Anda di halaman 1dari 76

SPESIFIKASI TEKNIS

BAB I
PERSYARATAN TEKNIS UMUM

A. LINGKUP
1. Persyaratan Teknis Umum ini merupakan persyaratan dari segi teknis yang
secara umum berlaku untuk seluruh bagian pekerjaan dimana persyaratan
ini bisa diterapkan untuk Pembangunan Gedung Graha UNESA -
Universitas Negeri, Surabaya, yang meliputi :
a. Bangunan Utama Gedung Graha UNESA 4 (empat) lantai + Lantai Tribun :
a. Lantai 1 : Parkir Mobil
b. Lantai 2 : Parkir Mobil
c. Lantai 3 : Stan kuliner (komersial)
d. Lantai 4 : Hall/Serbaguna
b. Pekerjaan Mekanikal & Elektrikal (Sparing-sparing)
c. Site Development (Pondasi Plaza)
d. Gedung Ramp (Pondasi, Poer, dan Sloof, serta setekan besi kolom)
Secara lengkap seluruh jenis pekerjaan tersebut dapat disesuaikan/
dilihat dan tercantum pada Bill Of Quantity (BQ) dan BQ bersifat tidak
mengikat.

2. Kecuali disebut secara khusus dalam dokumen-dokumen dimaksud berikut,


lingkup pekerjaan yang termasuk tetapi tidak terbatas pada hal-hal sebagai
berikut :
a. Pengadaan tenaga kerja
b. Pengadaan bahan/ material
c. Pengadaan peralatan & alat bantu, sesuai dengan kebutuhan lingkup
pekerjaan yang ditugaskan
d. Koordinasi dengan Penyedia Jasa Konstruksi/ pekerja lain yang
berhubungan dengan pekerjaan pada bagian pekerjaan yang ditugaskan
e. Penjagaan kebersihan, kerapian dan keamanan area kerja
f. Pembuatan as build drawing (gambar terlaksana)

3. Persyaratan Teknis Umum ini menjadi satu kesatuan dengan Persyaratan


Teknis Pelaksanaan Pekerjaan dan secara bersama-sama merupakan
persyaratan dari segi teknis bagi seluruh pekerjaan sebagaimana
diungkapkan dalam satu atau lebih dari dokumen-dokumen berikut ini :
a. Gambar-gambar pelelangan/ pelaksanaan termasuk perubahannya
b. Persyaratan teknis umum/ pelaksanaan pekerjaan/ bahan
c. Rincian volume pekerjaan/ rincian penawaran
d. Dokumen-dokumen pelelangan/ pelaksanaan yang lain

4. Dalam hal dimana ada bagian dari Persyaratan Teknis Umum ini, yang
tidak dapat diterapkan pada bagian pekerjaan sebagaimana diungkapkan

1
ayat A.3. di atas, maka bagian dari Persyaratan Teknis Umum tersebut
dengan sendirinya dianggap tidak berlaku.

B. REFERENSI
1. Seluruh pekerjaan harus dilaksanakan dengan mengikuti dan memenuhi
persyaratan-persyaratan teknis yang tertera dalam persyaratan
Normalisasi Indonesia (NI), Standar Industri Indonesia (SII) dan Peraturan-
peraturan Nasional maupun Peraturan-peraturan setempat lainnya yang
berlaku atau jenis-jenis pekerjaan yang bersangkutan antara lain :
NI - 2 (1971) PERATURAN BETON BERTULANG INDONESIA
NI - (1983) PERATURAN PERENCANAAN BANGUNAN BAJA
INDONESIA (SKBI.1.3.55.1987)
NI - 3 (1970) PERATURAN UMUM UNTUK BAHAN BANGUNAN DI
INDONESIA
NI - 5 PERATURAN KONSTRUKSI KAYU INDONESIA
NI - 8 PERATURAN SEMEN PORTLAND INDONESIA
NI - 10 BATA MERAH SEBAGAI BAHAN BANGUNAN
PERATURAN PLUMBING INDONESIA
PERATURAN UMUM INSTALASI LISTRIK
STANDART NASIONAL INDONESIA (SNI)
ASTM, JIS das lain sebagainya yang dianggap berhubungan dengan
bagian-bagian pekerjaan ini.

Untuk pekerjaan-pekerjaan yang belum termasuk dalam standart-


standart yang disebut di atas, maupun standart-standart Nasional lainnya,
maka diberlakukan standart-standart Internasional yang berlaku atau
pekerjaan-pekerjaan tersebut atau setidak-tidaknya berlaku standart-standart
Persyaratan Teknis dari Negara-negara asal bahan/ pekerjaan yang
bersangkutan dan dari produk yang ditentukan pabrik pembuatnya.

2. Dalam hal di mana ada bagian pekerjaan yang persyaratan teknisnya tidak
diatur dalam Persyaratan Teknis Umum/ Khususnya maupun salah satu dari
ketentuan yang disebutkan dalam ayat B.1. di atas, maka atas bagian
pekerjaan tersebut Penyedia Jasa Konstruksi harus mengajukan salah
satu dari persyaratan-persyaratan berikut ini guna disepakati oleh Penyedia
Jasa Manajemen Konstruksi untuk dipakai sebagai patokan persyaratan
teknis :
a. Standart/norma/kode/pedoman yang bisa diterapkan pada
bagian pekerjaan bersangkutan yang diterbitkan oleh Instansi/ Institusi/
Assosiasi Profesi/ Assosiasi Produsen/ Lembaga Pengujian atau
Badan-badan lain yang berwenang/berkepentingan atau Badan-badan
yang bersifat Internasional ataupun Nasional dari Negara lain, sejauh
bahwa atau hal tersebut diperoleh persetujuan dari Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi / Manajemen Konstruksi.
b. Brosur teknis dari produsen yang didukung oleh sertifikat dari Lembaga
Pengujian yang diakui secara Nasional/ Internasional.

2
C. BAHAN
1. Baru/ Bekas
Kecuali ditetapkan lain secara khusus, maka semua bahan
yang dipergunakan dalam/ untuk pekerjaan ini harus merupakan bahan yang
baru, penggunaan bahan bekas dalam komponen kecil maupun besar sama
sekali tidak diperbolehkan/ dilarang digunakan.

2. Tanda Pengenal
a. Dalam hal dimana pabrik/ produsen bahan mengeluarkan tanda pengenal
untuk produk bahan yang dihasilkannya, baik berupa cap/ merk dagang
pengenal pabrik/ produsen ataupun sebagai pengenal kwalitas/ kelas/
kapasitas, maka semua bahan dari pabrik/ produsen bersangkutan yang
dipergunakan dalam pekerjaan ini harus mengadung tanda pengenal
tersebut.
b. Khusus untuk bahan bagi pekerjaan instalasi (penerangan, plumbing,
dll.) kecuali ditetapkan lain oleh Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi /
Manajemen Konstruksi, bahan sejenis dengan fungsi yang sama harus
diberi tanda pengenal untuk membedakan satu bahan dari bahan yang
lain. Tanda pengenal ini bisa berupa warna atau tanda-tanda lain yang
mana harus sesuai dengan referensi pada I.02. tersebut di atas atau
dalam hal dimana tidak /belum ada pengaturan yang jelas mengenai itu,
hal ini harus dilaksanakan sesuai petunjuk dari Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi / Manajemen Konstruksi.

3. Merk Dagang dan Kesetaraan


a. Penyebutan sesuatu merk dagang bagi suatu bahan/ produk di dalam
Persyaratan Teknis Umum, secara umum harus diartikan sebagai
persyaratan kesetaraan kualitas penampilan (Performance) dan harga dari
bahan/ produk tersebut, yang mana dinyatakan dengan kata-kata "atau
yang setara".
b. Kecuali secara khusus dipersyaratkan lain, maka penggunaan bahan/
produk lain yang dapat dibuktikan mempunyai kualitas penampilan dan
harga yang setara dengan bahan/ produk yang memakai merk dagang
yang disebutkan, dapat diterima sejauh bahwa untuk itu sebelumnya
telah diperoleh persetujuan tertulis dari Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi atau kesetaraan tersebut.
c. Penggunaan bahan/ produk yang disetujui sebagai "setara tidak
dianggap sebagai perubahan pekerjaan dan karenanya perbedaan harga
dengan bahan produk yang disebutkan merk dagangnya akan diabaikan.
Hal ini berlaku apabila ke-3 (tiga) merk dagang bahan/produk tersebut tidak
tersedia di pasaran/tidak diproduksi lagi.
d. Sejauh bisa memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan, penggunaan
produksi dalam Negeri lebih diutamakan.

3
4. Penggantian (Substitusi).
a. Penyedia Jasa Konstruksi/ Supplier bisa mengajukan usulan untuk
menggantikan sesuatu bahan/ produk dengan sesuatu bahan/ produk
lain dengan penampilan yang setaraf dengan yang dipersyaratkan.
b. Dalam persetujuan atau sesuatu penggantian (substitusi), perbedaan
harga yang ada dengan bahan / produk yang dipersyaratkan akan
diperhitungkan sebagai perubahan pekerjaan dengan ketentuan sebagai
berikut :
1. Dalam hal dimana penggantian disebabkan karena
kegagalan Penyedia Jasa Konstruksi/ Supplier untuk mendapatkan
bahan/ produk seperti yang dipersyaratkan, maka perubahan
pekerjaan yang bersifat biaya tambah dianggap tidak ada.
2. Dalam hal dimana penggantian dapat disepakati oleh Penyedia
Jasa Manajemen Konstruksi dan Pemberi Tugas sebagai
masukan (input) baru yang menyangkut nilai-nilai tambah,
maka perubahan pekerjaan mengakibatkan biaya tambah
dapat diperkenankan.

5. Persetujuan Bahan
a. Untuk menghindarkan penolakan bahan di lapangan, dianjurkan dengan
sangat agar sebelum sesuatu bahan/ produk akan dibeli/ dipesan/
diprodusir, terlebih dahulu dimintakan persetujuan dari Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi / Konsultan Pengawas atau kesesuaian dari
bahan/ produk tersebut pada Persyaratan Teknis, yang mana akan
diberikan dalam bentuk tertulis yang dilampirkan pada contoh/
brosur dari bahan/ produk yang bersangkutan untuk diserahkan
kepada Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi / Manajemen Konstruksi.
b. Penolakan bahan di lapangan karena diabaikannya prosedur di atas
sepenuhnya merupakan tanggung jawab Penyedia Jasa
Konstruksi/ Supplier, atau mana tidak dapat diberikan
pertimbangan keringanan apapun.
c. Adanya persetujuan tertulis dengan disertai contoh/ brosur seperti
tersebut diatas tidak melepaskan tanggung jawab Penyedia Jasa
Konstruksi/ Supplier dari kewajibannya dalam Perjanjian Kerja ini untuk
mengadakan bahan/ produk yang sesuai dengan persyaratannya, serta
tidak merupakan jaminan akan diterima/ disetujuinya seluruh bahan/
produk tersebut di lapangan, sejauh dapat dibuktikan bahwa tidak
seluruh bahan/ produk yang digunakan sesuai dengan contoh brosur
yang telah disetujui.

6. Contoh.
Pada waktu memintakan persetujuan atau bahan/ produk kepada Penyedia
Jasa Manajemen Konstruksi harus disertakan contoh dari bahan/
produk tersebut dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Jumlah Contoh.

4
1. Untuk bahan/ produk bila tidak dapat diberikan sesuatu sertifikat
pengujian yang dapat disetujui / diterima oleh Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi / Manajemen Konstruksi sehingga oleh
karenanya perlu diadakan pengujian kepada Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi harus diserahkan sejumlah bahan produk
sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam standart
prosedur pengujian, untuk dijadikan benda uji guna diserahkan pada
Badan/ Lembaga Penguji yang ditunjuk oleh Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi / Manajemen Konstruksi.
2. Untuk bahan / produk atau mana dapat ditunjukkan sertifikat pengujian
yang dapat disetujui / diterima oleh Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi / Manajemen Konstruksi, kepada Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi harus diserahkan 3 (tiga) buah contoh yang masing-
masing disertai dengan salinan sertifikat pegujian yang bersangkutan.
b. Contoh yang Disetujui.
1. Dari contoh yang diserahkan kepada Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi atau contoh yang telah memperoleh persetujuan dari
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi harus dibuat suatu keterangan
tertulis mengenai persetujuannya dan disamping itu oleh Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi harus dipasangkan tanda pengenal
persetujuannya pada 3 (tiga) buah contoh yang semuanya akan
dipegang oleh Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi / Manajemen
Konstruksi.
Bila dikehendaki, Penyedia Jasa Konstruksi/ Supplier dapat
meminta sejumlah set tambahan dari contoh berikut tanda
pengenal persetujuan dan surat keterangan persetujuan
untuk kepentingan dokumentasi sendiri.
Dalam hal demikian jumlah contoh yang harus diserahkan kepada
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi harus ditambah seperlunya
sesuai dengan kebutuhan tambahan tersebut.
2. Pada waktu Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi sudah tidak lagi
membutuhkan contoh yang disetujui tersebut untuk pemeriksaan
bahan produk bagi pekerjaan, Penyedia Jasa Konstruksi berhak
meminta kembali contoh tersebut untuk dipasangkan pada pekerjaan.
c. Waktu Persetujuan Contoh
1. Adalah tanggung jawab dari Penyedia Jasa Konstruksi/ Supplier
untuk mengajukan contoh pada waktunya, sedemikian
sehingga pemberian persetujuan atau contoh tersebut tidak
akan menyebabkan keterlambatan pada jadwal pengadaan bahan.
2. Untuk bahan/ produk yang persyaratannya tidak dikaitkan dengan
kesetarafan pada suatu merk dagang tertentu, keputusan atau
contoh akan diberikan oleh Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi
dalam waktu tidak lebih dari 10 (sepuluh) hari kerja.
Dalam hal dimana persetujuan tersebut akan melibatkan keputusan
tambahan di luar Persyaratan Teknis (seperti penentuan model, warna,

5
dll.), maka keseluruhan keputusan akan diberikan dalam waktu tidak
lebih dari 21 (dua puluh satu) hari kerja.
3. Untuk bahan produk yang masih harus dibuktikan kesetarafannya
dengan sesuatu merk dagang yang disebutkan, keputusan atau
contoh akan diberikan oleh Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi
/ Manajemen Konstruksi dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari kerja
sejak dilengkapanya pembuktian kesetarafan.
4. Untuk bahan/ produk yang bersifat pengganti (substitusi), keputusan
persetujuan akan diberikan oleh Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi
/ Manajemen Konstruksi dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak
diterimanya dengan lengkap seluruh bahan-bahan pertimbangan.
5. Untuk bahan/ produk yang bersifat peralatan/ perlengkapan ataupun
produk lain yang karena sifat/ jumlah/ harga penadaannya tidak
memungkinkan untuk diberikan contoh dalam bentuk bahan/ produk
jadi permintaan persetujuan bisa diajukan berdasarkan brosur dari
produk tersebut, yang mana harus dilengkapi dengan :
- Spesifikasi teknis lengkap yang dikeluarkan oleh pabrik/ produsen
- Surat-surat seperlunya dari agen/ importir, sesuai keagenan, surat
jaminan suku cadang dan jasa purna penjualan (after sales
service) dan lain-lain.
- Katalog untuk warna, pekerjaan penyelesaian (finishing) dan lain-
lain.
- Sertifikat pengujian, penetapan kelas dan dokumen-dokumen lain
sesuai petunjuk Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi / Manajemen
Konstruksi
6. Apabila setelah melewati waktu yang ditetapkan di atas, keputusan
atau contoh dari bahan/ produk yang diajukan belum diperoleh tanpa
pemberitahuan tertulis apapun dari Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi / Manajemen Konstruksi, maka dengan sendirinya dianggap
bahwa contoh yang diajukan telah disetujui oleh Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi / Manajemen Konstruksi.

7. Penyimpanan Bahan
a. Persetujuan atau sesuatu bahan/ produk harus diartikan sebagai
perijinan untuk memasukkan bahan/ produk tersebut dengan tetap
berada dalam kondisi layak untuk dipakai.
Apabila selama waktu itu ternyata bahwa bahan/ produk menjadi tidak
lagi layak untuk pakai dalam pekerjaan, Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi , Tim Teknis /PTP berhak untuk memerintahkan agar :
1. Bahan/Produk tersebut segera diperbaiki sehingga kembali menjadi
layak untuk dipakai.
2. Dalam hal dimana perbaikan tidak lagi mungkin,
supaya bahan/produk tersebut segera dikeluarkan dari lokasi
pekerjaan selama 2 x 24 jam untuk diganti dengan yang memenuhi
persyaratan.

6
b. Untuk bahan/ produk yang mempunyai umur pemakaian yang tertentu
penyimpanannya harus dikelompokkan menurut umur pemakaian
tersebut yang mana harus dinyatakan dengan tanda pengenan dengan
ketentuan sebagai berikut :
1. Terbuat dari kaleng atau kertas karton yang tidak akan rusak
selama penggunaan ini
2. Berukuran minimal 40 x 60 cm
3. Huruf berukuran minimum 10 cm dengan warna merah
4. Diletakkan ditempat yang mudah terlihat
c. Penyusunan bahan sejenis selama penyimpanan harus
diatur sedemikian rupa, sehingga bahan yang terlebih dulu masuk akan
pula terlebih dulu dikeluarkan untuk dipakai dalam pekerjaan.

D. PELAKSANAAN
1. Rencana Pelaksanaan
a. Dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak ditanda-tanganinya Surat Perintah Kerja
(SPK) oleh kedua belah pihak, Penyedia Jasa Konstruksi
harus menyerahkan kepada Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi
sebuah "Network Plant mengenai seluruh kegiatan yang perlu dilakukan
untuk melaksanakan pekerjaan ini dalam diagram mana
dinyatakan pula urutan logis serta kaitan/hubungan antara
seluruh kegiatan-kegiatan tersebut.
b. Kegiatan - kegiatan Penyedia Jasa Konstruksi untuk/ selama masa
pengadaan/ pembelian serta waktu pengiriman/pengangkutan dari :
1. Bahan, elemen, komponen dari pekerjaan maupun
pekerjaan persiapan/ pembantu.
2. Peralatan dan perlengkapan untuk pekerjaan
c. Kegiatan-kegiatan Penyedia Jasa Konstruksi untuk/selama waktu
fabrikasi, pemasangan dan pembangunan.
d. Pembuatan gambar-gambar kerja.
e. Permintaan persetujuan atau bahan serta gambar kerja maupun rencana
kerja.
f. Harga borongan dari masing-masing kegiatan tersebut.
g. Jadwal untuk seluruh kegiatan tersebut.
h. Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi akan memeriksa rencana kerja
Penyedia Jasa Konstruksi dan memberikan tanggapan atas itu dalam
waktu 2 (dua) minggu.
i. Penyedia Jasa Konstruksi harus memasukkan kembali perbaikan atau
rencana kerja kala Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi meminta
diadakannya perbaikan / penyempurnaan atau rencana kerja tadi paling
lambat 4 (empat) hari sebelum dimulainya waktu pelaksanaan.
j. Penyedia Jasa Konstruksi tidak dibenarkan memulai sesuatu pelaksanaan
atau pekerjaan sebelum adanya persetujuan dari Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi , Tim Teknis /PTP adanya rencana kerja ini.
k. Kecuali dapat dibuktikan bahwa Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi ,
Tim Teknis/ PTP telah melalaikan kewajibannya untuk memeriksa

7
rencana kerja Penyedia Jasa Konstruksi pada waktunya, maka
kegagalan Penyedia Jasa Konstruksi untuk memulai pekerjaan
sehubungan dengan belum adanya rencana kerja yang disetujui
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi , sepenuhnya merupakan
tanggung jawab dari Penyedia Jasa Konstruksi bersangkutan.

2. Gambar Kerja (Shop Drawings).


a. Untuk bagian-bagian pekerjaan di mana gambar
pelaksanaan (Construction Drawings) belum cukup memberikan petunjuk
mengenai cara untuk mencapai keadaan terlaksana, Penyedia Jasa
Konstruksi wajib untuk mempersiapkan gambar kerja yang secara
terperinci akan memperlihatkan cara pelaksanaan tersebut.
b. Format dari gambar kerja harus sesuai dengan petunjuk yang diberikan
oleh Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi / Manajemen Konstruksi.
c. Gambar kerja harus diajukan kepada Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi , Tim Teknis/ PTP untuk mendapatkan persetujuannya untuk
mana gambar-gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 3 (tiga).
d. Pengajuan gambar kerja tersebut paling lambat 14 (empat belas) hari
sebelum pemesanan bahan atau pelaksanaan pekerjaan dimulai.

3. Ijin Pelaksanaan.
Ijin pelaksanaan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum memulai pekerjaan
tersebut, Penyedia Jasa Konstruksi diwajibkan untuk mengajukan
ijin pelaksanaan secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan (Pejabat Pembuat
Komitmen) dengan dilampiri gambar kerja yang sudah disetujui.
Ijin pelaksanaan yang disetujui sebagai pegangan Penyedia Jasa Konstruksi
untuk melaksanakan pada bagian pekerjaan tersebut.

4. Contoh Pekerjaan (Mock Up).


Bila pekerjaan atau dikehendaki oleh Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi , Tim Teknis/ PTP Penyedia Jasa Konstruksi wajib menyediakan
sebelum pekerjaan dimulai.

