Anda di halaman 1dari 16

Raja Mulawarman dari Kerajaan Kutai

Kutai sesunguhnya bukan nama sebenarnya Kerajaan yang dimaksudkan. Nama Kutai diambil dari
berdasarkan nama tempat penemuan prasasti yang memberitakan eksistensi Raja Mulawarman.
Beberapa pihak bahkan lebih suka menyebutnya kerajaan Mulawarman di banding Kerajaan Kutai, ada
juga yang menyebutnya Kerajaan Kutai Martapura untuk membedakannya dengan Kerajaan Kutai
Kartanegara. Belum ada informasi yang dianggap jelas untukmenyebutkan nama kerajaan ini, dan
memang sangat sedikit informasi yang ada. Dari salah satuprasasti yupayang menggunakan huruf
Pallawa dan bahasa sanskertaitu, diketahui bahwa raja yang .memerintah kerajaan Kutai salah satunya
adalah Mulawarman.
Mulwarman tercatat dalam prasasti yupa tersebut selain karena ia seorang Raja, beliau juga adalah raja
yang dermawanan, begitulah kira-kira menurut para Brahmana yang membuat prasasti Yupa itu.
Bagaimana tidak dermawan, tidak tanggung-tanggu, Raja Mulawarman telah menyedekahkan 20.000
ekor sapi kepada para brahmana.

Prasasti Yupa Kutai.

Mulawarman lebih lanjut diceritakan merupakan anak dari Aswawarman dan cucu dari Kudungga.
Ketiganya ada raja kerajaan Kutai. Nama Aswawarman dan Mulawarman sangat kental dengan
pengaruh bahasaSanskerta sedangkan Kudungga masih berbau lokal.Kudungga diduga adalah raja
pertama yang berkuasa atas Kerajaan Kutai. Akan tetapi, alih-alih dia adalah seorang raja pendiri,
beberapa justru berpendapat bahwa pada masa pemerintahan Kudungga pengaruh Hindu diduga baru
masuk ke wilayahnya.
Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara (Hindu)

Purnawarman dilahirkan pada tanggal 8 bagian gelapbulan Palguna di tahun 294 Saka (kira-kira 16
Maret 372 Masehi). Purnawarman telah dinobatkan sebagai raja Tarumanagara ketiga tanggal 13 bagian
terang bulanCaitra di tahun 317 Saka (kira-kira tanggal 12 Maret 395 Masehi). Ia berusia 23 tahun
ketika dinobatkan menjadi Rajakurang lebih dua tahun sebelum ayahnya wafatdan memerintah
selama 39 tahun, dari tahun 395 hingga 434 Masehi.

Adiknya yang bernama Cakrawarman adalah panglima angkatan perang. Sementara pamannya yang
bernama Nagawarman adalah panglima dari angkatan laut. Dari permaisurinya, yang konon merupakan
putri dari seorang raja bawahan Tarumanagara, Purnawarman memiliki beberapa anak lelaki dan
perempuan, salah satunya bernama Wisnuwarman.

Raja Purnawarman dikabarkan membangun ibu kota kerajaan yang baru pada tahun 397 Masehi,
terletak lebih dekat ke wilayah pantai. Ibu kota baru Tarumanagara itu dinamainya Sundapura. Pada
masa pemerintahannya, kekuasaan Tarumanagara mencakup wilayah Jawa Barat, Banten, dan Jawa
Tengah bagian barat.

Prasasti Ciaruteun ditulis dalam bentuk puisi 4 baris, berbunyi:

Kedua jejak telapak kaki yang seperti telapak kaki Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani
yang termasyhur Purnawarman penguasa Tarumanagara.
Prasasti Ciaruteun. Foto dari Tropenmuseum

Pada Prasasti Ciaruteun terdapat pandatala atau jejak kaki. Ada yang menyamakan bahwa pandatala itu
berfungsi sama seperti tanda tangan. Tapi kemungkinan tidak sesederhana itu, jejak kaki justru
mempunyai makna yang lebih tinggi, jejak kaki bisa bermakna kekuasaan berada di bawah kaki-nya.
Kehadiran prasasti ini menunjukkan bahwa daerah tersebut berada di bawah
kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara, di antara daerah yang menjadi
wilayah kekuasaan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat
namaRajamandala (raja daerah) Pasir Muhara. Sampai abad ke-19, tempat itu masih disebut Pasir
Muara (kini termasuk wilayah Kec. Cibungbulang).
Raja Sri Baduga Maharaja dari Kerajaan Padjajaran (Hindu)

Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi (Ratu Jayadewata) putra Prabu Dewa
Niskala putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana lahir 1401 M di Kawali Ciamis, mengawali
pemerintahan zaman Pakuan Pajajaran Pasundan, yang memerintah Kerajaan Sunda Galuh selama
39 tahun (1482-1521). Pada masa inilah Pakuan Pajajaran di Bogormencapai puncak
perkembangannya.

