Anda di halaman 1dari 421

Pendidikan dan Latihan Profesi Guru

(PLPG)

MODUL BAHASA INGGRIS

Sertifikasi Guru Sub Rayon 138


Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
2016
PANDUAN PLPG
2016

i
ii
PENGANTAR

Dalam rangka sertifikasi guru dalam jabatan, semakin disadari oleh banyak pihak
bahwa Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) merupakan tahapan yang sangat
penting dalam proses pengembangan profesi guru. Kepentingan yang dipertaruhkan
kepada program PLPG adalah kepentingan jangka panjang yakni pengembangan profesi
oleh guru bersangkutan secara berkelanjutan. Melalui PLPG, para guru diajak untuk
mengembangkan kapasitas dirinya dalam melakukan self-learning. Dalam rangka ini
setiap guru peserta PLPG diharapkan mampu mengidentifikasi sendiri wilayah-wilayah
mana dari empat kompetensi yang masih perlu dibenahi dan dikembangkan. Bagaimana
wilayah-wilayah tersebut mau dibenahi dan dikembangkan, tentunya tidak bisa dibatasi
hanya pada saat mengikuti program ini. PLPG dapat dikatakan sekedar titik awal dari
pembenahan dan pengembangan tersebut.

Mengingat hal di atas, kiranya perlu diusahakan agar suatu buku pegangan pelaksanaan
PLPG bisa menjadi buku pegangan tidak hanya bagi para pelatih tetapi juga bagi mereka
yang dilatih. Mengingat peserta program ini adalah guru dalam jabatan, kiranya
program pembelajarannya perlu disesuaikan dengan tuntutan-tuntutan pembelajaran
orang dewasa. Malcolm Knowles (1970), seorang pioneer di bidang pendidikan orang
dewasa, menyebut adanya 6 ciri orang dewasa yang sedang belajar. Keenam ciri
tersebut disingkat sebagai berikut: (1) otonom dan mengatur diri sendiri; (2) proses
pembelajarannya perlu terkait erat dengan pengalaman, pengetahuan serta kegiatan
menyangkut pelaksanaan tugas hidupnya; (3) perlu goal-oriented; (4) perlu
relevancy-oriented; (5) pengatahuan yang diberikan perlu dikembangkan sampai
tingkat praktis; dan (6) perlu dihargai kekayaan pengalaman yang bisa dibagikan dalam
proses pembalajaran di kelas. Semoga dengan menempatkan para guru peserta PLPG
pada posisi yang tepat dalam proses pembelajaran mereka, buah serta dampak yang
bisa diharapkan dari PLPG bisa maksimal.

Yogyakarta, Juni 2016


Ketua Sub Rayon 138

Drs. J. Eka Priyatma, M.Sc.,Ph.D.

iii
DAFTAR ISI

A. LATAR BELAKANG .................................................................................................................................... 1

B. DASAR HUKUM PELAKSANAAN PLPG ........................................................................................... 2

C. TUJUAN PELAKSANAAN PLPG............................................................................................................ 3

E. PESERTA PLPG ............................................................................................................................................ 4

F. PENYELENGGARAAN PLPG ................................................................................................................. 5

G. MATERI DAN SKENARIO WORKSHOP............................................................................................. 8

H. UJIAN KOMPETENSI ................................................................................................................................. 12

I. INSTRUKTUR ............................................................................................................................................... 15

J. PENENTUAN KELULUSAN DALAM DIKLAT (PLPG) ............................................................... 16

K. UJIAN ULANG ...............................................................................................................................................


Error! Bookmark not defined.

L. TATA TERTIB PESERTA PLPG ............................................................................................................ 16

LAMPIRAN-LAMPIRAN..................................................................................................................................... 25

iv
A. LATAR BELAKANG
Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan
Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan
Peraturan Pemerintah RI Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru menyatakan guru
adalah pendidik profesional. Guru yang dimaksud meliputi guru kelas, guru mata
pelajaran,guru bimbingan dan konseling atau konselor, dan guru pembimbing
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan keterampilan komputer dan
pengelolaan informasi (KKPI). Guru profesional dipersyaratkan memiliki kualifikasi
akademik yang relevan dengan mata pelajaran yang diampu dan menguasai
kompetensi sebagaimana dituntut oleh Undang-undang Guru dan Dosen. Pengakuan
guru sebagai pendidik profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang
diperoleh melalui suatu proses sistematik yang disebut sertifikasi.
Sertifikasi guru dalam jabatan sebagai salah satu upaya peningkatan mutu guru
diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan pada satuan pendidikan formal
secara berkelanjutan. Guru dalam jabatan yang telah memenuhi persyaratan dapat
mengikuti sertifikasi melalui Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) atau
Pendidikan Profesi Guru (PPG). Untuk sertifikasi guru dalam jabatan melalui PPG
diatur dalam buku panduan tersendiri. Alur pelaksanaan sertifikasi guru melalui PLPG
disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Alur Sertifikasi Guru melalui PLPG Tahun 2016

Penyelenggaraan PLPG sejak tahun 2012 mengacu pada pendekatan Tailor Made,
yang selanjutnya diterbitkan dalam bentuk Prosedur Operasional Baku (POB) yang

1
merupakan pelengkap Rambu-Rambu Pelaksanaan PLPG. Sejak tahun 2013 POB Tailor
Made telah terintegrasi di dalam Buku Rambu-rambu Pelaksanaan PLPG.
Merujuk Permendikbud Nomor 160 Tahun 2015 tentang Pemberlakuan
Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013, maka pelaksanaan PLPG tahun 2016
memfasilitasi penguasaan dan kemampuan peserta sertifikasi dalam
mengimplementasikan kurikulum 2006 dan kurikulum 2013 melalui pembelajaran
yang berpusat pada siswa (pembelajaran aktif). Guru diharapkan dapat mengubah
dirinya dari pendidik yang kualitasnya rendah menjadi guru profesional yang benar-
benar memahami jati diri dan tanggung jawabnya kepada peserta didik, masyarakat
dan bangsa Indonesia. Sebagai bagian dari proses sertifikasi guru, PLPG didesain untuk
menyampaikan pembelajaran dengan memperhatikan karakteristik tenaga
professional dan keempat ranah kompetensi secara terstruktur, terarah, terukur, dan
tertib.

B. DASAR HUKUM PELAKSANAAN PLPG


Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) sebagai upaya meningkatkan
profesionalitas guru di Indonesia dilaksanakan oleh Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon
138 Universitas Sanata Dharma dan diselenggarakan dengan berdasarkan landasan
hukum sebagai berikut:
1. Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahaan atas
Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
5. Peraturan Pemerintah RI Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru.
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2005 tentang Standar
Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.
7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 Tahun
2008 tentang BK Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor.
8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 45
Tahun 2015 tentang Perubahan atas peraturan menteri pendidikan dan

2
kebudayaan Republik indonesia nomor 68 tahun 2014 tentang peran guru
Teknologi informasi dan komunikasi dan guru keterampilan Komputer dan
pengelolaan informasi dalam implementasi Kurikulum 2013
9. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20
tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan
Pendidikan Menengah.
10. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 21
tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22
tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23
tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan Dasar dan Pendidikan
Menengah.
13. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 68
Tahun 2014 tentang Peran Guru Teknologi Informasi dan Komunisasi dan Guru
Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi dalam Implementasi
Kurikulum 2013.
14. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 111
Tahun 2014 tentang Bimbingan dan konseling.
15. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 160
Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013.
16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 29
Tahun 2016 Tentang Sertifikasi Bagi Guru Yang Diangkat Sebelum Tahun 2016.
17. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
065/P/2016 Tahun 2016 Tentang Konsorsium Sertifikasi Guru.
18. Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia
Nomor 296/M/KPT/2016 Tahun 2016 Tentang Penetapan Perguruan Tinggi
Penyelenggara Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Melalui Pendidikan dan Latihan
Profesi Guru.

C. TUJUAN PELAKSANAAN PLPG


Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) tahun 2016 bertujuan untuk:
1. meningkatkankompetensi dan profesionalisme guru;

3
2. memantapkan penguasaan dan kemampuan guru dalam mengimplemen-tasikan
kurikulum 2006 dankurikulum 2013 (kurikulum nasional); dan
3. menentukan kelulusan guru peserta sertifikasi.

D. PESERTA PLPG
Peserta sertifikasi guru tahun 2016 adalah guru yang diangkat sampai dengan 30
Desember 2015 dengan persyaratan sebagai berikut.
1. Guru di bawah pembinaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang belum
memiliki sertifikat pendidik.
2. Memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK).
3. Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari
perguruan tinggi yang memiliki program studi yang terakreditasi atau minimal
memiliki ijin penyelenggaraan.
4. Memiliki status sebagai guru tetap (GT) dibuktikan dengan Surat Keputusan
sebagai Guru PNS/Guru Tetap. Bagi GT bukan PNS pada sekolah swasta, SK
Pengangkatan dari yayasan minimum 2 tahun terakhir berturut-turut pada
yayasan yang sama dan Akte Notaris pendirian Yayasan dari Kementerian Hukum
HAM. Sedangkan GT bukan PNS pada sekolah negeri harus memiliki SK
pengangkatan sebagai gurur honor tetap dengan gaji dari APBD dari pejabat yang
berwenang (Bupati/Walikota/Gubernur) minimum 2 tahun terakhir berturut-
turut.
5. Masih aktif mengajar dibuktikan dengan memiliki SK pembagian tugas mengajar
dari kepala sekolah 2 tahun terakhir (bagi guru yang linier kualifikasi akademik
dengan bidang studi sertifikasi melampirkan SK terakhir).
6. Guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik dengan kondisi sebagai berikut.
a. Guru PNS yang sudah dimutasi sebagai tindak lanjut dari Peraturan Bersama
Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri
Agama.
b. Guru PNS/guru tetap non PNS yang memerlukan penyesuaian sebagai akibat
perubahan kurikulum.
7. Pada tanggal 1 Januari 2017 belum memasuki usia 60 tahun.
8. Telah mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) Tahun 2015.

4
9. Sehat jasmani dan rohani dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari dokter
pemerintah.
10. Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas dengan ketentuan diangkat menjadi
pengawas satuan pendidikan sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor
74 Tahun 2008 tentang Guru.

E. PENYELENGGARAAN PLPG
PLPG Sub Rayon 138 diselenggarakan oleh Universitas Sanata Dharma (USD).
Dalam pelaksanaan PLPG, Penyelenggaraan PLPG dilakukan dengan ketentuan sebagai
berikut.
1. PLPG dilaksanakan oleh LPTK penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan yang
telah ditetapkan Pemerintah dan didukung oleh Perguruan Tinggi yang memiliki
program studi relevan dengan bidang studi/mata pelajaran guru peserta PLPG.
2. PLPG diselenggarakan selama 10 hari dan bobot 90 Jam Pembelajaran (JP),
dengan alokasi waktu 38 JP (42,2%) teori, 40 JP (44,4%) praktik, dan 12 JP
(13,4%) ujian. Satu JP setara dengan 50 menit.
3. PLPG dapat dilaksanakan di wilayah Rayon/Subrayon LPTK penyelenggara
dan/atau dipusatkan di kabupaten/kota sekitar tempat guru berasal.
4. Penentuan tempat pelaksanaan PLPG harus memperhatikan kelayakan
(representatif dan kondusif) untuk proses pembelajaran dengan memperhatikan
beberapa hal sebagai berikut.
a. Kecukupan dan kelayakan ruangan.
b. Rasio jumlah peserta dengan luas ruang belajar.
c. Rasio jumlah peserta dengan ruang peerteaching.
d. Kecukupan dan kelayakan mebeler.
e. Kecukupan dan kelayakan alat bantu/media pembelajaran yang memadai.
5. Pemanggilan peserta PLPG yang berasal dari luar provinsi Rayon/Subrayon LPTK
penyelenggara agar memberikan tembusan kepada LPMP tempat asal peserta dan
LPMP yang dituju.
6. Bila memungkinkan Rayon/Subrayon LPTK penyelenggara PLPG
mengelompokkan peserta PLPG berdasarkan skor UKG, minimal menjadi dua
kelompok, yaitu di bawah dan di atas rerata skor UKG.

5
7. Rombongan belajar (rombel) PLPG diupayakan satu program keahlian/mata
pelajaran .
8. Satu rombel terdiri atas 30 peserta, dan satu kelompok peer teaching/peer
guidance and counseling terdiri atas 10 peserta. Dalam kondisi tertentu jumlah
peserta satu rombel atau kelompok peer teaching/peer guidance and counseling
dapat disesuaikan.
9. Satu kelompok peer teaching/peer guidance and counseling difasilitasi oleh satu
orang instruktur yang memiliki Nomor Register Instruktur (NRI) PLPG yang
relevan, termasuk pada saat ujian.
10. Rayon LPTK merancang strategi pelaksanaan PLPG, materi pembelajaran dengan
memperhatikan kisi-kisi uji kompetensi (UTN), dan pengalokasian waktu untuk
setiap materi PLPG sesuai dengan struktur kurikulum dan karakteristik peserta.
11. Proses Pembelajaran PLPG dilaksanakan dengan beberapa ketentuan sebagai
berikut.
a. Rayon/Subrayon LPTK melaksanakan kegiatan PLPG yang berbeda antara
kelompok peserta berdasarkan pengelompokkan skor UKG, baik aspek
substansi materinya maupun metodologi pembelajaran secara klasikal,
kelompok, maupun individu.
b. Sebelum memulai pembelajaran, instruktur harus menjelaskan target capaian
dan pokok bahasan materi pembelajaran PLPG.
c. Proses pembelajaran diorientasikan pada pencapaian kompetensi yang
terukur (competence based), bukan pada isi materi (content based).
d. Proses pembelajaran dalam PLPG mendorong/ mengakomodasi guru untuk
dapat menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran aktif yang meliputi:
1) dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu
(pembelajaran berpusat pada siswa);
2) dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis
aneka sumber belajar;
3) dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan
pendekatan ilmiah (kontekstual);
4) dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis
kompetensi;
5) dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;

6
6) dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju
pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
7) dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
8) peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hard skills)
dan keterampilan mental (softs kills);
9) pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan
peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan
(ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyomangun
karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran (tut wuri handayani);
11) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
12) pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta
didik.
e. Pembelajaran untuk penguatan/pendalaman kompetensi profesional
dilengkapi dengan tugas individu/kelompok dalam berbagai bentuk antara lain
berdiskusi untuk memecahkan masalah, membuat ringkasan buku, membuat
peta konsep (concept mapping), dan analisis konsep esensial.
f. Pembelajaran yang dilaksanakan dapat memotivasi peserta PLPG untuk
mengembangkan kompetensinya secara mandiri, berpikir kritis, sistematis, dan
memecahkan masalah.
g. Pembelajaran yang dilaksanakan dapat memotivasi peserta PLPG untuk
memanfaatkan sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar.
h. Workshop dimulai dengan penjelasan instruktur tentang format dan substansi
perangkat pembelajaran (silabus, RPP/RPL, LKPD, bahan ajar, media dan
instrumen penilaian hasil belajar, serta proposal PTK/PTBK/PTTIK).
i. Dalam memfasilitasi workshop, instruktur harus aktif menumbuhkan
kreativitas dan mendorong peserta dapat menggali pengalamannya untuk
dituangkan dalam perangkat pembelajaran/layanan.
j. Instruktur peka (cepat tanggap) terhadap permasalahan yang dihadapi peserta.

7
12. Instruktur workshop harus mampu memfasilitasi dan memotivasi peserta sehingga
workshop dapat menjadi wahana pembelajaran dalam mengembangkan perangkat
pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku
13. Penugasan instruktur harus mempertimbangkan penguasaan substansi dan
kemampuan mengaplikasikan berbagai strategi pembelajaran yang sesuai dengan
kurikulum yang berlaku serta memiliki komitmen dalam menjalankan tugas.
14. Penugasan instruktur workshop harus mempertimbangkan kompetensi, relevansi
bidang keahlian, dan komitmen.
15. Pada akhir PLPG dilakukanuji kompetensi yang meliputi uji tulis dan uji kinerja
(ujian praktik) dengan fokus pada penerapan prinsip pembelajaran kurikulum
yang berlaku.

F. MATERI DAN SKENARIO WORKSHOP


Materi PLPG disusun dengan memperhatikan empat kompetensi guru, yaitu:
(1) pedagogik, (2) profesional, (3) kepribadian, dan (4) sosial. Standardisasi
kompetensi yang dijabarkan dalam struktur kurikulum PLPG dikembangkan oleh
Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG). Sebagian bahan ajar dikembangkan KSG dan
sebagian lainnya oleh LPTK penyelenggara sertifikasi dengan mengacu pada
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2007 tentang Standar
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
No. 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor,
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 32 Tahun 2008 tentang Standar
Kualifikasi Akdemik dan Kompetensi Guru Pendidikan Khusus, Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2015 tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 68 Tahun 2014 Tentang Peran Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi dan
Guru Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi Dalam Implementasi
Kurikulum 2013. Materi PLPG tersebut diarahkan agar peserta PLPG dapat menguasai
materi bidang studi dan pedagogik, serta mampu mengimplementasikan ke dalam
kurikulum yang berlaku.
Sumber belajar pada PLPG dapat berupa buku yang relevan dengan kurikulum
yang berlaku, modul, video dan sumber belajar lainnya yang berasal dari internet.

8
Rambu-rambu materi PLPG dijabarkan dari struktur kurikulum PLPG. Struktur
kurikulum Guru Kelas SD /Guru Bidang Studi di SMP/SMA dan Guru BK dapat dilihat
dalam tabel berikut ini:

Jumlah JP
No. Materi
Teori Praktik
Kebijakan Pengembangan Profesi
A 6
Guru/Pengembangan Profesionalisme Guru
B Pendalaman Materi Pedagogik 12
C Pendalaman Materi Bidang Studi 20
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berdasarkan
Hasil Analisis Kurikulum yang Berlaku/Pengembangan
D 30
Perangkat Pelayanan BK Berdasarkan Hasil Analisis
Kurikulum yang Berlaku
Pelaksanaan Pembelajaran (Peer
E Teaching)/Pelaksanaan Praktik (Peer Guidance and 20
Counseling)
F Ujian tulis (UTL + UTN) 2
JUMLAH 40 50
JUMLAH TOTAL 90

1. Materi Kebijakan Pengembangan Profesi Guru (6 JP)


Materi guru kelas/mata pelajaran meliputi: (1) kompetensi guru; (2) penilaian
kinerja guru; (3) pengembangan diri; (4) pengembangan keprofesian
berkelanjutan; (5) etika profesi; (6) literasi; (7) wawasan PTK.
Materi guru BK meliputi: (1) kompetensi guru BK atau konselor; (2) penilaian
kinerja guru BK; (3) pengembangan keprofesian berkelanjutan BK; (4) etika profesi
BK; (5) wawasan PTBK dan studi kasus.
Skenario pembelajarannya adalah sebagai berikut.
a. Pemberian informasi (wacana atau kasus)
b. Tanya jawab.
c. Diskusi.
2. Pendalaman Materi Pedagogik (12 JP)
Materi guru kelas/mata pelajaran mencakup: (1) pengenalan karakter dan potensi
peserta didik; (2) teori belajar dan pembelajaran; (3) pengembangan kurikulum;
(4) penilaian proses hasil belajar.
Skenario pembelajaran materi ini sebagai berikut.
a. Tanya jawab.

9
b. Diskusi.
c. Simulasi dan pemodelan.
d. Project based learning/problem solving learning/discovery learning/inquiry
learning.
e. Kerja kelompok.
Materi guru BK meliputi: (1) posisi BK dalam pendidikan dan implementasi
kurikulum 2013; (2) karakteristik, perkembangan, dan permasalahan peserta didik
jenjang Paud, SD, SLTP, SLTA; (3) Azas, prinsip, fungsi, dan tujuan layanan; (4)
esensi dan karakteristik pelayanan BK pada jalur, jenis, dan jenjang pendidikan.
Skenario pembelajaran materi ini sebagai berikut.
a. pemberian informasi
b. tanya jawab
c. diskusi
d. simulasi dan pemodelan
e. presentasi
f. pemberian tugas.
3. Pendalaman Materi Bidang Studi (20 JP)
Materi guru kelas/mata pelajaran yang diberikan mencakup: (1) materi bidang
studi ke-SD-an; (2) telaah miskonsepsi; (3) peta konsep yang berbasis pada kisi-kisi
bidang keilmuan sertifikasi.
Skenario pembelajarannya sebagai berikut.
a. Tanya jawab.
b. diskusi.
c. Project based learning/problem solving learning/discovery learning/inquiry
learning.
d. Kerja kelompok.
Materi guru BK meliputi: (1) assesment dan pemahaman individu; (2)
pengembangan media dan instrumentasi BK; (3) penyusunan, pengelolaan, dan
penilaian program BK; (4) pendekatan-pendekatan pelayanan BK; (5) strategi
pelayanan BK individual; (6) strategi pelayanan BK kelompok dan BK Klasikal.
Skenario pembelajaran materi ini sebagai berikut.
a. pemberian informasi
b. tanya jawab

10
c. diskusi
d. simulasi dan pemodelan
e. presentasi
f. pemberian tugas.
4. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berdasarkan Hasil Analisis
Kurikulum yang Berlaku (30 JP)
Materi guru kelas/mata pelajaran mencakup penyusunan perangkat pembelajaran
yang meliputi: (1) RPP; (2) Bahan ajar; (3) LKPD; (4) media pembelajaran; (5)
instrumen penelitian.
Skenario workshop untuk guru kelas dan guru mata pelajaran sebagai berikut.
a. Pemberian informasi.
b. Tanya jawab.
c. Diskusi.
d. Simulasi dan pemodelan.
e. Presentasi.
f. Pemberian tugas.
Catatan:
Perangkat pembelajaran mempertimbangkan keseimbangan soft skill dan hard skill
yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Materi guru BK meliputi: (1) peta kebutuhan peserta didik; (2) program BK
tahunan atau semester; (3) rencana pelaksanaan layanan bimbingan kelompok
atau klasikal; (4) media dan alat bantu untuk pelayanan BK kelompok atau klasikal;
(5) instrumen penilaian program dan layanan BK.
Skenario pembelajaran materi ini sebagai berikut.
a. pemberian informasi
b. tanya jawab
c. diskusi
d. simulasi dan pemodelan
e. presentasi
f. pemberian tugas.
5. Pelaksanaan Pembelajaran/Peer Teaching (20 JP)
Materi guru kelas/mata pelajaran mencakup: (1) praktik pembelajaran; (2) setiap
peserta tampil 2 kali @1 JP

11
Skenario pembelajaran dilakukan dengan praktik mengajar.
Catatan:
Satu kelas (30 orang), dibuat tiga kelompok dan dilaksanakan secara pararel.
Tampilan kedua, merupakan ujian kinerja.
Materi guru BK meliputi pelaksanaan praktik peer guidance and counseling.
Skenari pembelajaran dilakukan dengan praktik mengkonseling dan membimbing
6. Ujian
a. Tulis Lokal (2 JP)
Ujian LPTK 100 menit dalam bentuk uraian berbasis kasus atau masalah.
Skenario dilakukan dengan ujian tulis.
b. Kinerja
Ujian kinerja guru kelas/mata pelajaran dilaksanakan pada pelaksanaan peer
teaching tampilan kedua. Skenario dilakukan dengan ujian praktik.
Ujian kinerja guru BK dilaksanakan pada peer guidance and counseling tampilan
kedua. Skenario dilakukan dengan ujian praktik.

G. UJIAN KOMPETENSI
Uji kompetensi dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu (1) ujian akhir PLPG yang
meliputi uji kinerja dan uji tulis LPTK (UTL) dan (2) uji kompetensi guru (UKG) dalam
bentuk uji tulis nasional (UTN). Kelulusan ujian akhir PLPG merupakan prasyarat
untuk mengikuti UTN. Kedua tahap uji kompetensi tersebut tidak sekedar
mengevaluasi hasil belajar peserta selama PLPG, tetapi lebih kepada pengukuran
kompetensi guru sebagai pendidik profesional. Peserta yang lulus uji kompetensi
merupakan guru profesional yang memenuhi standar kompetensi sebagaimana yang
dimaksud dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005.
1. Ujian Akhir PLPG
Ujian akhir PLPG mencakup uji kinerja dan uji tulis LPTK (UTL). Uji kinerja
bertujuan untuk mengungkap kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan
sosial secara holistik. Uji tulis LPTK bertujuan untuk mengungkap kompetensi
profesional dan pedagogik. Keempat kompetensi ini juga bisa dinilai selama proses
pendidikan dan latihan berlangsung. Uji kinerja dilakukan dalam bentuk peer
teaching bagi guru kelas/mata pelajaran atau peer guidane and conseling bagi

12
guru BK dan praktik bimbingan TIK bagi guru TIK/KKPI. Ujian kinerja dalam
praktik pembelajaran untuk setiap peserta dilaksanakan selama 1 JP.
a. Uji Tulis LPTK (2 JP)
UTL dilaksanakan di akhir PLPG dengan rambu-rambu sebagai berikut.
1) Soal UTL dikembangkan oleh LPTK Rayon dalam bentuk soal uraian
berbasis masalah dengan mempertimbangkan Higher Order Thinking Skills
(HOTS) sekurang-kurangnya level 4.
2) Pengembangan soal mengikuti prosedur baku, sekurang-kurangnya
dilaksanakan dengan tahapan-tahapan: penyusunan butir soal dengan
mengacu pada kisi-kisi UTN, validasi pakar sejawat, dan revisi serta
perakitan soal.
3) Materi UTL ini harus sesuai dengan materi yang dipelajari pada saat PLPG.
4) Waktu UTL selama 2 JP (100 menit) sehingga jumlah soal mengacu pada
durasi waktu tersebut.
5) Waktu pelaksanaan UTL (termasuk ujian ulang) ditetakan oleh LPTK
Rayon/Subrayon.
6) UTL dilaksanakan dengan pengaturan tempat duduk yang layak dan setiap
30 peserta diawasi oleh dua orang pengawas.
7) Koreksi lembar jawaban UTL dilakukan oleh Rayon/Subrayon
penyelenggara PLPG.
8) Penilaian UTL harus dilakukan secara sahih, adil, obyektif, dan akuntabel.
b. Uji Kinerja (1 JP)
Uji kinerja dilaksanakan pada tampilan kedua praktik pembelajaran (peer
teaching/bimbingan TIK/fasilitasi TIK) untk guru kelas dan guru mata
pelajaran, sedangkan untuk guru bimbingan dan konseling atau konselor di
sekolah ji kinerja dilaksanakan secara terintegrasi pada tampilan pertama dan
kedua. Uji kinerja dilaksanakan dengan ketentan sebagai berikut.
1) Penguji pada ujian praktik/uji kinerja harus memiliki NRI yang relevan
dengan mata pelajaran peserta yang dinilai.
2) Ujian praktik mengajar dinilai dengan Instrumen Penilaian Pelaksanaan
Pembelajaran atau IPPP (Lampiran 15).

13
3) Ujian praktik BK dinilai dengan instrumen penilaian konseling individual
(Lampiran 13) dan instrumen penilaian bimbingan kelompok atau klasikal
(Lampiran 14).
4) Ujian praktik TIK dinilai dengan instrumen penilaian dengan menggunakan
format penilaian yang tercantum di dalam Buku Pedoman Pelaksanaan
Tugas Guru TIK dan KKPI yang diterbitkan tahun 2014.
5) Skor Ujian Praktik (SUP) guru mata pelajaran dan guru kelas, diambil dari
skor tampilan kedua.
6) Skor akhir ujian praktik guru bimbingan dan konseling adalah rata-rata
skor tampilan pertama dan kedua.
Ujian akhir PLPG dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut.
a. Penentuan kelulusan peserta PLPG dilakukan secara objektif dan didasarkan
pada rambu-rambu penilaian yang telah ditentukan.
b. Peserta yang lulus pada ujian akhir PLPG dapat mengikuti UTN, sedangkan
peserta yang tidak lulus diberi kesempatan untuk mengikuti 2 (dua) kali ujian
ulang pada tahun berjalan.
c. Bagi peserta yang belum lulus pada ujian ulang akhir PLPG kedua, diberi
kesempatan mengulang pada tahun berikutnya sebanyak 4 (empat) kali selama
dua tahun setelah melaksanakan peningkatan kompetensi secara mandiri.
d. Penentuan kelulusan ujian akhir PLPG ditentukan dengan rumus dan ketentuan
sebagai berikut.
SAP = 0,3SUT + 0,4SUK + 0,3SWS
Keterangan:
SAP : Skor Akhir PLPG; SUT : Skor Uji Tulis; SUK : Skor Uji Kinerja; SWS : Skor
Workshop
Ketentuan:
Menggunakan penilaian acuan kriteria (PAP): SAP minimal 70, SUT minimal 70;
SUK minimal 76
2. Ujian Tulis Nasional
UTN dilaksanakan secara daring (dalam jejaring/online) dan diikuti oleh peserta
yang telah lulus PLPG. Rambu-rambu UTN sebagai berikut.
a. Soal Ujian Tulis Nasional (UTN) dikembangkan secara nasional di bawah
kendali KSG.

14
b. Soal UTN disusun dalam bentuk tes objektif pilihan ganda 4 (empat) opsi
dengan mempertimbangkan HOTS minimal level C4 dan mengacu pada kisi-kisi
UTN yang telah ditetapkan.
c. Durasi waktu pelaksanaan UTN selama 120 menit dengan jumlah butir
menyesuaikan durasi waktu tersebut.
d. UTN dapat dilaksanakan di LPTK Penyelenggara atau tempat uji kompetensi
(TUK) setelah peserta dinyatakan lulus ujian akhir PLPG.
e. Nilai batas minimal kelulusan UTN adalah 80.
f. Peserta yang telah memenuhi batas minimal kelulusan UTN berhak mendapat
sertifikat pendidik.
g. Peserta yang belum memenuhi batas minimal kelulusan UTN diberikan
kesempatan mengulang UTN pada tahun berikutnya sebanyak 4 kali dalam
waktu 2 tahun setelah melaksanakan peningkatan kompetensi secara mandiri.
h. Ujian ulang UTN/UKG dilaksanakan di tempat uji kompetensi (TUK) yang
ditetapkan Pemerintah.

H. INSTRUKTUR
LPTK Rayon/Subrayon dapat melaksanakan PLPG apabila memiliki program studi
yang relevan dengan mata pelajaran dan minimal memiliki 4 orang instruktur/asesor
yang ber-NRI PLPG relevan. Instruktur/asesor PLPG tersebut direkrut dan ditugaskan
oleh Ketua Rayon LPTK Penyelenggara dengan syarat sebagai berikut.
1. Warga negara Indonesia.
2. Berstatus sebagai dosen tetap LPTK Rayon, Subrayon, Mitra, atau PT Pendukung
yang memiliki NIDN/NIDK dan mendapat persetujuan dari pimpinan LPTK.
3. Kualifikasi akademik minimal S2, sekurang kurangnya salah satu jenjang (S1/S2
bidang kependidikan), jika semua S1, S2 dan S3 non kependidikan harus memiliki
sertifikat AA atau Pekerti.
4. Memiliki sertifikat pendidik profesional.
5. Jabatan akademik sekurang kurangnya Lektor dan atau memiliki pengalaman
mengajar sebagai dosen sekurang kurangnya 10 tahun.
6. Bersedia mengisi Pakta Integritas dan menandatanganinya di atas meterai 6000.
7. Sehat jasmani/rohani dan memiliki komitmen, kinerja yang baik, serta sanggup
melaksanakan tugas sebagai instruktur PLPG.

15
I. PENENTUAN KELULUSAN DALAM DIKLAT (PLPG)
Kelulusan peserta PLPG ditetapkan dengan ketentuan sebagai berikut.
SAP = 0,3SUT + 0,4SUK + 0,3SWS
Keterangan:
SAP : Skor Akhir PLPG; SUT : Skor Uji Tulis; SUK : Skor Uji Kinerja; SWS : Skor
Workshop
Ketentuan:
Menggunakan penilaian acuan kriteria (PAP): SAP minimal 70, SUT minimal 70; SUK
minimal 76
Dalam hal ini:
a. Skor hasil workshop (HW) merupakan rerata dari skor hasil penilaian proses
workshop dan skor hasil penilaian produk workshop.
b. Proses workshop dinilai dalam hal: (a) tanggung jawab, (b) kemandirian, (c)
kejujuran kerja, dll. Proses workshop ini dapat dinilai dengan menggunakan
Instrumen Penilaian Proses Workshop atau IPPW.
c. Produk workshop terdiri atas: perangkat pembelajaran (silabus, RPP, media
pembelajaran, rancangan bahan ajar, perangkat penilaian dan LKS) bagi guru kelas
dan guru mata pelajaran.

L. TATA TERTIB PESERTA PLPG


1. Ketentuan Umum
a. Peserta PLPG adalah guru yang diangkat sampai dengan 30 Desember 2015
dengan persyaratan sebagai berikut: 1) guru di bawah Kemendikbud yang
belum memiliki sertifikat pendidik; 2) memiliki NUPTK; 3) memiliki kualifikasi
akademik S-1 atau D-IV; 4) status guru tetap dibuktikan dengan SK sebagai
guru PNS/Guru Tetap (GT) dan bagi GT yang bukan PNS pada sekolah swasta,
SK Pengangkatan dari yayasan minimum 2 tahun terakhir berturut-turut pada
yayasan yang sama dan Akte Notaris pendirian Yayasan dari Kementerian
Hukum HAM. Sedangkan GT bukan PNS pada sekolah negeri harus memiliki SK
pengangkatan sebagai guru honor tetap dengan gaji dari APBD dari pejabat
yang berwenang (Bupati/Walikota/Gubernur) minimum 2 tahun terakhir
berturut-turut; 5) Masih aktif mengajar dibuktikan dengan memiliki SK

16
pembagian tugas mengajar dari kepala sekolah 2 tahun terakhir (bagi guru
yang linier kualifikasi akademik dengan bidang studi sertifikasi melampirkan
SK terakhir); 6) Guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik dengan kondisi
sebagai berikut: (a) Guru PNS yang sudah dimutasi sebagai tindak lanjut dari
Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam
Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama, (b) Guru PNS/guru tetap non
PNS yang memerlukan penyesuaian sebagai akibat perubahan kurikulum; 7)
Pada tanggal 1 Januari 2017 belum memasuki usia 60 tahun; 8) Telah
mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) Tahun 2015; 9) Sehat jasmani dan
rohani dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari dokter pemerintah; 10)
Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas dengan ketentuan diangkat
menjadi pengawas satuan pendidikan sebelum berlakunya Peraturan
Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.
b. Peserta yang tidak memenuhi panggilan PLPG tanpa memberikan alasan yang
kuat dan surat izin dari dinas pendidikan akan dinyatakan tidak lulus.
c. Peserta wajib mengikuti keseluruhan sesi mata diklat. Peserta yang
kehadirannya kurang dari 80% dinyatakan gugur, dan harus mengikuti PLPG
ulang secara utuh dengan biaya sendiri.

2. Perlengkapan Peserta
Kelengkapan-kelengkapan yang perlu dibawa peserta, antara lain:
a. Perlengkapan Akademis
1) Peserta yang sudah masuk kuota sertifikasi guru wajib mempelajari kisi-
kisi materi PLPG dan UTN/UKG sesuai bidang sertifikasi masing-masing.
Kisi-kisi materi PLPG dan UTN/UKG dapat diunduh di laman:
www.gtk.kemdikbud.go.id. Mulai tahun 2016, Konsorsium Sertifikasi Guru
yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kemdikbud menyediakan sumber belajar yang dapat diunduh dalam laman:
www.gtk.kemdikbud.go.id. Oleh karena itu peserta yang sudah masuk kuota
dan para guru pada umumnya dapat mengunduh sumber belajar tersebut
sesuai dengan mata pelajaran atau bidang keahlian masing-masing dan
mempelajarinya.

17
2) Peserta yang dipanggil untuk mengikuti PLPG membawa peraturan-
peraturan yang terkait dengan implementasi kurikulum (misalnya
Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang kualifikasi dan kompetensi
guru, Permendiknas Nomor 22 s.d 24 Tahun 2006, Permendikbud Nomor
57-60 Tahun 2014), dan referensi yang relevan dengan bidang keilmuan
sertifikasi yang diikuti.
3) Guru kelas dan guru mata pelajaran membawa buku-buku pelajaran yang
sesuai dengan kurikulum yang berlaku pada sekolah masing-masing. Di
samping itu juga membawa dokumen perangkat pembelajaran, seperti
silabus, RPP, LKPD, dan instrumen evaluasi.
4) Guru BK membawa Permendiknas Nomor 27 tahun 2008 tentang Standar
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, Permendikbud Nomor 111
Tahun 2014 tentang bimbingan dan konseling pada pendidikan dasar dan
menengah, Permendikbud Nomor 64 Tahun 2014 tentang peminatan
peserta didik, pedoman dan/atau panduan bimbingan dan konseling yang
diterbitkan pemerintah, contoh tentang program BK, Rencana Pelaksanaan
Layanan/Satuan Layanan, instrumen BK, dan media layanan BK.
5) Peserta diperkenankan membawa laptop dan printer sejauh memperlancar
pelaksanaan PLPG. Jika membawa kedua alat tersebut, peserta diwajibkan
membawa konektor listrik (rol kabel) dan kertas HVS ukuran Folio (F4)
secukupnya untuk mencetak perangkat pembelajaran.
6) Media pembelajaran.
7) Kertas kerja (folio bergaris) dan alat tulis selama PLPG disediakan sendiri
oleh peserta.
b. Perlengkapan Umum:
1) Pakaian secukupnya (pakaian batik, hitam-putih, dinas, dan pakaian di luar
kegiatan kedinasan).
2) Obat-obatan bersifat pribadi diharapkan dibawa sendiri oleh peserta.

3. Fasilitas Pelaksanaan PLPG


a. Ruang aula untuk acara pembukaan, ujian, dan penutupan PLPG
b. Ruang kelas dengan kapasitas 30 orang
1) White board

18
2) OHP atau LCD
3) Meja dan kursi sejumlah peserta dan instruktur
4) Spidol white board
c. Ruang peer teaching
1) White board
2) Meja dan kursi sejumlah peserta dan instruktur
3) Spidol white board
d. Kamar tidur peserta
1) Kamar tidur kapasitas 2-4 orang peserta
2) Almari pakaian
3) Penerangan (lampu)
e. Lain-lain
1) Tempat parkir yang mencukupi
2) Kamar mandi yang mencukupi untuk seluruh peserta
3) WC/toilet yang berdekatan dengan tempat diklat
4) Keamanan yang terjamin

4. Pendaftaran Peserta
a. Peserta wajib melakukan pendaftaran kepada Panitia Pelaksana PLPG Sub
Rayon 138 di tempat pelatihan dan waktu yang telah ditentukan.
b. Pada saat pendaftaran, peserta wajib menyerahkan persyaratan pendaftaran,
yaitu:
1) Fotokopi SK pengangkatan sebagai guru (PNS dari Dinas Pendidikan;
Swasta dari Yayasan). Bagi GT yang bukan PNS pada sekolah swasta, SK
Pengangkatan dari yayasan minimum 2 tahun terakhir berturut-turut pada
yayasan yang sama dan Akte Notaris pendirian Yayasan dari Kementerian
Hukum HAM. Sedangkan GT bukan PNS pada sekolah negeri harus memiliki
SK pengangkatan sebagai guru honor tetap dengan gaji dari APBD dari
pejabat yang berwenang (Bupati/Walikota/Gubernur) minimum 2 tahun
terakhir berturut-turut;
2) Fotokopi ijazah terakhir yang telah dilegalisir.
3) Surat izin/tugas dari Kepala Sekolah/Kepala Dinas Pendidikan.
4) Surat keterangan sehat dari dokter pemerintah.

19
5) Pasfoto terbaru berwarna (enam bulan terakhir dan bukan polaroid)
ukuran 3x4 = 4 lembar; dan 4x6= 2 lembar. Bagi peserta yang lahir pada
tahun ganjil, background foto berwarna merah. Sedangkan peserta yang
lahir pada tahun genap, background foto berwarna biru. Pada bagian
belakang setiap pasfoto ditulis identitas peserta (nama, nomor peserta, dan
mapel (guru kelas untuk SD; mapel ... untuk guru SMP/SMA/SMK; BK untuk
guru BK).
6) Peserta wanita yang hamil harus ada surat izin dari suami. Apabila usia
kehamilan lebih dari 7 bulan atau lebih, peserta juga harus membawa surat
keterangan dokter yang menyatakan kondisi kehamilannya.
c. Setelah melakukan pendaftaran peserta akan mendapatkan :
1) Buku panduan/modul pelatihan PLPG Sub Rayon 138
2) Kartu identitas peserta PLPG Sub Rayon 138
3) Jadwal pelaksanaan PLPG
4) Kunci kamar (sesuai dengan kapasitas kamar tempat pelatihan)
d. Registrasi peserta PLPG dimulai pukul 08.30 s.d. 11.00 WIB

5. Tata Tertib
a. Pembelajaran/workshop/peer teaching
1) Peserta wajib mengikuti keseluruhan sesi mata diklat. Peserta yang
kehadirannya kurang dari 80% dinyatakan gugur, dan harus mengikuti
PLPG ulang secara utuh dengan biaya sendiri.
2) Peserta wajib menandatangani daftar hadir pada setiap sesi PLPG. Daftar
hadir disiapkan oleh Divisi PLPG - Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon 138.
3) Peserta wajib meminta izin kepada panitia apabila hendak meninggalkan
ruang atau lokasi pelatihan.
4) Peserta wajib sudah hadir paling lambat 10 menit sebelum sesi pelatihan
dimulai.
5) Selama diklat berlangsung, peserta dilarang mengaktifkan handphone
atau alat komunikasi lainnya.
b. Pakaian
Selama PLPG, semua peserta wajib berpakaian rapi dan sopan dengan
pengaturan sebagai berikut.

20
Hari ke-1,2 = Batik lengan panjang;
Hari ke-3,4 = Pria, pakaian bawah warna hitam dan pakaian atas warna
putih serta berdasi; Wanita, pakaian bawah warna hitam dan
pakaian atas warna putih;
Hari ke-5,6,7 = Pakaian dinas kerja;
Hari ke-8,9 = Pria, pakaian bawah warna hitam dan pakaian atas warna
putih serta berdasi; Wanita, pakaian bawah warna hitam dan
pakaian atas warna putih
Hari ke-10 = Batik lengan panjang.
Hari ke-11 = Pria, pakaian bawah warna hitam dan pakaian atas warna
putih serta berdasi; Wanita, pakaian bawah warna hitam dan
pakaian atas warna putih.
c. Akomodasi dan konsumsi
1) Peserta wajib menerima pengaturan tempat yang telah ditentukan oleh
panitia penyelenggara.
2) Apabila selama pelaksanaan PLPG peserta menerima tamu, peserta wajib
melaporkanya kepada panitia penyelenggara dan satpam. Penerimaan
tamu wajib dilakukan di sekretariat PLPG.
3) Selama PLPG berlangsung, makan pagi, makan siang, makan malam dan
snack (kudapan) disediakan oleh panitia. Pada hari pertama, Panitia tidak
menyediakan makan siang. Konsumsi (snack/kudapan) mulai disediakan
pada sore hari. Pada hari terakhir, konsumsi disediakan sampai dengan
makan siang.
d. Ujian
1) Peserta wajib hadir 15 menit sebelum ujian dimulai. Jika peserta terlambat
15 menit setelah ujian tersebut dimulai, kepadanya tidak diperkenankan
mengikuti ujian.
2) Peserta wajib membawa alat tulis secara mandiri
3) Peserta wajib mematuhi petunjuk-petunjuk yang ditetapkan oleh Divisi
PLPG - Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon 138.
4) Peserta dilarang membawa buku, kalkulator ataupun catatan lain dalam
kelas pada saat ujian berlangsung, kecuali ditentukan lain oleh Divisi PLPG
- Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon 138.

21
5) Peserta wajib menjaga ketenangan dan ketertiban selama ujian
berlangsung.
6) Peserta dilarang melakukan segala bentuk kecurangan seperti mencontek
atau bekerja sama dengan peserta ujian lainnya. Apabila terbukti
melakukan kecurangan, maka peserta akan dinyatakan GUGUR untuk ujian
yang dilaksanakan pada mata pelajaran tersebut.
7) Peserta wajib menonaktifkan alat komunikasi apapun selama ujian
berlangsung.
e. Tata Tertib di Wisma/Tempat Penginapan
1) Seluruh peserta wajib tinggal di wisma/tempat penginapan yang telah
disediakan oleh Divisi PLPG - Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon 138.
2) Peserta wajib berpakaian rapi, sopan, dan tidak mencolok selama berada
di wisma.
3) Peserta dilarang membuat kegaduhan yang dapat mengganggu penghuni
lainnya.
4) Peserta dilarang memasuki kamar peserta lain.
5) Peserta dilarang berada di luar kamar setelah pukul 23.00 WIB.
6) Peserta dilarang membawa minuman keras, narkoba, binatang peliharaan,
maupun hal-hal lain yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang
lain.
7) Bila ada keperluan untuk keluar area diklat, maka wajib izin Panitia PLPG.
8) Peserta yang akan meninggalkan penginapan sebelum PLPG selesai wajib
izin Divisi PLPG - Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon 138.
9) Peserta dilarang menerima tamu di dalam kamar.
10) Waktu makan dan snack (kudapan) bagi peserta sebagai berikut.
Makan pagi : 06.00 07.00 WIB
Snack : 09.30 09.50 WIB
Makan siang : 12.20 13.20 WIB
Snack : 15.50 16.20 WIB
Makan malam : 18.00 19.30 WIB
11) Peserta wajib menjaga kebersihan, ketertiban, ketenangan, dan sopan
santun selama tinggal di wisma

22
12) Peserta wajib melapor kepada panitia sebelum dan sesudah bertemu
dengan tamunya.
13) Peserta yang sakit dan perlu dibawa ke rumah sakit/balai pengobatan,
wajib segera melapor kepada panitia.
14) Peserta wajib mentaati segala ketentuan yang berlaku di lingkungan
wisma.
15) Hal-hal yang kurang jelas dan belum diatur dalam tata tertib ini akan
diinformasikan lebih lanjut.
f. Lain-lain
1) Peserta ikut bertanggung jawab atas kelancaran dan keberhasilan
pelaksanaan kegiatan PLPG
2) Panitia tidak menyediakan layanan jasa laundry atau telepon. Penggunaan
telepon oleh peserta ditanggung oleh peserta. Panitia akan memberikan
bantuan informasi tentang jasa laundry, travel, wartel, pemesanan tiket,
tempat belanja, dll.
3) Semua keperluan pribadi peserta di luar yang disediakan panitia,
sepenuhnya menjadi tanggung jawab peserta sendiri.
4) Peserta diklat diharapkan ikut menjaga dan memupuk suasana
kekeluargaan selama kegiatan berlangsung.

6. Tempat Pelaksanaan PLPG

No. Alamat Registrasi


LPMP, Jl. BPG Raya, Tirtomartani, Kalasan,
1 Yogyakarta (0274) 496921/497002 Hari H
Pukul:
Hotel Cailendra, Jl. Tamansiswa 91, Yogyakarta
2 08.30 -11.00 WIB
(0274) 373761

Catatan:
1. Registrasi dilaksanakan pada hari H pelaksanaan.
2. Dalam hal khusus, ada kemungkinan perubahan/penambahan tempat
pelaksanaan PLPG
Ketentuan lain yang belum tercantum dalam ketentuan ini dapat ditanyakan pada
saat registrasi atau check in.

23
7. Penutup
Terima kasih banyak atas partisipasinya dalam PLPG ini. Semoga kesempatan ini
dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para guru untuk memperluas pengetahuan
dan wawasan dalam meningkatan mutu pembelajaran. Jika ada hal-hal yang belum
jelas, silahkan menghubungi panitia PLPG Sub Rayon 138.

Yogyakarta, Oktober 2016

Divisi PLPG Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon 138

24
LAMPIRAN-LAMPIRAN

25
INSTRUMEN PENILAIAN PROSES WORKSHOP
(IPPW)

Nama yang Dinilai : ..........................................................................................................


Mata Pelajaran : ..........................................................................................................
Waktu : ................................. Tempat : ..................................................
Petunjuk :
Berilah skor pada butir-butir penilaian proses workshop dengan cara melingkari angka pada
kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1 = sangat tidak baik; 2 = tidak
baik; 3 = kurang baik; 4 = baik; 5 = sangat baik

No. Aspek yang dinilai Skor


Tanggung jawab (sanggup menyelesaikan tugas sesuai dengan ketentuan,
1. 12345
misal: melaksanakan pembelajaran dengan baik dan sesuai jadwal)
2. Kemandirian (tidak tergantung pada teman lainnya) 12345
Kejujuran (menyampaikan sesuatu apa adanya, misal: tidak mengaku
3. 12345
buatannya, bila dia memang tidak membuat produk itu)
Kedisiplinan (kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, misal mulai dan
4. 12345
mengakhiri kegiatan pembelajaran sesuai dengan jadwal)
Etos kerja (komitmen dan semangat dalam melaksanakan tugas, misal yang
5. memiliki etos kerja tinggi, bersemangat melaksanakan dan mentaati 12345
kaidah-kaidah dalam tugas)
Inovasi dan kreativitas (kemampuan dan kemauan untuk mengadakan
pembaharuan melalui olah pikirnya, misal selalu berusaha menggunakan
6. 12345
alam sekitar dan bahan-bahan yang ada di sekitarnya dalam proses
pembelajaran di kelas)
Kemampuan berkomunikasi (dapat menyampaikan ide-idenya dengan
7. bahasa yang baik dan dapat dipahami oleh sasaran, misal: dalam keseharian 12345
dapat berkomunikasi secara baik dengan sejawat)
8. Kemampuan bekerjasama 12345
SKOR TOTAL
.................... , ................... 2016
Penilai,

( .............................................. )
NIP/NIK ............................................

26
INSTRUMEN PENILAIAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
(IPPP-1)

Nama yang Dinilai : ..........................................................................................................


No. Peserta : ..........................................................................................................
Waktu : ................................. Tempat : ..................................................

Petunjuk
Berilah skor pada butir-butir pelaksanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka
pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1 = sangat tidak
baik; 2 = tidak baik; 3 kurang baik; 4 = baik; 5 = sangat baik

NO INDIKATOR/ASPEK YANG DIAMATI SKOR

I PRAPEMBELAJARAN
1. Mempersiapkan siswa untuk belajar 1 2 3 45
2. Melakukan kegiatan apersepsi 1 2 3 45

II KEGIATAN INTI PEMBELAJARAN


A. Penguasaan materi pelajaran
3. Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran 1 2 3 4 5
4. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan 1 2 3 4 5
5. Menyampaikan materi dengan jelas, sesuai dengan hierarki
1 2 3 4 5
belajar dan karakteristik siswa
6. Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan 1 2 3 4 5

B. Pendekatan/strategi pembelajaran
7. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan)
1 2 3 4 5
yang akan dicapai dan karakaterstik siswa
8. Melaksanakan pembelajaran secara runtut 1 2 3 4 5
9. Menguasai kelas 1 2 3 4 5
10. Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual 1 2 3 4 5
11. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya
1 2 3 4 5
kebiasaan positif
12. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang
1 2 3 4 5
direncanakan

27
C. Pemanfaatan sumber belajar /media pembelajaran
13. Menggunakan media secara efektif dan efisien 1 2 3 4 5
14. Menghasilkan pesan yang menarik 1 2 3 4 5
15. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media 1 2 3 4 5

D. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa


16. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran 1 2 3 4 5
17. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons siswa 1 2 3 4 5
18. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme siswa dalam belajar 1 2 3 4 5

E. Penilaian proses dan hasil belajar


19. Memantau kemajuan belajar selama proses 1 2 3 4 5
20. Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan) 1 2 3 4 5

F. Penggunaan bahasa
21. Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, baik, dan benar 1 2 3 4 5
22. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai 1 2 3 4 5

III PENUTUP
23. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan
1 2 3 4 5
siswa
24. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan, atau
1 2 3 4 5
kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan
Total Skor

Dengan ini saya menyatakan bahwa penilaian yang saya lakukan sesuai dengan
kondisi peserta yang sebenarnya, dan apabila di kemudian hari ternyata pernyataan
saya tidak benar, saya bersedia mempertanggungjawabkannya.

................................., ............................... 2016


Penilai I, Penilai II,

...................................................................... ...................................................................
NIP/NIP: ......................................... NIP/NIK: .........................................

28
INSTRUMEN PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(IPPP)

A. Nama Peserta : ..........................................................................................................


B. Asal Sekolah : ..........................................................................................................
C. No. Peserta : ..........................................................................................................

Petunjuk
Berilah skor pada butir-butir pelaksanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka
pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1 = sangat tidak
baik; 2 = tidak baik; 3 kurang baik; 4 = baik; 5 = sangat baik

NO INDIKATOR/ASPEK YANG DIAMATI SKOR

I PRAPEMBELAJARAN
1. Mempersiapkan siswa untuk belajar 1 2 3 45
2. Melakukan kegiatan apersepsi 1 2 3 45

II KEGIATAN INTI PEMBELAJARAN


A. Penguasaan materi pelajaran
3. Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran 1 2 3 4 5
4. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan 1 2 3 4 5
5. Menyampaikan materi dengan jelas, sesuai dengan hierarki
1 2 3 4 5
belajar dan karakteristik siswa
6. Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan 1 2 3 4 5

B. Pendekatan/strategi pembelajaran
7. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan)
1 2 3 4 5
yang akan dicapai dan karakaterstik siswa
8. Melaksanakan pembelajaran secara runtut 1 2 3 4 5
9. Menguasai kelas 1 2 3 4 5
10. Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual 1 2 3 4 5
11. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya
1 2 3 4 5
kebiasaan positif
12. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang
1 2 3 4 5
direncanakan

C. Pemanfaatan sumber belajar /media pembelajaran


13. Menggunakan media secara efektif dan efisien 1 2 3 4 5

29
NO INDIKATOR/ASPEK YANG DIAMATI SKOR

14. Menghasilkan pesan yang menarik 1 2 3 4 5


15. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media 1 2 3 4 5

D. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa


16. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran 1 2 3 4 5
17. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons siswa 1 2 3 4 5
18. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme siswa dalam belajar 1 2 3 4 5

E. Penilaian proses dan hasil belajar


19. Memantau kemajuan belajar selama proses 1 2 3 4 5
20. Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan) 1 2 3 4 5

F. Penggunaan bahasa
21. Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, baik, dan benar 1 2 3 4 5
22. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai 1 2 3 4 5

III PENUTUP
23. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan
1 2 3 4 5
siswa
24. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan, atau
1 2 3 4 5
kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan
Total Skor

Dengan ini saya menyatakan bahwa penilaian yang saya lakukan sesuai dengan
kondisi peserta yang sebenarnya, dan apabila di kemudian hari ternyata pernyataan
saya tidak benar, saya bersedia mempertanggungjawabkannya.

................................., ............................... 2016


Penilai I, Penilai II,

...................................................................... ...................................................................
NIP/NIP: ......................................... NIP/NIK: .........................................

30
INSTRUMEN PENILAIAN PERENCANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING
(IPPBK)

A. Nama Peneliti : ......................................................................................................................................................


B. No. Peserta : ......................................................................................................................................................
C. Asal Sekolah : ......................................................................................................................................................

Petunjuk :
Berilah skor pada butir-butir perencanaan bimbingan dan konseling dengan cara
melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1 =
sangat tidak baik, 2 = tidak baik , 3 = kurang baik, 4 = baik, 5 = sangat baik

NO. ASPEK PROGRAM SKOR

1. DASAR PEMIKIRAN
a. Menggambarkan kebutuhan konseli 1 2 3 4 5
b. Berpijak pada kebijakan sekolah dan sistem pendidikan nasional 1 2 3 4 5

c. Mengacu pada hasil evaluasi penyelenggaraan layanan BK


1 2 3 4 5
sebelumnya
d. Sesuai dengan kekuatan dan kelemahan sekolah 1 2 3 4 5
Skor Sub Total
2. TUJUAN PROGRAM
a. Mengarah pada pencapaian perkembangan konseli secara optimal 1 2 3 4 5

b. Menunjang pencapaian tujuan institusi sekolah dan pendidikan


1 2 3 4 5
nasional
c. Bersifat ideal dan secara realistis dapat dicapai 1 2 3 4 5
d. Mencakup tujuan umum dan tujuan khusus 1 2 3 4 5
Skor Sub Total

3. BIDANG LAYANAN
a. Mencakup seluruh aspek perkembangan konseli 1 2 3 4 5
b. Menggambarkan kebutuhan layanan seluruh konseli 1 2 3 4 5
c. Keseimbangan layanan antara pribadi, sosial, belajar dan karir 1 2 3 4 5
Skor Sub Total

31
NO. ASPEK PROGRAM SKOR

4. STRATEGI LAYANAN
a. Relevan dengan tujuan dan bidang layanan 1 2 3 4 5
b. Realistis untuk dapat dilaksanakan 1 2 3 4 5
c. Menggambarkan kekinian yang memungkinkan diapresiasi konseli 1 2 3 4 5
d. Ditunjang dengan perlengkapan dan media yang memadai 1 2 3 4 5
Skor Sub Total
5. PERSONEL LAYANAN
a. Menggambarkan kompetensi/keahlian dan kewenangan layanan 1 2 3 4 5
b. Memadai untuk melaksanakan tugas layanan 1 2 3 4 5
c. Menggambarkan tanggungjawab seluruh personel sekolah 1 2 3 4 5
d. Menggambarkan koordinasi dan komunikasi layanan 1 2 3 4 5
Skor Sub Total
6. WAKTU PELAKSANAAN LAYANAN
a. Sesuai dengan kalender akademik sekolah 1 2 3 4 5
b. Memiliki keseimbangan antar layanan 1 2 3 4 5
c. Realistis dan sesuai dengan kebutuhan konseli dan sekolah 1 2 3 4 5
d. Terjadwal dengan baik 1 2 3 4 5
Skor Sub Total
7. FASILITAS PENDUKUNG 1 2 3 4 5
a. Kejelasan kebutuhan anggaran dan sumber pembiayaannya 1 2 3 4 5

b. Kesediaan tempat penyelenggaraan bimbingan dan konseling secara


1 2 3 4 5
memadai
c. Ketersediaan perlengkapan layanan sesuai kebutuhan 1 2 3 4 5
d. Kelengkapan bahan pustaka secara memadai 1 2 3 4 5
Skor Sub Total

32
NO. ASPEK PROGRAM SKOR

8. RENCANA EVALUASI 1 2 3 4 5
a. Evaluasi BK dilakukan terhadap program, proses dan hasil layanan 1 2 3 4 5
b. Memiliki kejelasan tujuan dan aspek evaluasi 1 2 3 4 5
c. Memiliki kejelasan metode dan waktu evaluasi 1 2 3 4 5
d. Melibatkan personel yang memiliki keahlian dan kewenangan 1 2 3 4 5
e. Dijadikan sebagai bahan pengembangan program BK selanjutnya 1 2 3 4 5
Skor Sub Total

JUMLAH SKOR TOTAL

NILAI = SKOR TOTAL x 100 =


160
Komentar/ Catatan:
..........................................................................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................................................................

................................., ............................... 2016


Penilai I, Penilai II,

...................................................................... ......................................................................
NIA NIA

33
INSTRUMEN PENILAIAN
RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL
(IPRPLKI)

A. Nama Peneliti : ......................................................................................................................................................


B. No. Peserta : ......................................................................................................................................................
C. Asal Sekolah : ......................................................................................................................................................
D. Penilaian : Workshop

Petunjuk :
Berilah skor pada butir-butir perencanaan pelaksanaan layanan konseling individual
dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai
berikut: 1 = sangat tidak baik, 2 = tidak baik , 3 = kurang baik, 4 = baik, 5 = sangat baik

ASPEK LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL SKOR

1. RUMUSAN TUJUAN
a. Ketepatan perumusan tujuan layanan konseling 1 2 3 4 5
b. Relevansi tujuan dengan permasalahan konseli 1 2 3 4 5
SKOR SUB TOTAL
2. RUMUSAN MASALAH
a. Ketepatan dalam mendeskripsikan masalah yang dialami konseli 1 2 3 4 5
b. Ketepatan dalam menentukan penyebab terjadinya masalah konseli 1 2 3 4 5
c. Ketepatan dalam mendeskripsikan kekuatan dan kelemahan konseli 1 2 3 4 5
SKOR SUB TOTAL
3. TEKNIK PEMECAHAN MASALAH
a. Ketepatan pemilihan teknik konseling sesuai dengan masalah konseli 1 2 3 4 5

b. Relevansi pemilihan teknik konseling dengan tujuan pemecahan


1 2 3 4 5
masalah
SKOR SUB TOTAL

ASPEK LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL SKOR

4. TAHAP KEGIATAN KONSELING

Kejelasan dan keterarahan rumusan aktivitas yang akan dilakukan


1 2 3 4 5
konselor dalam setiap langkah :
a. Pembukaan (kejelasan dan keterarahan aktivitas konselor dengan 1 2 3 4 5

34
ASPEK LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL SKOR

tujuan tahap pembukaan)


b. Transisi (kejelasan dan keterarahan aktivitas konselor dengan
1 2 3 4 5
tujuan tahap transisi)
c. Inti (kejelasan dan keterarahan intervensi yang akan digunakan
konselor untuk mengubah perilaku konseli dalam mencapai 1 2 3 4 5
tujuan yang telah ditetapkan)
d. Penutupan (kejelasan keterarahan kegiatan konselor dengan
tujuan tahap penutupan, meliputi: merangkum, refleksi, 1 2 3 4 5
memberikan penguatan, dan tindak lanjut)
SKOR SUB TOTAL

5. RENCANA EVALUASI KONSELING

a. Relevansi rumusan evaluasi dengan tujuan konseling 1 2 3 4 5


b. Relevansi rumusan evaluasi dengan tahapan aktivitas konseling 1 2 3 4 5
c. Kejelasan kriteria keberhasilan konseling 1 2 3 4 5
d. Kejelasan tindak lanjut setelah konseling 1 2 3 4 5
SKOR SUB TOTAL

SKOR TOTAL

NILAI = SKOR TOTAL x 100 =


80
Komentar/ Catatan:
..............................................................................................................................................................................................
..............................................................................................................................................................................................

................................., ............................... 2016


Penilai I, Penilai II,

...................................................................... ......................................................................
NIA NIA

35
INSTRUMEN PENILAIAN
RENCANA LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK ATAU KLASIKAL
(IPRLBK)

A. Nama Peserta : .............................................................................................................................................


B. No. Peserta : .............................................................................................................................................
C. Asal Sekolah : .............................................................................................................................................
D. Penilaian : Workshop

Petunjuk :
Berilah skor pada butir-butir perencanaan pelaksanaan layanan konseling individual
dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai
berikut: 1 = sangat tidak baik, 2 = tidak baik , 3 = kurang baik, 4 = baik, 5 = sangat baik

ASPEK LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL SKOR

1. Relevansi Topik dengan Kebutuhan atau kompetensi konseli 1 2 3 4 5


2. Ketepatan perumusan tujuan pelayanan 1 2 3 4 5
3. Relevansi teknik/metode dengan tujuan bimbingan 1 2 3 4 5
4. Relevansi alat dan media dengan topik bimbingan 1 2 3 4 5
5. Kejelasan dan keterarahan rumusan aktivitas yang dilakukan oleh guru BK
dalam setiap langkah:
a. Pembukaan (kejelasan dan keterarahan aktivitas guru BK dengan
1 2 3 4 5
tujuan tahap pembukaan)
b. Transisi (kejelasan dan keterarahan aktivitas guru BK dengan tujuan
1 2 3 4 5
tahap transisi)
c. Inti (kejelasan dan keterarahan intervensi yang akan digunakan oleh
guru BK untuk mengubah perilaku konseli dalam mencapai tujuan yang 1 2 3 4 5
telah ditetapkan)
d. Penutupan (kejelasan keterarahan kegiatan guru BK dengan tujuan
tahap penutupan, meliputi: merangkum, refleksi, memberikan 1 2 3 4 5
penguatan, dan tindak lanjut)
6. Kelengkapan RPLBK (sumber materi/referensi, dukungan alat bantu,
1 2 3 4 5
dukungan data/pemetaan kebutuhan konseli)

36
ASPEK LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL SKOR

7. Orisinalitas dan kreativitas dalam melakukan persiapan/menyusun RPLBK


1 2 3 4 5

Jumlah Total

NILAI= SKOR TOTAL x 100 =


50

Komentar/ Catatan:
.................................................................................................................................................................................................
.................................................................................................................................................................................................

................................., ............................... 2016


Penilai I, Penilai II,

...................................................................... ......................................................................
NIA NIA

37
INSTRUMEN PENILAIAN
LAPORAN PENYELENGGARAAN BIMBINGAN DAN KONSELING
(IPLPBK)

A. Nama Peserta : .............................................................................................................................................


B. No. Peserta : .............................................................................................................................................
C. Asal sekolah : .............................................................................................................................................

Petunjuk :
Berilah skor pada butir-butir perencanaan pelaksanaan layanan konseling individual
dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai
berikut: 1 = sangat tidak baik, 2 = tidak baik , 3 = kurang baik, 4 = baik, 5 = sangat baik

NO ASPEK LAPORAN SKOR

1. DAFTAR KONSELI

a. Kejelasan kelas bimbingan 1 2 3 4 5


b. Kejelasan jumlah dan daftar konseli yang dibimbing 1 2 3 4 5
Skor Sub Total

2. KEBUTUHAN PERKEMBANGAN DAN PERMASALAHAN KONSELI

a. Tersedianya data kebutuhan konseli 1 2 3 4 5


b. Tersedianya data kebutuhan konseli secara komprehensif 1 2 3 4 5
c. Data kebutuhan konseli berdasarkan hasil pengukuran 1 2 3 4 5
Skor Sub Total

3. PROGRAM BK SEKOLAH

a. Ketersediaan program BK tahunan/semesteran 1 2 3 4 5


b. Ketersediaan rencana kegiatan secara umum 1 2 3 4 5
c. Ketersediaan rencana pelaksanaan layanan BK 1 2 3 4 5
Skor Sub Total

38
NO ASPEK LAPORAN SKOR

4. PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN TAHUNAN/SEMESTERAN

a. Ketersediaan layanan bimbingan dan konseling secara individual dan


1 2 3 4 5
kelompok serta klasikal
b. Ketersediaan layanan bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir 1 2 3 4 5
c. Semua aktivitas layanan terjadwal 1 2 3 4 5
d. Tergambarkan aktivitas yang sudah dan belum terlaksana 1 2 3 4 5
Skor Sub Total
5. DUKUNGAN DAN HAMBATAN PELAKSANAAN
Terungkapnya dukungan dan hambatan penyelenggaraan program 1 2 3 4 5
Skor Sub Total
6. HASIL LAYANAN
a. Deskripsi hasil kegiatan yang dapat dicapai 1 2 3 4 5

b. Keberhasilan yang diperoleh berkaitan dengan keutuhan kompetensi


1 2 3 4 5
konseli
Skor Sub Total
7. TINDAK LANJUT
a. Kejelasan tindak lanjut dalam pengembangan program 1 2 3 4 5
b. Tindak lanjut dalam perbaikan ketenagaan 1 2 3 4 5
c. Tindak lanjut dalam perbaikan layanan 1 2 3 4 5
d. Tindak lanjut dalam perbaikan fasilitas 1 2 3 4 5
e. Tindak lanjut dalam proporsi bidang dan waktu kegiatan 1 2 3 4 5
Skor Sub Total

8. DOKUMEN LAPORAN (BUKTI FISIK)


a. Semua rencana kegiatan terdokumenkan 1 2 3 4 5
b. Semua kegiatan bimbingan dan konseling terdokumenkan 1 2 3 4 5
c. Semua hasil kegiatan bimbingan dan konseling terdokumenkan 1 2 3 4 5
d. Semua laporan didistribusikan kepada pihak-pihak yang
1 2 3 4 5
berkepentingan
Skor Sub Total

JUMLAH SKOR TOTAL

39
NILAI= SKOR TOTAL x 100 =
120

Komentar/ Catatan:
.................................................................................................................................................................................................
.................................................................................................................................................................................................

................................., ............................... 2016


Penilai I, Penilai II,

...................................................................... ......................................................................
NIA NIA

40
INSTRUMEN PENILAIAN
PRAKTIK KONSELING INDIVIDUAL
(IPPKIN)

A. Nama Peserta : .............................................................................................................................................


B. No. Peserta : .............................................................................................................................................
C. Asal Sekolah : .............................................................................................................................................

Petunjuk :
Berilah skor pada butir-butir perencanaan pelaksanaan layanan konseling individual
dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai
berikut: 1 = sangat tidak baik, 2 = tidak baik , 3 = kurang baik, 4 = baik, 5 = sangat baik

No. KETERAMPILAN KONSELING INDIVIDUAL SKOR

A. ATTENDING (PERHATIAN)
1. MEMBANGUN HUBUNGAN

a. Menunjukkan empati terhadap kebutuhan konseli 1 2 3 4 5


b. Mengkomunikasikan rasa hormat kepada konseli 1 2 3 4 5
c. Menyampaikan kata-kata penerimaan (pembukaan) ketika konseli
1 2 3 4 5
datang
d. Mengkomunikasikan peran konselor 1 2 3 4 5
e. Menyampaikan tujuan konseling kepada konseli 1 2 3 4 5
f. Menemukan kebutuhan-kebutuhan konseli secara konkrit 1 2 3 4 5
Skor Sub Total
2. MEMPOSISIKAN DUDUK
a. Mengatur posisi dan jarak duduk 1 2 3 4 5
b. Mengatur kecondongan duduk secara santai 1 2 3 4 5
c. Melakukan kontak mata 1 2 3 4 5
d. Mengatur gerakan tangan dan kaki 1 2 3 4 5
e. Melakukan sentuhan yang diperlukan untuk memberikan rasa
1 2 3 4 5
nyaman kepada konseli
Skor Sub Total

41
3. MENGAMATI

a. Menunjukkan pemahaman terhadap gerakan tubuh konseli 1 2 3 4 5


b. Menunjukkan pemahaman terhadap ekspresi konseli 1 2 3 4 5
c. Menunjukkan pemahaman terhadap pikiran konseli melalui ekspresi
1 2 3 4 5
wajah dan gerakan tubuh konseli
Skor Sub Total
4. MENDENGARKAN

a. Memfokuskan perhatian pada pembicaraan konseli tentang


1 2 3 4 5
peristiwa dialaminya
b. Memfokuskan pada proses terjadinya peristiwa yang dialami konseli 1 2 3 4 5
c. Memperhatikan saat konseli berbicara 1 2 3 4 5
Skor Sub Total
B. RESPONDING

1. MERESPON TERHADAP ISI

a. Merespon pernyataan konseli berdasarkan urutan kepentingan


1 2 3 4 5
secara kronologis
b. Merespon pernyataan konseli berdasarkan sebab akibat 1 2 3 4 5
c. Memfasilitasi konseli untuk mengeksplorasi isi pembicaraan 1 2 3 4 5
Skor Sub Total
2. MERESPON PERASAAN

a. Merespon perasaan konseli melalui pikiran konseli 1 2 3 4 5


b. Merespon perasaan konseli melalui pengalaman konseli 1 2 3 4 5
Skor Sub Total
3. MERESPON MAKNA

a. Memberi respon terhadap perasaan dan pikiran konseli 1 2 3 4 5


b. Memberikan respon terhadap perasaan konseli dengan memberikan
1 2 3 4 5
alasan penyebab terjadinya perasaan itu
Skor Sub Total
C. PERSONALIZING (MEMPERSONALISASIKAN MASALAH DAN TUJUAN)

1 Mempersonalisasikan kekurangan-kekurangan yang ada pada konseli 1 2 3 4 5

42
Mempersonalisasikan keadaan (masalah) yang dialami konseli karena
2 1 2 3 4 5
tidak memiliki kemampuan tertentu
Merumuskan kekurangan konseli dan sekaligus menunjukkan keinginan
3 1 2 3 4 5
konseli untuk melakukan sesuatu
Skor Sub Total

No. KETERAMPILAN KONSELING INDIVIDUAL SKOR

D. INITIATING (MENGINISIASI KEGIATAN KONSELI)

Merumuskan kegiatan atau langkah-langkah yang akan dilakukan


1 1 2 3 4 5
konseli
Mengembangkan langkah-langkah awal/menengah/akhir yang akan
2 1 2 3 4 5
dilakukan konseli
Menetapkan waktu untuk memulai melakukan kegiatan (langkah-
3 1 2 3 4 5
langkah) awal
Bersama-sama dengan konseli menetapkan waktu pertemuan untuk
4 1 2 3 4 5
memonitor langkah-langkah yang akan dilakukan konseli
Memberikan penguatan positif/negatif terhadap konseli untuk
5 1 2 3 4 5
melakukan rencana kegiatannya
Skor Sub Total

SKOR TOTAL

NILAI= SKOR TOTAL x 100 =


160
Komentar/ Catatan:
.................................................................................................................................................................................................
.................................................................................................................................................................................................

