Anda di halaman 1dari 16

CONTOH JURNAL KUANTITATIF_______________________________________

PENGARUH METODE HERMENEUTIK DAN PENGUASAAN BAHASA


FIGURATIF TERHADAP KEMAMPUAN MENGAPRESIASI PUISI

(Eksperimen pada Siswa Kelas 10 SMA N 1 Karanganom, Klaten

Tahun 2008/2009)[1]

Oleh:

Arief Rahmawan[2]

ABSTRACT

This research uses quantitative method with the simply of factorial design 2 x 2. And then,
population in this research is students 10th class SMA N 1 Karanganom, Klaten 2008/2009
academic years that 325 students. The sample include involves 2 classes, the first class as
control group is 10 C and the other class as experiment is 10 G. Based on the result of the
research with Anava Two Ways can be concluded: (1) There are differencials of average that
significant among learning with hermeneutics method and conventional method (structural
method) to the skill of poem appreciation (Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 7,82 > 3,96); (2) There are
differencials of average that significant among students who have the high mastery of
figurative language and students that have the low mastery of figurative language to the skill
of poem appreciation (Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 8,24 > 3,96); (3) There is interaction among
teaching methods and the mastery of figurative language with the skill of poem appreciation
(Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 4.46 > 3,96).

Keyword: hermeneutics, poem, appreciation, figurative language.

Pendahuluan

Selama ini, pengajaran apresiasi sastra dinilai masih belum menunjukkan hasil yang
memuaskan. Kualitas pengajaran sastra dinilai rendah karena sastra hanya diajarkan dalam
definisi-definisi seperti ilmu fisika, dalam rumus-rumus mirip rumus kimia (Taufik Ismail,
2007: 3). Pendapat senada tentang kualitas pengajaran sastra saat ini rendah adalah pendapat
yang dikemukakan oleh Atar Semi. Atar Semi (2002: 134) mengatakan bahwa kualitas
pengajaran sastra dinilai rendah karena berbagai faktor seperti kurikulum, sarana belajar, dan
guru. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah menekankan aspek afektif dan
psikomotor selain juga kognitif dalam setiap evaluasinya. (Baedhowi, 2006: 812).

Problem pengajaran sastra di sekolah memang sudah menjadi hal yang perlu segera
diselesaikan. Permasalahan yang menyebabkan kualitas pembelajaran sastra tersebut menjadi
rendah pada hakikatnya adalah permasalahan yang klasik. Sebagaimana yang juga
diungkapkan oleh Suwardi Endraswara (2002: 59) bahwa problem pengajaran di sekolah
selalu terkait dengan ketersediaan karya sastra, sistem pengajaran, kurikulum yang kurang
memberi ruang terhadap sastra dan kemampuan guru. Bahkan dikatakan bahwa pengajaran
sastra di sekolah terkena infeksi, terjangkit virus kronis, suram, dan hampir gagal.

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang juga perlu diapresiasi. Puisi adalah
karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia (Herman J. Waluyo, 2002: 1).
Seperti halnya pendapat Taufik Ismail (2007: 3) di atas, puisi juga termasuk salah satu karya
sastra yang pengajarannya dinilai rendah di sekolah-sekolah.

Banyak siswa mengalami kegagalan dalam memahami puisi dan lebih memilih sastra dalam
bentuk prosa (Geisler: 1985:76). Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya pengajaran
apresiasi puisi tersebut. Sebagaimana permasalahan dalam pengajaran genre sastra yang lain,
cara penyajian materi yang tidak tepat sasaran, sarana belajar yang kurang mendukung,
variasi materi puisi yang belum dilakukan, dan guru yang kurang memahami akan hakikat
apresiasi puisi merupakan faktor kendala yang cukup dominan dalam pembelajaran apresiasi
puisi.

Salah satu upaya yang dapat diusahakan guru agar dapat meningkatkan minat dan daya
apresiasi puisi adalah dengan variasi metode dalam pembelajaran. Metode pembelajaran yang
dirasa cukup efektif menurut hemat peneliti adalah dengan Metode Hermeneutik. Metode ini
berusaha menafsirkan puisi dengan ilmu hermeneutika.

Selain dengan variasi metode, hal lain yang berpengaruh terhadap pembelajaran apresiasi
puisi adalah penguasaan bahasa figuratif. Peningkatan kemampuan mengapresiasi puisi
dengan metode hermeneutik mustahil dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya penguasaan
bahasa figuratif yang cukup. Puisi sebagai wujud kristalisasi makna dan kepadatan bahasa
butuh bekal bahasa figuratif yang lebih dalam penafsirannya. Materi ini sangat menarik untuk
dikaji dan diteliti lebih lanjut. Selain untuk mengetahui pengaruh metode hermeneutik dan
penguasaan bahasa figuratif dalam pembelajaran apresiasi puisi juga dapat digunakan untuk
alternatif metode dalam membelajarkan puisi.

Bertolak dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, penelitian ini bertujuan
untuk mendeskripsikan: (1) Ada tidaknya perbedaan kemampuan mengapresiasi puisi siswa
yang diajar dengan metode hermeneutik dengan siswa yang diajar dengan metode
konvensional (struktural); (2) Ada tidaknya perbedaan kemampuan mengapresiasi puisi siswa
yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dengan siswa yang memiliki penguasaan
bahasa figuratif rendah; (3) Ada tidaknya interaksi antara metode pembelajaran dan
penguasaan bahasa figuratif terhadap kemampuan mengapresiasi puisi..

Kajian Teori

Apresiasi sastra meliputi seluruh aktivitas seseorang ketika terlibat kontak dengan karya
sastra. Kegiatan mengapresiasi dimulai sejak penikmat sastra melakukan pemaknaan terhadap
satuan bunyi, pemahaman diksi, pemahaman kalimat, bangunan wacana yang utuh hingga
pengungkapan respons atau teks sastra yang telah ia nikmati. Apresiasi berhubungan dengan
sikap dan nilai. Wardani (dalam Jabrohim, 1994:16) menyatakan bahwa proses apresiasi
dalam kaitannya dengan tujuan pengajaran dapat dibagi (secara sederhana dan global)
menjadi empat yaitu tingkat menggemari, tingkat menikmati, tingkat mereaksi, dan tingkat
menghasilkan.
Dengan demikian, apresiasi sastra bermula dari individu pembaca itu sendiri. Semakin ia
tertarik terhadap karya sastra, tingkat apresiasinya pun semakin meningkat pula. Henry
Guntur Tarigan (1993: 60) memberikan batasan indikator yang lebih konkret bahwa
seseorang dapat dikatakan menikmati sesuatu pada prinsipnya telah dapat memberi penilaian
baik-buruknya, indah tidaknya sesuatu itu dan lebih jauh lagi menjadi kritik.

