewan yang paling
beragam, mencakup lebih dari satu juta spesies dan menggambarkan lebih dari
setengah organisme hidup yang telah diketahui. Kerugian yang ditimbulkan oleh
serangga sangat beragam, tergantung beberapa factor, seperti factor makanan,
iklim, musuh alami dan manusia sendiri. Sehubungan Indonesia terletak di daerah
tropis, maka masalah gangguan serangan hama tanaman hampir selalu ada
sepanjang tahun, hal ini disebabkan faktor lingkungan yang sesuai bagi
perkembangan populasi hama. Selain itu juga karena tanaman inangnya hampir
selalu ada sepanjang waktu.

Penyebab hama sebagian besar adalah berasal dari golongan serangga, namun
demikian serangga yang berperan sebagai hama ternyata hanya 1-2 persen saja,
sedangkan sisanya yang 98-99 persen adalah merupakan serangga berguna yang
dapat berperan sebagai parasitoid, predator, penyerbuk (pollinator), pengurai
(decomposer), dan serangga industri. Serangga-serangga ini pada umumnya
mengganggu, sehingga perlu dikendalikan.Salah satu cara mengendalikan
serangga
adalah dengan menggunakan pestisida. Pestisida merupakan senyawa kimia yang
digunakan untuk mengendalikan serangga. Untuk itu kita perlu mengetahui jenis-
jenis pestisida sehingga kita dapat mengaplikasikan pestisida dengan baik sesuai
dengan kebutuhan yang digunakan dalam pengendalian serangga tersebut (Ahmad,
1997).

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Memahami tentang pentingnya label pestisida yang banyak dijumpai dipasaran
2. Mengenal dan mengerti semua informasi yang tercantum pada label pestisida
(nama dagang, bahan aktif, berat kemasan, formulasi, warna, bentuk pestisida,
dll)
3. Mengetahui perbedaan antara dosis dengan konsentrasi
II. TINJAUAN PUSTAKA

Insektisida adalah bahan-bahan kimia bersifat racun yang dipakai untuk


membunuh serangga. Insektisida dapat memengaruhi pertumbuhan,
perkembangan, tingkah laku, perkembangbiakan, kesehatan, sistem hormon,
sistem pencernaan, serta aktivitas biologis lainnya hingga berujung pada kematian
serangga pengganggu tanaman. Insektisida termasuk salah satu jenis pestisida.
Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang
digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini
adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit
tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian
nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus,
burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Pestisida juga diartikan sebagai
substansi kimia dan bahan lain yang mengatur dan atau menstimulir pertumbuhan
tanaman atau bagian-bagian tanaman (Triharso, 2004).

Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida


ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama, namun lebih dititik
beratkan untuk mengendalikan hama sedemikian rupa hingga berada dibawah
batas ambang ekonomi atau ambang kendali. Selama ini, kita mengetahui bahwa
pestisida sangat berguna dalam membantu petani merawat pertaniannya. Pestisida
dapat mencegah lahan pertanian dari serangan hama. Hal ini berarti jika para
petani menggunakan pestisida, hasil pertaniannya akan meningkat dan akan
membuat hidup para petani menjadi semakin sejahtera. Dengan adanya
pemahaman tersebut, pestisida sudah digunakan di hampir setiap lahan
pertanian.Pestisida kimia merupakan salah satu upaya
pengendalian hama. Penggunaan pestisida kimia tersebut dilakukan dengan cara
penyemprotan (untuk formulasi cair), pengabutan (untuk formulasi serbuk) maupun
penebaran (untuk formulasi granuler). Penggunaan pestisida kimia disukai petani
karena hasilnya dapat segera dilihat, pelaksanaannya mudah dan praktis serta dapat
dibeli dengan mudah di toko/kios sarana pertanian di pedesaan. Walaupun pestisida
kimia ini merupakan bahan kimia yang berbahaya dan beracun bagi kesehatan petani,
konsumen, musuh alami dan bagi lingkungannya. Oleh karena itu, penggunaan
pestisida oleh petani harus hati-hati, bijaksana dan dibatasi serta aplikasinya
mengikuti prinsip 5 tepat yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, tepat sasaran, tepat
waktu serta tepat tempat (Mugnisjah, 1995)

Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan menggunakan


pestisida banyak dilakukan secara luas oleh masyarakat, karena pestisida mempunyai
kelebihan dibandingkan dengan cara pengendalian yang lain, yaitu
antara lain:
- dapat diaplikasikan secara mudah;
- dapat diaplikasikan hampir di setiap tempat dan waktu;
- hasilnya dapat dilihat dalam waktu singkat;
- dapat diaplikasikan dalam areal yang luas dalam waktu singkat; dan
- mudah diperoleh, dapat dijumpai di kios-kios pedesaan sampai pasar swalayan di
kota besar
(Sutedjo, 2008).

Penggerek buah kakao Conopomorpha cramerella adalah spesies asli Asia Tenggara
yang hidup pada rambutan (Nephelium lappaceum L., Sapindaceae) dan namnam
(Cynometra cauliflora L., Leguminosae). Adanya introduksi tanaman kakao dari
Meksiko (oleh orang Spanyol) ke Filipina pada pertengahan abad 16, PBK
beradaptasi pada tanaman kakao tersebut sebagai inang baru. Larva PBK juga
ditemukan pada Cola (Cola nitida, Sterculiaceae), tanaman intro-duksi dari Afrika. Di
Kawasan Kerkap terdapat banyak tanaman rambutan yang mempunyai pertumbuhan
baik dan berbuah lebat. Apabila terjadi serangan Conopomorpha cramerella pada
tanaman rambutan akan menjadi sumber serangan bagi pertanaman kakao di
sekitarnya. Kekhawatiran ini tidak perlu ada, karena PBK yang menyerang tanaman
rambutan dan kakao berbeda secra ras biologi. Rendahnya tingkat serangan di
Lokasi-lokasi kebun kakao di PT Kultindo Rezeki karena kebun itu dikelola dengan
baik dan merupakan kebun kakao yang pengelolaan hamanya terbaik di Bengkulu.
Pengendalian yang dilakukan adalah dengan petik dini, yaitu setiap minggu memetik
buah kakao yang mulai masak. Setelah pecah buah, kulit buah yang terserang
dibenam. Tindakan ini dikombinasi-kan dengan pembersihan serasah daun.
Melakukan penyemprotan insektisida piretroid sintetik setiap dua minggu, diarahkan
pada buah, cabang dan batang (Teddy, 2000).
III.METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Adapun praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, 7 April 2017 pada pukul 13.30-
15.30 WIB, di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian,
Universitas Lampung.

3.2 Alat dan Bahan

Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis dan
kamera.Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
proclaim, marshal, pestisida nabati, carbavin, confidor, mipcin, furadan, cascade,
matador, dan larvin.

2.1 Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Dibagi ke dalam beberapa kelompok praktikan bioekologi hama tumbuhan
2. Dijelaskan oleh asisten dosen tentang bahan yang disediakan lalu dicatat
3. Disediakan bahan yang akan diamati oleh praktikan
4. Diamati bahan yang ada dengan mencatat nama dagang, bahan aktif, formulasi,
dosis dan sasaran haman serta tanaman
5. Diamati lalu difoto
IV.HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil pengamatan

Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :


No. Foto Keterangan
1. Nama Dagang : Furadan
Formulasi :3 GR
Bahan Aktif dan Kadar : Karbofuran 3%
Volume : 2 kg
Nomor Izin : RI.16/8-2006 CT
OPT : ulat grayak, wereng hijau,
penggerek batang
Tanaman : tembakau, padi sawah,
tebu

