Anda di halaman 1dari 5

B.

Kecemasan

1. Definisi
Pada dasarnya, kecemasan merupakan hal wajar yang pernah
dialami oleh setiap manusia. Kecemasan merupakan salah satu emosi yang
paling menimbulkan stress yang dirasakan oleh banyak orang. Kadang-
kadang kecemasan juga disebut dengan ketakutan atau perasaan gugup.
Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan pada saat-saat
tertentu, dan dengan tingkat yang berbeda-beda. Hal tersebut mungkin
terjadi karena individu merasa tidak memiliki kemampuan untuk
menghadapi hal yang mungkin menimpanya dikemudian hari. Dalam teori
Behavior dijelaskan bahwa kecemasan muncul melalui clasical
conditioning, artinya seseorang mengembangkan reaksi kecemasan
terhadap hal-hal yang telah pernah dialami sebelumnya dan reaksi-reaksi
yang telah dipelajari dari pengalamannya (Bellack & Hersen, 1988:284).
Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb (dalam Fitri Fauziah &
Julianti Widuri, 2007:73) kecemasan adalah respon terhadap situasi
tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi
menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum
pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup.
Kecemasan adalah reaksi yang dapat dialami siapapun. Namun cemas
yang berlebihan, apalagi yang sudah menjadi gangguan akan menghambat
fungsi seseorang dalam kehidupannya.
Taylor (dalam Zuckerman, 2015) dalam Tailor Manifest Anxiety
Scale (TMAS) mengemukakan bahwa kecemasan merupakan suatu
perasaan subyektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan
sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau
tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu ini pada umumnya
tidak menyenangkan dan menimbulkan atau disertai disertasi perubahan
fisiologis (misal gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat) dan
psikologis (misal panik, tegang, bingung, tidak bisa berkonsentrasi).
Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai
ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari
ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman.
Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan
yang nantinya akan menimbulkan atau disertai perubahan fisiologis dan
psikologis (Kholil Lur Rochman, 2010:104).
Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pendapat diatas
bahwa kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi tertentu
yang sangat mengancam yang dapat menyebabkan kegelisahan karena
adanya ketidakpastian dimasa mendatang serta ketakutan bahwa sesuatu
yang buruk akan terjadi.

2. Macam Kecemasan
Menurut Freud (dalam Hayat, 2015) ada tiga macam kecemasan:
a. Kecemasan Realistik adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia
eksternal, dan taraf kecemasannya sesuai dengan ancaman yang
ada. Dalam kehidupan sehari-hari kecemasan jenis ini kita sebut
sebagai rasa takut. Persis inilah yang dimakud Freud dalam bahasa
jerman, tapi penerjemahnya menganggap kitatakut (fear)
terkesan terlalu umum. Contohnya sangat jelas, jika saya melempar
seekor ular berbisa kedepan anda, anda pasti akan mengalami
kecemasan ini.
b. Kecemasan Moral kecemasan ini akan kita rasakan ketika ancaman
datang bukan dari dunia luar atau dari dunia fisik, tapi dari dunia
sosial super ego yang telah diinternalisasikan ke dalam diri kita.
Kecemasan moral ini adalah kata lain dari rasa malu, rasa bersalah
atau rasa takut mendapat sanksi. Kecemasan bentuk ini merupakan
ketakutan terhadap hati nurani sendiri.
c. Kecemasan Neurotik perasaan takut jenis ini muncul akibat
rangsangan-rangsangan id, kalau anda pernah merasakan
kehilangan ide, gugup, tidak mampu mengendalikan diri, perilaku,
akal dan bahkan pikiran anda, maka anda saat itu sedang
mengalami kecemasan neurotik. Neurotik adalah kata lain dari
perasaan gugup. Kecemasan jenis terakhir inilah yang paling
menarik perhatian freud, dan biasanya kita hanya menyebutnya
dengan kecemasan saja.
3. Jenis-jenis kecemasan berdasarkan sifatnya adalah :
a. Kecemasan bersifat afersif. Kecemasan merupakan pengalaman yang
tidak menyenangkan sehingga seseorang yang mengalaminya dengan
intensitas tinggi biasanya berusaha keras untuk mengurangi atau
menghindari kecemasan dengan menghindarkan diri dari berbagai
stimulus yang dapat menghasilkan kecemasan.
b. Kecemasan bersifat mengganggu. Kecemasan dapat menjadi
pengalaman yang mengganggu kemampuan kognitif dan motorik.
c. Kecemasan yang bersifat psikofisiologis. Kecemasan berkaitan
dengan pengalaman yang melibatkan aspek psikologis dan biologis,
artinya selama periode kecemasan berlangsung terjadi perubahan-
perubahan dalam pola perilaku atau perubahan psikologis dan gejala-
gejala fisiologis.