Berdasarkan dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa apresiasi sastra adalah
penikmatan, pemuasan rasa, dan penghargaan terhadap hasil cipta karya sastra yang
didasarkan pada pemahaman. Apresiasi memiliki tingkatan dari tahap menggemari,
menikmati, mereaksi, dan akhirnya dapat berproduksi.

Puisi merupakan karya sastra paling tua dan pertama kali ditulis oleh manusia. Menurut
Herman J. Waluyo (2002: 1) puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan,
dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias
(imajinatif). Kata-kata dalam puisi benar-benar padat dan terpilih sehingga sangat indah bila
dibaca. Puisi menurut Ghazali (2002: 118) berasal dari bahasa Latin, potein yang berarti
mencipta. Bahkan Hurt, masih dalam kutipan yang sama, menunjuk sifat hakiki bahasa puisi
sebagai bahasa yang tidak lazim. Puisi memiliki bahasa yang khas sehingga bahasan puisi
juga bersifat khusus. Puisi merupakan wacana penggunaaaan bahasa yang bersifat khusus.

Selanggam dengan Ghazali, James Smith dalam Furman (2007: 1) mengatakan bahwa puisi
adalah sebuah penyaringan atau intisari dari sesuatu. Puisi merupakan sebuah pengalaman
subjektif dari seorang individu dan mempersembahkannya ke dalam sebuah cara
penggeneralan metafor. Dengan kata lain, puisi merupakan sebuah karya subjektif
berdasarkan pengalaman seorang individu yang disajikan dengan bahasa kiasan/metafora)
Kosasih (2008: 206) membatasi puisi sebagai bentuk karya sastra yang menggunakan kata-
kata yang indah dan kaya makna. Keindahan puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan
irama yang terkandung di dalam karya tersebut.

Sejumlah pengertian puisi yang dikemukakan oleh para pakar di atas dapat disimpulkan
bahwa pengertian puisi sangat beragam dan berbeda-beda antarpakar, bergantung pada sudut
mana puisi itu dipandang. Namun demikian, dapat diperikan secara singkat bahwa puisi
adalah karya sastra yang memiliki ciri khas mempergunakan bahasa yang dipadatkan, penuh
makna dan memiliki unsur-unsur keindahan.

Sekian pendapat berbagai pakar di atas dapat disintesiskan teori tentang kemampuan
mengapresiasi sastra dalam hal ini adalah apresiasi puisi. Kemampuan mengapresiasi puisi
adalah kemampuan seseorang di dalam usaha untuk mengenal, memahami, menikmati,
menafsirkan, mereaksi dan memproduksi puisi sebagai bentuk penghargaan terhadap puisi
tersebut yang didasarkan pada pemahaman. Kemampuan mengapresiasai puisi memiliki
empat tingkatan, yaitu tahap menggemari, tahap menikmati, tahap mereaksi dan akhirnya
tahap memproduksi.

Metode berasal dari kata methodos dalam bahasa Yunani yang berarti cara atau jalan.
Sangidu (2004: 12-14) memberikan batasan bahwa metode merupakan cara kerja yang
bersistem untuk memulai pelaksanaan suatu kegiatan penelitian guna mencapai tujuan yang
telah ditentukan. Dengan kata yang sederhana, metode merupakan cara yang harus dikerjakan
sedangkan teknik merupakan cara melaksanakan metode tersebut (Sudaryanto dalam
Sangidu, 2004: 14). Keduanya digunakan untuk menunjukkan konsep yang berbeda tetapi
berhubungan langsung dalam operasionalnya. Simpulan akhirnya adalah metode
pembelajaran merupakan cara kerja yang bersistem untuk memulai pelaksanaan proses
membelajarkan siswa terhadap suatu objek.

Metode Hermeneutik pada hakikatnya merupakan turunan dari pendekatan sastra pragmatik
yang diuraikan oleh Abrams (dalam Tirto Suwondo, 2001: 53). Dalam tulisannya, Tirto
Suwondo menjelaskan bahwa Abrams menguraikan empat pendekatan penelitian sastra, yaitu
pendekatan ekspresif yang menitikberatkan pada peranan pengarang dalam mencipta karya
sastra, pendekatan pragmatik yang menitikberatkan pada peranan pembaca di dalam
menghayati karya sastra, pendekatan mimetik yang menekankan pada kemiripan dengan
dunia nyata, dan terakhir pendekatan objektif yang menekankan pada strukturalis atau unsur
intrinsik karya sastra. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa metode hermeneutik
merupakan salah satu langkah operasional dari pendekatan pragmatik yang berusaha
mendekati sastra dari aspek peranan pembaca yang menerima puisi. Selanjutnya, metode ini
akan dijabarkan dengan beberapa teknik.

Secara sederhana, hermeneutik berarti tafsir. Dalam kamus Webster`s Third New
International Dictionary dijelaskan definisi hermeneutik sebagai studi tentang prinsip-prinsip
metodologis interpretasi dan eksplanasi, khususnya studi tentang prinsip umum interpretasi
Bibel (Palmer, 2005:4). Namun demikian, makna tersebut akan memuaskan bagi para
penerjemah Bibel. Berbeda dengan pendapat tersebut, Abulad (2007:22) justru menyatakan
bahwa hermeneutik sebagai sebuah seni, yaitu seni di dalam menginterpretasikan sebuah
teks. Secara lebih lanjut, ia menyimpulkan bahwa hermeneutik bukan usaha mengkontruksi
cara berpikir kaku untuk sebuah interpretasi teks yang sahih melainkan keluwesan yang
menjadi filosofi utamanya.

