Anda di halaman 1dari 53

Tugas Akhir Teknik Mesin

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Umum Conveyor

Mesin pemindahan bahan (material handling equipment) adalah peralatan

yang digunakan untuk memindahkan muatan yang berat dari satu tempat ke

tempat lain dalam jarak yang cukup jauh. Mesin pemindah bahan hanya

memindahkan muatan dalam jumlah dan besar tertentu serta jarak tertentu, dengan

perpindahan arah vertikal, horizontal dan atau kombinasi dari keduanya.

Untuk mendukung aktifitas industri diperlukan beberapa peralatan tambahan

guna memperlancar proses produksi. Peralatan bantu yang keberadaannya sangat

diperlukan adalah sarana transportasi. Kurangnya sarana transportasi akan

menghambat jalannya proses produksi. Untuk itu eksistensi sarana transportasi

mutlak diperlukan.

Fakultas Teknoligi Industri Page 7

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Tidak semua jenis pesawat pengangkut dapat dipergunakan untuk

mendukung lancarnya aktifitas industri.Pemilihan jenis dan pengguanaan jenis

pesawat tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih dan menggunakan

pesawat pengangkut, antara lain :

a. Faktor Ekonomis.

- Biaya pengadaan pesawat.

- Biaya operasi.

- Biaya perawatan.

b. Kondisi Pabrik.

- Luas ruangan.

- Letak mesin dan alur proses produksi.

- Kondisi operasi.

c. Karakteristik Beban Muatan.

- Beban curah yaitu material yang terdiri dari jenis yang sama

dengan ukuran relatif kecil.

- Beban unit yaitu beban yang terdiri dari jenis dan berat yang tidak

seragam.

Fakultas Teknoligi Industri Page 8

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

- Berat jenis beban.

- Mobilitas muatan.

- Sifat khusus lainnya seperti mudah robek, pecah, terbakar dan lain-

lain.

2.2 Jenis-Jenis Pesawat Angkut

Berdasarkan jenis material yang dipindahkan, pesawat angkut konveyor

Secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :

1. Pengangkut muatan curah (bulk load), yaitu muatan yang terdiri dari

banyak partikel atau gumpalan yang homogen, misal :bucket conveyor,

screw conveyor dan lain-lain.

2. Pengangkut muatan satuan (unit load), yaitu muatan yang terdiri dari

satuan atau bisa jadi muatan curah yang terbungkus, misal :roller

conveyor, escalator.

3. Pengangkut keduanya, baik muatan curah maupun satuan, misal :belt

conveyor dan apron conveyor.

Berdasarkan transmisi daya, pesawat angkut dibedakan menjadi : konveyor

mekanis, konveyor pneumatik, konveyor hidrolik dan konveyor grafitasi.

Pada umumnya mekanisme mesin pengangkat didesain untuk melakukan

suatu gerakan tertentu.Misalnya, crane dapat mengangkat muatan menggeser,

menahannya tetap diatas bila diperlukan, dan membawa ketempat yang


Fakultas Teknoligi Industri Page 9

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

ditentukan.Sementara itu, konveyor digunakan untuk memindahkan muatan

sepanjang jalur yang sudah ditentukan secara kontinu.

2.3 Pemilihan Mesin Pemindah Bahan

Mesin pemindahan bahan harus dapat memindahkan muatan ketujuan yang

ditentukan dalam waktu yang dijadwalkan, dan harus dihantarkan ke tempat unit

produksi dalam jumlah muatan yang ditentukan.Mesin harus dapat dimekaniskan

sedemikian rupa sehingga hanya memerlukan sedikit mungkin operator untuk

pengendalian, pemeliharaan dan perbaikan. Alat ini tidak boleh merusak muatan

yang dipindahkan ataupun yang menghalangi dan menghambat dalam proses

produksi.

Faktor-faktor teknis yang harus diperhatikan dalam pemilihan mesin

pemindah bahan atau pesawat angkut, antara lain :

1. Sifat bahan yang akan dipindahkan.

2. Kapasitas peralatan.

3. Arah dan panjang pemindahan.

4. Langkah proses dan gerakan muatan bahan.

5. Serta kondisi lokal yang spesifik.

Fakultas Teknoligi Industri Page 10

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Pemilihan peralatan pemindahan bahan juga didasarkan atas faktor-faktor

ekonomis, yaitu :

1. Biaya pengeluaran modal meliputi : biaya peralatan, biaya

pengangkutan, pemasangan (erection), dan biaya kontruksi yang

diperlukan dalam operasinya.

2. Biaya operasional, mencakup : upah pekerja, biaya bahan bakar

(energi), biaya perawatan dan perbaikan, biaya pelumasan,

pembersihan, dan perbaikan menyeluruh (overhaul).

2.4 Karakteristik Material Yang Diangkut

Material angkut memiliki karakteristik berbeda, sebagian diantaranya

berbentuk halus ada yang berbentuk kasar dan lain sebagainya.Bentuk luar dari

material tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam mendesain konveyor. Oleh

karena itu sangat dibutuhkan pemahaman dan pengertian tentang sifat-sifat asli

dari material yang akan diangkut. Pengetahuan ini dapat membantu dalam

mendesain konveyoryang tepat, ekonomis dan optimal dengan minimal masalah

dalam pengoperasian.

Macam karakteristik, sifat fisik dan sifat mekanik dari muatan merupakan

faktor yang penting untuk menentukan tipe dan pemakaian dari konveyor yang

akan dipakai. Beban yang diangkut ada dua, yaitu :

1. Muatan satuan (Unit Load) : Termasuk barang-barang potongan, seperti

komponen mesin, peti kemasan, dll.

Fakultas Teknoligi Industri Page 11

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2. Muatan Curah (Bulk Load) : termasuk bermacam-macam barang

timbunan (bulk), seperti bahan galian, batuan, tepung, semen, dll.

Muatan satuan (Unit load) akan memberikan data-data tertentu untuk

menentukan desain konveyor yang akan digunakan yaitu : Ukuran, bentuk, berat,

arah gerakan (situasi dan jarak), pertimbangan atas temperatur dan kelembaman.