................................., ............................... 2016


Penilai I, Penilai II,

...................................................................... ......................................................................
NIA NIA

43
INSTRUMEN PENILAIAN PRAKTIK PELAKSANAAN LAYANAN
BIMBINGAN KELOMPOK ATAU KLASIKAL
(IP3LBK)

A. Nama Peneliti : .............................................................................................................................................


B. No. Peserta : .............................................................................................................................................
C. Asal Sekolah : .............................................................................................................................................

Petunjuk :
Berilah skor pada butir-butir pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan koseling
dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai
berikut.
1 = sangat tidak baik
2 = tidak baik
3 = kurang baik
4 = baik
5 = sangat baik

ASPEK LAYANAN BIMBINGAN SKOR

1. TAHAP PEMBENTUKAN
a. Mengungkapkan tujuan kegiatan layanan bimbingan 1 2 3 4 5
b. Menjelaskan cara-cara pelaksanaan layanan yang akan ditempuh 1 2 3 4 5
c. Menjelaskan asas-asas kegiatan bimbingan 1 2 3 4 5
d. Memfasilitasi terjadinya pengungkapan diri para anggota 1 2 3 4 5
e. Keterlaksanaan kegiatan penghangatan/pengakraban 1 2 3 4 5

f. Menampilkan kehormatan kepada konseli (hangat, tulus, bersedia


1 2 3 4 5
membantu dan penuh empati)
Skor Sub Total
2. TAHAP PERALIHAN/TRANSISI
a. Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya 1 2 3 4 5
b. Memelihara suasana kelompok agar tetap semangat, kompak dan
1 2 3 4 5
fokus pada tujuan
c. Menerima perbedaan konseli secara terbuka 1 2 3 4 5

44
ASPEK LAYANAN BIMBINGAN SKOR

d. Memfasilitasi terjadinya perubahan suasana interaksi antar anggota


1 2 3 4 5
kelompok
Skor Sub Total

3. TAHAP KEGIATAN INTI (PERUBAHAN PERILAKU)

a. Kemampuan mendorong anggota untuk berbagi pemikiran dan


1 2 3 4 5
pengalaman

b. Kemampuan untuk mengendalikan diri; tidak mengambil alih


1 2 3 4 5
permasalahan kesulitan yang ditemukan oleh konseli
c. Kemampuan mengatur lalu lintas kegiatan secara terarah 1 2 3 4 5
d. Kemampuan memotivasi anggota kelompok untuk aktif terlibat 1 2 3 4 5

e. Kemampuan menggunakan teknik intervensi yang relevan dengan


1 2 3 4 5
perubahan perilaku yang diharapkan

f. Kemampuan mengendalikan diri (aktif tetapi tidak mendominasi


1 2 3 4 5
pembicaraan)
Skor Sub Total
4. TAHAP PENUTUPAN

a. Memberitahukan kegiatan akan segera diakhiri 1 2 3 4 5


b. Kemampuan merangkum proses dan hasil-hasil kegiatan 1 2 3 4 5
c. Membahas kegiatan lanjutan yang dipandang perlu 1 2 3 4 5
d. Mengemukakan pesan dan harapan 1 2 3 4 5

Skor Sub Total

SKOR TOTAL

NILAI= SKOR TOTAL x 100 =


100

Komentar/ Catatan:
..............................................................................................................................................................................................
..............................................................................................................................................................................................

................................., ............................... 2016


Penilai I, Penilai II,

...................................................................... ......................................................................
NIA NIA

45
PANDUAN DAN TATA TERTIB PESERTA
PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG) 2016 SUB RAYON 138
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA & UNIVERSITAS SANATA DHARMA

A. KETENTUAN UMUM
1. Peserta PLPG
a. Peserta PLPG adalah guru yang diangkat sampai dengan 30 Desember 2015
dengan persyaratan sebagai berikut: 1) guru di bawah Kemendikbud yang belum
memiliki sertifikat pendidik; 2) memiliki NUPTK; 3) memiliki kualifikasi akademik S-
1 atau D-IV; 4) status guru tetap dibuktikan dengan SK sebagai guru PNS/Guru
Tetap (GT) dan bagi GT yang bukan PNS pada sekolah swasta, SK Pengangkatan
dari yayasan minimum 2 tahun terakhir berturut-turut pada yayasan yang sama
dan Akte Notaris pendirian Yayasan dari Kementerian Hukum HAM. Sedangkan GT
bukan PNS pada sekolah negeri harus memiliki SK pengangkatan sebagai guru
honor tetap dengan gaji dari APBD dari pejabat yang berwenang
(Bupati/Walikota/Gubernur) minimum 2 tahun terakhir berturut-turut; 5) Masih
aktif mengajar dibuktikan dengan memiliki SK pembagian tugas mengajar dari
kepala sekolah 2 tahun terakhir (bagi guru yang linier kualifikasi akademik dengan
bidang studi sertifikasi melampirkan SK terakhir); 6) Guru yang sudah memiliki
sertifikat pendidik dengan kondisi sebagai berikut: (a) Guru PNS yang sudah
dimutasi sebagai tindak lanjut dari Peraturan Bersama Menteri Pendidikan
Nasional, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama, (b) Guru
PNS/guru tetap non PNS yang memerlukan penyesuaian sebagai akibat
perubahan kurikulum; 7) Pada tanggal 1 Januari 2017 belum memasuki usia 60
tahun; 8) Telah mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) Tahun 2015; 9) Sehat
jasmani dan rohani dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari dokter
pemerintah; 10) Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas dengan
ketentuan diangkat menjadi pengawas satuan pendidikan sebelum berlakunya
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.
b. Peserta yang tidak memenuhi panggilan PLPG tanpa memberikan alasan yang
kuat dan surat izin dari dinas pendidikan akan dinyatakan tidak lulus.
c. Peserta wajib mengikuti keseluruhan sesi mata diklat. Peserta yang kehadirannya
kurang dari 80% dinyatakan gugur, dan harus mengikuti PLPG ulang secara utuh
dengan biaya sendiri.

2. Struktur Kurikulum PLPG 2016

Guru Kelas/Guru Mapel Guru Bimbingan Konseling


No. Materi No. Materi
A. Umum
1 Kebijakan Pengembangan Profesi 1 Pengembangan Profesionalisme
Guru Guru

1
B. Pokok
1 Pendalaman Materi Pedagogik 1 Pendalaman Materi Pedagogik
2 Pendalaman Materi Bidang Studi 2 Pendalaman Materi Bidang Studi
C. Workshop
1 Pengembangan Perangkat 1 Pengembangan Perangkat
Pembelajaran Berdasarkan Hasil Pelayanan BK Berdasarkan Hasil
Analisis Kurikulum yang Berlaku Analisis Kurikulum yang Berlaku
D. Praktik Pembelajaran D. Praktik BK
1 Pelaksanaan Pembelajaran (Peer 1 Pelaksanaan Praktik (Peer Guidance
Teaching) and Counseling)
E. Ujian
1 UTL 1 UTL
2 Kinerja 2 Kinerja

3. Pelaksanaan PLPG
a. PLPG diselenggarakan selama 10 hari dan bobot 90 Jam Pembelajaran (JP), dengan
alokasi waktu 38 JP (42,2%) teori, 40 JP (44,4%) praktik, dan 12 JP (13,4%) ujian.
Satu JP setara dengan 50 menit.
b. Satu rombel terdiri atas 30 peserta, dan satu kelompok peer teaching/peer
guidance and counseling terdiri atas 10 peserta. Dalam kondisi tertentu jumlah
peserta satu rombel atau kelompok peer teaching/peer guidance and counseling
dapat disesuaikan.

4. Uji Kompetensi
a. Uji kompetensi dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu (1) ujian akhir PLPG yang
meliputi uji kinerja dan uji tulis LPTK (UTL) dan (2) uji kompetensi guru (UKG)
dalam bentuk uji tulis nasional (UTN). Kelulusan ujian akhir PLPG merupakan
prasyarat untuk mengikuti UTN. Kedua tahap uji kompetensi tersebut tidak
sekedar mengevaluasi hasil belajar peserta selama PLPG, tetapi lebih kepada
pengukuran kompetensi guru sebagai pendidik profesional. Peserta yang lulus uji
kompetensi merupakan guru profesional yang memenuhi standar kompetensi
sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005.
b. Ujian akhir PLPG dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut.
1) Penentuan kelulusan peserta PLPG dilakukan secara objektif dan didasarkan
pada rambu-rambu penilaian yang telah ditentukan.
2) Peserta yang lulus pada ujian akhir PLPG dapat mengikuti UTN, sedangkan
peserta yang tidak lulus diberi kesempatan untuk mengikuti 2 (dua) kali ujian
ulang pada tahun berjalan.
3) Bagi peserta yang belum lulus pada ujian ulang akhir PLPG kedua, diberi
kesempatan mengulang pada tahun berikutnya sebanyak 4 (empat) kali selama
dua tahun setelah melaksanakan peningkatan kompetensi secara mandiri.
4) UTN dilaksanakan secara daring (dalam jejaring/online) dan diikuti oleh
peserta yang telah lulus PLPG.
5) Penentuan kelulusan ujian akhir PLPG ditentukan dengan rumus dan
ketentuan sebagai berikut.

SAP = 0,3SUT + 0,4SUK + 0,3SWS

2
Keterangan:
SAP: Skor Akhir PLPG; SUT: Skor Uji Tulis; SUK: Skor Uji Kinerja; SWS: Skor Workshop
Ketentuan:
Menggunakan penilaian acuan kriteria (PAP)
SAP minimal 70; SUT minimal 70; SUK minimal 76

B. PERLENGKAPAN PESERTA
Kelengkapan-kelengkapan yang perlu dibawa peserta, antara lain:
1. Perlengkapan Akademis
a. Peserta yang sudah masuk kuota sertifikasi guru wajib mempelajari kisi-kisi materi
PLPG dan UTN/UKG sesuai bidang sertifikasi masing-masing. Kisi-kisi materi PLPG
dan UTN/UKG dapat diunduh di laman: www.gtk.kemdikbud.go.id. Mulai tahun
2016, Konsorsium Sertifikasi Guru yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Guru
dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud menyediakan sumber belajar yang dapat
diunduh dalam laman: www.gtk.kemdikbud.go.id. Oleh karena itu peserta yang
sudah masuk kuota dan para guru pada umumnya dapat mengunduh sumber
belajar tersebut sesuai dengan mata pelajaran atau bidang keahlian masing-
masing dan mempelajarinya.
b. Peserta yang dipanggil untuk mengikuti PLPG membawa peraturan-peraturan yang
terkait dengan implementasi kurikulum (misalnya Permendiknas Nomor 16 Tahun
2007 tentang kualifikasi dan kompetensi guru, Permendiknas Nomor 22 s.d 24
Tahun 2006, Permendikbud Nomor 57-60 Tahun 2014), dan referensi yang relevan
dengan bidang keilmuan sertifikasi yang diikuti.
c. Guru kelas dan guru mata pelajaran membawa buku-buku pelajaran yang sesuai
dengan kurikulum yang berlaku pada sekolah masing-masing. Di samping itu juga
membawa dokumen perangkat pembelajaran, seperti silabus, RPP, LKPD, dan
instrumen evaluasi.
d. Guru BK membawa Permendiknas Nomor 27 tahun 2008 tentang Standar
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, Permendikbud Nomor 111 Tahun
2014 tentang bimbingan dan konseling pada pendidikan dasar dan menengah,
Permendikbud Nomor 64 Tahun 2014 tentang peminatan peserta didik, pedoman
dan/atau panduan bimbingan dan konseling yang diterbitkan pemerintah, contoh
tentang program BK, Rencana Pelaksanaan Layanan/Satuan Layanan, instrumen
BK, dan media layanan BK.
e. Peserta diperkenankan membawa laptop dan printer sejauh memperlancar
pelaksanaan PLPG. Jika membawa kedua alat tersebut, peserta diwajibkan
membawa konektor listrik (rol kabel) dan kertas HVS ukuran Folio (F4) secukupnya
untuk mencetak perangkat pembelajaran.
f. Media pembelajaran.
g. Kertas kerja (folio bergaris) dan alat tulis selama PLPG disediakan sendiri oleh
peserta.

2. Perlengkapan Umum:
a. Pakaian secukupnya (pakaian batik, hitam-putih, dinas, dan pakaian di luar
kegiatan kedinasan).
b. Obat-obatan bersifat pribadi diharapkan dibawa sendiri oleh peserta.

C. FASILITAS PELAKSANAAN PLPG


1. Ruang aula untuk acara pembukaan, ujian, dan penutupan PLPG
2. Ruang kelas dengan kapasitas 30 orang

3
a. White board
b. OHP atau LCD
c. Meja dan kursi sejumlah peserta dan instruktur
d. Spidol white board
3. Ruang peer teaching
a. White board
b. Meja dan kursi sejumlah peserta dan instruktur
c. Spidol white board
4. Kamar tidur peserta
a. Kamar tidur kapasitas 2-4 orang peserta
b. Almari pakaian
c. Penerangan (lampu)
5. Lain-lain
a. Tempat parkir yang mencukupi
b. Kamar mandi yang mencukupi untuk seluruh peserta
c. WC/toilet yang berdekatan dengan tempat diklat
d. Keamanan yang terjamin

D. PENDAFTARAN PESERTA
1. Peserta wajib melakukan pendaftaran kepada Panitia Pelaksana PLPG Sub Rayon 138
di tempat pelatihan dan waktu yang telah ditentukan.
2. Pada saat pendaftaran, peserta wajib menyerahkan persyaratan pendaftaran, yaitu:
a. Fotokopi SK pengangkatan sebagai guru (PNS dari Dinas Pendidikan; Swasta dari
Yayasan). Bagi GT yang bukan PNS pada sekolah swasta, SK Pengangkatan dari
yayasan minimum 2 tahun terakhir berturut-turut pada yayasan yang sama dan
Akte Notaris pendirian Yayasan dari Kementerian Hukum HAM. Sedangkan GT
bukan PNS pada sekolah negeri harus memiliki SK pengangkatan sebagai guru
honor tetap dengan gaji dari APBD dari pejabat yang berwenang
(Bupati/Walikota/Gubernur) minimum 2 tahun terakhir berturut-turut;
b. Fotokopi ijazah terakhir yang telah dilegalisir.
c. Surat izin/tugas dari Kepala Sekolah/Kepala Dinas Pendidikan.
d. Surat keterangan sehat dari dokter pemerintah.
e. Pasfoto terbaru berwarna (enam bulan terakhir dan bukan polaroid) ukuran 3x4 =
4 lembar; dan 4x6= 2 lembar. Bagi peserta yang lahir pada tahun ganjil,
background foto berwarna merah. Sedangkan peserta yang lahir pada tahun
genap, background foto berwarna biru. Pada bagian belakang setiap pasfoto
ditulis identitas peserta (nama, nomor peserta, dan mapel (guru kelas untuk SD;
mapel ... untuk guru SMP/SMA/SMK; BK untuk guru BK).
f. Peserta wanita yang hamil harus ada surat izin dari suami. Apabila usia kehamilan
lebih dari 7 bulan atau lebih, peserta juga harus membawa surat keterangan
dokter yang menyatakan kondisi kehamilannya.
3. Setelah melakukan pendaftaran peserta akan mendapatkan :
a. Buku panduan/modul pelatihan PLPG Sub Rayon 138
b. Kartu identitas peserta PLPG Sub Rayon 138
c. Jadwal pelaksanaan PLPG
d. Kunci kamar (sesuai dengan kapasitas kamar tempat pelatihan)
4. Registrasi peserta PLPG dimulai pukul 08.30 s.d. 11.00 WIB

4
E. TATA TERTIB
1. Pembelajaran/workshop/peer teaching
a. Peserta wajib mengikuti keseluruhan sesi mata diklat. Peserta yang kehadirannya
kurang dari 80% dinyatakan gugur, dan harus mengikuti PLPG ulang secara utuh
dengan biaya sendiri.
b. Peserta wajib menandatangani daftar hadir pada setiap sesi PLPG. Daftar hadir
disiapkan oleh Divisi PLPG - Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon 138.
c. Peserta wajib meminta izin kepada panitia apabila hendak meninggalkan ruang
atau lokasi pelatihan.
d. Peserta wajib sudah hadir paling lambat 10 menit sebelum sesi pelatihan dimulai.
e. Selama diklat berlangsung, peserta dilarang mengaktifkan handphone atau alat
komunikasi lainnya.

2. Pakaian
Selama PLPG, semua peserta wajib berpakaian rapi dan sopan dengan pengaturan
sebagai berikut.
Hari ke-1,2 = Batik lengan panjang;
Hari ke-3,4 = Pria, pakaian bawah warna hitam dan pakaian atas warna
putih serta berdasi; Wanita, pakaian bawah warna hitam
dan pakaian atas warna putih;
Hari ke-5,6,7 = Pakaian dinas kerja;
Hari ke-8,9 = Pria, pakaian bawah warna hitam dan pakaian atas warna
putih serta berdasi; Wanita, pakaian bawah warna hitam
dan pakaian atas warna putih
Hari ke-10 = Batik lengan panjang.
Hari ke-11 = Pria, pakaian bawah warna hitam dan pakaian atas warna
putih serta berdasi; Wanita, pakaian bawah warna hitam
dan pakaian atas warna putih.

3. Akomodasi dan konsumsi


a. Peserta wajib menerima pengaturan tempat yang telah ditentukan oleh panitia
penyelenggara.
b. Apabila selama pelaksanaan PLPG peserta menerima tamu, peserta wajib
melaporkanya kepada panitia penyelenggara dan satpam. Penerimaan tamu
wajib dilakukan di sekretariat PLPG.
c. Selama PLPG berlangsung, makan pagi, makan siang, makan malam dan snack
(kudapan) disediakan oleh panitia. Pada hari pertama, Panitia tidak
menyediakan makan siang. Konsumsi (snack/kudapan) mulai disediakan pada
sore hari. Pada hari terakhir, konsumsi disediakan sampai dengan makan siang.

4. Ujian
a. Peserta wajib hadir 15 menit sebelum ujian dimulai. Jika peserta terlambat 15
menit setelah ujian tersebut dimulai, kepadanya tidak diperkenankan mengikuti
ujian.
b. Peserta wajib membawa alat tulis secara mandiri
c. Peserta wajib mematuhi petunjuk-petunjuk yang ditetapkan oleh Divisi PLPG -
Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon 138.

5
d. Peserta dilarang membawa buku, kalkulator ataupun catatan lain dalam kelas
pada saat ujian berlangsung, kecuali ditentukan lain oleh Divisi PLPG - Panitia
Sertifikasi Guru Sub Rayon 138.
e. Peserta wajib menjaga ketenangan dan ketertiban selama ujian berlangsung.
f. Peserta dilarang melakukan segala bentuk kecurangan seperti mencontek atau
bekerja sama dengan peserta ujian lainnya. Apabila terbukti melakukan
kecurangan, maka peserta akan dinyatakan GUGUR untuk ujian yang dilaksanakan
pada mata pelajaran tersebut.
g. Peserta wajib menonaktifkan alat komunikasi apapun selama ujian berlangsung.

5. Tata Tertib di Wisma/Tempat Penginapan


a. Seluruh peserta wajib tinggal di wisma/tempat penginapan yang telah disediakan
oleh Divisi PLPG - Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon 138.
b. Peserta wajib berpakaian rapi, sopan, dan tidak mencolok selama berada di wisma.
c. Peserta dilarang membuat kegaduhan yang dapat mengganggu penghuni lainnya.
d. Peserta dilarang memasuki kamar peserta lain.
e. Peserta dilarang berada di luar kamar setelah pukul 23.00 WIB.
f. Peserta dilarang membawa minuman keras, narkoba, binatang peliharaan, maupun
hal-hal lain yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
g. Bila ada keperluan untuk keluar area diklat, maka wajib izin Panitia PLPG.
h. Peserta yang akan meninggalkan penginapan sebelum PLPG selesai wajib izin Divisi
PLPG - Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon 138.
i. Peserta dilarang menerima tamu di dalam kamar.
j. Waktu makan dan snack (kudapan) bagi peserta sebagai berikut.
Makan pagi : 06.00 07.00 WIB
Snack : 09.30 09.50 WIB
Makan siang : 12.20 13.20 WIB
Snack : 15.50 16.20 WIB
Makan malam : 18.00 19.30 WIB
k. Peserta wajib menjaga kebersihan, ketertiban, ketenangan, dan sopan santun
selama tinggal di wisma
l. Peserta wajib melapor kepada panitia sebelum dan sesudah bertemu dengan
tamunya.
m. Peserta yang sakit dan perlu dibawa ke rumah sakit/balai pengobatan, wajib segera
melapor kepada panitia.
n. Peserta wajib mentaati segala ketentuan yang berlaku di lingkungan wisma.
o. Hal-hal yang kurang jelas dan belum diatur dalam tata tertib ini akan diinformasikan
lebih lanjut.

6. Lain-lain
a. Peserta ikut bertanggung jawab atas kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan
kegiatan PLPG
b. Panitia tidak menyediakan layanan jasa laundry atau telepon. Penggunaan telepon
oleh peserta ditanggung oleh peserta. Panitia akan memberikan bantuan informasi
tentang jasa laundry, travel, wartel, pemesanan tiket, tempat belanja, dll.
c. Semua keperluan pribadi peserta di luar yang disediakan panitia, sepenuhnya
menjadi tanggung jawab peserta sendiri.
d. Peserta diklat diharapkan ikut menjaga dan memupuk suasana kekeluargaan
selama kegiatan berlangsung.

6
F. TEMPAT PELAKSANAAN PLPG

No. Alamat Registrasi


LPMP, Jl. BPG Raya, Tirtomartani, Kalasan, Yogyakarta
1 Hari H
(0274) 496921/497002
Pukul:
Hotel Cailendra, Jl. Tamansiswa 91, Yogyakarta
2 08.30 -11.00 WIB
(0274) 373761
Catatan:
1. Registrasi dilaksanakan pada hari H pelaksanaan.
2. Dalam hal khusus, ada kemungkinan perubahan/penambahan tempat pelaksanaan
PLPG
Ketentuan lain yang belum tercantum dalam ketentuan ini dapat ditanyakan pada saat
registrasi atau check in.

G. PENUTUP
Terima kasih banyak atas partisipasinya dalam PLPG ini. Semoga kesempatan ini dapat
dimanfaatkan dengan baik oleh para guru untuk memperluas pengetahuan dan wawasan
dalam meningkatan mutu pembelajaran. Jika ada hal-hal yang belum jelas, silahkan
menghubungi panitia PLPG Sub Rayon 138.

Yogyakarta, Oktober 2016

Divisi PLPG Panitia Sertifikasi Guru Sub Rayon 138

7
Pendidikan dan Latihan Profesi Guru
(PLPG)

MODUL BAHASA INGGRIS

Sertifikasi Guru Sub Rayon 138


Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
2016
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

BAHASA INGGRIS

CHAPTER 1: TEXT AND NON-TEXT

Dr. Rahmad Husein, M.Ed.


Dr. Anni Holila Pulungan, M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
CHAPTER 1
TEXT AND NON-TEXT

1.1 Membedakan Teks dan Non Teks

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Memiliki pengetahuan tentang berbagai aspek kebahasaan dalam bahasa Inggris
(linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

What is TEXT?

Etymologically, text comes from a metaphorical use of the Latin verb textere 'weave',
suggesting a sequence of sentences or utterances 'interwoven' structurally and semantically.
As a count noun it is commonly used in linguistics and stylistics to refer to a sequential
collection of sentences or utterances which form a unity by reason of their linguistic COHESION
and semantic COHERENCE. e.g. a scientific article; a recipe; poem; public lecture; etc.
Moreover, text is linguistics realization of proportional meanings as connected passage that is
situationally relevant.

Characteristics:

- Essentially semantic unit as a form of interaction


- Cohesive and coherence; not random but connected
- Spoken or written; mode of linguistics realization
- Of any length
- Create and/created by context (situationally relevant)

1
Werlich (1976) says that a text is an extended structure of syntactic units (i.e. text as
super-sentence) such as words, groups, and clauses and textual units that is marked by both
coherence among the elements and completion, whereas a non-text consists of random
sequences of linguistic units such as sentences, paragraphs, or sections in any temporal and/or
spatial extension.
Beaugrande and Dressler (1981) define a text as a communicative occurrence which
meets seven standards of textuality, they are:
1. Cohesion
Cohesion concerns the ways in which the components of the surface text are connected
within a sequence.
2. Coherence
Coherence concerns the ways in which concepts and relations, which underlie the
surface text, are linked, relevant and used, to achieve efficient communication.
A concept is a cognitive content which can be retrieved or triggered with a high
degree of consistency in the mind.
Relations are the links between concepts within a text, with each link identified
with the concept that it connects to.
3. Intentionality
Intentionality concerns the text producer's attitude and intentions as the text producer
uses cohesion and coherence to attain a goal specified in a plan.
4. Acceptability
Acceptability concerns the text receiver's attitude that the text should constitute useful
or relevant details or information such that it is worth accepting.
5. Informativity
Informativity concerns the extent to which the contents of a text are already known or
expected as compared to unknown or unexpected.
6. Situationality
Situationality concerns the factors which make a text relevant to a situation of
occurrence.

2
7. Intertextuality
Intertextuality concerns the factors which make the utilization of one text dependent
upon knowledge of one or more previously encountered text. If a text receiver does
not have prior knowledge of a relevant text, communication may break down because
the understanding of the current text is obscured.

Without any of which, the text will not be communicative. Non-communicative texts
are treated as non-texts.
Most linguists agree on the classification into five text-types: narrative, descriptive,
argumentative, instructive, and comparison/contrast (also called expositive). Some
classifications divide the types of texts according to their function. Others differ because they
take into consideration the topic of the texts, the producer and the addressee, or the style.
The following figure display the position of text.

3
Reference

https://en.wikipedia.org/wiki/Text_linguistics, accessed on July 25th 2016

4
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

BAHASA INGGRIS

CHAPTER 2: MODALITY

Dr. Rahmad Husein, M.Ed.


Dr. Anni Holila Pulungan, M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
CHAPTER 2
MODALITY

2.1 Menentukan Modality yang Tepat sesuai Konteks

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Memiliki pengetahuan tentang berbagai aspek kebahasaan dalam bahasa Inggris
(linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

Modals (also called modal verbs, modal auxiliary verbs, modal auxiliaries) are
special verbs which behave irregularly in English. They are different from normal verbs like
"work, play, visit..." They give additional information about the function of the main verb
that follows it. They have a great variety of communicative functions. Modals are also those
helping verbs, which express the mode or manner of the actions indicated by the main
verbs. They express modes such as ability, possibility, probability, permission, obligation,
etc. The most commonly used modals are shall, should, will, would, can, could, may, might,
must, ought to, used to, need and dare. Here are some characteristics of modal verbs:

They never change their form. You can't add "s", "ed", "ing"...
They are always followed by an infinitive without "to" (e.i. the bare infinitive.)
They are used to indicate modality allow speakers to express certainty, possibility,
willingness, obligation, necessity, ability

List of modal verbs

Here is a list of modal verbs:

can, could, may, might, will, would, shall, should, must

The verbs or expressions dare, ought to, had better, and need not behave like modal
auxiliaries to a large extent and may be added to the above list.

8
Use of modal verbs:

Modal verbs are used to express functions such as:

1) Ask permissionmay, can, could.


Examples: May I come in?, Could I use your pen, please?
2) Make a requestcan, could.
Example: Could you please give me the doctors telephone number?
3) Express a possibilitymay, might, could.
Example: It might rain during the night.
4) Give advice or suggestionshould.
Example: You should wear a helmet while riding your motorbike.
5) Express necessity or compulsionmust, have to.
Examples: We must slow down while driving in front of a school, I have to submit
my project by tomorrow.
6) Express prohibition.
Example: You must not talk loudly in the library.
7) Express a promise or intentionwill, shall.
Example: I will mail you my address.
8) Express a wishmay.
Example: May you have a long life!

9
Examples of modal verbs

Here is a list of modals with examples:

Modal
Expressing Example
Verb

Strong obligation You must stop when the traffic lights turn red.
must
Logical He must be very tired. He's been working all
conclusion/Certainty day long.

must not Prohibition You must not smoke in the hospital.

Ability I can swim.

can Permission Can I use your phone please?

Possibility Smoking can cause cancer.

Ability in the past When I was younger I could run fast.

could Polite permission Excuse me, could I just say something?

Possibility It could rain tomorrow!

Permission May I use your phone please?


may
Possibility, probability It may rain tomorrow!

Polite permission Might I suggest an idea?


might
Possibility, probability I might go on holiday to Australia next year.

Lack of necessity/ I need not buy tomatoes. There are plenty of


need not
absence of obligation tomatoes in the fridge.

50 % obligation I should / ought to see a doctor. I have a


should/ terrible headache.
ought to
Advice You should / ought to revise your lessons

10
Modal
Expressing Example
Verb

Logical conclusion He should / ought to be very tired. He's been


working all day long.

had Advice You 'd better revise your lessons


better

REMEMBER !

(1) A modal does not change according to the number or person of the subject.

Examples: He can learn, I can learn, You can learn, They can learn, We can learn.

(2) A modal is always used with a verb in its basic form. The modal takes the tense while
the main verb remains in its dictionary form.

Examples: I can run, I may run, I could run, I might run.

(3) Modals can be used alone in response to a question.

Examples: Can you sing? I can.


Will you sing? I will.
Will you come? I may./I will.

(4) Modals, when joined with not to form a negative, can be contracted.

Examples: I cannot run. I cant run.


I do not run. I dont run.
I will not run. I wont run.

(5) Modal verbs are followed by an infinitive without "to", also called the bare
infinitive.

Examples: You must stop when the traffic lights turn red.
You should see the doctor.
There are a lot of tomatoes in the fridge. You need not buy any.

11
References

Modal and Modality (http://www.myenglishpages.com/site_php_files/grammar-lesson-


modals.php) diakses pada 26 Juli 2016

Modals Exercise (http://www.myenglishpages.com/site_php_files/grammar-exercise-


modals.php) diakses pada 26 Juli 2016

12
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

BAHASA INGGRIS

CHAPTER 3: LOGICAL CONNECTOR

Dr. Rahmad Husein, M.Ed.


Dr. Anni Holila Pulungan, M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
CHAPTER 3
LOGICAL CONNECTOR

3.1 Menggunakan Logical Connector dalam Konteks


KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Memiliki pengetahuan tentang berbagai aspek kebahasaan dalam bahasa Inggris
(linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis).

Logical connectors are used to join or connect two ideas that have a particular
relationship. These relationships can be: sequential (time), reason and purpose,
adversative (opposition, contrast and/or unexpected result), condition. Within each
category, the words used to join the ideas or clauses are used differently, with different
grammar and punctuation.

Type Explanation

Subordinating Introduce adverb clauses


conjunctions Either the dependent clause or the independent clause may
come first in the sentence, with no change in meaning
ex: Before he came, we didn't have a physical education
teacher.
We didn't have a physical education teacher before he came.

Prepositions Is followed by a noun or noun phrase


Either clause may appear first
ex: He didn't come to class due to his illness.

Transitions and Joins two sentences separated by a period or two clauses


Conjunctive adverbs separated by a semi-colon.
Only one possible order of the sentences

The transition may appear clause initial, clause final, or


between the subject and verb of the second sentence.
ex: He was sick. Nevertheless, he came to class.

1
Conjunctions One possible order
A comma is used before the conjunction
In academic writing, do not begin a sentence with a
conjunction
ex: He didn't do his homework, so he didn't pass the class.

Here is the logical connector of each type.

Type Relation

Sequential Reason and Purpose adversative Condition

Subordinating Until Because even though If


conjunctions after as although unless
before since though even if
when inasmuch as (in spite of the providing
while now that fact that) (that)
since as long as provided
once such...that while (that)
whenever [such a/an + adjective + whereas in case
as soon as noun + that] where whether
as long as so...that or not
by the time [so +adjective or adverb only if*
+ that]
[so *verb
much/many/little/few + inversion,
noun + that] no comma
if only
expressing purpose if appears
so that first in the
in order that sentence

Prepositions During because of Despite


after due to in spite of
before
since in order to
until
upon

Transitions Then Therefore However Otherwise


and next Consequently nonetheless
Conjunctive after that nevertheless
2
adverbs following
that on the other
before that hand
afterwards in contrast
meanwhile
beforehand on the
contrary

Conjunctions and then So but...anyway or (else)


but...still
yet...still
but

Notes

Many connectors having similar meanings are followed by different structures. For
example, despite and in spite of are followed by a noun phrase or an ing form.
I went to work in spite of feeling ill. (in spite of + -ing)
I went out despite the heavy rains. (despite + noun)
In spite of and despite are prepositions. They cannot be directly followed by a
clause. Hence we use the phrase the fact that before a clause.
I went to work in spite of the fact that I was feeling ill.

Connector Chart

ADJUNCT CONNECTIVE
COORDINATORS SUBORDINATORS
PREPOSITIONS ADVERBS

A coordinator expr A subordinator A preposition as the A connective


esses a relationship marks a clause as head of anadjunct adverb expresses a
(addition +, subordinate to (a prepositional relationship between
contrast -, option dependent of) the phraseconnects a two clauses and
+/-) between main clause. subordinate transitions the reader
two like (same kind) The subordinator structure. A or listener from the
words, phrases or itself does not have preposition, unlike main idea in one

3
ADJUNCT CONNECTIVE
COORDINATORS SUBORDINATORS
PREPOSITIONS ADVERBS

clauses. The a meaning. It serves a subordinator, clause to the idea in


coordinated to connect content carries meaning. the next clause. (Also
elements are information. See Depending on its called conjunctive
reversible [A+ B = B Subordinators. Also meaning, it may adverbs, linking
+ A]. See see Clauses: Other take a noun phrase, adverbs or transition
Coordinators. Also Clause Types. a clause, or another words.)
see Coordinator structure as
Properties. its complement.

It was cold, and the He said that it was Though it was He opened his
wind was raining. raining, he umbrella. However,th
blowing. (different He thinks (that) we continued walking. e wind blew it away.
subjects) need rain. He It was windy and
He opened his It is so windy that it walked though it cold. Moreover, it
umbrella, but the blew me over. was raining. was raining.
wind blew it We like to walk in Besides His umbrella blew
backwards. the rain. being windy, it was away in the wind.
Did he take an He wishes rainy. Otherwise, he would
umbrella, or did he (for) us to bring a The wind was have used it.
wear his raincoat? coat. strong besides In addition, it was
He took neither an He asked if I being cold. windy and cold.
umbrella nor a needed an *It was raining, so he
raincoat. umbrella. opened his umbrella.

NO MEANING

that (declarative)
if,
whether (interrogat
ive)
to (infinitival),
for (infinitive subj)

ADDITION

and, also, and also besides, in addition in


both...and, not to addition, furthermore
only ...also, not , moreover,additionall
only... but y, besides, firstly,
also, and...too, and secondly, next, finally
so

4
ADJUNCT CONNECTIVE
COORDINATORS SUBORDINATORS
PREPOSITIONS ADVERBS

ALTERNATIVE

or, nor, either...or, prefer X to Y, would instead, as an


neither...nor, X ratheror,rather alternative,otherwise,
rather than Y than (2) rather

CAUSE-EFFECT /
REASON

*so, because, since, now so (reason), for (purp


*for (Also connectiv that, as, in order, as ose)
e adverb) long therefore, consequen
as, inasmuch,becau tly, as a
se of, due to, owing consequence, as a
to, so that, in order result, thus, hence,
that, if only accordingly
because

COMPARISON

as In the same
(like), asas, same way, Similarly, In
as, soas, suchas, contrast, Unlike X, Y
such as, similar to,
equal to/with,
identical to/with, -
er than,more than,
less than, rather
than,preferto,
superior to, inferior
to,different
from/to/than.

CONDITION

or else if, only otherwise, in the


if, unless, even event (that),anyway,
if, whether, anyhow
whether or
not, provided (that
), in case, in the
event (that)
5
ADJUNCT CONNECTIVE
COORDINATORS SUBORDINATORS
PREPOSITIONS ADVERBS

CONTRARY
CAUSE-EFFECT

but, but still, but although, even yet, nevertheless, non


anyway though, though,whi etheless,however, on
*yet (Also connecti le, whereas, despite the one hand, on the
ve adverb) , in spite other hand, in
of,regardless of contrast to, in
contrast, on the
contrary

EMPHASIS

so...that (Adv- indeed, in fact, of


Subord) course, certainly
such...that (Adj-
Subord)

PLACE

where, wherever there, here, In this


location

TIME

after, before, when, first, second, next, th


while, since,as, unt en, finally, previously,
il, as soon as, by the now, presently, next,
time,once still, meanwhile,
subsequently,afterwa
rd

Exercises

Read the text and choose the best answer!

A Windy Walk

6
Mid-day we walk along the Embarcadero in San Francisco though a cold
wind whips our hair across our faces. Clouds move across the sky and at times hide the
bridge towers. We talk while we walk. We try to let go of our thoughts about
work yet they creep into our conversation. We have just an hour to walk before returning
to our offices. This is why we live here, isn't it? Because we love the view of the bay and
the smell of the saltwater, we endure the traffic and the crowds.

As we count our steps and watch the time, we pass by sculptures and artwork
along the walkway. In the distance, barking sea lions on the boat docks are begging for
fish, but nobody is paying attention to them. We turn back and quicken our pace in
order to return to work on time.

Sitting back down in our offices, we are bothered by neither co-


workers nor bosses; our minds are still filled with views of the bay and the smell of the
sea air.

GLOSSARY

bark (V)-the sound a dog makes

beg (V)-ask for something as a gift, free, charity

creep (V)-move in a quiet, careful way, especially to avoid attracting attention

embarcadero (N)-a roadway or walkway along the waterfront

7
endure (V)-be in a difficult or painful situation for a long time without complaining

contrary (Adj)-when the idea in one clause is opposite in expectation, opinion, or action
to that in the second clause

dock (N)- wooden walkway where boats are tied up; a boat landing pier

pace (V)- rate or speed of walking

sculpture (N)-three-dimensional (3-D) art; an object made out of stone, wood, clay, or
some other material by an artist

view (N)-sight

whips (V)-strike with a lash or rod, usually as punishment

REASON / CAUSE-EFFECT

Because (since, as, now that) is a connective preposition that relates additional
(non-essential) information to the main clause. Because is complemented by a
clause that states a reason (cause) for the effect stated in the main clause. The
cause-effect relationship or reasoning is what we would expect.

EFFECT CAUSE

Justin wore his winter pants because it was snowing.

Justin rode his bike to school as his car was snowed in. (under snow)

He likes to walk in the snow since it is a special winter experience.

He put on his parka for he felt cold.


rarely used in US English

Justin can make a snowman now that there is snow on the ground.

8
The mayor apologized inasmuch as the snow removal was
behind schedule. (late)

The mayor declared a holiday for the reason that no one could get to
work.

CONTRARY REASONING / NONCAUSE-EFFECT

Though (although, even though) is a connective preposition that relates additional


(non-essential) information to the main clause. Though is complemented by a
clause that states a contrary reason for the effect. It is either illogical, concessive
or not the reason (something else is).

EFFECT NON-CAUSAL / CONCESSION

Justin wore his winter pants though it was warm outside.


just because he felt like it.

Justin rode his bike to school even though the snow was slippery.

He likes to walk in the snow although his nose gets cold.(concession)

He put on his parka regardless of the fact (that) he did not feel
cold.

Justin made an excellent despite the fact (that) he had never made one
snowman before.

The mayor apologized in spite of the fact (that) snow removal was not
his responsibility.

The mayor declared a holiday, yet some people went to work anyway.

CAUSE EFFECT NO CAUSE-EFFECT

REASON He's a good leader because he has worked hard and


effectcause studied law at Harvard.

9
The opinion or action is a logical response to the assertion
or situation in other clausecause-effect.

CONCESSIVE REASON He's a good leader though he occasionally makes


effectexception mistakes.
Admitting to something that does not logically fit with the
previous statementan exception. See Concession.

CONTRARY REASON He's a good leader though he's never held a public office
effectno cause before.
The opinion or action is a not a logical or an expected
response to the assertion or situation in other clauseno
cause-effect. See Contrary Reasoning.

adjunct elements not required by an expression to complete its meaning

adjunct prepositional phrase: People were hurt adjunct prep


phrase [prep because content clause[ they could not get away.]]

CAUSEEFFECT

A clause with because at the beginning of the sentence (before the main
clause), emphasizes the causal-situation ("the reason") with a logical reaction or
response following it in the main clause.

CAUSE LOGICAL EFFECT

Because it was snowing, he wore his winter pants

10
Since it will be snowing harder we need to leave now
soon,

NO CAUSEEFFECT

A clause with though at the beginning of the sentence emphasizes the


illogical reaction or response that follows in the main clause.

CAUSE ILLOGICAL EFFECT

Though it was snowing, he wore his shorts.


It was snowing. Even so, he wore his shorts.

Although it will be snowing we need to stay and get our work done.
harder soon,

concede (V) admit something to be true; to give away a point; concession (N)
yield, give away, give up, admit defeat; concessive (Adj) tending to concede
inasmuch as (double Prep) to the extent that; used to explain the way in which
what you are saying is true. He was a good leader, inasmuch as he got the opposing
parties to settle their differences.

non-essential not required for the structure to make sense; the structure or
expression can stand alone with out it

reason (V) form conclusions, inferences or judgments from facts or propositions


; reasoning (N) the process of forming conclusions

slippery (Adj) causing one to slide, possibly fall.

Connective Adverbs

11
AN EXPECTED OUTCOME

Expressions such as for this reason and as a consequence transition the


reader from a sentence with a given situation to a second sentence with a logical
reason for the situation in the main clause A comma is used after the transition
word.

CAUSE LOGICAL EFFECT

It was raining. For this reason, we moved our picnic indoors.

It was sunny. Consequently, we had to wear sunscreen.

It was bright. As a result, we had to wear sun glasses to drive.

The weather was delightful. As a consequence, we went hiking.

AN UNEXPECTED OUTCOME

Similarly, expressions such as nevertheless andnonetheless transition


the reader from a sentence with a given situation to a second sentence with
a contrary reason for the situation in the main clause. A comma is used after the
transition word.

CAUSE ILLOGICAL EFFECT

It was raining. Nevertheless, we went on a picnic.

It was cloudy. Even so, we got sunburned.

The sky was overcast. Nonetheless, we wore sun glasses while driving.

12
The weather was miserable. In spite of that, we went hiking.

Cause-Effect

Connective prepositional complement

Because of / In spite of + Noun Phrase ("adverbial prepositions")

BECAUSE OF + NP

Because of, due to, on account of, or owing to is followed by noun


phrase expressing a logical reason for the action in the main clause. The action in
the main clause is expected under these circumstances.

EFFECT / SITUATION CAUSE

MAIN CLAUSE ADJUNCT PREP PHRASE

CLAUSE PREP + NP

Schools were closed because of the snow.

The pipes froze due to the cold temperature

People stayed indoors on account of the bad weather

Mail service way delayed owing to the bad weather

IN SPITE OF + NP

In spite of, despite or regardless of is followed by a noun phrase expressing


a contrary reasoning for the action in the main clause. The action in the main

13
clause is unexpected under these circumstances.

EFFECT / SITUATION CONCESSION / NOT A CAUSE

MAIN CLAUSE ADJUNCT PREP PHRASE

CLAUSE PREP-PREP + NP

Schools remained open in spite of the snow.

The pipes did not freeze in spite of the cold temperature.

People were out and about despite the bad weather.

The mail will be delivered regardless of the bad weather.

Cause-Effect
Because of -ing

Because of / In Spite Of + Gerund Clause

BECAUSE OF + NP

Because of (due to, on account of, owing to) is a double-preposition that is


complemented by a noun phrase (NP) orgerund clause expressing reason for the
action in the main clause.

EFFECT REASON

Schools were closed because of not having any heat in the


rooms. (there being no heat.)

14
The pipes froze due to not being insulated well.

People stayed home on account of their wanting to keep warm.

Mail service was delayed owing to being unable to drive in the snow.

Airplanes were grounded due to the runways being covered with snow

IN SPITE OF + NP

In spite of (despite, regardless of) is a double-preposition that is


complemented by a noun phrase (NP) or gerund clause expressing contrary
reasoning for the action in the main clause. ("concession")

EFFECT CONTRARY REASONING

Schools remained open in spite of having no heat in the rooms.

The pipes did not freeze in spite of not being insulated well.

People were out and about despite their wanting to keep warm.

The mail was delivered regardless of being unable to drive in the snow.

Airplanes took off despite the runways being covered with snow

insulated (Adj) to cover or protect something with a material that stops electricity,
sound, heat etc from getting in or out.

15
CauseEffect

Position and Punctuation

Initial vs. Mid Position

INITIAL-POSITION CLAUSE

A comma is placed after connective preposition and its clause when it is


placed before the main clause.

REASONING EFFECT

Because we were cold, we went inside.

Though we wanted to stay, he made us leave.

On account of the frost, we put the car in the garage.

MID-POSITION CLAUSE

No comma is required when the connective preposition and its clause is


placed after the main clause. (See exceptionbelow.)

EFFECT REASONING

We went inside because we were cold.

He made us leave though we wanted to stay.

16
We put the car in the garage on account of the frost.

NotBecause

Limiting negation to the main clause

"NotBecause" an exception for using a comma

BECAUSE AS AN ADJUNCT CLAUSE

A negative in the main clause negates the reason clause, "something else is
the cause", "not because X". Whether or not the verb in the main clause (effect-
clause) is also negated depends on the context and cultural interpretation.

NOT NEGATES MAIN VERB AND THE CAUSE CLS VERB

She did not buy the phone because her sister had one. (*ambiguous)
Her sister having a phone was not the reason for her [buying / not buying] one.
It was for some other reason.

TWO INTERPRETATIONS OF THE EFFECT-CLAUSE


She bought the phone not because her sister had one.
She didn't buy the phone not because her sister had one.

LOGIC GAP / CULTURAL UNDERSTANDING


Sisters may be jealous of each other. One sister usually wants to have what the
other sister has.
Most people interpret the effect as: She bought it.

17
ONLY / JUST MODIFY THE REASON CLAUSE

She only bought the phone because her sister had one.
She bought the phone only because her sister had one.

I'm not just doing it because you told me to (do it). (ambiguous)
I'm doing it not just because you told me to do it..
Your telling me to do it is not the only reason for my doing it. There are other
reasons as well.

BECAUSE AS A SUPPLEMENTAL CLAUSE

A comma may be used to set off the because-clause from the negation
("not") in the main clause. The comma clarifies meaning by removing the
because-clause from the influence (scope) of the negation in the main clause.
The because-clause becomes a comment.

NOT NEGATES ADJACENT VERB ONLY

She did not buy the phone, because her sister had one.
Her sister having a phone was the reason for her not buying one. It mattered
that her sister had one. (They didn't need another.)

ONLY / JUST MODIFY THE IMMEDIATE VERB

18
She only bought the (one) phone, because her sister had a phone. (She limited
her purchase.)

I'm not doing it, just because you told me to (do it) .
Your telling me to do it is the only reason that I'm not doing it.

ambiguous (Adj) can be understood in more than one way

cell phone (US-Eng); mobile phone (BR-Eng)

An adjunct clause is more closely related to the verb (and the negative) in the main
verb. A supplemental clause is loosely related to the verb in the main clause; it is
more like a comment.

Common Mistakes

Errors and Solutions

ERROR

*The skier wanted to compete though he broke his ankle.

Unclear - How did he compete with a broken ankle?


"Though" means he did. "But" means he didn't.

*Since its March, its raining here.

19
The meaning for "since" is unclear.

*Because he felt tired.

Incomplete sentence or thought

SOLUTION

The skier wanted to compete, but he broke his ankle.


He wasn't able to compete.
Though the skier broke his ankle, he was able to compete.
He was able to compete the event unexpected, a miracle!)

#1 It has been raining here since March.


since duration; from then until now
#2 Since it is March (spring), it's raining here.
since because, reason; rain is expected in March

Because he felt tired, he went to bed.


Add a main clause for the reason clause.
Because he felt tired was not a reason for skipping class. Add a predicate (verb
phrase).
The reason he missed class was because he was tired. Add a subject and
predicate.

References
Exercise of Logical Connector (http://www.englishgrammar.org/sentence-connectors-
exercise-2/, accessed at July 25th 2016)
Logical Connector (https://staff.washington.edu/marynell/grammar/logicalconnectors.
html, accessed at July 25th 2016)
20
21
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

BAHASA INGGRIS

CHAPTER 4:
NOTICE AND ANNOUNCEMENT

Dr. Rahmad Husein, M.Ed.


Dr. Anni Holila Pulungan, M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
CHAPTER 4
NOTICE AND ANNOUNCEMENT

4.1 Gambaran Umum Teks Tertulis Fungsional Pendek Berbentuk


Notice/Announcement

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis).

Functional text is text that serves to provide information that is considered


important to someone. Short functional text is a text that has social function to inform
something. It's called short functional text because the text is short and has a specific
information. Kinds of functional texts are notice, announcement, advertisement, short
message, label, sign, pamphlet, brochure and the other short texts.
The social function is to give information to someone about something. This
chapter will discuss about notice and announcement as two of short functional texts.

Notice

Notice is a sign in a public place giving information or instructions. Notice is


premonition to someone; it can be command, caution, information, prohibition. Notice
should be easy to understand and easy to read. It is also written using simple words,
concise and easy to understand. For example:
1. Notice Command means the notice gives instruction to people to do what is
written.
2. Notice caution is used to warn someone to be careful or aware of something.
3. Notice prohibition informs people that they are forbidden to do what is written.

1
Actually, notice command, caution, and prohibition are almost the same; they are
short and simple information intended for the crowds.

Announcement

Announcement is an important or official statement that informs people about


something. Announcement is often seen in public area, such as at school, hospital and
other public places. The following example is an announcement about English Club
Program at school.

References

Henry Billings. Critical Reading Series: Heroes. 2000. Lincolnwood. Contemporary


Publishing Group.

www.kelasbahasainggris.com

2
4.2 Informasi Rinci Tersurat Teks Tertulis Fungsional Pendek Berbentuk
Notice/Announcement

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis).

Notice

Notice is a sign in a public place giving information or instructions. Notice is


premonition to someone; it can be command, caution, information, prohibition. For
example:

Notice Command means that the notice gives instruction to people to do what is
written. For example notice command below.

The notice above clearly commands someone to keep the door closed whether
one is in or out the room. The notice is easy to understand and easy to read. It is also
written by using simple words and concise that makes everyone who reads the command
will understand it easily.

3
Announcement

Announcement is often seen in public area, such as at school, hospital and other
public places. The following example is an announcement about English Club Program at
school.

From the announcement above, the reader can get clear information about
English Club at SMA 25. It concisely states the time and place of English Club in SMA 25.
The announcement is written by Mr. Pen and team of English Club. The announcement is
for all students of SMA 25, from the tenth grade up to twelfth grade.

References

Henry Billings. Critical Reading Series: Heroes. 2000. Lincolnwood. Contemporary


Publishing Group.

www.kelasbahasainggris.com

4
4.3 Informasi Rinci Tersirat Teks Tertulis Fungsional Pendek Berbentuk
Notice/Announcement

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis).

Notice caution

Notice caution is used to warn someone to be careful or aware of something


related to the caution.

For example is the following caution.

The notice above implicitly warns the visitors of the building or hotel a message
informing about something dangerous or serious so that people can avoid it. The visitors
should avoid the wet floor so that they do not fall down.

5
Announcement

From the announcement, the readers can assume that the announcement is for
the students who are interested in joining English Club. It implies that the school concerns
on the students improvement in speaking English. The school supports the students to
enrich their English proficiency.

References
Henry Billings. Critical Reading Series: Heroes. 2000. Lincolnwood. Contemporary
Publishing Group.
www.kelasbahasainggris.com

6
4.4 Teks Notice/Announcement yang Tepat sesuai Konteks yang Disajikan

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis).

Notice: prohibition

Notice prohibition informs people that they are forbidden to do what is written.

Based on the context of notice above, the visitors know that only the staff of the
company or office who allowed entering the room. It instructs everyone who is not the
staff forbid to come in the room. Staff only means only for the clerks.

Announcement

The following example is an announcement that gives the information about the
open daily of a public place. The announcement uses simple words and detail information
about the day and time. The visitors can easily understand the announcement.

7
References

Henry Billings. Critical Reading Series: Heroes. 2000. Lincolnwood. Contemporary


Publishing Group.
www.kelasbahasainggris.com

8
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

BAHASA INGGRIS

CHAPTER 5: ADVERTISEMENT

Dr. Rahmad Husein, M.Ed.


Dr. Anni Holila Pulungan, M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
CHAPTER 5
ADVERTISEMENT

5.1 Tujuan Komunikatif Teks Tertulis Fungsional Pendek Berbentuk Advertisement

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik, wacana, sosiolinguistik dan strategis).

ADVERTISEMENT

Advertisement is a notice or publication promoting a product, service, or event.


Advertising is a form of communication used to encourage or persuade an audience
(viewers, readers or listeners) to continue or take some new action. The purpose of
advertisement text is to announce about a case of a product to the public, or in other words
to introduce a product to the public in order to buy and attracted to the product being
advertised. In general, an advertisement consists of five parts: headline, subheads,
bodycopy, slogan, closing. They play different roles and serve different purposes and hence
may not be equally important, but none is dispensable. For Example:

1
The purpose of the writer is to persuade the customers to visit Irenas Boutique 20th
anniversary by giving them special price up to 70 % off for shoes, bag, jacket and many
more items. This is the way how the shop attracts the customers; special price and gift for
them if they visit the shop on 20th Nov 20th Dec 2015.

References

Henry Billings. Critical Reading Series : Heroes. 2000. Lincolnwood. Contemporary


Publishing Group.
www.kelasbahasainggris.com

2
5.2 Makna Kata Teks Tertulis Fungsional Pendek Berbentuk Advertisement

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik, wacana, sosiolinguistik dan strategis).

Reference

Henry Billings. Critical Reading Series: Heroes. 2000. Lincolnwood. Contemporary


Publishing Group.
www.kelasbahasainggris.com

3
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

BAHASA INGGRIS

CHAPTER 6: NARRATIVE

Dr. Rahmad Husein, M.Ed.


Dr. Anni Holila Pulungan, M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
0
CHAPTER 6
NARRATIVE

6.1 Gambaran Umum Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Narrative


KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik, wacana, sosiolinguistik dan strategis)

The social function of narrative genre is to tell a story. The story is commonly
constituted by a number of events in which it is found that something goes wrong. The
wrong side of the event leads to a stage, which is one with great suspense called a crisis or
climax in the story. The story then stages a solution to the problem in the climax. A
narrative ends with a solution, either with a happy or sad ending.
Society is dynamic in the sense that the society is faced to evolution where things
happen and the happenings become the causes to the next events and so forth. The events
attract attentions of human beings as members of the society. As a way of preserving the
events, human beings record them either in oral or written mode and stage them in stories
called narratives. The narratives are passed on from persons to other persons, from one
generation to other generations and from one time to another. Consequently, there have
been, are and will be stories or narratives in the society. As the stories form in the society,
they reflect socio-cultural heritages. The value of narratives is that they indicate views,
attitudes or aspirations of the society. In this way, narrative is regarded as the preservation
of culture. Thus, they prevail, remain and maintained in the society.

Generic Structure
The generic structure of narrative is as follows.
(ABSTRACT) ORIENTATION [(EVALUATION)]N COMPLICATION RESOLUTION (CODA)
The stage of Abstract serves as a short introductory remark to the story. Commonly the
stage is indicated by the narrator in expression such as I have an interesting story, this is a

1
special event in my life, I have an unforgettable experience in my life, this is what happened
last week, etc.

The stage of Orientation tells who is who and where. This is to say that the stage
specifies who takes part in the story. The participants may be human or non-human beings,
such as animals and things. The stage also indicates the location, namely the place where
the story takes place and the time when the story happens. In other words, the stage of
Orientation specifies the Participants and Circumstance of Location covering spatial and
temporal locations.
At the Evaluation stage, the narrator shows his/her judgments or comments of the
events of the whole story. As indicated above in [] n, the evaluation stage may occur
once, twice, three times or reiterated in unlimited times. This is indicated by numbers,
such as 1, 2, 3, 4, n. The stage is optional and it may occur at any time before or after
one stage.
The stage of Complication treats the crisis or climax in the story. This is the part of
the story where something goes wrong and becomes a serious problem. The crisis is of
great interest and suspense.
The Resolution stage explains efforts taken to solve the problem.
The stage of Coda closes the story by additional remarks.
The stages of Abstract, Evaluation and Coda are optional.
The stage of Evaluation is reiterated and may occur before or after a certain stage.

The following story is a narrative in which the stages are highlighted. The stages of
Abstract, Orientation, Evaluation, Complication, Resolution and Coda are shown.

(1)
Abstract : This is a tragic story.
Orientation : A couple of mouse deer were deeply in love. One day they went out
to a field with green grass. There they grazed the young grass.
Evaluation : The couple of deer enjoyed the late afternoon breezes. They were
very happy.

2
Complication : However, a hunter had been hiding and watching the couple of deer.
Soon he fired two shots and hit the she-deer. The she-deer collapsed
and died.
Resolution : The he-deer ran into the dense jungle. As he was so sad he lost his
way. Eventually, he fell down into a deep hole in a valley and died.
Coda : That is the end of the tragic story.

Rather than expressing the story by using the third person, the narrative may be
expressed by using the first person I or we. Here the story is told by the first person I.

(2)
I have an unforgettable story on smoking. This happened when I was 9 years old. I
liked heroes in cowboy films where the heroes fired shoots while they were smoking. One
day, my friend Ali and I went to our special place under the bamboo tress near the bank
of a river in a remote place in Asahan. Ali took a packet of cigarettes, which he snatched
from his fathers drawers and I stole half a packet from my father pocket. There we
enjoyed the cigarettes.
After almost two hours smoking I felt headache. I saw Alis face turning pale and
Ali told me that he saw the earth moving. In no time Ali collapsed and got fainted. I ran
back home quickly and told our parents and the news spread all over the village. All of a
sudden all members of the village came to our favorite place at the bank of a river and at
no time Ali and I were taken to the community medical centre. When we recovered, our
parents got very angry and as a lesson my uncle smacked me on the face and Ali was hit by
his elder brother and it was an awful experience.

The story in (3) is coded by using third person.


(3)
This is an awful experience of traffic jam. Frank works is a bank. One morning he
had to rush to his office. He was much scared to be late as his boss was very strict and easily
tempered. He woke early and prepared everything for his work. He was driving on the road
when the traffic jam barred his car. He was exactly in front of the red traffic light. In order

3
to avoid boredom he turned off his car as the traffic jam in Metro Manila may last for one
hour. As it was awfully busy hour his engine car was off and he sat relaxingly behind the
steering wheel. He waited and waited and he did not know what happened. He woke up
to realize that the police knocking at his car door. He realized that he had been sleeping
for almost 45 minutes waiting for the jam. As he had been working much late that night
he found the occasion to motivate him to sleeping. Not only did he arrive at his office late
but his boss was extremely crazy for him as he had been expected to make a serious
presentation.

(4)
We arrived much late at night. As we were approaching the house, we heard dogs
barking in the darkness. Cecil and Frank felt scared as the wind was blowing from the
mountain forest. The night air was extremely cold and damp in that late horrible winter.
We were only few metres from the huge house when we heard shootings from behind.
Three stout officers in Nazi uniform appeared and one of them asked us to produce our ID
cards. Cecil and I were frozen to scares. Calmly Frank showed his ID card and the three
tough men in their military uniform saluted at us. They let us go. Frank waved his hand
and the three men disappeared in the darkness followed by the dogs barking. We were
safe to pass through the most dangerous check point at the border. I will never forget that
horrible and threatening night.

Types of Narrative

As a story of experience in which something goes wrong and a solution is given at


the Resolution stage, the narrative is specified in terms of point of view and projection. The
point of view refers to the narrator, namely from which side of the narrator is the narrative
or story realized. With reference to the criterion of viewpoint, a narrative may be that of
the first person, in which the narrator also takes part in the story and the third person, in
which the narrator does not take part in the story. A narrative realized in the view of the
first person starts with the narrator in the first person I or we and the related forms, such
as my, me, mine, us, our, and ours. Obviously, such a narrative indicates that the narrator

4
is involved in the story. Normally, the first person narrative has a limited view since the
narrator cannot be everywhere in the story. A narrative with the view of the third person
begins with the third person pronouns s/he or they and the related forms such as him, his,
her, hers, them, their and theirs. In this perspective, the narrator is not involved in the
story. However, the narrator can be wherever in the story. The narrator can detail every
character and situation in the story. The third person narrative may also begin with a
proper noun or name of the person as indicated.
Projection refers to quoting or reporting of a source. In formal grammar projection
is known as the direct or reported speech. The clause complex Johan said, I will speak to
the police officer, is a projection of parataxis or paratactic kind. The clause complex of
Johan said (that) he would speak to the manager is a report. A story is potentially loaded
with projections. This particularly occurs when the narrator, in telling the story, quotes
directly or reports indirectly expressions of the participants or characters taking parts in
the story. The quotation contains wordings whereas the report coveys meanings. When
the criteria of viewpoint and projection are intersected in system network as shown in
Figure, four kinds of narrative are derived as stated in (5).

(5)
a. [first person/projection]
b. [first person/-projection]
c. [third person/projection]
d. [third person/-projection]

5
first person

Viewpoint

third person
Narrative

+ projection

Projection

- projection

Figure: System Network of Narrative

Each kind of narrative is exemplified as in the following. In the narrative of the first
person I is used. There are quoted expressions of both the police officer and Johan, who
are the participants in the story. However, there is no projection or report from the
participants interactions.

(5a) [first person/projection]


1)
I have a special experience in dealing with the police. I once visited Medan and
stayed in my colleagues house. As it was my first visit to the city Johan, my friend, took
me to have a sight seeing around the city of Medan. Johan drove the car and I sat beside
him. I did not know if we had breached the traffic regulations but the police stopped our
car and gave a sign that we had to stop at the side of the road. Johan opened the car
window and a tough tall police officer appeared. The police officer said, You drove across
the road when the red light was on. Your license, please. Johan obediently produced his
driving. In a gruffly manner the police officer continued, I must give you a ticket and your
license is withheld. The officer was about to give him a ticket to pay when Johan said, Sir,
wait a minute. I have something to say. Johan, being accustomed to such a situation in
his home city, reacted in a calm manner. He took a Rp10.000 bank note from his pocket,
went out the car and shook hands with the police officer. I did not hear the words uttered

6
by Johan but the police officer smiled at him. Johan returned to the car. The police officer
waved his hand at us and let us proceed to our destination. It appears to me that such a
practice to deal with the police is common in Medan.

2)
I remember the first time that I saw my little sister Patricia. She was wearing blue
clothes. My thought was, Boy! Where is the girl that I m waiting for? I was eight years
old. I was skinny and my arms looked weak. Anyway, my mother trusted that I could hold
the baby. Then I took Patricia in my arms and I knew how much I loved her. I believed that
I could take care of her like my own child. My mother had a full-time job. She couldnt stay
at home the whole day to take care of her children. Then we had a person who was in
charge of housekeeping and taking care of us, too. I didnt want someone else to take care
for my sister. I began to change my dolls for a real baby. I fed her; I gave her a bath; I
changed her clothes. When she was crying, I held her. I loved her and I still love her so
much! Patricia grew up and I still treat her my child. She is 14 years old. She is taller than
I am. She is beautiful girl. However, she will always be my little sister.

(5b) [first person/--projection]


1)
I have a special experience in dealing with the police. I once visited Medan and
stayed in my colleagues house. As it was my first visit to the city Johan, my friend, took
me to have a sight- seeing around the city of Medan. Johan drove the car and I sat beside
him. I did not know if we had breached the traffic regulations but the police stopped our
car and gave a sign that we had to stop at the side of the road. Johan opened the car
window and a tough tall police officer appeared. Johan had to obediently produce his
driving license to respond to the police officers order. In a gruffly manner the police officer
withheld the license and was about to give him a ticket to pay the fine blaming that we had
crossed the road when the red light was on. Johan, being accustomed to such a situation
in his home city, reacted in a calm manner. He took a Rp. 10.000 bank note from his
pocket, went out the car and shook hands with the police officer. I did not hear the words
uttered by Johan but the police officer smiled at him. Johan returned to the car. The police

7
officer waved his hand and let us proceed to our destination. It appears to me that such a
practice to deal with the police is common in Medan.

2)
Last weekend I had one, well not only one, two of my worse days in my life. I got
sick and I felt very bad and sad. I was in bed all weekend with fever and flu. In the beginning
my friends were in my apartment with me but Saturday night they went to dance in Salt
Lake and I was complete alone in my apartment. I felt so sad, I had a fever and a headache,
and I was alone. Oh, it was terrible. I was thinking about my family and I was remembering
my home and when I got sick in Mexico my mother and my father, well all my family were
with me, they never left me alone but here was completely different I was alone and
missing my family very much and their love.
I really felt very sad, so I decided to pray to feel better and then I watched a movie
until I was asleep. Well this was one of my worse days in my life, but I could understand
how important your family and their love are.

In (5c) the narrative begins with the third person or personal name of the character in the
story. This story also contains quotations and reports from the characters in the narrative.

5c [third person/projection]
Benny was very wise in dealing with the police officer in Medan, his home town. I
once visited Medan and stayed in my colleagues house. As it was my first visit to the city
Johan, my friend, took me to have a sight-seeing around the city of Medan. Johan drove
the car and I sat beside him. I did not know if we had breached the traffic regulations but
the police stopped our car and gave a sign that we had to stop at the side of the road. Johan
opened the car window and a tough tall police officer appeared. The police officer said,
You drove across the road when the red light was on. Your license please. Johan
obediently produced his driving. In a gruffly manner the police officer continued, I must
give you a ticket and your license is withheld. The officer was about to give him a ticket to
pay when Johan said, Sir, wait a minute. I have something to say. Johan, being
accustomed to such a situation in his home city, reacted in a calm manner. He took a

8
Rp10.000 bank note from his pocket, went out the car and shook hands with the police
officer. I did not hear the words uttered by Johan but the police officer smiled at him.
Johan returned to the car. The police officer waved his hand at us and let us proceed to
our destination. It appears to me that such a practice to deal with the police is common in
Medan.

(5b) [first person/--projection]


I have a special experience in dealing with the police. I once visited Medan and
stayed in my colleagues house. As it was my first visit to the city Johan, my friend, took
me to have a sight- seeing around the city of Medan. Johan drove the car and I sat beside
him. I did not know if we had breached the traffic regulations but the police stopped our
car and gave a sign that we had to stop at the side of the road. Johan opened the car
window and a tough tall police officer appeared. Johan had to obedietly produce his driving
license to respond to the police officer order. In a gruffly manner the police officer
withheld the license and was about to give him a ticket to pay the fine blaming that we had
crossed the road when the red light was on. Johan, being accustomed to such a situation
in his home city, reacted in a calm manner. He took a Rp10.000 bank note from his pocket,
went out the car and shook hands with the police officer. I did not hear the words uttered
by Johan but the police officer smiled at him. Johan returned to the car. The police officer
waved his hand and let us proceed to our destination. It appears to me that such a practice
to deal with the police is common in Medan.

Lexicogrammatical Aspects
1. Process
The text of narrative is dominated by the material process. A story is normally told
and something that can be told should be physically visible. This makes the material
process to be dominant.

2. Tense
A story normally took place at a certain place in the past. Consequently, the
dominant tense associated to the event is that of the past tense.

9
3. Conjunction
Due to its past occurrence, the genre of narrative is dominated by the conjunction
indicating location (spatial and temporal).

References

Saragih, A and Anggraini, S.2014. Writing.Medan:Unimed Press

Pardiyono.2007. Pasti Bisa:Teaching Genre-Based Writing. Metode Mengajar Writing


Berbasis Genre secara Efektif. Yogyakarta:Andi.

10
6.2 Informasi Tertentu Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Narrative
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

Identifying what is important in a text depends on good sampling but it also


depends on knowing what to look for - the clues that help us to identify the important and
specific points and to separate them from the less important details.

Reference
http://englishhakam.blogspot.co.id/2013/06/narrative-text-beserta-soal-dan-
jawaban.html

6.3 Informasi Rinci Tersurat Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Narrative


KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

References:
http://hambanyaallah9b.blogspot.co.id/2013/11/paket-2-contoh-soal-dan
pembahasannya.html

http://alfurqoncell.wordpress.com/2011/04/25/little-brother-litle-sister

11
6.4 Pikiran Utama Paragraf Tertentu Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Narrative
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

A paragraph is a group of sentences about the same topic. The main idea is usually
given in the first sentence. This is called the topic sentence. The main idea can usually be
located if we can determine what the topic sentence is. The topic sentence is a sentence
that develops a single controlling idea within the paragraph. The functions of the topic
sentence are to substantiate or support an essays thesis statement to unify the content
of a paragraph and direct the order of the sentences; and to advise the reader of the subject
to be discussed and how the paragraph will discuss it.
To find the topic of a text, ask the simple question, What or who is the text about?
The main idea is the chief point about a topic made by the writer. It sums up the writers
primary message. Meanwhile, the topic sentence is the statement of the main idea. It is
the statement under which all other material in the paragraph- examples, reason, facts,
details and other evidence can fit. The main idea of the paragraph can be found in the
location of the topic sentence which can be:
In the first sentence of the paragraph
Within the paragraph
At the end of the paragraph
In the beginning and the end of paragraph
The main idea that are inferred

The main idea in first or beginning paragraph

"It is the state dance of California. It is a partner dance that requires a leader and
a follower. The steps are performed in a slot or row configuration. The leader and follower
exchange places as they dance through turns, side passes, whips, and other moves. The
leader and follower hold hands throughout the dance except for a few moves that allow

12
for a break in the arm connection. This dance is known as the West Coast Swing, and it is
very popular among all age groups."
(Written by Doreen Kaller, Instructor, Rio Hondo College)

The author may choose to express the main idea in the middle of the paragraph.

