Anda di halaman 1dari 9

you're reading...

Filsafat Pendidikan

FILSAFAT PANCASILA: LANDASAN FILSAFAT PENDIDIKAN INDONESIA

Posted by forumsejawat 28 Oktober 2010 1 Komentar

A. PENGERTIAN FILSAFAT

Filsafat dimulai dengan rasa ingin tahu dan dengan rasa ragu-ragu. Berfilsafat didorong untuk
mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui. Karakteristik berfikir
filsafat adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas hanya mengenal ilmu dari segi
pandang ilmu itu sendiri, tapi ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang
lainnya.

Dalam kehidupan manusia filsafat tidak terpisahkan, karena sejarahnya yang panjang
kebelakang zaman dan juga karena ajaran filsafat malahan menjangkau masa depan umat
manusia dalam bentuk-bentuk ideology. Pembangunan dan pendidikan yang dilakukan oleh
suatu bangsa pun bersumber pada inti sari ajaran filsafat. Oleh karena itu filsafat telah
menguasai kehidupan umat manusia, manjadi norma negara, menjadi filsafat hidup suatu
bangsa.

Filsafat adalah suatu lapangan pemikiran dan penyelidikan manusia yang amat luas
(komprehensif). Filsafat menjangkau semua persoalan dalam daya kemampuan pikir
manusia. Filsafat mencoba mengerti, menganalisis, menilai dan menyimpulkan semua
persoalan-persoalan dalam jangkauan rasio manusia, secara kritis, rasional dan mendalam.
Kesimpulan-kesimpulan filsafat manusia yang selalu cenderung memiliki watak
subjektivitas. Faktor inilah yang melahirkan aliran-aliran filsafat, perbedaan-perbedaan dalam
filsafat.

Berdasarkan uraian diatas dapatlah diuraikan pengertian filsafat tersebut. Filsafat berasal dari
bahasa Yunani philosophos. Philos atau philein berarti mencintai, sedangkan
sophos berarti kebijaksanaan . Maka filsafat merupakan upaya manusia untuk memenuhi
hasratnya demi kecintaannya akan kebijaksanaan. Namun demikian,, kata kebijaksanaan
ternyata mempunyai arti yang bermacam-macam yang mungkin berbeda satu dengan yang
lainnya, satu pendapat mengartikan kebijaksanaan dalam konteks luas, yaitu melibatkan
kemampuan untuk memperoleh pengertian tentang pengalaman hidup sebagai suatu
keseluruhan, penekanannya pada kemampuan untuk mewujudkan pengetahuan itu dalam
praktik kehidupan yang nyata. Ada yang mengartikan filsafat dalam arti sempit yakni sebagai
pengetahuan atau pengertian saja.

Defenisi Filsafat menurut beberapa ilmuwan :

1. Plato : Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada.

2. Aristoteles : Filsafat menyelidiki tentang sebab dan asas segala benda.

3. Al Kindi : Filsafat merupakan kegiatan manusia yang bertingkat tinggi, merupakan


pengetahuan dasar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia.
4. Al Faraby : Filsafat merupakan ilmu [pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan
menyelidiki hakikat yang sebenarnya.

5. Ibnu Sina/ Avicenna : Filsafat dan metafisika sebagai suatu badan ilmu tidak terbagi.
Fisika mengamati yang ada sejauh tidak bergerak. Metafisika memandang yang ada
sejauh itu ada.

6. Immanuel Kant : Filsafat itu pokok dan pangkal segala pengetahuan.

Dapat disimpulkan filsafat adalah ilmu pengetahuan hasil pemikiran manusia dari
seperangkat masalagh mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga diperoleh
budi pekerti. Adapun tujuan berfilsafat adalah untuk mencari kebenaran sesuatu baik dalam
logika (kebenaran berfikir), etika (berperilaku),mauun metafisika (hakikat keaslian).

