Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

HEMODIALISA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Medikal di
Ruang Hemodialisa RSUD dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
Yodha Pranata
NIM. 150070300011038
Kelompok 4

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017
1. Definisi Hemodialisis
Hemodialisa adalah proses pembersihan darah oleh kumpulan zat sisa metabolisme
tubuh. Hemodialisis digunakan untuk pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau pasien
berpenyakit akut yang membutuhkan dialisis waktu singkat (Nursalam, 2006)
Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan biokimiawi darah yang
terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal, dilakukan dengan menggunakan mesin hemodialisis.
Hemodialisis merupakan salah satu bentuk terapi pengganti ginjal (renal replacement
therapy/RRT) dan hanya menggantikan sebagian dari fungsi ekskresi ginjal. Hemodialisis
dilakukan pada penderita PGK stadium V dan pada pasien dengan AKI (Acute Kidney Injury)
yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Menurut prosedur yang dilakukan HD dapat
dibedakan menjadi 3 yaitu: HD darurat/emergency, HD persiapan/preparative, dan HD
kronik/reguler (Daurgirdas et al., 2007).

2. Indikasi Hemodialisis
Indikasi HD dibedakan menjadi HD emergency atau HD segera dan HD kronik.
Hemodialis segera adalah HD yang harus segera dilakukan.
2.1 Indikasi hemodialisis segera antara lain (Daurgirdas et al., 2007):
1. Kegawatan ginjal
a. Klinis: keadaan uremik berat, overhidrasi
b. Oligouria (produksi urine <200 ml/12 jam)
c. Anuria (produksi urine <50 ml/12 jam)
d. Hiperkalemia (terutama jika terjadi perubahan ECG, biasanya K >6,5 mmol/l )
e. Asidosis berat ( pH <7,1 atau bikarbonat <12 meq/l)
f. Uremia ( BUN >150 mg/dL)
g. Ensefalopati uremikum
h. Neuropati/miopati uremikum
i. Perikarditis uremikum
j. Disnatremia berat (Na >160 atau <115 mmol/L)
k. Hipertermia
2. Keracunan akut (alkohol, obat-obatan) yang bisa melewati membran dialisis.
2.2 Indikasi Hemodialisis Kronik
Hemodialisis kronik adalah hemodialisis yang dikerjakan berkelanjutan seumur hidup
penderita dengan menggunakan mesin hemodialisis. Menurut K/DOQI dialisis dimulai jika
GFR <15 ml/mnt. Keadaan pasien yang mempunyai GFR <15ml/menit tidak selalu sama,
sehingga dialisis dianggap baru perlu dimulai jika dijumpai salah satu dari hal tersebut di
bawah ini (Daurgirdas et al., 2007):
a. GFR <15 ml/menit, tergantung gejala klinis
b. Gejala uremia meliputi; lethargy, anoreksia, nausea, mual dan muntah.
c. Adanya malnutrisi atau hilangnya massa otot.
d. Hipertensi yang sulit dikontrol dan adanya kelebihan cairan.
e. Komplikasi metabolik yang refrakter.
3. Kontra Indikasi Hemodialisis
Menurut Thiser dan Wilcox (1997) kontra indikasi dari hemodialisa adalah hipotensi yang
tidak responsif terhadap presor, penyakit stadium terminal, dan sindrom otak organik. Sedangkan
menurut PERNEFRI (2003) kontra indikasi dari hemodialisa adalah tidak mungkin didapatkan
akses vaskuler pada hemodialisa, akses vaskuler sulit, instabilitas hemodinamik dan koagulasi.
Kontra indikasi hemodialisa yang lain diantaranya adalah penyakit alzheimer, demensia multi
infark, sindrom hepatorenal, sirosis hati lanjut dengan ensefalopati dan keganasan lanjut
(PERNEFRI, 2003)

4. Tujuan Hemodialisis
Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa antara lain :
a. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-sisa metabolisme
dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang lain.
b. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya
dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.
c. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal.
d. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.