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika
Jayadewata menerima tahta Kerajaan Galuh di Kawali Ciamis dari ayahnya Prabu Dewa
Niskala putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana dari Permaisuri Mayangsari putri Prabu Bunisora,
yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima tahta Kerajaan
Sunda di Pakuan Bogor dari mertua dan uwanya, Prabu Susuktunggal putra Mahaprabu Niskala Wastu
Kancana dari Permaisuri Ratna Sarkati putri Resi Susuk Lampung. Dengan peristiwa ini, ia menjadi
penguasa Kerajaan Sunda - Kerajaan Galuh dan dinobatkan dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu
Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi, sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah
"sepi" selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang
berpindah tempat dari timur ke barat. Untuk menuliskan situasi kepindahan keluarga kerajaan dapat
dilihat pada Pindahnya Ratu Pajajaran

Di Jawa Barat, Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah
tercatat dalam Kropak 630sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih
hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di
Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama
besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga
Sunda). Menurut tradisi lama, orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya,
maka juru pantun memopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur
Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:

"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan
anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira".
Indonesia: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang
menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.
Ratu Shima dari kerajaan Kalingga (Hindu)

Shima adalah ratu penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak di pantai utara Jawa
Tengah sekitar tahun 674 Masehi. Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk
memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya
senantiasa jujur. Tradisi mengisahkan seorang raja asing yang meletakkan kantung berisi
emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota Kalingga. Raja asing
ini melakukan hal itu karena ia mendengar kabar tentang kejujuran rakyat Kalingga dan
berniat menguji kebenaran kabar itu. Tidak seorangpun berani menyentuh kantung yang
bukan miliknya itu, hingga suatu hari tiga tahun kemudian, seorang putra Shima, sang
putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya. Mulanya
Sang Ratu menjatuhkan hukuman mati untuk putranya, akan tetapi para pejabat dan
menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mengurungkan niatnya itu dan mengampuni
sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya
itu, maka Ratu menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran. [1]
Menurut Carita Parahyangan Cicit Ratu Shima adalah Sanjaya yang menjadi Raja Galuh,
dan menurut Prasasti Canggal adalah pendiri Kerajaan Medang di Mataram.
Berdasarkan Naskah Wangsakerta disebutkan bahwa Ratu Shima berbesan dengan
penguasa terakhir Tarumanegara
Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit (Hindu)

Pada tahun 1530 putra mahkota Hayam Wuruk dinobatkan menjadi raja Majapahit. Ia bergelar Sri
Rajasanagara.
Ketika Tribhuwanatunggadewi (ibu hayam wuruk) masih memerintah, ia telah diangkat menjadi
raja muda (rajakumara) dan mendapat daerah jiwana sebagai daerah lunguhnya.
Dalam menjalankan pemerintahannya, hayam wuruk didampingi oleh gajah Mada yang menduduki
jabatan patih Hamangkubhumi, yang sebenarnya jabatan itu diperolehnya pada masa pemerintahan
Tribhuwanatunggadewi, ketika berhasil menumpas pemberontakan sadeng.
Dengan bantuan patih Hamangkubhumi gajah mada, raja hayam wuruk berhasil membawa kerajaan
majapahit kepuncak kejayaannya. Wilayah kekuasaan majapahit sangat luas hampir meliputi
seluruh nusantara dan semenanjung melayu.

