Anda di halaman 1dari 8

Proseding Seminar DIES FMIPA UGM ke 50 17 September 2005

PENGUKURAN AKTIVITAS GAS RADON DI UDARA MENGGUNAKAN


DETEKTOR SINTILATOR ZnS (Ag) DENGAN METODE KONTINU

Oleh:
R A Samodro, Karyono dan A B Setio Utomo

INTI SARI
Telah dilakukan pengukuran aktivitas gas Radon di udara menggunakan metode kontinu. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui distribusi gas Radon pada waktu dan ketinggian tertentu diatas permukaan tanah. Dalam hal
ini udara dilewatkan melalui sebuah sungkup silinder yang dilapisi ZnS (Ag) sebagai detektor sintilator sehingga dapat
dilakukan pencacahan gas Radon di udara melalui pancaran zarah alphanya.
Telah berhasil ditentukan tenaga, umur paro dan nilai saat laju cacah zarah alpha maksimum dari gas Radon
secara sampling menggunakan botol sintilator sebagai detektornya.
Konsentrasi gas Radon di udara cenderung turun terhadap naiknya ketinggian diatas permukaan tanah. Dilain
pihak konsentrasi gas Radon di udara sebagai fungsi waktu pencacahan pada ketinggian yang sama cenderung meningkat
saat mendekati siang hari. Dari penelitian ini diperoleh bahwa aktivitas gas Radon di udara berkisar antara (4−8838)
pCi/m3.

Kata kunci: Gas Radon, Metode kontinu, scintilator.

MEASUREMENT OF THE RADON GAS ACTIVITY ON THE AIR USING


SCINTILLATION DETECTOR ZnS (Ag) BY CONTINUOUS METHOD
By:
R A Samodro, Karyono dan A B Setio Utomo

ABSTRACT
A Measurement of Radon gas activity on the air using a continuous method has been done. This research is
conducted to find out the Radon gas distribution at a certain time and height above the ground surface. In a manner the air
has been passed through a cylinder mulch which is layered a ZnS (Ag) powder as a scintillation detector so that Radon
gas on the air can be counted through its alpha radiation.
Radon gas energy, half life and time of alpha maximum rate can be determined by sampling experiment test
using a scintillation bottle as the detector.
The Radon gas concentration decreases as increasing the height. On the other hand, at the same height the
Radon gas concentration on the air rise as increasing the time and the highest is getting closer and closer midday. From
this research is obtained that activity of Radon gas on the air is in range from 4 to 8838 pCi / m3.

Keywords: Radon gas, continuous method, scintillator.

I. PENDAHULUAN
Salah satu radioaktivitas alamiah adalah gas Radon (sekitar 50-60% radiasi yang diterima
masyarakat berasal dari gas Radon dan hasil luruhannya yang berumur pendek) yang dilepaskan dari hasil
peluruhan Uranium di dalam perut bumi (Bunawas dan Ramain, 1991). Gas Radon yang lolos dari mineral-
mineral batuan akan bergerak di celah-celah batuan dan lepas ke atmosfir menjadi bagian dari udara.
Banyaknya gas Radon di udara akan menentukan besarnya aktivitas hasil-hasil peluruhannya di atmosfir.
Selain itu juga memberikan gambaran besarnya aktivitas moyangnya di batuan bumi. Oleh sebab itu dari
pengukuran aktivitas gas Radon akan didapatkan kedua hal tersebut di atas sekaligus.
Penelitian gas Radon secara kuantitatif dimulai sekitar tahun 40-an. Penelitian terutama dilakukan di
daerah pertambangan Uranium karena disadari bahwa gas Radon menimbulkan bahaya radiasi dan
mengganggu pernafasan. Pada perkembangan selanjutnya, beberapa bidang penelitian memanfaatkan
pengukuran radioaktivitas gas Radon a.l.: bidang Lingkungan yaitu sebagai indikator pencemaran udara,
bidang Vulkanologi untuk meramalkan aktivitas gunung berapi dan bidang Geofisika yaitu untuk
memprediksi datangnya gempa.

