Anda di halaman 1dari 20

IDENTITAS PASIEN BERDASARKAN WARNA BAND

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Managemen Safety


yang diampu oleh Siti Aminah, APP., S.Kep.

Disusun oleh:

Anisa Rizky Wulandari (2520142426)

Eni Ernawati (2520142435)

Muhammad Lalu Irfan (2520142443)

Nurhasanah (2520142451)

Sinta Oktarina (2520142459)

Wahyu Bagas Saputra (2520142467)

Kelas/Sem: I A/II

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO

YOGYAKARTA

2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Identitas Pasien Berdasarkan Warna Band ini dengan baik. Dan
juga kami berterima kasih pada Ibu Siti Aminah, APP., S.Kep. selaku Dosen mata
kuliah Managemen Safety yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai bagaimana pengkajian identitas pasien
yang sesuai dengan standar Patient Safety dan mengetahui skala prioritas pasien
menggunakan warna band resiko. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami
bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat
berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami
mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami
memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Akhir kata kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai semua usaha kita. Aamiin.
Terimakasih.

Yogyakarta, 31 Maret 2015

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini isu penting dan global dalam Pelayanan Kesehatan adalah
Keselamatan Pasien (Patient Safety). Isu ini praktis mulai dibicarakan kembali
pada tahun 2000-an, sejak laporan dan Institute of Medicine (IOM) yang
menerbitkan laporan: to err is human, building a safer health system.
Keselamatan pasien adalah suatu disiplin baru dalam pelayanan kesehatan yang
mengutamakan pelaporan, analisis, dan pencegahan medical error yang sering
menimbulkan Kejadian Tak Diharapkan (KTD) dalam pelayanan kesehatan.

Keamanan dan keselamatan pasien merupakan hal mendasar yang perlu


diperhatikan oleh tenaga medis saat memberikan pelayanan kesehatan kepada
pasien. Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana rumah sakit memberikan
asuhan kepada pasien secara aman serta mencegah terjadinya cidera akibat
kesalahan karena melaksanakan suatu tindakan atau tidak melaksanakan suatu
tindakan yang seharusnya diambil. Sistem tersebut meliputi pengenalan resiko,
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden, tindak lanjut dan
implementasi solusi untuk meminimalkan resiko (Depkes 2008).

Untuk mendukung terciptanya patient safety maka disusunlah sasaran


patient safety. Sasaran Keselamatan Pasien merupakan syarat untuk diterapkan di
semua rumah sakit yang diakreditasi oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit.
Penyusunan sasaran ini mengacu kepada Nine Life-Saving Patient Safety
Solutions dari WHO Patient Safety (2007) yang digunakan juga oleh Komite
Keselamatan Pasien Rumah Sakit PERSI (KKPRS PERSI), dan dari Joint
Commission International (JCI).

Maksud dari Sasaran Keselamatan Pasien adalah mendorong perbaikan


spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran menyoroti bagian-bagian yang
bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi dari
konsensus berbasis bukti dan keahlian atas permasalahan ini. Diakui bahwa desain
sistem yang baik secara intrinsik adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan
yang aman dan bermutu tinggi, sedapat mungkin sasaran secara umum difokuskan
pada solusi-solusi yang menyeluruh. Salah satu dari sasaran patient safety adalah
ketepatan identifikasi pasien yang menjadi sasaran I.

Penggunaan gelang pasien adalah implementasi sasaran I (ke satu) dan ke


VI (ke enam) dari 6 Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) sesuai yang di
persyaratkan dalam akreditasi Rumah Sakit. Ada 6 macam warna gelang pasien
yang di gunakan dan masing-masing warna memiliki fungsi identifikasi yang
berbeda yaitu: biru muda, merah muda, kuning, merah, putih, dan ungu. Hal
tersebut terutama dimaksudkan untuk dapat mengidentifikasi pasien yang di rawat
inap di Rumah Sakit secara tepat pada saat dilakukannya pelayanan maupun
pengobatan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang makalah diatas dapat dirumuskan permasalahannya
sebagai berikut:
1. Bagaimana pengkajian identitas yang sesuai dengan standar pasien safety?

