Anda di halaman 1dari 40

Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

BAB 4
RENCANA
PENAMBANGAN
4.1 SISTEM / METODE DAN TATA CARA PENAMBANGAN
4.1.1 Kebijakan Operasi Penambangan
Untuk memulai menyusun sistem / metode dan tata cara
penambangan, berkaitan erat dengan bab sebelumnya. Hal yang perlu
diidentifikasi terlebih dahulu yaitu bagaimana keadaan, penyebaran
,cadangan, striping ratio. Sehingga kita dapat menentukan metode
penambangan yang dilakukan, apakah dilakukan dengan tambang
terbuka (open cut, strip mine, atau open pit) atau dengan tambang
bawah tanah berdasarkan pertimbangan diatas.
Untuk menjamin kelancaran dan keamanan penambangan
batubara, sehingga dapat dihitung layak atau tidaknya suatu endapan
batubara untuk di tambang maka perlu dilakukan perencanaan yang
baik, dalam hal ini penulis berpedoman pada beberapa literature-
literatur yang merupakan teori dasar dalam merencanakan tambang
tersebut.
klasifikasi metoda penambangan mempunyai ciri (Hartman, 1987) :
1. Umum (dapat diaplikasikan pada tambang terbuka atau bawah tanah
untuk semua komoditi tambang, batubara atau non batubara).
2. Meliputi metoda yang sedang berjalan dan metoda baru yag sedang
dikembangkan tetapi belum dapat dibuktikan secara keseluruhan.
3. Mengenali perbedaan kelas metoda yang besar dan biaya relative.
Metode penambangan dan peralatan yang digunakan untuk
operasai penambangan batubara ditentukan pada keadaan topografi,
keadaan endapan batubara, jumlah batubara dan rencana

IV-1
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

produksi.Berdasarkan Pertimbangan teknis dan ekonomis yaitu untuk


memperoleh hasil semaksimal mungkin dengan tetap memperhatikan
keselamatan kerja. Tidak semua cadangan batubara yang terukur dapat
ditambang dengan metode tambang tambang terbuka secara
menguntungkan, salah satu penyebabnya adalah jumlah lapisan tanah
penutup yang akan dikupas sangat besar, sehingga harus di tambangan
dengan metode tambang bawah tanah.
Pertimbangan ekonomi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
nisbah pengupasan (stripping ratio) dan nisbah pengupasan pulang
pokok (break even stripping ratio).Stripping ratio adalah perbandingan
antara volume tanah penutup yang akan dikupas untuk mendapatkan
satu ton batubara. Sedangkan yang dimaksud dengan break even
stripping ratio adalah nilai perbandingan antara biaya produksi dan
pendapatan dari hasil penjualan. Apabila nilainya lebih besar dari satu,
maka tambang tersebut masih ekonomis untuk ditambang dengan
sistem tambang terbuka. Dalam penulisan ini hanya akan membahas
mengenai masalah teknis rencana penambangan saja.
1. Konsep kegiatan
a. Mengacu pada kebutuhan Konsumen
b. Arah kemajuan penambangan disesuaikan dengan stripping
ratio yang ingin dicapai dengan metode open cut.
c. Menentukan faktor keamanan lereng yang tepat (FK>1,25) dan
menguntungkan untuk melakukan penambangan.
d. Batas gali akhir direncanakan sampai pada elevasi + 2 meter
e. Sistem sump di rencanakan pada elevasi + 2 meter.
f. Pembentukan ring cannal direncanakan pada elevasi + 77 yang
berguna untuk menampung air hujan yang mengalir dari atas
elevasi tersebut
g. Cara penimbunan dengan sistem out side dump

2. Stripping ratio

IV-2
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

Stripping ratio merupakan perbandingan antara BCM tanah yang


dikupas dengan 1 Ton batubara yang dihasilkan.

Jumlah.Waste( BCM )
SR
Tonase.Batubara (cum)

SR = 218.967.040
103.769.848
SR = 2,11
Artinya bahwa untuk mendapatkan 1 Ton batubara diperlukan
pengupasan tanah penutup 2,11 BCM. Stripping Ratio (SR) yang
didapat dari hasil penelitian sebesar 2,11 :1 masih menguntungkan
untuk dilakukan penambangan dengan kandungan bahan tambang
berupa batubara Bituminus Antracite. Berdasarkan nilai Stripping
Ratio (SR) yang ingin di capai dari rencana penambangan yang di
buat serta pertimbangkan kondisi-kondisi geologi, topografi dan
keadaan endapan batubara serta lapisan tanah penutup maka
penambangan batubara akan dilakukan dengan menggunakan
metode open cut. Dimana area penambangan ini mempunyai luas
1700 Ha dan direncanakan penambangan selama 1 tahun. Informasi
tenatang pengupasan pengupasan dapat dilihat pada Lampiran B.

4.1.2 Pemilihan Metode Penambangan

Didasarkan pada pertimbangan kondisi geologi, struktur,


keadaan dan kekuatan batuan, ketebalan lapisan batubara dan
interburden, kemiringan/dip relatif datar, tingkat produksi, fleksibilitas
operasi, biaya tambang, dan keadaan topografi, maka secara umum
dapat ditentukan bahwa tambang terbuka merupakan pilihan PT.
Zairmuthsa yang tepat untuk operasi penambangan. Dan dengan
kebijakan nisbah kupas yang dikehendaki relatif kecil, maka dapat
disimpulkan bahwa biaya penambangan pada sistem tambang terbuka
ini akan lebih baik.

IV-3
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam perencanakan


tambang terbuka agar keuntungan yang didapat maksimal dan relatif
aman dalam operasinya adalah sebagai berikut :

a. Keadaan endapan batubara, meliputi arah penyebaran batubara


(strike), kemiringan endapan batubara (dip) dan ketebalan
endapan batubara yang ada.
b. Keadaan Topografi, berguna untuk menentukan sistem
penambangan dan jenis alat angkut, tempat penimbunan batubara,
dumping area dan jalur jalan.
c. Kemiringan bench, menentukan besar kecilnya volume tanah
penutup yang harus dikupas. Bench yang semakin curam akan
lebih menguntungkan karena volume tanah penutup yang harus
dikupas semakin kecil. Untuk itu perlu dilakukan perhitungan
secara cermat agar didapatkan bench dengan kemiringan yang
semaksimal mungkin akan tetapi faktor keamanannya tetap
terjamin.
d. Ukuran dan batas akhir kedalaman tambang pada akhir operasi
penambangan.
e. Nisbah pengupasan.
Sejalan dengan kebijakan perusahaan bahwa operasi
penambangan akan dikerjakan oleh kontraktor dan dengan
mempertimbangkan bahwa pada umumnya kontraktor tambang di
Indonesia menggunakan truck/shovel sebagai alat utama dan
ketersediaan alat truck/shovel berkapasitas besar untuk mencapai target
produksi yang relatif besar, maka penambangan batubara yang akan
dilaksanakan akan menggunakan truck/shovel dan dikerjakan oleh
Kontraktor.