Untuk kajian yang lebih luas, perlu definisi yang lebih luas pula. Pada hakikatnya, akar kata
hermeneutika berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermeneuein yang berarti
menafsirkan dan kata benda hermeneia yang berarti interpretasi (Palmer, 2005: 14-15).
Palmer mendefinisikan hermeneutik sebagai proses membawa sesuatu untuk dipahami
terutama seperti proses ini melibatkan bahasa. Abdul Hadi W. M. (2004: 71) memberikan
pula batasan bahwa hermeneutik adalah cara menjelaskan makna tersurat dari sebuah teks.
Walaupun luas pengertiannya, secara implisit pendapat ini mendukung pendapat ahli di atas.

Pendapat terakhir yang dapat disajikan adalah pendapat Nyoman Kutha Ratna. Nyoman
Kutha Ratna (2005: 90) membatasi hermeneutik memiliki makna hampir sama dengan
interpretasi, pemahaman atau retroaktif. Karya sastra memang sangat tepat apabila dianalisis
dengan metode hermeneutika. Sejauh ini metode hermeneutika yang menjadi bagian dari
pendekatan sastra yaitu pendekatan pragmatik merupakan tindak lanjut dari ketidakpuasan
terhadap pendekatan strukturalis yang tidak dapat menjelaskan makna karya sastra secara
mendalam (Tirto Suwondo, 2001: 57).

Sekian pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa metode hermeneutik merupakan cara
memahami dan manafsirkan sebuah teks dengan merekontruksi proses kreatif teks tersebut.
Dalam hermeneutika, proses pemahaman berlangsung dengan tahapan mengungkapkan kata-
kata kunci, menjelaskan kata tersebut kemudian menerjemahkannya ke dalam makna yang
lebih jelas. Dalam hermeneutika hendaknya usaha pemahaman tersebut dilakukan dengan
cara yang secukupnya dan tidak memonopoli makna dengan unsur subjektivitas (Suwardi
Endraswara, 2003: 46)
Langkah kerja dalam metode hermeneutik ini, didasarkan pada pendapat Palmer (2005) dan
Suwardi Endraswara (2003). Tahapan yang dilakukan hampir sama dan sependapat. Secara
ringkas dapat dirumuskan langkah kerja metode hermeneutik adalah sebagai berikut:

1. menentukan dan mengungkapkan kata kunci-kata kunci yang sarat makna,


1. menentukan arti langsung yang primer dari kata kunci yang telah ditentukan,
2. jika dirasa perlu, dijelaskan pula arti-arti implisit,
3. menentukan tema,
4. memperjelas arti simbolik dalam teks,

Selanjutnya, Metode struktural merupakan salah satu langkah dari operasional dari
pendekatan objektif yang menekankan ada aspek unsur intrinsiknya (Abrams dalam Tirto
Suwondo, 2001: 53). Selanjutnya secara lebih tegas, Tirto Suwondo memberikan batasan
bahwa metode Struktural adalah cara memahami karya sastra dengan memahami unsur-
unsur atau anasir yang membangun struktur. Hal ini didasarkan pada pendapat Jeans Peaget
yang disimpulkan oleh Tirto Suwondo (2001: 53) bahwa dalam pengertian struktur
terkandung tiga hal yakni gagasan keseluruhan dalam arti bahwa bagian-bagiannya
menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrinsik, gagasan transformasi, dan terakhir
gagasan mandiri. Pada akhir pembahasan, Tirto Suwondo menegaskan bahwa metode
struktural memang tidak dapat dihindari namun risiko gagal akan tetap lebih besar apalagi
jika objek yang dihadapi adalah karya-karya yang absurd.

Pendapat selanjutnya adalah pendapat Wiyatmi (2006: 89-91). Wiyatmi menjelaskan bahwa
pendekatan Struktural adalah upaya memahami karya sastra secara Close Reading (membaca
karya sastra secara tertutup tanpa melihat pengarangnya, hubungannya dengan dengan
realitas maupun pembaca). Secara lebih lanjut, dijelaskan bahwa analisisnya difokuskan tetap
pada unsur intrinsiknya. Sebagaimana dengan Tirto Suwondo di atas, Wiyatmi juga menutup
kajiannya tentang kajian Struktural dengan simpulan bahwa pendekatan atau metode
struktural memang mampu menganalisis dan memaknai karya sastra, tetapi memiliki
kelemahan pada kebuntuan analisisnya jika harus memahami karya sastra yang isi dan
bahasanya memiliki aspek sosial yang kental.

Sangidu (2004: 16) memerikan teori struktural sebagai suatu disiplin ilmu yang memandang
karya sastra sebagai suatu struktur yang terdiri atas beberapa unsur yang saling berkaitan
antara yang satu dengan yang lainnya. Pendapat yang sama diungkapkan oleh Rakhmat Joko
Pradopo (2005: 140-141). Struktural sebagai pendekatan objektif dirumuskan dengan
menganggap karya sastra sebagai sesuatu yang otonom dan terlepas dari dunia luar,
pengarang maupun pembaca. Dalam metode struktural, hal yang terpenting adalah karya
sastra itu sendiri dan khusus yang dianalisis adalah unsur intrinsiknya. Selanjutnya, Sangidu
(2004: 16) juga menjelaskan bahwa metode struktural memiliki beberapa kelemahan yaitu
kesubjektivitasan peneliti, analisisnya juga tergoda hanya pada karya ternama saja, karya
terasa diasingkan dari relevansi sosialnya.

Berdasarkan sekian pendapat, kiranya sudah cukup untuk merumuskan definisi metode
struktural. Pada prinsipnya metode ini mendasarkan aspek unsur intrinsik karya sastra sebagai
pisau analisisnya. Simpulan akhirnya, metode struktural adalah sebuah langkah operasional
dari pendekatan objektif yang menganalisis karya sastra berdasarkan struktur-struktur
pembangun karya sastra tersebut (unsur intrinsik). Berikut simpulan langkah kerja dari
metode struktural yang didasarkan pada pendapat Suwardi Endraswara (2003: 52-53):

1. membangun teori struktur sastra sesuai dengan genre yang diteliti. Dalam penelitan
ini teori yang dimaksud adalah teori puisi,
2. melakukan pembacaan puisi secara cermat, mencatat unsur-unsur struktur yang
terkandung dalam puisi tersebut,
3. unsur tema sebaiknya didahulukan dalam pembedahan isi tersebut. Tema inilah yang
secara komprehensif terkait dengan unsur yang lain,
4. menganalisis unsur intrinsik puisi yang lain, struktur fisik (tipografi, diksi, majas,
rima, dan irama) dan struktur batin (amanat, perasaan, nada dan suasana puisi),
5. menghubungkan penafsiran antarunsur intrinsik yang telah diperoleh menjadi makna
struktur yang padu,
6. menyimpulkan hasil analisis,

Bahasa figuratif menurut Rakhmat Joko Pradopo (1997: 61-62)


dipersamakan dengan bahasa kiasan. Bahasa figuratif dirumuskan sebagai
bahasa yang menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan
kesegaran, hidup dan menimbulkan kejelasan gambaran angan. Selanjutnya
pendapat Jabrohim, dkk. (2001: 42-43) mendefinisikan bahasa figuratif pada
dasarnya merupakan bentuk penyimpangan dari bahasa normatif, baik dari
segi makna maupun rangkaian katanya, dan bertujuan untuk mencapai arti
dan efek tertentu.

