Anda di halaman 1dari 7

STRATEGIC MANAGEMENT

Case: Hanson (A)

Dion Dewanto Trenggono 16/402260/PEK/21795

Maria Regina Nansi 16/402280/PEK/21815

R Gustiman Suryanto 16/402292/PEK/21827

Susetyo Rohadi 16/405883/PEK/22085

MAGISTER MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2017
HANSON (A)

Summary:

Hanson PLC merupakan salah 10 perusahaan terbesar di Inggris dan 60 perusahaan


terbesar di Amerika Serikat dengan portofolio lebih dari 150 bisnis yang berbeda, produk utama
Hanson PLC adalah batu bata dan aspal, dalam. Aktivitas operasi yang terbesar berada di negara
Amerika Utara dan Inggris. Pada akhir tahun 1989, Hanson memperoleh pendapatan sebesar
$1.61 milyar dengan total asset sebesar $12.03 milyar. Hanson didirikan oleh James Hanson dan
Gordon White pada tahun 1964 dan tumbuh dengan mengakuisisi perusahaan lain untuk menjadi
perusahaan multi-nasional yang memiliki kepentingan di seluruh dunia mulai dari bahan kimia
dan konstruksi di AS, memasok listrik, agregat dan tembakau di Inggris, serta tambang emas di
Australia. Pada bulan Januari 1996 diambil keputusan untuk demerge bisnis menjadi empat
entitas yang terpisah - Imperial Tembakau, Grup Energi, bahan kimia SCM dan Hanson.
Hanson PLC memiliki strategi akuisisi untuk mengembangkan perusahaannya. Hingga
pada tahun 1990 spekulasi perusahaan akan berakhir pada akuisisi dikarenakan Hanson hanya
mengambil aset perusahaan saja. Hanson menjalankan beberapa perusahaan dengan satu direktur
dan juga memiliki dua perusahaan yang terletak di US dan Britain dengan small central staff
responsibility untuk monitoring performance operating perusahaan, motivasi, acquisition and
disposal, and professional service.

Corporate Strategy:

Hanson melakukan strategi diversifikasi, yaitu unrelated diversification, dengan kriteria sebagai
berikut:

Bisnis tersebut dapat memenuhi target profitabilitas dalam operasional dan investasi yang
disyaratkan
Bisnis tersebut dalam industri mature dan low technology
Bisnis tersebut memiliki resistensi pada perubahan kondisi makro ekonomi

Analisis SWOT:
Strengths:
Hanson PLC mampu memperbaiki dan memperbesar alokasi aset dengan mengakuisisi
perusahaan dan menjual yang tidak sesuai dengan bisnis inti perusahaan.
Efisiensi operationl dengan manajemen yang baik membantu pelanggan tetap senang dengan
memberi mereka produk berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Hanson mengorganisir berbagai perusahaan dan divisi menjadi unit otonom dan memberikan
setiap unit manajemen yang terpisah.
Sebagai salah satu produsen semen, bata dan galian siap pakai terbesar di dunia, Hanson
menikmati skala ekonomi yang memberikan keuntungan biaya yang signifikan. Keuntungan
biaya dan posisi keuangan yang solid memungkinkan Hanson untuk memimpin dalam
penetapan harga produknya tanpa khawatir tentang perang harga dari pesaing yang lebih
kecil di industri ini.
Weakness:
Asimetri informasi antara berbagai departemen dapat menciptakan permainan politik yang
menyebabkan inefisiensi dalam kegiatan operasional.
Perbedaan budaya perusahaan yang diakuisisi oleh Hanson PLC
Opportunities:
Kesempatan bersaing secara globbal, dengan memperbesar jangkauan di negara-negara yang
sedang melakukan pembangunan besar-besaran.
Mendirikan pabrik di negara-negara yang harga bahan baku dan SDM yang lebih rendah.
Threats:
Pasar di Australia, Inggris, North Carolina dan Texas mengalami penurunan, di sisi lain,
biaya gas alam mengalami peningkatan yang signifikan. Walaupun ancaman ini telah diatasi
dengan terus memperluas pasar, jika kondisi terus memburuk, Hanson perlu lebih
memanfaatkan kekuatan dan menerapkannya pada peluang untuk mempertahankan
pendapatan dan kepercayaan pemegang saham.

Analisis Eksternal:
a. Porters Five Forces (Industri tobacco)
The Risk of New Entry by Potential Competitors (low):
Hambatan memasuki industri rokok dapat dikatakan rendah. Identitas merek menimbulkan
hambatan masuk bagi pendatang baru. Rokok adalah selera, dan setiap orang telah memilih
seleranya masing-masing, sehingga pendatang baru hanya akan menjadi produk coba-coba dan
sulit untuk merubah selera pelanggan. Pembatasan periklanan yang dikenakan pada media
elektronik oleh pemerintah mempersulit perusahaan baru untuk mendapatkan kesadaran merek
dan juga menyulitkan pemain top saat ini di pasar untuk meningkatkan kesadaran merek mereka.
The Degree of rivalry among established companies within an industry (high):
Persaingan dalam industri ini sangat tinggi, karena setiap perusahaan berusaha meraih pangsa
pasar terbesar dan ekuitas merek terbaik. Untuk volume unit industri rokok telah menurun dan
harga rokok meningkat, sehingga memiliki margin yang sangat tinggi. Banyak perusahaan
melakukan strategi low cost.
The Bargaining Power of Buyers (high):
Sangat banyak pilihan pembeli untuk memilih rokok. Tingkat pembelian rokok bergantung pada
pendapatan disposable masyarakat. Ditamah dengan trend gaya hidup sehat tanpa rokok akan
menurunkan jumlah konsumen.
The Bargaining Power of the Suppliers (medium to low):
Pemerintah melindungi harga terendah atas tembakau, namun petani memiliki batas kuota. Daya
tawar petani tembakau rendah karena adanya intervensi dari pemerintah terkait harga dan
pembatasan jumlah produksi. Namun, petani tetap mencari harga tertinggi dari pembeli.
The Threat of Substitute Products (medium to high):
Substitusi dari perusahaan rokok adalah gaya hiduo sehat dengan merubah kehidupan tanpa
rokok. Disamping itu, rokok elektrik kini juga menjadi tantangan perusahaan rokok sebagai
produk pengganti.

