Anda di halaman 1dari 31

BAB V

PEMBAHASAN

5.1. Keragaan Umum Hasil Pendugaan Model Ekonometrika

Pada bagian ini, diuraikan keragaan model model ekonometrika

penawaran dan permintaan beras. Untuk estimasi terhadap 7 model ekonometrika

dapat dilihat uji nilai koefisiensi determinasi dari persamaan ekonometrika

berkisar antara 0,515 sampai dengan 0.96. pengubah penjelas (eksogen yang

dimasuk dapat menjelaskan keberagaman setiap pengubah).

Nilai statistik uji F berkisar 2.73 sampai 604.4 hal ini menunjukan dalam

setiap persamaan ekonometrika mampu menjelaskan dengan baik variasi peubah

endogen pada taraf 0.01 sampai 0.05. Uji t statistik menunjukan beberapa variabel

penjelas (eksogen) secara individu tidak berpengaruh nyata terhadap peubah

endongen jika mengunakan taraf 0.005, untuk mengatasi hal ini digunakan taraf

nyata yang fleksibel dengan mengunakan simbol sebagai berikut :

1. (A) berarti berbeda nyata pada taraf = 0.05

2. (B) berati berbeda nyata pada taraf = 0.10

3. (C) berarti berbeda nyata pada taraf = 0.15

4. (D) berarti berbeda nyata pada taraf = 0.20

90
Setiap persamaan struktural ekonometrika selain memperhatikan kaidah

satistik serta, memperhatikan tanda parameter sesuai dengan harapan dan kaidah

logis pada teori ekonomi. Untuk pengujian masalah autokorelasi dengan

mengunakan uji Durbin Watson Statistic (DW) tidak bisa dilakukan, karena uji

tersebut tidak valid dilakukan maka digunakan Uji Breusch Godfrey Serial

Correlation LM Test. Uji Breusch Godfrey Serial Correlation LM Test ini

apabila nilai probability lebih besar dari yang digunakan maka dapat disimpul

dalam persaman ini tidak dapat masalah autokorelasi. yang digunakan pada taraf

lima belas persen. dari pengujian terhadap persaman struktural tidak terdapat

autokorelasi.

Penelitian ini menguji masalah heteroskedasitas, uji yang digunakan white

heteroskedasticity test, jika nilai probability white heteroskedasticity lebih besar

dari taraf uji yang digunakan maka dapat disimpulkan tidak masalah

heteroskedastisitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam persamaan

struktural tidak ditemukan masalah heteroskedastisitas. Multikolinearitas dalam

persaman simultan dapat diabaikan bila nilai koefisien variabel telah memenuhi

perfektif ilmu ekonomi. Multikolinearitas dapat dipandang sebagai gejala yang

tidak mempengaruhi validitas estimasi suatu persamaan simultan.

91
5.2. Luas Areal Panen Padi Di Jawa

Nilai koefisiean determinasi (R2) dari model luas areal panen tanaman

sebesar 0.709049. Ini berarti 70.90 persen keragaman luas areal panen tanaman

padi dapat dijelaskan oleh variabel eksogen yaitu harga gabah, harga dasar gabah,

harga pupuk real, curah rataan di Pulau Jawa, dan luas areal panen sebelumnya.

Sedangkan sisanya tidak dapat dijelaskan oleh faktor faktor lain yang terdapat

dalam model. Nilai Breussch Godfrey Serial Correlation LM Test sebesar

0.5916 lebih besar dari taraf nyata yang digunakan sebesar 15 persen.

Uji F hitung didapatkan nilai 9.718 yang nilai uji F hitung berada pada

taraf nyata satu persen. Nilai ini menunjukan bahwa variabel variabel eksogen

dalam secara berpengaruh nyata luas areal panen. Hasil uji T statistik menunjukan

bahwa variabel harga rill pupuk urea dan lag luas areal panen di Pulau Jawa

berpengaruh nyata terhadap taraf nyata pada lima persen dan satu persen. Variabel

curah hujan, harga gabah dan dasar gabah berpengaruh nyata pada taraf lima belas

persen

Harga gabah ditingkat petani ditingkat berpengaruh secara signifikan

terhadap luas areal panen padi sebesar 0.341789 pada taraf nyata 15 persen, ini

menunjukan setiap kenaikan satu 1 Rp/ kg harga gabah ditingkat petani akan

mendorong kenaikan luas areal panen sebesar 341.789 hektar luas areal panen,

dengan asumsi jika faktor faktor lain dianggap tetap (ceteris paribus). Luas areal

panen didijawa tidak responsif terhadap perubahan harga gabah yang diperhatikan

oleh nilai elastisitas jangka panjang mampu jangka panjang dengan nilai sebesar

0.052 dan 0.126. Hal ini menunjukan bahwa peningkatan harga gabah riil

ditingkat petani tidak berdampak besar terhadap peningkatan luas areal panen di

92
Jawa. Harga gabah ditingkat petani sangat ditentukan oleh pedagangan dan tempat

pengilingan sehingga kenaikan harga dasar atau HPP yang ditetapkan pemerintah

tidak lagi menjadi insentif bagi petani hal ini dapat dilihat penurunan nilai tukar

walaupun demikian mayoritas petani padi di Indonesia tetap berusahatani padi, hal

ini terjadi budidaya padi merupakan Way of life petani didaerah pedesaan juga

melambangkan ketahanan padi di daerah pedesaan.

Tabel 4. Hasil Pendugaan Parameter Luas Panen di Jawa


variabel parameter probabilitas elastisitas
pendek panjang
intercep 1615.581 0.1014 **
Harga gabah 0.341789 0.1334 *** 0.052 0.126
Harga dasar gabah 0.373884 0.1504 *** 0.057 0.141
Harga pupuk -0.40939 0.0756 * -0.053 -0.038
Curah hujan jawa 0.265028 0.1261 *** 0.083 0.205
Lag luas areal 0.594260 0.0017 * 0.586 1.443
panen di jawa
Sumber: hasil analisis
Keterangan : *) Nyata Pada Taraf 5%
**) Nyata Pada Taraf 10%
***) Nyata Pada Taraf 15%

Variabel harga riil pupuk memberi pengaruh nyata pada taraf 5 persen

terhadap luas areal panen di Jawa dengan koefisien dugaan bertanda negatif sesuai

dengan parameter dugaan yang diharapkan, dan 0.40939 bernilai ini berarti

kenaikan harga pupuk satu rupiah akan mendorong penurunan luas areal panen di

Jawa sebesar 0.40939 hektar dengan asumsi jika faktor faktor lain dianggap

konstan (ceteris paribus).

Respon perubahan luas areal panen tidak responsif terhadap perubahan

harga riil faktor produksi baik jangka pendek maupnu jangka panjang.

93
Berdasarkan nilai elatisitas, luas areal panen padi inelastis terhadap perubahan

harga pupuk urea yaitu sebesar 0.053 dalam jangka pendek dan jangka panjang

sebesar 0.038. Harga pupuk merupakan harga faktor produksi, apabila harga

faktor produksi turun maka produsen akan menambah pengunaan faktor produksi

sehingga produksi akan meningkat. Jika harga faktor produksi meningkat, maka

produsen akan cenderung mengurangi pengunaan faktor produksi akan menurun.

