Anda di halaman 1dari 31

MENYELAMATKAN RUPIAH

PADA KRISIS EKONOMI TAHUN 1998


Ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Multinatinal Finance

Penyusun:
Kelompok 4

Deri Firmansyah | 15/391909/PEK/21355


Made Tysen Nainggolan | 15/391956/PEK/21402
Yoan Fatiana | 15/391998/PEK/21444

Eksekutif A Angkatan 39

Fakultas Ekonomika & Bisnis

Jurusan Magister Manajemen

Universitas Gadjah Mada

Jakarta

2017
BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yang memiliki letak geografis yang sangat strategis, karena
berada di antara dua benua (Asia dan Eropa) serta dua samudra (Pasifik dan Hindia), sebuah
posisi yang strategis dalam jalur pelayaran perdagangan antar benua. Perdagangan saat itu
mengenal sebutan jalur sutra laut, yaitu jarur dari Tiongkok dan Indonesia yang melalui Selat
Malaka menuju ke India. Perdagangan laut antara India, Tiongkok, dan Indonesia dimulai
pada abad pertama sesudah masehi, demikian juga hubungan Indonesia dengan daerah-daerah
di Barat (Kekaisaran Romawi). Perdagangan di masa kerajaan-kerajaan tradisional disebut
oleh Van Leur mempunyai sifat kapitalisme politik, dimana pengaruh raja-raja dalam
perdagangan itu sangat besar. Misalnya di masa Sriwijaya, saat perdagangan internasional
dari Asia Timur ke Asia Barat dan Eropa, mencapai zaman keemasannya. Raja-raja dan para
bangsawan mendapatkan kekayaannya dari berbagai upeti dan pajak. Tak ada proteksi
terhadap jenis produk tertentu, karena mereka justru diuntungkan oleh banyaknya kapal yang
lewat di daerah mereka. Sejarah Perekonomian Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 4
masa, yaitu:

1. Masa Sebelum Kemerdekaan


Daya tarik Indonesia akan sumber daya alam dan rempah-rempah membuat bangsa-bangsa
Eropa berbondong-bondong datang untuk menguasai Indonesia. Sebelum merdeka
setidaknya ada 4 negara yang pernah menjajah Indonesia, diantaranya adalah Portugis,
Belanda, Inggris, dan Jepang.
Pada masa penjajahan Portugis, perekonomian Indonesia tidak banyak mengalami
perubahan dikarenakan waktu Portugis menjajah tidaklah lama disebabkan kekalahannya
oleh Belanda untuk menguasai Indonesia, sehingga belum banyak yang dapat diberlakukan
kebijakan.
Dalam masa penjajahan Belanda selama 350 tahun Belanda melakukan berbagai
perubahan kebijakan dalam hal ekonomi, salah satunya dengan dibentuknya Vereenigde
Oost-Indische Compagnie (VOC). Belanda memberikan wewenang untuk mengatur
Hindia Belanda dengan tujuan menghindari persaingan antar sesama pedagang Belanda,
sekaligus untuk menyaingi perusahaan imperialis lain seperti EIC milik Inggris. Untuk
mempermudah aksinya di Hindia Belanda, VOC diberi hak Octrooi, yang antara lain
meliputi:
a. Hak untuk mencetak uang
b. Hak mengangkat dan memberhentikan pegawai

2
c. Hak menyatakan perang dan damai
d. Hak untuk membuat angkatan bersenjata sendiri
a. Hak untuk membuat perjanjian dengan raja-raja

Hak-hak itu seakan melegalkan keberadaan VOC sebagai penguasa Hindia Belanda.
Namun walau demikian, tidak berarti bahwa seluruh ekonomi Nusantara telah dikuasai
VOC.
Kenyataannya, sejak tahun 1620, VOC hanya menguasai komoditi-komoditi ekspor sesuai
permintaan pasar di Eropa, yaitu rempah-rempah.
Namun pada tahun 1795, VOC dibubarkan karena dianggap gagal dalam mengeksplorasi
kekayaan Hindia Belanda. Kegagalan itu nampak pada defisitnya kas VOC, yang antara
lain disebabkan oleh :
a. Peperangan yang terus-menerus dilakukan oleh VOC dan memakan biaya besar
b. Penggunaan tentara sewaan membutuhkan biaya besar
c. Korupsi yang dilakukan pegawai VOC sendiri
a. Pembagian dividen kepada para pemegang saham, walaupun kas defisit
Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) mulai diberlakukan pada tahun 1836 atas inisiatif Van
Den Bosch dengan tujuan memproduksi berbagai komoditi yang diminta di pasar dunia.
Sistem tersebut sangat menguntungkan Belanda namun semakin menyiksa pribumi. Sistem
ini merupakan pengganti sistem landrent dalam rangka memperkenalkan penggunaan uang
pada masyarakat pribumi. Masyarakat diwajibkan menanam tanaman komoditas ekspor
dan menjual hasilnya ke gudang-gudang pemerintah untuk kemudian dibayar dengan harga
yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Cultuurstelstel melibatkan para bangsawan dalam
pengumpulannya, antara lain dengan memanfaatkan tatanan politik Mataramyaitu
kewajiban rakyat untuk melakukan berbagai tugas dengan tidak mendapat imbalandan
memotivasi para pejabat Belanda dengan cultuurprocenten.

2. Masa Orde Lama


a. Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950)
Keadaan ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk karena inflasi
yang disebabkan oleh beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali. Pada
Oktober 1946 pemerintah RI mengeluarkan ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai
pengganti uang Jepang. Namun adanya blokade ekonomi oleh Belanda dengan menutup
pintu perdagangan luar negeri mengakibatkan kekosongan kas negara.
Dalam menghadapi krisis ekonomi-keuangan, pemerintah menempuh berbagai
kegiatan, diantaranya :

3
Pinjaman Nasional, menteri keuangan Ir. Soerachman dengan persetujuan Badan
Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) mengadakan pinjaman nasional
yang akan dikembalikan dalam jangka waktu 40 tahun.
Hubungan dengan Amerika, Banking and Trade Coorporation (BTC) berhasil
mendatangkan Kapal Martin Behrman di pelabuhan Ciberon yang mengangkut
kebutuhan rakyat, namun semua muatan dirampas oleh angkatan laut Belanda.
Konferensi Ekonomi, Konferensi yang membahas mengenai peningkatan hasil
produksi pangan, distribusi bahan makanan, sandang, serta status dan administrasi
perkebunan asing.
Rencana Lima Tahunan (Kasimo Plan), memberikan anjuran memperbanyak kebun
bibit dan padi ungul, mencegah penyembelihan hewan-hewan yang membantu dalam
pertanian, menanami tanah terlantar di Sumatra, dan mengadakan transmigrasi.
Keikutsertaan Swasta dalam Pengembangan Ekonomi Nasional, mengaktifkan dan
mengajak partisipasi swasta dalam upaya menegakkan ekonomi pada awal
kemerdekaan.
Nasionalisasi de Javasche Bank menjadi Bank Negara Indonesia,
Sistem Ekonomi Gerakan Benteng (Benteng Group)
Sistem Ekonomi Ali-Baba

b. Masa Demokrasi Liberal (1950-1957)


