Anda di halaman 1dari 16

GOOD CORPORATE GOVERNANCE

AUDIT INTERNAL DAN MANAJEMEN RISIKO

( Studi Kasus pada PT. Bank Mega Tbk.)

Kelompok 5

Ni Kadek Budi Puspitasari 1406305168

Dewa Putu Aditya Darma Putra 1406305172

Ni Putu Lissya Suryantari 1406305175

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2017
REVIEW KASUS PT. BANK MEGA Tbk.

1. IDENTIFIKASI KASUS
1.1 Sejarah
Berawal dari sebuah usaha milik keluarga bernama PT. Bank Karman yang
didirikan pada tahun 1969 dan berkedudukan di Surabaya, selanjutnya pada tahun 1992
berubah nama menjadi PT. Mega Bank dan melakukan relokasi Kantor Pusat ke Jakarta.
Seiring dengan perkembangannya PT. Mega Bank pada tahun 1996 diambil alih
oleh PARA GROUP (PT. Para Global Investindo dan PT. Para Rekan Investama)sebuah
holding company milik pengusaha nasional - Chairul Tanjung. Selanjutnya PARA
GROUP berubah nama menjadi CT Corpora.
Untuk lebih meningkatkan citra PT. Mega Bank, pada bulan Juni 1997 melakukan
perubahan logo Bank Mega berupa tulisan huruf M warna biru kuning dengan tujuan
bahwa sebagai lembaga keuangan kepercayaan masyarakat, akan lebih mudah dikenal
melalui logo perusahaan yang baru tersebut. Dan pada tahun 2000 dilakukan perubahan
nama dari PT. Mega Bank menjadi PT. Bank Mega.
Dalam rangka memperkuat struktur permodalan maka pada tahun yang sama PT.
Bank Mega melaksanakan Initial Public Offering dan listed di BEJ maupun BES. Dengan
demikian sebagian saham PT. Bank Mega dimiliki oleh publik dan berubah namanya
menjadi PT. Bank Mega Tbk.Pada saat krisis ekonomi, Bank Mega mencuat sebagai salah
satu bank yang tidak terpengaruh oleh krisis dan tumbuh terus tanpa bantuan pemerintah
bersama-sama dengan Citibank, Deutche Bank dan HSBC.
PT. Bank Mega Tbk. dengan semboyan "Mega Tujuan Anda" tumbuh dengan
pesat dan terkendali serta menjadi lembaga keuangan ternama yang mampu disejajarkan
dengan bank-bank terkemuka di Asia Pasifik dan telah mendapatkan berbagai
penghargaan dan prestasi baik di tingkat nasional, regional maupun internasional. Dalam
upaya mewujudkan kinerja sesuai dengan nama yang disandangnya, PT. Bank Mega Tbk.
berpegang pada azas profesionalisme, keterbukaan dan kehati-hatian dengan struktur
permodalan yang kuat serta produk dan fasilitas perbankan terkini.
Setiap tahapan bisnis yang dilalui Bank Mega terkadang mendapat
tantangan.Namun dengan berbekal keyakinan dan semangat untuk terus menjadi yang
terbaik, sehingga mampu memberikan yang terbaik pula bagi bangsa, seluruh elemen
Bank sepakat untuk lebih mempertegas cita-cita tersebut.Transformasi logo baru Bank

1
Mega dalam wujud yang baru menjadi cerminan semangat seluruh elemen Bank Mega
dalam mewujudkan cita-cita Indonesia.
Transformasi logo baru Bank Mega dilakukan tahun 2013, merupakan refleksi yang
mendalam atas harapan Bank Mega untuk berkiprah membangun Indonesia menjadi
bangsa yang memiliki keunggulan dan pantang menyerah sehingga selalu mampu
mewujudkan kesejahteraan dan kehidupan yang terus lebih baik. Penegasan simbol "M"
yang selama ini sudah banyak dikenal, menjadi representasi dari aspirasi, optimisme,
peluang dan cita-cita masyarakat Indonesia serta keinginan untuk membangun masa depan
keluarga dan bangsa yang lebih baik dan lebih sejahtera.
Rangkaian warna-warna hangat melambangkan energi dan semangat Bank Mega,
pemikiran yang baru dan solusi finansial menyeluruh bagi nasabah serta insan Bank Mega.
Guna lebih mempertegas kami menyematkan warna kuning yang menggambarkan
kecerdasan dan harapan, dipadu dengan warna abu-abu yang menyimbolkan proses dan
sistem yang canggih. Warna oranye menggambarkan optimisme dan energisitas yang
menunjukkan bahwa Bank Mega selalu melihat dan melakukan sesuatu secara positif dan
dengan demikian selalu berjuang mendapatkan hasil yang positif pula.