Untuk sektor pertanian turunnya produksi padi/gabah dapat dilihat turun areal

panen, naik harga faktor faktor petani akan menurunkan pengunaan faktor

produksi tersebut dalam jangka pendek. Penurunan areal panen bisa terjadi pada

saat harga faktor produksi naik dalam jangka panjang, petani mengambil

keputusan tidak menanam padi lagi tetapi mengantinya dengan tanaman lain yang

harga faktor produksi lebih rendah.

Untuk meningkatkan produksi pangan khusus beras pemerintah

menerapkan kebijakan subsidi pupuk. Kebijakan pemerintah tentang subsidi

pupuk khusus pupuk Urea merupakan kebijakan yang efektif dalam meningkatkan

luas areal panen di jawa, tapi kenyataan dilapangan sering terjadi kelangkaan

pupuk. Penyebab kelangkaan pupuk ini sebabkan beberapa faktor: : (1) Harga

pupuk KCl dan ZA yang berfluktuasi mengikuti harga di pasar internasional dan

pergerakan nilai tukar rupiah yang diikuti turunnya penggunaan kedua jenis pupuk

tersebut; (2) Perbedaan harga pupuk Urea yang bersubsidi dengan Urea non

subsidi mendorong penyalurun pupuk Urea subsidi menjual kesektor perkebunan

sehingga pupuk untuk sektor pangan (padi) langka dipasaran; (3)Ada indikasi

munculnya kecurangan, dimana distributor dengan modal yang kuat akses ke Lini

I dan II serta bebas menyalurkan pupuk ke luar wilayah kerjanya sehigga wilayah

94
kerja pupuk menjadi langka; dan (4) Menurut kapasitas terpasang, dari seluruh

pabrik pupuk dalam negeri mampu diproduksi pupuk Urea lebih dari 6,8 juta ton

per tahun, padahal konsumsi dalam negeri hanya berkisar 4,4 4,5 juta ton per

tahun. Namun demikian, ironisnya hampir setiap tahun dalam bulan-bulan tertentu

masih terjadi kelangkaan pupuk pada saat petani membutuhkannya hal ini

dikarena pendistribusi yang tidak efektif dan efesien.

Harga dasar gabah pada persamaan diatas berpengaruh secara signifikan

terhadap luas areal panen padi sebesar 15 persen hal ini menunjukan kalau harga

dasar gabah sensitif terhadap perubahan luas areal panen. Disisi lain luas areal

panen di Jawa bersifat inelastis terhadap perubahan kebijakan harga dasar, yaitu

sebesar 0.057 padan jangka pendek dan 0.141 pada jangka panjang, hal ini

menunjukan bahwa kebijakan harga dasar gabah bukan faktor pendorong utama

untuk meningkat luas areal panen.

Perubahan areal panen inelastis terhadap perubahan harga dasar gabah,

disebabkan oleh beberapa faktor: (1) petani tidak merasakan manfaat dari

kebijakan harga karena harga gabah ditingkat petani ditentukan oleh pengilingan

padi dan pedangan pengumpul; (2) luas areal sawah di Jawa semakin sempit,

sehingga kenaikan harga dasar tidak menjadi pendorong utama bagi petani

memperluas areal panen.

S
95
S
P0
P0
P2
A B

P1
P1
D

Q0 Q2 Q1 Q0 Q1 Q2

(a) Harga Dasar Gabah (a) Harga Dasar Pembeliaan


Pemerintah

Gambar 3 Kurva Pembentukan Harga Dasar Gabah dan Harga Dasar


Pembelian Pemerintah
Kebijakan harga dasar gabah bertujuan untuk melindungi petani dari

anjlok harga gabah pada saat puncak panen raya. Dengan ada harga dasar gabah

petani petani mendapat harga yang wajar, sehingga petani tetap menanam padi

mendorong produksi gabah. Pada tahun 2002 kebijakan harga dasar gabah (HDG)

diubah menjadi kebijakan harga dasar pembeliaan pemerintah (HDPP). Perbedaan

antara HDG dan HDPP dapat dilihat pada gambar 3.

Pada gambar 3 (a) dapat dilihat situasi pada saat panen raya, produksi padi

mengalami peningkatan, sehinga terjadi pegeran kurva dari S ke S. akibat harga

turun dari P0 ke P1. untuk melindungi petani pemerintah membuat kebijakan harga

dasar sebesar P2, dan untuk menjamin keefektifan kebijakan tersebut pemerintah

membeli surplus supply sebesar A-B dari petani. kebijakan ini berhasil karena

didukung oleh kemampuan dana pemerintah yang besar melalui pembelian dan

pendistribusikan oleh BULOG.

96
Gambar 3 b merupakan kurva kebijakan baru yang dibuat pada tahun

2002, pemerintah tidak lagi memiliki dana yang cukup besar untuk membeli

surplus produksi gabah. Pada gambar tersebut, pada saat panen raya produksi

gabah berlebih sedangkan permintaan beras tetap, sehingga kurva supply bergeser

dari S ke S efek selanjuntnya produksi gabah naik dari Q0 ke Q1. Pemerintah

telah mempunyai persentase pembelian sebesar 8 persen dari setiap supply yang

ada, akibat pembelian ini kurva permintaan naik dari D ke D hal menyebabkan

harga naik dari P1 ke P2. Dengan adanya proporsi sebesar 8 persen, maka

memudahkan pemerintah untuk melakukan budgeting, planning dan kalkulasi

anggarannya

Curah hujan merupakan salah satu faktor yang diperkiran turut

mempengaruhi areal panen padi. Penelitian ini menunjukan bahwa curah hujan

berpengaruh nyata terhadap areal panen padi di Jawa pada taraf 15 persen dengan

koefisien dugaan bertanda positif dan bernilai 0.265028, jika curah hujan

meningkat sebesar 1000 mm pertahun maka akan meningkatkan luas area panen

padi 265.028 hektar dengan asumsi faktor faktor lain dianggap tetap.

5.3. Luas Areal Panen Padi Di Luar Jawa

Persamaan perilaku luas areal panen diluar jawa dapat dikatakan baik,

dimana niali koefisien determinasi 0.96349 artinya persamaan luas areal panen di

Luar Jawa dapat dijelaskan oleh variable - variabel yang terdapat dalam model

sebesar 96.349 persen dan sisanya 3.651 persen dijelaskan oleh variabel lain

diluar model. Nilai BreusschGodfrey Serial Correlation Lm Test sebesar 0.33398

lebih besar dari taraf nyata yang digunakan sebesar 15 persen sehingga tidak

terdapat masalah autokorelasi.