4.1.2.1 Operasional Truck and Shovel

Metoda operasi penambangan dengan sistem ini, secara prinsip


adalah penggalian dan pemuatan material (batubara dan
overburden) menggunakan Excavator (back hoe) dan

IV-4
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

pengangkutan material menggunakan Dump Truck sebagai


peralatan utama. Overburden diangkut ke waste dump area,
dan batubara diangkut ke Coal ROM Stockpile di area mulut
tambang. Konfigurasi truck/shovel sangat umum digunakan
pada tambang-tambang terbuka di Indonesia. Banyak variasi
dan fleksibilitas yang dapat menjadi pilihan dalam penggunaan
metoda ini dan dapat disesuaikan dengan kondisi alam
setempat.

4.1.2.2 Tata cara Penambangan

Dengan mempertimbangkan kondisi setempat, maka tata cara


seluruh aktifitas penambangan dengan metoda tambang terbuka
menggunakan truck/shovel adalah sebagai berikut :

a) Pembersihan lahan, terdiri dari rangkaian aktivitas


pemotongan- pembersihan semak penumpukan.
b) Pengupasan tanah pucuk (humus), meliputi rangkaian
kegiatan pendorongan/pengumpulan - penggalian/pemuatan -
pengangkutan penumpukan pemadatan di area penumpukan
humus untuk nantinya diambil kembali untuk persiapan
revegetasi.
c) Pengupasan tanah lapisan penutup batubara (O/B dan I/B),
meliputi rangkaian aktivitas penggaruan / pendorongan (bila
diperlukan) penggalian/pemuatan pengangkutan
penimbunan - penyebaran pemadatan di lokasi penimbunan
waste dump disposal.
d) Penggalian batubara, meliputi rangkaian kegiatan
perontokan/ penggalian pemuatan pengangkutan
penumpukan di ROM (run of mine) stockpile.

IV-5
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

e). Pelapisan humus, meliputi kegiatan penggalian/pemuatan pengangkutan penyebaran humus di area yang
siap direklamasi.
4.1.3 Bagan Alir Kegiatan Penambangan

Bagan alir kegiatan penambangan dapat dilihat pada Gambar 4.1

GAMBAR 4.1
BAGAN ALIR PERTAMBANGAN

IV-6
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

4.2 TAHAPAN KEGIATAN DAN RANCANGAN PENAMBANGAN


4.2.1 Penentuan Arah Tahapan Kegiatan Penambangan
Tahapan kegiatan penambangan adalah penentuan arah penambangan
yang akan dilakukan untuk pencapaian hasil yang paling optimal.Tahapan
kegiatan penambangan dibagi menjadi beberapa tahapan yang akan
mempengaruhi rancangan tahapan panambangan yang akan dibuat sesuai
dengan arah penambangan yang telah dipilih, pembagian tahapan kegiatan
penambangan ini juga didasari atas kebijakan PT. Zairmuthsa dalam
menetapkan rencana pengembangan tambangnya.
Arah penggalian dimulai dari daerah yang memiliki stripping ratio
terkecil dan mengikuti arah striping ratio sampai mencapai pit limit yang
telah ditentukan secara teknik dan ekonomis. Arah penggalian dan arah
penimbunan ditunjukan pada gambar dibawah.

IV-7
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

PT. Zairmuthsa

GAMBAR 4.2
RENCANA ARAH KEGIATAN PENGGALIAN

IV-8
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

PT. Zairmuthsa

GAMBAR 4.3
RENCANA ARAH KEGIATAN PENIMBUNAN

IV-9
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

4.2.2 Rancangan Tahapan Kegiatan Penambangan


4.2.2.1 Kriteria Rancangan dan Perencanaan Tambang

Berdasarkan atas hasil penyelidikan geoteknik ,maka


rancangan tambang didasarkan atas kriteria sebagaimana penjelasan di
bawah ini:

a. Dimensi lereng galian; kemiringan lereng keseluruhan 55o,


sedangkan untuk jenjang tunggal : kemiringan jenjang 60, tinggi
jenjang 10 m, lebar jenjang 5 m.

b. Dimensi lereng timbunan; kemiringan lereng keseluruhan 18o dan


kemiringan jenjang tunggalnya 40o.

c. Dari hasil pemboran penyelidikan geoteknik/geologi diketahui


bahwa lapisan penutup batubara terdiri dari material tanah,
batulempung, batupasir dan batu tufa.

d. Bobot isi material secara rata-rata diperkirakan 2 ton/m3.

e. Swell Factor dan Load Factor

Jika ditinjau dari masing-masing jenis material tersebut di atas,


maka swell factor dan load factor adalah seperti tabel IV.1.
Dalam perencanaan yang akan dibuat diasumsikan bahwa secara
umum material penutup batubara akan mempunyai nilai swell
factor sebesar 1.38 dan load factor sebesar 0.72.

TABEL IV.1
SWELL FACTOR DAN LOAD FACTOR
Material Swell Load
Factor Factor
Soil 1.43 0.70
Blue Clay 1.38 0.72
Coal 1.25 0.68

f. Kemampuan galian (diggability) dan kemampuan garuan


(rippability).

Kesimpulan penyelidikan geoteknik menyatakan bahwa


lapisan penutup batubara termasuk dalam kategori batuan lemah.

IV-10
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

Dari analisa diggability dan rippability menyatakan bahwa


material penutup batubara masih bisa/mampu digali dengan alat
backhoe.
Untuk penambangan batubara diperlukan kegiatan
pembongkaran (loosening), mengingat kekerasan batubara akan
menurunkan produktivitas alat gali/muat jika digali secara langsung
dan berdasarkan pengalaman di lapangan, maka aktivitas loosening
pada material batubara tidak efektif bila menggunakan alat garu
(sebagaimana rekomendasi studi geoteknik).
Oleh sebab itu dalam perencanaan tambang ini, diasumsikan
bahwa loosening lapisan batubara menggunakan teknik perontokan
(extracting) dengan alat gali/muat itu sendiri atau dengan
excavator/backhoe pembantu yang dikhususkan untuk aktivitas
tersebut apabila dipandang diperlukan.

4.2.2.2 Rancangan Tahap Pra-Pengupasan (pre-stripping)


Kegiatan penggalian yang dilakukan dalam pre-stripping ini
meliputi:
1. Land Clearing
Pengupasan awal merupakan pekerjaan pembersihan permukaan
kerja dari pohon-pohonan, semak belukar dan material lain yang
dapat menghalangi pekerjaan selanjutnya. Waktu yang diperlukan
untuk melakukan pekerjaan ini dihitung dengan persamaan
sebagai berikut :
T = X . (A.B + M1.N1+M2.N2+M3.N3+D.F)
dimana :
T = waktu pemotongan/pengupasan pohon (acre/menit)
A = faktor keselarasan dan kelebatan
X = faktor keselarasan kayu
B = waktu dasar yang diperlukan dozer untuk kegiatan
pembersihan
M = waktu untuk memotong pohon dengan diameter tertentu
N = jumlah pohon per acre setiap diameter tertentu

IV-11
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

D = jumlah pohon dengan diamter lebih dari 180 cm dalam


satuan acre
F = waktu yang dubutuhkan untuk merobohkan pohon dengan
diamter lebih dari 180 cm dalam satuan acre.