2. Bagaimana kita mengetahui skala prioritas pasien dari warna band?

C. Tujuan
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang disampaikan diatas, ada
beberapa tujuan yang ingin dicapai:
1. Mengetahui pengkajian identitas yang sesuai dengan standar pasien safety.
2. Mengetahui skala prioritas pasien dari warna band.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengkajian Identitas Pasien

Pengertian identifikasi adalah proses pengumpulan data dan pencatatan segala


keterangan tentang bukti-bukti dari seseorang sehingga kita dapat menetapkan dan
menyamakan keterangan tersebutdengan individu seseorang. Secara umum
identifikasi pasien memiliki beberapa tujuan yaitu mendeskripsikan prosedur
untuk memastikan tidak terjadinya kesalahan dalam identifikasi pasien selama
perawatan di rumah sakit; mengurangi kejadian atau kesalahan yang berhubungan
dengan salah identifikasi yang biasanya kesalahan ini dapat berupa salah
pasien, kesalahan prosedur, kesalahan medikasi, kesalahan transfusi, dan
kesalahan pemeriksaan diagnostik; dan mengurangi kejadian cidera pada pasien.

Panduan pengkajian identitas pasien ini diterapkan kepada semua pasien rawat
inap, pasien Instalasi Gawat Darurat, dan pasien yang akan menjalani suatu
prosedur. Pelaksana panduan ini adalah semua tenaga kesehatan (medis, perawat,
farmasi, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya); staf di ruang rawat, staf
administratif, dan staf pendukung yang bekerja di rumah sakit.

Pengkajian identitas pasien merupakan salah satu sasaran patient safety yang
menjadi sasaran satu. Tujuan sasaran ini dua hal: pertama, mengidendfikasi
dengan benar pasien tertentu sebagai orang yang akan diberi layanan atau
pengobatan tertentu; kedua, mencocokkan layanan atau perawatan dengan
individu tersebut.

Kegagalan yang meluas dan terus menerus untuk mengidentifikasi pasien


secara benar sering mengarah kepada kesalahan pengobatan, transfusi maupun
pemeriksaan; pelaksanaan prosedur yang keliru orang; penyerahan bayi kepada
bukan keluarganya, dsb. Rekomendasi ditekankan pada metode untuk verifikasi
terhadap identitas pasien, termasuk keterlibatan pasien dalam proses ini;
standardisasi dalam metode identifikasi di semua rumah sakit dalam suatu sistem
layanan kesehatan; dan partisipasi pasien dalam konfirmasi ini; serta penggunaan
protokol untuk membedakan identifikasi pasien dengan nama yang sama.
Untuk memperbaiki proses identifikasi, dikembangkanlah bersama suatu
kebijakan dan/atau prosedur, khususnya, proses untuk mengidentifikasi pasien di
saat pemberian obat, darah atau produk darah; pengambilan darah dan spesimen
lainnya untuk uji klinis, atau penyediaan segala perawatan atau prosedur lain.
Kebijakan dan/atau prosedur itu memerlukan setidaknya dua cara untuk
mengidentifikasi pasien, seperti nama pasien, nomor identifikasi, tanggal lahir,
gelang berkode batang atau cara lain. Nomor kamar pasien atau lokasi tidak dapat
digunakan untuk identifikasi.

Ada beberapa elemen dari ketepatan identifikasi pasien, yaitu:

1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua cara identifikasi, tidak


termasuk/kecuali nomor atau lokasi kamar pasien.
2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah.
3. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis.
4. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan / tindakan.

B. Skala Prioritas Berdasarkan Warna Band Risiko

Pasien perlu diidentifikasi/ dikenali secara pasti ketika akan diberikan obat,
darah atau produk darah, pengambilan darah dan specimen lain untuk
pemeriksaan klinis atau mendapatkan tindakan medis lainnya, sehingga terhindar
dari kesalahan yang mungkin dapat berakibat fatal bagi keselamatan pasien.
Selain itu, gelang pasien juga dipasang untuk menandai pasien-pasien yang
memiliki resiko ataupun kondisi-kondisi tertentu sehingga petugas kesehatan yang
menangani pasien tersebut dapat lebih waspada.

