Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

KASUS GAWAT DARURAT BEDAH


TORSIO TESTIS

DIAJUKAN DALAM RANGKA PRAKTEK DOKTER INTERNSIP SERTA


SEBAGAI BAGIAN PERSYARATAN MENYELESAIKAN PROGRAM INTERNSIP DI
RSUD KANJURUHAN, KEPANJEN, KAB. MALANG

Diajukan kepada:
dr. Hendryk Kwandang, M.Kes (Pembimbing IGD dan Rawat Inap)
dr. Benidiktus Setyo Untoro (Pembimbing Rawat Jalan)

Disusun oleh:
dr. Shochibul Kahfi

RSUD KANJURUHAN KEPANJEN


KABUPATEN MALANG
2016
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KASUS
KASUS GAWAT DARURAT BEDAH
TORSIO TESTIS

DIAJUKAN DALAM RANGKA PRAKTEK DOKTER INTERNSIP SERTA


SEBAGAI BAGIAN PERSYARATAN MENYELESAIKAN PROGRAM INTERNSIP DI
RSUD KANJURUHAN, KEPANJEN, KAB. MALANG

Telah diperiksa dan disetujui


pada tanggal :

Oleh :
Dokter Pembimbing Instalasi Gawat Darurat dan Rawat Inap

dr. Hendryk Kwandang, M.Kes

i
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KASUS
KASUS GAWAT DARURAT BEDAH
TORSIO TESTIS

DIAJUKAN DALAM RANGKA PRAKTEK DOKTER INTERNSIP SERTA


SEBAGAI BAGIAN PERSYARATAN MENYELESAIKAN PROGRAM INTERNSIP DI
RSUD KANJURUHAN, KEPANJEN, KAB. MALANG

Telah diperiksa dan disetujui


pada tanggal :

Oleh :
Dokter Pembimbing Rawat Jalan

dr. Benidiktus Setyo Untoro

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Semesta Alam atas bimbingan-
Nya sehingga penulis telah berhasil menyelesaikan portofolio laporan kasus yang
berjudul Torsio Testis. Dalam penyelesaian portofolio laporan kasus ini penulis
ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. dr.Hendryk Kwandang, M.Kes selaku dokter pembimbing instalasi gawat
darurat dan rawat inap
2. dr.Benidiktus Setyo Untoro selaku dokter pembimbing rawat jalan
3. dr. Antarestawati, dr. Anita Ikawati, dr. Janny Fajar Dita, dr. Yudha Perdana
dan dr. Romualdus Redy Wibowo selaku dokter jaga dua
4. Serta paramedis yang selalu membimbing dan membantu penulis.
Portofolio laporan kasus ini masih jauh dari kesempurnaan. Dengan
kerendahan hati penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharapkan
saran dan kritik yang membangun. Semoga laporan kasus ini dapat menambah
wawasan dan bermanfaat bagi semua pihak.

Kepanjen, Maret 2016

Penulis

iii
Daftar Isi

HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................................ii
KATA PENGANTAR.......................................................................................................iii
Daftar Isi...........................................................................................................................iv
Bab 1 Pendahuluan.............................................................................................................1
Bab 2 Laporan Kasus.........................................................................................................2
2.1. Identitas..............................................................................................................2
2.2. Anamnesa...........................................................................................................2
2.3. Pemeriksaan Fisik..............................................................................................3
2.4. Resume...............................................................................................................5
2.5. Diagnosis............................................................................................................6
2.6. Rencana Terapi...................................................................................................6
2.7. Rencana Edukasi................................................................................................7
Bab 3 Tinjauan Pustaka......................................................................................................8
3.1 Anatomi Testis....................................................................................................8
3.2 Fisiologi Testis...................................................................................................8
3.3 Epidemiologi dan Prevalensi Torsio Testis.........................................................9
3.4 Etiologi Torsio Testis..........................................................................................9
3.5 Patofisiologi Torsio Testis................................................................................10
3.6 Diagnosis Torsio Testis.....................................................................................11
3.7 Diagnosis Banding Torsio Testis.......................................................................13
3.8 Penatalaksanaan Torsio Testis...........................................................................14
3.9 Komplikasi dan Prognosis Torsio Testis...........................................................15
Bab 4 Pembahasan...........................................................................................................17
Bab 5 Kesimpulan............................................................................................................18
Daftar Pustaka..................................................................................................................19