1.2 Kronologi Kasus


7 September 2009
Elnusa mulai menempatkan dana di Bank Mega cabang Jababeka, Cikarang sejak
7 September 2009 sebesar Rp161 miliar. Dana tersebut terbagi dalam lima bilyet deposito
berjangka waktu antara 1-3 bulan. Seluruh dana telah ditransfer Elnusa dan diterima oleh
Bank Mega.
5 Maret 2010
Pada tanggal 5 Maret 2010 Elnusa mencairkan deposito senilai Rp50 miliar dan
dananya telah diterima dengan baik di rekening sesuai perintah Elnusa. Sehingga dana
Elnusa pada bank mega tersisa sebesar Rp111 miliar dalam bentuk deposito.
19 April 2011
Permasalahan tentang dana deposito Elnusa baru muncul ketika Elnusa akan
mencairkan deposito tersebut pada 19 April 2011. Menurut kepala cabang Bank Mega
Jababeka Cikarang, penempatan dana itu sudah tidak ada karena telah dicairkan. Elnusa
mempertanyakan sistem dan prosedur yang ada di Bank Mega. Karena pihak Elnusa
merasa belum pernah mencairkan dana mereka, mereka menyatakan baru satu kali

2
melakukan pencairan dana deposito yaitu sejumlah Rp50 miliar dari total penempatan
dana sebesar Rp161 miliar pada tanggal 5 Maret 2010.
Pihak direktur keuangan Elnusa yaitu Pak Eteng (Dirut Elnusa sebelumnya) dan
Direktur SDM merangkap Direktur Keuangan Elnusa, Lucy Syicilia (Dirut Elnusa
sekarang) tidak pernah membubuhkan tanda tangan perintah pencairan sehingga tanda
tangan yang ada di dalam surat tersebut diduga palsu. Pencairan dana tersebut diduga
dilakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan prosedur perbankan yang berlaku. Dan di
duga bahwa dana deposito tersebut ditransfer ke pada dua perusahaan lain yaitu Discovery
dan Harvestindo.
Untuk menangani kasus ini, PT Bank Mega Tbk menyerahkan kasus pencairan
dana PT Elnusa Tbk kepada pihak berwajib. Bank Mega juga menegaskan telah memecat
kepala cabang Bank Mega Jababeka.Direktur Risk Compliance and Human Resources
Bank Mega (Suwartini) menyatakan bahwa pihaknya menunggu hasil pemeriksaan
kepolisian terhadap mantan pegawainya. Pihak direktur juga menyatakan bahwa
penempatan dana yang dilakukan pada masa Direktur Utama Elnusa (Eteng A Salam)
sudah sesuai dengan standar perbankan yang berlaku.
Penyidik pun berhasil menangkap Direktur Keuangan PT Elnusa berinisial SN, Kepala
Cabang Bank Mega Jababeka IHB, Komisaris PT Discovery berinisial AJ, Dirut PT
Discovery berinisial IL dan RL. RL tercatat sebagai daftar pencarian orang yang telah
beberapa kali melakukan pencurian dana rekening bank salah satu kasusnya pembobolan
dana Pemkab Aceh di Bank Mandiri Cabang Jelambar, Jakarta Barat. Para tersangka
dikenakan pasal penyalahgunaan jabatan, pencucian uang dan tindak kejahatan perbankan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya (Kombes Baharudin Djafar) menambahkan
terdapat lima rekening yang telah diblokir pihak kepolisian karena diduga terkait aliran
dana PT Elnusa Tbk sebesar 20 persen dari total deposito berjangka senilai Rp 111 miliar
di Bank Mega. kepolisian juga menyatakan 80 persen dana Elnusa di Bank Mega yang
diduga mengalir juga ke tiga perusahaan investasi di bahwa PT Discovery dan PT
Harvestindo. Namun, dari lima rekening milik para tersangka tersebut, jumlah dananya
tak lagi signifikan. Rekening yang diblokir yakni atas nama ICL dua buah yang diletakkan
di bank pemerintah dan bank swasta milik PT Discovery. Di rekening pertama hanya
tersisa Rp 400.000 sedangkan di rekening kedua hanya tersisa Rp 11,4juta. Rekening yang
diblokir selanjutnya atas nama AG yang hanya berjumlah Rp 1 juta serta rekening milik
SN senilai Rp 2 miliar. Selain itu, ada sebuah rekening atas nama keluarga dari seorang
tersangka yang masih belum diketahui jumlahnya.
3
Polda Metro Jaya juga berhasil menemukan bukti bahwa 80 persen dana PT Elnusa
Tbk dari Rp 111 miliar dialirkan Bank Mega ke dua perusahaan investasi berjangka, PT
Discovery Indonesia dan PT Harvestindo. Temuan Polda Metro Jaya ini berdasarkan
keterangan dari para tersangka yang kini mendekam di sel Polda Metro Jaya. Namun,
Direktur Utama Elnusa Suharyanto mengaku tak tahu menahu adanya aliran dana tersebut.
Ia menjelaskan, Polda Metro Jaya memang pernah menyebutkan ada proses lanjutan
setelah Elnusa membuat deposito berjangka di Bank Mega. Terdapat sebuah rekening giro
yang tercatat melakukan transaksi ke PT Discovery Indonesia dan PT
Harvestindo.Suharyanto juga menyatakan sejak awal perusahaannya hanya membuat
deposito berjangka dengan jangka waktu 1-3 bulan di Bank Mega. Hal ini sekaligus
meluruskan rilis yang dikeluarkan Bank Mega yang menyebutkan pihak Elnusa
menanamkan dana dalam bentuk deposit on call (DOC). Kepala Satuan Fiskal Moneter
Devisa Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Arismunandar
menyatakan pelaku melakukan modus mencairkan dana deposito milik PT Elnusa pada
Bank Mandiri dengan memalsukan tanda tangan Direktur Utama PT Elnusa berinisial E.
Selanjutnya, tersangka mengirimkan dana senilai Rp 161 miliar untuk kepentingan
investasi pada PT Discovery dan Harvestindo ke rekening penampung pada Bank Mega
Cabang Jababeka. Para tersangka tidak menggunakan dana milik PT Elnusa untuk
kepentingan investasi, namun dibagikan kepada pelaku.
Selain menangkap para pelaku, polisi juga menyita uang tunai senilai Rp 2 miliar,
34.400 dollar Amerika Serikat, empat unit kendaraan mewah, motor Kawasaki senilai Rp
45 juta, Ruko di Makassar senilai Rp 1,4 miliar, dan sebidang tanah di daerah Bekasi
senilai Rp 4,5 miliar. Kepala Biro Humas BI, Difi A Johansyah menegaskan bahwa
pihak BI meminta penjelasan dari direktur kepatuhan Bank Mega terkait sistem dan
prosedur terkait kasus pembobolan dana depisota PT Elnusa. Difi menambahkan
pembobolan bank terjadi bukan hanya sistem pengawasan yang lemah, namun juga
masalah sumber daya manusia (SDM) perbankan. BI meminta, ke depan agar bank lebih
mengawasi kualitas SDM. BI akan menilai kebijakan human capital oleh bank sebagai
bagian dari penilaian risiko operasional.