5. Rencana Mingguan dan Bulanan.


a. Selambat-lambatnya pada setiap hari Sabtu dalam masa
dimana pelaksanaan pekerjaan berlangsung, Penyedia Jasa Konstruksi
wajib untuk menyerahkan kepada Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi
suatu rencana mingguan yang berisi rencana pelaksanaan dari berbagai
bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam minggu berikutnya.
b. Selambat-lambatnya pada minggu terakhir dari setiap bulan, Penyedia
Jasa Konstruksi wajib menyerahkan kepada Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi , Tim Teknis suatu rencana bulanan yang menggambarkan
dalam garis besarnya, berbagai rencana pelaksanaan dari berbagai
bagian pekerjaan yang direncanakan untuk dilaksanakan dalam bulan
berikutnya.

8
c. Kelalaian Penyedia Jasa Konstruksi untuk menyusun dan menyerahkan
rencana mingguan maupun bulanan dinilai sama dengan kelalaian
dalam melaksanakan perintah Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi
dalam pelaksanaan pekerjaan.
d. Untuk memulai suatu bagian pekerjaan yang baru, Penyedia Jasa
Konstruksi diwajibkan untuk memberitahu Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi , Tim Teknis mengenai hal tersebut paling sedikit 2 x 24 jam
sebelumnya.

6. Kualitas Pekerjaan
Pekerjaan harus dikerjakan dengan kwalitas pengerjaan yang terbaik
untuk jenis pekerjaan bersangkutan.

7. Pengujian Hasil Pekerjaan


a. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka semua pekerjaan
akan diuji dengan cara dan tolok ukur pengujian yang dipersyaratkan
dalam referensi yang ditetapkan dalam pada Pasal A 2. dari Persyaratan
Teknis Umum ini.
b. Kecuali dipersyaratkan lain secara khusus, maka Badan/ Lembaga yang
akan melakukan pengajuan dipilih atau persetujuan Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi , Tim Teknis dari Lembaga/ Badan Penguji milik
Pemerintah atau yang diakui Pemerintah atau Badan lain yang oleh
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi / Tim Teknis dianggap memiliki
obyektivitas dan integritas yang menyakinkan.
Atau hal yang terakhir ini Penyedia Jasa Konstruksi/ Supplier tidak
berhak mengajukan sanggahan.
c. Semua biaya pengujian dalam jumlah seperti yang dipersyaratkan menjadi
beban Penyedia Jasa Konstruksi.
d. Dalam hal dimana Penyedia Jasa Konstruksi tidak dapat menyetujui
hasil pengujian dari Badan Penguji yang ditunjuk oleh Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi , Penyedia Jasa Konstruksi berhak mengadakan
pengujian tambahan pada Lebaga/ Badan lain yang memenuhi
persyaratan Badan Penguji seperti tersebut diatas untuk mana seluruh
pembiayaannya ditanggung sendiri oleh Penyedia Jasa Konstruksi.
e. Apabila ternyata bahwa kedua hasil pengujian dari kedua Badan tersebut
memberikan kesimpulan yang berbeda, maka dapat dipilih untuk :
1. Memilih Badan/ Lembaga Penguji ketiga atau kesepakatan bersama.
2. Melakukan pengujian ulang pada Badan/ Lembaga Penguji pertama
atau kedua dengan ketentuan tambahan sebagai berikut :
- Pelaksanaan pengujian ulang harus disaksikan oleh Penyedia
Jasa Manajemen Konstruksi / Manajemen Konstruksi, Tim Teknis
dan Penyedia Jasa Konstruksi/ Supplier maupun wakil-wakilnya.
- Pada pengujian ulang harus dikonfirmasikan penerapan dari alat-alat
penguji.
3. Hasil dari pengujian ulang harus dianggap final, kecuali bilamana
kedua belah pihak sepakat untuk menganggapnya demikian.

9
4. Apabila hasil pengujian ulang mengkonfirmasikan kesimpulan dari hasil
pengujian yang pertama, maka semua akibat langsung maupun tidak
langsung dari adanya semua pengulangan pengujian menjadi
tanggungan Penyedia Jasa Konstruksi/ Supplier.
5. Apabila hasil pengujian ulang menunjukkan ketidaktepatan kesimpulan
dari hasil pengujian yang pertama dan membenarkan kesimpulan
dari hasil pengujian yang kedua, maka:
- 2 (dua) dari 3 (tiga) penguji yang bersangkutan, atas pilihan
Penyedia Jasa Konstruksi/ Supplier akan diperlakukan
sebagai pekerjaan tambah.
- Atas segala penundaan pekerjaan akibat adanya penambahan/
pengulangan pengujian akan diberikan tambahan waktu
pelaksanaan pada bagian pekerjaan bersangkutan dan bagian-
bagian lain yang terkena akibatnya, penambahan mana besarnya
adalah sesuai dengan penundaan yang terjadi.

8. Penutupan Hasil Pelaksanaan Pekerjaan.


a. Sebelum menutup suatu bagian pekerjaan dengan bagian pekerjaan
yang lain yang mana akan secara visual menghalangi Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi / Manajemen Konstruksi, Tim Teknis untuk
memeriksa bagian pekerjaan yang terdahulu, Penyedia Jasa Konstruksi
wajib melaporkan secara tertulis kepada Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi mengenai rencananya untuk melaksanakan bagian pekerjaan
yang akan menutupi bagian pekerjaan tersebut, sedemikian rupa
sehingga Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi berkesempatan secara
wajar melakukan pemeriksaan pada bagian yang bersangkutan untuk
dapat disetujui kelanjutan pengerjaannya.
b. Kelalaian Penyedia Jasa Konstruksi untuk menyampaikan laporan
diatas, memberikan hak kepada Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi
untuk dibelakang hari menuntut pembongkaran kembali bagian pekerjaan
yang menutupi tersebut, guna memeriksa hasil pekerjaan yang terdahulu
yang mana akibatnya sepenuhnya akan ditanggung oleh Penyedia Jasa
Konstruksi.
c. Dalam hal dimana laporan telah disampaikan dan Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi tidak mengambil langkah-langkah untuk
menyelesaikan pemeriksaan yang dimaksudkan, maka setelah lewat dari
2 (dua) hari kerja sejak laporan disampaikan, Penyedia Jasa Konstruksi
berhak melanjutkan pelaksanaan pekerjaan dan menganggap bahwa
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi telah menyetujui bagian pekerjaan
yang ditutup tersebut.
d. Pemeriksaan dan persetujuan oleh Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi
atau suatu pekerjaan tidak melepaskan Penyedia Jasa Konstruksi dari
kewajibannya untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan Surat
Perjanjian Penyedia Jasa Konstruksi (SPP).
e. Walapun telah diperiksa dan disetujui kepada Penyedia Jasa Konstruksi
masih dapat diperintahkan untuk membongkar bagian pekerjaan

10
yang menutupi bagian pekerjaan lain guna pemeriksaan
bagian pekerjaan yang tertutupi.

9. Kebersihan dan Keamanan


a. Penyedia Jasa Konstruksi bertanggung jawab untuk menjaga agar area
kerja senantiasa berada dalam keadaan rapih dan bersih.
b. Penyedia Jasa Konstruksi bertanggung jawab atau keamanan diarea
kerja, termasuk apabila diperlukan tenaga, peralatan atau tanda-tanda
khusus.

E. PENYELESAIAN DAN PENYERAHAN


1. Dokumen Terlaksana (As Build Documents).
a. Pada penyelesaian dari setiap pekerjaan Penyedia Jasa Konstruksi
wajib menyusun Dokumen Terlaksana yang terdiri dari :
1. Gambar-gambar terlaksana ( as built drawing)
2. Persyaratan teknis terlaksana dari pekerjaan, sebagaimana yang
telah dilaksanakan
b. Dikecualikan dari kewajiban diatas adalah Penyedia Jasa Konstruksi
untuk pekerjaan :
1. Pekerjaan Persiapan
2. Supply bahan, perlengkapan/ peralatan kerja
c. Dokumen terlaksana bisa disusun dari :
1. Dokumen pelaksanaan
2. Gambar-gambar perubahan
3. Perubahan persyaratan teknis
4. Brosur teknis yang diberi tanda pengenal khusus berupa cap sesuai
petunjuk Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi / Manajemen
Konstruksi
d. Dokumen terlaksana ini harus diperiksa dan disetujuk oleh Penyedia
Jasa Manajemen Konstruksi / Manajemen Konstruksi.
e. Khusus untuk pekerjaan kunci, sarana komunikasi bersaluran banyak,
utilitas dan pekerjaan-pekerjaan lain dengan sistim jaringan bersaluran
banyak secara operasional membutuhkan identifikasi yang bersifat
lokatif, dokumen terlaksana ini harus dilengkapi dengan daftar pesawat/
instalasi/ peralatan/ perlengkapan yang mengidentifikasi lokasi dari
masing-masing barang tersebut.
f. Kecuali dengan ijin khusus dari Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi /
Manajemen Konstruksi, Tim Teknis dan Pemberi Tugas, Penyedia Jasa
Konstruksi harus membuat dokumen terlaksana hanya untuk diserahkan
kepada Pemberi Tugas.
Penyedia Jasa Konstruksi tidak dibenarkan membuat/ menyimpan salinan
ataupun copy dari dokumen terlaksana tanpa ijin khusus tersebut.

2. Penyerahan
Pada waktu penyerahan pekerjaan, Penyedia Jasa Konstruksi wajib
menyerahkan kepada Pemberi Tugas

11
a. 2 (dua) set dokumen terlaksana
b. Untuk peralatan/ perlengkapan
- 2 (dua) set pedoman operasi (operation manual)
- Suku cadang sesuai yang dipersyaratkan.
c. Untuk berbagai macam :
- Semua kunci orisinil disertai "Construction Key (bila ada)
- Minimum 1 (satu) set kunci duplikat
d. Dokumen-dokumen resmi (seperti surat ijin, tanda pembayaran cukai,
surat fiskal pajak, dan lain-lain)
e. Segala macam surat jaminan berupa Guarantee/ Warranty sesuai uang
dipersyaratkan
f. Surat pernyataan pelunasan sesuai petunjuk Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi / Manajemen Konstruksi

F. KEAMANAN/ PENJAGAAN
1. Untuk keamanan Penyedia Jasa Konstruksi diwajibkan mengadakan
penjagaan, bukan saja terhadap pekerjaannya, tetapi juga bertanggung
jawab atas keamanan, kebersihan bangunan-bangunan, jalan-jalan, pagar,
pohon-pohon dan taman-taman yang telah ada.

2. Penyedia Jasa Konstruksi berkewajiban menyelamatkan bangunan yang


telah ada, apabila bangunan yang telah ada terjadi kerusakan
akibat pekerjaan ini, maka Penyedia Jasa Konstruksi berkewajiban untuk
memperbaiki/membetulkan sebagaimana mestinya.

3. Penyedia Jasa Konstruksi harus menyediakan penerangan yang cukup


dilapangan, terutama pada waktu lembur, jika Penyedia Jasa Konstruksi
menggunakan aliran listrik dari bangunan/ komplek, diwajibkan bagi Penyedia
Jasa Konstruksi untuk memasang meter sendiri untuk menetapkan sewa
listrik yang dipakai.

4. Penyedia Jasa Konstruksi harus berusaha menanggulangi kotoran-kotoran


debu agar tidak mengurangi kebersihan dan keindahan bangunan-bangunan
ataupun prasarana yang telah ada.

5. Segala operasi yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan


untuk pembangunan pekerjaan sementara sesuai dengan ketentuan
kontrak harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan gangguan terhadap ketentraman penduduk atau jalan-jalan
yang harus digunakan jalan perorangan atau umum, milik Pemberi
Tugas ataupun milik pihak lain. Penyedia Jasa Konstruksi harus
membebaskan Pemberi Tugas dari segala tuntutan ganti rugi sehubungan
dengan hal tersebut di atas.

12
6. Penyedia Jasa Konstruksi harus bertanggung jawab atas kerusakan-
kerusakan pada jalan raya atau jembatan yang menghubungkan proyek
sebagai akibat dari lalu lalang peralatan ataupun kendaraan yang
dipergunakan untuk mengangkut bahan-bahan/ material guna keperluan
proyek.

7. Apabila Penyedia Jasa Konstruksi memindahkan alat-alat pelaksanaan,


mesin-mesin berat atau unit-unit alat berat lainnya dari bagian-
bagian pekerjaan, melalui jalan raya atau jembatan yang mungkin
akan mengakibatkan kerusakan dan seandainya Penyedia Jasa Konstruksi
akan membuat perkuatan-perkuatan di atasnya, maka hal tersebut harus
terlebih dahulu diberitahukan kepada Pemberi Tugas dan Intansi yang
berwenang. Biaya untuk perkuatan tersebut menjadi tanggungan Penyedia
Jasa Konstruksi.

G. SITUASI DAN PERSIAPAN PEKERJAAN


1. SITUASI/LOKASI
a. Lokasi proyek adalah pada lahan yang sudah diberikan oleh pemberi
tugas yaitu pada lahan gedung Graha Unesa. Halaman proyek akan
diserahkan kepada Penyedia Jasa Konstruksi sebagaimana
keadaannya waktu Rapat Penjelasan. Penyedia Jasa Konstruksi
hendaknya mengadakan penelitian dengan seksama mengenai keadaan
tanah halaman proyek tersebut.
b. Kekurang-telitian atau kelalaian dalam mengevaluasi keadaan lapangan,
sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi dan
tidak dapat dijadikan alasan untuk mengajukan klaim/tuntutan.

2. AIR DAN DAYA


a. Penyedia Jasa Konstruksi harus menyediakan air atas tanggungan/biaya
sendiri yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini, yaitu :
Air kerja untuk pencampur atau keperluan lainnya yang memenuhi
persyaratan sesuai jenis pekerjaan, cukup bersih, bebas dari segala
macam kotoran dan zat-zat seperti minyak, asam, garam, dan
sebagainya yang dapat merusak atau mengurangi kekuatan
konstruksi.
Air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi/buang air
dan kebutuhan lain para pekerja. Kualitas air yang disediakan untuk
keperluan tersebut harus cukup terjamin.
b. Penyedia Jasa Konstruksi harus menyediakan daya listrik atas
tanggungan/biaya sendiri sementara yang dibutuhkan untuk peralatan
dan penerangan serta keperluan lainnya dalam melaksanakan pekerjaan
ini. Pemasangan sistem listrik sementara ini harus memenuhi persyaratan

13
yang berlaku. Penyedia Jasa Konstruksi harus mengatur dan menjaga
agar jaringan dan peralatan listrik tidak membahayakan para pekerja di
lapangan. Penyedia Jasa Konstruksi apabila diperlukan harus
menyediakan penangkal petir sementara untuk keselamatan.

3. SALURAN PEMBUANGAN
Penyedia Jasa Konstruksi harus membuat saluran pembuangan sementara
untuk menjaga agar daerah bangunan selalu dalam keadaan kering/tidak
basah tergenang air hujan atau air buangan. Saluran dihubungkan ke
parit/selokan yang terdekat atau menurut petunjuk MK/Pengawas.

4. KANTOR PENYEDIA JASA KONSTRUKSI, LOS DAN HALAMAN KERJA,


GUDANG DAN FASILITAS LAIN
Penyedia Jasa Konstruksi harus membangun kantor dan perlengkapannya,
los kerja, gudang dan halaman kerja (work yard) di dalam halaman pekerjaan,
yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan sesuai Kontrak. Penyedia Jasa
Konstruksi harus juga menyediakan untuk pekerja/buruhnya fasilitas
sementara (tempat mandi dan peturasan) yang memadai untuk mandi dan
buang air.
Penyedia Jasa Konstruksi harus membuat tata letak/denah halaman proyek
dan rencana konstruksi fasilitas-fasilitas tersebut. Penyedia Jasa Konstruksi
harus menjamin agar seluruh fasilitas itu tetap bersih dan terhindar dari
kerusakan.

5. KANTOR PENGAWAS (PENYEDIA JASA MANAJEMEN KONSTRUKSI


KEET)
Penyedia Jasa Konstruksi harus menyediakan untuk Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi di tempat pekerjaan ruang kantor sementara beserta
seperangkat furniture termasuk kursi-kursi, meja dan lemari. Kualitas dan
peralatan yang harus disediakan adalah sebagai berikut :
a. Ruang : ukuran 40 m2
b. Konstruksi : rangka kayu ex kalimantan, lantai plesteran, dinding double
plywood tidak usah dicat, atap asbes gelombang
c. Fasilitas : air dan penerangan listrik
d. Furnitur : 5 meja kerja 1/2 biro dan 5 kursi
1 meja rapat bahan plywood 18 mm ukuran 120 x 240 cm
10 kursi
2 unit komputer dan printer
1 whiteboard ukuran 120 x 80 cm
1 rak arsip gambar plywood 12 mm ukr. 120 x 240 x 30 cm
Penyedia Jasa Konstruksi harus selalu membersihkan dan menjaga
keamanan kantor tersebut beserta peralatannya.
Pengadaan Kantor Pengawas (Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi Keet)
dalam kegiatan ini adalah disediakan dari pihak penyedia jasa.

14
6. PAPAN NAMA PROYEK
Penyedia Jasa Konstruksi wajib membuat dan memasang papan nama
proyek di bagian depan halaman proyek sehingga mudah dilihat umum.
Ukuran dan redaksi papan nama tersebut 90 x 150 cm dipotong dengan tiang
setinggi 250 cm atau sesuai dengan petunjuk Pemerintah Daerah setempat.
Penyedia Jasa Konstruksi tidak diijinkan menempatkan atau memasang
reklame dalam bentuk apapun di halaman dan di sekitar proyek tanpa ijin dari
Pemberi Tugas.

7. PEMBERSIHAN LOKASI PEKERJAAN


a. Pembersihan lokasi pekerjaan adalah pembersihan seluruh lantai yang
pada saat ini semua lantai kondisinya masih plat beton struktur.
b. Pelaksanaan pembersihan lokasi harus hati-hati terhadap kondisi sekitar
nya karena sudah ada dinding dan jendela luar harus terjaga keutuhan
dan keamanannya. Pembersihan lokasi kerja harus sangat hati-hati
jangan sampai menimbulkan polusi debu dan suara yang akan
mengganggu operasional pelayanan pasien di lantai satu dan lantai
empat.

8. PAGAR SEMENTARA
Penyedia Jasa Konstruksi harus membuat pagar sementara yang sifatnya
melindungi dan menutupi lokasi barak kerja dan untuk manufer peralatan
serta gudang sementara proyek dengan persyaratan kualitas sebagai berikut:
a. Bahan dari BWG 32 dengan rangka kayu dicat sementara.
b. Tinggi pagar minimum 2 m.
c. Ruang gerak selama pelaksanaan dalam lokasi berpagar harus cukup
leluasa untuk lancarnya pekerjaan.
Pengadaan Pagar Pengaman Proyek dalam kegiatan ini adalah pihak dari
pihak penyedia.

9. PENGUKURAN
a. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi semua pekerjaan pengukuran batas / garis dan
elevasi persiapan lahan dan pekerjaan pengukuran lainnya yang
ditentukan dalam Gambar Kerja dan / atau yang ditentukan Konsultan MK
dan termasuk penyediaan team ukur yang berpengalaman dan peralatan
pengukuran lengkap dan akurat yang memenuhi ketentuan spesifikasi ini.
Peil 0,00 diambil dari lobby lantai satu gedung ini.
b. Prosedur Umum
1. Data Standar Pengukuran
Standar pengukuran berdasarkan poligon tertutup tiga titik koordinat
dan patok akan disediakan Pemilik Proyek dan akan menjadi patokan
pengukuran yang dilakukan Penyedia Jasa Konstruksi.
Bila Penyedia Jasa Konstruksi berkeberatan atas penentuan sistem
koordinat tersebut, maka dalam 1 (satu) minggu setelah penentuan,
Penyedia Jasa Konstruksi dapat mengajukan keberatan secara tertulis

15
beserta data pendukung untuk kemudian akan dipertimbangkan oleh
Konsultan MK.
2. Persyaratan Pengukuran
Penyedia Jasa Konstruksi harus melaksanakan perhitungan
pengukuran dan pemeriksaan untuk mendapatkan lokasi yang tepat
sesuai Gambar Kerja dan harus disetujui Konsultan MK.
Setiap kali melakukan pengukuran, pemeriksaan ketepatan harus
dilakukan dengan Poligon tertutup. Kesalahan maksimal yang diijinkan
dari Poligon tertutup adalah sebagai berikut :
Kerangka Horizontal (Poligon) :
Salah pentutup sudut = 10 n
(n = banyak titik / sudut)
Salah relatif 1 /10000
Kerangka Vertikal (Sipat Datar) :
Salah pentutup beda tinggi = 10 D km (mm)
(D = total jarak terpendek)
Semua jarak kemiringan harus dikurangkan ke jarak tegak.
c. Tim Pengukur dan Peralatan
Penyedia Jasa Konstruksi harus menyediakan tim ukur yang ahli, yang
disetujui terlebih dahulu oleh Konsultan MK, dan mereka bertanggung
jawab memberikan informasi dan data yang berkaitan dengan
pengukuran kepada Konsultan MK, Penyedia Jasa Konstruksi harus
menggunakan sejumlah peralatan pengukuran yang memadai, akurat dan
memiliki sertifikat dan disetujui Konsultan MK.
d. Pelaksanaan Pekerjaan
Catatan lengkap harus mencakup semua pengukuran lapangan, rapih
dan teratur. Pengukuran harus dengan jelas menyebutkan nama proyek,
lokasi, tanggal, nama. Buku yang dijilid harus digunakan untuk catatan.
Catatan lapangan yang terpisah harus dibuat untuk setiap kategori
berikut:
Pemeriksaan melintang
Ketinggian patok
Lokasi pengukuran
Konstruksi pengukuran
Potongan melintang
Koordinat seluruh patok, titik pemeriksaan dan lainnya harus dihitung
sebelum pengukuran.
Sketsa harus disiapkan untuk setiap patok pemeriksaan dan titik acuan
yang menunjukkan jarak dan azimut ke setiap titik acuan.
Profil dan bidikan elevasi topografi harus dicatat dalam buku lapangan.
Semua catatan dan perhitungan harus dibuat permanen, dan dijaga di
tempat yang aman. Penyimpanan data lapangan yang tidak berlaku lagi
dilakukan oleh Konsultan MK.
e. Pemeriksaan Ketepatan
Semua elemen pengukuran, pemeriksaan dan penyetelah harus diperiksa
Konsultan MK pada waktu waktu tertenu selama pelaksanaan proyek.