Candi panataran adalah candi peninggalan kerajaan majapahit


Dengan penguasaan terhadap kerajaan-kerajaan lain, majapahit merupakan kemaharajaan atau
imperium.
Kekuasaan ini sebenarnya hanya bersifaat formil, raja-raja bawahan hanya harus menyatakan
kesetiaannya kepada maharaja majapahit dengan berdatang sembah dan menyerahkan upeti ke
istana majapahit. Sedangkan dalam urusan kerajaan masing-masing, mereka mempunyai kebebasan
untuk mengatur sendiri dan berhubungan langsung dengan negeri luar. Timbal balik dari kesetiaan
itu berupa perlindungan. Sistem demikian membaw akibat, bila pemerintahan majapahit kuat dan
stabil, maka raja-raja akan setia, tetapi kalau keadaannya goncang, maka raja-raja bawahan tidak
menghiraukan lagi dan membebaskan diri dari kekuasaan majapahit. Sistem pemerintahan itu
diperthankan dan dipelihara oleh gajah mada.
Rupanya sistem kekuasaan seperti itu berakhir setelah tahun 1357, yaitu dengan terjadinya
peristiwa di bubat, yaitu perang antara orang sunda dan majapahit.
Pada waktu itu raja hayam wuruk bermaksud hendak mengambil putri sunda, Dyah Pitaloka
sebagai permaisurinya. Ketika raja sunda, Sri Baduga Maharaja, yang merasa dirinya tidak tunduk
kepada kekuasaan majapahit berkunjung ke majapahit untuk memenuhi undangan maharaja hayam
wuruk pada tahun 1357. Mereka diperlakukan oleh gajah mada sebagai raja bawahan majapahit dan
pada saat itu sri baduga maharaja menentang perlakuan dari gajah mada sehingga menyebabkan
timbulnya perang di alun-alun bubat. Sri baduga maharaja dan pengiringnya gugur, sedangkan putri
dyah pitaloka bunuh diri.
Dalam kitab pararaton diceritakan bahwa setelah peristiwa itu, gajah mada melakukan amukti
palapa (cuti dan beristirahat) dan mengundurkan diri dari jabatanya. Hayam wuruk
menganugrahkan Sima kepada gajah mada, ditempat itulah rupanya gajah mada menetap selama ia
amukti palapa. Beberapa waktu kemudian ia aktif kembali dipemerintahan.
Berhubungan dengan meninggalnya putri sunda, hayam wuruk menikah dengan Paduka Sori, putri
Bhre Wengker dapri perkawinannya dengan Bhre Daha Rajadewi, bibi dari hayam wuruk.
Lambung Mangkurat dari Kerajaan Negara Dipa (Budha)

Lambung Mangkurat[1][2][3], merupakan pengucapan orang Banjar untuk Lembu Mangkurat[4][5] adalah
raja atau pemangku Kerajaan Negara Dipa (cikal bakal Kesultanan Banjar).[6] Lambung Mangkurat
menggantikan ayahandanya Ampu Jatmaka[2] atau Empu Jatmika[5] yang juga bergelar Maharaja
di Candi, seorang saudagar kaya raya pendatang dari negeri Keling yang merupakan pendiri kerajaan
Negara Dipa sekitar tahun 1387.[7] Ampu Jatmaka dengan pengikutnya yang terdiri orang-orang Keling
dan Gujarat menaklukan secara damai penduduk pribumi yang mendiami cabang-cabang Sungai
Bahan yang ada di Hulu Sungai dan kemudian mendirikan kerajaan Negara Dipa mula-mula berpusat
di negeri Candi Laras (Distrik Margasari), kemudian dipindahkan ke hulu pada negeri Candi
Agung (Distrik Amuntai).[2] Digambarkan dalam Hikayat Banjar, masyarakat pribumi senang dengan
adanya pembentukan Negara Dipa, karena akhirnya mereka memiliki keteraturan tata pemerintahan.
Asimilasi masyarakat pendatang dengan masyarakat asli di Kerajaan Negara Dipa inilah yang menjadi
cikal bakal Proto Suku Banjar. Seperti dilukiskan dalam Hikayat banjar, Kerajaan Dipa menyatakan diri
sebagai kerajaan pribumi Kalimantan ketika berhadapan dengan pihak luar/asing misalnya terhadap
penguasa Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa. Sehingga tidak mengherankan jika Lambung Mangkurat
telah dianggap sebagai tokoh pribumi/Dayak.

Legenda suku Maanyan mempercayai bahwa Lambung Mangkurat, merupakan pengucapan lidah
orang Melayu Banjar untuk menyebut nama Dambung Mangkurap, salah seorang dari tiga pemimpin
masyarakat Dayak Maanyan yaitu masyarakat adat Pangunraun Jatuh.[8] Sedangkan menurut Babad
Lombok, Dilembu Mangku Rat merupakan utusan Sunan Ratu Giri, penguasa Giri Kedaton untuk
mengislamkan wilayah Kalimantan.[9] Menurut Tutur Candi, tokoh yang mula-mula membawa Islam dari
Giri adalahMaharaja Sari Kaburungan, raja kerajaan Negara Daha. Tokoh ini yang identik dengan
Dilembu Mangku Rat dalam babad Lombok.

