Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Asuhan Keperawatan

2.1.1 Asuhan Keperawatan Dalam Pemenuhan Kebutuhan Keamanan dan

Proteksi : Gangguan Integritas Kulit

2.1.1.1 Penkajian

1. Identitas Klien

Nama Klien : Inisial nama

Jenis Kelamin : Laki-laki/Perempuan

Usia : Sesuai usia yang diderita

Status Perkawinan : Menikah/tidak menikah

Agama : Islam/katolik/budha/konghucu

Suku Bangsa : Sunda/jawa/dan lain-lain

Pendidikan : SD/SMP/SMA/Strata 1

Bahasa Yang Digunakan : Indonesia/Sunda/Jawa

Pekerjaan : Buruh/Pegawai/Aktifitas berat

Alamat : Alamat Lengkap Klien (sesuai pengakuan

pasien)

Sumber Biaya : Pribadi/Perusahaan/Lain-lain

Sumber Informasi : Klien/Keluarga

6
2. Riwayat Keperawatan

a. Riwayat Kesehatan Sekarang

1) Keluhan Utama

Keluhan utama pada pasien post operasi herniaraphy

biasanya terdapat luka post operasi, ketidaknyamanan pada

balutan.

2) Alasan Masuk Rumah Sakit

Sebelum masuk rumah sakit keadaan pasien hernia

biasanya mengeluh terdapat benjolan dibagian bawah perut,

diderita semenjak pasien aktifitas berat dan keluar benjolan di

bagian bawah perut

b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

1. Riwayat Alergi Obat (Obat, Makanan, Binatang, Lingkungan)

: ada/tidak

2. Riwayat Kecelakaan : ada/tidak

3. Riwayat dirawat di Rumah Sakit (kapan, alasan dan berapa

lama) : ada/tidak

c. Riwayat Kesehatan Keluarga: ada/ tidaknya penyakit yang pernah

diderita oleh anggota keluarga atau penyakit yang menjadi faktor

risiko seperti diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung

koroner, dll.

7
d. Riwayat Psiko Sosial dan Spiritual

1. Adakah orang terdekat dengan klien : ya /tidak

2. Interaksi dalam keluarga :

a. Pola Komunikasi : baik/tidak

b. Pembuatan Keputusan : klien/keluarga

c. Kegiatan Kemasyarakatan : ada/tidak

3. Dampak Penyakit Klien Terhadap Keluarga : ya/tidak

4. Masalah Yang Mempengaruhi Klien : financial/ psikologis

5. Mekanisme Koping Terhadap Stress : konstruktif/ destruktif

6. Persepsi Klien Terhadap Penyakitnya :

a. Hal yang sangat dipikirkan saat ini : penyakit yang

dideritanya saat ini

b. Harapan setelah menjalani perawatan : ingin cepat sembuh

7. Sistem nilai kepercayaan :

Nilai-nilai yang bertentangan dengan kesehatan : ada/ tidak

melaksanakan pengobatan alternatif

e. Kondisi Lingkungan Rumah

(lingkungan rumah yang mempengaruhi kesehatan saat ini):

Kondisi lingkungan rumah mendukung/ tidak mendukung

pemulihan pasien.

8
f. Pola Kebiasaan

Pemenuhan nutrisi yang baik atau semakin terpenuhi atau tercukupi

pola nutrisi maka kecepatan penyembuhan luka akan semakin cepat dan

optimal. Sedangkan personal hygiene yang buruk dapat menghambat

penyembuhan luka post operasi hernia.

3. Pengkajian Fisik

a. Pemeriksaan Fisik Umum :

Berat badan : Sesuai pada saat dikaji (Kg)


Tinggi badan : Sesuai pada saat dikaji (cm)
Tekanan darah : Normal/ hipertensi (> 120/70 mmHg)
Nadi : 60-100 x/menit
Frekuensi nafas : 16-20 x/menit
Suhu tubuh : 36,0-37,0 0C
Keadaan umum : baik/sedang/buruk
Pembesaran kelenjar getah : Tidak ada

bening
b. Sistem penglihatan

Posisi mata : Simetris/ asimetris


Kelopak mata : Menutup sempurna/ menutup
Pergerakan bola mata : Baik / tidak
Konjungtiva : Anemis/ ananemis
Fungsi penglihatan : Normal/ menurun (visus6/6)
Pemakain kacamata : Tidak/ ya

c. Sistem pendengaran

Daun telinga : Pinna kanan dan pinna kiri ada


Karakterisktik serumen : Tidak bau/ bau
Kondisi telinga tengah : Normal/ bengkak/ kemerahan/

terdapat lesi
Cairan dari telinga : Ada/ tidak ada
Perasaan penuh di telinga : Ya/ tidak
Tinitus : Ya/ tidak
Fungsi pendengaran : Normal/ kurang/ tuli (kanan/kiri)
Gangguan keseimbangan : Ya/ tidak
Pemakaian alat bantu : Ya/ tidak