Setiap pasien yang perlu rawat inap (opname) akan mendapatkan gelang
berbahan dasar plastik pada saat pasien tersebut mendaftarkan diri/ didaftarkan.
Petugas admisi/ pendaftaran rawat inap akan memberikan sebuah gelang, yang
warnanya sesuai dengan jenis kelamin pasien. Gelang tersebut akan dipasangkan
oleh perawat di Ruang IGD ataupun Ruang Rawat Jalan dimana pasien tersebut
sedang mendapat penanganan oleh dokter yang meminta untuk melakukan rawat
inap. Gelang pasien tersebut biasanya akan dipasang di bagian pergelangan tangan
pasien. Tapi bila hal tersebut tidak mungkin dilakukan, gelang tersebut dapat
dipasangkan di pergelangan kaki pasien ataupun di bagian lainnya. Gelang pasien
hanya boleh dibuka/ dilepas bila pasien tersebut sudah diperbolehkan pulang atau
meninggalkan rumah sakit.

Ada 6 macam warna gelang pasien yang digunakan dan masing-masing warna
memiliki fungsi identifikasi yang berbeda, yaitu:

1. Biru Muda, gelang ini digunakan sebagai tanda identifikasi untuk pasien-pasien
berjenis kelamin laki-laki;

2. Merah Muda/ Pink, gelang ini digunakan sebagai tanda identifikasi untuk
pasien-pasien berjenis kelamin perempuan;

3. Kuning, gelang ini digunakan sebagai tanda identifikasi untuk pasien-pasien


yang berisiko jatuh;

4. Merah, gelang ini digunakan sebagai tanda identifikasi untuk pasien-pasien


yang memiliki riwayat alergi terhadap suatu jenis obat;

5. Putih, gelang ini digunakan sebagai tanda identifikasi untuk pasien-pasien


(biasanya bayi yang baru lahir) yang tidak/ belum jelas jenis kelaminnya; dan

6. Ungu, gelang ini digunakan sebagai tanda identifikasi untuk pasien-pasien


dengan kategori do not resuscitate (DNR).
Gelang Identifikasi Pasien RSUD Badung

Meskipun gelang pasien berfungsi sebagai tanda pengidentifikasi dan ada


bagian dimana dituliskan minimal 2 (dua) identitas pasien (seperti nama, tanggal
lahir, nomor Rekam Medis atau yang lainnya berdasarkan kebijakan rumah sakit),
komunikasi petugas kesehatan dengan pasien tetap dilakukan. Petugas kesehatan
yang menangani pasien wajib melakukan identifikasi pasien dengan cara
menanyakan data identitas pasien yang tertulis pada gelang tersebut dan kemudian
pasien wajib menjawabnya dengan benar (kecuali pada pasien-pasien yang secara
klinis sulit untuk berkomunikasi dengan baik). Jika pasien telah teridentifikasi
dengan tepat barulah petugas kesehatan tersebut memberikan pelayanan baik
berupa pemeriksaan fisik, pemberian obat, pengambilan specimen laboratorium,
trasnfusi darah ataupun melakukan tindakan medis lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Bonas, Anshar. 2010. Patient Safety Di Rumah Sakit (online)

(https://ansharbonassilfa.wordpress.com/2010/08/20/patient-safety-di-
rumah-sakit/) diunduh tanggal 1 April 2015

Kurniawati, Nurul. 2013. SOP Identifikasi Pasien Dewasa (online)

(https://www.scribd.com/doc/241031201/Sop-Identifikasi-Pasien-
Dewasa#scribd) diunduh tanggal 1 April 2015

Hidayat, Ahmad. 2014. SOP Identifikasi Bayi Baru Lahir (online)

(https://www.scribd.com/doc/225234992/Sop-Identifikasi-Bayi-Baru-
Lahir#scribd) diunduh tanggal 1 April 2015