2. Pengupasan dan penyimpanan tanah pucuk pada area yang


ditentukan sebagai tempat penimbunan sementara.
Operasi pengupasan lapisan top soil yang banyak
mengandung bahan-bahan organik hasil pelapukan yang
menyuburkan tanah, dilakukan setelah pembersihan lahan
penambangan.Lapisan tanah subur ini dikupas dengan
menggunakan blade dari bulldozer.Lapisan top soil didorong dan
dikumpulkan pada lokasi tertentu dekat dengan daerah operasi
bulldozer, kemudian dimuat menggunakan shovel dan diangkut
dengan dump truck ke tempat penyimpanan tanah pucuk.
Timbunan tanah subur ini, nantinya dimanfaatkan pada saat
melakukan pekerjaan reklamasi

3. Pembuatan jalan masuk dari luar menuju ke area awal bukaan


tambang.
4. Pembuatan jalan angkut tanah menuju ke area rencana outside
dump.
5. Pembuatan kolam pengendap (settling pond) untuk penanganan
air di lokasi timbunan dan lubang galian tambang.
6. Penggalian tanah untuk penataan front galian sesuai dengan
rencana operasi fleet peralatan dan untuk mendapatkan batubara
terbuka (exposed coal) yang siap tambang.

4.2.2.3. Hidrogeologi dan Penyaliran Tambang

Dalam kegiatan pertambangan, tidak akan pernah terlepas


dengan keberadaan air. Sehingga untuk mengurangi keberadaan air
yang dapat menghambat kegiatan penambangan, maka diperlukan

IV-12
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

rencana pengendalian air tambang. Pengendalian air tambang yang


dimaksudkan adalah berupa sistem penyaliran air tambang, ditujukan
untuk mengatasi masalah air yang ada pada daerah penambangan,
seperti keberadaan air tanah (ground water) dan atau air permukaan
(surface water). Dengan adanya sistem penyaliran air tambang ini,
diharapkan operasi penambangan dapat lebih lancar.
Dari hasil penyelidikan terhadap air tanah telah
disimpulkan bahwa wilayah PT. Zairmuthsa dan khususnya di daerah
penyelidikan, pengaruh air tanah di wilayah ini sangat kecil sehingga
debit air tambang sepenuhnya dipengaruhi oleh air permukaan.

Dengan dapat diabaikannya pengaruh air tanah, maka konsentrasi


pengendalian air tambang dapat sepenuhnya di arahkan untuk
mengendalian air permukaan yang disebabkan oleh air hujan yang
masuk kedalam tambang dengan membuat sistem penirisan air atau
pemasangan saluran dan sump.
Penirisan bertujuan untuk mengurangi volume air yang
akan masuk kedalam areal penambangan dan mengeluarkan volume
air yang sudah berada di dalam areal penambangan dengan cara
membuat ring cannal dan sump. Air yang masuk ke areal
penambangan berasal dari air tanah dan air hujan, untuk air tanah
dalam perancanaan ini dianggap tidak besar pengaruhnya karena
debit air tanah di lapangan sangat kecil dan tidak mengganggu
aktifitas penambangan. Sumber air yang diperhitungkan berdasarkan
curah hujan dimana dalam perhitungan penirisan diambil yang
terbesar untuk dapat merencanakan drainage dengan tepat.

Sistem penirisan yang direncanakan terbagi menjadi :

1. Saluran sekeliling tambang (ring dicth/perimeter ditch);

Saluran ini berfungsi untuk mencegah air yang berasal dari


luar tambang masuk ke dalam tambang. Dalam pembuatan

IV-13
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

saluran ini perlu diperhatikan keadaan topografi sekitar tambang


agar dapat ditentukan daerah penampungan air hujan secara tepat.

2. Saluran penyaliran di atas jenjang;

Saluran ini berfungsi untuk mengalirkan air yang berada di


atas jenjang menuju lantai tambang sehingga tidak terjadi
genangan air di atas jenjang yang dapat mempengaruhi
kemantapan lereng.

3. Saluran penyaliran di lantai tambang;

Saluran ini berfungsi untuk mengalirkan air yang masuk ke


lantai tambang yang berasal dari jenjang maupun air hujan yang
jatuh langsung di lantai tambang tersebut. Dengan pembuatan
saluran penyaliran ini maka dapat menghindari terjadinya
genangan air di lantai tambang sehingga tidak mengganggu kerja
peralatan-peralatan tambang.

4. Pada lantai tambang

Perlu dibuat sumuran (main sump) untuk menampung air


yang masuk ke dalam tambang untuk kemudian dipompakan
keluar tambang. Untuk tambang dengan kedalaman lebih dari 70
meter, pada umumnya akan membutuhkan sump antara (tandem)
untuk menampung sementara air hasil pemompaan dari main
sump untuk kemudian dipompakan kembali keluar tambang.

Perancangan saluran tambang dibuat dengan menggunakan rumus


Manning yaitu :

Q = (1/n) R2/3 S1/2 A


Dimana :
Q = Debit (m3/detik)
R = Jari-jari hidraulik = A/P
A = Luas penampang basah (m2)

IV-14
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

P = Keliling basah (m)


S = Gradien
Terdapat dua tipe saluran yaitu saluran trapesium dan saluran
segitiga, dimana dimensi kedua tipe saluran ini dirancang dengan
ketentuan sebagai berikut :

a) Saluran Trapesium
Saluran trapesium dibuat untuk saluran-saluran yang berumur relatif
panjang, seperti saluran di sekeliling tambang dan saluran di lantai
tambang. Dimensi penampang saluran trapesium dibuat dengan
ketentuan sebagaimana rumusan berikut :

Kemiringan saluran = Z = 60o


Tinggi saluran = H = 0.3 + h
Tinggi saluran basah = h
Lebar dasar = B = 2h
Luas penampang basah = A = 2.575 h2
Lebar muka saluran = X = 2h + 1,15 H
Jari-jari hidrolik = R = A/P
Freeboard = 30 cm

Freeboard
(10 30 cm)

H h
Z

GAMBAR 4.4
PENAMPANG SALURAN TRAPESIUM

b) Saluran Segitiga

IV-15
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

Saluran segitiga dibuat untuk saluran-saluran yang berumur relatif


pendek, seperti saluran pada jenjang. Dimensi penampang saluran
segitiga dibuat dengan ketentuan sebagaimana rumusan berikut :
Sudut tengah = 90o
Luas penampang basah = A = h2 P = 2h (2R) = h/2 2
Keliling basah = P
Jari-jari hidrolik = R = A/P
Tinggi saluran = H
Tinggi saluran basah =h
Freeboard = 30 cm

Freeboard
(10 30 cm)

H 90o h

GAMBAR 4.5
PENAMPANG SALURAN SEGITIGA

Dinding saluran umumnya dibuat tanpa pasangan batu, khususnya


untuk saluran yang umurnya tidak lama seperti pada jenjang aktif
Pembuatan saluran segitiga maupun saluran trapesium, menggunakan
alat berat backhoe.

