Anda di halaman 1dari 9

1.

Finansial distress / kesulitan keuangan


Financial distress, berarti kesulitan dana untuk menutup kewajiban perusahaan atau
kesulitan likuiditas yang diawali dengan kesulitan ringan sampai pada kesulitan yang lebih
serius, yaitu jika hutang lebih besar dibandingkan dengan aset.
Khaliq dkk (2014) mendefinisikan financial distress sebagai suatu kondisi dimana
perusahaan tidak bisa atau mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya kepada
kreditur. Peluang terjadinya financial distress meningkat ketika biaya tetap perusahaan tinggi,
aset likuid, atau pendapatan yang sangat sensitif terhadap resesi ekonomi. Kondisi ini akan
memaksa perusahaan untuk mengeluarkan biaya yang tinggi sehingga manajemen terpaksa
melakukan pinjaman kepada pihak lain. Baimwera dan Muriuki pada tahun 2014 juga
mendefinisikan financial distress sebagai kemungkinan dimana perusahaan tidak dapat
memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo.
Elloumi dan Gueyie (dikutip oleh Fitriyah, 2013) mendefinisikan financial distress
sebagai perusahaan yang memiliki laba per lembar saham (earning per share) negatif.
Prospek perusahaan di masa depan dapat dilihat dari pertumbuhan laba per lembar saham
yang nantinya akan mempengaruhi keputusan investor untuk menanamkan modalnya di
perusahaan tersebut. EPS yang negatif dalam beberapa tahun menunjukkan pertumbuhan
perusahaan yang kurang baik sehingga investor kurang tertarik untuk berinvestasi. Hal ini
akan meningkatkan potensi perusahaan untuk mengalami financial distress karena
perusahaan akan sulit untuk mendapatkan dana.
Platt dan Platt menyatakan bahwa financial distress adalah tahap penurunan kondisi
keuangan sebelum terjadi kebangkrutan. Pada saat terjadi kesulitan keuangan,
ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban menunjukkan bahwa perusahaan
tersebut kekurangan modal kerja atau working capital (Aghaei, 2013). Kekurangan modal
kerja ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kewajiban lancar dan biaya operasi
yang terlalu tinggi.
Financial distress bisa terjadi di berbagai perusahaan dan bisa menjadi penanda/sinyal
dari kebangkrutan yang mungkin akan dialami perusahaan. Jika perusahaan sudah masuk
dalam kondisi financial distress, maka manajemen harus berhati-hati karena bisa saja masuk
pada tahap kebangkrutan. Manajemen dari perusahaan yang mengalami financial distress
harus melakukan tindakan untuk mengatasi masalah keuangan tersebut dan mencegah
terjadinya kebangkrutan.
Jika perusahaan mengalami financial distress dan tidak ada tindakan lebih lanjut untuk
perbaikan, perusahaan dapat mengalami kebangkrutan bahkan dapat dilikuidasi.
Kebangkrutan adalah keadaan dimana perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi
segala kewajiban pemberi pinjaman (debitur) karena perusahaan kekurangan dana untuk
menjalankan dan melanjutkan usahanya sehingga pencapaian tujuan ekonomi tidak terpenuhi
(Wongsosudono, 2013).
Financial distress (kesulitan keuangan) dapat diakibatkan oleh beberapa penyebab. Awal
terjadinya financial distress dapat bermula pada saat arus kas yang dimiliki perusahaan lebih
kecil dari jumlah utang jangka panjang yang telah jatuh tempo. Hal ini mencerminkan bahwa
perusahaan tersebut tidak mampu untuk memenuhi pembayaran kewajiban yang seharusnya
dibayar pada saat itu juga. Selain faktor ekonomi finansial distress juga bisa diakibatkan oleh
kesalahan manajemen dan bencana alam. Perusahaan yang mengalami kegagalan dalam
operasinya akan berdampak pada kesulitan keuangan. Tapi kebanyakan penyebab terjadinya
financial distress baik secara langsung maupun tidak langsung adalah karena kesalahan
manajemen yang terjadi berulang-ulang.