Perekonomian diserahkan sepenuhnya pada pasar, padahal pengusaha pribumi masih
belum mampu bersaing dengan pengusaha non-pribumi. Pada akhirnya hanya
memperburuk kondisi perekonomian Indonesia. Usaha-usaha yang dilakukan untuk
mengatasinya antara lain:
Gunting Syarifuddin, yaitu pemotongan nilai uang untuk mengurangi jumlah uang
yang beredar agar tingkat harga turun
Program Benteng (Kabinet Natsir), yaitu menumbuhkan wiraswasta pribumi agar bisa
berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional
Pembatalan sepihak atas hasil-hasil KMB, termasuk pembubaran Uni Indonesia-
Belanda.

c. Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967)


Sebagai akibat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem
demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme
(segalanya diatur pemerintah). Namun lagi-lagi sistem ini belum mampu memperbaiki
keadaan ekonomi Indonesia. Akibatnya adalah :
Devaluasi menurunkan nilai uang dan semua simpanan di bank diatas 25.000
dibekukan
Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis
Indonesia dengan cara terpimpin

4
Kegagalan dalam berbagai tindakan moneter

3. Masa Orde Baru


Pada awal orde baru, stabilitas ekonomi dan politik menjadi prioritas utama. Program
pemerintah berorintasi pada pengendalian inflasi, penyelamatan keuangan negara dan
pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Setelah melihat pengalaman masa lalu, dimana
dalam sistem ekonomi liberal ternyata pengusaha pribumi kalah bersaing dengan
pengusaha nonpribumi dan sistem etatisme tidak memperbaiki keadaan, maka dipilihlah
sistem ekonomi campuran dalam kerangka sistem ekonomi demokrasi pancasila. Ini
merupakan praktek dari salah satu teori Keynes tentang campur tangan pemerintah dalam
perekonomian secara terbatas.
Kebijakan ekonominya diarahkan pada pembangunan di segala bidang, tercermin dalam 8
jalur pemerataan : kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan, pembagian pendapatan,
kesempatan kerja, kesempatan berusaha, partisipasi wanita dan generasi muda,
penyebaran pembangunan, dan peradilan. Semua itu dilakukan dengan pelaksanaan pola
umum pembangunan jangka panjang (25-30 tahun) secara periodik lima tahunan yang
disebut Pelita.
Hasilnya, pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras, penurunan angka
kemiskinan, perbaikan indikator kesejahteraan rakyat seperti angka partisipasi pendidikan
dan penurunan angka kematian bayi, dan industrialisasi yang meningkat pesat.
Pemerintah juga berhasil menggalakkan preventive checks untuk menekan jumlah
kelahiran lewat KB.
Namun dampak negatifnya adalah kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup dan
sumber-sumber daya alam, perbedaan ekonomi antar daerah, antar golongan pekerjaan
dan antar kelompok dalam masyarakat terasa semakin tajam, serta penumpukan utang
luar negeri. Disamping itu, pembangunan menimbulkan konglomerasi dan bisnis yang
sarat korupsi, kolusi dan nepotisme. Pembangunan hanya mengutamakan pertumbuhan
ekonomi tanpa diimbangi kehidupan politik, ekonomi, dan sosial yang adil.
Sehingga meskipun berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tapi secara
fundamental pembangunan nasional sangat rapuh. Akibatnya, ketika terjadi krisis yang
merupakan imbas dari ekonomi global, Indonesia merasakan dampak yang paling buruk.
Harga-harga meningkat secara drastis, nilai tukar rupiah melemah dengan cepat, dan
menimbulkan berbagai kekacauan di segala bidang, terutama ekonomi.

4. Masa Orde Reformasi


Orde reformasi dimulai saat kepemimpinan presiden BJ.Habibie, namun belum terjadi
peningkatan ekonomi yang cukup signifikan dikarenakan masih adanya persoalan-
persoalan fundamental yang ditinggalkan pada masa orde baru. Kebijakan yang menjadi

5
perhatian adalah cara mengendalikan stabilitas politik. Sampai pada masa kepemimipinan
presiden Abdurrahman Wahit, Megawati Soekarnoputri, hingga sekarang masa
kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun masalah-masalah yang
diwariskan dari masa orde baru masih belum dapat diselesaikan secara sepenuhnya. Bisa
dilihat dengan masih adanya KKN, inflasi, pemulihan ekonomi, kinerja BUMN, dan
melemahnya nilai tukar rupiah yang menjadi masalah polemik bagi perekonomian
Indonesia.

6
BAB II
LATAR BELAKANG KASUS

Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997 yakni lumpuhnya kegiatan
ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja
yang menganggur. Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di
masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia. Fundamental
ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali,
tingkat pengangguran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus
meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali,
cadangan devisa masih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan
sedikit surplus. Namun di balik fundamental yang kuat terdapat beberapa kelemahan
struktural seperti peraturan perdagangan domestik yang kaku dan berlarut-larut, monopoli
impor yang menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien dan kompetitif. Pada saat yang
bersamaan kurangnya transparansi dan kurangnya data menimbulkan ketidak pastian
sehingga masuk dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistim perbankan yang lemah.
Sektor swasta banyak meminjam dana dari luar negeri yang sebagian besar tidak di hedge.
Empat sebab utama Indonesia terkena krisis ekonomi di 1998 adalah yang pertama
jatuh temponya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar. Akumulasi utang swasta luar
negeri yang cepat dari tahun 1992 hingga Juli 1997, hingga 95% dari total kenaikan utang
luar negeri berasal dari sektor swasta ini, dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan.
Utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat
tekanan yang berat karena tidak tersedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh
tempo beserta bunganya. Bahkan selama empat tahun terakhir utang luar negeri pemerintah
jumlahnya menurun. Pada awal Mei 1998 besarnya utang luar negeri swasta dari 1.800
perusahaan diperkirakan berkisar antara US$ 63 hingga US$ 64 milyar, sementara utang
pemerintah US$ 53,5 milyar. Sebagian besar dari pinjaman luar negeri swasta ini tidak di
hedge yang kedua adalah kelemahan pada sistem perbankan yang mana sistem perbankan
pada saat itu tidak terlalu menjaga akan kesehatan bank-bank pada saat itu. Pinjaman luar
negeri dan dana masyarakat yang masuk ke sistem perbankan, banyak yang dikelola secara
tidak hati-hati, yakni disalurkan ke kegiatan grupnya sendiri dan untuk proyek-proyek
pembangunan realestat dan kondomium secara berlebihan sehingga jauh melampaui daya beli
masyarakat, kemudian macet dan uangnya tidak kembali. Pinjaman-pinjaman luar negeri