4.2.2.4.Perencanaan Jalan Tambang


Pada rencana penambangan atau penggalian diperlukan
jalan untuk transportasi dalam tambang. Teori pembuatan jalan
mengadopsi cara kaufman dan Ault 1977 yaitu :
1. untuk 1 jalur dump truck dibutuhkan lebar jalan 2 kali lebar dump
truck.
2. untuk 2 jalur dump truck dibutuhkan lebar jalan 3,5 kali lebar

IV-16
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

dump truck.
3. untuk 3 jalur dump truck dibutuhkan lebar jalan 5 kali lebar dump
truck.

GAMBAR 4.6.
PERENCANAAN LEBAR JALAN TAMBANG

Geometri jalan tambang direncanakan berdasarkan alat


angkut terbesar yang akan digunakan yaitu Komatsu HD325-5 dengan
ketentuan sbb :
- Lebar minimal = 3 x lebar dump truck = 3 x 3,5 m = 10,5 m
- Kemiringan jalan maksimum = 8%
- Turning radius minimal = 10 m (sesuai spesifikasi dump truck)
- Tinggi tanggul pengaman jalan = 2/3 x diameter roda = 1.8 m
- Super elevasi = 0.10 m/m atau dengan lebar 20 m maka beda elevasi
sisi luar dan sisi dalam badan jalan adalah 2.0 m.

4.3. TAHAPAN KEGIATAN PENAMBANGAN


Secara rinci kegiatan penambangan dan pengangkutan batubara PT.
Zairmuthsa adalah sebagai berikut :

4.3.1. Pembersihan Lahan (Land-Clearing)


Kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup akan dimulai dengan
kegiatan pembersihan lahan dari vegetasi dan semak belukar yang ada.

IV-17
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

Pada lahan yang ditumbuhi pohon besar, pembersihan lahan diawali dengan
penebangan dan pemotongan batang kayu dengan mesin pemotong
(chainsaw). Pemindahan kayu-kayu menggunakan alat-alat pengangkut
beban berat dan rantai besi untuk pengikat dan penarik, kemudian diangkut
dengan truk. Untuk lahan yang ditumbuhi belukar pembersihan lahan
dilakukan dengan menggunakan bulldozer cat 7 D, yang menjalankan fungsi
gali-dorong dengan memanfaatkan blade dan tenaga dorong yang
besar.Semak dan perdu yang menutupi area penambangan didorong ke
daerah-daerah pembuangan.

GAMBAR 4.7
LAND CLEARING

4.3.2. Pengupasan Tanah Pucuk (Top Soil Prestripping) dan Pengelolaan


Setelah operasi pembersihan selesai, selanjutnya dilakukan operasi
pengupasan lapisan atas (top soil) yang banyak mengandung bahan-bahan
organik hasil pelapukan, yang sangat baik untuk penyuburan tanah.Lapisan
tanah subur ini dikupas dengan menggunakan blade dari bulldozer.Operator
bulldozer sambil mengupas tanah subur tersebut sekaligus mendorong dan
mengumpulkannya pada lokasi tertentu di dekat daerah operasi bulldozer.
Dengan demikian pada lahan penambangan akan terdapat lokasi timbunan
tanah subur yang pada gilirannya akan dimanfaatkan untuk reklamasi lahan
bekas penambangan. Untuk selanjutnya pekerjaan pemindahan top soil ini
akan memerlukan excavator sebagai alat muat, dan dump truck sebagai alat
angkut.

IV-18
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

Ketebalan pengupasan tanah pucuk berkisar antara 0,1 sampai 1,5


meter. Tetapi tidak menutup kemungkinan menggali lebih dalam lagi kalau
memang masih digolongkan sebagai tanah pucuk yang masih mengandung
zat hara organik.Lapisan tebal ini sering ditemukan di daerah lembah dan
cekungan.Tanah pucuk hasil pengupasan dapat disebarkan secara langsung
ke daerah bekas tambang yang telah direklamasi atau disimpan terlebih
dahulu di suatu tempat.Tempat penimbunan sementara ini dicarikan di
daerah datar dan cukup tinggi serta bebas dari gangguan erosi.Waktu
penyimpanan tidak boleh lebih dari 12 bulan.Hal ini diharapkan untuk dapat
menjaga agar kesuburan dan kualitas tanah penutup tersebut dapat tetap
terjaga.

GAMBAR 4.8.
PENGUPASAN TANAH PUCUK

4.3.3. Penggalian Tanah Penutup


Operasi penggalian tanah penutup berupa overburden dan
interburden, dilakukan dengan menggunakan excavator Komatsu PC 800
dan dibantu dengan bulldozer. Untuk material lemah sampai sedang,
excavator dapat langsung melakukan penggalian dan pemuatan ke atas
dump truck. Sedangkan untuk material agak keras, bulldozer akan
membantu memberaikan material tersebut, sebelum digali dan dimuat oleh
excavator. Dalam batas-batas penggalian yang telah direncanakan, operator
excavator akan melakukan pembentukan jenjang (bench), dibantu oleh
operator bulldozer.

IV-19
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

Dump truck sebagai alat angkut akan mengangkut tanah penutup dari
daerah penambangan menuju lokasi penimbunan (dumping area), yang telah
direncanakan di daerah dengan morfologi lembah atau datar yang ada di
lokasi terdekat. Timbunan tanah penutup ini akan diatur secara berjenjang
dengan menggunakan dozer dan selanjutnya akan ditutup dengan lapisan
tanah subur (top soil) untuk persiapan proses penanaman bibit pohon
(revegetasi).

GAMBAR 4.9
PENGUPASAN OVERBURDEN

4.3.4. Pembongkaran Batubara

Sistem pembongkaran batubara pada kegiatan penambangan di PT.


Zairmuthsa adalah langsung menggunakan alat muat excavator PC 400 dan
kemudian dimuat ke Dump truck Komatsu HD 325-6 yang nantinya kan dibawa
ke stokefile.

IV-20
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

GAMBAR 4.10
PEMBONGKARAN BATUBARA

4.3.5. Pemuatan dan Pengangkutan Batubara

Pemuatan dan pengangkutan batubara terdiri tiga tahap yaitu :

4.3.5.1. Pemuatan dan pengangkutan dari tambang ke crusher

Kegiatan pemuatan mempergunakan alat-muat Excavator Backhoe PC


400 dan di muat ke alat angkut dumptruck Komatsu HD 325-6dan langsung
di dumping ke hopper Crusher

4.3.5.2. Pemuatan dan pengangkutan dari chusher ke stockpile tambang

Batubara yang telah tercrusher dimuat dengan menggunakan Wheel


Loader Cat 988, sedangkan alat angkut yang digunakan adalah Dump Truck
merk Nissan CWA. Batubara yang telah dimuat, kemudian diangkut ke dan
ditumpuk di stockpile tambang. Dari stockpile selanjutnya batubara ini akan
diangkut ke konsumen oleh perusahaan lain melalui suatu kesepakatan
kerjasama pengangkutan atau jual beli. Oleh karena itu kegiatan
pengangkutan batubara ke konsumen merupakan kegiatan terpisah sehingga
tidak termasuk dalam kajian studi ini.

