Anda di halaman 1dari 8

Pancasila sebagai "Dasar" Bukan "Pilar" 01 Juli 2014 06:35:26 Diperbarui: 18 Juni 2015

08:02:34 Dibaca : 208 Komentar : 1 Nilai : 0 Durasi Baca : 2 menit Beberapa waktu lalu,
saya mengikuti sebuah Dialog Kebangsaan di Universitas Hasanuddin yang digagas oleh
media lokal di Sulawesi Selatan yaitu Tribun Timur bersama Pusat Studi Pancasila (PSP)
Universitas Gadjah Mada.

Dialog tersebut menghadirkan langsung Pusat Studi Pancasila (PSP) Universitas Gadjah
Mada, Prof Dr Sudjito MSi. Pada kesempatan tersebut, Prof Sudjito juga mengkritisi terkait
Pancasila yang diposisikan sebagai salah satu dari empat pilar kebangsaan bersama UUD
1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Sehingga, sosialisasi mengenai empat pilar
kebangsaan yang sering dilakukan, seharusnya dihentikan karena telah bersifat
inkonstitusional. Menurutnya, Pancasila sebagai dasar negara pun tidak dapat disejajarkan
dengan tiga pilar lainnya karena Pancasila bukan "pilar", melainkan dasar fundamen sebuah
bangunan yang disebut negara. Dimana, Pancasila oleh Founding Father Republik Indonesia
memiliki kedudukan tersendiri dalam pemikiran bangsa Indonesia dan menjadi dasar negara,
filosofi negara dan ideologi Negara. Mahkamah Konstitusi (MK) pun telah mengabulkan
Judisial Review untuk menghilangkan frasa dalam UU Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai
Politik, dimana dalam UU tersebut disebutkan Pancasila sebagai bagian dari empat pilar
kebangsaan. "Sosialisasi empat pilar kebangsaan itu menyesatkan, Pancasila yang dianggap
sebagai salah satu pilar telah menyalahi cita-cita para founding father yang menjadikan
Pancasila sebagai dasar negara, pandangan dan falsafah hidup bangsa Indonesia,"jelas Guru
Besar Fakultas Hukum UGM tersebut.

Dalam esai Daniel Dhakidae berjudul Kewarganegaraan, Penelitian dan Rasionalisme Politik
di Majalah Prisma Vol. 32 No.4 Tahun 2013, juga disinggung bahwa titik persengketaan
mengenai empat pilar tersebut berawal dari makna kata "Pilar"dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia sebagai "Dasar". namun menurut Daniel, mendiskusikan Pancasila sebagai dasar
adalah dasar suatu konsep filsafat hukum, ketika dasar di bawah dasar itu tidak lagi
ditemukan. Pancasila diartikan sebagai dasar itu, yaitu menjadi dasar norma dan menjadi
norma normans yang mengatur segala norma dan bukan sekadar norma normata, atau norma
yang diatur oleh norma lain, pandangan lain (pranarka). Dengan demikian, Pancasila sebagai
dasar dari suatu hierarki norma dasar, hukum dasar, dan keputusan/kebijakan politik. Negaea
kesatuan adalah kebijakan dan keputusan politik yang harus dihormati ketika norma dasar itu
diterima. Daniel juga menuliskan bahwa Pancasila selalu dikatakan sebagai tidak terpisahkan
dari UUN 1945 dalam arti Pancasila menjadi sumber norma, ayau norma segala norma atau
Grundnorma dan sumber hukum atau Grundgesetz, di atas mana semua kebijakan politik.
Membicarakan Pancasila dan konstitusi, menurutnya akan menjadi pembicaraan mengenai
hal yang sama karena Pancasila is the constitution, tanpa Pancasila konstitusi hampir tak bisa
dipahami meski tanpa konstitusi Pancasila tidak bisa dikerjakan. Pancasila menjadi dasar
yang tidak bisa digugat, baik dalam persepsi maupun dalam kenyataan. Penggugatan
terhadapnya hanya membuahkan persoalan dan bukan penyelesaian.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/anitawardana/pancasila-sebagai-dasar-bukan-
pilar_54f6cae6a33311c65c8b48bc

http://www.kompasiana.com/anitawardana/pancasila-sebagai-dasar-bukan-
pilar_54f6cae6a33311c65c8b48bc
Selasa, 04 Maret 2014
Ahli: Pancasila sebagai Pilar Tidak Berdasar
Penempatan Pancasila sebagai pilar kebangsaan tidak menemukan kebenaran baik secara de
facto maupun de jure.
ASH
Dibaca: 6678 Tanggapan: 1