7
dalam jumlah relatif besar yang dilakukan oleh sistem perbankan sebagian disalurkan ke
sektor investasi yang tidak menghasilkan devisa seperti pembangunan hotel, resort
pariwisata, taman hiburan, taman industri, shopping malls dan realestat. Proyek-proyek besar
ini umumnya tidak menghasilkan barang-barang ekspor dan mengandalkan pasar dalam
negeri, maka sedikit sekali pemasukan devisa yang bisa diandalkan untuk membayar kembali
utang luar negeri. Ketiga adalah masalah pemerintahan, termasuk kemampuan pemerintah
menangani dan mengatasi krisis, yang kemudian menjelma menjadi krisis kepercayaan yang
membuat lembaga bantuan tidak mau untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat.
Hal ini menyebabkan IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana
bantuan yang dijanjikannya dengan alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir
kesepakatan dengan baik. Negara-negara sahabat yang menjanjikan akan membantu
Indonesia juga menunda mengucurkan bantuannya menunggu signal dari IMF, padahal
keadaan perekonomian Indonesia makin lama makin tambah terpuruk.Yang keempat adalah
ketidakpastian politik menghadapi Pemilu yang lalu dan pertanyaan mengenai kesehatan
Presiden Soeharto pada waktu itu.
Pada tanggal 9 Januari 1998 Rupiah mengalami penurunan terendah menjadi Rp11.000
per Dollar setelah sebelumnya berada pada Rp9.000 per Dollar pada hari sebelumnya. Nilai
tukar tersebut turun dari Rp2.450 pada bulan Juli 1997 sebelum terjadi krisis mata uang di
Asia. Indeks Harga Saham Gabungan jatuh sebesar 12%. Saat permasalahan yang terjadi di
Indonesia tersebar, pasar saham di seluruh dunia juga mengalami tekanan; Dow Jones
Industrial Average jatuh lebih dari 240 points ke 7660,74. Terpukulnya Rupiah telah membuat
ratusan bank dan perusahaan yang memiliki pinjaman di luar negeri mengalami kebangkrutan
dimana secara kolektif, bisnis di Indonesia diperkirakan terbebani dengan utang luar negeri
sebesar 74 juta Dollar AS.
President Bill Clinton berbicara kepada Presiden Suharto dan mendesak agar
mengimplementasikan reformasi ekonomi untuk menghentikan krisis agar menjadi
terkendali. Pejabat senior di Indonesia menyatakan bahwa Suharto setuju dengan pemikiran
Clinton dan berjanji akan mengimplementasikan reformasi dengan serius. Delegasi ekonomi
senior AS didampingi dengan dua pejabat IMF dikirim ke Jakarta. Investor melihat prospek
Indonesia begitu suram. Hal ini dikarenakan sejak Juli 1997 ketika krisis Asia dimulai pada
akhir Januari 1998, Bursa Efek Jakarta kehilangan lebih dari 84% nilainya dalam Dollar.

8
Penurunan pasar saham dan Rupiah mulai terjadi seminggu sebelumnya ketika Suharto
mengumumkan rencana anggaran yang terdiri dari proyeksi yang tidak realistis (pertumbuhan
GDP 4%, inflasi tetap di 9%, dan Rupiah mengalami peningkatan nilai 2 kali lipat dari nilai
saat ini, dan saldo anggaran berdasarkan proyeksi kenaikan 10% dari penerimaan pajak non-
minyak). Suharto juga mengingkari langkah-langkah reformasi struktural yang telah
disepakati pada bulan Oktober 1997 sebagai imbalan atas paket penyelamatan yang dipimpin
IMF senilai $ 43 miliar. Secara spesifik, Suharto berjanji untuk merestrukturisasi sistem
perbankan, menjaga kebijakan uang ketat, meningkatkan pajak, mengurangi susidi makanan,
bahan bakar, dan listrik, mengakhiri pendanaan pemerintah atas beberapa investasi besar
yang menghasilkan uang (termasuk proyek untuk merancang dan memproduksi mobil
nasional dan pesawat terbang nasional), dan membubarkan monopoli, kartel, dan hak khusus
dalam negeri yang telah memperkaya anak-anak dan kroninya.
Sebagian besar analis menilai anggaran tersebut sebagai upaya untuk mempertahankan
status quo pada saat Indonesia berada di ambang bencana (para ekonom swasta
memperkirakan penurunan GDP sebesar 15% dan inflasi sebesar 55%). Mereka
mengharapkan penghematan, cetak biru untuk penanganan perusahaan dan bank yang
kekurangan uang dan bangkrut, dan mencabut batas kepemilikan asing atas aset properti dan
lembaga keuangan. Sebaliknya, Suharto menjanjikan kenaikan 32% dalam belanja
pemerintah, termasuk kenaikan subsidi bahan bakar dan makanan sebesar 13 triliun rupiah.
Anggaran tersebut juga mengalokasikan dana untuk pembangunan sebuah pembangkit listrik

9
baru di Jawa oleh anak perempuan tertua Suharto di Jawa, padahal Pulau Jawa sudah
memiliki surplus listrik.
Sebagai tanggapan, IMF mengancam akan menghentikan program bailout senilai $ 43
miliar untuk Indonesia. Pejabat IMF mengatakan bahwa mereka dapat memahami keinginan
Indonesia untuk menempatkan prioritas tinggi pada masalah sosial dan kemanusiaan dalam
anggarannya namun mereka mengkritik pemerintah karena melakukannya tanpa melakukan
upaya yang baik untuk menerapkan reformasi ekonomi struktural yang telah disepakati.
Berdasarkan rencana penyelamatan yang dipimpin IMF, Indonesia diharuskan mencapai
surplus anggaran sebesar 1% dari GDP. Namun, pejabat IMF mengatakan bahwa mereka
bersedia menegosiasikan ulang target fiskal yang diberikan Indonesia untuk menerapkan
reformasi tersebut. Ketegangan yang meningkat tersebut membuat rupiah terjerembab dan
menyebabkan kenaikan tajam pada makanan dan harga lainnya.

Warga kemudian mulai menimbun makanan, dan ketakutan akan pengangguran dan
kerusuhan sosial menyebar. Ancaman ketidakstabilan politik tidak dirasakan mudah oleh
negara tetangga dan lainnya. Indonesia, dengan 200 juta orang, adalah negara dengan jumlah
penduduk terpadat keempat di dunia. Namun, distribusi pendapatannya miring, dengan 4%
populasi etnis Cina menguasai sekitar 60% kekayaan negara. Pada tahun 1960-an, Indonesia
diliputi oleh kerusuhan etnis berdarah yang menyebabkan terjadinya perubahan kekuasaan
ketika Suharto menggulingkan pendahulunya, Presiden Soekarno. Diperkirakan 500.000
orang Indonesia tewas dalam kerusuhan tersebut, banyak di antaranya etnis Tionghoa.

10
Lonjakan ekonomi yang panjang terjadi sejak saat itu, dengan GDP tumbuh rata-rata
7% per tahun (lihat Exhibit D untuk tingkat pertumbuhan sejak 1980). Stabilitas politik juga
terancam oleh korupsi endemis Indonesia dan rezim otokratis yang mengakibatkan kurangnya
dukungan rakyat. Rezim Presiden Suharto adalah seorang kleptokrasi, mencalonkan diri
untuk keuntungan finansial keluarga dan teman-temannya. Mereka memanfaatkan
sepenuhnya peluang korupsi dan keuntungan yang diberikan oleh koneksi mereka. Skala
korupsi itu menakjubkan; Suharto dan keenam anaknya memiliki kekayaan bersih senilai $
40 miliar. Sejak krisis ekonomi Indonesia dimulai pada tahun 1997, tindakan Presiden
Soeharto tampak dirancang untuk melindungi kepentingan finansial keluarganya dan
mempertahankan kekuasaannya daripada mempromosikan barang publik. Dengan
pertumbuhan ekonomi riil 7%, tidak terdapat kemakmuran untuk masyarakat.
Otoritarianisme, nepotisme, dan korupsi langsung ditolerir selama Suharto. Namun tidak ada
dukungan rakyat untuk mengusung Presiden Soeharto dan rezimnya ketika terjadi kenaikan
harga dan tindakan reformasi lainnya yang diamanatkan oleh IMF. Apalagi, tidak ada penerus
yang jelas pada Suharto yang berusia 76 tahun, yang kesehatannya dipertanyakan.

Pada tanggal 15 Januari 1998, Suharto menyetujui reformasi ekonomi yang telah
diingkari sebelumnya minggu sebelumnya. Sebagai gantinya, IMF sepakat untuk mulai
menyalurkan dana ke Indonesia. Nilai tukar rupiah dan bursa efek Jakarta mengalami sedikit
pemulihan.