Herman J. Waluyo dalam Jabrohim (2001: 42) menyebut bahasa figuratif


sebagai majas. Bahasa figuratif ini dapat memancarkan banyak makna dan
membuat puisi menjadi prismatis. Sementara itu, Panuti Sujiman dalam
Jabrohim (2001:42-43) mendefinisikan kiasan dalam bukunya Kamus Istilah
Sastra, yaitu majas yang mengandung perbandingan yang tersirat sebagai
pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau
kesejajaran makna. Kenney (1966: 64) menyebut bahasa Figuratif sebagai
figurative Images atau kiasan figuratif. Simpulan pengertian bahasa figuratif
adalah bahasa yang mempergunakan kata-kata yang susunan dan artinya
sengaja disimpangkan dari susunan dan artinya, yang biasa dengan maksud
untuk mendapatkan kekuatan ekspresi.

Bahasa kiasan atau bahasa figuratif pada dasarnya memiliki banyak jenis, meski demikian
bahasa figuratif memiliki sifat yang umum, yaitu bahasa figuratif tersebut mempertalikan
sesuatu dengan menghubungkannya dengan hal yang lain (Alternbernd dalam Rakhmat Joko
Pradopo, 1997: 62). Dengan kata lain, bahasa figuratif memperbandingkan sesuatu dengan
yang lain. Jenis-jenis bahasa figuratif menurut Rakhmat Joko Pradopo adalah perbandingan
(simile), metafora, perumpamaan epos (epic simille), personifikasi, metonimi, sinekdok, dan
alegori.

Berikutnya, Gorys Keraf (2004: 138-145) membagi bahasa kiasan menjadi 16, yaitu:
simile, metafora, alegori/parabel/fabel, personifikasi, alusi, eponim, epitet, sinekdok,
metonimia, antonomasia, ironi/sinisme/sarkasme, satire, inuendo, antifrasis, pun atau
paronomasia. Pendapat yang lebih lengkap adalah pendapat yang disampaikan oleh
Gorys Keraf.

Beberapa definisi ini dapat disimpulkan bahwa bahasa figuratif dapat


dikatakan sebagai unsur yang menghidupkan puisi dan menjadi daya beda
puisi dengan karya sastra yang lain. Puisi menjadi menarik dikaji juga akibat
dari adanya bahasa figuratif ini. Jadi, bahasa figuratif adalah bahasa kiasan
atau bahasa yang disimpangkan dari kaidah lazim untuk menciptakan efek
tertentu dan mengaburkan makna.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di SMA N 1 Karanganom, Klaten yang beralamatkan di Jalan
Raya Penggung-Jatinom 03 Karanganom, Klaten. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
November 2008 sampai dengan April 2009.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuasi yang melibatkan dua variabel, yaitu 2
variabel bebas Metode pembelajaran yang dikategorikan menjadi metode hermeneutik dan
metode konvensional (metode struktural). Variabel atributif, yaitu penguasaan bahasa
figuratif yang dikategorikan menjadi dua, penguasaan bahasa figuratif tinggi dan penguasaan
bahasa figuratif rendah. Adapun variabel terikat dalam penelitian ini adalah kemampuan
mengapresiasi puisi oleh siswa yang diukur setelah perlakuan diberikan.

Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan desain
faktorial sederhana 2 x 2. Desain faktorial yang digunakan tampak pada tabel berikut.

Tabel 1. Rancangan Faktorial 2 x 2


A
B Metode
Pembelajaran
A1 A2

Hermeneutik Struktural
Penguasaan B1 A1B1 A2B1
Bahasa
Figuratif Tinggi
B2 A1B2 A2B2

Rendah

Penerapan metode hermeneutik pada penelitian ini disebut variabel bebas A1 dan metode
konvensional (metode struktural) disebut variabel bebas A2. Variabel bebas sekundernya
adalah dua kategori penguasaan bahasa figuratif yaitu penguasaan bahasa figuratif tinggi (B1)
dan penguasaan bahasa figuratif rendah (B2).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 10 SMA Negeri 1 Karanganom
tahun ajaran 2008/2009. Adapun sampel penelitian ini terdiri dari dua kelas, satu kelas
sebagai kelompok kontrol yaitu 10 C dan satu kelas sebagai kelompok eksperimen yaitu kelas
10 G. Pengambilan sampel ini dengan menggunakan teknik Cluster Random Sampling.

Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan mengapresiasi puisi siswa adalah tes
psikomotorik. Adapun instrumen yang digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan
bahasa figuratif siswa, yaitu teknik tes pilihan ganda. Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah postes only nonequivalent control group design. Teknik dilakukan dengan
cara sesudah perlakuan akan diberi tes. Tes akhir ini yang akan menjadi data untuk dianalisis.
Namun sebelum perlakuan, terlebih dahuhlu seluruh sampel diberi tes penguasaan bhasa
figuratif untuk menentukan pengelompokkan siswa dalam kelas.

Analisis data yang dilakukan terbagi dua, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial.
Statistik deskriptif meliputi tendensi sentral (untuk mengetahui harga mean, median, modus),
tendensi penyebaran (untuk mencari varians, standar deviasi, simpangan), membuat daftar
distribusi frekuensi absolut dan distribusi frekuensi relatif serta histogramnya.

Sementara itu, statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis. Teknik yang
digunakan adalah teknik anava dua jalan. Prinsip dan prosedur penggunaan teknik tersebut
didasarkan pada pendapat Ary (1982:228-230), sedangkan untuk uji lanjut digunakan uji
Scheffe`.

