Anda di halaman 1dari 32

PREPLANNING TERAPI RELAKSASI NYERI DENGAN METODE RICE UNTUK

GOUT ARTHRITIS PADA Ny. N DI KELUARGA


Tn.T DI DUSUN GUMUKSARI DESA NOGOSARI
KECAMATAN RAMBIPUJI KABUPATEN
JEMBER TAHUN 2017

oleh:

Eka Yuli Ana, S.Kep


NIM 122311101013

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Alamat : Jl. Kalimantan No. 37 Telp./Fax (0331) 323450 Jember
PREPLANNING TERAPI RELAKSASI NYERI DENGAN METODE RICE UNTUK
GOUT ARTHRITIS PADA Ny. N DI KELUARGA
Tn.T DI DUSUN GUMUKSARI DESA NOGOSARI
KECAMATAN RAMBIPUJI KABUPATEN
JEMBER TAHUN 2017

oleh:

Eka Yuli Ana, S.Kep


NIM 122311101013

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Alamat : Jl. Kalimantan No. 37 Telp./Fax (0331) 323450 Jember
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Analisis Situasi


Lansia adalah proses menjadi lebih tua dengan umur mencapai 45 tahun ke atas. Lansia
akan mengalami kemunduran fisik, mental, dan sosial. Salah satu contoh kemunduran fisik pada
lansia adalah rentannya lansia terhadap penyakit, khususnya penyakit degeneratif (Nugroho,
2006). Jumlah lanjut usia di seluruh dunia diperkirakan lebih dari 629 juta jiwa (satu dari
sepuluh orang berusia lebih dari 60 tahun), dan pada tahun 2025 lanjut usia akan mencapai
jumlah 1,2 milyar (Nugroho, 2008).
Jumlah lanjut usia ada tahun 2000 diperkirakan meningkat sekitar 15,3 juta (7,4%) dari
jumlah penduduk Indonesia. Menurut Smeltzer (2002), penyakit degeneratif merupakan penyakit
kronik menahun yang banyak mempengaruhi kualitas hidup serta produktifitas seseorang.
Penyakit degeneratif tersebut antar lain penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah)
termasuk hipertensi, diabetes mellitus, kanker, dan asam urat. Penyakit degeneratif secara terus
menerus mendominasi baik pada kelompok pendapatan rendah, sedang dan tinggi (WHO, 2003).
Salah satu penyakit degeneratif yang sering dan banyak terjadi dan mempunyai tingkat
mortalitas yang cukup tinggi dan mempengaruhi kualitas hidup serta produktifitas seseorang
salah satunya ialah penyakit asam urat
Arthritis gout adalah kelompok penyakit heterogen akibat deposisi kristal
monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asam urat dalam cairanekstraseluler
(Tehupeiory, 2006). Penyakit gout adalah penyakit akibat metabolisme
purin yang ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovitis akut berulang-
ulang.Kelainan ini berkaitan dengan penimbunan Kristal urat monohidrat monosodium dan
pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi.
Gout adalah bentuk inflamasi arthritis kronis, bengkak dan nyeri yang paling sering di
sendi besar jempol kaki. Namun, gout tidak terbatas pada jempol kaki, dapat juga mempengaruhi
sendi lain termasuk kaki, pergelangan kaki, lutut, lengan, pergelangan tangan, siku dan kadangdi
jaringan lunak dan tendon. Biasanya hanya mempengaruhi satu sendi pada satu waktu, tapi bisa
menjadi semakin parrah dan dari waktu ke waktu dapat mempengaruhi beberapa sendi. Gout
merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolic yang ditandai oleh
meningkatnya konsentrasi asam urat (hiperurisemia). Asam urat merupakan senyawa nitrogen
yang dihasilkan dari proses katabolisme purin baik dari diet maupun dari asam nukleat.
Insiden penyakit gout sebesar 1-2 % terutama terjadi pada usia 30-40 tahun dan 20 kali
lebih sering pada pria daripada wanita. Penyakit ini menyerang sendi tangan dan bagian
metatarsophalangeal kaki (Muttaqin, 2008)
Penanganan arthritis gout adalah memberikan edukasi, pengaturan diet, istirahat sendi dan
pengobatan. Pengobatan dilakukan secara dini agar tidak terjadi kerusakan sendi ataupun
komplikasi lain. Pengobatan arthritis gout akut bertujuan menghilangkan keluhan nyeri sendi
nonsteroid (OAINS), kortikosteroid atau hormone ACTH, Obat penurunan asam urat penurun
asam urat seperti alupurinol atau obat urikosurik tidak dapat diberikan pada stadium akut.
Namun, pada pasien yang secara rutin telah mengkonsumsi obat penurun asam urat, sebaiknya
tetap diberikan. Pada stadium interkritik dan menahun, tujuan pengobatan adalah menurunkan
kadar asam urat dilakukan dengan pemberian diet rendah purin dan pemakaian obat alupurinol
bersama obat urikosurik yang lain ( Putra, 2009). Penelitian terbaru telah menemukan bahwa
konsumsi tinggi dari kopi, susu rendah lemak produk dan vitamin C merupakan factor pencegah
gout. Penatalaksanaan serangan akut arthtritis gout dapat menerapkan prinsip RICE.

1.2 Perumusan Masalah


Bagaimana cara membantu menurunkan nyeri pada klien penderita gout arthritis??

BAB 2. TUJUAN DAN MANFAAT

2.1 Tujuan
2.1.1 Tujuan Umum
Setelah diberikan pendidikan kesehatan, klien akan mampu memahami tentang manfaat
dan praktik dari Terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E.

2.1.2 Tujuan Khusus


a. Klien di dusun Gumuksari Desa Nogosari Kabupaten Jember akan mampu memahami
pengertian tentang terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E;
b. Klien di dusun Gumuksari Desa Nogosari Kabupaten Jember akan mampu
mempraktikkan terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E.

2.2 Manfaat
2.2.1 Manfaat teoritis
Kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu khususnya bagi klien
dalam memahami pengertian dan cara melakukan terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E
sebagai tindakan untuk meningkatkan kesehatan.

2.2.2 Manfaat Praktis


Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan informasi pada kelompok masyarakat,
sehubungan dengan pengertian dan cara melakukan terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E
sebagai tindakan peningkatan kesehatan.