9
pendengaran

d. Sistem Wicara

Berbicara Normal : Ya/ tidak


Aphasia : Ya/ tidak
Aphonia : Ya/ tidak
Dysartria : Ya/ tidak
Dysphasia : Ya/ tidak
Anarthia : Ya/ tidak
e. Sistem pernapasan

Jalan nafas : Bersih


Pernapasan : Normal/ abnormal
Frekuensi : 16-24 x/menit
Irama : Teratur/ takteratur
Menggunakan alat bantu : Ya / tidak

pernapasan
Suara napas : Suara napas bersih
f. Sistem kardiovaskuler

1. Sirkulasi peripher

Nadi : Normal/ meningkat


Tekanan darah : Normal / tidak
Distensi vena jugularis : Normal/ tidak
Temperatur kulit : Hangat/ dingin
Warna kulit : Pucat/ kemerahan
Edema : Ya/ tidak
2. Sirkulasi jantung

Kecepatan denyut apical : Normal/ tidak normal (60-100

x/menit)
Irama : Teratur/ tidak teratur
Sakit dada : Ya/ tidak
- Timbulnya : Mendadak/ perlahan
- karakteristik : Menyebar/tidak menyebar
g. Sistem hematologi

Tanda perdarahan (ptechie, purpura, mimisan, perdarahan gusi

atau echimosis) : tidak ada

10
Gangguan hematologi

Pemeriksaan : Nilai rujukan


Hemoglobin : Lk : 13,00-17,00 g/dL
Pr :11,60-16,10 g/dL
Leukosit : Lk : 4,400-11,300 /
Pr : 4,400-11,300 /
Hematokrit : Lk : 44.00 11.300 %
Pr : 35.00 47.00 %
Trombosit : Lk : 150.000 440.000/L
Pr : 140.00 440.000/L
Bleeding time : LK : 6 7 Menit
Pr : 5 6 Menit
Cloting time : LK : 5 15 Menit
Pr : 4 14 Menit
h. Sistem saraf pusat :

Keluhan sakit kepala : Ya/Tidak


Tingkat kesadaran : Compos mentis
GCS (Glagow Coma Scale) : E4 V5 M6
Tanda-tanda peningkatan TIK : Ya/Tidak
Gangguan sistem persyarafan : Ya/Tidak
Pemeriksaan reflek : Ya/Tidak

i. Sistem pencernaan

Keadaan mulut : Lidah kotor / Bersih


Muntah : Ya/ tidak
Bising usus : Normal
Diare : Ya/ tidak
Warna faeces : Kuning khas
Konsistensi faecces : Lembek/ Setengah padat
Konstipasi : Ya/ tidak
Hepar : Teraba/ takteraba
Abdomen : Tak terjadi acites
j. Sistem endokrin

Pembesaran kelenjar tiroid : Ya/ tidak


Nafas berbau keton : Ya/tidak
Poliuri : Ya/ tidak
Polidipsi : Ya/ tidak
Poliphagi : Ya/ tidak
k. Sistem urogenital

11
Balance : Seimbang
Perubahan pola kemih : Retensi/ urgency/ disuria/ tidak

lampias/ nocturia/

inkontinensia/ anuria.

BAK : : Kuning jernih/ coklat/ merah/


Warna
putih
Distensi/ ketegangan kandung : Ya/ tidak

kemih
Keluhan sakit pinggang : Ya/ tidak
Intake : Balance
l. Sistem integumen

Turgor kulit : Elastis


Temperatur kulit : Hangat/ dingin
Warna kulit : Pucat/ sianosis/ kemerahan
Keadaan kulit : Terdapat sayatan operasi

dibagian bawah perut


Kelainan kulit : Tidak/ ya
Kondisi kulit daerah : Baik/ buruk

pemasangan infus
Keadaan rambut :
- Tekstur : Baik/ tidak/ alopasia
- Kebersihan : Ya/ tidak

m. Sistem Muskuloskeletal

Kesulitan dalam pergerakan : Ya/Tidak


Sakit pada tulang, sendi, kulit : Ya/Tidak
Fraktur : Normal
Kelainan bentuk tulang sendi : Normal
Kelainan struktur tulang : Normal

belakang

4. Data penunjang

12
(pemeriksaan diagnostik yang menunjang Masalah : lab, radiologi,

endoskopi dll ).