IV-21
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

4.4. RENCANA PRODUKSI


Pada tahun pertama penambangan PT. Zairmuthsa menargetkan produksi
batubara sebesar 2.000.000 ton per tahun hal ini di dasarkan pada kebutuhan para
konsumen dan ketersedian dana yang ada, rincian rencana produksi pertahunnya dapat
dilihat pada Tabel VI.2.

TABEL VI.2
RENCANA PRODUKSI PER-TAHUN

Produksi
Luas Bukaan Vol OB
Tahun Lokasi Batubara
(BCM)
(Ha) (MT)
1 PIT A1 58,2 4.220.000 2.000.000

2 PIT A1 59,5 4.220.000 2.000.000

3 PIT A1 59,3 7.596.000 3.600.000

4 PIT A1 59,2 7.596.000 3.600.000

5 PIT A1 59,4 10.550.000 5.000.000

6 PIT A1 62,7 10.550.000 5.000.000

7 PIT A1 59,6 12.427.744 5.889.926

16.187.783 7.671.935
8 PIT A1 60,1
16.142.122 7.650.295
9 PIT A1 60,5
16.259.405 7.705.879
10 PIT A1 61,4

11 PIT A1 59,4 16.133.058 7.645.999

12 PIT A1 59,6 16.159.593 7.658.575

PIT A1 + 16.179.581 7.668.048


13 62,4
PIT C1
14 PIT A2 61,3 16.095.183 7.628.049

PIT A3 + 16.262.614 7.707.400


15 56,5
PIT A4

IV-22
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

PIT C2 + 16.130.041 7.644.569


16 61,2
PIT C3
PIT C2+PIT 16.245.255 7.699.173
17 64,7
C3+PIT A5
Jumlah
1025 218.954.379 103.769.848

4.4.1. Analisis Kualitas Cadangan


Kualitas batubara dari hasil analisa laboratorium seperti di bawah ini

Total Moisture = 18,92 % ar

Ash Content = 3,92 % adb

Total Sulphur = 0,60 % adb

Gross Calorific Value= 6.659 kcal/kg adb

4.4.1.1. Jumlah Cadangan, Rencana Produksi dan Umur Tambang

Jumlah cadangan batubara terukur PT. Zairmuthsa adalah sebesar


115.878.653 MT. Dari cadangan batubara terukur tersebut setelah dibuat
design tambang, maka didapat cadangan tertambang batubara sebesar
103.769.848 MT dengan overburden yang harus dikupas sebanyak
218.967.040 BCM atau dengan stripping ratio nya adalah 1 : 2,11 untuk
jangka waktu selama 17 tahun.

Pada tahun pertama sampai tahun kedua belas operasi penambangan,


pemindahan tanah akan diarahkan ke waste dump area, sedangkan pada
tahun-tahun selanjutnya, pemindahan tanah akan dilakukan secara back filling
ke bekas tambang yang sudah diambil batubaranya.Urutan operasi
pengupasan dan pemindahan tanah penutup selanjutnya dapat dilihat pada
Tabel VI.3.

IV-23
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

TABEL VI.3.
RENCANA PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP
Luas Back Lokasi
Bukaan Vol OB WDA
Tahun Lokasi Filling Back
(BCM) (BCM)
(Ha) (BCM) Filling

1 PIT A1 4.220.000 4.220.000 - -


58,2
2 PIT A1 59,5 4.220.000 4.220.000 - -

3 PIT A1 59,3 7.596.000 7.596.000 - -

4 PIT A1 59,2 7.596.000 7.596.000 - -

5 PIT A1 59,4 10.550.000 10.550.000 - -

6 PIT A1 62,7 10.550.000 10.550.000 - -

7 PIT A1 59,6 12.427.744 12.427.744 - -

8 PIT A1 60,1 16.187.783 16.187.783 - -

9 PIT A1 60,5 16.142.122 16.142.122 - -

10 PIT A1 16.259.405 16.259.405 - -


61,4
11 PIT A1 16.133.058 16.133.058 - -
59,4
12 PIT A1 16.159.593 16.159.593 - -
59,6
PIT A1 + PIT 16.179.58
13 - Eks Pit A1
C1 62,4 16.179.581 1

16.095.18
14 PIT A2 - Eks Pit A1
61,3 16.095.183 3

PIT A3 + PIT 16.262.61


15 56,5 - Eks Pit A1
A4 16.262.614 4

PIT C2 + PIT 16.130.04


16 61,2 - Eks Pit A1
C3 16.130.041 1

PITC2+PITC 16.245.25
17 64,7 - Eks Pit A1
3+PITA5 16.245.255 5

IV-24
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

80.912.67
Jumlah 1025 218.954.379 138.041.705 4

Dari Tabel VI.6. dapat dilihat bahwa sebesar 88.025.146 BCM tanah
penutup akan dikembalikan ke bekas tambang (back filling) sedangkan sebesar
123.205.068 BCM akan ditimbun di waste dump area. Perencanaan pemanfaatan
lahan yang telah diback filling dan lahan yang berupa bukaan terutama pada
bukaan terakhir tambang akan dikaji secara mendalam pada Dokumen Rencana
Penutupan Tambang yang akan disusun sesuai dengan Peraturan Menteri Energi
Dan Sumberdaya Mineral Nomor 18 Tahun 2008 tentang Reklamasi Dan
Penutupan Tambang.

4.5. KEBUTUHAN PERALATAN


4.5.1. Jenis dan Spesifikasi Teknis Peralatan
Teknik penambangan yang diterapkan dalam operasi penambangan PT.
Zairmuthsa adalah open pit mining. Untuk menentukan jenis peralatan yang
digunakan dalam metode ini, maka perlu dikaji terlebih dahulu jenis-jenis
kegiatan yang akan dilakukan dalam operasi penambangan tersebut. Dengan
gambaran jenis kegiatan yang jelas, maka penentuan spesifikasi peralatan yang
akan digunakan lebih mudah dilakukan.

Pemilihan alat yang tepat akan mempermudah dalam proses pengerjaan,


pemilihan harus dilakukan dengan hati-hati, besar alat dan kemampuan harus di
sesuaikan dengan target produksi yang telah direncanakan. Hasil dari pemilihan
jenis peralatan yang akan digunakan dalam operasi penambangan batubara PT.
Zairmuthsa dapat dilihat pada Tabel 4.4

IV-25
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

TABEL IV.4
PERALATAN YANG DIGUNAKAN PER-TAHUN

Jenis peralatan utama penambangan yang mutlak dipergunakan adalah


excavator,dump truck dan bulldozer.

1. Excavator
Alat ini berdasarkan fungsi utamanya sering disebut alat gali muat.
Pada operasi penambangan akan digunakan untuk melakukan tugas-tugas
sebagai berikut:

a. Melakukan penggalian, pemuatan dan pemindahan serta pencurahan


material lemah seperti humus atau top soil pada lokasi penimbunan;
atau langsung ke atas alat angkut.
b. Melakukan penggalian, pemuatan dan pencurahan lapisan tanah penutup
(overburden), dan mengumpulkannya pada suatu lokasi dekat tambang;
atau langsung memuat ke atas alat angkut.