BAB III. KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH

3.1 Dasar Pemikiran


Gout adalah bentuk inflamasi arthritis kronis, bengkak dan nyeri yang paling sering di
sendi besar jempol kaki. Namun, gout tidak terbatas pada jempol kaki, dapat juga mempengaruhi
sendi lain termasuk kaki, pergelangan kaki, lutut, lengan, pergelangan tangan, siku dan kadangdi
jaringan lunak dan tendon. Biasanya hanya mempengaruhi satu sendi pada satu waktu, tapi bisa
menjadi semakin parrah dan dari waktu ke waktu dapat mempengaruhi beberapa sendi. Gout
merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolic yang ditandai oleh
meningkatnya konsentrasi asam urat (hiperurisemia). Asam urat merupakan senyawa nitrogen
yang dihasilkan dari proses katabolisme purin baik dari diet maupun dari asam nukleat.
Pada stadium interkritik dan menahun, tujuan pengobatan adalah menurunkan kadar
asam urat dilakukan dengan pemberian diet rendah purin dan pemakaian obat alupurinol
bersama obat urikosurik yang lain ( Putra, 2009). Penelitian terbaru telah menemukan bahwa
konsumsi tinggi dari kopi, susu rendah lemak produk dan vitamin C merupakan factor pencegah
gout. Penatalaksanaan serangan akut arthtritis gout dapat menerapkan prinsip RICE.

3.2 Kerangka Penyelesaian Masalah


Pelatihan yang diberikan diharapkan dapat menurunkan tingkat nyeri. Pengetahuan yang
diperoleh oleh keluarga dengan anggota keluarganya gout arthritis sangat diperlukan agar
keluarga dapat terhindar dari gout arthritis. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan dari
keluarga yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gout arthritis diharapkan dapat
membantu masyarakat dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan serta
perilaku kesehatan dalam mengatasi penyakit gout arthritis. Kepedulian terhadap sesama sangat
dibutuhkan untuk turut berkontribusi dalam menyelesaikan masalah kesehatan terutama terkait
gout arthritis.

4.2 Khalayak Sasaran


Khalayak sasaran yang dijadikan peserta dalam pendidikan kesehatan terkait terapi relaksasi
nyeri dengan metode R.I.C.E adalah keluarga dengan penyakit gout arthritis.

4.3 Metode yang Digunakan


Metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang ada adalah dengan
cara memberikan demonstrasi langkah-langkah terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E
sehingga masalah kesehatan pada klien dapat diatasi secara perlahan-lahan.

BAB 5. HASIL KEGIATAN

5.1 Analisis dan Evaluasi Hasil


Evaluasi kegiatan yang dilakukan setelah melakukan pendidikan kesehatan dan terapi
relaksasi nyeri dengan metode RICE pada keluarga Tn.T dengan Ny.N yang menderita gout
arthtritis dibagi menjadi 3 buah bentuk evaluasi yaitu evaluasi struktur, evaluasi proses, dan
evaluasi hasil.

5.1.1 Evaluasi Struktur


Evaluasi struktur dilakukan sebelum kegiatan dilakukan yaitu sebagai berikut.
a. Mahasiswa telah melakukan kontrak waktu dengan keluarga Tn.T dan Ny.N untuk
melakukan kegiatan pendidikan kesehatan
b. Mahasiswa telah menyiapkan materi dan media pembelajaran (leaflet) dalam proses
pendidikan kesehatan
c. Keluarga Tn.T dan Ny.T menyatakan bersedia mengikuti proses pendidikan kesehatan
d. Materi yang akan disajikan sudah dibuat dalam bahasa dan istilah yang mudah
dipahami dan menarik
e. Mahasiswa mampu melakukan diskusi interaktif dan komunikatif dengan keluarga.
f. Tersedia lingkungan yang nyaman, kondusif dan tenang selama pendidikan kesehatan
dilaksanakan
5.1.2 Evaluasi Proses
Evaluasi proses dilakukan pada saat kegiatan pendidikan kesehatan berlangsung yaitu
sebagai berikut.
a. Mahasiswa dapat menjelaskan terkait terapi relaksasi nyeri dengan metode RICE
tentang manfaat, gerakan latihan yang dilakukan dengan baik
b. Mahasiswa dapat mendemonstrasikan terapi relaksasi nyeri dengan metode RICE
bersama dengan keluarga Tn.T yang ikut aktif dan memberikan umpan balik dalam
kegiatan pendidikan kesehatan
c. Proses pendidikan kesehatan dapat berjalan kondusif dan lancar

5.1.3 Evaluasi Hasil


Evaluasi hasil dilakukan saat akhir kegiatan pendidikan kesehatan unatuk mengetahui
keberhasilan dari pendidikan kesehatan yang telah dilakukan.
a. Keluarga dapat menjelaskan kembali terkait penyakit gout arthtritis (definisi, tanda
gejala, dan penanganan dengan terapi relaksasi nyeri dengan metode RICE)
b. Keluarga dapat menjelaskan manfaat terapi relaksasi nyeri dengan metode RICE yang
dilakukan pada Ny. N.
c. Keluarga dapat mempraktikkan terapi relaksasi nyeri dengan metode RICE pada Ny N
dengan baik dan benar
d. Ny. N sudah bisa mempraktikkan terapi relaksasi nyeri dengan metode RICE secara
mandiri
e. Keluarga sangat antusias dengan kegiatan pendidikan kesehatan yang diberikan dan
akan mepraktikkan pada Ny.N setiap harinya
f. Kegiatan pendidikan kesehatan yang dilakukan diakhiri dengan baik

5.2 Faktor Pendorong


Faktor yang mendorong keberhasilan pendidikan kesehatan yang telah dilakukan adalah
sebagai berikut.
a. Keluarga Tn.T yang mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan sangat aktif dan antusias
selama proses pendidikan kesehatan
b. Keluarga Tn.T memiliki sikap terbuka/mau menerima pendapat dan ramah sehingga
sangat mendukung selama kegiatan pendidikan kesehatan
c. Media pendidikan kesehatan telah disiapkan dengan baik sehingga memudahakan dalam
melakukan pendidikan kesehatan
d. Rasa ingin tahu keluarga Tn.T terkait terapi relaksasi nyeri dengan metode RICE yang
besar membuat pendidikan kesehatan berjalan dengan baik
e. Klien (Ny. N) memiliki sikap yang kooperatif selama kegiatan pendidikan kesehatan
5.3 Faktor Penghambat
Faktor yang menghambat keberhasilan pendidikan kesehatan yang telah dilakukan adalah
diantaranya:
a. Klien (Ny. N) terkadang lupa tidak mempraktekkan terapi relaksasi nyeri dengan metode
RICE sehari 2 kali, terkadang dilakukan apabila tidak repot.
b. Kesibukan dari keluarga selama pendidikan kesehatan seperti bekerja membuat tidak
semua anggota keluarga hadir dalam kegiatan pendidikan kesehatan
c. Keluarga Tn.T yang diajarkan tidak tinggal satu rumah dengan Ny. N