Lambung Mangkurat yang bergelar Ratu Kuripan ini adalah putra kedua dari Maharaja di Candi[5] Putra
sulung Empu Jatmika adalah Ampu Mandastana[5] atau Lambung Jaya Wanagiri.[2] Maharaja di
Candi merupakan gelar dari Ampu Jatmaka/Empu Jatmika yang merupakan seorang perantau
saudagar kaya raya dari negeri Keling(Koromandel) yang datang ke pulau Hujung
Tanah/Kalimantan[10] dengan armada Prabayaksa.[5]

Menurut Veerbek (1889:10) Keling, provinsi Majapahit di barat daya Kediri. Namun naskah Hikayat
Banjar versi Tutur Candi, menyatakan bahwa negeri Keling itu merupakan suatu tempat (di India) yang
ditempuh dalam perjalanan laut selama dua bulan.[2] Sementara Cerita Turunan Raja-raja Banjar dan
Kotawaringin menjelaskan bahwa pelabuhan Majapahit hanya dicapai dengan perjalanan laut selama
empat hari dari Negara Dipa.

Kerajaan Negara Dipa ini bukanlah kerajaan yang pertama, karena sudah berdiri kerajaan orang-orang
pribumi Dayak yaitu Kerajaan Kuripan (Huripan/Kahuripan), karena itu Empu Jatmika mengabdikan
dirinya menjadi bawahan Raja negeri Kuripan yang tidak memiliki keturunan.[2][11] Setelah mendirikan
negeri Candi Laras (Margasari), ia meminta izin kepada Raja negeri Kuripan untuk membuat
(menaklukan) negeri baru di sebelah hulu dari negeri Kuripan yang diberi nama negeri Candi Agung
(Distrik Amuntai). Kemudian banyak penduduk Kuripan yang hijrah/migrasi ke negeri Candi Agung
(Amuntai). Setelah kemangkatan Raja Kuripan, Empu Jatmika/Ampu Jatmaka menjadi penguasa
negeri Candi Agung, negeri Candi Laras dan Kuripan. Kelak daerah Kuripan ini diwarisi oleh Lambung
Mangkurat sehingga ia juga dikenal sebagai Ratu Kuripan.[2] Sedangkan negeri Candi Agung - ibukota
kerajaan Negara Dipa yang baru diserahkan kepada Maharaja Suryanata yang didatangkan dari
Majapahit sebagai suami Puteri Junjung Buih yang merupakan perkawinan politik. Puteri Junjung Buih
merupakan saudara angkat Lambung Mangkurat. Raja Puteri Junjung Buih dipersiapkan sebagai Raja
Negara Dipa, yang kemudian posisi ini diambil alih oleh suaminya Pangeran Suryanata yang
bergelar Maharaja Suryanata. Sedangkan Lambung Mangkurat menjadi patih mangkubuminya dengan
kekuasaan negeri Kuripan, karena hal tersebut maka Lambung Mangkurat bergelar Ratu Kuripan.

Selama memerintah Negara Dipa (Candi Agung, Candi Laras, Kuripan) Ampu Jatmaka melakukan
penaklukan-penaklukan daerah-daerah sekitarnya yang berpenduduk pribumi suku Dayak. Ampu
Jatmaka memerintahkan asisten kanan bernama Aria Magatsari menundukkan batang Tabalong,
batang Balangan dan batang Pitap serta penduduk perbukitannya (suku Bukit). Ampu Jatmaka
menitahkan asisten kiri bernama Tumanggung Tatah Jiwa menundukkan batang Alai, batang Amandit,
batang Labuan Amas serta serta penduduk perbukitannya. Sedangkan pelabuhan perdagangan saat
itu terletak di Muara Rampiau, tidak jauh dari Candi Laras.
Adityawarman dari Kerajaan Melayu (Budha)

Adityawarman merupakan pelanjut dari Dinasti Mauli penguasa pada Kerajaan Melayu yang
sebelumnya beribu kota diDharmasraya, dan dari manuskrip pengukuhannya ia menjadi penguasa
di Malayapura Swarnnabhumi atau Kanakamedini pada tahun 1347 dengan gelar Maharajadiraja
Srmat Sr Udaydityawarma Pratpaparkrama Rjendra Maulimli Warmadewa,[1]dan di
kemudian hari ibu kota dari kerajaan ini pindah ke daerah pedalaman Minangkabau.

Berdasarkan Prasasti Kuburajo,[2] Adityawarman adalah putra dari Adwayawarman. Akan tetapi,
dalam Prasasti Bukit Gombakdisebutkan bahwa Adityawarman adalah putra
dari Adwayadwaja.[3] Nama ini mirip dengan nama salah seorang pejabat pentingKerajaan
Singhasari (Rakryn Mahmantri Dyah Adwayabrahma) yang pada tahun 1286 mengantar Arca
Amoghapasa untuk dipahatkan di Dharmasraya sebagai hadiah dari Raja
Singhasari Kertanagara kepada Raja Melayu Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa.