Sedangkan muatan curah (bulk load) akan memberikan data-data tertentu

untuk menentukan desain konveyor yang akan digunakan yaitu : Berat timbunan,

angle of response, berat kelembaman, mobilitas dari partikel, arah gerakan dan

situasi dari medan.

Beberapa informasi penting tentang material angkut yang perlu diketahui

dalam perhitungan perancangan konveyor, antara lain yaitu :

- Ukuran lump size, grain dan powder.

- Distribusi lump, grain dan powder (%).

- Densitas material angkut (berat volume) (t/m3).

- Angle of surcharge (sudut ketika material pada keadaan istrahat selama

pergerakan konveyor).

- Temperature (0C).

- Karakteristik khusus : kekerasan, debu, kelengkepan, bubuk, kerapuhan.

- Kondisi yang dibutuhkan selama diangkut.

- Jenis material yang akan dipindahkan.

Fakultas Teknoligi Industri Page 12

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Dengan pertimbangan yang ada pada muatan, maka akan diperoleh kriteria

dan tipe dari konveyor yang akan digunakan.

Tabel 2.1Berat Material Curah (bulk load)

(Ref. 1, hal. 75)

2.5 Belt Conveyor (Sabuk Konveyor )

Belt conveyor dapat digunakan untuk memindahkan muatan satuan (unit

load) maupun muatan curah (bulk load) sepanjang garis lurus (horizontal) atau

sudut inklinasi terbatas.Belt secara intensif digunakan disetiap cabang industri

atau pertambangan.Pada industri pengecoran digunakan untuk membawa dan

mendistribusikan pasir cetak, membawa bahan bakar di pembangkit daya,

Fakultas Teknoligi Industri Page 13

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

memindahkan bijih batubara pada unit pertambangan batubara (mining),

diantaranya langkah processing pada industri makanan dan sebagainya.

Kapasitas yang besar (500 m3/jam sampai 5000 m3/jam atau lebih),

kemampuan untuk memindahkan bahan dalam jarak yang jauh (500 m sampai

1000 m atau lebih), perencanaan yang sederhana, berat mesin relatif ringan,

pemeliharaan dan operasi yang mudah telah menjadikan belt conveyor secara luas

digunakan sebagai mesin pemindaha bahan.

Dipilihnya belt conveyor sebagai sarana transportasi bahan adalah karena

tuntutan untuk meningkatkan produktifitas, menurunkan biaya produksi dan juga

kebutuhan optimasi dalam rangka mempertinggi efisiensi kerja.

Keuntungan penggunaan belt conveyor adalah

1. Aliran penggangkutan berlangsung secara terus menerus tanpa terputus

sehingga kerja lebih maksimal.

2. Dapat beroperasi secara mendatar maupun miring dengan sudut

maksimum sampai dengan 18.

3. Baik digunakan dalam jarak tempuh jauh maupun dekat.

4. Kapasitas dalam jumlah besar.

5. Tidak mengganggu lingkungan sekitar karena tingkat kebisingan dan

polusi rendah.

Fakultas Teknoligi Industri Page 14

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

6. Faktor keamanan bagi operator lebih besar dibanding menggunakan

truk atau kereta diatas rel.

7. Menurunkan tingkat kecelakaan saat pekerja memindahkanmaterial.

8. Perawatan mudah.

Kelemahan penggunaan belt conveyor adalah

1. Sabuk sangat peka terhadap pengaruh luar, misalnya timbul kerusakan

pada pinggir dan permukaan belt, sabuk bias sobek karena batuan yang

keras dan tajam.

2. Biaya pembuatan mahal.

3. Sudut inklinasi terbatas.

Tabel 2.2 Rekomendasi sudut inklinasi yang diijinkan

(Ref. 2, hal. 149)

Fakultas Teknoligi Industri Page 15

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2.6 Jenis-Jenis Belt Conveyor.

Belt conveyor dapat dicirikan dengan adanya sabuk atau kawat baja yang

berputar melingkari pulley penggerak dan didukung beberapa roller yang ditumpu

oleh suatu struktur.Pengelompokan belt conveyor dapat dilakukan dari beberapa

segi yaitu, arah lintasan, jumlah pulley penggerak, jenis sabuk dan lain-lain.

2.6.1 Berdasarkan Arah Lintasan

Menurut arah dan gerakannya, conveyor dapat memiliki arah lintasan yang

bermacam-macam tergantung dari kebutuhan dan area. Berdasarkan lintasannya

gerak belt conveyor dapat diklasifikasikan sebagai berikut, yaitu :

a. Horizontal

b. Inklinasi

c. Dan kombinasi Horizontal dan Inklinasi

2.6.2 Cara Memindahkan Muatan

Ditinjau dari caranya mengangkut muatan, belt conveyor dibagi atas dua

kelompok, yaitu kontinu dan terputus.

1. Pengangkutan beban secara kontinu

Untuk memindahkan muatan yang berupa material curah dapat

dilakukan secara kontinu, dengan kapasitas dan kecepatan yang

Fakultas Teknoligi Industri Page 16

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

tetap.Sehingga distribusi muatan pada elemen pengangkut terbagi secara

merata.

2. Pengangkutan beban secara terputus-putus

Untuk mengangkut beban yang berupa unit muatan seperti : balok,

peti kemas, drum, kayu dan sebagainya, biasanya terputus-putus. Sehingga

distribusi muatan pada elemen-elemen pengangkut tidak merata.

2.7 Kontruksi Belt Conveyor

Elemen-elemen utama dari suatu sistem belt conveyor dapat dilihat pada

gambar 2.1 dibawah ini.

