Anda di halaman 1dari 9

METODE INTERMEDIATE CHECK UNTUK STANDARD TEKANAN

PRESSURE BALANCE

Rudi Anggoro S.
Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi – LIPI
Kawasan Puspiptek Gedung 420, Serpong, Tangerang 15314
Email : anggarov@kim.lipi.go.id

INTISARI

Pressure balance merupakan instrument yang paling umum digunakan sebagai standar
tekanan. Sesuai dengan rekomendasi yang berlaku, umumnya massa rekalibrasi untuk
pressure balance adalah 5 tahun. Untuk menyakini nilai standar masih dengan sesuai
sertifikat kalibrasi dalam rentang waktu tersebut, maka diperlukan suatu prosedur
kontrol untuk memonitor kestabilan nilai dari standard tersebut yang dilakukan secara
berkala yang lebih dikenal dengan intermediate check. Pada penelitian ini diajukan
sebuah metode intermediate check untuk pressure balance menggunakan pressure
balance lain sebagai cek standarnya. Metode ini berdasar kesesuaian luasan efektif
area cek standar yang diukur dengan menggunakan 2 buah standar tekanan pressure
balance. Dari hasil percobaan yang dilakukan pada 2 jenis pressure balance standar,
hydraulic dan pneumatic, didapatkan perbedaan hasil ukur relatif dari 2 standar
pneumatic pressure balance sebesar 0.0005% dengan ketidakpastian relatifnya
0.0052%, sedangkan untuk hydraulic pressure balance perbedaan hasil ukur relatif
adalah 0.0035% dengan ketidakpastian relatifnya 0.0086%.

Kata Kunci: Pressure balance, Intermediate check dan Kesesuaian luasan area.

ABSTRACT

Pressure balance is the most commonly used instrument as pressure standard.


According to the appropriate recommendation, common recalibration times for
pressure balance are 5 years. To ensure the value of standard still confirm with
certificate statement, control procedure, which done periodically for monitoring the
stability of value of standard, which commonly known by intermediate check is needed.
In this experiment describes intermediate check propose method for pressure balance
using another test pressure balance as standard check. This method base on conformity
of check standard effective area which measured by using 2 pressure balance standard.
From the experiment have done onto two types of standard pressure balances;
hydraulic and pneumatic, achieved relatif differences measurement result between 2
pneumatic pressure balance standard 0.0005% with relatif uncertainty 0.0052%, while
in hydraulic pressure balance the relatif differences measurement result was 0.0035%
with relatif uncertainty 0.0086%.

Keywords: Pressure balance, intermediate check and Effective area conformity.

PPI KIM 2009


1 PENDAHULUAN

Laboratorium tekanan KIM-LIPI bertanggung jawab atas pemeliharaan standar


nasional, menyediakan kebutuhan ketertelusuran peralatan ukur tekanan dan juga
mereview dan mengembangkan metode yang digunakan dalam kalibrasi alat ukur
tekanan. Saat ini KIM-LIPI mampu menyediakan kebutuhan ketertelusuran alat ukur
tekanan dengan rentang tekanan berkisar antara 10 kPa sampai dengan 7 MPa untuk
tekanan gauge dan absolute pada medium gas dan 5 MPa sampai dengan 500 MPa
untuk tekanan gauge pada medium oli [7].
Standar tertinggi yang digunakan di Laboratorium tekanan KIM-LIPI adalah
pressure balance atau sering disebut juga Dead Weight Tester. Pressure balance terdiri
dari piston–silinder (P/C) dan massa pembeban sebagai bagian utamanya. Dengan
menaikkan sejumlah massa pembeban keatas P/C, maka akan didapatkan tekanan yang
diinginkan. Sejumlah instrumen tekanan yang dapat dikalibrasi dengan pressure balance
standar ini antara lain: test gauge, pressure gauge, pressure tranduser, pressure
transmiter dan barometer.
Masa rekalibrasi untuk pressure balance pada umumnya adalah 5 tahun. Sesuai
dengan ISO 17025, 5.9 tentang ”Jaminan kualitas hasil uji dan kalibrasi”. Laboratorium
seharusnya memiliki prosedur kontrol kualitas untuk memonitor validitas dari hasil tes
dan kalibrasi yang telah dilakukan, dan hasilnya direkam dengan suatu cara yang
didukung teknik statistik tertentu sedemikian sehingga dapat menunjukkan suatu pola
yang dapat digunakan sebagai dasar analisis [4][5].
Beragam cara direkomendasikan, diantaranya mempergunakan standar
sekunder, mengikuti uji banding, melakukan validasi menggunakan metode lain, dan
lain sebagainya, yang dirasa paling tepat berdasarkan beban dan jenis pekerjaan.
Dalam paparan ini akan dijelaskan tentang metode intermediate check untuk
pressure balance standar berdasar kesesuaian penunjukkan hasil ukur antara 2 pressure
balance standar terhadap cek standarnya. Selain itu batasan keberterimaan atas hasil
pengukurannya yang menunjukkan kualitas standar pressure balance. Dari hasil
percobaan dan analisisnya, metode intermediate check ini dapat dan akan diterapkan di
Laboratorium tekanan puslit KIM-LIPI.