Adityawarman dalam Pararaton[4] dan Kidung Panji Wijayakrama disebut dengan nama Tuhan
Janaka yang bergelar Mantrolot Warmadewa. Ibunya bernama Dara Jingga putri Kerajaan
Melayu di Dharmasraya. Dara Jingga bersama adiknya Dara Petak ikut bersama tim Ekspedisi
Pamalayu yang kembali ke Jawa pada tahun 1293. Ahli waris Kertanagara yang bernama Raden
Wijayamengambil Dara Petak sebagai permaisuri dan bahwa Dara Jingga sira alaki dewa, yaitu
bersuamikan kepada seorang dewa (bangsawan).

Pendapat lain mengatakan bahwa Adityawarman juga merupakan anak dari Raden Wijaya, yang
berarti Raden Wijaya bukan hanya memperistri Dara Petak melainkan juga Dara Jingga.
Penafsiran ini mungkin karena dalam Nagarakretagama disebutkan Raden Wijaya telah
memperistri keempat putri Kertanagara.[5]

Muhammad Yamin berpendapat bahwa Adityawarman lahir di Siguntur (Kabupaten


Dharmasraya, Sumatera Barat sekarang). Ketika muda ia berangkat pergi ke Majapahit, karena
ayah atau ibunya mempunyai perhubungan darah dengan permaisuri raja Majapahit pertama,
Kertarajasa Jayawardana. Adityawarman dianggap saudara dari Raja Jayanegara yang tidak
memiliki putra. Oleh karena itu, menurut adat Adityawarmanlah yang paling dekat untuk pengganti
mahkota.[6]

Menurut sebagian sejarahwan Adityawarman dilahirkan dan dibesarkan di Majapahit[7][8] pada


masa pemerintahan Raden Wijaya (12941309). Menurut Pararaton, raja kedua Majapahit,
yaitu Jayanagara, adalah putra Raden Wijaya yang lahir dari Dara Petak. Dengan demikian,
hubungan antara Adityawarman dengan Jayanagara adalah saudara sepupu sesama cucu raja
Melayu dari Kerajaan Dharmasraya. Dari versi lain, mereka disebutkan juga saudara seayah
sesama anak Raden Wijaya alias Kertarajasa Jayawardana.[9]

Dengan hubungan kekeluargaan yang begitu dekat, maka ketika Jayanagara menjadi raja,
Adityawarman dikirim sebagai duta besar Majapahit untuk Cina selama dua kali yaitu pada
tahun 1325 dan 1332. Dalam kronik Dinasti Yuan ia disebut dengan nama Sengk'ia-lie-yu-
lan.[8] Pengiriman utusan ini menunjukkan adanya usaha perdamaian antara Majapahit dengan
bangsa Mongol, setelah terjadinya perselisihan dan peperangan pada masa Singhasari dan
zaman Raden Wijaya.

Pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi (adik Jayanagara), Adityawarman diangkat


sebagai Wreddhamantri, atau perdana menteri. Hal ini tersebut pada Prasasti
Manjusri tahun 1343 yang menyatakan bahwa, Adityawarman selaku wreddhamantri
menempatkan arca Majur (salah satu sosok bodhisattva) di tempat pendarmaan Jina (Buddha)
dan membangun candi Buddha (Candi Jago) di bhumi jawa untuk menghormati orang tua dan
para kerabatnya.[10][11][12] Dan sebelumnya namanya juga tercatat dalam prasasti Blitar yang
bertarikh 1330 sebagai Sang Arya Dewaraja Mpu Aditya. Dari Piagam Bendasari terdapat
istilah tanda rakryan makabehan yang menyatakan urutan jabatan di Majapahit setelah raja, di
mana disebutkan secara berurutan dimulai dengan jabatan wreddamantri sang aryya dewaraja
empu Aditya, sang aryya dhiraraja empu Narayana, rake mapatih ring Majapahit empu Gajah
Mada, dan seterusnya[13]. Jadi dengan demikian jelas terlihat kedudukan Adityawarman begitu
sangat tinggi di Majapahit melebihi kedudukan dari Gajah Mada pada waktu itu.
Sultan Malik As-saleh dari Samudera pasai (islam)