2. Nama Dagang : Pestisida Nabati


Bahan Aktif : Ekstrak tumbuhan
Volume : 1 liter
Nomor Izin : RI.16/8-2006 CT
OPT : wereng coklat, ulat grayak,
Thrips sp, ulat jengkal,
Aphis sp, Ulat daun.
Tanaman : Tanaman hortikultura dan
pangan
3. Nama Dagang : Proclaim
Formulasi : 5 SG
Bahan Aktif dan Kadar : Emamektin benzoat
5%.
Volume : 25 g
Nomor Izin : RI.1510/3-2000/T
OPT : Hama pada bawang
merah.
Komoditi : Bawang merah
4. Nama Dagang : Carbavin
Formulasi : 85 WP
Bahan Aktif dan Kadar : Karbaril 85%
Volume : 500 g
Nomor Izin : RI.598/7-85/5
OPT : Penggerek batang, ulat
grayak, lalat buah, perusak daun, penggerek
pucuk dan ulat api
Komoditi : Padi, kedelai dan kubis
5 Nama Dagang : Cascade
Formulasi : 250 EC
Bahan Aktif dan Kadar : Flufenoksuron sogie
509/liter
Volume : 500 ml
Nomor Izin : RI.817/12-2005/T
OPT : ulat grayak, perusak daun,
penghisap daun, dan
penggerek polong
Komoditi : bawang merah, kedelai,
kelapa sawit, kubis, teh dan kacang panjang

6. Nama Dagang : Larvin


Formulasi : 375 AS
Bahan Aktif dan Kadar : Tiodikarb
Volume : 100 ml
Nomor Izin : RI.797/9-87/T
OPT : ulat grayak dan penggerek
pucuk
Komoditi : bawang merah dan kapas
7. Nama Dagang : Matador
Formulasi : 25 CS
Bahan Aktif dan Kadar : Lamda Sihalotrin 25
g/liter
Volume : 500 ml
Nomor Izin : RI.1578/4-2001/T
OPT : semua jenis hama
Komoditi : tomat, cabai, padi
8. Nama Dagang : Mipcin
Formulasi : 50 WP
Bahan Aktif dan Kadar : Mipc 50 %
Volume : 100 ml
Nomor Izin : RI.337/2-97/T
OPT : semua jenis hama
Komoditi : padi, jagung, lada

9. Nama Dagang : Confidor


Formulasi : 5 WP
Bahan Aktif dan Kadar : Imidakloprid 5 %
Volume : 15 g
Nomor Izin : RI.1151/6-96/T
OPT : wereng coklat, wereng
hijau, kutu daun
Komoditi : padi, semangka, tembakau
10. Nama Dagang : Marshal
Formulasi : 200 EC
Bahan Aktif dan Kadar : Karbosulfan 200,11
Volume : 500 ml
Nomor Izin : RI.489/11/2002/T
OPT : semua jenis hama
Komoditi : jeruk, kakao, bawang
merah

4.2 Pembahasan

Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk
mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan
dalam satu kali aplikasi atau lebih. Ada pula yang mengartikan dosis adalah
jumlah pestisida yang telah dicampur atau diencerkan dengan air yang digunakan
untuk menyemprot hama dengan satuan luas tertentu. Dosis bahan aktif adalah
jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau
satuan volume larutan. Besarnya suatu dosis pestisida biasanya tercantum dalam
label pestisida (Marwoto, 1992).

Biasanya konsentrasi pada label kemasan produk memiliki beberapa istilah salah
satunya yaitu konsentrasi formulasi, konsentrasi bahan aktif, dan konsentrasi
larutan.
Konsentrasi formulasi adalah banyaknya pestisida dihitung dalam cc atau gram
bahan pestisida per liter air, sedangkan konsentrasi bahan aktif atau konsentrasi
larurtan adalah persentase bahan aktif yang terdapat dalam larutan jadi (satuan
persen).
Contoh : Herbisida AMIPYR bahan aktif Triclopyr 600g/l artinya dalam 1 liter
herbisida tersebut memiliki 600 gram Triclopyr.
Herbisida AMIRON-M bahan aktif Metsulfuron methyl 20% artinya dalam 1 kg
herbisida tersebut memiliki 20 % racun Metsulfuron methyl.