68
Proseding Seminar DIES FMIPA UGM ke 50 17 September 2005

II. DASAR TEORI


II.1 Peluruhan gas Radon
Gas Radon mempunyai 2 macam isotop, yaitu: Aktinon (Rn-219) yang mempunyai waktu paro 3,96
detik dan Toron (Rn-220) yang mempunyai waktu paro 55,6 detik. Oleh karena waktu paronya yang relatif
panjang (3,82 hari) dari kedua isotop lainnya maka hanya gas Radon (Rn-222) yang paling diperhatikan.
(Wilkening, 1981)
Unsur-unsur dari U-238 sampai Ra-226 di dalam deret Uranium berwujud padat, demikian pula
unsur-unsur sesudah Rn-222 yaitu mulai dari Po-218 (RaA) sampai dengan Pb-210 (RaD) (Gambar II.1).
Keadaan Radon yang berwujud gas di antara anggota deret yang berwujud padat inilah yang membuat orang
tertarik untuk mengamatinya.
Rn-222
3,82 hari
RaA 19,7 menit RaC’
3,05 menit RaC
26,8 menit 164 µs
RaB 20 menit
RaD
RaC’’ 1,3 menit
Gambar II.1 Bagan peluruhan dari gas Radon (Rn-222) (Silakhuddin, 1981)
Dari sudut pandang proses peluruhan berantai Radon menjadi anak-anaknya, adalah:
Rn − 222 α RaA α RaB β RaC β RaC ′ α RaD
→ → → → →
1 2 3 4 5 6
Dari hukum peluruhan dapat diperoleh beberapa persamaan yang menyajikan suatu persamaan
aktivitas anak-anak gas Radon sebagai fungsi waktu pada saat mencapai kesetimbangan. Melalui perhitungan
maka cacah alpha dari gas Radon dan anak-anaknya akan maksimum pada t = 215 menit, yang tampak
seperti Gambar II.2

Gambar II.2 Laju cacah zarah alpha sesuai perhitungan


(Silakhuddin, 1981)

II.2 Radiasi α dari gas Radon


Pada dasarnya inti-inti berat tak stabil akan melepaskan zarah α sebagai suatu cara memperbesar
kemantapannya dengan cara mereduksi ukuran intinya. Zarah α ini terdiri atas 2 proton dan 2 neutron.
Peluruhan alpha dapat terjadi pada inti dalamrangka untuk memperbesar kemantapannya dengan cara
mereduksi ukuran intinya. Dengan memancarkan α maka inti meluruh menjadi inti yang lebih ringan
menurut
A
Z X → ZA−−42Y + α .
Ditinjau dari tenaga ikatnya, hal ini disebabkan pada energi ikat yang tinggi dari partikel alpha,
sehingga agar bisa lolos dari sebuah inti, sebuah partikel harus memiliki energi kinetic. Dalam hal ini massa
partikel alpha cukup kecil dibandingkan dengan nukleon pembentuknya sehingga energi kinetiknya untuk
keperluan lepas tersedia.
II.3 Interaksi Radiasi α dalam Bahan
Zarah α berupa partikel berat yang mempunyai muatan listrik 2 × muatan elektron positif dan
massanya 4 × massa atom H. Oleh karena muatan dan massa zarah α yang besar di bandingkan dengan
elektron, maka bila zarah α mengenai bahan akan mudah berinteraksi dengan atom, sehingga tenaganya
cepat melemah dan habis terserap dalam bahan. Dalam hal ini Alpha merupakan partikel pengion, yang