PPI KIM 2009


2 DASAR TEORI

Pressure balance merupakan suatu instrumen yang menggunakan piston silinder


sebagai bagian utamanya untuk merepresentasikan suatu luasan tertentu dan massa
pembeban untuk menghasilkan gaya sehingga dapat merealisasikan definisi dari tekanan
[1].

Tekanan yang dihasilkan pressure balance ini secara sederhana didefinisikan


sebagai:
F
P= …(1)
A

dengan F merupakan gaya yang dihasilkan oleh massa yang bekerja pada medan
gravitasi lokal dan A adalah luasan efektif yang direpresentasikan oleh luasan piston-
silinder P/S [3].
Banyak faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran dengan menggunakan
pressure balance, sehingga secara detail, persamaan yang menggambarkan besarnya
tekanan yang dihasilkan pressure balance p adalah sebagai berikut:
ρa
M (1 − ) g + V ( ρ f − ρa )
ρm …(2)
p=
( A0, 20 )(1 + bpn ) (1 + α [T − 20] )

dengan M adalah massa total beban, (1- ρa/ρm) adalah efek buoyancy udara dengan ρa
merupakan densitas udara dan ρm adalah densitas beban. Gravitasi lokal dimana
pengukuran dilakukan dilabangkan dengan g. V merupakan notasi untuk volume
buoyancy piston dengan ρf adalah densitas dari pressure medium. Sedangkan suku suku
penyebutnya terdiri dari; A0,20 yang merupakan luasan P/S pada tekanan 0 dan suhu
20oC, b dan α adalah koefisien distorsi dan koefisien termal P/S, dan T merupakan suhu
P/S saat beroperasi [2].
Metode yang paling umum digunakan untuk melakukan kalibrasi alat ukur
tekanan dengan standar pressure balance adalah metode direct comparisson. Metode ini
dilakukan dengan menghubungkan pressure balance standar dan alat ukur tekanan yang
akan di kalibrasi. Alat ukur tekanan yang umum di kalibrasi menggunakan pressure
balance adalah test gauge, pressure gauge, pressure tranduser, pressure transmiter dan
barometer. Intrument intrumen tersebut dikalibrasi pada pada beberapa titik tekanan

PPI KIM 2009


yang bervariasi dalam rentang kemampuannya. Titik titik tekanan ini didapatkan dengan
mengatur mass pembeban yang dinaikkan atau diturunkan dari atas P/S pressure
balance.
Untuk kelas yang lebih tinggi skala laboratorium kalibrasi, pressure balance juga
digunakan sebagai standar untuk kalibrasi pressure balance lain, yang hasilnya berupa
parameter parameter pressure balance yaitu, luasan efektif piston, koefisien distorsi dan
massa residual P/S.

3 METODE

Intermediate cek ini dilakukan sebagai jaminan kesesuaian kualitas standar


sesuai dengan yang dinyatakan dalam sertifikat. Pressure balance mempunyai parameter
parameter yang merupakan karakteristik dari pressure balance tersebut, antara lain:
luasan efektif, koefisien distorsi dan massa residual. Untuk itu pada metode
intermediate cek yang dijelaskan ini menggunakan pengamatan yang didasarkan pada
luasan efektifnya.
Pada metode ini dibutuhkan 1 piston tes yang nantinya digunakan sebagai media
cross cek bagi piston standar. Bahan kajiannya berupa conformity cek antar piston
standard dalam mendapatkan luasan efektif piston tes pada suhu acuan (20oC) dan pada
titik acuan tekanan yang sama dari beberapa piston standar yang berbeda. Dalam
penelitian ini, dicoba pada 2 jenis pressure balance yang berbeda baik pneumatic
maupun hydraulic pressure balance.
Pada pneumatic pressure balance digunakan Pressure balance DHI PG7601,
yang mempunyai 2 piston gauge 10 kPa/kg dan 200 kPa/kg yang masing – masing
mempunyai kapasitas maksimum 350 kPa dan 7 MPa. Tes piston yang digunakan
adalah Bell & Howell – mid piston – milik laboratorium tekanan yang mempunyai
kapasitas maksimum 350 kPa. Pengamatan dilakukan pada luasan efektif area dari cek
standar piston pada suhu 20OC dan pada titik acuan yang sama yaitu 350 kPa, seperti
ilustrasi berikut (gambar 1.);