Pembahasan

Setelah melalui tahapan pemeriksaan data dengan pengujian persyaratan data yang meliputi
uji normalitas (lampiran 3) dan homogenitas varians (Lampiran 4) maka dapat dilanjutkan
dengan tahapan selanjutnya. Data sudah dinyatakan berdistribusi normal dan variansnya
berasal dari varians yang homogen maka dapat dilanjutkan dengan pengujian hipotesis.
Berikut ini dijabarkan pengujian setiap hipotesis yang telah dikemukakan.

1. 1. Pengujian Hipotesis I

Hipotesis pertama dinyatakan bahwa, Ho tidak ada perbedaan antara kemampuan


mengapresiasi puisi siswa yang diajar dengan metode hermeneutik dan metode konvensional
(struktural) melawan H1, bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemapuan
mengapresiasi puisi siswa yang diajar dengan metode hermeneutik dan metode konvensional
(struktural). Selanjutnya untuk menguji hipotesis tersebut, digunakan teknik analisis varians
(Anava) dua jalan.

Berdasarkan penghitungan dengan teknik Anava dua jalan sebagaimana yang terlampir
(lampiran 5) didapat Fobs = 7,82. Dengan tabel distribusi F pada taraf signifikansi = 0,05
dan dk (derajat kebebasan) pembilang 1 dan dk penyebut 77, diperoleh Ft = 3,92. Hal ini
berarti bahwa Fobs > Ft sehingga Ho ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa H1
diterima atau tedapat perbedaan rataan yang signifikan antara metode hermenutik dan
konvensional (stuktural) terhadap kemampuan mengapresiasi puisi siswa.

1. 2. Pengujian Hipotesis II
Dalam hipotesis kedua dinyatakan bahwa Ho tidak ada perbedaan pengaruh antara
kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi
dengan siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah. Hipotesis nol ini melawan
H1 yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan
mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif dan kemampuan
mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.

Berdasarkan analisis data inferensial dengan teknik Anava dua jalan diperoleh harga Fobs =
8,24 (lihat lampiran 5). Berdasarkan tabel distribusi frekuensi F dengan dk pembilang 1 dan
dk penyebut 77 pada taraf signifikansi = 0,05, dapat dilihat bahwa Ft seharga 3,92.
Berdasarkan harga-harga tersebut dapat dikatakan bahwa Fobs > Ft. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa Hob ditolak. Simpulannya adalah H1 diterima atau terdapat perbedaan
rataan yang signifikan antara siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dan
siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah terhadap kemampuan mengapresiasi
puisi.

1. 3. Pengujian Hipotesis III

Hipotesis ketiga dinyatakan bahwa Ho, tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran
dan penguasaan bahasa figuratif terhadap kemampuan mengapresiasi puisi. Hipotesis nol ini
melawan H1 yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan
penguasaan bahasa figuratif terhadap kemampuan mengapresiasi puisi.

Sebagaimana pada pengujian hipotesis pertama dan kedua di atas, pengujian hipotesis ketiga
ini juga menggunakan teknik Anava dua jalan. Berdasarkan penghitungan pada lampiran 5,
diperoleh harga Fobs = 4,46. Berdasarkan tabel distribusi F dengan dk pembilang sama
dengan 1 dan dk penyebut sama dengan 77 pada taraf nyata = 0,05 diperoleh Ft seharga
3,92. Berdasarkan harga-harga ini dapat dikatakan bahwa Fobs > Ft. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa Hob ditolak. Simpulannya adalah H1 diterima atau terdapat interaksi
antara metode pembelajaran dan pengusaan bahasa figuratif terhadap kemampuan
mengapresiasi puisi.

Berdasarkan ketiga pengujian hipotesis tersebut dapat disimpulkan bahwa bagi populasi,
dalam hal ini siswa kelas 10 SMA Negeri 1 Karanganom, Klaten terdapat perbedaan
kemampuan mengapresiasi puisi jika ditinjau dari perbedaan metode pembelajaran (metode
hermeneutik dan konvensional/struktural), penguasaan bahasa figuratif yang dikategorikan
tinggi dan rendah, dan interaksi keduanya. Pengujian hipotesis ini masih sebatas untuk
mengetahui signifikansi antarvariabelnya. Secara lebih lanjut belum diketahui dari setiap
variabel manakah yang memiliki derajat perbedaan lebih tinggi.

Pertama, pengujian variabel metode pembelajaran belum diketahui metode pembelajaran


manakah yang memiliki tingkat lebih baik antara metode hermeneutik atau konvensional
(struktural). Kedua, pengujian variabel penguasaan bahasa figuratif belum diketahui
kemampuan mengapresiasi puisi kelas manakah yang lebih tinggi antara siswa yang memiliki
penguasaan bahasa figuratif tinggi dan rendah. Terakhir, pengujian interaksi antara metode
dengan penguasaan bahasa figuratif. Berdasarkan pengujian, interaksinya memang dapat
diterima bahwa antarvariabel memiliki efek gabung yang signifikan. Namun demikian, belum
dapat diketahui kemampuan mengapresiasi puisi siswa kelas mana yang lebih baik, kelas
eksperimen ataukah kontrol. Secara lebih lanjut efek gabung yang bagaimana dari interaksi
keduanya.
Berdasarkan pemerian di atas, perlu dilakukan pengujian lanjut pascaanava. Untuk
melakukan pengujian pascaanava, dalam penelitian ini digunakan metode Scheffe` pada
setiap hipotesis. Berikut hasil pengujian pascaanava. Adapun hasil penghitungannya dapat
dilihat pada lampiran 6.

Pertama, pengujian pada variabel metode pembelajaran. Berdasarkan pengujian signifikansi


dengan metode Scheffe`, diperoleh harga Fh = 13,07. Harga ini lebih besar daripada Ft
dengan dk pembilang 1 dan dk penyebut 77 pada taraf nyata = 0,05 yang seharga 3,92.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan mengapresiasi puisi siswa pada kelas
hermeneutik dan konvensioanl (struktural) menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Simpulannya adalah metode hermeneutik lebih baik daripada metode konvensioanl
(struktural).