iv
Bab 1
Pendahuluan
Torsio testis merupakan suatu kegawatdaruratan vaskuler yang murni dan
memerlukan tindakan bedah yang segera. Dengan keadaan terpeluntirnya
funikulus spermatikus yang berakibat terjadinya gangguan aliran darah pada
testis. Jika kondisi ini tidak ditangani dalam waktu singkat (dalam 4 hingga 6 jam
setelah onset nyeri) dapat menyebabkan infark dari testis, yang selanjutnya
akan diikuti oleh atrofi testis. Keadaan ini diderita oleh 1 diantara 4000 pria yang
berumur kurang dari 25 tahun, paling banyak diderita oleh anak pada masa
pubertas (12-20 tahun) (Purnomo, 2013). Di Rumah Sakit Saiful Anwar semenjak
tahun Januari 2002 hingga Juni 2014 dari 5333 pasien rawat inap urologi terdapat
61 pasien yang terdiagnosis torsio testis, dengan 85 % pasien dibawah 25 tahun
(Data Urologi RSSA,2014).

Torsio testis harus selalu dipertimbangkan pada pasien-pasien dengan


akut skrotum hingga terbukti tidak, namun kondisi tersebut juga harus dibedakan
dari keluhan nyeri testis lainnya. Anamnesis dan pemeriksaan fisik cukup untuk
menegakkan diagnosis yang tepat pada sekitar 67% pasien (Reynard , 2011).
Adapun penyebab tersering hilangnya testis setelah torsio adalah keterlambatan
dalam mencari pengobatan (58%), kesalahan dalam diagnosis awal (29%) dan
keterlambatan terapi (13%) (Siroky ,2004).

Dengan latar belakang tersebut sebagai dokter umum, dengan


kompetensi 3B untuk torsio testis diharapkan mampu membuat diagnosis klinik
berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pemeriksaan tambahan hingga
dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan sebelum menuju tempat
rujukan. Maka diperlukan penjelasan lebih lanjut mengenai torsio testis yang akan
dibahas pada laporan kasus ini.

1
Bab 2
Laporan Kasus

2.1. Identitas.
Nama : Sdr. M.A
Usia : 16 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama/Suku : Islam/Jawa
Alamat : Pagelaran Kepanjen
Tanggal pemeriksaan : 28 Januari 2016
No. RM : 39395x

2.2. Anamnesa.
Autoanamnesa (28 Januari 2016) pkl 12.05 di IGD.
1. Keluhan Utama
Nyeri dan bengkak pada buah zakar kiri
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri dan bengkak pada buah zakar kiri sejak pukul 04.00 saat pasien bangun tidur.
Nyeri dirasakan muncul mendadak dan semakin lama semakin nyeri. Nyeri bertambah
hebat bila dibuat bergerak dan mereda jika dibuat diam.
Pasien juga mengeluhkan mual-mual dan muntah sebanyak dua kali.
Tidak ada keluhan demam. BAB dan BAK dalam batas normal.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah menderita keluhan seperti ini.
Menurut pasien dan keluarga, buah zakar pasien sudah sering keluar masuk sejak usia
5 tahun.
4. Riwayat Keluarga
Tidak ditemukan riwayat keluarga dengan keluhan yang sama.
5. Riwayat Pengobatan.
Pasien tidak berobat kemana-mana dan baru dibawa ke RSUD pkl 12.00.

2.3. Pemeriksaan Fisik.


28-01-2016 di IGD.
1. Keadaan Umum

2
Pasien tampak sakit sedang, compos mentis, GCS 456
2. Tanda Vital
a. Tekanan darah : 120/80 mmHg
b. Laju denyut jantung : 102 x/menit reguler
c. Laju pernapasan : 22 x/menit
d. Suhu aksiler : 36,5OC
3. Kepala
a. Bentuk : normosefal, benjolan massa (-)
b. Ukuran : mesosefal
c. Rambut : tebal,hitam.
d. Wajah : simetris, bundar, rash (-), sianosis (-), edema (-).
e. Mata
konjungtiva : anemis (-).
sklera : ikterik (-).
palpebra : edema (-).
reflek cahaya : (+/+).
pupil : isokor, (+/+), 2mm/2mm..
telinga : bentuk normal, posisi normal, sekret (-).
f. Hidung : sekret (-) jernih, pernafasan cuping hidung(-),
perdarahan (-), hiperemi (-).
g. Mulut : mukosa bibir basah, mucosa sianosis (-), lidah
kotor (-). Tampak mulut terbuka, didapatkan
tonjolan pada sendi temporomandibular sinistra,
keras, fix, diameter: 2 cm.
4. Leher
a. Inspeksi : massa (-/-).
b. Palpasi : pembesaran kelenjar limfa regional (-/-).
5. Thoraks
a. Inspeksi. : bentuk dada kesan normal dan simetris; retraksi
dinding dada (-), tidak didapatkan deformitas.
b. Jantung:
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi : ictus cordis teraba di MCL (S) ICS V(S).
Perkusi : batas jantung normal.