Hematologi : Cloting time (CT) Lk : 5 15 menit, Pr L 4 14 menit,

Bleeding time (BT) Lk : 6-7 menit, Pr : 5-6 menit, Hemoglobin (Hb) :

Lk : 13.00-17.00 g/Dl, Pr : 11.60-16.10 g/dL, Hematokrit (Ht) Lk :

44.00-11.300%, Pr : 33.00 47.00%, Trombosit Lk : 150.000-

440.000/L, Pr : 140.000-440.000/L, Leukosit : Lk : 4.400-11.300 Pr

: 4.400-11.300.

5. Penatalaksanaan

(therapi/pengobatan termasuk diet)

Analgetik, cairan infus fisiologis

6. Data fokus

Tabel 2.1
Data focus

Data Subyektif Data Obyektif


Pasien post operasi herniaraphy Kerusakan jaringan dan atau

biasanya terdapat luka post operasi, lapisan kulit, nyeri perdarahan,

13
ketidaknyamanan pada balutan. kemerahan dan hematoma.

7. Analisa Data
Tabel 2.2
Analisa Data

N Data Masalah Etiologi

o
1 DS : Kerusakan Hernia

Pasien post operasi Integritas kulit Pembedahan

herniaraphy terdapat luka b.d luka insisi Insisi bedah

post operasi, bedah / operasi Kerusakan

ketidaknyamanan pada integritas kulit

balutan

DO :

Kerusakan jaringan dan atau

lapisan kulit, nyeri

perdarahan, kemerahan dan

hematoma

2.1.1.2 Diagnosa Keperawatan

Kerusakan integritas kulit b.d luka insisi bedah / operasi

Ditandai dengan :

DS : Klien mengatakan kulitnya melepuh, terdapat jahitan, gatal gatal.

DO : Terdapat kemerahan, jahitan, kulit melepuh, adanya pus.

2.1.1.3 Perencanaan

14
Tabel 2.3
Perencanaan Diagnosa Keperawatan Kerusakan integritas kulit

No Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi


Kerusakan integritas kulit NOC Pressure Management
b.d luka insisi bedah / - Tissue integrity : skin and - Anjurkan pasien untuk
operasi mucous menggunakan pakaian yang
Definisi : - Membranes longgar
Perubahan atau gangguan - Hemodyalis akses - Hindari kerutan pada tempat
epidermis dan / dermis Kriteria Hasil : tidur
Batasan karateristik : - Integritas kulit yang baik bisa - Jaga kebersihan kulit agar tetap
- Kerusakan lapisan kulit dipertahankan (sensasi, bersih dan kering
(dermis) elastisitas, tempratur, hidrasi, - Mobilisasi pasien (ubah posisi
- Gangguan permukaan pigmentasi) pasien)
kulit (epidermis) Tidak ada luka / lesi pada - Monitor kulit akan adanya
- Invasi struktur tubuh kulit kemerahan
Faktor yang berhubungan - Perfusi jaringan baik - Oleskan lotion atau minyak/baby
- Eksternal : - Menunjukkan pemahaman oil pada daerah yang tertekan.
Zat kimia, radiasi dalam proses perbaikan kulit - Monitor aktovitas dan mobilisasi
Usia yang ekstrim dan mencegah terjadinya pasien
Kelembapan sedera berulang - Monitor status nutrisi pasien
Hipertermia, - Mampu melindungi kulit dan - Memandikan pasien dengan
hipotermia mempertahankan kelembaban sabun dan air hangat.
Factor mekanik kulit dan mencegah terjadinya Insision site care
Medikasi sedera berulang - Membersihkan, memantau dan
Lembab - Mampu melindungi kulit dan meningkatkan proses
mempertahankan kelembaban penyembuhan pada luka yang
Imobilitas fisik
kulit dan preawatan alami ditutp dengan jahitan, klip atau
- Internal:
strapless
Perubahan status
- Monitor proses kesembuhan area
cairan
insisi
Perubahan pigmentasi - Monitor tanda dan gejala infeksi
Perubahan turgor pada area insisi
Factor perkembangan - Bersihkan area sekitar jahitan
Kondisi atau staples, menggunakan lidi
ketidakseimbangan kapas steril
nutrisi - Gunakan preparat antiseptic,
Penurunan sirkulasi sesuai program
Kondisi gangguan - Ganti balutan pada interval
metabolic waktu yang sesuai atau biarkan
Gangguan insisi luka tetap terbuka (tidak dibalut)
Tonjolan tulang sesuai program
Dialysis Acces Maintenance
(Apliaksi keperawatan Nanda, 2015)