Berdasarkan berita Marcopolo (th 1292) dan Ibnu Batutah (abad 13). Pada tahun 1267 telah berdiri
kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga dibuktikan dengan
adanya Batu nisan makam Sultan Malik Al Saleh (th 1297) Raja pertama Samudra Pasai.
Kesultanan Samudera Pasai, juga dikenal dengan Samudera, Pasai, atau Samudera Darussalam,
adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota
Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang.
Kerajaan Samudra Pasai berdiri sekitar abad 13 oleh Nazimuddin Al Kamil, seorang laksamana laut
Mesir. Pada Tahun 1283 Pasai dapat ditaklukannnya, kemudian mengangkat Marah Silu menjadi Raja
Pasai pertama dengan gelar Sultan Malik Al Saleh (1285 - 1297). Makam Nahrasyiah Tri Ibnu Battutah,
musafir Islam terkenal asal Maroko, mencatat hal yang sangat berkesan bagi dirinya saat mengunjungi
sebuah kerajaan di pesisir pantai timur Sumatera sekitar tahun 1345 Masehi. Setelah berlayar selama
25 hari dari Barhnakar (sekarang masuk wilayah Myanmar), Battutah mendarat di sebuah tempat yang
sangat subur. Perdagangan di daerah itu sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang emas.
Ia semakin takjub karena ketika turun ke kota ia mendapati sebuah kota besar yang sangat indah
dengan dikelilingi dinding dan menara kayu. Kota perdagangan di pesisir itu adalah ibu kota Kerajaan
Samudera Pasai. Samudera Pasai (atau Pase jika mengikuti sebutan masyarakat setempat) bukan
hanya tercatat sebagai kerajaan yang sangat berpengaruh dalam pengembangan Islam di Nusantara.
Pada masa pemerintahan Sultan Malikul Dhahir, Samudera Pasai berkembang menjadi pusat
perdagangan internasional.
Pelabuhannya diramaikan oleh pedagang-pedagang dari Asia, Afrika, Cina, dan Eropa.
Kejayaan Samudera Pasai yang berada di daerah Samudera Geudong, Aceh Utara, diawali dengan
penyatuan sejumlah kerajaan kecil di daerah Peurelak, seperti Rimba Jreum dan Seumerlang. Sultan
Malikussaleh adalah salah seorang keturunan kerajaan itu yang menaklukkan beberapa kerajaan kecil
dan mendirikan Kerajaan Samudera pada tahun 1270 Masehi.Makam Abdullah ibnu Muhammad ibnu
Abdul Kadir Ia menikah dengan Ganggang Sari, seorang putri dari kerajaan Islam Peureulak. Dari
pernikahan itu, lahirlah dua putranya yang bernama Malikul Dhahir dan Malikul Mansyur. Setelah
keduanya beranjak dewasa, Malikussaleh menyerahkan takhta kepada anak sulungnya Malikul Dhahir.
Ia mendirikan kerajaan baru bernama Pasai. Ketika Malikussaleh mangkat, Malikul Dhahir
menggabungkan kedua kerajaan itu menjadi Samudera Pasai.
Dalam kisah perjalanannya ke Pasai, Ibnu Battutah menggambarkan Sultan Malikul Dhahir sebagai
raja yang sangat saleh, pemurah, rendah hati, dan mempunyai perhatian kepada fakir miskin.
Meskipun ia telah menaklukkan banyak kerajaan, Malikul Dhahir tidak pernah bersikap jemawa.
Kerendahan hatinya itu ditunjukkan sang raja saat menyambut rombongan Ibnu Battutah. Para
tamunya dipersilakan duduk di atas hamparan kain, sedangkan ia langsung duduk di tanah tanpa
beralas apa-apa.
Sultan Babullah dari Kerajaan Ternate (Islam)

Sultan Baabullah (10 Februari 1528 - permulaan 1583), juga ditulis Sultan Babullah atau Sultan
Baab (tulisan Eropa) adalahsultan dan penguasa Kesultanan Ternate ke-24 yang berkuasa antara
tahun 1570 - 1583. Ia dikenal sebagai sultan Ternate danMaluku terbesar sepanjang sejarah, yang
berhasil mengalahkan Portugis dan mengantarkan Ternate ke puncak keemasan di akhirabad ke-
16. Sultan Baabullah juga dijuluki sebagai penguasa 72 pulau berpenghuni yang meliputi pulau
pulau di nusantara bagian timur, Mindanao selatan dan kepulauan Marshall.

Dilahirkan tanggal 10 Februari 1528, kaicil (pangeran) Baab adalah putera Sultan Khairun (1535-
1570) dengan permaisurinya Boki Tanjung, puteri Sultan Alauddin I dari Bacan. Sultan Khairun
sangat memperhatikan pendidikan calon penggantinya, sejak kecil pangeran Baab bersama
saudara-saudaranya telah digembleng oleh para mubalig dan panglima dimana ia memperoleh
pemahaman tentang ilmu agama dan ilmu perang sekaligus. Sejak remaja ia juga telah turut
mendampingi ayahnya menjalankan urusan pemerintahan dan kesultanan.

