Anda di halaman 1dari 10

Konsep Hemat Energi pada Bangunan Kampus

M. Ramy Dhia Humam1


1 Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Alamat email penulis: ramydhia@gmail.com

ABSTRAK

Pemanasan global yang sekarang terjadi disebabkan oleh semakin bertambahnya gas emisi
rumah kaca, dimana sebagian besarnya (78%) adalah akibat dari peningkatan emisi gas CO2
dari pembakaran bahan bakar fosil. Dalam hal ini, sektor bangunan menyumbang 24% dari total
CO2 tersebut. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, tentunya pertumbuhan sektor
bangunan juga akan semakin besar. Jika bangunan-bangunan baru pemakaian energinya sama
dengan bangunan-bangunan yang ada saat ini, maka akan sulit untuk menekan angka
peningkatan suhu global. Universitas sebagai yang selalu berada di garda terdepan
menyuarakan tentang pemasan global dan efisiensi energi, juga telah banyak menerapkan
konsep hemat energi pada bangunan-bangunannya. Tercatat, lebih dari 4000 bangunan kampus
telah mendapat sertifikasi LEED. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui konsep-konsep
bangunan hemat energi yang bisa diterapkan pada bangunan kampus dengan menganalisis lima
objek bangunan kampus yang sudah menerapkannya. Hasilnya, beberapa konsep yang bisa
diterapkan antara lain memaksimalkan terlebih dahulu pendekatan-pendekatan pasif seperti
memaksimalkan pencahayaan alami dan penghawaan alami untuk menekan pemakaian sistem
pencahayaan dan penghawaan buatan, mengganti alat-alat elektronik dengan yang lebih hemat
energi, sampai menyediakan sumber energi terbarukan.

Kata kunci: hemat energi, efisiensi energi, bangunan kampus, bangunan hijau

ABSTRACT

The current global warming is caused by increasing GHG, where most (78%) are the result of
increased CO2 emissions from fossil fuels. In this case, the building sector responsible for 24% of the
total CO2. With the increasing number of population, the growth of the building sector will also be
greater. If energy use of the new buildings are the same as the current buildings , it will be difficult
to suppress said global warming. The University, which has always been at the forefront in
addressing global warming and energy efficiency, has also applied many energy-efficient concepts
to its buildings. In fact, more than 4000 campus buildings have got the LEED certificate. This paper
aims to find out the concepts of energy-efficient buildings that can be applied to campus buildings
by analyzing five campus buildings that have already applied such concepts. As a result, some of the
applicable concepts include maximizing passive approaches such as maximizing natural lighting
and natural carriage to reduce the use of artificial lighting and AC, replacing electronic devices
with the more energy efficient one, and to provide renewable energy sources such as geothermal
system and photovoltaic.