Foto: RES
BERITA TERKAIT

MPR: Pilar Kebangsaan Tak Ubah Kedudukan Pancasila

Pancasila Pilar Kebangsaan Bisa Runtuhkan Negara

MK Diminta Cabut Pancasila dari Pilar Kebangsaan

Nilai Pancasila Harus Direvitalisasi

Guru Besar FH Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Kaelan MS menilai hampir 14 tahun
pascareformasi Pancasila dikubur di bumi Indonesia oleh bangsanya sendiri. Karenanya,
internalisasi nilai-nilai Pancasila menjadi terputus dan bangsa Indonesia terombang-ambing
kehilangan pandangan hidup bangsa, sebagai suatu konsensus dan dasar filosofis negara.
Pendapat itu disampaikan Prof Kaelan saat memberi keterangan sebagai ahli dalam sidang
lanjutan pengujian UU No. 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik (UU Parpol) yang
dimohonkan Masyarakat Pengawal Pancasila Jogya, Solo, dan Semarang (MPP Joglosemar)
ruang sidang MK Jakarta, Selasa (4/3). Kaelan didatangkan sebagai ahli pemohon bersama
Guru Besar FH UGM Prof Sudjito dan Pengajar FH UII Yogyakarta, Prof Jawahir Thontowi.

Kaelan mengatakan situasi kekosongan dan kehampaan ideologi ini sudah semestinya
direvitalisasi nilai-nilai dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, bukannya
menciptakan terminologi baru yang dapat mengacaukan pemahaman tentang Pancasila
sebagai dasar filsafat negara. Hal ini berakibat menyesatkan pengetahuan Pancasila pada
generasi penerus bangsa.

Bagaimanapun pemaksaan penggunaan terminologi Pancasila sebagai Pilar Berbangsa dan


Bernegara dalam Pasal 34 ayat (3b) UU Parpol adalah keputusan politik yang tidak tepat
karena sumbernya tidak dapatt dipertanggungjawabkan secara historis, yuridis maupun
ilmiah, kata ahli filsafat ini.

Dia mengakui secara prinsipl isi UU Parpol sangat baik, terutama ketentuan tentang
pendidikan politik yang tercantum dalam Pasal 34 ayat (3b). Namun, esensi Pancasila harus
tetap diletakkan sebagai dasar negara Republik Indonesia, bukan sebagai pilar. Menurut
Kaelan, berdasarkan analisis semiotika, Pancasila merupakan sdasar filsafat Hidup berbangsa
dan bernegara.

Dunia internasional sudah memandang Pancasila sebagai ciri khas bangsa Indonesia.
Hubungan indeks nilai-nilai Pancasila itu tidak semata-mata diambil dari budaya asing,
melainkan nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia sendiri yang menurut istilah Notonagoro
disebut causa materialis.

Dia tambahkan hubungan simbol (konvensi), Pancasila merupakan hasil konsensus luhur
founding fathers tatkala mendirikan negara. Karena itu, dalam sidang BPUPK, Soekarno
pernah menyatakan, dasar filsafat negara yang akan didirikan itu diberi nama Pancasila
sesuai pertanyaan Ketua BPUPK dr. Radjiman Widyodiningrat. Lalu istilah Pancasila
sebagai Pilar Berbangsa dan Bernegara itu sumbernya dari mana?

Wajib diakhiri

Ahli pemohon lainnya, Guru Besar FH UGM Prof Sudjito berpendapat kontroversi istilah
Pancasila sebagai pilar wajib diakhiri. MPR wajib bersedia mengoreksi istilah tersebut dan
tidak menggunakannya lagi dalam rangka sosialisasi Pancasila, UUD 1945, Bhinneka
Tunggal Ika dan NKRI.

Sudjito mengatakan Pancasila sebagai philosophische grondslag mempunyai kedudukan


istimewa dan rohnya dalam kehidupan bernegara dan hukum bangsa Indonesia.
Pembukaan UUD 1945 sebagai Staats fundamental norm mempunyai kedudukan tetap dan
kuat yang berada pada kedudukan tertinggi dan menjadi sumber bagi pasal-pasal UUD
maupun peraturan perundangan lain dibawahnya, katanya.