UPT PUSKESMAS JATIREJO MOJOKERTO. 2012. SOP Identifikasi Pasien


Datang Sudah Meninggal (DOA) (online)

(http://puskesmas-jatirejo.blogspot.com/2012/07/pasien-datang-sudah-
meninggal-doa.html) diunduh tanggal 1 April 2015

Bandung. 2013. Kenali Gelang Identifikasi Pasien (online)

(http://rsudkapal.badungkab.go.id/?p=66) diunduh 1 April 2015

Mustika, Kirana. 2015. Pemberian Gelang Identitas Pasien (online)

(https://www.scribd.com/doc/257109530/Pemberian-Gelang-Identitas-
Pasien) diunduh tanggal 1 April 2015
LAMPIRAN

I. SOP Pengkajian Identitas Pasien di beberapa Rumah sakit

1. Pengkajian Identitas Pada Bayi Baru Lahir

Rumah Sakit SOP Identifikasi Pasien Baru Lahir


No. Dukumen No. Revisi Halaman
dr. Rasidin
....................... 1/1
Padang

STANDAR Tanggal Terbit Ditetapkan oleh:


OPERASIONAL 02 April 2012 Direktur RS
PROSEDUR
Dr. Artati Suryani, MPH
Pengertian Adalah proses pemberian identitas bayi yang baru lahir di
RSUD dr. Rasidin atau menuju RSUD dr. Rasidin.
Tujuan Agar bayi yang baru lahir tidak tertukar dengan bayi yang
lain.
Kebijakan 1. Bayi yang baru lahir di RSUD dr. Rasidin diberikan
identitas tertentu.
2. Identitas bayi baru lahir ini harus terus melekat selama
masih dalam perawatan di RSUD dr. Rasidin Padang.
Prosedur 1. Petugas mencatat tanggal dan jam kelahiran.
2.Petugas mencatat ciri anthrometri, meliputi: jenis
kelamin, panjang badan, berat badan dan lingkar kepala.
3. Petugas membutuhkan nama bayi dengan memberi
nama ibunya.
4. Petugas membuat cap telapak kaki pada format yang
tersedia.
5. Petugas membuat sidik jari ibu.
6. Petugas memasang identitas bayi.
7. Petugas mengisi nomor registrasi bayi.
Unit Terkait dokter, perawat, dan rekam medis.
2. Pengkajian Identitas Pada Pasien Dewasa

SOP Identifikasi Pasien Dewasa


No. Dukumen No. Revisi Halaman
...................... 1/1
.
RS Cakra Husada
STANDAR Tanggal Ditetapkan Di Klaten
OPERASIONAL Terbit Direktur Rumah Sakit Cakra Husada
PROSEDUR :
dr. SR Indrasari, M.Kes., Sp., THT-KL(K)
Pengertian Menanyakan dan mencatat data identitas terhadap semua
pasien dewasa secara lengkap dan jelas.
Tujuan 1. Memberi ciri dan tanda berupa data identitas pada semua
pasien dewasa.
2. Menujang tercapainya tertibnya administrasi.
3. Membantu mempermudah pencarian dokumen rekam
medis.
Kebijakan Semua pasien yang berkunjung ke rumah sakit
dicatat/ditulis data identitasnya
Prosedur 1. Pastikan nama lengkap pasien safety sesuai dengan KTP
atau identitas lainnya.
2. Tulis nama lengkap pasien tersebut pada lembar rekam
medis dengan jelas dan huruf cetak.
3. Tulis identitas sosial lain seperti :
a. Tempat dan tanggal lahir
b. Alamat lengkap tempat tinggal
c. Agama
d. Pekerjaan
e. Nama lengkap suami atau istri
Petugas Rekam Medis
Unit Terkait TPP RJ, TPP RI, IGD
3. Pengkajian Identitas Pada Pasiean Datang Sudah Meninggal
UPTD Puskesmas Jatirejo
Mojokerto
SOP Identifikasi Pasien Datang Sudah Meninggal (DOA)

No. Dukumen

.......................