3
Auskultasi : S1S2 tunggal, reguler, ekstrasistol (-), gallop (-),
murmur (-).
c. Paru :
Inspeksi : gerak nafas simetris pada kedua sisi dinding
dada, retraksi (-), RR 22 kali/menit, teratur, simetris.
Palpasi : pergerakan dinding dada saat bernafas simetris.
Perkusi : sonor sonor
sonor sonor
sonor sonor
Auskultasi : vesikuler di seluruh lapang paru.
- - - -
Rh - - Wh - -
- - - -

6. Abdomen
a. Inspeksi : datar, kulit abdomen : jaringan parut (-).
b. Auskultasi : bising usus (+), normal.
c. Perkusi : timpani, shifting dullnes (-).
d. Palpasi : H/L tidak teraba.
7. Genitalia perineum
Slightly edema scrotum sinistra, nyeri tekan, cremaster sign (-)

4
8. Ekstremitas

Pemeriksaan Atas Bawah


Ekstremitas Kanan Kiri Kanan Kiri
Akral - - - -
Anemis -
Ikterik -
Edema - - -
Sianosis - - - -
Ptechiae
Capillary Refill < 2 detik < 2 detik < 2 detik < 2 detik
Time

2.4. Resume.
Sdr. M.A/ Laki-laki/ 16 tahun
Anamnesis
Keluhan utama: Nyeri dan bengkak pada buah zakar kiri
Nyeri dan bengkak pada buah zakar kiri sejak pukul 04.00 saat pasien bangun tidur.
Nyeri dirasakan muncul mendadak dan semakin lama semakin nyeri. Nyeri bertambah
hebat bila dibuat bergerak dan mereda jika dibuat diam.
Pasien juga mengeluhkan mual-mual dan muntah sebanyak dua kali.
Tidak ada keluhan demam. BAB dan BAK dalam batas normal..
Pemeriksaan fisik
Pasien tampak sakit sedang, compos mentis, GCS 456
Tanda vital :Tekanan darah : 120/80 mmHg
Denyut jantung : 102 x/menit reguler
Pernapasan : 22 x/menit
Suhu aksiler : 36,5O C
Kepala : tidak ditemukan kelainan.
Leher : tidak ditemukan kelainan.
Thoraks : tidak ditemukan kelainan.
Abdomen : tidak ditemukan kelainan.
Genital : Slightly edema scrotum sinistra, nyeri tekan, cremaster sign (-)
Ekstrimitas : edema dan hiperemia pada tangan kiri

5
2.5. Diagnosis.
a. Diagnosis Kerja:
Torsio testis sinistra dd hernia scrotalis sinistra
b. Rencana diagnosis:
-
2.6. Rencana Terapi.
a. Posisi Trendelenburg
b. IVFD Ringer lactate 1000 cc dalam 1 jam
c. Pasang DC
d. Injeksi Ceftriaxon 2x1 gr intravena => skin test
e. Injeksi Ranitidin 2x50 mg intravena
f. Injeksi Metamizole sodium 3x1 gr intravena
g. Rencana Operasi

Laporan operasi :
1. Informed consent kepada pasien dan keluarga
2. Evaluasi didapatkan testis sinistra mengalami nekrosis dengan pluntiran
3x1800 clockwise
3. Evaluasi testis dekstra dalam batas normal
4. Dilakukan tindakan orchidectomy testis sinistra ( jaringan di periksakan
PA) dan dilakukan tindakan orchidopexy testis dekstra

Terapi post op :
a. IVFD RL 20 tpm
b. Injeksi Ceftriaxon 2x1gr intravena
c. Injeksi Ranitidin 2x50 mg intravena
d. Injeksi Ketorolac 3x30 mg intravena
e. Bedrest 24 jam
f. Bila BU (+) boleh makan
g. Jika tidak muntah, boleh diet bebas TKTP
h. Observasi TTV, nyeri, muntah, luka post op, hematom scrotum, alergi obat
i. Pertahankan DC 2x24 jam