IV-26
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

c. Melakukan penggalian, pemuatan dan pencurahan lapisan batubara


(coal) dan mengumpulkannya pada lokasi dekat tambang; atau langsung
memuat ke atas alat angkut.
d. Melakukan perintisan dan pembuatan saluran-saluran air di tambang,
untuk sistem drainase tambang.
e. Melakukan perintisan dan pembuatan kolam air di tambang (pond )
dalam rangka pengelolaan dan pemantauan lingkungan tambang.
Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan di atas didukung
oleh:
Kemampuan daya gali yang besar;
Kemampuan memotong untuk permukaan yang relatif sempit
dengan memanfaatkan blade pada bucketnya; dan
Kemampuan melakukan manuver pada medan yang sempit dan
sulit.
dengan memanfaatkan kemampuan track yang dimilikinya.

2. Dump Truck
Alat ini berdasarkan fungsi utamanya sering disebut truk jungkit, dan
pada operasi penambangan akan digunakan untuk melakukan tugas-tugas
sebagai berikut :
1. Melakukan pengangkutan, pencurahan hasil penggalian tanah penutup
(overburden) dari tambang ke lokasi penimbunan tanah penutup
(dumpingarea); dan
2. Melakukan pengangkutan, pencurahan batubara hasil tambang (run of
mine) dari tambang ke stockpile batubara.
Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan di atas didukung oleh:
Kemampuan muat yang besar dari baknya.
Kemampuan mobilitas yang cepat untuk jarak angkut yang jauh.
Kemampuan untuk melakukan dumping dari baknya.
Kemampuan untuk melakukan manuver pada medan yang sulit.

IV-27
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

3. Bulldozer
Alat ini fungsi utamanya adalah alat gali, dorong dan gusur, pada operasi
penambangan akan digunakan melakukan tugas sebagai berikut :

a. Melakukan pembabatan semak dan perdu serta mengumpulkannya ke


suatu lokasi tertentu;
b. Melakukan penggusuran jenis tanaman pohon-pohonan;
c. Melakukan pengupasan tanah atas atau humus (stripping) dan
mengumpulkannya dekat lokasi tambang;
d. Melakukan pembersihan lapisan tanah penutup (overburden) dan
mengumpulkanya pada suatu lokasi dekat tambang; apabila berhadapan
dengan material keras, maka digunakan alat tambahan yang disebut
ripper;
e. Kadang-kadang melakukan pembersihan lapisan batubara (coal) dan
mengumpulkanya pada suatu lokasi dekat tambang; apabila berhadapan
dengan batubara keras, maka digunakan alat tambahan yan disebut
ripper;
f. Melakukan perintisan dalam pembuatan lantai kerja dan jalan angkut
tambang; dan
g. Mengatur bentuk geometri lereng tambang.
Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan-pekerjaan seperti di
atas akan di dukung oleh :

Kemampuan daya dorong yang besar yang dimilikinya


Kemampuan memotong untuk ukuran yang cukup lebar dengan
memanfaatkan blade dan daya dorong yang besar
Kemampuan merobek material keras dengan memanfaatkan kemampuan
ripper dan daya dorong yang besar
Kemampuan untuk melakukan manuver pada medan yang semopen pit
dan sulit dengan memanfaatkan kemampuan track yang dimilikinya.

Jenis atau tipe bulldozer yang akan digunakan dengan tujuan :

IV-28
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

1) Melakukan pemuatan tanah penutup ke atas bak dump truck dan/atau ke


atas timbunan tanah penutup di waste dump area;
2) Mengatur bentuk geometri lereng timbunan tanah penutup; dan
3) Mendorong tanah penutup ke posisi yang direncanakan.

4. Wheel Loader
Alat ini fungsi utamanya adalah alat muat, akan tetapi dapat berfungsi pula
sebagai alat dorong, dan pada operasi penambangan akan digunakan untuk
melakukan tugas-tugas sebagai berikut:

a. Melakukan penggalian, pengangkutan, dan pencurahan batubara di


stockpile atau ke atas hopper atau ke atas dump truck.
b. Melakukan pendorongan batubara di stockpile agar tertata dengan rapi.
Kemampuan alat ini dalam melakukan jenis pekerjaan di atas di dukung
oleh :
Kemampuan muat yang besar dari bucket nya
Kemampuan mobilitas cepat untuk jarak angkut tidak terlalu jauh
Kemampuan untuk melakukan digging dan dumping yang cepat
Memiliki daya dorong yang besar.
Jumlah Peralatan Tambang Yang Dibutuhkan:
Dump truck Komatsu Koamatsu HD 325-6 = 19 unit
Excapator Backhoe Komatsu PC 400 = 2 unit
Excapator Backhoe Komatsu PC 400 = 3 unit

4.5.2 Jam Kerja Peralatan


Waktu kerja operasi penambangan, mencakup semua kegiatan penggalian,
pemuatan, pengangkutan dan pengolahan batubara serta spreading tanahpenutup
yang direncanakan 2 shift/hari yaitu dengan jam kerja efektif 11 jam/ship.

Hari libur nasional antara lain 17 agustus, hari raya idul fitri, idul adha,
Natal dan tahun baru serta pemilu. Sedangkan waktu delay dapat diakibatkan
antara lain waktu pengisian solar, over shift, waktu safety talk, dan lain
sebagainya. Jam kerja efektif secara lengkap dapat dilihat pada Tabel VI.5 berikut

IV-29
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

TABEL VI.5.
JAM KERJA EFEKTIF

4.5.3 Perhitungan Kebutuhan Peralatan Tambang


Peralatan tambang yang akan digunakan adalah kombinasi backhoe-
dump truck, dibantu dengan bulldozer dan grader untuk perawatan jalan
serta peralatan penunjang seperti truck tangki air, pompa, fuel tank dan
service truck. Kebutuhan alat-alat tambang dihitung dengan cara membagi
target produksi yang harus di gali perjam dengan produktifitas alat per jam.
Target produksi yang harus di gali per jam didapat dengan cara membagi
target produksi yang harus di gali per tahun dengan jam kerja effektif
pertahun, perhitungan produktifitas alat dapat dilihat pada Lampiran C.