97
Tabel 5. Hasil Pendugaan Parameter Luas Panen di Luar Jawa
Variabel Paramete Probabilitas elastisitas
r pendek panjang
intercep -386.980 0.4085
Harga gabah 0.403602 0.0222 * 0.061 1.33
Harga dasar gabah 0.195563 0.3740 0.030 0.651
Harga pupuk -0.45772 0.0125 * -0.059 -1.29
Curah hujan Luar 0.378326 0.0070 * 0.162 1.52
Jawa
Lag luas areal panen 0.953968 0.0001 0.940 0.41
Luar Jawa
R2 =0.96349 F ht =105.57 Prob(F ht)= <.0001
Sumber : Hasil Analisis
Keterangan : *) Nyata Pada Taraf 5%
**) Nyata Pada Taraf 10%
***) Nyata Pada Taraf 15%

Luas areal panen di Luar Jawa dipengaruhi oleh harga gabah, harga dasar

gabah, harga pupuk, curah hujan di Luar jawa, dan luas areal panen tahun lalu.

Hasil uji statistik t menunjukan bahwa variabel harga riil gabah. Harga riil pupuk

urea dan curah hujan berpengaruh nyata terhadap luas areal panen pada taraf lima

persen, sedangkan variabel harga dasar gabah tidak berpengaruh nyata terhadap

luas areal panen.

Harga gabah berpengaruh pada nyata terhadap luas areal panen. Koefisien

dugaan variabel harga riil gabah ditingkat petani sebesar 0.403602. hal ini

menunjukan jika terjadi kenaikan harga riil gabah sebesar satu rupiah

perkilogaram akan meningkatkan luas areal panen sebesar 403.602 hektar,

sebaliknya jika terjadi penurunan harga riil gabah ditingkat petani sebesar satu

rupiah per kilogram akan menurunkan luas areal panen padi di Luar Jawa sebesar

403.602 hektar dengan asumsi faktor lain dianggap tetap (ceteris paribus).

98
Harga gabah di Luar Jawa berpengaruh positif terhadap luas areal panen,

berdasarkan nilai elastisetas jangka pendek sebesar 0.06 inelastis. Sedangkan

dalam jangka panjang sebesar 1.33, luas areal panen lebih elastis terhadap

perubahan harga gabah. Jika faktor lain dianggap tetap, kenaikan harga gabah satu

pernen akan meningkatkan luas areal tanaman 0.06 persen dalam jangka pendek

dan 1.33 pesen dalam jangka panjang. Informasi di atas menunjukkan bahwa yang

mempengaruhi perilaku produksi padi di Luar Jawa adalah harga padi, dimana

petani merespon harga yang tinggi dengan meningkatkan produksi padi dengan

cara meningkatkan luas areal (ekstensifikasi) periode jangka panjang. Harga

gabah merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan petani untuk

menanam padi, hal ini berbeda di Pulau Jawa yang tidak responsif terhadap

perubahan harga. Semakin tinggi harga gabah mendorong petani di Luar jawa

lebih menanam padi dibandingkan komoditi palawija yang lain.

Harga dasar gabah yang merupakan instrumen kebijakan pertanian tidak

berpengaruh besar dalam luas areal panen di Luar Jawa, harga gabah yang

diterima petani merupakan harga yang ditentukan oleh pengilingan padi dan

pedagang pengumpul gabah bukan harga dasar gabah yang telah ditetap oleh

pemerintah. Kebijakan insentif berupa penetapan harga dasar yang di lanjut harga

dasar pembelian tidak dapat dilaksanakan secara efektif kompatibel dengan

HDPP, hal ini terbukti melihat respon elastisatas luas areal panen terhadap

perubahan harga jangka pendekk maupun jangka panjang yang bernilai sebesar

0.03 dan 0.65.

Dugaan koefisien harga riil faktor produksi pupuk urea berpengaruh

negatif terhadap luas areal panen di Luar Jawa sebesar 0.45772, hal ini berarti

99
jika kenaikan harga riil pupuk urea sebesar kenaikan harga urea satu rupiah

perkilogram terhadap maka luas areal panen akan turun menjadi 457.72 hektar,

jika sebaliknya jika terjadi penurunan harga riil faktor produksi sebesar satu

rupiah per kilogram maka luas areal panen akan naik sebesar 457.72 hektar cateris

paribus. Luas areal panen di Luar Jawa tidak responsif terhadap perubahan harga

pupuk yang diperlihatkan oleh nilai elastisitas sebesar 0.059, sedangkan dalam

jangka panjang luasa real panen di Luar Jawa lebih responsif terhadap perubahan

harga pupuk sebesar 1.29.

Perubahan harga pupuk menghasilkan dua efek: pertama dalam jangka

pendek petani akan mengurangi pengunan pupuk atau mencari alternatif pupuk

lain yang harga lebih murah dan tersedia dipasaran, kedua petani mengubah

usahataninya ke usahatani nonberas yang tidak membutuhkan banyak pupuk

petani dalam jangka panjang sehingga luas areal panen berkurang. Para ahli

pertanian meragukan efektifan pupuk altenatif tidak jelas standarlisasinya, jika

pemakaian pupuk alternatif yang tidak standar dipakai maka tingkat kegagalan

panen akan semakin tinggi.

Menurut Darwis dan Nurmanaf (2004) Kebijakan strategis yang perlu

dipertimbangkan untuk mengatasi permasalahan diatas, diantaranya adalah : (1)

Rasionalisasi penggunaan pupuk di tingkat petani karena tingkat penggunaan

pupuk sudah melampaui dosis anjuran; (2) Rekomendasi pupuk berdasarkan atas

analisis tanah spesifik lokasi dan waktu; (3) Peningkatan efektifitas penggunaan

pupuk anorganik yang dikomplemen dengan pemanfaatan pupuk organik dan

dengan sistem irigasi yang baik; 4) Perbaikan pelaksanaan standarisasi dan

sertifikasi pupuk sehingga petani terhindar dari pupuk alternatif yang diragukan

100
kualitas dan efektifitasnya; (5) Meningkatkan kinerja usahatani padi dengan

mengupayakan sumber pertumbuhan di luar peningkatan produktivitas; dan (6)

Pelaksanaan kebijakan ekspor dan impor pupuk, serta perbaikkan sistim distribusi

yang kondusif bagi kontinuitas dan kestabilan harga pupuk di tingkat petani.

Kooefisian curah hujan di Luar jawa sebesar 0.378326 hal ini menunjukan

kenaiakan curah seribu milimeter pertahun akan meningkat luas areal panen di

Luar Jawa sebesar sebesar 378.326 hektar, jika sebaliknya curah hujan turun

seribu milimeter akan menurunkan luar areal panen di Luar Jawa sebesar 378.326

hektar cetiris paribus.

Pengaruh curah hujan terhadap luas areal panen pada taraf nyata lima

persen, hal ini menunjukkan berapa pentingnya kondisi curah hujan terhadap

peningkatan luas real panen ini berarti budidaya tanaman padi di Luar Jawa sangat

bergantung perubahan iklim. Akan tetapi, luas areal panen padi bersifat inelastih

terhadap perubahan iklim yaitu sebesar 0.162 dalam jangka pendek. Sebaliknya

ketika perubahan iklim tersebut cocok untuk usahatani padi (Jangka panjang), luas

areal panen padi relatif lebih elastis terhadap perubahan curah hujan sebesar 1.52.