Follow up tgl 29-01-2016 pkl 06.00

6
Subjektif : nyeri luka bekas operasi
Objektif : KU cukup, GCS 456
TD : 100/60 N : 76x/m RR : 18x/m Tax : 360C
Luka post op baik
Assessment : Post Orchidectomy sinistra dan Orchidopexy dekstra
Planning : Cek DL
IVFD RL 20 tpm
Injeksi Ketorolac 3x30 mg intravena
Injeksi Ceftriaxon 2x1 gr intravena => skin test
Injeksi Ranitidin 2x50 mg intravena

2.7. Rencana Edukasi.


a. Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit yang diderita dan rencana terapi yang
akan dilakukan
b. Menjelaskan tindakan operasi yang akan dilakukan terhadap pasien
c. Menjelaskan kemungkinan pengangkatan buah zakar yang sudah mati
d. Menjelaskan kepada pasien akan pentingnya kontrol pasca operasi
e. Menjelaskan kepada pasien akan adanya kemungkinan kemandulan di kemudian
hari

7
Bab 3
Tinjauan Pustaka

3.1 Anatomi Testis


Testis adalah organ genitalia pria yang pada orang normal jumlahnya ada
dua yang masing masing terletak di dalam skrotum kanan dan kiri. Bentuknya
ovoid dan pada orang dewasa ukurannya adalah 4 x 3 x 2,5 cm, dengan volume
15-25ml. Kedua testis terbungkus oleh jaringan tunika albuginea yang melekat
pada testis. Di luar tunika albuginea terdapat tunika vaginalis yang terdiri atas
lapisan viseralis dan parietalis, serta tunika dartos. Otot kremaster yang berada di
sekitar testis memungkinkan testis dapat digerakkan mendekati rongga abdomen
untuk mempertahankan temperature testis agar tetap stabil.
Secara histopatologis, testis terdiri atas kurang lebih 250 lobuli dan setiap
lobules terdiri atas tubulus semineferi. Di dalam tubulus semineferus terdapat sel
spermatogonia dan sel sertoli, sedangkan diantara tubuli semineferi terdapat sel
leydig. Sel spermatogonia pada proses spermatogenesis menjadi sel spermatozoa.
Sel sertoli berfungsi memberi makan pada bakal sperma, sedangkan sel leydig
atau sel interstitial testis berfungsi dalam menghasilkan hormone testosterone
(Purnomo ,2013).

3.2 Fisiologi testis


Testis memiliki peran ganda, yaitu: sebagai glandula eksokrin dan endokrin.
Sebagai glandula eksokrin, testis menghasilkan sel-sel spermatozoa, dan sebagai
endokrin menghasilkan testosterone.
Sel spermatozoa yang diproduksi di tubulus seminiferous testis disimpan
dan mengalami pematangan di epididymis. Setelah mature (dewasa) sel
spermatozoa bersama-sama dengan getah dari epididymis dan vas deferens
disalurkan menuju ampula vas deferens. Sel itu setelah bercampur dengan cairan
dari epididymis, vas deferens, vesikula seminalis serta cairan prostat membentuk
cairan semen atau mani (Purnomo,2013).
3.3 Epidemiologi dan Prevalensi Torsio Testis
Torsio testis bisa terjadi pada semua usia, tetapi paling sering terjadi pada
usia dewasa muda (usia 10-30 tahun) dan lebih jarang terjadi pada neonatus.

8
Puncak insiden terjadi pada usia 13-15 tahun. Terdapat kecenderungan penurunan
insiden sesuai dengan peningkatan usia.
Peningkatan insiden selama usia dewasa muda mungkin disebabkankarena
testis yang membesar sekitar 5-6 kali selama pubertas. Testis kiri lebih sering
terjadi dibanding testis kanan, hal ini mungkin disebabkan oleh karena secara
normal spermatic cord kiri lebih panjang. Pada kasus torsio testis yang terjadi
pada periode neonatus, 70% terjadi pada fase prenatal dan 30% terjadi postnatal
(Ringdahl ,2006).

3.4 Etiologi Torsio Testis

Adanya kelainan sistem penyangga testis menyebabkan testis dapat


mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaan yang
menyebabkan pergerakan yang berlebihan itu, antara lain adalah perubahan suhu
yang mendadak (seperti pada saat berenang), ketakutan, latihan yang berlebihan,
batuk, celana yang terlalu ketat, defekasi, atau trauma yang mengenai skrotum .
Dikatakan pula bahwa spasme dan kontraksi dari otot kremaster dan tunica dartos
bisa pula menjadi faktor pencetus. Faktor predisposisi lain terjadinya torsio
meliputi peningkatan volume testis (sering dihubungkan dengan pubertas), tumor
testis, testis yang terletak horisontal, riwayat kriptorkismus, dan pada keadaan
dimana spermatic cord intrascrotal yang panjang.