"Changing the look of an old piece of furniture begins with the removal the existing
paint or finish. You can buy several products designed for paint removal. After removing
the paint, the piece must be well sanded. Following the right steps can definitely turn an
old furniture piece into a welcomed addition to any home. The sanded piece should be
primed if necessary to eliminate any "bleeding through" of the original color. The new
paint should be applied neatly and carefully, allowing for the appropriate amount of time
for drying before applying a second coat if needed. Depending on your preference, you may
want to add a clear coat to finish the job."
(Written by Doreen Kaller, Instructor, Rio Hondo College)

Sometimes the author may choose to "suggest" a main idea and feeling without
stating it in a particular sentence. This is called an "implied main idea" when the author
does not state the topic but instead provides sentences of example to convey the message.
"I scanned the room for familiar faces but saw none. I checked my watch for the
current time. I paced the floor and continued to look around. I checked the Arrival Board
for incoming flights. I checked my cellphone for messages. I bought a cup of coffee. I sat
down and fidgeted in my seat."
(Written by Doreen Kaller, Instructor, Rio Hondo College)

The author reveals the main idea without stating it in a sentence. The author's
character is anxious about the arrival of someone who appears to be late.

Reference
http:englishahkam.blogspot.co,id/2012/07/contoh-narrative-beserta-soal-dan_21.html

13
6.5 Pesan Moral Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Narrative
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

The moral of a story is a lesson that is taught within the context of a tale, often using
an analogy. In general, stories with morals are found in children's literature or, for adults,
inspirational and motivational tales. The most famous morality tales are Aesop's Fables, a
collection of very short children's stories teaching moral lessons that are explicitly stated
at the end in a maxim. Many of Aesop's maxims have passed into common usage, such as
"a bird in the hand is worth two in the bush."
In adult literature, it's more common to find parables teaching morals. While fables
use animals with human-like characteristics and inanimate objects as their story actors,
parables exclude anthropomorphized characters. This is a relatively recent distinction, and
many older parables do not follow this rule.

References:

https://www.reference.com/education/moral-story-ca4e98bde66e415#
https://englishpri.wordpress.com/2010/03/28/soal-bahasa-inggris/
http://hambanyaallah9b.blogspot.co.id/2013/11/paket-2-contoh-soal-dan-
pembahsannya.html

http://lenyerlinda.blogspot.co.id/2013/09/soal-narrative-pilihan ganda-2.html

http://freeenglishcourse.info/contoh-text-narrrative-sangat-pendek-penuh-nilai-moral/

14
6.6 Makna Kata Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Narrative
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

Reference
Saragih, A and Anggraini, S .2014. Writing. Medan:Unimed Press
Pardiyono. 2007. Pasti Bisa:Teaching Genre-Based Writing. Metode Mengajar Writing
Berbasis Genre secara Efektif. Yogyakarta: Andi.
http://enes-ainenglish.blogspot.com/2011/01/narrative-text.html

http://abidtinfaz.blogspot.co.id/2015/01/soal-bahasa-inggris-narrative-text-dan.html

15
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

BAHASA INGGRIS

CHAPTER 7: NEWS ITEM

Dr. Rahmad Husein, M.Ed.


Dr. Anni Holila Pulungan, M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
CHAPTER 7
NEWS ITEM

7.1 Gambaran Umum Teks Tertulis Fungsional Berbentuk News Item (Tujuan; Fungsi
Sosial; & Gagasan Utama)
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

News item is a text which informs readers about events of the day. The events are
considered newsworthy or important. News item is a type of the text that has the main
function or communicative purpose to inform readers of listeners or viewer about events
of the day that are considered newsworthy or important. The generic structure of news
item has elements as follows.
- Headline/title: the main point to report in reduced clause.
- Summary of event: the summary of main event that is to be reported.
- Background of event: the explanation about what had happened (who, what, when,
where).
- Source: someones about the event.

Generic Structure of News Item


1. Main event recounts the event in summary
2. Elaboration (background, participant, time, place) elaborates what happened, to whom,
and in what circumstances
3. Resource of information comments by participants in, witnesses to and authorities
expert on the event

Language Feature of News Item


1. Focusing on circumstances

1
2. Using material process
3. Short, telegraphic information about story captured in headline
4. Use of Material Processes to retell the events (in the text bellow, many of the Material
Processes are nominalised)
5. Use of projecting Verbal Processes in sources stage.
6. Focus on Circumstances (e.g. mostly within qualifiers).

Tips of Reporting
We read a "news item" to find out specific information about an event reported in
the news. Every "news item" has to have the answers to the five WH questions:

What - What happened exactly?


Who - Who are the people and groups involved in the event?
When - When did the event take place?
Where - Where did the event take place?
Why - Why did it happen? (The reasons behind the event)

Remember:
If you read information and write it in your own words, you are reporting!
If you copy someone else's writing you are doing something illegal. No reporter is
allowed to plagiarize from any other reporter!

Examples and structures of the text

Town Contaminated
Newsworthy Moscow A Russian journalist has uncovered evidence of another Soviet
events nuclear catastrophe, which killed 10 sailors and contaminated an entire
town.
Background Yelena Vazrshavskya is the first journalist to speak to people who
Events witnessed the explosion of a nuclear submarine at the naval base of
Shkotovo 22 near Vladivostock.

2
The accident, which occurred 13 months before the Chernobyl disaster,
spread radioactive fall-out over the base and nearby town, but was
covered up by officials of the Soviet Union. Residents were told the
explosion in the reactor of the Victor-class submarine during a refit had
been a thermal and not a nuclear explosion. And those involved in the
clean up operation to remove more than 600 tons of contaminated
material were sworn to secrecy.
Source A board of investigators was later to describe it as the worst accident in
the history of the Soviet Navy.

Reference
http://buanafandi.blogspot.co.id/2015/03/contoh-discussion-text-serta-contoh.html

3
7.2 Informasi Tertentu Teks Tertulis Fungsional Berbentuk News Item
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik, wacana, sosiolinguistik dan strategis)

After identifying the information you need, its helpful to determine which part of
the text it is in. Headings can help with this, as can reading for gist. The main reading skill
employed is scanning. This involves moving very quickly over the text, ignoring unknown
vocabulary and focusing solely on key words, phrases and ideas. Scanning should enable
you to find the specific information. Then read that part more carefully to get a full
understanding.
Reading for gist can be helpful in:
a. locating a specific word or phrase,
b. working out unknown vocabulary, and
c. finding the general location of an idea.

References
http://buanafandi.blogspot.co.id/2015/03/contoh-discussion-text-serta-contoh.html
http://testofenglishforsma.blogspot.co.id/2010/10/reading-comprehension.html
file:///F:/ImproveAdvanceReading.pdf

4
7.3 Informasi Rinci Tersurat Teks Tertulis Fungsional Berbentuk News Item
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

Explicit information is any idea that is stated. With explicit information, you see the
text explained! Since you are looking for explicit information in what is read, the explicit
information will be written in the text. There is no need to look for clues. Just read. If the
information is written it is explicit.

Exercise
YONKERS, Nov 12th. A four alarm fire damaged 14 stores today
in the Cross County Shopping Center, the largest shopping center
in Westchester County.
Two fire investigators said the blaze apparently started in a
pile of cardboard cartons at the rear of a shoe store and
spread through a utilities duct above the 13 other stores. The
fire started at 4.40 p.m. and was declared under control at 6.14
p.m. The center is on the Cross County Parkway at the Gov.
Thomas E. Dewey Thruway.
Five fire-fighters were busy at the scene. Lieut. John Carey
of the Yonkers Arson Squad said the cause of the fire was under
investigation

Reference

http://catlintucker.com/2014/08/common-core-explicit-vs-implicit-information/

http://englishahkam.blogspot.co.id/2012/12/news-item-text-yonkers-jawaban.html

5
7.4 Makna Kata Teks Tertulis Fungsional Berbentuk News Item
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

References
http://www.synonym.com/synonyms/uneducated
http://otnaites.blogspot.co.id/2015/03/pembahasan-soal-ujian-nasioanal-sma.html

7.5 Koherensi dan Kohesif Teks News Item


KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

According to the writers Halliday and Hasan (1976), there are six main ways that
cohesion is created in a text. These they called: Reference, Substitution, Ellipsis, Lexical
Chains, Cohesive Nouns and Conjunction.

References
http://www.amwediting.co.uk/faw/36.html
http://www.uefap.com/writing/exercise/parag/refer.htm
http://aeo.sllf.qmul.ac.uk/Files/Cohesion/Cohesion.htmlhttp://www.englishindo.com/20
12/03/news-item-text-penjelasan-contoh.html#ixzz4FlnUdsRT

6
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

BAHASA INGGRIS

CHAPTER 8: DESCRIPTION

Dr. Rahmad Husein, M.Ed.


Dr. Anni Holila Pulungan, M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
CHAPTER 8
DESCRIPTION

8.1 Gambaran Umum Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Descriptive

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala
aspek komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

DESCRIPTIVE

Descriptive is a kind of text which gives description about an object (living or non-
living things) such as person, place or thing. There are three things that have to know,
they are communicative purposes, generic structure and language features.
1) Social Function
The social function of writing descriptive text is to describe a particular
person, place, thing, or animal.

2) Generic Structure
It consists of two parts they are (a) identification; identification, that is the
statement that consist of one topic to be describe, and (b) description, which
consists of the details description about the object that is identified in
identification.

3) Grammatical Feature
In descriptive text, it is focuses on specific participant, uses of attributes,
declarative sentence, and simple present tense.

Study the following text organization!

1
Title Erlenmeyer flask

Identification An Erlenmeyer flask is a type of laboratory flask which


features a flat bottom, a conical body, and a cylindrical neck. It is
named after the German chemist Emil Erlenmeyer (18251909),
who created it in 1860.
Description Erlenmeyer flasks have wide bases, with sides that taper
upward to a short vertical neck. They may be graduated, and often
spots of ground glass or enamel are used where they can be
labeled with a pencil. It differs from the beaker in its tapered body
and narrow neck.
The mouth of the Erlenmeyer flask can have a beaded lip
that can be stoppered using a piece of cotton wool, rubber bung,
or similar. Alternatively, the neck may be fitted with a female
ground glass joint to accept a glass stopper.
The tapered sides and narrow neck of this flask allow the
contents of the flask to be mixed by swirling, without risk of
spillage, making them suitable for titrations. Such features
similarly make the flask suitable for boiling liquids. Hot vapors
condense on the upper section of the Erlenmeyer flask, reducing
solvent loss. Erlenmeyer flasks' narrow necks can also support
filter funnels.
Erlenmeyer flasks are also used in microbiology for the
preparation of microbial cultures. It has the most significant
impact on oxygen transfer.

2
Reference

http://alexarpandi.blogspot.co.id/2011/12/exercises-on-descriptive-text.html

3
8.2 Makna Kata Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Descriptive

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala
aspek komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

There are five types of descriptive text namely, describing process, describing an
event, describing personality, describing object and describing place.

1. Describing Process

Describing a process is not only to explain how something is accomplished, but


also to explain on why it is done and what is needed to complete the process.

How to be Happy?

First, when you wake up hit the snooze button once (just once only). When the
alarm sounds a second time get right up and do some light exercise for 15-20 minutes to wake yourself
up. Next, perform your daily beautiful routine and then take five extra minutes picking
out your clothes. Try something new when it comes to clothes, hair and make-up. Then, eat a light
breakfast with plenty of protein.
Next, if you can, walk to work, school or wherever you are heading and say hello
to random people on your way. Next, when you arrive at your destination have a short
conversation with a friend or better yet chat up someone new and make a new friend. Then, during
lunch grab a piece of fruit and a bottle of water and take a short walk. When you get back look in a mirror
and thank yourself for making a healthy decision.
Next, when you get home from work immediately put in a good, solid 45 minute
workout then take a nice relaxing bath or shower. Then, cook a nice dinner and enjoy with a
drink, some candlelight and some quiet jazz music (this can be done with or without a
partner). Next dinner make a cup of tea and call to chat with a friend for a bit.

4
The last, before bed be sure to stretch for about ten minutes to relax your body
and mind, then crawl into bed, read a chapter of a book, then shut off the lights and nod off to sleep.

2. Describing an event

To describe an event, a writer should be able to memorize and remember what


happened in that event. As the example, people is going to write about inspection of
Virus at vegetable., she/he has to explain all details related to the event, so that the
readers can imagine the real situation and condition perfectly.

3. Describing a personality

The first thing that we must do in describing a person is recognizing the individual
characteristics. We need to describe people occurs fairly areas of physical attribute (hair,
eyes, skin), emotional (warm, nervous,), attributes (greedy, honest, humble, trust) and
intellectual.

PROF. DR. M. SARDJITO, M.D., M.P.H.

Prof. Dr. M. Sardjito was born on August 13, 1889 in Magetan, East Java. He is
indonesian. He is a Doctor and also the founding father of Gadjah Mada University. He
ever works in Jakarta Laboratory center. He is a great doctor who spends his time mostly
in laboratory. He does research about influenza, dysentery bacillary and leprosy.
Dr. M. Sardjito help patients sincerely, he is so smart, trust, wise and respect
people. He lives to help everyone who needs him. Dr. M. Sardjito is a humble, patient
and gentle person. He has a simple personality, he likes to help everyone, no matter who
they are. He prefers to give something than asks something from everyone. He is diligent
and optimist doing something including research.

References

Adapted from: http://harternelwan.blogspot.co.id/2011/08/prof-sardjito-rektor-


pertama-ugm-yang.html

5
Source: http://biology.tutorvista.com
Adapted from: Plasma Membrane of a Cell_ Definition, Function & Structure - Video &
Lesson Transcript _ Study.com.html

6
8.3 Informasi Rinci Tersurat Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Descriptive

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala
aspek komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

Describing a place

Presenting a concrete thing is the way to describe place, for example; a house,
library, swimming pool, bus station, and market.

Venice

One of the famous cites in Italy is Venice. It gets its popularity because Venice is
a rich and interesting city. It has a lot of history documentations and offers a lot of
attractive things to visitors.
Venice has been established over 2000 years ago when waves of barbarians
drove people out of their homes in various Roman cities. Around years 800-1100 AD,
Venice underwent a period of growth, and became more centralized. It gradually
developed into a city state, which is essentially a self-governed region of a country that
trades freely among others.
As Venice gradually developed, it became a prominent player in the sea trade of
the time. It was set upon by many different threats. Pirates became the hugest problem.
Fewer and fewer shipments were making it through the treacherous water. It happened
when the Republic of Venice decided to move the operations to the eastern shores.
When we think of Venice, the first thing which comes to mind are canals. They
are considered the trademark of the city. Canals are mostly recognizable for providing
the main form of transportation throughout the city. Visiting Venice brings a rich aura
of history and culture. Floating through the canals for an afternoon makes for a
memorable experience, and its one that any traveler commonly enjoys.

7
Describing an object

To describe an object accurately is done through providing the physical objects


characteristics such as color, form, shape, and so on.

Plasma Membrane

The plasma membrane is the boundary between the cell and its environment. It
regulates what enters and exits the cell. Cells must maintain an appropriate amount of
molecules to function inside them. They must also have a way to keep things out or to
allow things to enter. This is the job of the plasma membrane. The plasma membrane is
like the guard at a gated community. The guard must inspect those who enter and those
who leave to make sure that only the people and things needed in the community are
there.
The plasma membrane is composed of a phospholipid bilayer, which are two
layers of phospholipids back-to-back. Phospholipids are lipids with a phosphate group
attached to them. The phospholipids have one head and two tails. The head is polar and
hydrophilic, or water-loving. The tails are nonpolar and hydrophobic, or water-fearing.
All living cells must maintain a balance regardless of external or internal
conditions. This includes regulating what can enter and exit the cell. The plasma
membrane serves as a gateway to allow or block the entry or exit of materials.

Reference

http://alexarpandi.blogspot.co.id/2011/12/exercises-on-descriptive-text.html

8
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

BAHASA INGGRIS

CHAPTER 9: DISCUSSION

Dr. Rahmad Husein, M.Ed.


Dr. Anni Holila Pulungan, M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
CHAPTER 9
DISCUSSION

9.1 Gambaran Umum Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Discussion


KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

Discussion is a text which presents a problematic discourse. This problem will


be discussed from different points of view. It presents pro and contra opinion on certain
issue. The purpose of a discussion text is to present arguments and information from
differing viewpoints. Discussion texts are usually written in the present tense. Discussion is
a process to find the meet point between two different ideas. It is important to to get the
understanding between the two differences. In many social activities, discussion is the
effective way to calm down any friction and difference in thought, perception and
recommendation.
This example of discussion text present the two poles, between the advantage and
disadvantage of using nuclear plant to fulfill the energy needed. It is a case which needs to
be talked and discussed from two points.

Points to check
Have you been fair to both sides?
Have you supported your views with reasons and evidence?
In your conclusion, have you given a reason for what you have decided?

. Generic Structure
Issue: contains of statement and preview about something.

1
Arguments for/Supporting arguments: after stating the issue, it is necessary to present
the argument to support that one point is agreeing.
Arguments against: beside the supporting argument, discussion text needs the
arguments which disagree to the stated issue.
Recommendation/conclusion: It is used to tell how to solve issue by concerning the
arguments for and against

Language Features
Introducing category or generic participant.
Relating verb/to be: is, am, are, etc.
Using thinking verb: feel, hope, believe, etc.
Using additive, contrastive, and causal connection: similarly, on the hand, however,
etc.
Using modalities: must, should, could, may, etc.
Using adverbial of manner: deliberately, hopefully, etc.
Conjunction/transition: although, even, if, etc

Example of Discussion Text


Now read this example of discussion text!

The Advantages and the Disadvantages of Nuclear Energy

Issue:
Nuclear energy is commonly offered as an alternative to overcome the crisis of
energy. The debate of whether the use of nuclear energy is an appropriate choice has not
come to an end. Some people agree with the utilization of it because of its benefits. Some
others, however, disagree because of its risks to the environment.

Argument pro:

Those who agree with the operation of nuclear reactors usually argue that nuclear
energy is the only feasible choice to answer the ever-increasing energy needs. In their

2
opinion, the other sources of energy: oil, coal, and liquid natural gas are not renewable and
safe, while nuclear energy can be sustainable when produced in a safe way.

Argument "contra":
However, people who disagree with the use of nuclear energy point out that the
waste of nuclear products can completely destroy the environment and human lives. A
meltdown in a reactor, for example, usually results in the contamination of the surrounding
soil and water. Take for example, the blow up of the nuclear reactor at the Chernobyl
Nuclear Power Station in Russia twenty years ago. The serious contamination imperiled
people and the environment severely.

Conclusion:
It is obvious that nuclear energy should be avoided because it really endangers the
environment but what about a less polluted energy instead of nuclear energy? Is there any
alternative energy to overcome the crisis of energy?

Reference
http://buanafandi.blogspot.co.id/2015/03/contoh-discussion-text-serta-contoh.html

3
9.2 Informasi Rinci Tersurat Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Discussion
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

Reference
http://testofenglishforsma.blogspot.co.id/2010/10/reading-comprehension.html

4
9.3 Informasi Tertentu Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Discussion
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

Reference
http://miftahalfi.blogspot.co.id/2013/04/kumpulan-soal-ujian-nasional-sma-per.html

5
9.4 Informasi Tersirat Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Discussion
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

Why would we ever need to imply a main idea when it's so easy to say it outright?
People use implied main ideas for all sorts of reasons - from disguising their real intentions,
to keeping us on our toes. In fact, you've probably even used an implied main idea or two
in the form of what we might call 'dropping hints.' Take for example this seemingly rambling
account from a theoretical 13-year-old.

Did you know snowboarding started from surfing? They even have snowboarding in the
Olympics now! I wonder how long it takes to build a snowboard? I saw one the other day,
though, down at the mall

Although it might look like these sentences are only thinly connected, their implied
main idea actually keeps them all tightly linked. And here's how we can tell

Read the passage entirely first. All the details might not make sense immediately, but you
should start to see patterns. For instance, the young teenager appears to be jumping from
one idea to the next; but if we look closely, we can see that snowboards feature
prominently throughout the passage.

Examine individual details to see how they relate to the common thread. The first sentence
relates snowboarding to surfing (maybe the parents are surfers?); the second hypes its
place in the Olympic Games; while the third and last imply the difficulties of building a
board, and the efficiency of finding one at the mall.

Put the details together to find out what the main idea is. We can look at the details
together to see that the implied main idea of this teenager's hint-dropping is that he or she
wants a snowboard: each detail attempts to add some sort of value to the sport so that the
parents will finally be convinced to buy the snowboard at the mall. Re-reading the passage
or summarizing it can also be helpful at this stage in the process.

6
Reference
http://www.ndrangsan.com/2016/01/Ringkasan-Materi-Dan-Ccontoh-Soal-Bahasa-
Inggris-Persiapan-UN-SMA.html

7
9.5 Koherensi dan Kohesif Teks Discussion Teks Tertulis Berbentuk Discussion
KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis)

Coherence

Coherence means the connection of ideas at the idea level, and cohesion means
the connection of ideas at the sentence level. Basically, coherence refers to the rhetorical
aspects of your writing, which include developing and supporting your argument (e.g.
thesis statement development), synthesizing and integrating readings, organizing and
clarifying ideas. The cohesion of writing focuses on the grammatical aspects of writing.
One of the practical tools that can help improve the coherence of your writing is to
use a concept map. The concept map is also known as reverse outline since you make an
outline of your paper after you have finished the main ideas of your paper. Write down the
main idea of each paragraphwhich is called a topic sentenceon a blank piece of paper.
Check to see if the topic sentences are connected to the thesis statement of your paper or
if you have strayed from your main argument. As you repeat this process, it will help you
become more aware of how to develop your argument coherently and how to organize
your ideas effectively. Here is a concept map template you can use.
Cohesion is also a very important aspect of academic writing, because it
immediately affects the tone of your writing. Although some instructors may say that you
will not lose points because of grammatical errors in your paper, you may lose points if the
tone of your writing is sloppy or too casual (a diary-type of writing or choppy sentences will
make the tone of your writing too casual for academic writing). But cohesive writing does
not mean just grammatically correct sentences; cohesive writing refers to the connection
of your ideas both at the sentence level and at the paragraph level.
Here are some examples that illustrate the importance of connecting your ideas
more effectively in writing.

8
The hotel is famous. It is one of the most well-known hotels in the country. The
latest international dancing competition was held at the hotel. The hotel spent a lot of
money to advertise the event because the hotel wanted to gain international reputation.
But not many people attended the event. (The connection of ideas is not very good.)

The hotel, which is one of the most well-known hotels in this region, wanted to
promote its image around the world by hosting the latest international dancing
competition. Although the event was widely advertised, not many people participated in
the competition. (The connection of ideas is better than in the first example.)

The latest international dancing competition was held at the hotel, which is one of
the most well-known hotels in this region. The hotel spent a lot of money on advertising
the event since it wanted to enhance its international reputation; however, it failed to
attract many people. (The connection of ideas is better than in the first example.)
Created by Young-Kyung Min, PhD ykmin@uwb.edu

Cohesion and coherence aren't too difficult to explain. Cohesion refers to


connectivity in a text. Coherence refers to how easy it is to understand the writing.

Cohesion and Coherence

"My favourite colour is blue. I like it because it is calming and it relaxes me. I often
go outside in the summer and lie on the grass and look into the clear sky when I am
stressed. For this reason, I'd have to say my favourite colour is blue."

This sentence is both coherent and cohesive, but let's focus on the cohesion
first. I've highlighted the ways that each sentence is connected to the sentence before.

9
Cohesion with NO Coherence

Now, here is a sentence that has cohesion but no coherence.

"My favourite colour is blue. Blue sports cars go very fast. Driving in this way is
dangerous and can cause many car crashes. I had a car accident once and broke my leg. I
was very sad because I had to miss a holiday in Europe because of the injury."

As you can see, there is plenty of cohesion here. The sentences connect clearly
together but if you read the paragraph, it really makes no sense - I start talking about blue
and I finish talking about a holiday in Europe. There is no coherence in this sentence.

Coherence with NO Cohesion

Now, let's take a look at a sentence that is coherent but not cohesive.

"My favourite colour is blue. I'm calm and relaxed. In the summer I lie on the grass and
look up."

References

Foresman, S. Literature and Integrated Studies. Grade 11. Reading, Writing & Grammar Skill
Book Student Edition. Illinois: Scott Foresman Company
http://www.bothell.washington.edu/wacc/for-students/eslhandbook/coherence
http://gordonscruton.blogspot.co.id/2011/08/what-is-cohesion-coherence-
cambridge.html
http://freeenglishcourse.info/example-of-discussion-text-school-uniform/

10
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

BAHASA INGGRIS

CHAPTER 10: HORTATORY EXPOSITION

Dr. Rahmad Husein, M.Ed.


Dr. Anni Holila Pulungan, M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
CHAPTER 10
HORTATORY EXPOSITION

10.1 Gambaran Umum Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Hortatory Exposition

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik, wacana, sosiolinguistik dan strategis).

Hortatory Exposition

A hortatory exposition is a type of spoken or written text that is intended to explain


the listeners or readers that something should or should not happen or be done. In other
words, the main function of Hortatory Exposition text is to persuade the readers or listener
that something should or should not be the case. To strengthen the explanation, the
speaker or writer needs some arguments as the fundamental reasons of the given idea. In
other words, this kind of text can be called as argumentation. Hortatory exposition text can
be found in scientific books, journals, magazines, newspaper articles, academic speech or
lectures, research report etc. Hortatory expositions are popular among science, academic
community and educated people. It means that the text asserts something to the readers
by giving supporting statement and evidence to convince it. To make the persuasion
stronger, the speaker or writer gives some arguments as the fundamental reasons why
something is the case.

The characteristics of hortatory exposition contain:

Purpose
To persuade the reader or listener that something should or should not be the case.

1
Generic structure
Thesis it presents announcement of issue of concern.
Arguments it presents the reasons for concern, leading to recommendation.
Recommendation it presents the statement of what ought or ought not to
happen.

Lexicogrammatical features
Focus on generic human and non-human participants
The use material processes
Using Present Tense
Using conjunction

Example of hortatory exposition text:

Watch Your Kid while Watching TV

Television becomes one of the most important devices, which takes place in almost
houses. It can unite all members of the family as well as separate them. However, is it
important to know what your kids are watching? The answer is, of course, absolutely "Yes"
and that should be done by all parents. Television can expose things you have tried to
protect the children from, especially violence, pornography, consumerism and so on.
Recently, a study demonstrates that spending too much time on watching TV during
the day or at bedtime often causes bed-time disruption, stress, and short sleep duration.
Another research find that there is a significant relationship between the amount of
time spent for watching television during adolescence and early adulthood, and the
possibility of being aggressive.
Meanwhile, many studies have identified a relationship between kids who watch TV
a lot and being inactive and overweight.
Considering some facts mentioning above, protect your children with the following

2
tips:
Limit television viewing to one-two hours each day
Do not allow your children to have a TV set in their own bedrooms
Review the rating of TV shows which your children watch
Watch television with your children and discuss what is happening in the show

References

Goner, Mike. 2009. Hortatory Exposition.


http://typeoftext.blogspot.co.id/2009/01/hortatory-exposition.html, accessed on July 25th
2016.
http://englishdiarstewart.blogspot.co.id/2013/01/hortatory-exposition.html, accessed on
July 25th2016.

3
10.2 Informasi Spesifik Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Hortatory Exposition

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis).

HORTATORY EXPOSITION

It is a kind of text type that presents arguments or reasons to support the opinion.
It is aimed to persuade the readers or listeners that something should or should not be the
case. The difference of analytical and hortatory exposition is on the term of its generic
structure in the last part that is called as reiteration in analytical and recommendation in
hortatory exposition. The function of both is quite different. In analytical exposition,
reiteration is used to give emphasize on the writers opinion by restating point of view.
While in hortatory exposition, recommendation is used to give advice or such a suggestion
to the readers to make a choice by considering the presented arguments. In short the
purpose of hortatory exposition text is to argue a case for against a particular position or
point of view and it purposes a suggestion in the end of the argumentation. Some examples
of hortatory exposition are: Editorial, letter to the editor, and letter to a politician.

Generic Structure of Hortatory Exposition

The generic structure of hortatory exposition is:


1. An Introductory Statement: It consists of the authors point of view (thesis), preview of
the arguments that will follow in the next section, and a question or emotional
statement to get audience attention.
2. A series of arguments to convince the audience: This part is significant to support about
the thesis. Therefore, it needs some requirements. They are explained as follow;
A new paragraph is used for each argument
Each new paragraph begins with topic sentence

4
After topic sentence comes the details to support the arguments
Emotive words are used to persuade the audience into believing the author.

3. Recommendation: statement of what should or should not happen or be done based on


the given arguments.

Language Features of Hortatory Exposition

Common grammatical patterns in hortatory exposition include:


Abstract nouns, e.g. culture, etc.
Action verbs, e.g. value, etc.
Connectives, e.g. first, second, etc.
Modal auxiliaries: Should, ought to, had better

Example of Hortatory Exposition text:

The Importance of Reading

Thesis:
I personally think that reading is a very important activity in our life. Why do I say
so?
Argument I:
Firstly, by reading we can get a lot of knowledge about many things in the world
such as Science, technology, sports, arts, culture, etc written in either books, magazine,
newspaper, etc.

Argument II:
Secondly, by reading we can get a lot of news and information about something
happening in any parts of the world which can we see directly.

5
Argument III:
Another reason, reading can give us pleasure too. When we are tired, we read
books, novel, comic, newspaper or magazine on the entertainment column such as
comedy, short story, quiz, etc. To make us relaxed.

Argument IV:
The last, reading can also take us to other parts of the world. By reading a book
about Irian Jaya we may feel were really sitting in the jungles not at home in our rooms.

Recommendation:
From the facts above, its obvious that everyone needs to read to get knowledge,
information and also entertainment. Or in summary we can say reading is truly important
in our life.

References

https://brrrexpresion.wordpress.com/hortatory-exposition/, accessed on July 25th 2016


http://www.mydefinition.tk/2015/10/definition-of-news-item-report.html, accessed on
July 25th 2016

6
10.3 Rujukan Kata Teks Tertulis Fungsional Berbentuk Hortatory Exposition

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis).

Language Features of Hortatory Exposition

Common grammatical patterns in hortatory exposition include:


Abstract nouns, e.g. culture, etc.
Action verbs, e.g. value, etc.
Temporal connectives, e.g. first, second, etc.
Modal auxiliaries: Should, ought to, had better

1. Abstract Noun
An abstract noun is a word which names something that you cannot see, hear, touch,
smell, or taste. It is the opposite of a concrete noun.
Examples: consideration, parenthood, belief, etc.

2. Action Verb
An action verb expresses something that a person, animal, or object can do.
For example: watch, talk, explode, reach, etc.

3. Temporal Connective
We will refer to a temporal connective as an expression which relates an event to a
point or an interval in time.
For example: firstly, secondly, thirdly, etc.

7
4. Modal Auxiliaries
Here's a list of the modal verbs in English:

Can Could may Might will

would Must shall Should ought to

References

https://brrrexpresion.wordpress.com/hortatory-exposition/, accessed on July 25th 2016


http://www.k12reader.com/term/action-verbs, accessed on July 25th 2016
http://cs.nyu.edu/faculty/grishman/time-guidelines.v3_3.html, accessed on July 25th 2015
http://www.perfect-english-grammar.com/modal-verbs.html, accessed on July 25th 2015

8
10.4 Koherensi dan Kohesi Teks Hortatory Exposition

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis).

Coherence and Cohesion in Hortatory Exposition

Coherence means the connection of ideas at the idea level, and cohesion means
the connection of ideas at the sentence level. Basically, coherence refers to the rhetorical
aspects of your writing, which include developing and supporting your argument (e.g.
thesis statement development), synthesizing and integrating readings, organizing and
clarifying ideas. Coherence is the arrangement of ideas in a clear and logical way. When a
text is unified and coherent, the reader can easily understand the main points. In other
words, coherence means that the paragraph is easy to read and understand because the
supporting sentences are in some kind of logical order and the ideas are connected by the
use of appropriate transition signals.
There are several ways to achieve coherence. According to Oshima& Hogue, there
are four ways to achieve coherence. The first two ways involves repeating key nouns and
using pronouns which refer back to key nouns. The third way is to use transition signals to
show how one idea is related to the next. The fourth way to achieve coherence is to arrange
the sentences in logical orders.
The cohesion of writing focuses on the grammatical aspects of writing. Cohesion
is part of the text-forming component in the linguistic system. It is the means whereby
structurally unrelated elements are linked together, through the dependence of one on the
other for its interpretation.

9
There are some types of cohesion. They are:
A. Grammatical Cohesion
1. Reference; reference refers to the dependent relationship between the referring
and the referred in a text.
2. Substitution; the use of pro-forms.
3. Ellipsis; omission of elements which are retrievable from context.
4. Conjunction; signals relationship between discourse segments (and, but, or,
though, then, because...).

B. Lexical Cohesion
1. Reiteration; repetition of a lexical item in various forms.
2. Collocation; association of lexical items that regularly co-occur due to some
recognizable lexico-semantic relation.

References

Young-Kyung Min. http://www.bothell.washington.edu/wacc/for


students/eslhandbook/coherence, accessed on July 25th 2016
vhttps://brocku.ca/ling3p95/lecture/tx&cntx.htm, accessed on July 25th 2016

10
SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016

BAHASA INGGRIS

CHAPTER 11:
CRITICAL READING AND WRITING

Dr. Rahmad Husein, M.Ed.


Dr. Anni Holila Pulungan, M.Hum.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
2016
CHAPTER 11
CRITICAL READING AND WRITING

11.1 Analisis Teks secara Kritis

KI: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.

KD: Menguasai bahasa Inggris lisan dan tulisan, reseptif dan produktif dalam segala aspek
komunikatifnya (linguistik,wacana,sosiolinguistik dan strategis).

A. Critical Reading

To make you understand the critical reading, read the differences between critical
reading and non-critical reading as the following table.

Table 1 The different between critical reading and non-critical reading

Non-critical reading Critical reading


To non-critical readers, texts To the critical reader, any single text provides but
provide facts. Readers gain one portrayal of the facts, one individuals take on
knowledge by memorizing the the subject matter. Critical readers thus recognize
statements within a text. not only what a text says, but also how that text
portrays the subject matter. They recognize the
various ways in which each and every text is the
unique creation of a unique author.
A non-critical reader might A critical reader might read the same work to
read a history book to learn appreciate how a particular perspective on the
the facts of the situation or to events and a particular selection of facts can lead to
discover an accepted particular understanding.

1
interpretation of those
events.
Non-critical reading is Critical reading goes two steps further. Having
satisfied with recognizing recognized what a text says , it reflects on what the
what a text says and restating text does by making such remarks. Is it offering
the key remarks. examples? Arguing? Appealing for
sympathy? Making a contrast to clarify a point?
Finally, critical readers then infer what the text, as a
whole, means, based on the earlier analysis.

Types of reading

These three steps or modes of analysis are reflected in three types of reading and
discussion:
What a text says restatement talks about the same topic as the original text
What a text does description discusses aspects of the discussion itself
What a text means interpretation analyzes the text and asserts a meaning for
the text as a whole.

Goals of Critical Reading

Textbooks on critical reading commonly ask students to accomplish certain goals:


recognizing purpose involves inferring a basis for choices of content and language
recognizing tone and persuasive elements involves classifying the nature of language
choices
recognizing bias involves classifying the nature of patterns of choice of content and
language
Critical reading is not simply close and careful reading. To read critically, one must
actively recognize and analyze evidence upon the page.

2
B. Critical Writing
What is Critical Writing? It is common for feedback on student writing to focus on
the need to engage more critically with the source material. Typical comments from tutors
are: too descriptive, or not enough critical analysis. This study guide gives ideas for how
to improve the level of critical analysis you demonstrate for your writing.

The most characteristic features of critical writing are:


a clear and confident refusal to accept the conclusions of other writers without
evaluating the arguments and evidence that they provide;
a balanced presentation of reasons why the conclusions of other writers may be
accepted or may need to be treated with caution;
a clear presentation of your own evidence and argument, leading to your conclusion;
and
a recognition of the limitations in your own evidence, argument, and conclusion.

The difference between descriptive writing and critical writing

With descriptive writing you are not developing argument; you are merely setting
the background within which an argument can be developed. You are representing the
situation as it stands, without presenting any analysis or discussion.
Descriptive writing is relatively simple. There is also the trap that it can be easy to
use many, many words from your word limit, simply providing description. In providing only
description, you are presenting but not transforming information; you are reporting ideas
but not taking them forward in any way. An assignment using only descriptive writing
would therefore gain few marks. By critical writing you are participating in the academic
debate. This is more challenging and risky. You need to weigh up the evidence and
arguments of others, and to contribute your own. You will need to:
consider the quality of the evidence and argument you have read;
identify key positive and negative aspects you can comment upon;
assess their relevance and usefulness to the debate that you are engaging in for
your assignment; and
identify how best they can be woven into the argument that you are developing.

3
A much higher level of skill is clearly needed for critical writing than for descriptive
writing, and this is reflected in the higher marks it is given.
Critical writing involves considering evidence to make reasoned conclusions. A
mistake many beginning writers make is to use only one source to support their ideas (or,
worse, no sources, making unsubstantiated statements). The main problem with using only
one source is: what if your source says one thing, but most other writers say something
completely different? In critical writing you therefore need to consider more than one
viewpoint. This leads to the first part of the simple definition of critical writing, which is:

Critical writing uses more than one source in developing an argument.


Another mistake beginning writers make is to use several sources but to string
quotes together (e.g. A says this, B says that, C says something else), without really
analysing what these writers say. In critical writing, you need to evaluate and analyse the
information from sources, rather than just accepting it as being true. This leads to the
second part of the simple definition, which is:

Critical writing evaluates and analyses the information from different sources.
Putting this together, a simple definition of critical writing is as follows:

Critical writing is writing which evaluates and analyses more than one source in
order to develop an argument.

References

Critical Reading (http://www.criticalreading.com/critical_reading.htm, accessed at July


25th 2016)
Critical Writing (http://www2.le.ac.uk/offices/ld/resources/writing/writing-
resources/critical-writing, accessed at July 25th 2016)
Exercise of Critical Reading (www.khanacademy.org, accessed at July 25th 2016)
Exercise of Critical Writing (http://www.mhhe.com/, accessed at July 25th 2016)

4
KEBIJAKAN
PENGEMBANGAN
PROFESI GURU
KEBIJAKAN
PENGEMBANGAN PROFESI GURU

Materi

Pendidikan dan Latihan Profesi Guru


Tahun 2012

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan


dan Penjaminan Mutu Pendidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun 2012
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

BAHAN AJAR PLPG

KEBIJAKAN
PENGEMBANGAN PROFESI GURU

3 Jam Pelajaran

Pengarah
Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd

Penanggung Jawab
Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd

Tim Penyusun
Dra. Dian Mahsunah, M.Pd
Dian Wahyuni, SH, M.Ed
Drs. Arif Antono
Dra. Santi Ambarukmi, M.Ed

Editor
Prof. Dr. Sudarwan Danim

i
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

SAMBUTAN
KEPALA BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang
Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, penulisan bahan untuk mata ajar Kebijakan
Pengembangan Profesi Guru dapat diselesaikan. Bahan ajar ini dikembangkan dari rambu-
rambu struktur kurikulum Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) tahun 2012.
Kehadiran bahan ajar ini diharapkan menjadi penguat bagi peserta PLPG untuk memenuhi
standar kompetensi lulusan yang telah dirumuskan.
Substansi bahan ajar ini berkaitan dengan kebijakan pembinaan dan pengembangan
profesi guru di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya tentang
peningkatan kompetensi, penilaian kinerja, pengembangan karir, perlindungan dan
penghargaan, serta etika profesi guru. Substansi sajian ini diharapkan dapat menginspirasi
peserta PLPG untuk memahami secara lebih mendalam dan mengaplikasikan secara baik hal-
hal yang berkaitan dengan kebijakan pengembangan profesi guru sebagaimana dimaksud.
Kami menyadari sepenuhnya, bahwa pencapaian standar kompetensi lulusan bagi
peserta PLPG merupakan salah satu prasyarat untuk mewujudkan guru yang profesional, yang
mampu mengelola proses pembelajaran yang bermutu. Hal ini menjadi bagian integral dari
upaya mentransformasi visi Badan Pengembangan SDMPK dan PMP, yaitu terselenggaranya
layanan prima untuk membentuk SDM pendidikan dan kebudayaan yang profesional dan
bermartabat serta penjaminan mutu pendidikan yang terstandar menjadi realitas.
Kami yakin dan percaya bahwa substansi bahan ajar ini sangat relevan bagi peserta
PLPG untuk memahami dan kemudian mengaplikasi-kan aneka kebijakan dalam
pengembangan profesi guru. Kami mengucap-kan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berpartisipasi dalam penyusunan bahan ajar ini. Mudah-mudahan kehadiran bahan ajar ini
dapat mengoptimasi peserta PLPG untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran
pada satuan pendidikan tempatnya menjalankan tugas-tugas profesional.

ii
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

PENGANTAR
KEPALA PUSAT PENGEMBANGAN PROFESI PENDIDIK
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DAN
PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Sertifikasi guru merupakan amanat Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru mengharuskan bahwa guru
profesional memiliki kualifikasi akademik sekurang-kurangnya S1 atau Diploma IV dan
bersertifikat pendidik. Salah satu pola sertifikasi guru dalam jabatan adalah Pendidikan dan
Pelatihan Profesi Guru (PLPG) yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki
program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah.
Salah satu mata ajar dalam PLPG tahun 2012 adalah Kebijakan Pengembangan Profesi
Guru. Bahan ajar ini ditulis dan dikembangkan bersama oleh Tim Pusat Pengembangan Profesi
Pendidik dengan editor Prof. Dr. Sudarwan Danim dari rambu-rambu struktur kurikulum PLPG
tahun 2012. Kehadiran bahan ajar ini diharapkan menjadi sumber belajar dan penguat bagi
peserta PLPG untuk memenuhi standar kompetensi lulusan yang telah disepakati oleh
pengembang sesuai dengan regulasi yang ada.
Secara keseluruhan, substansi bahan ajar ini berkaitan dengan kebijakan pembinaan dan
pengembangan profesi guru di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
khususnya tentang peningkatan kompetensi, penilaian kinerja, pengembangan karir,
perlindungan dan penghargaan, serta etika profesi guru. Substansi sajian ini diharapkan dapat
menginspirasi peserta PLPG untuk memahami secara lebih mendalam dan mengaplikasikan
secara baik hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan pengembangan profesi guru sebagaimana
dimaksud.
Kami menyadari sepenuhnya, bahwa pencapaian standar kompetensi lulusan bagi
peserta PLPG merupakan prasyarat untuk mewujudkan guru yang profesional, yang mampu
mengelola proses pembelajaran yang bermutu. Kami yakin dan percaya bahwa substansi
bahan ajar ini sangat relevan bagi peserta PLPG untuk memahami dan kemudian
mengaplikasikan aneka kebijakan dalam pengembangan profesi guru.
Akhirnya, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi
dalam penyusunan bahan ajar ini. Mudah-mudahan kehadiran bahan ajar ini dapat
mengoptimasi peserta PLPG untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di
sekolahnya.

iii
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

DAFTAR ISI

SAMBUTAN ..................................................................................................... ii
PENGANTAR ................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................ 39
B. Standar Kompetensi .................................................................................... 40
C. Deskripsi Bahan Ajar .................................................................................. 40
D. Langkah-langkah Pembelajaran .................................................................. 41

BAB 1 KEBIJAKAN UMUM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN


GURU ..................................................................................................... 42
A. Latar Belakang ................................................................................ 42
B. Empat Tahap Mewujudkan Guru Profesional .................................... 44
C. Alur Pengembangan Profesi dan Karir ............................................. 46
D. Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan ...................................... 48
E. Kebijakan Pemerataan Guru ............................................................ 50

BAB II PENINGKATAN KOMPETENSI ................................................................. 54


A. Esendi Peningkatan Kompetensi ..................................................... 54
B. Prinsip-Prinsip Peningkatan Kompetensi dan Karir ........................... 55
C. Jenis Program ................................................................................. 57
D. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ..................................... 58
E. Uji Kompetensi ................................................................................ 65
Latihan dan Renungan ........................................................................... 69

BAB III PENILAIAN KINERJA ............................................................................... 70


A. Latar Belakang ................................................................................. 70
B. Pengertian ........................................................................................ 70
C. Persyaratan ...................................................................................... 72
D. Prinsip-prinsip Pelaksanaan .............................................................. 72
E. Aspek yang Dinilai ............................................................................ 73
F. Prosedur Pelaksanaan ...................................................................... 74
G. Konversi Nilai Hasil PK Guru ke Angka Kredit ................................... 78
H. Penilai PK Guru ................................................................................ 80
I. Sanksi .............................................................................................. 81
J. Tugas dan Tanggung Jawab ............................................................. 81
Latihan dan Renungan ............................................................................ 83

BAB IV PENGEMBANGAN KARIR ........................................................................ 84


A. Ranah Pengembangan Guru ............................................................ 84
B. Ranah Pengembangan karir ............................................................. 86
C. Kenaikan Pangkat ............................................................................. 90
Latihan dan Renungan ............................................................................ 93

BAB V PERLINDUNGAN DAN PENGHARGAAN ................................................. 94


A. Pengantar ......................................................................................... 94
B. Definisi ............................................................................................. 95

iv
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

C. Perlindungan Atas Hak-hak Guru ...................................................... 96


D. Jenis-jenis Upaya Perlindungan Hukum Bagi Guru ........................... 99
E. Asas Pelaksanaan ............................................................................ 102
F. Penghargaan dan Kesejahteraan ...................................................... 102
G. Tunjangan Guru ................................................................................ 109
Latihan dan Renungan ............................................................................ 113

BAB VI ETIKA PROFESI .................................................................................... 114


A. Profesi Guru Sebagai Panggilan Jiwa ............................................... 114
B. Definisi ............................................................................................. 116
C. Guru dan Keanggotaan Organisasi Profesi ....................................... 116
D. Esensi Kode Etik dan Etika Profesi ................................................... 117
E. Rumusan Kode Etik Guru Indonesia ................................................. 118
F. Pelanggaran dan Sanksi ................................................................... 123
Latihan dan Renungan ............................................................................ 124

REFLEKSI AKHIR .................................................................................................... 125

ACUAN .................................................................................................................... 129

v
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada peradaban bangsa mana pun, termasuk Indonesia, profesi guru bermakna strategis karena
penyandangnya mengemban tugas sejati bagi proses kemanusiaan, pemanusiaan, pencerdasan,
pembudayaan, dan pembangun karakter bangsa. Makna strategis guru sekaligus meniscayakan
pengakuan guru sebagai profesi. Lahirnya Undang-undang (UU) No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen, merupakan bentuk nyata pengakuan atas profesi guru dengan segala dimensinya. Di dalam
UU No. 14 Tahun 2005 ini disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Sebagai implikasi dari UU No. 14 Tahun 2005, guru harus menjalani proses sertifikasi untuk
mendapatkan Sertifikat Pendidik. Guru yang diangkat sejak diundangkannya UU ini, menempuh
program sertifikasi guru dalam jabatan, yang diharapkan bisa tuntas sampai dengan tahun 2015.
Pada spektrum yang lebih luas, pengakuan atas profesi guru secara lateral memunculkan
banyak gagasan. Pertama, diperlukan ekstrakapasitas untuk menyediakan guru yang profesional
sejati dalam jumlah yang cukup, sehingga peserta didik yang memasuki bangku sekolah tidak
terjebak pada ngarai kesia-siaan akibat layanan pendidikan dan pembelajaran yang buruk.
Kedua, regulasi yang implementasinya taat asas dalam penempatan dan penugasan guru agar
tidak terjadi diskriminasi akses layanan pendidikan bagi mereka yang berada pada titik-titik terluar
wilayah negara, di tempat-tempat yang sulit dijangkau karena keterisolasian, dan di daerah-daerah
yang penuh konflik.
Ketiga, komitmen guru untuk mewujudkan hak semua warga negara atas pendidikan yang
berkualitas melalui pendanaan dan pengaturan negara atas sistem pendidikan.
Keempat, meningkatkan kesejahteraan dan status guru serta tenaga kependidikan lainnya
melalui penerapan yang efektif atas hak asasi dan kebebasan profesional mereka.
Kelima, menghilangkan segala bentuk diskriminasi layanan guru dalam bidang pendidikan dan
pembelajaran, khususnya yang berkaitan dengan jender, ras, status perkawinan, kekurangmampuan,
orientasi seksual, usia, agama, afiliasi politik atau opini, status sosial dan ekonomi, suku bangsa, adat
istiadat, serta mendorong pemahaman, toleransi, dan penghargaan atas keragaman budaya
komunitas.
Keenam, mendorong demokrasi, pembangunan berkelanjutan, perdagangan yang fair, layanan
sosial dasar, kesehatan dan keamanan, melalui solidaritas dan kerjasama di antara anggota
organisasi guru di mancanegara, gerakan organisasi kekaryaan internasional, dan masyarakat
madani.
Beranjak dari pemikiran teoritis di atas, diperlukan upaya untuk merumuskan kebijakan dan
pengembangan profesi guru. Itu sebabnya, akhir-akhir ini makin kuat dorongan untuk melakukan kaji
ulang atas sistem pengelolaan guru, terutama berkaitan dengan penyediaan, rekruitmen,
pengangkatan dan penempatan, sistem distribusi, sertifikasi, peningkatan kualifikasi dan kompetensi,
penilaian kinerja, uji kompetensi, penghargaan dan perlindungan, kesejahteraan, pembinaan karir,
pengembangan keprofesian berkelanjutan, pengawasan etika profesi, serta pengelolaan guru di

39
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

daerah khusus yang relevan dengan tuntutan kekinian dan masa depan. Untuk tujuan itu,
Kementerian Pendidikan dan kebudayaan selalu berusaha untuk menyempurnakan kebijakan di
bidang pembinaan dan pengembangan profesi guru.

B. Standar Kompetensi
Substansi material Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dituangkan ke dalam rambu-rambu
struktur kurikulum yang menggambarkan standar kompetensi lulusan. Berkaitan dengan mata ajar
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru, kompetensi lulusan PLPG yang diharapkan disajikan berikut
ini.
1. Memahami kebijakan umum pembinaan dan pengembangan profesi guru di lingkungan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
2. Memahami esensi, prinsip, jenis program pengembangan keprofesian guru secara
berkelanjutan, serta uji kompetensi guru dan dampak ikutanya.
3. Memahami makna, persyaratan, prinsip-prinsip, tahap-tahap pelaksanaan, dan konversi nilai
penilaian kinerja guru.
4. Memahami esensi dan ranah pembinaan dan pengembangan guru, khususnya berkaitan dengan
keprofesian dan karir.
5. Memahami konsep, prinsip atau asas, dan jenis-jenis penghargaan dan perlindungan kepada
guru, termasuk kesejahteraannya.
6. Memahami dan mampu mengaplikasikan esensi etika profesi guru dalam pelaksanaan proses
pendidikan dan pembelajaran secara profesional, baik di kelas, di luar kelas, maupun di
masyarakat.

C. Deskripsi Bahan Ajar

Seperti dijelaskan di muka, bahwa substansi material Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)
dituangkan ke dalam rambu-rambu struktur kurikulum yang menggambarkan standar kompetensi
lulusan. Berkaitan dengan mata ajar Kebijakan Pengembangan Profesi Guru, deskripsi umum bahan
ajarnya disajikan berikut ini.

1. Pengantar ringkas. Mengulas serba sekilas mengenai kebijakan umum pembinaan dan
pengembangan profesi guru di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
2. Peningkatan kompetensi guru. Materi sajian terutama berkaitan dengan esensi, prinsip, jenis
program pengembangan keprofesian guru secara berkelanjutan, serta uji kompetensi guru dan
dampak ikutanya.
3. Penilaian kinerja guru. Materi sajian terutama berkaitan dengan makna, persyaratan, prinsip,
tahap-tahap pelaksanaan, dan konversi nilai penilaian kinerja guru.
4. Pengembangan karir guru. Materi sajian terutama berkaitan dengan esensi dan ranah
pembinaan dan pengembangan guru, khususnya berkaitan dengan keprofesian dan karir.
5. Perlindungan dan penghargaan guru. Materi sajian terutama berkaitan dengan konsep, prinsip
atau asas, dan jenis-jenis penghargaan dan perlindungan kepada guru, termasuk
kesejahteraannya.

40
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

6. Etika profesi guru. Materi sajian terutama berkaitan dengan esensi etika profesi guru dalam
pelaksanaan proses pendidikan dan pembelajaran secara profesional, baik di kelas, di luar kelas,
maupun di masyarakat.

D. Langkah-langkah Pembelajaran

Bahan ajar Kebijakan Pengembangan Profesi Guru ini dirancang untuk dipelajari oleh peserta PLPG,
sekali guru menjdi acuan dalam proses pembelajaran bagi pihak-pihak yang tergamit di dalamnya.
Selama proses pembelajaran akan sangat dominan aktivitas pelatih dan peserta PLPG. Aktivitas
peserta terdiri dari aktivitas individual dan kelompok. Aktivitas individual peserta mengawali akivitas
kelompok. Masing-masing aktivitas dimaksud disajikan dalam gambar.
Langkah-langkah aktivitas pembelajaran di atas tidaklah rijid. Namun demikian, melalui
aktivitas itu diharapkan peserta PLPG mampu memahami secara relatif luas dan mendalam tentang
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru, khususnya di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional.

41
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

BAB I
KEBIJAKAN UMUM PEMBINAAN DAN
PENGEMBANGAN GURU

Materi sajian pada Bab I ini berupa pengantar umum yang mengulas serba
sekilas mengenai kebijakan umum pembinaan dan pengembangan profesi
guru di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sajian materi
ini dimaksudkan sebagai pengantar materi utama yang disajikan pada bab-
bab berikutnya, yaitu peningkatan kompetensi, penilaian kinerja,
pengembangan karir, perlindungan dan penghargaan, serta etika profesi.

A. Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang mengalami kecepatan dan percepatan luar
biasa, memberi tekanan pada perilaku manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan
hidupnya. Di bidang pendidikan, hal ini memunculkan kesadaran baru untuk merevitalisasi kinerja
guru dan tenaga kependidikan dalam rangka menyiapkan peserta didik dan generasi muda masa
depan yang mampu merespon kemajuan IPTEK, serta kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Peserta didik dan generasi muda sekarang merupakan manusia Indonesia masa depan yang
hidup pada era global. Globalisasi memberi penetrasi terhadap kebutuhan untuk mengkreasi model-
model dan proses-proses pembelajaran secara inovatif, kreatif, menyenangkan, dan transformasional
bagi pencapaian kecerdasan global, keefektifan, kekompetitifan, dan karakter bangsa. Negara-negara
yang berhasil mengoptimasi kecerdasan, menguasai IPTEK, keterampilan, serta karakter bangsanya
akan menjadi pemenang. Sebaliknya, bangsa-bangsa yang gagal mewujudkannya akan menjadi
pecundang.
Aneka perubahan era globalisasi, agaknya menjadi ciri khas yang berjalan paling konsisten.
Manusia modern menantang, mencipta, sekaligus berpotensi diterpa oleh arus perubahan.
Perubahan peradaban ini menuntut pertaruhan dan respon manusia yang kuat agar siap menghadapi
tekanan internal dan eksternal, serta menunjukkan eksistensi diri dalam alur peradaban.
Pada era globalisasi, profesi guru bermakna strategis, karena penyandangnya mengemban
tugas sejati bagi proses kemanusiaan, pemanusiaan, pencerdasan, pembudayaan, dan pembangun
karakter bangsa. Esensi dan eksistensi makna strategis profesi guru diakui dalam realitas sejarah
pendidikan di Indonesia. Pengakuan itu memiliki kekuatan formal tatkala tanggal 2 Desember 2004,
Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono mencanangkan guru sebagai profesi. Satu tahun kemudian,
lahir Undang-undang (UU) No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, sebagai dasar legal
pengakuan atas profesi guru dengan segala dimensinya.
Metamorfosis harapan untuk melahirkan UU tentang Guru dan Dosen telah menempuh
perjalanan panjang. Pencanangan Guru sebagai Profesi oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono
menjadi salah satu akselerator lahirnya UU No. 14 Tahun 2005 itu. Di dalam UU ini disebutkan bahwa
guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

42
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Pascalahirnya UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, diikuti dengan beberapa
produk hukum yang menjadi dasar implementasi kebijakan, seperti tersaji pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Milestone Pengembangan Profesi Guru


Aneka produk hukum itu semua bermuara pada pembinaan dan pengembangan profesi guru,
sekaligus sebagai pengakuan atas kedudukan guru sebagai tenaga profesional. Pada tahun 2012 dan
seterusnya pembinaan dan pengembangan profesi guru harus dilakukan secara simultan, yaitu
mensinergikan dimensi analisis kebutuhan, penyediaan, rekruitmen, seleksi, penempatan,
redistribusi, evaluasi kinerja, pengembangan keprofesian berkelanjutan, pengawasan etika profesi,
dan sebagainya. Untuk tujuan itu, agaknya diperlukan produk hukum baru yang mengatur tentang
sinergitas pengelolaan guru untuk menciptakan keselarasan dimensi-dimensi dan institusi yang
terkait.

43
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

B. Empat Tahap Mewujudkan Guru Profesional


Kesadaran untuk menghadirkan guru dan tenaga kependidikan yang profesional sebagai sumber daya
utama pencerdas bangsa, barangkali sama tuanya dengan sejarah peradaban pendidikan. Di
Indonesia, khusus untuk guru, dilihat dari dimensi sifat dan substansinya, alur untuk mewujudkan
guru yang benar-benar profesional, yaitu: (1) penyediaan guru berbasis perguruan tinggi, (2) induksi
guru pemula berbasis sekolah, (3) profesionalisasi guru berbasis prakarsa institusi, dan (4)
profesionalisasi guru berbasis individu atau menjadi guru madani.
Berkaitan dengan penyediaan guru, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan
Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru telah menggariskan bahwa penyediaan guru
menjadi kewenangan lembaga pendidikan tenaga kependidikan, yang dalam buku ini disebut sebagai
penyediaan guru berbasis perguruan tinggi. Menurut dua produk hukum ini, lembaga pendidikan
tenaga kependidikan dimaksud adalah perguruan tinggi yang diberi tugas oleh pemerintah untuk
menyelenggarakan program pengadaan guru pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah, serta untuk menyelenggarakan dan
mengembangkan ilmu kependidikan dan nonkependidikan.
Guru dimaksud harus memiliki kualifikasi akademik sekurang-kurangnya S1/D-IV dan
bersertifikat pendidik. Jika seorang guru telah memiliki keduanya, statusnya diakui oleh negara
sebagai guru profesional. UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen maupun PP No. 74 tentang
Guru, telah mengamanatkan bahwa ke depan, hanya yang berkualifikasi S1/D-IV bidang
kependidikan dan nonkependidikan yang memenuhi syarat sebagai guru. Itu pun jika mereka telah
menempuh dan dinyatakan lulus pendidikan profesi. Dua produk hukum ini menggariskan bahwa
peserta pendidikan profesi ditetapkan oleh menteri, yang sangat mungkin didasari atas kuota
kebutuhan formasi.
Khusus untuk pendidikan profesi guru, beberapa amanat penting yang dapat disadap dari dua
produk hukum ini. Pertama, calon peserta pendidikan profesi berkualifikasi S1/D-IV. Kedua, sertifikat
pendidik bagi guru diperoleh melalui program pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh
perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi, baik
yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat, dan ditetapkan oleh pemerintah. Ketiga,
sertifikasi pendidik bagi calon guru harus dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel.
Keempat, jumlah peserta didik program pendidikan profesi setiap tahun ditetapkan oleh
Menteri. Kelima, program pendidikan profesi diakhiri dengan uji kompetensi pendidik. Keenam, uji
kompetensi pendidik dilakukan melalui ujian tertulis dan ujian kinerja sesuai dengan standar
kompetensi.
Ketujuh, ujian tertulis dilaksanakan secara komprehensif yang mencakup penguasaan: (1)
wawasan atau landasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan
kurikulum atau silabus, perancangan pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar; (2) materi pelajaran
secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi mata pelajaran, kelompok mata pelajaran,
dan/atau program yang diampunya; dan (3) konsep-konsep disiplin keilmuan, teknologi, atau seni
yang secara konseptual menaungi materi pelajaran, kelompok mata pelajaran, dan/atau program
yang diampunya. Kedelapan, ujian kinerja dilaksanakan secara holistik dalam bentuk ujian praktik

44
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

pembelajaran yang mencerminkan penguasaan kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan


sosial pada satuan pendidikan yang relevan.
Lahirnya UU No. 14 Tahun 2005 dan PP No. 74 Tahun 2008 mengisyaratkan bahwa ke depan
hanya seseorang yang berkualifikasi akademik sekurang-kurangnya S1 atau D-IV dan memiliki
sertifikat pendidiklah yang legal direkruit sebagai guru. Jika regulasi ini dipatuhi secara taat asas,
harapannya tidak ada alasan calon guru yang direkruit untuk bertugas pada sekolah-sekolah di
Indonesia berkualitas di bawah standar. Namun demikian, ternyata setelah mereka direkruit untuk
menjadi guru, yang dalam skema kepegawaian negara untuk pertama kali berstatus sebagai calon
pegawai negeri sipil (PNS) guru, mereka belum bisa langsung bertugas penuh ketika menginjakkan
kaki pertama kali di kampus sekolah. Melainkan, mereka masih harus memasuki fase prakondisi yang
disebut dengan induksi.
Ketika menjalani program induksi, diidealisasikan guru akan dibimbing dan dipandu oleh
mentor terpilih untuk kurun waktu sekitar satu tahun, agar benar-benar siap menjalani tugas-tugas
profesional. Ini pun tentu tidak mudah, karena di daerah pinggiran atau pada sekolah-sekolah yang
nun jauh di sana, sangat mungkin akan menjadi tidak jelas guru seperti apa yang tersedia dan
bersedia menjadi mentor sebagai tandem itu. Jadi, sunggupun guru yang direkruit telah memiliki
kualifikasi minimum dan sertifikat pendidik, yang dalam produk hukum dilegitimasi sebagai telah
memiliki kewenangan penuh, masih diperluan program induksi untuk memposisikan mereka menjadi
guru yang benar-benar profesional.
Pada banyak literatur akademik, program induksi diyakini merupakan fase yang harus dilalui
ketika seseorang dinyatakan diangkat dan ditempatkan sebagai guru. Program induksi merupakan
masa transisi bagi guru pemula (beginning teacher) terhitung mulai dia petama kali menginjakkan
kaki di sekolah atau satuan pendidikan hingga benar-benar layak dilepas untuk menjalankan tugas
pendidikan dan pembelajaran secara mandiri.
Kebijakan ini memperoleh legitimasi akademik, karena secara teoritis dan empiris lazim
dilakukan di banyak negara. Sehebat apapun pengalaman teoritis calon guru di kampus, ketika
menghadapi realitas dunia kerja, suasananya akan lain. Persoalan mengajar bukan hanya berkaitan
dengan materi apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya, melainkan semua
subsistem yang ada di sekolah dan di masyarakat ikut mengintervensi perilaku nyata yang harus
ditampilkan oleh guru, baik di dalam maupun di luar kelas. Di sinilah esensi progam induksi yang
tidak dibahas secara detail di dalam buku ini.
Ketika guru selesai menjalani proses induksi dan kemudian secara rutin keseharian
menjalankan tugas-tugas profesional, profesionalisasi atau proses penumbuhan dan pengembangan
profesinya tidak berhenti di situ. Diperlukan upaya yang terus-menerus agar guru tetap memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum serta kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Di sinilah esensi pembinaan dan pengembangan profesional guru.
Kegiatan ini dapat dilakukan atas prakarsa institusi, seperti pendidikan dan pelatihan, workshop,
magang, studi banding, dan lain-lain adalah penting. Prakarsa ini menjadi penting, karena secara
umum guru pemula masih memiliki keterbatasan, baik finansial, jaringan, waktu, akses, dan
sebagainya.

45
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

C. Alur Pengembangan Profesi dan Karir


Saat ini, pengakuan guru sebagai profesi dan tenaga profesional makin nyata. Pengakuan atas
kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi mengangkat martabat dan peran guru sebagai
agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Aktualitas tugas dan fungsi
penyandang profesi guru berbasis pada prinsip-prinsip: (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan
idealisme; (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan
akhlak mulia; (3) memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang
tugas; (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; (5) memiliki tanggung
jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai
dengan prestasi kerja; (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara
berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; (8) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan; dan (9) memiliki organisasi profesi yang mempunyai
kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.
Saat ini penyandang profesi guru telah mengalami perluasan perspektif dan pemaknaannya.
Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, sebutan guru mencakup: (1)
guru -- baik guru kelas, guru bidang studi/mata pelajaran, maupun guru bimbingan dan konseling
atau konselor; (2) guru dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah; dan (3) guru dalam jabatan
pengawas, seperti tertuang pada Gambar 1.2. Dengan demikian, diharapkan terjadi sinergi di dalam
pengembangan profesi dan karir profesi guru di masa depan.

Telah lama berkembang kesadaran publik bahwa tidak ada guru, tidak ada pendidikan formal.
Telah muncul pula kesadaran bahwa tidak ada pendidikan yang bermutu, tanpa kehadiran guru yang
profesional dengan jumlah yang mencukupi. Pada sisi lain, guru yang profesional nyaris tidak berdaya
tanpa dukungan tenaga kependidikan yang profesional pula. Paralel dengan itu, muncul pranggapan,
jangan bermimpi menghadirkan guru yang profesional, kecuali persyaratan pendidikan,
kesejahteraan, perlindungan, dan pemartabatan, dan pelaksanaan etika profesi mereka terjamin.
Selama menjalankan tugas-tugas profesional, guru dituntut melakukan profesionalisasi atau
proses penumbuhan dan pengembangan profesinya. Diperlukan upaya yang terus-menerus agar

46
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

guru tetap memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum serta
kemajuan IPTEK. Di sinilah esensi pembinaan dan pengembangan profesional guru. Kegiatan ini dapat
dilakukan atas prakarsa institusi, seperti pendidikan dan pelatihan, workshop, magang, studi
banding, dan lain-lain. Prakarsa ini menjadi penting, karena secara umum guru masih memiliki
keterbatasan, baik finansial, jaringan, waktu, akses, dan sebagainya.
Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 Tahun 2008 membedakan antara pembinaan dan
pengembangan kompetensi guru yang belum dan yang sudah berkualifikasi S-1 atau D-IV.
Pengembangan dan peningkatan kualifikasi akademik bagi guru yang belum memenuhi kualifikasi S-1
atau D-IV dilakukan melalui pendidikan tinggi program S-1 atau program D-IV pada perguruan tinggi
yang menyelenggarakan program pendidikan tenaga kependidikan dan/atau program pendidikan
nonkependidikan yang terakreditasi.
Pengembangan dan peningkatan kompetensi bagi guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik
dilakukan dalam rangka menjaga agar kompetensi keprofesiannya tetap sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dan/atau olah raga. Pengembangan
dan peningkatan kompetensi dimaksud dilakukan melalui sistem pembinaan dan pengembangan
keprofesian guru berkelanjutan yang dikaitkan dengan perolehan angka kredit jabatan fungsional.
Pembinaan dan pengembangan keprofesian guru meliputi pembinaan kompetensi-kompetensi
pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Sementara itu, pembinaan dan pengembangan karier
meliputi penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi. Upaya pembinaan dan pengembangan karir
guru ini harus sejalan dengan jenjang jabatan fungsional mereka. Pola pembinaan dan
pengembangan profesi dan karir guru tersebut, sebagaimana disajikan pada Gambar 1.3., diharapkan
dapat menjadi acuan bagi institusi terkait dalam melaksanakan pembinaan profesi dan karir guru.

Pengembangan profesi dan karir diarahkan untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja guru
dalam rangka pelaksanaan proses pendidikan dan pembelajaran di kelas dan di luar kelas. Inisiatif
meningkatkan kompetensi dan profesionalitas ini harus sejalan dengan upaya untuk memberikan
penghargaan, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan terhadap guru.

47
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Seperti telah dijelaskan di atas, PP No. 74 Tahun 2005 tentang Guru mengamanatkan bahwa
terdapat dua alur pembinaan dan pengembangan profesi guru, yaitu: pembinaan dan
pengembangan profesi, dan pembinaan dan pengembangan karir. Pembinaan dan pengembangan
profesi guru meliputi pembinaan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
Pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagaimana dimaksud dilakukan melalui jabatan
fungsional.
Semua guru memiliki hak yang sama untuk mengikuti kegiatan pembinaan dan pengembangan
profesi. Program ini berfokus pada empat kompetensi di atas. Namun demikian, kebutuhan guru
akan program pembinaan dan pengembangan profesi beragam sifatnya. Kebutuhan dimaksud
dikelompokkan ke dalam lima kategori, yaitu pemahaman tengtang konteks pembelajaran,
penguatan penguasaan materi, pengembangan metode mengajar, inovasi pembelajaran, dan
pengalaman tentang teori-teori terkini.
Kegiatan pembinaan dan pengembangan profesi dapat dilakukan oleh institusi pemerintah,
lembaga pelatihan (training provider) nonpemerintah, penyelenggara, atau satuan pendidikan. Di
tingkat satuan pendidikan, program ini dapat dilakukan oleh guru pembina, guru inti, koordinator
guru kelas, dan sejenisnya yang ditunjuk dari guru terbaik dan ditugasi oleh kepala sekolah. Analisis
kebutuhan, perumusan tujuan dan sasaran, desain program, implementasi dan layanan, serta
evaluasi program pelatihan dapat ditentukan secara mandiri oleh penyelenggara atau
memodifikasi/mengadopsi program sejenis.
Pembinan dan pengembangan karir guru terdiri dari tiga ranah, yaitu penugasan, kenaikan
pangkat, dan promosi. Sebagai bagian dari pengembangan karir, kenaikan pangkat merupakan hak
guru. Dalam kerangka pembinaan dan pengembangan, kenaikan pangkat ini termasuk ranah
peningkatan karir. Kenaikan pengkat ini dilakukan melalui dua jalur. Pertama, kenaikan pangkat
dengan sistem pengumpulan angka kredit. Kedua, kenaikan pangkat karena prestasi kerja atau
dedikasi yang luar biasa.

D. Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan


Untuk menjadi guru profesional, perlu perjalanan panjang. Dengan demikian, kenijakan pembinaan
dan pengmbangan profesi guru harus dilakukan secara kontinyu, dengan serial kegiatan tertentu.
Diawali dengan penyiapan calon guru, rekruitmen, penempatan, penugasan, pengembangan profesi
dan karir (lihat Gambar 1.4), hingga menjadi guru profesional sejati, yang menjalani profesionalisasi
secara terus-menerus. Merujuk pada alur berpikir ini, guru profesional sesungguhnya adalah guru
yang di dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya bersifat otonom, menguasai kompetensi
secara komprehensif, dan daya intelektual tinggi.
Pengembangan keprofesian guru adakalanya diawali dengan penilaian kinerja dan uji
kompetensi. Untuk mengetahui kinerja dan kompetensi guru dilakukan penilaian kinerja dan uji
kompetensi. Atas dasar itu dapat dirumuskan profil dan peta kinerja dan kompetensinya. Kondisi
nyata itulah yang menjadi salah satu dasar peningkatan kompetensi guru. Dengan demikian, hasil
penilaian kinerja dan uji kompetensi menjadi salah satu basis utama desain program peningkatan
kompetensi guru.