a. Tanda-tanda kesulitan keuangan


Menurut Harahap (2009) Ada beberapa indikator untuk melihat tanda-tanda kesulitan
keuangan dapat diamati dari pihak eksternal, misalnya:
Penurunan jumlah dividen yang dibagikan kepada pemegang saham selama beberapa
periode berturut-turut.
Penurunan laba secara terus-menerus bahkan perusahaan mengalami kerugian.
Ditutup atau dijualnya satu atau lebih unit usaha.
Pemecatan pegawai secara besar-besaran.
Harga di pasar mulai menurun terus - menerus.
Sebaliknya, beberapa indikator yang dapat diketahui dan harus diperhatikan oleh pihak
internal perusahaan adalah:
Turunnya volume penjualan karena ketidakmampuan manejemen dalam menerapkan
kebijakan dan strategi.
Turunnya kemampuan perusahaan dalam mencetak keuntungan.
Ketergantungan terhadap utang, dimana perusahaan memiliki utang sangat besar
sehingga biaya modalnya membengkak.

b. Alternatif Perbaikan Kesulitan Keuangan


Menurut Hanafi dan Halim (2009:274) berikut ini beberapa alternatif perbaikan
berdasarkan besar kecilnya permasalahan keuangan yang dihadapi oleh perusahaan:
1.Pemecahan secara informal
Dilakukan apabila masalah belum begitu parah.
Masalah perusahaan hanya bersifat sementara, prospek masa depan masih begitu
bagus.
Cara pemecahan secara informal dilakukan dengan :
Perpanjangan (exstension): dilakukan dengan memperpanjang jatuh tempo hutang-
hutangnya. Contoh, hutang yang pada mulanya jatuh tempo dalam lima tahun,
sekarang diperpanjang menjadi sepuluh tahun.
Komposisi (composition): dilakukan dengan mengurangi besarnya tagihan. Misalkan
misal klaim hutang diturunkan menjadi 60%. Kalau hutang awal besarnya Rp1 juta,
maka hutang yang baru menjadi Rp600.000 (60% Rp1 juta).

2. Pemecahan secara formal


Pemecahan secara formal ditempuh apabila masalah sudah parah, kreditur dan pemasok
dana lainnya ingin mempunyai jaminan keamanan dan keadilan. Pemecahan secara formal
melibatkan pihak ketiga yaitu pengadilan. Dengan cara :
Apabila nilai perusahaan lebih besar dari Nilai perusahaan dilikuidasi, dilakukan
Reorganisasi, dengan merubah struktur modal menjadi struktur modal yang layak.
Perubahan bisa dilakukan melalui perpanjangan, perubahan komposisi, atau
keduanya.
Apabila nilai perusahaan lebih kecil dari nilai perusahaan dilikuidasi, likuidasi lebih
baik dilakukan. Likuidasi dengan menjual asset-aset perusahaan,kemudian
didistribusikan ke pemasok modal di bawah pengawasan pihak ketiga.

2. Kebangkrutan
2.1 Pengertian Kebangkrutan
Kebangkrutan adalah kegagalan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasi untuk
menghasilkan laba. Menurut Prihadi (2008 : 177) menyatakan bahwa kebangkrutan
merupakan kondisi dimana perusahaan tidak mampu lagi untuk melunasi
kewajibannya.Kebangkrutan adalah puncak dari kegagalan dalam mengelola suatu usaha.
Kegagalan tersebut dapat berupa kegagalan dalam mengelola modal kerja yang terdapat di
perusahaan atau kegagalan dalam bertahan dalam persaingan yang semakin tidak menentu.
Menurut Adnan dan Kumiasih (2000:137) kebangkrutan sebagai kegagalan didefinisikan
kedalam beberapa arti, yaitu:
a) Kegagalan ekonomi {Economic Failure)
Kegagalan dalam arti ekonomi berarti bahwa perusahaan kehilangan uang atau
pendapatan perusahaan tidak bisa menutup biayanya sendiri. Ini berarti tingkat labanya lebih
kecil dari biaya modal atau nilai sekang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban.
Kegagalan teijadi bila arus kas sebenamya dari perusahaan tersebut jatuh dibawah arus kas
yang diharapkan. Bahkan kegagalan dapat juga berarti bahwa tingkat pendapatan atas biaya
historis dari investasinya lebih kecil dari pada biaya modal perusahaan.

b) Kegagalan keuangan {Financial Failure).