Manfaat mempelajari Filsafat :

1. Mendidik dan membangun diri.

2. Memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan problem


sehari-hari

3. Memberikan pandangan yang luas, membendung akuisme dan akusentrisme.

4. Latihan untuk berfikir sendiri

5. Memberikan dasar-dasar baik untuk kehidupan pribadi maupun untuk ilmu-ilmu


pengetahuan lainnya.

B. PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Eksistensi suatu bangsa adalah eksis dengan ideology atau filsafat hidupnya, maka demi
kelangsungan eksistensi itu dilakukan pewarisan nilai ideology itu kepada generasi
selanjutnya. Jalan yang efektif untuk itu hanya melalui pendidikan, kesadaran moral dan
sikap mental yang menjadi kriteria manusia ideal dalam system nilai suatu bangsa bersumber
pada ajaran filsafat yang dianut. Untuk menjamin supaya pendidikan itu benar dan prosesnya
efektif, maka dibutuhkan landasan filosofis dan landasan ilmiah sebagai asas normativ dan
pedoman pelaksanaan pembinaan.

Menurut Hasan Langgulung, filsafat pendidikan merupakan teori atau ideology pendidikan
yang muncul dari sikap filsafat seorang pendidik dari pengalaman-pengalaman dan
pendidikan. Jadi, filsafat pendidikan adalah ilmu pendidikan yang bersendikan filsafat atau
filsafat yang diterapkan dalam usaha pemikiran dan pemerahan mengenai masalah
pendidikan.

Pendidikan adalah pelaksanaan dari ide filsafat. Ide filsafat yang memberi kepastian bagi
nilai peranan pendidikan. Seorang filsuf Amerika, Jhon Deway mengatakan bahwa filsafat itu
adalah teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pikiran mengenai pendidikan.
C. PENGERTIAN FILSAFAT PANCASILA

https://forumsejawat.wordpress.com/2010/10/28/filsafat-pancasila-landasan-filsafat-
pendidikan-indonesia/