48
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Penilaian kinerja guru (teacher performance appraisal) merupakan salah satu langkah untuk
merumuskan program peningkatan kompetensi guru secara efektif dan efisien. Hal ini sesuai dengan
amanat yang tertuang pada Permenneg PAN dan RB No. 16 Tahun 2009. Penilaian kinerja
dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan guru yang sebenarnya dalam melaksanakan
pembelajaran. Berdasarkan penilaian kinerja ini juga akan diketahui tentang kekuatan dan
kelemahan guru-guru, sesuai dengan tugasnya masing-masing, baik guru kelas, guru bidang studi,
maupun guru bimbingan konseling. Penilaian kinerja guru dilakukan secara periodik dan sistematis
untuk mengetahui prestasi kerjanya, termasuk potensi pengembangannya
Disamping keharusan menjalani penilaian kinerja, guru-guru pun perlu diketahui tingkat
kompetensinya melalui uji kompetensi. Uji kompetensi dimaksudkan untuk memperoleh informasi
tentang kondisi nyata guru dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Berdasarkan hasil uji
kompetensi dirumuskan profil kompetensi guru menurut level tertentu, sekaligus menentukan
kelayakannya. Dengan demikian, tujuan uji kompetensi adalah menilai dan menetapkan apakah guru
sudah kompeten atau belum dilihat dari standar kompetensi yang diujikan. Dengan demikian,
kegiatan peningkatan kompetensi guru memiliki rasional dan pertimbangan empiris yang kuat.
Penilaian kinerja dan uji kompetensi guru esensinya berfokus pada keempat kompetensi yang harus
dimiliki oleh guru.
Kebijakan pembinaan dan pengembangan profesi guru dengan segala cabang aktifitasnya perlu
disertai dengan upaya memberi penghargaan, perlindungan, kesejateraan, dan pemartabatan guru.
Karena itu, isu-isu yang relevan dengan masa depan manajemen guru, memerlukan formulasi yang
sistemik dan sistematik terutama sistem penyediaan, rekruitmen, pengangkatan dan penempatan,
sistem distribusi, sertifikasi, peningkatan kualifikasi, penilaian kinerja, uji kompetensi, penghargaan
dan perlindungan, kesejahteraan, pembinaan karir, pengembangan keprofesian berkelanjutan,
pengawasan etika profesi, serta pengelolaan guru di daerah khusus.

49
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

E. Kebijakan Pemerataan Guru


Hingga kini masih muncul kesenjangan pemerataan guru antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan
antarjenis pendidikan, antarkabupaten/kota, dan antarprovinsi. Hal tersebut menunjukkan betapa
rumitnya persoalan yang berkaitan dengan penataan dan pemerataan guru di negeri tercinta ini.
Pemerintah berupaya mencari solusi terbaik untuk memecahkan persoalan rumitnya penataan
dan pemerataan guru tersebut dengan menetapkan Peraturan Bersama Lima Menteri, yaitu
Mendiknas, Menneg PAN dan RB, Mendagri, Menkeu, dan Menag tentang Penataan dan Pemerataan
Guru Pegawai Negeri Sipil. Peraturan ini ditandatangani tanggal 3 Oktober 2011 dan mulai efektif
tanggal 2 Januari 2012. Dalam peraturan bersama ini antara lain dinyatakan, bahwa untuk menjamin
pemerataan guru antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan,
antarkabupaten/kota, dan/atau antarprovinsi dalam upaya mewujudkan peningkatan dan
pemerataan mutu pendidikan formal secara nasional dan pencapaian tujuan pendidikan nasional,
guru pegawai negeri sipil dapat dipindahtugaskan pada satuan pendidikan di kabupaten/kota, dan
provinsi lain.
1. Kebijakan dan Pemerataan Guru
Dalam Peraturan bersama Mendiknas, Menneg PAN dan RB, Mendagri, Menkeu, dan Menag tentang
Penataan dan Pemerataan Guru Pegawai Negeri Sipil, tanggal 3 Oktober 2011 dan mulai efektif
tanggal 2 Januari 2012 secara eksplisit menyatakan bahwa:
a. Kebijakan standardisasi teknis dalam penataan dan pemerataan guru PNS antarsatuan
pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan secara nasional ditetapkan oleh Menteri
Pendidikan Nasional. Demikian juga Menteri Pendidikan Nasional mengkoordinasikan dan
memfasilitasi pemindahan untuk penataan dan pemerataan guru PNS pada provinsi yang
berbeda berdasarkan data pembanding dari Badan Kepegawaian Negara (BKN). Dalam
memfasilitasi penataan dan pemerataan PNS di daerah dan kabupaten/kota, Menteri
Pendidikan Nasional berkoordinasi dengan Menteri Agama.
b. Menteri Agama berkewajiban membuat perencanaan, penataan, dan pemerataan guru PNS
antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan yang menjadi tanggung
jawabnya.
c. Menteri Dalam Negeri berkewajiban untuk mendukung pemerintah daerah dalam hal
penataan dan pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis
pendidikan untuk memenuhi standardisasi teknis yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan
Nasional serta memasukkan unsur penataan dan pemerataan guru PNS ini sebagai bagian
penilaian kinerja pemerintah daerah.
d. Menteri Keuangan berkewajiban untuk mendukung penataan dan pemerataan guru PNS
antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan sebagai bagian dari
kebijakan penataan PNS secara nasional melalui aspek pendanaan di bidang pendidikan
sesuai dengan kemampuan keuangan negara.
e. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi mendukung
penataan dan pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis
pendidikan melalui penetapan formasi guru PNS.

50
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

f. Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya membuat perencanaan


penataan dan pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis
pendidikan yang menjadi tanggung jawab masing-masing.
2. Kewenangan Pemerintah Provinsi atau Kabupaten/Kota
a. Dalam pelaksanaan kegiatan penataan dan pemerataan guru, gubernur bertanggung jawab
dan wajib melakukan penataan dan pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan,
antarjenjang, dan antarjenis pendidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
pemerintah provinsi yang kelebihan atau kekurangan guru PNS.
b. Bupati/walikota bertanggung jawab dan wajib melakukan penataan dan pemerataan guru
PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan di satuan pendidikan
yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten/kota yang kelebihan dan kekurangan guru
PNS.
c. Gubernur mengkoordinasikan dan memfasilitasi pemindahan guru PNS untuk penataan dan
pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan di
wilayah kerjanya sesuai dengan kewenangannya.
d. Bupati/Walikota mengkoordinasikan dan memfasilitasi pemindahan guru PNS untuk
penataan dan pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis
pendidikan di wilayah kerjanya sesuai dengan kewenangannya.
e. Gubernur mengkoordinasikan dan memfasilitasi pemindahan guru PNS antarsatuan
pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan
kewenangannya untuk penataan dan pemerataan antarkabupaten/kota dalam satu wilayah
provinsi.
f. Penataan dan pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis
pendidikan didasarkan pada analisis kebutuhan dan persediaan guru sesuai dengan kebijakan
standardisasi teknis yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional.
g. Analisis kebutuhan disusun dalam suatu format laporan yang dikirimkan kepada Menteri
Pendidikan Nasional dan Menteri Agama sesuai dengan kewenangannya masing-masing dan
diteruskan ke Menteri Dalam Negeri, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi, dan Menteri Keuangan.
Dalam kerangka pemerataan guru, diperlukan pemantauan dan evaluasi. Pemantauan dan
evaluasi merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dalam kegiatan penataan dan pemerataan
guru, khususnya guru PNS. Oleh karena itu secara bersama-sama Menteri Pendidikan Nasional,
Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, Menneg PAN dan RB, dan Menteri Keuangan wajib
memantau dan mengevaluasi pelaksanaan penataan dan pemerataan guru sesuai dengan
kewenangan masing-masing.Sedangkan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan penataan dan
pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarpendidikan di kabupaten/kota
dilakukan oleh gubernur sesuai dengan masing-masing wilayahnya.
Termasuk dalam kerangka ini, diperlukan juga pembinaan dan pengawasan. Norma-norma
umum pembinaan dan pengawasan disajikan berikut ini.

51
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

1. Secara Umum, pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan penataan dan pemerataan


guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan dilaksanakan oleh
Menteri Dalam Negeri.
2. Secara teknis, pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan penataan dan pemerataan guru
PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan di pemerintah provinsi
dan pemerintah kabupaten/kota dilaksanakan oleh Menteri Pendidikan Nasional.
3. Menteri Agama melaksanakan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan penataan dan
pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan pada
satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah di lingkungan Kementerian Agama.
4. Gubernur melaksanakan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan penataan dan
pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan di
pemerintah kabupaten/kota.
Dari mana pendanaannya? Pendanaan penataan dan pemerataan guru PNS antarsatuan
pendidikan, antarjenjang, antarjenis pendidikan, atau antarprovinsi pada satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh Pemerintah dibebankan pada APBN, dan penataan dan pemerataan guru PNS
antarsatuan pendidikan, antarjenjang, atau antarjenis pendidikan antarkabupaten/kota dalam satu
provinsi pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi dibebankan pada
APBD provinsi. Sedangkan pendanaan penataan dan pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan,
antarjenjang, atau antarjenis pendidikan antarkabupaten/kota, atau antarprovinsi pada satuan
pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten/kota dibebankan pada APBD
kabupaten/kota.
Pelaksanaan pelaporan penataan dan pemerataan guru disajikan berikut ini.
1. Bupati/Walikota membuat usulan perencanaan penataan dan pemerataan guru PNS
antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan di wilayahnya dan
menyampaikannya kepada Gubernur paling lambat bulan Februari tahun berjalan. Kemudian
Gubernur mengusulkan perencanaan seperti tersebut di atas, dan perencanaan penataan
dan pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan
di wilayahnya kepada Menteri Pendidikan Nasional melalui Lembaga Penjaminan Mutu
Pendidikan (LPMP) dan Menteri Agama sesuai dengan kewenangannya masing-masing paling
lambat bulan Maret tahun berjalan.
2. Bupati/Walikota membuat laporan pelaksanaan penataan dan pemerataan guru PNS
antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan di wilayahnya dan
menyampaikannya kepada Gubernur paling lambat bulan April tahun berjalan. Kemudian
Gubernur melaporkan pelaksanaan penataan dan pemerataan guru PNS kepada Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan
Menteri Agama sesuai dengan kewenangannya masing-masing paling lambat bulan Mei
tahun berjalan dan diteruskan ke Menteri Dalam Negeri, Menteri Negara Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Menteri Keuangan.
3. Menteri Agama menyampaikan informasi tentang perencanaan dan pelaksanaan penataan
dan pemerataan guru PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan
di wilayah kerjanya dan menyampaikannya kepada Menteri Pendidikan Nasional, Menteri

52
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Keuangan, dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
paling lambat bulan Mei tahun berjalan.
4. Berdasarkan laporan pelaksanaan penataan dan pemerataan guru PNS dan informasi dari
Kementerian Agama tersebut di atas, Menteri Pendidikan Nasional melakukan evaluasi dan
menetapkan capaian penataan dan pemerataan guru PNS secara nasional paling lambat
bulan Juli tahun berjalan.
5. Hasil evaluasi disampaikan oleh Menteri Pendidikan Nasional kepada Menteri Keuangan,
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Menteri
Dalam Negeri untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan.
Sanksi bagi pihak-pihak yang tidak melaksanakan kebijakan ini adalah sebagai berikut:
1. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menghentikan sebagian atau seluruh bantuan finansial
fungsi pendidikan dan memberikan rekomendasi kepada Kementerian terkait sesuai dengan
kewenangannya untuk menjatuhkan sanksi kepada Bupati/Walikota atau Gubernur yang
tidak melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan penataan dan pemerataan guru
PNS antarsatuan pendidikan, antarjenjang, atau antarjenis pendidikan di daerahnya.
2. Atas dasar rekomendasi tersebut di atas, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi menunda pemberian formasi guru PNS kepada Pemerintah,
pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
3. Atas dasar rekomendasi tersebut di atas, Menteri Keuangan dapat melakukan penundaan
penyaluran dana perimbangan kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Atas dasar rekomendasi tersebut di atas, Menteri Dalam Negeri memberikan penilaian
kinerja kurang baik dalam penyelenggaraan urusan penataan dan pemerataan guru PNS
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

53
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

BAB II
PENINGKATAN KOMPETENSI

Topik ini berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru. Materi sajian


terutama berkaitan dengan esensi, prinsip, jenis program pengembangan
keprofesian guru secara berkelanjutan, serta uji kompetensi guru dan
dampak ikutanya. Peserta PLPG diminta mengikuti materi pembelajaran
secara individual, melaksanakan diskusi kelompok, menelaah kasus,
membaca regulasi yang terkait, mengerjakan latihan, dan melakukan
refleksi.

A. Esensi Peningkatan Kompetensi


Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), baik sebagai substansi materi ajar maupun piranti
penyelenggaraan pembelajaran, terus berkembang. Dinamika ini menuntut guru selalu meningkatkan
dan menyesuaikan kompetensinya agar mampu mengembangkan dan menyajikan materi pelajaran
yang aktual dengan menggunakan berbagai pendekatan, metoda, dan teknologi pembelajaran
terkini. Hanya dengan cara itu guru mampu menyelenggarakan pembelajaran yang berhasil
mengantarkan peserta didik memasuki dunia kehidupan sesuai dengan kebutuhan dan tantangan
pada zamannya. Sebaliknya, ketidakmauan dan ketidakmampuan guru menyesuaikan wawasan dan
kompetensi dengan tu ntu t an perkembangan lingkungan profesinya justru akan menjadi salah satu
faktor penghambat ketercapaian tujuan pendidikan dan pembelajaran.
Hingga kini, baik dalam fakta maupun persepsi, masih banyak kalangan yang meragukan
kompetensi guru baik dalam bidang studi yang diajarkan maupun bidang lain yang mendukung
terutama bidang didaktik dan metodik pembelajaran. Keraguan ini cukup beralasan karena didukung
oleh hasil uji kompetensi yang menunjukkan masih banyak guru yang belum mencapai standar
kompetensi yang ditetapkan. Uji kompetensi ini juga menunjukkan bahwa masih banyak guru yang
tidak menguasai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Uji-coba studi video terhadap
sejumlah guru di beberapa lokasi sampel melengkapi bukti keraguan itu. Kesimpulan lain yang cukup
mengejutkan dari studi tersebut di antaranya adalah bahwa pembelajaran di kelas lebih didominasi
oleh ceramah satu arah dari guru dan sangat jarang terjadi tanya jawab. Ini mencerminkan betapa
masih banyak guru yang tidak berusaha meningkatkan dan memutakhirkan profesionalismenya.
Reformasi pendidikan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, Undang Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menuntut
reformasi guru untuk memiliki tingkat kompetensi yang lebih tinggi, baik kompetensi pedagogik,
kepribadian, profesional, maupun sosial.
Akibat dari masih banyaknya guru yang tidak menguasai kompetensi yang dipersyaratkan
ditambah dengan kurangnya kemampuan untuk menggunakan TIK membawa dampak pada siswa
paling tidak dalam dua hal. Pertama, siswa hanya terbekali dengan kompetensi yang sudah usang.
Akibatnya, produk sistem pendidikan dan pembelajaran tidak siap terjun ke dunia kehidupan nyata yang
terus berubah.

54
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Kedua, pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru juga kurang kondusif bagi tercapainya
tujuan secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan karena tidak didukung oleh penggunaan
teknologi pembelajaran yang modern dan handal. Hal itu didasarkan pada kenyataan bahwa substansi
materi pelajaran yang harus dipelajari oleh anak didik terus berkembang baik volume maupun
kompleksitasnya.
Sebagaimana ditekankan dalam prinsip percepatan belajar (accelerated learning),
kecenderungan materi yang harus dipelajari anak didik yang semakin hari semakin bertambah
jumlah, jenis, dan tingkat kesulitannya, menuntut dukungan strategi dan teknologi pembelajaran
yang secara terus-menerus disesuaikan pula agar pembelajaran dapat dituntaskan dalam interval
waktu yang sama.
Sejatinya, guru adalah bagian integral dari subsistem organisasi pendidikan secara menyeluruh.
Agar sebuah organisasi pendidikan mampu menghadapi perubahan dan ketidakpastian yang menjadi
ciri kehidupan modern, perlu mengembangkan sekolah sebagai sebuah organisasi pembelajar. Di
antara karakter utama organisasi pembelajar adalah mencermati perubahan internal dan eksternal
yang diikuti dengan upaya penyesuaian diri dalam rangka mempertahankan eksistensinya.

B. Prinsip-Prinsip Peningkatan Kompetensi dan Karir

1. Prinsip-prinsip Umum
Secara umum program peningkatan kompetensi guru diselenggarakan dengan menggunakan
prinsip-prinsip seperti berikut ini.
a. Demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
b. Satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.
c. Suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan guru yang berlangsung sepanjang hayat.
d. Memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas guru dalam
proses pembelajaran.
e. Memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan
dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

2. Prinsip-pinsip Khusus
Secara khusus program peningkatan kompetensi guru diselenggarakan dengan menggunakan
prinsip-prinsip seperti berikut ini.
a. Ilmiah, keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam kompetensi dan
indikator harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
b. Relevan, rumusannya berorientasi pada tugas dan fungsi guru sebagai tenaga pendidik
profesional yakni memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
c. Sistematis, setiap komponen dalam kompetensi jabatan guru berhubungan secara
fungsional dalam mencapai kompetensi.

55
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

d. Konsisten, adanya hubungan yang ajeg dan taat asas antara kompetensi dan indikator.
e. Aktual dan kontekstual, yakni rumusan kompetensi dan indikator dapat mengikuti
perkembangan Ipteks.
f. Fleksibel, rumusan kompetensi dan indikator dapat berubah sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan jaman.
g. Demokratis, setiap guru memiliki hak dan peluang yang sama untuk diberdayakan melalui
proses pembinaan dan pengembangan profesionalitasnya, baik secara individual maupun
institusional.
h. Obyektif, setiap guru dibina dan dikembangkan profesi dan karirnya dengan mengacu kepada
hasil penilaian yang dilaksanakan berdasarkan indikator-indikator terukur dari kompetensi
profesinya.
i. Komprehensif, setiap guru dibina dan dikembangkan profesi dan karirnya untuk mencapai
kompetensi profesi dan kinerja yang bermutu dalam memberikan layanan pendidikan dalam
rangka membangun generasi yang memiliki pengetahuan, kemampuan atau kompetensi,
mampu menjadi dirinya sendiri, dan bisa menjalani hidup bersama orang lain.
j. Memandirikan, setiap guru secara terus menerus diberdayakan untuk mampu meningkatkan
kompetensinya secara berkesinambungan, sehingga memiliki kemandirian profesional dalam
melaksanakan tugas dan fungsi profesinya.
k. Profesional, pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru dilaksanakan dengan
mengedepankan nilai-nilai profesionalitas.
l. Bertahap, dimana pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru dilaksanakan
berdasarkan tahapan waktu atau tahapan kualitas kompetensi yang dimiliki oleh guru.
m. Berjenjang, pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru dilaksanakan secara
berjenjang berdasarkan jenjang kompetensi atau tingkat kesulitan kompetensi yang ada pada
standar kompetensi.
n. Berkelanjutan, pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru dilaksanakan sejalan
dengan perkembangan ilmu pentetahuan, teknologi dan seni, serta adanya kebutuhan
penyegaran kompetensi guru;
o. Akuntabel, pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru dapat
dipertanggungjawabkan secara transparan kepada publik;
p. Efektif, pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru harus mampu
memberikan informasi yang bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang tepat
oleh pihak-pihak yang terkait dengan profesi dan karir lebih lanjut dalam upaya peningkatan
kompetensi dan kinerja guru.
q. Efisien, pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru harus didasari
atas pertimbangan penggunaan sumberdaya seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil
yang optimal.

56
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

C. Jenis Program
Peningkatan kompetensi guru guru dilaksanakan melalui berbagai strategi dalam bentuk pendidikan
dan pelatihan (diklat) dan bukan diklat, antara lain seperti berikut ini.
1. Pendidikan dan Pelatihan
a. Inhouse training (IHT). Pelatihan dalam bentuk IHT adalah pelatihan yang dilaksanakan secara
internal di KKG/MGMP, sekolah atau tempat lain yang ditetapkan untuk menyelenggarakan
pelatihan. Strategi pembinaan melalui IHT dilakukan berdasarkan pemikiran bahwa sebagian
kemampuan dalam meningkatkan kompetensi dan karir guru tidak harus dilakukan secara
eksternal, tetapi dapat dilakukan oleh guru yang memiliki kompetensi kepada guru lain yang
belum memiliki kompetensi. Dengan strategi ini diharapkan dapat lebih menghemat waktu
dan biaya.
b. Program magang. Program magang adalah pelatihan yang dilaksanakan di institusi/industri
yang relevan dalam rangka meningkatkan kompetensi professional guru. Program magang ini
terutama diperuntukkan bagi guru kejuruan dan dapat dilakukan selama priode tertentu,
misalnya, magang di industri otomotif dan yang sejenisnya. Program magang dipilih sebagai
alternatif pembinaan dengan alasan bahwa keterampilan tertentu khususnya bagi guru-guru
sekolah kejuruan memerlukan pengalaman nyata.
c. Kemitraan sekolah. Pelatihan melalui kemitraan sekolah dapat dilaksanakan bekerjasama
dengan institusi pemerintah atau swasta dalam keahlian tertentu. Pelaksanaannya dapat
dilakukan di sekolah atau di tempat mitra sekolah. Pembinaan melalui mitra sekolah
diperlukan dengan alasan bahwa beberapa keunikan atau kelebihan yang dimiliki mitra dapat
dimanfaatkan oleh guru yang mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kompetensi
profesionalnya.
d. Belajar jarak jauh. Pelatihan melalui belajar jarak jauh dapat dilaksanakan tanpa
menghadirkan instruktur dan peserta pelatihan dalam satu tempat tertentu, melainkan
dengan sistem pelatihan melalui internet dan sejenisnya. Pembinaan melalui belajar jarak
jauh dilakukan dengan pertimbangan bahwa tidak semua guru terutama di daerah terpencil
dapat mengikuti pelatihan di tempat-tempat pembinaan yang ditunjuk seperti di ibu kota
kabupaten atau di propinsi.
e. Pelatihan berjenjang dan pelatihan khusus. Pelatihan jenis ini dilaksanakan di P4TK dan atau
LPMP dan lembaga lain yang diberi wewenang, di mana program pelatihan disusun secara
berjenjang mulai dari jenjang dasar, menengah, lanjut dan tinggi. Jenjang pelatihan disusun
berdasarkan tingkat kesulitan dan jenis kompetensi. Pelatihan khusus (spesialisasi)
disediakan berdasarkan kebutuhan khusus atau disebabkan adanya perkembangan baru
dalam keilmuan tertentu.
f. Kursus singkat di LPTK atau lembaga pendidikan lainnya. Kursus singkat di LPTK atau lembaga
pendidikan lainnya dimaksudkan untuk melatih meningkatkan kompetensi guru dalam
beberapa kemampuan seperti melakukan penelitian tindakan kelas, menyusun karya ilmiah,
merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, dan lain-lain sebagainya.
g. Pembinaan internal oleh sekolah. Pembinaan internal ini dilaksanakan oleh kepala sekolah
dan guru-guru yang memiliki kewenangan membina, melalui rapat dinas, rotasi tugas

57
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

mengajar, pemberian tugas-tugas internal tambahan, diskusi dengan rekan sejawat dan
sejenisnya.
h. Pendidikan lanjut. Pembinaan profesi guru melalui pendidikan lanjut juga merupakan
alternatif bagi pembinaan profesi guru di masa mendatang. Pengikutsertaan guru dalam
pendidikan lanjut ini dapat dilaksanakan dengan memberikan tugas belajar, baik di dalam
maupun di luar negeri, bagi guru yang berprestasi. Pelaksanaan pendidikan lanjut ini akan
menghasilkan guru-guru pembina yang dapat membantu guru-guru lain dalam upaya
pengembangan profesi.
2. Kegiatan Selain Pendidikan dan Pelatihan
a. Diskusi masalah pendidikan. Diskusi ini diselenggarakan secara berkala dengan topik sesuai
dengan masalah yang di alami di sekolah. Melalui diskusi berkala diharapkan para guru dapat
memecahkan masalah yang dihadapi berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah
ataupun masalah peningkatan kompetensi dan pengembangan karirnya.
b. Seminar. Pengikutsertaan guru di dalam kegiatan seminar dan pembinaan publikasi ilmiah
juga dapat menjadi model pembinaan berkelanjutan profesi guru dalam meningkatkan
kompetensi guru. Melalui kegiatan ini memberikan peluang kepada guru untuk berinteraksi
secara ilmiah dengan kolega seprofesinya berkaitan dengan hal-hal terkini dalam upaya
peningkatan kualitas pendidikan.
c. Workshop. Workshop dilakukan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi
pembelajaran, peningkatan kompetensi maupun pengembangan karirnya. Workshop dapat
dilakukan misalnya dalam kegiatan menyusun KTSP, analisis kurikulum, pengembangan
silabus, penulisan RPP, dan sebagainya.
d. Penelitian. Penelitian dapat dilakukan guru dalam bentuk penelitian tindakan kelas,
penelitian eksperimen ataupun jenis yang lain dalam rangka peningkatan mutu
pembelajaran.
e. Penulisan buku/bahan ajar. Bahan ajar yang ditulis guru dapat berbentuk diktat, buku
pelajaran ataupun buku dalam bidang pendidikan.
f. Pembuatan media pembelajaran. Media pembelajaran yang dibuat guru dapat berbentuk
alat peraga, alat praktikum sederhana, maupun bahan ajar elektronik (animasi
pembelajaran).
g. Pembuatan karya teknologi/karya seni. Karya teknologi/seni yang dibuat guru dapat berupa
karya teknologi yang bermanfaat untuk masyarakat dan atau pendidikan dan karya seni yang
memiliki nilai estetika yang diakui oleh masyarakat.

D. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Penetapan Permenneg PAN dan RB Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan
Angka Kreditnya, dilatarbelakangi bahwa guru memiliki peran strategis dalam meningkatkan proses
pembelajaran dan mutu peserta didik. Perubahan mendasar yang terkandung dalam Permenneg PAN
dan RB Nomor 16 tahun 2009 dibandingkan dengan regulasi sebelumnya, di antaranya dalam hal
penilaian kinerja guru yang sebelumnya lebih bersifat administratif menjadi lebih berorientasi

58
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

praktis, kuantitatif, dan kualitatif, sehingga diharapkan para guru akan lebih bersemangat untuk
meningkatkan kinerja dan profesionalitasnya. Dalam Permenneg PAN dan RB ini, jabatan fungsional
terdiri dari empat jenjang, yaitu Guru Pertama, Guru Muda, Guru Madya, dan Guru Utama.
Setiap tahun, guru harus dinilai kinerjanya secara teratur melalui Penilaian Kinerja Guru (PK Guru)
dan wajib mengikuti Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). PKB tersebut harus
dilaksanakan sejak guru memiliki golongan kepangkatan III/a dengan melakukan pengembangan diri,
dan sejak golongan kepangkatan III/b guru wajib melakukan publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif.
Untuk naik dari golongan kepangkatan IV/c ke IV/d guru wajib melakukan presentasi ilmiah. Gambar
2.1. menunjukkan keterkaitan antara PKB, PK Guru, dan pengembangan karir guru.

PKB dikembangkan atas dasar profil kinerja guru sebagai perwujudan hasil PK Guru dan
didukung dengan hasil evaluasi diri. Apabila hasil PK Guru masih berada di bawah standar
kompetensi yang ditetapkan atau berkinerja rendah, maka guru diwajibkan untuk mengikuti program
PKB yang diorientasikan sebagai pembinaan untuk mencapai kompetensi standar yang disyaratkan.
Sementara itu, guru yang hasil penilaian kinerjanya telah mencapai standar kompetensi yang
disyaratkan, maka kegiatan PKB diarahkan kepada pengembangan kompetensi agar dapat memenuhi
tuntutan masa depan dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya sesuai dengan kebutuhan sekolah
dalam rangka memberikan layanan pembelajaran yang berkualitas kepada peserta didik.
Dalam Permenneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009, PKB diakui sebagai salah satu unsur
utama yang diberikan angka kredit untuk pengembangan karir guru dan kenaikan pangkat/jabatan
fungsional guru, selain kegiatan pembelajaran/pembimbingan dan tugas tambahan lain yang relevan
dengan fungsi sekolah/madrasah. Kegiatan PKB diharapkan dapat menciptakan guru yang
profesional, yang bukan hanya sekadar memiliki ilmu pengetahuan yang luas, tetapi juga memiliki
kepribadian yang matang. Dengan kepribadian yang prima dan penguasaan IPTEK yang kuat, guru
diharapkan terampil dalam menumbuhkembangkan minat dan bakat peserta didik sesuai dengan
bidangnya.
Secara umum, keberadaan PKB bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di
sekolah/madrasah yang berimbas pada peningkatan mutu pendidikan. Secara khusus, tujuan PKB
disajikan berikut ini.

59
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

1. Meningkatkan kompetensi guru untuk mencapai standar kompetensi yang ditetapkan.


2. Memutakhirkan kompetensi guru untuk memenuhi kebutuhan guru dalam memfasilitasi proses
belajar peserta didik dalam memenuhi tuntutan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni di
masa mendatang.
3. Mewujudkan guru yang memiliki komitmen kuat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya
sebagai tenaga profesional.
4. Menumbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai penyandang profesi guru.
5. Meningkatkan citra, harkat, dan martabat profesi guru di masyarakat.
Manfaat PKB bagi peserta didik yaitu memperoleh jaminan kepastian mendapatkan pelayanan
dan pengalaman belajar yang efektif untuk meningkatkan potensi diri secara optimal, sehingga
mereka memiliki kepribadian kuat dan berbudi pekerti luhur untuk berperan aktif dalam
pengembangan iImu pengetahuan, teknologi dan seni sesuai dengan perkembangan masyarakat.
Bagi guru hal ini dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta memiliki
kepribadian yang kuat sesuai dengan profesinya; sehingga selama karirnya mampu menghadapi
perubahan internal dan eksternal dalam memenuhi kebutuhan belajar peserta didik menghadapi
kehidupan di masa datang.
Dengan PKB untuk guru, bagi sekolah/madrasah diharapkan mampu menjadi sebuah
organisasi pembelajaran yang efektif; sehingga sekolah/madrasah dapat menjadi wadah untuk
peningkatan kompetensi, dedikasi, dan komitmen guru dalam memberikan layanan pendidikan yang
berkualitas kepada peserta didik. Bagi orang tua/masyarakat, PKB untuk guru bermakna memiliki
jaminan bahwa anak mereka di sekolah akan memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas
sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Bagi pemerintah,PKB untuk guru dimungkinkan
dapat memetakan kualitas layanan pendidikan sebagai dasar untuk menyusun dan menetapkan
kebijakan pembinaan dan pengembangan profesi guru dalam menunjang pembangunan pendidikan;
sehingga pemerintah dapat mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas, kompetitif dan
berkepribadian luhur.
PKB adalah bentuk pembelajaran berkelanjutan untuk memelihara dan meningkatkan standar
kompetensi secara keseluruhan, mencakup bidang-bidang yang berkaitan dengan profesi guru.
Dengan demikian, guru secara profesional dapat memelihara, meningkatkan, dan memperluas
pengetahuan dan keterampilannya untuk melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu.
Pembelajaran yang bermutu diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan
pemahaman peserta didik.
PKB mencakup kegiatan-kegiatan yang didesain untuk meningkatkan pengetahuan,
pemahaman, dan keterampilan guru. Kegiatan dalam PKB membentuk suatu siklus yang mencakup
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi. Gambar 2.2 menunjukkan siklus kegiatan PKB bagi
guru. Melalui siklus kegiatan pengembangan keprofesian guru secara berkelanjutan, diharapkan guru
akan mampu mempercepat pengembangan pengetahuan dan keterampilan untuk peningkatan
karirnya.

60
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Kegiatan PKB untuk pengembangan diri dapat dilakukan di sekolah, baik oleh guru secara
mandiri, maupun oleh guru bekerja sama dengan guru lain dalam satu sekolah. Kegiatan PKB melalui
jaringan sekolah dapat dilakukan dalam satu rayon (gugus), antarrayon dalam kabupaten/kota
tertentu, antarprovinsi, bahkan dimungkinkan melalui jaringan kerjasama sekolah antarnegara serta
kerjasama sekolah dan industri, baik secara langsung maupun melalui teknologi informasi. Kegiatan
PKB melalui jaringan antara lain dapat berupa: kegiatan KKG/MGMP; pelatihan/seminar/lokakarya;
kunjungan ke sekolah lain, dunia usaha, industri, dan sebagainya; mengundang nara sumber dari
sekolah lain, komite sekolah, dinas pendidikan, pengawas, asosiasi profesi, atau dari instansi lain
yang relevan.
Jika kegiatan PKB di sekolah dan jaringan sekolah belum memenuhi kebutuhan pengembangan
keprofesian guru, atau guru masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut, kegiatan ini dapat
dilaksanakan dengan menggunakan sumber kepakaran luar lainnya. Sumber kepakaran lain ini dapat
disediakan melalui LPMP, P4TK, Perguruan Tinggi atau institusi layanan lain yang diakui oleh
pemerintah, atau institusi layanan luar negeri melalui pendidikan dan pelatihan jarak jauh dengan
memanfaatkan jejaring virtual atau TIK.
Dalam kaitannya dengan PKB ini, beberapa jenis pengembangan kompetensi dapat dilakukan
oleh guru dan di sekolah mereka sendiri. Beberapa program dimaksud disajikan berikut ini.
1. Dilakukan oleh guru sendiri:
a. menganalisis umpan balik yang diperoleh dari siswa terhadap pelajarannya;
b. menganalisis hasil pembelajaran (nilai ujian, keterampilan siswa, dll);
c. mengamati dan menganalisis tanggapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran;
d. membaca artikel dan buku yang berkaitan dengan bidang dan profesi; dan
e. mengikuti kursus atau pelatihan jarak jauh.
2. Dilakukan oleh guru bekerja sama dengan guru lain:
a. mengobservasi guru lain;
b. mengajak guru lain untuk mengobservasi guru yang sedang mengajar;
c. mengajar besama-sama dengan guru lain (pola team teaching);
d. bersamaan dengan guru lain membahas dan melakukan investigasi terhadap permasalahan
yang dihadapi di sekolah;

61
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

e. membahas artikel atau buku dengan guru lain; dan


f. merancang persiapan mengajar bersama guru lain.
3. Dilakukan oleh sekolah :
a. training day untuk semua sumber daya manusia di sekolah (bukan hanya guru);
b. kunjungan ke sekolah lain; dan
c. mengundang nara sumber dari sekolah lain atau dari instansi lain.
Satu hal yang perlu diingat dalam pelaksanaan pengembangan keprofesian berkelanjutan
harus dapat mematuhi prinsip-prinsip seperti berikut ini.
1. Setiap guru di Indonesia berhak mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri. Hak tersebut
perlu diimplementasikan secara teratur, sistematis, dan berkelanjutan.
2. Untuk menghindari kemungkinan pengalokasian kesempatan pengembangan yang tidak merata,
proses penyusunan program PKB harus dimulai dari sekolah. Sekolah wajib menyediakan
kesempatan kepada setiap guru untuk mengikuti program PKB minimal selama tujuh hari atau
40 jam per tahun. Alokasi tujuh hari tersebut adalah alokasi minimal. Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota dan/ atau sekolah berhak menambah alokasi waktu jika dirasakan perlu,
termasuk penyediaan anggaran untuk kegiatan PKB.
3. Guru juga wajib berusaha mengembangkan dirinya semaksimal mungkin dan secara
berkelanjutan. Alokasi waktu tujuh hari per tahun sebenarnya tidak cukup, sehingga guru harus
tetap berusaha pada kesempatan lain di luar waktu tujuh hari tersebut. Keseriusan guru untuk
mengembangkan dirinya merupakan salah satu hal yang diperhatikan dan dinilai di dalam
kegiatan proses pembelajaran yang akan dievaluasi kinerja tahunannya.
4. Proses PKB bagi guru harus dimulai dari guru sendiri. Sebenarnya guru tidak bisa
dikembangkan oleh orang lain jika dia belum siap untuk berkembang. Pihak-pihak yang
mendapat tugas untuk membina guru perlu menggali sebanyak-banyaknya dari guru tersebut
(tentang keinginannya, kekhawatirannya, masalah yang dihadapinya, pemahamannya tentang
proses belajar-mengajar, dsb) sebelum memberikan masukan/saran.
5. Untuk mencapai tujuan PKB yang sebenarnya, kegiatan PKB harus melibatkan guru secara aktif
sehingga betul-betul terjadi perubahan pada dirinya, baik dalam penguasaan materi,
pemahaman konteks, keterampilan, dan lain-lain. Jenis pelatihan tradisional -- yaitu ceramah
yang dihadiri oleh peserta dalam jumlah besar tetapi tidak melibatkan mereka secara aktif -- perlu
dihindari.
Berdasarkan analisis kebutuhan dan ketentuan yang berlaku serta praktik-praktik
pelaksanaannya, perlu dikembangkan mekanisme PKB yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan
guru untuk meningkatkan profesionalismenya. Analisis kebutuhan dan ketentuan tersebut mencakup
antara lain:
1. Setiap guru berhak menerima pembinaan berkelanjutan dari seorang guru yang berpengalaman
dan telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan (guru pendamping).
2. Guru pendamping tersebut berasal dari sekolah yang sama dengan guru binaannya atau dipilih
dari sekolah lain yang berdekatan, apabila di sekolahnya tidak ada guru pendamping yang
memenuhi kompetensi.

62
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

3. Setiap sekolah mempunyai seorang koordinator PKB tingkat sekolah, yaitu seorang guru yang
berpengalaman. Sekolah yang mempunyai banyak guru boleh membentuk sebuah tim PKB untuk
membantu Koordinator PKB, sedangkan sekolah kecil dengan jumlah guru yang terbatas,
terutama sekolah dasar, sangat dianjurkan untuk bekerja sama dengan sekolah lain di sekitarnya.
Dengan demikian, seorang Koordinator PKB bisa mengkoordinasikan kegiatan PKB di beberapa
sekolah.
4. Setiap Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menunjuk dan menetapkan seorang Koordinator PKB
tingkat kabupaten/kota (misalnya pengawas yang bertanggung jawab untuk gugus sekolah
tertentu).
5. Sekolah, KKG/MGMP serta Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota harus merencanakan kegiatan PKB
dan mengalokasikan anggaran untuk kegiatan tersebut. Kegiatan PKB harus sejalan dengan visi
dan misi sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan.
6. Sekolah berkewajiban menjamin bahwa kesibukan guru dengan tugas tambahannya sebagai Guru
Pembina atau sebagai Koordinator PKB tingkat sekolah maupun dalam mengikuti kegiatan PKB
tidak mengurangi kualitas pembelajaran siswa.
PKB perlu dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai standar kompetensi
dan/atau meningkatkan kompetensinya agar guru mampu memberikan layanan pendidikan secara
profesional. Pencapaian dan peningkatan kompetensi tersebut akan berdampak pada peningkatan
keprofesian guru dan berimplikasi pada perolehan angka kredit bagi pengembangan karir guru.
Dalam Permenneg PAN dan RB Nomor 16 tahun 2009, terdapat tiga unsur kegiatan guru dalam PKB
yang dapat dinilai angka kreditnya, yaitu: pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif.
1. Pengembangan Diri
Pengembangan diri pada dasarnya merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan dan
keterampilan guru melalui kegiatan pendidikan dan latihan fungsional dan kegiatan kolektif guru
yang dapat meningkatkan kompetensi dan/atau keprofesian guru. Dengan demikian, guru akan
mampu melaksanakan tugas utama dan tugas tambahan yang dipercayakan kepadanya. Tugas
utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan, sedangkan tugas
tambahan adalah tugas lain guru yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, seperti tugas
sebagai kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kepala laboratorium, dan kepala perpustakaan.
Diklat fungsional termasuk pada kategori diklat dalam jabatan yang dilaksanakan untuk
mencapai persyaratan kompetensi yang sesuai dengan jenis dan jenjang jabatan fungsional
masing-masing. Dalam Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 dinyatakan bahwa diklat fungsional
adalah kegiatan guru dalam mengikuti pendidikan atau pelatihan yang bertujuan untuk
meningkatkan keprofesian guru yang bersangkutan dalam kurun waktu tertentu.
Kegiatan kolektif guru adalah kegiatan guru dalam mengikuti pertemuan ilmiah atau
mengikuti kegiatan bersama yang dilakukan guru, baik di sekolah maupun di luar sekolah, dan
bertujuan untuk meningkatkan keprofesian guru yang bersangkutan. Beberapa contoh bentuk
kegiatan kolektif guru antara lain: (1) lokakarya atau kegiatan bersama untuk menyusun
dan/atau mengembangkan perangkat kurikulum, pembelajaran, penilaian, dan/atau media
pembelajaran; (2) keikutsertaan pada kegiatan ilmiah (seminar, koloqium, workshop, bimbingan

63
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

teknis, dan diskusi panel), baik sebagai pembahas maupun peserta; (3) kegiatan kolektif lainnya
yang sesuai dengan tugas dan kewajiban guru.
Beberapa contoh materi yang dapat dikembangkan dalam kegiatan pengembangan diri,
baik dalam diklat fungsional maupun kegiatan kolektif guru, antara lain: (1) penyusunan RPP,
program kerja, dan/atau perencanaan pendidikan; (2) penyusunan kurikulum dan bahan ajar; (3)
pengembangan metodologi mengajar; (4) penilaian proses dan hasil pembelajaran peserta didik;
(5) penggunaan dan pengembangan teknologi informatika dan komputer (TIK) dalam
pembelajaran; (6) inovasi proses pembelajaran; (7) peningkatan kompetensi profesional dalam
menghadapi tuntutan teori terkini; (8) penulisan publikasi ilmiah; (9) pengembangan karya
inovatif; (10) kemampuan untuk mempresentasikan hasil karya; dan (11) peningkatan
kompetensi lain yang terkait dengan pelaksanaan tugas-tugas tambahan atau tugas lain yang
relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.
Pelaksanaan berbagai kegiatan pengembangan diri ini harus berkualitas, dikoordinasikan
dan dikendalikan oleh Koordinator PKB di sekolah secara sistematik dan terarah sesuai
kebutuhan. Kegiatan pengembangan diri yang berupa diklat fungsional harus dibuktikan dengan
surat tugas, sertifikat, dan laporan deskripsi hasil pelatihan yang disahkan oleh kepala sekolah.
Sementara itu, kegiatan pengembangan diri yang berupa kegiatan kolektif guru harus dibuktikan
dengan surat keterangan dan laporan per kegiatan yang disahkan oleh kepala sekolah. Jika guru
mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah, laporan dan bukti fisik pendukung tersebut
harus disahkan oleh kepala dinas pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi.
Hasil diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru ini perlu didesiminasikan kepada guru-
guru yang lain, minimal di sekolahnya masing-masing, sebagai bentuk kepedulian dan wujud
kontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan. Kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat
proses peningkatan dan pengembangan sekolah secara utuh/menyeluruh. Guru bisa
memperoleh penghargaan berupa angka kredit tambahan sesuai perannya sebagai
pemrasaran/nara sumber.
2. Publikasi Ilmiah
Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai
bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan
pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 (tiga) kelompok,
yaitu:
a. Presentasi pada forum ilmiah. Dalam hal ini guru bertindak sebagai pemrasaran dan/atau
nara sumber pada seminar, lokakarya, koloqium, dan/atau diskusi ilmiah, baik yang
diselenggarakan pada tingkat sekolah, KKG/MGMP, kabupaten/kota, provinsi, nasional,
maupun internasional.
b. Publikasi ilmiah berupa hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan formal.
Publikasi dapat berupa karya tulis hasil penelitian, makalah tinjauan ilmiah di bidang
pendidikan formal dan pembelajaran, tulisan ilmiah populer, dan artikel ilmiah dalam
bidang pendidikan. Karya ilmiah ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah tertentu atau
minimal telah diterbitkan dan diseminarkan di sekolah masing-masing. Dokumen karya
ilmiah disahkan oleh kepala sekolah dan disimpan di perpustakaan sekolah. Bagi guru yang

64
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah, karya ilmiahnya harus disahkan oleh
kepala dinas pendidikan setempat.
c. Publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan/atau pedoman guru. Buku yang
dimaksud dapat berupa buku pelajaran, baik sebagai buku utama maupun buku pelengkap,
modul/diktat pembelajaran per semester, buku dalam bidang pendidikan, karya
terjemahan, dan buku pedoman guru. Buku termaksud harus tersedia di perpustakaan
sekolah tempat guru bertugas. Keaslian buku harus ditunjukkan dengan pernyataan
keaslian dari kepala sekolah atau dinas pendidikan setempat bagi guru yang mendapatkan
tugas tambahan sebagai kepala sekolah.
3. Karya Inovatif
Karya inovatif adalah karya yang bersifat pengembangan, modifikasi atau penemuan baru
sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah
dan pengembangan dunia pendidikan, sains/teknologi, dan seni. Karya inovatif ini dapat berupa
penemuan teknologi tepat guna, penemuan/peciptaan atau pengembangan karya seni,
pembuatan/modifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum, atau penyusunan standar, pedoman,
soal dan sejenisnya pada tingkat nasional maupun provinsi.
Kegiatan PKB yang mencakup ketiga komponen tersebut harus dilaksanakan secara
berkelanjutan, agar guru dapat selalu menjaga dan meningkatkan profesionalismenya, tidak
sekadar untuk pemenuhan angka kredit. Oleh sebab itu, meskipun angka kredit seorang guru
diasumsikan telah memenuhi persyaratan untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsional
tertentu, guru tetap wajib melakukan kegiatan PKB.

E. Uji Kompetensi
Untuk mengetahui kompetensi seorang guru, perlu dilakukan uji kompetensi. Uji kompetensi
dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang kemampuan guru dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Berdasarkan hasil uji kompetensi, dirumuskan profil kompetensi guru menurut level
tertentu yang sekaligus menentukan kelayakan dari guru tersebut. Dengan demikian, tujuan uji
kompetensi adalah menilai dan menetapkan apakah guru sudah kompeten atau belum dilihat dari
standar kompetensi yang diujikan.
Kegiatan peningkatan kompetensi guru memiliki rasional dan pertimbangan empiris yang kuat,
sehingga bias dipertanggungjawabkan baik secara akademik, moral, maupun keprofesian. Dengan
demikian, disamping hasil penilaian kinerja, uji kompetensi menjadi salah satu basis utama desain
program peningkatan kompetensi guru. Uji kompetensi esensinya berfokus pada keempat
kompetensi yang harus dimiliki oleh guru seperti yang telah dijelaskan di atas, yaitu kompetensi
pedagogik, kepribadian, sosial, dan kompetensi profesional.
1. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan
karakteristik peserta didik dilihat dari berbagai aspek seperti fisik, moral, sosial, kultural,
emosional, dan intelektual. Hal tersebut berimplikasi bahwa seorang guru harus mampu
menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik karena peserta didik
memiliki karakter, sifat, dan interes yang berbeda. Berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum,

65
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

seorang guru harus mampu mengembangkan kurikulum di tingkat satuan pendidikan masing-
masing dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Guru harus mampu mengoptimalkan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan
kemampuannya di kelas, dan harus mampu melakukan penilaian terhadap kegiatan
pembelajaran yang telah dilakukan. Kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan
aspek-aspek yang diamati, yaitu:
a. Penguasaan terhadap karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural,
emosional dan intelektual.
b. Penguasaan terhadap teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
c. Mampu mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang
diampu.
d. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik.
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan
kegiatan pengembangan yang mendidik.
f. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimiliki.
g. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
h. Melakukan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar, memanfaatkan hasil penilaian dan
evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
i. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
2. Kompetensi Kepribadian
Pelaksanaan tugas sebagai guru harus didukung oleh suatu perasaan bangga akan tugas yang
dipercayakan kepadanya untuk mempersiapkan kualitas generasi masa depan bangsa.
Walaupun berat tantangan dan rintangan yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas, guru harus
tetap tegar dalam melaksakan tugas sebagai seorang pendidik. Pendidikan adalah proses yang
direncanakan agar semua berkembang melalui proses pembelajaran. Guru sebagai pendidik
harus dapat mempengaruhi ke arah proses itu sesuai dengan tata nilai yang dianggap baik dan
berlaku dalam masyarakat.
Tata nilai termasuk norma, moral, estetika, dan ilmu pengetahuan, mempengaruhi perilaku
etik peserta didik sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat. Penerapan disiplin yang baik
dalam proses pendidikan akan menghasilkan sikap mental, watak dan kepribadian peserta didik
yang kuat. Guru dituntut harus mampu membelajarkan peserta didiknya tentang disiplin diri,
belajar membaca, mencintai buku, menghargai waktu, belajar bagaimana cara belajar,
mematuhi aturan/tata tertib, dan belajar bagaimana harus berbuat. Semuanya itu akan berhasil
apabila guru juga disiplin dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Guru harus mempunyai
kemampuan yang berkaitan dengan kemantapan dan integritas kepribadian seorang guru.
Aspek-aspek yang diamati adalah:
a. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
b. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik
dan masyarakat.
c. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
d. Menunjukan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa
percaya diri.

66
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

e. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.


3. Kompetensi Sosial
Guru di mata masyarakat dan peserta didik merupakan panutan yang perlu dicontoh dan
merupkan suri tauladan dalam kehidupanya sehari-hari. Guru perlu memiliki kemampuan sosial
dengan masyarakat, dalam rangka pelaksanaan proses pembelajaran yang efektif. Dengan
kemampuan tersebut, otomatis hubungan sekolah dengan masyarakat akan berjalan dengan
lancar, sehingga jika ada keperluan dengan orang tua peserta didik, para guru tidak akan
mendapat kesulitan.
Kemampuan sosial meliputi kemampuan guru dalam berkomunikasi, bekerja sama,
bergaul simpatik, dan mempunyai jiwa yang menyenangkan. Kriteria kinerja guru dalam
kaitannya dengan kompetensi sosial disajikan berikut ini.
a. Bertindak objektif serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras,
kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
b. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
c. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki
keragaman sosial budaya.
d. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau
bentuk lain.
4. Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru dalam perencanaan dan
pelaksanaan proses pembelajaran. Guru mempunyai tugas untuk mengarahkan kegiatan belajar
peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu guru dituntut mampu
menyampaikan bahan pelajaran. Guru harus selalu meng-update, dan menguasai materi
pelajaran yang disajikan. Persiapan diri tentang materi diusahakan dengan jalan mencari
informasi melalui berbagai sumber seperti membaca buku-buku terbaru, mengakses dari
internet, selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan terakhir tentang materi yang disajikan.
Dalam menyampaikan pembelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas sebagai
sumber materi yang tidak pernah kering dalam mengelola proses pembelajaran. Kegiatan
mengajarnya harus disambut oleh peserta didik sebagai suatu seni pengelolaan proses
pembelajaran yang diperoleh melalui latihan, pengalaman, dan kemauan belajar yang tidak
pernah putus.
Keaktifan pesertadidik harus selalu diciptakan dan berjalan terus dengan menggunakan
metode dan strategi mengajar yang tepat. Guru menciptakan suasana yang dapat mendorong
pesertadidik untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan
konsep yang benar. Karena itu guru harus melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan
multimedia, sehingga terjadi suasana belajar sambil bekerja, belajar sambil mendengar, dan
belajar sambil bermain, sesuai kontek materinya.
Guru harus memperhatikan prinsip-prinsip didaktik metodik sebagai ilmu keguruan.
Misalnya, bagaimana menerapkan prinsip apersepsi, perhatian, kerja kelompok, dan prinsip-
prinsip lainnya. Dalam hal evaluasi, secara teori dan praktik, guru harus dapat melaksanakan

67
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

sesuai dengan tujuan yang ingin diukurnya. Jenis tes yang digunakan untuk mengukur hasil
belajar harus benar dan tepat. Diharapkan pula guru dapat menyusun butir soal secara benar,
agar tes yang digunakan dapat memotivasi pesertadidik belajar.
Kemampuan yang harus dimiliki pada dimensi kompetensi profesional atau akademik
dapat diamati dari aspek-aspek berikut ini.
a. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu.
b. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/ bidang
pengembangan yang diampu.
c. Mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara kreatif.
d. Mengembangkan keprofesian secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan
mengembangkan diri.
Seperti dijelaskan di atas, untuk mengetahui kompetensi guru dilakukan uji kompetensi. Melalui
uji kompetensi guru dapat dirumuskan profil kompetensinya. Kondisi nyata itulah yang menjadi
dasar peningkatan kompetensi guru. Dengan demikian, hasil uji kompetensi menjadi basis utama
desain program peningkatan kompetensi guru.
Uji kompetensi dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang penguasaan materi
pembelajaran setiap guru. Berdasarkan hasil uji kompetensi dirumuskan profil kompetensi guru
menurut level tertentu, sekaligus menentukan kelayakannya. Dengan demikian, tujuan uji
kompetensi adalah menilai dan menetapkan apakah guru sudah kompeten atau belum dilihat dari
standar kompetensi yang diujikan. Pelaksanaan uji kompetensi dilakukan dengan menggunakan
prinsip-prinsip seperti berikut ini.
a. Valid, yaitu menguji apa yang seharusnya dinilai atau diuji dan bukti-bukti yang dikumpulkan
harus mencukupi serta terkini dan asli.
b. Reliabel, yaitu uji komptensi bersifat konsisten, dapat menghasilkan kesimpulan yang relatif
sama walaupun dilakukan pada waktu, tempat dan asesor yang berbeda.
c. Fleksibel, yaitu uji kompetensi dilakukan dengan metoda yang disesuikan dengan kondisi peserta
uji serta kondisi tempat uji kompetensi.
d. Adil, yaitu uji kompetensi tidak boleh ada diskriminasi terhadap guru, dimana mereka harus
diperlakukan sama sesuai dengan prosedur yang ada dengan tidak melihat dari kelompok mana
dia berasal.
e. Efektif dan efisien, yaitu uji kompetensi tidak mengorbankan sumber daya dan waktu yang
berlebihan dalam melaksanakan uji kompetensi sesuai dengan unjuk kerja yang ditetapkan. Uji
kompetensi sebisa mungkin dilaksanakan di tempat kerja atau dengan mengorbankan waktu
dan biaya yang sedikit.
Uji kompetensi dilakukan dengan strategi tertentu. Strategi uji kompetensi dilakukan seperti
berikut ini.
1. Dilakukan secara kontinyu bagi semua guru, baik terkait dengan mekanisme sertifikasi maupun
bersamaan dengan penilaian kinerja.
2. Dapat dilakukan secara manual (offline), online, atau kombinasinya.

68
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

3. Memberi perlakauan khusus untuk jenis guru tertentu, misalnya guru produktif, normatif, guru
TK/LB, atau melalui tes kinerja atau performance test.
4. Dimungkinkan penyediaan bank soal yang memenuhi validitas dan reliabilitas tertentu, khusus
untuk ranah pengetahuan.
5. Sosialisasi pelaksanaan program dan materi uji kompetensi

Latihan dan Renungan


1. Apa esensi peningkatan kompetensi guru?
2. Sebutkan jenis-jenis kompetensi yang harus dimiliki oleh guru?
3. Buatlah penjelasan ringkas mengenai keterkaitan masing-masing jenis kompetensi guru!
4. Sebutkan beberapa prinsip peningkatan kompetensi guru1
5. Apa yang dimaksud dengan pengembangan keprofesian guru secara berkelanjutan?
6. Sebutkan jenis-jenis program peningkatan kompetensi guru!
7. Apa esensi uji kompetensi guru?
8. Apa dampak ikutan hasil uji kompetensi bagi guru?

69
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

BAB III
PENILAIAN KINERJA

Topik ini berkaitan dengan penilaian kinerja guru. Materi sajian terutama
berkaitan dengan makna, persyaratan, prinsip, tahap-tahap pelaksanaan,
dan konversi nilai penilaian kinerja guru. Peserta PLPG diminta mengikuti
materi pembelajaran secara individual, melaksanakan diskusi kelompok,
menelaah kasus, membaca regulasi yang terkait, menjawab soal latihan,
dan melakukan refleksi.

A. Latar Belakang
Guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas, fungsi, dan peran penting dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru profesional mampu berpartisipasi dalam pembangunan
nasional untuk mewujudkan insan Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan YME, unggul dalam
IPTEK, memiliki jiwa estetis, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian.
Masa depan masyarakat, bangsa dan negara, sebagian besar ditentukan oleh guru. Karena
itu, profesi guru perlu dikembangkan secara terus menerus dan proporsional menurut jabatan
fungsional guru. Agar fungsi dan tugas yang melekat pada jabatan fungsional guru dilaksanakan
sesuai dengan aturan yang berlaku, maka diperlukan penilaian kinerja guru (PK Guru) yang
menjamin terjadinya proses pembelajaran yang berkualitas di semua jenjang pendidikan.
Pelaksanaan PK Guru dimaksudkan untuk mewujudkan guru yang profesional, karena harkat
dan martabat suatu profesi ditentukan oleh kualitas layanan profesi guru. Untuk memberi pengakuan
bahwa setiap guru adalah seorang profesional di bidangnya dan sebagai penghargaan atas prestasi
kerjanya, maka PK Guru harus dilakukan terhadap guru di semua satuan pendidikan formal yang
diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Guru yang dimaksud tidak
terbatas pada guru yang bekerja di satuan pendidikan di bawah kewenangan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi juga mencakup guru yang bekerja di satuan pendidikan di
lingkungan Kementerian Agama.
Hasil PK Guru dapat dimanfaatkan untuk menyusun profil kinerja guru sebagai masukan
dalam penyusunan program PKB. Hasil PK Guru juga merupakan dasar penetapan perolehan angka
kredit guru dalam rangka pengembangan karir guru sebagaimana diamanatkan dalam Permenneg
PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Jika
semua ini dapat dilaksanakan dengan baik dan obyektif, maka citacita pemerintah untuk
menghasilkan insan yang cerdas komprehensif dan berdaya saing tinggi lebih cepat direalisasikan.

B. Pengertian
Menurut Permenneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009, PK Guru adalah penilaian dari tiap butir
kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya.
Pelaksanaan tugas utama guru tidak dapat dipisahkan dari kemampuannya dalam penguasaan
pengetahuan, penerapan pengetahuan dan keterampilan, sebagai kompetensi yang dibutuhkan
sesuai amanat Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi Guru.

70
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Penguasaan kompetensi dan penerapan pengetahuan serta keterampilan guru, sangat


menentukan tercapainya kualitas proses pembelajaran atau pembimbingan peserta didik, dan
pelaksanaan tugas tambahan yang relevan bagi sekolah/madrasah, khususnya bagi guru dengan
tugas tambahan. Sistem PK Guru adalah sistem penilaian yang dirancang untuk mengidentifikasi
kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya melalui pengukuran penguasaan kompetensi yang
ditunjukkan dalam unjuk kerjanya.
Sebelum mengikuti PK Guru, seorang guru harus mengikuti uji kompetensi. Berdasarkan hasil
uji kompetensi ini, guru akan dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu: (1) guru yang sudah
mencapai standar kompetensi minimal yang ditetapkan, dan (2) guru yang belum memiliki standar
kompetensi minimmal yang ditetapkan.
Guru yang sudah mencapai standar kompetensi minimum yang ditetapkan diberi kesempatan
untuk mengikuti PK Guru. Sebaliknya, guru yang belum mencapai standar minimum yang ditetapkan,
diharuskan mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) melalui multimode, untuk kemudian
mengikuti uji kompetensi.
Jika hasil uji kompetensi memenuhi persyaratan, guru yang bersangkutan diberi peluang
mengikuti PK Guru. Fokus utama PK Guru adalah (1) disiplin guru (kehadiran, ethos kerja), (2)
efisiensi dan efektivitas pembelajaran (kapasitas transformasi ilmu ke siswa), (3) keteladanan guru
(berbicara, bersikap dan berperilaku), dan (4) motivasi belajar siswa.
Guru yang sudah mengikuti PK Guru, akan dihitung angka kredit yang diperoleh atas kinerjanya
pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi
sekolah/madrasah yang dilakukannya pada tahun tersebut. Kegiatan penilaian kinerja dilakukan
setiap tahun sebagai bagian dari proses pengembangan karir dan promosi guru untuk kenaikan
pangkat dan jabatan fungsionalnya.

71
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Pembinaan karier dan


UK kepangkatan
UJI
N SM N SM Memastikan guru melaksanakan
KOMPETENSI
tugas profesional
PKB Menjamin bahwa guru

DIKLAT DASAR
memberi layanan pendidikan
yang berkualitas
INTERNALLY &
EKSTERNALLY
PKB
DIKLAT LANJUTAN N SM PK
PK N SM (KEPASTIAN, KEMANFAATAN dan
DRIVEN
KEADILAN)
DIKLAT
PENGEMBANGAN

1. KENAIKAN PANGKAT/ INDIKATOR UTAMA


JABATAN
GURU
PROFESIONAL 2. PROMOSI No. INDIKATOR
3. TUNJANGAN PROFESI
1. Disiplin Guru (waktu, nilai,
kehadiran, ethos kerja)
DAMPAK
No INDIKATOR 2. Efisiensi dan Efektivitas
pembelajaran (Kapasitas
1. Hasil Belajar Siswa (Nilai Rapor, UN dan Hasil Tes transformasi ilmu ke
Standar Lainnya)
siswa)
2. Karya Prestatif Siswa dalam berbagai kompetisi
Lokal, Nasional dan Internasional
3. Keteladanan Guru
3. Kesinambungan Prestasi Siswa di PT atau bekerja (berbicara, bersikap dan berperilaku)
SM : Standar Minimal melalui Penelusuran Alumni.
PKB : Pembinaan Keprofesian 4. Rekognisi Pihak Eksternal terhadap kualitas Siswa 4. Motivasi Belajar Siswa
Berkelanjutan
PK : Penilaian Kinerja

Hasil PK Guru diharapkan dapat bermanfaat untuk menentukan berbagai kebijakan yang terkait
dengan peningkatan mutu dan kinerja guru sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pendidikan
dalam menciptakan insan yang cerdas, komprehensif, dan berdaya saing tinggi. PK Guru merupakan
acuan bagi sekolah/madrasah untuk menetapkan pengembangan karir dan promosi guru. Bagi
guru, PK Guru merupakan pedoman untuk mengetahui unsurunsur kinerja yang dinilai dan
merupakan sarana untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan individu dalam rangka memperbaiki
kualitas kinerjanya, khususnya pada empat fokus utama, seperti disebutkan di atas.
C. Persyaratan
Persyaratan penting dalam sistem PK Guru yaitu harus valid, reliabel, dan praktis.
1. Sistem PK Guru dikatakan valid bila aspek yang dinilai benar-benar mengukur komponen-
komponen tugas guru dalam melaksanakanpembelajaran, pembimbingan, dan/atau tugas lain
yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.
2. Sistem PK Guru dikatakan reliabel atau mempunyai tingkat kepercayaan tinggi jika proses yang
dilakukan memberikan hasil yang sama untuk seorang guru yang dinilai kinerjanya oleh siapapun
dan kapan pun.
3. Sistem PK Guru dikatakan praktis bila dapat dilakukan oleh siapapun dengan relatif mudah,
dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang sama dalam semua kondisi tanpa memerlukan
persyaratan tambahan.

D. Prinsip Pelaksanaan
Prinsipprinsip utama dalam pelaksanaan PK Guru adalah sebagai berikut.
1. Sesuai dengan prosedur dan mengacu pada peraturan yang berlaku.
2. Menilai kinerja yang dapat diamati dan dipantau, yang dilakukan guru dalam melaksanakan
tugasnya seharihari, yaitu dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, pembimbingan,

72
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

dan/atau tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah meliputi:


a. disiplin guru (kehadiran, ethos kerja),
b. efisiensi dan efektivitas pembelajaran (kapasitas transformasi ilmu ke siswa),
c. keteladanan guru (berbicara, bersikap dan berperilaku), dan
d. motivasi belajar siswa.
3. Penilai, guru yang dinilai, dan unsur yang terlibat dalam proses harus memahami semua
dokumen yang terkait dengan sistem penilaian. Guru dan penilai harus memahami pernyataan
kompetensi dan indikator kinerjanya secara utuh, sehingga keduanya mengetahui tentang aspek
yang dinilai serta dasar dan kriteria yang digunakan dalam penilaian.
4. Diawali dengan penilaian formatif di awal tahun dan penilaian sumatif di akhir tahun dengan
memperhatikan halhal berikut.
a. Obyektif sesuai dengan kondisi nyata guru dalam melaksanakan tugas seharihari.
b. Memberlakukan syarat, ketentuan, dan prosedur standar kepada semua guru yang dinilai.
c. Dapat dipertanggungjawabkan.
d. Bermanfaat bagi guru dalam rangka peningkatan kualitas kinerjanya secara berkelanjutan
dan sekaligus pengembangan karir profesinya.
e. Memungkinkan bagi penilai, guru yang dinilai, dan pihak lain yang berkepentingan, untuk
memperoleh akses informasi atas penyelenggaraan penilaian tersebut.
f. Mudah tanpa mengabaikan prinsipprinsip lainnya.
g. Berorientasi pada tujuan yang telah ditetapkan.
h. Tidak hanya terfokus pada hasil, namun juga perlu memperhatikan proses, yakni bagaimana
guru dapat mencapai hasil tersebut.
i. Periodik, teratur, dan berlangsung secara terus menerus selama seseorang menjadi guru.
j. Boleh diketahui oleh pihakpihak terkait yang berkepentingan.

E. Aspek yang Dinilai


Seperti telah dijelaskan di muka, guru sebagai pendidik profesional mempunyai tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah. Selain tugas utamanya tersebut, guru juga dimungkinkan memiliki tugastugas lain yang
relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Oleh karena itu, dalam penilaian kinerja guru beberapa
subunsur yang perlu dinilai adalah sebagai berikut.
1. Penilaian kinerja yang terkait dengan pelaksanaan proses pembelajaran bagi guru mata
pelajaran atau guru kelas, khususnya berkaitan dengan, (1) disiplin guru (kehadiran, ethos
kerja), (2) efisiensi dan efektivitas pembelajaran (kapasitas transformasi ilmu ke siswa), (3)
keteladanan guru (berbicara, bersikap dan berperilaku), dan (4) motivasi belajar siswa.
2. Penilaian kinerja dalam melaksanakan proses pembimbingan bagi guru Bimbingan Konseling
(BK)/Konselor meliputi kegiatan merencanakan dan melaksanakan pembimbingan,
mengevaluasi dan menilai hasil bimbingan, menganalisis hasil evaluasi pembimbingan, dan
melaksanakan tindak lanjut hasil pembimbingan. Seperti halnya guru mata pelajaran, fokus
utama PK bagi guru Bimbingan Konseling (BK)/Konselor juga mencakup (1) disiplin guru
(kehadiran, ethos kerja), (2) efisiensi dan efektivitas pembelajaran (kapasitas transformasi ilmu
ke siswa), (3) keteladanan guru (berbicara, bersikap dan berperilaku), dan (4) motivasi belajar

73
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

siswa.
3. Kinerja yang terkait dengan pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi
sekolah/madrasah. Pelaksanaan tugas tambahan ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu tugas
tambahan yang mengurangi jam mengajar tatap muka dan yang tidak mengurangi jam mengajar
tatap muka. Tugas tambahan yang mengurangi jam mengajar tatap muka meliputi: (1) menjadi
kepala sekolah/madrasah per tahun; (2) menjadi wakil kepala sekolah/madrasah per tahun; (3)
menjadi ketua program keahlian/program studi atau yang sejenisnya; (4) menjadi kepala
perpustakaan; atau (5) menjadi kepala laboratorium, bengkel, unit produksi, atau yang
sejenisnya. Tugas tambahan yang tidak mengurangi jam mengajar tatap muka dikelompokkan
menjadi dua, yaitu tugas tambahan minimal satu tahun (misalnya menjadi wali kelas, guru
pembimbing program induksi, dan sejenisnya) dan tugas tambahan kurang dari satu tahun
(misalnya menjadi pengawas penilaian dan evaluasi pembelajaran, penyusunan kurikulum, dan
sejenisnya).
Penilaian kinerja guru dalam melaksanakan tugas tambahan yang mengurangai jam
mengajar tatap muka dinilai dengan menggunakan instrumen khusus yang dirancang
berdasarkan kompetensi yang dipersyaratkan untuk melaksanakan tugas tambahan tersebut.
Tugas tambahan lain yang tidak mengurangi jam mengajar guru dihargai langsung sebagai
perolehan angka kredit sesuai ketentuan yang berlaku.