Kegagalan keuangan bisa diartikan sebagai insolvensi yang membedakan antara dasar
arus kas dan dasar saham. Insolvensi atas dasar arus kas ada dua bentuk, yaitu:
Insolvensi teknis {technical insolvency); adalah perusahaan dapat dianggap gagal jika
perusahaan tidak memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo walaupun total aktiva
melebihi total hutang, atau terjadi bila suatu perusahaan gagal memenuhi salah satu
atau lebih kondisi dalam ketentuan hutangnya seperti rasio aktiva lancer terhadap
total aktiva yang di syaratkan. Insolvensi juga terjadi bila ams kas tidak cukup untuk
memenuhi pembayaran kembali pokok pada tanggal tertentu.
Insolvensi dalam pengertian kebangktutan; adalah kebangmtan didefenisikan dalam
ukuran sebagai kekayaan bersih negative dalam neraca konvensional atau nilai
sekarang dari arus kas yang diharapkan lebih kecil dari kewajiban. Sementara,
likuidasi mempakan suatu proses yang berakhir pada pembubaran perusahaan sebagai
suatu pemsahaan. Likuidasi lebih menekankan pada aspek status yuridis pemsahaan
sebagai suatu badan hukum dengan segala hak-hak dan kewajiban.

Pengertian kebangkrutan dapat dilihat dari 2 pendekatan yaitu :


Pendekatan aliran. Perusahaan dinyatakan bangkrut apabila perusahaan tidak bisa
menghasilkan aliran kas yang cukup.
Pendekatan stock. Dengan pendekatan stock, perusahaan bisa dinyatakan bangkrut
jika total kewajiban melebihi total aktiva. Jika perusahaan mempunyai hutang Rp 1
milyar, sedangkan total asetnya hanya Rp 500 juta, maka persuahaan tersebut sudah
bisa dinyatakan likuidasi/bangkrut. Dari sudut pandang stock, perusahaan dinyatakan
bangkrut walaupun kemungkin masih menghasilkan aliran kas yang cukup, atau
masih memiliki prospek yang baik di masa mendatang.

2.2 Penyebab Kebangkrutan


Secara garis besar penyebab kebangkrutan bisa dibagi menjadi dua yaitu faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari bagian internal
manajemen perusahaan. Sedangkan faktor eksternal bisa berasal dari faktor luar yang
berhubungan langsung dengan operasi perusahaan atau faktor perekonomian secara makro.
1. Faktor-faktor eksternal perusahaan
Faktor eksternal yang bersifat umum: faktor politik, ekonomi, sosial, dan budaya serta
tingkat campur tangan pemerintah dimana perusahaan tersebut berbeda. Disamping
itu penggunaan teknologi yang salah akan mengakibatkan kerugian dan akhirnya
mengakibatkan bangkrutnya perusahaan.
Faktor eksternal yang bersifat khusus: faktor-faktor luar yang berhubungan langsung
dengan perusahaan antara lain faktor pelanggan (perubahan selera atau kejenuhan
konsumen yang tidak terdeteksi oleh perusahaan mengakibatkan menurunnya
penjualan dan akhirnya merugikan perusahaan), pemasok dan faktor pesaing.
Menurut Darsono dan Ashari (2005: 102) faktor internal yang bias menyebabkan
kebangkrutan perusahaan meliputi:
Manajemen yang tidak efisien akan mengakibatkan kerugian terus menerus yang pada
akhirnya menyebabkan perusahaan tidak dapat membayar kewajibannya.
Ketidakefisienan ini diakibatkan oleh pemborosan dalam biaya, kurangnya
keterampilan dan keahlian manajemen.
Ketidakseimbangan dalam modal yang dimiliki dengan jumlah hutang-piutang yang
dimiliki. Hutang yang terlalu besar akan mengakibatkan biaya bunga yang besar
sehingga memperkecil laba bahkan bisa menyebabkan kerugian. Piutang yang terlalu
besar juga akan merugikan karena aktiva yang menganggur terlalu banyak sehingga
tidak menghasilkan pendapatan.
Moral hazard oleh manajemen. Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen
perusahaan bisa mengakibatkan kebangkrutan. Kecurangan ini akan mengakibatkan
kerugian bagi perusahaan yang pada akhirnya membangkrutkan perusahaan.
Kecurangan ini bias berbentuk manajemen yang korup ataupun memberikan
informasi yang salah pada pemegang saham atau investor.