b. Porters Five Forces (Industri pulp and paper)


The Risk of New Entry by Potential Competitors (low):
Ancaman dari pemain baru dalam industri ini tergolong rendah karena investasi yang sangat
besar dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang sudah terlebih dahulu berada di industri
sudah memiliki pangsa pasar yang besar.
The Degree of rivalry among established companies within an industry (high):
Banyak perusahaan yang telah mapan di industri ini. Ditambah persaingan yang seimbang antar
produk yang setara membuat persaingan antar perusahaan dinilai tinggi.
The Bargaining Power of Buyers (high):
Daya tawar pembeli cukup tinggi di industri ini, pelanggan dihadapkan dengan berbagai jenis
produk dengan harga yang bersaing dan memiliki kualitas yang relatif sama. Tantangan terbesar
adalah pada pelanggan yang telah memilih produk tertentu.
The Bargaining Power of the Suppliers (high):
Salah satu sumber terpenting dari industri ini adalah kebutuhan kayu. Perusahaan-perusahaan
penyedia kayu ini lemah pada kekuatan pemasok yang kuat, yaitu hutan kayu. Dan pasokan dari
hutan kayu tersebut dikontrol ketat oleh peraturan pemerintah untuk volume dan regulsai
terhadap lingkungan.
The Threat of Substitute Products (medium to high):
Ancaman substitusi dari industri ini adalah adanya teknologi, dimana penggunaan pulp and
paper akan berkurang karena teknologi yang membuat paperless. Dan ditambah lagi kampanye
peduli lingkungan untuk mengurangi kertas, dimana dengan pengurangan kertas akan lebih
menghemat cost.

c. Porters Five Forces (Industri food)

Threat of new entrants (medium to low):


Keunggulan kompetitif telah dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang telah ada sebelumnya,
namun untuk masuk kedalam industry ini tidaklah sulit, banyak perusahaan kecil dengan mudah
masuk ke industry ini. Industry food tidak perlu memiliki skill yang tinggi.

The Degree of rivalry among established companies within an industry (high):


Persaingan terhadap industry yang sudah ada dinilai tingi, terutama dalam bersaing dengan
perusahaan yang elah memiliki volume produksi skala besar. Ditambah dengan brand ekuitas
dari perusahaan-persuahaan besar yang telah ada menjadi tantangan terbsesar dalam memasuki
industri ini.

Threat of Subtitutes (medium to high):


Adanya tantangan terhadap gaya hidup sehat, sehingga mengharuskan industry ini untuk masuk
kedalam industry food yang lebih aman dan sehat bila dikonsumsi. Dan munculnya berbagai
jenis makanan baru menjadi tantangan di industri ini.
Power of Buyer (high):
Banyaknya pilihan dalam industry food ini menyebabkan power of buyer dapat dinilai tinggi, dan
ditambah lagi dengan inovasi produk baru yang muncul, sehingga menambah pilihan pelanggan
dalam memilih produk food.
Power of Supplier (low):
Banyak supplier yang sanggup menyediakan bahan baku tersebut jumlahnya banyak sehingga
daya tawar antar supplier menjadi lebih rendah dibandingkan daya tawar perusahaan.

Analisis Internal:

Resources, Capabilities and Competencies

Acquisition Strategy
Hanson PLC mengembangkan bisnisnya dengan mengakuisisi beberapa perusahaan dan telah
lebih dari 150 portfolio bisnis yang berbeda. Hanson PLC hanya dipimpin oleh satu orang yaitu
Sir Gordon White yang menyatakan bahwa salah satu cara untuk mengurangi inefisiensi pada
Hanson PLC yaitu dengan melakukan akuisisi. Oleh karena itu White akan tetap
mempertahankan perusahaan dengan melakukan akuisisi bisnis.

Kesimpulan:
Keahlian Hanson PLC dalam melaukan akuisisi merupakan kunci sukses yang paling utama.
Keahlian akuisisi ini, karena Hanson PLC memiliki prinsip diantaranya bisnis tersebut dapat
memenuhi target profitabilitas yang disyaratkan, berada dalam industri mature, dan memiliki
resistensi pada perubahan kondisi makro ekonomi.
Hanson memiliki beberapa pedoman dalam menjalankan bisnis, diantaranya melepas bisnis
yang tidak memenuhi target, mengurangi biaya overhead, serta memilih perusahaan yang
mampu melakukan recovery harga takeover.

Rekomendasi:

Hanson PLC yang lihai dalam hal akuisisi melebarkan sayapnya kepada industri-industri
yang belum pernah dimasuki sebelumnya untuk memperluas portofolionya, namun sesuai
dengan prinsip perusahaan.
Hanson melakukan ekspansi ke emerging market terdekat, yakni Amerika Tengah dan
Amerika Selatan untuk menjaga keunggulan kompetitif yang dimiliki. Bahkan ekspansinya
dapat dilakukan dengan akuisisi