Berdasarkan nilai elastistasnya dapat diartikan kenaikan curah hujan satu persen,

ceteris paribus mampu meningkatkan luas areal panen sebesar 0.162 persen dalam

jangka pendek dan 1.52 persen dalam jangka panjang. Pada saat kemarau panjang

pada tahun 1998, menyebabkan jumlah impor meningkat, ditahun 2001 terjadi

musim hujan yang panjang pemintaan impor menurun (BPS, 2003). Untuk

meningkat luar areal panen diperlukan sarana dan prasarana irigasi khusus di Luar

Jawa.

5.4. Produktivitas Padi di Jawa

101
Nilai koefesien determinasi (R2) dari model produktivitas padi Jawa

adalah 0.84545, artinya 84.54 persen dari keragaman variable variabel eksogen

didalam model yaitu : jumlah pemakain pupuk, harga gabah real ditingkat petani,

areal sawah yang pengairan irigasi, dan produktifitas padi tahun sebelumya dan

sisanya sebesar 15.45 persen diterangkan oleh variabel lain yang terdapat diluar

model. Nilai Breusch Godfrey Serial Correlation LM Test sebesar 0.3162 lebih

besar dari taraf nyata yang digunakan sebesar 15 persen sehingga tidak terdapat

masalah autokorelasi.Uji F diperoleh dari dua model produktifitas padi jawa

sebesar 28.72342 hal ini menunjukan bahwa peubah eksogen yang dalam

persamaan mampu menjelaskan peubah endogen dengan bai

Hasil pendugaan parameter produktivitas padi dijelaskan pada tabel

berikut.

Table 6. Hasil Pendugaan Parameter Produktifitas di Jawa


Variabel Parameter Probabilitas Elastisitas
Pendek Panjan
g
intersep -4.13454 0.1470
Harga gabah 0.537005 0.0224* 0.008 0.017
Jumlah pemakaian 0.001029 0.0096* 0.001 0.003
pupuk di Jawa
Luas areal irigasi Jawa 0.002283 0.051* 0.534 0.545
Lag produktivitas padi 0.541690 0.0006 * 0.008 0.017
Jawa
R2 =0.84545 F ht =28.72 Prob(F ht)= 0.00000
Sumber : Hasil Analisis
Keterangan : *) Nyata Pada Taraf 5%
**) Nyata Pada Taraf 10%
***) Nyata Pada Taraf 15%

102
Pada tabel 5 terlihat, jumlah pemakaian pupuk sangat berpengaruh secara

nyata pada taraf 5 persen terhadap produktivitas padi di Jawa dasar tanda

parameter positif dan bernilai 0.001029 hal ini berarti, jika peningkatan jumlah

pemakian pupuk 1 kg perhektar akan mendorong meningkat produktivitas padi.

Penggunaan pupuk kimia urea berpengaruh nyata secara positif terhadap

produktifitas padi. Pupuk merupakan faktor input utama dalam rangka

meningkatkan produktivitas, kenaikan jumlah pupuk 1 Kg perhektar akan

meningkatkan produktivitas sebesar 0.001 ton perhektar sebaliknya penurunan

jumlah pemakaian pupuk 1 kg perhektar akan menurukan produktivitas sebesar

0.001 ton cetiris paribus.

Jika dilihat dari nilai elestisitas jangka pendek dan jangka panjang,

produktivitas di Luar Jawa tidak responsif yang bernilai sebesar 0.001 dan 0.003

terhadap perubahan jumlah pemakaian pupuk. Kondisi tersebut menunjukan

bahwa produktivitas padi telah mengalami masalah pelandaian produksi

(levelling-off) sebagai akibat dari pengunaan pupuk yang tidak berimbang. Untuk

mengatasi hal tersebut, perlu usaha untuk meningkatkan tingkat kesuburan lahan

berupa pemberian pupuk organik,

Harga gabah di tingkat petani berpengaruh signifikan secara stastistik

terhadap produktivitas padi di Jawa. Nilai koefisien harga gabah 0.537005 harga

gabah dapat diartikan merupakan faktor utama untuk merangsang meningkatkan

produktivitas. Kenaikan harga beras satu rupiah perkilogram akan meningkatkan

produktivitas sebesar 537.005 kg perhektar, jika harga gabah turun satu rupiah

akan menurunkan produktivitas padi di jawa sebesar 537.005 kilogram perhektar

103
dengan asumsi faktor faktor lain dianggap tetap (cetiris paribus). Produktivitas

lahan di Jawa tidak responsif terhadap perubahan harga gabah yang diperlihatkan

oleh nilai elastisitas jangka pendek dan jangka panjang sebesar 0.008 dan 0.017,

dengan asumsi jika faktorlain dianggap konstan, peningkata harga 1 peren

mendorong Produktivitas lahan di Jawa sebesar 0.008 dalam jangka pendek dan

0.017 jangka panjang.

Harga gabah berhubungan nilai tukar produk pertanian terhadap input

pertanian, maksudnya makin tinggi harga gabah akan meningkat peneriaman

petani, penerimaan yang digunakan untuk membeli input pertanian yang secara

langsung mempengaruhi produktivitas di Jawa. Jika diliaht rata-rata penguasaan

lahan sawah sebesar 0.3 hektar perpetani, kenaikan harga gabah tidak berpengaruh

besar terhadap produktivitas lahan.

Luas areal irigasi di Jawa berpengaruh sangat nyata pada taraf 5 persen,

nilai koefisien sebesar 0.002283, hal ini berarti kenaikan lahan yang dialiri irigasi

1000 hektar mendorong kenaikan produktivitas padi 22.83 kilogram per hektar

sebalik lahan yang beririgasi turun sebesar 1000 hektar maka produktivitas lahan

di Jawa turun sebesar 22.83 kilogram per hektar dengan asumsi faktor faktor

lain dianggap tetap (ceteris paribus). Pengaruh luas areal irigasi di Jawa terhadap

produktivitas lahan bersifat inelastis baik dalam jangka pendek dan jangka

panjang, yaitu masing-masing sebesar 0.534 dan 0.545, hal ini membuktikan

kurang optimal pemanfaatan saran irigasi teknis

104
Tabel 7. Luas Sawah Menurut Jenis Irigasi di Indonesia, 2008
Tadah Hujan/ pasang
Daerah Irgasi Teknis NonTeknis surut
Jawa
45.47 30.71 23.82
Luar Jawa
15.37 33.83 50.80
Sumber: BPS 2008

Tabel 6 menunjukan luas areal sawah yang dialiri sawah di Jawa sebesar

45.47 persen sedang luas nonteknis 30.71 pensen dan sawah bergantung pada

cuaca sebesar 23.82 persen, hal ini menunjukan lebih dari 75 persen sawah di

Jawa dialiri oleh irigasi. Dilihat dari luas sawah beririgasi, seharusnya

peningkatan luas areal sawah beririgasi akan meningkatkan produktivitas lahan di

jawa. hal inidisebabakan belum optimal pemanfaatan irigasi akibat kerusakan

jaringan irigasi gasi dan penurun debit air di bendung besar di Jawa. Untuk

meningkatkan produktivitas lahan padi di perlukan perbaikan saluran irigasi dan

prasaran menunjang lain. Mayoritas budidaya padi di Indonesia merupakan lahan

basah yang banyak mengunakan air, pemerintah diharapkan mampu optimalkan

pemanfaatan irigasi agar terjadi peningkatan produksi padi nasional.