BAB 6. PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Gout adalah bentuk inflamasi arthritis kronis, bengkak dan nyeri yang paling sering di
sendi besar jempol kaki. Namun, gout tidak terbatas pada jempol kaki, dapat juga mempengaruhi
sendi lain termasuk kaki, pergelangan kaki, lutut, lengan, pergelangan tangan, siku dan kadangdi
jaringan lunak dan tendon. Biasanya hanya mempengaruhi satu sendi pada satu waktu, tapi bisa
menjadi semakin parrah dan dari waktu ke waktu dapat mempengaruhi beberapa sendi. Gout
merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolic yang ditandai oleh
meningkatnya konsentrasi asam urat (hiperurisemia). Asam urat merupakan senyawa nitrogen
yang dihasilkan dari proses katabolisme purin baik dari diet maupun dari asam nukleat. Pada
stadium interkritik dan menahun, tujuan pengobatan adalah menurunkan kadar asam urat
dilakukan dengan pemberian diet rendah purin dan pemakaian obat alupurinol bersama obat
urikosurik yang lain ( Putra, 2009). Penelitian terbaru telah menemukan bahwa konsumsi tinggi
dari kopi, susu rendah lemak produk dan vitamin C merupakan factor pencegah gout.
Penatalaksanaan serangan akut arthtritis gout dapat menerapkan prinsip RICE.

6.2 Saran
Saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut
a. Bagi sasaran/ keluarga
Keluarga diharapkan dapat mempelajari mdul dan mempraktikkan terapi relaksasi nyeri
dengan metode RICE pada klien secara rutin. Keluarga diharapkan perlu untuk terus
memberikan motivasi kepada klien untuk mengontrol asam urat dalam darahnya dan
mempraktikkan terapi relaksasi nyeri dengan metode RICE serta mendampingi klien untuk
melakukan latihan.
b. Bagi tenaga kesehatan
Tenaga kesehatan diharapkan dapat menerapkan pendidikan kesehatan terkait terapi
relaksasi nyeri dengan metode RICE saat memberikan perawatan kepada pasien dengan
asam urat dan memberdayakan keluarga untuk meningkatkan keefektifan dari tindakan/
latihan terapi relaksasi nyeri dengan metode RICE pada pasien dengan asam urat.
DAFTAR PUSTAKA

Doherty, Michael. 2009. New Insights Into The Epidemiology of Gout. [Serial Online].
rheumatology.oxfordjournals.org [Diakses pada 7 Mei 2017].
Luk, A J dan Simkin, PA. 2005. Epidemiologi of Hyperuricemia and Gout. TheAmerican Jo
urnal of Managed Care. Vol. 11 (11:435 442).
Misnadiarly. 2007. Rematik, Asam Urat, Hiperurisemia, Arthritis Gout. Jakarta:Pustaka Obor
Populer.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan
Muskuloskeletal. Jakarta: EGC.
NANDA. 2011. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia A. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-roses Penyakit. Jakarta:
EGC.
Putra, Tjokorda Raka. 2009. Hubungan Konsumsi Purin dengan Hiperurisemia pada
Suku Bali di Daerah Pariwisata Pedesaan. J. Peny. Dalam. Vol.8 (1: 11-12).
Tehupeiory. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NICdan Kriteria
Hasil NOC. Jakarta: EGC.

Daftar Lampiran:
Lampiran 1: Berita Acara
Lampiran 2: Daftar Hadir
Lampiran 3: SAP
Lampiran 4: SOP (Bila Ada)
Lampiran 5: Materi
Lampiran 6: Media (Leaflet)
Lampiran 1. Berita Acara

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
P2N STASE KEPERAWATAN KELUARGA T.A 2016/2017

Pada hari ini, Selasa tanggal 09 bulan Mei tahun 2017 jam 13.50 s/d selesai bertempat di rumah
Tn. T dusun Gumuksari Desa Nogosari Kabupaten/Kota Jember Propinsi Jawa Timur telah
dilakukan kegiatan Implementasi Keperawatan tentang terapi relaksasi nyeri dengan metode
R.I.C.E.untuk klien dengan gout arthritis oleh Mahasiswa PSIK Universitas Jember. Kegiatan ini
diikuti oleh orang (daftar hadir terlampir)

Jember, 09 Mei 2017

Dosen Pembimbing

Ns. Kushariyadi, S.Kep.M.Kep


NRP 760015697
Lampiran 2: Daftar Hadir

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN


TINGGI UNIVERSITAS JEMBER PROGRAM STUDI ILMU
KEPERAWATAN P3N STASE KEPERAWATAN
KELUARGA T.A 2015/2016

Kegiatan Implementasi Keperawatan Tentang Terapi relaksasi nyeri dengan metode


R.I.C.E. pada klien dengan gout arthritis pada hari Selasa, Tanggal 09 Bulan Mei Tahun 2017
Jam 13.50 s/d selesai. Bertempat di rumah Tn.T dusun Gumuksari Desa Nogosari Kabupaten
Jember.

No Nama Alamat Tanda tangan


1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Jember, 09 Mei 2017

Dosen Pembimbing

Ns. Kushariyadi, S.Kep.M.Kep


NIP 760015697
Lampiran 3. SAP
Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

Topik/materi : Terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E.


Sasaran : Keluarga Tn. T
Waktu : 1 x 30 menit
Hari/Tanggal : Selasa, 09 Mei 2017
Tempat : Rumah Ny.N di dusun Gumuksari Desa Nogosari

1. Standar Kompetensi
Setelah dilakukan kegiatan Terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E. diharapkan Ny. N
dapat terhindar dari Gout Arthritis
2. Kompetensi Dasar
Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan dan tindakan Terapi relaksasi nyeri dengan
metode R.I.C.E.klien mampu:
a. Menjelaskan manfaat melakukan Terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E. Terapi
relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E.
b. Menjelaskan tata cara melakukan Terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E.
3. Pokok Bahasan:
Penatalaksanaan senam Terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E.
4. Subpokok Bahasan
a. Definisi senam Terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E.;
b. Fungsi senam Terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E.;
c. Penatalaksanaan senam Terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E.;
d. Pengertian, tujuan dan penatalaksanaan senam Terapi relaksasi nyeri dengan metode
R.I.C.E..
5. Waktu
1 x 30 Menit
6. Bahan/Alat yang digunakan
-
7. Model Pembelajaran
a. Jenis model pembelajaran : Pertemuan Individu
b. Landasan Teori : Konstruktivisme
c. Landasan Pokok :
1. Menciptakan suasana lingkungan yang nyaman
2. Mengajukan masalah
3. Membuat keputusan nilai personal
4. Mengidentifikasi pilihan tindakan
5. Memberi komentar
6. Menetapkan tindak lanjut
8. Persiapan
Penyuluh menyiapkan materi tentang senam Terapi relaksasi nyeri dengan metode R.I.C.E..