Terbaru Headline Rubrik Event Topik Pilihan PRO KONTRA Masuk Label Populer Ahok Pendidikan
Sastra Teknologi Novelbaswedan Filsafat Pancasila Dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan 17 Februari
2014 03:40:01 Diperbarui: 10 Februari 2017 14:45:10 Dibaca : 14,744 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi
Baca : 11 menit A.PENDAHULUAN Pasca era reformasi di Indonesia, banyak berkembang pandangan-
pandangan ideologi yang mempertanyakan Pancasila sebagai sistem ideologi bangsa Indonesia.
Pandangan ideologi disampaikan oleh golongan-golongan tertentu yang menginginkan perubahan
bentuk pemerintahan. Keinginan tersebut tidak serta merta dapat merubah bentuk pemerintahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang telah dirumuskan para pendirinya. Keberadaan
negara Indonesia diperjuangkan oleh perintis perjuangan bangsa yang memekan waktu yang sangat
lama. Pejuang-pejuang lokal hampir tak pernah putus melakukan perlawanan terhadap
pemerintahan Hinda Belanda. Kesadaran untuk bersatu dan mewujudkan negara Indonesia adalah
pada tanggal 28 Oktober 1928. Para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda dan merupakan awal
dari pergerakan kemerdekaan Indonesia. Panjangnya perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia,
sudah seharusnya kita mempertahankan kemerdekaan bangsa ini dengan mengisinya dengan
pembangunan. Para pengada negara Indonesia telah merumuskan dasar-dasar ideologi bangsa
dengan jalan musyawah dan mufakat. Perumusan dasar negara telah digali oleh para pengada negara
Indonesia dari berbagai macam unsur yang ada di nusantara. Berbagai macam unsur tersebut
tersarikan dalam wujud Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara bangsa Indonesia telah bersifat
final, sehari setelah Proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Soekarno dan Hatta. Rumusan Pancasila
yang terdapat dalam Piagam Jakarta disahkan sebagai dasar negara. Bentuk rumusan Pancasila
sebagai dasar negara hanyalah yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Perjalanan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945 pada awal kemerdekaan mengalami pasang surut, seiring berbagai
macam perubahan bentuk negara. Pada5 Juli1959, karena gagalnya Badan Konstituante menetapkan
UUD baru, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit untuk kembali pada UUD 1945. Pancasila dan
Pembukaan UUD 1945 hingga saat ini masih bertahan sebagai dasar negara Indonesia. Berbagai
macam pergolakan telah terjadi di Indonesia, tetapi Pancasila sebagai dasar negara masih tetap
kokoh. Pancasila ada dari buah pikir para pengada Indonesia berdasarkanpada pengkajian dari
berbagai unsur ilmu pengetahuan yang beragam dari para tokoh pergerakan Indonesia. Kita akan
mengkaji tentang Pancasila sebagai filsafat ilmu dan implikasi sila-sila dalam pancasila dalam
perkembangan ilmu pengetahuan. B.PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT ILMU Sehari setelah Proklamasi
kemerdekaan Indonesia, 18 Agustus 1945, para pengada Indonesia menegakkan Pancasila dasar
negara. Pancasila lahir dari hasil kebudayaan Indonesia yang bersuku-suku. Pemikiran-pemikiran yang
melandasi dan terintegrasi menjadi filsafat Pancasila adalah pemikiran yang bersumber dari agama,
pemikiran kosmologis, ontologis, dan antropologis yang berasal dari sub kebudayaan Indonesia,
pemikiran yang berasal dari ilmu pengetahuan filssafat barat sebagai hasil pendidikan yang dualistis,
pengalaman hidup dan refleksi atas penderitaan rakyat yang dilakukan oleh para perintis dan
pejuang kemerdekaan, refleksi kritis, dialogis, futurologis yang dilakukan oleh para pengada
Indonesia (Suwarno, 1993; Hardono Hadi, 1994; Baker, 1995 dalam Dimyati 1995). Pancasila
merupakan hasil dari berbagai macam pemikiran yang lahir dari budaya nusantara. Suku-suku bangsa
di nusantara telah melakukan akulturasi antar suku bangsa, antar bangsa sehingga terbentuklah
kepribadian kebudayaan bangsa. Akulturasi budaya terus berkembang hingga abad ke 16 ketika