Gambar 2.1 Kontruksi Umum Belt Conveyor

(Ref. 2, hal. 136)

Keterangan Gambar :

1. Frame 6. Lower pulley

2. Drive Pulley 7. Drive unit

3. Take up pulley 8. Feed hopper

Fakultas Teknoligi Industri Page 17

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

4. Endless belt 9. Discharge

5. Upper pulley 10. Cleaner

2.8 Profile Conveyor

Profil dasar conveyor secara umum adalah :

a. Horizontal

Gambar 2.2 Horizontal Profile

(Ref. 9, hal. 4)

b. Incline

Gambar 2.3 Incline Profile

(Ref. 9, hal. 6)

c. Decline

Fakultas Teknoligi Industri Page 18

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Gambar 2.3 Decline Profile

(Ref. 9, hal. 5)

2.9 Komponen-Komponen Belt Conveyor

2.9.1 Komponen Utama

2.9.1.1 Belt (Sabuk)

Belt merupakan pembawa material dari satu titik ketitik lain dan mneruskan

gaya putar. Belt ini diletakkan diatas carrying idlersehingga dapat bergerak

dengan teratur dan merupakan komponen utama dalam desain sistem sabuk

konveyor, karena :

- Sabuk merupakan komponen yang membawa material

- Sabuk merupakan komponen yang bersentuhan langsung dengan

material dan menerima segala perlakuan dari material contohnya

pembebanan impact, abrasi dan lainnya.

- Sabuk adalah komponen yang akan aus. Desain yang tidak baik akan

mengakibatkan belt cepat aus dan sobek dan akan menyebabkan biaya

yang mahal dalam perawatan.

Dalam merancang sebuah sistem konveyor perancang harus menggunakan

standar lebar sabuk yang digunakan secara internasional.Standar lebar sabuk

dalam milimeter adalah 400, 500, 600, 650, 800, 1000, 1200, 1400, 1600, 1800,

Fakultas Teknoligi Industri Page 19

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2000, 2200, 2400, 2600, 2800, 3000, 3200.Dalam inchi 18, 24, 30, 36, 42, 48, 54,

60, 72, 84, dan 96.

2.9.1.2 Pulley

Adapun jenis-jenis pulley diantaranya, yaitu :

1. Sistem Penggerak (Drive Pulley)

Untuk menarik sabuk maka harus ditarik oleh sebuah atau

beberapa drive pulley, dimana drive pulley ini digerakkan oleh motor

listrik. Agar koefisien gesek antara sabuk dan pulley cukup besar, maka

permukaan pulley penggerak dilapisi karet atau dengan cara

memperbesar sudut kontak antara sabuk dan pulley penggerak.

Gambar 2.5 Drive Pulley

(Ref.13)

Perhitungan Diameter minimum pulley yang digunakan sebagai

drive pulley dapat dicari dengan rumus persamaan, yaitu :


Fakultas Teknoligi Industri Page 20

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Dp k .i

.(Ref. 4, hal. 84)

Dimana :

Dp = Diameter pulli (mm)

k = Faktor lapisan sabuk yang digunakan harga 125 - 150

harga (untuk i = 2 sampai 6 dengan harga k = 125 dan i = 8

sampai 12 harga k = 150)

i = Jumlah lapisan sabuk

Tabel 2.3 Standart Diameter Pulley

(Ref. 6, hal.11.10)

Perhitungan Lebar Pulley yang digunakan untuk menjaga agar

sabuk tidak mudah terlepas dari pulley, maka lebar sabuk dianjurkan

berkisar antara 100 sampai 200 (mm) lebih besar dari lebar sabuk.

Dapat dicari dengan rumus :

Bp = B + (100 sampai 200)

(Ref. 4, hal. 84)

Fakultas Teknoligi Industri Page 21

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2. Tail Pulley

Merupakan pulley yang terletak dibelakang dari sistem

konveyor. Dimana pulley ini merupakan tempat jatuhnya material untuk

dibawa ke bagian depan dari konveyor. Kontruksi sama dengan head

pulley, namun tidak dilengkapi penggerak.

3. Bend Pulley

Belt ditekuk dengan puli dan roller pembelok. Penggunaan

roller pembelok adalah untuk merubah kemiringan sistem seperti dari

arah horizontal menjadi sedikit miring.

4. Snub Pulley

Berfungsi untuk menjaga keseimbangan tegangan belt pada

drive pulleydan di tail pulley.

5. Pengencang Sabuk (Take-up Pulley)

Perangkat yang mengencangkan sabuk yang kendur dan

memberikan tegangan pada sabuk pada start awal.

Pengencang sabuk berfungsi untuk mencegah lendutan yang

berlebihan dan dapat menyesuaikan beban atau tegangan yanga ada,

serta mereduksi adanya perpanjangan yang terjadi pada komponen

penarik dengan tujuan utama agar sabuk dapat terus diputar oleh drive

pulley diperlukan sistem alat bantu yang disebut take-up.

Fakultas Teknoligi Industri Page 22

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Pengencangan dapat dilakukan dengan menarik pulley dari

terminalnya dengan menggunakan alat mekanis, seperti : pegas, ulir

(screw), atau dengan menggunakan pemberat yang dihubungkan dengan

tali yang berputar pada katrol.

Jenis-jenis pengencangan sabuk sebagai berikut :

a. Tipe Screw

Gambar. 2.6 Take up sistem tipe screw

(Ref. 4, hal. 3)

b. Tipe Vertikal Gravity (Counter Weight)

Gambar. 2.7 Take up sistem tipe vertikal gravity

(Ref. 4, hal. 3)

Fakultas Teknoligi Industri Page 23

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

c. Tipe Horizontal Gravity

Gambar. 2.8 Take up sistem tipe horizontal gravity

(Ref. 4, hal. 3)

d. Tipe Power Sistem

Gambar. 2.9 Take up sistem tipe power

(Ref. 4, hal. 3)

Fakultas Teknoligi Industri Page 24

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2.9.1.3 Idler Sistem

Roller idler merupakan elemen pendukung sabuk selama proses

pengangkutan beban berlangsung. Idler roll biasanyaberbentuk silinder yang

terbuat dari besi cor, yang berputar pada bantalan bush. Jumlahnya dapat satu,

dua, tiga, sampai 5 buah roller.

Lebar roller idler ditentukan berdasarkan lebar sabuk uang

dipergunakan.Ukuran dan diameternya ditentukan berdasarkan beban muatan

yang diterima.Semakin lebar sabuk yang dipergunakan, semakin panjang pula

roller idler.