2.1.1.4 Pelaksanaan

Tanggal No Implementasi Paraf


- Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang

15
longgar
- Hindari kerutan pada tempat tidur
- Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
- Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
- Monitor kulit akan adanya kemerahan
- Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada daerah

yang tertekan.
- Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
- Monitor status nutrisi pasien

2.1.1.5 Evaluasi

Konsep keperawatan pasien post operasi hernia dalam pemenuhan

kebutuhan keamanan dan proteksi kerusakan integritas kulit.

S : Pasien post operasi herniaraphy biasanya terdapat luka post

operasi, ketidaknyamanan pada balutan

O : Kerusakan jaringan dan atau lapisan kulit, nyeri perdarahan,

kemerahan dan hematoma

A : Masalah keruskan intergritas kulit/teratasi sebagian/tidak

teratasi.

P :

- Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar

- Hindari kerutan pada tempat tidur

- Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

- Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)

- Monitor kulit akan adanya kemerahan

- Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada daerah yang

tertekan.

16
- Monitor aktovitas dan mobilisasi pasien

- Monitor status nutrisi pasien

2.2 Pemenuhan Kebutuhan Keamanan dan Proteksi : Gangguan Integritas

Kulit

2.1.1 Pengertian

Hernia adalah penonjolan isi organ yang biasanya melewati rongga di

dekat organ tersebut. Hernia inguinalis adalah hernia yang keluar melewati celah

anulus inguinalis sampai ke anulus inguinalis eksternus (Brooker, 2008). Hernia

inguinalis merupakan permasalahan yang bisa ditemukandalam kasus bedah.

Kasus kegawatdaruratan dapat terjadi apabila hernia inguinalis bersifat

strangulasi (irreversibel disertai gangguan pasase) dan inkarserasi (ireponibel

disertai gangguan vascularisasi). Inkarserasi merupakan penyebab obstruksi usus

nomor satu dan tindakan operasi darurat nomor dua setelah apendicitis akut di

Indonesia (Sjamsuhidajat,2010 dan Greenberg et al, 2008).

Hernia merupakan protrusi atau menonjol isi suatu rongga melalui defek

atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi

perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik

dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong dan isi hernia berdasarkan

terjadinya hernia di bagi atas hernia bawaan atau congenital dan hernia dapatan

atau akuisita. Hernia dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah

sebagai berikut congenital, obesitas, ibu hamil, mengejan, pengangkatan beban

berat (Huda, 2015).

17
Hernia adalah proporsi abdnormal organ jaringan atau bagian organ

melalui stuktur yang secara normal berisi bagian ini. Hernia paling sering terjadi

pada rongga abdomen sebagai akibat dari kelemahan muskular abdomen

konginental atau didapat (Monika Ester, 2004).

Hernia Inguinalis adalah visera menonjol ke dalam kanal inguinal pada

titik di mana tali spermatik muncul pada pria,dan di sekitar ligamen wanita

(Monika E.2004).

2.1.2 Etiologi

Hernia Inguinalis / CongenitalHernia inguinalis dapat terjadi karena

anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Lebih banyak pada pria

ketimbang pada wanita. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya

prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut

(karena kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan

pada saat defekasi dan miksi misalnya akibat hipertropi prostat) dan kelemahan

otot dinding perut karena usia. Adanya prosesus vaginalis yang paten bukan

merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan faktor lain seperti

anulus inguinalis yang cukup besar. Tekanan intraabdominal yang meninggi

secara kronik seperti batuk kronik, hipertropi prostat, konstipasi dan ansietas

sering disertai hernia inguinalis.Secara patofisiologi hernia inguinalis adalah

prolaps sebagian usus ke dalam anulus inguinalis di atas kantong skrotum,

disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital.