PPI KIM 2009


Max 7MPa Max 0.35MPa
Piston STD 1 Piston STD 2
Equivalent
pressure
reference
5%FS 100%FS
(0.35 MPa)

o
A(350kPa,20 o A(350kPa,20 C)2
C)1
U1 U2
Piston TES
Gambar 1. intermediate cek untuk pneumatic pressure balance PG 7601

Pada hydraulic pressure balance digunakan Pressure balance RUSKA 2485,


yang mempunyai 3 piston gauge (digunakan 2 diantaranya), yang masing – masing
mempunyai kapasitas maksimum 5 MPa dan 50 MPa. Tes piston yang digunakan adalah
BUDENBERG – low piston – milik customer yang mempunyai kapasitas maksimum 6
MPa. Pengamatan dilakukan pada luasan efektif area dari cek standar piston pada suhu
20OC dan pada titik acuan yang sama yaitu 5 MPa, seperti ilustrasi berikut (gambar 2);

Max 5 MPa Max 50 MPa


Piston STD 1 Piston STD 2
Equivalent
pressure
reference
100%FS 10%FS
(5 MPa)

o
A(5MPa,20 o A(5MPa,20 C)2
C)1
U1 U2
Piston TES
Gambar 2. intermediate cek untuk hydraulic pressure balance RUSKA 2485

Perhitungan luasan efektif area dan ketidakpastian piston tes mengacu pada
procedure Prk MM.3.03. “Procedure for Calibration of Pneumatic Pressure Balance
using Direct Comparison Method”. Hanya saja pada intermediate check ini luasan
efektif yang dicari hanya satu titik. Persamaan dasar yang digunakan adalah sesuai
dengan persamaan (1), yaitu:
Ftes
Pstd = Ptes =
Ates

PPI KIM 2009


Ftes
Ates =
Pstd

Keberterimaan kesesuaian antar piston STD (STANDAR) adalah apabila


perbedaan dari luasan efektif piston tes pada tekanan dan suhu acuan yang diperoleh
dari pengukuran dengan menggunakan 2 piston standar kurang dari 0.005% dan lebih
kecil dari ketidakpastian gabungan dari 2 piston standard yang diperoleh, yang
ditunjukkan oleh persamaan berikut:

Difference = | A(350kPa, 20oC)1 - A(350kPa, 20oC)2|


Ucombine = √(U12 +U22)
Acceptancy = Difference < 0.005% dan
Difference < Ucombine

Nilai 0.005% ini didasarkan pada tipikal dari akurasi pressure balance standard
khususnya pneumatic pressure.

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari percobaan didapatkan hasil sebagai berikut; untuk pneumatic standard


pressure balance (Tabel 1.), perbedaan relatif hasil ukur luasan area tes piston pada
tekanan 350 kPa dan suhu 20oC, yang diperoleh menggunakan 2 standar yang berbeda
sebesar 0.0005%, yaitu sebesar 4.14 x 10-10 m2, dan jauh lebih kecil dari pada
ketidakpastian gabungan relatif yang diperoleh sebesar 0.0052%, yaitu 4.226 x 10-09 m2
pada nominal luasan 8.0644490 x 10-5 m2. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa
kondisi dari kedua piston standar masih memiliki syarat sesuai dengan hasil
kalibrasinya.

PPI KIM 2009


Tabel.1. Hasil pengukuran intermediate check Pressure balance standard
(Pneumatic DHI PG7601)

From Low Piston of DHI (10 kPa / kg)


The Effective Area of test Piston at 350 kPa and 20oC

A350kPa,20oC = 8.064449E-05 m2
U(A350kPa,20oC) = 2.873145E-09 m2

From High Piston of DHI (200 kPa / kg)


The Effective Area of test Piston at 350 kPa and 20oC

A350kPa,20oC = 8.064491E-05 m2
U(A350kPa,20oC) = 3.09898E-09 m2

Conformity Check from Both Piston


Difference = 4.136E-10 m2
Ucombine1,2 = 4.226E-09 m2
Conformity = accepted

Tabel.2. Hasil pengukuran intermediate check Pressure balance standard


(Hydraulic RUSKA 2485)