No. Revisi

Halaman

1/1

STANDAR

OPERASIONAL

PROSEDUR

Tanggal Terbit

Disetujui oleh,
Kepala UPTD Puskesmas Jatirejo

Dr.WIWIK KUSNUL LATIFAH


Penata TK I
NIP. 19711104 200212 2 003
Pengertian

Kasus tiba mati adalah suatu keadaan dimana penderita yang datang di IGD sudah
dalam keadaan meninggal
Tujuan

Prosedur ini dibuat agar petugas IGD mampu melakukan penatalaksanaan kasus
tiba mati (Death On Arrival) dengan baik dan benar

Kebijakan

Pemeriksaan fisik terhadap pasien DOA tetap harus dilakukan dan


didokumentasikan pada status rawat jalan

Prosedur

1. Identifikasi jenazah dan catat peristiwa kematian di kartu status pasien.

2. Dokter jaga IGD memeriksa kondisi jenazah untuk memperkirakan sebab


kematian

3. Bila diduga mati wajar, jenazah dirawat sesuai prosedur, Surat kematian dapat
diperoleh di bagian Rekam Medik Puskesmas Jatirejo pada jam kerja

4. Bila diduga mati tidak wajar, maka petugas :

a. Lapor polisi sesuai TKP

b. Melakukan pemeriksaan pada jenazah sesuai dengan prosedur pembuatan


Visum et Repertum.

c. Apabila dipandang perlu diadakan Otopsi, maka jenazah di kirim ke RSUD

5. Bila keluarga/pengantar jenazah menolak untuk dilakukan pemeriksaan dalam


pada jenazah, maka keluarga/pengantar menandatangani surat pulang paksa
dan tidak diberikan surat kematian

Unit Terkait

IGD

4. Pengkajian Identitas Pada Pasien Rawat Jalan

PROSEDUR No Dokumen :
0002/PS/IRJ/II/08
Status Revisi :1
RS MMR TUTORIAL
1 Tanggal Berlaku : 1 Februari
YOGYAKARTA
2008
Halaman : 1/1
Disiapkan oleh
Disetujui oleh Disyahkan oleh
PELAYANAN
dr.Anto Pambudi KLINIK RAWAT
JALAN SPESIALIS dr.Budi Darmanto dr.Wardono
SpPD MMR MMR
Ka. Instalasi Wadir Pelayanan Direktur
Medis

suatu sistem identifikasi kepada pasien untuk membedakan


antara pasien satu dengan yang lain sehingga memperlancar
Pengertian
atau mempermudah dalam pemberian pelayanan kepada
pasien.

untuk memberikan identitas pada pasien, untuk membedakan


Tujuan
pasien, untuk menghindari kesalahan medis (mal praktik).

UU No 44 tahun 2009 ttg RS pasal 40


Kebijakan Permenkes 1691 tahun 2011 ttg Keselamatan Pasien
Permenkes 659 tahun 2009 ttg RS kelas dunia.