Keywords: energy efficient, campus building, green building


1. Pendahuluan

Perubahan iklim adalah salah satu permasalahan global pada abad 21.
Suhu permukaan telah naik 0,7oC sejak era industri dengan tren yang terus
meningkat sekitar 0,2oC setiap dekadenya (UN-Habitat 2012). Jika mencapai 2oC,
diperkirakan berbagai bencana akan terjadi. Namun keadaan sekarang terbilang
mengkhawatirkan. Pada tahun 2010, total emisi gas rumah kaca (GHG) mencapai
7 ton CO2 eq per kapita . Untuk mencapai target 2oC tersebut, maka dibutuhkan
penurunan total GHG sebesar tons CO2eq per kapita (Ecofys 2013). Penyebabnya
adalah peningkatan emisi gas CO2 akibat pembakaran bahan bakar fosil yang
berkontribusi sebesar 78% dari peningkatan total gas rumah kaca (IPCC 2014).
Sektor bangunan berkontribusi cukup besar dalam menyumbang gas
emisi gas rumah kaca tersebut. Pada tahun 2010, sektor bangunan menyumbang
24% dari total emisi gas rumah kaca yang berasal dari pembakaran bahan bakar
fosil, menempati urutan kedua di bawah sektor industri. (UN-Habitat 2014).
Bahkan angka tersebut belum termasuk embodied energy pada material
konstruksinya. Maka desain dan konstruksi bangunan merupakan faktor yang
sangat menentukan untuk mencapai target 2oC tersebut. Peningkatan konsumsi
energi dari sektor bangunan ini diperkirakan akan meningkat seiring
peningkatan jumlah bangunan itu sendiri. Jika bangunan-bangunan baru tersebut
tetap mengkonsumsi energi seperti bangunan-bangunan yang ada sekarang,
maka tidak mungkin target penurunan emisi CO2 bisa dicapai. Maka dibutuhkan
kontribusi sektor bangunan untuk mengedepankan desain-desain bangunan
hemat energi.
Perguruan tinggi telah menjadi garda terdepan dalam mengkampanyekan
pengembangan berkelanjutan dan isu pemanasan global lewat pemanfaatan
energi yang inovatif, konservasi energi, dan teknologi clean-energy (Eagan 2008).
Berbagai inisiatif seperti The American College and University Presidents Climate
Commitment (ACUPCC) juga berkomitmen untuk mencapai pengembangan
berkelanjutan lewat program-program yang mengajak universitas-universitas di
Amerika Serikat untuk menghitung, mengurangi, dan menghilangkan emisi gas
rumah kaca mereka (Abdul-Azeez 2015). Konsep Green Campus yang semakin
populer juga membuat banyak pihak mulai memperhatikan pengembangan
berkelanjutan dalam bangunan-bangunan pendidikan. Terbukti, sampai saat ini
lebih dari 4000 bangunan pendidikan telah menyandang sertifikasi LEED
(Leadership in Energy and Environmental Design) (Hough M.H 2013). Masing-
masing perguruan tinggi juga memiliki pendekatan-pendekatan yang berbeda
untuk mengurangi konsumsi energi, seperti melakukan renovasi, mengganti
lampu-lampu dengan lampu hemat energi, memperbaiki sistem AC dan ventilasi,
menggunakan sumber energi terbarukan, mengatur penggunaan barang-barang
elektronik, hingga membuat komitmen dengan mahasiswa untuk hidup sadar
energi (Han 2015).
2. Metode

Tulisan ini mengkaji lima gedung perguruan tinggi yang telah


mendapatkan penghargaan dan sertifikasi hemat energi dengam metode analisis
komparatif dengan melihat prinsip-prinsip bangunan hemat energi apa saja yang
diterapkan pada bangunan-bangunan tersebut. Hasil dari analisis masing-masing
objek menghasilkan kesimpulan berupa konsep-konsep bangunan hemat energi
apa saja yang bisa diterapkan pada bangunan dengan tipologi pendidikan atau
bangunan perguruan tinggi.

3. Hasil dan Pembahasan

Telah banyak bangunan-bangunan perguruan tinggi yang menerapkan


desain bangunan hemat energi baik di luar negeri maupun di Indonesia, di
antaranya:

a. Gedung Utama Eindhoven University of Technology

Desain renovasi untuk Gedung Utama Eindhoven University of Technology


di Belanda telah diungkap, yang mana ketika selesai dibangun, gedung ini
akan menjadi gedung universitas paling sustainable di dunia. Pada September
2016, desain gedung ini dianugerahi predikat BREEAM Outstanding dari
badan sertifikasi green building Belanda, BREEAM-NL dengan skor 93,86%.
Gedung kampus ini, yang akan dinamai Atlas, dirancang oleh tim
multidisiplin yang terdiri dari Team V (arsitek), Van Rossum (insinyur
konstruksi), Valstar Simonis (insinyur instalasi gedung), dan Peutz (insinyur
fisika bangunan dan ahli bangunan berkelanjutan).