11
Segera setelah membuat janji ini, Indonesia mulai mengejar kebijakan kontradiktif yang
menyebabkan aksi jual tajam dalam rupiah. Bank sentral setuju untuk mengkompensasi
deposan di 16 bank tertutup, sementara mencetak rupiah (pada akhirnya lebih dari 100 triliun
rupiah) untuk menahan sisa 220 pengapungan. Rumor juga mulai beredar bahwa Suharto
bermaksud menunjuk Bucharuddin Habibie, menteri riset dan teknologi, sebagai wakil
presiden barunya dan kemungkinan penggantinya. Desas-desus ini mendorong rupiah turun
pada 22 Januari, pada satu titik menjadi 17.000 dolar, terutama karena Habibie adalah orang
di balik banyak program pengeluaran kontroversial di Indonesia - seperti usaha untuk
membangun industri pesawat terbang nasional dari awal) yang pembiayaannya baru saja
disepakati oleh Presiden Soeharto.
Yang paling kontroversial dari sudut pandang IMF, Presiden Soeharto mulai menggoda
gagasan pembentukan dewan mata uang yang akan mengikat nilai rupiah terhadap dolar. Dia
diperkenalkan pada gagasan dewan mata uang oleh Steven Hanke, seorang ekonom Amerika
yang menunjuk pada pengalaman di Hong Kong, Argentina, dan negara-negara lain karena
menunjukkan bahwa sistem semacam itu akan menstabilkan mata uang dan menurunkan suku
bunga yang melonjak. Dengan mengelompokkan rupiah pada tingkat 5.500 terhadap dolar,
sekitar dua kali lipat nilainya saat ini, Presiden Suharto dan para penasihatnya merasa yakin
bahwa Indonesia dapat menghentikan melonjaknya rupiah, mengendalikan lonjakan harga,
dan mengembalikan kepercayaan investor lokal dan asing - semua Tanpa menggunakan obat
ekonomi IMF yang pahit. Sebagai kata dari papan mata uang yang beredar, rupiah melonjak
nilainya.
Pejabat ekonomi A.S., IMF, dan EU, bagaimanapun, berpendapat bahwa dewan mata
uang adalah perbaikan cepat yang tidak akan berjalan. Mereka berpendapat bahwa hal itu
dapat menyebabkan tingkat suku bunga yang sangat tinggi, masalah lebih lanjut untuk sistem
perbankan Indonesia, dan meningkatnya keresahan sosial. Selain itu, banyak pedagang mata
uang percaya bahwa dewan mata uang akan segera gagal. Pemerintah menjamin semua
simpanan bank, yang tidak dapat dilakukan di bawah dewan mata uang (karena bisa
menerbitkan rupiah hanya jika ada dolar untuk mendukungnya). Bank mungkin mengalami
kemunduran saat deposan bergegas mengubah rupiah menjadi dolar. Kritikus juga
mengeluhkan bahwa Soeharto hanya tertarik pada dewan mata uang karena menaikkan nilai
rupiah akan menyelamatkan rekan-rekannya yang memiliki hutang dalam denominasi dolar.
IMF menanggapi dengan menunda pencairan yang dijadwalkan pada 15 Maret lalu.
Kemudian dijanjikan fleksibilitas, terutama subsidi pangan dan listrik. Sebagian besar

12
pengamat merasa bahwa IMF tidak memiliki pilihan: Antara panen yang buruk,
pengangguran besar-besaran, dan kenaikan harga, ada ketakutan nyata akan bencana
kemanusiaan, sosial, dan politik.
Pada bulan Februari, kerusuhan dan penjarahan makanan meletus di puluhan kota di
seluruh Indonesia. Sebagian besar kekerasan diarahkan ke toko-toko milik etnis Tionghoa.
Mahasiswa dan pemrotes politik lainnya melakukan demonstrasi damai melawan pemerintah.
Lebih buruk lagi, Soeharto tampaknya telah kehilangan dukungan dari banyak kelas
menengah Indonesia yang mentoleransi dia dan keluarganya selama dia memberikan
pertumbuhan ekonomi dan standar hidup yang meningkat.
Hanya angkatan bersenjata Indonesia yang berdiri di jalan anarki. Setengah juta
orangnya seharusnya melindungi negara terhadap ancaman internal maupun eksternal. Dalam
prakteknya tentara telah melakukan penawaran presiden. Sebagai gantinya, perwira-
perancangnya mendapat banyak keuntungan dari korupsi karena kehadiran mereka yang
meluas di negara tersebut memberi mereka. Selama Suharto mempertahankan kesetiaan dan
dukungan tentara, cengkeramannya atas kekuasaan terjamin. Namun, jika kerusuhan sosial
tidak terkendali, tentara tersebut mungkin memutuskan bahwa membunuh ratusan atau
bahkan ribuan orang sebangsanya untuk mengabadikan pemerintahannya tidak sebanding
dengan biaya pribadi. Pertumpahan darah semacam itu juga membuat tentara tidak populer
selama bertahun-tahun yang akan datang dan mengancam peran istimewanya dalam
masyarakat Indonesia.
Kepada Presiden Suharto dan beberapa penasihat ekonominya, gagasan dewan mata
uang menjanjikan jalan keluar dari krisis tanpa membuat perubahan mendasar yang diminta
oleh IMF. Mereka memperkirakan ada cukup cadangan devisa untuk segera mengembalikan
nilai mata uang menjadi sekitar 5.500 rupiah terhadap dolar. Lonjakan nilai rupiah ini akan
meyakinkan investor bahwa investasi mereka di Indonesia akan tetap bernilai. Ini juga akan
mengurangi inflasi yang menggerogoti daya beli rata-rata upah orang Indonesia dan akan
memudahkan perusahaan dan bank Indonesia untuk melunasi hutang luar negeri mereka
(pinjaman luar negeri memberi mereka modal sekitar lima persen lebih sedikit daripada di
rumah) . Dengan waktu yang dibeli dengan papan mata uang, kekuatan ekonomi alami
Indonesia bisa pulih dengan sendirinya. Ini menghasilkan semua minyak sendiri dan
mengekspor miliaran dolar, dan industri manufakturnya mengekspor barang senilai lebih dari
dua kali lipat dari ekspor energinya.

13
Orang-orang yang skeptis menunjukkan bahwa yang paling dikhawatirkan para investor
bukanlah inflasi yang menggerogoti kekayaan mereka, tetapi banyak bisnis dan institusi
keuangan negara itu bisa bangkrut, atau bahkan negara tersebut dapat turun ke dalam
kekacauan tahun 1960an. Pada saat yang sama, melakukan cadangan devisa ke dewan mata
uang berarti mereka tidak bersedia membayar impor atau layanan hutang. Layanan hutang
saja sangat besar, mengingat $ 140 miliar yang dipinjamkan oleh entitas publik dan swasta
Indonesia ke luar negeri, sebagian besar berjangka pendek (misalnya, perusahaan-perusahaan
Indonesia memiliki hutang luar negeri sebesar 43,2 miliar dalam waktu satu tahun). Selain
itu, para kritikus mengklaim bahwa rupiah yang ditetapkan pada 5.500 dolar AS akan
memberi elit kaya negara, termasuk anak-anak dan rekan Presiden Suharto, kesempatan
untuk menukarkan rupiah mereka dengan dolar dan menyetorkannya ke luar negeri.
Cadangan devisa Indonesia akan lenyap, suku bunga akan meroket dan ekonomi akan
terpukul lebih jauh lagi. Namun, para suporter menolak kekhawatiran ini, mengklaim bahwa
uang akan mengalir ke Indonesia, bukan di luar, berkat kepercayaan internasional baru
terhadap mata uang dan negara.
Pilihan lain yang sedang dibahas-mungkin bersamaan dengan dewan mata uang-adalah
moratorium utang. Moratorium kemungkinan akan mendukung rupiah karena debitur tidak
lagi harus membeli dolar untuk membayar hutang luar negeri mereka