1. Rekam Medis
2. Kartu Berobat
3. Kartu identitas
Perlengkapan
4. Gelang identitas
5. Papan nama
6. Label kotak obat

Prosedur
1. Di Bagian Pendaftaran
a. Sapa pasien (oleh petugas pendaftaran).
b. Menanyakan data pasien, nama, tanggal lahir,
alamat.
c. Dicatat di form identitas pasien dan diinput ke
komputer.
2. Di Bagian Rawat Jalan / IGD
a. Petugas menyapa dan menanyakan kartu identitas
pasien
b. Petugas mengkonfirmasi identitas pasien dengan
catatan RM yang ada di bagian Rawat Jalan.
c. Petugas menanyakan riwayat alergi obat pada
pasien.
d. Petugas memanggil pasien untuk mendapat
pemeriksaan dokter dengan menyebutkan nama
lengkap (minimal 2 kata) sesuai urutan antrian
pasien.
e. Dokter mengkonfirmasi identitas pasien (tanyakan
nama dan alamat) sebelum memeriksa pasien.
f. Dokter memberikan pelayanan medis & resep
(dalam resep tertera: nama, usia, tanggal peresepan,
riwayat alergi, tanda tangan dokter).
3. Di Bagian Farmasi
a. Petugas farmasi menerima resep
b. Sebelum obat diserahkan petugas menanyakan &
memastikan bahwa nama obat telah sesuai dengan
kondisi pasien.
4. Di Bagian Laboratorium/Radiologi/Fisioterapi
a. Menanyakan nama minimal 2 kata, alamat,
golongan darah (khusus laboratorium) sebelum
pemeriksaan/pengambilan sampel dilakukan.
5. Di Bagian Rawat Inap
a. Perawat memeriksa kesesuaian identitas & kondisi
pasien dengan data identitas di RM.
b. Pemasangan gelang identitas pada pasien. Isi data
pada gelang adalah nama, usia, jenis kelamin,
tanggal masuk, nomer RM, nama dokter
penanggung jawab.
c. Pemberian gelang tambahan untuk pasien riwayat
alergi.
d. Pemberian gelang tambahan untuk pasien resiko
jatuh.
e. Papan identitas dituli dan diletakkan di bed/ruang
bilik pasien.
f. Di nurse station, perawat memisahkan obat antar
pasien dengan memberikan nama label kotak obat.
g. Seluruh petugas medis & paramedis harus
mengkonfirmasi identitas pasien dengan melihat
gelang indentitas sebelum melakukan tindakan
ataupun pemberian obat.
h. Sebelum pasien pulang dilakukan pengecekan
gelang identitas pasien dan dilakukan pencopotan.

Unit Terkait
1. Bagian Pendaftaran
2. Instalasi Rawat Jalan
3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Rawat Inap
5. Instalasi Farmasi
6. Instalasi Laboratorium
7. Instalasi Radiologi
8. Instalasi Fisioterapi

II. SOP Pemberian Gelang Identitas Pasien

RS MANIS SOP Pemberian Gelang Identitas Pasien


No. Dukumen No. Revisi Halaman
MANJA Jl. Cinta
12345 003344/111 0011
Manis Cherry
Belle
No.1Denpasar-
Bali Telp.: 0361-
11223344
STANDAR Tanggal Terbit Ditetapkan Direktur:
OPERASIONAL 08 September 2012
PROSEDUR dr. Elvan Dewanto Pambudi, MMR
Pengertian Pemberian gelang penanda pada pasien yang berisi data
identitas pasien yang memuat nama, jenis kelamin (yang
dibedakan dengan warna gelang) umur, tanggal lahir,
nomer RM, alamat rumah, diagnosis, riwayat alergi
(dituliskan pada gelang warna merah) dan risiko jatuh
(dituliskan pada gelang warna kuning).
Tujuan Memberikan identitas pada pasien rawat inap untk
mempermudah identifikasi pasien, mencegah terjadinya
kesalahan pemberian obat dan tindakan medis pada pasien.
Kebijakan PERMENKES 1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien RS.
Setiap pasien yang dirawat inapdi Rumah Sakit harus
mendapatkan gelang identitas pasien (SK Direktur nomer
112/34/2012)
Prosedur 1. Ucapkan salam, Selamat pagi/siang/sore/malam
Bapak/Ibu, perkenalkan diri, Saya....(nama), jelaskan
nama profesi/unit kerja.
2. Jelaskan tugas yang akan dilakukan pada pasien dan
tujuannya (sesuai tujuan diatas)
3. Pastikan identitas pasien denganpertanyaan terbuka dan
tertutup kepada pasien dan keluarga, mencocokkan
dengan data rekam medis.
4. Ciptakan suasana nyaman pada pasien.
5. Melakukan verifikasi pada pasien mengenai pemahaman
tujuan pemasangan gelang.
6. Melakukan pemasangan gelang yang telah dituliskan
oleh perawat atau paramedis yang bertanggung jawab
pada anggota gerak tubuh yang mudah diakses.
7. Pemasangan dilakukan oleh perawat dan atau paramedis
yang bertanggung jawab di PPRI maupun IGD.
8. Menawarkan bantuan kembali, Apakah masih ada yang
dapat saya bantu?
9. Ucapkan terimakasih.
Instalasi Terkait PPRI (Poli Persiapan Rawat Inap) dan IGD (Instalasi
Gawat Darurat)

III. Dialog Roleplay

Pemeran:

Perawat diperankan oleh

Suami diperankan oleh

Istri diperankan oleh

Narasi:

Suatu hari disebuah rumah sakit, ada pasien yang akan melakukan proses
persalinan.