Karena itu, lanjutnya, penyelenggara negara (termasuk MPR) sebagai alat perlengkapan
negara yang kedudukannya di bawah pembentuk negara wajib mengemban amanah Pancasila
sebagai philosophische grondslag dan mengamalkannya secara obyektif sebagai dasar
penyelenggaraan negara.

Sementara menurut Prof Jawahir penggunaan empat pilar kebangsaan yang saat ini tengah
disosialisasikan sebagai upaya mencegah timbulnya degradasi moral dan jati diri bangsa jelas
memiliki cacat secara historis, yuridis, dan sosiologis. Pro-kontra yang timbul dalam
masyarakat terkait penempatan Pancasila sebagai pilar kebangsaan tidak menemukan
kebenaran baik secara de facto maupun de jure, kata Jawahir.

Pengujian Pasal 34 ayat (3b) UU Parpol ini diajukan sejumlah warga negara yang tergabung
dalam Masyarakat Pengawal Pancasila Jogya, Solo, dan Semarang (MPP Joglosemar).
Mereka keberatan masuknya Pancasila sebagai salah satu pilar kebangsaan. Pasal yang diuji,
parpol wajib mensosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan yaitu Pancasila, NKRI, Bhineka
Tunggal Ika, dan UUD 1945.

Pasal itu dinilai menimbulkan ketidakpastian hukum karena menempatkan Pancasila sebagai
salah satu pilar kebangsaan yang sejajar dengan ketiga pilar lainnya. Penempatan Pancasila
sebagai pilar merupakan kesalahan fatal karena Pancasila telah disepakati para pendiri bangsa
sebagai dasar negara (philosophie groundslaag) dalam Pembukaan UUD 1945.

Menurut dia, kata dasar dan pilar memiliki makna yang berbeda yang menimbulkan
kebingungan dosen di perguruan tinggi saat menjelaskan kepada mahasiswanya. Karena itu,
memasukkan Pancasila sebagai salah satu pilar kebangsaan melawan fakta sejarah dan
menghianati para pendiri bangsa ini yang bisa bisa meruntuhkan bangsa ini.

Karena itu, proyek sosialisasi oleh MPR mengenai empat pilar yang salah satunya
Pancasila harus dihentikan karena menyesatkan bangsa ini. Pasal itu diminta dinyatakan
inkonstitusional atau sekurang-kurangnya kata Pancasila dalam pasal itu dicabut dan
dinyatakan tidak mempunyai kekuatan mengikat.

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5315ff40f1ba7/ahli--pancasila-sebagai-pilar-
tidak-berdasar
Empat Pilar Kebangsaan Dihapus, PSP
UGM Sambut Baik Putusan MK
08 April 2014, 09:21 WIB

Oleh: Gusti

11738

YOGYAKARTA - Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) RI pada 3 April lalu yang


menghapus frasa empat pilar kebangsaan dalam UU Parpol disambut baik oleh Pusat Studi
Pancasila (PSP) UGM. Kepala PSP UGM, Prof. Dr. Sudjito menegaskan pihaknya akan terus
mengawal putusan ini. Namun begitu, kata Sudjito, harus ada langkah konkret untuk
menyosialisasikan perubahan ini dan menekankan kembali bahwa Pancasila sebagai dasar
falsafah Negara, philosophische grondslag.
Istilah empat pilar kebangsaan selama ini menempatkan Pancasila sejajar dengan tiga yang
lain: UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika, diakui Sudjito sebagai bentuk
inkonstitusional. Meski istilah empat pilar telanjur sering disosialisasikan oleh pimpinan
MPR, katanya, penghapusan istilah empat pilar kebangsaan tersebut mendorong para
penyelenggara negara dan penyusun UU agar lebih paham lagi tentang kedudukan
Pancasila. Ketika Pancasila tidak lagi sebagai philosophische grondslag, ia bisa diubah, itu berarti pembubaran atas negara, kata Sudjito
kepada wartawan menanggapi pembatalan empat pilar kebangsaan pada, Senin (7/4), di kantor Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM.