14
BAB III
LANDASAN TEORI

I. Sistem Nilai Tukar Alternatif


Sistem moneter internasional merujuk pada seperangkat kebijakan, infrastruktur, praktik,
peraturan, dan mekanisme yang menentukan nilai tukar suatu mata uang dengan mata uang
lainnya. Hal ini termasuk memilih diantara 5 mekanisme pasar untuk membentuk suatu nilai
tukar, yaitu free float, managed float, target-zone arrangement, fixed-rate system, dan current
hybrid system.
Seperti yang kita ketahui, setiap mekanisme ini memiliki biaya dan manfaat dan tidak
ada satupun yang bekerja secara sempurna pada keadaan apapun.Suatu Negara lebih memilih
stabilitas ekonomi dan seringkali menyetarakan hal tersebut dengan nilai tukar mata uang
yang stabil. Namun demikian, menetapkan suatu nilai tukar seringkali berujung pada krisis
mata uang apabila suatu negara mencoba untuk menganut kebijakan ekonomi yang tidak
konsisten dengan dengan kurs tetap atau fixed rate. Pada waktu bersamaan, suatu Negara
dapat memutuskan untuk menetapkan nilai tukar mata uang untuk membatasi cakupan
kebijakan moneter. Di sisi lain, guncangan ekonomi dapat ditahan lebih mudah ketika nilai
tukar dimungkinkan untuk mengambang secara bebas atau free float. Namun demikian, nilai
tukar mengambang bebas dapat menunjukan suatu volatilitas yang dapat mengganggu
perdagangan dan menahan pertumbuhan ekonomi. Pilihan atas pengaturan nilai tukar
bergantung pada kepentingan relative suatu Negara dimana suatu Negara menempatkan pada
berbagai tujuan kebijakan (seperti inflasi yang rendah, stabilitas eksternal, kredibilitas
kebijakan moneter, keunggulan internasional), bagaimana tujuan tersebut dipengaruhi oleh
berbagai aturan mata uang, dan pengorbanan antara tujuan-tujuan tersebut yang dapat
diterima oleh suatu Negara. Ketika tujuan dan pengorbanan yang dapat diterima tersebut
berubah dari waktu ke waktu, suatu Negara seringkali merespon dengan penaturan nilai tukar
mata uangnya.

II. Teori Trilemma


Teori Trilemma atau Mundell-Flemming Trilemma merupakan suatu konsep dalam
ekonomi internasional yang menyatakan bahwa suatu negara memiliki keinginan untuk
mencapai tujuan dalam negaranya, yaitu:

15
1. Nilai Tukar Mata Uang yang Stabil
Nilai tukar mata uang yang stabil dapat memudahkan serta mengurangi risiko bagi bisnis
dan individu untuk membeli dan menjual aset serta berinvestasi di luar negeri. Di sisi lain,
nilai tukar mata uang yang volatil dapat meningkatkan volatilitas ekonomi domestik,
membuat perencanaan untuk aktivitas di luar negeri pada masa yang akan datang lebih
sulit, serta mengganggu perdagangan dan pertumbuhan ekonomi.
2. Kebijakan Moneter yang Independen
Dengan kebijakan moneter yang independen, suatu negara dapat menggunakan
kendalinya atas supply uang dan suku bunga untuk menstabilkan ekonomi. Bank sentral
dapat memperbesar supply uang dan mengurangi suku bunga selama ekonomi mengalami
kemerosotan dan mengurangi supply uang dan menaikan suku bunga untuk membatasi
inflasi ketika ekonomi terlalu panas.
3. Integrasi Pasar Modal
Membuka ekonomi pada suatu negara terhadap arus modal internasional memberikan
alokasi modal yang lebih baik, memperbaiki diversifikasi portofolio dengan investasi di
luar negeri, dan biaya modal yang lebih rendah. Hal itu juga menarik investor langsung
dari luar negeri yang membawa modal, teknologi, dan pengalaman dari negara asalnya ke
negara tujuan.
Trilemma dari pembuat kebijakan di suatu negara adalah dalam mencapai 2 dari 3 tujuan
ini, suatu negara harus meninggalkan 1 tujuan yang tidak dipilih tersebut.

Complete capital controls

Moneta Exchan
ry ge rate
indepen stability
dence

Free float Credibly fixed


Capital market
integration
Gambar 2.1. The Trilemma and Exchange Rate Regime Choice

16
Gambar 2.1 menunjukan bahwa jika suatu negara memilih untuk mencapai independensi
moneter dan memperbolehkan pergerakan modal di negaranya, maka negara tersebut tidak
dapat menetapkan nilai mata uang yang tetap. Sebagai gantinya, negara tersebut harus
menetapkan nilai tukar yang mengambang. Eurozone memilih aturan ini. Bank sentral Eropa
tidak membatasi negara anggotanya untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar mata uang,
tidak membatasi kebijakan moneter untuk melawan inflasi, dan tidak membatasi suatu negara
untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi selama terjadi kemerosotan. Orang Eropa juga
dapat dengan mudah berinvestasi di luar Eropa dan orang luar Eropa dapat dengan mudah
membeli saham dan obligasi di Eropa. Sebagai gantinya, Eurozone harus menerima nilai
mata uang yang volatil atas Euro.
Jika suatu negara seperti Montenegro atau Hong Kong menginginkan nilai tukar mata
uang yang stabil dan integrasi pasar modal, maka Negara tersebut harus meninggalkan
independensi moneternya. Sebagai gantinya, negara tersebut harus memiliki kebijakan
moneter yang sama degan negara yang dianutnya, yaitu Eurozone untuk Montenegro dan
Amerika Serikat untuk Hong Kong. Kekurangannya adalah ketika negara Eurozone dan
Amerika Serikat menggunakan kebijakan moneter ekspansif untuk menstimulasi
ekonominya, maka negara seperti Montenegro dan Hong Kong akan menggunakan kebijakan
yang sama dan konsekuensi selanjutnya adalah inflasi yang lebih tinggi. Negara-negara Eropa
yang telah mengadopsi euro, disamping menjaga mobilitas modal internasional juga harus
menyingkirkan semua pergerakan mata uang di Eurozone namun tidak dapat menggunakan
kebijakan moneter nasionalnya untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi lainnya.
Negara seperti China yang menginginkan independensi moneter dan stabilitas nilai tukar
mata uang harus memaksakan pengendalian modal. Masyarakat China dibatasi untuk
melakukan diversifikasi pada portofolionya dalam berinvestasi di luar negeri.
Berbagai negara berkembang mencoba untuk menghindari ujung dari segitiga trilemma
ini dan sebagai gantinya memilih aturan nilai tukar menengah yang membatasi mobilitas
modal, stabilitas nilai tukar, dan independensi moneter. Negara-negara seperti India dan
China saat ini berada pada tengah-tengah segitiga tersebut dan harus secara hati-hati
mengubah sebagian jenis tujuan kebijakannya. Sejarah menyebutkan banyak negara seperti
Thailand, Indonesia, Korea, Russia, Mexico, dan Brazil, yang telah mengabaikan prinsip
trilemma dan mencoba untuk mencapai ketiga kebijakan tersebut secara simultan, hanya
mengalami kejatuhan nilai mata uang.