2.3 Prediksi Kebangkrutan dengan metode Almant Z-score


Pada tahun 1968, Edward. I Altman memberikan formula yang berfungsi untuk
memprediksi potensi kebangkrutan suatu perusahaan. Altman mempergunakan angka-angka
di dalam laporan keuangan dan merepresentasikannya dalam suatu angka, yaitu Z-Score yang
dapat menjadi acuan untuk menentukan apakah suatu perusahaan berpotensi untuk bangkrut
atau tidak.
Formula untuk mendapatkan Altman Z-Score adalah sebagai berikut:
Z = 1.2 X1 + 1.4 X2 + 3.3 X3 + 0.6 X4 + 1.0 X5

Dimana :
X1 = Net Working Capital to Total Assets
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan modal kerja
bersih dari keseluruhan total aktiva yang dimilikinya. Rasio ini dihitung dengan membagi
modal kerja bersih dengan total aktiva. Modal kerja bersih diperoleh dengan cara aktiva
lancar dikurangi dengan kewajiban lancar. Modal kerja bersih yang negative kemungkinan
besar akan menghadapi masalah dalam menutupi kewajiban jangka pendeknya karena tidak
tersedianya aktiva lancar yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut. Sebaliknya,
perusahaan dengan modal kerja bersih yang bernilai positif jarang sekali menghadapi
kesulitan dalam melunasi kewajibannya.
X2 = Retained Earnings to Total Assets
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba ditahan dari
total aktiva perusahaan. Laba ditahan merupakan laba yang tidak dibagikan kepada para
pemegang saham. Dengan kata lain, laba ditahan menunjukkan berapa banyak pendapatan
perusahaan yang tidak dibayarkan dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham. Laba
ditahan menunjukkan klaim terhadap aktiva, bukan aktiva per ekuitas pemegang saham. Laba
ditahan terjadi karena pemegang saham biasa mengizinkan perusahaan untuk
menginvestasikan kembali laba yang tidak didistribusikan sebagai dividen. Dengan demikian,
laba ditahan yang dilaporkan dalam neraca bukan merupakan kas dan tidak tersedia untuk
pembayaran dividen atau yang lain.
X3 = Earning Before Interest and Tax to Total Assets
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva
perusahaan, sebelum pembayaran bunga dan pajak.
X4 = Market Value of Equity to Book Value of Debt
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-
kewajiban dari nilai pasar modal sendiri (saham biasa). Nilai pasar ekuitas sendiri diperoleh
dengan mengalikan jumlah lembar saham biasa yang beredar dengan harga pasar per lembar
saham biasa. Nilai buku hutang diperoleh dengan menjumlahkan kewajiban lancar dengan
kewajiban jangka panjang.
X5 = Sales to Total Assets
Rasio ini menunjukkan apakah perusahaan menghasilkan volume bisnis yang cukup
dibandingkan investasi dalam total aktivanya. Rasio ini mencerminkan efisiensi manajemen
dalam menggunakan keseluruhan aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan dan
mendapatkan laba.
Z = indeks keseluruhan kebangkrutan
Kondisi ini dapat dilihat dari nilai Z score nya, jika:
untuk nilai Z-Score lebih kecil atau sama dengan 1,81 berarti perusahaan mengalami
kesulitan keuangan dan risiko tinggi.
untuk nilai Z-Score antara 1,81 sampai 2,67 maka perusahaan dianggap berada pada
daerah abu-abu (grey area). Pada kondisi ini, perusahaan mengalami masalah
keuangan yang harus ditangani dengan penanganan manajemen yang tepat. Kalau
terlambat dan tidak tepat penanganannya, perusahaan dapat mengalami kebangkrutan.
Jadi pada grey area ini ada kemungkinan perusahaan bangkrut dan ada pula yang
tidak tergantung bagaimana pihak manajemen perusahaan dapat segera mengambil
tindakan untuk segera mengatasi masalah yang dialami oleh perusahaan.
Untuk nilai Z-Score lebih besar dari 2,67, memberikan penilaian bahwa perusahaan
berada dalam keadaan yang sangat sehat sehingga kemungkinan kebangkrutan sangat
kecil terjadi.
Contoh:
Analisis kebangkrutan pada 5 perusahaan tekstil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI) yaitu PT Pan Brothers Tbk, PT Asia Pacific Fibers Tbk, PT Ricy Putra Globalindo
Tbk, PT Sunson Textile Manufacturer Tbk, dan PT Nusantara Inti Corpora tahun 2011.