4. Klasifikasi Tingkat Kecemasan


Menurut Stuart dan Sunden (1995, dalam Rochmawati, 2015) Ada
empat tingkat kecemasan, yaitu ringan, sedang, berat dan panik.
a. Kecemasan ringan; Kecemasan ringan berhubungan dengan
ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan
seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.
Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan
pertumbuhan dan kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat
ini adalah kelelahan, iritabel, lapang persepsi meningkat, kesadaran
tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan tingkah laku
sesuai situasi.
b. Kecemasan sedang; Memungkinkan seseorang untuk memusatkan
pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain
sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun
dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi
pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut
jantung dan pernapasan meningkat, ketegangan otot meningkat,
bicara cepat dengan volume tinggi, lahan persepsi menyempit,
mampu untuk belajar namun tidak optimal, kemampuan
konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada
rangsangan yang tidak menambah ansietas, mudah tersinggung,
tidak sabar,mudah lupa, marah dan menangis.
c. Kecemasan berat; Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang.
Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan
pada sesuatu yang terinci dan spesifik, serta tidak dapat berpikir
tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan
untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi
yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit
kepala, nausea, tidak dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare,
palpitasi, lahan persepsi menyempit, tidak mau belajar secara
efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk
menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya, bingung,
disorientasi.
d. Panik; Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan
teror karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang sedang
panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan
pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah
susah bernapas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis,
pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon terhadap perintah
yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami halusinasi dan
delusi.

5. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan


Menurut Ramaiah (2003, dalam Aisah dan Zulkaida 2012) ada
empat faktor utama yang mempengaruhi rasa cemas yaitu :.
a. Lingkungan
Lingkungan atau sekitar tempat tinggal mempengaruhi cara
berpikir tentang diri seseorang dan orang lain.
b. Emosi yang ditekan
Kecemasan bisa terjadi jika seseorang tidak mampu menemukan
jalan keluar untuk perasaan seseorang dalam hubungan personal.
c. Sebab-sebab Fisik
Pikiran dan tubuh senantiasa saling berinteraksi dan dapat
menyebabkan timbulnya kecemasan.
d. Keturunan
Sekalipun gangguan emosi yang ditemukan dalam keluarga-
keluarga tertentu, ini bukan merupakan penyebab penting dari
kecemasan.

6. Faktor penyebab timbulnya kecemasan karena adanya:


- Threat (Ancaman) baik ancaman terhadap tubuh, jiwa atau
psikisnya (seperti kehilangan kemerdekaan, kehilangan arti
kehidupan) maupun ancaman terhadap eksistensinya (seperti
kehilangan hak).
- Conflict (Pertentangan) yaitu karena adanya dua keinginan yang
keadaannya bertolak belakang, hampir setiap dua konflik, dua
alternatif atau lebih yang masing-masing yang mempunyai sifat
approach dan avoidance.
- Fear (Ketakutan) kecemasan sering timbul karena ketakutan akan
sesuatu, ketakutan akan kegagalan menimbulkan kecemasan,
misalnya ketakutan akan kegagalan dalam mengahadapi ujian atau
ketakutan akan penolakan menimbulkan kecemasn setiap kali harus
berhadapan dengan orang baru.
- Unfulled Need (Kebutuhan yang tidak terpenuhi) kebutuhan
manusia begitu kompleks dan bila ia gagal untuk memenuhinya
maka timbullah kecemasan.