17
Beberapa negara berkembang menggunakan pengendalian modal sebagai cara untuk
mendistribusikan dan mengendalikan mata uangnya. Negara dengan nilai mata uang yang
overvalued seringkali mendistribusikan mata uang luar negeri sedangkan negara yang
mengalami apresiasi dapat membatasi atau mengenakan pajak pada modal yang masuk.
Dampaknya, pengedalian pemerintah menggantikan fungsi alokasi pada pasar nilai mata uang
luar negeri. Situasi yang paling keras muncul ketika seluruh pendapatan nilai tukar mata uang
luar negeri harus diserahkan kepada bank sentral yang mana nantinya membagikan dana ini
kepada penggunanya berdasarkan prioritas pemerintah.

A. Free Float
Kita telah melihat bahwa nilai tukar mata uang pada pasar bebas ditentukan oleh interaksi
dari permintaan dan penawaran mata uang tersebut. Per,mintaan dan penawaran dipengaruhi
oleh perubahan tingkat harga, diferensiasi suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi. Dalam
free float pasar akan menyesuaikan kebutuhan mata uang saat ini dan di masa yang akan
datang. Pada contoh negara Eurozone dan Amerika Serikat, pergeseran penawaran dan
permintaan euro akan membawa kepada posisi ekuilibrium. Dari waktu ke waktu, nilai tukar
mata uang akan berfluktuasi secara acak sebagaimana partisipan pasar menilai dan bereaksi
terhadap arus informasi. Sistem yang membebaskan nilai tukar mata uang mengambang
disebut clean float.
Pola nilai tukar mata uang mengambang bebas sebagai respom terhadap kekuatan pasar
membuatnya bertindak sebagai stabilisator otomatis.Goncangan negative pada ekonomi
seringkali merupakan harus dari kejatuhan nilai tukar mata uang yang melindungi
penyesuaian atas guncangan tersebut dengan menstimulasi ekspor dan impor.Nilai tukar mata
uang mengambang bebas juga membantu mengurangi dampak pada goncangan ekonomi
yang sesungguhnya dengan membiarkan bank sentral menggunakan kebijakan moneter yang
independen.Sisi negatifnya, volatilitas nilai tukar mata uang meingkatkan risiko dan
seringkali secara substansi mempengaruhi keuntungan dan keputusan produksi perusahan
multinasional.

B. Managed Float
Beberapa Negara telah bertahan untuk menahan diri dalam melakukan intervensi secara
aktif pada pasar nilai tukar mata uang sebagai cara untuk mengurangi ketidakpastian ekonomi
sehubungan dengan clean float. Ketakutan ini muncul akibat perubahan nilai tukar mata

18
uang dapat membahayakan industri ekspor (apabila mata uang terapresiasi) atau membawa
kepada inflasi yang tinggi (apabila mata uang terdepresiasi). Disamping mengurangi
volatilitas ekonomi, nilai tukar mengambang terlihat malah meningkatkan volatilitas
ekonomi.Nilai tukar yang tidak pasti juga mengurangi efisiensi ekonomi dengan bertindak
sebagai pajak dalam perdagangan dan investasi luar negeri.Oleh karena itu, beberapa Negara
dengan sistem mata uang mengambang mencoba melalui intervensi bank sentral untuk
mengurangi fluktuasi nilai tukar mata uang. Sistem seperti ini dalam pengelolaan nilai tukar
mata uang disebut managed float atau disty float. Managed float terdiri dari 3 kategori dilihat
dari intervensi bank sentral, sebagai berikut:
1) Smoothing out Daily Fluctuation
Pemerintah menetapkan ketegori ini untuk mempertahankan pola yang teratur pada
perubahan nilai tukar. Daripada mempertahankan kekuatan pasar fundamental,
pemerintah terkadang memasuki pasar untuk membeli atau menjual untuk memudahkan
transisi dari satu mata uang ke mata uang lain; semakin lancar transisi tersebut cendetung
membawa apresiasi atau depresiasi mata uang jangka panjang. Pendekatan ini di desain
untuk mencegar fluktuasi yang mendadak yang dibawa oleh kejadian acak yang
dampaknya hanya sementara. Misalnya, guncangan negatif terhadap permintaan
menjadikan poundsterling terdepresiasi sejumlah dimana Bank of England melihatnya
sebagai sesuatu yang berlebihan, maka dapat dilakukan intervensi dan membeli pounds
dengan cadangan mata uang asingnya.
2) Leaning against the Wind
Pendekatan ini merupakan kebijakan intermediate yang didesain untuk mencegah
fluktuasi jangka menengah dan jangka pendek yang mendadak yang diakibatkan oleh
kejadian acak yang dampaknya diharapkan hanya sementara. Dasar dari kebijakan ini
yang seringkali ditujukan untuk menunda penyesuaian fundamental nilai tukar adalah
bahwa intervensi pemerintah dapat mengurangi ketidakpastian eksportir dan importir
yang disebabkan oleh gangguan perubahan nilai tukar mata uang.
1) Unofficial Pegging
Strategi ini mengingatkan pada sistem fixed-rate.Strategi ini terdiri dari menahan
pergerakan nilai tukar mata uang. Dengan unofficial pegging maka tidak terdapat
pengumuman secara publik mengenai komitment pemerintah pada nilai tukar mata uang.
Managed float secara umum memiliki volatilitas harian yang lebih rendah dibandingkan
dengan yang free-float.Managed float juga dapat mencegah krisis mata uang yang

19
berhubungan dengan permasalahan neraca pembayaran. Di samping keunggulannya,managed
floating memberikan permasalah fundamental yaitu kurangnya transparansi pada tujuan bank
sentral dalam melakukan intervensi.

C. Target-Zone Arrangement
Banyak ahli ekonomi dan pembuat kebijakan berpendapat bahwa suatu negara dapat
mengurangi volatilitas nilai tukar mata uangnya dan meningkatkan stabilitas ekonomi apabila
mereka mengkaitkan mata uangnya dengan sistem target-zone. Dengan target-zone
arrangement, suatu negara menyesuaikan kebijakan ekonomi nasionalnya dalam batas
tertentu yang disepakati untuk menjaga nilai tukar mata uang. Sistem ini biasa digunakan
untuk beberapa mata uang Eropa yang berpartisipasi dalam Eurpean Monetary System (EMS)
dan merupakan pelopor dari Euro. Cara ini dibuat untuk memperkenankan beberapa
perubahan pada nilai tukar nominal untuk menahan guncangan fundamental. Faktanya,
memilih zona target yang tepat begitu sulit.