Dengan melihat hasil Z-score di atas ada 2 perusahaan yang berada dalam kondisi
bangkrut menurut Altman Z-score ditandai dengan nilai hasilnya yang berada dibawah 1,81.
Pada tahun 2011, perusahaan yang bangkrut adalah PT Sun son Textile Manufacturer Tbk
dan Nusantara Inti Corpora dimana hasilnya masing masing adalah 1,149 dan 1,239
yang artinya perusahaan mengalami kesulitan keuangan yang besar dan beresiko
tinggi sehingga kemungkinan bangkrutnya juga besar jika tidak dilakukan perbaikan
kinerja.

3. Reorganisasi
Istilah reorganisasi berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan untuk
mampu bertahan diri dan atau memperkecil/mengurangi skala usahanya agar perusahaan
tidak mengalami kesulitan di bidang keuangan dalam situasi ekonomi yang kurang
menguntungkan.
Asumsi dasar mengapa perusahaan melakukan reorganisasi adalah bahwa perusahaan
masih mempunyai kemampuan operasional yang cukup baik dalam situasi ekonomi yang
kurang menguntungkan. Hal ini umumnya ditekankan pada adanya efisiensi biaya
( khususnya biaya tetap ) yang ada pada struktur biaya perusahaan. Adanya penekanan pada
efisiensi biaya yang sifatnya tetap ini dalam istilah reorganisasi disebut sebagai reorganisasi
finansial.
Rencana reorganisasi didasarkan pada prinsip keadilan dan kelayakan. Prinisip keadilan
berarti semua pihak harus diperlakukan secara adil (fair). Prinsip kelayakan berarti rencana
tersebut harus layak (bisa) dilakukan. Misal, perusahaan mempunyai beban hutang terlalu
tinggi sedangkan kemampuan penjualan sangat kecil, maka reorganisasi tidak layak
dilakukan.
Perusahaan melakukan reorganisasi finansial apabila dinilai bahwa prospek
perusahaan masih baik, sehingga dapat tertolong. Dalam melakukan reorganisasi finansial,
ada beberapa langkah yang harus ditempuh yaitu:
a) Menentukan nilai perusahaan. Penilaian yang sering digunakan dan yang termasuk
cukup sederhana, adalah menghitung nilai perusahaan berdasarkan tingkat
kapitalisasi. Misal, penilai memperkirakan perusahaan setelah reorganisasi mampu
menghasilkan pendapatan bersih per tahun (EAT) Rp10.000.000.000,-. Tingkat
kapitalisasi untuk perusahaan yang sejenis sebesar 20%. Nilai perusahaan tersebut
bisa dihitung sebagai berikut ini :
Nilai perusahaan = Rp 10 milyar/0,2 = Rp 50 milyar
b) Menentukan struktur modal yang baru. Struktur modal tersebut bertujuan mengurangi
beban tetap (bunga) agar perusahaan bisa beroperasi dengan lebih fleksibel. Untuk
mengurangi beban tetap tersebut, total hutang biasanya akan dikurangi.
Contoh :
Misalkan pihak pengadilan dan kurator mengestimasi penjualan di masa mendatang bisa
mencapai Rp. 75 juta pertahun. Marjin keuntungan (profit margin) yang bisa dicapai
diperkirakan sekitar 10%. Dengan kata lain keuntungan yang diperkirakan diperoleh