9. Kegiatan Pendidikan Kesehatan


Tindakan Waktu
Proses
Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta
Pendahuluan a. Memberikan salam, Memperhatikan dan 5 menit
memperkenalkan diri, dan menjawab salam
membuka penyuluhan
b. Menjelaskan materi secara Memperhatikan
umum dan manfaat bagi
klien
c. Menjelaskan TIU dan TIK Memperhatikan

Penyajian a. Menjelaskan definisi gout Memperhatikan 25menit


arthritis
1. Menanyakan kepada Memberikan pertanyaan
klien mengenai materi
yang baru disampaikan
2. Mendiskusikan bersama Memperhatikan dan
jawaban yang diberikan memberi tanggapan

b. Penyebab gout arthritis


1. Menanyakan kepada Memperhatikan
klien mengenai materi
yang baru disampaikan Memberi pertanyaan
2. Mendiskusikan bersama Memperhatikan dan
jawaban yang diberikan memberi tanggapan

c. Penatalaksanaan gout Memperhatikan


arthritis
1. Menanyakan kepada Memberi pertanyaan
klien mengenai materi
yang baru disampaikan
2. Mendiskusikan bersama Memperhatikan
jawaban yang diberikan

1. Pengertian, tujuan dan


penatalaksanaan terapi
relaksasi nyeri dengan
metode R.I.C.E.
2. Menanyakan kepada
klien mengenai materi
yang baru disampaikan Memberi pertanyaan
3. Mendiskusikan bersama
jawaban yang diberikan
4. Melakukan SOP Terapi Memperhatikan dan
relaksasi nyeri dengan memberi tanggapan
metode R.I.C.E.
Penutup a. Menutup pertemuan dengan Memperhatikan 5 menit
memberi kesimpulan dari
materi yang disampaikan
b. Mengajukan pertanyaan
kepada klien Memberi saran
c. Mendiskusikan bersama
jawaban dari pertanyaan Memberi komentar dan
yang telah diberikan menjawab pertanyaan
d. Menutup pertemuan dengan bersama
memberi salam Memperhatikan dan
membalas salam

10. Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
1) Penyelenggaraan demonstrasi penatalaksanaan nyeri dengan metode R.I.C.E
2) Pengorganisasian penyelenggaraan kegiatan dilakukan sebelum pelaksanaan.
3) Tersedia lingkungan yang nyaman.
b. Evaluasi Proses
1) Penyuluh dapat menfasilitasi dan meningkatkan kemampuan penatalaksanaan.
2) Peserta dapat mengikuti pendidikan kesehatan dan penatalaksanaan nyeri dengan
metode R.I.C.E dari awal sampai selesai.
3) Peserta antusias terhadap kegiatan yang dilakukan.
4) Peserta berpartisipasi dalam kegiatan dengan mengajukan dan menjawab pertanyaan
dengan benar.
5) Proses pendidikan kesehatan dan demonstrasi penatalaksanaan nyeri dengan metode
R.I.C.E berjalan secara sistematis.
c. Evaluasi Hasil
1) Peserta memahami materi yang telah disampaikan.
2) Peserta mampu melakukan penatalaksanaan nyeri dengan metode R.I.C.E secara
mandiri.
3) Peserta dapat merasakan manfaat pendidikan kesehatan dan demonstrasi
penatalaksanaan nyeri dengan metode R.I.C.E.
4) Kegiatan pendidikan kesehatan dan demonstrasi penatalaksanaan nyeri dengan
metode R.I.C.E sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi : Buku Saku. Jakarta: EGC.


Mansjoer, Arif et al. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian
Artritis gout adalah suatu sindrom klinis yang mempunyai gambaran khusus, yaitu
artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari pada wanita. Pada pria sering
mengenai usia pertengahan, sedangkann pada wanita biasanya mendekati masa menopause
(Mansjoer, 2002). Gout arthritis, atau lebih dikenal dengan nama penyakit asam urat, adalah
salah satu penyakit inflamasi yang menyerang persendian. Artritis pirai (Gout) adalah suatu
proses inflamasi yang terjadi karena deposisi kristal asam urat pada jaringan sekitar sendi.
gout terjadi sebagai akibat dari hyperuricemia yang berlangsung lama (asam urat serum
meningkat) disebabkn karena penumpukan purin atau ekresi asam urat yang kurang dari
ginjal. Gout mungkin primer atau sekunder. Gout primer merupkan akibat langsung
pembentukan asam urat tubuh yang berlebih atau akibat penurunan ekresi asam urat.
Sedangkan gout sekunder disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebih atau
ekresi asam urat yang bekurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.
2. Tanda dan gejala
Menurut Mansjoer (2002) Gout berkembang dalam 4 tahap :
a. Tahap Asimptomatik :
Pada tahap ini kadar asam urat dalam darah meningkat, tidak menimbulkan gejala.
b. Tahap Akut :
Serangan akut pertama datang tiba-tiba dan cepat memuncak, umumnya terjadi pada
tengah malam atau menjelang pagi. Serangan ini berupa rasa nyeri yang hebat pada sendi
yang terkena, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan perlahan-lahan akan sembuh
spontan dan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 14 hari.
c. Tahap Interkritikal :
Pada tahap ini penderita dapat kembali bergerak normal serta melakukan berbagai
aktivitas olahraga tanpa merasa sakit sama sekali. Kalau rasa nyeri pada serangan
pertama itu hilang bukan berarti penyakit sembuh total, biasanya beberapa tahun
kemudian akan ada serangan kedua. Namun ada juga serangan yang terjadi hanya sekali
sepanjang hidup, semua ini tergantung bagaimana sipenderita mengatasinya.
d. Tahap Kronik :
Tahap ini akan terjadi bila penyakit diabaikan sehingga menjadi akut. Frekuensi serangan
akan meningkat 4-5 kali setahun tanpa disertai masa bebas serangan. Masa sakit menjadi
lebih panjang bahkan kadang rasa nyerinya berlangsung terus-menerus disertai bengkak
dan kaku pada sendi yang sakit.
3. Penyebab
Gout disebabkan oleh adanya kelainan metabolik dalam pembentukan purin atau ekresi asam
urat yang kurang dari ginjal yang menyebakan hyperuricemia (Corwin, 2009).
Hyperuricemia pada penyakit ini disebabakan oleh :
(1) Pembentukan asam urat yang berlebih.
Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang bertambah.
Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebih karana penyakit
lain, seperti leukimia.
(2) Kurang asam urat melalui ginjal.
Gout primer renal terjadi karena ekresi asam urat di tubulus distal ginjal yang sehat.
Penyabab tidak diketahui

Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal, misalnya glumeronefritis
kronik atau gagal ginjal kronik.
4. Penatalaksanaan keperawatan
a. Anjurkan pembatasan asupan purin: Hindari makanan yang mengandung purin yaitu
jeroan (jantung, hati, lidah, ginjal, usus), sarden, kerang, ikan herring, kacang-kacangan,
bayam, udang, dan daun melinjo.
b. Anjurkan asupan kalori sesuai kebutuhan: Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan
dengan kebutuhan tubuh berdasarkan pada tinggi dan berat badan.
c. Anjurkan asupa tinggi karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi sangat
baik di konsumsi oleh penderita gangguan asam urat karena akan meningkatkan
pengeluaran asam urat melalui urin.
d. Anjurkan asupan rendah protein, rendah lemak
e. Anjurkan pasien untuk banyak minum.
f. Hindari penggunaan alkohol.
5. Penatalaksanaan nyeri dengan metode R.I.C.E
a. Pengertian
RICE adalah singkatan dari Rest (Istirahat), Ice (Es/dingin), Compression
(Kompresi/tekanan) dan Elevation (Elevasi/Pengangkatan).
1) Rest
Tindakan ini dilakukan dengan cara mengistirahatkan orang yang mengalami cedera
dan melindungi bagian otot atau sendi yang mengalami cedera. Jika bagian tersebut
terasa sakit saat menahan beban, maka gunakanlah penopang. Jika bagian tersebut
terasa sakit ketika digerakkan, maka lindungilah dengan menggunakan splint (spalek).
2) Ice
Tindakan ini artinya memberikan suhu dingin pada bagian yang mengalami cedera,
bisa menggunakan Es batu atau sesuatu yang menghasilkan suhu dingin. Pendinginan
dapat mengurangi pembengkakan dan rasa sakit pada bagian tersebut. Langkah ini
sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Tempelkan kain dingin yang telah terdapat Es
didalamnya atau Cool Pack pada bagian cedera. Berilah jeda waktu selama 5-10 detik
antara ditempelkan pada bagian yang cedera dan diangkat, lakukan secara terus
menerus selama 20 menit. Metode ini dilakukan selama tiga kali pada 24 jam pertama.
3) Compression
Tindakan ini artinya kompresi atau penekanan pada daerah yang mengalami cedera
dengan menggunakan perban khusus (ace bandage). Kompresi berfungsi mengurangi
pembengkakan di sekitar daerah yang mengalami cedera. Dalam melakukan balutan
pada daerah yang mengalami cedera, harus dipastikan bahwa perban tidak terlalu ketat
karena dapat menimbulkan mati rasa atau bahkan menambah rasa sakit.
4) Elevation
Tindakan ini dilakukan dengan memposisikan bagian yang cedera menjadi lebih tinggi
dari jantung, terutama saat berbaring. Misalnya jika bagian yang mengalami cedera
adalah pergelangan kaki, maka upayakan pasien dalam posisi tidur kemudian
pergelangan kaki ditopang sehinga posisinya lebih tingi dari jantung.

b. Manfaat
1) Rest
a. Mencegah cedera lebih lanjut
b. Membuat proses penyembuhan
2) Ice
a. Membatasi pembengkakan
b. Mengurangi nyeri
c. Mengurangi spasme otot.
3) Compression
a. Membantu aplikasi es dan membatasi pembengkakan yang merupakan factor
mempercepat rehabilitasi.
b. Membantu menghentikan pendarahan
4) Elevation
a. Mendrorong cairan keluar dari daerah pembengkakan
b. Membantu pembuluh darah vena menggembalikan darah dari area cedera ke
jantung sehingga mencegah terjadinya akumulasi darah di area cedera.
c. Tujuan
Metode penatalaksanaan nyeri dengan RICE mempunyai tujuan sebagai langkah awal
dalam penanganan dan pencegahan untuk cedera lebih lanjut serta menurunkan respon
nyeri pada area cedera. Hal ini juga sangat berpengaruh fungsinya sebgai factor penentu
lamanya proses kesembuhan dari cedera.
d. Indikasi
Dilakukan pada pasien dengan segala macam cedera dan nyeri akut akibat cedera, baik
cedera olahraga, pekerjaan, atapun cedera karena aktivitas harian.
e. Prosedur
Metode RICE sebaiknya diterapkan pada penderita selama 48 hingga 72 jam pasca
cedera. Penderita juga sebaiknya menghindari pemijatan atau urut sebelum diketahui
secara pasti cedera apa yang dialaminya. Baru setelah menjalani metode ini (RICE),
pasien boleh mendapatkan terapi lanjutan seperti fisioterapi, terapi panas atau pemijatan.
Pemijatan atau urut yang tidak sesuai dengan prosedur dikhawatirkan akan memperparah
cedera, terutama cedera-cedera yang terdapat kerusakan jaringan seperti otot sobek,
ligamen putus atau bahkan perdarahan di dalam. Selama menjalani metode RICE, pasien
diperbolehkan untuk meminum obat-obatan penghilang rasa sakit, namun sebaiknya obat-
obatan tersebut diberikan atas anjuran dokter.
Lampiran 4 : Standart Operasional Prosedur

JUDUL SOP:

PENATALAKSANAAN NYERI DENGAN METODE R.I.C.E


PSIK
UNIVERSITAS
JEMBER

NO DOKUMEN: NO REVISI: HALAMAN:

PROSEDUR TETAP TANGGAL TERBIT: DITETAPKAN OLEH:

1. PENGERTIAN RICE adalah sebuah metode penanganan pertama pada cedera


dengan/dan nyeri yang terdiri dari 4 komponen utama yaitu
Rest (Istirahat), Ice (Es/dingin), Compression
(Kompresi/tekanan) dan Elevation (Elevasi/Pengangkatan).
2. TUJUAN Sebagai langkah awal dalam penanganan dan pencegahan
untuk cedera lebih lanjut serta menurunkan respon nyeri pada
area cedera. Hal ini juga sangat berpengaruh fungsinya
sebagai faktor penentu lamanya proses kesembuhan dari
cedera.
3. INDIKASI Dilakukan pada pasien dengan segala macam cedera dan
nyeri akut akibat cedera, baik cedera olahraga, pekerjaan,
atapun cedera karena aktivitas harian
4. KONTRAINDIKASI -
5. PERSIAPAN KLIEN a. informed consent
b. atur posisi klien pada duduk
c. jaga privasi klien
6. PERSIAPAN ALAT a. Splint (spalek), bidai
b. Kain, perban, kasa gulung
c. Kantong/kain dengan es, Ice pack
d. Ace bandage/ Elastic bandage
7. CARA BEKERJA 1. jelaskan kembali prosedur yang dilakukan
2. dekatkan alat
3. atur posisi klien pada posisi duduk
4. cuci tangan
5. Rest
a. Minta pasien untuk beristirahat (berbaring duduk,
sesuai dengan kondisi ternyaman)
b. melindungi bagian otot atau sendi yang mengalami
cedera. Jika sakit saat menahan beban, gunakan
penopang. Jika sakit ketika digerakkan, lindungi
dengan splint (spalek).