Gambar 3.1. a. Gedung Utama Eindhoven University of Technology


(sumber: Archdaily. http://www.archdaily.com/796414/eindhoven-university-of-technology-building-to-become-
worlds-most-sustainable-university-building/. 2016)
Gedung ini memiliki penghasil listrik dari tenaga panas bumi, salah satu
sistem geotermal terbesar di Eropa. Sistem geotermal ini akan menyuplai
kebutuhan energi gedung berdampingan dengan sistem panel surya. Gedung
ini juga dilengkapi dengan sistem pencahayaan pintar dengan lampu LED
yang bisa diatur melalui aplikasi dari ponsel pintar pengguna, triple-glazed
curtain wall beserta sun-blinds interior, dan sistem night flush yang akan
membuka jendela-jendela pada malam musim panas untuk mendinginkan
bangunan dan menjernihkan udara. Jika digabungkan, fitur-fitur ini akan
mengurangi emisi gas karbon sebedar 80%.

b. Education Building, University of Wisconsin-Madison

Education Building di University of Wisconsin-Madison adalah gedung


kuliah yang telah mendapatkan sertifikasi LEED Platinum dan memperoleh
rating Energy Star. Gedung hasil renovasi dari bangunan sebelumnya ini
mendapat total 52 poin dalam penilaian LEED New Building. Beberapa
keunggulan dari bangunan seluas 108.000 m2 ini di antaranya penggunaan
sekitar 70% material-material bangunan lama dan 75% limbah konstruksi
untuk kembali digunakan pada bangunan baru, 30% material adalah material
lokal, 85% material kayu yang digunakan adalah kayu bersertifikat.
Sementara penempatan parkir bawah tanah, atap hijau, penggunaan flow-
through planter, penampungan air hujan, dan pengaturan jenis vegetasi juga
berhasil mengurangi run-off sebesar 25%. Material atap reflektif juga
digunakan untuk memantulkan panas alih-alih menyerap panas yang bisa
meningkatkan suhu ruang di bawahnya.

Gambar 3.2. Education Building, University of Wisconsin-Madison


(sumber: University of Wisconsin-Mdison http://www.cpd.fpm.wisc.edu/Education-Building.htm)

Pada interior, terdapat sensor okupansi untuk peralatan-peralatan


elektronik sehingga hanya akan menyala saat ada orang yang menggunakan
ruang. Menggunakan sistem active chilled beam yang bisa mengaliri udara
segar kepada penghuni ruangan. Penggunaan air pun dapat ditekan sampai
lebih dari 40% melalui beberapa pendekatan seperti penggunaan keran
efisiensi tinggi, sensor okupansi, low-flow water urinal dan double flush toilet.
Secara keseluruhan, gedung Education Building di University of Wisconsin-
Madison ini mengkonsumsi energi 45,2% lebih rendah dibandingkan dengan
bangunan biasa.

c. Jerome L. Greene Science Center, Manhatanville Campus, Columbia University

Dirancang oleh Renzo Piano, gedung ini mengedepankan sustainability


dan telah mendapat sertifikasi LEED Platinum. Beberapa langkah Greene
Science Center dalam mewujudkan bangunan hemat energi di antaranya
dengan penggunaan material cool-roof yang sangat reflektif untuk
menghindari efek urban heat island dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
Pada atapnya juga terdapat solar sensor untuk mengatur shading agar
didapatkan pembayangan yang sesuai untuk menghangatkan maupun
mendinginkan ruangan.Gedung ini juga menggunakan double-skin faade yang
terbuat dari alumunium yang kaca yang bertindak sebagai insulasi untuk
menjaga suhu di dalam bangunan tetap hangat di musim dingin dan sejuk di
musim panas. Penggunaan material lokal, juga material-material daur ulang
pun diterapkan pada perabot di dalam gedung.