bangsa Eropa masuk ke Indonesia dan mulai melakukan usaha penjajahan. Pada masa penjajahan,
bangsa Indonesia banyak mengalami berbagai macam akulturasi budaya, ekonomi, politik,
pendidikan hingga pengetahuan. Anak bangsa mengalami perkembangan pengetahuan saat
dicetuskannya politik etis oleh van Deventer. Politik etis yang diterapkan oleh pemerintah Hinddia
Belanda membawa pengaruh yang sangat besar bagi lahirnya para pemikir bangsa. Kelahiran para
pemikiri sekaligus pengada Indonesia terlahir dari berbagai macam latar belakang pendidikan dan
suku bangsa. Pemikiran dan pengetahuan yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia, dan lokal
membahur menjadi satu, pemikiran pembentukan negara Indonesia. Pengetahuan dan pemikiran
dari berbagai macam arah, terwujud pada rumusan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Kesadaran para pengada Indonesia terhadap perkembangan pengetahuan tercermin dalam
Pembukaan UUD 1945, yaitu ... mencerdasaskan kehidupan bangsa... Kalimat ini menunjukkan
bahwa tujuan kemerdekaan Indonesia salah satunya adalah untuk mencerdaskan seluruh rakyat
Indonesia. Pengada Indonesia menyadari bahwa kesejahteraan dapat dicapai lewat pendidikan yang
merupakan sarana pemerolehan ilmu pengetahuan. Kita ketahui bersama bahwa kemerdekaan
Indonesia tercapai karena peran pendidikan yang telah membawa kesadaran kaum terpelajar
Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Pengada Indonesia juga menyadari bahwa kedaulatan
suatu negara berada di tangan rakyat. Kedaulatan rakyat harus berdasarkan kepada Ketuhanan Yang
Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta mewujudkan suatu keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan tersebut menjelaskan bahwa pengada Indonesia
benar-benar memiliki suatu konsep pemerintahan yang matang. Ini juga menunjukkan bahwa untuk
mencapai kesejahteraan, kita harus memliki keyakinan theisme religius. Pancasila, yang juga tertuang
dalam alenie ke-4 UUD 1945, merupakan nilai-nilai pokok dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Pancasila sebagai filsafat sangat bermanfaat untuk mendukung cita-cita atau tujuan
nasional. Pancasila merupakan pedoman dan pegangan dalam hal sikap. Tingkah laku dan perbuatan
dalam hidup sehari-hari dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara. Filsafat Pancasila merupakan
hasil dari sistem pemikiran keilmuan dan disiplinpemikiran keilmuan. Sistem keilmuan, filsafat
Pancasila harus bersifat terbuka dalam mencari kebenaran. Pancasila sebagai filsafat ilmu
mengandung nilai ganda, yaitu harus memberikan landasar teoritik (dan normatif) bagi penguasaan
dan pengembangan iptek dan menetapkan tujuan; dan nilai instrinsik tujuan iptek dilandasi oleh nilai
mental kepribadian dan moral manusia (Syam, 2006). Filsafat Pancasila memiliki sifat-sifat universal
yang sesuai dengan ciri khas nasional. Sifat-sifat universal tersebut adalah: 1.Sistematis, fundamental,
universal, integral dan radikal menacari kebenaran yang hakiki 2.Filsafat yang monotheis dan religius
yang mempercayai adanya sumber kesemestaan yaitu Tuhan YME 3.Monodualisme dan
monopluralisme yang mengutamakan ketuhanan, kesatuan dan kekeluargaan 4.Satu kesatuan
totalitas yang bulat dan utuh antar sila-sila Pancasila 5.Memiliki corak universal, terutama sila I dan
sila II serta corak nasional Indonesia terutama sila III, IV dan V 6.Harmoni idiil (asas selaras serasi, dan
seimbang 7.Idealisme fungsional (dasar dan fungsi serta tujuan idiil sekaligus 8.Memiliki ciri-ciri
dimensi idealitas, realitas dan fleksibelitas. Filsafat Pancasila merupakan landasar dalam proses
berfikir dan berpengetahuan. Sebuah pengetahuan dalam perkembangannya harus memperhatikan
aspek Ketuhanan yang merupakan landasan dalam setiap berfikir manusia. Pengetahuan harus
memperhastikan aspek kemanusiaan, tanpa memperhatikan landasasan ini, pengetahuan akan
terlepas dari nilai hakiki pengetahuan itu. Pancasila ada karena suatu proses pembentukan
pengetahuan dari berbagai sumber yang kemudian terakumulasi dalam kehidupan sehari-hari.
Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya adalah suatu sistem pengetahuan. Dalam
kehidupan sehari-hari Pancasila menjadi pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam
memandang realitas alam semesta, manusia, masyarakat, bangsa, dan negara tentang makna hidup
serta sebagai dasar bagi manusia Indonesia untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam
hidup dan kehidupan. Pancasila dalam pengertian seperti itu telah menjadi suatu sistem cita-cita
atau keyakinan-keyakinan (belief system) sehingga telah menjelma menjadi ideologi (mengandung
tiga unsur yaitu : 1. Logos (rasionalitas atau penalaran), 2. pathos (penghayatan), dan 3. Ethos
(kesusilaan). Pancasila sebagai filsafat memungkinkan masyarakat dapat memikirkan masalah-
masalah dasar hidupnya secara rasional dengan bahasa, wawasan dan argumentasi yang universal.
Dengan demikian, filsafat Pancasila dapat membuka cakrawala bagi diskusi secara terbuka terhadap
masalah-maslaah dan sekaligus secara kritis terhadap penyempitan-penyempitan ideologis. Filsafat
akan membantu kita untuk mengambil jarak terhadap klaim ideologi ilmu-ilmu empiris. Pada budaya
modern, ilmu empiris yang mendefinisikan arti kemanusiaan dan tujuan perkembangan masyarakat.
Pancasila sebagai filsafat juga akan membantu kita untuk mengambil sikap terbuka dan kritis
terhadap dampak modernisasi dan menjadi pemain aktif, mempertahankan identitas sebagai bangsa
Indonesia. Filsafat Pancasila dalam perkembangan ilmu pengetahuan diharapakan dapat
memecahkan permasalahan dalam kehidupannya. Pancasila sebagai ilmu pengetahuan harus
dikembangkan demi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan juga harus dapat menjawab berbagai
persoalan hidup. Pancasila yang terdiri dari lima sila, merupakan bentuk akumulasi proses
pemecahan masalah kehidupan bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, berbangsa dan
bernegara. Pancasila sebagai filsafat ilmu harus mengandung nilai ganda, yaitu 1.harus memberikan
landasan teoritik (dan normatif) bagi penguasaan dan pengembangan iptek dan menetapkan
tujuannya 2.memiliki nilai instrinsik tujuan iptek yang senantiasa dilandasi oleh nilai mental
kepribadian dan moral manusia. Nilai-nilai kualitatif dan normatif secara kategoris harus terkandung
dalam ajaran filsafat. Kualitas dan identitas nilai mental dan kepribadian manusia senantiasa
berhubungan dengan nilai filsafat dan atau agama. Kedudukan filsafat ilmu harus beerasaskan
kerokhanian dari sistem keilmuan dan pengembangannya. Fungsi mental dan moral kepribadian
manusia dalam implemantasi iptek merupakan kriteria yang signifikan suatu keilmuan. Keilmuan
harus berorientasi praktis untu kepentingan bangsa. Selain itu, kebenaran yag dianut epistomologis
Pancasila prinsip kebenaran eksistensial dalam rangka mewujudkan harmoni maksimal yang sesuai
taraf-taraf fisiokismis, biotik, psikis, dan human dalam rangka acuan norma ontologis transedental.
Dengan pendekatan pencerdasan kehidupan bangsa, epsitomologis Pancasila bersifat terbuka
terhadap berbagai aliran filsafat dunia (Dimyati, 2006). C.KAITAN ANTAR SILA DALAM PANCASILA
Filsafat Pancasila sangat berguna dalam mendukung cita-cita dan tujuan nasional. Menjaga
kelestarian dan keberlangsungan hidup bangsa dan negara dengan berlanadasakan pada kebenaran
dan demokrasi bagi kehidupan bersama yang dilandasi nilai persatuan dan kesatuan. Pancasila
merupakan pedoman dan pegangan dalam hal sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan
sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sila dalam Pancasila merupakan satu
kesatuan yang utuh dan saling berkait. Perubahan dalam salah satu sila dalam Pancasila akan
merubah secara keseluruhan termasuk pembukaan UUD 1945. Pancasila memiliki hubungan sebab-
akibat, yaitu sebagai pendukung hubungan terhadap unsur-unsur hakiki dari Tuhan, manusia, satu,
rakyat dan adil yang merupakan pokok pangkal hubungan. Sebagai satu kesatuan, Pancasila
merupakan suatu sistem. Ciri-ciri Pancasila sebagai suatu sistem adalah 1.Kesatuan dari bagian-