69
Proseding Seminar DIES FMIPA UGM ke 50 17 September 2005

berarti interaksinya dengan bahan melalui interaksi coulomb. Apabila radiasi α mengenai bahan, maka akan
terjadi proses ionisasi atau bentukan pasangan elektron-ion, eksitasi elektron atom dan eksitasi molekul.
II.4. Proses Sintilasi
Penyerapan tenaga oleh suatu bahan dan memancarkannya kembali sebagai cahaya disebut proses
luminisen kalau disebabkan oleh atom-atom dan akan disebut sebagai sintilasi kalau diakibatkan oleh benda
padat secara keseluruhan. Apabila zarah-zarah radiasi dikenakan pada bahan sintilator, maka terjadi benturan
dengan bahan sintilator dan akan menyebabkan terjadi eksitasi yang langsung diikuti oleh deeksitasi sehingga
terpancarlah foton-foton cahaya (yang mempunyai panjang gelombang ≈ 450nm).
II.5 Detektor Sintilator ZnS (Ag)
Bahan sintilasi yang dinamakan sintilator adalah bahan yang apabila dikenai radiasi akan
menghasilkan cahaya. Detektor sintilator merupakan suatu detektor radiasi nuklir yang didasarkan pada
interaksi bahan sintilator dengan radiasi nuklir, yang selanjutnya akan menghasilkan besaran-besaran yang
mudah diamati atau diukur.
Oleh karena gas Radon memancarkan alpha, maka penelitian ini berdasar pada teknik spektroskopi
α menggunakan detektor sintilastor ZnS (Ag). Detektor jenis ini hanya baik dipergunakan untuk radiasi α ,
sedangkan radiasi β dan γ tidak efektif.
II.6 Sistem Instrumentasi Elektronika Nuklir
Pada proses deteksi radiasi dibutuhkan sejumlah instrumen elektronik nuklir sebagai pendukung, yang
dinamakan instrumen deteksi.

III. METODE PENELITIAN


Penelitian dilaksanakan selama 8 bulan dan dimulai dari bulan Agustus 2004 sampai dengan Maret
2005. Pengambilan data dilakukan di halaman belakang Gedung Fisika FMIPA UGM, sedangkan analisa
dilakukan di Laboratorium Fisika Atom dan Inti (gedung utara), Jurusan Fisika FMIPA UGM.
III.1 Alat dan Bahan
Telah disebutkan di bagian depan bahwa dalam penelitian ini diperlukan instrumen deteksi, a.l.:
Detektor sintilator ZnS(Ag) dan Tabung pelipat electron, Sumber Daya Tegangan Tinggi (High voltage
power supply, HVPS), Penguat awal (Pre Amplifier), Penguat utama (Amplifier), Penganalisa Multikanal
(Multichannel analyzer, MCA), Penganalisa kanal tunggal ( Singlechannel analyzer, SCA), Counter, dan
Osiloskop

Selain instrumen deteksi diatas, diperlukan kelengkapan lain sebagai kalibrator dan instrumen
pendukung metode pengukuran kontinu, a. l.: Sungkup Silinder yang didalamnya telah dilapisi ZnS (Ag),
Am-241 sebagai sumber standar pemancar alpha (kalibrator), Pompa Hisap, Tipe TRIVAC model D44,
Selang dengan panjang 15 meter dan berdiameter 1 cm, Tapis (Wheatman 41) dan penjepitnya, Meteran
gulung, Tali dan Botol Sintilator (digunakan pada waktu metode sampling)
III.2. Skema Percobaan
Adapun skema instrumen deteksi dan sistem deteksi gas Radon di udara secara kontinu terangkai
seperti Gambar III.1 dan III.2, sedangkan skema percobaan untuk eksperimen uji keberadaan gas Radon
terlihat seperti Gambar III.3a dan III.3b sebagai sungkupnya.