Pada dasarnya ada dua macam bentuk susunan dari roller idler, yaitu bentuk

flat yang terdiri dari hanya sebuah roller saja, dan troughed roller yang dapat

terdiri dari tiga atau lima buah roller. Dibawah ini ada beberapa macam idler yang

biasanya digunakan oleh dunia industri, yaitu :

1. Impact Idler

Impact idler umumnya terdiri dari 3 roller dan dilapisi karet,

merupakan roll yang digunakan untuk menopang atau menahansabuk

pada penerimaan material dan digunakan untuk menangani tumpahan

dari material berat dengan menyerap daya benturan yang dihasilkan dari

material yang jatuh juga untuk melindungi sabuk tidak mudah sobek

atau mengalami kerusakan.

Fakultas Teknoligi Industri Page 25

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Central roller ditempatkan horizontal, sementara side roller

diposisikan pada sudut 200, 250, 300,350, 400 atau 450.Kemiringan side

roller dari garis horizontal pada umumnya disebut troughing.

Gambar 2.10 Tipe Troughing Impact Idler

(Ref. 8, Hal.8)

2. Carrying Idler (Troughing Carrying Idler)

Meruapakan roller pembawa karena terletak dibawah sabuk

yang membawa muatan.Berfungsi sebagai penumpu sabuk dan sebagai

landasan luncur yang dipasang dengan jarak tertentu agar sabuk tidak

meluncur kebawah.

Pada umumnya troughing idler biasanya ada dua, tiga roller

atau lebih tergantung dari material yang dibawanya dan berfungsi untuk

menahan belt yang bergerak. Central roller ditempatkan horizontal,

sementara side roller diposisikan pada sudut 200, 250, 300,350, 400 atau

450.Kemiringan side roller dari garis horizontal pada umumnya disebut

troughing.
Fakultas Teknoligi Industri Page 26

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Gambar 2.11 Tipe Troughing Carrying Idler

(Ref. 8, hal.7)

3. Flat Return Idler (Single roll return roller)

Flat return idler merupakan roller balik yang memiliki single

roller berfungsi untuk menahan sabuk pada saat sabuk berjalan kembali.

Idler ini terdiri dari roller dan dua bracket yang dipasang dibawah

frame.

Gambar 2.12 Tipe Flate Return Idler

(Ref. 8, hal. 7)

Fakultas Teknoligi Industri Page 27

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Dalam perancangan, panjang idler dibuat lebih panjang 100

sampai 200 mm dari lebar belt. Jarak idler tergantung pada belt dan

jenis dari beban seperti ditunjukkan pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.4 Jarak Idler Maksimum Belt yang digunakan untuk muatan curah.

(Ref. 1, hal. 70)

2.9.1.4 Rangka (Frame)

Rangka penumpu berfungsi untuk tumpuan dari semua komponen-

komponen sabuk konveyor serta mengarahkan aliran muatan yang dibawa.

Rangka ini terdiri dari batang profil tegak, memanjang dan melintang yang

disambung satu sama lainnya dengan menggunakan las, baut, atau keling. Untuk

menumpu roller idler biasanya dipergunakan semacam tumpuan yang terbuat dari

besi cor dengan bentuk profil L yang dipasangkan pada rangka penumpu dengan

menggunakan mur dan baut.

Fakultas Teknoligi Industri Page 28

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2.9.2 Komponen Pendukung

Dalam pegoperasian dilapangan, banyak terdapat komponen-komponen

pendukung yang ditambahkan pada sistem tersebut, diantaranya :

1. Rubber Skirt (skirt board seal)

Merupakan peralatan yang berfungsi mencegah agar material

tidak tertumpah keluar dari belt berjalan pada saat memuat material.

2. Plough scrapper

Berfungsi membersihkan material yang tertumpah pada arah balik

belt.Biasanya terdiri dari primary dan v-plough scrapper.

Gambar 2.13 Plough Scrapper

(Ref.9, hal. 5)

3. Scrapper (pembersih)

Merupakan perangkat yang berfungsi membersihkan material

yang menempel pada belt. Biasanya dipasang pada puli bagian depan

atau disekitar Driving Pulley. Alat ini biasanya dipasang pada conveyor

yang membawa material yang basah dan lengket.


Fakultas Teknoligi Industri Page 29

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Gambar 2.14Tipe Scratch Action Scraper

(Ref. 4, hal. 8.2)

4. Hopper/ chute

Corong yang terletak diujung depan dan belakang belt conveyor,

dimana material dimuat dan dicurahkan.

2.10 Jumlah Pulley Penggerak

Ditinjau dari banyaknya pulley yang digerakkan sebagai penggerak, belt

conveyor dibedakan menjadi empat, yaitu :

1. Single Drive

Yaitu belt conveyor yang memiliki sebuah pulley penggerak tanpa

menggunakan snub pulley.

Gambar 2.15 Single Drive

(Ref. 13, hal. 3)

Fakultas Teknoligi Industri Page 30

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2. Single Drive dengan Snub pulley

Yaitu belt conveyor yang memiliki sebuah pulley penggerak

dengan snub pulley.

Gambar 2.16 Single Drive dengan Snub pulley

(Ref.13, hal. 3)

3. Dual Drive

Yaitu belt conveyor yang memiliki dua pulley penggerak dengan

snub pulley.

Gambar 2.17 Dual Drive

(Ref. 13, hal. 5)

2.11 Unit Penggerak

Berfungsi untuk menggerakkan pulley pada belt conveyor. Daya motor

ditransmisikan ke sabuk dengan friksi belt yang melalui pulley penggerak (driving

pulley) yang digerakkan oleh motor listrik. Penggerak terdiri dari : pulley, motor,
Fakultas Teknoligi Industri Page 31

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

dan roda gigi transmisi, dan kadang alat pengereman (braking device) untuk

mencegah slip.

Diagram kontak (wraps) belt dengan pulley penngerak ditunjukkan pada

gambar 2.18. Gambar a dan b menunjukkan pulli tunggal (single pulley drive)

dengan sudut kontak = 1800 dan = 2100 sampai dengan 2300. Peningkatan

sudut kontak seperti yang ditunjukkan Gambar b dapat diperoleh jika idler

pembalik diletakkan lebih keatas dan jarak dengan pulli penggerak lebih

dekat.Gambar c dan d menunjukkan dua pulli penggerak dengan sudut kontak 35

dan 480. Pada gambar e dan f adalah penggerak khusus dengan snub pulley dan

pressure belts yang digunakan untuk konveyor panjang dan beban berat.