Jenis-jenis formulasi antara lain :


1. Formulasi Padat
a. WP (Wattable Powder) merupakan formulasi pestisida yang berbentuk
tepung dengan ukuran partikel yang sangat kecil (ukuran partikel beberapa
mikron). Formulasi ini biasanya memiliki kadar bahan aktif yang relatif tinggi,
antara 50 80%. Pestisida dengan formulasi WP jika dilarutkan dengan air
akan membentuk suspensi. Aplikasi pestisida WP lazimnya dilakukan dengan
penyemprotan.
b. SP (Soluble Powder) formulasi yang juga berbentuk tepung dan diaplikasikan
dengan penyemprotan. Formulasi SP jika dicampur dengan air akan
membentuk larutan homogen.
c. Butiran formulasi pestisida dengan bentuk butiran seperti pasir. Formulasi ini
memiliki kadar bahan aktif yang relatif rendah, sekitar 2%. Pestisida dengan
formulasi ini diaplikasikan dengan cara ditaburkan.
d. WG atau WDG (Water Dispersible Granule) merupakan formulasi pestisida
yang berbentuk butiran. Namun aplikasinya dilakukan dengan cara
penyemprotan. Formulasi WDG/WG harus diencerkan dengan air terlebih
dahulu sebelum digunakan.
e. SG (Soluble Granule) hampir sama dengan formulasi WG/WDG yang
berbentuk butiran. Namun pestisida dengan formulasi SG akan membentuk
larutan sempurna jika dicampur dengan air. Aplikasi dengan penyemprotan,
dengan melarutkannya terlebih dahulu menggunakan air.
f. Tepung Hembus merupakan formulasi pestisida yang siap pakai, tidak perlu
dicampur dengan air. Aplikasi dilakukan dengan cara dihembuskan (dusting).
Formulasi ini memiliki kadar bahan aktif rendah, yaitu 2% dengan ukuran
partikel sangat kecil (antara 10 30 mikron)

2. Formulasi Cair
a) EC (Emulsifiable Concentrate atau Emulsible Concentrate) merupakan
formulasi pestisida yang berbentuk konsentrat atau pekatan cair dengan kadar
bahan aktif yang cukup tinggi. Pestisida dengan formulasi EC menggunakan
solvent berbasis minyak, sehingga jika dicampur dengan air akan membentuk
emulsi. Emulsi adalah suatau kondisi dimana butiran benda cair yang melayang
dalam media cair lainnya. Formulsai EC adalah formulasi yang paling banyak
digunakan hingga saat ini.
b) WCS (Water Soluble Concentrate) Formulasi ini mirip dengan formulasi EC,
akan tetapi sistem solvent yang digunakan berbasis air bukan minyak. Oleh
sebab itu, formulasi WCS jika dicampur dengan air akan membentuk larutan
homogen.
c) AS (Aquaeous Solution) adalah formulasi pestisida yang sangat mudah
dilarutkan dengan air. Karena formulasi ini memiliki sifat kelarutan yang tinggi
dalam air.
d) SL (Soluble Liquid) merupakan formulasi pestisida berbentuk cair yang
mudah larut dalam air.
e) ULV (Ultra Low Volume) merupakan formulasi pestisida yang pada
umumnya berbasis minyak. Formulasi ini dibuat khusus untuk penyemprotan
dengan volume sangat rendah, antara 1 5 liter/hektar.
f) F / FW (Flowable / Flowable in Water) merupakan formulasi pestisida
berbentuk cair yang sangat pekat. Formulasi ini akan membentuk emulsi jika
dilarutkan dengan air. Pada dasarnya formulasi F/FW adalah formulasi WP
dalam bentuk basah atau dibasahkan.