5. Prinsip Dan Cara Kerja Hemodialisis


5.1 Mekanisme Hemodialisis
Hemodialisis terdiri dari 3 kompartemen:
a. kompartemen darah
b. kompartemen cairan pencuci (dialisat)
c. ginjal buatan (dialiser).
Darah dikeluarkan dari pembuluh darah vena dengan kecepatan aliran tertentu,
kemudian masuk ke dalam mesin dengan proses pemompaan. Setelah terjadi proses dialisis,
darah yang telah bersih ini masuk ke pembuluh balik, selanjutnya beredar di dalam tubuh.
Proses dialisis (pemurnian) darah terjadi dalam dialiser (Daurgirdas et al., 2007).
Prinsip kerja hemodialisis adalah komposisi solute (bahan terlarut) suatu larutan
(kompartemen darah) akan berubah dengan cara memaparkan larutan ini dengan larutan
lain (kompartemen dialisat) melalui membran semipermeabel (dialiser). Perpindahan solute
melewati membran disebut sebagai osmosis. Perpindahan ini terjadi melalui mekanisme
difusi dan UF. Mekanisme difusi bertujuan untuk membuang zat-zat terlarut dalam darah
(blood purification), sedangkan mekanisme ultrafiltrasi bertujuan untuk mengurangi
kelebihan cairan dalam tubuh (volume control) (Roesli, 2006).
Kedua mekanisme dapat digabungkan atau dipisah, sesuai dengan tujuan awal
hemodialisanya. Mekanisme difusi terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi antara
kompartemen darah dan kompartemen dialisat. Zat-zat terlarut dengan konsentrasi tinggi
dalam darah, berpindah dari kompartemen darah ke kompartemen dialisat, sebaliknya zat-
zat terlarut dalam cairan dialisat dengan konsentrasi rendah, berpindah dari kompartemen
dialisat ke kompartemen darah. Proses difusi ini akan terus berlangsung hingga konsentrasi
pada kedua kompartemen telah sama. Kemudian, untuk menghasilkan mekanisme difusi
yang baik, maka aliran darah dan aliran dialisat dibuat saling berlawanan (Rahardjo et al.,
2006).
Kemudian pada mekanisme ultrafiltrasi, terjadi pembuangan cairan karena adanya
perbedaan tekanan antara kompartemen darah dan kompartemen dialisat. Tekanan
hidrostatik akan mendorong cairan untuk keluar, sementara tekanan onkotik akan
menahannya. Bila tekanan di antara kedua kompartemen sudah seimbang, maka
mekanisme ultrafiltrasi akan berhenti (Suwitra, 2006).
5.2 Penggunaan antikoagulan dalam terapi hemodialisa
Selama proses hemodialisis, darah yang kontak dengan dialyzer dan selang dapat
menyebabkan terjadinya pembekuan darah. Hal ini dapat mengganggu kinerja dialyzer dan
proses hemodialisis. Untuk mencegah terjadinya pembekuan darah selama proses
hemodialisis, maka perlu diberikan suatu antikoagulan agar aliran darah dalam dialyzer dan
selang tetap lancar. Antikoagulan yang biasa digunakan untuk hemodialisa, yaitu :
a. Heparin
Heparin merupakan antikoagulan pilihan untuk hemodialisa, selain karena mudah