Dari teori penggerak gesek (Hukum Euler) bahwa sabuk yang digunakan

tidak akan slip jika :

St Ssl. e

.(Ref. 1, hal. 72)

Dimana :

St= Tegangan sisi pengencang (tigth tension)

Ssl= Tegangan sisi pembalik (slack tension)

= Sudut kontak pada sabuk dan pulli = 210, radian ( 1 rad = 57,3)

e = Bilangan logaritma dasar e 2,718

Fakultas Teknoligi Industri Page 32

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

= Faktor gesek pulley penggerak dimana besarnya :

= 0,1 pulley besi tuang atau baja, lingkungan basah, kotor

= 0,15 pulley kayu, lingkungan basah, kotor

= 0,2 pulley besi tuang atau baja, udara lembab, kotor

= 0,3 pulley besi tuang atau baja, udara kering, berdebu

= 0,35 pulley kayu, udara kering, berdebu

= 0,4 pulley karet, udara kering, berdebu

Gambar 2.18.Susunan Penggerak belt conveyor

(Ref. 2, hal 139)


Fakultas Teknoligi Industri Page 33

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Tabel 2.5Harga Koefisien gesek

(Ref.4, hal.19)

Gaya tarik keliling Wopada puli penggerak dengan mengabaikan losses pada

pulli penngerak dengan mengacu pada kekuatan sabuk.

Wo= St St1

(Ref. 2, hal 121)

Dari persamaan diatas besar gaya tarik yang dapat ditransmisikan oleh pulli

penggerak ke sabuk meningkat dengan pertambahan sudut kontak. Koefisien

gesek dan tarikan sabukt,besar koefisien gesek tergantung pada permukaan pulli

dan sudut kontak. Untuk besaran koefisien gesek dapat dilihat tabel 2.5.

2.12 Perhitungan Sabuk Konveyor

Untuk menentukan dimensi belt dan kebutuhan daya motor, diperlukan data

awal yang diperlukan adalah karakteristik muatan yang dipindahkan, geometri

konveyor, dan kondisi operasi (kering, atau berdebu, outdoors atau indoors,

metode pengisian dan pengeluaran).

Fakultas Teknoligi Industri Page 34

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2.12.1 Lebar Sabuk

Sabuk yang direncanakan akan ditumpu dengan menggunakan troughing

carrier idler 3 roller. Rumus yang digunakan dapat dilihat dibawah ini yaitu :

B = (Q/324.v..C1)1/2

..(Ref.1, hal. 82)

Dimana :

B = Lebar Sabuk (m)

Q = Kapasitas (ton/jam)

A = Kecepatan belt (m/dtk)

= Densitas (kg/m3)

C1 = Faktor koreksi

Faktor koreksi C1untuk sabuk dengan penyangga troughed idler :

= 0 - 10, C1= 1,0

= 10 - 15, C1= 0,95

= 15 - 20, C1= 0,90

> 20, C1= 0,85

Fakultas Teknoligi Industri Page 35

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2.12.2 Menentukan Tahanan Gerak Sabuk

Jika muatan dipindahkan oleh bagian pembawa muatan sabuk konveyor,

bagian pembawa muatan (load carrying member) dan bagian penarik (pulling

member) bergerak secara kontinu sepanjang garis lurus (rectilinear) terhadapa

idler akan menyebabkan losses gesekan sabuk dengan idler, gesekan didalam

bearing (roller atau ball bearing), dan bending pada roller.

Gaya tahanan pada bagian yang dibebani muatan :

W1 = (q + qb + qp ) L.wcos (q + qb ) L.sin

= (q+qb +qp )Lhor w (q+qp )H

..(Ref. 1, hal.76)

Gaya tahanan pada bagian yang dibebani muatan (gerak balik) :

W1 = ( qb+ qp ) Lwcos qb L sin

= (qb+ qp ) Lhor w qp ) H

..(Ref. 1, hal.76)

Dimana :

q = Berat muatan persatuan panjang (kg/m)

qb= Berat sabuk persatuan panjang (Kg/m)

qp = Berat bagian roll yang berputar atau sisi atas (kg/m)

qp = Berat bagian roll yang berputar atau sisi balik (bawah) (kg/m)

= Sudut inklinasi conveyor terhadap bidang horizontal

L = Panjang bagian lurus (m)

Fakultas Teknoligi Industri Page 36

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Lhor = Panjang proyeksi mendatar bagian garis lurus (m)

H = Beda elevasi bagian awal dan akhir (m)

w = Koefisien tahanan sabuk terhadap roller bearing

Berat idler dari komponen tergantung dari desain dan ukuran dan dibawah

ini adalah rumus untuk untuk menghitung berat idler yaitu :

Untuk troughed idler :

Gp = 10 B +7 (kg)

..(Ref. 1, hal.77)

Untuk flat idler :

Gp = 10 B +3 (kg)

(Ref. 1, hal.77)

Sehingga berat idler rotating part per meter adalah :



qp = (kg/m)

.(Ref. 1, hal.77)

"
qp = (kg/m)

..(Ref. 1, hal.77)

Fakultas Teknoligi Industri Page 37

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Harga masing-masing dari koefisien tahanan w didapt dilihat pada

tabel 2.4 Untuk rolling bearing. Sedangkan untuk sliding bearing harga w

akan lebih besar 3 sampai 4 dari rolling heating.

