Anda di halaman 1dari 11

PENGEMBANGAN PENENTUAN MASSA PENYETIMBANG DENGAN

VISUALISASI GRAFIK UNTUK MENINGKATKAN AKURASI PADA


KALIBRASI PRESSURE BALANCE

Rudi Anggoro Samodro, Gigin G.

Pusat Penelitian Kalibrasi Instrumentasi dan Metrologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,
Komplek PUSPIPTEK Serpong

INTISARI

Penentuan massa penyetimbang merupakan faktor utama yang sangat berpengaruh pada
hasil kalibrasi pressure balance dengan metode cross-float. Untuk itu dikembangkan
visualisasi dengan menggunakan grafik yang menunjukkan hubungan antara NFR, XFR
dan massa tambahan untuk mempermudah penentuan massa penyetimbang. Dengan cara
ini didapatkan repeatability yang kecil dari massa penyetimbang dalam beberapa kali
pengulangan. Ketidakpastian dari massa penyetimbang yang berasal dari type A juga
dapat ditentukan dengan pendekatan matrix.

Kata kunci: Massa penyetimbang, crossfloat, visualisasi grafik, ketidakpastian type A.

ABSTRACT

Since, balancing mass determination is the main factor which very influence in the
pressure balance calibration using cross-float method, graphic visualization which shown
the relation between NFR, XFR and added mass has been developed to make it easier.
Using this way was achieved good repeatability of balancing mass from several
repetitions. The type-A uncertainty of balancing mass could also be determined by using
matrix approaches.

Keywords: Balancing mass, crossfloat, graphic visualization and Type A uncertainty

1
1. PENDAHULUAN

Penyediaan kebutuhan ketertelusuran dibidang tekanan merupakan salah satu


tanggungjawab dari KIM-LIPI sebagai lembaga metrology nasional di Indonesia.
Berkembang pesatnya industri di Indonesia menjadi salah satu alasan semakin
meningkatnya kebutuhan ketertelusuran alat ukur yang digunakan. Hal ini ditandai
naiknya kuantitas alat ukur yang masuk laboratorium kalibrasi KIM-LIPI. Untuk itu
KIM-LIPI telah melakukan tindakan antisipasi, salah satunya dengan pengadaan standar
yang baru yang dapat mendukung perluasan lingkup baru. [1].
Saat ini KIM-LIPI mampu menyediakan kebutuhan ketertelusuran alat ukur
tekanan dengan rentang tekanan berkisar antara 10 kPa sampai dengan 7 MPa untuk
tekanan gauge dan absolute pada medium gas dan 5 MPa sampai dengan 500 MPa untuk
tekanan gauge pada medium oli. [2]
Standar tertinggi yang digunakan di Laboratorium tekanan KIM-LIPI adalah
pressure balance atau sering disebut juga Dead Weight Tester. Pressure balance terdiri
dari piston–cylinder (P/C) dan massa pembeban sebagai bagian utamanya, sehingga
dengan menaikkan sejumlah massa pembeban keatas P/C, maka akan didapatkan tekanan
yang diinginkan. Sejumlah instrumen tekanan yang dapat dikalibrasi dengan pressure
balance standar antara lain: test gauge, pressure gauge, pressure tranduser, pressure
transmiter ,barometer dan pressure balance yang memiliki akurasi yang lebih rendah. [3]
Untuk DWT, metode kalibrasi yang paling umum digunakan adalah komparasi
langsung atau cross-float yang dilakukan dengan menghubungkan DWT standar dengan
DWT yang akan dikalibrasi. Kesetimbangan tekanan ditentukan dengan menggunakan
sensor kapasitiv yang berfungsi untuk mengetahui fall rate dari kedua DWT. Kedua
DWT dianggap telah setimbang apabila NFR (Natural Fall Rates atau laju turun alamiah)
dari DWT sama atau mendekati sama dengan XFR (Cross Fall Rates atau laju turun pada
saat kedua DWT dihubungkan).
Pada paparan ini dijelaskan tentang visualisasi grafik yang menunjukkan
hubungan antara NFR, XFR dan massa tambahan yang akan mempermudah penentuan
massa penyetimbang yang dibutuhkan pada kalibrasi DWT. Selain itu juga akan

2
ditunjukkan analisa ketidakpastian dari massa penyetimbang yang diperoleh melalui
pendekatan matiks.