F. Prosedur Pelaksanaan
PK Guru dilakukan dua kali setahun, yaitu pada awal tahun ajaran (penilaian formatif) dan akhir
tahun ajaran (penilaian sumatif), khususnya untuk pertamakalinya. PK Guru formatif digunakan
untuk menyusun profil kinerja guru dan harus dilaksanakan dalam kurun waktu 6 (enam) minggu di
awal tahun ajaran. Berdasarkan profil kinerja guru ini dan hasil evaluasi diri yang dilakukan oleh guru
secara mandiri, sekolah/madrasah menyusun rencana PKB. Bagi guruguru dengan PK Guru di bawah
standar, maka program PKB diarahkan untuk pencapaian standar kompetensi tersebut.
Sementara itu, bagi guruguru dengan PK Guru yang telah mencapai atau di atas standar,
program PKB diorientasikan untuk meningkatkan atau memperbaharui pengetahuan, keterampilan,
dan sikap dan perilaku keprofesiannya. PK Guru sumatif digunakan untuk menetapkan perolahan
angka kredit guru pada tahun tersebut. PK Guru sumatif juga digunakan untuk menganalisis
kemajuan yang dicapai guru dalam pelaksanaan PKB, baik bagi guru yang nilainya masih di bawah
standar, telah mencapai standar, atau melebihi standar kompetensi yang ditetapkan. PK Guru
sumatif harus sudah dilaksanakan 6 (enam) minggu sebelum penetapan angka kredit seorang guru.
Secara spesifik terdapat perbedaan prosedur pelaksanaan PK Guru pembelajaran atau
pembimbingan dengan prosedur pelaksanaan PK Guru untuk tugas tambahan yang relevan dengan
fungsi sekolah/madrasah. Meskipun demikian, secara umum kegiatan penilaian PK Guru di tingkat
sekolah dilaksanakan dalam 4 (empat) tahapan sebagaimana berikut.
1. Tahap Persiapan
Dalam tahap persiapan, halhal yang harus dilakukan oleh penilai maupun guru yang akan
dinilai, yaitu:
a. memahami Pedoman PK Guru, terutama tentang sistem yang diterapkan dan posisi PK Guru

74
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

dalam kerangka pembinaan dan pengembangan profesi guru;


b. memahami pernyataan kompetensi guru yang telah dijabarkan dalam bentuk indikator
kinerja;
c. memahami penggunaan instrumen PK Guru dan tata cara penilaian yang akan dilakukan,
termasuk cara mencatat semua hasil pengamatan dan pemantauan, serta mengumpulkan
dokumen dan bukti fisik lainnya yang memperkuat hasil penilaian; dan
d. memberitahukan rencana pelaksanaan PK Guru kepada guru yang akan dinilai sekaligus
menentukan rentang waktu jadwal pelaksanaannya.
2. Tahap Pelaksanaan
Beberapa tahapan PK Guru yang harus dilalui oleh penilai sebelum menetapkan nilai untuk
setiap kompetensi, yaitu:
a. Sebelum pengamatan. Pertemuan awal antara penilai dengan guru yang dinilai sebelum
dilakukan pengamatan dilaksanakan di ruang khusus tanpa ada orang ketiga. Pada
pertemuan ini, penilai mengumpulkan dokumen pendukung dan melakukan diskusi tentang
berbagai hal yang tidak mungkin dilakukan pada saat pengamatan. Semua hasil diskusi,
wajib dicatat dalam format laporan dan evaluasi per kompetensi sebagai bukti penilaian
kinerja. Untuk pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah
dapat dicatat dalam lembaran lain karena tidak ada format khusus yang disediakan untuk
proses pencatatan ini.
b. Selama pengamatan. Selama pengamatan di kelas dan/atau di luar kelas, penilai wajib
mencatat semua kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran
atau pembimbingan, dan/atau dalam pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan
fungsi sekolah/madrasah. Dalam konteks ini, penilaian kinerja dilakukan dengan
menggunakan instrumen yang sesuai untuk masingmasing penilaian kinerja. Untuk menilai
guru yang melaksanakan proses pembelajaran atau pembimbingan, penilai menggunakan
instrumen PK Guru pembelajaran atau pembimbingan.
Pengamatan kegiatan pembelajaran dapat dilakukan di kelas selama proses tatap
muka tanpa harus mengganggu proses pembelajaran. Pengamatan kegiatan pembimbingan
dapat dilakukan selama proses pembimbingan baik yang dilakukan dalam kelas maupun di
luar kelas, baik pada saat pembimbingan individu maupun kelompok. Penilai wajib mencatat
semua hasil pengamatan pada format laporan dan evaluasi per kompetensi tersebut atau
lembar lain sebagai bukti penilaian kinerja. Jika diperlukan, proses pengamatan dapat
dilakukan lebih dari satu kali untuk memperoleh informasi yang akurat, valid dan konsisten
tentang kinerja seorang guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran atau
pembimbingan.
Dalam proses penilaian untuk tugas tambahan yang relevan dengan fungsi
sekolah/madrasah, data dan informasi dapat diperoleh melalui pencatatan terhadap semua
bukti yang teridentifikasi di tempat yang disediakan pada masingmasing kriteria penilaian.
Buktibukti ini dapat diperoleh melalui pengamatan, wawancara dengan pemangku
kepentingan pendidikan (guru, komite sekolah, peserta didik, dunia usaha dan dunia industri
mitra).
c. Setelah pengamatan. Pada pertemuan setelah pengamatan pelaksanaan proses
pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi

75
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

sekolah/madrasah, penilai dapat mengklarifikasi beberapa aspek tertentu yang masih


diragukan. Penilai wajib mencatat semua hasil pertemuan pada format laporan dan evaluasi
per kompetensi tersebut atau lembar lain sebagai bukti penilaian kinerja. Pertemuan
dilakukan di ruang khusus dan hanya dihadiri oleh penilai dan guru yang dinilai. Untuk
penilaian kinerja tugas tambahan, hasilnya dapat dicatat pada Format Penilaian Kinerja
sebagai deskripsi penilaian kinerja.
3. Tahap Penilaian
a. Pelaksanaan penilaian
Pada tahap ini penilai menetapkan nilai untuk setiap kompetensi dengan skala nilai 1, 2,
3, atau 4. Sebelum pemberian nilai tersebut, penilai terlebih dahulu memberikan skor 0,
1, atau 2 pada masingmasing indikator untuk setiap kompetensi. Pemberian skor ini
harus didasarkan kepada catatan hasil pengamatan dan pemantauan serta buktibukti
berupa dokumen lain yang dikumpulkan selama proses PK Guru. Pemberian nilai untuk
setiap kompetensi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut.
1) Pemberian skor 0, 1, atau 2 untuk masingmasing indikator setiap kompetensi.
Pemberian skor ini dilakukan dengan cara membandingkan rangkuman catatan hasil
pengamatan dan pemantauan di lembar format laporan dan evaluasi per
kompetensi dengan indikator kinerja masingmasing kompetensi
2) Nilai setiap kompetensi kemudian direkapitulasi dalam format hasil penilaian kinerja
guru untuk mendapatkan nilai total PK Guru. Untuk penilaian kinerja guru dengan
tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, nilai untuk setiap
kompetensi direkapitulasi ke dalam format rekapitulasi penilaian kinerja untuk
mendapatkan nilai PK Guru. Nilai total ini selanjutnya dikonversikan ke dalam skala
nilai sesuai Permenneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009.
3) Berdasarkan hasil konversi nilai PK Guru ke dalam skala nilai sesuai dengan
Permenneg PAN dan RB Nomor 16 tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Guru dan
Angka Kreditnya, selanjutnya dapat ditetapkan sebutan dan persentase angka
kreditnya sebagaimana tercantum dalam Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Konversi Nilai Kinerja Hasil PK Guru ke persentase Angka Kredit

Persentase
Nilai Hasil PK Guru Sebutan
Angka kredit
91 100 Amat baik 125%
76 90 Baik 100%
61 75 Cukup 75%
51 60 Sedang 50%
50 Kurang 25%

4) Setelah melaksanakan penilaian, penilai wajib memberitahukan kepada guru yang


dinilai tentang nilai hasil PK Guru berdasarkan bukti catatan untuk setiap
kompetensi. Penilai dan guru yang dinilai melakukan refleksi terhadap hasil PK Guru,

76
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

sebagai upaya untuk perbaikan kualitas kinerja guru pada periode berikutnya.
5) Jika guru yang dinilai dan penilai telah sepakat dengan hasil penilaian kinerja, maka
keduanya menandatangani format laporan hasil penilaian kinerja guru tersebut.
Format ini juga ditandatangani oleh kepala sekolah.
6) Khusus bagi guru yang mengajar di dua sekolah atau lebih (guru multi
sekolah/madrasah), maka penilaian dilakukan di sekolah/madrasah induk. Meskipun
demikian, penilai dapat melakukan pengamatan serta mengumpulkan data
dan informasi dari sekolah/madrasah lain tempat guru mengajar atau membimbing.

b. Pernyataan Keberatan terhadap Hasil Penilaian


Keputusan penilai terbuka untuk diverifikasi. Guru yang dinilai dapat mengajukan
keberatan terhadap hasil penilaian tersebut. Keberatan disampaikan kepada Kepala
Sekolah dan/atau Dinas Pendidikan, yang selanjutnya akan menunjuk seseorang yang
tepat untuk bertindak sebagai moderator. Dalam hal ini moderator dapat mengulang
pelaksanaan PK Guru untuk kompetensi tertentu yang tidak disepakati atau mengulang
penilaian kinerja secara menyeluruh. Pengajuan usul penilaian ulang harus dicatat
dalam laporan akhir. Dalam kasus ini, nilai PK Guru dari moderator digunakan sebagai
hasil akhir PK Guru. Penilaian ulang hanya dapat dilakukan satu kali dan moderator hanya
bekerja untuk kasus penilaian tersebut.

4. Tahap Pelaporan
Setelah nilai PK Guru formatif dan sumatif diperoleh, penilai wajib melaporkan hasil PK Guru
kepada pihak yang berwenang untuk menindaklanjuti hasil PK Guru tersebut. Hasil PK
Guru formatif dilaporkan kepada kepala sekolah/koordinator PKB sebagai masukan untuk
merencanakan kegiatan PKB tahunan. Hasil PK Guru sumatif dilaporkan kepada tim penilai
tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, atau tingkat pusat sesuai dengan kewenangannya.
Laporan PK Guru sumatif ini digunakan oleh tim penilai tingkat kabupaten/kota, provinsi,
atau pusat sebagai dasar perhitungan dan penetapan angka kredit (PAK) tahunan yang
selanjutnya dipertimbangkan untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsional guru. Laporan
mencakup: (1) laporan dan evaluasi per kompetensi sesuai format; (ii) rekap hasil PK Guru
sesuai format; dan (iii) dokumen pendukung lainnya.
Guru dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah dan
mengurangi beban jam mengajar tatap muka, dinilai dengan menggunakan dua instrumen,
yaitu: (i) instrumen PK Guru pembelajaran atau pembimbingan; dan (ii) instrumen PK Guru
pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Hasil PK Guru
pelaksanaan tugas tambahan tersebut akan digabungkan dengan hasil PK Guru
pelaksanaan pembelajaran atau pembimbingan sesuai persentase yang ditetapkan dalam
aturan yang berlaku.

77
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

G. Konversi Nilai Hasil PK Guru ke Angka Kredit


Nilai kinerja guru hasil PK Guru perlu dikonversikan ke skala nilai menurut Permenneg PAN dan RB
Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Hasil konversi ini
selanjutnya digunakan untuk menetapkan sebutan hasil PK Guru dan persentase perolehan angka
kredit sesuai pangkat dan jabatan fungsional guru. Sebelum melakukan pengkonversian hasil PK Guru
ke angka kredit, tim penilai harus melakukan verifikasi terhadap hasil PK Guru. Kegiatan verifikasi ini
dilaksanakan dengan menggunakan berbagai dokumen (Hasil PK Guru yang direkapitulasi dalam
Format Rekap Hasil PK Guru, catatan hasil pengamatan, studi dokumen, wawancara, dan
sebagainya yang ditulis dalam Format Laporan dan Evaluasi per kompetensi beserta dokumen
pendukungnya) yang disampaikan oleh sekolah untuk pengusulan penetapan angka kredit. Jika
diperlukan dan dimungkinkan, kegiatan verifikasi hasil PK Guru dapat mencakup kunjungan ke
sekolah/madrasah oleh tim penilai tingkat kabupaten/kota, provinsi, atau pusat.
Pengkonversian hasil PK Guru ke Angka Kredit adalah tugas Tim Penilai Angka Kredit kenaikan
jabatan fungsional guru di tingkat kabupaten/kota, provinsi, atau pusat. Penghitungan angka kredit
dapat dilakukan di tingkat sekolah, tetapi hanya untuk keperluan estimasi perolehan angka kredit
guru. Angka kredit estimasi berdasarkan hasil perhitungan PK Guru yang dilaksanakan di sekolah,
selanjutnya dicatat dalam format penghitungan angka kredit yang ditandatangani oleh penilai, guru
yang dinilai dan diketahui oleh kepala sekolah. Bersamasama dengan angka angka kredit dari unsur
utama lainnya (pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif) dan unsur penunjang, hasil
perhitungan PK Guru yang dilakukan oleh tim penilai tingkat kabupaten/kota, provinsi, atau pusat
akan direkap dalam daftar usulan penetapan angka kredit (DUPAK) untuk proses penetapan angka
kredit kenaikan jabatan fungsional guru.
1. Konversi nilai PK Guru bagi guru tanpa tugas tambahan yang relevan dengan fungsi
sekolah/madrasah.
Konversi nilai PK Guru ke angka kredit dilakukan berdasarkan Tabel 3.4. Berdasarkan Permenneg
PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009, perolehan angka kredit untuk pembelajaran atau
pembimbingan setiap tahun bagi guru diperhitungkan dengan menggunakan rumus tertentu.
Seorang Guru yang akan dipromosikan naik jenjang pangkat dan jabatan fungsionalnya setingkat
lebih tinggi, dipersyaratkan harus memiliki angka kredit kumulatif minimal sebagai berikut.
Tabel 3.4. Persyaratan Angka Kredit untuk Kenaikan Pangkat dan Jabatan Fungsional Guru

Persyaratan Angka Kredit kenaikan


Pangkat pangkat dan jabatan
Jabatan Guru
dan Golongan Ruang Kumulatif Kebutuhan
minimal Per jenjang
Penata Muda, III/a 100 50
Guru Pertama Penata Muda Tingkat I, III/b 150 50
Penata, III/c 200 100
Guru Muda Penata Tingkat I, III/d 300 100
Pembina, IV/a 400 150
Guru Madya Pembina Tingkat I, IV/b 550 150
Pembinaan Utama Muda, IV/c 700 150
Pembina Utama Madya, IV/d 850 200
Guru Utama Pembina Utama, IV/e 1.050

78
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Keterangan: (1) Angka kredit kumulatif minimal pada kolom 3 adalah jumlah angka
kredit minimal yang dimiliki untuk masingmasing jenjang jabatan/pangkat; dan (2)
Angka kredit pada kolom 4 adalah jumlah peningkatan minimal angka kredit yang
dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat/jabatan setingkat lebih tinggi.

2. Konversi nilai PK Guru dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah
yang mengurangi jam mengajar tatap muka guru.
Hasil akhir nilai kinerja guru dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi
sekolah/madrasah (Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Kepala Laboratorium, Kepala
Perpustakaan, dan sejenisnya) yang mengurangi jam mengajar tatap muka diperhitungkan
berdasarkan prosentase nilai PK Guru pembelajaran/pembimbingan dan prosentase nilai PK
Guru pelaksanaan tugas tambahan tersebut.
a. Untuk itu, nilai hasil PK Guru Kelas/Mata Pelajaran atau PK Guru Bimbingan dan
Konseling/Konselor, atau PK Guru dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi
sekolah/madrasah perlu diubah terlebih dahulu ke skala 0 100.
b. Masingmasing hasil konversi nilai kinerja guru untuk unsur pembelajaran/ pembimbingan
dan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, kemudian
dikategorikan ke dalam Amat Baik (125%), Baik(100%), Cukup (75%), Sedang (50%), atau
Kurang (25%) sebagaimana diatur dalam Permenneg PAN dan RB No. 16 Tahun 2009.
c. Angka kredit per tahun masingmasing unsur pembelajaran/ pembimbingan dan tugas
tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah yang diperoleh oleh guru dihitung
menggunakan rumus tertentu.
d. Angka kredit unsur pembelajaran/pembimbingan dan angka kredit tugas tambahan yang
relevan dengan fungsi sekolah/madrasah dijumlahkan sesuai prosentasenya untuk
memperoleh total angka kredit dengan perhitungan sebagai berikut:
1) Guru dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah total angka kreditnya = 25% angka
kredit pembelajaran/pembimbingan + 75 angka kredit tugas tambahan sebagai kepala
sekolah.
2) Guru dengan tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah total angka kreditnya =
50% angka kredit pembelajaran/pembimbingan + 50% Angka Kredit Tugas Tambahan
sebagai Wakil Kepala Sekolah.
3) Guru dengan tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan/
laboratorium/bengkel, atau ketua program keahlian; total angka kredit = 50% angka
kredit pembelajaran/pembimbingan + 50% Angka Kredit Tugas Tambahan sebagai
Pustakawan/Laboran.

3. Konversi nilai PK Guru dengan tugas tambahan lain yang relevan dengan fungsi
sekolah/madrasah tetapi tidak mengurangi jam mengajar tatap muka guru
Angka kredit tugas tambahan bagi guru dengan tugas tambahan lain yang tidak mengurangi jam
mengajar tatap muka, langsung diperhitungkan sebagai perolehan angka kredit guru pada
periode tahun tertentu. Banyaknya tugas tambahan untuk seorang guru maksimum dua tugas
per tahun. Angka kredit kumulatif yang diperoleh diperhitungkan sebagai berikut.

79
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

a. Tugas yang dijabat selama satu tahun (misalnya menjadi wali kelas, tim kurikulum,
pembimbing guru pemula, dan sejenisnya). Angka kredit kumulatif yang diperoleh = Angka
Kredit Hasil PK Guru selama setahun + 5% Angka Kredit Hasil PK Guru selama setahun x
banyaknya tugas temporer yang diberikan selama setahun.
b. Tugas yang dijabat selama kurang dari satu tahun atau tugastugas sementara (misalnya
menjadi pengawas penilaian dan evaluasi, membimbing peserta didik dalam kegiatan
ekstrakurikuler, menjadi pembimbing penyusunan publikasi ilmiah dan karya inovatif, dan
sejenisnya). Angka kredit kumulatif yang diperoleh = Angka Kredit Hasil PK Guru selama
setahun + 2% Angka Kredit Hasil PK Guru selama setahun x banyaknya tugas temporer yang
diberikan selama setahun.

H. Penilai PK Guru

1. Kriteria Penilai
Penilaian kinerja guru dilakukan oleh Kepala Sekolah. Apabila Kepala Sekolah tidak dapat
melaksanakan sendiri (misalnya karena jumlah guru yang dinilai terlalu banyak), maka Kepala
Sekolah dapat menunjuk Guru Pembina atau Koordinator PKB sebagai penilai. Penilaian
kinerja Kepala Sekolah dilakukan oleh Pengawas Sekolah. Penilai harus memiliki kriteria
sebagai berikut.
a. Menduduki jabatan/pangkat paling rendah sama dengan jabatan/pangkat guru/kepala
sekolah yang dinilai.
b. Memiliki Sertifikat Pendidik.
c. Memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dan menguasai bidang tugas Guru/Kepala
Sekolah yang akan dinilai.
d. Memiliki komitmen yang tinggi untuk berpartisipasi aktif dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran.
e. Memiliki integritas diri, jujur, adil, dan terbuka.
f. Memahami PK Guru dan dinyatakan memiliki keahlian serta mampu untuk menilai kinerja
Guru/Kepala Sekolah.
Dalam hal Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, Guru Pembina, dan Koordinator PKB
memiliki latar belakang bidang studi yang berbeda dengan guru yang akan dinilai maka
penilaian dapat dilakukan oleh Kepala Sekolah dan/atau Guru Pembina/Koordinator PKB dari
Sekolah lain atau oleh Pengawas Sekolah dari kabupaten/kota lain yang sudah memiliki
sertifikat pendidik dan memahami PK Guru.
2. Masa Kerja
Masa kerja tim penilai kinerja guru ditetapkan oleh Kepala Sekolah atau Dinas Pendidikan
paling lama tiga (3) tahun. Kinerja penilai dievaluasi secara berkala oleh Kepala Sekolah atau
Dinas Pendidikan dengan memperhatikan prinsipprinsip penilaian yang berlaku. Untuk
sekolah yang berada di daerah khusus, penilaian kinerja guru dilakukan oleh Kepala Sekolah
dan/atau Guru Pembina setempat. Jumlah guru yang dapat dinilai oleh seorang penilai
adalah 5 sampai dengan 10 guru per tahun.

80
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

I. Sanksi
Penilai dan guru akan dikenakan sanksi apabila yang bersangkutan terbukti melanggar prinsipprinsip
pelaksanaan PK Guru, sehingga menyebabkan Penetapan Angka Kredit (PAK) diperoleh dengan cara
melawan hukum. Sanksi tersebut adalah sebagai berikut.
1. Diberhentikan sebagai guru atau kepala sekolah dan/atau pengawas sekolah.
2. Bagi penilai, wajib mengembalikan seluruh tunjangan profesi, tunjangan fungsional, dan semua
penghargaan yang pernah diterima sejak yang bersangkutan melakukan proses PK Guru.
3. Bagi guru wajib mengembalikan seluruh tunjangan profesi, tunjangan fungsional, dan semua
penghargaan yang pernah diterima sejak yang bersangkutan memperoleh dan mempergunakan
PAK yang dihasilkan dari PK Guru.

J. Tugas dan Tanggung Jawab


Setiap pihak terkait memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan PK Guru.
Penetapan tugas dan tanggung jawab tersebut sesuai dengan semangat otonomi daerah serta
mengutamakan prinsipprinsip efisiensi, keterbukaan, dan akuntabilitas. Keterkaitan tugas dan
tanggung jawab pihakpihak yang terlibat dalam pelaksanaan PK Guru, mulai dari tingkat pusat
sampai dengan sekolah. Konsekuensi dari adanya keterkaitan tersebut, menuntut agar pihak pihak
yang terlibat dalam pelaksanaan PK Guru melakukan koordinasi. Tugas dan tanggung jawab
masingmasing pihak dirinci berikut ini.
1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
a. Menyusun dan mengembangkan ramburambu pengembangan kegiatan PK Guru.
b. Menyusun prosedur operasional standar pelaksanaan PK Guru.
c. Menyusun instrumen dan perangkat lain untuk pelaksanaan PK Guru.
d. Mensosialisasikan, menyeleksi dan melaksanakan TOT penilai PK Guru tingkat pusat.
e. Memantau dan mengevaluasi kegiatan PK Guru.
f. Menyusun laporan hasil pemantauan dan evaluasi PK Guru secara nasional.
g. Menyampaikan laporan hasil pemantauan dan evaluasi PK Guru kepada Dinas Pendidikan
dan sekolah sebagai umpan balik untuk ditindak lanjuti.
h. Mengkoordinasi dan mensosialisasikan kebijakankebijakan terkait PK Guru.

2. Dinas Pendidikan Provinsi dan LPMP


a. Menghimpun data profil guru dan sekolah yang ada di daerahnya berdasarkan hasil PK Guru
di sekolah.
b. Mensosialisasikan, menyeleksi, dan melaksanakan TOT untuk melatih penilai PK Guru tingkat
Kabupaten/Kota.
c. Menetapkan dan mengesahkan tim penilai PK Guru yang berada di bawah kewenangan
provinsi dalam bentuk Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi.
d. Melaksanakan pendampingan kegiatan PK Guru di sekolahsekolah yang ada di bawah
kewenangannya.
e. Menyediakan pelayanan konsultasi pelaksanaan kegiatan PK Guru yang ada di bawah
kewenangannya.

81
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

f. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan PK Guru di sekolahsekolah yang ada di


bawah kewenangannya.
g. Dinas Pendidikan Provinsi bersamasama dengan LPMP membuat laporan hasil pemantauan
dan evaluasi kegiatan PK Guru dan mengirimkannya kepada sekolah, Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota, dan/atau Kemdiknas, cq. unit yang menangani Pendidik.

3. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota


a. Menghimpun dan menyediakan data profil guru dan sekolah yang ada di wilayahnya
berdasarkan hasil PK Guru di sekolah.
b. Mensosialisasikan dan melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi dan LPMP
melatih penilai PK Guru tingkat Kabupaten/Kota.
c. Membantu pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan PK Guru di sekolahsekolah yang ada di
wilayahnya.
d. Melaksanakan pendampingan kegiatan dan pengelolaan PK Guru di sekolahsekolah yang ada
di wilayahnya.
e. Menetapkan dan mengesahkan tim penilai PK Guru bagi guru yang berada di bawah
kewenangannya dalam bentuk Keputusan Kepala Dinas.
f. Mengetahui dan menyetujui program kerja pelaksanaan PK Guru yang diajukan sekolah.
g. Menyediakan pelayanan konsultasi dan penyelesaian konflik dalam pelaksanaan kegiatan PK
Guru di sekolahsekolah yang ada di daerahnya.
h. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan PK Guru untuk menjamin pelaksanaan
yang efektif, efisien, obyektif, adil, akuntabel, dan sebagainya.
i. Membuat laporan hasil pemantauan dan evaluasi kegiatan PK Guru di sekolah sekolah yang
ada di wilayahnya dan mengirimkannya kepada sekolah, dan/atau LPMP dengan tembusan
ke Dinas Pendidikan Provinsi masingmasing.

4. UPTD Dinas Pendidikan


a. Menghimpun dan menyediakan data profil guru dan sekolah yang ada di kecamatan
wilayahnya berdasarkan hasil PK Guru di sekolah.
b. Membantu pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan PK Guru di wilayah kecamatannya.
c. Melaksanakan pendampingan kegiatan dan pengelolaan PK Guru di wilayah kecamatannya.
d. Menetapkan dan mengesahkan penilai PK Guru dalam bentuk Keputusan penetapan sebagai
penilai.
e. Menyediakan pelayanan konsultasi dalam pelaksanaan kegiatan PK Guru yang ada di
daerahnya.
f. Memantau dan mengevaluasi serta melaporkan pelaksanaan kegiatan PK Guru di tingkat
kecamatan untuk disampaikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
5. Satuan Pendidikan
a. Memilih dan mengusulkan penilai untuk pelaksanaan PK Guru
b. Menyusun program kegiatan sesuai dengan RambuRambu Penyelenggaraan PK Guru dan
prosedur operasional standar penyelenggaraan PK Guru.
c. Mengusulkan rencana program kegiatan ke UPTD atau Dinas Kabupaten/Kota.
d. Melaksanakan kegiatan PK Guru sesuai program yang telah disusun secara efektif, efisien,
obyektif, adil, akuntabel, dsb.
e. Memberikan kemudahan akses bagi penilai untuk melaksanakan tugas.

82
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

f. Melaporkan kepada UPTD atau Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota jika terjadi permasalahan
dalam pelaksanaan PK Guru.
g. Membuat laporan pertanggungjawaban kegiatan, administrasi, keuangan (jika ada) dan
pelaksanaan program.
h. Membuat rencana tindak lanjut program pelaksanaan PK Guru untuk tahun berikutnya.
i. Membantu tim pemantau dan evaluasi dari tingkat pusat, LPMP, Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota, UPTD Dinas Pendidikan Kabupaten di Kecamatan, dan Pengawas Sekolah.
j. Membuat laporan kegiatan PK Guru dan mengirimkannya kepada Tim penilai tingkat
kabupaten/kota, provinsi, atau nasional sesuai kewenangannya sebagai dasar penetapan
angka kredit (PAK) tahunan yang diperlukan untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsional
guru. Tim Penilai untuk menghitung dan menetapkan angka kredit, terlebih dahulu
melakukan verifikasi terhadap berbagai dokumen hasil PK Guru. Pada kegiatan verifikasi jika
diperlukan dan memang dibutuhkan tim penilai dapat mengunjungi sekolah. Sekolah juga
menyampaikan laporan tersebut kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan/atau ke
UPTD Pendidikan Kecamatan.
k. Merencanakan program untuk memberikan dukungan kepada guru yang memperoleh hasil
PK Guru di bawah standar yang ditetapkan.

Latihan dan Renungan


1. Mengapa penilaian kinerja guru perlu dilakukan secara kontinyu?
2. Apa tujuan utama penilaian kinerja guru?
3. Sebutkan dan jelaskan secara ringkat tiga persyaratan penilaian kinerja guru!
4. Sebutkan dan jelaskan secara ringkas prinsip-prinsip penilaian kinerja guru!
5. Sebutkan tahap-tahap penilaian kinerja guru!
6. Apa yang Anda ketahui tentang konversi nilai kredit dalam kerangka penilaian kinerja guru?

83
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

BAB IV
PENGEMBANGAN KARIR

Topik ini berkaitan dengan pengembangan karir guru. Materi sajian


terutama berkaitan dengan esensi dan ranah pembinaan dan
pengembangan guru, khususnya berkaitan dengan keprofesian dan karir.
Peserta PLPG diminta mengikuti materi pembelajaran secara individual,
melaksanakan diskusi kelompok, menelaah kasus, membaca regulasi yang
terkait, menjawab soal latihan, dan melakukan refleksi.

A. Ranah Pengembangan Guru


Tugas utama guru sebagai pendidik profesional adalah mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal. Tugas
utama itu akan efektif jika guru memiliki derajat profesionalitas tertentu yang tercermin dari
kompetensi, kemahiran, kecakapan, atau keterampilan yang memenuhi standar mutu dan norma etik
tertentu.
Secara formal, guru profesional harus memenuhi kualifikasi akademik minimum S-1/D-IV dan
bersertifikat pendidik sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Guru-guru yang memenuhi
kriteria profesional inilah yang akan mampu menjalankan fungsi utamanya secara efektif dan efisien
untuk mewujudkan proses pendidikan dan pembelajaran sejalan dengan tujuan pendidikan nasional,
yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis
dan bertanggungjawab.
Di dalam UU Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru dibedakan antara pembinaan dan
pengembangan kompetensi guru yang belum dan yang sudah berkualifikasi S-1 atau D-IV, seperti
disajikan pada Gambar 4.1. Pengembangan dan peningkatan kualifikasi akademik bagi guru yang
belum memenuhi kualifikasi S-1 atau D-IV dilakukan melalui pendidikan tinggi program S-1 atau
program D-IV pada perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan tenaga
kependidikan dan/atau program pendidikan nonkependidikan.
Pengembangan dan peningkatan kompetensi bagi guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik
dilakukan dalam rangka menjaga agar kompetensi keprofesiannya tetap sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan/atau olah raga (PP Nomor 74 Tahun
2008). Pengembangan dan peningkatan kompetensi dimaksud dilakukan melalui sistem pembinaan
dan pengembangan keprofesian guru berkelanjutan yang dikaitkan dengan perolehan angka kredit
jabatan fungsional.

84
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Kegiatan pengembangan dan peningkatan profesional guru yang sudah memiliki sertifikat
pendidik dimaksud dapat berupa: kegiatan kolektif guru yang meningkatkan kompetensi dan/atau
keprofesian, pendidikan dan pelatihan, pemagangan, publikasi ilmiah atas hasil penelitian atau
gagasan inovatif, karya inovatif, presentasi pada forum ilmiah, publikasi buku teks pelajaran yang
lolos penilaian oleh BSNP, publikasi buku pengayaan, publikasi buku pedoman guru, publikasi
pengalaman lapangan pada pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus, dan/atau
penghargaan atas prestasi atau dedikasi sebagai guru yang diberikan oleh pemerintah atau
pemerintah daerah.
Pada sisi lain, UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa
terdapat dua alur pembinaan dan pengembangan profesi guru, yaitu: pembinaan dan
pengembangan profesi, dan pembinaan dan pengembangan karir, seperti disajikan pada Gambar
4.2. Pembinaan dan pengembangan profesi guru meliputi pembinaan kompetensi pedagogik,
kepribadian, sosial, dan profesional. Pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagaimana
dimaksud dilakukan melalui jabatan fungsional.

PROFESI
PEMBINAAN
DAN
PENGEMBANGAN GURU PROFESIONAL
PROFESI GURU DENGAN
AKSESIBILITAS
PENGEMBANGAN
KARIR
KARIR

Gambar 4.2. Jenis Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru

Pembinaan dan pengembangan karir meliputi: (1) penugasan, (2) kenaikan pangkat, dan (3)
promosi. Upaya pembinaan dan pengembangan karir guru ini harus sejalan dengan jenjang jabatan

85
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

fungsional guru. Pola pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru tersebut diharapkan
dapat menjadi acuan bagi institusi terkait di dalam melaksanakan tugasnya.
Pengembangan profesi dan karir tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi dan
kinerja guru dalam rangka pelaksanaan proses pendidikan dan pembelajaran di kelas dan di luar
kelas. Upaya peningkatan kompetensi dan profesionalitas ini harus sejalan dengan upaya
memberikan penghargaan, peningkatan kesejahteraan, dan perlindungan terhadap guru. Kegiatan ini
menjadi bagian intergral dari pengembangan keprofesian guru secara berkelanjutan.

B. Ranah Pengembangan Karir


Pembinaan dan pengembangan profesi guru merupakan tanggungjawab pemerintah, pemerintah
daerah, penyelenggara satuan pendidikan, asosiasi profesi guru, serta guru secara pribadi. Secara
umum kegiatan itu dimaksudkan untuk memotivasi, memelihara, dan meningkatkan kompetensi
guru dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran, yang berdampak pada
peningkatan mutu hasil belajar siswa. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, pembinaan dan
pengembangan karir guru terdiri dari tiga ranah, yaitu: penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi.
1. Penugasan
Guru terdiri dari tiga jenis, yaitu guru kelas, guru mata pelajaran, dan guru bimbingan dan
konseling atau konselor. Dalam rangka melaksanakan tugasnya, guru melakukan kegiatan pokok
yang mencakup: merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, dan melaksanakan tugas tambahan
yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja guru.
Kegiatan penugasan guru dalam rangka pembelajaran dapat dilakukan di satu sekolah
sebagai satuan administrasi pangkalnya dan dapat juga bersifat lintas sekolah. Baik bertugas
pada satu sekolah atau lebih, guru dituntut melaksanakan tugas pembelajaran yang diukur
dengan beban kerja tertentu, yaitu:
a. Beban kerja guru paling sedikit memenuhi 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling
banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu pada satu atau lebih satuan
pendidikan yang memiliki izin pendirian dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah.
b. Pemenuhan beban kerja paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling
banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu dilaksanakan dengan
ketentuan paling sedikit 6 (enam) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu pada satuan
pendidikan tempat tugasnya sebagai guru tetap.
c. Guru bimbingan dan konseling atau konselor wajib memenuhi beban mengajar yang setara,
yaitu jika mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta
didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan.
d. Guru pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan
inklusi atau pendidikan terpadu wajib memenuhi beban mengajar yang setara, yaitu jika
paling sedikit melaksanakan 6 (enam) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.
e. Menteri dapat menetapkan ekuivalensi beban kerja untuk memenuhi ketentuan beban kerja
dimaksud, khusus untuk guru-guru yang: bertugas pada satuan pendidikan layanan khusus,
berkeahlian khusus, dan/atau dibutuhkan atas dasar pertimbangan kepentingan nasional.

86
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Agar guru dapat melaksanakan beban kerja yang telah ditetapkan tersebut secara efektif,
maka harus dilakukan pengaturan tugas guru berdasarkan jenisnya. Pengaturan tugas guru
tersebut dilakukan dengan melibatkan individu dan/atau institusi dengan ketentuan sebagai
berikut.
a. Penugasan sebagai Guru Kelas/Mata Pelajaran
1) Kepala sekolah/madrasah mengupayakan agar setiap guru dapat memenuhi beban kerja
paling sedikit 24 jam tatap muka per minggu. Apabila pada satuan administrasi
pangkalnya guru tidak dapat memenuhi beban kerja tersebut, kepala sekolah/madrasah
melaporkan kepada Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota atau Kantor
Kementerian Agama Kabupaten/Kota.
2) Dinas Pendidikan Provinsi/Kanwil Kementerian Agama mengatur penugasan guru yang
belum memenuhi beban mengajar paling sedikit 24 jam tatap muka per minggu ke
satuan pendidikan yang ada dalam lingkungan kewenangannya.
3) Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota
mengatur penugasan guru yang belum memenuhi beban mengajar paling sedikit 24 jam
tatap muka per minggu ke satuan pendidikan yang ada dalam lingkungan
kewenangannya.
4) Pimpinan instansi pusat di luar Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian
Agama mengatur penugasan guru yang belum memenuhi beban mengajar paling sedikit
24 jam tatap muka per minggu ke satuan pendidikan yang ada dalam lingkungan
kewenangannya.
5) Apabila pengaturan penugasan guru pada butir 2), 3), dan 4) belum terpenuhi, instansi
terkait sesuai dengan kewenangan masing-masing berkoordinasi untuk mengatur
penugasan guru pada sekolah/madrasah lain, baik negeri maupun swasta.
6) Berdasarkan hasil koordinasi sebagaimana dimaksud pada butir 5), instansi terkait sesuai
kewenangan masing-masing memastikan bahwa setiap guru wajib memenuhi beban
mengajar paling sedikit 6 jam tatap muka pada satuan administrasi pangkal guru dan
menugaskan guru pada sekolah/madrasah lain, baik negeri maupun swasta untuk dapat
memenuhi beban mengajar paling sedikit 24 jam tatap muka per minggu.
7) Instansi terkait sesuai kewenangan masing-masing wajib memastikan bahwa guru yang
bertugas di daerah khusus, berkeahlian khusus, dan guru yang dibutuhkan atas dasar
pertimbangan kepentingan nasional apabila beban kerjanya kurang dari 24 jam tatap
muka per minggu dapat diberi tugas ekuivalensi beban kerja sesuai dengan kondisi
tempat tugas guru yang bersangkutan setelah mendapat persetujuan Menteri
Pendidikan Nasional.
b. Penugasan sebagai Guru Bimbingan dan Konseling
1) Kepala sekolah/madrasah mengupayakan agar setiap guru bimbingan dan konseling
dapat memenuhi beban membimbing paling sedikit 150 peserta didik per tahun. Apabila
pada satuan administrasi pangkalnya guru tidak dapat memenuhi beban membimbing
tersebut, kepala sekolah/madrasah melaporkan kepada dinas Pendidikan Provinsi/
Kabupaten/Kota atau Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota.

87
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

2) Dinas Pendidikan Provinsi/Kanwil Kementerian Agama mengatur penugasan guru


bimbingan dan konseling yang belum memenuhi beban membimbing bimbingan dan
konseling paling sedikit 150 peserta didik per tahun ke satuan pendidikan yang ada
dalam lingkungan kewenangannya.
3) Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota
mengatur penugasan guru bimbingan dan konseling yang belum memenuhi beban
membimbing paling sedikit 150 peserta didik per tahun ke satuan pendidikan yang ada
dalam lingkungan kewenangannya.
4) Pimpinan instansi pusat di luar Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian
Agama mengatur penugasan guru bimbingan dan konseling yang belum memenuhi
beban membimbing paling sedikit 150 peserta didik per tahun ke satuan pendidikan
yang ada dalam lingkungan kewenangannya.
5) Apabila pengaturan penugasan guru bimbingan dan konseling pada butir 2), 3), dan 4)
belum terpenuhi, instansi terkait sesuai dengan kewenangan masing-masing
berkoordinasi untuk mengatur penugasan guru bimbingan dan konseling pada
sekolah/madrasah lain, baik negeri maupun swasta.
6) Berdasarkan hasil koordinasi sebagaimana dimaksud pada butir 5), instansi terkait sesuai
kewenangan masing-masing memastikan bahwa setiap guru bimbingan dan konseling
wajib memenuhi beban membimbing paling sedikit 40 peserta didik pada satuan
administrasi pangkal guru dan menugaskan guru bimbingan dan konseling pada
sekolah/madrasah lain, baik negeri maupun swasta untuk dapat memenuhi beban
membimbing paling sedikit 150 peserta didik per tahun.
Instansi terkait sesuai kewenangan masing-masing wajib memastikan bahwa guru yang
bertugas di daerah khusus, berkeahlian khusus, dan guru yang dibutuhkan atas dasar
pertimbangan kepentingan nasional, apabila beban mengajarnya kurang dari 24 jam tatap
muka per minggu atau sebagai guru bimbingan dan konseling yang membimbing kurang dari
150 peserta didik per tahun dapat diberi tugas ekuivalensi beban kerja sesuai dengan kondisi
tempat tugas guru yang bersangkutan setelah mendapat persetujuan kementerian
pendidikan. Hal ini masih dalam proses penelaahan yang saksama. Guru berhak dan wajib
mengembangkan dirinya secara berkelanjutan sesuai dengan perkembangan IPTEKS. Kepala
sekolah/madrasah wajib memberi kesempatan secara adil dan merata kepada guru untuk
mengikuti kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan.
c. Guru dengan Tugas Tambahan
1) Guru dengan tugas tambahan sebagai kepala satuan pendidikan wajib mengajar paling
sedikit 6 (enam) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu atau membimbing 40 (empat
puluh) peserta didik bagi kepala satuan pendidikan yang berasal dari guru bimbingan
dan konseling atau konselor.
2) Guru dengan tugas tambahan sebagai wakil kepala satuan pendidikan wajib mengajar
paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu atau membimbing
80 (delapan puluh) peserta didik bagi wakil kepala satuan pendidikan yang berasal dari
guru bimbingan dan konseling atau konselor.

88
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

3) Guru dengan tugas tambahan sebagai ketua program keahlian wajib mengajar paling
sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.
4) Guru dengan tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan satuan pendidikan wajib
mengajar paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.
5) Guru dengan tugas tambahan sebagai kerja kepala laboratorium, bengkel, atau unit
produksi satuan pendidikan wajib mengajar paling sedikit 12 (dua belas) jam tatap muka
dalam 1 (satu) minggu.
6) Guru yang ditugaskan menjadi pengawas satuan pendidikan, pengawas mata pelajaran,
atau pengawas kelompok mata pelajaran wajib melakukan tugas pembimbingan dan
pelatihan profesional guru dan pengawasan yang ekuivalen dengan paling sedikit 24
(dua puluh empat) jam pembelajaran tatap muka dalam 1 (satu) minggu.
7) Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan wajib melaksanakan
tugas sebagai pendidik, dengan ketentuan berpengalaman sebagai guru
sekurangkurangnya delapan tahun atau kepala sekolah sekurang-kurangnya 4 (empat)
tahun, memenuhi persyaratan akademik sebagai guru sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, memiliki Sertifikat Pendidik, dan melakukan tugas pembimbingan
dan pelatihan profesional Guru dan tugas pengawasan.
Pada sisi lain, guru memiliki peluang untuk mendapatkan penugasan dalam aneka jenis. Di
dalam PP No. 74 Tahun 2008 disebutkan bahwa guru yang diangkat oleh pemerintah atau
pemerintah daerah dapat ditempatkan pada jabatan struktural sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Penempatan guru pada jabatan struktural dimaksud dapat
dilakukan setelah yang bersangkutan bertugas sebagai guru paling singkat selama delapan
tahun. Guru yang ditempatkan pada jabatan struktural itu dapat ditugaskan kembali sebagai
guru dan mendapatkan hak-hak guru sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Guru yang ditempatkan pada jabatan struktural kehilangan haknya untuk memperoleh
tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan. Hak-hak
guru dimaksud berupa tunjangan profesi dan tunjangan fungsional diberikan sebesar tunjangan
profesi dan tunjangan fungsional berdasarkan jenjang jabatan sebelum guru yang bersangkutan
ditempatkan pada jabatan struktural.

2. Promosi
Kegiatan pengembangan dan pembinaan karir yang kedua adalah promosi. Promosi dimaksud dapat
berupa penugasan sebagai guru pembina, guru inti, instruktur, wakil kepala sekolah, kepala sekolah,
pengawas sekolah, dan sebagainya. Kegiatan promosi ini harus didasari atas pertimbangan prestasi
dan dedikasi tertentu yang dimiliki oleh guru.
Peraturan Pemerintah No. 74 tentang Guru mengamanatkan bahwa dalam melaksanakan
tugas keprofesian, guru berhak mendapatkan promosi sesuai dengan tugas dan prestasi kerja.
Promosi dimaksud meliputi kenaikan pangkat dan/atau kenaikan jenjang jabatan fungsional.

89
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

C. Kenaikan Pangkat
Dalam rangka pengembangan karir guru, Permenneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009 telah
menetapkan 4 (empat) jenjang jabatan fungsional guru dari yang terrendah sampai dengan yang
tertinggi, yaitu Guru Pertama, Guru Muda, Guru Madya, dan Guru Utama. Penjelasan tentang jenjang
jabatan fungsional guru dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi beserta jenjang
kepengkatan dan persyaratan angka kredit untuk kenaikan pangkat dan jabatan tersebut telah
dijelaskan pada bagian sebelumnya.
Kenaikan pangkat dan jabatan fungsional guru dalam rangka pengembangan karir merupakan
gabungan dari angka kredit unsur utama dan penunjang ditetapkan sesuai dengan Permenneg PAN
dan BR Nomor 16 Tahun 2009. Tugas-tugas guru yang dapat dinilai dengan angka kredit untuk
keperluan kenaikan pangkat dan/atau jabatan fungsional guru mencakup unsur utama dan unsur
penunjang. Unsur utama kegiatan yang dapat dinilai sebagai angka kredit dalam kenaikan pangkat
guru terdiri atas: (a) pendidikan, (b) pembelajaran/pembimbingan dan tugas tambahan dan/atau
tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, dan (c) pengembangan keprofesian
berkelanjutan (PKB).
1. Pendidikan
Unsur kegiatan pendidikan yang dapat dinilai sebagai angka kredit dalam kenaikan pangkat guru
terdiri atas:
a. Mengikuti pendidikan formal dan memperoleh gelar/ijazah.
Angka kredit gelar/ijazah yang diperhitungkan sebagai unsur utama tugas guru dan sesuai
dengan bidang tugas guru, yaitu:
1) 100 untuk Ijazah S-1/Diploma IV;
2) 150 untuk Ijazah S-2; atau
3) 200 untuk Ijazah S-3.
Apabila seseorang guru mempunyai gelar/ijazah lebih tinggi yang sesuai dengan sertifikat
pendidik/keahlian dan bidang tugas yang diampu, angka kredit yang diberikan adalah sebesar
selisih antara angka kredit yang pernah diberikan berdasarkan gelar/ijazah lama dengan
angka kredit gelar/ijazah yang lebih tinggi tersebut. Bukti fisik yang dijadikan dasar penilaian
adalah fotokopi ijazah yang disahkan oleh pejabat yang berwenang, yaitu dekan atau ketua
sekolah tinggi atau direktur politeknik pada perguruan tinggi yang bersangkutan.
b. Mengikuti pelatihan prajabatan dan program induksi.
Sertifikat pelatihan prajabatan dan program induksi diberi angka kredit 3. Bukti fisik
keikutsertaan pelatihan prajabatan yang dijadikan dasar penilaian adalah fotokopi surat tanda
tamat pendidikan dan pelatihan (STTPP) prajabatan yang disahkan oleh kepala
sekolah/madrasah yang bersangkutan. Bukti fisik keikutsertaan program induksi yang
dijadikan dasar penilaian adalah fotokopi sertifikat program induksi yang disahkan oleh kepala
sekolah/madrasah yang bersangkutan.
2. Pengembangan Profesi
Berdasarkan Permenneg PAN dan RB No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan
Angka Kreditnya yang dimaksudkan pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah

90
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap,


berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya. Guru Pertama dengan pangkat Penata
Muda golongan ruang III/a sampai dengan Guru Utama dengan pangkat Pembina Utama golongan
ruang IV/e wajib melaksanakan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan, yaitu
pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan/atau pengembangan karya inovatif.
Jenis kegiatan untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan meliputi pengembangan diri
(diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru), publikasi ilmiah (hasil penelitian atau gagasan
inovatif pada bidang pendidikan formal, dan buku teks pelajaran, buku pengayaan dan pedoman
guru), karya inovatif (menemukan teknologi tepat guna; menemukan atau menciptakan karya
seni; membuat atau memodifikasi alat pelajaran; dan mengikuti pengembangan penyusunan
standar, pedoman, soal, dan sejenisnya).
Persyaratan atau angka kredit minimal bagi guru yang akan naik jabatan/pangkat dari
subunsur pengembangan keprofesian berkelanjutan untuk masing-masing pangkat/golongan
adalah sebagai berikut:
a. Guru golongan III/a ke golongan III/b, subunsur pengembangan diri sebesar 3 (tiga) angka
kredit.
b. Guru golongan III/b ke golongan III/c, subunsur pengembangan diri sebesar 3 (tiga) angka
kredit, dan subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif sebesar 4 (empat) angka kredit.
c. Guru golongan III/c ke golongan III/d, subunsur pengembangan diri sebesar 3 (tiga) angka
kredit, dan subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif sebesar 6 (enam) angka kredit.
d. Guru golongan III/d ke golongan IV/a, subunsur pengembangan diri sebesar 4 (empat) angka
kredit dan subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif sebesar 8 (delapan) angka kredit.
Bagi guru golongan tersebut sekurang-kurangnya mempunyai 1 (satu) laporan hasil penelitian
dari subunsur publikasi ilmiah.
e. Guru golongan IV/a ke golongan IV/b, subunsur pengembangan diri sebesar 4 (empat) angka
kredit dan subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif sebesar 12 (dua belas) angka
kredit. Bagi guru golongan tersebut, sekurang-kurangnya mempunyai 1 (satu) laporan hasil
penelitian dan 1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber-ISSN.
f. Guru golongan IV/b ke golongan IV/c, subunsur pengembangan diri sebesar 4 (empat) angka
kredit dan subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif sebesar 12 (dua belas) angka
kredit. Bagi guru golongan tersebut, sekurang-kurangnya mempunyai 1 (satu) laporan hasil
penelitian dan 1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber-ISSN.
g. Guru golongan IV/c ke golongan IV/d, subunsur pengembangan diri sebesar 5 (lima) angka
kredit dan subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif sebesar 14 (empat belas) angka
kredit. Bagi guru golongan tersebut, sekurang-kurangnya dari subunsur publikasi ilmiah
mempunyai 1 (satu) laporan hasil penelitian dan 1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber
ISSN serta 1 (satu) buku pelajaran atau buku pendidikan yang ber ISBN.
h. Guru golongan IV/d ke golongan IV/e, subunsur pengembangan diri sebesar 5 (lima) angka
kredit dan subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif sebesar 20 (dua puluh) angka
kredit. Bagi guru golongan tersebut, sekurang-kurangnya dari subunsur publikasi ilmiah

91
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

mempunyai 1 (satu) laporan hasil penelitian dan 1 (satu) artikel yang dimuat di jurnal yang ber
ISSN serta 1 (satu) buku pelajaran atau buku pendidikan yang ber ISBN.
i. Bagi Guru Madya, golongan IV/c, yang akan naik jabatan menjadi Guru Utama, golongan IV/d,
selain membuat PKB sebagaimana pada poin g diatas juga wajib melaksanakan presentasi
ilmiah.
3. Unsur Penunjang
Unsur penunjang tugas guru adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru untuk
mendukung kelancaran pelaksanaan tugas utamanya sebagai pendidik. Unsur penunjang tugas
guru meliputi berbagai kegiatan seperti berikut ini.
a. Memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampunya.
Guru yang memperoleh gelar/ijazah, namun tidak sesuai dengan bidang yang diampunya
diberikan angka kredit sebagai unsur penunjang dengan angka kredit sebagai berikut.
1) Ijazah S-1 diberikan angka kredit 5;
2) Ijazah S-2 diberikan angka kredit 10; dan
3) Ijazah S-3 diberikan angka kredit 15.
Bukti fisik yang dijadikan dasar penilaian adalah fotokopi ijazah yang disahkan oleh pejabat
yang berwenang, yaitu dekan atau ketua sekolah tinggi atau direktur politeknik pada
perguruan tinggi yang bersangkutan. Surat keterangan belajar/surat ijin belajar/surat tugas
belajar dari kepala dinas yang membidangi pendidikan atau pejabat yang menangani
kepegawaian serendah-rendahnya Eselon II. Bagi guru di lingkungan Kementerian Agama,
surat keterangan belajar/surat ijin belajar/surat tugas belajar tersebut berasal dari pejabat
yang berwenang serendah-rendahnya Eselon II.
b. Melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru
Kegiatan yang mendukung tugas guru yang dapat diakui angka kreditnya harus sesuai dengan
kriteria dan dilengkapi dengan bukti fisik. Kegiatan tersebut di antaranya:
1) Membimbing siswa dalam praktik kerja nyata/praktik industri/ekstrakurikuler dan yang
sejenisnya
2) Sebagai pengawas ujian, penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar tingkat
nasional.
3) Menjadi pengurus/anggota organisasi profesi
4) Menjadi anggota kegiatan pramuka dan sejenisnya
5) Menjadi tim penilai angka kredit
6) Menjadi tutor/pelatih/instruktur/pemandu atau sejenisnya.
c. Memperoleh penghargaan/tanda jasa
Penghargaan/tanda jasa adalah tanda kehormatan yang diberikan oleh pemerintah atau
negara asing atau organisasi ilmiah atau organisasi profesi atas prestasi yang dicapai seorang
guru dalam pengabdian kepada nusa, bangsa, dan negara di bidang pendidikan. Tanda jasa
dalam bentuk Satya Lencana Karya Satya adalah penghargaan yang diberikan kepada guru
berdasarkan prestasi dan masa pengabdiannya dalam waktu tertentu. Penghargaan lain yang
diperoleh guru karena prestasi seseorang dalam pengabdiannya kepada nusa, bangsa, dan

92
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

negara di bidang pendidikan/kemanusiaan/kebudayaan. Prestasi kerja tersebut dicapai


karena pengabdiannya secara terus menerus dan berkesinambungan dalam waktu yang relatif
lama. Guru yang mendapat penghargaan dalam lomba guru berprestasi tingkat nasional,
diberikan angka kredit tambahan untuk kenaikan jabatan/pangkat.

Latihan dan Renungan


1. Apa perbedaan utama antara pengembangan keprofesian dan pengembangan karir guru?
2. Mengapa pengembangan keprofesian guru dikaitkan dengan jabatan fungsionalnya?
3. Apa perbedaan utama pengembangan guru yang belum S1/D-IV dan belum bersertifikat
pendidik dengan yang sudah memilikinya?
4. Sebutkan jenis-jenis pengembangan karir guru!
5. Apa perbedaan utama pengembangan keprofesian berbasis lembaga dengan yang berbasis
individu?

93
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

BAB V
PERLINDUNGAN DAN PENGHARGAAN

Topik ini berkaitan dengan perlindungan dan penghargaan guru. Materi


sajian terutama berkaitan dengan konsep, prinsip atau asas, dan jenis-
jenis penghargaan dan perlindungan kepada guru, termasuk
kesejahteraannya. Peserta PLPG diminta mengikuti materi pembelajaran
secara individual, melaksanakan diskusi kelompok, menelaah kasus,
membaca regulasi yang terkait, menjawab soal latihan, dan melakukan
refleksi.

A. Pengantar
Jumlah guru yang banyak dengan sebaran yang sangat luas merupakan potensi bagi mereka untuk
mendidik anak bangsa di seluruh Indonesia secara nyaris tanpa batas akses geografis, sosial,
ekonomi, dan kebudayaan. Namun demikian, kondisi ini yang menyebakan sebagian guru
terbelenggu dengan fenomena sosial, kultural, psikologis, ekonomis, kepegawaian, dan lain-lain.
Fenomena ini bersumber dari apresiasi dan pencitraan masyarakat terhadap guru belum
begitu baik, serta perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan kesejahteraan, dan
perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja bagi mereka belum optimum. Sejarah pendidikan di
Indonesia menunjukkan bahwa perlakuan yang cenderung diskriminatif terhadap sebagian guru telah
berlangsung sejak zaman pemerintah kolonial Belanda. Hal ini membangkitkan kesadaran untuk
terus mengupayakan agar guru mempunyai status atau harkat dan martabat yang jelas dan
mendasar. Hasilnya antara lain adalah terbentuknya Undang-Undang (UU) Nomomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen.
Diundangkannya UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen merupakan langkah maju
untuk mengangkat harkat dan martabat guru, khususnya di bidang perlindungan hukum bagi mereka.
Materi perlindungan hukum terhadap guru mulai mengemuka dalam UU No. 2 Tahun 1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. UU ini diperbaharui dan kemudian diganti dengan UU No. 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Penjabaran pelaksanaan perlindungan hukum bagi guru itu
pernah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan. Di
dalam PP ini perlindungan hukum bagi guru meliputi perlindungan untuk rasa aman, perlindungan
terhadap pemutusan hubungan kerja, dan perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
Sejak lahirnya UU No. 14 Tahun 2005 dan PP No. 74 Tahun 2008, dimensi perlindungan guru
mendapatkan tidik tekan yang lebih kuat. Norma perlindungan hukum bagi guru tersebut di atas
kemudian diperbaharui, dipertegas, dan diperluas spektrumnya dengan diundangkannya UU No. 14
tahun 2005. Dalam UU ini, ranah perlindungan terhadap guru meliputi perlindungan hukum,
perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Termasuk juga di
dalamnya perlindungan atas Hak atas Kekayaan Intelektual atau HaKI.
Sepanjang berkaitan dengan hak guru atas beberapa dimensi perlindungan sebagaimana
dimaksudkan di atas, sampai sekarang belum ada rumusan komprehensif mengenai standar operasi
dan prosedurnya. Atas dasar itu, perlu dirumuskan standar yang memungkinkan terwujudnya

94
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, serta
perlindungan atas Hak atas Kekayaan Intelektual atau HaKI bagi guru.

B. Definisi
1. Perlindungan bagi guru adalah usaha pemberian perlindungan hukum, perlindungan
profesi, dan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan HaKI yang
diberikan kepada guru, baik berstatus sebagai PNS maupun bukan PNS.
2. Perlindungan hukum adalah upaya melakukan perlindungan kepada guru dari tindak
kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi atau perlindungan hukum atau
perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi
atau pihak lain.
3. Perlindungan profesi adalah upaya memberi perlindungan yang mencakup perlindungan
terhadap PHK yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemberian
imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam penyampaian pandangan, pelecehan
terhadap profesi dan pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam
melaksanakan tugas.
4. Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) kepada guru mencakup perlindungan
terhadap risiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja,
bencana alam, kesehatan lingkungan kerja, dan/atau risiko lain.
5. Perlindungan HaKI adalah pengakuan atas kekayaan intelektual sebagai karya atau prestasi
yang dicapai oleh guru dengan cara melegitimasinya sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
6. Perjanjian kerja adalah perjanjian yang dibuat dan disepakati bersama antara
penyelenggara dan/atau satuan pendidikan dengan guru.
7. Kesepakatan kerja bersama merupakan kesepakatan yang dibuat dan disepakati bersama
secara tripartit, yaitu penyelenggara dan/atau satuan pendidikan, guru, dan Dinas
Pendidikan atau Dinas Ketenagakerjaan pada wilayah administratif tempat guru bertugas.
8. Bantuan hukum adalah jasa hukum yang diberikan secara cuma-cuma dalam bentuk
konsultasi hukum oleh LKHB mitra, asosiasi atau organisasi profesi guru, dan pihak lain
kepada guru.
9. Advokasi adalah upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka pemberian perlindungan
hukum, perlindungan profesi, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, serta
perlindungan HaKI bagi guru. Advokasi umumnya dilakukan melalui kolaborasi beberapa
lembaga, organisasi, atau asosiasi yang memiliki kepedulian dan semangat kebersamaan
untuk mencapai suatu tujuan.
10. Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa guru berdasarkan perundingan yang
melibatkan guru LKBH mitra, asosiasi atau organisasi profesi guru, dan pihak lain sebagai
mediator dan diterima oleh para pihak yang bersengketa untuk membantu mencari
penyelesaian yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang bersengketa. Mediator tidak
mempunyai kewenangan membuat keputusan selama perundingan.

95
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

C. Perlindungan Atas Hak-hak Guru


Berlandaskan UUD 1945 dan UU No 9 tahun 1999 Pasal 3 ayat 2 tentang Hak Asasi Manusia (HAM),
bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan perlakuan hukum yang adil
serta mendapat kepastian hukum dan perlakuan yang sama di depan hukum. Sesuai dengan politik
hukum UU tersebut, bahwa manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang
mengemban tugas mengelola dan memelihara alam semesta dengan penuh ketakwaan dan tanggung
jawab untuk kesejahteraan umat manusia. Oleh pencipta-Nya, manusia dianugerahi hak asasi untuk
menjamin keberadaan harkat dan martabat, kemuliaan dirinya serta keharmonisan lingkungan.
Bahwa hak asasi manusia, termasuk hak-hak guru, merupakan hak dasar yang secara koderati
melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng. Oleh karena itu hak-hak manusia,
termasuk hak-hak guru harus dilindungi, dihormati, dipertahankan dan tidak boleh diabaikan,
dikurangi atau dirampas oleh siapapun. Bahwa bangsa Indonesia sebagai anggota Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) mengemban tanggung jawab moral dan hukum untuk menjunjung tinggi dan
melaksanakan deklarasi universal tentang hak asasi manusia yang ditetapkan oleh PBB serta berbagai
instrumen internasional lainnya mengenai HAM yang telah diterima oleh Indonesia. Di samping hak
asasi manusia juga dikenal kewajiban dasar manusia yang meliputi: (1) kepatuhan terhadap
perundang-undangan, (2) ikut serta dalam upaya pembelaan negara, (3) wajib menghormati hak-hak
asasi manusia, moral, etika dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Selanjutnya, sebagai wujud tuntutan reformasi (demokrasi, desentralisasi, dan HAM), maka hak asasi
manusia dimasukkan dalam UUD 1945.
Salah satu hak guru adalah hak memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak
atas kekayaan intelektual. Pada Pasal 39 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Bagian
7 tentang Perlindungan, disebutkan bahwa banyak pihak wajib memberikan perlindungan kepada
guru, berikut ranah perlindungannya seperti berikut ini.
1. Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan
wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.
2. Perlindungan tersebut meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi dan perlindungan
keselamatan dan kesehatan kerja.
3. Perlindungan hukum mencakup perlindungan terhadap tindak kekerasan, ancaman, perlakuan
diskriminatif, diskriminatif, intimidasi atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang
tua peserta didik, masyarakat, birokrasi atau pihak lain.
4. Perlindungan profesi mencakup perlindungan terhadap PHK yang tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam penyampaian
pandangan, pelecehan terhadap profesi dan pembatasan/pelarangan lain yang dapat
menghambat guru dalam melaksanakan tugas.
5. Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja mencakup perlindungan terhadap resiko
gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam,
kesehatan lingkungan kerja dan/atau resiko lain.
Berdasarkan amanat Pasal 39 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen seperti
disebutkan di atas, dapat dikemukakan ranah perlindungan hukum bagi guru. Frasa perlindungan

96
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

hukum yang dimaksudkan di sini mencakup semua dimensi yang terkait dengan upaya mewujudkan
kepastian hukum, kesehatan, keamanan, dan kenyamanan bagi guru dalam menjalankan tugas-tugas
profesionalnya.
1. Perlindungan hukum
Semua guru harus dilindungi secara hukum dari segala anomali atau tindakan semena-mena dari
yang mungkin atau berpotensi menimpanya dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Perlindungan hukum dimaksud meliputi perlindungan yang muncul akibat tindakan dari peserta
didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi atau pihak lain, berupa:
a. tindak kekerasan,
b. ancaman, baik fisik maupun psikologis
c. perlakuan diskriminatif,
d. intimidasi, dan
e. perlakuan tidak adil
2. Perlindungan profesi
Perlindungan profesi mencakup perlindungan terhadap pemutusan hukubungan kerja (PHK) yang
tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar,
pembatasan dalam penyampaian pandangan, pelecehan terhadap profesi dan
pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas. Secara
rinci, subranah perlindungan profesi dijelaskan berikut ini.
a. Penugasan guru pada satuan pendidikan harus sesuai dengan bidang keahlian, minat, dan
bakatnya.
b. Penetapan salah atau benarnya tindakan guru dalam menjalankan tugas-tugas profesional
dilakukan dengan mempertimbangkan pendapat Dewan Kehormatan Guru Indonesia.
c. Penempatan dan penugasan guru didasari atas perjanjian kerja atau kesepakatan kerja
bersama.
d. Pemberian sanksi pemutusan hubungan kerja bagi guru harus mengikuti prosedur
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan atau perjanjian kerja atau
kesepakatan kerja bersama.
e. Penyelenggara atau kepala satuan pendidikan formal wajib melindungi guru dari praktik
pembayaran imbalan yang tidak wajar.
f. Setiap guru memiliki kebebasan akademik untuk menyampaikan pandangan.
g. Setiap guru memiliki kebebasan untuk:
mengungkapkan ekspresi,
mengembangkan kreatifitas, dan
melakukan inovasi baru yang memiliki nilai tambah tinggi dalam proses pendidikan dan
pembelajaran.
h. Setiap guru harus terbebas dari tindakan pelecehan atas profesinya dari peserta didik,
orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain.
i. Setiap guru yang bertugas di daerah konflik harus terbebas dari pelbagai ancaman, tekanan,
dan rasa tidak aman.
j. Kebebasan dalam memberikan penilaian kepada peserta didik, meliputi:
substansi,
prosedur,

97
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

instrumen penilaian, dan


keputusan akhir dalam penilaian.
k. Ikut menentukan kelulusan peserta didik, meliputi:
penetapan taraf penguasaan kompetensi,
standar kelulusan mata pelajaran atau mata pelatihan, dan
menentukan kelulusan ujian keterampilan atau kecakapan khusus.
l. Kebebasan untuk berserikat dalam organisasi atau asosiasi profesi, meliputi:
mengeluarkan pendapat secara lisan atau tulisan atas dasar keyakinan akademik,
memilih dan dipilih sebagai pengurus organisasi atau asosiasi profesi guru, dan
bersikap kritis dan obyektif terhadap organisasi profesi.
m. Kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan formal, meliputi:
akses terhadap sumber informasi kebijakan,
partisipasi dalam pengambilan kebijakan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan
formal, dan
memberikan masukan dalam penentuan kebijakan pada tingkat yang lebih tinggi atas
dasar pengalaman terpetik dari lapangan.
3. Perlindungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja mencakup perlindungan terhadap resiko
gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam,
kesehatan lingkungan kerja, dan/atau resiko lain. Beberapa hal krusial yang terkait dengan
perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, termasuk rasa aman bagi guru dalam bertugas,
yaitu:
a. Hak memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas harus
mampu diwujudkan oleh pengelola satuan pendidikan formal, pemerintah dan pemerintah
daerah.
b. Rasa aman dalam melaksanakan tugas, meliputi jaminan dari ancaman psikis dan fisik dari
peserta didik, orang tua/wali peserta didik, atasan langsung, teman sejawat, dan masyarakat
luas.
c. Keselamatan dalam melaksanakan tugas, meliputi perlindungan terhadap:
resiko gangguan keamanan kerja,
resiko kecelakaan kerja,
resiko kebakaran pada waktu kerja,
resiko bencana alam, kesehatan lingkungan kerja, dan/atau
resiko lain sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan mengenai
ketenagakerjaan.
d. Terbebas dari tindakan resiko gangguan keamanan kerja dari peserta didik, orang tua peserta
didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain.
e. Pemberian asuransi dan/atau jaminan pemulihan kesehatan yang ditimbulkan akibat:
kecelakaan kerja,
kebakaran pada waktu kerja,
bencana alam,
kesehatan lingkungan kerja, dan/atau

98
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

resiko lain.
f. Terbebas dari multiancaman, termasuk ancaman terhadap kesehatan kerja, akibat:
bahaya yang potensial,
kecelakaan akibat bahan kerja,
keluhan-keluhan sebagai dampak ancaman bahaya,
frekuensi penyakit yang muncul akibat kerja,
resiko atas alat kerja yang dipakai, dan
resiko yang muncul akibat lingkungan atau kondisi tempat kerja.
4. Perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual
Pengakuan HaKI di Indonesia telah dilegitimasi oleh peraturan perundang-undangan, antara lain
Undang-Undang Merk, Undang-Undang Paten, dan Undang-Undang Hak Cipta. HaKI terdiri dari
dua kategori yaitu: Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri. Hak Kekayaan Industri meliputi Paten,
Merek, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Rahasia Dagang dan Varietas
Tanaman. Bagi guru, perlindungan HaKI dapat mencakup:
a. hak cipta atas penulisan buku,
b. hak cipta atas makalah,
c. hak cipta atas karangan ilmiah,
d. hak cipta atas hasil penelitian,
e. hak cipta atas hasil penciptaan,
f. hak cipta atas hasil karya seni maupun penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi
dan seni, serta sejenisnya, dan;
g. hak paten atas hasil karya teknologi
Seringkali karya-karya guru terabaikan, dimana karya mereka itu seakan-akan menjadi
seakan-akan makhluk tak bertuan, atau paling tidak terdapat potensi untuk itu. Oleh karena itu,
dimasa depan pemahaman guru terhadap HaKI ini harus dipertajam.