Gambar 3.3. Jerome L. Greene Science Center


(sumber: http://assets.nydailynews.com)

Selain itu, semua kebutuhan energi dari kampus Manhatanville, termasuk


gedung Greene Science Center ini disuplai dari pusat energi yang
tersentralisasi di bawah gedung. Pada sentra energi ini, terdapat refrigeration
plant, boiler plant dual bahan bakar (minyak dan gas alam) dengan efisiensi
tinggi, energi listrik, serta generator diesel cadangan.
d. Wisconsin Institute of Discovery, University of Wisconsin-Madison

Bangunan pusat penelitian dan laboratorium dari University of Wisconsin-


Madison ini merupakan banguan seluas sekitar 320.000 m2 dan telah
mendapatkan sertifikasi LEED Gold pada tahun 2011. Beberapa keunggulan
Institute of Discovery antara lain penggunaan sumber energi terbarukan dan
penggunaan material daur ulang. Menggunakan energi panas bumi sebagai
sumber energi alternatifnya melalui 75 titik dengan kedalaman masing-
masing sekitar 90m yang membawa udara hangat di musim dingin dan udara
sejuk di musim panas. Penggunaan energi panas bumi ini menyumbang
penghematan energi sebesar 10%. Material atap yang reflektif dan berwarna
putih yang memiliki indeks radiasi matahari 104 memantulkan panas
sehingga mengurangi panas yang terserap. Sebanyak 88% limbah konstruksi
didaur ulang untuk digunakan kembali pada gedung.

Gambar 3.4. Wisconsin Institute of Discovery.


(sumber: University of Wisconsin-Madison. http://www.cpd.fpm.wisc.edu/Wisconsin-Institutes-for-
Discovery.htm)

Dari sisi interior, sekitar 70% ruangan pada gedung ini adalah
laboratorium dan kantor laboratorium atau ruang-ruang penunjangnya dan
100% ruang-ruang tersebut mendapatkan penghawaan alami. Shading
device pada bukaan juga mengurangi panas yang masuk pada saat musim
panas. Secara total, Wisconsin Institute of Discovery 25% lebih hemat
dibanding gedung biasa.

e. Gedung New Media Tower, Universitas Multimedia Nusantara

Gedung New Media Tower merupakan salah satu gedung perkuliahan


milik Universitas Multimedia Nusantara yang terletak di Gading Serpong,
Tangerang Selatan, Banten. Gedung dengan luas sekitar 32.000 m2 dan terdiri
dari 13 lantai ini memiliki bentuk unik yang menyerupai telur, rancangan
tangan arsitek Budiman Hendropurnomo. Efisiensi energi pada Gedung NMT
ini dicapai dengan prinsip-prinsio desain pasif dari awal perancangannya.
Memanfaatkan 40% lahan untuk gedung, sementara 60% sisanya adalah
ruang terbuka. Parkir yang berada di basement tidak menggunakan banyak
pencahayaan buatan dan exhaust fan, melainkan terdapat cerobong-cerobong
besar yang tembus sampai lantai tiga yang memasukan cahaya matahari
sampai ke dalam basement, asap kendaraanpun akan naik dengan sendirinya
melalui cerobong ini ke ruang terbuka di lantai tiga.

Gambar 3.4. Gedung New Media Tower, UMN.


(sumber: http://arsitek.galihgumelar.org/2016/01/kampus-umn-menara-3-dirancang-hemat.html)

Menggunakan double-skin faade bermaterial alumunium yang dilubangi


dengan perhitungan matang untuk mengontrol cahaya matahari yang masuk
ruangan agar tetap melimpah namun tidak silau. Alhasil, dari sekitar 14 ruang
kelas di tiap lantainya, hampir tidak pernah menggunakan pencahayaan
buatan ketika siang hari. Lubang-lubang pada alumunium ini juga
memberikan keleluasaan udara luar untuk masuk dan memberikan
penghawaan alami pada ruang sehingga penggunaan AC bisa diminimalisir.
Gedung ini juga memiliki sistem pengolahan limbah air toilet dan air hujan
untuk digunakan kembali untuk pemeliharaan lansekap. Material dinding
pada gedung ini pun tidak menggunakan dinding batu bata pada umumnya,
melainkan menggunakan apa yang disebut sebagai M System. Dinding M
System terdiri dari styrofoam yang dipagari dengan wire-mesh pada kedua
sisinya untuk kemudian diaci menggunakan semen. Ini memberikan
keunggulan dalam peredam kebisingan, juga sebagai insulasi untuk
mempertahankan kesejukan di dalam ruang.
Tabel 3.1. Tabel perbandingan bangunan kampus hemat energi