PMT Pre Amp Amplifier MCA


detektor

HVPS osiloskop
r

Gambar III.1 Diagram Instrumen Deteksi

70
Proseding Seminar DIES FMIPA UGM ke 50 17 September 2005

botol sintilator

P
M Amplifier
Pre Ampsistem deteksi SCA
Gambar
T III.2 Diagram metode sampling

HVPS osiloskop counter


r

Gambar III.3 Diagram sistem deteksi Radon di udara metode kontinu

Gambar III.3b Sungkup silinder


III.3 Tahap Uji
Tahap uji perlu dilakukan untuk membuktikan kebenaran metode yang digunakan dan hasil
pengukuran yang diperoleh. Pada tahap ini dilakukan 2 tahap uji yaitu:
Setelah melakukan penyusunan instrumen deteksi (Gambar III.2) perlu dilakukan kalibrasi terlebih
dahulu, sebelum dilakukan deteksi gas Radon di udara,. Sumber kalibrasi yang digunakan adalah Am-241.
Kalibrator ini merupakan sumber radioaktif pemancar partikel α dengan tenaga 5,476 MeV (sekitar 85%)
yang mempunyai waktu paro (T1/2) sangat panjang, yaitu 432,2 tahun. Dengan memperhatikan sifat-sifat
tersebut diatas, maka Am-241 sangat baik digunakan sebagai standar untuk mengkalibrasi perangkat nuklir
terutama sebagai pemancar α (Sudarsono dkk, 1991). Oleh sebab itu tenaga radiasi gas Radon yang terukur
relatif terhadap tenaga radiasi Am-241.
Tahap uji perlu dilakukan untuk membuktikan kebenaran metode yang digunakan dan hasil
pengukuran yang diperoleh benar-benar berasal dari gas Radon dalam cuplikan udara yang diukur.
Pembuktian ini dapat dilakukan dengan membandingkan spektrum Am-241 dengan gas Radon yang
terkonsentrasi dalam volume udara dan melihat puncak dari kedua spektrum tersebut akan dapat ditentukan
tenaga keduanya.
Pembuktian kedua dilakukan menggunakan metode sampling yaitu dengan mengamati cacah zarah
alpha dari cuplikan udara yang dimasukkan dalam botol sintilator. Pada metode ini dibantu dengan
penganalisa kanal tunggal. Hal ini digunakan untuk mengamati laju pertumbuhan gas Radon dan menentukan
waktu paronya.
III. 4 Pengukuran aktivitas gas Radon di udara secara kontinu
Untuk pengukuran aktivitas gas Radon di udara secara kontinu dapat dilakukan dengan.pencacahan
gas Radon di udara terhadap variasi ketinggiannya di atas permukaan tanah. Sebelumnya sistem deteksi
disusun seperti skema penelitian (Gambar III.3). Pencacahan dilakukan pada setiap ketinggian dan waktu
yang berbeda. Pada metode kontinu ini digunakan MCA, sehingga hasilnya serempak dapat terlihat dalam
bentuk spektrum antara kanal yang mewakili tenaga alpha terhadap cacah gas Radon yang dideteksi.

71
Proseding Seminar DIES FMIPA UGM ke 50 17 September 2005

Aktivitas cuplikan lingkungan sangat rendah, sehingga sumbangan cacah latar harus diperhitungkan
(Sudarti dkk., 1997).

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari ekperimen uji yang dilakukan dengan metode sampling menggunakan botol sintilator yang
berfungsi sebagai detektor didapatkan bahwa nilai energi 241Am (Gambar IV.1a) dengan radon gas (Gambar
IV.1b), dan nilai laju pertumbuhan maksimum gas Radon adalah pada saat t = (210 ± 5) menit. (Gambar
IV.2)

spektrum Am-241

50000

40000

30000
cpm

20000

10000

0
0 10 20 30 40 50 60
kanal

Gambar IV.1 Spektrum hasil kalibrasi Am-241 menggunakan MCA


(Epuncak = 5,476 MeV, ∆E (FWHM) = 2,18 MeV dan nomor kanal 28).

E 5,476 MeV
Dari persamaan kalibrasi tenaga k= , didapat bahwa k = = 0,196 MeV,
No kanal 28
yang berarti 1 kanal MCA mewakili tenaga sebesar 0,196 MeV. Hasil tersebut dipakai untuk membandingkan
energi gas Radon di udara yang diperoleh dengan menggunakan metode kontinu (Gambar IV.1b).
Pada pencacahan cuplikan udara menggunakan metode kontinu, spektrum gas Radon yang didapat
tenaganya hampir sama dengan Am-241 dengan puncak spectrum berada pada kanal 28.
Dari hasil uji dengan metode sampling tentang laju pertumbuhan gas Radon didapatkan hasil seperti
pada Gambar IV.2.
spektrum gas Rdaon di udara dan cacah latarnya

2500

2000
cacah (cpm)