2. TEORI DASAR
Pressure balance merupakan suatu instrumen yang menggunakan piston silinder
sebagai bagian utamanya untuk merepresentasikan suatu luasan tertentu dan massa
pembeban untuk menghasilkan gaya sehingga dapat merealisasikan definisi dari tekanan.
Tekanan yang dihasilkan pressure balance ini secara sederhana didefinisikan
sebagai:
F
P= ...(1)
A
dengan F merupakan gaya yang dihasilkan oleh massa yang bekerja pada medan gravitasi
lokal dan A adalah luasan efektif yang direpresentasikan oleh luasan piston silinder (P/C)
[4].
Secara sederhana, untuk mendapatkan tekanan yang dibangkitkan oleh pressure
balance dapat dilakukan dengan menaikkan kombinasi beban keatas piston pressure
balance sesuai yang diinginkan. Hal tersebut yang menyebabkan pressure balance
mempunyai nama lain Dead Weight Tester (DWT).

Beban

Piston

Silinder

Gambar 1. Piston-silinder dan beban pressure balance

Banyak faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran dengan menggunakan pressure


balance, sehingga secara detail, persamaan yang menggambarkan besarnya tekanan yang
dihasilkan pressure balance p adalah sebagai berikut:

3
  
 ∑ M 1 − ρ a  −ν (ρ f − ρ a ) + hA(ρ f − ρ a ) g − σc 

  ρ mref  
  
P=  …(2)
A0 (1 + α (t − 20))(1 + b Pn )

dengan M adalah massa total beban termasuk piston dan carrier, (1- ρa/ρm) adalah efek
buoyancy udara dengan ρa merupakan densitas udara dan ρm adalah densitas beban.
Gravitasi lokal dimana pengukuran dilakukan yang dinotasikan dengan g. V merupakan
notasi untuk volume buoyancy piston yang diakibatkan oleh adanya bentuk piston yang
tidak biasa, dengan ρf adalah densitas dari pressure medium. Perbedaan ketinggian
bagian dasar piston terhadap titik referensi piston dilambangkan dengan h, sedangkan σ
dan c merupakan tegangan permukaan dari fluida dan keliling dari piston. Pada suku
suku penyebut terdiri dari; A0,20 yang merupakan luasan P/C pada tekanan 0 dan suhu
20oC, b dan α adalah koefisien distorsi dan koefisien termal P/C, dan T merupakan suhu
P/C saat beroperasi [5].
Fall rate adalah salah satu karakteristik dari DWT yang didefinisikan sebagai laju
turun piston dalam silinder. Hal ini dikarenakan adanya media tekanan yang keluar dari
celah P/C yang akan membuat piston bergerak turun untuk mengkompensasi volume
media yang berkurang sehingga besarnya tekanan akan tetap. Oleh sebab itu DWT juga
disebut juga Pressure Balance.
Pada kalibrasi DWT dengan metode komparasi langsung cross-float, dimana
DWT yang akan dikalibrasi dihubungkan dengan DWT standar yang telah diketahui
parameter parameter karakteristiknya (gb.2), penentuan kesetimbangan atara kedua DWT
didasarkan pada pengamatan Fall rate keduanya. Apabila NFR atau laju turun alamiah
waktu masing masing DWT tidak dihubungkan (valve ditutup), sama atau mendekati
dengan XFR atau laju turun saat kedua DWT dihubungkan (valve dibuka), maka dapat
dikatakan bahwa kedua DWT setimbang. Pengamatan laju turun piston biasanya
dilakukan dengan menggunakan sensor posisi, baik itu sensor kapasitif ataupun sensor
laser.