5.5 Produktivitas di Luar Jawa.

Nilai koefisen determinasi (R2) dari model luas areal panen padi dalah

sebesar 0.97688 artinya 97.688 persen keragaman produktivitas padi di Luar Jawa

dapat diterangkan oleh keragaman variabel variabel eksogen di dalam model

yakni variabel jumlah pemakaian pupuk, harga gabah di tingkat petani, luas areal

beririgasi di Luar jawa, dan lag produktivitas di Luar Jawa, sedangkan sisanya

sebesar 2.312 persen dijelaskan oleh faktor faktor yang tidak terdapat dalam

model. Nilai Breussch Godfrey Serial Correlation LM Test sebesar 0.3562 lebih

105
besar dari taraf nyata yang digunakan sebesar 15 persen sehingga tidak terdapat

masalah autokorelasi.Uji F diperoleh nilai F hitung sebesar 220.79 yang lebih

besar dari F tabel pada taraf nyata satu persen. Nilai ini menunjukan bahwa

variabel variabel eksogen dalam model secara bersama sama berpengaruh nyata

terhadap produktivitas padi di Luar Jawa.

Hasil pendugaan pamarameter produktivitas padi di Luar Jawa dapat dilihat dari

tabel dibawah ini.

Tabel 8. Hasil Pendugaan Parameter Produktifitas di Luar Jawa

variabel parameter probabilitas Elastisitas


Pendek Panjang
intersep 1.069703 0.1463 *
Harga gabah 0.25005 0.0096 * 0.090 1.066

Jumlah pemakaian 0.001329 0.0014* 0.079 0.934


pupuk di Luar
Jawa
Luas areal irigasi 0.000065 0.5065 0.533 1.162
luar Jawa
Lag produktivitas 0.541495 0.0000 * 0.042 0.092
padi luar Jawa
R2 = 0.97688 F ht =220.79 Prob(F ht)= 0.000000
Sumber : Hasil AnalisisKeterangan :
*) Nyata Pada Taraf 5%
**) Nyata Pada Taraf 10%
***) Nyata Pada Taraf 15%

Hasil uji stastik t menunjukan bahwa variabel harga riil gabah, jumlah

pemakaian pupuk per hektar, dan produktivitas tahun sebelumnya pada taraf nyata

lima persen sedangkan variabel luas beririgasi pada taraf nyata 50 persen.

Koefisisen variabel harga riil gabah di tingkat petani sebesar 0.25005. hal

ini menunjukan jika kenaikan harga riil gabah satu rupiah per kilogaram akan

106
meningkat produkvitas di Luar Jawa sebesar 0.25005 ton perhektar, cateris

paribus. Produktivitas lahan di Luar jawa tidak responsif terhadap perubahan

harga gabah pada jangka pendek, sedangkan pada jangka panjang responsif

terhadap perubahan harga gabah. Jika diasumsi variabel lain konstan, kenaikan

harga gabah ditingkat petani satu persen akan menaikan produktivitas lahan

diluar jawa sebesar 0.09 pada jangka pendek dan pada jangka panjang sebesar

1.066 persen. berdasarkan nilai elastisitas diatas dapat diartikan bahwa

peningkatan harga gabah ditingkat petani sebesar satu persen ceteris paribus,

mampu meningkatkan produktivitas lahan di jawa sebesar 0.09 persen dalam

jangka pendek dan 1.006 persen dalam jangka panjang.

Informasi di atas menunjukkan bahwa yang mempengaruhi perilaku

produksi padi di Luar Jawa adalah harga padi, dimana petani merespon harga

yang tinggi dengan meningkatkan produksi padi dengan cara meningkatkan

produktifitas. Harga gabah merupakan faktor utama dalam meningkatkan

produktifitas di Luar Jawa.

Pemakaian pupuk urea berpengaruh secara sinigfikan terhadap

produktivitas padi pada taraf nyata satu persen, hal ini membuktikan penggunaan

pupuk kimia urea berpengaruh nyata secara positif terhadap produktivitas padi.

Pupuk merupakan faktor input utama dalam rangka meningkatkan produktivitas,

kenaikan jumlah pupuk 1 Kg perhektar akan meningkatkan produktivitas sebesar

0.001 ton perhektar sebaliknya penurunan jumlah pemakaian pupuk 1 kg

perhektar akan menurukan produktivitas sebesar 0.001 ton cetiris paribus.

Respon produktivitas lahan di Luar Jawa tidak responsif terhadap

perubahan jumlah pupuk digunakan pada jangka pendek dan jangka panjang, hal

107
ini terlihat dari nilai elastisitasnya sebesar 0.079 dalam jangka pendek dan 0.934

dalam jangka panjang. nilai ealstisitas jumlah pemakaian pupuk naik sebesar 1

persen akan meningkat produktivitas sebesar 0.079 persen untuk jangka pendek

dan 0.934 per untuk jangka panjang. Inelastisnya pengaruh kenaikan jumlah

pemakai pupuk terhadap perubahan produktivitas lahan di jawa diakibatkan

rendahnya efektifitas pemakaian pupuk, serta untuk beberapa daerah belum

optimal sistem pendistribusian pupuk sehingga pupuk langka.

Luasan areal sawah yang beririgasi tidak berpengaruh secara sinigfikan

terhadap peningkatan produksi hal ini membuktikan peningkatan produktivitas

petani di Luar jawa sangat bergantung pada curah hujan. Untuk meningkatkan

produksivitas padi diluar jawa diperlukan penambahan sarana dan prasaran

penunjang khususnya irigasi teknis. Luas areal irigasi di Luar Jawa tidak

berpengaruh sangat nyata pada taraf 50 persen, nilai koefisien sebesar 0.00006,

hal ini berarti kenaikan lahan yang dialiri irigasi 1000 hektar mendorong kenaikan

produktivitas padi 0.06 kilogram per hektar sebalik lahan yang beririgasi turun

sebesar 1000 hektar maka produktivitas lahan di Jawa turun sebesar 0.06 kg

kilogram per hektar dengan asumsi faktor faktor lain dianggap tetap (ceteris

paribus).

Pengaruh luas areal irigasi di Jawa terhadap produktivitas lahan bersifat

inelastis dalam jangka pendek sebesar 0.534, sedangkan jangka panjang lebih

responsif terhadap pengaruh luas areal irigasi sebesar yaitu masing-masing

sebesar 1.162. Artinya kenaikan satu persen luasan sawah beririgasi di Luar jawa

akan meningkatkan produktivitas lahan di Luar jawa sebesar 0.534 persen dalam

jangka pendek dan 1.162 persen. Hal ini terjadi disebabkan produktivitas di Luar

108
jawa sangat bergantung pada perubahan iklim, berdasarkan tabel 6 hanya 15

persen sawah diluar jawa dialirin oleh irigasi teknis, 33.83 persen dialiri irigasi

nonteknis dans sisa lebih bergantung pada perubahan iklim(sawah tadah hujan dan

pasang surut). Untuk meningkatkan produktivitas perlu ditingkatkan perluasan

swah beririgasi teknis di Luar Jawa.