Suami : Suster bagaimana keadaan istri dan anak saya ?


Perawat : Alhamdulillah pa, semuanya baik baik saja. Tapi harus tetap opnam
untuk beberapa hari, untuk memulihkan kondisi ibu dan anak pak.

Suami : Oh harus begitu ya sus, baiklah kalau begitu.. yang penting istri dan
anak saya sehat

Perawat : Iya bapak, kalau begitu silahkan bapak urus dulu di bagian administrasi
untuk memilh kamarnya.

Suami : Baiklah sus..

Suami menuju ke bagian administrasi dan segera kembali ka ruang persalinan


untum menjemput istrinya. Dan akhirnya sudah di bangsal..

Perawat : Pak, bu, perkenalkan nama saya perawat Susi, saya yang akan merawat
ibu di bangsal ini. Ini saya akan memasangkan gelang atau warna band
pada ibu. Nanti pada bayi ibu juga akan saya pasang warna pink. Maaf
ya bu, saya pasang dulu.

Istri : Iya sus, sus maaf saya mau tanya mengapa anak saya menggunakan
gelang warna pink ?

Perawat : Begini ibu, untuk jenis kelamin perempuan gelang yang digunakan
adalah warna pink sedangkan pada bayi laki-laki warnanya biru. Itu
untuk pembeda jenis kelamin bu?

Suami : Lalu bagaimana dengan warna gelang istri saya? Apakah sama
warnanya?

Perawat : Iya bapak, untuk semua pasien perempuan warna gelangnya merah
muda atau pink.

Perawat : Oh iya ibu, ini gelangnya mau dipakaikan di tangan atau di kaki?

Istri : Bagusnya dimana ya sus? Hmm... di tangan aja sus biar kelihatan bagus
(tersenyum)

Perawat : Baiklah bu, mau dipasang ditangan sebelah mana bu? Kanan atau kiri?

Istri : Di tangan sebelah kanan aja sus.

Perawat : Mohon maaf bu, apakah nama bayi sudah ditentukan? Kalau belum,
nanti pada gelang bayi diberikan nama ibunya..

Istri : Oh sudah kok sus, namanya Kharisma Lady.

Perawat : Wah, namanya bagus sekali.. cantik sepertinya bayinya. Baiklah,


sebentar ya bu saya tuiskan nama bayi ibu digelangnya.
Perawat pun memasangkan gelang pada tangan bayi

Perawat : Sudah selesai adek bayi cantik

Suami : Terimakasih suster..

Perawat : Iya sama-sama.. baiklah pak bu, nanti jika membutuhkan bantuan
silahkan hubungi kami segera di ruang jaga perawat di sebelah barat
pintu masuk ya. Atau pencet tombol hijau disamping ini.. mari pak, bu
permisi..

Istri : Iya sus...

IV. Lembar Partisipasi Kelompok

No. Nama Tugas


1. Anisa Rizky Wulandari Mencari SOP identifikasi pada Pasien
Dewasa (di RS Cakra Husada)
2. Eni Ernawati Mencari SOP identifikasi pada Bayi baru
lahir (di RSUD dr. Rasidin padang)
3. Muhammad Lalu Irfan Mencari SOP identifikasi pada pasien
rawan jalan (di RS MMR Tutorial 1
Yogyakarta)
4. Nurhasanah Mencari SOP identifikasi pasien datang
sudah meninggal (di UPTD Puskemas
Jatirejo Mojokerto)
5. Sinta Oktarina Mencari warna band resiko
6. Wahyu Bagas Saputra Membuat PPT