2. PERMASALAHAN KASUS
2.1 Latar Belakang Masalah
Kajian mengenai good governance di Indonesia meningkat dengan pesat
semenjak krisis finansial Asia yang melanda Indonesia di tahun 1997. Parahnya dampak
4
krisis yang terjadi di Indonesia disinyalir diakibatkan oleh sangat minimnya
implementasi good governance pada pemerintah dan dunia usaha. Kejadian tersebut
mengungkapkan fakta bahwa pengelolaan pemerintah dan dunia usaha di masa itu marak
dengan praktik kolusi, korupsi, nepotisme.
Good governance sangat penting diterapkan oleh pemerintah dan dunia usaha
dalam melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya. Pemerintah harus menerapkan good
public governance sebagai pedoman dasar dalam melaksanakan fungsi, tugas dan
kewenangannya. Dunia usaha pun juga memiliki keharusan untuk menerapkan good
corporate governance dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Penerapan good
governance di pemerintah dan dunia usaha akan mendorong terwujudnya good
governance secara menyeluruh dalam rangka mencapai tujuan nasional.
Salah satu industri dalam dunia usaha yang memiliki peran strategis terhadap
pembangunan perekonomian adalah industri perbankan. Peran penting perbankan dalam
perekonomian adalah sebagai lembaga intermediasi, sarana dalam pelaksanaan sistem
pembayaran dan sarana transmisi dalam pelaksanaan kebijakan moneter. Perbankan
memiliki posisi strategis sebagai lembaga intermediasi karena tugas utama bank
adalah mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan lalu
menyalurkannya dengan pemberian kredit untuk pembiayaan aktivitas sektor
perekonomian, seperti pemberian pinjaman kepada koperasi, usaha kecil dan menengah,
serta berbagai lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.
Krisis finansial di tahun 1997 menjadi titik awal kehancuran industri perbankan
Indonesia. Krisis tersebut telah menghancurkan berbagai sendi perekonomian Indonesia,
salah satunya industri perbankan yang mengakibatkan krisis perbankan terparah sepanjang
sejarah perbankan nasional. Bank-bank milik swasta maupun milik pemerintah banyak
yang mengalami kesulitan finansial. Kondisi tersebut mengakibatkan puluhan bank harus
dilikuidasi dan puluhan bank lainnya harus dimerger membentuk bank baru. Terlihat
bahwa, krisis perbankan tersebut bukan sekedar disebabkan oleh krisis ekonomi, tetapi
juga diakibatkan oleh lemahnya penerapan good corporate governance di industri
perbankan.
Terdapat dua isu penting terkait fungsi bank sebagai lembaga intermediasi yang
berpengaruh terhadap corporate governance. Hal yang pertama adalah bank sebagai
sektor usaha yang memiliki regulasi tinggi justru mengalami hambatan dalam
menjalankan corporate governancekarena ketatnya regulasi yang berlaku.Dan hal yang
kedua adalah dilatarbelakangi oleh agency problem. Pemilik sebagai pemasok modal
5
mendelegasikan wewenang pengelolaan perusahaan ke manajer. Manajer dengan
kewenangan dalam menggunakan sumber daya perusahaan dan keleluasaan terhadap
akses informasi perusahaan bisa saja bertindak untuk menguntungkan dirinya sendiri dan
mengorbankan kepentingan pihak lain. Tata kelola perusahaan yang buruk memberikan
kesempatan terjadinya kecurangan-kecurangan. Terdapat beberapa contoh kasus tindak
pidana perbankan yang dilakukan akibat lemahnya penerapan corporate
governance dalam mengatasi agency problem salah satunya adalah yang akan kami bahas
yaitu pada tahun 2011, terjadi pembobolan deposito PT Elnusa di Bank Mega dimana salah
satu pelakunya berasal dari pihak manajemen Bank Mega yang menduduki posisi Kepala
Cabang Bank Mega Jababeka.