Trauma dapat menjadi faktor penyebab pada sekitar 50% pasien. Torsio
dapat terjadi ketika seseorang sedang tidur karena spasme otot kremaster.
Kontraksi otot ini karena testis kiri berputar berlawanan dengan arah jarum jam
dan testis kanan berputar searah dengan jarum jam. Aliran darah terhenti, dan
terbentuk edema. Kedua keadaan tersebut menyebabkan iskemia testis. Pada
akhirnya, testis akan mengalami nekrosis (Francis et al., 2002).

3.5 Patofisiologi Torsio Testis


Terdapat 2 jenis torsio testis berdasarkan patofisiologinya yaitu torsio
intravagina dan ekstravagina. Torsio intravagina terjadi di dalam tunika vaginalis

9
dan disebabkan oleh karena abnormalitas dari tunika pada spermatic cord di
dalam scrotum. Secara normal, fiksasi posterior dari epididymis dan investment
yang tidak komplet dari epididymis dan testis posterior oleh tunika vaginalis
memfiksasi testis pada sisi posterior dari scrotum. Kegagalan fiksasi yang tepat
dari tunika ini menimbulkan gambaran bentuk bell-clapper deformitas, dan
keadaan ini menyebabkan testis mengalami rotasi pada cord sehingga potensial
terjadi torsio. Torsio ini lebih sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda.
Ekstravagina torsio terjadi bila seluruh testis dan tunika terpuntir pada axis
vertical sebagai akibat dari fiksasi yang tidak komplet atau non fiksasi dari
gubernakulum terhadap dinding scrotum, sehingga menyebabkan rotasi yang
bebas di dalam scrotum. Kelainan ini sering terjadi pada neonatus dan pada
kondisi undesensus testis (Blandy, John.2002).

Gambar 1. Proses torsio intravagina


( sumber : emedicine.com,2014)

Gambar 2. A. Torsio Intravagina B. Torsio Ekstravagina

10
(sumber : Pediatric Urology,2012)

3.6 Diagnosis Torsio Testis


Diagnosis torsio testis dimulai dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Secara umum, digambarkan pada bagan Algoritma dan
Clinical Pathway Torsio Testis sebagai berikut : (Scott et al.,2006)
Gambar 3. Bagan
Alogaritma dan
Clinical Pathway
Torsio Testis

( sumber : Campbells Urology , 2002)

Anamnesis
Pasien-pasien dengan torsio testis dapat mengalami gejala sebagai berikut :
1. Nyeri hebat yang mendadak pada salah satu testis, dengan atau tanpa
faktor predisposisi
2. Scrotum yang membengkak pada salah satu sisi

3. Mual atau muntah

4. Sakit kepala ringan

Pada awal proses, belum ditemukan pembengkakan pada scrotum. Testis


yang infark dapat menyebabkan perubahan pada scrotum. Scrotum akan sangat
nyeri kemerahan dan bengkak. Pasien sering mengalami kesulitan untuk
menemukan posisi yang nyaman. Selain nyeri pada sisi testis yang mengalami

11
torsio, dapat juga ditemukan nyeri alih di daerah inguinal atau abdominal. Jika
testis yang mengalami torsio merupakan undesendensus testis, maka gejala yang
yang timbul menyerupai hernia strangulate (Scott, et al., 2006).

Pemeriksaan Fisik

Dalam pemeriksaan fisik testis yang mengalami torsio letaknya lebih


tinggi dan lebih horizontal daripada testis sisi kontralateral. Kadang-kadang pada
torsio testis yang baru terjadi, dapat diraba adanya lilitan atau penebalan funikulus
spermatikus. Keadaan ini biasanya tidak disertai dengan demam. Testis kanan dan
testis kiri seharusnya sama besar. Pembesaran asimetris, terutama jika terjadi
secara akut, menandakan kemungkinan adanya keadaan patologis di satu testis.
Perubahan warna kulit scrotum, juga dapat menandakan adanya suatu masalah.
Hal terakhir yang perlu diwaspadai yaitu adanya nyeri atau perasaan tidak nyaman
pada testis. Reflex cremaster secara umum hilang pada torsio testis. Tidak adanya
reflex kremaster, 100% sensitif dan 66% spesifik pada torsio testis. Pada beberapa
anak laki-laki, reflex kremaster dapat menurun atau tidak ada sejak awal, dan
reflex kremaster masih dapat ditemukan pada kasus-kasus torsio testis, oleh
karena itu, ada atau tidak adanya reflex kremaster tidak bisa digunakan sebagai
satu-satunya acuan mendiagnosis atau menyingkirkan diagnosis torsio testis.
(Scott et al., 2006)