Kedua, komparasi antarkolom, dalam hal ini pengujian variabel penguasaan bahasa figuratif.
Dengan metode pengujian yang sama, dapat diperoleh harga Fh = 5,11. Harga ini lebih besar
daripada Ft dengan dk pembilang 1 dan dk penyebut 77 pada taraf nyata = 0,05 yang
seharga 3,92. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan mengapresiasi puisi
siswa memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dan siswa yang memiliki penguasaan
bahasa figuratif rendah menunjukkan perbedaan yang signifikan. Simpulannya adalah siswa
yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki
penguasaan bahasa figuratif rendah dalam hal mengapresiasi puisi

Ketiga, komparasi antarsel dalam hal ini adalah interaksi antara metode dan penguasaan
bahasa figuratif. Dengan metode pengujian yang sama, yaitu dengan metode Scheffe`
(lampiran 6, dapat disimpulkan interaksinya sebagai berikut:

1. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif


tinggi pada kelas hermeneutik dan kelas konvensional (struktural) tidak menunjukkan
perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dalam lampiran bahwa Fh = 0,256807
yang lebih kecil dari Ft seharga 8,04. Harga ini diperoleh dari 3 kali harga F pada
taraf signifikansi = 0,05 dan dk pembilang sama dengan 3, dk penyebut 77. Harga F
tersebut sama dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga diperoleh harga 8,04 (penghitungan
dapat dilihat pada lampiran 6). Hal ini berarti bahwa kemampuan mengapresiasi puisi
pada kelas hermeneutik maupun kelas konvensional (struktural) tidak jauh berbeda
jika ditinjau dari penguasaan bahasa figuratif tinggi.
2. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif
rendah pada kelas hermeneutik dan kelas konvensional (struktural) menunjukkan
perbedaan yang signifikan. Dapat dilihat dalam lampiran bahwa Fh = 14,0822 yang
lebih besar dari Ft seharga 8,04. Harga ini diperoleh dari 3 kali harga F pada taraf
signifikansi = 0,05 dan dk pembilang sama dengan 3, dk penyebut 77. Harga F
tersebut sama dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga diperoleh harga 8,04 (penghitungan
dapat dilihat pada lampiran 6). Hal ini berarti bahwa kemampuan mengapresiasi puisi
pada siswa diajar dengan metode hermeneutik dan memiliki penguasaan bahasa
figuratif rendah lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional
(struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.
3. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa pada kelas hermeneutik yang memiliki
penguasaan bahasa figuratif tinggi dan rendah tidak menunjukkan perbedaan yang
signifikan. Berdasarkan penghitungan dapat dilihat bahwa Fh = 0,28969 yang lebih
kecil dari Ft seharga 8,04. Harga ini diperoleh dari 3 kali harga F pada taraf
signifikansi = 0,05 dan dk pembilang sama dengan 3, dk penyebut 77. Harga F
tersebut sama dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga diperoleh harga 8,04 (penghitungan
dapat dilihat pada lampiran 6). Hal ini berarti bahwa kemampuan mengapresiasi puisi
pada kelas hermeneutik siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi tidak
jauh berbeda dengan siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.
4. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa pada kelas konvensional (struktural) yang
memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dan rendah menunjukkan perbedaan yang
signifikan. Hal ini dapat dilihat dalam lampiran bahwa Fh = 13,65748 yang lebih
besar dari Ft seharga 8,04. Harga ini diperoleh dari 3 kali harga F pada taraf
signifikansi = 0,05 dan dk pembilang sama dengan 3, dk penyebut 77. Harga F
tersebut sama dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga diperoleh harga 8,04 (penghitungan
dapat dilihat pada lampiran 6). Hal ini berarti bahwa kemampuan mengapresiasi puisi
pada siswa diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan
bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode
konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah.
5. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif
rendah pada kelas hermeneutik dan kelas konvensional (struktural) dengan
penguasaan bahasa figuratif tinggi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Berdasarkan penghitungan, dapat dilihat bahwa Fh = 23,11601 yang lebih besar dari
Ft seharga 8,04. Harga ini diperoleh dari 3 kali harga F pada taraf signifikansi =
0,05 dan dk pembilang sama dengan 3, dk penyebut 77. Harga F tersebut sama
dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga diperoleh harga 8,04 (penghitungan dapat dilihat
pada lampiran 6). Hal ini berarti bahwa kemampuan mengapresiasi puisi pada kelas
hermeneutik siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah tidak jauh
berbeda dengan siswa pada kelas konvensional (struktural) yang memiliki penguasaan
bahasa figuratif tinggi.
6. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif
tinggi pada kelas hermeneutik dan kelas konvensional (struktural) dengan penguasaan
bahasa figuratif rendah menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat
dalam lampiran bahwa Fh = 0,002199 yang lebih kecil dari Ft seharga 8,04. Harga ini
diperoleh dari 3 kali harga F pada taraf signifikansi = 0,05 dan dk pembilang sama
dengan 3, dk penyebut 77. Harga F tersebut sama dengan 2,68 dikalikan 3 sehingga
diperoleh harga 8,04 (penghitungan dapat dilihat pada lampiran 6). Hal ini berarti
bahwa kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode
hermeneutik dan memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada
siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan
bahasa figuratif rendah.

Bertolak dari hasil analisis data terlihat jelas bahwa ketiga hipotesis yang diajukan diterima.
Seluruh hipotesis nol (Ho) ditolak. Kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang diajar
dengan metode hermeneutik lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode
konvensional (struktural). Selanjutnya, kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang memiliki
penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki penguasaan
bahasa figuratif rendah. Sementara itu, terdapat interaksi antara metode pembelajaran dan
penguasaan bahasa figuratif terhadap kemampuan mengapresiasi puisi.

Pada hipotesis ketiga, interaksi digolongkan menjadi enam, yaitu interaksi antarsel. Interaksi
antarsel secara lebih perinci dapat dijabarkan sebagai berikut:

Tabel 2. Interaksi antara Metode Pembelajaran dan Penguasaan Bahasa Figuratif.


No. Interaksi
1 A1B1 = A2B1
2 A1B2 A2B2
3 A1B1= A1B2
4 A2B1 A2B2
5 A1B2 = A2B1
6 A1B1 A2B2

Keterangan:

A1 : Metode hermeneutik.