16
Penyedia Jasa Konstruksi harus membantu Konsultan MK selama
pemeriksaan pengukuran lapangan.
Perhitungan berikut harus digunakan untuk memeriksa catatan lapangan :
Kesalahan sudut menyilang e1 = 1 n
Kesalahan garis menyilang e2 = (L2 + D2)
L = perbedaan antara garis lintang utara dan garis lintang selatan
D = perbedaan antara titik keberangkatan timur dan titik keberangkatan
barat
e
Ketepa tan
perimeter
Pengukuran yang tidak sempurna yang dikerjakan Penyedia Jasa
Konstruksi, harus diperbaiki dan diulang tanpa tambahan biaya.
Penyedia Jasa Konstruksi harus menjaga semua tanda dan garis yang
dibutuhkan agar tetap terlihat jelas selama pemeriksaan.
Setiap pemeriksaan yang dilakukan Konsultan MK tidak membebaskan
Penyedia Jasa Konstruksi dari seluruh tanggung jawabnya membuat
pengukuran yang tepat untuk kerataan, elevasi, kemiringan, dimensi dan
posisi setiap struktur atau fasilitas.

17
BAB II
PEKERJAAN STRUKTUR

A. PERATURAN UMUM TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN


1. Dalam melaksanakan pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain dalam Rencana
Kerja dan Syarat-syarat (RKS) ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan
di bawah ini termasuk segala perubahan dan tambahannya :
a. Keputusan-keputusan dari Majelis Indonesia untuk Arbitrase Teknik
dari Dewan Teknik Pembangunan Indonesia (DTPI)
b. Peraturan Umum dari Dinas Kesehatan Kerja Departemen Tenaga
Kerja
c. Peraturan Umum Bangunan Indonesia (NI-013)
d. Peraturan Semen Portland Indonesia (NI-08)
e. Peraturan dan ketentuan-ketentuan lain yang dikeluarkan oleh
jawatan/instansi pemerintah setempat, yang bersangkutan dengan
permasalahan bangunan
2. Untuk melaksanakan pekerjaan dalam butir tersebut di atas, berlaku dan
mengikat pula:
a. Gambar bestek yang dibuat Penyedia Jasa Konsultasi yang sudah
disahkan oleh Pemberi Tugas termasuk juga gambar-gambar detail
yang diselesaikan oleh Penyedia Jasa Konstruksi dan sudah
disahkan/disetujui Manajemen Konstruksi.
b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)
c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijziing)
d. Berita Acara Penunjukkan
e. Surat keputusan Pemberi Tugas tentang Penunjukan Penyedia Jasa
Konstruksi
f. Surat perintah kerja (SPK)
g. Surat penawaran beserta lampiran-Iampirannya
h. JadwaI Pelaksanaan (Tentative Time Schedule yang telah disetujui)
i. Kontrak surat perjanjian Penyedia Jasa Konstruksian
j. Berita Acara/Surat-surat Klarifikasi tender

B. PEKERJAAN PERSIAPAN / PENDAHULUAN


1. Pengukuran Tapak Kembali
a. Penyedia Jasa Konstruksi diwajibkan mengadakan pengukuran dan
penggambaran kembali lokasi pembangunan dengan keterangan-
keterangan mengenai peil, ketinggian tanah, letak pohon, letak batas-batas
tanah dengan alat-alat yang sudah ditera kebenarannya.

18
b. Ketidakcocokan yang mungkin terjadi antara gambar dan keadaan
lapangan harus segera dilaporkan kepada Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi Lapangan untuk dimintakan keputusannya.
c. Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut dilakukan dengan alat-alat
waterpass/theodolith yang ketepatannya dapat dipertanggungjawabkan.
d. Penyedia Jasa Konstruksi harus menyediakan theodolith/waterpass
berserta petugas yang melayaninya untuk kepentingan .pemeriksaan
Manajemen Konstruksi selama pelaksanaan proyek.
e. Pengukuran sudut siku dengan prisma atau barang secara asas segitiga
phytagoras hanya diperkenankan untuk bagian-bagian kecil yang disetujui
oleh Manajemen Konstruksi.
f. Segala pekerjaan pengukuran persiapan termasuk tanggungan Penyedia
Jasa Konstruksi.

2. Pekerjaan Penyediaan Air dan Daya Listrik untuk Bekerja


a. Air bekerja harus disediakan Penyedia Jasa Konstruksi dengan
menyambung pipa ke sumur yang ada di proyek atau disuplai dari luar. Air
harus bersih, bebas dari debu. bebas dari lumpur, minyak dan bahan-
bahan kimia lainnya yang merusak. Penyediaan air harus sesuai dengan
petunjuk dan persetujuan dari Manajemen Konstruksi.
b. Listrik bekerja harus disediakan Penyedia Jasa Konstruksi dan diperoleh
dari sambungan PLN setempat. Selama masa pelaksanaan, penggunaan
diesel untuk pembangkit tenaga listrik hanya diperkenankan untuk
penggunaan sementara atas persetujuan Manajemen Konstruksi. Daya
listrik juga disediakan untuk mensuplai kantor Manajemen Konstruksi.

3. Pekerjaan Penyediaan Alat Pemadam Kebakaran


a. Selama pembangunan berIangsung, Penyedia Jasa Konstruksi wajib
menyediakan tabung alat, pemadam kebakaran/fire extinguisher 3,5 kg
minimal 2 tabung ex. EXCEL / setara lengkap dengan isinya.
b. Pelaksanaan pembangunan telah berakhir, maka alat pemadam kebakaran
tersebut menjadi hak milik pemberi tugas.

4. Drainase Tapak
a. Dengan mempertimbangkan keadaan topographi / kontur tanah yang ada
ditapak, Penyedia Jasa Konstruksi wajib membuat saluran sementara yang
berfungsi untuk pembuangan air yang ada bila diperlukan.
b. Arah aliran ditujukan kedaerah perrnukaan yang terendah yang ada
ditapak atau kesaluran yang sudah ada di lingkungan daerah
pembuangan.
c. Pembuatan saluran sementara harus sesuai dengan petunjuk dan
persetujuan Manajemen Konstruksi.

19
d. Papan Dasar Pelaksanaan (Penentuan Titik). Papan dasar pelaksanaan
dipasang pada patok kayu kasau meranti 5/7, tertancap ditanah sehingga
tidak bisa digerak-gerak atau dirubah-rubah.
e. Papan patok ukur dibuat dari kayu meranti dengan ukuran tebal 3 cm,
lebar 20 cm, lurus dan diserut ratakan pada sisi sebelah atasnya.

C. PEKERJAAN TANAH
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, alat-alat dan
pengangkutan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan semua pekerjaan tanah
seperti tertera pada gambar rencana. Pekerjaan yang berhubungan /
pekerjaan sementara yang dilakukan:
a. Pekerjaan uitzet
b. Pekerjaan pembersihan / pembongkaran site existing.
c. Pengurukan dan pemadatan tanah
d. Pekerjaan lansekap
e. Pekerjaan pembuatan titik-titik penempatan as-as kolom

2. Pelaksanaan
Pembersihan persiapan daerah yang akan dikerjakan
a. Semua daerah urugan, harus dipadatkan, baik urugan yang telah ada
maupun terhadap urugan baru. Tanah urugan harus bersih dari sisa-
sisa tumbuhan atau bahan-bahan yang dapat menimbulkan pelapukan
dikemudian hari.
b. Semua pekerjaan pengukuran dan persiapan adalah termasuk
tanggungan Penyedia Jasa Konstruksi .
c. Penyedia Jasa Konstruksi harus menyediakan alat-alat ukur sepanjang
masa pelaksanaan berikut ahli ukur yang berpengalaman.
d. Pada papan dasar pelaksanaan (rambu ukur) harus dibuat tanda-tanda
yang menyatakan as-as atau level/peil-peil dengan warna yang jelas
dan tidak mudah hilang jika terkena air hujan.

3. Pekerjaan galian
a. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan galian harus memenuhi syarat-syarat seperti yang
ditentukan dalam gambar. Dilapangan harus dijaga supaya tanah di
bawah/dasar elevasi seperti pada gambar rencana atau ditentukan oleh
Konsultan Manajemen Konstruksi tidak terganggu. Jika terganggu,
Penyedia Jasa Konstruksi harus menggalinya dan rnengurugnya
kembali lalu dipadatkan seperti yang ditentukan oleh Konsultan
Manajemen Konstruksi.
b. Syaratsyarat pelaksanaan

20
- Semua galian harus dilaksanakan sesuai dengan gambar dan
syarat syarat yang ditentukan menurut gambar.
- Dasar dari semua galian harus waterpass, bila pada galian masih
terdapat sisa akar pohon, bekas pondasi bangunan lama dan atau
bangunan eksisting dan lain lain sisa jasad bangunan atau bagian-
bagian yang keras atau gembur, maka ini harus digali keluar.
Sedang lubang lubang tadi diisi kembali dengan pasir, disiram dan
dipadatkan, sehingga mendapatkan kembali dasar yang waterpass.
- Terhadap kemungkinan adanya air di dasar galian, baik pada waktu
penggalian maupun pada waktu mengerjakan pondasi/pile cap
harus disediakan pompa air atau pompa lumpur yang jika
diperlukan dapat berjalan terus menerus untuk menghindari
terkumpulnya air.
- Penyedia Jasa Konstruksi juga diwajibkan mengambil langkah
langkah pengamanan terhadap bangunan lain yang berada dekat
sekali dengan lubang galian yaitu dengan memberikan penunjang
sementara pada bangunan tersebut sehingga dapat dijamin
bangunan tersebut tidak akan mengalarni kerusakan.
- Semua tanah kelebihan yang berasal dari pekerjaan galian, setelah
mencapai jumlah tertentu harus segera disingkirkan dari halaman
pekerjaan pada setiap saat yang dianggap perlu dan atas petunjuk
Konsultan Manajemen Konstruksi.
- Bagian-bagian yang akan diurug kembali harus diurug dengan
tanah yang bersih, bebas dari segala kotoran dan memenuhi syarat
syarat untuk tanah urug dan bukan merupakan tanah bekas galian
tanah setempat. Pelaksanaan harus secara berlapis lapis dengan
penimbrisan per 30 cm padat. Lubang-lubang galian yang terletak di
dalam garis bangunan harus diisi kembali dengan tanah urug yang
diratakan dan diairi serta dipadatkan sampai mencapai 40%
kepadatan kering maksimum yang dibuktikan dengan test
laboratorium.
- Perlindungan terhadap benda benda berharga, jika diperintahkan
untuk dipindahkan, seluruh barang barang berharga yang mungkin
ditemui di lapangan, harus direparasikan/diganti oleh Penyedia Jasa
Konstruksi atas tanggungannya sendiri.
- Bila suatu alat atau pelayanan dinas yang sedang dikerjakan
ditemui di lapangan dan hal tersebut tidak tertera pada gambar atau
dengan cara lain yang dapat diketahui oleh Penyedia Jasa
Konstruksi dan ternyata diperlukan perlindungan atau pemindahan,
Penyedia Jasa Konstruksi harus bertanggung jawab untuk
mengambil setiap langkah apapun yang menjamin bahwa pekerjaan
yang sedang berlangsung tersebut tidak terganggu.
- Bila pekerjaan pelayanan umum terganggu sebagai akibat
pekerjaan Penyedia Jasa Konstruksi, Penyedia Jasa Konstruksi

21
harus segera mengganti kerugian yang terjadi yang dapat berupa
perbaikan dari barang yang rusak akibat dari pekerjaan Penyedia
Jasa Konstruksi.

4. Pekerjaan Urugan (Timbunan) Dan Pemadatan


a. Lingkup pekerjaan
- Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan
peralatan dan alat-alat bantu yang dibutuhkan demi terlaksananya
pekerjaan ini dengan baik.
- Seluruh lahan yang akan digunakan, yang mana elevasinya (elevasi
lahan existing) kurang dari tinggi elevasi rencana. Sehingga perlu
dilakukan pengurugan (timbunan) pada lahan yang akan dikerjakan.
- Seluruh sisa penggalian yang tak terpakai untuk penimbunan dan
penimbunan kembali, juga seluruh sisa-sisa, puing-puing, sampah-
sampah harus disingkirkan dari lapangan pekerjaan. Seluruh biaya
untuk ini adalah tanggungjawab Penyedia Jasa Konstruksi.
b. Persyaratan bahan
- Bila tidak dicantumkan dalam gambar detail, maka minimum 10 cm
padat (setelah disirami, diratakan dan dipadatkan) dibagian atas
dari urugan di bawah plat-plat beton bertulang, beton rabat dan
pondasi pondasi dangkal harus terdiri dari urugan pasir padat.
- Di bawah lapisan pasir tersebut urugan yang dipakai adalah dari
jenis tanah silty clay yang bersih tanpa potongan potongan bahan
bahan yang bisa lapuk serta bahan batuan yang telah dipecah
pecah tersebut tidak boleh lebih dari 15 cm.
- Konsultan Manajemen Konstruksi mengharuskan agar supaya
semua urugan bahan keras hanya terdiri dari mutu yang terbaik
yang dapat diperoleh.
c. Syarat syarat pelaksanaan
- Semua bagian/daerah urugan dan timbunan harus dilapis
sedemikian, sehingga dicapai suatu lapisan setebal 15 cm dalam
keadaan padat, dimana setiap lapis harus dipadatkan sebelum
lapisan berikutnya.
- Pemadatan dilakukan dengan alat pemadat/compactor "vibrator
type" yang disetujui oleh Konsultan Manajemen Konstruksi
- Pengukuran CBR dilakukan setiap ketebalan 60 cm dan harus
memenuhi nilai CBR yang disyaratkan.Pengeringan/pengaliran air
harus diperhatikan selama pekerjaan supaya daerah yang
dikerjakan terjamin pengaliran airnya.
- Apabila material urug mengandung batu batu, tidak dibenarkan batu
batu yang besar bersarang, menjadi satu, dan semua pori pori
harus diisi dengan batu batu kecil dan tanah yang dipadatkan.

22
- Kelebihan material galian harus dibuang oleh Penyedia Jasa
Konstruksi ke tempat buangan yang ditentukan oleh Konsultan
Manajemen Konstruksi.
- Pelaksanaan pemadatan (terutama yang berada didalam gedung)
harus memikirkan situasi sekitar dimana pemadatan tersebut
dilakukan. Kerusakan yang timbul akibat kelalaian pelaksanaan
pemadatan/penimbunan menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa
Konstruksi.

5. Pengujian Mutu Pekerjaan


a. Konsultan Manajemen Konstruksi harus diberitahu bila pengujian di
lapangan sudah dapat dilaksanakan untuk menentukan kepadatan
relatif yang sebenarnya di lapangan.
b. Bilamana bahan tersebut tidak mencapai kepadatan yang dikehendaki,
lapisan tersebut harus di ulang kembali pekerjaannya atau diganti,
dengan cara-cara pelaksanaan yang telah ditentukan, guna
mendapatkan kepadatan yang dibutuhkan.
c. Pengujian kepadatan di lapangan harus mengikuti prosedur ASTM D
1556-70 atau prosedur lainnya yang disetujui oleh Konsultan
Manajemen Konstruksi. Seluruh biaya untuk pengujian di laboratorium
menjadi beban Penyedia Jasa Konstruksi.
d. Pengujian kepadatan di lapangan tersebut dilaksanakan setiap 500 m2
daerah yang dipadatkan untuk setiap layer 60 cm (padat saat uji CBR)
pada titik yang atau ditentukan oleh Konsultan Manajemen Konstruksi.
e. Penentuan kepadatan di lapangan dapat dipergunakan salah satu dari
cara/prosedur di bawah ini :
"Density of soil in place by sand cone method" AASHTO T-191
"Density of soil in place by driven cylinder method" AASHTO T-204
"Density of soil in place the rubber balloon method" AASHTO T-205
Atau cara cara lain yang harus mendapatkan persetujuan terlebih
dahulu dari Konsultan Manajemen Konstruksi.

D. PEKERJAAN BEKISTING BETON


1. Lingkup Pekerjaan
a. Kayu untuk bekisting beton cor ditempat, lengkap dengan perkuatan
dan angkur-angkur yang diperlukan.
b. Penyediaan angkur-angkur untuk hubungan dengan pekerjaan lain.

2. Pekerjaan yang berhubungan


a. Struktur beton bangunan dibawah elavasi lahan, pilecap/poer, tie-
beam, kolom, balok, dan plat.
b. Pekerjaan pasangan bata

23
c. Sparing-sparing pekerjaan mekanikal
d. Sparing-sparing pekerjaan elektrikal

3. Standart-standart yang dipakai


a. Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia -1982-NI-3.
b. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI) -1961, NI-5.
c. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung SNI
03-2847-2002 dan SNI 03-2847-2013

4. Shop drawing
a. Dimana diperlukan menurut Manajemen Konstruksi atau perencana
harus dibuat shop drawing.
b. Siapkan shop drawing tipikal untuk tiap pandangan bekisting yang
berbeda yang memperhatikan
- Dimensi.
- Metode Konstruksi
- Bahan
- Hubungan dan ikatan-ikatan

5. Bahan
a. Bekisting beton biasa
- Multiplek film tebal 12 mm
- Paku, angkur, form ties dan sekrup-sekrup, ukuran sesuai
dengan keperluan dan cukup kuat untuk menahan bekisting
agar tidak bergerak ketika dilakukan pengecoran.
b. Syarat umum bekisting
- Tidak mengalami deformasi, bekisting harus cukup tebal dan
terikat kuat .
- Kedap air dengan menutup semua celah dengan tape,
- Tahap terhadap getaran vibrator dari luar maupun dari dalam
bekisting
- Untuk kolom memakai bekisting fiber glass
- Pemakaian bekisting selain ketentuan diatas harus dengan
persetujuan Manajemen Konstruksi.

E. PEKERJAAN BETON STRUKTUR PRIMER


1. Lingkup pekerjaan
a. Pembesian
Tulangan besi lengkap dengan kawat pengikatnya.
b. Pengecoran beton.

24
- Beton cor ditempat untuk rangka struktur bangunan, lantai,
dinding, pilecap dan plat/slab pendukung
- Plat/slab beton diatas tanah dan pedestrian / side walks
- Finishing permukaan beton pada dinding, plat, balok dan kolom
- Perawatan dan pengujian kualitas beton.
c. Produk beton
Produk beton yang dipakai adalah beton siap pakai (Readymix
Concrete) dengan Mutu beton K-300 dan telah persetujuan
Manajemen Konstruksi.
d. Pekerjaan yang berhubungan
- Bekisting beton
- Finishing beton
- Pasangan bata
- Struktur baja
- Waterproofing
- Bagian-bagian pekerjaan mekanikal yang harus dicor dalam
beton
- Bagian-bagian pekerjaan elektrikal yang harus dicor dalam beton
e. Standar
Pengendalian pekerjaan ini harus sesuai dengan :
- Persyaratan Umum Bahan bangunan Indonesia 1982 NI-3
- Peraturan Semen Portland Indonesia 1972. N -8
- Peraturan Bangunan Nasional 1978
- Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) 1971
- SNI-03-2847-2002 dan SNI-03-2847-2013
- Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983
- Pedoman Perencanaan untuk Struktur Beton Bertulang Biasa
dan Struktur Tembok 1983.
- Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah Setempat
- Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan lisan maupun
tertulis yang diberikan perencana.
f. American Society Testing and Material (ASTM)
- C 33 (concrete aggregates)
- C 150 (portland cement)
g. American Concrete Institute (ACI)
- 211 (recommended pratice for selecting proportions for normal
and heavy weight concrete)
- 212 (guide for use admixlures in concrete)

25
- 214 (recommended practice for evaluation of compression test of
field concrete)
2. Bahan
a. Portland cement
Yang menyatakan adalah jenis II Sn 0013-81, menurut NI-8 (TYPE
1), menurut ASTM dan memenuhi S400, menurut standart portland
cement yang ditentukan asosiasi semen Indonesia dan terdiri dari
satu jenis merek.
b. Agregates
Kualitas agregate harus memenuhi syarat-syarat SNI-03-2847-
2002. Aggregate kasar harus berupa batu pecah (split) yang
memenuhi susunan gradasi yang baik, cukup syarat kekerasannya
dan padat (tidak porous). Kadar lumpur dari pasir beton tidak boieh
melebihi dari 5 % berat kering. Dimensi maksimum dari agregates
kasar tidak lebih dari 20 cm dan tidak boleh lebih dari seperempat
dimensi beton yang terkecil dari bagian konstruksi yang
bersangkutan. Pasir harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam
dan bebas dari bahan-bahan organis. lumpur, tanah lempung dan
sebagainya.
c. Air
Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tidak
mengandung minyak, asam alkali dan bahan-bahan organik atau
bahan-bahan lain yang dapat mengurangi mutu pekerjaan.
Kandungan chlorida tidak boleh melebihi 500 p.p.m dan komposisi
sulfat (S04) tidak boleh melebihi 1000 ppm apabila dipandang perlu.
Manajemen Konstruksi dapat minta kepada Penyedia Jasa
Konstruksi supaya air yang dipakai diperiksa di laboratorium
pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya Penyedia Jasa
Konstruksi.

d. Besi beton
- Besi beton harus bebas dari karat dan lapisan lain-lain yang
dapat mengurangi daya lekat pada beton. Kecuali ditentukan
lain dalam gambar. Mutu besi yang digunakan BJTP 24 untuk
12 mm dan BJTD 39 untuk D > 12 mm.
- Untuk mendapatkan jaminan akan kualitas besi yang diminta.
maka disamping adanya sertifikat dari pabrik, juga harus
ada/dimintakan sertifikat dari laboratorium baik pada saat
pemesanan maupun secara periodik minimum masing-masing
2 contoh percobaan (stress-strain) dan pelengkungan untuk
setiap 20 ton besi. Pengetesan dilakukan pada laboratorium
yang disetujui Manajemen Konstruksi.