diberikan dan efeknya bekerja cepat, juga mudah untuk disingkirkan oleh tubuh. Ada
3 tehnik pemberian heparin untuk hemodialisa yang ditentukan oleh faktor kebutuhan
pasien dan faktor prosedur yang telah ditetapkan oleh rumah sakit yang menyediakan
hemodialisa, yaitu :
(1). Routine continuous infusion (heparin rutin)
Tehnik ini sering digunakan sehari-hari. Dengan dosis injeksi tunggal 30-50 U/kg
selama 2-3 menit sebelum hemodialisa dimulai. Kemudian dilanjutkan 750-1250
U/kg/jam selama proses hemodialisis berlangsung. Pemberian heparin dihentikan
1 jam sebelum hemodialisa selesai.
(2) Routine repeated bolus
Dengan dosis injeksi tunggal 30-50 U/kg selama 2-3 menit sebelum hemodialisa
dimulai. Kemudian dilanjutkan dengan dosis injeksi tunggal 30-50 U/kg berulang-
ulang sampai hemodialisa selesai.
(3) Tight heparin (heparin minimal)
Tehnik ini digunakan untuk pasien yang memiliki resiko perdarahan ringan sampai
sedang. Dosis injeksi tunggal dan laju infus diberikan lebih rendah daripada routine
continuous infusion yaitu 10-20 U/kg, 2-3 menit sebelum hemodialisa dimulai.
Kemudian dilanjutkan 500 U/kg/jam selama proses hemodialisis berlangsung.
Pemberian heparin dihentikan 1 jam sebelum hemodialisa selesai.
b. Heparin-free dialysis (Saline)
Tehnik ini digunakan untuk pasien yang memiliki resiko perdarahan berat atau tidak
boleh menggunakan heparin. Untuk mengatasi hal tersebut diberikan normal saline
100 ml dialirkan dalam selang yang berhubungan dengan arteri setiap 15-30 menit
sebelum hemodialisa. Heparin-free dialysis sangat sulit untuk dipertahankan karena
membutuhkan aliran darah arteri yang baik (>250 ml/menit), dialyzer yang memiliki
koefisiensi ultrafiltrasi tinggi dan pengendalian ultrafiltrasi yang baik.
c. Regional Citrate
Antikoagulan sitrat jarang digunakan, namun dapat digunakan untuk menggantikan
Heparin-free dialysis. Regional Citrate diberikan untuk pasien yang sedang
mengalami perdarahan, sedang dalam resiko tinggi perdarahan atau pasien yang
tidak boleh menerima heparin. Kalsium darah adalah faktor yang memudahkan
terjadinya pembekuan, maka dari itu untuk mengencerkan darah tanpa menggunakan
heparin adalah dengan jalan mengurangi kadar kalsium ion dalam darah. Hal ini dapat
dilakukan dengan memberikan infuse trisodium sitrat dalam selang yang
berhubungan dengan arteri dan menggunakan cairan dialisat yang bebas kalsium.
Namun demikian, akan sangat berbahaya apabila darah yang telah mengalami
proses hemodialisis dan kembali ke tubuh pasien dengan kadar kalsium yang rendah.
Sehingga pada saat pemberian trisodium sitrat dalam selang yang berhubungan
dengan arteri sebaiknya juga diimbangi dengan pemberian kalsium klorida dalam
selang yang berhubungan dengan vena (Swartzendruber et al., 2008)