C. Fixed-Rate System
Dengan fixed-rate system, seperti sistem Bretton Woods, pemerintah berkomitmen untuk
menjaga target nilai tukar mata uang. Setiap bank sentral secara aktif membeli dan menjual
mata uangnya di pasar mata uang asing kapanpun ketika nilai mata uangnya terancam
terdeviasi dari par value nya lebih dari persentase yang disetujui. Hasil dari koordinasi berupa
kebijakan moneter memastikan setiap Negara anggota memiliki angka inflasi yang sama.
Agar sistem fixed-rate bekerja, setiap anggota harus menerima angka inflasi negara kelompok
dengan negaranya. Akibatnya, kebijakan moneter harus dikorbankan untuk kebijakan nilai
tukar mata uang. Pada kasus yang ekstrem, negara yang menetapkan nilai tukar mata uangnya
melalui currency board system melepaskan seluruh pengendalian kebijakan moneternya.
Supply uang ditentukan hanya oleh orang-orang yang ingin memiliki mata uang domestik.
Dengan atau tanpa currency board system maka selalu terdapat nilai pertumbuhan
moneter (seringkali negatif) yang akan menjaga nilai mata uang pada target tertentu. Hal
tersebut termask pengetatan moneter, namun demikian menjaga nilai tukar yang tetap berarti
adanya suku bunga yang tinggi dan perlambatan yang dihasilkan pada pertumbuhan ekonomi
dan lapangan pekerjaan. Pemerintah dapat menghindari devaluasi dengan cara melakukan
penghematan, mengkombinasikan pengurangan pengeluaran pemerintah dengan peningkatan
pajak.

20
Disamping mendorong perdagangan dan investasi melalui nilai tukar mata uang yang
stabil, kunci utama yang menjadi alasan Negara ekonomi berkembang seringkali memiliki
kurs tetap adalah hilangnya otonomi moneter.Hilangnya otonomi moneter menjadi diinginkan
jika bank sentral suatu Negara berusaha mencapai kebijakan inflasi di masa lalu. Sistem nilai
tukar mata uang tetap akan mengikat bank sentral dan membantu memaksa pengurangan
inflasi. Terntu saja agar strategi ini bekerja, suatu Negara harus berkomitmen untuk
menetapkan nilai tukar mata uang dan mencegar tekanan yang berujung pada
devaluasi.Currency board dan adopsi total pada mata uang suatu Negara (misalnya dollarisasi
atau euroisasi) dapat meningkatkan kredibilitas suatu Negara.

21
BAB IV
PEMBAHASAN

I. Permasalahan
Berdasarkan penjelasan pada kasus yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, maka
terlihat bahwa permasalahan yang terjadi di Indonesia adalah:
1. Munculnya kebijakan yang bertentangan dengan janji kepada IMF, yaitu kebijakan untuk
mengembangkan currency board system di Indonesia untuk menyelamatkan Rupiah.
2. Munculnya pro dan kontra atas kebijakan yang dicetuskan oleh Presiden Soeharto
mengenai currency board system di Indonesia.

II. Diskusi dan Analisis


Berdasarkan teori trilemma yang dijelaskan pada bab Landasan Teori, maka terdapat 3
tujuan yang ingin dicapai oleh suatu negara, yaitu nilai tukar mata uang yang stabil, kebijakan
moneter yang independen, serta integrasi pasar modal. Namun demikian suatu negara tidak
dapat mencapai ketiga hal tersebut secara sekaligus. Terdapat kombinasi atas 2 pilihan yang
dapat dicapai oleh suatu negara dengan mengorbankan 1 pilihan lainnya.
Dalam kasus disebutkan bahwa Presiden Soeharto menginginkan stabilitas nilai tukar
Rupiah terhadap Dollar untuk menyelamatkan perekonomian dari krisis yang terjadi di tahun
1998. Saat itu, Presiden Suharto memiliki ide untuk menetapkan currency board
system(CBS).Currency board system sendiri merupakan sistem dimana kurs mata uang
dipatok terhadap mata uang asing.Sistem ini umum digunakan di negara-negara yang kurs
mata uangnya melemah tajam, untuk mencegah kejatuhan yang lebih dalam. Rencananya,
kurs rupiah akan dipatok terhadap dolar Amerika dengan kurs Rp. 5.500/dolar Amerika.
Ide Presiden Soeharto atas pengembangan CBS berasal dari masukan Steve
Hanke.Steven Hanke merupakan ahli ekonomi dari John Hopkins University.Steve Hanke
beranggapan bahwa krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh harga dollar
yang sangat berfluktuasi.Untuk memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia perlu dibentuk CBS
dengan mematok harga Rupiah sebesar Rp5.500 per Dollar Amerika Serikat.Steve Hanke
menyatakan bahwa banyak negara yang sukses memperbaiki stabilitas ekonominya dengan
menerapkan CBS, misalnya Bulgaria.Dikatakan bahwa Bulgaria merupakan negara yang
kecil dengan sumber daya yang terbatas saja mampu menyelamatkan ekonominya dengan

22
menggunakan CBS, maka Indonesia yang memiliki keunggulan yang lebih baik
dibandingkan dengan Bulgaria dapat menyelamatkan ekonominya lebih baik dibandingkan
dengan Bulgaria.
Terdapat banyak pihak yang pro dan kontra dengan ide tersebut.Tokoh-tokoh yang setuju
pada kebijakan CBS tersebut diantaranya adalah Peter Gontha (CEO Bimantara Group),
Marie Elka Pangestu, Rizal Ramli, dan Kwik Kian Gie. Sedangkan pihak-pihak yang kontra
adalah IMF, World Bank, para Menteri Keuangan dari negara G-7, Emir Salim, Sri Mulyani,
Faisal Basri, dan Frans Seda.
CBS sendiri memang baik diterapkan bagi negara-negara yang mengalami keterpurukan
ekonomi. Namun demikian, penerapannya perlu diperhatikan dengan kondisi suatu negara.
Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia bukan serta merta disebabkan oleh nilai tukar
maupun keadaan regional yang mengalami krisis. Terdapat permasalahan korupsi, kolusi, dan
nepotisme yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Soeharto menjadikan Indonesia
termasuk ke dalam negara yang memiliki risiko yang tinggi. Cadangan devisa Indonesia juga
dapat dikatakan rentan apabila menerapkan CBS tersebut. Berikut adalah kelemahan dan
kekuatan dari penggunaan CBS:
Tabel 3.1. Kekuatan dan Kelemahan CBS di Indonesia

Kekuatan Kelemahan

Nilai Rupiah terhadap Dolar tetap, Ada keharusan memiliki cadangan


stabilitas nilai tukar (kurs) dapat devisa yang tangguh.
permanen dipertahankan. Sampai akhir tahun1997,
Tetapnya nilai Rupiah memberikan Indonesia memiliki cadangan
kepastian untuk menjalankan roda devisa sebesar US$ 18,2 milyar.
ekonomi Jumlah tersebut dinilai begitu rapuh
Menyelamatkan perusahaan- dengan perhitungan:

perusahaan di Indonesia diterpa badai Dengan peredaran mata


kebangkrutan, karena itu perlu nilai uang sebesar Rp 46 triliun
Rupiah 5.000,00 s/d 6.000,00 per dan penetapan kurs Rp5.000
Dolarnya. per USD, maka cadangan
devisa yang tersisa:
US$18,2 milyar
(Rp46

23
triliun/Rp5.000 per
USD) = US$ 9
milyar
Tidak mencerminkan nilai Rupiah yang
sebenarnya.
Fungsi Bank Indonesia sebagai otoritas
moneter menjadi tidak relevan.
Yang diuntungkan dari sistem CBS
adalah pihak Presiden Suharto dan kroni-
kroninya korupsi, kolusi, dan nepotisme
akan terus berjalan.

Dengan pertimbangan sebagaimana disebutkan pada table di atas, maka terlihat begitu
banyak kelemahan yang muncul apabila diterapkannya CBS di Indonesia. Stabilitas politik
yang tidak terjaga serta ekonomi Indonesia yang cenderung sudah terbuka dan besar
dibandingkan dengan Bulgaria menjadikan CBS akan sulit diterapkan.