bagian, yaitu Pancasila menyatu dan utuh 2.Tiap bagian mempunyai fungsi masing-masing 3.Saling
berhubungan dan ketergantungan 4.Keseluruhan 5.Terjadi dalam lingkungan yang kompleks.
Rumusan Pancasila merupakan rumusan yang mutlak. Unsur-unsur hakikinya adalah 1.Ketuhanan.
Ketuhanan merupakan unsur hakiki dari Tuhan yang mencakup pengertian keberadaan Tuhan
sebagai sang pencipta yang mencipta dan mengatur segalanya. 2.Kemanusiaan, unsur hakiki manusia
yang mencakup pengertian keberadaan diri manusia sebagai ciptaan yang memiliki susunan kodrat
jasmani dan rohani, individu dan sosial, kedudukan kodrat sebagai yang mandiri dan tergantung pada
Tuhan. 3.Persatuan unsur hakiki dari satu, keseluruhan yang utuh tak terbagi, yang terlepas atau
terpisah dari lainnya dan memiliki kesendirian. 4.Kerakyatan, merupakan unsur hakiki dari rakyat
yang memiliki pengertian kelompok manusia yang mendukung berdirinya negara. 5.Keadilan,
merupakan unsur hakiki dari adil yang memliki pengertian terhadap hak dari yang bersangkutan
(Wahana, 1993). Sila dalam Pancasila saling keterkaitan, berhubungan dan saling melengkapi,
sehingga merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh. Sila pertama dalam pancasila memiliki
posisi istimewa karena diluar ciptaan akal manusia (Hazairin, 1983). Sila pertama ini memiliki
kedudukan yang paling luas, karena sebagai dasar dari empat sila lainnya (Kaelan, 1999). Hubungan
antar sila dalam Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha
Esa adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia,
yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,
yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 2.Sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan
beradab adalah kemanusiaan yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa, berpersatuan Indonesia, yang
berkerakyatan yang dipimpin oleh himat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatIndonesia. 3.Sila ketiga: Persatuan Indonesia adalah persatuan
yang berke-Tuhanan Yang Mahasa Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang
berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 4.Sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan adalah kerakyatan yang berke-Tuhanan
Yang Maha Esa. Yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 5.Sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia adalah keadilan sosial yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa. Yang berkemanusiaan yang adil
dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (Notonegoro, 1975 dalam Kaelan, 1993).
Pancasila dapat dipahami dengan benar, dengan pandangan bahwa 1.Orang tidak dapat memahami
Pancasila dengan menafsirkan sila-silanya secara terpisah 2.Sila-sila dalam Pancasila tidak saling
bertentangan 3.Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan jantung Pancasila Dengan
demikian, disimpulkan bahwa Pancasila telah dapat menjawab persoalan pokok yang dihadapi
masyarakat Indonesia. Pancasila telah berhasil memberi peluang pada tiap kelompok untuk hidup
bersama, bekerja bersama dalam ranga mewujudkan pembangunan nasional. Filsafat Pancasila
merupakan sistem nilai yang tercermin dalam kesatuan yang bulat hierarkis. Pokok-pokok ajaran
filsafat Pancasila bahwa dalam tiap silanya mencerminkan asas normatif yang menjadi inti kesadaran
manusia Indonesia dalam antar hubungan sesama negara, budaya, alam, bahkan dihadapan Tuhan.
Kesadaran nilai Ketuhanan akan memberikan kesadaran harkat martabat bagi tiap pribadi dihadapan
Tuhan, alam, sesama, budaya, dan negara yang berinti kesadaran asas keseimbangan hak dan
kewajiban yang menentukan integritas dan martabat moral kepribadian manusia. D.FILSAFAT
PANCASILA DAN PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN Sejak 18 Agustus 1945, secara
epistomologis, Pancasila dikaji oleh para ahli dan juga diuji oleh berbagai peristiwa-peristiwa yang
mencoba merongrong kemerdekaan dan keutuhan Republik Indonesia. Secara empiris dan
kenegaraan, Pancasila telah menunjukkan ketangguhannya hingga pada saat ini. Pengujian secara