1500

1000

500

0
0 10 20 30 40 50
kanal
gas Radon latar

Gambar IV.1b. Spektrum gas Radon di udara dan cacah latarnya

72
Proseding Seminar DIES FMIPA UGM ke 50 17 September 2005

Grafik pertumbuhan anak-anak gas Radon

60
50

cacah (cpm)
40
30
20
10
0
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260
t (menit)

Gambar IV.2 Grafik laju pertumbuhan anak-anak gas Radon

Dari Gambar IV.2 didapatkan bahwa nilai saat laju zarah alpha dari gas Radon maksimum adalah
saat t = (210 ± 5) menit, ternyata nilai ini tak jauh berbeda dengan perhitungan secara teoritis bahwa
kesetimbangan radioaktif gas Radon dan hasil peluruhannya adalah saat t = 215 menit. (Bunawas, 1989)
Eksperimen uji berikutnya adalah penentuan waktu paro dari gas Radon yang terdeteksi dengan cara
dilakukan pencacahan setelah terjadi kesetimbangan sekular, yaitu setelah t = 215 menit. Hal ini agar laju
aktivitas pertumbuhan alpha dari peluruhan gas Radon sudah stabil. (Gambar IV.3).
Secara umum, terlihat bahwa cacah gas Radon yang terdeteksi akan semakin berkurang seiring
dengan bertambahnya hari saat dilakukan pencacahan berikutnya pada waktu yang sama.
Besarnya konstanta peluruhan (λ) diperoleh dari gradien kemiringan grafik (m) pada Gambar IV.4.
Melalui perhitungan didapatkan nilai gradien sebesar m ± ∆m = − ( 0,20 ± 0,07 ) hari-1 yang tak lain
merupakan konstanta peluruhan Radon (λ). Dari hasil tersebut, dapat diperoleh waktu paro gas Radon yaitu
T1/2 = (3,4 ± 0,6) hari.
Penurunan cacah gas Radon dalam botol sintilator
terhadap waktu pencacahan

45
40
35
cacah (cpm)

30
25
20
15
10
5
0
0 1 2 3 4 5
waktu (hari)

Gambar IV.3 Penurunan cacah gas Radon terhadap waktu

Hal ini mendekati nilai literatur yaitu waktu paro dari gas Radon sebesar 3,82 hari. Sekilas hal
tersebut juga dapat dilihat dari Gambar IV.3, yang mendukung bahwa cacah gas Radon yang terukur semakin
menurun terhadap waktu dan berkurang hampir menjadi setengah dari cacah awal pada pencacahan dihari
keempat.

73
Proseding Seminar DIES FMIPA UGM ke 50 17 September 2005

Grafik waktu pencacahan terhadap ln N


(untuk menentukan waktu paro gas Radon)

4
3.5
3

ln N
2.5
2 y = -0.2017x + 3.8293
1.5
1
0.5
0
0 1 2 3 4 5
waktu (hari)

Gambar IV.4 Grafik penentuan konstanta peluruhan gas Radon

Dari kedua parameter hasil eksperimen uji tersebut dapat disimpulkan bahwa metode kontinu yang
dilakukan untuk mengukur aktivitas gas Radon dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya karena dapat
memberikan hasil pengukuran yang mendekati literatur untuk tenaga, waktu paro dan laju pertumbuhan
maksimum dari gas Radon, sehingga dalam hal ini terbukti bahwa gas Radon yang terdeteksi.
Pengukuran konsentrasi gas Radon di udara secara kontinu yang diperoleh dari penelitian ini
memberikan hasil yang menunjukkan terjadi kecenderungan penurunan konsentrasi gas Radon terhadap
naiknya ketinggian. (Gambar IV.5)

perbandingan perubahan cacah gas Radon terhadapketinggian


disetiap waktu pencacahan

25000 jam 8

20000
jam 9
cacah (cpm)

15000

10000 jam 10

5000
jam 11

0
1 21 32 43 54 65 jam 12
ketinggian (m)

Gambar IV.5 Fluktuasi gas Radon di udara terhadap ketinggian di atas permukaan tanah pada tiap waktu
pencacahan (tanggal 28 oktober 2004)

Selain ditunjukkan dalam bentuk hubungan cacah gas Radon terhadap ketinggian juga perlu
dikemukakan hasil penelitian ini tentang perubahan cacah gas Radon terhadap waktu pencacahan yang akan
ditunjukkan Gambar IV.6. Dalam hal ini diperoleh bahwa cacahan gas Radon cenderung naik terhadap
waktu.