Complete capital controls

Moneta Exchan
ry ge rate
indepen stability
dence

Free float Capital market Credibly fixed


integration
Gambar 3.1. The Trilemma and Exchange Rate Regime Choice

Berdasarkan Gambar 3.1 di atas, terlihat bahwa apabila Indonesia ingin memperoleh
stabilitas nilai tukar mata uang (pada sisi kanan segitiga), maka hanya terdapat 1 pilihan lagi

24
yang dapat dicapai oleh Indonesia, yaitu independensi moneter atau integrasi pasar modal.
Berdasarkan hal tersebut, maka kombinasi yang dapat dilakukan oleh Indonesia adalah
sebagai berikut:

Tabel 3.2. Kombinasi Kebijakan yang Dapat Diterapkan sesuai Teori Trilemma

Kombinasi Kebijakan

Exchange Rate Stability + Capital Market Exchange Rate Stability:


Integration Fixed Rate System Dengan kondisi krisis keuangan di
Indonesia, maka Indonesia harus
mencapai stabilitas nilai tukar Rupiah
terhadap Dollar. Kondisi nilai tukar
Rupiah terhadap Dollar melambung naik
menjadi Rp17.000 per Dollar AS. Angka
demikian menjadikan kepastian ekonomi
semakin menurun dan risiko bisnis di
Indonesia semakian meningkat.
Capital Market Integration:

Indonesia sudah menjadi Negara dengan


kecenderungan ekonomi terbuka
sehingga menutup arus modal menjadi
sulit.

Indonesia juga masih memerlukan


modal asing untuk memperbaiki
perekonomian domestik.
Fixed Rate System:

Untuk mencapai stabilitas nilai tukar


maka dapat dilakukan melalui penerapan
CBS.
Pengorbanan dan Dampak:

Indonesia tidak dapat menerapkan


kebijakan moneter secara independen.
Fungsi otoritas moneter, dalam hal ini

25
Bank Indonesia, menjadi tidak relevan.

Kebijakan moneter Indonesia mengacu


kepada Negara yang menjadi acuan
penetapan kurs mata uang.

Dengan kondisi Indonesia yang


memiliki risiko politik yang buruk saat
itu, penerapan CBS hanya akan
memperkaya pihak-pihak yang menjadi
krooni President Soeharto.
Kondisi cadangan devisa Indonesia yang
rentan memunculkan spekulasi Rupiah
terhadap Dollar. Akan banyak orang
yang cenderung memborong Dollar dan
nilai Rupiah terhadap Dollar semakin
overvalued.

Exchange Rate Stability + Monetary Exchange Rate Stability:


Independence Control Capital Flows Dengan kondisi krisis keuangan di
Indonesia, maka Indonesia harus
mencapai stabilitas nilai tukar Rupiah
terhadap Dollar. Kondisi nilai tukar
Rupiah terhadap Dollar melambung naik
menjadi Rp17.000 per Dollar AS. Angka
demikian menjadikan kepastian ekonomi
semakin menurun dan risiko bisnis di
Indonesia semakian meningkat.
Monetary Independence:

Fungsi Bank Indonesia sebagai otoritas


moneter masih relevan. Bank Indonesia
dapat menerapkan kebijakan supply
uang, menaikan dan menurunkan suku
bunga untuk menjaga inflasi dan nilai

26
tukar Rupiah.
Control Capital Flows:

Untuk mencapai hal tersebut, Indonesia


harus mulai menutup arus modal asing
yang masuk dan keluar.
Pengorbanan:

Indonesia tidak dapat memperoleh


modal dari asing padahal kondisi pada
tahun 1998 menunjukan bahwa
Indonesia masih memerlukan bantuan
asing untuk berinvestasi di Indonesia
untuk memperbaiki kondisi ekonomi
Indonesia.

Indonesia harus menjadi Negara


berdikari yang tidak bergantung pada
barang impor, padahal masih banyak
barang-barang (bahan kebutuhan pokok
seperti beras) yang masih diimpor oleh
luar negeri untuk memenuhi kebutuhan
domestik.

Monetary Independence + Capital Market Monetary Independence:


Integration Free Float Fungsi Bank Indonesia sebagai otoritas
moneter masih relevan. Bank Indonesia
dapat menerapkan kebijakan supply
uang, menaikan dan menurunkan suku
bunga untuk menjaga inflasi dan nilai
tukar Rupiah.
Capital Market Integration:

Indonesia sudah menjadi Negara dengan


kecenderungan ekonomi terbuka
sehingga menutup arus modal menjadi

27
sulit.

Indonesia juga masih memerlukan


modal asing untuk memperbaiki
perekonomian domestik.
Free Float:

Untuk mencapai hal tersebut maka


Indonesia harus menerapkan nilai tukar
mata uang mengambang.
Dampak dan Pengorbanan:

Nilai tukar mata uang Rupiah terhadap


Dollar menjadi tidak stabil karena
mengikuti mekanisme permintaan dan
penawaran di pasar.

Pasar modal Indonesia dapat disuntik


oleh modal asing yang dapat
memberikan stimulus bagi perumbuhan
dan perbaikan ekonomi.

Fungsi Bank Indonesia sebagai otoritas


moneter masih relevan.

28
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

I. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada Bab III maka dapat disimpulkan bahwa penetapan kurs tetap
pada Rupiah terhadap Dollar melalui CBS sebaiknya tidak dilakukan. Hal ini karena
Indonesia:
a. Memiliki risiko politik yang besar dimana penguasa dan kroni-kroninya akan
diuntungkan dengan penerapan CBS;
b. Masih memerlukan modal asing untuk meningkatkan dan memperbaiki kondisi ekonomi
domestik;
c. Memiliki fungsi otoritas moneter pada Bank Indonesia yang mana fungsi tersebut tidak
akan dapat berjalan apabila CBS ditetapkan;
d. Sudah cenderung memiliki ekonomi yang cukup besar dan terbuka dimana hal ini jauh
berbeda dibandingkan dengan Negara-negara yang menerapkan CBS; dan
e. Kondisi cadangan devisa Indonesia yang rentan apabila CBS diterapkan mengingat
Indonesia memiliki beban subsidi yang besar.

II. Rekomendasi
Saran kami atas kondisi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 adalah agar:
a. Indonesia menerapkan kurs mata uang mengambang yang dikelola (managed-free float).
Dengan penerapan sistem kurs managed-free float, Indonesia masih dapat mencapai
integrasi pasar modal yang diperlukan oleh pengusaha Indonesia dan menjadikan fungsi
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter masih relevan. Managed-free float juga
memperkuat peran bank sentral untuk melakukan intervensi pada penentuan nilai tukar
mata uang melalui operasi pasar terbuka.
b. Indonesia juga perlu memperbaiki struktur perbankan di Indonesia yang pada tahun 1998
mengalami salah kelola. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan perbaikan pada
sistem di bank sentral yang saat itu juga berperan sebagai pengawas perbankan.
Pemisahan antara pengawas mikroprudensial dan makroprudensial juga menjadi penting.

29
c. Selain itu, Indonesia perlu meningkatkan pengendalian kebijakan fiscal, melalui pajak,
agar dapat memperbaiki kerentanan cadangan devisa yang dimiliki oleh Indonesia.

30
DAFTAR PUSTAKA

Shapiro, Alan C and Moles, Peter. 2014. International Finance Management. Singapore:
John Wiley & Sons Ltd.
https://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/02/09/0010.html
http://www.oocities.org/apii-berlin/cbs1_7.html
https://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/02/13/0004.html

31

Anda mungkin juga menyukai