D. Jenis-jenis Upaya Perlindungan Hukum bagi Guru


1. Konsultasi
Ketika menghadapi masalah dari sisi perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan
ketenagakerjaan, dan perlindungan HaKI, guru dapat berkonsultasi kepada pihak-pihak yang
kompeten. Konsultasi itu dapat dilakukan kepada konsultan hukum, penegak hukum, atau pihak-
pihak lain yang dapat membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh guru tersebut.
Konsultasi merupakan tindakan yang bersifat personal antara suatu pihak tertentu yang
disebut dengan klien, dengan pihak lain yang merupakan konsultan, yang memberikan
pendapatnya kepada klien untuk memenuhi keperluan dan kebutuhan kliennya. Konsultan
hanya bersifat memberikan pendapat hukum, sebagaimana diminta oleh kliennya. Keputusan
mengenai penyelesaian sengketa tersebut akan diambil sendiri oleh para pihak meskipun
adakalanya pihak konsultan juga diberikan kesempatan untuk merumuskan bentuk-bentuk
penyelesaian sengketa yang dikehendaki oleh para pihak yang bersengketa tersebut.
Misalnya, seorang guru berkonsultasi dengan pengacara pada salah satu LKBH, penegak
hukum, orang yang ahli, penasehat hukum, dan sebagainya berkaitan dengan masalah

99
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

pembayaran gaji yang tidak layak, keterlambatan pembayaran gaji, pemutusan hubungan kerja
secara sepihak, dan lain-lain. Pihak-pihak yang dimintai pendapat oleh guru ketika berkonsultasi
tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan keputusan, melainkan sebatas memberi
pendapat atau saran, termasuk saran-saran atas bentuk-bentuk penyelesaian sengketa atau
perselisihan.
2. Mediasi
Ketika menghadapi masalah dari sisi perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan
ketenagakerjaan, dan perlindungan HaKI dalam hubungannya dengan pihak lain, seperti
munculnya sengketa antara guru dengan penyelenggara atau satuan pendidikan, pihak-pihak lain
yang dimintai bantuan oleh guru seharusnya dapat membantu memediasinya.
Merujuk pada Pasal 6 ayat 3 Undang Undang Nomor 39 tahun 1999, atas kesepakatan
tertulis para pihak, sengketa atau perbedaan pendapat antara guru dengan
penyelenggara/satuan pendidikan dapat diselesaikan melalui bantuan seorang atau lebih
penasehat ahli maupun melalui seorang mediator. Kesepakatan penyelesaian sengketa atau
perbedaan pendapat secara tertulis adalah final dan mengikat bagi para pihak untuk
dilaksanakan dengan iktikad baik. Kesepakatan tertulis antara guru dengan
penyelenggara/satuan pendidikan wajib didaftarkan di Pengadilan Negeri dalam waktu paling
lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak penandatanganan, dan wajib dilakasanakan dalam
waktu lama 30 (tiga puluh) hari sejak pendaftaran. Mediator dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu: (1) mediator yang ditunjuk secara bersama oleh para pihak, dan mediator yang ditujuk
oleh lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang ditunjuk oleh para
pihak.
3. Negosiasi dan Perdamaian
Ketika menghadapi masalah dari sisi perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan
ketenagakerjaan, dan perlindungan HaKI dalam hubungannya dengan pihak lain, seperti
munculnya sengketa antara guru dengan penyelenggara atau satuan pendidikan,
penyelenggara/satuan pendidikan harus membuka peluang negosiasi kepada guru atau
kelompok guru.
Menurut Pasal 6 ayat 2 Undang-undang Nomor 30 tahun 1999, pada dasarya para pihak,
dalam hal ini penyelenggara/satuan pendidikan dan guru, berhak untuk menyelesaikan sendiri
sengket yang timbul di antara mereka. Kesepakatan mengenai penyelesaian tersebut selanjutnya
dituangkan dalam bentuk tertulis yang disetujui para pihak. Negosiasi mirip dengan perdamaian
yang diatur dalam Pasal 1851 sampai dengan Pasal 1864 KUH Perdata, dimana perdamaian itu
adalah suatu persetujuan dengan mana kedua belah pihak, dengan menyerahkan, menjanjikan
atau menahan suatu barang, mengakhiri suatu perkara yang sedang bergantung atau mencegah
timbulnya suatu perkara. Persetujuan harus dibuat secara tertulis dan tidak di bawah ancaman.
Namun demikian, dalam hal ini ada beberapa hal yang membedakan antara negosiasi dan
perdamaian. Pada negosiasi diberikan tenggang waktu penyelesaian paling lama 14 hari, dan
penyelesaian sengketa tersebut harus dilakukan dalam bentuk pertemuan langsung oleh dan di
antara para pihak yang bersengketa. Perbedaan lain adalah bahwa negosiasi merupakan salah
satu lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang dilaksanakan di luar pengadilan, sedangkan

100
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

perdamaian dapat dilakukan baik sebelum proses persidangan maupun setelah sidang peradilan
dilaksanakan. Pelaksanaan perdamaian bisa di dalam atau di luar pengadilan.
4. Konsiliasi dan perdamaian
Ketika menghadapi masalah dari sisi perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan
ketenagakerjaan, dan perlindungan HaKI dalam hubungannya dengan pihak lain, seperti
munculnya sengketa antara guru dengan penyelenggara atau satuan pendidikan,
penyelenggara/satuan pendidikan harus membuka peluang konsiliasi atau perdamaian.
Seperti pranata alternatif penyelesaian sengketa yang telah diuraikan di atas, konsiliasi pun
tidak dirumuskan secara jelas dalam Undang Undang Nomor 30 tahun 1999. Konsiliasi atau
perdamaian merupakan suatu bentuk alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan atau
suatu tindakan atau proses untuk mencapai perdamaian di luar pengadilan. Untuk mencegah
dilaksanakan proses litigasi, dalam setiap tingkat peradilan yang sedang berjalan, baik di dalam
maupun di luar pengadilan, konsiliasi atau perdamaian tetap dapat dilakukan, dengan
pengecualian untuk hal-hal atau sengketa dimana telah diperoleh suatu putusan hakim yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
5. Advokasi Litigasi
Ketika menghadapi masalah dari sisi perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan
ketenagakerjaan, dan perlindungan HaKI dalam hubungannya dengan pihak lain, misalnya ketika
terjadi sengketa antara guru dengan penyelenggara atau satuan pendidikan, pelbagai pihak yang
dimintai bantuan atau pembelaan oleh guru seharusnya dapat memberikan advokasi litigasi.
Banyak guru masih menganggap bahwa advokasi litigasi merupakan pekerjaan pembelaan
hukum (litigasi) yang dilakukan oleh pengacara dan hanya merupakan pekerjaan yang berkaitan
dengan praktik beracara di pengadilan. Pandangan ini kemudian melahirkan pengertian yang
sempit terhadap apa yang disebut sebagai advokasi. Seolah-olah, advokasi litigasi merupakan
urusan sekaligus monopoli dari organisasi yang berkaitan dengan ilmu dan praktik hukum
semata.
Pandangan semacam itu tidak selamanya keliru, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Mungkin
pengertian advokasi menjadi sempit karena pengaruh yang cukup kuat dari padanan kata
advokasi itu dalam bahasa Belanda, yakni advocaat yang tak lain berarti pengacara hukum atau
pembela. Namun kalau kita mau mengacu pada kata advocate dalam pengertian bahasa Inggris,
maka pengertian advokasi akan menjadi lebih luas. Advocate bisa berarti menganjurkan,
memajukan (to promote), menyokong atau memelopori. Dengan kata lain, advokasi juga bisa
diartikan melakukan perubahan secara terorganisir dan sistematis.
6. Advokasi Nonlitigasi
Ketika menghadapi masalah dari sisi perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan
ketenagakerjaan, dan perlindungan HaKI dalam hubungannya dengan pihak lain, misalnya ketika
terjadi sengketa antara guru dengan penyelenggara atau satuan pendidikan, pelbagai pihak yang
dimintai bantuan atau pembelaan oleh guru seharusnya dapat memberikan advokasi nonlitigasi.
Dengan demikian, disamping melalui litigasi, juga dikenal alternatif penyelesaian sengketa di
luar pengadilan yang lazim disebut nonlitigasi. Alternatif penyelesaian sengketa nonlitigasi adalah
suatu pranata penyelesaian sengketa di luar pengadilan atau dengan cara mengenyampingkan

101
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri. Dewasa ini cara penyelesaian sengketa melalui
peradilan mendapat kritik yang cukup tajam, baik dari praktisi maupun teoritisi hukum. Peran
dan fungsi peradilan, dianggap mengalami beban yang terlampau padat (overloaded), lamban
dan buang waktu (waste of time), biaya mahal (very expensive) dan kurang tanggap
(unresponsive) terhadap kepentingan umum, atau dianggap terlalu formalistis (formalistic) dan
terlampau teknis (technically). Dalam Pasal (1) angka (10) Undang-Undang Nomor 30 Tahun
1999, disebutkan bahwa masyarakat dimungkinkan memakai alternatif lain dalam melakukan
penyelesaian sengketa. Alternatif tersebut dapat dilakukan dengan cara konsultasi, negosiasi,
mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.

E. Asas Pelaksanaan
Pelaksanaan perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan K3, dan perlindungan HaKI
bagi guru dilakukan dengan menggunakan asas-asas sebagai berikut:
1. Asas unitaristik atau impersonal, yaitu tidak membedakan jenis, agama, latar budaya, tingkat
pendidikan, dan tingkat sosial ekonomi guru.
2. Asas aktif, dimana inisiatif melakukan upaya perlindungan dapat berasal dari guru atau
lembaga mitra, atau keduanya.
3. Asas manfaat, dimana pelaksanaan perlindungan hukum bagi guru memiliki manfaat bagi
peningkatan profesionalisme, harkat, martabat, dan kesejahteraan mereka, serta
sumbangsihnya bagi kemajuan pendidikan formal.
4. Asas nirlaba, dimana upaya bantuan dan perlindungan hukum bagi guru dilakukan dengan
menghindari kaidah-kaidah komersialisasi dari lembaga mitra atau pihak lain yang peduli.
5. Asas demokrasi, dimana upaya perlindungan hukum dan pemecahan masalah yang dihadapi
oleh guru dilakukan dengan pendekatan yang demokratis atau mengutamakan musyawarah
untuk mufakat.
6. Asas langsung, dimana pelaksanaan perlindungan hukum dan pemecahan masalah yang
dihadapi oleh guru terfokus pada pokok persoalan.
7. Asas multipendekatan, dimana upaya perlindungan hukum bagi guru dapat dilakukan dengan
pendekatan formal, informal, litigasi, nonlitigasi, dan lain-lain.

F. Penghargaan dan Kesejahteraan


Sebagai tenaga profesional, guru memiliki hak yang sama untuk mendapatkan penghargaan dan
kesejahteraan. Penghargaan diberikan kepada guru yang berprestasi, berprestasi luar biasa,
berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus.
Penghargaan kepada guru dapat diberikan pada tingkat satuan pendidikan, desa/kelurahan,
kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan/atau internasional. Penghargaan itu beragam
jenisnya, seperti satyalancana, tanda jasa, bintang jasa, kenaikan pangkat istimewa, finansial,
piagam, jabatan fungsional, jabatan struktural, bintang jasa pendidikan, dan/atau bentuk
penghargaan lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

102
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Pada sisi lain, peraturan perundang-undangan mengamanatkan bahwa pemerintah kabupaten


wajib menyediakan biaya pemakaman dan/atau biaya perjalanan untuk pemakaman guru yang gugur
di daerah khusus. Guru yang gugur dalam melaksanakan pendidikan dan pembelajaran di daerah
khusus, putera dan/atau puterinya berhak mendapatkan beasiswa sampai ke perguruan tinggi dari
Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Kesejahteraan guru menjadi perhatian khusus pemeritah, baik berupa gaji maupun
penghasilan lainnya. Guru memiliki hak atas gaji dan penghasilan lainya. Gaji adalah hak yang
diterima oleh guru atas pekerjaannya dari penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan dalam
bentuk finansial secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Di luar gaji pokok,
guru pun berhak atas tunjangan yang melekat pada gaji.
Gaji pokok dan tunjangan yang melekat pada gaji bagi guru yang diangkat oleh pemerintah dan
pemerintah daerah diberikan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan peraturan
penggajian yang berlaku. Gaji pokok dan tunjangan yang melekat pada gaji bagi guru yang diangkat
oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat diberikan berdasarkan perjanjian
kerja dan/atau kesepakatan kerja bersama. Penghasilan adalah hak yang diterima oleh guru dalam
bentuk finansial sebagai imbalan melaksanakan tugas keprofesian yang ditetapkan dengan prinsip
penghargaan atas dasar prestasi dan mencerminkan martabat guru sebagai pendidik profesional.
Ringkasnya, guru yang memenuhi persyaratan sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 14
Tahun 2005 dan PP No. 74 Tahun 2008, serta peraturan lain yang menjadi ikutannya, memiliki hak
atas aneka tunjangan dan kesejahteraan lainnya. Tunjangan dan kesejahteraan dimaksud mencakup
tunjangan profesi, tunjangan khusus, tunjangan fungsional, subsidi tunjangan fungsional, dan
maslahat tambahan. Khusus berkaitan dengan jenis-jenis penghargaan dan kesejahteraan guru
disajikan berikut ini.
1. Penghargaan Guru Berprestasi
Pemberian penghargaan kepada guru berprestasi dilakukan melalui proses pemilihan yang ketat
secara berjenjang, mulai dari tingkat satuan pendidikan, kecamatan dan/atau kabupaten/kota,
provinsi, maupun nasional. Pemilihan guru berprestasi dimaksudkan antara lain untuk
mendorong motivasi, dedikasi, loyalitas dan profesionalisme guru, yang diharapkan akan
berpengaruh positif pada kinerja dan prestasi kerjanya. Prestasi kerja tersebut akan terlihat
dari kualitas lulusan satuan pendidikan sebagai SDM yang berkualitas, produktif, dan
kompetitif.
Pemerintah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh untuk memberdayakan guru,
terutama bagi mereka yang berprestasi. Seperti disebutkan di atas, Undang-Undang No. 14
Tahun 2005 mengamanatkan bahwa Guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau
bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan.
Secara historis pemilihan guru berprestasi adalah pengembangan dari pemberian
predikat keteladanan kepada guru melalui pemilihan guru teladan yang berlangsung sejak tahun
1972 hingga tahun 1997. Selama kurun 1998-2001, pemilihan guru teladan dilaksanakan
hanya sampai tingkat provinsi. Setelah dilakukan evaluasi dan mendapatkan masukan-
masukan dari berbagai kalangan, baik guru maupun pengelola pendidikan tingkat
kabupaten/kota/provinsi, maka pemilihan guru teladan diusulkan untuk ditingkatkan kualitasnya
menjadi pemilihan guru berprestasi.

103
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Frasa guru berprestasi bermakna prestasi dan keteladanan guru. Sebutan guru
berprestasi mengandung makna sebagai guru unggul/mumpuni dilihat dari kompetensi
pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Guru berprestasi merupakan guru yang
menghasilkan karya kreatif atau inovatif antara lain melalui: pembaruan (inovasi) dalam
pembelajaran atau bimbingan; penemuan teknologi tepat guna dalam bidang pendidikan;
penulisan buku fiksi/nonfiksi di bidang pendidikan atau sastra Indonesia dan sastra
daerah; penciptaan karya seni; atau karya atau prestasi di bidang olahraga. Mereka juga
merupakan guru yang secara langsung membimbing peserta didik hingga mencapai prestasi
di bidang intrakurikuler dan/atau ekstrakurikuler.
Pemilihan guru berprestasi dilaksanakan pertama kali pada tahun 2002.
Penyelenggaraan pemilihan guru berprestasi dilakukan secara bertingkat, dimulai dari tingkat
satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan tingkat nasional. Secara umum
pelaksanaan pemilihan guru berprestasi berjalan dengan lancar sesuai dengan kriteria yang
telah ditetapkan. Melalui pemilihan guru berprestasi ini telah terpilih guru terbaik untuk jenjang
Taman-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas, atau
yang sederajat.
Sistem penilaian untuk menentukan peringkat guru berprestasi dilakukan secara ketat,
yaitu melalui uji tertulis, tes kepribadian, presentasi karya akademik, wawancara, dan
penilaian portofolio. Guru yang mampu mencapai prestasi terbaik melalui beberapa jenis teknik
penilaian inilah yang akan memperoleh predikat sebagai guru berprestasi tingkat nasional.
2. Penghargaan bagi Guru SD Berdedikasi di Daerah Khusus/Terpencil
Guru yang bertugas di daerah khusus, mendapat perhatian serius dari pemerintah. Oleh
karena itu, sejak beberapa tahun terakhir ini, pemberian penghargaan kepada mereka
dilakukan secara rutin baik pada peringatan Hari Pendidikan Nasional maupun pada
peringatan lainnya.
Tujuan penghargaan ini antara lain, pertama, mengangkat harkat dan martabat guru atas
dedikasi, prestasi, dan pengabdian profesionalitasnya sebagai pendidik bangsa dihormati dan
dihargai oleh masyarakat, pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Kedua,
memberikan motivasi pada guru untuk meningkatkan prestasi, pengabdian, loyalitas dan
dedikasi serta darma baktinya pada bangsa dan negara melalui pelaksanaan kompetensinya
secara profesional sesuai kualifikasi masing-masing.
Ketiga, meningkatkan kesetiaan dan loyalitas guru dalam melaksanakan
pekerjaan/jabatannya sebagai sebuah profesi, meskipun bekerja di daerah yang terpencil
atau terbelakang; daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil; daerah perbatasan
dengan negara lain; daerah yang mengalami bencana alam; bencana sosial; atau daerah yang
berada dalam keadaan darurat lain yang mengharuskan menjalani kehidupan secara prihatin.
Pemberian penghargaan kepada guru yang bertugas di Daerah Khusus/Terpencil
bukanlah merupakan suatu kegiatan yang bersifat seremoni belaka. Penghargaan ini secara
selektif dan kompetitif diberikan kepada d u a orang guru sekolah dasar (SD) Daerah Khusus
dari seluruh provinsi di Indonesia.
Masing-masing Dinas Pendidikan Provinsi diminta dan diharuskan menyeleksi dan
mengirimkan dua orang guru daerah khusus, terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan yang

104
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

berdedikasi tinggi untuk diberi penghargaan, baik yang berstatus sebagai guru pegawai negeri
sipil (Guru PNS) maupun guru bukan PNS. Untuk dapat menerima penghargaan, guru SD
berdedikasi yang bertugas di Daerah Khusus/Terpencil harus memenuhi kriteria umum dan
khusus. Kriteria umum dimaksud antara lain beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa; setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945; memiliki
moralitas,kepribadian dan kelakuan yang terpuji; dapat dijadikan panutan oleh siswa, teman
sejawat dan masyarakat sekitarnya; dan mencintai tugas dan tanggungjawabnya.
Kriteria khusus bagi guru SD Daerah Khusus untuk memperoleh penghargaan
antara lain, pertama, dalam melaksanakan tugasnya senantiasa menunjukkan dedikasi
luar biasa, pengabdian, kecakapan, kejujuran, dan kedisiplinan serta mempunyai
komitmen yang tinggi dalam melaksanakan fungsi- fungsi profesionalnya dengan segala
keterbatasan yang ada di daerah terpencil. Kedua, tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin
tingkat sedang atau tingkat berat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketiga, melaksanakan tugas sebagai guru di daerah khusus/terpencil sekurang-kurangnya
selama lima tahun secara terus menerus atau selama delapan tahun secara terputus-putus.
Keempat, berusia minimal 40 tahun dan belum pernah menerima penghargaan yang
sejenis di tingkat nasional. Kelima, responsif terhadap persoalan-persoalan yang aktual dalam
masyarakat. Keenam, dengan keahlian yang dimilikinya membantu dalam memecahkan masalah
sosial sehingga usahanya berupa sumbangan langsung bagi penanggulangan masalah-
masala tersebut.
Ketujuh, menunjukkan kepemimpinan dalam kepeloporan serta integritas
kepribadiannya dalam mengamalkan keahliannya dalam masyarakat. Kedelapan,
menyebarkan dan meneruskan ilmu dan keahlian yang dimilikinya kepada masyarakat dan
menunjukkan hasil nyata berupa kemajuan dalam masyarakat.
3. Penghargaan bagi Guru PLB/PK Berdedikasi
Penghargaan bagi guru Pendidikan Luar Biasa/Pendidikan Khusus (PLB/PK) berdedikasi
dilakukan sejak tahun 2004. Penghargaan ini diberikan kepada guru dengan maksud untuk
mendorong motivasi, dedikasi, loyalitas dan profesionalisme guru PLB/PK, yang diharapkan akan
berpengaruh positif pada kinerja dan prestasi kerjanya. Guru PLB/PK berdedikasi adalah guru
yang memiliki dedikasi dan kinerja melampaui target yang ditetapkan satuan Pendidikan
Khusus mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional; dan/atau
menghasilkan karya kreatif atau inovatif yang diakui baik pada tingkat daerah, nasional
dan/atau internasional; dan/atau secara langsung membimbing peserta didik yang
berkebutuhan khusus sehingga mencapai prestasi di bidang intrakurikuler dan/atau
ekstrakurikuler.
Seleksi pemilihan guru berdedikasi tingkat nasional dilaksanakan di Jakarta. Mereka
berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Pemilihan guru PLB/PK berdedikasi ini
dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel. Pemberian penghargaan ini
diharapkan dapat mendorong guru PLB/PK dalam meningkatkan kemampuan profesional yang
diperlukan untuk membantu mempersiapkan SDM yang memiliki kelainan tertentu untuk siap
menghadapi tantangan kehidupan masa depannya.
Dalam penetapan calon guru PLB/PK yang berdedikasi untuk diberi penghargaan, kriteria

105
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

dedikasi dan prestasi yang menonjol bersifat kualitatif. Kriteria tersebut dapat dijadikan acuan
atau pertimbangan dasar, sehingga guru PLB/PK berdedikasi yang terpilih untuk menerima
penghargaan benar-benar layak dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Kriteria dedikasi dan prestasi dimaksud meliputi pelaksanaan tugas, hasil
pelaksanaan tugas, dan sifat terpuji. Dimensi pelaksanaan tugas mencakup, pertama,
konsisten dalam membuat persiapan mengajar yang standar bagi anak berkebutuhan khusus.
Kedua, kecakapan dalam melaksanakan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Ketiga,
keterampilan mengelola kelas sehingga tercipta suasana tertib. Keempat, kemampuan
melaksanakan komunikasi yang efektif di kelas. Kelima, konsisten dalam melaksanakan
evaluasi dan analisis hasil belajar peserta didik berkebutuhan khusus. Keenam, objektivitas
dalam memberikan nilai kepada peserta didik berkebutuhan khusus.
Dimensi kemampuan menunjukkan hasil pelaksanaan tugas secara baik mencakup,
pertama, penemuan metode/pendekatan yang inovatif, pengembangan/pengayaan materi
dan/atau alat peraga baru dalam khusus. Kedua, dampak sosial/ budaya/ ekonomi/
lingkungan terhadap proses belajar mengajar yang dirasakan atas penemuan
metode/pendekatan yang inovatif, pengembangan/pengayaan materi dan/atau alat peraga baru
dalam pembelajaranb agi anak berkebutuhan khusus. Ketiga, kemampuan memprakarsai suatu
kegiatan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Keempat, memiliki sifat inovatif dan
kreatif dalam memanfaatkan sumber/alat peraga yang ada di lingkungan setempat untuk
kelancaran kegiatan belajar mengajar bagi anak berkebutuhan khusus. Kelima, mampu
menghasilkan peserta didik yang terampil sesuai dengan tingkat kemampuan menurut jenis
kebutuhan peserta didik.
Dimensi memiliki sifat terpuji antara lain mencakup kemampuan menyampaikan
pendapat, secara lisan atau tertulis; kesediaan untuk mendengar/menghargai pendapat
orang lain; sopan santun dan susila; disiplin kerja; tanggung jawab dan komitmen terhadap
tugas; kerjasama; dan stabilitas emosi. Dimensi memiliki jiwa pendidik mencakup beberapa
hal. Pertama, menyayangi dan mengayomi peserta didik berkebutuhan khusus. Kedua,
memberikan bimbingan secara optimal kepada peserta didik berkebutuhan khusus. Ketiga,
mampu mendeteksi kelemahan belajar peserta didik berkebutuhan khusus.
Pemilihan guru berprestasi serta pemberian penghargaan kepada guru SD di Daerah
Khusus dan guru PLB/PK berdedikasi seperti disebutkan di atas merupakan agenda tahunan.
Namun demikian, meski sifatnya kegiatan tahunan, program ini bukanlah sebuah kegiatan yang
bersifat seremonial belaka. Pelembagaan program ini merupakan salah satu bukti kuatnya
perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap profesi guru. Tentu saja, di masa datang,
kualitas dan kuantitas pemberian penghargaan kepada guru berprestasi dan berdedikasi senantiasa
perlu ditingkatkan.
4. Penghargaan Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan
Sejalan dengan disahkannya UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
guru berprestasi dan berdedikasi memiliki hak atas penghargaan sesuai dengan prestasi dan
dedikasinya. Penghargaan tersebut diberikan kepada guru pada satuan pendidikan atas
dasar pengabdian, kesetiaan pada lembaga, berjasa pada negara, maupun menciptakan karya
yang luar biasa.

106
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Kriteria guru yang berhak menerima penghargaan Satyalancana Pendidikan,


meliputi persyaratan umum dan persyaratan khusus. Persyaratan umum antara lain warga
negara Indonesia; berakhlak dan berbudi pekerti baik; serta mempunyai nilai dalam DP3
amat baik untuk unsur kesetiaan dan sekurang-kurangnya bernilai baik untuk unsur lainnya.
Persyaratan khusus meliputi, pertama, diutamakan yang bertugas/pernah bertugas di
tempat terpencil atau tertinggal sekurang-kurangnya selama lima tahun terus menerus atau
selama delapan tahun terputus-putus. Kedua, diutamakan yang bertugas/pernah bertugas di
daerah perbatasan, konflik, dan bencana sekurang- kurangnya selama 3 tahun terus menerus
atau selama 6 tahun terputus-putus. Ketiga, diutamakan yang bertugas selain di daerah khusus
sekurang-kurangnya selama 8 tahun terus menerus dan bagi kepala sekolah sekurang-
kurangnya bertugas 2 tahun. Keempat, berprestasi dan/atau berdedikasi luar biasa dalam
melaksanakan tugas sekurang-kurangnya mendapat penghargaan tingkat nasional. Kelima,
berperan aktif dalam kegiatan organisasi/asosiasi profesi guru, kegiatan kemasyarakatan dan
pembangunan di berbagai sektor. Keenam, tidak pernah memiliki catatan pelanggaran atau
menerima sanksi sedang dan berat menurut peraturan perundang-undangan.
5. Penghargaan bagi Guru yang Berhasil dalam Pembelajaran
Tujuan lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran atau lomba sejenis dapat memotivasi
guru untuk lebih meningkatkan profesionalismenya, khususnya dalam kemampuan
perancangan, penyajian, penilaian proses dan hasil pembelajaran atau proses bimbingan
kepada siswa; dan meningkatkan kebiasaan guru dalam mendokumentasikan hasil
kegiatan pengembangan profesinya secara baik dan benar. Lomba keberhasilan guru dalam
pembelajaran atau sejenisnya dilaksanakan melalui beberapa tahapan. Pertama, sosialisasi
melalui berbagai media, antara lain penyusunan dan penyebaran poster dan leaflet. Kedua,
penerimaan naskah. Ketiga, melakukan seleksi, baik seleksi administrasi maupun seleksi
terhadap materi yang ditulis.
Para finalis melaksanakan presentasi dan wawancara di hadapan dewan juri yang memiliki
keahlian di bidang masing-masing. Sejalan dengan itu, aktivitas yang dilakukan adalah sebagai
berikut: penyusunan pedoman lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran atau sejenisnya
tingkat nasional; penilaian naskah lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran atau
sejenisny a tingkat nasional; penilaian penentuan nominasi pemenang lomba keberhasilan
guru dalam pembelajaran atau sejenisnya tingkat nasional; penentuan pemenang lomba
keberhasilan guru dalam pembelajaran atau sejenisnya tingkat nasional; dan pemberian
penghargaan pemenang lomba tingkat nasional.
Hasil yang dicapai dalam lomba tersebut adalah terhimpunnya berbagai pengalaman guru
dalam merancang, menyajikan, dan menilai pembelajaran atau bimbingan dan konseling yang
secara nyata mampu meningkatkan proses dan hasil belajar siswa, sehingga dapat
dimanfaatkan oleh rekan guru yang memerlukan dicetak dalam bentuk buku yang berisi
model-model keberbasilan dalam pembelajaran sebagai publikasi.
6. Penghargaan Guru Pemenang Olimpiade
Era globalisasi menuntut SDM yang bermutu tinggi dan siap berkompetisi, baik pada tataran
nasional, regional, maupun internasional. Sejalan dengan itu, guru-guru bidang studi yang
termasuk dalam skema Olimpiade Sains Nasional (OSN) merupakan salah satu diterminan utama
peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. Kegiatan OSN untuk Guru (ONS Guru)

107
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

merupakan salah satu wahana untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran mata
pelajaran yang tercakup dalam kerangka OSN.
Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk Guru merupakan wahana bagi guru
menumbuhkembangkan semangat kompetisi dan meningkatkan kompetensi profesional atau
akademik untuk memotivasi peningkatan kompetensinya dalam rangka mendorong mutu proses
dan luaran pendidikan. Tujuannya adalah (1) menumbuhkan budaya kompetitif yang sehat di
kalangan guru; (2) meningkatkan wawasan pengetahuan, motivasi, kompetensi,
profesionalisme, dan kerja keras untuk mengembangkan IPTEK; (3) membina dan
mengembangkan kesadaran ilmiah untu mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi
masa kini dan yang akan datang; (4) mengangkat status guru sebagai penyandang profesi yang
terhormat, mulia, bermartabat, dan terlindungi; dan (5) membangun komitmen mutu guru dan
peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran secara lebih merata.
Kegiatan OSN Guru dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari di tingkat kabupaten/kota,
tingkat provinsi, sampai dengan tingkat nasional. Hadiah dan penghargaan diberikan kepada
peserta OSN Guru sebagai motivasi untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran dan kegiatan
pendidikan lainnya. Hadiah bagi para pemenang tingkat kabupaten/kota dan tingkat provinsi
pengaturannya diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Daerah sesuai dengan kemampuan
masing-masing. Kepada pemenang di tingkat nasional diberi hadiah dan penghargaan dari
kementerian pendidikan.
7. Pembinaan dan Pemberdayaan Guru Berprestasi dan Guru Berdedikasi
Guru memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam membimbing peserta didik
ke arah kedewasaan, kematangan dan kemandirian, sehingga guru sering dikatakan
sebagai ujung tombak pendidikan. Untuk melaksanakan tugasnya, seorang guru tidak hanya
memiliki kemampuan teknis edukatif, tetapi juga harus memiliki kepribadian yang dapat
diandalkan sehingga menjadi sosok panutan bagi siswa, keluarga maupun masyarakat.
Selaras dengan kebijaksanaan pembangunan yang meletakkan pengembangan sumber
daya manusia sebagai prioritas pembangunan nasional, kedudukan dan peran guru semakin
bermakna strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam
menghadapi era global. Untuk itu, kemampuan profesional guru harus terus menerus
ditingkatkan.
Prestasi yang telah dicapai oleh para guru berprestasi perlu terus dijaga dan
dikembangkan, serta diimbaskan kepada guru lainnya. Oleh karena itu, sebagai tindak lanjut
dari pelaksanaan pemilihan guru berprestasi, perlu dilaksanakan pembinaan dan
pemberdayaannya agar pengetahuan dan wawasan mereka selalu berkembang sesuai dengan
kemajuan ipteks.
Program kerjasama peningkatan mutu pendidik antarnegara Asia, dalam hal ini dengan
The Japan Foundation, misalnya, merupakan kelanjutan program-program yang telah dilaksanakan
sebelumnya. Program kerjasama ini dilaksanakan untuk memberikan penghargaan kepada
guru berprestasi dengan memberikan pengalaman dan wawasan tentang penyelenggaraan
pendidikan dan budaya di negara maju seperti Jepang untuk dijadikan bahan pembanding dan
diimplementasikan di tempat tugas mereka.Kontinuitas pelaksanaan program kerjasama ini
sangat penting, karena sangat bermanfaat bagi para guru untuk meningkatkan

108
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

pengetahuannya dalam melaksanakan tugas profesionalnya.

8. Penghargaan Lainnya
Penghargaan lainnya untuk guru dilakukan melalui program kerjasama pendidikan antarnegara,
khususnya bagi mereka yang berprestasi. Kerjasama antarnegara ini dilakukan, baik di kawasan
Asia maupun di kawasan lainnya. Kerjasama antarnegara bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman dan saling pengertian antaranggotanya.
Melalui kerjasama ini, guru-guru berprestasi yang terpilih diberi kesempatan untuk
mengikuti pelatihan singkat bidang keahlian atau teknologi pembelajaran, studi kebudayaan,
studi banding, dan sejenisnya. Kerjasama ini antara lain telah dilakukan dengan negara-negara
Asean, Jepang, Australia, dan lain-lain.
Penghargaan lainnya yang diberikan kepada guru adalah Anugerah Konstitusi tingkat
nasional bagi guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) untuk semua jenis dan jenjang. Penerima
penghargaan ini adalah guru-guru PKn terbaik yang diseleksi secara berjenjang mulai dari tingkat
sekolah, kabupaten/kota, provinsi, sampai ke tingkat nasional.

G. Tunjangan Guru
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa dalam
melaksanakan tugas keprofesian guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup
minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum
tersebut meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa
tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait
dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi.
Pemenuhan hak guru untuk memperoleh penghasilan didasari atas pertimbangan prestasi dan
pengakuan atas profesionalitasnya. Dengan demikian, penghasilan dimaksud merupakan hak yang
diterima oleh guru dalam bentuk finansial sebagai imbalan melaksanakan tugas keprofesian yang
ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi dan mencerminkan martabat guru sebagai
pendidik profesional.
Lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen merupakan tonggak
sejarah bagi peningkatan kesejahteraan guru di Indonesia. Menyusul lahirnya UU ini,
pemerintah telah mengatur beberapa sumber penghasilan guru selain gaji pokok, yaitu tunjangan
yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, dan
tunjangan khusus.
1. Tunjangan Profesi
Guru profesional dituntut oleh undang-undang memiliki kualifikasi akademik tertentu dan
empat kompetensi yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional atau akademik.
Sertifikasi guru merupakan proses untuk memberikan sertifikat pendidik kepada mereka.
Sertifikat pendidik dimaksud merupakan pengakuan negara atas derajat keprofesionalan guru.
Seiring dengan proses sertifikasi inilah, pemerintah memberikan tunjangan profesi
kepada guru. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen yang menamanatkan bahwa Pemerintah memberikan tunjangan profesi kepada guru

109
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau
satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Pemberian tunjangan profesi diharapkan akan mampu mendorong dan memotivasi guru
untuk terus meningkatkan kompetensi dan kinerja profesionalnya dalam melaksanakan tugas
di sekolah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, dan penilai peserta
didiknya.
Besarnya tunjangan profesi ini setara dengan satu kali gaji pokok guru yang diangkat oleh
satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah pada
tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Guru yang sudah bersertifikat akan menerima
tunjangan profesinya jika guru yang bersangkutan mampu membuktikan kinerjanya yaitu
dengan mengajar 24 jam tatap muka per minggu dan persyaratan lainnya.
Guru akan menerima tunjangan profesi sampai yang bersangkutan berumur 60 tahun.
Usia ini adalah batas pensiun bagi PNS guru. Setelah berusia 60 tahun guru tetap berhak
mengajar di manapun, baik sebagai guru tidak tetap maupun guru tetap yayasan untuk sekolah
swasta, dan menyandang predikat guru bersertifikat, namun tidak berhak lagi atas
tunjangan profesi. Meski guru memiliki lebih dari satu sertifikat profesi pendidik, mereka hanya
berhak atas satu tunjangan profesi.
Tunjangan profesi diberikan kepada semua guru yang telah memiliki sertifikat pendidik dan
syarat lainnya, dengan cara pembayaran tertentu. Hal ini bermakna, bahwa guru bukan PNS pun
akan mendapat tunjangan yang setara dengan guru PNS dengan kualifikasi akademik, masa kerja,
serta kompetensi yang setara atau ekuivalen. Bagi guru bukan PNS, tunjangan profesi akan
dibayarkan setelah yang bersangkutan disesuaikan jenjang jabatan dan kepangkatannya melalui
impassing.Tunjangan profesi tersebut dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja
negara (APBN) dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) sebagaimana
diamanatkan dalam Pasal 16 ayat (3) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen.
3. Tunjangan Fungsional
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 17 ayat (1)
mengamanatkan Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah memberikan tunjangan fungsional
kepada guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah
dan pemerintah daerah. Pasal 17 ayat (2) mengamanatkan bahwa subsidi tunjangan fungsional
diberikan kepada guru yang bertugas di sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Sehingga dalam pelaksanaannya, tunjangan fungsional dan subsidi tunjangan fungsional ini
dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan
dan belanja daerah (Pasal 17 ayat (3).
Besarnya tunjangan fungsional yang diberikan untuk guru PNS seharusnya sesuai
dengan jenjang jabatan fungsional yang dimiliki. N amun saat ini baru diberikan tunjangan
tenaga kependidikan berdasarkan pada golongan/ruang kepangkatan/jabatannya. Khusus
mengenai besarnya subsidi tunjangan fungsional bagi guru bukan PNS, agaknya memerlukan aturan tersendiri,
berikut persyaratannya.

110
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

4. Tunjangan Khusus
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru
dan Dosen, Tunjangan Khusus Guru dan Dosen, serta Tunjangan Kehormatan Profesor
merupakan komitmen Pemerintah untuk terus mengupayakan peningkatan kesejahteraan
guru dan dosen, di samping peningkatan profesionalismenya. Sesuai dengan amanat
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 18, disebutkan bahwa
guru yang diangkat oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dan ditugaskan di di daerah
khusus berhak memperoleh tunjangan khusus yang diberikan setara dengan satu kali gaji pokok
Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.
Mengingat tunjangan khusus adalah tunjangan yang diberikan kepada guru di Daerah
Khusus, sasaran dari program ini adalah guru yang bertugas di daerah khusus. Berdasarkan
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang dimaksudkan dengan
Daerah Khusus adalah daerah yang terpencil atau terbelakang, daerah dengan kondisi
masyarakat adat yang terpencil, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah yang
mengalami bencana alam, bencana sosial, atau daerah yang berada dalam keadaan darurat
lain.
a. Daerah terpencil atau terbelakang adalah daerah dengan faktor geografis yang relatif sulit
dijangkau karena letaknya yang jauh di pedalaman, perbukitan/pegunungan, kepulauan,
pesisir, dan pulau-pulau terpencil; dan daerah dengan faktor geomorfologis lainnya yang
sulit dijangkau oleh jaringan transportasi maupun media komunikasi, dan tidak
memiliki sumberdaya alam.
b. Daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil adalah daerah yang mempunyai
tingkat pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan yang relatif rendah serta tidak
dilibatkan dalam kelembagaan masyarakat adat dalam perencanaan dan pembangunan
yang mengakibatkan daerah belum berkembang.
c. Daerah perbatasan dengan negara lain adalahbagian dari wilayah negara yang terletak pada
sisi dalam sepanjang batas wilayah Indonesia dengan negara lain, dalam hal batas wilayah
negara di darat maupun di laut kawasan perbatasan berada di kecamatan; dan pulau kecil
terluar dengan luas area kurang atau sama dengan 2.000 km2 (dua ribu kilometer persegi)
yang memiliki titik-titik dasar koordinat geografis yang menghubungkan garis pangkal laut
kepulauan sesuai dengan hukum Internasional dan Nasional.
d. Daerah yang mengalami bencana alam yaitu daerah yang terletak di wilayah yang terkena
bencana alam (gempa, longsor, gunung api, banjir, dsb) yang berdampak negatif terhadap
layanan pendidikan dalam waktu tertentu.
e. Daerah yang mengalami bencana sosial dan konflik sosial dapat menyebabkan
terganggunya kegiatan pembangunan sosial dan ekonomi yang membahayakan
guru dalam melaksanakan tugas dan layanan pendidikan dalam waktu tertentu.
f. Daerah yang berada dalam keadaan darurat lain adalah daerah dalam keadaan yang
sukar/sulit yang tidak tersangka-sangka mengalami bahaya, kelaparan dan sebagainya yang
memerlukan penanggulangan dengan segera.
Tunjangan khusus yang besarnya setara dengan satu kali gaji pokok guru yang diangkat oleh

111
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada
tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.
Penetapan Daerah Khusus ini rumit dan tentatif adanya. Sebagai katup
pengaman sejak tahun 2007, pemerintah memberikan bantuan kesejateraan untuk guru
yang bertugas di Daerah Khusus atau Daerah Terpencil di 199 kabupaten di Indonesia. Sampai
tahun 2010 tunjangan tersebut mencapai Rp 1.350.000 per bulan.
Harapan yang ingin dicapai dari pemberian tunjangan khusus ini adalah selain
meningkatkan kesejahteraan guru sebagai kompensasi daerah yang ditempati sangat sulit, juga
memotivasi guru untuk tetap mengajar di sekolah tersebut. Pada sisi lain, pemberian tunjangan
ini bisa sebagai insentif bagi guru baru untuk bersedia mengajar di Daerah Khusus ini. Belum
terpenuhinya jumlah guru di daerah terpencil diharapkan juga semakin mudah dilakukan
dengan insentif tunjangan khusus ini.

5. Maslahat Tambahan
Salah satu komponen penghasilan yang diberikan kepada guru dalam rangka implementasi
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah pemberian maslahat
tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip
penghargaan atas dasar prestasi (Pasal 15 ayat 1). Maslahat tambahan merupakan tambahan
kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan,
beasiswa, dan penghargaan bagi guru, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi
putra dan putri guru, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain, sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen.
Maslahat tambahan merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh guru dari
pemerintah dan/atau pemerintah daerah sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 19 ayat (2),
dimana pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin terwujudnya maslahat tambahan bagi
guru. Tujuan pemberian maslahat tambahan ini adalah untuk: (1) memberikan
penghargaan terhadap prestasi, dedikasi, dan keteladanan guru dalam melaksanakan tugas; (2)
memberikan penghargaan kepada guru sebelum purna tugas terhadap pengabdiannya dalam
dunia pendidikan; dan (3) memberikan kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih
baik dan bermutu kepada putra/putri guru yang memiliki prestasi tinggi. Dengan demikian,
pemberian maslahat tambahan akan bermanfaat untuk: (i) mengangkat citra, harkat, dan
martabat profesi guru; (2) memberikan rasa hormat dan kebanggaan kepada penyandang
profesi guru; (3) merangsang guru untuk tetap memiliki komitmen yang konsisten terhadap
profesi guru hingga akhir masa bhakti; dan (4) meningkatnya motivasi guru dalam melaksanakan
tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga profesional.

112
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Latihan dan Renungan


1. Apa yang dimaksud dengan perlindungan hukum bagi guru, dan berikan contohnya?
2. Apa yang dimaksud dengan perlindungan profesi bagi guru, dan berikan contohnya?
3. Apa yang dimaksud dengan perlindungan K3 bagi guru, dan berikan contohnya?
4. Apa yang dimaksud dengan perlindungan HaKI bagi guru, dan berikan contohnya?
5. Sebutkan beberapa jenis penghargaan yang diberikan kepada guru!
6. Sebutkan beberara jenis tunjangan yang diterima oleh guru!
7. Apa yang dimaksud dengan pemberian kesejahteraan dan penghargaan kepada guru atas dasar
prestasi kerja?
8. Sebutkan beberapa alasan, mengapa guru yang bertugas di Daerah Khusus/Terpencil perlu
diberi tunjangan khusus?

113
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

BAB VI
ETIKA PROFESI

Topik ini berkaitan dengan etika profesi guru. Materi sajian terutama
berkaitan dengan esensi etika profesi guru dalam pelaksanaan proses
pendidikan dan pembelajaran secara profesional, baik di kelas, di luar
kelas, maupun di masyarakat. Peserta PLPG diminta mengikuti materi
pembelajaran secara individual, melaksanakan diskusi kelompok, menelaah
kasus, membaca regulasi yang terkait, menjawab soal latihan, dan
melakukan refleksi.

A. Profesi Guru sebagai Panggilan Jiwa


Sebelum era sekarang, telah lama profesi guru di Indonesia dipersepsi oleh masyarakat sebagai
profesi kelas dua. Idealnya, pilihan seseorang untuk menjadi guru adalah panggilan jiwa untuk
memberikan pengabdian pada sesama manusia dengan mendidik, mengajar, membimbing, dan
melatih, yang diwujudkan melalui proses belajar-mengajar serta pemberian bimbingan dan
pengarahan kepada siswa agar mencapai kedewasaan masing-masing. Dalam kenyataannya, menjadi
guru tidak cukup sekadar untuk memenuhi panggilan jiwa, tetapi juga memerlukan seperangkat
keterampilan dan kemampuan khusus.
Guru adalah profesi yang terhormat. Howard M. Vollmer dan Donald L. Mills (1966)
mengatakan bahwa profesi adalah sebuah jabatan yang memerlukan kemampuan intelektual khusus,
yang diperoleh melalui kegiatan belajar dan pelatihan yang bertujuan untuk menguasai keterampilan
atau keahlian dalam melayani atau memberikan advis pada orang lain, dengan memperoleh upah
atau gaji dalam jumlah tertentu.
Guru profesional memiliki arena khusus untuk berbagi minat, tujuan, dan nilai-nilai
profesional serta kemanusiaan mereka. Dengan sikap dan sifat semacam itu, guru profesional
memiliki kemampuan melakukan profesionalisasi secara terus-menerus, memotivasi-diri,
mendisiplinkan dan meregulasi diri, mengevaluasi-diri, kesadaran-diri, mengembangkan-diri,
berempati, menjalin hubungan yang efektif. Guru profesional adalah pembelajar sejati dan
menjunjung tinggi kode etik dalam bekerja. Menurut Danim (2010) secara akademik guru profesional
bercirikan seperti berikut ini.
1. Mumpuni kemampuan profesionalnya dan siap diuji atas kemampuannya itu.
2. Memiliki kemampuan berintegrasi antarguru dan kelompok lain yang seprofesi dengan
mereka melalui kontrak dan aliansi sosial.
3. Melepaskan diri dari belenggu kekuasaan birokrasi, tanpa menghilangkan makna etika kerja dan
tata santun berhubunngan dengan atasannya.
4. Memiliki rencana dan program pribadi untuk meningkatkan kompetensi, dan gemar melibatkan
diri secara individual atau kelompok seminat untuk merangsang pertumbuhan diri.
5. Berani dan mampu memberikan masukan kepada semua pihak dalam rangka perbaikan mutu
pendidikan dan pembelajaran, termasuk dalam penyusunan kebijakan bidang pendidikan.
6. Siap bekerja secara tanpa diatur, karena sudah bisa mengatur dan mendisiplinkan dirinya.
7. Siap bekerja tanpa diseru atau diancam, karena sudah bisa memotivasi dan mengatur dirinya.

114
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

8. Secara rutin melakukan evaluasi-diri untuk mendapatkan umpan balik demi perbaikan-diri.
9. Memiliki empati yang kuat.
10. Mampu berkomunikasi secara efektif dengan siswa, kolega, komunitas sekolah, dan masyarakat.
11. Menunjung tinggi etika kerja dan kaidah-kaidah hubungan kerja.
12. Menunjung tinggi Kode Etik organisasi tempatnya bernaung.
13. Memiliki kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust), dalam makna tersebut mengakui
keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.
14. Adanya kebebasan diri dalam beraktualisasi melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan
berbagai ragam perspektif.
Dari sisi pandang lain, dapat dijelaskan bahwa suatu profesi mempunyai seperangkat elemen
inti yang membedakannya dengan pekerjaan lainnya. Seseorang penyandang profesi dapat disebut
profesional manakala elemen-elemen inti itu sudah menjadi bagian integral dari kehidupannya.
Danim (2010) merangkum beberapa hasil studi para ahli mengenai sifat-sifat atau karakteristik-
karakteristik profesi seperti berikut ini.
a. Kemampuan intelektual yang diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan dimaksud adalah
jenjang pendidikan tinggi. Termasuk dalam kerangka ini, pelatihan-pelatihan khusus yang
berkaitan dengan keilmuan yang dimiliki oleh seorang penyandang profesi.
b. Memiliki pengetahuan spesialisasi. Pengetahuan spesialisasi adalah sebuah kekhususan
penguasaan bidang keilmuan tertentu. Siapa saja bisa menjadi guru, akan tetapi guru yang
sesungguhnya memiliki spesialisasi bidang studi (subject matter) dan penguasaan metodologi
pembelajaran.
c. Memiliki pengetahuan praktis yang dapat digunakan langsung oleh orang lain atau klien.
Pengetahuan khusus itu bersifat aplikatif, dimana aplikasi didasari atas kerangka teori yang jelas
dan teruji. Makin spesialis seseorang, makin mendalam pengetahuannya di bidang itu, dan
makin akurat pula layanannya kepada klien. Dokter umum, misalnya, berbeda pengetahuan
teoritis dan pengalaman praktisnya dengan dokter spesialis. Seorang guru besar idealnya
berbeda pengetahuan teoritis dan praktisnya dibandingkan dengan dosen atau tenaga akademik
biasa.
d. Memiliki teknik kerja yang dapat dikomunikasikan atau communicable. Seorang guru harus
mampu berkomunikasi sebagai guru, dalam makna apa yang disampaikannya dapat dipahami
oleh peserta didik.
e. Memiliki kapasitas mengorganisasikan kerja secara mandiri atau self-organization. Istilah
mandiri di sini berarti kewenangan akademiknya melekat pada dirinya. Pekerjaan yang dia
lakukan dapat dikelola sendiri, tanpa bantuan orang lain, meski tidak berarti menafikan bantuan
atau mereduksi semangat kolegialitas.
f. Mementingkan kepentingan orang lain (altruism). Seorang guru harus siap memberikan layanan
kepada anak didiknya pada saat bantuan itu diperlukan, apakah di kelas, di lingkungan sekolah,
bahkan di luar sekolah. Di dunia kedokteran, seorang dokter harus siap memberikan bantuan,
baik dalam keadaan normal, emergensi, maupun kebetulan, bahkan saat dia sedang istirahat
sekalipun.
g. Memiliki kode etik. Kode etik ini merupakan norma-norma yang mengikat guru dalam bekerja.

115
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

h. Memiliki sanksi dan tanggungjawab komunita. Manakala terjadi malpraktik, seorang guru
harus siap menerima sanksi pidana, sanksi dari masyarakat, atau sanksi dari atasannya. Ketika
bekerja, guru harus memiliki tanggungjawab kepada komunita, terutama anak didiknya. Replika
tanggungjawab ini menjelma dalam bentuk disiplin mengajar, disiplin dalam melaksanakan
segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas-tugas pembelajaran.
i. Mempunyai sistem upah. Sistem upah yang dimaksudkan di sini adalah standar gaji. Di dunia
kedokteran, sistem upah dapat pula diberi makna sebagai tarif yang ditetapkan dan harus
dibayar oleh orang-orang yang menerima jasa layanan darinya.
j. Budaya profesional. Budaya profesi, bisa berupa penggunaan simbol-simbol yang berbeda
dengan simbol-simbol untuk profesi lain.

B. Definisi
Berbicara mengenai Kode Etik Guru dan etika profesi guru dengan segala dimensinya tidak terlepas
dengan dimensi organisasi atau asosiasi profesi guru dan kewenangannya, Kode Etik Gutu itu sendiri,
Dewan Kehormatan Guru, pembinaan etika profesi guru, dan lain-lain. Oleh karena itu, beberapa
frasa yang terkait dengan ini perlu didefinisikan.
1. Organisasi atau asosiasi profesi guru adalah perkumpulan yang berbadan hukum yang didirikan
dan diurus oleh guru atau penyandang profesi sejenis untuk mengembangkan profesionalitas
anggotanya.
2. Kewenangan organisasi atau asosiasi profesi guru adalah kekuatan legal yang dimilikinya dalam
menetapkan dan menegakkan kode etik guru, melakukan pembinaan dan pengembangan
profesi guru, dan memajukan pendidikan nasional.
3. Kode Etik Guru adalah norma dan asas yang disepakati dan diterima oleh guru-guru Indonesia
sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas profesi sebagai pendidik,
anggota masyarakat, dan warga negara.
4. Dewan Kehormatan Guru adalah perangkat kelengkapan organisasi atau asosiasi profesi guru
yang dibentuk untuk menjalankan tugas dalam memberikan saran, pendapat, pertimbangan,
penilaian, penegakkan, dan pelanggaran disiplin organisasi dan etika profesi guru.
5. Pedoman sikap dan perilaku adalah nilai-nilai moral yang membedakan perilaku guru yang baik
dan buruk, yang boleh dan tidak boleh dilaksanakan selama menunaikan tugas-tugas
profesionalnya untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik, serta pergaulan sehari-hari di dalam dan di luar sekolah.
6. Pembinaan etika profesi adalah proses kerja yang dilakukan secara sistematis untuk
menciptakan kondisi agar guru berbuat sesuai dengan norma-norma yang dibolehkan dan
menghindari norma-norma yang dilarang dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah,
serta menjalani kehidupan di masyarakat.

C. Guru dan Keanggotaan Organisasi Profesi


Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru wajib
menjadi anggota organisasi atau asosiasi profesi. Pembentukan organisasi atau asosiasi profesi

116
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

dimaksud dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Konsekuensi logis dari amanat
UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa guru wajib:
1. Menjadi anggota organisasi atau asosiasi profesi sesuai dengan peraturan perundang-undangan
2. Menjunjung tinggi nama dan kehormatan organisasi serta Kode Etik Guru dan Ikrar atau Janji
Guru yang ditetapkan oleh organisasi atau asosiasinya masing-masing.
3. Mematuhi Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, serta peraturan-peraturan dan disiplin
yang ditetapkan oleh organisasi atau asosiasinya masing-masing.
4. Melaksanakan program organisasi atau asosiasi profesi guru secara aktif.
5. Memiliki nomor registrasi sebagai anggota organisasi atau asosiasi profesi guru dimana dia
terdaftar sebagai anggota.
6. Memiliki Kartu Anggota organisasi atau asosiasi profesi dimana dia terdaftar sebagai anggota.
7. Mematuhi peraturan dan disiplin organisasi atau asosiasi profesi dimana dia terdaftar sebagai
anggota.
8. Melaksanakan program, tugas, serta misi organisasi atau asosiasi profesi dimana dia terdaftar
sebagai anggota.
9. Guru yang belum menjadi anggota organisasi atau asosiasi profesi guru harus memilih organisasi
atau asosiasi profesi guru yang pembentukannya sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.

D. Esensi Kode Etik dan Etika Profesi


Guru Indonesia harus menyadari bahwa jabatan guru adalah suatu profesi yang terhormat,
terlindungi, bermartabat, dan mulia. Karena itu, ketika bekerja mereka harus menjunjung tinggi etika
profesi. Mereka mengabdikan diri dan berbakti untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan
meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta
menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil,
makmur, dan beradab.
Guru Indonesia selalu tampil secara profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak
usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Mereka memiliki
kehandalan yang tinggi sebagai sumber daya utama untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional,
yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi
warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Penyandang profesu guru adalah insan yang layak ditiru dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara, khususnya oleh peserta didik. Dalam melaksankan tugas, mereka harus
berpegang teguh pada prinsip ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri
handayani. Untuk itu, pihak-pihak yang berkepentingan selayaknya tidak mengabaikan peranan
guru dan profesinya, agar bangsa dan negara dapat tumbuh sejajar dengan dengan bangsa lain di
negara maju, baik pada masa sekarang maupun masa yang akan datang.
Dalam melaksanakan tugas profesinya, guru Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa perlu
ditetapkan Kode Etik Guru Indonesia (KEGI) sebagai pedoman bersikap dan berperilaku yang
mengejewantah dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika dalam jabatan guru sebagai pendidik

117
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

putera-puteri bangsa. KEGI yang tercermin dalam tindakan nyata itulah yang disebut etika profesi
atau menjalankan profesi secara beretika.
Di Indonesia, guru dan organisasi profesi guru bertanggungjawab atas pelaksanaan KEGI. Kode
Etik harus mengintegral pada perilaku guru. Disamping itu, guru dan organisasi guru berkewajiban
mensosialisasikan Kode Etik dimaksud kepada rekan sejawat, penyelenggara pendidikan, masyarakat,
dan pemerintah. Bagi guru, Kode Etik tidak boleh dilanggar, baik sengaja maupun tidak.
Dengan demikian, sebagai tenaga profesional, guru bekerja dipandu oleh Kode Etik. Kode Etik
profesi guru dirumuskan dan disepakati oleh organisasi atau asosiasi profesi guru. Kode Etik
dimaksud merupakan standar etika kerja bagi penyandang profesi guru. Di dalam UU No. 14 Tahun
2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa Guru membentuk organisasi atau asosiasi profesi
yang bersifat independen. Organisasi atau asosiasi profesi guru berfungsi untuk memajukan profesi,
meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan, dan
pengabdian kepada masyarakat.
Sejalan dengan itu UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa
guru wajib menjadi anggota organisasi atau asosiasi profesi. Pembentukan organisasi atau asosiasi
profesi dimaksud dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pada sisi lain UU No. 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa untuk menjaga dan meningkatkan
kehormatan dan martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesian, organisasi atau asosiasi
profesi guru membentuk Kode Etik. Kode Etik dimaksud berisi norma dan etika yang mengikat
perilaku guru dalam pelaksanaan tugas keprofesian.

E. Rumusan Kode Etik Guru Indonesia


Ketika melaksanakan tugas profesinya, guru Indonesia harus menyadari sepenuhnya, bahwa Kode
Etik Guru (KEG), Kode Etik Guru Indonesia (KEGI), atau nama lain sesuai dengan yang disepakati oleh
organisasi atau asosiasi profesi guru, merupakan pedoman bersikap dan berperilaku yang
mengejewantah dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika jabatan guru. Dengan demikian, guru harus
menyadari bahwa jabatan mereka merupakan suatu profesi yang terhormat, terlindungi,
bermartabat, dan mulia. Di sinilah esensi bahwa guru harus mampu memahami, menghayati,
mengamalkan, dan menegakkan Kode Etik Guru dalam menjalankan tugas-tugas profesional dan
menjalani kehidupan di masyarakat.
Ketaatasasan guru pada Kode Etik akan mendorong mereka berperilaku sesuai dengan norma-
norma yang dibolehkan dan menghindari norma-norma yang dilarang oleh etika profesi yang
ditetapkan oleh organisasi atau asosiasi profesinya selama menjalankan tugas-tugas profesional dan
kehidupan sebagai warga negara dan anggota masyarakat. Dengan demikian, aktualisasi diri guru
dalam melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran secara profesional, bermartabat, dan
beretika akan terwujud. Dampak ikutannya adalah, proses pendidikan dan pembelajaran yang
memenuhi kriteria edukatif berjalan secara efektif dan efisien di sekolah.
Kode Etik Guru dibuat oleh organisasi atau asosiasi profesi guru. Persatuan Guru Republik
Indonesia (PGRI), misalnya, telah membuat Kode Etik Guru yang disebut dengan Kode Etik Guru
Indonesia (KEGI). KEGI ini merupakan hasil Konferensi Pusat PGRI Nomor V/Konpus II/XIX/2006
tanggal 25 Maret 2006 di Jakarta yang disahkan pada Kongres XX PGRI No. 07/Kongres/XX/PGRI/2008
tanggal 3 Juli 2008 di Palembang. KEGI ini dapat menjadi Kode Etik tunggal bagi setiap orang yang

118
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

menyandang profesi guru di Indonesia atau menjadi referensi bagi organisasi atau asosiasi profesi
guru selain PGRI untuk merumuskan Kode Etik bagi anggotanya.
KEGI versi PGRI seperti disebutkan di atas telah diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional
(sekarang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) bersama Pengurus Besar Persatuan Guru
Republik Indonesia (PB-PGRI) tahun 2008. Dalam kata pengantar penerbitan publikasi KEGI dari pihak
kementerian disebutkan bahwa semua guru di Indonesia dapat memahami, menginternalisasi, dan
menunjukkan perilaku keseharian sesuai dengan norma dan etika yang tertuang dalam KEGI ini.
Berikut ini disajikan substansi esensial dari KEGI yang ditetapkan oleh PGRI sebagaimana dimaksud.
Sangat mungkin beberapa organisasi atau asosiasi profesi guru selain PGRI telah memuat rumusan
Kode Etik Guru yang sudah disepakati. Kalau memang demikian, itu pun selayaknya menjadi acuan
guru dalam menjalankan tugas keprofesian.
1. Hubungan Guru dengan Peserta Didik
a. Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, serta mengevaluasi proses dan hasil
pembelajaran.
b. Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan hak-hak
dan kewajibannya sebagai individu, warga sekolah, dan anggota masyarakat.
c. Guru mengakui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara individual dan
masing-masingnya berhak atas layanan pembelajaran.
d. Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan menggunakannya untuk
kepentingan proses kependidikan.
e. Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus harus berusaha
menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan
sebagai lingkungan belajar yang efektif dan efisien bagi peserta didik.
f. Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih sayang dan
menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas kaidah pendidikan.
g. Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gangguan yang dapat
mempengaruhi perkembangan negatif bagi peserta didik.
h. Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk membantu peserta
didik dalam mengembangkan keseluruhan kepribadiannya, termasuk kemampuannya
untuk berkarya.
i. Guru menjunjung tinggi harga diri, integritas, dan tidak sekali-kali merendahkan martabat
peserta didiknya.
j. Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara adil.
k. Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak
peserta didiknya.
l. Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh perhatian bagi
pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.

119
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

m. Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya dari kondisi-
kondisi yang menghambat proses belajar, menimbulkan gangguan kesehatan, dan
keamanan.
n. Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi peserta didiknya untuk alasan-alasan yang tidak
ada kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum, kesehatan, dan kemanusiaan.
o. Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesionalnya kepada peserta
didik dengan cara-cara yang melanggar norma sosial, kebudayaan, moral, dan agama.
p. Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesional dengan peserta
didiknya untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.
2. Hubungan Guru dengan Orangtua/Wali Siswa
a. Guru berusaha membina hubungan kerjasama yang efektif dan efisien dengan orangtua/wali
siswa dalam melaksanakan proses pendidikan.
b. Guru memberikan informasi kepada orangtua/wali secara jujur dan objektif mengenai
perkembangan peserta didik.
c. Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang bukan
orangtua/walinya.
d. Guru memotivasi orangtua/wali siswa untuk beradaptasi dan berpartisipasi dalam
memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan.
e. Guru bekomunikasi secara baik dengan orangtua/wali siswa mengenai kondisi dan kemajuan
peserta didik dan proses kependidikan pada umumnya.
f. Guru menjunjung tinggi hak orangtua/wali siswa untuk berkonsultasi denganya berkaitan
dengan kesejahteraan, kemajuan, dan cita-cita anak atau anak-anak akan pendidikan.
g. Guru tidak boleh melakukan hubungan dan tindakan profesional dengan orangtua/wali siswa
untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.
3. Hubungan Guru dengan Masyarakat
a. Guru menjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis, efektif, dan efisien dengan
masyarakat untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan.
b. Guru mengakomodasikan aspirasi masyarakat dalam mengembangkan dan meningkatkan
kualitas pendidikan dan pembelajaran.
c. Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.
d. Guru bekerjasama secara arif dengan masyarakat untuk meningkatkan prestise dan martabat
profesinya.
e. Guru melakukan semua usaha untuk secara bersama-sama dengan masyarakat berperan
aktif dalam pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan peserta didiknya.
f. Guru mememberikan pandangan profesional, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, hukum,
moral, dan kemanusiaan dalam berhubungan dengan masyarakat.
g. Guru tidak boleh membocorkan rahasia sejawat dan peserta didiknya kepada masyarakat.

120
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

h. Guru tidak boleh menampilkan diri secara ekslusif dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Hubungan Guru dengan Sekolah dan Rekan Sejawat
a. Guru memelihara dan meningkatkan kinerja, prestasi, dan reputasi sekolah.
b. Guru memotivasi diri dan rekan sejawat secara aktif dan kreatif dalam melaksanakan proses
pendidikan.
c. Guru menciptakan suasana sekolah yang kondusif.
d. Guru menciptakan suasana kekeluargaan di didalam dan luar sekolah.
e. Guru menghormati rekan sejawat.
f. Guru saling membimbing antarsesama rekan sejawat.
g. Guru menjunjung tinggi martabat profesionalisme dan hubungan kesejawatan dengan
standar dan kearifan profesional.
h. Guru dengan berbagai cara harus membantu rekan-rekan juniornya untuk tumbuh secara
profesional dan memilih jenis pelatihan yang relevan dengan tuntutan profesionalitasnya.
i. Guru menerima otoritas kolega seniornya untuk mengekspresikan pendapat-pendapat
profesional berkaitan dengan tugas-tugas pendidikan dan pembelajaran.
j. Guru membasiskan-diri pada nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan dalam setiap
tindakan profesional dengan sejawat.
k. Guru memiliki beban moral untuk bersama-sama dengan sejawat meningkatkan keefektifan
pribadi sebagai guru dalam menjalankan tugas-tugas profesional pendidikan dan
pembelajaran.
l. Guru mengoreksi tindakan-tindakan sejawat yang menyimpang dari kaidah-kaidah agama,
moral, kemanusiaan, dan martabat profesionalnya.
m. Guru tidak boleh mengeluarkan pernyataan-pernyataan keliru berkaitan dengan kualifikasi
dan kompetensi sejawat atau calon sejawat.
n. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan merendahkan
marabat pribadi dan profesional sejawatnya.
o. Guru tidak boleh mengoreksi tindakan-tindakan profesional sejawatnya atas dasar pendapat
siswa atau masyarakat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
p. Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi sejawat kecuali untuk pertimbangan-
pertimbangan yang dapat dilegalkan secara hukum.
q. Guru tidak boleh menciptakan kondisi atau bertindak yang langsung atau tidak langsung akan
memunculkan konflik dengan sejawat.
5. Hubungan Guru dengan Profesi
a. Guru menjunjung tinggi jabatan guru sebagai sebuah profesi.
b. Guru berusaha mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu pendidikan dan bidang studi
yang diajarkan.

121
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

c. Guru terus menerus meningkatkan kompetensinya.


d. Guru menunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas
profesional dan bertanggungjawab atas konsekuensinya.
e. Guru menerima tugas-tugas sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif individual, dan
integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya.
f. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan merendahkan
martabat profesionalnya.
g. Guru tidak boleh menerima janji, pemberian, dan pujian yang dapat mempengaruhi
keputusan atau tindakan-tindakan profesionalnya.
h. Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dengan maksud menghindari tugas-tugas dan
tanggungjawab yang muncul akibat kebijakan baru di bidang pendidikan dan pembelajaran.
6. Hubungan Guru dengan Organisasi Profesi
a. Guru menjadi anggota organisasi profesi guru dan berperan serta secara aktif dalam
melaksanakan program-program organisasi bagi kepentingan kependidikan.
b. Guru memantapkan dan memajukan organisasi profesi guru yang memberikan manfaat bagi
kepentingan kependidikan.
c. Guru aktif mengembangkan organisasi profesi guru agar menjadi pusat informasi dan
komunikasi pendidikan untuk kepentingan guru dan masyarakat.
d. Guru menunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas
organisasi profesi dan bertanggungjawab atas konsekuensinya.
e. Guru menerima tugas-tugas organisasi profesi sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif
individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya.
f. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang dapat merendahkan
martabat dan eksistensi organisasi profesinya.
g. Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dan bersaksi palsu untuk memperoleh keuntungan
pribadi dari organisasi profesinya.
h. Guru tidak boleh menyatakan keluar dari keanggotaan sebagai organisasi profesi tanpa
alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
7. Hubungan Guru dengan Pemerintah
a. Guru memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan program pembangunan bidang
pendidikan sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, UU Tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen, dan ketentuan perundang-undangan
lainnya.
b. Guru membantu program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan yang berbudaya.
c. Guru berusaha menciptakan, memelihara dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
d. Guru tidak boleh menghindari kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah atau satuan
pendidikan untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran.

122
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

e. Guru tidak boleh melakukan tindakan pribadi atau kedinasan yang berakibat pada kerugian
negara.

F. Pelanggaran dan Sanksi


Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Kode Etik Guru merupakan pedoman sikap dan perilaku yang
bertujuan menempatkan guru sebagai profesi terhormat, mulia, dan bermartabat yang dilindungi
undang-undang. Kode Etik Guru, karenanya, berfungsi sebagai seperangkat prinsip dan norma moral
yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungannya dengan peserta
didik, orangtua/wali siswa, sekolah dan rekan seprofesi, organisasi atau asosiasi profesi, dan
pemerintah sesuai dengan nilai-nilai agama, pendidikan, sosial, etika, dan kemanusiaan. Untuk
tujuan itu, Kode Eik Guru dikembangkan atas dasar nilai-nilai dasar sebagai sumber utamanya, yaitu:
(1) agama dan Pancasila; (2) kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional; dan (3)
nilai jatidiri, harkat, dan martabat manusia yang meliputi perkembangan kesehatan jasmaniah.
emosional, intelektual, sosial, dan spiritual.
Pada sisi lain UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa untuk
menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesian,
organisasi atau asosiasi profesi guru membentuk Kode Etik. Kode Etik dimaksud berisi norma dan
etika yang mengikat perilaku guru dalam pelaksanaan tugas keprofesian.
Setiap pelanggaran adalah perilaku menyimpang dan/atau tidak melaksanakana KEGI dan
ketentuan perundangan yang berlaku yang berkaitan dengan profesi guru. Guru yang melanggar KEGI
dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku pada organisasi profesi atau
menurut aturan negara.
Tentu saja, guru tidak secara serta-merta dapai disanksi karena tudingan melanggar Kode Etik
profesinya. Pemberian sanksi itu berdasarkan atas rekomendasi objektif. Pemberian rekomendasi
sanksi terhadap guru yang melakukan pelanggaran terhadap KEGI merupakan wewenang Dewan
Kehormatan Guru Indonesia (DKGI). Pemberian sanksi oleh DKGI sebagaimana harus objektif, tidak
diskriminatif, dan tidak bertentangan dengan anggaran dasar organisasi profesi serta peraturan
perundang-undangan.
Rekomendasi DKGI wajib dilaksanakan oleh organisasi profesi guru. Tentu saja, istilah wajib ini
normatif sifatnya. Sanksi dimaksud merupakan upaya pembinaan kepada guru yang melakukan
pelanggaran dan untuk menjaga harkat dan martabat profesi guru. Selain itu, siapapun yang
mengetahui telah terjadi pelanggaran KEGI wajib melapor kepada DKGI, organisasi profesi guru, atau
pejabat yang berwenang. Tentu saja, setiap pelanggar dapat melakukan pembelaan diri dengan/atau
tanpa bantuan organisasi profesi guru dan/atau penasehat hukum menurut jenis pelanggaran yang
dilakukan dihadapan DKGI.

123
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Latihan dan Renungan


1. Apa esensi etika profesi guru?
2. Sebutkan karakteristik utama profesi guru!
3. Mengapa guru harus memiliki komitmen terhadap Kode Etik?
4. Mengapa UU No. 14 Tahun 2005 mewajibkan guru menjadi anggota organisasi profesi?
5. Apa implikasi kewajiban menjadi anggota organisasi profesi bagi guru?
6. Apa peran DKGI dalam kerangka penegakan Kode Etik Guru?

124
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

REFLEKSI AKHIR

Materi sajian pada bagian ini berupa refleksi akhir Sajian materi ini
dimaksudkan sebagai penutup dan refleksi atas materi utama yang
disajikan pada bab-bab sebelumnya. Oleh karena kebijakan pembinaan
dan pengembangan guru senantiasa bermetamorfosis, peserta PLPG yang
sudah dinyatakan lulus sekalipun diharapkan tetap mengikuti
perkembangan kebijakan lanjutan.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta


peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Aktualitas
fungsi pendidikan memungkinkan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Guru memegang peranan yang sangat strategis dalam kerangka menjalankan fungsi dan
mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana disebutkan di atas. Peserta didik sekarang
merupakan manusia masa depan yang diharapkan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, terampil,
berwatak dan berkarakter kebangsaan, serta menjadi insan agamais.
Peran guru nyaris tidak bisa digantikan oleh yang lain, apalagi di dalam masyarakat yang
multikultural dan multidimensional, dimana peran teknologi untuk menggantikan tugas-tugas guru
masih sangat minim. Kalau pun teknologi pembelajaran tersedia mencukupi, peran guru yang
sesungguhnya tidak akan tergantikan. Sejarah pendidikan di Indonesia telah mencatatkan bahwa
profesi guru sebagai profesi yang disadari pentingnya dan diakui peran strategisnya bagi
pembangunan masa depan bangsa.
Pembinaan dan pengembangan profesi guru harus sejalan dengan kegiatan sejenis bagi tenaga
kependidikan pada umumnya. Dilihat dari sisi UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, profesi guru sesungguhnya termasuk dalam spektrum profesi kependidikan itu sendiri.
Frasa tenaga kependidikan ini sangat dikenal baik secara akademik maupun regulasi.
Dari persepektif ketenagaan, frasa ini mencakup dua ranah, yaitu pendidik dan tenaga
kependidkan. Pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) merupakan dua jenis profesi atau pekerjaan
yang saling mengisi. Pendidik, dalam hal ini guru, dengan derajat profesionalitas tingkat tinggi sekali
pun nyaris tidak berdaya dalam bekerja, tanpa dukungan tenaga kependidikan. Sebaliknya, tenaga
kependidikan yang profesional sekali pun tidak bisa berbuat banyak, tanpa dukungan pendidik atau
guru yang profesional sebagai aktor langsung di dalam dan di luar kelas, termasuk di laboratoium
sekolah.
Karenanya, ketika berbicara mengenai profesi kependidikan, semua orang akan melirik pada
esensi dan eksistensi PTK itu sendiri. Merujuk pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Tenaga
kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang
penyelenggaraan pendidikan, di mana di dalamnya termasuk pendidik. Pendidik adalah tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor,
instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam

125
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

menyelenggarakan pendidikan. Dengan lahirnya UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
guru yang tadinya masuk ke dalam rumpun pendidik, kini telah memiliki definisi tersendiri.
Secara lebih luas tenaga kependidikan yang dimaksudkan di sini adalah sebagaimana
termaktub UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, yaitu: (1) tenaga kependidikan terdiri atas
tenaga pendidik, pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti dan pengembang di bidang
pendidikan, pustakawan, laboran, teknisi sumber belajar, dan penguji; (2) tenaga pendidik terdiri atas
pembimbing, pengajar, dan pelatih; dan (3) pengelola satuan pendidikan terdiri atas kepala sekolah,
direktur, ketua, rektor, dan pimpinan satuan pendidikan luar sekolah. Termasuk dalam jenis tenaga
kependidikan adalah pengelola sistem pendidikan, seperti kepala kantor dinas pendidikan di tingkat
provinsi atau kabupaten/kota. Jika mau diperluas, tenaga kependidikan sesungguhnya termasuk
tenaga administratif bidang pendidikan, dimana mereka berfungsi sebagai subjek yang menjalankan
fungsi mendukung pelaksanaan pendidikan.
Dengan demikian, secara umum tenaga kependidikan itu dapat dibedakan menjadi empat
kategori yaitu: (1) tenaga pendidik, terdiri atas pembimbing, penguji, pengajar, dan pelatih; (2)
tenaga fungsional kependidikan, terdiri atas penilik, pengawas, peneliti dan pengembang di bidang
kependidikan, dan pustakawan; (3) tenaga teknis kependidikan, terdiri atas laboran dan teknisi
sumber belajar; (4) tenaga pengelola satuan pendidikan, terdiri atas kepala sekolah, direktur, ketua,
rektor, dan pimpinan satuan pendidikan luar sekolah; dan (5) tenaga lain yang mengurusi masalah-
masalah manajerial atau administratif kependidikan.
Dalam kaitannya dengan pembinaan dan pengembangan guru, telah muncul beberapa
harapan ke depan. Pertama, perhitungan guru melalui Sensus Data Guru sangat diperlukan
untuk merencanakan kebutuhan guru dan sebagai bahan pertimbangan kebijakan proyeksi
pemenuhan guru di masa mendatang. Hasil perhitungan dan rencana pemenuhan guru per
kabupaten/kota perlu diterbitkan secara berkala dalam bentuk buku yang dipublikasikan minimal
setiap tiga tahun.
Kedua, memperhitungkan keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan (supply and
demand) atau keseimbangan antara kebutuhan guru dan produksi guru. Hal ini dimaksudkan agar
tidak terjadi kelebihan guru dan rasio guru:murid dapat di pertahankan secara efektif dan optimal.
Pada kondisi riil di sekolah sebenarnya terjadi kelebihan guru sehingga guru-guru honor yang ada di
sekolah merasa teraniaya/ termarjinalisasi/tak terurus.
Ketiga, merealisasikan pemerataan guru yang efektif dan efisien di semua satuan pendidikan
di kecamatan, kabupaten/kota, dan provinsi. Apalagi jika Surat Keputusan Bersama (SKB) 5 Menteri
tentang Pemindahan Guru PNS yang masih dalam proses penyelesaian telah terbit, maka
berangsur-angsur akan terjadi pemerataan guru. Guru yang berlebih di satu kabupaten/kota
dipindahkan ke kabupaten/kota lainnya yang kekurangan. Keempat, menghitung dengan tepat dan
cermat kebutuhan fiskal negara terkait dengan agenda kesejahteraan guru yaitu pemberian
tunjangan profesi guru, tunjangnan khusus, maslahat tambahan, dan lain-lain.
Kelima, pengembangan karier guru pascasertifikasi. Berdasarkan Permenneg PAN dan RB
Nomor 16 Tahun 2009, ada empat aktivitas pengembangan karir guru pascasertifikasi guru, yaitu:
penilaian kinerja guru, peningkatan guru berkinerja rendah, pengembangan keprofesian guru
berkelanjutan, dan pengembangan karier guru.