kognitif telah dilakukan oleh para ahli dengan berbagai pendekatan. Notonegoro dengan analisis
teori causal, Driarkara dengan pendekatan antroplogi metafisik, Eka Darmaputra dengan etika,
Suwarno dengan pendekatan historis, filosofis dan sosio-yuridis, Gunawan Setiardja dengan analisis
yuridis ideologis (Dimyati, 2006) dan bayak para ahli dankalangan akademisi membuktikan Pancasila
sebagai filsafat Berbagai pendekatan yag dilakukan oleh para ahli untuk membukikan filsafat
pancasila diterima sebagai metode epistomologis Pancasila. Prinsip epistomologis Pancasila dapat
dikemukakan dalam proposisi epistemis sebagai berikut : 1.Aku tahu bahwa aku tidak tahu Bahwa
ada semesta adalah fisiokismis, biotik, psikis, dan human akibat ketidaktahuanku, aku diperlakukan
sebagai dia pemberlakuan sebagai dia tidak sesuai dengan martabat manusia. 2.Aku tahu bahwa aku
harus tahu Akibat ketidaktahuanku, maka aku diperlakukan sebagai kamu, pemberlakuan aku sebagai
kamu sesuai dengan martabat manusia sebab adaku sebagai manusia adalah ada bersama dengan
sesama manusia berdasarkan cinta kasih. 3.Aku tahu bahwa ada aku bersama dengan ada kamu
Akibat ada aku bersama kamu, maka kerinduanku adalah sama dengan kerinduanmu, kerinduanku
sama dengan kerinduanmu adalah kerinduan akan harmoni 4.Aku tahu bahwa kerinduan akan
harmni adalah kerinduan abadi, kerinduan abadi adalah kerinduan manusia dengan Tuhan Yang
Maha Esa 5.Aku tahu bahwa kerinduan akan harmoni Mengaruskan aku memberlakukan kamu
dengan cinta kasih, kerinduan akan harmoni tidak terjadi dalam hubungan aku dia atau mereka,
hubungan aku dia adalah hubungan aku dengan bukan manusia, oleh karenanya 6.Aku tahu bahwa
Bhinneka Tunggal Ika Adalah tuntunan menuju kerinduan akan harmoni. Proposisi epistomologis
Pancasiladi atas merupakan landasan keilmuan di Indonesia secaara ontologis, kosmologis, maupun
ekologis. Secara historis, epistomologis Pancasila terbentuk dari akulturasi budaya yang telah
berlangsung ratusan abad. Akulturasi budaya ini meliputi juga perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang ada di nusantara. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang seiring sejalan
dengan masuknya agama Hinddu-Buddha, Islam hingga bangsa Eropa. Atau secara garis besar,
perkembangan iptek di nusantara banyak dipengaruhi dari India, Timur Tengah, Cina, Jepang dan
Eropa, selain dari nusantara sendiri. Dalam akulturasi ini, alih iptek memerlukan landasan
epistomologis sebagai sesuatu yang dilakukan oleh pebelajar iptek. Penentuan objek materi ilmu
dalam kerangka sudut pandang pendekatan pencerdasan kehidupan bangsa akan menentukan
pemberlakuan metode penelitian, teknik penelitian, dan analisa keilmuan tentang objek. Proses
akulturasi setiap individu warga kebudayaan Indonesia berhadapan dengan perangkat item-traits-
traits complex-cultural activities dunia. Hal ini menunjukkan tingkat keterpelajaran individu teruji
untuk memilih atau tidak memilih salah satu perangkat item-traits-traits complex-cultural
activitiesdunia. Proses akulturasi ini melibatkan kegiatan pendidikan.Kegiatan pendidikan akan
tunduk pada hukum-hukum keilmuan pendidikan dan juga melibatkan ilmu-ilmu bantu yang memiliki
prinsip dan teori sendiri. Pendekatan pencerdasan kehidupan bangsa sebagai awal epistemologi
Pancasila telah dihadapkan pada berbagai cabang ranting dan tangkai ilmu empiris analitis, ilmu
historis hermenutis, dan ilmu-ilmu kritis. Ketiga ilmu tersebut telah sedemikian maju dan
berkembang secara pesat. Epistemologi Pancasila menerima strategi trikon dan menggunakan
pendekatan pencerdasan kehidupan bangsa sebagai awal pengembangan epistemologi Pancasila
dalam menghadapi kemajuan ilmu- ilmu empiris analitis, ilmu historis hermenutis, dan ilmu-ilmu
kritis. Selain itu,epistemologi Pancasila juga menerima strategi akulturasi dalam pengembangan ilmu
dengan menggunakan paradigma baru. Terkait paradigma baru tersebut adalah terterimanya empat
gaya pemikiran dan penyikapan dalam melakukan ilmu pengetahuan. Gaya pemikiran dan