2.2 Rumusan Masalah


Dari uraian diatas maka perlu dipertimbangkan pertanyaan terkait dengan Bank Mega
sebagai berikut:
1. Bagaimana kepatuhan terhadap penerapan prinsip pengungkapan informasi
perusahaan secara transparan serta independensi mereka?
2. Bagaimana kepatuhan terhadap ketentuan hukum yang dilakukan oleh Bank Mega?
3. Mengapa kecurangan tersebut dapat terjadi dan apa motif yang mendasari kecurangan
yang terjadi dalam perusahaan tersebut?
4. Bagaimana pelaku dapat melakukan kecurangan yang terjadi dalam perusahaan?serta
siapa yang bertanggung jawab atas kecurangan yang terjadi dalam perusahaan
tersebut?
5. Pengendalian internal apa yang seharusnya diterapkan kepada Bank Mega?

3. RELEVANSI TEORI
3.1 Prinsip-Prinsip GCG (Good Corporate Governance)
Terdapat 5 prinsip dasar GCG, yaitu:
a. Transparency (Keterbukaan Informasi)

6
Transparansi diartikan sebagai keterbukaan informasi, baik dalam proses
pengambilan keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi material dan
relevan mengenai perusahaan.
Dalam mewujudkan transparansi itu sendiri, perusahaan harus menyediakan
informasi yang lengkap, akurat dan tepat waktu kepada para pemangku kepentingan
(Stakeholder).Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia selaku otoritas
pengawas perbankan di Indonesia dan mempublikasikan informasi keuangan serta
informasi lainnya yang material dan berdampak signifikan pada kinerja perusahaan
secara akurat dan tepat waktu.Disamping itu, para investor harus dapat mengakses
informasi penting perusahaan secara mudah pada saat diperlukan.
Dengan keterbukaan informasi tersebut maka para stakeholder dapat menilai
kinerja berikut mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam melakukan transaksi
dengan perusahaan.Adanya informasi kinerja perusahaan yang diungkap secara
akurat, tepat waktu, jelas, konsisten, dan dapat diperbandingkan, dapat menghasilkan
terjadinya efisiensi atau disiplin pasar. Selanjutnya, jika prinsip transparansi
dilaksanakan dengan baik dan tepat, akan dapat mencegah terjadinya benturan
kepentingan (conflict of interest) berbagai pihak dalam perusahaan.
b. Accountability (Akuntabilitas)
Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban
organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.
Masalah yang sering ditemukan di perusahaan-perusahaan Indonesia adalah kurang
efektifnya fungsi pengawasan Dewan Komisaris. Atau bahkan sebaliknya,
Komisaris mengambil alih peran berikut wewenang yang seharusnya dijalankan
Direksi. Oleh karena itu diperlukan kejelasan mengenai tugas serta fungsi organ
perusahaan agar tercipta suatu mekanisme checks and balances kewenangan dan
peran dalam mengelola perusahaan.
Beberapa bentuk implementasi lain dari prinsip akuntabilitas ini antara lain:
1) Praktek Audit Internal yang efektif, serta
2) Kejelasan fungsi, hak, kewajiban, wewenang dan tanggung jawab dalam
anggaran dasar perusahaan, kebijakan, dan prosedur di bank.
c. Responsibility (Pertanggungjawaban)
Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian (kepatuhan) di dalam
pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan
perundangan yang berlaku.Penerapan prinsip ini diharapkan membuat perusahaan
7
menyadari bahwa dalam kegiatan operasionalnya seringkali menghasilkan
eksternalitas (dampak luar kegiatan perusahaan) negatif yang harus ditanggung oleh
masyarakat.Di luar hal itu, lewat prinsip responsibilitas ini juga diharapkan
membantu peran pemerintah dalam mengurangi kesenjangan pendapatan dan
kesempatan kerja pada segmen masyarakat yang belum mendapatkan manfaat dari
mekanisme pasar.
d. Independency (Kemandirian)
Independensi merupakan prinsip penting dalam penerapan GCG di
Indonesia.Independensi atau kemandirian adalah suatu keadaan dimana perusahaan
dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari
pihak manapun yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Independensi sangat penting dalam proses
pengambilan keputusan. Hilangnya independensi dalam proses pengambilan keputusan
akan menghilangkan objektivitas dalam pengambilan keputusan tersebut. Kejadian ini
akan sangat fatal bila ternyata harus mengorbankan kepentingan perusahaan yang
seharusnya mendapat prioritas utama.
Untuk meningkatkan independensi dalam pengambilan keputusan bisnis,
perusahaan hendaknya mengembangkan beberapa aturan, pedoman, dan praktek di
tingkat pengurus bank, terutama di tingkat Dewan Komisaris dan Direksi yang oleh
Undang-undang diberi amanat untuk mengurus perusahaan dengan sebaik-baiknya.
e. Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran)
Secara sederhana kesetaraan dan kewajaran (fairness) bisa didefinisikan sebagai
perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul
berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku.Fairness juga
mencakup adanya kejelasan hak-hak stakeholder berdasarkan sistem hukum dan
penegakan peraturan untuk melindungi hak-hak investor khususnya pemegang saham
minoritas dari berbagai bentuk kecurangan. Bentuk kecurangan ini bisa berupa
insider trading (transaksi yang melibatkan informasi orang dalam), fraud (penipuan),
dilusi saham (nilai perusahaan berkurang), korupsi-kolusi-nepotisme (KKN), atau
keputusan-keputusan yang dapat merugikan seperti pembelian kembali saham yang
telah dikeluarkan, penerbitan saham baru, merger, akuisisi, atau pengambil-alihan
perusahaan lain.

3.2 Teori Fraud Triangle


8
Berdasarkan teori fraud triangle (segitiga kecurangan), tekanan, kesempatan, dan
rasionalisasi yang datang secara bersamaan akan memperbesar peluang terjadinya fraud
(kejahatan).
a. Pressure adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud
(kejahatan).
b. Opportunity adalah peluang atau kesempatan yang memungkinkan fraud terjadi.
c. Rasionalisasiadalah suatu pembenaran atas tindakan kejahatan yang dilakukan,
misalnya:
1. Bahwasanya tindakan pelaku untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang
yang dicintainya.
2. Masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya berhak mendapatkan
lebih dari yang telah dia dapatkan sekarang (posisi, gaji, promosi, dll.)
3. Perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak mengapa
jika pelaku mengambil bagian sedikit dari keuntungan tersebut.
Di antara 3 elemen fraud triangle, opportunity merupakan elemen yang paling
memungkinkan untuk diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan control dan
upaya deteksi dini terhadap fraud.