4
Standard Tested
Pressure Balance Pressure Balance

Added masses

P/C assembly
Loading masses

valve

vv

Gambar 2. Metode cross-float pada kalibrasi DWT

Dalam pelaksanaan komparasi tersebut seringkali ditemukan ketidaksetimbangan


tekanan yang dibangkitkan oleh kedua DWT. Secara kasar dan kasat mata,
ketidaksetimbangan dapat dilihat apabila saat dihubungkan, salah satu piston DWT akan
bergerak naik sedang yang lain turun. Kesetimbangan tekanan dapat dicapai dengan
menambahkan massa tambahan pada salah satu DWT yang bertekanan lebih rendah
untuk mendapatkan sistem komparasi dalam kondisi setimbang. Massa tambahan ini
sering disebut dengan balancing mass ataupun added mass. [6]

3. METODOLOGI
Dilakukan kalibrasi DWT dengan metode cross-float berdasarkan pengamatan fall
ratesnya. Hal ini dilakukan pada DWT Ruska 2485 sebagai DWT yang akan dikalibrasi
dan DWT DHI PG7302 sebagai standarnya yang sudah tertelusur ke NMIJ Jepang tahun
2008.
Fall rate dari DWT Ruska 2485 diukur menggunakan sensor kapasitiv yang
terintegrasi pada module 2456 Ruska piston gauge monitor, sedangkan Fall rates dari
DWT DHI PG7302 diukur dengan LVDT sensor yang terintegrasi pada PG7000.
Data fall rates dari masing masing sensor diambil dan ditampilkan dengan
perangkat lunak I.MM.3.00.3.F ”determining balancing mass”, yang berbasis exel dan
VBA, sehingga akan memberikan visualisasi dari hubungan NFR, XFR dan massa
tambahannya (gb. 3).[7]

5
1 2 3
Penunjukan Instrument RUSKA DHI Air Density Proses Program Kendali W aktu
posisi (mm) -1.706 0.23 -NAN Waktu Aktual 121 detik Interval 120 detik
suhu ( o C ) 19.19 Loop 173 detik selang 0.7 detik

P ISTON1
PISTON1 y = 0.001x + 7.570 PISTON2
2.05 0. 285
3 0. 28
2.8 2
0. 275
2.6 0. 27
i 2.4 1.95
is
isi 2.2 i
is
0. 265

os 2
s 1 .9 s 0. 26
o
Po 1.8 P 0. 255
P
1.6 1.85 0. 25
1.4 0. 245
1.2 1 .8 0. 24
1 0. 235
1.75
-0 .2 0 6 0 0.20.2 0.4
0.4 0.6 0.6 0.8 0.8 1 11.2
-0. 2 0 0. 2 0. 4 0. 6 0. 8 1 1.2
Waktu
Waktu
Waktu
-1.706 0.23
5 10 8
y = -0.176x + 1.965 7 9
y = -0.000x + 0.260

Mulai Stop Reset data copy data Rekap Data

-5.357 -7.615
Copy data2 Hapus Rekap
Reset grafik
4 -2.17 -5.071
-0.156 -3.123

Gambar 3. Tampilan perangkat lunak NFR dan XFR


Dengan:
No keterangan
1, 2 : posisi dari Piston DWT (Ruska dan DHI)
3 : Lama pengambilan data
4, 5 : Start dan Stop pengambilan data
6 : Piston Fall rates
7 : Menyimpan data pada sheet lain
8 : Merekap data pada grafik
9 : Menghapus data yang salah dari grafik
10 : Menghapus data yang sudah diambil, kemudian untuk mengambil data selanjutnya

Dari hasil pengukuran nantinya akan didapatkan variasi hubungan antara NFR,
XFR dan massa tambahan, sehingga melalui perhitungan, selain itu dengan visualisasi
grafik akan diperoleh massa penyetimbang yang diperlukan untuk mendapatkan
kesetimbangan tekanan antar DWT yang dikomparasi. Ketidakpastian massa
penyetimbangpun akan dapat diperoleh dengan melakukan perhitungan dengan
pendekatan matrix.