pengerjaan ilmu pengetahuan merupakan langkah awal pengerjaan atau pemberlakuan obyek materi
ilmu. Uji kritis tentang paradigma-paradigma penelitian masih harus dilakukan oleh setiap peneliti
ilmuwan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai keahlian. Manusia mencari kebenaran
lewat filsafat dan penyelidikan secara ilmiah. Pencarian kebenaran pada hakekatnya berfungsi
sebagai pemenuhan kebutuhan rokhani (hasrat ingin tahu), karena manusia senantiasa (a priori)
mencari kebenaran demi tuntutan dan tujuan rokhaninya. Secara hierarikis kebenaran dan ilmu
pengetahuan adalah sebagai berikut : 1.Kebenaran, pengetahuan indera, melalui pengalaman
pancaindra 2.Kebenaran ilmiah, sebagai tingkat lanjut dari pengamatan pengalaman (dengan metode
apapun) 3.Kebenaran filsafat sebagai puncak dan prestasi pemikiran murni manusia untuk
menembus tapal batas fisika dan metafisika 4.Kebenaran religious sebegai kebenaran mutlak
fundamental yang hakiki merupakan puncak dan batas tertinggi jangkauan akal budi kepribadian
manusia. Kebenaran religious berwatak supranatural dan supra rasional. (Teliti karya Laboratorium
Pancasila 1986 dalam Syam, 2006). Keempat tingkat kebenaran ini menunjukkan dimensi
kesemstaan, alam, budaya, agama dan Tuhan sebagai dunia kepribadian martabat manusia.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menunjukkan kemampuan pribadi manusia unggul berkat
potensi yang dikembangkannya. Manusia harus dapat mendayagunakan iptek dalam meningkatkan
kesejahteraan umat manusia, mengembangkan dan melestarikan peradaban, merupakan tanggung
jawab moral manusia(Syam, 2006). Proses pengembanga iptek secara normatif dan teoritis ilmiah
adalah lewat kelembagaan pendidikan formal. Kelembagaan pendidikan merupakan tempat untuk
proses belajar dan proses penelitian pengembangan iptek. Kelembagaan pendidikan harus
melakukan rekonstruksi sistem pengetahuan dalam kebudayaan Indonesia. Pengembangan iptek
merupakan tujuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alenia 4, yaitu
...mencerdaskan kehidupan bangsa.... Sebagai bangsa yang besar, tiap warga negara terutama para
ilmuwan dan cendikiawan harus memilki budaya mengembangkan dan menciptakan pengetahuan
dan teknologi yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia. E.KESIMPULAN Pancasila
merupakan dasar negara Republik Indonesia yang terumuskan dari proses akulturasi budaya
nusantara yang berlangsung berabad-abad. Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan pandangan
hidup bangsa Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada
hakikatnya adalah suatu sistem pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-hari Pancasila menjadi
pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam semesta, manusia,
masyarakat, bangsa, dan negara tentang makna hidup serta sebagai dasar bagi manusia Indonesia
untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan. Filsafat Pancasila
merupakan landasar dalam proses berfikir dan berpengetahuan. Pancasila sebagai dasar negara
terdiri dari lima sila yang berasal dari pemikiran hasil akulturasi budaya nusantara. Sila-sila dalam
Pancasila memliki keterkaitan atau berhubungan dan saling melandasi. Sila pertama, Ketuhanan Yang
Maha Esa merupakan landasan utama dari kempat sila lainnya. Hal ini menjadikan Pancasila sebagai
sistem yang saling terkait tak terpisahkan. Perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia tak bisa
terlepas dari dunia luar. Ilmu pengetahuan di Indonesia pada dasarnya telah berlangsung sebelum
era bangsa eropa masuk ke nusantara hingga pada masa pasca kemerdekaan. Perkembangan iptek
adalah lewat kelembagaan pendidikan, hal ini didasarkan pada semangat menceerdaskan kehidupan
bangsa yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Para ilmuwan dan cendikiawan harus memiliki
semangat mengembangkan dan menciptakan iptek yang ditujukan bagi kesejahteraan dan
kemaslahatan umat manusia.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/fajararianto/filsafat-pancasila-dan-perkembangan-ilmu-
pengetahuan_54f85bf8a33311fa7d8b4794