3.3 Pengendalian Internal


Pengendalian Intern yang dikemukakan commite on Auditing Procedur American
Institute of Carified Public Accountant (ICPA) adalah pengendalian intern mencakup
rencana organisasi dan semua metode serta tindakan yang telah digunakan dalam
perusahaan untuk mengamankan aktivanya, mengecek kecermatan dan keandalan dari
data akuntansinya, memajukan efisiensi operasi, dan mendorong ketaatan pada
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah ditetapkan pimpinan (James 1997:155).
D. Hartanto memberikan penjelasan tentang Pengendalian Intern dengan
membedakan kedalam arti yang sempit dan dalam arti luas secara lengkap disebutkan:
Dalam arti sempit : Pengendalian Intern disamakan dengan Internal Check yang
merupakan prosedur mekanisme untuk memeriksa ketelitian dari data-data administrasi,
seperti mencocokkan penjumlahan Horizontal dengan penjumlahan Vertikal.
Dalam arti luas: Pengendalian Intern dapat disamakan dengan Manajemen Control,
yaitu suatu sistem yang meliputi semua cara-cara yang digunakan oleh pimpinan
perusahaan untuk mengawasi/mengendalikan perusahaan. Dalam pengertian
Pengendalian Intern meliputi: Struktur Organisasi, formulir-formulir dan prosedur
9
pembukuan dan laporan (Administrasi), budget dan standart pemeriksaan intern dan
sebagainya. (Hartanto, 1997 : 51). Unsur-unsur Sistem Pengendalian Internal:
1. Struktur Organisasi
2. Sistem Wewenang dan Prosedur Pembukuan
3. Praktek-praktek yang Sehat
4. Pegawai yang Cukup Cakap
4. PEMBAHASAN KASUS
4.1 Pembahasan mengenai prinsip pengungkapan informasi perusahaan secara
independen.
Pada tahun 2011 Bank Mega mengungkapkan laporan keuangannya dalam annual
report.Dalam pelaksanaan transparansi, sekretaris perusahaan memegang peranan penting.
Adapun hal-hal yang dilakukan sehubungan dengan penerapan transparansi kondisi
keuangan dan non keuangan adalah sebagai berikut :
1. Bertanggung jawab untuk melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham baik
Tahunan maupun Luar Biasa. Pelaksanaan RUPS Tahunan tahun buku 2011 pada
tanggal 12 Juni 2011 telah memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh
Anggaran Dasar Perseroan dan peraturan-peraturan dari Bapepam-LK serta Bursa
Efek Indonesia.
2. Memberikan informasi mengenai kegiatan operasional, produk dan kinerja Bank
Mega kepada pihak-pihak yang berkepentingan secara berkala melalui media yang
mudah diakses, antara lain :
a) Secara online melalui internet melalui website www.bankmega.com dan
intranetmegaweb
b) Secara offline, melalui : Laporan Keuangan, Laporan Komite Audit, Analisa
KinerjaTriwulan, Bulletin Pride, Annual Report, Public Expose setiap tahun
dan laporan atassetiap Corporate Action kepada otoritas bursa (BEI).
3. Membuat mekanisme untuk memproses setiap masukan dan pengaduan dari pihak
yang berkepentingan dengan Bank Mega yaitu melalui sarana elektronik yang
disediakan oleh Bank Mega seperti Mega Call yang dapat diakses 24 jam dan website
Bank Mega, melalui media surat atau datang langsung ke kantor Cabang Bank Mega.
4. Mempublikasikan laporan tahunan Bank Mega yang disertai dengan tanda tangan dan
pernyataan tanggung jawab dari direksi terhadap penyusunan serta penyajiannya telah
disesuaikan dengan ketentuan dari Bank Indonesia dan Bapepam-LK . Semua laporan
keuangan telah dibahas dan disetujui oleh Komite audit , dewan komisaris dan direksi.
10
5. Pembentukan investor relation & corporate research department yang bertugas
menyediakan informasi keuangan dan non-keuangan terkini yang dibutuhkan oleh
otoritas pasar modal , para pemegang saham serta stakeholder lainnya.
6. Membuat media komunikasi investor seperti menerbitkan laporan keuangan publikasi