A2 : Metode konvensional (struktural).

B1 : Penguasaan bahasa figuratif tinggi.

B2 : Penguasaan bahasa figuratif rendah.

Keterangan interaksi antarsel:

1. kemampuan mengapresiasi puisi pada kelas hermeneutik maupun kelas konvensional


(struktural) tidak jauh berbeda jika ditinjau dari penguasaan bahasa figuratif tinggi.
2. kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode hermeneutik dan
memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah lebih baik daripada siswa yang diajar
dengan metode Konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif
rendah.
3. kemampuan mengapresiasi puisi pada kelas hermeneutik siswa yang memiliki
penguasaan bahasa figuratif tinggi tidak jauh berbeda dengan siswa yang memiliki
penguasaan bahasa figuratif rendah.
4. kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa yang diajar dengan metode konvensional
(struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa
yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan
bahasa figuratif rendah.
5. kemampuan mengapresiasi puisi pada kelas hermeneutik siswa yang memiliki
penguasaan bahasa figuratif rendah tidak jauh berbeda dengan siswa pada kelas
konvensional (struktural) yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi.
6. kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode hermeneutik dan
memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang diajar
dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif
rendah.

Berdasarkan simpulan analisis di atas, ada beberapa interaksi antarsel empiris tersebut yang
tidak sejalan jika dikorelasikan secara teoretis. Interaksi antarsel tersebut adalah interaksi sel
1 dan sel 2 (simpulan kesatu) dan Interaksi pada sel 1 dan sel 3 (simpulan ketiga). Interaksi
sel 1 dan sel 2 (simpulan kesatu), secara empirik, justru kemampuan mengapresiasi puisi
siswa yang diajar dengan metode hermeneutik dan penguasaan bahasa figuratif tinggi tidak
menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang
diajar dengan metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif
tinggi. Hal ini akan membantah teori keunggulan metode hermeneutik dibanding dengan
metode konvensional (struktural) yang sama-sama ditinjau dari penguasaan bahasa figuratif
tinggi. Seharusnya, kemampuan mengapresiasi puisi siswa dengan penggunaan metode
hermeneutik apalagi ditunjang dengan penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada
kemampuan mengapresiasi puisi siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural)
dan memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi.

Demikian pula pada interaksi pada sel 1 dan sel 3 (simpulan ketiga) secara konseptual,
kemampuan mengapresiasi siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dan
rendah jika ditinjau dengan penggunaan metode hermeneutik seharusnya lebih baik siswa
yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi. Namun, secara empirik justru tidak
memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini bertolak belakang dengan teori yang mengatakan
bahwa metode hermeneutik membutuhkan penguasaan bahasa figuratif tinggi. Seharusnya
siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi dan diajar dengan metode
hermeneutik akan mendukung kemampuan mengapresiasi puisinya.

Ketidaksejalanan antara teori dengan empris di atas dapat dijelaskan dengan beberapa sebab.
Padahal secara konsep penelitian ini sudah diusahakan sesahih mungkin dengan validitas
perlakuan yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya. Salah satu usaha untuk menjaga
kesahihan hasil penelitian tersebut adalah dengan berbagai upaya pengontrolan terhadap
variabel ekstra yang dapat berpengaruh terhadap hasil penelitian. Namun, keterbatasan dalam
penelitian ini menyebabkan masih terdapatnya beberapa faktor yang sulit dikendalikan.
Dampak akhirnya adalah tidak adanya perbedaan yang signifikan secara empiris terhadap
interaksi-interaksi yang telah dijelaskan di atas. Kelemahan-kelemahan tersebut di antaranya
disebabkan oleh:

1. sampel yang tidak mungkin untuk diisolasi dalam suatu tempat sehingga tidak dapat
dibatasi ruang geraknya. Dampaknya adalah adanya kontaminasi antarsubjek/variabel
yang ikut memengaruhi hasil penelitian,
2. perbedaan latar belakang sampel sehingga muncul variasi latar belakang seperti, jarak
tempat tinggal, kemampuan awal siswa, maupun prestasi siswa. Padal penelitian
eksperimen mempersyaratkan penyeragaman kemampuan awal sampel sehingga pada
akhir penelitian dapat diukur keberpengaruhan variabel yang diujikan, bukan karena
faktor lain,
3. perlakuan hanya dapat dilakukan saat proses belajar mengajar berlangsung sehingga
tidak mungkin dikontrol efek variabel lain,
4. guru yang bertugas dalam kelas ekperimen dan kontrol berbeda sehingga kemampuan
guru yang bertugas pun berbeda. Kemampuannya hanya diasumsikan sama padahal
kenyataannya belum tentu demikikan. Hal ini berkorelasi dengan kualitas perlakuan
yang diberikan,
5. simpulan hanya berlaku untuk populasi dalam hal ini siswa kelas 10 SMA N 1
Karanganom dan tidak dapat digeneralisasikan pada seluruh siswa kelas 10 SMA,
6. pengelompokan sampel tidak didasarkan pada keseragaman kemampuan awal subjek
penelitian.

Berbeda dengan interaksi sel 1 dan sel 2 (simpulan kesatu) dan Interaksi pada sel 1 dan sel 3
(simpulan ketiga) di atas, simpulan interaksi antarsel yang lain sudah membuktikan
keberpengaruhan interaksi antara penggunaan metode dan penguasaan bahasa figuratif
terhadap kemampuan mengapresiasi puisi..
Pada simpulan interaksi kedua (interaksi sel 3 dan sel 4) dinyatakan bahwa kemampuan
mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode hermeneutik dan memiliki penguasaan
bahasa figuratif rendah lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional
(struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah. Hal ini membuktikan teori
bahwa metode hermeneutik lebih baik daripada metode konvensional (struktural) yang
ditinjau dari penguasaan bahasa figuratif rendah. Pada siswa yang berpenguasaan bahasa
figuratif rendah dapat membedakan penggunaan metode pembelajaran.

Selanggam dengan interaksi kedua, interaksi keempat (sel 2 dan sel 4) juga membuktikan
bahwa penguasaan bahasa figuratif dapat membedakan kemampuan mengapresiasi puisi
siswa yang ditinjau pada penggunaan metode konvensional (struktural). Kemampuan
mengapresiasi puisi pada siswa yang diajar dengan metode konvensional (struktural) dan
memiliki penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang diajar dengan
metode konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah. Pada
penggunaan metode konvensional (struktural), penguasaan bahasa figuratif yang tinggi akan
lebih baik daripada penguasaan bahasa figuratif rendah.