5.6 Harga Gabah ditingkat Petani.

Koefisen determinan dari model harga gabah ditingkat petani 0.99 yang

artinya 99.42 persen keragaman harga gabah ditingkat petani dapat diterangkan

oleh variabel variabel eksogen didalam model yakni harga dasar gabah, harga

jagung, produksi padi, dan harga gabah ditingkat petani ditahun sebelumnya dapat

diterangkan, sedangkan sisa dapat diterang oleh variabel lain tidak terdapat dalam

model.. Nilai Breussch Godfrey Serial Correlation LM Test sebesar 0.2055

lebih besar dari taraf nyata yang digunakan sebesar 15 persen sehingga tidak

terdapat masalah autokorelasi. Uji F diperoleh nilai F hitung sebesar 1987.941

yang lebih besar dari F tabel pada taraf nyata satu persen. Nilai ini menunjukan

bahwa variabel variabel eksogen dalam model secara bersama sama

berpengaruh nyata terhadap harga gabah.Hasil perdugaaan parameter harga gabah

ditingkat petani dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 9. Hasil Pendugaan Parameter Harga Gabah Tingkat Petani.


variabel parameter probabilitas Elastisitas
pendek panjang
intercep 352.5284 0.3814
Harga dasar gabah 0.873339 0.0079* 0.880 0.963
Harga beras eceran 0.455613 <.0001* 0.847 0.927
Produksi gabah -0.01221 0.2371 -0.684 -0.749

109
Lag harga gabah 0.08584 0.0937 0.077 0.084

R2 =0.99429 F ht =914.51 Prob(F ht)= <.0001


Sumber : Hasil Analisis
Keterangan : *) Nyata Pada Taraf 5%
**) Nyata Pada Taraf 10%
***) Nyata Pada Taraf 15%

Pendugaan parameter harga dasar gabah di tingkat petani merupakan salah

satu instrumen pemerintah untuk melindungi petani atau produsen dari anjloknya

harga gabah pada saat panen raya. Berdasakan nilai dugaan parameter diketahui

bahwa kebijakan ini berpengaruh secara positif, bila ditinjau kembali peningkatan

harga gabah di tingkat petani berpengaruh besar terhadap perubahan harga gabah

ditingkat petani. Koefisien dugaan variabel harga dasar gabah 0.873339, artinya

jika terjadi peningkatan harga dasar gabah satu Rupiah akan menaikan harga

gabah ditingkat petani sebesar 0.873339 rupiah perkilogram, ceteris paribus.

Nilai elastisitas harga dasar gabah yang ditetap pemerintah dalam jangka

pendek dan jangka panjang masing masing sebesar 0.88 dan 0.963. nilai ini

menunjukan jika terjadi kenaikan satu persen harga dasar ceteris paribus, akan

meningkatkan harga gabah riil ditingkat petani sebesar 0.88 persen dalam jangka

pendek dan 0.963 persen pada jangka panjang. Nilai tersebut menunjukan bahwa

dalam jangka pendek dan jangka panjang perubahan harga dasar gabah tidak

responsif terhadap perubahan harga gabah ditingkat petani. Bila ditinjau kembali,

peningkatan harga dasar gabah tidak berpengaruh besar terhadap perubahan harga

gabah ditingkat petani. Tujuan utama kebijakan harga dasar adalah stabilisasi

harga gabah ditingkat petani.

Harga beras ecaran rata rata di Indonesia berpengaruh nyata terhadap

harga gabah tingkat petani pada taraf satu persen. harga beras impor berpenguruh

110
secara langsung terhadap harga beras didalam negeri, terutama setelah

dihapuskannya kebijakan monopoli impor beras oleh bulog.

Pada penelitian ini harga beras eceran di Indonesia berpengaruh nyata

terhadap harga gabah di tingkat petani.. kenaikan harga beras eceran sebesar Rp

1/Kg akan menaikan harga gabah tingkat petani sebesar Rp 0.455613/Kg, jika

sebalik terjadi maka penurunan harga beras eceran sebesar satu rupiah akan

menurunkan harga ditingkat petani 0.455613, ceteris paribus. Namun nilai

elastisitas menunjukan bahwa harga gabah di tingkat petani inelastis terhadap

perubahan harga beras eceran, baik dalam jangka pendek (0.847) dan jangka

panjang (0.927). Artinya bahwa peningkatan beras eceran 1 persen hanya mampu

meningkatkan harga gabah sebesar 0.847 persen dalam jangka pendek dan jangka

panjang sebesar 0.927 persen. Seperti telah diungkapkan flustuasi harga beras

impor berpengaruh langsung terhadap harga beras dalam negeri, terutama setelah

dihapuskannya kebijakan monopoli impor oleh BULOG (Femina, 2006).

Variabel produksi gabah indonesia tidak memberi pengaruh nyata terhadap

harga gabah dengan koefisien dugaan bertanda negatif sesuai dengan parameter

yang diharapkan bernilai sebesar 0.01221 artinya jika terjadi peningkatan

produksi padi seribu ton maka harga gabah di tingkat pertani akan turun sebesar

0.01221 rupiah per kilogram, sebaliknya jika produksi padi mengalami

penurunan sebesar seribu ton maka harga gabah di tingkat petani akan naik

sebesar 0.01221 Rupiah perkilo, cateris paribus. Koefisien dugaan produksi padi

indonesia berpengaruh negatif terhadap harga gabah di tingkat petani tidak nyata.

Ini dapat dipahami pada kondisi riil dilapangan kenaikan produksi pada saat panen

raya akan menurunkan harga gabah di tingkat petani, sebalik dimusim paceklik

111
harga gabah di tingkat petani meningkat hal ini menunjukan belum adanya data

produksi dan stok yang disimpan petani dan pedagangan yang benar. Untuk

mengatasi hal tersebut diperlukan peran serta bulog dalam menstabilkan harga

baik musim panen raya maupun pada musim paceklik.

5.7. Permintaan Beras

Hasil pendugaan parameter permintaan beras ini dijelaskan pada tabel

berikut.