26
e. Admixture
- Pada umumnya dengan pemilihan bahan-bahan yang
seksama, cara mencampur dan mengaduk yang baik dan cara
pengecoran yang cermat tidak diperlukan penggunaan sesuatu
admixture.
- Jika menggunakan admixture masih dianggap perlu Penyedia
Jasa Konstruksi diminta terlebih dahulu memberitahukan nama
Perdagangan admixture tersebut dengan keterangan mengenai
tujuan. data-data bahan. nama pabrik produksi, jenis bahan
mentah utamanya, cara-cara pemakaiannya, resiko-resiko dan
keterangan-keterangan lain yang dianggap perlu.

3. Pelaksanaan
a. Kualitas beton
- Kecuali ditentukan lain dalam gambar. kualitas beton adalah K-
300 (tegangan tekan hancur karakteristik untuk silinder beton
pada usia 28 hari kalender).
- Evaluasi penentuan karakteristik ini digunakan ketentuan-
ketentuan yang terdapat dalam SNI-03-2847-2002 dan SNI-03-
2847-2013 atau peraturan yang relevan. Mutu beton pekerjaan
beton bertulang sekunder K-175 digunakan untuk struktur
sekunder seperti kolom praktis dan bagian-bagian lain yang tidak
memikul beban kecuali ditentukan lain.
- Penyedia Jasa Konstruksi harus memberikan jaminan atas
kemampuan membuat kualitas beton ini dengan memperhatikan
data-data pelaksanaan di lain tempat atau dengan mengadakan
trial mixes di laboratorium yang ditunjuk oleh Manajemen
Konstruksi.
b. Test selama pekerjaan.
Pembuatan 3 silinder beton dari setiap truk mixer Buat dan simpan
silinder-silinder beton menurut ASTM 31. Test satu silinder beton pada
hari ke 7 dan satu silinder beton pada hari ke 28 menurut ASTM C 39.
Simpan satu silinder sebagai cadangan untuk test pada hari ke 56 jika
test pada hari ke 28 gagal. Jika test silinder beton pada hari ke 28
berhasil, test silinder beton cadangan untuk menghasilkan kekuatan
rata-rata dari kedua silinder beton pada hari ke 28. Sediakan fasilitas
pada lokasi proyek untuk menyimpan contoh-contoh yang diperlukan
oleh badan penguji.
c. Penyedia Jasa Konstruksi harus membuat laporan tertulis atas data-
data kualitas beton yang dibuat dengan disahkan oleh Manajemen
Konstruksi dan laporan tersebut harus dilengkapi dengan nilai
karakteristiknya. Laporan tertulis tersehut harus disertai sertifikat dari
laboratorium. Penunjukkan laboratorium harus dengan persetujuan
Manajemen Konstruksi.

27
1) Selama pelaksanaan harus ada pengujian slump 8 cm 2 cm.
2) Pengujian silinder beton percotohaan harus dilakukan di
laboratorium yang disetujui Manajemen Konstruksi.
3) Perawatan silinder beton percobaan tersebut adalah dalam pasir
basah tapi tidak tergenang air, selama 7 (tujuh) hari dan
selanjutnya dalam udara terbuka.
4) Jika dianggap perlu, maka digunakan pembuatan silinder beton
percobaan untuk umur 7 (tujuh) hari dengan ketentuan bahwa
hasilnya tidak boleh kurang dari 65% kekuatan yang diminta
additives. Jika hasil kuat tekan benda-benda uji tidak
memberikan angka kekuatan yang diminta maka harus dilakukan
pengujian beton setempat dengan cara-cara seperti yang
ditetapkan dalam SNI-03-2847-2013 dengan tidak menambah
beban biaya bagi Pemberi Tugas.
5) Penyampaian beton (adukan) dari mixed, ketempat pengecoran
harus dilakukan dengan cara yang tidak mengakibatkan
terjadinya pemisahan komponen-komponen beton (segregasi).
Harus digunakan vibrator untuk pemadatan beton.
d. Instruksi dan pembongkaran bekisting
Pembongkaran acuan dan penempatan siar-siar pelaksanaan,
sepanjang tidak ditentukan lain dalam gambar, harus mengikuti
persyaratan dari SNI-03-2847-2013. Siar-siar tersebut harus
dibasahi lebih dahulu dengan air semen tepat sebelum pengecoran
lanjutan dimulai. Letak siar-siar tersehut harus disetujui oleh
Manajemen Konstruksi.
e. Penggantian besi
1) Penyedia Jasa Konstruksi harus berupaya agar besi yang
dipasang adalah sesuai dengan apa yang tertera pada gambar.
2) Dalam hal dimana berdasarkan pengalaman Penyedia Jasa
Konstruksi atau pendapatnya terdapat kekeliruan atau
kekurangan atau perlu penyempumaan pembesian yang ada,
maka :
- Penyedia Jasa Konstruksi dapat menambah ekstra besi dengan
tidak mengurangi pembesian yang tertera dalam gambar.
Secepatnya hal ini diberitahukan pada Perencana Konstruksi
untuk sekedar informasi.
- Jika hal tersebut diatas dimintakan pekerjaan tambah oleh
Penyedia Jasa Konstruksi, maka penambahan tersebut hanya
dapat dilakukan setelah ada persetujuan tertulis dari
Manajemen Konstruksi.
- Jika diusulkan perubahan dari jalannya pembesian maka
perubahan tersebut hanya dapat dijalankan dengan pcrsetujuan
tertulis dari Perencana Konstruksi. Mengajukan Usul dalam

28
rangka tersebut diatas adalah merupakan juga keharusan dari
Penyedia Jasa Konstruksi.
- Jika Penyedia Jasa Konstruksi tidak berhasil mendapatkan
diameter besi yang sesuai dengan orang ditetapkan dalam
gambar, maka dapat dilakukan penukaran diameter besi
dengan diameter yang terdekat dengan catatan harus ada
persetujuan dari Manajemen Konstruksi.
- Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat
tersebut tidak boleh kurang dari yang tertera dalam gambar
(dalam hal ini yang dimaksudkan adalah jumlah luas)
- Penggantian tersebut tidak boleh mengakibatkan kemampuan
penampang berkurang.
- Penggantian tersebut tidak boleh mengakibatkan. keruwetan
pembesian ditempat tersebut atau didaerah overlapping yang
dapat menyulitkan pembetonan atau penyampaian penggetar.
f. Perawatan beton
- Beton harus dilindungi dari pengaruh panas, hingga tidak terjadi
penguapan cepat.
- Persiapan perlindungan atas kemungkinan datangnya hujan,
harus diperhatikan.
- Beton harus dibasahi paling sedikit selama 14 hari setelah
pengecoran
- Khusus elemen vertikal harus dipakai curing compound

4. Tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi


Penyedia Jasa Konstruksi bertanggungjawab penuh atas kualitas konstruksi
sesuai dengan ketentuan-ketentuan diatas dan sesuai dengan gambar-
gambar konstruksi yang diberikan. Adanya atau kehadiran Manajemen
Konstruksi selaku wakil pemberi tugas atau perencanaan yang sejauh
mungkin melihat / mengawasi menegur atau memberi nasihat tidaklah
mengurangi tanggung jawab penuh tersebut diatas.

5. Contoh yang harus disediakan


a. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa Konstruksi harus
memberikan contoh material : split, pasir, besi beton, semen untuk
mendapatkan persetujuan Manajemen Konstruksi.
b. Contoh-contoh yang telah disetujui oleh Manajemen Konstruksi akan
dipakai sebagai standar / pedoman untuk memeriksa / menerima
material yang dikirim oleh Penyedia Jasa Konstruksi ke lapangan.
c. Penyedia Jasa Konstruksi diwajibkan untuk membuat tempat
penyimpanan contoh-contoh yang telah disetujui dibangsal pengawas.

29
6. Sparing conduit dan pipa-pipa
a. Letak dari Sparing supaya tidak mengurangi kekuatan struktur.
b. Tempat-tempat dari sparing dilaksanakan sesuai dengan gambar
pelaksanaan dan bila tidak ada dalam gambar, maka Penyedia Jasa
Konstruksi harus mengusulkan dan meminta persetujuan dari
Manajemen Konstruksi.
c. Bilamana sparing (pipa conduit) harus dipasang sebelum pengecoran
diperkuat sehingga tidak akan dipindahkan tanpa persetujuan dari
Manajemen Konstruksi.
d. Semua sparing-sparing (pipa conduit) harus dipasang sebelum
pengecoran dan diperkuat sehingga tidak akan bergeser pada saat
pengecoran beton.

7. Beton siap pakai (Ready Mixed Concrete)


a. Bahan-bahan harus sesuai
Pemakaian beton siap pakai (ready mixed concrete) seperti yang
ditentukan dalam standard ASTM C94-94, penggunaannya harus
dengan persetujuan Konsultan Manajemen Konstruksi dan harus
sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam spesiffkasi tersebut.
b. Pengangkutan
Beton harus diangkut dalam suatu truk alat pengaduk beton (mixer
truck). Bila menggunakan truck mixers, maka mixers tersebut harus
terus-menerus berputar. Kecuali Konsultan Manajemen Konstruksi
menyetujui lain maka truk pengangkut adukan, mengaduk dan
mengecor dari alat itu harus sesuai dengan persyaratan standard
ASTM C94-94 dan pengadukan harus terus-menerus dengan
kecepatan perputarannya mengacu pada standard ASTM C94-94.
c. Pemberian air di lapangan
Bila digunakan truk adukan beton, air harus diukur dan dituangkan di
lapangan dibawah Manajemen Konstruksian. Pemberian tambahan air
dilarang pada beton yang sudah diaduk dan siap untuk dicor .

8. Pengangkutan dan pengecoran


a. Persiapan pembetonan
- Sebelum pekerjaan pembetonan dimulai, baja tulangan dan cetakan
beton harus dibersihkan dari kotoran termasuk sisa-sisa beton dari
pengecoran sebelumnya, (baja tulangan baru yang telah berkarat
harus dibersihkan dengan cara penyemprotan air jet atau sand
blasting) semua cetakan beton, penguat cetakan, asas kelurusan dan
sebagainya harus diperiksa dan diteliti, ruangan dimana beton akan
dicor harus sebersih-bersihnya. Lubang-lubang antara sambungan

30
cetakan atau disudut-sudut cetakan harus ditutup dengan material
yang disetujui Konsultan Manajemen Konstruksi.
- Bagian dalam cetakan harus dilapisi dengan bahan yang disetujui
untuk menghindari pelekatan beton pada dinding cetakan dan dijaga
agar bahan lapisan itu tidak menempel pada baja tulangan. Lagi pula
dimana perlu untuk mencegah terhisapnya air dari beton, maka
cetakan harus dibasahi seluruhnya, sebelum pekerjaan pembetonan
dimulai dan air yang berlebihan dicetakan itu harus dikeluarkan. Hal
lain diluar ketentuan diatas harus mengikuti ketentuan yang sesuai
pada PBI 1971, SNI-03-2847-2002, atau SNI-03-2847-2013.
b. Mulai pekerjaan pembetonan
- Tidak ada pekerjaan pembetonan yang dapat dimulai sebelum
persiapan serta ijin untuk itu disetujui oleh Konsultan Manajemen
Konstruksi. Pemberitahuan yang cukup jelas kepada Konsultan
Manajemen Konstruksi, bahwa suatu bagian pekerjaan sudah dapat
dicor, sehingga dengan demikian Manajemen Konstruksi dapat hadir
dan mengadakan pengujian, memeriksa, meneliti dan sebagainya
yang mungkin sangat diperlukan.
- Paling lambat 12 jam setelah ada persetujuan dari Konsultan
Manajemen Konstruksi pekerjaan pembetonan harus segera dimulai
untuk menghindari proses terjadinya karat pada tulangan. Apabila
tulangan telah berkarat maka sebelum dilakukan pengecoran harus
dibersihkan terlebih dahulu dari karat tersebut dengan sistem sand
blasting. Pengecoran hanya boleh dilakukan jika Konsultan
Manajemen Konstruksi atau wakilnya yang ditunjuk ada di tempat
pekerjaan.
c. Pengangkutan beton
- Segera bila tidak ada suatu hal maka paling lama 2 jam setelah mulai
pengadukan, beton harus sudah dituang dari alat pengaduk ketempat
pekerjaan dengan suatu alat yang dapat melindungi dari pengaruh
kontaminasi, segtegasi atau hilangnya bahan-bahan utama dari
beton. Penggunaan pompa untuk pengecoran beton hanya dapat
diijinkan oleh Konsultan Manajemen Konstruksi.
- Setiap perubahan (modifikasi) yang mungkin dibuat terhadap
perbandingan bahan-bahan beton untuk menggunakan pompa dalam
pengecoran harus mendapat persetujuan dari Konsultan Manajemen
Konstruksi dan atas biaya Penyedia Jasa Konstruksi. Dalam hal
dimana menyangkut faktor air semen yang dipersyaratkan untuk
suatu kelas dan mutu beton sehingga, beton tidak diperkenankan
untuk dipompakan, maka beton harus diangkut dengan suatu alat
kedap air yang jenis dan ukurannya disetujui oleh Konsultan
Manajemen Konstruksi. Hal lain diluar ketentuan diatas harus
mengikuti ketentuan yang ada pada SNI-03-2847-2013.
d. Pengecoran beton

31
- Semua beton harus dituang sesuai dengan posisi dan urutan yang
ditunjukkan dalam gambar, spesifikasi atau yang ditunjukkan oleh
Konsultan Manajemen Konstruksi dengan suatu alat yang dapat
mencegah kontaminasi, segregasi atau hilangnya bahan-bahan
utama beton. Beton harus dituang sedekat mungkin ke dalam
posisinya dicetakan dan akan diratakan secara horizontal serta
dipadatkan pada ketebalan/setinggi antara 150 s/d 300 mm.
Penyebaran dan perataan beton dalam cetakan sangat perlu, dan ini
dilakukan dengan suatu alat yang disetujui dan harus dibantu dengan
vibrator (Mechanical Vibrator). Penuangan Beton kedalam cetakan
tidak boleh melebihi dari ketinggian 1.0 m.
- Desain dan kemiringan dari corong penuangan yang dipakai dalam
pengecoran beton harus disetujui Konsultan Manajemen Konstruksi.
- Jika beton dituang dengan menggunakan pompa, maka biaya
ditanggung oleh Penyedia Jasa Konstruksi sendiri, Penyedia Jasa
Konstruksi harus mengatur kecepatan penuangan beton untuk
menghindari segregasi atau kerusakan dan gangguan pada baja
tulangan, cetakan dan sebagainya. Kecuali disyaratkan, tidak boleh
ada kemiringan sehubungan dengan penuangan beton. Penghentian
pengecoran harus direncanakan dan harus mendapat persetujuan
Konsultan Manajemen Konstruksi. Tempat dan bentuk
pemberhentian pengecoran harus mengikuti ketentuan pada SNI-03-
2847-2013.
- Semua pengecoran bagian dasar konstruksi beton yang menyentuh
tanah, harus diberi lantai dasar dari beton tak bertulang dengan
campuran 1PC : 3PS : 5 KR setebal minimum 5 cm, untuk menjamin
duduknya tulangan dengan baik dan tidak ada penyerapan air semen
ke dalam tanah. Selama hujan yang dapat berpengaruh pada
campuran beton, maka pengecoran harus diberhentikan atau apabila
Penyedia Jasa Konstruksi telah menyediakan suatu sarana pelindung
khusus yang memungkinkan pekerjaan pengecoran tidak terganggu
oleh hujan. Semua prosedur dan persiapan harus dikonsultasikan
terlebih dahulu kepada Konsultan Manajemen Konstruksi/Ahli Teknik
untuk mendapar persetujuan.
- Selama pengecoran beton agar tidak mengganggu posisi
penulangan, maka tukang pemasang baja tulangan harus selalu
berada di pekerjaan itu atau berturut-turut hadir dalam kegiatan
pengecoran beton tersebut untuk membetulkan posisi dari baja
tulangan.
- Jadwal waktu untuk pengecoran beton haruslah diatur sedemikian,
sehingga tidak ada permukaan beton yang dibiarkan lebih dari 30
menit sebelum pengecoran beton selanjutnya. Istirahat makan,
penggantian kelompok (shifting group) dan sebagainya, serta
pemberhentian posisi pengecoran haruslah diatur secara simultan
yang cermat dan hati-hati untuk meyakinkan bahwa interval diatas

32
tidak akan mengganggu mutu pelaksanaan serta pekerjaan. Hal lain
diluar ketentuan diatas harus mengikuti ketentuan yang ada pada
SNI-03-2847-2013.
e. Pentingnya pemadatan
- Beton harus selalu dipadatkan dan disempurnakan permukaannya
terutama untuk bagian sambungan-sambungan. Sangatlah penting
untuk memadatkan keseluruhan dari beton dan meyakinkan kondisi
homogenitas beton serta bebas dari porositas, selain itu bagian
permukaan sambungan itu harus segera dihubungkan dengan beton
baru.
- Pemadatan tidak terbatas pada permukaan atas dari lapisan-Iapisan
penuangan, tetapi harus keseluruhan, sehingga semua beton
menjadi padat, dan dapat dilihat seperti permukaan jelly.
- Hal-hal lain diluar ketentuan diatas mengikuti ketentuan yang ada
pada SNI-03-2847-2013.
f. Penggetaran beton
- Semua beton harus digetar kecuali ada persyaratan atau perintah
yang lain dan penggetaran adalah merupakan permintaan Konsultan
Manajemen Konstruksi sebagai tambahan terhadap pemadatan
beton jadi bukan sebagai pengganti pemadatan yang telah
dicantumkan dalam pasal lain. Semua pekerjaan penggetaran harus
dilaksanakan/berdasarkan rencana yang disetujui oleh Konsultan
Manajemen Konstruksi. Tidak ada orang yang diijinkan untuk
mengoperasikan alat penggetar tanpa instruksi dan latihan lebih dulu
bagaimana menggunakan peralatan tersebut. Alat penggetar
(immersion vibrator) yang digunakan minimal harus mempunyai
frekuensi 8000 cycles/ menit dan harus mengacu pada pola dan
pengaturan yang telah disetujui. Pelaksanaan harus hati-hati untuk
menghindari segregasi dan penggetaran yang berlebihan. Hal-hal lain
diluar ketentuan diatas mengikuti ketentuan yang ada pada SNI 2013.
g. Perataan permukaan dan finishing
- Semua permukaan dari plat beton atau bagian-bagian lain yang tidak
harus ditutup harus diratakan dengan cara yang disetujui Konsultan
Manajemen Konstruksi sampai rata dan padat dengan peralatan
berupa alat perata dari baja. Pelaksanaannya harus hati-hati untuk
meyakinkan, bahwa beton benar-benar merata dan padat. Pada
prinsipnya finishing untuk permukaan beton yang akan mendapat
tambahan beton di atasnya (concrete topping) harus dikasarkan
dengan cara sebagaimana ditunjukkan dalam gambar. Sedangkan
untuk permukaan beton yang terbuka (exposed), finishing yang
disyaratkan adalah finishing halus atau apabila ditentukan lain oleh
Konsultan Manajemen Konstruksi.

33
h. Kedudukan siar pelaksanaan (Construction Joint)
- Siar pelaksanaan harus dinyatakan dalam gambar atau seperti yang
disetujui oleh Konsultan Manajemen Konstruksi. Semua pekerjaan
pembetonan pada sambungan konstruksi harus menerus. Pada
permukaan yang terlihat, siar pelaksanaan harus dengan hati-hati
dibentuk agar didapatkan garis lurus yang rapi atau dimana
ditunjukkan pada gambar harus dibentuk dengan bentuk khusus
antara permukaan beton yang terdahulu dicor dan pengecoran
kelanjutannya.
- Agar pertemuan antara dua permukaan konstruksi tersebut dapat
benar-benar bersatu dan monolit, maka antara permukaan beton
lama dan baru harus dipersiapkan sebaik-baikrlya, atau diberi
bonding agent yang sesuai dengan persyaratan, bila memang
diperlukan
- Siar pelaksanaan harus dibuat dan ditempatkan sedemikian rupa
sehingga tidak mengurangi kekuatan dan keawetan konstruksi dan
mampu meneruskan gaya geser dan gaya lainnya.
- Spesi semen (cement grout) yang berbentuk celah berukuran lebar
25 mm dan tinggi 40 mm harus disediakan pada semua siar
pelaksanaan datar dimana bentuk khusus diatas tidak
dipersyaratkan.
- Bahan perekat yang sesuai harus diberikan pada akhir atau
permukaan-permukaan lain dari bagian-bagian yang melebihi 200
mm tebal untuk tujuan mengunci bagian-bagian itu terhadap
sambungan. Bahan perekat itu harus diberikan pada seluruh
permukaan sambungan dan harus mempunyai kemiringan
kesamping seperti pada gambar detil. Hal lain yang tidak termasuk
dalam ketentuan diatas mengikuti ketentuan yang ada pada SNI-03-
2847-2013.