Sertifikasi dan Prinsip hemat energi


Bangunan Iklim Pencapaian
Penghargaan Pasif Aktif
Pencahayaan alami Sistem geotermal
Gedung Utama Mengurangi emisi
BREEAM Penghawaan alami Sistem photovoltaic
Eindhoven University Subtropis gas karbon hingga
Outstanding Triple-glazed curtain wall Lampu LED pintar
of Technology 80%
Sun-blinds interior
Penggunaan kembali 70%
material-material
bangunan lama
Penggunaan 75% limbah
konstruksi bangunan baru
30% material adalah
Education Building,
material lokal Penampungan air 45,2% lebih
University of LEED Platinum
Subtropis 85% material kayu yang hujan hemat energi dari
Wisconsin-Madison Energy Star
digunakan adalah kayu bangunan biasa
bersertifikat
Lebih dari 57% luas tapak
adalah ruang terbuka
Material atap reflektif
Atap hijau

Material cool-roof
Solar sensor untuk
Pencahayaan alami
Jerome L. Greene mengatur shading
Double-skin faade
Science Center, Pengaturan lampu
Subtropis LEED Platinum Material lokal
Columbia University yang intuitif
Sentralisasi energi

LEED Gold
Wisconsin Institute Pencahayaan alami
Innovative Green
of Discovery, Penghawaan alami 25% lebih hemat
Building Award
University of Subtropis Material atap reflektif Sistem geotermal energi dibanding
2012
Wisconsin-Madison Penggunaan kembali 88% bangunan biasa
Laboratory of The
limbah konstruksi
Year 2012
Juara Pertama
60% ruang terbuka
Gedung New Media Gedung Hemat Penggunaan lampu
Double-skin faade
Tower, Universitas Energi 2013 LED
Pencahayaan alami
Multimedia Tropis Energy Efficient Sistem pengolahan
Penghawaan alami
Nusantara Building kategori dan pemanfaatan
Stack ventilation
Tropical Building limbah air
M system pada dinding
2014

4. Kesimpulan

Dari hasil komparasi lima bangunan kampus hemat energi, dapat


disimpulkan bahwa prinsip-prinsip hemat energi sangat mungkin diterapkan
pada bangunan-bangunan pendidikan. Bangunan-bangunan hemat energi
memikirkan konsumsi energinya dari awal, bahkan saat masih dalam tahap
perancangan, sehingga yang pertama dilakukan adalah menerapkan konsep-
konsep perancangan pasif yang bisa menekan konsumsi energi bisa diterapkan
sebelum menggunakan sistem-sistem aktif seperti menggunakan peralatan
hemat energi. Baru kemudian jika memungkinkan, menggunakan sumber energi
alternatif dan terbarukan. Aspek material dan konstruksi juga menjadi penting,
terutama dalam hal embodied energy yang dihasilkan untuk membuat suatu
material. Maka dari itu, banyak bangunan hemat energi yang sangat
memperhatikan darimana material-materialnya berasal. Dari hasil komparasi ini
juga bisa ditarik beberapa poin konsep-konsep hemat energi pada bangunan
kampus, yaitu:
Manfaatkan pencahayaan alami dengan maksimal agar tidak perlu
menggunakan pencahayaan buatan di siang hari.
Manfaatkan penghawaan alami dengan maksimal agar penggunakan AC
bisa dinimalisir
Perhatikan urban heat island effect, pantulkan panas di atap gedung atau
serap dengan atap hijau
Gunakan lampu hemat energi seperti lampu LED
Hanya nyalakan lampu saat benar-benar dibutuhkan, bisa menggunakan
sensor okupansi untuk menyalakan dan mematikan lampu secara
otomatis berdasarkan aktivitas di dalam ruang
Double-skin faade dapat berfungsi sebagai insulasi ataupun pengontrol
cahaya matahari yang masuk
Limbah air hujan dan toilet bisa digunakan kembali untuk keperluan lain
seperti menyiram tanaman
Jika bangunan adalah bangunan renovasi, material-material dari gedung
lama bisa digunakan kembali
Gunakan material lokal
Manfaatkan limbah konstruksi untuk material bangunan
Jika memungkinkan, gunakan sumber energi terbarukan seperti panas
bumi dan panel surya