6
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil kalibrasi ini, dengan contoh diambil pada titik 100% rentang
maksimumnya, didapatkan hubungan antara NFR, XFR dan massa tambahan seperti yang
terlihat pada gambar (4). pengambilan
RUSKA DHI
Added mass XFR NFR Balancing mass Added mass XFR NFR Balancing mass
105 -0.568892462 -0.1586663 104.7120914 6 105 1.409678833 -0.12859701 104.7082616
104.6 -0.035394083 -0.16249828 104.6 -0.530005352 -0.05514663
104.5 0.101331832 -0.17392835 104.5 -1.008920691 -0.0125664
104.7 -0.115169691 104.7 -0.221789732
104.8 -0.260043591 104.8 0.29982727
104.9 -0.416051457 104.9 0.871294402

Gambar 4. Variasi pengukuran NFR, XFR terhadap penambahan massa tambahan

Dari hasil pengukuran akan didapatkan kecenderungan nilai NFR yang tetap dan
parameter XFR yang bervarisi sesuai dengan perubahan massa tambahan, yang dapat
direpresentasikan kedalam persamaan berikut;
XFR – NFR = f (∆m) ... (3)
XFR – NFR = intercept + (slope × ∆m) ... (4)

Sedangkan pada keadaan setimbang nilai XFR sama atau mendekati nilai NFRnya,
XFR ≈ NFR ... (5)
XFR – NFR ≈ 0 ... (6)

Sehingga persamaan diatas berubah menjadi:


0 = intercept + (slope × ∆m) ... (7)
mb = – intercept /slope ... (8)

Visualisasi grafik hasil pengukuran tersebut (gb.5), akan mempermudah proses


pengambilan data kalibrasi DWT, dan dengan menggunakan persamaan persamaan diatas
dapat pula ditentukan nilai ketidakpastian massa penyetimbang yang diperoleh.

7
Gambar 5. Grafik hubungan NFR, XFR dan massa tambahan

Dari grafik dapat dilihat dua garis yang berasal dari dua data perhitungan fall rates dari
kedua DWT (baik standar ataupun DWT yang dikalibrasi). Data–data yang berada diatas
sumbu Y=0, menunjukkan nilai positif yang menggambarkan bahwa piston bergerak naik
yang menandakan tekanannya lebih rendah dari piston lainnya (demikian pula
sebaliknya). Dapat dilihat bahwa dari dua data hasil pengukuran fall rates sesuai dengan
grafik, pada tiap massa tambahan yang sama, nilai XFR dari kedua DWT berlawanan
(yang satu naik dan yang lainnya turun) yang menunjukkan ketaksetimbangan tekanan
antar keduanya). Sedangkan pada saat grafik berpotongan dengan garis Y=0, ini
menandakan bahwa nilai XFR – NFR adalah 0, yang menunjukkan tercapainya
kesetimbangan tekanan. Didapatkan kesesuaian dari kedua grafik yang mendapatkan titik
kesetimbangan tekanan dari sebuah massa tambahan yang sama, yang kemudian disebut
dengan massa penyetimbang. Misal dari diatas, massa penyetimbang yang diperoleh dari
6 variasi massa tambahan, adalah sekitar 104,1 g.
Untuk menyederhanakan penghitungan dari ketidakpastian massa penyetimbang,
maka hanya akan dianalisa dari data nilai fall rate pada pressure balance standar saja.
Sedangkan perhitungan ketidakpastian dari massa kesetimbangan menggunakan
pendekatan matrix, dengan metode Generalized Least Square (GLS). [8]

8
Hubungan dari XFR - NFR, dan massa tambahan dapat digambarkan sebagai
persamaan garis linear:

y = Xβ + e ... (9)

dimana y merupakan matrik 6x1 berisi nilai XFR-NFR, X adalah matrik 6X1 dari masa
tambahan dan β adalah nilai estimasi dari massa penyetimbang.
Komponen ketidakpastian dari XFR (uXFR) dihitung dari standar deviasi tiap XFR,
sedangkan untuk variansi nilai massa tambahan (umass) diperoleh dari nilai mutlak
kemiringan (slope) pada gambar 5 yang merupakan kemiringan dari nilai XFR-NFR
terhadap nilai massa tambahan, ditunjukkan oleh tabel 1.