9. Prosedur pada siar pelaksanaan


- Pada siar pelaksanaan datar, pembersihan lapisan bekas cetakan
dan tonjolan- tonjolan batu pada permukaan harus dilaksanakan,
secara praktis dengan cara pencucian dan penyikatan setelah
pengecoran, harus dilaksanakan hati-hati agar adukan tidak tererosi.
Setelah pembersihan, kelebihan air harus segera dikeluarkan agar
tidak terhisap oleh semen.
- Dalam hal dimana beton mulai proses mengikat tetapi belum mulai
mengeras, pembersihan dari lapisan bekas cetakan dan membuat
kasar permukaan beton sambungan harus dilaksanakan dengan sikat
kawat dan mencucinya harus sangat hati-hati, agar tidak merusak
lapisan dibawahnya. Baik pada sambungan vertikal atau horizontal,
dimana beton telah mulai mengeras, setiap kulit atau lapisan bekas
cetakan harus dibersihkan dan permukaan dibuat kasar memakai

34
palu dengan kekuatan tertentu dan dilanjutkan dengan sikat kawat
untuk membersihkan semua partikel.
- Bila memakai prosedur ini, maka pelaksanaannya harus amat sangat
hati-hati untuk menghindari keretakan permukaan sambungan dan
sekitar tempat batu- batu yang menonjol. cara manapun yang dipakai
untuk pembersihan permukaan yang kelihatan, bahan-bahan yang
asing-asing harus dibersihkan dali permukaan itu dengan sikat kawat
lebih lanjut bila perlu, sebelum pemasangan beton selanjutnya.
- Kemudian keseluruhannya harus dicuci bersih dengan air bersih dan
dihembus. Sangatlah penting bahwa beton harus dituang/dicor pada
permukaan-permukaan yang telah disiapkan, pemadatan dan
penggetaran dimana perlu, harus dila'kukan pada permukaan lama
dan kesudut-sudut cetakan beton. Hal lain yang tidak termasuk
ketentuan diatas, mengikuti ketentuan yang ada pada SNI-03-2847-
2013.

10. Siar sambungan


Siar-siar sambungan harus dilaksanakan seperti yang ditunjukkan dalam
gambar atau bila tidak harus atas petunjuk Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi.

11. Parit / alur, lubang


Parit, lekukan, rabat dan lubang-Iubang harus diisi dengan beton seperti
pada detil dan posisinya digambar .

12. Jadwal waktu pengecoran


Penyedia Jasa Konstruksi harus menyerahkan jadwal secara detil
mengenai rencana pembetonan semua bagian dari pekerjaan sebelum
memulai pengecoran.

13. Beton tidak boleh diganggu


Harus selalu hati-hati, jangan sampai mengganggu beton dengan
pembebanan atau dengan memukul-mukul/mengetuk-ketuk cetakan secara
langsung maupun tidak langsung pada saat proses pengerasan beton.

14. Pengeringan
- Seluruh beton harus dilindungi selama proses pengerasan terhadap
sinar matahari dan hembusan angin kering, lingkungan harus dalam
keadaan lembab. Semua permukaan beton yang terlihat harus terus-
menerus dibasahi dengan air bersih selama 14 (empat belas) hari
setelah pengecoran.
- Dalam hal pelat beton atau pengecoran beton pada luas permukaan
yang sangat besar, rangka kayu dibalut dengan karung goni basah

35
untuk menutup beton. Bila beton telah mengeras, kerangkanya tadi
diambil dan penutup karung goni yang dibasahi langsung menutupi
beton, atau dilakukan pembasahan pada permukaan beton dengan
cara menggenangi air.
- Selama 14 (empat belas) hari beton harus tetap terus-menerus
dibasahi (Jangan menyemprot penutup tadi dengan air bersih. Curing
compound bisa digunakan apabila disetujui oleh Konsultan
Manajemen Konstruksi. Bila disetujui, maka harus secara mutlak
mengikuti instruksi dan rekomendasi dari pabrik pembuat.
Persetujulan sewaktu- waktu akan dibatalkan bila ternyata hasilnya
tidak memuaskan dan pengeringan untuk pengecoran beton yang
kurang dari 14 (empat belas) hari harus dilanjutkan dengan cara
seperti diatas.
- Penggunaan curing compound tidak akan diijinkan untuk permukaan
yang akan ditutup dengan bahan bitumen atau untuk permukaan
yang menuntut pengikatan secara struktural dengan cor beton
selanjutnya dikemudian hari.
- Lembaran polythene mungkin bisa digunakan dengan seijin
Konsultan Manajemen Konstruksi. Lembaran harus bebas dari
permukaan cetakan dan sambungan harus ditutup untuk menahan
penguapan, lembaran seperti itu harus tetap ditempat selama 14
(empat belas) hari setelah pengecoran. Hal lain diluar ketentuan
diatas, mengikuti ketentuan yang ada pada SNI-03-2847-2013.

15. Perawatan permukaan normal


Semua permukaan beton harus benar-benar halus. Setiap permukaan
yang bersisik harus dibersihkan, dan lobang berisi udara (keropos) harus
diisi campluran spesi 1 PC : 1 PS. Setiap permukaan yang memerlukan
perawatan setelah dibuka, seperti yang diuraikan diatas, kemudian harus
digosok dengan balok carborundum dan dicuci sampai bersih. Tidak pada
pelaksanaan perawatan permukaan sebelum ada pemeriksaan permukaan
itu oleh Konsultan Manajemen Konstruksi. Pelaksanaan perawatan
permukaan normal harus dibawah Manajemen Konstruksian Konsultan
Manajemen Konstruksi atau wakilnya yang ditunjuk.

16. Penolakan dari pekerjaan yang rusak


- Walaupun telah ada persetujuan Konsultan Manajemen Konstruksi
akan cara-cara pengecoran dan pemadatan beton dan hasil yang
memuaskan atau hasil uji kubus yang relevan, Konsultan Manajemen
Konstruksi berhak menolak setiap pengerasan beton yang ternyata
tidak padat, porous dan keropos. Kerusakan-kerusakan kecil mungkin
bisa diperbaiki dengan mengisi spesi/ plester dengan pertimbangan
dan kebijaksanaan Konsultan Manajemen Konstruksi.

36
- Bila tidak, beton yang telah ditolak atau yang tidak sesuai dengan
spesifikasi harus dihancurkan dan diganti dengan beton baru, yang
semuanya atas biaya Penyedia Jasa Konstruksi .

17. Pencegahan selama cuaca yang buruk


Selama cuaca yang berangin, perlindungan yang efisien harus
dilaksanakan untuk menghindari semen terhembus angin, selama proses
pembagian dan pencampuran. Selama musim hujan beton harus cukup
terlindung, demikian juga setelah proses pengecoran. Pada waktu hujan
lebat tidak ada pekerjaan pembetonan, kecuali terlindung total pada waktu
mencampur, mengangkut dan menuang, demikian juga setelah proses
penuangan.

18. Pengecoran beton pada cuaca panas


Tidak ada pembatasan untuk pengecoran beton pada cuaca panas, akan
tetapi bila suhu pada waktu itu melebihi 28 derajad Celcius, dan bila
Penyedia Jasa Konstruksi tetap akan mencampur serta mengecor beton
pada cuaca yang sedemikian itu, maka haruslah mengikuti ketentuan
sebagai berikut
- Seluruh bahan-bahan untuk beton harus terlindung dari sinar matahari
secara langsung, demikian juga sebelum, selama dan setelah
pencampuran.
- Air pencampur harus melalui alat pendingin atau sebagian dari air
pencampur harus ditambah dengan air es. Untuk maksud ini, es harus
disediakan dalam keadaan hancur (pecah-pecah).
- Harus hati-hati untuk meyakinkan bahwa es tersebut telah mencair
seluruhnya.
- Agar diusahakan menutup, mengisolasi dan/atau mengecat putih
semua tanki-tanki, pipa-pipa dan truck mixer .
- Seluruh penutup, cetakan dan tulangan harus disemprot dengan air
dingin segera sebelum pengecoran beton.
- Perhatian khusus harus dilakukan terhadap perlindungan dan
pengeringan beton; seluruh penutup dan cetakan harus tetap dalam
keadaan dingin dan terlindung dari sinar matahari langsung dengan
penutup kain goni basah atau bahan-bahan isolasi lain yang disetujui.
- Bila suhu dari campuran beton sebelum dicor melebihi 35 derajat
celcius maka seluruh pekerjaan pembetonan harus dihentikan.
- Beton dapat dibuat dan dicor pada waktu malam hari, asalkan disetujui
oleh Konsultan Manajemen Konstruksi sesuai pasal pada Persyaratan
Kontrak, dan bila penerangan dari cahaya lampu memuaskan.
- Harus dibuat slump test pada suhu saat itu yang berpengaruh dan
Penyedia Jasa Konstruksi iminta untuk menyimpan rekaman dari
slump dan suhu dari berbagai kelas dan mutu beton dengan faktor air

37
semen yang sama. Dan pada kondisi apapun faktor air semen tidak
boleh ditambah pada saat suhu naik.

F. PEKERJAAN BETON STRUKTUR NON STRUKTUR


1. Umum
a. Lingkup pekerjaan
- Menyediakan tenaga kerja bahan-bahan, peralatan dan alat alat
bantu lainnya untuk melaksanakan seperti dinyatakan dalam
gambar dengan hasil yang baik dan sempurna.
- Pekerjaan ini meliputi kolom praktis beton ring balok untuk
hangunan yang dimaksudkan termasuk besi beton dan pekerjaan
bekisting / acuan dan semua pekerjaan beton yang bukan struktur
sesuai yang ditunjukkan didalam gambar.
b. Standar
Pengendalian pekerjaan ini harus sesuai dengan :
- Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung
SNI 03-2847-2002 dan SNI 03-2847-2013
- Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) 1971.
- Persyaratan Umum Bahan bangunan Indonesia 1982 NI-3
- Peraturan Semen Portland Indonesia 1972. N -8.
- Pedoman Perencanaan untuk Struktur Beton Bertulang Biasa dan
Struktur Tembok 1983.
- Peraturan-peraturan/standart setempat yang biasa dipakai
- Peraturan pemhangunan pemerintah daerah setempat.
- Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan lisan maupun tertulis
yang diberikan perencana.
- Standar Normalisasi Jerman (D1N)
- AmeriCan Society Testing and Material (ASTM) C 33 (concrete
aggregates) C150 (portland cement)
- American Concrete Institute (ACI). 211 (recommended practice for
selecting proportions for normal and heavy weight concrete)

2. Bahan
a. Semen Portland
Yang digunakan harus dari mutu yang terbaik- terdiri dari satu jenis
merek dan atas persetujuan Manajemen Konstruksi dan harus
memenuhi NI-8. Semen yang telah mengeras sebagian / seluruhnya
tidak dibenarkan untuk digunakan. Penyimpanan semen portland
harus diusahakan sedemikian rupa sehingga bebas dari kelembaban.
bebas dari air dengan lantai terangkat dari tanah dan ditumpuk sesuai
dengan syarat penumpukan semen.

38
b. Pasir beton
Harus terdiri dari butir-butir yang bersih dan bebas dari bahan-bahan
organis, lumpur dan sebagainya dan harus memenuhi komposisi butir
serta kekerasan yang dicantumkan dalam SNI-03-2847-2013.
c. Koral beton/ split
Digunakan koral yang bersih, bermutu baik tidak berpori serta
mempunyai gradasi kekerasan sesuai syarat-syarat SNI-03-2847-
2013. Penyimpanan/penimbunan pasir koral beton harus dipisahkan
satu dengan yang lain. hingga dapat dijamin kedua bahan tersebut
tidak tercampur untuk mendapatkan perbandingan adukan beton yang
tepat.
d. Air
Air digunakan harus air tawar yang bersih dan tidak mengandung
minyak, asam, alkali dan bahan organis / bahan lain yang dapat
merusak beton. Apabila dipandang perlu Manajemen Konstruksi dapat
minta kepada Penyedia Jasa Konstruksi supaya air yang dipakai
diperiksa di laboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas
biaya Penyedia Jasa Konstruksi.
e. Besi beton
- Digunakan besi mutu U24 (fy = 240 MPa), besi harus bersih dari
lapisan minyak / lemak dan bebas dari cacat seperti serpih-serpih.
Penampang besi bulat serta memenuhi persyaratan SNI-03-2847-
2013. Bila dipandang perlu kontrator diwajibkan untuk memeriksa
mutu besi beton ke laboratorium pemeriksaan bahan yang dan sah
atas biaya Penyedia Jasa Konstruksi.
- Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Penyedia Jasa Konstruksi harus
memberikan contoh-contoh material misalnya : besi, koral, pasir,
PC untuk mendapatkan persetujuan dari Manajemen Konstruksi.
- Contoh-contoh yang telah disetujui oleh Manajemen Konstruksi,
akan dipakai sebagai Standart/pedoman untuk
memeriksa/menerima material yang dikirim oleh Penyedia Jasa
Konstruksi ke site.
f. Syarat pengiriman dan penyimpanan bahan
- Bahan harus didatangkan ketem1at pekerjaan dalam keadaan utuh
dan tidak bercacat. Beberapa bahan tertentu harus masih didalam
kotak/kemasan aslinya yang masih tersegel dan berlebel pabriknya.
- Bahan harus disimpan ditempat yang terlindungi dan tertutup,
kering, tidak lembab dan bersih sesuai dengan persyaratan yang
telah ditentukan pabrik.
- Tempat penyimpanan harus cukup, bahan ditempatkan dan
dilindungi sesuai dengan jenisnya.
- Penyedia Jasa Konstruksi bertanggungiawab terhadap kerusakan
selama pengiriman dan penyimpanan. Bila ada kerusakan.

39
Penyedia Jasa Konstruksi wajib mengganri atas beban Penyedia
Jasa Konstruksi.

3. Pelaksanaan
a. Mutu beton
Mutu beton yang dicapai dalam pekerjaan beton bertulang sekunder
adalah K175 dan harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam
SNI-03-2847-2013.
b. Pembesian
- Pembuatan tulang-tulangan untuk batang lurus atau yang
dibengkokkan. sambungan kait-kait dan pembuatan sengkang
(beugel). persyaratan harus sesuai dengan SNI-03-2847-2013.
- Pemasangan dan penggunaan tulangan beton harus disesuaikan
dengan gambar konstruksi.
- Tulangan beton harus diikat dengan kuat untuk menjamin besi
tersebut tidak berubah tempat selama pengecoran dan harus diikat
dengan papan acuan atau lantai kerja dengan memasang selimut
beton sesuai dengan ketentuan SNI-03-2847-2013.
- Besi beton yang tidak memenuhi syarat harus segera dikeluarkan
dari lapangan kerja dalam waktu 1 x 24 jam setelah ada perintah
tertulis dari Manajemen Konstruksi.
c. Cara pengadukan
- Cara pengadukan harus menggunakan beton molen yang kondisi
mesin dan fisiknya baik (tidak rusak)
- Takaran untuk semen Portland, pasir dan koral harus sesuai
dengan spesifikasi yang ditetapkan dan harus disetujui oleh
Manajemen Konstruksi. Operator beton molen harus orang yang
ahli dalam bidangnya.
- Selama pengadukan kekentalan adukan beton harus diawasi
dengan jalan memeriksa slump pada setiap campuran haru.
Pengujian slump 8 cm 2 cm.
d. Pengecoran beton
- Penyedia Jasa Konstruksi diwajibkan melaksanakan pekerjaan
persiapan dengan membersihkan dan menyiram cetakan-cetakan
sampai jenuh, pemeriksaan ukuran-ukuran dan ketinggian serta
pemeriksaan penulangan dan penempataan penahan jarak.
Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan
Manajemen Konstruksi.
- Pengecoran harus dilakukan sebaik mungkin dengan menggunakan
alat penggetar untuk menjamin beton cukup padat dan harus
dihindarkan terjadinya cacat pada beton seperti keropos dan
sarang-sarang koral/split yang dapat memperlemah konstruksi.

40
- Apabila pengecoran beton akan dihentikan dan diteruskan pada hari
berikutnya, maka tempat perhentian tersebut harus disetujui
Manajemen Konstruksi.
e. Pekerjaan acuan / bekisting
- Acuan harus dipasang sesuai dengan bentuk dan ukuran-ukuran
yang telah ditetapkan / yang diperlukan dalam gambar.
- Acuan harus dipasang sedemikian rupa dengan perkuatan-
perkuatan sehingga cukup kokoh dan dijamin tidak akan berubah
bentuk dan kedudukannya selama pengecoran dilakukan.
- Acuan harus rapat (tidak bocor). permukaan licin. bebas dari
kotoran-kotoran (tahi gergaji), potongan kayu, tanah atau lumpur
dan sebagainya, setelah pengecoran dilakukan harus mudah
dibongkar tanpa merusak permukaan beton.
- Kontaktor harus memberikan contoh-contoh material (besi, koral,
pasir dan semen Portland) kepada Manajemen Konstruksi. untuk
mendapatkan persetujuan sebelum pekerjaan dilakukan.
- Bahan-bahan yang digunakan harus tersimpan dalam tempat
penyimpanan yang aman. sehingga mutu bahan dan mutu
pekerjaan tetap terjamin sesuai persyaratan.
- Kawat pengikat besi beton / rangka adalah dari baja lunak dan tidak
disepuh seng. Diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40
mm. Kawat pengikat besi beton / rangka harus memenuhi syarat-
syarat yang ditentukan dalam SNI-03-2847-2013.
- Beton harus dilindungi dari pengaruh panas, hingga tidak terjadi
penguapan cepat. Persiapan perlindungan atas kemungkinan
datangnya hujan, harus diperhatikan.
- Beton harus dibasahi paling sedikit selama sepuluh hari setelah
pengecoran.
f. Pekerjaan pembongkaran acuan / bekisting
Pembongkaran bekisting hanya boleh dilakukan dengan ijin tertulis dari
Manajemen Konstruksi. Setelah bekisting dibuka, tidak diijinkan
mengadakan perubahan apapun pada permukaan beton tanpa
persetujuan dari Manajemen Konstruksi.

4. Pengujian mutu pekerjaan


a. Sebelum dilaksanakan pemasangan, Penyedia Jasa Konstruksi
diwajibkan untuk memberikan pada Manajemen Konstruksi certificate
test bahan besi dari produsen / pabrik. Bila tidak ada certificate test,
maka Penyedia Jasa Konstruksi harus rnelakukan pengujian atas
besi/kubus di laboratorium yang ditunjuk kemudian.
b. Mutu beton tersebut harus dibuktikan oleh Penyedia Jasa Konstruksi
dengan mengambil benda uji berupa siliider yang ukurannya sesuai
dengan syarat-syarat / ketentuan dalarn SNI-03-2847-2013.

41
c. Pembuatannya harus disaksikan oleh Manajemen Konstruksi dan
diperiksa di laboratorium kontruksi beton yang ditunjuk Manajemen
Konstruksi.
d. Penyedia Jasa Konstruksi diwajibkan membuat trialmix terlebih dahulu.
sebelum memulai pekerjaan beton.
e. Hasil pengujian dari laboratorium diserahkan kepada Manajemen
Konstruksi secepatnya.
f. Seluruh biaya yang berhubungan dengan pengujian bahan tersebut
menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi

G. PONDASI TIANG PANCANG BETON


1. Ketentuan Umum
a. Spesifikasi ini meliputi pengadaan, transportasi, pabrikasi dan instalasi
tiang pancang beton termasuk pengawasan dan pengujian
pembebanan skala penuh pada beberapa pile yang ditentukan.
b. Spesifikasi ini meliputi pabrikasi tiang pancang beton termasuk
pengawasan dan pengujian pekerjaan tiang pancang beton

2. Pelaporan
a. Penyedia Jasa Konstruksi harus mengajukan usulan secara mendetil
mengenai cara penyambungan tiang pancang yang akan dipakai serta
jadwal dan gambar kerja (shop drawing) kepada Manajemen
Konstruksi untuk mendapat persetujuan paling lambat 14 (empat
belas) hari sebelum pabrikasi dimulai.
b. Usulan detil mengenai metode dan peralatan pemancangan harus
diserahkan kepada Manajemen Konstruksi untuk mendapat
persetujuan paling lambat 28 (dua puluh delapan) hari sebelum
mobilisasi alat dilakukan.
c. Penyedia Jasa Konstruksi juga harus menyerahkan detil lengkap
mengenai peralatan dan metode pengujian pembebanan yang akan
diusulkan paling lambat 28 (dua puluh delapan) hari sebelum
mobilisasi peralatan pengujian pembebanan.

3. Laporan Pengendalian Mutu


a. Sebelum melakukan pembelian material tiang pancang, Penyedia Jasa
Konstruksi harus menyerahkan kepada Manajemen Konstruksi salinan
yang sah mengenai laporan proses pengecoran (mill report), analisa,
pengujian sifat-sifat kimiawi dan fisik dari material tiang pancang yang
akan digunakan.
b. Penyedia Jasa Konstruksi juga harus menyerahkan rekaman
pemancangan kepada Manajemen Konstruksi segera setelah

42
pekerjaan pemancangan tiang yang bersangkutan selesai
dilaksanakan.