5.3 Asupan makanan, cairan dan elektrolit selama proses hemodialisa


Asupan makanan pasien hemodialisa mengacu pada tingkat perburukan fungsi
ginjalnya. Sehingga, ada beberapa unsur yang harus dibatasi konsumsinya yaitu, asupan
protein dibatasi 1-1,2 g/kgBB/hari, asupan kalium dibatasi 40-70 meq/hari, mengingat adanya
penurunan fungsi sekresi kalium dan ekskresi urea nitrogen oleh ginjal. Kemudian, jumlah
kalori yang diberikan 30-35 kkal/kgBB/hari (Suwitra, 2006).
Jumlah asupan cairan dibatasi sesuai dengan jumlah urin yang ada ditambah dengan
insensible water loss, sekitar 200-250 cc/hari. Asupan natrium dibatasi 40-120 meq/hari guna
mengendalikan tekanan darah dan edema. Selain itu, apabila asupan natrium terlalu tinggi
akan menimbulkan rasa haus yang memicu pasien untuk terus minum, sehingga dapat
menyebabkan volume cairan menjadi overload yang mengarah pada retensi cairan. Asupan
fosfat juga harus 600-800 mg/hari (Pastans dan Bailey, 1998).

5.4 Dosis hemodialisa dan kecukupan dosis hemodialisa


a.) Dosis hemodialisa
Dosis hemodialisa yang diberikan pada umumnya sebanyak 2 kali seminggu dengan
setiap hemodialisa selama 5 jam atau sebanyak 3 kali seminggu dengan setiap
hemodialisa selama 4 jam (Suwitra, 2006).
Lamanya hemodialisis berkaitan erat dengan efisiensi dan adekuasi hemodialisis,
sehingga lama hemodialisis juga dipengaruhi oleh tingkat uremia akibat progresivitas
perburukan fungsi ginjalnya dan faktor-faktor komorbiditasnya, serta kecepatan aliran
darah dan kecepatan aliran dialisat (Swartzendruber et al., 2008). Namun demikian,
semakin lama proses hemodialisis, maka semakin lama darah berada diluar tubuh,
sehingga makin banyak antikoagulan yang dibutuhkan, dengan konsekuensi sering
timbulnya efek samping (Roesli, 2006).
Dosis waktu hemodialisis untuk 3 kali seminggu adalah 12 jam sampai dengan 15
jam atau 5 jam setiap kali tindakan. Sedangkan target Kt/V yang harus dicapai adalah 1,2
dengan rasio reduksi ureum 65% (NKF DOQI, 2006). Rekomendasi dari PERNEFRI (2003)
target Kt/V adalah 1,2 untuk hemodialisis 3 kali seminggu selama 4 jam setiap hemodialisis
dan Kt/V 1,8 untuk hemodialisis 5 jam setiap hemodialisis. RRU yang ideal adalah diatas
65% setiap kali tindakan hemodialisis (PERNEFRI, 2003).
Dosis hemodialisis yang berdasarkan target Kt/V bisa dihitung dengan rumus
generasi kedua dari rumus Daugirdas yaitu :
Kt/V = -Ln( R-0,008 x t ) + ( 43,5 x R ) x UF/W
Keterangan :
a. Ln adalah logaritma natural
b. R adalah BUN setelah hemodialisis dibagi BUN sebelum hemodialysis
c. T adalah lama waktu hemodialysis
d. UF adalah jumlah ultrafiltrasi dalam liter
e. W adalah berat badan pasien setelah hemodialisis
Target dosis hemodialisis disamping dengan Kt/V dapat juga dihitung berdasarkan RRU.
b.) Kecukupan dosis hemodialisa
Kecukupan dosis hemodialisa yang diberikan disebut dengan adekuasi
hemodialisis. Adekuasi hemodialisis diukur dengan menghitung urea reduction ratio
(URR) dan urea kinetic modeling (Kt/V). Nilai URR dihitung dengan mencari nilai rasio
antara kadar ureum pradialisis yang dikurangi kadar ureum pasca dialisis dengan kadar
ureum pasca dialisis. Kemudian, perhitungan nilai Kt/V juga memerlukan kadar ureum
pradialisis dan pasca dialisis, berat badan pra dialisis dan pasca dialisis dalam satuan
kilogram, dan lama proses hemodialisis dalam satuan jam. Pada hemodialisa dengan
dosis 2 kali seminggu, dialisis dianggap cukup bila nilai URR 65-70% dan nilai Kt/V 1,2-
1,4 (Swartzendruber et al., 2008).
6. Komplikasi Hemodialisis
Menurut Smeltzer (2002) komplikasi hemodialisis mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Hipotensi dapat terjadi selama terapi dialisis ketika cairan dikeluarkan.
b. Emboli udara merupakan komplikasi yang jarang tetapi dapat saja terjadi jika udara
memasuki sistem vaskuler pasien
c. Nyeri dada dapat terjadi karena pCO2 menurun bersamaan dengan terjadinya sirkulasi
darah di luar tubuh.
d. Pruritus dapat terjadi selama terapi dialisis ketika produk akhir metabolisme meninggalkan
kulit.
e. Gangguan keseimbangan dialisis terjadi karena perpindahan cairan serebral dan muncul
sebagai serangan kejang. Komplikasi ini memungkinkan terjadinya lebih besar jika
terdapat gejala uremia yang berat.
f. Kram otot yang nyeri terjadi ketika cairan dan elektrolit dengan cepat meninggalkan ruang
ekstrasel.
g. Mual dan muntah merupakan peristiwa yang sering terjadi.