Ketika pecah perang TernatePortugis yang pertama (1559-1567), Sultan Khairun mengutus
putera puteranya sebagai panglima untuk menghantam kedudukan Portugis di Maluku dan
Sulawesi, salah satunya adalah pangeran Baab yang kemudian tampil sebagai panglima yang
cakap dan berhasil memperoleh kemenangan bagi Ternate. Ternate sukses menahan ambisi
Portugis sekaligus memenangkan banyak wilayah baru.
Pasca pembunuhan Sultan Khairun, Sultan Baabullah menuntut penyerahan Lopez de Mesquita
untuk diadili. Benteng benteng Portugis di Ternate yakni Tolucco, Santo Lucia dan Santo Pedro
jatuh dalam waktu singkat hanya menyisakan Benteng Sao Paulo kediaman De Mesquita. Atas
perintah Baabullah pasukan Ternate mengepung benteng Sao Paulo dan memutuskan
hubungannya dengan dunia luar, suplai makanan dibatasi hanya sekadar agar penghuni benteng
bisa bertahan. Sultan Baabullah bisa saja menguasai benteng itu dengan kekerasan namun ia tak
tega karena cukup banyak rakyat Ternate yang telah menikah dengan orang Portugis dan mereka
tinggal dalam benteng bersama keluarganya. Karena tertekan Portugis terpaksa memecat Lopez
de Mesquita dan menggantinya dengan Alvaro de Ataide namun langkah ini tidak berhasil
meluluhkan Baabullah.
Sultan Nuku dari Kerajaan Tidore

Muhamad Amiruddin alias Nuku adalah putra Sultan Jamaluddin (17571779) dari kerajaan Tidore.
Nuku juga dijuluki sebagai Jou Barakati artinya Panglima Perang. Pada zaman pemerintahan Nuku
(1797 1805), Kesultanan Tidore mempunyai wilayah kerajaan yang luas yang meliputi Pulau
Tidore, Halmahera Tengah, pantai Barat dan bagian Utara Irian Barat serta Seram Timur. Sejarah
mencatat bahwa hampir 25 tahun, Nuku bergumul dengan peperangan untuk mempertahankan tanah
airnya dan membela kebenaran.

Dari satu daerah, Nuku berpindah ke daerah lain, dari perairan yang satu menerobos ke perairan yang
lain, berdiplomasi dengan Belanda maupun dengan Inggris, mengatur strategi dan taktik serta terjun ke
medan perang. Semuanya dilakukan hanya dengan tekad dan tujuan yaitu membebaskan rakyat dari
cengkeraman penjajah dan hidup damai dalam alam yang bebas merdeka. Cita-citanya membebaskan
seluruh kepulauan Maluku terutama Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah bangsa asing.

VOC yang berpusat di Batavia dengan gubernur-gubernurnya yang ada di Kota Ambon, Kepulauan
Banda dan Pulau Ternate berhadapan dengan perlawanan dari Pangeran Nuku. VOC menghadapi
konfrontasi Nuku dan Kerajaan Tidore dalam usahanya menguasai Maluku. Nuku sulit ditaklukan, ia
bertempur melawan Belanda di darat maupun di laut.

Ia adalah seorang pejuang yang tidak bisa diajak kompromi dan pengaruhnya yang kuat di wilayah
Maluku. Hingga usia senja, semangat dan perjuangannya tidak berhenti. Ia meninggal dalam usia 67
tahun pada tahun 1805. Sebagai penghargaan terhadap jasa-jasa, Pemerintah Republik Indonesia
menganugerahkan Sultan Nuku sebagai "Pahlawan Nasional Indonesia"
Sultan Hassanuddin dari Kerajaan Makasar (Islam)

Dalam masa pemerintahannya, terutama saat membangun benteng pertahanan di Mariso,


Sultan Hasanuddin ditenggarai telah menindas serta menganiaya rakyat dan bangsawan
Bone.,

Sultan Hasanuddin adalah Raja Gowa ke XVI. Ia lahir di Makasar, 12 Januari 1631.
Ia putera kedua dari Sultan Muhammad Said atau Sultan Malikussaid. Beliau merupakan
Raja Gowa ke XV.

Banyak penulis sejarah mengatakan bahwa Sultan Hasanuddin bukan Anak Pattola
artinya bukan Putera Mahkota yang paling memenuhi syarat untuk menduduki tahta
Kerajaan Gowa. Karena ia lahir sebelum ayahnya menjadi Raja Gowa dan ibunya bukan
dari golongan Anak Karaeng tino.