Hal senada juga terjadi pada interaksi kelima (sel 3 dan sel 2), kemampuan mengapresiasi
puisi pada kelas hermeneutik siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah tidak
jauh berbeda dengan siswa pada kelas konvensional (struktural) yang memiliki penguasaan
bahasa figuratif tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kelas hermeneutik membutuhkan
penguasaan bahasa figuratif yang tinggi. Pernyataan tersebut dapat dibuktikan bahwa kelas
hermenutik yang penguasaan bahasa figuratifnya rendah hasil kemampuan mengapresiasi
puisinya tidak jauh berbeda dengan kemampuan mengapresiasi puisi dengan metode
konvensional (struktural) dengan penguasaan bahasa figuratif tinggi. Dengan kata lain,
metode konvensional atau struktural (yang notabene kurang unggul dari metode hermeneutik)
yang didukung dengan penguasaan bahasa figuratif tinggi hasilnya tidak jauh berbeda. Hal
ini juga membuktikan keberpengaruhan dan keterkaitan penguasaan bahasa figuratif yang
tinggi terhadap kemampuan mengapresiasi puisi.

Pembahasan terakhir pada interaksi keenam (sel 1 dan sel 4) yang menyatakan bahwa
kemampuan mengapresiasi puisi pada siswa diajar dengan metode hermeneutik dan memiliki
penguasaan bahasa figuratif tinggi lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode
konvensional (struktural) dan memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah. Hal ini
membuktikan teori tentang keunggulan metode hermeneutik sekaligus keberpengaruhan
penguasaan bahasa figuratif. Metode hermeneutik terbukti lebih unggul apalagi didukung
dengan penguasaan bahasa figuratif yang tinggi daripada metode konvensional (struktural)
yang juga diperparah dengan penguasaan bahasa figuratif rendah.

Berdasarkan hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa metode hermeneutik


terbukti lebih baik daripada metode konvensional (struktural). Selanjutnya, semakin tinggi
penguasaan bahasa figuratif siswa, semakin tinggi pula tingkat kemampuan mengapresiasi
puisinya. Berdasarkan sejumlah simpulan tersebut, terlihat keberpengaruhan kedua variabel,
yaitu penggunaan metode pembelajaran dan penguasaan bahasa figuratif.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dengan Anava Dua Jalan dapat disimpulkan: (1) terdapat
perbedaan rataan yang signifikan antara pembelajaran mengapresiasi puisi dengan metode
hermeneutik dan metode konvensional (stuktural) terhadap kemampuan mengapresiasi puisi
siswa (Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 7,82 > 3,96);

(2) Terdapat perbedaan rataan yang signifikan antara siswa yang memiliki penguasaan
bahasa figuratif tinggi dan siswa yang memiliki penguasaan bahasa figuratif rendah terhadap
kemampuan mengapresiasi puisi (Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 8,24 > 3,96); (3) Terdapat interaksi
antara metode pembelajaran dan pengusaan bahasa figuratif terhadap kemampuan
mengapresiasi puisi (Fobs > Ft (0.05; 1.77) = 4.46 > 3,96).

Daftar Pustaka

Abdul Hadi W. M.. 2004. Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas: Esei-Esei Sastra Sufistik
dan Seni Rupa. Yogyakarta: Matahari.

Abulad, Romualdo E.. 2007. What is Hermeneutics?. Kritike. Vol. 1 No. 2 December 2007

Ary, Donald, dkk.. 1982. Pengantar Penelitian Sosial dan Pendidikan (terjemahan Arief
Furchan). Surabaya: Usaha Nasional.

Atar Semi, M. 2002. Sastra Masuk Sekolah (Editor: Riris K. Toha Sarumpaet. Magelang:
Indonesiatera.

Baedhowi. 2006. Kebijakan Asessment dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


(KTSP). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No. 063 Tahun ke-12 Edisi November 2006
hal. 810-818

Furman, Richard. 2007. Poetry Narrative as Qualitative Data: Exploration into Existential
Theory. Indo-Pacific Journal of Phenomenology, Volume 7, Edition 1 May 2007 page 1-9

Geisler, Deborah M. 1985. Modern Interpretation Theory and Competitive Forensics:


Understanding Hermenutics Text. The National Forensics Journal. Vol. III (Spring 1985)
page. 71-79

Ghazali, A. Syukur. 2002. Sastra Masuk Sekolah. (Editor: Riris K. Toha Sarumpaet).
Magelang: IndonesiaTera.

Gorys Keraf. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa: Komposisi Lanjutan I. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.

Henry Guntur Tarigan. 1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Herman J. Waluyo. 2002. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jabrohim. 1994. Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jabrohim, dkk.. 2001. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Kenney, William. 1966. How to Analyze Fiction. New York: Monarch Press.
Kosasih, E.. 2008. Ketatabahasaan dan Kesusastraan: Cermat Berbahasa Indonesia.
Bandung: Yrama Widya.

Nyoman Kutha Ratna. 2005. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Palmer, Richard E.. 2005. Hermeneutika: Teori Baru Mengenal Interpretasi (terjemahan:
Musnur Hery dan Damanhuri Muhammad). Yogyakarta: Hanindita Graha W.

Rakhmat Joko Pradopo. 1997. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

____________________. 2005. Beberapa Teori Sasatra, Metode Kritik, dan Penerapannya.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Sangidu. 2004. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik dan Kiat. Yogyakarta:
Unit Penelitian Sastra Asia Barat FIB UGM.

Suwardi Endraswara. 2002. Sastra Masuk Sekolah. (Editor: Riris K. Toha Sarumpaet).
Magelang: IndonesiaTera.

________________. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Taufik Ismail. 2007. Makalah: Mengasah Ketajaman Intuisi dan Kepekaan Sosial melalui
Kegemaran Membaca Karya Sastra. Surakarta: Tanpa Penerbit.

Tirto Suwondo. 2001. Metodologi Penelitian Sastra (Editor: Jabrohim dan Ari
Wulandari). Yogyakarta: Hanindita Graha W.

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.