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Filsafat UGM, Prof. Dr. Kaelan, M,S., yang juga
menjadi saksi ahli dalam sidang gugatan di MK menegaskan penggunaan istilah empat pilar
kebangsaan pada UU No. 2 tahun 2011 adalah melanggar konstitusi negara. Dalam pasal 34
ayat (3b) huruf a menyebut Pancasila sebagai salah satu pilar, padahal sudah jelas, Pancasila
adalah dasar negara. Harusnya kedudukan Pancasila tidak setara, tegasnya.

Pancasila menurut Kaelan bukan hanya sebagai way of live, tapi juga sumber ilmu. Oleh
karenanya, menurut Kaelan, pembumian Pancasila kepada masyarakat luas menjadi tanggung
jawab bersama dan harus terus dilakukan.

Sebelumnya, gugatan atas UU No. 2 Tahun 2011 ke MK dilakukan oleh Masyarakat


Pengawal Pancasila (MPP) Jogja Solo Semarang (Joglo Semar). Penggugatan dilakukan
pada UU No. 2 Tahun 2011 pada Pasal 34 ayat 3b poin a yang menyebutkan Pancasila
sebagai pilar berbangsa dan bernegara. (Humas UGM/Faisol)

https://ugm.ac.id/id/berita/8874-
empat.pilar.kebangsaan.dihapus.psp.ugm.sambut.baik.putusan.mk
Pancasila Tenggelam Dalam Hiruk Pikuk
Kebebasan Reformasi
Oleh: H.Mukhijab
4 Maret, 2016 - 05:54
POLITIK

MUKHIJAB/PRLM
PESERTA Folus Diskusi Ideologi dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Yogyakarta,
Kamis (3/3/2016), berfoto bersama usai acara. Hadir sejumlah anggota MPR, Martin
Hutabarat, kemudian anggota Komisi III DPR Ruhut Sitompul dan sejumlah anggota DPR
lainnya.*

YOGYAKARTA, (PRLM).- Pancasila sebagai dasar negara tenggelam dan tergerus dalam
hiruk-pikuk euphoria kebebasan sejak reformasi politik 1998 sampai saat ini.

Guru Besar Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Kaelan menyatakan tidak
seharusnya dasar negara dinistakan semacam itu. Saya dan orang-orang yang memahami
bagaimana posisi ideologi negara malu dengan keadaan ini, mengapa sampai dasar negara
Pancasila seolah dikubur oleh bangsanya sendiri, kata dia dalam fokus diskusi Ideolopgi
dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Yogyakarta, Kamis (3/3/2016). Hadir
sejumlah anggota MPR, Martin Hutabarat, anggota Komisi III DPR Ruhut Sitompul.

Menurut dia, kekuatan negara ikut dipengaruhi seberapa besar filosofi dasar negara dihayati
dan dipraktikkan nilai-nilainya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang tengah
terjadi, posisi nilai-nilai filosofi landasan negara digerus oleh kebebasan dan berbagai hiruk-
pikuk persoalan bangsa.

Apapun alasannya dalam rangka memertahankan kebebasan berpolitik dan sektor lainnya,
kata Kaelan, negara harus memiliki dan melaksanakan nilai-nilai filsafat ideologi negaranya.
Kita prihatian, filosofi bangsa ini tengah tergerus. Menegakkan lagi tidak semudah orang
main sulap lampu aladin karena Pancasila memang bukan lampu aladin, setiap digosok, lalu
(apa yang diinginkan) muncul dan ada. Tetapi aspek pentingnya, suatu negara harus selalu
punya nilai fundamental. Namun sekarang ini kondisinya serba tidak jelas, kata dia.

Kepala Pusat Studi Pancasila UGM Prof. Sudjito menambahkan, posisi ideologi negara yang
terpinggkirkan bisa jadi mencerminkan para penyelenggara negara tidak begitu paham
tentang ideologi negaranya. Indikasi ini tercermin dalam produk perundang-undangan yang
isinya bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Berdasarkan pemaparan peneliti Pusat Studi Pancasila UGM, Heri Santoso, dari 426 produk
undang-undang dari DPR (2008-2011, terdapat 102 undang-undang digugat ke Mahkamah
Konstitusi. Kasus demikian mencerminkan isi dari undang-undang tidak dijiwai nilai-nilai
ideologi negara sehingga undang-undangnya tidak sejalan dengan jiwa rakyat. (Mukhijab/A-
147)***

http://www.pikiran-rakyat.com/politik/2016/03/04/363205/pancasila-tenggelam-dalam-hiruk-pikuk-
kebebasan-reformasi