Tabel 10. Hasil Pendugaan Parameter Permintaan Beras


Variabel Parameter Probabilitas Elastisitas
pendek panjang
intersep 8918.212 0.0027
Harga beras eceran -0.350265 0.5118 -0.490 -0.690
Jumlah penduduk 0.064571 0.0269* 0.012 0.017
Harga jagung 0.369340 0.6633 0.319 0.450
Permintaan tahun 0.28938 0.1301*** 7.710 10.850
lalu
R2 =0.761871 F ht =16.79683 Prob(F ht)= 0.000030
Sumber : Hasil Analisis
Keterangan : *) Nyata Pada Taraf 5%
**) Nyata Pada Taraf 10%
***) Nyata Pada Taraf 15%

Koefisen determinan dari model permintaaan beras Indonesia 0.761871

yang artinya 76.1871 persen permintaaan beras dapat diterangkan oleh variabel

variabel eksogen didalam model yakni harga beras eceran, harga jagung, populasi

jumlah penduduk, dan permintaaan tahun lalu dapat diterang oleh model, sedang

23.8176 tidak dapat diterangkan oleh model. Nilai Breussch Godfrey Serial

Correlation LM Test sebesar 0. 709337 lebih besar dari taraf nyata yang

digunakan sebesar 15 persen sehingga tidak terdapat masalah autokorelasi

112
Koefisien harga beras pada persamaan diatas harga beras tidak

berpengaruh nyata terhadap permintaan beras dalam negeri. Harga beras tidak

merupakan alasan utama masyarakat membeli beras, hal ini terjadi karena beras

merupakan pangan pokok utama dibandingkan komoditi pangan yang lain.

Menurut Sari (2007), untuk rumah tangga berpenghasil rendah kenaikan harga

tidak berpengaruh besar terhadap jumlah beras dibeli tetapi berpengaruh terhadap

frekuensi pembelian beras dan kualitas beras.

Harga jagung berpengaruh positif terhadap jumlah permintaan beras,

sesuia dengan parameter yang diharapkan. Jagung merupakan barang subtitusi

dengan beras, didalam penelitian harga jagung tidak berpengaruh nyata terhadap

permintaan beras karena beras merupakan bahan makanan pokok utama di

Indonesia. Nilai koefisien dugaan variable harga jagung sebesar 0.369340 artinya

apabila harga jagung naik sebesar 1 Rp/Kg maka jumlah permintaan beras

meningkat menjadi 0.36340 ribu ton , sebaliknya jika harga jagung 1 Rp/Kg

maka jumlah impor beras akan naik sebesar 0.36340 ribu ton, ceteris paribus.

Koefisien jumlah penduduk sebesar 0.064571 hal ini berarti apabila

jumlah penduduk Indonesia meningkat 1 juta orang maka permintaan beras naik

menjadi 0.06471 ribu ton. Jika terjadi sebalik penduduk Indonesia 1juta orang

maka permintaan beras akan menurun 0.06471 ribu ton cetris paribus. Jika dilihat

nilai elastisitas jumlah penduduk menunjukan inelastis terhadap perubahan

permintaan beras dalam jangka pendek (0.012) dan jangka panjang (0.017).

Peningkatan jumlah penduduk satu persen mendorong peningkatan

permintaan beras sebesar 0.012 persen dalam jangka pendek, dan 0.017 pada

jangka panjang ceteris paribus. Variabel populasi penduduk berpengaruh positif

113
dan nyata terhadap permintaan beras pada taraf lima persen dan tanda yang

diperoleh sesuai dengan parameter yang diharapkan. hal ini dikarenakan

kebutuhan beras akan memakin seiring pertumbuh laju populasi.

5.6. Impor Beras

Hasil pendugaan parameter impor beras dapat dijelaskan pada tabel

berikut ini

Tabel 12. Hasil Pendugaan Parameter Impor


Variabel Parameter Probabilitas Elastisitas
Pendek Panjang
intersep 390.8068 0.8814
Harga beras dunia -0.377079 0.0013 * -0.090 -0.140
Harga beras eceran 0.854760 0.0018 * 1.196 1.296
Tarif Advoleren -0.262208 0.0063 * -0.002 -0.003
Nilai tukar RP/ US$ 0.528459 0.0551 * 2.182 2.222
Populasi penduduk 0.035141 0.3599 0.953 0.965
Produksi beras nasional -0.242391 0.1145 *** -6.574 -6.625
Lag permintan impor 0.357146 0.1699 -0.255 -0.3235
R2 =0.643311 F ht =4.637727 Prob(F ht)= 0.000046
Sumber : Hasil Analisis
Keterangan : *) Nyata Pada Taraf 5 %
**) Nyata Pada Taraf 10 %
***) Nyata Pada Taraf 15 %

Koefisien determinasi (R2 ) dari model permintaan impor beras sebesar

0.643311, hal ini berarti 64.33 keragaman permintaan impor beras dapat

diterangkan oleh keragaman variabel variabel eksogen didalam model yakni

variabel harga beras dunia, harga beras, tarif advoloren, nilai tukar rupiah,

populasi penduduk Indonesia, dan permintaan impor pada tahun sebelumnya

sedang sisanya dijelaskan oleh faktor faktor lain yang tidak terdapat pada dalam

model. Nilai Breussch Godfrey Serial Correlation LM Test sebesar 0. 919000

114
lebih besar dari taraf nyata yang digunakan sebesar 15 persen sehingga tidak

terdapat masalah autokorelasi

Mengunakan uji F diperoleh nilai F hitung 4.637727 pada taraf nyata satu

persen. Nilai ini menunjukan dari nilai menunjukan bahwa variabel variabel

eksogen dalam model secara bersama sama berpengaruh nyata terhadap

permintaan impor beras.Hasil uji t hitung variabel bahwa harga beras

internasional, harga beras, tarif impor lebih dari lima persen, sedangkan variabel

populasi penduduk taraf dua puluh persen.

Variabel harga beras internasional memberi pengaruh pada taraf lima

persen terhadap impor beras indonesia dengan koefisien dugaan bertanda negatif

sesuai dengan parameter yang diharapkan dan bernilai 0.3770795, artinya apabila

harga riil beras impor indonesia naik sebesar satu Dollar perton menurunkan

impor beras sebesar 377 ton.

Nilai elastisitas harga beras internasional terhadap permintaan beras impor

dalam jangka jangka pendek dan panjang masing masing sebesar 0.09 dan 0.14.

Nilai ini menunjukan jika jika terjadi kenaikan harga beras internasional 1 persen

akan menurunkan permintaan beras impor 0.09 persen pada jangka pendek dan

0.14 pada jangka panjang. Nilai tersebutjuga menunjukan bahwa respon

perubahan perminta beras impor tidak responsif terhadap perubahan harga beras

dunia. Fluktusi harga beras dunia tinggi 30 tahun terakhir mencapai puncak tahun

2008, dengan harga 530 US$/ ton. Impor beras sangat menguntungkan,

dikarenakan perbedaan harga beras impor dan harga beras dalam negeri yang

tinggi. Harga beras internasional mempengaruhi jumlah permintaan beras beras,

Bila harga beras internasional naik maka permintaan beras impor akan turun,

115
sebaliknya bila harga beras internasional naik maka permintaan beras impor akan

naik.