perusahaan tersebut adalah sekitar Rp. 7,5 juta pertahun.
Menghitung Tingkat Kapitalisasi atau Tingkat Multipel, dan Nilai Perusahaan.
Misalkan saja tingkat kapitalisasi perusahaan yang sejenis adalah sekitar 12%. Maka,
Nilai = 7,5 juta / 0,12 = Rp. 62,50 juta.
Tehnik multipel (seperti PER) juga bisa digunakan. Misalkan saja rasio PER (Price
Earning Ratio) untuk perusahaan lain adalah sekitar 8 kali. Pihak penilai menganggap
rasio tersebut cukup wajar untuk perusahaan tersebut. Dengan menggunakan tehnik
tersebut nilai perusahaan adalah :
Nilai perusahaan = Rp.7,5 juta x 8 = Rp. 60 juta
Teknik atau cara yang berbeda akan menghasilkan angka yang berbeda. Misalkan saja pihak
kurator menentukan nilai perusahaan adalah Rp. 60 juta
Menentukan Struktur Modal yang Baru. Karena jumlah Rp60 juta tersebut lebih
rendah dibandingkan total klaim (total pasiva), maka struktur modal yang baru perlu
ditentukan. Struktur modal yang baru diharapkan lebih meringankan beban tetap
perusahaan.
4. Likuidasi
Upaya terakhir yang biasa ditempuh oleh pihak manajemen perusahaan, apabila cara
restrukturisasi maupun reorganisasi perusahaan telah dilakukan dalam menghadapi situasi
ekonomi yang tidak menguntungkan serta menghindari perusahaan mengalami kesulitan di
bidang keuangan sacara terus menerus adalah likuidasi . Artinya cara likuidasi ini akan
menjadi upaya terakhir yang harus ditempuh oleh manajemen perusahaan, apabila para
kreditur berpendapat bahwa prospek perusahaan sudah tidak lagi dipandang menguntungkan,
walaupun adanya tambahan modal kerja atau merubah kredit menjadi penyertaan. Dalam
posisi ini, para kreditur akan lebih menyukai perusahaan untuk dilikuidir saja.
Likuidasi yaitu penjualan aktiva non-kas dari persekutuan karena perusahaan persekutuan
sudah tidak memungkinkan untuk menjalankan kegiatan operasinya. Tujuan utama likuidasi
yaitu untuk melakukan pengurusan dan pemberesan atas harta perusahaan yang dibubarkan
tersebut. Likuidasi ditempuh apabila para kreditur berpendapat bahwa prospek perusahaan
tidak lagi menguntungkan. Kalaupun ditambah modal atau merubah kredit menjadi
penyertaan, tidak terlihat membaiknya kondisi perusahaan.
Proses likuidasi bisa dilakukan secara formal ataupun tidak formal. Proses likuidasi
tidak formal dilakukan perusahaan dengan pertimbangan : biaya lebih murah, aktivitas lebih
sederhana, kreditor mendapatkan uangnya lebih banyak dan lebih cepat.
Proses likuidasi formal melibatkan pihak ketiga seperti pengadilan. Melalui pihak
ketiga, pihak-pihak yang terlibat dalam kebangkrutan bisa memperoleh perlindungan dari
pihak lainnya. Pengadilan berusaha agar pihak-pihak yang berkaitan memperoleh perlakuan
yang adil selama proses perbaikan tersebut.
Ada dua alasan secara teoritis yang mendorong perusahaan menggunakan jalur