4.5.4 Perhitungan Produksi Peralatan

1. Perhitungan Produksi Bulldozer

IV-30
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

a. Buldozer untuk land clearing


Waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan lahan adalah sebagai berikut:

T1 = X (AB+ M1N1 + M2N2 + M2N2 +DF)

b. Bulldozer untuk mengumpulkan tanah penutup


Kegiatan alat ini diasumsikan beroperasi pada kondisi sebagai berikut :

-Keadaan kerja baik, pengelolaan baik


-Blade yang dipakai jenis straight
-Jarak dorong 30 m
Maka produksi bulldozer dapat dihitung dengan persamaan :

KBx 60 xFK
P
CT
Dimana :

P : Produksi buldozer (m3/jam)

FK : Faktor koreksi

:ExI

E : Efesiensi kerja (%)

I : Swel Faktor material

CT : Waktu edar buldozer

KB : Kapasitas blade (m3/cycle)

: L x H2 x a

L : Lebar blade (meter)

H : Tinggi blade (meter)

Faktor koreksi blade

IV-31
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

J J
CT Z
F R
CT : Waktu edar buldozer

Dimana :

J : Jarak dorong (meter)

F : Kecepatan maju (meter/menit)

R : kecepatan mundur (meter/menit)

Z : Waktu ganti gigi (menit)

2. Perhitungan Produksi Alat Muat

KBx 3600 xFK


P
SCT
Produksi alat muat dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

P : Produksi Excavator PC 400 (m3/jam)

FK : Faktor koreksi

:ExI

E : Efesiensi kerja (%)

I : Swel Faktor material

SCT : Cicle time

3. Alat Angkut
Produksi alat angkut dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

IV-32
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

KBx 60 xFK
P
CT

Dimana :

P : Produksi Komatsu HD 325-6(m3/jam)

FK : Faktor koreksi

:ExI

E : Efesiensi kerja (%)

I : Swel Faktor material

CT : Cicle time

: LT + HT + DT + RT + SDT

LT : Waktu muat (menit)

KT
LT xCta
KB

KB : Produksi alat muat/cycle (m3)

Cta : Cycle time alat muat

HT : waktu angkut (menit)

DT : Waktu tumpah (menit)

RT : waktu kembali (menit)

SDT : Waktu Dumptruck untuk berposisi (menit)

IV-33
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

4.5.5. Jumlah Peralatan Yang Diperlukan

Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan peralatan tambang, untuk


memproduksi batubara terjual sebanyak 2.000.000 ton per tahun maka
dibutuhkan peralatan sebagai berikut :

1. Land clearing
Dari hasil perhitungan diketahui untuk kegiatan pembersihan lahan
menggunakan alat buldozer Cat D7R dibutuhkan sebanyak 1 unit

2. Penggalian dan pengangkutan tanah penutup


Penggalian dan pemuatan tanah penutup digunakan Komatsu PC 800
sebanyak 3 unit. Sedangkan untuk pengangkutannya di butuhkan Komatsu
HD 325-6 sebanyak 13 Unit dan dibantu buldozer Cat D 8 R sebanyak 2
unit untuk membongkar dan mendorong over burden.

3. Penambangan batubara dan pengangkutan ke stockpile tambang


Penggalian dan pemuatan batubara digunakan Excavator PC 400 sebanyak 3
unit. Sedangkan untuk pengangkutannya di butuhkan Komatsu HD 325-
6sebanyak 13 Unit

4. Pemuatan dan pengangkutan dari crusher ke sale stockpile


Pengangkutan batubara yang telah di crusher dari penumpukan di depan
crusher ke stockpile di gunakan alat muat wheel loader Cat 998 sebanyak 1
unit. Sedangkan alat angkut yang dibutuhkan adalah Komatsu HD 325-6
sebanyak 2 unit.

4.5.6. Keserasian Alat Angkut dan Alat Muat (Match Factor)

Hubungan kerja antara dua alat atau lebih dikatakan serasi apabila produksi alat
yang melayani sama dengan produksi alat yang dilayani. Untuk mengetahui
keserasian kerja antara alat muat dengan alat angkut maka digunakan rumus
pendekatan faktor keserasian (match faktor) sebagai berikut :

MF nH x tL
nL x tH

IV-34
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

MF < 1, Jika MF kecil dari satu maka akan terjadi alat muat akan sering
menunggu sehingga terjadi tidak keseimbangan antara produksi alat muat dan
alat angkut.
MF = 1, Jika MF sama maka akan terjadi keseimbangan produksi antara alat
muat dan alat angkut sehingga tidak ada alat muat yang menunggu.
MF > 1, Jika MF besar dari satu maka akan terjadi alat angkut akan sering
menunggu sehingga terjadi tidak keseimbangan antara produksi alat angkut dan
alat muat.

Sedangkan batasan pada teori pendekatan yang normal adalah 0,8 sampai
dengan 1,5 dan nilai yang dapat ditoleransikan untuk keserasian alat angkut dan
alat muat adalah 0,6 angka minimum dan 1,7 batas maximum. Dari hasil
perhitungan alat angkut dan alat muat, maka didapatkan nilai Match Factor
adalah sebagai berikut :

a. Alat muat Excavator komatsu PC 800 sebanyak 3 unit yang berpasangan


dengan alat angkut komatsu HD325-6 sebanyak 13 unit pada pemuatan dan
pengangkutan tanah pemutup nilai Match Faktor adalah 0,89.

b. Alat muat Excavator komatsu PC 400 sebanyak 2 unit yang berpasangan


dengan alat angkut Dump Truck Merk Komatsu HD 325-6 sebanyak 6 unit
pada pemuatan dan pengangkutan batubara dari pit ke pengolahan nilai Match
Faktor adalah 0,89.
Dari keterangan diatas maka operasi peralatan yang digunakan adalah masih
dalam toleransi serasi.

4.6. FASILITAS PENUNJANG

Untuk menunjang kegiatan penambangan, pengolahan, pengangkutan dan


pemuatan batubara diperlukan sarana penunjang seperti fasilitas kantor, fasilitas
perumahan, fasilitas perbengkelan, fasilitas tenaga listrik, fasilitas penyediaan Bahan
Bakar Minyak (BBM) dan fasilitas air bersih.

IV-35
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

4.6.1. Fasilitas Kantor Tambang


Bangunan kantor tambang merupakan bagian dari infrastruktur tambang yang
dibuat untuk menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi PT. Zairmuthsa ,
yang mencakup tugas dan fungsi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan
evaluasi dari organisasi penambangan batubara. Desain dan fungsi ruang yang di
rencanakan dalam bangunan kantor dibuat sedemikian rupa sehingga pelaksanaan
tugas dan fungsi organisasi diatas dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya.
Kantor tambang berlokasi di dekat unit pengolahan batubara.

Konstruksi bangunan kantor ini dibuat dari kayu dengan atap asbes, dengan
fasilitas antara lain :

Fasilitas jaringan listrik;


Fasilitas jaringan air;
Fasilitas jaringan komunikasi (internal menggunakan intercom, eksternal
menggunakan telepon dan komunikasi radio frekuensi);
Fasilitas jaringan komputer LAN;
Fasilitas administrasi;
Fasilitas kantin dan ruang makan; dan
Fasilitas parkir kendaraan.

4.6.2. Fasilitas Perumahan Karyawan


Untuk permukiman karyawan, perusahaan membangun fasilitas
pemukiman yang terdiri dari perumahan karyawan biasa dan perumahan
karyawan staf.

A. Perumahan Karyawan Biasa


Fasilitas perumahan ini diperuntukkan bagi karyawan perusahaan setingkat
Supervisor dan operator, baik yang sudah berkeluarga maupun yang belum
berkeluarga (bujangan).