126
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

Pada sisi lain, akhir-akhir ini makin kuat dorongan untuk melakukan kaji ulang atas sistem
pengelolaan guru, terutama berkaitan dengan penyediaan, rekruitmen, pengangkatan dan
penempatan, sistem distribusi, sertifikasi, peningkatan kualifikasi, penilaian kinerja, uji kompetensi,
penghargaan dan perlindungan, kesejahteraan, pembinaan karir, pengembangan keprofesian
berkelanjutan, serta pengelolaan guru di daerah khusus yang relevan dengan tuntutan kekinian dan
masa depan. Untuk tujuan itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyusun masterplan
pembinaan dan pengembangan profesi guru. Beranjak dari isu-isu di atas, beberapa hal berikut ini
memerlukan perhatian dan priotitas utama.
1. Menindaklanjuti masterplan pembinaan dan pengembangan profesi guru.
2. Melaksanakan kesepakatan implementasi sistem manajemen guru secara komprehensif
berkaitan dengan:
a. Melakukan koordinasi dalam penyediaan guru dengan mempertimbangkan kebutuhan
satuan pendidikan.
b. Merekrut guru berdasarkan asesmen kebutuhan dan standar kompetensi yang telah
ditetapkan.
c. Mengangkat dan menempatkan guru berdasarkan kualifikasi akademik dan bidang
keahlian yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan.
d. Menata dan mendistribusikan guru antarsatuan, antarjenjang, dan antarjenis pendidikan
sebagai bagian dari kebijakan penataan guru secara nasional melalui aspek pendanaan
bidang pendidikan.
e. Memfasilitasi sertifikasi guru dengan menerapkan asas obyektifitas, transparan dan
akuntabel.
f. Memfasilitasi peningkatan kualifikasi akademik guru dengan menerapkan asas
obyektifitas, transparan dan akuntabel
g. Menerapkan sistem penilaian kinerja guru secara berkelanjutan sesuai dengan standar
yang ditetapkan.
h. Memberikan penghargaan bagi guru sesuai dengan prestasi dan dedikasinya dan
memberikan perlindungan hukum, profesi, ketenagakerjaan, dan hak atas kekayaan
intektual.
i. Meningkatkan kesejahteraan guru sesuai dengan kemampuan daerah.
j. Memfasilitasi pembinaan dan pengembangan keprofesian dan karir guru.
3. Menindaklanjuti regulasi mengenai guru kedalam peraturan daerah/peraturan gubernur/
peraturan bupati/peraturan walikota
Manajemen guru masa depan menuntut pertimbangan dan perumusan kebijakan yang
sistemik dan sistematik. Manajemen guru sebagaimana dimaksud terutama berkaitan dengan
penyediaan, rekruitmen, pengangkatan dan penempatan, sistem distribusi, sertifikasi, peningkatan
kualifikasi, penilaian kinerja, uji kompetensi, penghargaan dan perlindungan, kesejahteraan,
pembinaan karir, pengembangan keprofesian berkelanjutan, serta pengelolaan guru di daerah
khusus yang relevan dengan tuntutan kekinian dan masa depan.
Dalam kaitannya dengan substansi manajemen guru sebagaimana dijelaskan di muka,
beberapa hal perlu diberi catatan khusus. Perlu ditetapkan standar mahasiswa calon guru. Standar
dimaksud berupa kemampuan intelektual, kepribadian, minat, bakat, ciri-ciri fisik, dan sebagainya.
Penentuan standar ini ditetapkan oleh institusi penyedia calon guru dan/atau difilter melalui seleksi

127
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

calon peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dengan demikian, ke depan hanya seseorang dengan
karakteristik tertentulah yang akan direkruit sebagai calon guru.
Perencanaan kebutuhan guru harus dilakukan secara cermat dan komprehensif, sesuai dengan
karakteristik satuan pendidikan, bidang keahlian, dan sebaran sekolah. Dalam kaitannya dengan
rekruitmen calon guru, sudah seharusnya menjadi kebijakan nasional yang tersentralisasi. Demikian
juga pembinaan dan pengembangan keprofesian dan karirnya. Atas dasar itu, kiranya diperlukan
regulasi baru atau merevitalisasi manajemen guru yang mampu mensinergikan lembaga penyedia,
pengguna, dan pemberdayaannya.
Pada tataran menjalankan tugas keprofesian keseharian, guru Indonesia bertanggungjawab
mengantarkan peserta didiknya untuk mencapai kedewasaan sebagai calon pemimpin bangsa pada
semua bidang kehidupan. Dalam melaksanakan tugas profesinya itu, guru Indonesia mestinya
menyadari sepenuhnya bahwa perlu ditetapkan KEGI sebagai pedoman bersikap dan berperilaku
yang mengejewantah dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika dalam jabatan guru sebagai pendidik
putera-puteri bangsa.
Untuk menegakkan Kode Etik itu, organisasi profesi guru membentuk Dewan kehormatan yang
keanggotaan serta mekanisme kerjanya diatur dalam anggaran dasar organisasi profesi guru. Dewan
Kehormatan Guru (DKG) dimaksud dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan kode etik guru dan
memberikan rekomendasi pemberian sanksi atas pelanggaran kode etik oleh guru. Rekomendasi
dewan kehormatan profesi guru harus objektif, tidak diskriminatif, dan tidak bertentangan dengan
anggaran dasar organisasi profesi serta peraturan perundang-undangan.

128
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru Badan PSDMPK-PMP

ACUAN

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009
tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Pendidikan Nasional.

Peraturan Bersama Mendiknas, Menneg PAN dan RB, Mendagri, Menkeu, dan Menag tentang
Penataan dan Pemerataan Guru Pegawai Negeri Sipil, tanggal 3 Oktober 2011

Peoduk hukum yang berkaitan dengan Penilaian Kinerja, Pengembangan Keprofesian Guru
Berkelanjutan, Sertifikasi Guru, dan Uji Kompetensi Guru

Sudarwan Danim, Profesionalisasi dan Kode Etik Guru, Bandung, Alfabeta, Bandung, 2010

Sudarwan Danim, Pengembangan Profesi Guru: Dari Induksi ke Profesional Madani, Media
Perhalindo, Jakarta, 2011.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Vollmer dan Mills, Professionalization, Jossey Bass, New York, 1982

129
KURIKULUM
2013
16/08/2013

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Kurikulum 2013

Penyegaran Instruktur PLPG untuk Implementasi Kurikulum 2013

RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013

1
16/08/2013

Tantangan Internal
1. Reformasi Pendidikan Mengacu Pada 8 Standar

Kurikulum 2013

Sedang Dikerjakan

Telah dan terus


Dikerjakan

-Peningkatan Kualifikasi &


Sertifikasi
-Pembayaran Tunjangan
Sertifikasi
-Uji Kompetensi dan
Pengukuran Kinerja

-Rehab Gedung Sekolah


-BOS
-Penyediaan Lab dan
-Bantuan Siswa Miskin Manajemen Berbasis Sekolah
Perpustakaan
-BOPTN/Bidik Misi (di PT)
-Penyediaan Buku 3

2. Pertumbuhan Penduduk Usia Produktif


Bonus Demografi Sebagai Modal
"Bonus Demografi" 100 tahun kemerdekaan
Indonesia 2045

Modal
Kompeten -Kurikulum
SDM Pembangunan - PTK
8 SNP

Usia Produktif Transformasi Melalui Pendidikan -Sarpras


Melimpah -Pendanaan
Tidak Kompeten
Beban -Pengelolaan
Pembangunan 4

2
16/08/2013

Tantangan Eksternal
Tantangan Masa Depan Kompetensi Masa Depan
Globalisasi: WTO, ASEAN Community, APEC, CAFTA Kemampuan berkomunikasi
Masalah lingkungan hidup Kemampuan berpikir jernih dan kritis
Kemajuan teknologi informasi Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu
Konvergensi ilmu dan teknologi permasalahan
Ekonomi berbasis pengetahuan Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab
Kebangkitan industri kreatif dan budaya Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap
Pergeseran kekuatan ekonomi dunia pandangan yang berbeda
Pengaruh dan imbas teknosains Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal
Mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan Memiliki minat luas dalam kehidupan
Materi TIMSS dan PISA Memiliki kesiapan untuk bekerja
Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya
Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan
Persepsi Masyarakat
Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif
Beban siswa terlalu berat Fenomena Negatif yang Mengemuka
Kurang bermuatan karakter
Perkelahian pelajar
Narkoba
Perkembangan Pengetahuan dan Pedagogi
Korupsi
Plagiarisme
Neurologi Kecurangan dalam Ujian (Contek, Kerpek..)
Psikologi Gejolak masyarakat (social unrest)
Observation based [discovery] learning dan
5
Collaborative learning

Refleksi dari Hasil PISA 2009


100% 100%
90% 90%
80% 80%
70% 70%
60% 60% Level 6
50% 50% Level 5
40% 40%
30% Level 4
30%
20% 20% Level 3
10% Matematika IPA
10%
0% 0% Level 2
Level 1
Below Level 1

100% Level 6
90%
80%
70% Level 5 Hampir semua siswa Indonesia hanya
60%
50% menguasai pelajaran sampai level 3 saja,
40% Level 4
30% sementara negara lain banyak yang sampai level
20%
10% Bahasa Level 3 4, 5, bahkan 6. Dengan keyakinan bahwa semua
0%
manusia diciptakan sama, interpretasi dari hasil
Level 2
ini hanya satu, yaitu: yang kita ajarkan berbeda
Level 1b dengan tuntutan zaman penyesuaian
Level 1a
kurikulum
6

3
16/08/2013

Results of Mathematics (8th Grade)


2007 2011
Very Low Low Intermediate High Advance Very Low Low Intermediate High Advance
100% 100%
90% 90%
80% 80%
70% 70%
60% 60%
50% 50%
40% 40%
30% 30%
20% 20%
10% 10%
0% 0%
Singapore

Singapore
Morocco

Morocco
Japan

Turkey

Thailand

Japan

Turkey

Thailand
Korea, Rep. of

Malaysia

Saudi Arabia

Korea, Rep. of

Malaysia

Saudi Arabia
Iran

Iran
Indonesia

Indonesia
Chinese Taipei

Chinese Taipei
Lebih dari 95% siswa Indonesia hanya mampu sampai level menengah, sementara hampir 50%
siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Dengan keyakinan bahwa semua
anak dilahirkan sama, kesimpulan dari hasil ini adalah yang diajarkan di Indonesia berbeda
dengan yang diujikan [yang distandarkan] internasional

Results of Science(8th Grade)


2007 2011
Very Low Low Intermediate High Advance Very Low Low Intermediate High Advance
100% 100%
90% 90%
80% 80%
70% 70%
60% 60%
50% 50%
40% 40%
30% 30%
20% 20%
10% 10%
0% 0%
Singapore

Singapore
Morocco

Morocco
Japan

Iran

Iran
Turkey

Japan

Turkey
Korea, Rep. of

Korea, Rep. of
Chinese Taipei

Chinese Taipei
Thailand

Thailand
Malaysia

Malaysia
Indonesia

Indonesia
Saudi Arabia

Saudi Arabia

Lebih dari 95% siswa Indonesia hanya mampu sampai level menengah, sementara hampir 40%
siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Dengan keyakinan bahwa semua
anak dilahirkan sama, kesimpulan dari hasil ini adalah yang diajarkan di Indonesia berbeda
dengan yang diujikan [yang distandarkan] internasional

4
16/08/2013

Results of Reading (4th Grade)


2006 2011
Very Low Low Intermediate High Advance Very Low Low Intermediate High Advance
100% 100%
90% 90%
80% 80%
70% 70%
60% 60%
50% 50%
40% 40%
30% 30%
20% 20%
10% 10%
0% 0%
Singapore

Singapore
Iran

Iran

Saudi Arabia
Chinese Taipei

Chinese Taipei
Indonesia

Indonesia
Morocco

Morocco
Lebih dari 95% siswa Indonesia hanya mampu sampai level menengah, sementara lebih dari
50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Dengan keyakinan bahwa
semua anak dilahirkan sama, kesimpulan dari hasil ini adalah yang diajarkan di Indonesia
berbeda dengan yang diujikan [yang distandarkan] internasional

Model Soal TIMSS

TIMSS dan PIRLS membagi soal-soalnya menjadi empat


katagori:
Low mengukur kemampuan sampai level knowing
Intermediate mengukur kemampuan sampai level applying
High mengukur kemampuan sampai level reasoning
Advance mengukur kemampuan sampai level reasoning with
incomplete information

10

5
16/08/2013

Perbandingan Kurikulum IPA SMP Kelas VIII dan Materi TIMSS


Domain Topics
Biology 1. Major organs and organ systems in humans and other organisms
2. Cells and their functions, including respiration and photosynthesis as cellular process
3. Reproduction and heredity
4. Role of variation & adaptation in survival/extinction of species in a changing environ.
5. Interdependence of populations of organisms in an ecosystem
6. Reasons for increase in worlds human population and its effects on the environment
7. Human health (infection, prevention, immunity) and the importance of diet & exercise
Chemistry 1. Classification, composition, and particulate structure of matter (inside atom)
2. Solutions (solvent, solute, concentration/dilution, effect of temperature on solubility)
3. Properties and uses of common acids and bases
4. Chemical change (transformation, conservation, oxidation)
Physics 1. Physical states and changes in matter
2. Energy forms, transformations, heat, and temperature
3. Basic properties/behaviors of light and sound
4. Electric circuits and properties and uses of permanent magnets and electromagnets
5. Forces and motion (forces, basic description of motion, effects of density & pressure)
Earth 1. Earths structure and physical features
Merah: Belum Diajarkan di Kelas VIII
2. Earths processes, cycles, and history
Science
3. Earths resources, their use, and conservation
4. Earth in the solar system and the universe
Ada beberapa topik yang sebenarnya diajarkan di kelas IX, sehingga belum semua diajarkan pada
siswa SMP Kelas VIII yang mengikuti TIMSS 11

Perbandingan Kurikulum Matematika SMP Kelas VIII dan Materi TIMSS


Domain Topics
Number 1. Computing, estimating, or approximating with whole numbers
2. Concepts of fractions and computing with fractions
3. Concepts of decimals and computing with decimals
4. Representing, comparing, ordering, and computing with integers
5. Problem solving involving percents and proportions
Algebra 1. Numeric, algebraic, and geometric patterns or sequences
2. Simplifying and evaluating algebraic expressions
3. Simple linear equations and inequalities
4. Simultaneous (two variables equations) Merah: Belum Diajarkan di Kelas VIII
5. Representation of functions as ordered pairs, tables, graphs, words, or equations
Geometry 1. Geometric properties of angles and geometric shapes
2. Congruent figures and similar triangles
3. Relationship between three-dimensional shapes and their two-dimensional represent.
4. Using appropriate measurement formulas for perimeters, circumferences, areas, surface
areas, and volumes
5. Points on the Cartesian plane
6. Translation, reflection, and rotation
Data & 1. Reading and displaying data using tables, pictographs, bar, pie, and line graphs
2. Interpreting data sets
Chances
3. Judging, predicting, and determining the chances of possible outcomes
Ada beberapa topik yang tidak terdapat pada kurikulum saat ini, sehingga menyulitkan bagi siswa
kelas VIII yang mengikuti TIMSS 12

6
16/08/2013

Perbandingan Kurikulum Matematika SD Kelas IV dan Materi TIMSS


Domain Topics
Number 1. Concepts of whole numbers, including place value and ordering
2. Adding, subtracting, multiplying, and/or dividing with whole numbers
3. Concepts of fractions
4. Adding and subtracting with fractions
5. Concepts of decimals, including place value and ordering
6. Adding and subtracting with decimals
7. Number sentences Merah: Belum Diajarkan di Kelas IV
8. Number patterns
Geometry 1. Lines: measuring, estimating length of; parallel and perpendicular lines
2. Comparing and drawing angles
Shapes and
3. Using informal coordinate systems to locate points in a plane
Measu- 4. Elementary properties of common geometric shapes
rement 5. Reflections and rotations
6. Relationships between two-dimensional and three-dimensional shapes
7. Finding and estimating areas, perimeters, and volumes
Data 1. Reading data from tables, pictographs, bar graphs, or pie charts
2. Drawing conclusions from data displays
Display
3. Displaying data using tables, pictographs, and bar graphs

Ada beberapa topik yang tidak terdapat pada kurikulum saat ini, sehingga menyulitkan bagi siswa
kelas VIII yang mengikuti TIMSS
13

Dinamika Kurikulum

Pedagogi, Psikologi

Perkembangan Perubahan SDM yang


Kebutuhan Kompeten
Pengembangan
Kurikulum

Akademik Pengetahuan Pengetahuan

Industri Keterampilan Keterampilan

Sosial-Budaya Sikap Sikap

14

7
16/08/2013

Kerangka Kompetensi Abad 21


Sumber: 21st Century Skills, Education, Competitiveness. Partnership for 21st Century, 2008
Kehidupan dan Karir Pembelajaran dan Inovasi Informasi, Media and
Fleksibel dan adaptif Kreatif dan inovasi Teknologi
Berinisiatif dan mandiri Berfikir kritis menyelesaikan masalah Melek informasi
Keterampilan sosial dan budaya Komunikasi dan kolaborasi Melek Media
Produktif dan akuntabel Melek TIK
Kepemimpinan&tanggung jawab

Kerangka ini menunjukkan bahwa


berpengetahuan [melalui core
subjects] saja tidak cukup, harus
dilengkapi:
-Berkemampuan kreatif - kritis
-Berkarakter kuat [bertanggung
jawab, sosial, toleran, produktif,
adaptif,...]
Disamping itu didukung dengan
kemampuan memanfaatkan
informasi dan berkomunikasi
Partnership: Perusahaan, Asosiasi Pendidikan, Yayasan,... 15

Kerangka Kompetensi Abad 21


Sumber: 21st Century Skills, Education, Competitiveness. Partnership for 21st Century, 2008
Mendukung Keseimbangan
Perlunya mempersiapkan proses penilaian yang tidak
penilaian: tes standar serta
penilaian normatif dan sumatif hanya tes saja, tetapi dilengkapi dengan penilaian lain
Menekankan pada pemanfaatan termasuk portofolio siswa. Disamping itu dierlukan
umpan balik berdasarkan kinerja dukungan lingkungan pendidikan yang memadai
peserta didik
Membolehkan pengembangan
portofolio siswa

Menciptakan latihan pembelajaran,


dukungan SDM dan infrastruktur
Memungkinkan pendidik untuk
berkolaborasi, berbagi pengalaman
dan integrasinya di kelas
Memungkinkan peserta didik untuk
belajar yang relevan dengan konteks
dunia
Mendukung perluasan keterlibatan
komunitas dalam pembelajaran,
baik langsung maupun online
16

8
16/08/2013

Pergeseran Paradigma Belajar Abad 21


Ciri Abad 21 Model Pembelajaran
Pembelajaran diarahkan untuk mendorong
Informasi peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber
(tersedia dimana saja, kapan saja) observasi, bukan diberi tahu

Pembelajaran diarahkan untuk mampu


Komputasi merumuskan masalah [menanya], bukan hanya
(lebih cepat memakai mesin) menyelesaikan masalah [menjawab]

Pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir


Otomasi analitis [pengambilan keputusan] bukan berfikir
(menjangkau segala pekerjaan rutin) mekanistis [rutin]

Pembelajaran menekankan pentingnya


Komunikasi kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan
(dari mana saja, ke mana saja) masalah

17

Pergeseran Pengertian tentang Kreativitas


Banyak penelitian menunjukkan bahwa kreativitas dapat dipelajari dan dapat diterapkan dimana saja,
sehingga pendidikan harus diarahkan pada penguatan keterampilan kreatif

Pemahaman Lama Pemahaman Baru


Terbatas untuk seni Untuk semua mata pelajaran
Murni bakat Keterampilan yang dapat dipelajari
Originalitas Originalitas dan nilai (asas manfaat)
Tidak perlu pengetahuan pendukung Pengetahuan lapangan sangat
diperlukan
Terobosan besar Keterampilan berfikir (kontribusi
dalam pengembangan)
Free play (bebas) dan discovery Stimulation play (terarah) dan
discovery

Anuscha Ferrari et al. 2009. Innovation and Creativity in Education and Training 18

9
16/08/2013

Proses Pembelajaran yang Mendukung Kreativitas


Dyers, J.H. et al [2011], Innovators DNA, Harvard Business Review:
2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui
pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik.
Kebalikannya berlaku untuk kemampuan intelijensia yaitu: 1/3 dari
pendidikan, 2/3 sisanya dari genetik.
Pembelajaran berbasis
Kemampuan kreativitas diperoleh melalui: intelejensia tidak akan
- Observing [mengamati] memberikan hasil siginifikan
- Questioning [menanya] (hanya peningkatan 50%)
- Associating [menalar] Personal dibandingkan yang berbasis
- Experimenting [mencoba] kreativitas (sampai 200%)
- Networking [Membentuk jejaring] Inter-personal

Perlunya merumuskan kurikulum berbasis proses pembelajaran yang mengedepankan pengalaman


personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba [observation based learning]
untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Disamping itu, dibiasakan bagi peserta didik untuk
bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning
19
19

Proses Penilaian yang Mendukung Kreativitas


Sharp, C. 2004. Developing young childrens creativity: what can we learn
from research?:
Guru dapat membuat peserta didik berani berperilaku kreatif melalui:
tugas yang tidak hanya memiliki satu jawaban tertentu yang benar [banyak/semua
jawaban benar],
mentolerir jawaban yang nyeleneh,
menekankan pada proses bukan hanya hasil saja,
memberanikan peserta didik untuk mencoba, untuk menentukan sendiri yang kurang
jelas/lengkap informasinya, untuk memiliki interpretasi sendiri terkait dengan
pengetahuan atau kejadian yang diamatinya
memberikan keseimbangan antara yang terstruktur dan yang spontan/ekspresif

Perlunya merumuskan kurikulum yang mencakup proses penilaian yang menekankan pada proses dan
hasil sehingga diperlukan penilaian berbasis portofolio (pertanyaan yang tidak memiliki jawaban
tunggal, memberi nilai bagi jawaban nyeleneh, menilai proses pengerjaannya bukan hanya hasilnya,
penilaian spontanitas/ekspresif, dll) 20
20

10
16/08/2013

Pergeseran Paradigma Pembangunan


s/d Dekade 1980an Dekade 1990an-2010an Dekade 2020an dst
Pembangunan Pembangunan Pembangunan
Ekonomi Berbasis Ekonomi Berbasis Kesejahteraan Berbasis
Sumberdaya Pengetahuan Peradaban
Sumber Daya Alam
Pengetahuan sebagai Peradaban sebagai
sebagai
Modal Pembangunan Modal Pembangunan
Modal Pembangunan
Pendidikan

Pendidikan
Sumber Daya Manusia SDM Berpengetahuan SDM Beradab
sebagai sebagai sebagai
Beban Pembangunan Modal Pembangunan Modal Pembangunan

Penduduk Sebagai Penduduk Sebagai Penduduk Sebagai


Pasar/Pengguna Pelaku/Kontributor Kreator/Disiminator

Kekayaan Kekayaan Kekayaan


Pengetahuan Pengetahuan Peradaban
Pendidikan, dalam jangka panjang, adalah faktor tunggal paling menentukan melebarnya jurang
kesenjangan, oleh karena itu investasi dalam bidang pendidikan adalah cara logis untuk
menghilangkan kesenjangan tersebut 21

Kondisi Mata Pelajaran Saat Ini

11
16/08/2013

PPKN SD-MI Bahasa Indonesia SD-MI Matematika SD-MI IPA SD-MI IPS SD-MI

Menjelaskan perbedaan Membedakan berbagai Membilang dan bagian tubuh dan kegunaannya identitas diri,
jenis kelamin, agama, dan bunyi bahasa mengurutkan banyak benda serta cara perawatannya keluarga, dan kerabat
suku bangsa Melaksanakan sesuatu penjumlahan dan kebutuhan tubuh agar tumbuh pengalaman diri
Memberikan contoh dan sesuai dengan perintah atau pengurangan bilangan sehat dan kuat (makanan, air, kasih sayang antar
menerapkan hidup rukun petunjuk sederhana sampai 20 pakaian, udara, lingkungan sehat) anggota keluarga
melalui kegiatan di rumah Menyebutkan tokoh-tokoh Menentukan waktu (pagi, Membiasakan hidup sehat hidup rukun dalam
dan di sekolah dalam cerita siang, malam), hari, dan jam menjaga lingkungan agar tetap kemajemukan
Menjelaskan pentingnya Memperkenalkan diri ( bulat) sehat keluarga
tata tertib di rumah dan di sendiri dengan kalimat Menentukan lama suatu lingkungan sehat dan tidak sehat peristiwa penting yang
sekolah sederhana dan bahasa yang kejadian berlangsung merawat tanaman, hewan dialami sendiri di
Melaksanakan tata tertib di santun Mengenal panjang suatu peliharaan dan lingkungan sekitar lingkungan keluarga
rumah dan di sekolah Menyapa orang lain dengan benda melalui kalimat benda yang ada di lingkungan letak rumah
Menjelaskan hak anak untuk menggunakan kalimat sehari-hari (pendek, sekitar berdasarkan cirinya melalui lingkungan rumah
bermain, belajar dengan sapaan yang tepat dan panjang) dan pengamatan sehat dan perilaku
gembira dan didengar bahasa yang santun membandingkannya benda yang dapat diubah dalam menjaga
pendapatnya Mendeskipsikan benda- Mengelompokkan berbagai bentuknya kebersihan rumah
Melaksanakan hak anak di benda di sekitar dan fungsi bangun ruang sederhana kegunaan benda di lingkungan
rumah dan di sekolah anggota tubuh dengan Menentukan urutan benda- sekitar
Mengikuti tata tertib di kalimat sederhana benda ruang yang sejenis Membedakan gerak benda yang
rumah dan di sekolah Mendeklamasikan puisi anak menurut besarnya mudah dan sulit bergerak melalui
dengan lafal dan intonasi Membilang dan percobaan
yang sesuai mengurutkan banyak benda Mengidentifikasi penyebab benda
Membaca nyaring suku kata Menentukan nilai tempat bergerak (batere, per/pegas,
dan kata dengan lafal yang puluhan dan satuan dorongan tangan, dan magnet)
Banyak yang tepat Melakukan penjumlahan Mengenal berbagai benda langit
mirip antar Membaca nyaring kalimat dan pengurangan bilangan melalui pengamatan
sederhana dengan lafal dan dua angka Mengenal keadaan cuaca di
mapel intonasi yang tepat Menggunakan sifat operasi sekitar kita
Menjiplak berbagai bentuk pertukaran dan Membedakan pengaruh musim
gambar, lingkaran, dan pengelompokan kemarau dengan musim hujan
bentuk huruf Membandingkan berat terhadap kegiatan manusia
Menebalkan berbagai benda (ringan, berat) (Berapa banyak yang dapat ditampung
bentuk gambar, lingkaran, Mengenal dan oleh kemampuan anak normal SD Kelas
dan bentuk huruf mengelompokkan bangun I?)
datar

Tingkat Kesulitan Pelajaran


PPKN KTSP 2006 Kelas IV PPKN KTSP 2006 Kelas V
Mengenal lembaga-lembaga dalam susunan Mendeskripsikan Negara Kesatuan Republik
pemerintahan desa dan pem. kecamatan Indonesia
Menggambarkan struktur organisasi desa dan Menjelaskan pentingnya keutuhan Negara
pemerintah kecamatan Kesatuan Republik Indonesia
Mengenal lembaga-lembaga dalam susunan Menunjukkan contoh-contoh perilaku dalam
pemerintahan kabupaten, kota, dan provinsi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik
Menggambarkan struktur organisasi kabupaten, Indonesia
kota, dan provinsi Pengertian dan pentingnya peraturan perundang-
Mengenal lembaga-lembaga negara dalam undangan tingkat pusat dan daerah
susunan pemerintahan tingkat pusat, seperti Memberikan contoh peraturan perundang-
MPR, DPR, Presiden, MA, MK dan BPK undangan tingkat pusat dan daerah, seperti pajak,
Menyebutkan organisasi pemerintahan tingkat anti korupsi, lalu lintas, larangan merokok
pusat, seperti Presiden, Wakil Presiden dan para Mendeskripsikan pengertian organisasi
Menteri contoh organisasi di lingkungan sekolah dan
Mengidentifikasi jenis budaya Indonesia yang masyarakat
pernah ditampilkan dalam misi kebudayaan Menampilkan peran serta dalam memilih
internasional organisasi di sekolah
Memberikan contoh sederhana pengaruh Mengenal bentuk-bentuk keputusan bersama
globalisasi di lingkungannya Mematuhi keputusan bersama
Menentukan sikap terhadap pengaruh
globalisasi yang terjadi di lingkungannya Warna merah: terlalu berat bagi siswa SD

12
16/08/2013

Contoh Buku Siswa (Lama)

25

Diasumsikan anak sudah


lancar membaca pada
saat masuk Kelas I SD Buku IPS Kelas I
Halaman 1

13
16/08/2013

Buku IPS Kelas I


Halaman 3

Masuk
SD
harus
sudah
lancar
menuli
s

Pada saat masuk Kelas I SD sudah harus Lancar menulis

14
16/08/2013

Buku Bhs Indonesia


Kelas I, Halaman 7

Langsung dapat membaca teks terdiri dari 8 kalimat, puluhan kata

RANCANG ULANG BANGUNAN KURIKULUM

15
16/08/2013

Perkembangan Kurikulum di Indonesia


1947 1975 2004
Rencana Pelajaran Kurikulum Rintisan
Dirinci dalam Rencana Sekolah Dasar Kurikulum
Pelajaran Terurai Berbasis
Kompetensi (KBK)
1968 1994
Kurikulum Sekolah Kurikulum 1994 2013
Dasar Kurikulum 2013

1945 1955 1965 1975 1985 1995 2005 2015

1984
Kurikulum 1984 2006
1973 Kurikulum
Kurikulum Proyek Tingkat Satuan
Perintis Sekolah Pendidikan
Pembangunan (KTSP)
1964 (PPSP) 1997
Rencana Pendidikan Revisi Kurikulum 1994
Sekolah Dasar

Materi pengetahuan Produk


31

RANGKUMAN BAHAN PRESENTASI

TEMA RANCANGAN
PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013

16
16/08/2013

DIMENSI PENGEMBANGAN KURIKULUM


FILOSOFI KURIKULUM 2013 : UU Sisdiknas
ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAAN
Pasal 1 Butir 1 dan 2 : Hakikat Pendidikan : peserta didik
Perrenialism secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
Essentialism memiliki kompetensi yang berakar pada nilai-nilai agama,
Progressivism kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap
tuntutan perubahan zaman.
Reconstructionism RPJMN 2010-2014 SEKTOR
PENDIDIKAN
Perubahan metodologi
pembelajaran
Penataan kurikulum
INPRES NOMOR 1 TAHUN TEORI PENGEMBANGAN KURIKULUM : UU Sisdiknas
EVALUASI KURIKULUM: 2010 Pasal 4 : azas, prinsip, sistem, proses, budaya, pola,
Penetapan Konteks dan Percepatan Pelaksanaan dan pengendalian mutu.
Prioritas Pembangunan Pasal 3 : fungsi (mengembangkan kemampuan dan
Tujuan Nasional: Penyempurnaan membentuk watak serta peradaban bangsa)
kurikulum dan metode
Pemilihan Model pembelajaran aktif Teori berbasis Kecakapan pekerjaan organisasi isi dan
Pelaksanaan berdasarkan nilai-nilai kompetensi sebagai pribadi yang dewasa kepemilikan
Budaya bangsa untuk sikap, keterampilan, pengetahuan secara holistik, atau
Revisi Kurikulum membentuk daya saing dan formal, valuasional dan praksiologi.
karakter bangsa

NO STANDAR URAIAN
1. KOMPETENSI Dikembangkan sesuai tuntutan kekinian
KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM
LULUSAN Indonesia dan masa depan sesuai DIKEMBANGKAN BERDASARKAN ASPEK RELEVANSI
kebutuhan. (Pasal 38 UU Sisdiknas)
2. ISI Diurai atas kecukupan dan kesesuaian
dengan kompetensi.
3. PROSES Dirancang berbasis kompetensi dengan KURIKULUM 2013 (KBK): Penyempurnaan
pendekatan scientific Standar : KOMPETENSI LULUSAN, ISI, PROSES,
4. PENILAIAN Berbasis proses dan output dengan teknik dan PENILAIAN
tes dan non tes (portfolio).
33

Tujuan Pendidikan Nasional


(Pasal 3 UU No 20 Sisdiknas Tahun 2003)

Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang


beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Spiritual
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
(KI-1)
Sikap Sosial
(KI-2) berakhlak mulia, sehat, mandiri, demokratis, bertanggung jawab

Pengetahuan (KI-3) berilmu


Keterampilan (KI-4) cakap dan kreatif
34

17
16/08/2013

Tema Pengembangan Kurikulum 2013


(Sesuai UU 20/2003)

Kurikulum yang dapat


menghasilkan insan
indonesia yang:
Produktif, Kreatif,
Inovatif,
Produktif
Kreatif Afektif
Inovatif melalui penguatan
Afektif
Sikap, Keterampilan,
dan Pengetahuan
yang terintegrasi

35

Arah Pengembangan: Penguatan Proses


Proses Karakteristik Penguatan
Menggunakan pendekatan saintifik melalui mengamati, menanya,
mencoba, menalar,....
Menggunakan ilmu pengetahuan sebagai penggerak pembelajaran
untuk semua mata pelajaran
Pembelajaran
Menuntun siswa untuk mencari tahu, bukan diberi tahu [discovery
learning]
Menekankan kemampuan berbahasa sebagai alat komunikasi,
pembawa pengetahuan dan berfikir logis, sistematis, dan kreatif
Mengukur tingkat berfikir siswa mulai dari rendah sampai tinggi
Menekankan pada pertanyaan yang mebutuhkan pemikiran
Penilaian mendalam [bukan sekedar hafalan]
Mengukur proses kerja siswa, bukan hanya hasil kerja siswa
Menggunakan portofolio pembelajaran siswa

36

18
16/08/2013

Kerangka Kerja Pengembangan Kurikulum


Psikologi Pedagogi Sosio-eko-kultural * tidak pernah berhenti belajar
Pribadi beriman, bertakwa, berakhlak mulia
Peserta Didik

Lulusan yang
Kompeten
Pembelajar yang Sukses *
Pembelajaran Individu yang Percaya Diri
WN yang Bertanggung Jawab
Kontributor Peradaban yang Efektif
Kesiapan: Kelayakan: Kebutuhan:
-Fisik -Materi -Individu
-Emosional -Masyarakat, Bangsa, Negara, Dunia
-Metode Penyampaian
-Intelektual
-Metode Penilaian -Peradaban
- Spiritual
Kurikulum

Iklim Akademik dan

Manajemen dan
Budaya Sekolah
(SKL, Struktur Kurikulum, Standar-standar: Isi, Proses, dan Penilaian)

Kepemimpinan
Buku Pegangan (Buku Babon)
(Buku Pegangan Siswa, Buku Pegangan Guru)

Rumusan Kompetensi Guru dan Penyiapan Guru


37

PERUBAHAN KURIKULUM 2013 WUJUD PADA:

Konstruski yang holistik Berorientasi pada karakteristik Berbasis Tes dan


kompetensi: Non Tes
Didukung oleh Semua Sikap (Krathwohl) : Menerima + (porfolio)
Materi atau Mapel Menjalankan + Menghargai +
Terintegrasi secara Vertikal Menghayati + Mengamalkan Menilai Proses
maupun Horizontal dan Output
Keterampilan (Dyers) : Mengamati + dengan
Menanya + Mencoba + Menalar +
Menyaji + Mencipta menggunakan
authentic
Pengetahuan (Bloom & Anderson): assesment
Mengetahui + Memahami + Menerapkan
+ Menganalisa + Mengevaluasi Rapor memuat
Dikembangkan Berbasis +Mencipta penilaian
Kompetensi sehingga kuantitatif
Memenuhi Aspek Menggunakan Pendekatan Saintifik,
Karakteristik Kompetensi sesuai Jenjang tentang
Kesesuaian dan Kecukupan pengetahuan
(SD: Tematik Terpadu, SMP: Tematik
Mengakomodasi Content Terpadu-IPA & IPS- dan Mapel, SMA : dan deskripsi
Lokal, Nasional dan Tematik dan Mapel kualitatif
Internasional (antara lain tentang sikap
TIMMS, PISA, PIRLS) Mengutamakan Discovery Learning dan dan
Project Based Learning keterampilan
Kecukupan
38

19
16/08/2013

ESENSI KURIKULUM 2013: ...1/4


SAAT BERTINDAK : PROSES PEMBENTUKAN :

SIKAP PENGETAHUAN KETERAMPILAN

MEMANDU MENDAHULUI PEMBENTUKAN


(DIINTEGRASIKAN DALAM
AKTIVITAS PENGETAHUAN DAN
KETERAMPILAN
PENGETAHUAN KETERAMPILAN

SIKAP

DIBIASAKAN (DIBUDAYAKAN) DITUANGKAN DALAM RPP DAN DILAKUKAN


DAN DIAMATI ATAU DINILAI DALAM PEMBELAJARAN

ESENSI KURIKULUM 2013: ...2/4


KONDISI SAAT INI menuju KURIKULUM 2013
Kompetensi : sikap, pengetahuan Kompetensi : sikap, pengethuan dan
dan keterampilan belum secara jelas keterampilan diurai menjadi KI-1, KI-
diurai , bahkan cenderung dipersepsi 2, KI-3 dan KI-4, yang memandu
menjadi kognitif, afektif, dan penetapan materi
psikomotorik saja. Tidak digunakan
memandu materi
Perpaduan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan

Dominan pada pengetahuan


Aktivitas pembelajaran didesain
pada 3 ranah sikap, pengetahuan
dan keterampilan
Aktivitas pembelajaran hanya
domain pengetahuan
Penilain menggunakan tes, obervasi,
portfolio dan peniaian sikap
Penilain dominan
menggunakan tes

Rapor berisi komponen sikap,


Rapor cendrung hanya melaporkan pengetahuan dan keterampilan yang
kompetensi bidang pengetahuan dilengkapi dengan deskripsi
kualitiatif
40

20
16/08/2013

ESENSI KURIKULUM 2013: ...3/4


KONDISI SAAT INI menuju KURIKULUM 2013
Di SD diajarkan berbasis mata pelajaran, SD : tematik terpadu, SMP tematika
padahal tidak didukung oleh terori terpadu + Mapel, SMA/SMK :
pendidikan dan teori psikologi yang berlaku berbasis mapel (tematik boleh saja
sampai PT)

IPA dan IPS masih menggunakan


Di SMP diajarkan kelompok IPA dan IPS pola tematik terpadu
secara parsial

Tidak tampak integrasi antar jenjang Kompetensi antar jenjang


pendidikan sehingga jenjang sebelumnya diintegrasikan sehingga tampak
seolah-olah bukan prasyarat untuk jenjang berkesinambungan
berikutmya.

Pembelajaran bahasa yang berbasis


Bahasa tidak mampu memandu mapel yang teks akan mendorong kemampuan
lain sebab kompetensi terpenting dalam berbahasa sejak dini
bahasa tidak dilatihkan secara memadai

Mengutamakan pendekatan saintifik


Meninggalkan kaidah metodologi ilmiah yang mengantarkan siswa tidak
dan tidak kokoh berpijak pada kaidah berhenti pada pengetahuan tetapi
pendidikan sehingga pemilihan model tidak berlanjut ke keterampilan dan
akurat pembentukan sikap. 41

PT

SMA/K

SMP

SD

Sumber: Marzano (1985), Bruner (1960).


42

21
16/08/2013

STRATEGI PENGEMBANGAN BUKU KURIKULUM 2013

SKL
PROSES
MATERI BELAJAR
AJAR
KOMPETENSI
INTI

PENILAIAN

KOMPETENSI
DASAR

Rumusan Proses dalam Kurikulum 2013 SP


Perluasan dan pendalaman dalam proses pencapaian kompetensi
2006 2013
Creating
Characterizing/ PT
Evaluating Actualizing Communicating Evaluating

Organizing/
Analyzing Internalizing Associating Analyzing SMA/K

Applying Valuing Experi- SMP


menting Applying

Under- Under-
standing Responding Questioning
standing S
D
Knowing/ Knowing/
Remembering Accepting Observing
Remembering
Knowledge Attitude Skill Knowledge
(Bloom) (Krathwohl) (Dyers) (Bloom)
44

22
16/08/2013

Rumusan Materi (Pengetahuan) dalam Kurikulum 2013 SI

Perluasan dan pendalaman taksonomi Bloom menjadi Bloom-Anderson

Mengetahui Memahami Menerapkan Mengana- Mengeva- Mencipta


lisis luasi

Faktual
SD/MI
Konseptual
SMP/MTs
Prosedural SMA/MA/
SMK/MAK
Meta-
kognitif

45

Rumusan Produk dalam Kurikulum 2013 SKL


DOMAIN SD SMP SMA-SMK

Menerima + Menjalankan + Menghargai + Menghayati + Mengamalkan

PRIBADI YANG BERIMAN, BERAKHLAK MULIA, PERCAYA DIRI, DAN BERTANGGUNG JAWAB DALAM
SIKAP
BERINTERAKSI SECARA EFEKTIF DENGAN LINGKUNGAN SOSIAL, ALAM SEKITAR, SERTA DUNIA DAN
PERADABANNYA

Mengamati + Menanya + Mencoba + Menalar + Menyaji + Mencipta

KETERAMPILAN
PRIBADI YANG BERKEMAMPUAN PIKIR DAN TINDAK YANG PRODUKTIF DAN KREATIF DALAM RANAH
KONKRET DAN ABSTRAK

Mengetahui + Memahami + Menerapkan + Menganalisa + Mengevaluasi +Mencipta

PENGETAHUAN PRIBADI YANG MENGUASAI ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, SENI, BUDAYA DAN BERWAWASAN
KEMANUSIAAN, KEBANGSAAN, KENEGARAAN, DAN PERADABAN

Gradasi antar Satuan Pendidikan memperhatikan;


1. Perkembangan psikologis anak
2. Lingkup dan kedalaman materi
3. Kesinambungan
4. Fungsi satuan pendidikan
5. Lingkungan
46

23
16/08/2013

HASIL
KOMPETENSI LULUSAN
LAYANAN SIKAP PENGETAHUAN KETERAMPILAN

ISI PROSES PENILAIAN


1. EVALUASI RUANG LINGKUP 1. TEMATIK TERPADU 1. AUTHENTIC
2. EVALUASI KESESUAIAN, 2. PENDEKATAN SAINTIFIK 2. MENGUKUR TINGKAT BERPIKIR
KECUKUPAN, KEDALAMAN DAN 3. INQIURY & DISCOVERY DARI RENDAH HINGGA TINGGI
KELUASAN (STUDI BANDING LEARNING 3. MENGUKUR PROSES KERJA SISWA
INTERNASIONAL: REASONING) 4. PROJECT BASED LEARNING 4. TES DAN PORTFOLIO
5. BAHASA SEBAGAI PENGHELA
KOMPONEN UTAMA

PTK SARPRAS PEMBIAYAAN


PE LAYANAN

1.KOMPETENSI GURU, KS 1. KECUKUPAN DAN KESESUAIAN 1. UNIT COST


,PS. (USB, REHAB, PERAALATAN, 2. SUMBER PENDANAAN
PERPUST., )
2.KINERJA GURU, KS, PS 3. KECUKUPAN BOS, BSM,
2. PEMANFAATAN
3.PEMBINAAN 3. RESOURCE SHARING BOPTN
4. EFISIENSI PEMANFAATAN
BERKELANJUTAN
4. REKRUT., PPA dan PPG
PENGELOLAAN
1. MANAJEMEN PERUBAHAN
2. POLA KEPEMIMPINAN
3. POLA SUPERVISI
47

Penyesuaian PP 19/2005 PP 32/2013


Standar Kompetensi Lulusan (Permendikbud No. 54/2013)

Standar
Standar Isi Standar Proses
Penilaian
(No. 64/2013) (No. 65/2013)
(No. 66/2013)

KD dan Struktur Kurikulum SD/MI (No. 67/ 2013)


KD dan Struktur Kurikulum SMP/MTs (No. 68/2013)
KD dan Struktur Kurikulum SMA/MA (No. 69/2013)
KD dan Struktur Kurikulum SMK/MAK (No. 70/2013)

Buku Teks Pelajaran (No. 71/2013)


48

24
16/08/2013

Elemen Perubahan pada Kurikulum 2013

Elemen Perubahan

49

Elemen Perubahan
Elemen Deskripsi
SD SMP SMA SMK
Kompetensi Mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara berimbang
Lulusan
Materi (ISI) Adanya keseimbangan antara materi untuk mendukung kemampuan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan
Semua konten mendukung ketiga kompetensi diatas secara berimbang
Pendekatan Kompetensi dikembangkan melalui:
(ISI) Tematik Integratif Mata pelajaran Mata pelajaran Kompetensi
dalam semua mata IPA dan IPS wajib, peminatan, keterampilan
pelajaran masing- lintas minat, dan yang sesuai
masingnya pendalaman minat dengan standar
adalah terpadu industri
Standar Proses yang semula terfokus pada Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi
dilengkapi dengan Mengamati, Menanya, Mengolah, Menalar, Menyajikan, dan
Mencipta.
Proses
Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan
pembelajaran
masyarakat
Guru bukan satu-satunya sumber belajar.
Sikap tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan 50

25
16/08/2013

Elemen Perubahan
Deskripsi
Elemen
SD SMP SMA SMK
Penilaian berbasis kompetensi
Pergeseran dari penilaian melalui tes [mengukur kompetensi pengetahuan
berdasarkan hasil saja], menuju penilaian otentik [mengukur kompetensi sikap,
Penilaian hasil
keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil]
belajar
Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL
Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama
penilaian dan penilaian mandiri oleh siswa
Ekstrakurikuler Pramuka (wajib) Pramuka (wajib)
UKS OSIS
PMR UKS
Bahasa Inggris PMR
Dll
Perlunya ekstra kurikuler partisipasi aktif siswa dalam
permasalahan kemasyarakatan (menjadi bagian dari
pramuka)

51

Perbedaan Esensial Kurikulum 2013 untuk SD/MI


KTSP 2006 Kurikulum 2013
Materi didominasi pengetahuan Materi memuat secara berimbang antara sikap, keterampilan,
dan pengetahuan
Mata pelajaran tertentu Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi [sikap,
mendukung kompetensi tertentu keterampilan, pengetahuan]
Mata pelajaran dirancang berdiri Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan
sendiri dan memiliki standar memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti
kompetensi lulusan sendiri tiap kelas
Bahasa Indonesia sejajar dengan Bahasa Indonesia sebagai penghela mapel lain [sikap dan
mapel lain keterampilan berbahasa}
Tiap mata pelajaran diajarkan Semua mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan yang
dengan pendekatan berbeda sama [saintifik] melalui mengamati, menanya, mencoba,
menalar,....
Tiap jenis konten pembelajaran Bermacam jenis konten pembelajaran diajarkan terkait dan
diajarkan terpisah [separated terpadu satu sama lain [cross curriculum atau integrated
curriculum] curriculum]
Konten ilmu pengetahuan diintegrasikan dan dijadikan
penggerak konten pembelajaran lainnya
Tematik untuk kelas I III [belum Tematik Integratif untuk Kelas I VI
integratif] 52

26
16/08/2013

Perbedaan Esensial Kurikulum 2013


KTSP 2006 Kurikulum 2013 Ket
Mata pelajaran tertentu Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi Semua
mendukung kompetensi [sikap, keterampilan, pengetahuan] Jenjang
tertentu
Mata pelajaran dirancang Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang Semua
berdiri sendiri dan memiliki lain dan memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh Jenjang
kompetensi dasar sendiri kompetensi inti tiap kelas
Bahasa Indonesia sejajar Bahasa Indonesia sebagai penghela mapel lain [sikap Semua
dengan mapel lain dan keterampilan berbahasa} Jenjang
Tiap mata pelajaran diajarkan Semua mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan Semua
dengan pendekatan berbeda yang sama [saintifik] melalui mengamati, menanya, Jenjang
mencoba, menalar,....
Tiap jenis konten pembelajaran Bermacam jenis konten pembelajaran diajarkan SD
diajarkan terpisah [separated terkait dan terpadu satu sama lain [cross curriculum
curriculum] atau integrated curriculum]
Konten ilmu pengetahuan diintegrasikan dan SD
dijadikan penggerak konten pembelajaran lainnya

53

Perbedaan Esensial Kurikulum 2013


KTSP 2006 Kurikulum 2013 Ket
Tematik untuk kelas I III Tematik Integratif untuk Kelas I VI SD
[belum integratif]

TIK adalah mata pelajaran TIK merupakan sarana pembelajaran, dipergunakan SMP
sendiri sebagai media pembelajaran mata pelajaran lain

Untuk SMA, ada penjurusan Tidak ada penjurusan di SMA. Ada mata pelajaran SMA/SMK
sejak kelas XI wajib, peminatan, antar minat, dan pendalaman minat

SMA dan SMK tanpa SMA dan SMK memiliki mata pelajaran wajib yang sama SMA/SMK
kesamaan kompetensi terkait dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, dan
sikap.
Penjurusan di SMK sangat Penjurusan di SMK tidak terlalu detil [sampai bidang SMA/SMK
detil [sampai keahlian] studi], didalamnya terdapat pengelompokkan
peminatan dan pendalaman

54

27
16/08/2013

Arah Rancangan: Penyesuaian Beban Guru dan Siswa SD

Pelaku Beban Penyelesaian


Menyusun Silabus Disediakan buku pegangan
Mencari buku yang sesuai guru
Mengajar beberapa mata pelajaran dengan cara
berbeda
Pendekatan tematik
Guru Mengajar banyak mata pelajaran
terpadu menggunakan satu
Menggunakan bahasa Indonesia sebagai penghela buku untuk semua mata
mata pelajaran yang lain sehingga selaras pelajaran sehingga dapat
Menggunakan ilmu pengetahuan sebagai selaras dengan kemampuan
penggerak pembahasan Bahasa Indonesia sebagai
Mempelajari banyak mapel alat komunikasi dan carrier of
knowledge
Mempelajarai mata pelajaran dengan cara
Murid berbeda
Membeli buku Penyedian buku teks oleh
Membeli lembar kerja siswa pemerintah/daerah
55

Kerangka Kerja Penyusunan KBK 2004 Kerangka Kerja Penyusunan KTSP 2006
TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

KERANGKA DASAR KURIKULUM KERANGKA DASAR KURIKULUM


(Filosofis, Yuridis, Konseptual) (Filosofis, Yuridis, Konseptual)
STRUKTUR KURIKULUM STRUKTUR KURIKULUM

STANDAR ISI (SKL MAPEL, SK MAPEL, KD MAPEL) STANDAR ISI (SKL MAPEL, SK MAPEL, KD MAPEL)

STANDAR STANDAR KOMPETENSI STANDAR STANDAR STANDAR KOMPETENSI STANDAR


PROSES LULUSAN PENILAIAN PROSES LULUSAN PENILAIAN

PEDOMAN PEDOMAN
SILABUS SILABUS
RENCANA PELAKSANAAN BUKU TEKS RENCANA PELAKSANAAN BUKU TEKS
PEMBELAJARAN SISWA PEMBELAJARAN SISWA
PEMBELAJARAN & PEMBELAJARAN &
Oleh Satuan Pendidikan PENILAIAN Oleh Satuan Pendidikan PENILAIAN

Kerangka Kerja Penyusunan Kurikulum 2013


KESIAPAN PESERTA DIDIK TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL KEBUTUHAN

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SATUAN PENDIDIKAN

KERANGKA DASAR KURIKULUM


(Filosofis, Yuridis, Konseptual)

STRUKTUR KURIKULUM

STANDAR KI KELAS & KD MAPEL STANDAR


PROSES (STANDAR ISI) PENILAIAN

SILABUS

PANDUAN BUKU TEKS


GURU SISWA
Oleh Satuan PEMBELAJARAN & 56
Pendidikan PENILAIAN (KTSP)

28
16/08/2013

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN


Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap
Orang beriman, berakhlak mulia, percaya diri,
SIKAP dan bertanggung jawab dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam

Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif


dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret
KETERAMPILAN Terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya
di sekolah

Memiliki pengetahuan Prosedural dan metakognitif dalam


Ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, humaniora,
PENGETAHUAN dengan wawasan kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
Terkait penyebab fenomena dan kejadian

57

Langkah Penguatan Implementasi


Kurikulum
Menyiapkan buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari:
Buku pegangan siswa
Buku pegangan guru
Menyiapkan guru supaya memahami pemanfaatan sumber
belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat
mereka manfaatkan
Memperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh
pusat dan daerah pelaksanaan pembelajaran

58

29
16/08/2013

Langkah Penguatan Materi


Evaluasi ulang ruang lingkup materi:
Meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi siswa
Mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa
Menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan
internasional
Evaluasi ulang kedalaman materi sesuai dengan tuntutan
perbandingan internasional [s/d reasoning]
Menyusun kompetensi dasar yang sesuai dengan materi
yang dibutuhkan

59

Proses yang Mendukung Kreativitas

PROSES Pendekatan saintifik dan


PEMBELAJARAN kontekstual
Kemampuan kreativitas diperoleh melalui:
Observing [mengamati]
Questioning [menanya]
Associating [menalar]
Experimenting [mencoba]
Networking [Membentuk jejaring]

PROSES PENILAIAN Penilaian Otentik

penilaian berbasis portofolio


pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal,
memberi nilai bagi jawaban nyeleneh,
menilai proses pengerjaannya bukan hanya
hasilnya,
penilaian spontanitas/ekspresif,
dll

30
16/08/2013

Langkah Penguatan Proses


Proses Karakteristik Penguatan
Menggunakan pendekatan saintifik melalui mengamati, menanya,
mencoba, menalar,....
Menggunakan ilmu pengetahuan sebagai penggerak pembelajaran
untuk semua mata pelajaran
Pembelajaran
Menuntun siswa untuk mencari tahu, bukan diberi tahu [discovery
learning]
Menekankan kemampuan berbahasa sebagai alat komunikasi,
pembawa pengetahuan dan berfikir logis, sistematis, dan kreatif
Mengukur tingkat berfikir siswa mulai dari rendah sampai tinggi
Menekankan pada pertanyaan yang mebutuhkan pemikiran
Penilaian mendalam [bukan sekedar hafalan]
Mengukur proses kerja siswa, bukan hanya hasil kerja siswa
Menggunakan portofolio pembelajaran siswa

61

Kunci Keberhasilan Implementasi Kurikulum 2013

Ketersediaan Buku Pegangan Pembelajaran:


Siswa
Guru
Ketersediaan Buku Pedoman Penilaian
Kesiapan Guru
Penyesuaian kompetensi guru (4+1)
Dukungan Manajemen
Kepala Sekolah
Pengawas Sekolah
Administrasi sekolah [khususnya untuk SMA dan SMK]
Dukungan Iklim/Budaya Akademik
Keterlibatan dan kesiapan semua pemangku kepentingan [siswa,
guru, orang tua, kepala sekolah, pengawas sekolah]

62

31
16/08/2013

Contoh Buku Siswa (Baru)

63

Contoh Buku Siswa SD Kelas IV

64

32
16/08/2013

Contoh Buku Siswa SD Kelas IV (lanjutan...)

65

Contoh Buku Siswa SD Kelas IV (lanjutan...)

66

33
16/08/2013

Contoh Buku Siswa SD Kelas IV (lanjutan...)

67

Contoh Buku Siswa SD Kelas IV (lanjutan...)

68

34
16/08/2013

Contoh Buku Siswa SD Kelas IV (lanjutan...)

69

Contoh Buku Guru SD Kelas IV

70

35
16/08/2013

Contoh Buku Guru SD Kelas IV (Lanjutan ..)

71

Contoh Buku Guru SD Kelas IV (Lanjutan ..)

72

36
16/08/2013

Contoh Buku Guru SD Kelas IV (Lanjutan ..)

73

Contoh Buku Guru SD Kelas IV (Lanjutan ..)

74

37
16/08/2013

Contoh Buku Guru SD Kelas IV (Lanjutan ..)

75

Contoh Buku Guru SD Kelas IV (Lanjutan ..)

76

38
16/08/2013

Contoh Buku Guru SD Kelas IV (Lanjutan ..)

77

Contoh Buku Guru SD Kelas IV (Lanjutan ..)

78

39
16/08/2013

Struktur Kurikulum 2013


(sesuai Permendikbud)

79

Rancangan Struktur Kurikulum SD


No Komponen Rancangan
1 Berbasis tematik-terpadu sampai kelas VI
2 Menggunakan kompetensi lulusan untuk merumuskan kompetensi inti pada tiap
kelas
3 Menggunakan pendekatan sains dalam proses pembelajaran [mengamati, menanya,
mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, mencipta] semua mata pelajaran
4 Menggunakan IPA dan IPS sebagai materi pembahasan pada semua mata pelajaran
5 Meminimumkan jumlah mata pelajaran dengan hasil dari 10 dapat dikurangai
menjadi 6 melalui pengintegrasian beberapa mata pelajaran:
-IPA menjadi materi pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia , Matematika, dll
-IPS menjadi materi pembahasan pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, dll
-Muatan lokal menjadi materi pembahasan Seni Budaya dan Prakarya serta
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
-Mata pelajaran Pengembangan Diri diintegrasikan ke semua mata pelajaran

80

40
16/08/2013

Rancangan Struktur Kurikulum SD

No Komponen Rancangan
6 Menempatkan IPA dan IPS pada posisi sewajarnya bagi
anak SD yaitu bukan sebagai disiplin ilmu melainkan sebagai
sumber kompetensi untuk membentuk sikap ilmuwan dan
kepedulian dalam berinteraksi sosial dan dengan alam
secara bertanggung jawab.
7 Perbedaan antara IPA/IPS dipisah atau diintegrasikan
hanyalah pada apakah buku teksnya terpisah atau jadi satu.
Tetapi bila dipisah dapat berakibat beratnya beban guru,
kesulitan bagi bahasa Indonesia untuk mencari materi
pembahasan yang kontekstual, berjalan sendiri melampaui
kemampuan berbahasa peserta didiknya seperti yang terjadi
saat ini, dll
8 Menambah 4 jam pelajaran per minggu akibat perubahan
proses pembelajaran dan penilaian
81

Rasional IPA dan IPS di Sekolah Dasar

Masalah fokus pembelajaran: ada istilah-istilah IPA yang memiliki


arti berbeda dengan istilah-istilah umum pada matapelajaran
Bahasa Indonesia, misalnya: gaya, usaha, daya, dll.
Tiap matapelajaran memiliki indikator pencapaian masing-masing.
Jika indikator Bahasa Indonesia dan IPA digabung, maka pelajaran
Bahasa Indonesia menjadi IPA.
Jika materi IPA dipaksakan bergabung dengan Bahasa Indonesia,
akan terjadi pendangkalan materi IPA (terhapusnya beberapa
bagian materi IPA), dampak negatifnya:
Prestasi kita di TIMSS dan PISA akan menurun
Anak tidak banyak mengerti istilah-istilah IPA, sehingga tidak
suka membaca surat kabar/majalah yang mempunyai kolom
sains.

82

41
16/08/2013

Rasional IPA dan IPS di Sekolah Dasar

Peserta didik kelas IV VI (usia 10 12


tahun) sudah masuk pada tahap berpikir
abstrak (operasi formal ), sehingga sudah
mampu memahami konsep-konsep keilmuan
secara sederhana
Dengan matapelajaran IPA/IPS yang terpisah,
proses pembelajaran di SD tetap dapat
dilaksanakan dengan pendekatan tematik-
terpadu.

83

STRUKTUR KURIKULUM SD
No Komponen I II III IV V VI
Kelompok A
1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 4 4 4 4 4 4
2 PPKN 5 5 6 5 5 5
3 Bahasa Indonesia 8 9 10 7 7 7
4 Matematika 5 6 6 6 6 6
5 IPA 3 3 3
6 IPS 3 3 3
Kelompok B
7 Seni Budaya & Prakarya (termasuk 4 4 4 4 4 4
muatan lokal*)
8 Pend. Jasmani, OR & Kes (termasuk 4 4 4 4 4 4
muatan lokal).
Jumlah 30 32 34 36 36 36

Catatan:
1. Muatan lokal* dapat memuat Bahasa Daerah
2. IPA dan IPS kelas I s.d. Kelas III diintegrasikan ke mata pelajaran lainnya 84

42
16/08/2013

PENTINGNYA TEMATIK TERPADU : 1/3


Pendidik dan peneliti meyakini bahwa anak melihat dunia sebagai
suatu keutuhan yang terhubung, bukannya penggalan-penggalan
yang lepas dan terpisah. [Departemen Pendidikan Alberta, Kanada]
Walaupun sekolah dasar dirancang dengan menggunakan mata
pelajaran dengan definisi kompetensi yang berbeda satu dengan
yang lain [seperti pada KBK 2004 dan KTSP 2006], mapel tertentu
akan menghasilkan keluaran-keluaran yang sama dengan mapel
lainnya. [Departemen Pendidikan Alberta, Kanada]
Mapel-mapel yang berbeda tersebut, ternyata sangat banyak
keterkaitan satu sama lain [sebagaimana tampak pada rumusan
kompetensi dasar KTSP 2006]. Dengan demikian keterpaduan
konten pada berbagai mapel dan arahan bagi siswa untuk dapat
membuat keterkaitan antar mapel akan memperkuat pembelajaran
siswa. [Departemen Pendidikan Alberta, Kanada]

85

PENTINGNYA TEMATIK TERPADU : 2/3

Kurikulum terpadu sebagai panutan dalam tematik terpadu adalah


salah satu pendekatan pembelajaran dimana kompetensi
[pengetahuan, keterampilan, dan sikap] dari berbagai mapel
digabungkan menjadi satu untuk merumuskan pemahaman yang lebih
mendalam dan mendasar tentang apa yang harus dikuasai siswa.
Telah banyak peneliti pendidikan yang menekankan pentingnya
pembelajaran terpadu seperti Susan Drake, Heidi Hayes Jacobs, James
Beane and Gordon Vars, dll yang menyatakan bahwa kurikulum adalah
terkait, terpadu, lintas disiplin, holistik, dan berbagai istilah lain yang
memiliki arti yang sama.
James Beane lebih jauh menekankan When we are confronted in real
life with a compelling problem or puzzling situation, we dont ask
which part is mathematics, which part is science, which part is history,
and so on. Instead we draw on or seek out knowledge and skill from
any and all sources that might be helpful

86

43
16/08/2013

PENTINGNYA TEMATIK TERPADU : 2/3

Bagi sekolah dasar yang menganut sistem guru kelas, tematik terpadu
akan memberikan banyak keuntungan antara lain:
Fleksibilitas pemanfaatan waktu dan menyesuaikannya dengan
kebutuhan siswa
Menyatukan pembelajaran siswa, konvergensi pemahaman yang
diperolehnya sambil mencegah terjadinya inkonsistensi antar mata
pelajaran
Merefleksikan dunia nyata yang dihadapi anak di rumah dan
lingkungannya
Selaras dengan cara anak berfikir, dimana menurut penelitian otak
mendukung teori pedagogi dan psikologi bahwa anak menerima
banyak hal dan mengolah dan merangkumnya menjadi satu. Sehingga
mengajarkan secara holistik terpadu adalah sejalan dengan
bagaimana otak anak mengolah informasi.

87

No Komponen VII VIII IX


Kelompok A
1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 3 3 3
2 Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan 3 3 3
3 Bahasa Indonesia 6 6 6
4 Matematika 5 5 5
5 Ilmu Pengetahuan Alam 5 5 5
6 Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4
7 Bahasa Inggris 4 4 4
Kelompok B
8 Seni Budaya (termasuk mulok)* 3 3 3
Pend. Jasmani, OR & Kesehatan
9 3 3 3
(termasuk mulok)
10 Prakarya (termasuk mulok) 2 2 2
Jumlah 38 38 38
* Muatan lokal dapat memuat Bahasa Daerah
88

44
16/08/2013

Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah


Kelas
Mata Pelajaran
X XI XII
Kelompok A (Wajib)
1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 3 3 3
2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2 2 2
3 Bahasa Indonesia 4 4 4
4 Matematika 4 4 4
5 Sejarah Indonesia 2 2 2
6 Bahasa Inggris 2 2 2
Kelompok B (Wajib)
7 Seni Budaya 2 2 2
8 Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan 3 3 3
9 Prakarya dan Kewirausahaan 2 2 2
Jumlah jam pelajaran Kelompok A dan B per minggu 24 24 24
Kelompok C Peminatan
Matapelajaran peminatan akademik (untuk SMA) 18 20 20
Matapelajaran peminatan akademik dan vokasi (untuk SMA) 24 24 24
Jumlah Jam Pelajaran yang Harus Ditempuh per Minggu (SMA) 42 44 44

Jumlah Jam Pelajaran yang Harus Ditempuh per Minggu (SMK) 48 48 48


89
89

Struktur Kurikulum Peminatan SMA


Kelas
MATA PELAJARAN
X XI XII
Kelompok A dan B (Wajib) 24 24 24
Kelompok C (Peminatan)
Peminatan Matematika dan Iilmu Alam
I 1 Matematika 3 4 4
2 Biologi 3 4 4
3 Fisika 3 4 4
4 Kimia 3 4 4
Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial
II 1 Geografi 3 4 4
2 Sejarah 3 4 4
3 Sosiologi & Antropologi 3 4 4
4 Ekonomi 3 4 4
Peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya
III 1 Bahasa dan Sastra Indonesia 3 4 4
2 Bahasa dan Sastra Inggeris 3 4 4
3 Bahasa dan Sastra Asing lainnya 3 4 4
4 Antropologi 3 4 4
Mata Pelajaran Pilihan
Pilihan Lintas Kelompok Peminatan atau Pendalaman Minat 6 4 4
Jumlah Jam Pelajaran Yang Tersedia per minggu 68 72 72
Jumlah Jam Pelajaran Yang harus Ditempuh per minggu 42 44 44

90

45
16/08/2013

KELAS
MATA PELAJARAN
X XI XII
Kelompok A (Wajib)
1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 3 3 3
2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2 2 2
3. Bahasa Indonesia 4 4 4
4. Matematika 4 4 4
5. Sejarah Indonesia 2 2 2
6. Bahasa Inggris 2 2 2
Kelompok B (Wajib)
7. Seni Budaya 2 2 2
8. Prakarya dan Kewirausahaan 2 2 2
9. Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan 3 3 3
Jumlah kelompok A dan B 24 24 24
Kelompok C (Peminatan)
Matapelajaran peminatan akademik dan vokasi 24 24 24
TOTAL 48 48 48

91

KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013: 1/3

1. Mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap


(keagamaan dan sosial), rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama
dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik
2. Sekolah tidak terpisah dari masyarakat karena kurikulum
memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta
didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat
dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.
3. Mengembangkan ketrampilan menerapkan untuk setiap
pengetahuan yang dipelajari di kelas dalam berbagai situasi di
sekolah dan masyarakat sehingga memiliki kesempatan yang
luas untuk menghilangkan verbalisme.
4. Sederhana dalam struktur kurikulum, dalam jumlah mata
pelajaran dan KD yang harus dipelajari peserta didik tetapi
memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan
berbagai sikap dan keterampilan.

92

46
16/08/2013

KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013: 2/3

5.Isi kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk


Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam
Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran.
6.Kompetensi Inti (KI) bukan merupakan gambaran kategorial
tetapi interaktif mengenai kompetensi dalam aspek sikap,
pengetahuan, dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang
harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas
dan mata pelajaran. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus
dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui
pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses
pembelajaran siswa aktif.
7.Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari
peserta didik untuk suatu tema di SD/MI, dan untuk materi
pokok suatu mata pelajaran di kelas tertentu di SMP/MTS,
SMA/MA, SMK/MAK.

93

KARAKTERISTIK KURIKULUM 2013: 3/3

8. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan


dasar diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang
pendidikan menengah berimbang dengan pada kemampuan
intelektual (kemampuan kognitif tinggi).
9. Kompetensi Inti menjadi unsur pengorganisasi (organizing
elements) Kompetensi Dasar dimana semua KD dan proses
pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang
dinyatakan dalam Kompetensi Inti.
10.Kompetensi Dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip
akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya
(enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan
(organisasi horizontal dan vertikal).
11.Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu
tema (SD/MI). Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema
atau mata pelajaran di kelas tersebut. Setiap tema terdiri atas
beberapa sub-tema.