6. Ice
a. Tempelkan kain dingin yang telah terdapat Es
didalamnya atau Cool Pack pada bagian cedera.
b. Berilah jeda waktu selama 5-10 detik antara
ditempelkan pada bagian yang cedera dan
diangkat.
c. Lakukan secara terus menerus selama 20 menit.
d. Metode ini dilakukan selama tiga kali pada 24 jam
pertama.

7. Compression
a. Menekan pada daerah yang mengalami cedera
dengan menggunakan perban khusus (ace
bandage).

8. Elevation
a. Memposisikan bagian yang cedera lebih tinggi dari
jantung, terutama saat berbaring.

9. anjurkan klien untuk beristirahat


10. bereskan peralatan
11. buka sarung tangan
12. evaluasi hasil tindakan
13. simpan peralatan pada tempatnya
14. cuci tangan
15. dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
8. HASIL a. Respon verbal
Klien akan mengungkapkan perasaan rileks yang dirasakan
baik secara fisik maupun psikologis, merasa senang telah
menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan
gerak motorik, tidak mengalami ketegangan otot dan dapat
beristirahat.
b. Respon non verbal
Klien tampak lebih rileks, menunjukkan peningkatan
kemampuan gerak motorik dan segar.
Lampiran 5 : Media

1. Arthritis Gout
1) Pengertian
Arthritis gout adalah kelompok penyakit heterogen akibat deposisi kristal
monosodium urat pada jaringan atau akibat supersaturasi asam urat dalam cairan
ekstraseluler (Tehupeiory, 2006). Penyakit gout adalah penyakit akibat metabolism
purin yang ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovitis akut berulang-ulang.
Kelainan ini berkaitan dengan penimbunan Kristal urat monohidrat monosodium dan
pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi. Insiden penyakit
gout sebesar 1-2% terutama terjadi pada usia 30-40 tahun dan 20 kali lebih sering pada
pria daripada wanita. Penyakit ini menyerang sendi tangan dan bagian
metatarsophalangeal kaki (Muttaqin, 2008).
Gout adalah bentuk inflamasi arthritis kronis, bengkak dan nyeri yang paling
sering di sendi besar jempol kaki. Namun, gout tidak terbatas pada jempol kaki, dapat
juga mempengaruhi sendi lain termasuk kaki, pergelangan kaki, lutut, lengan,
pergelangan tangan, siku dan kadang di jaringan lunak dan tendon. Biasanya hanya
mempengaruhi satu sendi pada satu waktu, tapi bisa menjadi semakin parah dan dari
waktu ke waktu dapat mempengaruhi beberapa sendi. Gout merupakan istilah yang
dipakai untuk sekelompok gangguan metabolik yang ditandai oleh meningkatnya
konsentrasi asam urat (hiperurisemia). Asam urat merupakan senyawa nitrogen yang
dihasilkan dari proses katabolisme purin baik dari diet maupun dari asam nukleat
endogen (asam deoksiribonukleat) (Syukri, 2007).
Gambar 1. Arthritis Gout