4. Tiang Pancang Beton


a. Tiang Pancang Beton Presstresed-Precast (Pretensioned Square
Concrete Piles) Tiang Pancang Beton yang dimaksud adalah dari
Bahan Beton Presstresed-Precast (Pretensioned Square Concrete
Piles), dengan mutu beton compressive strength minimal 500
kg/cm2.
b. Spesifikasi teknis dari tiang adalah :
- Dimensi Tiang 500 x 500 mm; square pile
- Tiang Pancang Prestressed Concrete (PC)
- Beban Aksial ijin (Pall) = 112 ton, minimum
- Untuk bangunan utama, lift, entrance, dan bangunan pendukung.
- Tebal selimut beton 45 mm
- Semua dimensi/ukuran dan panjang tiang pancang mengikuti
keterangan pada gambar kerja.
c. Tiang Pancang Beton yang tidak memenuhi syarat akibat over driving
atau juga tidak memenuhi batas maksimal toleransi yang disyaratkan
dalam standar pemancangan harus dicabut dan harus melaksanakan
pemancangan tiang extra pada titik lokasi semula yang menjadi
tanggung-jawab Penyedia Jasa Konstruksi/Penyedia Jasa Konstruksi.

5. Pemberian Tanda, Pengangkutan, dan Penumpukan


a. Pemberian tanda
- Setelah tiang pancang baja dipabrikasi, tanggal pabrikasi, nomor
referensi, panjang dan tanggal pelapisan harus dibuat dan diberi
tanda yang jelas pada tiang pancang, setiap tiang pancang harus
diberi tanda pada interval 250 mm sepanjang 3 m dari bagian atas
panjangnya sebelum dipancang.
b. Pengangkatan, pengangkutan, dan penumpukan
- Cara-cara dan urutan untuk mengangkat, mengangkut dan
menyimpan semua tiang pancang harus sedemikian, sehingga
tiang-tiang pancang tidak mengalami kerusakan.
- Pengangkutan hanya pada titik-titik dan titik topang ditiang pancang
yang telah ditentukan.
- Selama pengangkutan dan penumpukan, tiang pancang harus
ditumpuk dengan ditopang pada titik-titik angkatnya.
- Pengangkatan tiang pancang harus dengan tali sling (tali baja).
- Lubang atau kait-kait harus tidak menempel pada tiang pancang
untuk tujuan pengangkatan.

43
- Selama pengangkatan, tiang-tiang pancang harus cukup dilindungi
dari kerusakan lapisan pelindung karena tali baja (sling) tersebut
dengan lapisan karet atau bahan lain.
- Tiang pancang akan ditegakkan dengan pengangkatan pada titik-
titik angkatnya.
- Semua tiang pancang pada tumpukan harus ditumpuk secara
kelompok (grup) dengan panjang sama dan kemasan serta
ketebalan yang sama akan diletakkan diantara tiang pancang pada
titik-titik angkatnya.
- Semua bahan harus disimpan dan diperlakukan dengan semestinya
agar terhindar dari kerusakan. Bahan tiang pancang disimpan di
ruang terbuka dan diletakkan melintang di atas balok balok kayu
atau bantalan kayu yang dipasang setiap jarak maksimal 3 meter
sekitar panjang tiang pancang. Tiang pancang tidak boleh ditumpuk
lebih dari 4 (empat) susun.

6. Pemancangan Tiang Pancang


a. Panjang tiang pancang
- Tiang pancang dipancang sampai Final Set yang ditentukan
dengan dial meter pada alat pancang injeksi.
- Apabila dalam pemancangan ternyata belum mencapai Final Set,
maka Penyedia Jasa Konstruksi harus memperpanjang tiang
pancang dan memancang lagi (menekan lagi) sampai pada
kedalaman sesuai yang diperintahkan Manajemen Konstruksi,
sehingga memperoleh kondisi yang memuaskan.
- Panjang tiang pancang yang dibuat harus disimpulkan dari prosedur
ini sesuai dengan hasil pengeboran dan uji penetrasi dan panjang
tiang pancang harus dipancang pada kedudukan manapun harus
dengan persetujuan.
b. Urutan pemancangan
- Penyedia Jasa Konstruksi/Penyedia Jasa Konstruksi harus
menyusun schedule rencana urutan pemancangan yang harus
mendapat persetujuan Manajemen Konstruksi.
c. Prosedur pemancangan
- Tiang Pancang hanya boleh dipancang bilamana disaksikan
Manajemen Konstruksi dan sudah tersedia data-data mengenai
pemancangan yang sudah disusun yang sudah disampaikan pada
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi /Manajemen Konstruksi.
Pelaksanaan pekerjaan pemancangan sepenuhnya menjadi
tanggung-jawab Penyedia Jasa Konstruksi/Penyedia Jasa
Konstruksi
- Setiap tiang pancang harus dipancang terus-menerus sampai
penurunan yang disyaratkan dan disetujui atau kedalaman telah

44
tercapai, kecuali bahwa Manajemen Konstruksi/Ahli Teknik
mengijinkan penghentian pemancangan bila dia puas bahwa
penurunan sebelum penghentian pemancangan itu dianggap cukup
atau bila dia puas bahwa penghentian pemancangan adalah dalam
pengawasan Penyedia Jasa Konstruksi.
- Batang bantu perpanjangan (long dolly) tidak diijinkan untuk dipakai,
kecuali dengan persetujuan Manajemen Konstruksi/Ahli Teknik
yang meminta revisi penurunan (setting) untuk memperhitungkan
reduksi efektivitas dari Hydrolis Jack.
- Penyedia Jasa Konstruksi harus segera memberitahu Manajemen
Konstruksi/Ahli Teknik bila mengetahui ada perubahan mendadak
dalam karakteristik pemancangan.
- Rekaman rinci perlawanan terhadap pemancangan pada panjang
tiang sepenuhnya dari tiang pancang yang terdapat didekatnya
akan diambil sebagai contoh bila diperintahkan.
- Pada permulaan pekerjaan dan di area yang baru atau bagian yang
baru, penurunan (sets) harus diambil dengan interval pada 3 m
terakhir dari pemancangan untuk melihat perilaku dari tiang
pancang.
- Penyedia Jasa Konstruksi harus memberi informasi secukupnya
dan menyediakan fasilitas untuk memungkinkan Manajemen
Konstruksi/Ahli Teknik men-cek perlawanan-perlawanan
pemancangan.
- Penurunan (set) hanya akan diambil dengan kehadiran Manajemen
Konstruksi/Ahli Teknik, kecuali telah disetujui.
- Tiang Pancang yang tidak memenuhi syarat akibat over driving
atau juga tidak memenuhi batas maksimal toleransi yang
disyaratkan dalam standar pemancangan harus dicabut dan harus
melaksanakan pemancangan tiang extra pada titik lokasi semula
yang menjadi tanggung-jawab Penyedia Jasa Konstruksi/Penyedia
Jasa Konstruksi.
d. Toleransi Titik Pancangan
- Setiap Tiang Pancang dengan Toleransi + 12 cm dari posisi yang
benar. Inklinasi maksimal yang disyaratkan untuk pemancangan
miring vertikal adalah + 2 % dan untuk pemotongan adalah + 2 cm.
- Toleransi yang disebutkan diatas tidak boleh dilampaui dan
bilamana dilampaui maka tiang pancang yang sudah terpasang
harus dicabut dan diganti yang menjadi tanggung-jawab Penyedia
Jasa Konstruksi atas permintaan Manajemen Konstruksi.

7. Peralatan / Alat Pancang dan Pemancangan


a. Peralatan/Alat Pancang yang memenuhi persyaratan sudah mendapat
persetujuan Manajemen Konstruksi harus disediakan Penyedia Jasa

45
Konstruksi/Penyedia Jasa Konstruksi dalam pelaksanaan
pemancangan Tiang Pancang.
b. Peralatan/Alat Pancang jenis Drop Hammer tidak diperkenankan
dipakai dalam melaksanakan pekerjaan, melainkan harus
menggunakan Injection Pile (alat pancang hydrolis dengan system
injeksi) dengan kapasitas beban kerja alat 350 ton.
c. Peralatan/Alat Pancang harus dapat melakukan pemancangan secara
kontinyu sampai kedalaman yang disyaratkan. Penghentian
pemancangan sebelum mencapai Setting atau kedalaman rencana
pemancangan harus mendapat persetujuan Manajemen Konstruksi.
d. Peralatan/Alat Pancang harus dilengkapi leader yang cukup panjang
dan dapat digerakan secara Hidrolik atau Mekanik untuk menjamin
pemancangan tiang miring dapat dilaksanakan sesuai rencana yang
dipersyaratkan dalam gambar rencana.
e. Dalam pemancangan, tiang harus masuk kedalam tanah secara
vertikal. Kesalahan yang terjadi harus diperhitungkan dan
perbaikannya menjadi beban Penyedia Jasa Konstruksi. Untuk
mencegah hal itu, proses masuknya tiang harus diikuti mulai awal
sampai selesai.
f. Tidak diperkenankan menghentikan pemancangan dalam kurun waktu
yang dapat mengganggu daya dukung/lekatan tanah sebelum selesai
sesuai persyaratan struktural yang telah ditetapkan, kecuali dalam
keadaan memaksa dan harus mendapat persetujuan dari Manajemen
Konstruksi.
g. Setiap akhir pemancangan harus diikuti dengan pengukuran masuknya
tiang. Penetapannya harus dilakukan atas persetujuan Manajemen
Konstruksi serta harganya harus dihitung berdasarkan spesifikasi
mesin pancang yang digunakan. Adapun daya tekan alat pancang
injeksi yang disyaratkan harus mencapai 350 ton.
h. Bila waktu pemancangan ada tiang yang menunjukkan hasil
pemancang yang diminta sebelum mencapai kedalaman yang
disyaratkan, maka pemancangan harus dilanjutkan sampai kedalaman
yang diminta, kecuali hasil pemancang sudah mencapai dua kali lipat
daya dukung yang diminta.
i. Bila ada tiang yang telah masuk ketanah sampai kedalaman yang
diminta, sedang hasil pemancangannya belum memenuhi, maka
pemancangan harus diteruskan sampai kedalaman yang sesuai
dengan yang telah ditentukan.
j. Sebelum pemancangan, Penyedia Jasa Konstruksi harus
mempertimbangkan terlebih dahulu resiko yang mungkin terjadi,
misalnya kerusakan pada bangunan sekitarnya. Untuk itu Penyedia
Jasa Konstruksi harus mempertimbangkan teknik pemancangan yang
sebelumnya harus didiskusikan dengan Manajemen Konstruksi.

46
k. Setelah pemancangan selesai dilaksanakan, kepala tiang pancang
harus dipotong dan diselesaikan dengan benar sesuai ketentuan
dalam Gambar Kerja.
l. Alat Bantu
m. Penggunaan alat bantu dalam proses pelaksanaan pemancangan
pondasi tiang wajib di adakan sesuai dengan kebutuhan untuk
memperlancar proses kegiatan pemancangan.
n. Alat bantu yang terkait langsung dalam kegiatan pemancangan berupa
alas alat pemancangan berupa plat besi dengan tebal minimum 2 cm
dan harus disesuaikan kembali dengan kondisi lapangan.

8. Pemotongan Tiang Pancang dan Pengujian (PDA Test)


a. Tiang pancang baja harus dipotong pada elevasi yang sesuai dengan
gambar rencana. Tidak diperkenankan/diperbolehkan terjadi
kerusakan pada tiang pancang dibawah bagian yang dipotong.
b. Pengujian daya dukung pancang menggunakan PDA (Pile Driving
Analysis) atau Dynamic Load Test sebanyak 3 titik yang berbeda dari 3
pondasi group yang berbeda. Pemilihan tiang pancang yang akan di
test harus mendapat persetujuan dari Manajemen Konstruksi
c. Pengujian ini dapat dilaksanakan oleh tenaga khusus dari Perusahaan
Pengujian Tiang Pancang yang ada di Indonesia.
d. Penyedia Jasa Konstruksi sebelum memulai memancang tiang
pancang harus menyampaikan kepada Manajemen Konstruksi/Ahli
Teknik untuk disetujui detil lengkap dari peralatan khusus yang
diusulkan untuk digunakan pengujian bersama-sama dengan bukti-
bukti bahwa pengujian dan analisa hasil akan dilaksanakan oleh
operator berpengalaman dan ahli dalam bidangnya.
e. Semua pengujian harus dilaksanakan selama pemancangan tiang
pancang berlangsung agar dapat menentukan penurunan (set) dan
atau penetrasi yang disyaratkan. Sekalipun pengujian dinamis, tiang
pancang harus ditumbuk sampai penetrasi minimum seperti
ditunjukkan dalam gambar rencana atau seperti diperintahkan
Manajemen Konstruksi/Ahli Teknik.
f. Bila Penyedia Jasa Konstruksi mengusulkan perubahan penumbuk
tiang, selama pelaksanaan pekerjaan pemancangan, maka pengujian
tambahan harus dilaksanakan.
g. Tiang pertama dari setiap kelompok harus ditumbuk dan dimonitor
secara dinamis diakhir tingkat pemancangan dengan penumbuk
impact (impact hammer) sampai perkiraan perlawanan tekan ultimate
untuk tiang pancang itu dicapai.
h. Penyedia Jasa Konstruksi harus menyerahkan kepada Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi Pengawas dalam 3 (tiga) hari, setiap laporan
tertulis pengujian tiang pancang, termasuk laporan pemancangan

47
lengkap untuk tiang pancang, hasil yang diperoleh dari Pile Driving
Analyser dan dari program komputer CAPWAP atau yang sejenis dan
usulan penumbukan dan/atau penetrasi untuk tiang pancang
permanen.
i. Penyedia Jasa Konstruksi harus memasukkan harga dalam
penawarannya sehubungan dengan semua masalah pengujian tiang-
tiang pancang.
j. Penyedia Jasa Konstruksi harus menyampaikan kepada Penyedia
Jasa Manajemen Konstruksi Pengawas untuk persetujuannya,
program pengujian dinamis 3 (tiga) buah titik tiang pancang dan
menganilisis hasilnya dengan program CAPWAP atau yang sejenis.
k. Sasaran pengujian adalah untuk menunjukkan bahwa tiang pancang
telah memperoleh daya dukung yang disyaratkan.
l. Berkaitan dengan program pengujian tiang pancang, Manajemen
Konstruksi/Ahli Teknik bisa memerintahkan pengujian dinamis ulang
pada tiang pancang.

H. PEKERJAAN POER DAN BALOK SLOOF (TIE BEAM)


1. Untuk pengecoran poer dan tie beam harus dibuatkan terlebih dulu lantai kerja
bagi setiap poer dan tie beam dimaksud.
2. Lantai kerja dari beton rabat dengan adukan 1 pc : 3 ps : 5 kr setebal minimal
7,5 cm. Pemasangan penulangan poer atau tie beam baru boleh dilaksanakan
setelah lantai kerja dianggap cukup keras, sebagai acuan setelah beton
berumur lebih dari 3 hari.
3. Bila nantinya pembongkaran bekisting poer dan balok tie beam akan sulit
dilaksanakan atau dapat mengganggu pekerjaan, maka dapat digunakan
bahan bekisting yang bisa ditinggal dalam tanah tanpa pengaruh jelek pada
struktur dikemudian hari, misalnya pasangan bata atau sejenisnya.
4. Penghancuran kepala tiang harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa,
sehingga bagian tiang yang ditinggal tetap utuh tanpa kerusakan. Permukaan
harus bersih dari kotoran. Sebelum poer dicor mutu pekerjaan harus diperiksa
oleh Manajemen Konstruksi dan setelah disetujui, pengecoran baru boleh
dilaksanakan.

I. PEKERJAAN CAT PELINDUNG BESI


1. Pembersihan
Lapisan permukaan baja dibersihkan sampai tidak terdapat karat sama sekali.
Pembersihan dilakukan dengan sikat besi, kemudian selelah tercapai tingkat
kebersihan yang dikehendaki, permukaannya dibersihkan dengan vacum
cleaner/air compressor kering atau kuas yang bersih.
2. Pengecatan
Pengecatan tahap I (cat dasar), dilakukan setelah seluruh permukaan baja
dibersihkan dengan zinchromate. Pengecatan harus rata dan seluruh

48
permukaan konstruksi tertutup secara merata, setebal 75 micron. Pengecatan
ini dapat dilakukan dengan spray. Pengecatan tahap II, dilakukan dengan cat
besi (minyak). Tebal lapisan pengecatan tahap II adalah 75 mikron dalam
keadaan kering.
3. Cara Pengecatan
- Lapis pertama encer
- Lapis kedua kental
- Lapis ketiga encer

49
DAFTAR SIMAK

NO URAIAN JENIS MERK


Semen Indonesia, Tiga Roda,
1 Portland Cement (PC) 40 Kg Holcim, atau setara harga dan
kwalitas
Mutu Beton K-300 Varia, Jayamix / SCG, Holcim,
2 Beton Struktur
(Ready Mix) atau setara harga dan kwalitas
Mutu Beton K-175
3 Beton Praktis (Ready Mix / Site
Mix)
Hanil Jaya, Krakatau Steel,
4 Besi Beton dia. 12 mm U-24 Cakratunggal Steel, atau setara
harga dan kwalitas
Hanil Jaya, Krakatau Steel,
5 Besi Beton dia. 12 mm U-39 Cakratunggal Steel, atau setara
harga dan kwalitas
Ftalit, Jotun, Nippon Paint, atau
6 Cat Besi
setara harga dan kwalitas

50
BAB III
PEKERJAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL DAN PLUMBING (MEP)

A. PERATURAN UMUM
1. Peraturan Pemasangan
Pemasangan instalasi ini pada dasarnya harus memenuhi peraturan-
peraturan sebagai berikut :
- Pedoman Umum Instalasi Listrik.
- Pedoman Plumbing Indonesia.
- Keputusan/Peraturan Menteri, Gubernur, dan Pemerintah Daerah.
- Peraturan/pedoman PLN, TELKOM, PAM, dan instansi yang berwenang
lainnya.
- NFPA, AVE, ASHRAE, ARI, ASTM, ASME, SMACNA, dan
peraturan/pedoman internasional lain yang berhubungan.
- Petunjuk dari Pabrik Pembuat Peralatan.

2. Gambar Rencana
- Gambar-gambar rencana dan persyaratan-persyaratan ini merupakan
suatu kesatuan yang saling melengkapi dan sama mengikatnya.
- Gambar-gambar sistim ini menunjukkan secara umum tata letak dari
peralatan, sedangkan pemasangan dikerjakan dengan memperhatikan
kondisi dari bangunan yang ada.
- Gambar-gambar Arsitek, Struktur/Sipil, maupun Interior akan dipakai
sebagai referensi untuk pelaksanaan.

3. Koordinasi
- Penyedia Jasa Konstruksi instalasi ini hendaknya bekerja sama dengan
Penyedia Jasa Konstruksi instalasi lainnya, agar seluruh pekerjaan dapat
berjalan dengan lancar sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
- Koordinasi yang baik perlu ada, agar instalasi yang satu tidak
menghalangi kemajuan instalasi yang lain.
- Apabila pelaksanaan instalasi ini menghalangi instalasi yang lain, maka
semua akibatnya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi.

4. Pelaksanaan Pemasangan

51
- Sebelum pelaksanaan pemasangan instalasi ini dimulai, Penyedia Jasa
Konstruksi menyerahkan gambar kerja dan detilnya kepada Penyedia
Jasa Manajemen Konstruksi i dalam rangkap 3 (tiga) untuk disetujui.
Yang dimaksud gambar kerja disini adalah gambar yang menjadi
pedoman dalam pelaksanaan, lengkap dengan dimensi peralatan, jarak
peralatan satu dengan lainnya, jarak terhadap dinding, jarak pipa
terhadap lantai, dinding dan peralatan, dimensi aksesori yang dipakai.
Pengawas berhak menolak gambar kerja yang tidak mengikuti ketentuan
tersebut di atas.
- Penyedia Jasa Konstruksi wajib mengadakan pemeriksaan ulang atas
segala ukuran dan kapasitas peralatan yang akan dipasang. Apabila ada
sesuatu yang diragukan, Penyedia Jasa Konstruksi harus segera
menghubungi Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi i.
- Pada beberapa peralatan tertentu ada asumsi yang digunakan dalam
menentukan performanya. Asumsi-asumsi ini akan diganti sesuai aktual
dari peralatan yang dipilih maupun kondisi lapangan yang tidak
memungkinkan. Untuk itu Penyedia Jasa Konstruksi wajib menghitung
kembali performa dari peralatan tersebut dan memintakan persetujuan
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi i sebelum dilakukan pemasangan.