94

47
16/08/2013

ANALISIS KI/KD dan PERANCANGAN RPP: ...1/4

Mengapa urutan KI mulai dari Sikap Spritual (KI-1), Sikap Sosial (KI-
2), Pengetahuan (KI-3) dan Keterampilan (KI-4) ? (amati Pembukaan
UUD 45, Pancasila, UU Sisdiknas)
Mengapa urutan perancangan dan pelaksanaan pembelajaran
mulai dari KI-3 menuju KI-4 ? Keterampilan hanya dapat dibangun
dengan hasil yang baik melalui pengetahuan (pelukis, penyanyi,
olahragawan pasti memiliki pengetahuan yang memadai tentang
keterampilan yang ditekuninya). Keterampilan yang tidak melalui
proses pengetahuan (KI-3) tidak akan menghasilkan karya yang
baik.
Dalam proses perolehan pengetahuan dan keterampilan sikap
diintegrasikan sehingga seluruh mata pelajaran diorientasikan
memiliki kontribusi terhadap pembentukan sikap
Tidak berhenti pada pengetahuan tetapi berlanjut sampai pada
keterampilan dan pembentukan sikap

95

ANALISIS KI/KD dan PERANCANGAN RPP: ...1/4

Dalam proses perancangan dan pembelajaran alur


yang digunakan adalah : bermula KI-3 KI 4 dan
selanjutnya memberikan dampak terhadap
terbentuknya KD pada KI-2 dan KI-1
Setelah KI-3 dan KI-4 tuntas dianalisis, lalu
diturunkan materi yang relevan dan rancangan
skenario pembelajaran termasuk penugasan dan
penilaian.
Berdasarkan aktivitas belajar dan penugasan
tersebut dirancang indikator KD pada KI-1 dan KI-2
diintegrasikan

96

48
16/08/2013

ANALISIS KI/KD dan PERANCANGAN RPP: ...1/4

Contoh: Bahasa Indonesia:


Mulai dari KD kelompok KI-3 : Memahami konvensi
penulisan karya ilmiah
Indikator :
Memahami struktur karya ilmiah
Memahami ciri kebahasaan karya ilmiah
Memhami ciri isi karya ilmiah

97

ANALISIS KI/KD dan PERANCANGAN RPP: ...1/4

Contoh: Bahasa Indonesia:


Menuju KD kelompok KI-4 :
Mampu menulis atau menghasilkan karya ilmiah

Indikator :
Karya yang memenuhi struktur, ciri kebahasaan, dan ciri isi
karya ilmiah
Karya yang memenuhi originalitas dilihat dari sumber yang
digunakan atau diacu
Mempertahankan dan menjelaskan karya ilmiah tersebut

98

49
16/08/2013

ANALISIS KI/KD dan PERANCANGAN RPP: ...1/4

Contoh: Bahasa Indonesia:


KD dari KI 2 yang diintegrasikan:
Kejujuran, rasa ingin tau, tanggung
jawab, kritis, rasional
Santun, empati, peduli,

99

ANALISIS KI/KD dan PERANCANGAN RPP: ...1/4

Contoh: Matematika:
Mulai dari KD dari KI-3 : memahami sifat-sifat
grafik fungsi eksponensial dan logaritma
Indikator :
Membuktikan sifat
Menurunkan sifat
Menenetukan kecukupan dan keperluan grafik

100

50
16/08/2013

ANALISIS KI/KD dan PERANCANGAN RPP: ...1/4

Contoh: Matematika:
Menuju KD dari KI-4: Mampu menggambar atau
menyajikan grafik fungsi eksponensial dan logaritma
Indikator :
Menentukan titik potong
Menentukan nilai maksimum dan minimum
Melukiskan grafik
Membaca dan menerjemahkan grafik sesuai sifat2nya
Menganalisis grafik untuk menentukan persamaan atau
sebaliknya

101

ANALISIS KI/KD dan PERANCANGAN RPP: ...1/4

Contoh: Matematika:
Menuju KD dari KI-4: Mampu menyelesaikan masalah
nyata dengan menggunakan grafik fungsi eksponensial dan
logaritma
Indikator :
Menggunakan grafik untuk menentukan :
Perkembngan bakteri
Pertumbuhan penduduk
Bunga Uang

102

51
16/08/2013

ANALISIS KI/KD dan PERANCANGAN RPP: ...1/4

Contoh: Matematika:
KD dari KI-2: Disiplin, tanggung jawab, kerjasama,
kecermatan
Indikator :
Konsistensi terhadap waktu
Konsitensi terhadap panduan
Konsistensi terhadap norma atau nilai yang telah
ditetapkan sebelumnya
Frekuensi ketepatan dan kebenaran tindakan

103

PENERAPAN KI DAN KD
DALAM RANCANGAN PELAKSANAAN
PEMBELAJARAN

LINK VIDEO PAK SYAWAL BAGIAN 2

52
16/08/2013

PENYIAPAN IMPLEMENTASI
KURIKULUM 2013

Peta Jalan Implementasi Kurikulum 2013

2010-2011 2012-2013 2013-2015 2015-dst

Pengembangan Persiapan Implementasi Implementasi


-Kurikulum -Buku Bertahap: Luas:
-Guru -Guru, KS, PS -Guru, KS, PS
-KS & PS -Siswa -Siswa
-Sekolah -Sekolah

Reflektif Korektif Reflektif Korektif Reflektif

Sumatif
Pemantauan dan Evaluasi

Saat Ini 106

53
16/08/2013

Skala Implementasi
No Jenjang Kelas Tahun
Satuan 2013 2014 2015
1 SD I 2% 100% 100%
II 100% 100%
III 100%
IV 2% 100% 100%
V 100% 100%
VI 100%
2 SMP VII 4% 100% 100%
VIII 100% 100%
IX 100%
3 SMA/SMK X 10% 100% 100%
XI 100% 100%
XII 100%
107

Cakupan Sasaran Sekolah, Siswa, dan Guru

No Jenjang Jumlah Sekolah Jumlah Guru Jumlah Siswa

1 SD 2.598 15.629 341.630

2 SMP 1.521 27.403 342.712

3 SMA 1.270 5.979 335.940

4 SMK 1.021 7.102 514.783

Jumlah 6.410 56.113 1.535.065

Kriteria:
1. Kesiapan Sekolah (diprioritaskan eks RSBI dan Akreditasi A)
2. Kesiapan Distribusi (keterjangkauan distribusi buku)
3. Berbasis Provinsi 108

54
16/08/2013

Jadwal Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013


15 Juli
10 - 14 Juli
dan
10 - 16 Juli
4 - 8 Juli

29 Juni - 3 Juli Pelatihan Guru


Sasaran
Pelatihan Guru dan
Implementasi
26 - 28 Juni inti Kepala di sekolah
Sekolah/ sasaran
Pelatihan Pengawas
Instruktur Sasaran
Nasional

Penyegaran
Narasumber
Nasional

109

Model Pelatihan Guru

Nara Sumber Instruktur Nasional Guru Inti

Jakarta 6 LPMP
Region Guru
Instrukt. Nas. Sasaran
Guru Inti
Instrukt. Nas Instrukt. Nas Guru Guru
Guru Inti Sasaran Sasaran
Guru Inti
Pelatihan Instruktur
Pelatihan Guru Inti Pelatihan Guru
Nasional

Kuantitas dan kualitas pemahaman guru sasaran tidak kurang dari kriteria minimal (buku)

Catatan: 1. Pelatihan dilaksanakan untuk tiap kelompok guru mapel/guru kelas


2. Mapel SD (PJOK, Seni Budaya Prakarya, Agama) bergabung ke kelompok guru kelas
3. Guru Agama SMP bergabung ke Kelompok PPKn
4. Kepala Sekolah mengikuti pelatihan guru dengan jam tambahan 110

55
16/08/2013

Esensi Pelatihan Kurikulum 2013


Memahami pandangan dan pesan-pesan Kurikulum 2013 sebagai bagian
dari kurikulum tidak tertulis (hidden curriculum) untuk melengkapi yang
tertulis (written curriculum) sehingga dapat memperkaya kurikulum yang
diajarkan (taught/delivered curriculum)
Memahami kebutuhan dan arah perubahan pola pikir pendidik dan
tenaga kependidikan agar Kurikulum 2013 dapat diimplemenkan dengan
baik
Memahami filosofi, rasional, dan konsep Kurikulum 2013 dan
perbedaannya dengan kurikulum sebelumnya
Memahami standar-standar yang dipergunakan sebagai acuan dalam
perumusan Kurikulum 2013 dan perbedaannya dengan standar-standar
yang dipergunakan pada kurikulum sebelumnya
Memahami proses pembelajaran dan proses penilaian menurut
Kurikulum 2013 dan menuangkannya dalam rencana pelaksanaan
pembelajaran

Rencana Implementasi
Project Implementation Unit (PIU)

PENYIAPAN BUKU

Penulisan Buku
Master Buku
Pengandaan dan Distribusi

PELATIHAN GURU
Persiapan
Pelatih Nasional
Guru Inti
Guru Kelas

PELAKSANAAN

Pendampingan

EVALUASI

PERSIAPAN (Jan-Jun) IMPLEMENTASI (Jul)


112

56
16/08/2013

EVALUASI
IMPLEMENTASI KURIKULUM

Indikator Keberhasilan Implementasi Kurikulum 2013


Entitas
No Indikator Keberhasilan
Pendidikan
1 Peserta Didik Lebih produktif, kreatif, inovatif, afektif
Lebih senang belajar
2 Pendidik dan Lebih bergairah dalam melakukan proses pembelajaran
Tenaga Lebih mudah dalam memenuhi ketentuan 24 jam per minggu
Kependidikan
3 Manajemen Lebih mengedepankan layanan pembelajaran termasuk
Satuan bimbingan dan penyuluhan
Pendidikan Terjadinya proses pembelajaran yang lebih variatif di sekolah
4 Negara dan Reputasi internasional pendidikannya menjadi lebih baik
Bangsa Memiliki daya saing yang lebih tinggi, sehingga lebih menarik
bagi investor
5 Masyarakat Memperoleh lulusan sekolah yang lebih kompeten
Umum Dapat berharap kebutuhan pendidikan akan dipenuhi oleh
sekolah (tidak perlu kursus tambahan)
114

57
16/08/2013

Ruang Lingkup Evaluasi


Formatif
Jangka Pendek
Evaluasi Sumatif
Jangka Panjang
Hard Evidence Soft Evidence
Kelengkapan,

Dokumen

Siswa
Peningkatan
Kebenaran,
Kompetensi (3)
Keterbacaan

Kelengkapan, Kese-
Perubahan Pola
Buku

Guru
suian, Kebenaran,
Keterbacaan, Pikir + Peningkatan
Produk
Estetika Kompetensi (4+1)

Hasil
Sekolah
Pelatihan & Supervisi
Guru

Perbaikan Budaya
(model, waktu,
materi, Instruktur)
dan Manajemen
Sekolah

Publik
Administrasi dan Produktif, Kreatif,
Manajemen Inovatif, Afektif
115

PEMBEKALAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013


BAGI ASESOR
DALAM PELAKSANAAN PLPG

58
Penilaian Autentik
13/07/2015

Penilaian Pembelajaran

Pendidikan dan Latihan Profesi Guru


Rayon 138 Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta

1. Pendahuluan
Proses Pengumpulan informasi/bukti
Penilaian tentang capaian pembelajaran peserta didik
Hasil dalam kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan, yang dilakukan secara
Belajar oleh terencana dan sistematis, selama dan
setelah proses pembelajaran.
Pendidik

Permendikbud RI No. 66 Tahun 2013


tentang Standar Penilaian
Dasar Permendikbud RI No. 104 Tahun 2014
tentang Penilaian hasil Belajar oleh Pendidik
Hukum pada Pendidikan Dasar dan Menengah

1
13/07/2015

Penilaian Hasil Belajar

1. Makna 2. Tujuan 3. Acuan


Proses pengumpulan dan Mengetahui tingkat Penilaian Acuan Kriteria,
pengolahan informasi penguasaan peserta didik yakni penilaian kemajuan
untuk mengukur Menetapkan ketuntasan peserta didik dibandingkan
pencapaian hasil belajar penguasaan kompetensi dengan kriteria yang
peserta didik Menetapkan program ditetapkan (KKM).
perbaikan/pengayaan Bagi yang belum berhasil
Memperbaiki proses ada pembelajaran remedial
pembelajaran setelah kegiatan penilaian.
Bagi yang sudah berhasil
dapat diberi pengayaan
(pendalaman atau
perluasan dari kompetensi)

Prinsip dan Pendekatan Penilaian


Prinsip Pendekatan
1. Sahih 1. Pendekatan penilaian yang
2. Objektif digunakan adalah penilaian acuan
3. Adil kriteria (PAK)
4. Terpadu 2. PAK merupakan penilaian
pencapaian kompetensi yang
5. Ekonomis didasarkan pada kriteria
6. Transparan ketuntasan minimal (KKM).
7. Menyeluruh dan kesinambungan 3. KKM Pengetahuan dan
8. Sistematis Keterampilan : > 2.67
9. Akuntabel 4. KKM Sikap : Baik
10.Edukatif

Penilaian Proses dan Hasil Belajar

2
13/07/2015

Acuan Kriteria

Capaian
Modus Rerata untuk optimum
untuk sikap pengetahuan untuk
keterampilan

Fungsi Penilaian

Formatif Sumatif
Menentukan keberhasilan
Memperbaiki kekurangan
peserta didik (1 semester,
hasil belajar (sikap,
1 tahun, atau masa
pengetahuan,
pendidikan di satuan
keterampilan)
pendidikan)

Dasar penulisan rapor,


Dasar untuk remedial dan kenaikan kelas, dan
pembelajaran selanjutnya keberhasilan belajar di
satuan pendidikan

3
13/07/2015

Penilaian
Proses Hasil
Selama Pembelajaran Setelah
Pembelajaran

Informal Formal
Komentar guru terhadap Kegiatan yg disusun secara
sistematis dengan tujuan untuk
jawaban/pertanyaan/komen membuat simpulan tentang
tar peserta didik kemajuan peserta didik

Penilaian Proses dan Hasil Belajar

Kekhasan Penilaian
dalam Kurikulum 2013

Penilaian Autentik Penilaian Autentik


Lebih mampu Bentuk penilaian yang menghendaki
peserta didik menampilkan sikap,
memberikan informasi menggunakan pengetahuan dan
kemampuan peserta keterampilan yang diperoleh dari
pembelajaran dalam melakukan
didik secara holistik dan tugas pada situasi yang
valid. sesungguhnya.

4
13/07/2015

2. Lingkup dan Sasaran Penilaian


Kompetensi dasar dan indikator, Kegiatan Belajar
Mengajar, dan Penilaian Hasil Belajar, merupakan
tiga komponen pembelajaran yang berhubungan
erat dan tidak dapat dipisahkan.
Kompetensi dasar dan indikator dicapai melalui
kegiatan belajar mengajar (KBM) dan penilaian
pembelajaran dimaksudkan untuk mengetahui
perubahan sikap dan perilaku yang terjadi pada
siswa setelah mengalami KBM. (lihat Gronlund,
1971)

Hubungan 3 Komponen Pembelajaran


Kompetensi Dasar dan
Indikator

Kognitif

Materi Keterampilan

Afektif

KBM Penilaian

5
13/07/2015

Lingkup Penilaian Hasil Belajar

Sikap (spiritual
dan sosial)

Keterampilan
Pengetahuan (abstrak atau
konkret)

Sasaran Penilaian

Mencipta
Mengamalkan
Mengkomunikasikan Mengevaluasi

Menghayati Manalar Menganalisis

Mengharg Mencoba Menerapk


ai an

Menanggapi Menanya Memahami

Menerima Mengamati Mengingat

Sikap Keterampilan Abstrak Kognitif (pengetahuan)


(Krathwohl) (Dyers) (Bloom)
12

6
13/07/2015

Sasaran Penilaian
Mencipta

Mengevaluasi
Tindakan Orisinal
Mengamalkan

Alami Menganalisis
Menghayati
Mengharg Menerap-
Mahir
ai kan

Membiasakan
Menanggapi Memahami
gerakan
Meniru
Menerima Kesiapan Mengingat
Persepsi

Sikap Keterampilan Konkret Kognitif (pengetahuan)


(Krathwohl) (Dyers) (Bloom)
13

Sasaran Penilaian Ranah Pengetahuan


Kemampuan Deskripsi
Berpikir
Mengingat Kemampuan menghafal verbal atau mengingat materi pembelajaran yang
( K1) sudah dipelajari dari guru, buku, atau sumber lain tanpa melakukan
perubahan tentang pengetahuan hafalan berupa fakta, konsep, prinsip,
dan prosedur.
Memahami Kemampuan mengolah pengetahuan yang dipelajari menjadi sesuatu yang
(K2) baru, seperti mengganti kata dengan sinonim, menulis kembali sesuatu
dengan gaya sendiri, mengubah bentuk komunikasi dari tulisan ke tabel
atau visual, memberi tafsir terhadap sesuatu hal,
Menerapkan Kemampuan menggunakan informasi /menerapkan rumus, dalil, atau
(K3) prinsip pada kasus nyata yang terjadi di lapangan atau untuk sesuatu yang
baru.

Mengalisis Kemampuan menggunakan informasi untuk mengklasifikasi,


(K4) mengelompokkan, menentukan hubungan suatu informasi dengan
informasi lain, antara fakta dan konsep, argumentasi dan kesimpulan.
Mengevaluasi Kemampuan menilai suatu objek, suatu benda, atau informasi dengan
(K5) kriteria tertentu.

Mencipta Kemampuan membuat sesuatu yang baru (cerita/tulisan) dari apa yang
(K6) sudah ada sehingga hasil tersebut menjadi baru dan berbeda dari yang
ada.

7
13/07/2015

Sasaran Penilaian Keterampilan Konkret


Tingkat Kemampuan yang diharapkan
Psikomotorik
Persepsi Menunjukkan perhatian untuk melakukan suatu gerakan

Kesiapan Menunjukkan kesiapan mental dan fisik untuk melakukan suatu gerakan

Meniru Meniru gerakan secara terbimbing

Membiasakan Melakukan gerakan mekanistik


gerakan

Mahir Melakukan gerakan kompleks dan termodifikasi

Menjadi gerakan Menjadi gerakan alami yang diciptakan sendiri atas dasar gerakan yang
alami sudah dikuasai sebelumnya

Menjadi gerakan Menjadi gerakan baru yang orisinal dan sukar ditiru oleh orang lain dan
orisinal menjadi ciri khasnya

Sasaran Penilaian pada Keterampilan Abstrak


Tingkat Psikomotorik Kemampuan yang diharapkan

Mengamati Perhatian pada waktu mengamati suatu objek, membaca tulisan,


catatan tentang yang diamati, atau mendengar suatu penjelasan.

Menanya Jumlah, kualitas, dan jumlah pertanyaan yang diajukan peserta didik
(pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, dan hipotetik).

Mengumpulkan Jumlah dan kualitas sumber yang dikaji/digunakan, kelengkapan


informasi /Mencoba informasi, validitas informasi, alat yang digunakan untuk mengumpulkan
data.

Menalar Mengembangkan interpretasi, argumentasi dan kesimpulan mengenai


keterkaitan informasi dari dua fakta/konsep, interpretasi argumentasi
dan kesimpulan tentang hubungan dua fakta/konsep, mensintesis dan
menyimpulkan.
Mengkomunikasikan Manyajikan hasil kajian (dari mengamati sampai menalar) dalam bentuk
tulisan, grafis, media elektronik, dan dalam bentuk lisan (presentasi).

8
13/07/2015

Sasaran Penilaian pada Ranah Sikap


Tingkatan Sikap Deskripsi
Menerima nilai Kesediaan menerima suatu nilai dan memberikan
perhatian pada nilai tersebut.

Menanggapi nilai Kesediaan menjawab suatu nilai dan ada rasa puas dalam
membicarakan nilai tersebut.

Menghargai nilai Menganggap nilai tersebut baik; menyukai nilai tersebut;


dan komitmen terhadap nilai tersebut.

Menhayati nilai Memasukkan nilai tersebut sebagai bagian dari sistem nilai
dirinya.

Mengamalkan Mengembangkan nilai tersebut sebagai ciri dirinya dalam


berpikir, berkata, berkomunikasi, dan bertindak (karakter)

3. Tingkat Kompetensi
Batas minimal pencapaian kompetensi
sikap, pengetahuan, dan keterampilan
Kompetensi
Kompetensi
Pengetahuan
Kompetensi Sikap Keterampilan
dinyatakan dalam
dinyatakan dalam dinyatakan dalam
skor tertentu
deskripsi kualitas deskripsi
untuk
tertentu kemahiran dan
kemampuan
atau skor tertentu
berpikir

9
13/07/2015

Tingkat Pencapaian Kompetensi


No. Tingkat Kompetensi Tingkat Kelas
1. Tingkat 0 TK/RA
2. Tingkat 1 Kelas I SD/MI/SDLB/Paket A
Kelas II SD/MI/SDLB/Paket A
3. Tingkat 2 Kelas III SD/MI/SDLB/Paket A
Kelas IV SD/MI/SDLB/Paket A
4. Tingkat 3 Kelas V SD/MI/SDLB/Paket A
Kelas VI SD/MI/SDLB/Paket A
5. Tingkat 4 Kelas VII SMP/MTs/SMPLB/Paket B
Kelas VIII SMP/MTs/SMPLB/Paket B
6. Tingkat 4A Kelas IX SMP/MTs/SMPLB/Paket B
7. Tingkat 5 Kelas X SMA/MA/SMALB/SMK/MAK/Paket C
Kelas XI SMA/MA/SMALB/SMK/MAK/Paket C
8. Tingkat 6 Kelas XII SMA/MA/SMALB/SMK/MAK/Paket C

4. Ketuntasan Belajar
Nilai Ketuntasan Nilai Ketuntasan Pengetahuan dan Keterampilan
Sikap
Predikat Rentang Angka Huruf
Pengetahuan
3,85 4,00 A
ditetapkan
Sangat Baik (SB) 3,51 3,84 dengan skor A-
rerata 2,67 dan
3,18 3,50 keterampilan B+
2,85 3,17 dengan capaian B
optimum 2,67
Baik (B) 2,51 2,84 B-
2,18 2,50 C+
Cukup (C) 1,85 2,17 C
1,51 1,84 C-
Kurang (D) 1,18 1,50 D+
1,00 1,17 D

10
13/07/2015

5. Teknik dan Bentuk Penilaian


Kurikulum 2013 menerapkan penilaian autentik untuk menilai kemajuan belajar
peserta didik yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan

Tes Non-Tes
Kognitif Sikap Spiritual
(KD-KI 3) (KD-KI 1)

Keterampilan Sikap Sosial


(KD-KI 4) (KD-KI 2)

Ruang Lingkup Penilaian dan Bentuk Instrumen

Observasi Tes Tulis


Penilaian diri Tes Lisan
Penilaian teman sebaya Penugasan
Jurnal
Sikap
Pengetahuan
KD KI- 1
KD KI-3
dan 2

Keterampilan
KD KI-4
Tes Praktek
Projek
Produk
Penilaian Proses dan Hasil Belajar
Portofolio
Tertulis

11
13/07/2015

a. Mengukur Pengetahuan

Penu-
gasan

Tes
Lisan
Tes Tulis

Kompetensi Pengetahuan: Tes Tulis

Penilaian kompetensi akibat) atau mensuplai


pengetahuan merupakan jawaban (isian singkat,
penilaian untuk mengukur jawaban pendek, atau
kemampuan berpikir uraian).
(tingkat rendah maupun Soal tes tulis yang bersifat
tingkat tinggi) yang sudah autentik adalah soal yang
dikuasai peserta didik menghendaki peserta didik
setelah mendapat merumuskan jawaban
pengalaman belajar. sendiri, seperti uraian
Tes yang digunakan berupa menggunakan kata-kata
tes tulis, yang menuntut sendiri (mengemukakan
peserta didik memilih pendapat, menyimpulkan,
jawaban (pilihan ganda, dua dsb).
pilihan (B-S atau ya-tidak),
menjodohkan, atau sebab-

12
13/07/2015

Kompetensi Pengetahuan: Tes Lisan

Penilaian kompetensi tersebut, kemampuan


pengetahuan juga dapat pengungkapan gagasan
dilakukan menggunakan yang orisinal, kebenaran
tes lisan. konsep tentang berbagai
Tes lisan menuntut keilmuan, ketepatan diksi,
peserta didik untuk struktur, kaidah
mengeskpresikan kebahasaan, akan terlihat
pengetahuannya dalam oleh guru.
berbagai kegiatan seperti Tes lisan ini adalah teknik
diskusi, tanya jawab, dan tes yang mencerminkan
percakapan. Melalui penilaian autentik.
kegiatan-kegiatan

Format Observasi dalam Diskusi


Nama Pernyataan
Peserta Pengungkapan Kebenaran Ketepatan dsb
gagasan yang Konsep penggunaan
orisinal istilah
ya tidak ya tidak ya tidak ya tidak
A
B
C

13
13/07/2015

Kompetensi Pengetahuan: Penugasan

Penilaian kompetensi dikerjakan secara


pengetahuan juga individu atau
dapat dilakukan kelompok sesuai
menggunakan dengan karakter
penugasan. tugas.
Bentuk instrumen
penugasan berupa
pekerjaan rumah dan
atau proyek yang

b. Mengukur Keterampilan

Unjuk
Kerja

Tertulis Projek

Keteram-
pilan

Portofolio Produk

14
13/07/2015

Kompetensi Keterampilan
(Unjuk Kerja/Kinerja/Praktik)
Penilaian keterampilan ranah konkret dilakukan
dengan cara mengamati kegiatan peserta didik
dalam melakukan sesuatu (membuat,
memodifikasi, merangkai) yang memperlihatkan
gerak motorik dalam praktikum di lab, praktik
ibadah, praktik olah raga, praktik menyanyi,
menari, bermain peran, presentasi, dsb.
Penilaian keterampilan ranah abstrak dilakukan
dengan cara mengamati kegiatan peserta didik
dalam menulis, membaca, menghitung,
menggambar, dan mengarang.

Kompetensi Ketermpilan: Pengamatan


Pengamatan merupakan cara untuk
mendapatkan data secara langsung (live)
ketika peserta didik melakukan unjuk kerja (on
the spot) melalui penggunaan pancaindera
penglihatan dan pendengaran. Unjuk kerja
peserta didik tersebut sengaja dirancang guru
dalam Kegiatan Belajar Mengajar di kelas atau
di luar kelas.

15
13/07/2015

Pengamatan Unjuk
Kerja/Kinerja/Praktik

Kemampuan Kemampuan Kemampuan


berbicara Kerja di Lab praktik olah
Diskusi Penggunaan alat raga dan seni
Berpidato Penggunaan Gerakan
Bercerita bahan praktikum Penggunaan alat
Wawancara Produk/hasil
karya seni

Bentuk Instrumen Pengamatan

Daftar Cek Skala Penilaian


Daftar cek dipilih jika unjuk Skala penilaian dengan
kerja yang dinilai relatif rentang nilai 1, 2, 3 atau 1, 2,
sederhana, sehingga kinerja 3, 4 dapat dipilih jika
peserta didik representatif penilaian unjuk kerja perlu
untuk diklasifikasikan menjadi lebih detail, lebih dalam, atau
dua kategorikan saja, ya atau lebih mengungkap
tidak, memenuhi atau tidak keterampilan-keterampilan
memenuhi. yang spesifik .

16
13/07/2015

Format Instrumen Pengamatan Praktik di Laboratorium

Nama Aspek yang dinilai


Peserta Memakai Mengikuti Membersih- Menyimpan alat Skor
Didik Jas Lab dan Prosedur kan alat pada tempatnya
keleng- Kerja
kapannya
Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
Bobby
Indah
Thomas
Nadya

Diisi dengan menggunakan tanda cek (). Kategori penilaian: Ya mendapat skor 1,
dan Tidak mendapat skor 0. Jumlah skor maksimum adalah 4.

Format Instrumen Penilaian Praktik di Laboratorium

Nama Aspek yang dinilai


Peserta Memakai Mengikuti Membersih- Menyimpan Skor
Didik Jas Lab dan Prosedur kan alat alat pada
keleng- Kerja tempatnya
kapannya
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Bobby
Indah
Thomas
Nadya

Diisi dengan menggunakan tanda cek (). Kategori penilaian: 4 = sangat baik, 3 = baik,
2 = cukup, dan 1 = kurang. Akan lebih baik jika penentuan kategori penilaian
didasarkan pada rubrik penilaian seperti halaman berikutnya. Jumlah maksimum skor
adalah 16.

17
13/07/2015

Format Rubrik Penilaian Praktik


Aspek Kriteria dan Skor
1 2 3 4
Memakai jas lab Tidak memakai Hanya memakai Memakai jas Memakai jas
dan ketiga -tiganya jas lab saja lab, dan salah lab, masker, dan
kelengkapan- satu dari sarung tangan
nya masker atau secara lengkap
sarung tangan
Mengikuti Ada dua Ada dua Ada satu Seluruh langkah
prosedur kerja langkah atau langkah yang langkah yang yang ditetapkan
lebih tidak tidak tidak diikuti
dilakukan sepenuhnya sepenuhnya
dilakukan dilakukan
Membersihkan Semua alat Hanya sebagian Sebagian besar Semua alat
alat tidak kecil alat yang alat dibersihkan dibersihkan
dibersihkan dibersihkan
Menyimpan alat Semua alat Hanya sebagian Sebagian besar Semua alat
pada tempatnya tidak kecil alat yang alat dikem- dikembalikan
dikembalikan dikembalikan balikan pada pada tempatnya
pada tempatnya pada tempatnya tempatnya

Kompetensi Keterampilan: Projek


Penilaian projek menginformasikan
digunakan untuk sesuatu hal secara jelas.
mengetahui kemampuan
mengaplikasi,
menyelidiki, dan
kemampuan

Perencanaan Pelaksanaan Pelaporan

18
13/07/2015

Format Instrumen Penilaian Projek

Nama Aspek yang dinilai


Peserta Persiapan Pelaksanaan Pelaporan Tertulis Skor
Didik
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Bobby
Indah
Thomas
Nadya

Diisi dengan menggunakan tanda cek (). Kategori penilaian: 4 = sangat baik, 3 = baik,
2 = cukup, dan 1 = kurang. Akan lebih baik jika penentuan kategori penilaian
didasarkan pada rubrik penilaian seperti halaman berikutnya. Jumlah maksimum skor
adalah 12.

Format Rubrik Penilaian Projek


Aspek Kriteria dan Skor
1 2 3 4
Persiapan Jika hanya Jika memuat 4 Jika memuat 5 Jika memuat 6
memuat 3 komponen saja, komponen saja, 1 komponen, yakni
komponen saja, 3 2 komponen komponen tidak tujuan, topik,
komponen lain tidak alasan, tempat,
tidak responden, dan
daftar pertanyaan
Pelak- Data tidak Data lengkap, Data lengkap, Data lengkap,
sanaan lengkap, tidak tidak terstruktur, terstruktur, terstruktur, dan
terstruktur, dan dan tidak sesuai namun tidak sesuai dengan
tidak sesuai dengan tujuan sesuai dengan tujuan
dengan tujuan tujuan
Pelaporan Pembahasan Pembahasan Pembahasan Pembahasan
Tertulis tidak berdasarkan berdasarkan berdasarkan data,
berdasarkan data, sesuai data, sesuai sesuai dengan
data, tidak dengan tujuan, dengan tujuan, tujuan, dan
sesuai dengan namun dan kesimpulan kesimpulan serta
tujuan, demikian kesimpulan dan relevan, namun saran relevan
juga kesimpulan saran tidak saran tidak
dan saran relevan relevan

19
13/07/2015

Kompetensi Keterampilan: Produk


Penilaian produk seperti makanan,
meliputi penilaian pakaian, sarana
kemampuan peserta kebersihan, alat
didik dalam mem- teknologi, hasil karya
buat produk-produk, seni, dan barang
teknologi, dan seni kerajinan.

Pembuatan
Persiapan Produk
Produk

Format Instrumen Penilaian Produk


No. Aspek yang dinilai Skor
Skor
1 2 3 4
1. Perencanaan Bahan
2. Proses Pembuatan
a. Persiapan alat
b. Teknik Pengolahan
c. K3 (keamanan, keselamatan,
kebersihan)
4. Hasil Produk
a. Kebaruan/orisionalitas
b. Kesesuaian spesifikasi

Diisi dengan menggunakan tanda cek (). Kategori penilaian: 4 = sangat baik, 3 = baik,
2 = cukup, dan 1 = kurang. Akan lebih baik jika penentuan kategori penilaian
didasarkan pada rubrik penilaian. Jumlah maksimum skor adalah 24.

20
13/07/2015

Kompetensi Keterampilan: Portofolio


Penilaian portofolio musik, laporan
pada dasarnya penelitian, lukisan,
menilai karya-karya dsb.
peserta didik secara
individu pada satu Puisi
periode untuk suatu Puisi 3
2
mata pelajaran. Puisi
1
Misalnya: karangan,
puisi, komposisi
Portofolio

Format Penilaian Portofolio


Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Alokasi Waktu 1 semester
Sampel yang dikumpulkan Karangan
Nama Peserta didik Kelas
No. Kompetensi Waktu Aspek yang dinilai Keterangan/
Dasar kebahasa EYD Sistematika Catatan
an penulisan
1. Menulis karangan 30/7
deskripsi. 10/8
12/9
2. Membuat resensi 20/9
buku
12/10
5/11

21
13/07/2015

Kompetensi Keterampilan: Tertulis


Selain menilai kompetensi pengetahuan,
penilaian tertulis juga digunakan untuk
menilai kompetensi keterampilan, khususnya
menulis karangan, menulis laporan, dan
menulis surat.

c. Menilai Sikap
Sikap bermula dari perasaan
(suka atau tidak suka) yang
terkait dengan
kecenderungan peserta didik
dalam merespon
sesuatu/objek. Sikap juga guru Siswa
Penilaian
sebagai ekspresi dari nilai- diri
nilai atau pandangan hidup
Penilaian
yang dimiliki oleh peserta Teman
Sebaya
didik. Sikap dapat dibentuk,
sehingga terjadi perilaku atau
tindakan yang diinginkan.

22
13/07/2015

Observasi

Sikap dan perilaku keseharian peserta


didik direkam melalui pengamatan
dengan menggunakan format yang
berisi sejumlah indikator perilaku yang
diamati.

Misal: Ketekunan, percaya


diri, kerjasama, kejujuran,
Lembar Pengamatan disiplin, atau nilai-nilai

yang diturunkan dari visi,


misi SD/SMP Santa Ursula

Format Pengamatan Sikap ke tanggal ................................


No. Nama Aspek Perilaku yang dinilai
Peserta Skor
Bekerjasama Percaya diri Tanggungjawab
Didik
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Bobby
2 Indah
3 Thomas
4 Nadya

Diisi dengan menggunakan tanda cek (). Kategori penilaian: 4 = sangat baik, 3 = baik, 2 =
cukup, dan 1 = kurang. Akan lebih baik jika penentuan kategori penilaian didasarkan pada
rubrik penilaian seperti halaman berikutnya. Jumlah maksimum skor adalah 12.

23
13/07/2015

Penilaian Jurnal
Jurnal merupakan
kumpulan rekaman
catatan guru dan atau
tenaga kependidikan di
lingkungan sekolah
tentang sikap dan
perilaku positif atau
negatif, selama dan di
luar proses pembelajaran
mata pelajaran.

Format Penilaian Jurnal


Nama :
Kelas :

Hari, Tanggal Kejadian Keterangan

24
13/07/2015

Penilaian Diri
Merupakan teknik
penilaian dengan cara
meminta peserta didik
untuk mengemukakan
kelebihan dan
kekurangan dirinya
dalam konteks
pencapaian kompetensi.
Instrumen yang
digunakan berupa
lembar penilaian diri.

Format Penilaian Diri


Nama Dony
Penilaian Sikap Partisipasi (keaktifan) dalam diskusi kelompok
Tanggal Pengisian .

No. Pernyataan Skala


1. Selama diskusi saya mengusulkan ide kepada kelompok untuk
didiskusikan
2. Selama diskusi saya menjawab pertanyaan dari teman
3. Saya memberikan solusi atas masalah yang dibahas di kelompok
4. Saya mengerjakan tugas kelompok yang menjadi bagian saya
5. Saya membantu teman kelompok yang mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan tugasnya

Keterangan: 4 = selalu; 3 = sering; 2 = kadang-kadang; 1 = tidak pernah

25
13/07/2015

Penilaian Teman Sebaya


Penilaian teman sebaya
atau antarpeserta didik
merupakan teknik
penilaian dengan cara
meminta peserta didik
untuk saling menilai (3
teman sekelasnya)
terkait dengan
pencapaian kompetensi
sikap.

Format Penilaian Teman Sebaya


Nama Penilai Dony
Penilaian Sikap Partisipasi (keaktifan) dalam diskusi kelompok
Tanggal Pengisian .

No. Pernyataan Adi Booby Tommy


1. Selama diskusi teman saya mengusulkan ide
kepada kelompok untuk didiskusikan
2. Selama diskusi teman saya menjawab
pertanyaan dari teman lain
3. Teman saya memberikan solusi atas masalah
yang dibahas di kelompok
4. Teman saya mengerjakan tugas kelompok yang
menjadi bagiannya
5. Teman saya membantu teman kelompok yang
mengalami kesulitan dalam menyelesaikan
tugasnya

26
13/07/2015

6. Waktu Pelaksanaan Penilaian


No. Penilaian Waktu
1. Ulangan Harian Setiap akhir pembelajaran suatu KD atau
beberapa bagian KD
2. Ujian Tengah Semester Pada minggu 7 suatu semester
3. Ujian Akhir Semester Pada akhir suatu semester
4. Ujian Sekolah Pada akhir tahun belajar satuan pendidikan
5. Penilaian Proses Dilaksanakan selama proses pembelajaran
sepanjang tahun ajaran
6. Penilaian Diri Dilaksanakan pada akhir setiap semester
7. Penilaian teman sebaya Dilaksanakan pada akhir setiap semester

7. Pengolahan
Penilaian setiap kompetensi hasil belajar
(sikap, pengetahuan, keterampilan) dilakukan
secara terpissah karena karakternya berbeda.
Hasil pekerjaan atau performance peserta
didik harus segera dianalisis untuk
menentukan tingkat pencapaian kompetensi
sehingga dapat ditindaklajuti memerlukan
pembelajaran remedial atau program
pengayaan.

27
13/07/2015

Format Analisis Hasil Pekerjaan


Peserta Didik
No. Nama Indikator dalam satu RPP Kesimpulan
1 2 3 4 5 6 dst Yang Yang
dikuasai belum
1. Bunga
2. Amin
3. Candra
4. Dara
5. Bambang
6. ..

8. Pelaporan Pencapaian
Kompetensi Peserta Didik
Menggunakan skala skor penilaian 4,00 1,00
dalam menyekor pekerjaan peserta didik
untuk seluruh kegiatan penilaian.
Untuk masing-masing ranah digunakan
penyekoran dan pemberian predikat yang
berbeda sebagai tercantum dalam Tabel
berikut.

28
13/07/2015

Tabel Konversi Skor


Sikap Pengetahuan Keterampilan
Modus Predikat Skor Rerata Huruf Capaian Huruf
Optimum
4,00 Sangat 3,85 4,00 A 3,85 4,00 A
baik 3,51 3,84 A- 3,51 3,84 A-
3,00 Baik 3,18 3,50 B+ 3,18 3,50 B+
2,85 3,17 B 2,85 3,17 B
2,51 - 2, 84 B- 2,51 - 2, 84 B-
2,00 Cukup 2,18 2,50 C+ 2,18 2,50 C+
1,85 2,17 C 1,85 2,17 C
1,51 1,50 C- 1,51 1,50 C-
1,00 Kurang 1,18 1,50 D+ 1,18 1,50 D+
1,00 1,17 D 1,00 1,17 D

5. Penutup

Penilaian kognitif, keterampilan/psikomotorik, dan afektif wajib


dilakukan manakala semua kompetensi itu memang dituntut dalam
silabus maupun Rencana Perkuliahan.
Masing-masing kompetensi memiliki teknik dan bentuk penilaian
tersendiri sehingga ada teknik dan bentuk penilaian untuk kognitif,
keterampilan, dan sikap/afektif.
Agar penilaian memenuhi kriteria kesahihan dan objektivitas, maka
diperlukan instrumen-instrumen pendukung seperti lembar
pengamatan, rubrik penilaian, dan sistem penyekoran.

29
13/07/2015

Daftar Pustaka
Gronlund, Norman E. 1971. Measurement and Evaluation in Teaching. Second Edition. New
York: The Macmillan Company.
Krathwohl, D.R., Bloom, B.S., dan Masia, B.B. 1973. Taxonomy of Educational Objectives. The
classification of educational goals. Handbook II: Affective Domain. New York: David
MacKay.
Permendikbud. No. 66 Tahun 2013 Tentang Standar Penilaian..
Permendikbud. No. 104 Tahun 2014. Tentang Pedoman Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik.
Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Supratiknya, A. 2012. Penilaian Hasil Belajar dengan Teknik Nontes. Yogyakarta: Penerbit
Universtas Sanata Dharma.
Widharyanto, B. 2012. Ragam Teknik Penilaian dan Pengembangannya. Makalah
diseminarkan.

30
PENELITIAN
TINDAKAN KELAS
&
PENULISAN
KARYA ILMIAH
PLPG Rayon 138: Panduan PTK

PENELITIAN TINDAKAN KELAS


Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D.
Rohandi, Ph.D.

A. Pendahuluan
Kalau mau hasilnya bagus, ya silahkan kerjakan sendiri. Ungkapan ini
mungkin terdengar sebagai ungkapan dari seseorang yang kurang mau menerima
saran atau permintaan untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik. Akan tetapi,
di dalam ungkapan tersebut juga terkandung kebenaran. Ungkapan tersebut tidak
hanya berlaku bagi persoalan-persoalan yang sangat praktis akan tetapi juga
berlaku untuk persoalan yang mengandung unsur teoretis dan konseptual.
Ungkapan tersebut juga tidak hanya berlaku pada individu secara independen
akan tetapi juga berlaku bagi sebuah organisasi yang besar. Di dalam dunia yang
serba saling tergantung, di mana efektivitas atau ukuran baik-buruknya suatu
tindakan seringkali dinilai dalam konteksnya yang nyata, Penelitian Tindakan
membantu seseorang atau sekelompok orang untuk menemukan cara terbaik
yang dapat diterapkan di dalam konteksnya.
Hal tersebut juga berlaku di dalam dunia pendidikan. Secara agak ekstrem
dapat dikatakan bahwa setiap pembelajaran adalah unik. Unik dalam arti bahwa
pembelajaran selalu melibatkan guru dengan berbagai kompetensi dan
keterbatasannya, sekelompok murid tertentu dengan berbagai karakternya yang
melekat, di dalam sebuah sekolah yang memiliki lingkungan fisik, sosial, kultur,
serta fasilitas tertentu pula. Variabel-variabel tersebut menunjukkan bahwa
pembelajaran tidak berada di dalam ruang hampa melainkan melekat pada konteks
tertentu. Kenyataan inilah yang membangun kesadaran bahwa peningkatan
kualitas atau upaya melakukan perbaikan pembelajaran yang paling tepat adalah
perbaikan yang dilakukan di dalam konteks nyata oleh pelakunya sendiri di dalam
praktek kesehariannya melalui upaya sistematis dan terdokumentasi secara terus-
menerus yang tidak lain adalah melalui Penelitian Tindakan.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bukanlah hal yang baru, sudah berkembang
sejak tahun 1970-an atau bahkan sebelumnya. Akan tetapi di dalam dunia
pendidikan di Indonesia PTK baru menarik perhatian banyak pengambil kebijakan
dan pelaku pendidikan dalam dua dasa warsa terakhir. Perhatian yang besar pada
PTK didasari oleh keyakinan bahwa upaya perbaikan atau peningkatan kualitas
pembelajaran harus dilakukan oleh pelaku pembelajaran itu sendiri yang dalam
hal ini adalah guru.
Di dalam tulisan ini akan dibahas konsep dasar Penelitian Tindakan Kelas
serta gambaran tentang implementasinya di sekolah. Tulisan ini dibuat dengan
maksud pertama-tama sebagai acuan yang dapat dipergunakan oleh para guru
untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajarannya, dan bukan
kajian akademis teoretis.

B. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas


Untuk memulai mendalami pengertian PTK, baiklah disajikan beberapa
kutipan yang lazim dipakai sebagai acuan untuk merumuskan pengertian
penelitian tindakan (PT) atau action research .

131

PLPG Rayon 138: Panduan PTK

Action research is the systematic collection of information that is


designed to bring about social change (Bogdan & Biklen, 1992) p. 223
Bogdan dan Biklen (1996) merumuskan penelitian tindakan sebagai suatu
aktivitas pengumpulan informasi secara sistematis yang dirancang untuk
membawa/menghasilkan perubahan (h.223). Rumusan yang singkat itu
menyatakan dua dimensi penting dari suatu penelitian tindakan, yaitu
pengumpulan informasi secara sistematis dan pengumpulan informasi itu
dimaksudkan untuk melakukan perubahan.
Salah satu aktivitas pokok dari penelitian adalah pengumpulan informasi.
Pengumpulan informasi maksudnya suatu pengumpulan informasi mengenai
situasi yang ada sebelum dilakukan tindakan apapun, pengumpulan informasi juga
dilakukan setelah suatu kegiatan atau aktivitas yang dirancang dan dilaksanakan
secara terarah, terencana, dan menyeluruh. Yang dimaksud dengan pengumpulan
informasi yang terarah adalah pengumpulan informasi dari perencanaan sampai
pelaksanaannya dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah metodologis yang dapat
dipertangungjawabkan.
Hal kedua yang ditekankan di dalam definisi yang dinyatakan oleh Bogdan
dan Biklen sebagaimana dikutip di atas adalah tujuan pengumpulan informasi itu
adalah untuk melakukan perubahan. Hal ini merupakan salah satu inti dari
penelitian tindakan dan sekaligus merupakan kekhasan penelitian tindakan
dibandingkan dengan penelitian lain. Kalau penelitian lain lebih dimaksudkan
untuk memperoleh pemahaman atau pengetahuan atas fenomena tertentu, PT
dimaksudkan untuk melakukan perubahan. Ukuran keberhasilan penelitian
tindakan bukan pertama-tama dihasilkannya teori atau pengetahuan baru
melainkan terjadinya perubahan ke arah perbaikan di dalam praktek di mana
penelitian itu dilakukan.
Selanjutnya mari kita lihat rumusan lain tentang penelitian tindakan yang
dinyatakan oleh Stephen Corey (1953)
Action Research is the process by which practitioners attempt to study
their problems scientifically in order to guide, correct, and evaluate
their decisions and actions, Stephen Corey (1953).
Corey (1953), sebagaimana dinyatakan di dalam kutipan di atas
menunjukkan dimensi lain dari PT. Pertama dinyatakan secara eksplisit bahwa
PT dilakukan oleh praktisi (practitioner). Berbeda dengan penelitian pada
umumnya yang seringkali dilakukan oleh ilmuwan, PT dilakukan oleh praktisi.
Hal ini konsisten dengan pernyataan bahwa PT dimaksudkan untuk mengevaluasi
dan menuntun praktisi pada keputusan yang tepat. Hal ini sejalan dengan kalimat
pertama yang diungkapkan pada tulisan ini. Kedua, Corey juga secara eksplisit
menyatakan bahwa kajian atas permasalahan nyata yang dihadapi oleh para
praktisi tersebut dilakukan secara ilmiah.
Hal ketiga yang dinyatakan oleh Corey yang juga sejalan dengan pernyataan
Bogdan dan Biklen (1996) sebagaimana dikutip terdahulu, adalah penelitian
tindakan dipergunakan untuk menjadi pedoman atau panduan, melakukan
koreksi atau melakukan koreksi atas tindakan yang telah dilakukan.
Dua kutipan yang diambil di muka telah membantu kita memahami
hakekat penelitian tindakan dalam arti yang umum yang dapat dirangkum sebagai
berikut.

132

PLPG Rayon 138: Panduan PTK

Penelitian tindakan menurut Corey (1953):


Dilaksanakan oleh praktisi
Dilakukan secara ilmiah
Hasilnya dimaksudkan untuk menjadi pedoman, melakukan
koreksi atau evaluasi atas tindakan/aksi

Dua karakter penting penelitian tindakan menurut Bogdan dan


Biklen (1996):
Pengumpulan informasi secara sistematis
Bertujuan untuk melakukan perubahan

Selanjutnya marilah kita pelajari pengertian penelitian tindakan di dalam lingkup


yang lebih spesifik yaitu di dalam bidang pendidikan.
Carl Glickman (1992) memberikan gambaran yang lebih spesifik tentang
penelitian tindakan yang dilakukan di dalam seting sekolah yang dimaksudkan
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (instruction).
Action Research in education is study conducted by colleagues in a
school setting of the results of their activities to improve instruction,
Carl Glickman (1992)
Rumusan yang dikemukakan oleh Carl Glickman di atas membantu kita
untuk memperoleh gambaran yang lebih konkrit tentang penelitian tindakan di
lingkungan pendidikan. Secara spesifik Glickman menyebutkan bahwa penelitian
tindakan di dalam lingkungan pendidikan merupakan penelitian yang dilakukan
oleh guru di dalam seting lingkungan sekolah untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran.
Penelitian Tindakan yang dilakukan di dalam seting sekolah dan lebih
spesifik lagi di dalam kelas dengan maksud untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran inilah yang dikenal sebagai Penelitian Tindkan Kelas (PTK).
Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa PTK merupakan bentuk khusus
dari penelitian tindakan. Kekhususan dari PTK dari penelitian tindakan pada
umumnya adalah seting penelitian tindakan kelas adalah kelas atau pembelajaran
di mana arah perbaikan yang dituju adalah perbaikan mutu pembelajaran.
Setelah mempelajari beberapa kutipan tentang pengertian mulai dari
penelitian tindakan secara umum dan mengerucut ke Penelitian Tindakan Kelas
kita sekarang bisa memperoleh gambaran yang agak lengkap tentang makna PTK.
Untuk menutup diskusi tentang pengertian tentang Penelitian Tindakan Kelas ini
baiklah penulis kutipkan pengertian dari salah seorang tokoh dalam bidang
Penelitian Tindakan Kelas yaitu Kemmis.
Action research is a form of self-reflective enquiry undertaken by
participants in social (including educational) situations in order to improve
the rationality and justice of (a) their own social or educational practices,

133

PLPG Rayon 138: Panduan PTK

(b) their understanding of these practices, and (c) the situation in which the
practices are carried out. It is most rationally empowering when undertaken
by individuals, and sometimes in cooperation with 'outsiders'. In education,
action research has been employed in school-based curriculum
development, school improvement programs, and system planning and
policy development (Kemmis, 1983) p.162.
Dari rumusan-rumusan pengertian di atas terlihat dengan jelas bahwa PTK
tidak sama dengan penelitian formal pada umumnya yang memiliki kaidah-kaidah
sangat ketat. Perbedaan itu tidak hanya terletak pada metodologinya tetapi juga
pada tujuannya. Bahkan bisa disebutkan karena tujuannya berbeda maka
karakteristik PTK berbeda dengan penelitian pada umumnya. Berikut disajikan
tabel perbedaan antara penelitian formal pada umumnya dengan PTK.

Perbedaan antara Penelitian Tindakan dengan Penelitian Formal


(http://mypage.iusb.edu/~gmetteta/Classroom_Action_Research.html)
Aspek Penelitian Penelitian Tindakan
Keahlian yang
Mandiri atau dengan
diperlukan oleh Sangat mahir
konsultasi
Peneliti
Pengetahuan untuk
Pengetahuan yang dapat
Tujuan Penelitian diaplikasikan di dalam
digeneralisasi
situasi lokal
Metode yang
dipergunakan untuk Review/kajian penelitian Persoalan atau tujuan yang
mengidentifikasi terdahulu saat ini dihadapi
persoalan
Sangat dalam,
Prosedur untuk kajian Menggunakan sumber
menggunakan sumber
pustaka sekunder
primer
Acak atau sampling Siswa atau klien di mana
Pendekatan sampling
representatif kita berkarya
Prosedur lebih longgar,
dapat berubah dalam
Kontrol yang ketat dan perjalanan waktu,
Desain penelitian dalam kerangka waktu yang dilaksanakan dalam
panjang kerangka waktu yang relatif
singkat, kontrol melalui
triangulasi
Ukuran-ukuran untuk Alat ukur yang cocok dan
Prosedur pengukuran
mengevaluasi dan pretest tes terstandarisasi
Fokus pada segi praktek,
Analisis statistik, teknik-
Analisis data bukan signifikansi statistik,
teknik kualitatif
menggunakan data mentah
Penekanan pada Penekanan pda
Penerapan hasil
kemanfaatan teoretis kemanfaatan praktis

134

PLPG Rayon 138: Panduan PTK

C. Proses atau Tahap-tahap Penelitian Tindakan Kelas


Sesuai dengan tujuannya yaitu menghasilkan suatu perbaikan atau perubahan
khususnya pada proses pembelajaran, proses pelaksanaan PTK adalah khas,
berbeda dengan penelitian pada umumnya yang bertujuan menghasilkan ilmu
pengetahuan baru yang dapat digeneralisasi.
Proses tersebut digambarkan secara skematis oleh Kemmis seperti ditunjukkan di
bawah ini.

Gambar 1: Siklus Penelitian Tindakan Kelas (Kemmis, 1983)

Gambar di atas menunjukkan bahwa PTK terdiri dari empat tahap besar
yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Selain
menunjukkan empat tahap besar tersebut, diagram di atas juga menunjukkan
bahwa PTK tidak sekali jalan kemudian selesai melainkan menunjukkan adanya
siklus atau pengulangan. Dengan demikian terdapat dua hal yang perlu dibahas di
sini, pertama adalah tahap-tahap dan kedua adalah siklus. Pertama kita akan
bahas tahap-tahap terlebih dahulu.
Gerald Susman (1983) mengelaborasi tahap-tahap dalam satu siklus ke
dalam tahap-tahap yang lebih terperinci yang terdiri dari:
1. Diagnosis
Pada tahap ini peneliti (mandiri atau bersama partnernya) mengumpulkan
berbagai data terkait dengan praktek yang akan diperbaiki. Dalam hal ini
fokus kita pada pembelajaran. Data yang terkait dengan pembelajaran dapat
berupa: nilai rata-rata siswa pada mata pelajaran tertentu dan mata pelajaran
lainnya, fasilitas pembelajaran yang tersedia, karakteristik kelas/keterlibatan
siswa dalam pembelajaran berdasarkan pengamatan, kemampuan guru dalam
mengelola pembelajaran, termasuk kemampuan guru dalam menerapkan
metode pembelajaran tertentu, dan kemampuan guru dalam mengggunakan
media tertentu, serta informasi lainnya yang terkait dengan pembelajaran.

135

PLPG Rayon 138: Panduan PTK

Berdasarkan data tersebut peneliti mulai melakukan diagnosa dan membuat


perkiraan, apa yang menjadi sebab utama atau sumber persoalan yang
dihadapi saat itu. Proses diagnosa dan perumusan hipotesis atas sumber
masalah ini merupakan hal yang penting karena akan menuntun peneliti
dalam pengambilan keputusan pada langkah berikutnya. Apabila perkiraan
sumber masalah yang dirumuskan oleh peneliti berbeda dengan sumber
masalah yang sesungguhnya maka tindakan yang dilaksanakan tidak akan
menyelesaikan masalah.
Pada tahap ini perlu diperjelas perbedaan antara prestasi belajar siswa dengan
persoalan pembelajaran. Yang akan dilakukan melalui PTK adalah
pemecahan masalah pembelajaran, bukan pertama-tama menaikkan
prestasi siswa. Penyelesaian masalah yang dihadapi dalam pembelajaran
seharusnya berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. Oleh karena itu
peningkatan hasil belajar merupakan dampak dari diselesaikannya atau
dipecahkannya persoalan.
Tidak jarang PTK diarahkan semata-mata untuk menaikkan prestasi belajar
siswa tanpa didahului kajian apa yang menjadi penyebab rendahnya prestasi
siswa selama ini dan masa yang lampau. Apabila PTK terlalu terarah pada
peningkatan prestasi belajar murid tanpa didahului analisis penyebabnya
maka bisa terjadi pada saat PTK dilakukan prestasi murid meningkat akan
tetapi setelah itu prestasi menjadi turun lagi karena sumber persoalan yang
menjadi penyebab rendahnya prestasi tidak diketahui apalagi tidak diatasi.
Analisis sumber permasalahan harus dilakukan secara mendalam supaya
diperoleh rumusan sumber masalah yang mendasar dan tepat, bukan hanya
fenomenanya melainkan inti persoalannya. Identifikasi masalah harus mampu
menjamin bahwa apabila inti persoalan tersebut diselesaikan maka kualitas
pembelajaran akan meningkat dan pada akhirnya prestasi siswa juga
meningkat. Salah satu contoh persoalan mendasar adalah kemampuan belajar
siswa. Kemampuan belajar bisa terdiri dari bermacam-macam komponen
misalnya kemampuan mencari informasi dan merumuskannya secara benar,
kemampuan mengungkapkan atau mempresentasikan informasi atau gagasan,
kemampuan berdiskusi, kemampuan menyelesaikan persoalan secara
sistematis.
Bisa saja fenomena yang langsung terlihat adalah nilai siswa rendah. Akan
tetapi nilai yang diperoleh siswa hanya merupakan akibat dari suatu proses
panjang yang harus dicari sebabnya. Salah satu sebabnya bisa saja rendahnya
kemampuan belajar siswa atau juga kurangnya kemampuan guru dalam
mengelola pembelajaran. Kesimpulan tentang rendahnya kemampuan belajar
murid atau kurangnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran tidak
boleh diambil secara serampangan atau gegabah, melainkan harus didasarkan
pada data yang tersedia. Tanpa data maka diagnosa atas persoalan dan dugaan
atas sumber persoalannya tidak akan tepat. Inilah pentingnya partner dalam
PTK, yaitu untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan sumber persoalan.
Partner juga dapat diajak berdiskusi perlu atau tidaknya suatu data tertentu
untuk mendukung suatu dugaan atas sumber persoalan.

136

PLPG Rayon 138: Panduan PTK

2. Perencanaan tindakan
Langkah berikutnya yang dilakukan oleh peneliti setelah melakukan
identifikasi sumber persoalan dalam pembelajaran adalah merencanakan
tindakan yang akan dilakukan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Pada
tahap ini peneliti membuat perencanaan tindakan apa yang akan dilakukan
untuk mengatasi persoalan yang telah dirumuskan pada langkah pertama.
Tindakan yang akan dilakukan harus cocok dengan persoalan yang akan
dipecahkan.
Tindakan yang direncanakan untuk dilaksanakan adalah tindakan yang
mengarah pada pemecahan masalah sebagaimana telah dirumuskan pada
tahap yang terdahulu. Sebagai contoh, bila persoalannya adalah persoalan
kemampuan guru dalam mengembangkan pembelajaran yang melibatkan
siswa secara aktif dalam pembelajaran, maka tindakan yang dilakukan adalah
tindakan-tindakan yang melatih kemampuan guru dalam melibatkan siswa
secara aktif dalam pembelajaran melalui pemilihan metode-metode
pembelajaran yang tepat. Pemilihan metode yang tepat dapat memaksa guru
untuk melibatkan siswa secara aktif sehingga secara bertahap kemampuan
guru dalam melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran akan
meningkat.
Di dalam proses perencanaan tersebut peneliti mempertimbangkan berbagai
aspek yang terkait dengan rencana tindakan yang akan dilaksanakan. Aspek-
aspek terebut diantaranya:
a. Topik pembelajaran di mana tindakan akan dilaksanakan
b. Waktu pelaksanaan tindakan
c. Ketersediaan fasilitas pembelajaran yang diperlukan untuk
pelaksanaan tindakan
d. Kemampuan guru untuk menerapkan metode tertentu atau
menggunakan media tertentu dalam topik yang akan diajarkan
e. Langkah-langkah secara detail tentang pembelajaran yang akan
dilaksanakan. Untuk hal ini peneliti membuat RPP secara detail yang
di dalamnya termuat tindakan penelitian yang akan dilakukan sebagai
bagian dari proses pembelajaran
Selain aspek-aspek tersebut di atas, hal lain yang tidak kalah pentingnya
dilakukan oleh peneliti pada tahap perencanaan tindakan adalah menentukan
ukuran keberhasilan tindakan dan membuat instrumen untuk mengukur
keberhasilan itu. Ukuran keberhasilan harus sesuai dengan persoalan yang
akan dipecahkan, demikian pula instrumen yang dipergunakan harus cocok
dengan ukuran untuk mengukur keberhasilan. Ukuran-ukuran keberhasilan
itu tidak hanya prestasi siswa karena prestasi siswa hanya merupakan akibat
dari proses pembelajaran. Instrumen untuk mengukur keberhasilan dapat
berupa tes, kuesioner, atau lembar observasi.
Pada langkah ini, selain dibuat instrumen untuk memperoleh data, harus pula
dibuat metode analisis data.
Dengan demikian dari tahap kedua ini dihasilkan dokumen rencana
pembelajaran yang di dalamnya sudah memuat tindakan yang akan
dilaksanakan dan instrumen untuk mengumpulkan data yang akan
dipergunakan untuk mengukur keberhasilan tindakan, ukuran atau kriteria
keberhasilan, serta metode analisis data. Oleh karena itu dapat dibayangkan

137

PLPG Rayon 138: Panduan PTK

bahwa pada akhir tahap kedua peneliti bersama partnertnya sudah memiliki
gambaran secara detail tentang apa yang akan dilakukan oleh masing-masing
pihak.

3. Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan bersifat lebih teknis dalam arti hanya melaksanakan
rencana yang telah disusun pada langkah kedua. Harus diupayakan sedapat
mungkin agar pelaksanaan penelitian sesuai dengan rencana. Pada tahap ini
partner peneliti biasanya hadir di kelas melakukan observasi. Kehadiran
partner peneliti sangat penting untuk memberikan umpan balik kepada
peneliti. Ketika partner peneliti berada di dalam kelas, ia sudah siap dengan
catatan untuk mencatat kejadian atau informasi penting yang perlu dicatat.

4. Evaluasi dan refleksi


Langkah ini diawali dengan pengumpulan seluruh data yang dilanjutkan
dengan analisis atas data tersebut. Analisis dilakukan sesuai dengan rencana
yang telah dibuat pada langkah kedua. Hasil dari analisis tersebut seharusnya
memberi informasi apakah indikator keberhasilan tercapai atau tidak. Kalau
indikator keberhasilan tercapai berarti masalah telah terpecahkan. Selain
menggunakan data kuantitatif, pada tahap ini juga dipergunakan data
kualitatif misalnya catatan pengamatan partner peneliti. Pada tahap ini
peneliti dan partner berdiskusi apakah tindakan yang dilakukan sesuai dengan
rencana. Apakah cara pelaksanaannya baik menurut ukuran yang telah
ditetapkan, bagaimana rekasi para murid, dan sebagainya. Puncak dari tahap
ini adalah peneliti beserta partner melakukan refleksi, menemukan makna
dari semua pengalamannya itu dalam kerangka profesi keguruan.
Dari tahap ini bisa diperoleh bahwa ternyata dengan tindakan yang telah
dilakukan itu, masalah langsung terpecahkan. Akan tetapi dapat pula
pembelajaran sudah menunjukkan perbaikan akan tetapi belum mencapai
tingkat keberhasilan yang ditentukan. Hasil evaluasi dan refleksi ini
menuntun peneliti mempersiapkanlangkah berikutnya.
Apabila dengan satu siklus persoalan langsung teratasi, biasanya tindakan
yang sama diulangi pada siklus yang kedua untuk meyakinkan atau
mengkonfirmasi bahwa tindakan itu memang telah mampu menyelesaikan
masalah. Akan tetapi apabila indikator keberhasilan belum tercapai maka
harus dilakukan siklus kedua dengan perubahan-perubahan tertentu agar
indikator keberhasilan tercapai

5. Identifikasi temuan umum


Pada tahap ini peneliti bersama partner mengidentifikasi, pengalaman belajar
apa yang telah diperoleh melalui tindakan satu siklus ini. Hal ini merupakan
salah satu inti PTK, yang tidak lain bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan peneliti. Maka identifikasi pengalaman belajar ini menjadi
penting dilakukan secara cermat.
Pada tahap ini juga dilakukan persiapan untuk tindakan pada siklus
berikutnya dengan tahap-tahap seperti yang telah diuraikan pada tahap kedua.

138

PLPG Rayon 138: Panduan PTK

Demikianlah maka dengan penjelasan di atas satu siklus PTK telah lengkap
dilaksanakan. Keseluruhan tahap-tahap tersebut digambarkan dalam diagram
di bawah ini

Identifikasi Perumusan Tujuan/ Kajian


Indikator Teori dan
Masalah Masalah
Keberhasilan.
(Refleksi Awal) Empiris

Perencanaan Hipotesis
Tindakan Tindakan

Pelaksanaan
Analisis Data
Tindakan
dan Observasi

Indikator Keberhasilan
Belum
Tercapai Tercapai
STOP
Refleksi atau
Pemantapan

PENELITIAN TINDAKAN KELAS26

(Sumber: Materi pelatihan PIPS, Dikti)

D. Pelaku
Pembahasan yang akan dikemukakan pada bagian ini sebetulnya sudah
tersirat di dalam pembahasan bagian terdahulu. Di dalam pembahasan tentang
pengertian penelitian tindakan di muka telah dijelaskan bahwa penelitian tindakan
dilakukan oleh praktisi, dalam hal PTK berarti dilakukan oleh guru. Dalam
praktek, seringkali seorang guru yang melakukan PTK memerlukan seorang rekan
atau partner untuk membantunya khususnya untuk melakukan observasi ketika
guru tersebut melaksanakan pembelajaran dan juga sebagai rekan berdiskusi
ketika membahas pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan serta dalam
mempertimbangkan tindakan yang akan dilakukan berikutnya.
Dengan demikian jelas bahwa pelaku utama PTK adalah guru yang sehari-
hari melaksanakan pembelajaran di kelasnya, bukan orang lain yang tiba-tiba
dating ke suatu kelas dan melaksanakan suatu tindakan tertentu.

E. Format Proposal Penelitian Tindakan Kelas


Berikut in disajikan format Proposal PTK yang Disarikan dari Pedoman PTK,
Dikti 2006.
Sampul Usulan Penelitian
Halaman Pengesahan
A. Judul Penelitian
B. Mata Pelajaran dan Bidang Kajian
C. Pendahuluan
D. Rumusan Masalah dan Pemecahannya
E. Tujuan Penelitian
F. Manfaat Hasil Penelitian
G. Kajian Pustaka
H. Prosedur Penelitian

139

PLPG Rayon 138: Panduan PTK

I. Jadwal Penelitian
J. Biaya Penelitian
K. Personalia Penelitian
L. Daftar Pustaka
M. Lampiran-Lampiran:
1. Instrumen Penelitian
2. Curriculum Vitae semua peneliti
3. Surat Keterangan Ketua Lembaga Penelitian
4. Surat Keterangan Dekan

Deskripsi dari tiap-tiap komponen di atas dapat dilihat sebagai berikut.

Sampul Usulan Penelitian


Cukup jelas.

Halaman Pengesahan
Halaman pengesahan memuat judul penelitian, mata pelajaran dan bidang
kajian, identitias ketua peneliti, nama anggota penelitia, waktu penelitian,
biaya penelitian, diketahui Kepala Sekolah.

Judul Penelitian
Judul hendaknya singkat (maksimal 15 kata); spesifik; cukup jelas
menggambarkan masalah yang akan diteliti, tindakan untuk mengatasi
masalah, dan tempat penelitian.

Mata Pelajaran dan Bidang Kajian


Cukup jelas

Pendahuluan
Pada bagian ini dijelaskan latar belakang atau alasan yang mendorong
akan dilakukannya PTK. Karena PTK dimaksudkan untuk memperbaiki
kualitas pembelajaran, maka alasan haris dikembangkan berdasarkan data
konkret yang ada di kelas. Pada bagian pendahuluan perlu dijelaskan adanya
kesenjangan antara harapan atau cita-cita atau standar dengan keadaan saat
ini.
Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan
pembelajaran. Masalah PTK bukan dihasilkan dari kajian teoretik. Masalah
dapat terinspirasi dari hasil penelitian terdahulu, tetapi harus tetap digali dari
permasalahan pembelajaran yang aktual. Masalah yang diteliti digali atau
didiagnosis secara kolaboratif dan sistematis dari masalah yang nyata
dihadapi guru dan/atau siswa di sekolah/madrasah.
Masalah yang diteliti harus bersifat penting dan mendesak untuk
dipecahkan, serta dapat dilaksanakan dilihat dari segi ketersediaan waktu,
biaya dan daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut.
Identifikasi masalah penelitian disertai dengan data pendukung, selanjutnya
masalah dianalisis untuk menentukan akar penyebab masalah.

140

PLPG Rayon 138: Panduan PTK

Rumusan Masalah dan Pemecahannya


1. Rumusan Masalah
Masalah penelitian dirumuskan dalam bentuk rumusan penelitian tindakan
kelas, menggunakan kalimat tanya. Masalah perlu dijelaskan secara
operasional dan ditetapkan lingkup penelitiannya.
2. Pemecahan Masalah
Alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah perlu
diidentifikasi. Argumentasi logis terhadap pilihan tindakan yang akan
dilakukan untuk memecahkan masalah (misalnya: karena kesesuaiannya
dengan masalah, kemutakhirannya, keberhasilannya dalam penelitian sejenis,
dll) perlu disajikan. Cara pemecahan masalah ditentukan berdasarkan
ketepatannya dalam mengatasi akar penyebab permasalahan dan dirumuskan
dalam bentuk tindakan (action) yang jelas dan terarah. Hipotesis tindakan
dikemukakan bila diperlukan. Indikator keberhasilan tindakan harus realistik
(mempertimbangkan kondisi sebelum diberikan tindakan) dan dapat diukur
(jelas cara asesmennya).

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dirumuskan secara singkat dan jelas berdasarkan
permasalahan dan cara pemecahan masalah yang dikemukakan.

Manfaat Hasil Penelitian


Manfaat hasil penelitian khususnya untuk perbaikan kualitas pendidikan
dan/atau pembelajaran diuraikan secara jelas. Perlu juga dikemukakan
manfaatnya bagi siswa, guru, komponen pendidikan terkait di sekolah.

Kajian Pustaka
Kajian teoretis dan empiris (hasil penelitian terdahulu yang relevan)
dikemukakan sebagai landasan pemilihan tindakan. Uraian ini digunakan
sebagai dasar penyusunan kerangka berpikir yang menunjukkan keterkaitan
antara masalah, teori, hasil penelitian terdahulu yang relevan, dan pilihan
tindakan. Kerangka berpikir tersebut dapat digambarkan dalam bentuk bagan,
diagram, uraian argumentatif, atau bentuk penyampaian lainnya.

Prosedur Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa sekolah tempat penelitian. Waktu dan lamanya
tindakan dikemukakan secara rinci sesuai dengan banyaknya siklus yang
direncanakan. Tempat penelitian dikemukakan secara jelas.
Prosedur/langkah-langkah penelitian tindakan kelas yang akan dilakukan
diuraika