2) Penyebab
Penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya deposit/penimbunan
kristal asam urat dalam sendi. Penimbunan asam urat sering terjadi pada penyakit
dengan metabolisme asam urat abnormal dan kelainan metabolik dalam pembentukan
purin dan ekskresi asam urat yang kurang dari ginjal. Beberapa faktor lain yang
mendukung terjadinya gout seperti:
1) Faktor genetik seperti gangguan metabolisme purin yang menyebabkan asam urat
berlebihan (hiperurisemia), retensi asam urat, atau keduanya.
2) Penyebab sekunder yaitu akibat obesitas, diabetes mellitus, hipertensi, gangguan
ginjal yang akan menyebabkan pemecahan asam yang dapat menyebabkan
hiperurisemia.
3) Karena penggunaan obat-obatan yang menurunkan ekskresi asam urat seperti:
aspirin, diuretik, levodopa, diazoksid, asam nikotinat, aseta zolamid dan etambutol.
4) Mengkomsumsi makanan yang mengandung kadar purin yang tinggi adalah jeroan
yang dapat ditemukan pada hewan misalnya sapi, kambing dan kerbau.
Berdasarkan penyebabnya, penyakit arthritis gout dapat digolongkan menjadi
2 macam yaitu:
1) Arthritis gout primer
Penyebabnya kebanyakan belum diketahui (idiopatik). Hal ini diduga
berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan faktor hormonal yang menyebabkan
gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan peningkatan produksi asam urat
(purin). Arthritis gout primer juga dapat diakibatkan oleh berkurangnya pengeluaran
asam urat (purin) dari tubuh.
2) Arthritis gout sekunder
Penyebab arthritis gout sekunder adalah sebagi beriku:
Meningkatnya produksi purin karena pengaruh pola makan yang tidak terkontrol
misalnya megkonsumsi makanan dengan kadar purin yang tinggi. Purin adalah
salah satu senyawa basa organik yang menyusun asam nukleat (asam inti dari
sel) dan termasuk dalam kelompok asam amino yang merupakan unsur
pembentuk protein.
Produksi purin juga dapat meningkat karena penyakit pada darah (penyakit
sumsum tulang, polisitemia, anemia hemolitik), obat-obatan (alcohol, obat-obat
kanker, vitamin B12, diuretik, dosis rendah asam salisilat).
Obesitas (kegemukan)
Intoksikasi (keracunan timbal)
Pada penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol dengan baik, dimana akan
ditemukan mengandung benda-benda keton (hasil buangan metabolism lemak)
dengan kadar yang tinggi. Kadar benda-benda keton yang meninggi akan
menyebabkan kadar asam urat (purin) juga meningkat.
3) Patofisiologi
Adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh, intake bahan yang
mengandung asam urat tinggi dan sistem ekskresi asam urat yang tidak adekuat akan
menghasilkan akumulasi asam urat yang berlebihan di dalam plasma darah
(Hiperurisemia), sehingga mengakibatkan kristal asam urat menumpuk dalam tubuh.
Penimbunan ini menimbulkan iritasi lokal dan menimbulkan respon inflamasi.
Saat asam urat menjadi bertumpuk dalam darah dan cairan tubuh lain, maka
asam urat tersebut akan mengkristal dan akan membentuk garam-garam urat yang akan
berakumulasi atau menumpuk di jaringan konektif diseluruh tubuh, penumpukan ini
disebut tofi. Adanya kristal akan memicu respon inflamasi akut dan netrofil
melepaskan lisosomnya. Lisosom tidak hanya merusak jaringan, tapi juga
menyebabkan inflamasi.
Serangan akut pertama biasanya sangat sakit dan cepat memuncak. Serangan
ini meliputi hanya satu tulang sendi. Serangan pertama ini sangat nyeri yang
menyebabkan tulang sendi menjadi lunak dan terasa panas, merah. Tulang sendi
metatarsophalangeal biasanya yang paling pertama terinflamasi, kemudian mata kaki,
tumit, lutut, dan tulang sendi pinggang. Kadang-kadang gejalanya disertai dengan
demam ringan. Biasanya berlangsung cepat tetapi cenderung berulang dan dengan
interval yang tidak teratur.
Periode interkritikal adalah periode dimana tidak ada gejala selama serangan
gout. Kebanyakan pasien mengalami serangan kedua pada bulan ke-6 sampai 2 tahun
setelah serangan pertama. Serangan berikutnya disebut dengan polyarticular yang
tanpa kecuali menyerang tulang sendi kaki maupun lengan yang biasanya disertai
dengan demam. Tahap akhir serangan gout atau gout kronik ditandai dengan
polyarthritis yang berlangsung sakit dengan tofi yang besar pada kartilago, membrane
sinovial, tendon dan jaringan halus. Tofi terbentuk di jari, tangan, lutut, kaki, ulnar,
helices pada telinga, tendon achiles dan organ internal seperti ginjal. Kulit luar
mengalami ulserasi dan mengeluarkan pengapuran, eksudat yang terdiri dari kristal
asam urat (Price, 2006).
4) Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang muncul pada penderita arthritis gout menurut
stadiumnya sebagai berikut:
1) Arthritis gout stadium akut
Radang sendi timbul sangat cepat dalam waktu singkat. Pasien tidur tanpa ada
gejala apa-apa. Pada saat bangun pagi terasa sakit yang hebat dan tidak dapat berjalan.
Biasanya bersifat monoartikuler dengan keluhan utama berupa nyeri, bengkak, terasa
hangat, merah dengan gejala sistemik berupa demam, menggigil dan merasa lelah.
Lokasi yang paling sering pada metatarsophalangeal-1 (MTP-1) yang biasanya disebut
podagra. Apabila proses penyakit berlanjut, dapat terkena sendi lain yaitu pergelangan
tangan/kaki, lutut, dan siku. Faktor pencetus serangan akut antara lain berupa trauma
lokal, diet tinggi purin, kelelahan fisik, stres, tindakan operasi, pemakaian obat diuretik
dan lain-lain (Putra, 2009).
2) Stadium interkritikal
Stadium ini merupakan kelanjutan stadium akut dimana terjadi periode
interkritik asimptomatik. Walaupun secara klinik tidak dapat ditemukan tanda-tanda
radang akut, namun pada aspirasi sendi ditemukan kristal urat. Hal ini menunjukkan
bahwa proses peradangan masih terus berlanjut, walaupun tanpa keluhan (Putra, 2009).
3) Stadium arthritis gout menahun
Stadium ini umumnya terdapat pada pasien yang mampu mengobati dirinya
sendiri (self medication). Sehingga dalam waktu lama tidak mau berobat secara teratur
pada dokter. Artritis gout menahun biasanya disertai tofi yang banyak dan poliartikular.
Tofi ini sering pecah dan sulit sembuh dengan obat, kadang-kadang dapat timbul
infeksi sekunder. Lokasi tofi yang paling sering pada aurikula, MTP-1, olekranon,
tendon achilles dan distal digiti. Tofi sendiri tidak menimbulkan nyeri, tapi mudah
terjadi inflamasi disekitarnya, dan menyebabkan destruksi yang progresif pada sendi
serta dapat menimbulkan deformitas. Pada stadium ini kadang-kadang disertai batu
saluran kemih sampai penyakit ginjal menahun (Putra, 2009).
Anak-anak baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kadar asam urat sama
rendah, tetapi pada orang dewasa, pria memiliki tingkat sodium urat lebih tinggi
daripada wanita. Jelas bahwa perbedaan ini akibat pengaruh dari sistem endokrin,
namun mekanisme yang tepat belum ditetapkan. Setelah menopause, nilai sodium urat
perempuan naik ke tingkat yang sebanding dengan laki-laki pada usia yang sama,
meskipun terapi penggantian hormon mungkin menipiskan peningkatan ini. Wanita
post menopause, khususnya mereka yang menerima diuretik, dapat berkembang
menjadi arthritis yang menyebabkan encok dan tofi di Heberden dan Bouchard's node
osteoarthritik mereka. Pasien lansia dengan gout belum diakui dapat berlanjut secara
statis terhadap penyakit sendi seperti: simetris polyarticular, inflamasi yang seperti
rheumatoid arthritis, lengkap dengan nodul-nodul dan sebagainya (Luk, 2005).