, Annual report , analisa kinerja triwulan , penyelenggaraan public expose
sebagaiamana ketentuan yang berlaku dan bullentin pride.
Namun Bank Mega tidak independent sebab direktur keuangan yang mencairkan
dana tersebut melalui orang dalam Bank Mega yang pada saat pencairan dokumen tersebut
dibubuhi tanda tangan direktur utama dan direktur keuangan Elnusa. Padahal direktur
tersebut sudah tidak lagi menjabat di Elnusa. Ini membuktikan perusahaan tidak
independen dalam mengambil keputusan sebab dipengaruhi oleh pihak lain yang
menyebabkan kerugian untuk perusahaan.
4.2 Pembahasan mengenai kepatuhan Hukum Bank Mega.
Pada tahun yang bersangkutan, yakni 2011.Bank Mega menerbitkan laporan
tahunan maupun laporan corporate governance.Kepatuhan hukum bank Mega adalah
dilihat dari penegakan hukuman yang sesuai kepada Kepala Cabang Bank Mega Jababeka.
4.3 Pembahasan mengenai penyebab yang mendasari kecurangan.
Penyebab pembobolan dana 111 miliar rupiah milik PT Elnusa Tbk di Bank Mega
cabang Jababeka, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat adalah: Untuk investasi di luar produk
perbankan yang dilakukan oleh pelaku, uang itu digunakan untuk kepentingan pribadi atau
untuk memperkaya diri sendiri para pelakunya. Modusnya yaitu menggunakan dana
perusahaan untuk kepentingan pribadi dengan cara menginvestasikannya kepada pihak
ketiga yang bergerak dalam bidang pengelolaan investasi.dilakukan dengan cara
mengalihkan dana PT Elnusa ke PT Discovery Indonesia. Dari pengalihan itu, uang
dialirkan ke rekening pribadi-pribadi para pelaku.
Motif yg mendorong skandal pembobolan ini berhubungan erat dengan segitiga
Fraud Berdasarkan teori fraud triangle (segitiga kecurangan), tekanan, kesempatan, dan
rasionalisasi yang datang secara bersamaan akan memperbesar peluang terjadinya fraud
(kejahatan). Motif tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pressure adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan
fraud(kejahatan).Dalam kasus ini, dorongan muncul dari dalam diri pribadi
pelaku.Dimungkinkan karena pelaku mempunyai kebutuhan atau masalah
financial, misalnya hutang atau tagihan yang menumpuk, ingin bergaya hidup
mewah,dll.Tapi banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan.
11
b. Opportunity adalah peluang atau kesempatan yang memungkinkan
fraud terjadi.Hal ini dimungkinkan karena internal kontrol yang lemah di PT.
Elnusa dan Bank Mega, kurangnya pengawasan, dan/atau penyalahgunaan
wewenang di masing-masing perusahaan tersebut.. Pada kondisi integritas yang
rendah, kontrol yang lemah, akuntabilitas yang rendah, dan tekanan yang tinggi,
peluang seseorang menjadi tidak jujur akan makin besar.
Di antara 3 elemen fraud triangle, opportunity merupakan elemen yang paling
memungkinkan untuk diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan
control dan upaya deteksi dini terhadap fraud.
c. Rasionalisasiadalah suatu pembenaran atas tindakan kejahatan yang dilakukan,
misalnya:
1) Bahwasanya tindakan pelaku untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang
yang dicintainya.
2) Masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya berhak mendapatkan
lebih dari yang telah dia dapatkan sekarang (posisi, gaji, promosi, dll.)
3) Perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak
mengapa jika pelaku mengambil bagian sedikit dari keuntungan tersebut.
Skandal ini terjadi karena adanya kolusi antara oknum nasabah dan oknum
pegawai Bank Mega. Pelaku pun tidak sendiri, melainkan ada kolaborasi
dengan beberapa pihak, dengan Bank Mega sebagai tempat transaksi.Mereka
bekerjasama untuk melakukan kejahatan ini dan keuntungannya pun mereka
nikmati bersama.