Pemeriksaan phren's juga dapat digunakan untuk membedakan secara


klinis epididimitis dan torsio testis. Phren's sign positif artinya adalah sakit pada
testis adalah suatu epididimitis dan terapi di tujukan pada pengobatan infeksi.
Phren's sign negatif artinya rasa nyeri berkurang jika testis diangkat ini adalah
suatu torsio testis yang mesti dilakukan operasi emergensi dalam 6 jam untuk
mengembalikan posisi testis yg terpuntir (Clark, 2000).

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk membedakan torsio testis


dengan keadaan akut scrotum yang lain adalah dengan menggunakan stetoskop

12
Doppler, ultrasonografi Doppler, dan sintigrafi testis, yang kesemuanya bertujuan
untuk menilai aliran darah ke testis. Ultrasonografi Doppler berwarna dapat
menilai aliran darah, dan dapat membedakan aliran darah intratestikular dan aliran
darah dinding scrotum. Alat ini juga dapat digunakan untuk memeriksa kondisi
patologis lain pada scrotum (Clark, 2000). Pada torsio testis tidak di dapatkan
adanya aliran darah ke testis, sedangkan pada peradangan akut testis terjadi
peningkatan aliran darah ke testis (Purnomo, 2013).

3.7 Diagnosis Banding Torsio Testis


Torsio testis harus dibedakan dengan kondisi-kondisi lain sebagai
penyebab dari akut scrotum, antara lain:
1. Epididimitis akut
Penyakit ini secara umum dibedakan dengan torsio testis. Nyeri scrotum akut
biasanya disertai dengan kenaikan suhu, keluarnya nanah dariuretra, adanya
riwayat coitus suspectus (dengan melakukan senggama selain istrinya), atau
pernah menjalani kateterisasi uretra sebelumnya.Pada pemeriksaan, epididimitis
dan torsio testis dapat dibedakan dengan Phrens sign, yaitu jika testis yang
terkena dinaikkan, pada epididimitis akut terkadang nyeri akan berkurang (Phrens
sign positif), sedangkan pada torsio testis nyeri tetap ada (Phrens sign negatif).
Pasien epididimitis akut biasanya berumur lebih dari 20 tahun dan pada
pemeriksaan sedimen urin didapatkan adanya leukosituria dan bakteriuria.
2. Orchitis, inflamasi akut pada salah satu atau kedua testis disertai dengan
pembengkakan scrotum dan diikutin riwayat infeksi virus (mumps).
3. Hernia scrotalis incarserata, yang biasanya didahului dengan anamnesis
didapatkan benjolan yang dapat keluar masuk ke dalam scrotum.
4. Hidrokel terinfeksi, dengan anamnesis sebelumnya sudah ada benjolan di
scrotum.
5. Tumor testis, benjolan tidak dirasakan nyeri kecuali terjadi perdarahan di
dalam testis.
6. Edema scrotum, yang dapat disebabkan oleh hipoproteinemia, filariasis,
adanya pembuntuan saluran limfe inguinal, kelainan jantung, atau
kelainan-kelainan yang tidak diketahui penyebabnya (Purnomo, 2013).

13
3.8 Penatalaksanaan Torsio Testis

Torsio testis merupakan kasus emergensi, harus dilakukan segala upaya


untuk mempercepat proses pembedahan. Hasil pembedahan tergantung dari
lamanya iskemia, oleh karena itu, waktu sangat penting. Biasanya waktu terbuang
untuk pemeriksaan pencitraan, laboratorium, atau prosedur diagnostik lain yang
mengakibatkan testis tak dapat dipertahankan.Tujuan dilakukannya eksplorasi
yaitu untuk memastikan diagnosis torsio testis, melakukan detorsi testis yang
torsio, memeriksa apakah testis masih viable, membuang (jika testis sudah
nonviable) atau memfiksasi jika testis masih viable, dan memfiksasi testis
kontralateral (Clark,. 2000).