74
Proseding Seminar DIES FMIPA UGM ke 50 17 September 2005

perbandingan perubahan cacah gas Radon di udara


terhadap waktu pencacahan

25000 ketinggian 1m

20000
ketinggian 2m
15000
cacah (cpm)

ketinggian 3m
10000

5000 ketinggian 4m

0 ketinggian 5m
1
08.00 2
09.00 10.00
3 11.00
4 512.00

w aktu pencacahan (pukul)

Gambar IV.6 Fluktuasi cacah gas Radon di udara dari jam 08.00-12.00
(pada tanggal 28 oktober 2004)

Sedangkan perhitungan aktivitas konsentrasi gas Radon di udara yang diukur dari yang terendah
sampai dengan yang paling tinggi adalah (4 - 8838) pCi/m3. Konsentrasi terendah didapat pada waktu
pencacahan ke-2 (jam 09.00), pada ketinggian 5 m diatas permukaan tanah. Konsentrasi paling tinggi
diperoleh pada waktu pencacahan ke-4 (jam 11.00), pada ketinggian 1 m diatas permukaan tanah.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


V.1 Kesimpulan
Didapatkan spektrum gas Radon di udara yang dideteksi dengan metode kontinu. Dari metode
sampling diperoleh waktu paro (T1/2) gas Radon tersebut sebesar (3,4 ± 0,6) hari dengan konstanta
peluruhannya (λ) adalah (0,20 ± 0,07) hari –1. Didapatkan hubungan antara konsentrasi gas Radon di udara
terhadap ketinggian di atas permukaan tanah pada waktu yang sama cenderung turun terhadap naiknya
tingkat ketinggian. Dilain pihak konsentrasi gas Radon di udara sebagai fungsi waktu pancacahan pada
ketinggian yang sama secara umum cenderung naik pada saat mendekati siang hari. Dari penelitian ini
didapatkan konsentrasi aktivitas gas Radon di udara berkisar antara (4-8838) pCi/m3.
V.2 Saran
Bagi penelitian selanjutnya perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini: Perlu digunakannya sumber
gas Radon standar sebagai sumber kalibrasi instrumen deteksi. Variasi ketinggian dan lokasi ditambah guna
memperbanyak bahan analisa. Waktu pengambilan data (pagi, siang dan sore serta dalam rentang waktu
beberapa hari atau musim yang berbeda) perlu diperbanyak sehingga didapatkan lebih banyak informasi
mengenai perubahan konsentrasi gas Radon di udara beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

V.I. PUSTAKA
Bunawas, 1989, Pembuatan Detektor Sintilasi Radon, Prosiding Simposium Fisika Nasional, Yogyakarta.
Bunawas dan Ramain, A., 1991, Pemantau Radon Kontinyu, Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah,
PPNY-BATAN, Yogyakarta.
Silakhuddin, 1981, Pengukuran Konsentrasi Gas Radon Air Sumur dengan Metode Penggelembungan,
Skripsi FMIPA-UGM.
Sudarsono, Gatot W., Pujadi dan Nazaroh, 1991, Standarisasi Radionuklida Pemancar-α Am-241 dengan
Pencacah Proposional 4πα , Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah, PPNY-BATAN,
Yogyakarta.
Sudarti S., Dewita S. dan Gede S. W., 1997, Pengujian Resolusi dan Efisiensi Detektor Surface Barier Tipe
Silikon sebagai Pencacah Latar Rendah, Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah, PPNY-
BATAN, Yogyakarta.
Wilkening, M., 1981, Radon in Atmospheric Studies: A Review, Proceeding of Second Special Symposium
on Natural Radiation Environment, Bhaba Atomic Research Center India.

75