4.4 Pembahasan mengenai bagaimana kecurangan dapat terjadi dan siapa yang
bertanggung jawab.
Kecurangan ini dapat terjadi karena pengawasan sistem yang lemah dan kinerja
SDM perbankan. Hal ini menyebabkan Elnusa tidak dapat mencairkan Dana Deposionya
sebanyak 111 Miliar Rupiah, diduga dana ini mengalir ke Discovery dan
Harvestindo.Beberapa pihak yang diduga terkait kasus ini adalah Direktur Keuangan
Elnusa, Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, Komisaris dan Direktur Discovery. Dimana
salah satu pelaku tersebut terkait dengan kasus pembobolan dana Pemkab Aceh di Bank
Mandiri cabang Jalembar, Jakarta Barat.
Dana 111 Miliar tersebut disebar 20% pada 5 rekening yang telah diblokir. Dana
tersebut jumlahnya tak lagi signifikan yang 2 diantaranya diletakkan di Bank Pemerintah
12
dan Swasta milik PT Discovery. 80% mengalir ke 3 rekening perusahaan Investasi dibawah
PT Discovery dan PT Harvestindo.Dana PT Elnusa seolah-olah beralih dari deposito
berjangka menjadi Deposito harian.
Disini ada enam orang pelaku yang divonis tersangka antara lain, Direktur
Keuangan PT Elnusa, Direktur Utama PT Discovery dan anak buahnya, Kepala Cabang
Bank Mega Jababeka, Staf Harvestindo yang terlibat dalam pemalsuan tanda tangan serta
seorang pialang.
4.5 Pembahasan mengenai pengendalian internal apa yang harus diterapkan Bank Mega.
Dengan menciptakan internal kontrol yang bagus adalah salah satu langkah yang
bisa ditempuh Bank Mega dalam mencegah terjadinya kembali pembobolan
dana.Menciptakan Low fraud environment dengan adanya dukungan dari budaya kejujuran
yang tinggi, keterbukaan, dan program khusus bantuan kepada karyawan. Untuk
menciptakan dukungan tersebut, Bank Mega harus mempekerjakan orang-orang yang jujur
dan selalu memberikan pelatihan kepada para karyawannya mengenai kesadaran akan
fraud, merotasi karyawan (job transfer) secara periodic.
Menciptakan lingkungan kerja yang positif, membuat dan melakukan diseminasi
atas kode perilaku yang gampang dimengerti, serta membuat program bantuan kepada para
karyawan.Mengawasi gaya hidup karyawan dan fasilitas-fasilitas pribadi di sekelilingnya
sebagai langkah pencegahan. Sebab, para karyawan yang berpotensi melakukan fraud
seakan-seakan merasakan terus diawasi.Membuat jalur khusus pelaporan fraud (tips
hotline). Secanggih apa pun fraud dilakukan, sering kali fraud bisa ditemukan melalui tips.
Ketika seorang karyawan merasakan bahwa rekan kerjanya atau pihak lain memiliki cara
yang sangat mudah untuk melaporkan terjadinya fraud, hal ini akan mengurangi niat
melakukan fraud itu sendiri. Menciptakan ekspektasi atas hukuman. Ketakutan akan
hukuman jelas akan mengurangi perilaku tidak jujur. Hukuman yang tegas dan konsisten
akan membuat para personel berpikir seribu kali sebelum memastikan siap terlibat
melakukan fraud. Kalau hanya diberhentikan, terkadang tidak cukup kuat untuk mencegah
fraud. Hukuman yang lebih berarti, misalnya, memberi tahu kepada keluarga atau orang-
orang terdekat mengenai perilaku tidak jujur yang dilakukan seorang karyawan