B. Perumahan Karyawan Staf

IV-36
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

Fasilitas perumahan ini di peruntukkan bagi karyawan tetap perusahaan


setingkat Manajer yang belum berkeluarga. Bangunan perumahan ini
dibangun dekat kantor tambang

4.6.3. Poliklinik
Poliklinik terletak satu bangunan dengan perumahan karyawan staf.

4.6.4. Mesjid/Mushola
Mesjid dibuat dekat dengan fasilitas perumahan karyawan, sedangkan
mushola dibangun di dekat kantor dan engkel.

4.6.5. Bangunan Pos Keamanan


Bangunan pos keamanan dibangun di setiap lokasi yang strategis dan
membutuhkan pengamanan, seperti misalnya pintu masuk daerah tambang,
perkantoran, perumahan, unit preparasi batubara dan stockpile.Setiap lokasi
yang strategis untuk kepentingan pengamanan dibatasi dengan pagar kawat
berduri. Setiap bangunan pos keamanan mempunyai luas 3,5 x 3,5 m2, terdiri
dari ruang jaga dan ruang peralatan/ perlengkapan.

4.6.6. Fasilitas Bengkel


A. Bengkel Alat Berat
Bengkel tambang merupakan infrastruktur yang dipergunakan untuk
merawat alat-alat berat yang memerlukan perbaikan dan perawatan.
Letak bangunan ini dekat dengan lokasi stockpile utnuk memudahkan
distribusi peralatan.

B. Bengkel Kendaraan
Bengkel kendaraan digunakan untuk perawatan kendaraan-kendaraan
yang dipakai untuk sarana transportasi, seperti kendaraan roda empat
untuk dinas serta untuk pengangkutan karyawan, termasuk kendaraan
untuk pengawas lapangan. Bengkel kendaraan dibuat satu bangunan
dengan bengkel alat berat.

IV-37
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

4.6.7. Tempat Cuci Kendaraan


Bangunan pencucian ini terletak didekat bengkel alat berat dan
dipergunakan untuk tempat cuci kendaraan operasional tambang. Pada
bangunan ini tersedia drainase air untuk keperluan pencucian kendaraan.

4.6.8. Gudang Tambang


Bangunan ini digunakan sebagai tempat penyimpanan semua aset
perusahaan yang secara fisik memerlukan volume ruangan yang besar, antara
lain suku cadang alat-alat berat, peralatan tambang dan suku cadang kendaraan.
Juga digunakan untuk menyimpan material-material lain yang dipergunakan
untuk pekerjaan-pekerjaan sipil tambang seperti pipa, rangka besi, kayu, asbes,
dan sebagainya. Administrator gudang pada umumnya mencatat aset yang
keluar-masuk, memonitor keadaan aset dan sebagainya, sehingga semua aset
yang disimpan dapat dikelola sebaik-baiknya.

4.6.9. Fasilitas Instalasi Listrik


Bangunan stasiun pembangkit tenaga listrik dimaksudkan untuk
penempatan generator-generator pembangkit listrik yang digerakkan oleh
bahan bakar solar, sehingga dapat membangkitkan energi listrik yang
dibutuhkan untuk berbagai kepentingan operasi penambangan. Pada setiap
bukaan tambang disediakan 1 unit multi flow genset untuk pemompaan air
tambang, sedangkan untuk penerangan kantor dan jalan tambang diambil
tenaga listrik dari generator yang ada di lokasi Stockpile.

4.6.10. Fasilitas Penyediaan Bahan Bakar Minyak


Untuk mencukupi bahan bakar operasi penambangan baik berupa solar
maupun bensin maka dibangun stasiun bahan bakar dengan tujuan untuk
mengontrol pendistribusian ataupun pemakaian bahan bakar oleh peralatan
utama maupun peralatan pendukung operasi pertambangan. Persediaan bahan
bakar ini disimpan di 1 stasiun bahan bakar minyak dekat lokasi stockpile
dengan kapasitas 5.000 liter.

IV-38
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

Untuk penyaluran bahan bakar minyak dari stasiun bahan bakar


dipergunakan pompa dengan kapasitas sebesar 650 liter/jam, untuk dipindahkan
ke truk solar (fuel truck) yang selanjutnya akan mendistribusikannya ke
peralatan-peralatan yang beroperasi di tambang. Untuk menjaga keamanan
tangki bahan bakar, maka tangki tersebut diletakkan di atas pondasi beton,
sehingga tidak langsung menyentuh tanah. Selanjutnya, untuk menjaga
keamanan stasiun BBM tersebut, dipasang papan larangan dengan tulisan
Dilarang Merokok di Kawasan Ini, untuk mencegah terjadinya bahaya
kebakaran.

4.6.11. Fasilitas Instalasi Air Bersih


A. Stasiun Pompa Air Bersih
Stasiun pompa air direncanakan dengan tujuan untuk mensuplai
kebutuhan air bersih dan sehat yang digunakan untuk kebutuhan hidup
sehari-hari termasuk untuk minum, masak, mandi, cuci, dan lain
sebagainya.Stasiun pompa air ini harus dapat menyediakan air bersih dan
sehat yang memenuhi standar kualitas kesehatan, baik secara fisik
maupun secara kimiawi.

B. Instalasi Pengolahan Air Bersih


Air yang berasal dari Sungai disalurkan kesaluran pengambilan air
melalui pintu pengambilan, dari sini air diisap memakai pompa menuju
ke kolam pengendap. Kapasitas pompa untuk memindahkan air bersih
bagi keperluan kantor, perumahan karyawan dan sarana tambang adalah
sebesar 2 x 32,40 m3 per jam (2 pompa @15 PK).

4.6.12. Lokasi Pembibitan


Lokasi pembibitan dimaksudkan sebagai tempat pembibitan tanaman
untuk reklamasi daerah bekas tambang.

IV-39
Laporan Studi Kelayakan Tambang PT Zairmuthsa

4.7 RENCANA PENANGANAN BAHAN GALIAN


Mengingat batubara pada prinsipnya bahan galian yang tidak dapat diperbaharui
kembali (Annewreable) sehingga perlunya dilakukan konservasi bahan galian secara
optimal, jika melaksanakan kegiatan penambangan bahan galian batubara tersebut.

4.8 CADANGAN YANG BELUM TERPASARKAN


Berdasarkan kualitas batubara yang dimiliki oleh PT. ZAIRMUTHSA yang
memenuhi spesifikasi pasar, jadi bahan galian batubara ini tidak terdapat kendala dalam
proses pemasarannya. Pemasaran dilakukan pada beberapa industri besar di luar negeri
yaitu di Cina, India, Korea Selatan

4.9 PERLAKUAN SISA BAHAN GALIAN PASCA TAMBANG


Dengan melihat rencana produksi dan cadangan yang relatif terbatas,
sebagaimana telah dijelaskan dalam sub-bab rencana produksi sebelumnya maka
diusahakan pemanfaatan cadangan semaksimal mungkin sehingga tidak terdapat sisa
bahan galian pasca tambang. Dan dalam penambangan ini tidak ditemukan mineral
berharga lainnya. Jadi hasil dari kegiatan penambangan ini hanya sumberdaya batubara.

IV-40