Harga beras dalam negeri berpengaruh nyata terhadap permintaan impor

beras pada taraf lima persen. permintaan beras impor bersifat elastis terhadap

perubahan harga beras dalam negeri, yaitu sebesar 1.196 dalam jangka pendek dan

1. 296 dalam jangka panjang. Hal ini menunjukan bahwa peningkatan harga beras

1 persen mendorong kenaikan impor beras sebesar 1.196 persen dalam jangka

pendek, dan 2.196 dalam jangka panjang. Hal terjadi karena disebabkan beberapa

faktor, yaitu (1)faktor utama mendorong impor beras sebagai akibat perbedaaan

harga beras internasional dengan harga beras dalam negeri; dan (2)Beras

merupakan komuditas politik, kenaikan beras dalam negeri dapat menguncang

kestabilan politik yang terkait dengan kemampuan daya beli masyarakat, untuk

menstabil harga pemerintah mengimpor beras. Hal ini terlihat pada data Susenas

terlihat bahwa sebagian besar penduduk Indonesia lebih banyak menggunakan

pengeluarnya untuk makanan. Pada tahun 2002, lebih dari 82 persen penduduk

Indonesia menggunakan lebih dari 60 persen pengeluarannya untuk makanan.

Kebijakan impor beras pada awal untuk memenuhi kebutuhan beras

nasional., Bulog ditunjuk sebagai lembaga pemegang memonopoli dan mengatur

penyaluran jumlah beras impor, bertujuan untuk menjaga menstabilkan harga

beras dalam negeri. Tahun 1998 pemerintah terlibat perjanjian dengan IM,

perjanjian ini pemerintah diharuskan mereformasi kebijakan disektor pertaniaan

secara substansial, mencakup liberasisasi pasar beras, dan penghapusan monopoli

Buloq dalam distribusi Impor beras. Pada saat itu beri kebebasan kepada importir

untuk mengimpor beras, salah satu yang menarik importir untuk mengimpor beras

116
adalah sesilih harga beras domestik dan harga beras internasional tinggi dapat

dilihat pada gambar 8. Makin tinggi selisih harga beras tersebut maka makin

tinggi keuntungan yang didapat impor.

6000

5000

4000
Harga(Rp)

3000

2000

1000

0
1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Tahun

Harga Beras Domestik Harga Beras Internasional

Gambar 8 Perbedaan Harga Beras Domestik dan Internasional

Harga beras domestik mempengaruhi jumlah permintaan impor, jika harga

beras domestik naik maka selisih harga beras domestik dan harga beras

internasional makin tinggi maka importir akan meningkatkan jumlah impor.

Sebaliknya jika harga beras domestik turun maka selisih harga antara beras

domestik dan harga beras internasional turun importir akan mengurangi jumlah

impor beras.

Kebijakan dari pemerintah terhadap penerapan tarif impor beras dapat

dikatakan berhasil. Tanda negatif menunjukan hubungan berlawanan antara impor

beras dan besaran tarif impor yang berlaku dengan nilai 0.262208, artinya jika

pemerintah menaikan tarif impor sebesar 1 persen, maka volume impor bersar

indonesia turun 262.208 ton. Adanya bea masuk impor, maka pemerinaman yang

diterima impor yang akan diterima berkurang dibandingkan jika tidak diberlaku

117
tarif impor. Sebaliknya Jika tarif turun berakibat turun harga beras impor,

penerimaan importir akan naik.

Koefisien dugaan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar 0.528459, berarti

terjadi kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar satu Rupiah (Apresiasi) akan

menaikan permintaan impor beras sebesar 528.459 ton, dan sebaliknya terjadi

penurunan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar (depresiasi) maka permintaan impor

beras akan turun sebesar 528.459 ton, cateris paribus. pengaruh nilai tukar rupiah

terhadap dollar terhadap permintaan beras impor bersifat elastis baik dalam

jangka pendek dan jangka panjang sebesar 2.182 dan 2.222. Jika nilai tukar mata

uang naik satu per maka permintaan impor meningkat sebesar 2.182 persen dalam

jangka pendek dan jangka panjang sebesar 2.222 persen.

Dalam teorinya, kurs riil memiliki pengaruh negatif terhadap volume

impor suatu negara. Apresiasi kurs riil akan meningkatkan volume impor,

sementara depresiasi justru akan menurunkan volume impor. Hal ini terkait

dengan harga beras impor suatu negara, dimana apresiasi kurs riil akan

menurunkan harga beras impor suatu negara maka negara tersebut akan

meningkatkan volume impor, dan sebaliknya jika terjadi depresiasi harga beras

impor turun, maka indonesia akan menurunkan volume impor.

Variabel populasi indonesia berpengaruh positif dan tidak nyata terhadap

permintaan impor beras. Hal in dikarenakan kebutuhan beras sebagai bahan utama

akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Dalam penelitian

populasi pupuk tidak nyata, karena selama ini impor dilakukan sebagai kebijakan

untuk menstabilkan harga beras eceran pada tingkat rumah tangga.

118
Produksi beras nasional berpengaruh nyata pada taraf lima belas persen

terhadap impor beras dengan koefisien dugaan bertanda negatif sesuia dengan

parameter yang diharapkan dan bernilai 0.242391, artinya jika produksi beras

indonesia meningkat seribu ton maka akan mengakibatkan penurunan volume

impor 242.391 ton jika produksi beras indonesia menurun sebesar seribu ton maka

impor akan meningkat sebesar 242.391 ton, ceteris paribus. Produksi beras

indonesia selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, jika

produksi beras nasional meningkat maka tingkat ketergantungan terhadap beras

impor semakin rendah.

Elastisitas produksi beras nasional terhadap impor indonesia dalam

jangka pendek sebesar -6.574, dan jangka panjang sebesar -6.625, dengan asumsi

jika faktor lain konstan peningkatan produksi 1 persen akan menurunkan

permintaan impor sebesar 6.57 persen dalam jangka pendek dan jangka panjang

sebesar 6.625 persen.

Nilai koefisien bernilai 0.262208 jika pemerintah menaikan tarif satu

persen akan menurunkan impor beras indonesia sebesar 262.208 ton, jika

sebaliknya maka pemerintah menurunkan tarif sebesar satu persen maka impor

akan naik menjadi sebesar 26.2208 ton, ceteris paribus.

Kebijakan tarif berlaku sejak tahun 1999 terkait dengan kebijakan

liberalisasi perdagangan beras, yang sebelumnya dimonopoli Bulog. Liberalisasi

perdagangan beras menekan harga beras dalam negeri menjadi turun, efek

selanjutnya akan menurunkan harga gabah di tingkat petani. Kebijakan tarif impor

beras bertujuan sebagai proteksi terhadap produsen/petani dari penurunan harga

gabah sebagai akibat masuknya impor beras .

119
Lag permintaan impor berpengaruh positif terhadap impor beras indonesia,

hal ini sudah sesuai dengan diharapkan. Variabel lag ini tidak berpengaruh nyata

terhadap impor beras indonesia. Hasil perhitungan elastisitas pada tabel 10

menunjukan variabel yang mempunyai nilai elastisits yang lebih responsif adalah

harga beras dalam negeri, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar amerika, dan

produksi beras nasional. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras impor

pemerintah harus membuat (1) kebijakan moneter dan fiskal agar kestabilan nilai

tukar; (2) upaya peningkatan produksi gabah, luar areal panen, dan produktivitas,

yang dikungun oleh kebijakan pertanian komferhensif dan terpadu; dan (3)

terjamin kestabilan harga pangan ditingkat konsumen.

120