7. Nyeri dada
Frekuensi nyeri dada saat hemodialisis adalah 2-5 % dari keseluruhan hemodialisis
(Holley, 2007). Lebih lanjut daurgirdas, 2008 menyebutkan bahwa nyeri dada hebat saat
hemodialisis ferekuensinya adalah 1-4%. Nyeri dada saat hemodialisis dapat terjadi pada pasien
akibat penurunan hematokrit dan perubahan volume darah karena penarikan cairan (Kallenbach,
et all, 2005). Perubahan dalam volume darah menyebabkan terjadinya penurunan aliran darah
miokard dan mengakibatkan berkurangnya oksigen miokard. Nyeri dada juga bisa menyertai
kompilkasi emboli udara dan hemolisis (Kallenbach, et all, 2005, Thomas, 2003). Nyeri dada saat
hemodialisis dapat ,menimbulkan masalah keperawatan penurunan curah jantung, gangguang
rasa nyaman, dan intoleransi aktivitas. Nyeri dada yang terjadi perlu dicegah dan diatasi perawat.
Observasi monitor volume darah dan hematokrit dapat mencegah resiko timbulnya nyeri dada.
Perawat dapat berkolaborasi memberikan nitroglisernin dan obat anti angina untuk mengurangi
nyeri dada (Kallenbach, et all, 2005). Pemberian oksigen, menurunkan Ob dan TMP juga
meringankan nyeri dada.
8. Asuhan keperawatan Pasien Dengan Hemodialisis
1. Pengkajian
Keluhan utama
Tanda-tanda dan gejala uremia yang mengenai system tubuh (mual, muntah, anoreksia
berat, peningkatan letargi, konfunsi mental), kadar serum yang meningkat. (Brunner & Suddarth,
2001 : 1397)
Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien penderita gagal ginjal kronis (stadium terminal). (Brunner & Suddarth, 2001:
1398)
Riwayat obat-obatan
Pasien yang menjalani dialisis, semua jenis obat dan dosisnya harus dievaluasi dengan
cermat. Terapi antihipertensi, yang sering merupakan bagian dari susunan terapi dialysis,
merupakan salah satu contoh di mana komunikasi, pendidikan dan evaluasi dapat memberikan
hasil yang berbeda. Pasien harus mengetahui kapan minum obat dan kapan menundanya.
Sebagai contoh, obat antihipertensi diminum pada hari yang sama dengan saat menjalani
hemodialisis, efek hipotensi dapat terjadi selama hemodialisis dan menyebabkan tekanan darah
rendah yang berbahaya. (Brunner & Suddarth, 2001: 1401)
Psikospiritual
Penderita hemodialisis jangka panjang sering merasa kuatir akan kondisi penyakitnya yang
tidak dapat diramalkan. Biasanya menghadapi masalah financial, kesulitan dalam
mempertahankan pekerjaan, dorongan seksual yang menghilang serta impotensi, dipresi akibat
sakit yang kronis dan ketakutan terhadap kematian. (Brunner & Suddarth, 2001: 1402)
Prosedur kecemasan merupakan hal yang paling sering dialami pasien yang pertama kali
dilakukan hemodialisis. (Muttaqin, 2011: 267)
ADL (Activity Day Life)
Nutrisi
Pasien dengan hemodialisis harus diet ketat dan pembatasan cairan masuk untuk meminimalkan
gejala seperti penumpukan cairan yang dapat mengakibatkan gagal jantung kongesti serta
edema paru, pembatasan pada asupan protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen
dan dengan demikian meminimalkan gejala, mual muntah. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1400)
Eliminasi : Oliguri dan anuria untuk gagal
Aktivitas : dialisis menyebabkan perubahan gaya hidup pada keluarga. Waktu yang
diperlukan untuk terapi dialisis akan mengurangi waktu yang tersedia untuk melakukan aktivitas
sosial dan dapat menciptakan konflik, frustasi. Karena waktu yang terbatas dalam menjalani
aktivitas sehai-hari.
Pemeriksaan fisik
BB : Setelah melakukan hemodialisis biasanya berat badan akan menurun.
TTV: Sebelum dilakukan prosedur hemodialisis biasanya denyut nadi dan tekanan darah diatas
rentang normal. Kondisi ini harus di ukur kembali pada saat prosedur selesai dengan
membandingkan hasil pra dan sesudah prosedur. (Muttaqin, 2011: 268)
B2 : hipotensi, turgor kulit menurun
Pemeriksaan Penunjang
Kadar kreatinin serum diatas 6 mg/dl pada laki-laki, 4mg/dl pada perempuan, dan GFR 4
ml/detik. (Sylvia A. Potter, 2005 : 971)