Karakteristik Faktor w' untuk idler


Kondisi Operasional Flat Idler Trough Idler
Operasional di tempat yang
bersih, kering, tidak ada debu 0,018 0,020
bersifat abrasif
Operasional ditempat panas,
terdapat sejumlah debu yang 0,022 0,025
bersifat abrasif, kelembaban
udara normal
Operasional diluar ruangan
banyak debu abrasif, kelembaban
udara tinggi atau sebab lain 0,035 0,040
yang mempengaruhi unjuk
kerja bantalan

Tabel 2.6 Koefisien Tahanan Belt Terhadap Roller Bearing

(Ref.2, hal. 149)

Ketika bagian penarik meleati pulley, sprocket atau drum, terjadi tegangan

kendor (salck tension) akibat tarikan pengencang (tigh side tension) membelok

pada puli, sprocket atau drum. Dalam praktik nilai tahanan pada pulli, sprocket

atau drum, antara 3 sampai 10 persen dari St, umumnya antara 5 sampai 7 persen,

sehingga :

Ssl (1,05 1,07) St

...(Ref. 2, hal. 120)

Fakultas Teknoligi Industri Page 38

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Jika puli, sprocket, atau drum yang bekerja sebagai pengencang roda gigi

juga menjadi penggerak konveyor, tahanan yang terjadi diantara 3 sampai 5

persen jumlah tegangan pengencang St dan kendor (slack) Ssl, maka :

Wdr= k (St +Ssl) = (0,03 0,05) (St + Ssl)

.(Ref. 2, hal. 120)

2.12.3 Menentukan Tarikan Efektif Dan Daya Motor

2.12.3.1 Tarikan Efektif Belt

Bagian penarik (pulling member) dibagi menjadi bagian yang lurus

(separate rectilinear) dan bagian kurvalinier (curvaliniear section).Titik sambung

bagian ini diberi nomor dan tegangan dari pulling member pada pengencang dan

pembelok (slack stands) ditentukan dari titik ke titik tersebut. Jumlah tegangan

diperoleh dengan menjumlahkan tegangan pada titik ke titik tersebut.

Si = Si 1 + W(i-1) to i

...(Ref. 2, hal. 121)

Dimana :

Si = Tarikan pada titik i

Si 1 = Tarikan pada titik i-1

W(i-1) to I = Tahanan pada bagian diantara titik-titik

Fakultas Teknoligi Industri Page 39

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Jika Ssl adalah tarikan pada sisi pembalik dan St adalah tarikan pada sisi

pengencang maka tegangan atau tarikan efektif menjadi :

Wo= St - Ssl

.(Ref. 2, hal.121)

Dimana :

Wo= Tarikan efektif (kg)

Jika tahanan poros penggerak adalah Wdr = Wn to 1, maka :

Wo= St - Ssl + Wn to 1

(Ref. 2, hal.121)

2.12.3.2 Daya Motor

Untuk kebutuhan sistem transmisi daya mekanik yang dihasilkan melalui

energy listrik yang berupa gerak putar dengan kecepatan tetap, sistem trasmisi ini

dibuat dalam bentuk universal dengan karakteristik yang bervariasi dengan

konstruksi yang terdiri atas susunan helical gear transmisi beikut reducer. Desain

yang kompak sangat disukai karena operasional yang hampir tanpa gangguan.

Daya motor yang diperlukan oleh mesin pemindah dalam hal ini

sabukkonveyor adalah :


N= (hp)

...(Ref. 2, hal. 122)


Fakultas Teknoligi Industri Page 40

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

N = Wo.v (kw)

...(Ref. 2, hal. 122)

Dimana :

N = Daya motor (kW)

Wo= Tarikan efektif (kg)

v = Kecepatan pulling member (m/det)

g= Efisiensi roda gigi transmisi, termasuk rugi-rugi transmisi

Tabel 2.7Efisiensi Transmisi

(Ref. 6, hal 12.9)

Tabel 2.8Standar Daya

(Ref.6, hal 12.9)

Fakultas Teknoligi Industri Page 41

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2.12.3.3 Pemeriksaan Momen Start Motor Penggerak

Pada saat start, motor harus mampu menghasilkan torsi yang lebih besar

untuk mengatasi beban statis dan beban dinamis dari perlegkapan yang digunakan.

Mstart = Mstatis + Mdinamis

1. Besarnya momen tahanan statis pada poros motor :

= 974

.(Ref. 3, hal. 47)

Dimana :

Mstatis = Momen tahanan statis (kg.m)

n = Putaran motor (rpm)

N = Daya motor yang dihasilkan pada gerak konstan (kW)

2. Besarnya momen gaya dinamis pada waktu percepatan :

. 0,975.
= +
375. . .

.(Ref. 2, hal. 48)

Fakultas Teknoligi Industri Page 42

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Dimana :

GD2 = Momen girasi akibat komponen yang terpasang pada poros

motor (rotor, kopling), (kg/m2)

= Koefisien karena pengaruh mekanisme transmisi (harga = 1,1

sampai 1,25)

v = Kecepatan (m/det)

= Efisiensi total mekanisme = 80

ts = Waktu start (3-8) detik

G =Wo = Bobot muatan yang dipindahkan

3. Pemeriksaan motor terhadap beban lebih.

Berdasarkan spesifikasi motor listrik yang dipakai didapatkan

Mstart/Mstatis = 2,4 (yang diijinkan).

.(Ref. 1, hal. 52)

4. Maka, Beban lebih motor selama start (Mstart = Mstatis) adalah :

.(Ref. 2, hal. 52)

Fakultas Teknoligi Industri Page 43

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2.12.4 Belt (Sabuk)

Sabuk untuk belt conveyor yang dipergunakan sebagai penumpu beban,

dapat dibuat dari bahan tekstil (tektile belt) atau logam (metal belt).Kawat baja

yang dianyam dengan bentuk dan ukuran tertentu dapat dipergunakan sebagai

sabuk (steel wire belt).Konveyor tipe ini dipergunakan untuk keperluan khusus

dengan kondisi operasi yang tertentu.

Sabukkonveyor harus memenuhi persyaratan :

1. Tidak menyerap air (low hygroscopicity)

2. Kekuatan tinggi, ringan

3. Pertambahan panjang spesifik rendah (low specific elongation,

fleksibilitas tinggi)

4. Lapisan tidak mudah lepas (high resistivity to ply separation)

5. Tahan lama (long service life).

Ditinjau dari persyaratan-persyaratan diatas sabuk berlapis karet adalah

yang terbaik.Belt textile berlapis karet terbuat dari beberapa lapisan yang dikenal

dengan lapisan (ply).