5. Persetujuan Material, Peralatan, Dan Dokumen Yang Diserahkan


a. Umum
- Sebelum memulai pekerjaan instalasi peralatan ataupun material,
Penyedia Jasa Konstruksi akan menyerahkan gambar kerja, daftar
peralatan, dan bahan yang akan digunakan pada Proyek ini untuk
disetujui oleh Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi i dan Konsultan
Perencana.
- Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi i tidak bertanggung jawab atas
contoh bahan yang akan dipakai dan semua biaya yang berkenaan
dengan penyerahan dan pengambilan contoh / dokumen ini.
b. Gambar Kerja
- Penyedia Jasa Konstruksi akan mengajukan gambar kerja berikut
detail dan potongan yang diperlukan untuk dan disetujui.
- Dengan mengajukan gambar-gambar kerja ini berarti Penyedia Jasa
Konstruksi sudah mempelajari keadaan setempat lapangan, gambar-

52
gambar Arsitek, Struktur/Sipil, maupun gambar-gambar instalasi
lainnya.
c. Daftar Peralatan dan Bahan
- Suatu daftar yang lengkap untuk peralatan dan bahan yang akan
digunakan pada Proyek ini akan diserahkan untuk mendapat
persetujuan Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi i dan Konsultan
perencana dengan dilampiri brosur-brosur yang lengkap dengan
data-data teknis, performa dari peralatan.
- Daftar peralatan dan bahan yang diajukan memenuhi / sesuai
dengan spesifikasi.
d. Seleksi Data
- Untuk persetujuan bahan dan peralatan, Penyedia Jasa Konstruksi
akan melengkapi dengan seleksi data dan menyerahkan dalam
rangkap 3 (tiga).
- Penyedia Jasa Konstruksi akan menunjukkan dalam brosur unit yang
dipilih dengan memberikan tanda dengan stabilo boss.
- Data-data pemilikan meliputi:
e. Manufacturer Data
Meliputi brosur-brosur, spesifikasi dan informasi-informasi yang tercetak
jelas cukup detail sehubungan dengan pemenuhan spesifikasi dan
sertifikat resmi dari pabrik pembuat material tersebut.
f. Performance Data
Data-data kemampuan dari unit yang terbaca dari suatu tabel atau kurva
yang meliputi informasi yang diperlukan dalam menyeleksi peralatan-
peralatan lain yang ada kaitannya dengan unit tersebut.
g. Quality Asurance
Suatu pembuktian dari Pabrik atau Distributor Utama terhadap kualitas
dari unit berupa produk dari unit ini sudah diproduksi beberapa tahun,
telah terpasang di beberapa lokasi, dan telah beroperasi dalam jangka
waktu tertentu dengan baik.

6. Peralatan Dan Bahan


a. Umum
Semua peralatan dari bahan maupun komponennya dalam kondisi baru
sesuai dengan brosur yang dipublikasikan dan sesuai dengan
spesifikasi sebagai yang diuraikan maupun pada gambar-gambar
rencana dan merupakan produk yang masih beredar dan diproduksi
secara teratur.

53
b. Peralatan dan Bahan Sejenis
Untuk peralatan dan bahan sejenis yang fungsi penggunaannya sama
dari produksi pabrik (bermerk), sehingga memberikan kemungkinan
saling dapat dipertukarkan.
c. Penggantian Peralatan dan Bahan
- Semua peralatan dan bahan yang diajukan dalam tender harus
sudah memenuhi spesifikasi walupun dalam pengajuan saat tender
kemungkinan ada peralatan dan bahan belum memenuhi spesifikasi,
tetapi tetap harus dipenuhi sesuai spesifikasi bila sudah ditunjuk
sebagai Penyedia Jasa Konstruksi Pelaksana Pekerjaan.
- Untuk peralatan dan bahan yang sudah memenuhi spesifikasi,
karena sesuatu hal yang tidak bisa dihindari terpaksa harus diganti,
maka sebagai penggantinya dari jenis setaraf atau lebih baik (equal
or better) yang disetujui.
- Bila Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi i membuktikan bahwa
penggantinya itu betul setaraf atau lebih baik, maka biaya yang
menyangkut pembuktian tersebut akan ditanggung oleh Penyedia
Jasa Konstruksi.

7. As Built Drawings (Gambar Instalasi Terpasang)


a. Penyedia Jasa Konstruksi akan menyerahkan 1 (satu) set as built
drawings berupa gambar transparan (sepia) dan 3 (tiga) set gambar
cetak birunya.
b. Gambar as built drawing ini lengkap untuk seluruh instalasi terpasang
pada proyek ini, berikut gambar-gambar detil dan gambar potongan.
c. As built ini akan menunjukkan lokasi dan posisi yang tepat dari seluruh
bagian-bagian instalasi referensi yang digunakan seperti kolom, dinding
dan lain sebagainya.
d. Penyedia Jasa Konstruksi akan menunjukkan pada satu set gambar
cetak biru dari Gambar Kontrak terhadap, deviasi-deviasi,
pengembangan dan revisi-revisi yang terjadi semasa pelaksanaan.
e. Pada setiap gambar "as built", tercantum :
- Nama Pemilik.
- Judul Gambar/dan Bagian Bangunan.
- Nama Penyedia Jasa Konstruksi.
- Nomor Gambar.
- Nomor Lembar Gambar dan Jumlah Lembar Gambar.
- Tanggal.

54
8. Penanggung Jawab Pelaksanaan
a. Penyedia Jasa Konstruksi instalasi ini akan menempatkan seorang
penanggung jawab pelaksanaan yang ahli dan berpengalaman yang
dan akan selalu berada di lapangan, yang bertindak sebagai wakil dari
Penyedia Jasa Konstruksi dan mempunyai kemampuan untuk
memberikan keputusan teknis dan yang bertanggung jawab penuh
dalam menerima segala instruksi yang akan diberikan oleh Penyedia
Jasa Manajemen Konstruksi i.
b. Penanggung jawab tersebut diatas juga akan berada ditempat pekerjaan
pada saat diperlukan / dikehendaki oleh Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi i.

9. Laporan -Laporan
a. Laporan Harian dan Mingguan.
Penyedia Jasa Konstruksi wajib membuat laporan harian dan laporan
mingguan yang memberikan gambaran mengenai :
- Kegiatan fisik.
- Catatan dan perintah Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi i yang
disampaikan.
- secara lisan maupun secara tertulis.
- Jumlah material masuk / ditolak.
- Jumlah tenaga kerja dan keahliannya.
- Keadaan cuaca.
- Pekerjaan tambah / kurang
- Prestasi rencana dan yang terpasang.
b. Laporan mingguan merupakan ringkasan dari laporan harian dan
setelah ditanda-tangani oleh Manajer Proyek (Project Manager) akan
diserahkan kepada Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi i untuk
diketahui / disetujui.
c. Laporan Pengetesan
Penyedia Jasa Konstruksi instalasi ini akan menyerahkan kepada
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi dalam rangkap 3 (tiga) Semua
pengetesan dan pengukuran yang akan dilaksanakan harus disaksikan
oleh Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi i.

10. Garansi
a. Semua peralatan, bahan dan mutu hasil pekerjaan akan digaransi
selama 1 (satu) tahun terhitung semenjak tanggal penyerahan pertama.

55
b. Semenjak penyerahan pertama tersebut sampai masa garansi berakhir,
bila terjadi kerusakan atau kegagalan pekerjaan instalasi, Penyedia
Jasa Konstruksi akan mengganti atau memperbaiki kerusakan atas
biaya sendiri.
c. Bila terdapat kerusakan pada peralatan sehingga perlu diperbaiki atau
diganti maka garansi tetap berlaku semenjak penggantian atau
perbaikan tersebut.
d. Bila terjadi kerusakan pada peralatan-peralatan utama, misalkan motor
kompresor, pompa terbakar maka motor tersebut akan diganti baru,
belitannya tidak boleh digulung ulang.

11. Masa Pemeliharaan Dan Serah Terima Pekerjaan


a. Masa pemeliharaan untuk instalasi ini adalah selama enam bulan
terhitung sejak saat penyerahan pertama.
b. Selama masa pemeliharaan ini, Penyedia Jasa Konstruksi instalasi ini
akan memperbaiki dan melaksanakan bagian-bagian pekerjaan yang
tidak sempurna untuk yang belum atau yang sudah diperingatkan
sebelumnya.
c. Selama masa pemeliharaan ini, seluruh instalasi yang telah selesai
dilaksanakan masih merupakan tanggung jawab Penyedia Jasa
Konstruksi sepenuhnya.
d. Penyedia Jasa Konstruksi akan menyerahkan dokumen-dokumen
lengkap pada saat serah terima pekerjaan pertama berupa :
- As built drawing ( lihat 7.0.0. )
- Brosur-brosur peralatan dan kontrol yang berisi antara lain:
1) Spesifikasi teknis (technical specification).
2) Petunjuk pemeliharaan (maintenance manual).
3) Petujuk Operasi (operation manual).
4) Gambar Pengkabelan Listrik/Kontrol (elektrikal wiring/kontrol
diagram).
- Nama- nama Distributor peralatan dan kontrol yang terlibat dalam
proyek ini lengkap dan alamat dan nomor telepon.
- Test report data setiap mesin, peralatan, instalasi pemipaan, dan
instalasi pengkabelan.
- Sertifikat jaminan peralatan dan instalasi.
- Suku cadang (spare part) dan peralatan (tools).
e. Semua butir a s.d e harus disatukan dalam satu buku dan diserahkan
sebanyak 3 (tiga) set.

56
12. Penambahan/Pengurangan/Perubahan Instalasi
a. Pelaksanaan instalasi yang menyimpang dari rencana yang disesuaikan
dengan kondisi lapangan, akan dikonsultasikan terlebih dahulu dengan
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi .
b. Penyedia Jasa Konstruksi instalasi ini akan menyerahkan setiap gambar
perubahan yang ada kepada Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi
dalam rangkap 3 (tiga).
c. Perubahan material, dan lain-lainnya, harus mendapat instruksi dari
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi secara tertulis sebelum
dilaksanakan.
d. Pekerjaan tambah, kurang, dan perubahan yang ada harus disetujui
oleh Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi secara tertulis.

13. Ijin -Ijin


Pengurusan ijin-ijin yang diperlukan untuk pelaksanaan instalasi serta seluruh
biaya yang diperlukannya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Konstruksi.

14. Pembobokan, Pengelasan, Dan Pengeboran


a. Pembobokan tembok, lantai dinding dan sebagainya yang diperlukan
dalam pelaksanaan instalasi harus dikembalikan pada kondisi semula
dan menjadi lingkup pekerjaan instalasi.
b. Pembobokan / pengelasan / pengeboran tersebut di atas baru dapat
dilaksanakan apabila sudah ada persetujuan dari Penyedia Jasa
Manajemen Konstruksi secara tertulis.

15. Pemeriksaan Rutin Dan Khusus


a. Pemeriksaan rutin dalam masa pemeliharaan harus dilaksanakan oleh
Penyedia Jasa Konstruksi instalasi secara periodik dan minimum 1
(satu) kali tiap minggu.
b. Pemeriksaan khusus dalam waktu pemeliharaan akan dilaksanakan
oleh Penyedia Jasa Konstruksi instalasi ini, apabila ada permintaan dari
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi / Pemilik dan atau bila ada
gangguan dalam instalasi ini.

16. Teknisi pelaksana pekerjaan ini akan sudah tiba di lapangan bila ada
kerusakan dalam waktu 1 x 24 jam sejak waktu dipanggil. Bila tidak, maka
perbaikan dapat diberikan kepada orang lain dengan beban biaya ditanggung
oleh Penyedia Jasa Konstruksi

57
B. PERSYARATAN TEKNIS INSTALASI MEKANIKAL
1. Persyaratan Umum
Yang dimaksud disini dengan pekerjaan instalasi mekanikal dan plumbing
secara keseluruhan adalah pengadaan, transportasi, pabrikasi, pemasangan,
semua peralatan, bahan utama dan pembantu serta pengujian, sehingga
diperoleh instalasi yang lengkap dan baik sesuai dengan spesifikasi, gambar
dan bill of quantity serta berfungsi dengan baik sesuai dengan standar yang
brlaku.
Standar yang digunakan adalah :
- Sistim Plumbing : SNI 03-7065-2005
SNI 03-6481-2000
- Sistim Hydrant : SNI 03-1745-2000
SNI 03-6570-2001
- Sistim Sprinklers : SNI 03-3989-2000

2. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan secara garis besar sebagai berikut :
- SparingAir Bersih
- SparingAir Kotor dan Air kotoran
- SparingHydrant dan Sprinkler
- Sparing Pipa Untuk Air Hujan
- Sparing Pipa Untuk Kabel

3. Pemipaan
a. Umum
- Secara umum pekerjaan pemipaan meliputi : Pompa dan
kelngkapannya pipa, sambungan, katub, strainer, sambungan
ekspansi, sambungan fleksibel, penggantungan dan penumpu, sleeve,
bak kontrol, galian, pengecatan, pengujian.
- Spesifikasi dan gambar menunjukkan diameter nominal/dalam dari
pipa dan letak serta arah dari masing-masing sistem pipa.
- Seluruh pekerjaan, terlihat pada gambar dan/atau spesifikasi dipasang
terintegrasi dengan kondisi bangunan dan menghindari gangguan
dengan bagian lainnya.
- Bahan pipa maupun perlengkapan harus terlindung dari kotoran, air
karat dan stress sebelum, selama dan sesudah pemasangan.
- Khusus pipa dan perlengkapan dari bahan plastik, selain disebut di
atas harus juga terlindung dari cahaya matahari.
- Semua barang yang akan dipergunakan menunjukkan identitas pabrik
pembuat.

58
b. Lingkup Pekerjaan
Meliputi pemipaan dari sistem yang diuraikan pada Bab VI.1
c. Ketentuan Bahan
Ketentuan Bahan Pipa masing-masing sistem mengikuti tabel sebagai
berikut :
Kode Tek. Kerja Tek. Uji Spesifikasi
Sistem
Pipa (Kg/cm2) (Kg/cm2) Pipa Isolasi

Air Bersih CW 6 12 G 10

Hidrant H 10 15 A 120

Air Limbah SW/WW gr 5 PV 8

Air Hujan RW gr 5 PV 8

Minyak Solar F 8 10 B 10

Catatan : gr : Aliran secara gravitasi

Keterangan Spesifikasi Bahan


1) Spesifikasi G 10 (Medium Class)
Penggunaan : Air Bersih, Air Panas (HW)
Tekanan Standart : 10 Kg/cm2
Uraian Keterangan
Pipa Galvanized Steel BS 1387 Medium

Sambungan/fitting Melleable Iron Galvanized 150 lb


Elbow, Socket, Tee,
Reducer

Valves Dia 40 mm ke bawah, bronze atau A-metal


body class 150 lb (10 bar) dengan sambungan
ulir, BS 21 atau ANSI B 2.1.
Dia 50 mm ke atas, bronze class 150 lb (10
bar) dengan sambungan flanges.

2) Spesifikasi PV 8 (PVC AW)


Penggunaan : Air limbah pengaliran gravitasi
Tekanan Standart : 8 Kg/cm2

Uraian Keterangan
Pipa Polyvinyl Chloride (PVC) klas 8 bar

59
Elbow & Junction PVC Injection Moulded Sanitary Fitting Large
Radius, Solvent Cement Joint Type.

Reducer PVC Injection Moulded Sanitary Fitting


Concentric, Solvent Cement Joint Type.

Solvent Cement Sesuai rekomendasi pabrik pembuat.

3) Spesifikasi B 10
Penggunaan : Untuk pipa bahan bakar
Tekanan Standart : 10 Kg/cm2
Uraian Keterangan
Pipa Black Steel BS 1387, Medium

Sambungan/Fitting Melleable Iron 150 lb

Valve Dia 40 mm ke bawah : bronze, body class 150


lb dengan sambungan ulir, BS 21 atau ANSI B
21.
Dia 50 mm ke atas : bronze class 150 lb
dengan sambungan flange.

4) Spesifikasi A 120
Penggunaan : Untuk pipa hidrant
Tekanan Standart : 20 Kg/cm2
Uraian Keterangan
Pipa Black Steel ASTM A120, Sch 40

Sambungan/Fitting Melleable Iron 300 lb

Valve Dia 40 mm ke bawah : bahan bronze, body


class 300 lb dengan sambungan ulir.
Dia 50 mm ke atas : bahan bronze class 300 lb
dengan sambungan flange.

5) Keterangan Bahan Valve, Strainer mengikuti ketentuan tabel di bawah ini :

Fungsi Ukuran & Joint W.O & G Steam

Katup Penutup (Stop s/d 40 mm screwed Ball Globe


Valve) Butterfly

60
Gate
Diaphargm

50 mm ke atas Butterfly Globe


flanged Gate

Katup Pengatur s/d 40 mm screwed Globe Globe


(Regulating Valve) Buterfly
Diaphargm

50 mm ke atas Butterfly Globe


flanged Gate

Check Valve s/d 40 mm screwed Swing Check


Globe Check

50 mm ke atas Double Swing Check


flanged Disk Check

Strainer Y Type
Bucket Type

Pressure Reducer Die and Flow Type

Pressure Indicator Dial Type


Dial Dia 100 mm

4. Persyaratan Pemasangan
a. Umum
1) Perpipaan harus dikerjakan dengan cara yang benar untuk menjamin
kebersihan, kerapihan, ketinggian yang benar, serta memperkecil banyaknya
penyilangan.
2) Pekerjaan harus ditunjang dengan suatu ruang yang longgar, tidak kurang
dari 50 mm diantara pipa-pipa atau dengan bangunan & peralatan.
3) Semua pipa dan fitting harus dibersihkan dengan cermat dan teliti sebelum
dipasang, membersihkan semua kotoran, benda-benda tajam/ runcing serta
penghalang lainnya.
4) Pekerjaan perpipaan harus dilengkapi dengan semua katup-katup yang
diperlukan antara lain katup penutup, pengatur, katup balik dan sebagainya,
sesuai dengan fungsi sistem dan yang diperlihatkan di gambar.

61
5) Semua perpipaan yang akan disambung dengan peralatan, harus dilengkapi
dengan UNION atau FLANGE.
6) Sambungan lengkung, reducer dan expander dan sambungan-sambungan
cabang pada pekerjaan perpipaan harus mempergunakan fitting buatan
pabrik.
7) Kemiringan menurun dari pekerjaan perpipaan air limbah harus seperti
berikut, kecuali seperti diperlihatkan dalam gambar.
8) Dibagikan dalam bangunan
9) Garis tengah 150 mm atau lebih kecil : 1 %
10) Dibandingkan luar bangunan
11) Garis tengah 150 mm atau lebih kecil : 1 %
12) Garis tengah 200 mm atau lebih besar : 1%
13) Semua pekerjaan perpipaan harus dipasang secara menurun kearah titik
buangan.
14) Drainase dan vent harus disediakan guna mempermudah pengisian maupun
pengurasan.
15) Katup (valves) dan saringan (strainers) harus mudah dicapai untuk
pemeliharaan dan penggantian.
16) Pegangan katup (valve handled) tidak boleh menukik.
17) Sambungan-sambungan fleksibel harus dipasang sedemikian rupa dan
angker pipa secukupnya harus disediakan guna mencegah tegangan pada
pipa atau alat-alat yang dihubungkan oleh gaya yang bekerja kearah
memanjang.
18) Pekerjaan perpipaan ukuran jalur penuh harus diambil lurus tepat ke arah
pompa dengan proporsi yang tepat pada bagian-bagian penyempitan.
19) Katup-katup dan fittings pada pemipaan demikian harus ukuran jalur penuh.
20) Pada pemasangan alat-alat pemuaian, angker-angker pipa dan pengarah-
pengarah pipa harus secukupnya disediakan agar pemuaian serta
perenggangan terjadi pada alat-alat tersebut, sesuai dengan permintaan dan
persyaratan pabrik.
21) Kecuali jika tidak terdapat dalam spesifikasi, pipa sleeves harus disediakan
dimana pipa-pipa menembus dinding-dining, lantai, balok, kolom atau langit-
langit.
22) Selama pemasangan, bila terdapat ujung-ujung pipa yang terbuka dalam
pekerjaan perpipaan yang tersisa pada setiap tahap pekerjaan, harus ditutup
dengan menggunakan caps atau plugs untuk mencegah masuknya benda-
benda lain.
23) Semua galian harus juga termasuk penutupan kembali serta pemadatan.
24) Pekerjaan perpipaan tidak boleh digunakan untuk pentanahan listrik.