Perbedaan pendapat mengenai tindakan eksplorasi antara lain disebabkan


oleh kecilnya kemungkinan testis masih viable jika torsio sudah berlangsung lama
(>24-48 jam). Sebagian ahli masih mempertahankan pendapatnya untuk tetap
melakukan eksplorasi dengan alasan medikolegal, yaitu eksplorasi dibutuhkan
untuk membuktikan diagnosis, untuk menyelamatkan testis (jika masih mungkin),
dan untuk melakukan orkidopeksi pada testis kontralateral. Saat pembedahan,
dilakukan juga tindakan preventif pada testis kontralateral. Hal ini dilakukan
karena testis kontralaeral memiliki kemungkinan torsio di lain waktu (Leape,
2010).

Jika testis masih viable, dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis) pada tunika
dartos kemudian disusul pada testis kontralateral. Orkidopeksi dilakukan dengan
menggunakan benang yang tidak diserap pada tiga tempat untuk mencegah agar
testis tidak terpuntir kembali. Sedangkan pada testis yang sudah mengalami
nekrosis, dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan kemudian disusul
orkidopeksi kontralateral. Testis yang telah mengalami nekrosis jika tetap berada
di scrotum dapat merangsang terbentuknya antibodi antisperma sehingga
mengurangi kemampuan fertilitas di kemudian hari (Purnomo, 2013).

3.9 Komplikasi dan Prognosis Torsio Testis

14
Torsio testis akan berlanjut sebagai salah satu kegawat daruratan dalam
bidang urologi. Nekrosis tubular pada testis yang terlibat jelas terlihat setelah 2
jam dari torsio. Keterlambatan lebih dari 6-8 jam secara onset gejala yang timbul
dan waktu pembedahan atau detorsi manual akan menurunkan angka pertolongan
terhadap testis hingga 55%-85%. Putusnya suplai darah ke testis dalam jangka
waktu yang lama akan menyebabkan atrofi testis. Atrofi testicular dapat terjadi
dalam waktu 8 jam setelah onset iskemia. Insiden terjadinya atrofi testis
meningkat bila torsio terjadi 8 jam atau lebih. Komplikasi klinis dari torsio testis
adalah kesuburan yang menurun dan hilangnya testicular apabila torsi tersebut
tidak diperbaiki dengan cukup cepat. Tingkat yang lebih ekstrim dari torsio testis
mempengaruhi tikat iskemia testicular dan kemungkinan penyelamatan
(Greenberg, 2005).

Komplikasi torsio testis yang paling signifikan adalah infark gonad.


Kejadian ini bergantung pada durasi dan tingkat torsio. Analisis air mani abnormal
dan apoptosis testicular kontralateral juga merupakan sekuele yang diketahui
mengikuti ketegangan testis. Oleh karena itu, resiko subfertilitas harus
dibicarakan dengan pasien. Testis yang mengalami nekrosis jika tetap dibiarkan
tetap didalam skrotum akan merangsang terbentuknya antibody antisperma
sehingga mengurangi kemampuan fertilitas dikemudian hari. Komplikasi lain
yang serig timbul dari torsio testis meliputi hilangnya testis, infeksi, infertilitas
sekunder,deformitas kosmetik (Graham, 2009).
Penatalaksanaan torsio testis menjadi tindakan darurat yang harus segera
dilakukan karena angka keberhasilan serta kemungkinan testis tertolong akan
menurun seiring dengan bertambahkan lama watu terjadinya torsio. Bila
dilakukan penanganan sebelum 6 jam hasilnya baik, 8 jam memungkinkan pulih
kembali, 12 jam meragukan, 24 jam dilakukan orkidektomi. Viabilitas testis
sangat berkurang bila dioperasi setelah 6 jam.

15
Bab 4 Pembahasan

Pada pasien ini ditegakkan diagnosis torsio testis. Penegakan diagnosa ini
didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik. Untuk penegakan diagnosis ini
tidak perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, cukup berdasarkan klinis saja.
Dari hasil anamnesis, ditemukan bahwa pasien mengeluh nyeri dan
bengkak pada buah zakar yang kiri sekitar 8 jam sebelum pasien masuk IGD.
Pasien juga mengeluh mual dan muntah. Sesuai dengan teori, bahwa keluhan pada
torsio testis bersifat mendadak pada satu sisi skrotum dan dapat disertai mual dan
muntah.
Dari hasil pemeriksaan fisik, tanda-tanda vital pasien dalam batas normal.
Pada pemeriksaan status lokalis ditemukan skrotum kiri agak bengkak disertai
dengan nyeri tekan. Pada pemeriksaan reflex kremaster, ditemukan hasilnya
negative. Sesuai dengan teori, pada pemeriksaan fisik pasien dengan torsio testis,
didapatkan bengkak pada sisi yang mengalami torsio serta reflex kremaster
menghilang.
Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah :
a. Posisi Trendelenburg
b. IVFD Ringer lactate 1000 cc dalam 1 jam
c. Pasang DC
d. Injeksi Ceftriaxon 2x1 gr intravena => skin test
e. Injeksi Ranitidin 2x50 mg intravena
f. Injeksi Metamizole sodium 3x1 gr intravena
g. Rencana operasi
h. Dilakukan pembedahan eksploratif dan dilakukan orkidektomi testis
sinistra dan orkidopeksi testis dekstra
Sesuai dengan teori, tatalaksana untuk torsio testis adalah tindakan pembedahan
eksploratif. Eksplorasi dibutuhkan untuk membuktikan diagnosis, untuk
menyelamatkan testis (jika masih mungkin), dan untuk melakukan orkidopeksi
pada testis kontralateral.
Bab 5 Kesimpulan