Pengertian pestisida nabati dan kimia :


1. Pestisida Kimia
Pestisida kimia merupakan bahan kimia yang di gunakan untuk pengendalian
hama, baik yang berupa tumbuhan, serangga, maupun hewan lain di
lingkungan kita. Penggunaan Pestisida Kimia secara berlebihan mempunyai
dampak yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan sekitar maupun
ekosistem. Pestisida Kimia Berdasarkan jenis hama yang akan diberantas dapat
digolongkan menjadi nematisida, herbisida, fungisida, insektisida, dan
rodentisida
a) Kekurangan
Hama menjadi kebal (resisten)
Peledakan hama baru (resurjensi)
Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
Terbunuhnya musuh alami
Pencemaran lingkungan (air dan tanah ) oleh residu bahan kimia
Tidak ramah lingkungan
Harganya mahal
Matinya musuh alami hama tanaman
Matinya organisme yang berguna
b. Kelebihan
Mudah di dapatkan di berbagai tempat
Zatnya lebih cepat bereaksi pada tanaman yang di beri pestisida
Kemasan lebih praktis
Bersifat tahan lama untuk disimpan
Daya racunnya tinggi ( langsung mematikan bagi serangga)

2. Pestisida Nabati dan Alami


Secara umum pestisida alami adalah suatu pestisida yang bahan dasarnya
berasal dari tumbuhan. Jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di
alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan dan relatif aman bagi manusia
dan ternak, karena residunya mudah hilang. Pertanian masa depan yang ideal
seharusnya memadukan teknologi tradisional dan teknologi modern yang
diaktualisasikan sebagai pertanian berwawasan lingkungan. Salah satu
alternatif pengembangan pertanian berwawasan lingkungan adalah dengan
menggunakan tanaman-tanaman penghasil pestisida alami, misalnya tanaman
nimba. Pestisida asal nimba mempunyai tingkat efektifitas yang tinggi dan
berdampak spesifik terhadap organisme pengganggu. Bahan aktif nimba juga
tidak berbahaya bagi manusia dan hewan. Selain itu, residunya mudah terurai
menjadi senyawa yang tidak beracun, sehingga aman atau ramah bagi
lingkungan.
a. Kekurangan
Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus
lebih sering
Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan
bahan baku
Kurang praktis
Tidak tahan disimpan
Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga)
Cara kerjanya (efek mortalitasnya) lambat
Harus disemprotkan secara berulang-ulang
b. Kelebihan
Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang
menyengat
Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot
Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
Menghambat reproduksi serangga betina
Racun syaraf bagi hama
Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap
serangga
Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri
Dapat menyebabkan gangguan dalam proses metamorfosa dan gangguan
makan (anti feedant) bagi serangga.
V.KESIMPULAN

Adapun kesimpulan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Label pestisida adalah keterangan dan informasi penting yang ditempelkan
secara kuat pada wadah pestisida sehingga tidak mudah lepas,
2. Terdapat dua jenis formulasi yaitu formulasi padat dan formulasi cair.
Formulasi padat berupa WP, SP, Butiran, WG/WDG, SG, dan Tepung
Hembus. Sedangkan formulasi cair berupa EC, WCS, AS, SL, ULV, dan
F/FW.
3. Dosis adalah banyaknya penggunaan pestisida persatuan luas, sedangkan
konsentrasi adalah banyaknya penggunaan pestisida persatuan volume.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin. 2012. Pengendalian Hama dan Penyakit Tumbuhan. Universitas Gajah


Bandung.

Djojosumarto, Panut. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. PT. Agromedia Pustaka.


Jakarta.

Mugnisjah,W.Q. dan Setiawan, A. 1995. Produksi Benih. Bumi Aksara.Jakarta.

Suparno, Teddy.2000. Infestasi Penggerek Buah Kakao Kedalam Perkebunan


Kakao Di Kawasan Kerkap, Bengkulu Utara Dan Pengendaliannya. Jurnal
Hama dan Penyakit Tumbuhan. Vol. 1, No. 1: 11 15.

Sutedjo, 2008. Penyakit Tumbuhan Umum. PT. Gramedia: Jakarta.

Triharso. 2004. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University


Press . Yogyakarta.
LAMPIRAN