62
b. PENGGANTUNG DAN PENUNJANG PIPA
1) Perpipaan harus ditunjang atau digantung dengan hanger, brackets atau
sadel dengan tepat dan sempurna agar memungkinkan gerakan-gerakan
pemuaian atau perenggangan pada jarak yang tidak boleh melebihi jarak
yang diberikan dalam tabel berikut ini :

Jenis Pipa Ukuran Pipa Batas Maximum Ruang :


Interval Interval
Mendatar Tegak
(m) (m)

Pipa Baja Sampai 20 1.8 2


25 s/d 40 2.0 3
50 s/d 80 3.0 4
100 s/d 150 4.0 4
200 atau lebih 5.0 4
Pipa Tembaga Sampai 20 1.0 2
20 s/d 40 1.5 2
50 2.0 3
65 s/d 100 2.5 3
125 atau lebih besar 3.0 4

Pipa Besi Cor Seluruh ukuran 1 titik/ 1 titik /


sambungan sambungan
Pipa PVC 50 0.6 0.9
80 0.9 1.2
100 1.2 1.5
150 1.8 2.1

Pipa PP-R PN 50 0.6 0.9


40 0.6 0.9
32 0.6 0.9
25 0.6 0.9

2) Penunjang atau penggantung tambahan harus disediakan pada pipa berikut


ini :
- Perubahan-perubahan arah
- Titik percabangan
- Beban-beban terpusat karena katup, saringan dan hal-hal yang sejenis.
3) Ukuran baja bulat untuk penggantung pipa datar adalah sebagai berikut :

63
- Diameter Batang

Ukuran Pipa Batang

Sampai 20 mm 10 mm
25 mm s/d 50 mm 10 mm
65 mm s/d 150 mm 12 mm
200 mm s/d 300 mm 15 mm
300 mm atau lebih besar dihitung dengan faktor
keamanan 3

1 ukuran lebih kecil dari tabel


Gantungan ganda
diatas

dihitung dengan faktor


Penunjang pipa lebih dari 2 keamanan 5 terhadap kekuatan
puncak

- Bentuk Gantungan
a) Penggapit pipa baja yang digalvanized harus disediakan untuk pipa
tegak.
b) Semua gantungan dan penumpu harus dicat dengan cat dasar
zinchromat sebelum dipasang.

c. Cara Pemasangan Pipa air Limbah Dalam Tanah


1) Penggalian untuk mendapatkan lebar dan kedalaman yang cukup.
2) Pemadatan dasar galian sekaligus membuang benda-benda
keras/tajam.
3) Membuat tanda letak dasar pipa setiap interval 2 meter pada dasar
galian dengan adukan semen.
4) Urugan pasir setinggi dasar pipa dan dipadatkan.
5) Pipa yang telah tersambung diletakkan diatas dasar pipa.
6) Dibuat blok beton setiap interval 2 meter.
7) Pengurugan bertahap dengan pasir 10 cm, tanah halus, kemudian
tanah kasar.
d. Pemasangan Katup-Katup
Katup-katup harus sediakan sesuai yang diminta dalam gambar, spesifikasi
dan untuk bagian-bagian berikut ini :

64
1) Sambungan masuk dan keluar peralatan.
2) Sambungan ke saluran pembuangan pada titik-titik rendah.
3) Di ruang Mesin

Ukuran Pipa Ukuran Katup

Sampai 75 mm 20 mm
100 mm s/d 200 mm 40 mm
250 mm atau lebih besar 50 mm
4) Lain-lain, ukuran katup 20 mm
- Ventilasi udara otomatis
- Katup kontrol aliran keatas dan kebawah.
- Katup pengurang tekanan (pressure reducing valves) untuk
aliran keatas dan kebawah.
- Katup by-pass.
e. Pemasangan Strainer
1) Strainer harus disediakan sesuai gambar, spesifikasi dan untuk
alat-alat berikut ini :
- Katup-katup Pengontrol.
- Katup-katup pengurang tekanan.
- Steam traps.
2) Pemasangan sambungan-sambungan Pemuaian
Sambungan-sambungan ekspansi panas, harus disediakan
ditempat-tempat yang mungkin timbul kelebihan tekanan.
3) Pemasangan katup-katup Pelepasan Tekanan
Katup-katup pelepasan tekanan harus disediakan ditempat-tempat
yang mungkin timbul kelebihan tekanan.
4) Pemasangan Katup-katup Pengamanan
Katup-katup Pengaman harus disediakan di tempat-tempat yang
dekat dengan sumber tekanan.
5) Pemasangan Vent Udara Otomatis
Vent udara otomatis harus disediakan di tempat-tempat tertinggi
dan kantong udara.
6) Pemasangan Katup-katup Pengurangan Tekanan
Katup-katup pengurangan tekanan harus disediakan di tempat-
tempat dimana tekanan pamakai lebih rendah dari tekanan suplai.
7) Pemasangan Sambungan Fleksibel

65
Sambungan fleksibel harus disediakan untuk menghilangkan
geteran dari sumber getaran.
8) Pemasangan Thermometer
Thermometer harus disediakan ditempat-tempat yang perlu untuk
mengukur temperatur cairan.
9) Pemasangan Pengukur Tekanan
Pengukur tekanan harus disediakan ditempatkan yang perlu untuk
mengukur, antara lain :
- Steam outlets and inlets steam header.
- Katup-katup pengurang tekanan.
- Katup-katup pengontrol.
- Setiap pompa.
- Setiap bejana tekan.
10) Penyambungan Pipa-pipa, Sambungan Ulir
- Penyambungan antara pipa dan fitting mempergunakan
sambungan ulir berlaku untuk ukuran sampai dengan 80 mm.
- Kedalaman ulir pada pipa harus dibuat sehingga fitting dapat
masuk pada pipa dengan diputar tangan sebanyak 3 ulir.
- Semua sambungan ulir harus menggunakan perapat.
- Semua pemotongan pipa harus memakai pipa cutter dengan
pisau roda.
- Tiap ujung pipa bagian dalam harus dibersihkan dari bekas
cutter dengan reamer.
- Semua pipa harus bersih dari bekas bahan perapat
sambungan.
11) Sambungan Las
- Sistim sambungan las hanya berlaku untuk saluran bukan air
minum.
- Sambungan las ini berlaku antara pipa baja dan fitting las.
Kawat las atau elektroda yang dipakai harus sesuai dengan
jenis pipa yang dilas. Sebelum pekerjaan las dimulai
Penyedia Jasa Konstruksi harus mengajukan kepada
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi contoh hasil las untuk
mendapat persetujuan tertulis.

66
- Tukang las harus mempunyai pengalaman kerja dan hanya
boleh bekerja sesudah mempunyai surat ijin tertulis dari
Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi /pengawas.
- Setiap bekas sambungan las harus segera dicat dengan cat
khusus untuk itu.
- Alat las yang boleh dipergunakan adalah alat las listrik yang
berkondisi baik menurut penilaian Penyedia Jasa Manajemen
Konstruksi /pengawas.
12) Sambungan Lem
- Penyambungan antara pipa dan fitting PVC, mempergunakan
lem yang sesuai dengan jenis pipa, sesuai rekomendasi dari
pabrik pipa.
- Pipa harus masuk sepenuhnya pada fitting, maka untuk itu
harus dipergunakan alat press khusus. selain itu pemotongan
pipa harus menggunakan alat pemotong khusus agar
pemotongan pipa dapat tegak lurus terhadap batang pipa.
- Cara penyambungan lebih lanjut dan terinci harus mengikuti
spesifikasi pabrik pipa.
13) Sambungan yang mudah dibuka
Sambungan ini dipergunakan pada alat-alat saniter sebagai berikut:
- Antara Lavatory Faucet dan Supply Valve.
- Pada Waste fitting dan Siphon.
- Pada sambungan ini kerapatan diperoleh oleh adanya paking
dan bukan seal threat.
f. Sleeves
1) Sleeves untuk pipa-pipa harus dipasang dengan baik setiap kali
pipa tersebut menembus konstruksi beton.
2) Sleeves harus mempunyai ukuran yang cukup untuk memberikan
kelonggaran diluar pipa ataupun isolasi.
3) Sleeves untuk dinding dibuat dari pipa besi tulang atau baja. Untuk
yang mempunyai kedap air harus digunakan sayap.
4) Untuk pipa-pipa yang akan menembus konstruksi bangunan yang
mempunyai lapisan kedap air (water proofing) harus dari jenis
Flushing Sleeves.

67
5) Rongga antara pipa dan sleeves harus dibuat kedap air dengan
rubber sealed atau Caulk.
g. Pembersihan
Setelah pemasangan dan sebelum uji coba pengoperasian dilaksanakan,
pemipaan di setiap service harus dibersihkan dengan seksama,
menggunakan cara-cara/ metode-metode yang disetujui sampai semua
benda-benda asing disingkirkan.
5. Pengujian
a. Sistem Air Bersih
1) Kalau tidak dinyatakan lain, semua pemipaan harus diuji dengan
tekanan air dibawah tekanan tidak kurang dari tekanan kerja
tambah 50% atau 10 kg/cm2 dan tidak lebih tinggi lagi dalam
jangka waktu 3 jam.
2) Kebocoran-kebocoran harus diperbaiki dan pekerjaan pemipaan
harus diuji kembali.
3) Peralatan-peralatan yang rusak akibat uji tekanan harus dilepas
(diputus) dari hubungan-hubungannya selama uji tekanan
berlangsung.
b. Sistem Air Limbah
1) Limbah-limbah bertekanan harus diuji dengan tekanan air sebesar
tekanan kerja ditambah 50% atau 8 kg/cm2 selama 3 jam.
2) Pipa-pipa gravitasi harus diuji dengan tekanan statis sebesar 3.0
meter diatas titik tertinggi selama 3 jam
6. Pengecatan
a. Umum
1) Barang-barang yang harus dicat adalah sebagai berikut :
2) Pipa service
3) Support pipa dan peralatan Konstruksi besi
4) Flens
5) Peralatan yang belum dicat dari pabrik
6) Peralatan yang catnya harus diperbaharui.
b. Pengecatan
Pengecatan harus dilakukan seperti berikut :

Lokasi Pengecatan Pengecatan

68
Pipa dan peralatan dalam Zinchromate primer 2 lapis
plafond
Zinchromate primer 2 lapis dan cat
Pipa dan peralatan expose akhir 2 lapis
Pipa dalam tanah Bitumin 2 lapis

c. Ketentuan Warna Cat Untuk Indikasi


- Setiap instalasi pemipaan yang terlihat, setelah dilindungi
Zinchromate primer harus dilapis pula dengan cat warna dan
dilengkapi indikasi berupa gambar panah yang menunjukkan arah
aliran air/gas.
- Indikasi gambar panah tersebut dibuat berwarna putih untuk semua
pipa dan warna hitam untuk pipa yang berwarna putih serta dibuat
pada setiap jarak 1 meter.

INSTALASI WARNA PIPA

Pipa air bersih dan condesated biru muda


water supply

Pipa hydrant Merah

Pipa kotoran Hitam

Pipa air kotor Hijau

Pipa air flushing (dari STP) abu-abu

Pipa ventilasi Putih

Pipa air hujan Coklat

d. Label Katup (Valve Tag)


- Tags untuk katup harus disediakan ditempat-tempat penting guna
operasi dan pemeliharaan.
- Fungsi-fungsi seperti Normaly Open atau Normally Close harus
ditunjukkan ditags katup.
- Tags untuk katup harus terbuat dari plat metal dan diikat dengan
rantai atau kawat.

C. SISTEM PENYEDIAAN DAN DISTRIBUSI AIR BERSIH


1. Lingkup Pekerjaan
a. Uraian singkat lingkup pekerjaan air bersih adalah sebagai berikut:
- Tangki persediaan air bersih (Ground water tank & roof tank)

69
- Pompa distribusi & Pompa transfer
b. Penyambungan sumber air
Sumber air diperoleh dari PAM.

2. Tandon Persediaan Air Bersih


a. Satu buah tandon air bawah berfungsi untuk menyediakan air selama
jangka waktu pemakaian sebesar pemakaian rata-rata sehari. Tangki air di
basement. Menampung air dari PDAM untuk air bersih & hydrant.
b. Tandon air dibuat dengan konstruksi higienis sebagai berikut :
1) Membuat penyekat, sehingga terjadi aliran air.
2) Menghilangkan sudut tajam.
3) Membuat bak pengurasan pada dasar tangki.
4) Mencegah air tanah masuk dalam tangki.
5) Membuat permukaan dinding licin dan bersih.
6) Membuat manhole dengan konstruksi water tight.
7) Membuat semua sleeve dipakai rapat air.
c. Tandon air harus dibuat minimum menjadi dua bagian untuk
memungkinkan pengurasan dan perbaikan.
d. Tandon air dibuat dari konstruksi beton.
e. Pelaksanaan pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan sipil akan
dikerjakan oleh Penyedia Jasa Konstruksi sipil dengan pengarahan dari
Penyedia Jasa Konstruksi M & E.
f. Tandon air harus mempunyai perlengkapan sebagai berikut :
1) Manhole
2) Tangga
3) Pipa vent penghubung maupun vent ke udara lluar.
4) Pipa peluap
5) Level indicator
6) Sleeve untuk laluan pipa masuk, pipa isap, pipa penguras, kabel,
dan sebagainya.
g. Air pengisi tandon
Apabila air di dalam tandon telah mencapai batas yang telah ditentukan
maka supply air harus dapat berhenti secara otomatis, begitu juga apabila
air turun sampai batas yang telah ditentukan, supply air harus dapat
mengisinya kembali.

70
3. Pompa Transfer & Booster
a. Umum
Pompa dirancang mempunyai effisiensi minimal 65% pada beban puncak.
Dipergunakan pompa jenis centrifugal horizontal mounted, end suction.
Semua pompa menggunakan penggerak langsung dengan kecepatan 1450
RPM. Kapasitas head sebagaimana tercantum di gambar mekanikal.
b. Komponen-komponen
1) Casing
- Casing dan cover terbuat dari grained cast iron sesuai British
Standart atau setara dengan bronze impeller.
- Casing merupakan pengerjaan cermat dan dirakit menggunakan
sambungan besi.

- Semua pump casing dilengkapi dengan air cokc pada suction


pipa dan pekerjaan delivery pipa.

2) Impeller
- Digunakan impeller jenis single atau double section, terpasang
pada poros dan keseimbangan dinamis. Memakai ring yang dapat
diganti-ganti, terbuat dari NiCu paduan 506 atau bahan stainless
steel.
- Impeller terbuat dari bahan cast iron.
3) Shaft
- Poros terbuat dari pengerasan endapan stainless steel dengan
menggunakan pasak terbuat dari baja/perunggu untuk menjadi
putaran dan keamanan terhadap gaya-gaya aksial.
- Bantalan digunakan untuk dapat mencegah gaya yang terjadi
pada poros impeller dan diberi ring perapat neoprene oil.
- Water seal dapat dipasang pada jenis mechanical seal.
4) Aksesories (Peralatan Tambahan)

Setiap pompa disediakan aksesories sebagai berikut :

- Globe valve pada discharge piping.


- Strainer pada suction
- Check valve pada discharge piping.
- Pressure gauge pada suction dan discharge piping.
- Rangka fondasi dilengkapi dengan peredam getaran yang sesuai
dengan pompa.

71
c. Spesifikasi Teknis Pompa Transfer :
- Jenis : Centrifugal, end Section Volute Pump
- Stage : Single Stage
- Kapasitas : 400 l/mnt
- Discharge Head : 50 m
- Konstruksi : Cast Iron

Cast Iron Impeller 1500 RPM


380 V, 3 PH, 50 Ha
d. Spesifikasi Teknis Pompa Penguras Tangki
- Model : 0,4 Kw, 220 V, 1 Kh, 50 Hz
- Kapasitas : 150 l/mnt
- Head : 10 m
- Speed : 3000 RPM
- Discharge : 2

D. SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH


1. Lingkup Pekerjaan
Uraian singkat lingkup pekerjaan adalah sebagai berikut :
a. Peralatan sanitair.
b. Grease Trap.
c. Man hole.

2. Peralatan Sanitair
Ruang lingkup pekerjaan finishing, pemasangan dan testing semua sistem
dan peralatan, bahan dan hal-hal yang berhubungan untuk melengkapi
pekerjaan Mekanikal dan Pemipaan dan untuk memenuhi seluruh permintaan
yang ada pada gambar design, terdaftar pada BQ dan dijabarkan pada bagian
ini.
Tipe dan warna masing-masing peralatan sanitair harus mendapat
persetujuan arsitek atau Penyedia Jasa Manajemen Konstruksi .
- Semua material dan peralatan harus memenuhi standart yang telah
ditentukan dan mudah didapat di pasaran.
- Semua peralatan dalam keadaan lengkap dengan segala
perlengkapannya, sesuai dengan yang telah disediakan oleh pabrik.
Barang yang dipakai adalah dari produk yang telah di syaratkan dalam
uraian dan syarat-syarat dalam buku ini.

72
- Semua bahan sebelum dipasang harus ditunjukkan kepada MK
beserta persyaratan/ketentuan pabrik untuk mendapatkan persetujuan.
Bahan yang tidak disetujui harus diganti tanpa biaya tambahan.
- Jika dipandang perlu diadakan penukaran/penggantian bahan
pengganti harus disetujui MK berdasarkan contoh yang diajukan
Penyedia Jasa Konstruksi.
- Sebelum pemasangan dimulai, Penyedia Jasa Konstruksi harus
meneliti gambar-gambar yang ada dan kondisi di lapangan, termasuk
mempelajari bentuk, pola, penempatan, cara pemasangan dan detail-
detail sesuai gambar.
- Bila ada kelainan dalam hal-hal apapun antara gambar dengan
gambar, gambar dengan spesifikasi dan sebagainya, maka Penyedia
Jasa Konstruksi harus segera melaporkannya kepada MK. Penyedia
Jasa Konstruksi tidak dibenarkan memulai pekerjaan disuatu tempat
bila ada perbedaan di tempat itu sebelum kelainan tersebut
diselesaikan.
- Selama pelaksanaan harus selalu diadakan pengujian/ pemeriksaan
untuk kesempurnaan hasil pekerjaan.
- Penyedia Jasa Konstruksi wajib memperbaiki bila ada kerusakan yang
terjadi selama masa pelaksanaan dan masa garansi, atas biaya
Penyedia Jasa Konstruksi. Pelaksanaan pemasangan harus
menghasilkan pekerjaan yang sempurna, rapi dan benar.

3. Grease Trap
a. Harus dipasang pada setiap saluran pembuangan dari dapur/ pantry,
sedekat mungkin dengan sumber limbah.
b. Harus berfungsi untuk mengumpulkan serta menangkap lemak yang
terkandung dalam air limbah dapur.
c. Endapan lemak harus dapat berkumpul dalam bak lemak dan selanjutnya
secara berkala akan dikeluarkan petugas kebersihan.
d. Grease trap dapat dibuat dari besi tuang, baja carbon dengan lapisan anti
karat atau beton.
e. Grease trap harus dibuat dengan konstruksi hygienes sesuai dengan
Standart DIN 4040 jenis combinasi atau setaraf.

4. Man Hole
Ukuran bahan dan letak man hole seperti terlihat di gambar standar detail
plumbing di gambar mekanikal.

5. Spesifikasi Teknis sewage pump/ sump pump


Model : Sewage pump

73
Kapasitas : 150 l/menit
Head : 10 m
Speed : 3000 rpm
Dischange : %

6. Standard Pekerjaan
Semua pekerjaan pengolahan limbah yang dilaksanakan haru memenuhi /
mamatuhi persyaratan standard edisi terakhir dari :
Keputusan Mentri Kesehatan RI. No 986/1992 tentang PersyaratanKesehatan
Lingkungan Rumah Sakit.
Standar effluent yang disyaratkan :
BOD 20 mg/l
COD 50 mg/l
SS 30 mg/l
Pedoman Plumbing Undonesia 1979

Standard standard : - ASTM


- ISO
- BS
SNI ( Standard Nasional Indonesia )
7. Peralatan Bahan Utama Dan Instalasi
a. NSI Spiral Sieve, Automatic Screen ( Optional )
1 Unit Type : Shaftless-Spiral Sieve ( non-clogged )
Model : NSI B200/S
Brand : Noggerath,Germany
Material : Stainless steel ( SS304 )
Function :Fine screening, conveying, pressing, ewatering,
packaging
Flowrate : Max. 25 lt/sec
Opening : 10 x 1.0 mm
Power : Approx. 0.37 / 0.55 kw,380 V, 50 Hz.
Speed : Approx 7 14 rpm
b. Fine Screening
1 unit Type : Bar screen
Opening : 3 5 mm
Material : - Frame, SS304
- Screen, SS304
c. Equalization

74
Submersible Jetrator
1 unit Type : Submersible Jetrator
Brand : Asia, Korea
Power : 2.2 kw, 380 V, 50 Hz
d. Equalization Pump
2 unit Type : Submersible
Brand : Tsurumi, Japan
Capacity : 6 m3/hr @ 6 m.
Power : 0.4 kw,220 V, 50 Hz
C/W : - Vheck valve
- Gate valve
e. Clarifier
Tube Settler
1 unit Type : UMCL 10
Material : PVC, chevron nested form profile
Automatic Sludge Cleaning System
1 unit Type : UMSC 10
Material : PVC
f. Biodetox
1 unit Type : FBK 10C (Stainless steeel materialoptional)
Brand : Noggerath, Germany
Power : 3 kw, 380 V, 50 Hz
C/W : - Pressure gauge
- Pressure relief valve
- Silencer
- Filter
- Sparayer Nozzle
1 lot Type : Flat V Shape
g. Disinfection System
1unit Type : Diaphtagm
Brand : Unidos, Milton Roy (U.SA ) or equal
Capacity : 4.6 lt/hr
Pressure : 5.5 bar
Power : 0.05 kw, 220 V, 60 Hz
C/W : - Foot valve ( PP )
- Nylon/PE tubing
h. Chlorine Tank
1 unit Type : Square Tank

75
Material : Polyethylene
Capacity : 1,000 lt
Mixer
1 unit Type : Tubular, crossflow
Capacity : 12 m 3/hr
i. Polishing Tank
Automatic Sludge Cleaning System
1 unit Type : UMSC 10
Material : PVC
j. Main Control Panel
1 unit Type : Free standing Outdoor
Component : Schneider (Merlin Gerin / Telememaqaniu)
Accessories : - Motor Starters
- Indicating Lamp
- Volmeter & Amperemeters
- Relays & Contractors
- Selector switches
- Timers
- Push button
k. Alarm Moniroring System
1 unit Display: Liquid Crystal Display Module
Type : High Contrast Super Twiated Nema
TicIllumination : LED backlight
Processor : Microchip, U . S . A.
No. of Character : 40 x 4
Protection : NEMA Type 4X
Accessories : Buzzer
l. Sensors & Fixtures
ls Level & Flow Control
Type : Mechanical switch wfloater (Non mercury type)
m. All Piping In Battery Limit
1 lot Material : PVC AW and Medium Galvaniz
n. Electrical Cable
1 lot Brand : Kabelindo atau setara

8. Pekerjaan Pemasangan Pipa Instalasi


Semua pekerjaan pemasangan pipa instalasi harus mengikuti Persyaratan
Tenis instalasi pada Bab VI.1.

76