formal, yaitu permasalahan Common Pool, dan Hold Out.
Common Pool. Misalkan suatu perusahaan mempunyai nilai hutang nominal sebesar
total Rp 20 milyar, yang berasal dari 10 kreditor dengan besar masing-masing adalah sama
(Rp 2milyar). Nilai pasar perusahaan tersebut jika bertahan adalah Rp 15milyar. Jika
dilikuidasi, asset perusahaan bisa dijual menghasilkan kas sebesar Rp 10milyar. Misalkan
kondisi perusahaan memburuk sehingga tidak bisa membayar salah satu hutangnya, maka
kreditor tersebut bisa menuntut agar perusahaan dibangkrutkan.
Hold-Out. Misalkan pada contoh di atas perusahaan berhasil meyakinkan kreditor
agar dilakukan restrukturisasi. Hutang yang lama (yang besarnya Rp 2 milyar untuk setiap
kreditor), diganti dengan hutang baru yang nilainya lebih rendah, missal Rp 1,4 milyar untuk
setiap kreditor. Jika kreditor menyetujui usulan tersebut, total hutang menjadi Rp 14milyar.
Karena nilai perusahaan jika jalan terus adalah Rp 15 milyar, maka pemegang saham
memperoleh sisa sebesar Rp 1 milyar. Perusahaan dengan demikian tidak perlu dilikuidasi,
tetapi masih bisa berjalan terus. Kreditor secara keseluruhan juga diuntungkan (dibandingkan
jika bangkrut), karena nilai Rp 14milyar lebih besar dibandingkan dengan Rp 10milyar (jika
dibangkrutkan dan dilikuidasi.
Kas yang diperoleh dari likuidasi aset perusahaan akan didistribusikan dengan urutan
tertentu, misalnya dari (yan g paling ber hak memper oleh per tama, sam pai ya ng
paling ter akhir memperoleh hal) :
a) Biaya administrasi yang berkaitan dengan urusan likuidasi, termasuk biaya pengacara,
kurator (trustee).
b) Klaim dari kreditur (hutang) yang muncul dari kegiatan bisnis mulai dari saat kasus
dibawa ke pengadilan sampai ke saat trustee diangkat.
c) Gaji pegawai yang diperoleh dalam waktu 90 hari sesudah (within) petisi
kebangkrutan. Jumlah ini dibatasi sampai per-pegawai.
d) Premi pensiun pegawai untuk masa kerja dalam 120 hari petisi kebangkrutan
diajukan.
e) Uang muka dari pelanggan yang membeli barang tetapi belum memperoleh
barangnya.
f) Pajak pendapatan sampai tiga tahun sebelum kebangkrutan, pajak properti sampai
setahun sebelum kebangkrutan, dan semua pajak pendapatan yang masih ditahan oleh
perusahaan.
g) Kreditur umum.
h) Saham preferen.
i) Saham biasa.

Referensi:
http://wihandaru.staff.umy.ac.id/files/2013/08/C32-Restrukturisasi-Kebangkrutan-
Manajemen-Keuangan-III.pdf

https://s3.amazonaws.com/ppt-download/manajemenkeuanganbab26

https://s3.amazonaws.com/ppt-download/tugas1amlfix

http://www.aep.neu.edu.vn/FileManager/ThuVien/166085925-Ross-Westerfield-Jordan-
Fundamentals-of-Corporate-Finance-9th-Ed-20101.pdf

https://s3.amazonaws.com/ppt-download/financialdistress

http://publication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/7402/1/Slide%20PI%20Z.pdf