Hernia inkarserata terjadi bila usus yang prolaps itu menyebabkan konstriksi

18
suplai darah ke kantong skrotum, kemudian akan mengalami nyeri dan gelala-

gejala obstruksi usus (perut kembung, nyeri kolik abdomen, tidak ada flatus, tidak

ada feces, muntah) Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat

kerusakan n.ilioinguinalis dan n.iliofemoralis setelah apendiktomi. Processus

vaginalis peritoneum persisten Testis tidak samapi scrotum, sehingga processus

tetap terbuka Penurunan baru terjadi 1-2 hari sebelum kelahiran, sehingga

processus belum sempat menutupdan pada waktu dilahirkan masih tetap terbuka.

Predileksi tempat: sisi kanan karena testis kanan mengalami desensus setelah kiri

terlebih dahulu. Dapat timbul pada masa bayi atau sesudah dewasa. Hernia

indirect pada bayi berhubungan dengan criptocismus dan hidrocele

Hernia FemoralisUmumnya dijumpai pada wanita tua, kejadian pada

perempuan kira-kira 4 kali laki-laki. Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus

femoralis. Secara patofisiologis peninggian tekanan intra abdominal akan

mendorong lemak pre peritoneal ke dalam kanalis femoralis yang akan menjadi

pembuka jalan terjadinya hernia. Faktor penyebab lainnya adalah kehamilan

multipara, obesitas dan degenerasi jaringan ikat karena usia lanjut. Ada factor

predisposisiKelemahan struktur aponeurosis dan fascia tranversa Pada orang tua

karena degenerasi/atropiTekanan intra abdomen meningkatPekerjaan mengangkat

benda-benda beratBatuk kronik Gangguan BAB, missal struktur ani, feses keras

Gangguan BAK, mis: BPH, veskolitiasisSering melahirkan: hernia femoralis.

2.1.3 Patofisiologi

19
Terjadinya hernia disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah faktor

kongenital yaitu kegagalan penutupan prosesus vaginalis pada waktu kehamilan

yang dapat menyebabkan masuknya isi rongga perut melalui kanalis inguinalis,

faktor yang kedua adalah faktor yang didapat seperti hamil, batuk kronis,

pekerjaan mengangkat benda berat dan faktor usia, masuknya isi rongga perut

melalui kanal ingunalis, jika cukup panjang maka akan menonjol keluar dari

anulus ingunalis eksternus. Apabila hernia ini berlanjut tonjolan akan sampai ke

skrotum karena kanal inguinalis berisi tali sperma pada lakilaki, sehingga

menyebakan hernia. Hernia ada yang dapat kembali secara spontan maupun

manual juga ada yang tidak dapat kembali secara spontanataupun manual akibat

terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi

hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Keadaan ini akan mengakibatkan

kesulitan untuk berjalan atau berpindah sehingga aktivitas akan terganggu. Jika

terjadi penekanan terhadap cincin hernia maka isi hernia akan mencekik sehingga

terjadi hernia strangulate yang akan menimbulkan gejala ileus yaitu gejala

obstruksi usus sehingga menyebabkan peredaran darah terganggu yang akan

menyebabkan kurangnya suplai oksigen yang bisa menyebabkan Iskemik. Isi

hernia ini akan menjadi nekrosis.

Kalau kantong hernia terdiri atas usus dapat terjadi perforasi yang akhirnya

dapat menimbulkan abses lokal atau prioritas jika terjadi hubungan dengan rongga

perut. Obstruksi usus juga menyebabkan penurunan peristaltik usus yang bisa

menyebabkan konstipasi. Pada keadaan strangulate akan timbul gejala ileus yaitu

20
perut kembung, muntah dan obstipasi pada strangulasi nyeri yang timbul letih

berat dan kontineu, daerah benjolan menjadi merah (Syamsuhidajat 2004).

2.1.4 Manifestasi Klinis

Pada umumnya keluhan orang dewasa berupa benjolan diinguinalis yang

timbul pada waktu mengedan, batuk, atau mengangkat beban berat dan

menghilang pada waktu istirahat berbaring. Pada inspeksi perhatikan keadaan

asimetris pada kedua inguinalis, skrotum, atau labia dalam posisi berdiri dan

berbaring. Pasien diminta mengedan atau batuk sehingga adanya benjolan atau

keadaan asimetris dapat dilihat. Palpasi dilakukan dalam keadaan ada benjolan

hernia, diraba konsistensinya, dan dicoba mendorong apakah benjolan dapat

direposisi. Setelah benjolan dapat direposisi dengan jari telunjuk, kadang cincin

hernia dapat diraba berupa anulus inguinalis yang melebar (Jong, 2004).

Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaaan isi hernia.

Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adanya benjolan di lipat paha yang

muncul pada waktu berdiri, batuk bersin, atau mengejan dan menghilang setelah

berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan di daerah

epigastrium atau paraumbilikal berupa nyeri viseral karena regangan pada

mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia.

Nyeri yang disertai mual atau muntah baru timbul kalau terjadi inkarserasi karena

ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangrene (Mansjoer, 2006).

2.1.4 Klasifikasi

21
1. Bagian-bagian hernia

a. Kantong hernia

Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua

hernia memiliki kantong, misalnya hernia insisional, hernia adipose,

hernia intertitialis.

b. Isi hernia

Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia,

misalnya usus,ovarium dan jaringan penyangga usus (omentum).

c. Pintu hernia

Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong

hernia.

d. Leher hernia

Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong

hernia.

e. Locus minoris resistance (LMR).

Di dalam diskus invertebralis terdapat semacam bahan pengisi yang

mirip jeli kenyal yang disebut nukleus pulposus. Bantalan tersebut

berfungsi sebagai shock breaker (peredam getar) yang

memungkinkan tulang belakang untuk bergerak lentur.

2. Macam-macam hernia

a. Berdasarkan terjadinya:

1) Hernia bawaan atau kongenital

22
2) Hernia didapat atau akuisita

b. Berdasarkan tempatnya:

1) Hernia Inguinalis

Adalah hernia isi perut yang tampak di daerah sela paha (region

inguinalis).

2) Hernia femoralis

Adalah hernia isi perut yang tampak di daerah fosa femoralis.

3) Hernia umbilikalis

Adalah hernia isi perut yang tampak di daerah isi perut.

4) Hernia diafragmatik

Adalah hernia yang masuk melalui lubang diafragma ke dalam

rongga dada.

5) Hernia nucleus pulposus (HNP).

c. Berdasarkan sifatnya

1) Hernia reponsibel

Yaitu isi hernia masih dapat dikembalikan ke kavum

abdominalis lagi tanpa operasi.

2) Hernia ireponsibel

Yaitu isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam

rongga.

3) Hernia akreta

Yaitu perlengketan isi kantong pada peritonium kantong hernia.

4) Hernia inkarserata

23
Yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia.

d. Berdasarkan isinya

1) Hernia adiposa

Adalah hernia yang isinya terdiri dari jaringan lemak.

2) Hernia litter

Adalah hernia inkarserata atau strangulata yang sebagian

dinding ususnya saja yang terjepit di dalam cincin hernia.

3) Slinding hernia

Adalah hernia yang isi hernianya menjadi sebagian dari dinding

kantong hernia.(Sjamsuhidajat, 2004).

2.1.5 Komplikasi

Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia.

Isi hernia dapat tertahan dalam kantong, pada hernia ireponibel ini dapat terjadi

kalau isi hernia terlalu besar, misalnya terdiri atas omentum, organ

ekstraperitonial. Disini tidak timbul gejala klinis kecuali berupa benjolan. Dapat

pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi hernia

strangulata yang menimbulkan gejala obstruksi usus yang sederhana. Sumbatan

dapat terjadi total atau parsial. Bila cincin hernia sempit, kurang elastis, atau lebih

kaku, lebih sering terjadi jepitan parsial. Jarang terjadi inkarserasi retrograd, yaitu

dua segmen usus terperangkap di dalam kantong hernia dan satu segmen lainnya

berada dalam rongga peritonium, seperti huruf W.

24
Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi

hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau

struktur di dalam hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia. Timbulnya udem

menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah, sehingga akhirnya

peredaran darah jaringan terganggu. Isi hernia terjadi nekrosis dan kantong hernia

berisi transudat berupa cairan serosanguinus. Kalau isi hernia terdiri atas usus,

dapat terjadi perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan abses local, fistel, atau

peritonitis, jika terjadi hubungan dengan dengan rongga perut (Jong, 2004).