5) Penatalaksanaan
Secara umum, penanganan arthritis gout adalah memberikan edukasi,
pengaturan diet, istirahat sendi dan pengobatan. Pengobatan dilakukan secara dini agar
tidak terjadi kerusakan sendi ataupun komplikasi lain. Pengobatan arthritis gout akut
bertujuan menghilangkan keluhan nyeri sendi nonsteroid (OAINS), kortikosteroid atau
hormon ACTH. Obat penurun asam urat penurun asam urat seperti alupurinol atau obat
urikosurik tidak dapat diberikan pada stadium akut. Namun, pada pasien yang secara
rutin telah mengkonsumsi obat penurun asam urat, sebaiknya tetap diberikan. Pada
stadium interkritik dan menahun, tujuan pengobatan adalah menurunkan kadar asam
urat, sampai kadar normal, guna mencegah kekambuhan. Penurunan kadar asam urat
dilakukan dengan pemberian diet rendah purin dan pemakaian obat alupurinol bersama
obat urikosurik yang lain (Putra, 2009). Penelitian terbaru telah menemukan bahwa
konsumsi tinggi dari kopi, susu rendah lemak produk dan vitamin C merupakan faktor
pencegah gout (Doherty, 2009).
Penatalaksanaan serangan akut arthritis gout dapat menerapkan prinsip RICE,
yaitu:
a. Rest (Istirahat)
Tindakan Rest artinya pasien harus mengistirahatkan dan melindungi wilayah otot
yang cedera. Istirahatkan sendi yang mengalami rasa sakit.
b. Ice (Es)
Kompres dingin atau es akan menghasilkan vasokontriksi untuk mengurangi
pembengkakan dengan meletakkan di bagian yang terluka selama 2-3 menit tiga kali
sehari dalam 24 jam pertama. kita harus menempatkan kain di atas daerah serangan
asam urat dengan kantong es untuk menghindari luka akibat suhu rendah. Caranya
adalah:
Bungkus es dengan handuk untuk menghindari kontak langsung es dengan kulit
Kompres selama 10-20 menit dan kemudian berhenti (tidak harus diterapkan
dalam waktu yang lama)
Ulangi sesering mungkin
Pastikan suhu bagian yang telah dikompres telah kembali normal sebelum
kompres berikutnya.
Kompres hangat dilakukan setelah tidak ada pembengkakan. Kompres hangat
diberikan selama 30 menit dengan selang waktu 1-2 jam. Hal ini bertujuan untuk
mencegah kekakuan sendi.
c. Compress (Kompres atau penekanan pada daerah yang terkenena serangan asam
urat)
Tindakan Compress artinya menekan bagian yang mengalami serangan arthritis
gout dengan menggunakan perban. penekanan dilanjutkan setelah terapi dingin
untuk menghindari serta mengurangi pembengkakan.
d. Elevation (Posisi)
Pada tindakan Elevation, pasien sebisa mungkin harus mengangkat bagian yang
terkena serangan arthritis gout lebih tinggi di atas jantung atau dada selama 24-36
jam pertama untuk memudahkan kembalinya darah dan untuk mengurangi
pembengkakan. Jika mampu, pasien dianjurkan untuk mengangkat anggota tubuh
yang terserang asam urat (biasanya kaki) untuk membantu mengurangi bengkak.
Cara termudah untuk melakukan ini adalah dengan berbaring di sofa/ranjang dengan
kaki yang diletakkan di atas bantal (lebih tinggi dari anggota tubuh lain).

6) Pemeriksaan Penunjang
Gold standard dalam menegakkan arthritis gout adalah ditemukannya kristal
urat MSU (Monosodium Urat) di cairan sendi atau tofus. Untuk memudahkan
diagnosis arthritis gout akut, dapat digunakan kriteria dari ACR (American College Of
Rheumatology) tahun 1977 sebagai berikut:
1) Ditemukannya kristal urat di cairan sendi, atau
2) Adanya tofus yang berisi kristal urat, atau
3) Terdapat 6 dari 12 kriteria klinis, laboratoris, dan radiologis sebagai berikut:
a) Terdapat lebih dari satu kali serangan arthritis akut
b) Inflamasi maksimal terjadi dalam waktu 1 hari
c) Arthritis monoartikuler
d) Kemerahan pada sendi
e) Bengkak dan nyeri pada metatarsofalangeal-1 (MTP-1)
f) Arthritis unilateral yang melibatkan MTP-1
g) Arthritis unilateral yang melibatkan sendi tarsal
h) Kecurigaan terhadap adanya tofus
i) Pembengkakan sendi yang asimetris (radiologis)
j) Kista subkortikal tanpa erosi (radiologis)
k) Kultur mikroorganisme negatif pada cairan sendi

7) Komplikasi
Komplikasi yang muncul akibat arthritis pirai antara lain:
1) Gout kronik bertophus
Merupakan serangan gout yang disertai benjolan-benjolan (tofi) di sekitar sendi
yang sering meradang. Tofi adalah timbunan kristal monosodium urat di sekitar
persendian seperti di tulang rawan sendi, sinovial, bursa atau tendon. Tofi bisa juga
ditemukan di jaringan lunak dan otot jantung, katub mitral jantung, retina mata,
pangkal tenggorokan.
2) Nefropati gout kronik
Penyakit tersering yang ditimbulkan karena hiperurisemia. Terjadi akibat dari
pengendapan kristal asam urat dalam tubulus ginjal. Pada jaringan ginjal bisa
terbentuk mikrotofi yang menyumbat dan merusak glomerulus.
3) Nefrolitiasi asam urat (batu ginjal)
Terjadi pembentukan massa keras seperti batu di dalam ginjal, bisa menyebabkan
nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Air kemih jenuh dengan
garam-garam yang dapat membentuk batu seperti kalsium, asam urat, sistin dan
mineral struvit (campuran magnesium, ammonium, fosfat).
4) Persendian menjadi rusak hingga menyebabkan pincang
5) Peradangan tulang, kerusakan ligament dan tendon
6) Batu ginjal (kencing batu) serta gagal ginjal (Afif, 2010).

8) Pencegahan
Adapun cara-cara yang dapat dilakukan pasien untuk mencegah penyakit
arthritis gout menurut Misnadiarly (2007) adalah sebagai berikut:
1. Diet
Diet yang dilakukan adalah mencegah asupan makanan sebagai berikut:
a. minuman fermentasi dan mengandung alkohol seperti bir, wiski, anggur tape,
dan tuak;
b. makanan laut seperti udang, remis, iram, dan kepiting;
c. berbagai makanan kaleng;
d. berbagai jeroan (hati, ginjal, jantung, otak, paru, limpa, dan usus);
e. buah-buahan tertentu seperti durian, alpukat, dan es kelapa muda;
f. ikan, daging ayam, daging kambing, daging sapi;
g. tempe, emping, oncom;
h. sayuran seperti brokoli, bayam, kangkung, kol dan tauge.
2. Obat dan konsultasi dengan dokter secara teratur bila ada penyakit seperti
hipertensi, hiperlipidemia, diabetes militus, dan obesitas.
Laporan P2N Stase Keperawatan Keluarga- PSIK Universitas Jember 2017

DAFTAR PUSTAKA

Doherty, Michael. 2009. New Insights Into The Epidemiology of Gout. [Serial
Online].
rheumatology.oxfordjournals.org [Diakses pada 18 Oktober 2015].
Luk, A J dan Simkin, PA. 2005. Epidemiologi of Hyperuricemia and
Gout. The
American Journal of Managed Care. Vol. 11 (11:435 442).
Misnadiarly. 2007. Rematik, Asam Urat, Hiperurisemia, Arthritis Gout.
Jakarta:
Pustaka Obor Populer.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien
Gangguan
Muskuloskeletal. Jakarta: EGC.
NANDA. 2011. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia A. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit. Jakarta:
EGC.
Putra, Tjokorda Raka. 2009. Hubungan Konsumsi Purin dengan Hiperurise
mia pada
Suku Bali di Daerah Pariwisata Pedesaan. J. Peny. Dalam. Vol.8 (1: 11
-12).
Tehupeiory. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit F
KUI.
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Interv
ensi NIC
dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.
Laporan P2N Stase Keperawatan Keluarga- PSIK Universitas Jember 2017

Lampiran 6 : Media