Tabel 1. Data pengukuran dan ketidakpastiannya


Mass u(mass) XFR-NFR u(XFR)
g g mm/menit mm/menit
105 0.1040539 1.5382688 0.5
104.6 0.1040539 -0.40141 0.5
104.5 0.1040539 -0.88033 0.5
104.7 0.1040539 -0.093199 0.5
104.8 0.1040539 0.42841 0.5
104.9 0.1040539 0.99979 0.5

Solusi dari GSL pada persamaan 9, diperoleh dari hasil vektor β̂ (estimasi dari nilaiβ)

^ ^
β = Cˆ X T Φ −1 y ... (10)

Diperlukan matrik diagonal, dimana σ 2 adalah nilai masing-masing variansi


kuadrat dari massa tambahan. Φ adalah matrik diagonal yang berisi σ 2
0.010827223 0 0 0 0 0 
 0 0.010827223 0 0 0 0 
 
 0 0 0.010827223 0 0 0 
Φ= 
 0 0 0 0.010827223 0 0 
 0 0 0 0 0.010827223 0 
 
 0 0 0 0 0 0.010827223

9
untuk memperolehnya perlu dicari telebih dahulu matrik covarian dari persamaan
berikut:
^ ^
C = ( X T Φ −1 X) −1 ... (11)
sehingga diperoleh matrik dengan bentuk 2 x 2 dengan nilai
 0.00199162 - 0.00070529
C= 
- 0.00070529 0.00265893 

Perhitungan estimasi nilai massa penyetimbang diperoleh dari persamaan (10),


sehingga diperoleh solusi dari persamaan (9) adalah
104.69522
β = 
 0.20651 
Nilai estimasi massa penyetimbang sesuai persamaan (9) yang diperolah diperoleh
adalah 104,695 g.
Maka nilai ketidakpastian dari massa penyetimbang dapat diperoleh dengan
C11 = 0,00199162 =0,044 63 g
Sehingga dari perhitungan didapatkan massa penyetimbang dari titik komparasi
yang dicari beserta ketidakpastiannya adalah 104,695 ± sebesar 0,045 g

5. KESIMPULAN
Dari visualisasi grafik dari hubungan NFR, XFR dan massa tambahan pada
kalibrasi DWT, akan mempermudah estimasi nilai dari massa penyetimbang tekanan
yang dibutuhkan, hanya dengan mengamati titik potong garis persamaan pada grafik
terhadap sumbu Y nya, yang menunjukkan nilai XFR sama atau mendekati sama dengan
NFR.
Dengan 6 variasi data massa tambahan dan hubungannya terhadap nilai XFR-
NFR, dibantu dengan analisis GLS didapatkan nilai ketidakpastian dari massa
peyetimbang yang diperoleh.

10
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis ucapkan terimakasih kepada Mark Fitzgerald atas masukan dan
diskusinya pada kursus tekanan yang diadakan pada tahun 2008 di Laboratorium
Tekanan Puslit KIM-LIPI, sehingga karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Rudi Anggoro, 2008, Sistem multi kalibrasi elektromekanika manometer otomatis,
PPI-KIM, Tangerang

[2] Rudi A. S. dan N. T. Eka D., 2008, Karakterisasi Suseptibilitas Magnet pada
Massa Pembeban Standrad Tekanan Pressure Balance, Seminar Material
Metalurgi, Tangerang

[3] Rudi Anggoro, 2009, Pengukuran Massa Efektif Piston Standar Tekanan Pressure
Balance tanpa Menimbang, PPI-KIM, Tangerang

[4] Donald G. S. G., 1993, The Calibration of Pressure Instrument Using a Pressure
Balances, CSIRO, Australia

[5] Lewis, S. and Peggs, G., 1992, The Pressure Balance Theory and Practice,
National Physical Laboratory, UK.

[6] Abidin, Z., 2003, Sistem Pengukuran dan Pemrosesan Data Fall rate Piston untuk
Menentukan Luasan Efektif dan Koefisien Distorsi Piston - Silinder pada
Komparasi Pressure balance, Tesis Magister, Program Studi Instrumentasi dan
Kontrol, ITB, Bandung

[7] Gigin Ginanjar , Bernadus H Sirenden. Penentuan Titik Kesetimbangan pada


Pressure Balance dengan Menggunakan Metoda Fall Rate dengan Sensor
Kapasitif. PPI-KIM 2007

[8] C M Sutton, et all, 2005, A Method of Analysis for Cross-floats between Pressure
Balances, Metrologia 42, Institute of Physics Publishing.

11