Gambaran klinis hernia inguinalis lateralis inkarserata yang mengandung

usus dimulai dengan gambaran obstruksi usus dengan gangguan keseimbangan

cairan, elektrolit dan asam basa. Bila sudah terjadi strangulasi karena gangguan

vaskularisasi, terjadi keadaan toksik akibat gangren dan gambaran klinis menjadi

kompleks dan sangat serius. Penderita mengeluh nyeri lebih hebat di tempat

hernia. Nyeri akan menetap karena rangsangan peritoneal.

Pada pemeriksaan local ditemukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan

kembali disertai nyeri tekan dan tergantung keadaan isi hernia, dapat dijumpai

tanda peritonitis atau abses local. Hernia strangulate merupakan keadaan gawat

darurat. Oleh karena itu, perlu mendapat pertolongan segera (Jong 2004).

2.1.6 Pemenuhan kebutuhan Kerusakan integritas kulit

Pemenuhan kebutuhan pada pasien post operasi kerusakan intergritas kulit

banyak kondisi patologis yang memengaruhi kebutuhan keamanan dan proteksi

terhadap infeksi dalam Kamus Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah

invasi dan multiplikasi mikroorganisme dalam jaringan tubuh, khususnya yang

25
menimbulkan cedera seluler setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin,

replikasi intraseluler atau reaksi antigen-antibodi. Munculnya infeksi dipengaruhi

oleh beberapa faktor yang saling berkaitan dalam rantai infeksi. Adanya patogen

tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi (Jong, 2004).

Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama

pembedahan atau setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering muncul dalam 2

7 hari setelah pembedahan. Gejalanya berupa infeksi termasuk adanya purulent,

peningkatan drainase, nyeri, kemerahan dan bengkak di sekeliling luka,

peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel darah putih. Keadaan khusus dari

luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas penyembuhan luka. Beberapa luka

dapat gagal untuk menyatu. Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin),

heparin dan anti neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan

antibiotik yang lama dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka.

Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera.

Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan. Antibiotik : efektif diberikan segera

sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika

diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi

intravaskular. (Yusuf , 2009).

2.1.7 Penggantian balutan pada kebutuan keamanan dan proteksi

kerusakan integritas kulit pada pasien hernia

26
Melakukan perawatan pada luka dengan cara mamantau keadaan luka,

melakukan penggatian balutan (ganti verban) dan mencegah terjadinya infeksi.

2.1.7.1 Perwatan luka modern

Perawatan luka modern dibedakan beberapa jenis balutan modern

diantaranya : Hidrocolloid, Hydrogel, Absorbent dressing, Alginate, dan foam

Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian luka balutan luka secara

modern hal-hal yang tidak di inginkan pada cara tradisional dapat di hindari yaitu

membuat luka yang kering menjadi basah dan membuat luk basah menjadi kering

dengan membuat luka tetap lembab di harapkan proses penyembuhan luka bisa

menjadi lebih cepat.

2.1.7.2 Tujuan penggantian balutan

Tujuan ganti balutan kering adalah untuk melindungi luka serta

mengurangi resiko terkontaminasi dari kuman, bakteri maupun virus yang

mengganggu penyembuhan luka.

2.1.7.3 Manfaat penggantian balutan

a. Mencegah terjadinya infeksi/infeksi silang

b. Rasa aman dan nyaman bagi klien dan orang lain disekitarnya

c. Membantu proses penyembuhan luka

2.1.7.4 Hal Hal Yang Harus Diperhatikan

27
a. Membalut harus rata, jangan terlalu longgar dan jangan terlalu erat, hal

ini untuk mencegah terjadinya pembendungan. Contoh pada kaki dan

tangan

b. Pembalut harus sesuai dengan tujuan, contoh : untuk menjaga agar

luka jangan terkontaminasi, untuk merapatnya luka, atau untuk

menghentikan perdarahan

c. Menggunting plester jangan terlalu panjang/ terlalu pendek

d. Pembalut yang kotor/ basah segera diganti. Pada luka operasi tanpa

drain sampai angkat jahitan ( minimal 5 hari ), pembalut yang tepat

berada di atas luka tidak boleh diganti. Jadi bila pembalut kotor/ basah

hanya bagian atasnya saja yang diganti, atau pembalut diganti sesuai

dengan instruksi dokter

e. Memperhatikan apakah ada perdarahan, atau kotoran kotoran yang

lain untuk menetukan kapan drain dapat diangkat

f. Memperhatikan komplikasi luka operasi, contoh haematom, adanya

pus, pengerasan, perdarahan, kemerahan atau lecet lecet pada kulit

sekitarnya (Supriatna, 2009).

28