From Low Piston of RUSKA 2485


The Effective Area of test Piston at 5 MPa and 20oC

A5MPa,20oC = 8.020535E-05 m2
U(A5MPa,20oC) = 4.833336E-09 m2

From Mid Piston of RUSKA 2485


The Effective Area of test Piston at 5 MPa and 20oC

A5MPa,20oC = 8.020819E-05 m2
U(A5MPa,20oC) = 4.8815E-09 m2

Conformity Check from Both Piston


Difference = 2.839E-09 m2
Ucombine1,2 = 6.870E-09 m2
Conformity = accepted

PPI KIM 2009


Pada hydraulic pressure balance, hasilnya ditunjukkan tabel 2.; perbedaan relatif
hasil ukur luasan area tes piston pada tekanan 5 MPa dan suhu 20oC, yang diperoleh
menggunakan 2 standar yang berbeda diatas adalah 0.0035%, yaitu sebesar 2.839 x 10-9
m2, dan jauh lebih kecil dari pada ketidakpastian gabungan relatif yang diperoleh
sebesar 0.0086%, yaitu 6.870 x 10-9 m2 pada nominal luasan 8.0205350 x 10-5 m2. Dari
hasil ini dapat disimpulkan bahwa kondisi dari kedua piston standar masih memiliki
syarat sesuai dengan hasil kalibrasinya.
Dari dua hasil percobaan, didapatkan bahwa hasil luasan area pada suhu 20oC
dan pada suhu yang bersesuaian dari dua buah standar, mempunyai kesesuaian yang
diharapkan dan memenuhi persyaratan keberterimaan dari metode yang diajukan.
Perbedaan yang mendasar dari 2 percobaan diatas adalah asal dari cek standar
(tes piston) yang digunakan. Pada Pneumatic pressure balance standard, tes piston yang
digunakan adalah milik laboratorium yang memang dikhususkan sebagai cek standar.
Sedangkan pada Hydraulic pressure balance standard menggunakan tes piston yang
berasal dari milik konsumen memerlukan kalibrasi, sehingga dengan melakukan
pengukuran tambahan setelah proses kalibrasi selesai, didapatkan juga hasil
intermediate check.
Metode keberterimaan atas kesesuaian hasil ukur menggunakan 2 piston standar
ini didasarkan pada pertimbangan bahwa tidak semua laboratorium mempunyai cek
standard / artefak khusus, yang digunakan sebagai cek standar. Oleh sebab itu dengan
metode ini, yang berdasar pada kesesuaian hasil ukur suatu standar relatif terhadap
standar yang lain, akan memungkinkan menggunakan alat konsumen sebagai cek
standar. Sehingga tidak perlu lagi menjadwalkan waktu khusus untuk melakukan
intermediate check, tetapi setiap saat bisa dilakukan bersamaan pada waktu kalibrasi.
Pengkajian lebih lanjut terhadap metode ini, memungkinkan munculnya dasar
analisis lain terhadap parameter ukur yang didapatkan sehingga dapat mengetahui pola
dari hasil ukurnya seperti yang diisyaratkan ISO 17025.

5 KESIMPULAN

Metode intermediate check terhadap pressure balance standard pneumatik


ataupun hydraulic dengan menggunakan cek standar berupa pressure balance lain, baik
yang dikhususkan untuk cek standar maupun milik konsumen, menunjukkan hasil

PPI KIM 2009


sesuai dengan yang diharapkan dan dapat diterapkan dilaboratorium kalibrasi khususnya
tekanan.
Metode intermediate check yang berdasarkan keberterimaan kesesuaian hasil
ukur standar relatif terhadap yang lain ini, memungkinkan fleksibilitas yang tinggi
terhadap waktu yang harus diluangkan khusus untuk melakukan intermediate check
standar.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Donald G. S. G., 1993, The Calibration of Pressure Instrument Using a
Pressure Balances, CSIRO, Australia

[2] Kobata, T. and Olson,D.A., 2005, Accurate Determination of Equilibrium State


Between Two Pressure Balance Using a Pressure Transducer, Metrologia 42,
Institute of Physics Publishing.

[3] Lewis, S. and Peggs, G., 1992, The Pressure Balance Theory and Practice,
National Physical Laboratory, UK.

[4] ISO IEC-17025, 2005, General Requirement for the Competence of Testing and
Calibration Laboratories, 2nd Edition, International Standard, Switzerland.

[5]DP.01.33, 2004, KAN Guide on Measurement Assurance, KAN, Jakarta.

[6] Rudi Anggoro, 2008, Sistem multi kalibrasi elektromekanika manometer


otomatis, PPI-KIM, Tangerang

[7] Rudi A. S. dan N. T. Eka D., 2008, Karakterisasi Suseptibilitas Magnet pada
Massa Pembeban Standrad Tekanan Pressure Balance, Seminar Material
Metalurgi, Tangerang

PPI KIM 2009