Lapisan-lapisan tersebut dihubungkan dengan menggunakan karet alam

maupun sintesis.Belt dilengkapi dengan cover karet untuk melindungi textile dari

kerusakan-kerusakan.Karena beberapa jenis material yang dibawa mempunyai

Fakultas Teknoligi Industri Page 44

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

sifat abrasive.Penampang belt (Struktur fabric belt)dapat dilihat gambar 2.15

dibawah ini :

Gambar 2.20 Struktur fabric belt

(Ref. 8, hal. 3)

Berat tiap meter rubberized textile belt dapat ditentukan dengan persamaan

berikut :

qb = 1,1B (I.i+1+2)

...(Ref. 2, hal. 136)

Dimana :

qb= Berat tiap meter rubberized textile belt (kg/m)

B = Lebar belt (mm)

1 = Tebal cover atas (mm)

Fakultas Teknoligi Industri Page 45

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2 = Tebal cover bawah (mm)

Tebal satu lapis I tidak termasuk rubber skim coat adalah 1,25 (mm) untuk

ordinary cotton belt ; 1,9 (mm) untuk high strength belt ; 2 (mm) untuk cotton

duck fabric ; 0,9 sampai dengan 1,4 (mm) untuk synthetic fabrics. Ada 2 tipe dari

carcass.Textile fabric dan steel cord.Berdasarkan hal tersebut ada 2 tipe belt yang

penamaannya dihubungkan dengan jenis carcass pada belt, 2 tipe dari belt

tersebut adalah textile fabric belt dan steel cord belt.

Kekuatan belt conveyor bukan dilihat berdasarkan ketebalannya melainkan

pada jumlah penguat (ply) dan tegangan tarik per ply (tensile strenght). Ditinjau

dari struktur lapisan penguatnya, tipe belt dibagi dalam dua jenis yaitu :

1. Textile Fabric Belt

Belt dengan penguat jenis fabric adalah sabuk dengan lapisan

penguat (ply) yang terbuat dari serat tekstil (serat buatan).Lapisan

penguat tersebut biasanya disebut carcass.Carcass terbagi dalam

bebrapa jenis, antara lain :

a. Nylon atau polymide (NN)

b. Polyester, serat sintetis terilene, trevira dan diolen

c. Cotton

d. Vynylon fabric (VN)

e. Polyvinil (KN)
Fakultas Teknoligi Industri Page 46

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

f. Aramide fiber

Fabric merupakan rajutan yang terdiri dari serat memanjang

(Wrap) dan serat pengisi dengan arah melintang (Weft).Jenis rajutan

yang sering dipakai pada fabric belt adalah plain wave.

Jumlah lapisan sabuk yang dipakai tergantung dari lebar

sabukt.Hubungan antara lebar dengan jumlah lapisan(ply) dapat dilihat

pada tabel 2.10. Sedangkan untuk mengetahui ketebalan dari cover

dapat dihubungkan dengan jenis material yang membebani belt.

Dikarenakan setiap jenis material mempunyai ukuran dan karakteristik

yang berbeda.Ketebalan belt dapat ditentukan dari tabel 2.10.

Tabel 2.9 Jumlah Lapisan Belt yang disarankan

(Ref.2, hal. 137)

Fakultas Teknoligi Industri Page 47

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Tabel 2.10Tebal Cover Belt Yang dianjurkan

(Ref. 8, hal. 3)

2. Steel Cord Belt

Steel cord beltadalah belt yang lapisan penguatnya terbuat dari serat

baja yang di galvanizing. Tujuan galvanizing adalah untuk mencegah

terjadinya karat pada kawat akibat adanya rembesan air atau udara.Steel

cord belt biasanya digunakan pada konveyor yang membawa beban berat.

Pada belt jenis ini tidak terdapat lapisan penguat (ply), yang ada hanya

batangan kawat sling yang dirajut sedemikian rupa sehingga membentuk

suatu anyaman kawat baja.Berikut dapat dilihat kontruksi dari steel cord

belt pada gambar berikut dibawah ini.

Gambar 2.21Potongan Steel cord belt

(Ref.9, hal. 10.1)

Fakultas Teknoligi Industri Page 48

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2.13 Pemeriksaan Kekuatan Lapisan (carcass) Sabuk

Kekuatan lapisan sabuk dapat dicari dengan menggunakan rumus persamaan

dibawah ini, yaitu :

.
Textile fabric carcass strength =

...(Ref. 12, hal. 48)

Dimana :

Smax = Tarikan teoritis belt maksimum (kg)

B = Lebar sabuk (mm)

2.14 Pemeriksaan Lapisan Sabuk

Jumlah lapisan sabuk (i) yang diperlukan dapat ditentukan dengan

menggunakan rumus persamaan sebagai berikut :


.
i > .

...(Ref. 2, hal. 137)

Dimana :

i= Jumlah lapisan sabuk

Smax = Tarikan teoritis belt maksimum (kg)

Kt =Kekutan tarik belt per cm lebar lapisan (kg/cm)

B = Lebar belt (cm)

k= Faktor keselamatan

Fakultas Teknoligi Industri Page 49

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Tabel 2.11 Faktor keselamatan k sesuai jumlah lapisan belt .

(Ref.5, hal. 137)

2.15 Pemeriksaan Kekuatan Sabuk

Untuk mengetahui kemampuan sabuk dalam mengangkut beban, kekuatan

sabuk perlu diperiksa dengan cara menghitung besarnya faktor keamanan,

menurut persamaan dibawah ini :

.
Sf =

.(Ref. 2, hal. 71)

Dimana :

Kt = Kekuatan tarik sabuk persatuan lebar (kg/cm)

Tmax = Kekuatan tarik maksimum yang diterima sabuk (kg)

B = Lebar sabuk (cm)

Sf = Faktor keamanan

Dari perhitungan diatas diketahui bahwa factor keamanan sabuk cukup

besar.Hal ini menyatakan bahwa sabuk yang dipilih aman untuk dipergunakan.

Fakultas Teknoligi Industri Page 50

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2.16 Kapasitas Dan Kecepatan

Kecepatan dan kapasitas sabuk konveyor tergantung dari jenis material yang

dipindahkan serta dimensi sabuk yang dipergunakan.Bahan-bahan yang tidak

mudah rusak dan memiliki berat jenis yang cukup besar dapat diangkut dengan

kecepatan tinggi.