2. Diagnosa keperawatan
NO. Diagnosa Keperawatan
Pre Hemodialisis
1. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional mengenai
tindakan yang akan dilakukan.
Intra Hemodialisis
2. Resiko tinggi terhadap kehilangan akses vaskuler berhubungan
dengan perdarahan karena lepas sambungan secara tidak
sengaja.
3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan
ultrafiltrasi.
4. Resiko tinggi kelebihan volume cairan berhubungan dengan
pemasukan cairan untuk mendukung tekanan darah selama
dialisa.
5. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual muntah
Post Hemodialisis
6. Ansietas berhubungan dengan perubahan dengan status
kesehatan atau fungsi peran
7. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kontaminasi kulit pada
sisi pemasangan kateter
3. Rencana Intervensi Keperawatan
DAFTAR PUSTAKA

Asep Sumpena, ( 2002 ) , Panduan Hemodialisis Untuk Mahasiswa . Bandung Elektronik


(Internet) ( 2009 ) , Treatment Optrion For Intradialytic Hipotensin
Himmelfarb, Jonathan. 2005. Core Curriculum In Nephrology Hemodialysis
Complications.National Kidney Foundation. N Eng J M. Doi : 10.1053 http : //
www.nejm.org/content/full article.htm (12 September 2015)
Enday Suhandar, Prof ( 2006 ) , Gagal Ginjal dan Panduan Terapi Dialisis. FK UNPAD. Bandung
Kumpulan Materi ( 2010 ), Teknik Hedmodialisis. Bandung
Nursalam, M.Nurs, DR (Hons). 2006. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta: Salemba Medika
Rully M.A. Roesli, Prof ( 2008 ) Acute Kidney Injury. FK UNPAD. Bandung
Rudianto, AMK RS. Khusus Ginjal Ny. RA Habibie Bandung
Suhardjono. 2006. Proteinuria Pada Penyakit Ginjal Kronik: Mekanisme dan Pengelolaannya.
Peranan Stres Oksidatif dan Pengendalian Faktor Risiko pada Progresi Penyakit Ginjal
Kronik serta Hipertensi, JNHC 2006; 1-7.
Sukanandar, E (2006). Gagal ginjal dan panduan terapi dialisis. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah
(PII) Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNPAD/RS. DR. Hasan Sadikin
Yunie Armyati ( 2009 ) , Komplikasi Intradialisis. FIK . UI. Jakarta