Torsio testis adalah suatu kejadian dimana funikulus spermatikus


terpeluntir yang mengakibatkan oklusi dan strangulasi dari vaskularisasi vena atau
arteri ke testis dan epididymitis.

Adanya kelainan system penyangga testis menyebabkan testis dapat


mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaan yang
menyebabkan pergerakan yang berlebihan ini, antara lain perubahan suhu
mendadak, ketakutan, latihan yang berlebihan, batuk, celana yang terlalu ketat,
defekasi, atau trauma yang mengenai skrotum. Faktor predisposisi lain terjadinya
torsio meliputi peningkatan volume testis, tumor testis, testois yang terletak
horizontal, riwayat kriptorkismus, dan padakeadaan dimana spermatic cord
intracostal yang panjang.

Pada torsio testis, pasien mengeluh nyeri hebat didaerah skrotum, yang
sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis. Keadaan itu disebut
akut skrotum. Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal atau perut sebelah bawah.
Gejala lain yang juga dapat muncul adalah mual dan muntah, kadang-kadang
disertai demam ringan.

Penegakan diagnosis pada torsio testis dapat dilakukan dengan cara


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang meliputi pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan radiologi dengan color doppler ultrasonography
dan nuclear scintigraphy.
Penatalaksanaan torsio testis yang utama adalah dilakukannya tindakan
operatif. Bila dilakukan penanganan sebelum 6 jam hasilnya baik, 8 jam
memungkinkan pulih kembali, 12 jam meragukan, 24 jam dilakukan orkidektomi.
Daftar Pustaka
Blandy, John. Lecture Notes on Urology. Third edition. Oxford : Blackwell
Scietific Publication. 2002. 277.

Clark. P : On the Testicle. In Clark.P (ed), Operation in Urology, Churchill


Livingstone, New York 2000 : 123-34

Francis X. Schneck, Mark F. Bellinger. 2002. Abnormalities of the testis and


scrotum and their surgical management on Walsh : Campbells Urology 8th
Edition. Philadelphia : Saunders

Graham, et al. 2009. Testicular Torsion. http://connection.ebscohost.com diakses


tanggal 1 Maret 2016

Greenberg, M. 2005. Testicular Torsion in Greenbergs Text Atlas of Emergency


Medicine. USA : Lippincott William & Wilkins

Leape.L.L : Testicular Torsion. In : Ashcraft.K.W (ed), Pediatric Urology, W.B.


Saunders Company; Philadelphia 2010: 429-36

Purnomo B . B. 2013. Dasar-DasarUrologi, Edisiketiga, SagungSeto, Jakarta, hal.


233

Ringdahl.E, Teague.L : Testicular Torsion, Am Fam Physician J 2006 ; 74(10):


214-9

Rupp.T.J., Department of Emergency Medicine, Thomas Jefferson University.


Testicular Torsion. http://www.emedicine.com/med/topic2560.htm.
(diakses pada 5 maret 2016)

Reynard .J : Torsion of the testis and testicular appendages. In : Reynard. J,


Brewster. S, Biers.S (eds), Oxford Handbook of Urology, Oxford
University Press, New York 2006: 45210.
Scott, Roy, Deane, R. Fletcher. Urology Ilustrated. London and New York :
Churchill Livingstone. 2005. 324-325.

Siroky. M.B : Torsion of the testis. In : Siroky.M.B, Oates.R.D, Babayan. R.


K (eds), Handbook of urology: diagnosis and Therapy, 3 rded, Lippincot
William & Wilkins; Philadelpihia 2004: 369-72

Anda mungkin juga menyukai