Penerapan konsep-konsep bangunan hemat energi pada bangunan


kampus bisa menekan biaya pemeliharaan dan konsumsi energi pada kampus
tersebut, terutama dalam jangka panjang, walaupun dibutuhkan investasi yang
lebih di awal. Apalagi jika diterapkan pada bangunan kampus, dapat berfungsi
sebagai media pendidikan kepada warga kampus tentang pentingnya menghemat
energi dan menjadi identitas kampus yang peduli terhadap lingkungan.

Daftar Pustaka

Abdul-Azeez, I.A dan Ho, C.S. 2015. Realizing Low Carbon Emission in the
Archdaily. 2016. Eindhoven University of Technology Building to Become
World's Most Sustainable University Building.
http://www.archdaily.com/796414/eindhoven-university-of-technology-building-
to-become-worlds-most-sustainable-university-building [diakses pada 15 Mei
2017]
Columbia University. Jerome L. Greene Science Center Designed for Discovery:
An innovative space for exploring the complexities of mind, brain and behavior.
http://manhattanville.columbia.edu/campus/buildings/jerome-l-greene-
science-center. [diakses pada 15 Mei 2017]
Eagan, D.J. 2008. Higher Education in a Warming World. The Business Case for
Climate Leadership on Campus. National Wildlife Federations Campus Ecology.
Ecofys. 2013. World GHG Emissions Flow Chart 2010.
Han Y, X Zhou, R Luo. 2015. Analysis on Campus Energy Consumption and
Energy Saving Measures in Cold Region in China. Procedia Engineering 121 ( 2015
) 801 808.
IPCC. 2014. Climate Change 2014: Synthesis Report. Contribution of Working
Groups I, II and III to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel
on Climate Change [Core Writing Team, R.K. Pachauri and L.A. Meyer (eds.)]. IPCC,
Geneva, Switzerland, 151 pp.
IPCC. 2007. Climate Change 2007: Synthesis Report. Contribution of Working
Groups I, II and III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel
on Climate Change [Core Writing Team, Pachauri, R.K and Reisinger, A. (eds.)].
IPCC, Geneva, Switzerland, 104 pp.
M.H. Hough. 2010. The Campus Green: Trampled by the Wheels of LEED.
Chronicle of Higher Education, 16, 2010.
UN-Habitat. 2014. Sustainable Building Design for Tropical Climates Principles
and Applications for Eastern Africa. Nairobi: United Nations Human Settlements
Programme (UN-Habitat).
University Campus towards Energy Sustainability. Open Journal of Energy
Efficiency, 2015, 4, 15-27
University of Wisconsin-Madison. 2010. School of Education University of
Wisconsin-Madison Sustainability Tour.
University of Wisconsin-Madison. Education Building LEED Platinum Certified.
http://www.cpd.fpm.wisc.edu/Education-Building.htm [diakses pada 15 Mei
2017]
University of Wisconsin-Madison. Wisconsin Institutes for Discovery receives
innovative green Building Award. http://news.wisc.edu/wisconsin-institutes-for-
discovery-receives-innovative-green-building-award/ [diakses pada 15 Mei
2017]
University of Wisconsin-Madison. Wisconsin Institutes for Discovery named
2012 Laboratory of the Year. http://news.wisc.edu/wisconsin-institutes-for-
discovery-named-2012-laboratory-of-the-year/ [diakses pada 15 Mei 2017]
University of Wisconsin-Madison. Wisconsin Institutes of Discovery LEED Gold
Certified. http://www.cpd.fpm.wisc.edu/Wisconsin-Institutes-for-Discovery.htm
[diakses pada 15 Mei 2017]