2.16.3 Kapasitas

Untuk kapasitas pengangkutan tertentu dapat dipilih dan lebar sabuk yang

tepat.Semakin lebar sabuk, semakain besar kapasitasnya. Pada perencanaan

konveyor, biasanya dipilih kecepatan rendah dengan lebar sabuk yang lebih besar,

mengingat faktor dinamis yang timbul pada kecepatan tinggi yang mengakibatkan

impact dan gaya inersia terhadap muatan yang dapat merusak bahan.

Rumus Kapasitas yaitu :

Q = 60 .A .v . (Horizontal)

...(Ref. 4, hal. 8)

Q = 60 .A .v . . s (Inklinasi)

...(Ref. 5, hal. 8)

Dimana :

Q = Kapasitas (ton/jam)

A = Luas penampang beban (m2)

Fakultas Teknoligi Industri Page 51

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

v = Kecepatan belt (m/s)

= Densitas material (kg/m3)

s = Koeffisien sudut incline/ decline

Tabel 2.12 Koeffisien sudut incline/ decline

(Ref. 4, hal. 11)

Fakultas Teknoligi Industri Page 52

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Tabel 2.13Koreksi Lebar Sabuk, Kecepatan dengan Kapasitas

(Ref.11, hal. 38)

2.16.4 Kecepatan

Kecepatan konveyor dapat dicari dengan rumus kapasitas setelah diketahui

lebar belt, karakteristik material, dan penentuan kapasitas.Kecepatan sabuk dapat

meningkat sebanding dengan lebar belt dan kecocokan kecepatan yang tergantung

pada karakteristik dari material, khusunya ukuran lump size material.

Tabel 2.14.Kecepatan Sabuk yang direkomendaikan.

(Ref. 1, hal. 76)

Fakultas Teknoligi Industri Page 53

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2.17 Cross-Sectional Area of Load

Untuk menentukan daerah penampang aliranbeban (A), dapat menggunakan

hubungan dasar geometric yang dapat dihitung dari sudut troughing dan sudut

surcharge dari potongan lebar sabuk lebar yang digunakan yang terbentuk.

Gambar 2.17 memperlihatkan luas penampang beban pada sabuk yang dibentuk

oleh 3 roller idler dengan sudut troughing dan surcharge .

Gambar 2.22.Cross-Sectional Area of Load

(Ref. 6, hal. 11.5)

Untuk perhitungan luas penampang beban (cross-sectional Area of load)

dengan menggunakan rumus dibawah ini :

A = K (0,9 x B 0,05)2

....(Ref. 4, hal. 8)

Dimana :

A = Luas penampang beban (m2)

K = Koeefisien luas penampang

Fakultas Teknoligi Industri Page 54

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

B = Lebar Sabuk (m)

Tabel 2.15Koeffisien Luas Penampang K.

(Ref. 4, hal.8)

Surcharge
Angle Type & Condition of Materials
(degree)
10 Dry fine materials
20 When bulk material (coal, gravel, most ores, etc)
are transported by ordinary equipment under
ordinary conditions
30 When the material is comparatively large and
the loading facility is properly arranged so that
the material is constantly loaded on the belt
in a uniform an full manner.

Tabel 2.16Surcahrge Angle of Material

(Ref. 4, hal.9)

Fakultas Teknoligi Industri Page 55

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Tabel 2.17Area of Load Cross Section

(Ref. 4, hal.11)

2.18 Poros

Poros merupakan salah satu bagian terpenting dari setiap mesin.Hampir

semua mesin meneruskan tenaga bersama-sama dengan putaran, peranan utama

utama transmisi seperti itu dipegang oleh poros.

2.18.3 Daya Rencana

Jika P adalah daya nominal output dari motor penggerak (kW), maka

berbagai factor kemanan bisa diambil, sehingga koreksi pertama bisa diambil

kecil.Jika factor koreksi adalah fc.

Fakultas Teknoligi Industri Page 56

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Pd = fc.P

...(Ref. 4, hal. 7)

Dimana :

Pd = Daya rencana (kW)

Tabel 2.18Faktor koreksi daya yang akan ditransmisikan

(Ref. 3, hal. 7)

2.18.4 Momen Puntir Rencana

Jika momen puntir (disebut juga sebagai momen rencana) adalah T (kg.mm)

maka :

= 9,74 10

...(Ref. 4, hal. 7)

Dimana :

T = Momen rencana (N.mm)

Pd = Daya rencana (kW)

n1 = Putaran poros (rpm)

Fakultas Teknoligi Industri Page 57

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

2.18.5 Tegangan geser yang diijinkan

Tegangan geser yang diijinkan dapat dicari dengan menggunakan

persamaan dibawah ini :


a =

...(Ref. 3, hal. 8)

Dimana :

a = Tegangan geser yang diijinkan (N/mm2)

B = Kekuatan tarik (N/mm2)

Sf1= Faktor kemanan untuk bahan S-C (diambil 6)

Sf2= Faktor kemanan beban alur pasak (antara 1,3 sampai 3,0)

2.18.6 Diameter poros yang diijinkan

Untuk menghitung diameter poros yang akan digunakan menggunakan

rumus dibawah ini, yaitu :

5,1
=

...(Ref. 3, hal. 8)

Fakultas Teknoligi Industri Page 58

Universitas Mercu Buana


Tugas Akhir Teknik Mesin

Dimana :

ds = Diameter poros (mm)

a = Tegangan geser (N/mm2)

Kt = factor koreksi untuk momen puntir yang dianjurkan oleh ASME

= 1,0 (Jika beban dikenakan secara halus)

= 1,0 1,5 (Jika terjadi sedikit kejutan atau tumbukan)

= 1,5 3,0 (Jika beban dikenakan dengan kejutan atau tumbukan besar)

Cb = Factor beban lentur 1,2 2,3 (jika diperkirakan tidak akan terjadi

pembebanan lentur maka diambil = 1,0

T = Momen rencana (N.mm)

Fakultas Teknoligi Industri Page 59

Universitas Mercu Buana