Sultan Haasanuddin memang bukan Anak Pattola yang memenuhi syarat untuk
menduduki Kerajaan Gowa, namun beliau juga dapat menduduki tahta Kerajaan Gowa
yang sedang berada dalam puncak kejayaannya tanpa ada reaksi, oposisi, atau
perlawanan dari pihak lain. Padahal tercatat dalam sejarah sebagai Perang Mahkota atau
Perang Suksesi yaitu perang untuk menentukan siapa yang menjadi Raja.

Lalu apa yang membuat Sultan Hasanuddin dapat menduduki tahta Kerajaan Gowa?

Ternyata karena ayahandanya, Sultan Muhammad Said, Raja Gowa ke XV sebelum


wafatnya beramanat untuk Sultan Hasanuddin agar mewarisi pemerintahan.

Hal tersebut menjadi satu kekuatan karena adat Kerajaan Gowa itu amanat Raja
Gowa tidak boleh dibantah dan harus ditaati.

Selain itu, faktor yang sangat penting dan mendukung Sultan Hasanuddin yang bukan
Anak Pattola dapat menaiki tahta Kerajaan Gowa karena ia memiliki sifat-sifat yang
menonjol. Ia terkenal cerdas, gagah berani, dan bijaksana. Beliau juga pernah memangku
jabatan penting sebelum menjadi Raja Gowa XVI, Sultan Hasanuddin adalah Karaeng
Tumakajannangang atau panglima perang yang mengurus dan memikirkan mengenai
strategi peperangan dan pertahanan.
Disamping itu, yang menyebabkan Sultan Hasanuddin menduduki tahta Kerajaan Gowa
ialah faktor keturunan. Yang menurut adat Kerajaan Gowa masih berhak untuk menjadi
Raja Gowa.

Kerajaan Gowa terletak di posisi yang strategis yakni di ujung selatan jazirah barat daya
pulau Sulawesi dengan ibukotanya yang terkenal dengan nama Sombaopu terletak di
Pantai Selat Makassar.

Sultan Hasanuddin melanjutkan perjuangan ayahandanya melawan VOC yang


menjalankan monopoli perdagangannya di Indonesia bagian timur. VOC menganggap
orangorang Makasar dan Kerajaan Gowa sebagai penghalang dan saingan berat.
Bahkan VOC menganggap sebagai musuh yang sangat berbahaya. Mereka berusaha
dengan jalan diplomasi. Belanda selalu ingin menjalankan perdagangan monopoli hasil
rempah-rempah di Indonesia bagian timur. Belanda melarang orang Makasar berdagang
dengan musuh-musuh Belanda yaitu Portugis.

Tentu saja keinginan Belanda ditolak mentah-mentah Raja Gowa.kerajaan Gowa


menentang dengan keras hak monopoli yang hendak dijalankan VOC. Sultan Alaudin,
Sultan Muhammad Said, dan Sultan Hasanuddin berpendirian sama bahwa Tuhan
menciptakan bumi dan lautan untuk dimiliki dan dipakai bersama. Itu sebabnya Kerajaan
Gowa menentang usaha monopoli VOC dan ini yang membuat VOC berusaha untu
menghancurkan dan menyingkirkan Kerajaan Gowa.

Dalam perjalanannya, terjadi pertempuran yang berlangsung di medan perang Sulawesi


Selatan antara orang-orang Makasar yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin dan VOC
dipimpin oleh Laksamana Speelman. Bertujuan untuk menyingkirkan Kerajaan Gowa.

Pertempuran-pertempuran terus berlangsung begitu pula diadakannya berbagai perjanjian


perdamaian dan gencatan senjata, namun selalu dilanggar oleh VOC dan merugikan
Kerajaan Gowa. Wilayah Kerajaan Gowa semakin sempit karena pasukan-pasukan
musuh yang semakin lama semakin mendesak.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Sultan Hasanuddin bersedia menandatangani


Perjanjian Bungaya, pada 18 November 1667. Setelah merasa Perjanjian Bungaya itu
sangat merugikan bagi rakyat dan Kerajaan Gowa, akhirnya pada 12 April 1668 perang
kembali pecah. Pada 24 Juni 1669 jatuhlah Banteng Sombaopu yakni benteng utama dan
tertangguh Kerajaan Gowa.

Karena kegagahan dan keberaniannya melawan VOC, ia dijuluki De Haantjes van Het
Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan dari Kawasan Timur.

Sultan Hasanuddin wafat pada 12 Juni 1670 setelah menderita penyakit ari-ari, setelah
kurang lebih tujuh belas tahun memerintah dan memimpin Kerajaan Gowa. Ia
dimakamkan di Katangka, Makasar.