5. SIMPULAN DAN REKOMENDASI

13
Sangat diperlukan Kontrol internal yang harus mencakup kontrol lingkungan yang
bagus, sistem akuntansi yang bagus, dan kontrol prosedur (aktivitas) yang juga bagus.
Dimana, kontrol lingkungan harus mencakup integritas; nilai etika dan kompetensi sumber
daya manusia (SDM); gaya dan filosofi manajemen; gaya manajemen dalam mengalokasikan
wewenang, tanggung jawab, dan pengembangan SDM; serta perhatian dan arahan dewan
direksi.
Sementara, sistem akuntansi yang bagus harus memberikan informasi yang benar,
lengkap, dan tepat waktu.Kontrol prosedur yang bagus harus mencakup kontrol fisik atas aset-
aset, otorisasi yang tepat, segregasi tugas, pengecekan independen, dan dokumentasi yang
lengkap. Sehingga Bank dapat mengawasi dan menghindari adanya transfer yang
mencurigakan dengan nominal yang tinggi.
Selain itu penerapan Good Corporate Governance dalam perusahaan sangatlah penting
dalam menghindari kecurangn yang mungkin terjadi. Saran yang dapat kami berikan adalah
perusahaan lebih memperhatikan dan meningkatkan penerapan corporate governance seperti
penjelasan yang telah kami berikan sebelumnya yaitu perusahaan harus mampu menerapkan 5
princip GCG dan mengikuti penerapan Good Corporate Governance sesuai dengan Pedoman
Umum Good Publik Governance yang diterbitkan oleh Komite Nasional Kebijakan
Governance yang berlaku di Indonesia.

14
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous.2011.http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/04/25/woow-111-milyar-
deposito-elnusa-menguap-dari-bank-mega-358631.html [Diakses pada 10 april 2017]

Deka.2013.http://deka-cg.blogspot.com/2013/06/good-corporate-governance-dalam.html
[Diakses pada 10 april 2017]

Putra, Badai Sugondo.Prinsip prinsip GCG http://baddaysp.blogspot.com/2013/11/prinsip-


prinsip-gcg-good-corporate.html [Diakses pada 10 april 2017]

Christo Romual, (2012) Peran Audit Internal Dalam Proses Manajemen Risiko Pada Pt X,
Jakarta

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/pencapaian-gcg-dan-kaitannya-dengan-peranan-
internal-auditor-studi-kasus-pada-pt-pertamina/ (Diakses pada 10 april 2017)

15