Anda di halaman 1dari 8

ASUHAN KEPERAWATAN

DENGAN ULKUS PEPTIKUM


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah KMB
yang diampu oleh Ariyanti, M.Kep., Ns., Sp. Kep.MB

Disusun oleh:
1. Detik Agustina (2520142430) 6. Marisa Eviyani (2520142445)
2. Devi Atmasari (2520142431) 7. Puput Sisiliya (25201424
3. Eni Ernawati (2520142435) 8. Wahyu Bagas (25201424
4. Eva Aprilia S. A. (2520142436) 9. Wiwit Niken S. (25201424
5. Lalu Muhammad (2520142443) 10. Bagas Aryo (
Kelompok/Semester: I/III

YAYASAN AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO


YOGYAKARTA
2015
Penggunaan NSAID yg lama,
alkohol,merokok berlebihan
A. Pathway (Price, S, 1994) k

Asam dalam lumen + empedu

Penghancuran epitel sawar

Asam kembali berdifusi ke mukosa

Penghancuran sel
mukosa,iritasi mukosa
Nyeri

Peningkatan pepsinogen Peningkatan asam Peningkatan


menjadi pepsin histamin

Perubahan Perangsangan kolinergik


nutrisi

Fungsi sawar menurun Meningkatkan motilititas


Meningkatkan pepsinogen

1. Peningkatan vasodilatasi
Penghancuran kapiler dan vena kecil 2. Permiabilitas terhadap protein
3. Plasma bocor ke interstisium
4. Edema
Luka,laserasi 5. Plasma bocor ke lumen lambung

Perdarahan
Iskemia jaringan

Tindakan tdk
Diagnosa
Cemas Keperawatan adekuat
B.Kurang pengetahuanDIAGNOSTIK Tukak
PEMERIKSAAN
a. Endoskopi, digunakan untuk mengidentifikasi perubahan inflamasi, ulkus,
dan lesi.
b. Spesimen feses. yaitu untuk mengetahui adanya darah samar.
c. Pemeriksaan cairan lambung, digunakan untuk menentukan dalam
mendiagnosis aklorhidria.
d. Biopsi, merupakan tes laboratorium khusus yang digunakan untuk
mengetahui bahwa ulkus lambung dapat dihubungkan dengan infeksi
bakteri dengan agen seperti H. Pylori.

C. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan lesi sekunder terhadap peningkatan asam
gastrik, iritasi mukosa dan spasme otot.
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan 1x24 jam nyeri pasien dapat
berkurang.
Kriteria evaluasi:
1. Klien dapat menggunakan obat-obatan sesuai resep yang telah
dianjurkan.
2. Klien menyatakan penurunan nyeri.
Intervensi:
a. Jelaskan hubungan antara sekresi asam hidroklorida dan
awitan nyeri
b. Berikan antasida, antikolinergik, sukralfat dan bloker H2
sesuai tujuan
c. Beri dorongan untuk melakukan aktivitas yang
meningkatkan istirahat dan relaksasi
d. Bantu klien untuk mengidentifikasi substansi pengiritasi,
misalnya merokok, kopi
e. Nasihatkan klien untuk makan dengan teratur
f. Dorong klien untuk menghindari merokok dan penggunaan
alkohol
g. Dorong klien untuk menurunkan masukan minuman yang
mengandung kafein
h. Peringatkan klien berkenaan dengan penggunaan salisilat
i. Ajarkan klien tentang pentingnya pengobatan berkelanjutan
bahkan saat tidak nyeri sekalipun.

2. Ansietas berhubungan dengan koping penyakit akut, perdarahan,


penatalaksanaan jangka panjang.
Tujuan: Setelah dilakukan 1x24 jam perawatan terjadi penurunan
kecemasan pada klien.
Kriteria evaluasi:
1. Klien dapat mengekspresikan rasa takut dan masalah
2. Klien dapat memahami rasional untuk berbagai pengobatan dan
pembatasan
3. Klien dapat mengidentifikasi situasi yang menimbulkan ansietas.
4. Klien dapat menggunakan strategi penatalaksanaan stress dengan
tepat
Intervensi:
a. .Kaji apa yang ingin pasien ketahui tentang penyakit dan
evaluasi tingkat ansietas; berikan dorongan untuk
mengekspresikanperasaan secara terbuka
b. Jelaskan pemeriksaan diagnostik; berikan obat tepat jadwal
c. Pastikan pasien bahwa perawat selalu tersedia untuk
membantu masalah
d. Berinteraksi dengan cara yang santai, Bantu dalam
mengidentifikasi stressor, dan jelaskan teknik koping efektif dan
metode relaksasi
e. Berikan dorongan keikutsertaan keluarga dalam perawatan
dan berikan dukungan emosional.
f. Jelaskan mekanisme terjadinya perdarahan dan dalam
perawatannya

3. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nyeri


yang berkaitan dengan makan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan 2x24 jam kebutuhan nutrisi
pasien terpenuhi.mendapatkan tingkat nutrisi optimal.
Kriteria evaluasi:
1. Klien dapat menghindari makanan yang mengiritasi
2. Klien dapat makan makanan pada interval yang dijadwalkan secara
teratur.
3. Klien dapat terpenuhi atau memilih lingkungan yang tenang untuk
makan.
Intervensi:
a. Anjurkan makan makanan dan minuman yang tidak
mengiritasi, seperti makanan yang tidak beralkohol, pedas, kecut.
b. Anjurkan makan sesuai jadwal.
c. Anjurkan makan pada suasana yang tenang.

4. Kurang pengetahuan mengenai pencegahan gejala dan penatalaksanaan


kondisi berhubungan dengan minimnya informasi yang pernah didapat.
Tujuan: Setelah dilakukan 2x24 jam penyuluhan tentang pencegahan dan
penatalaksanaan penyakit ulkus peptikum pengetahuan klien bertambah.
Kriteria evaluasi:
1. Mengekspresikan minat dalam belajar bagaimana mengatasi
penyakit.
2. Berpartisipasi dalam penyuluhan.
3. Manyatakan keinginan untuk bertanggung jawab terhadap
perawatan diri.
Intervensi:
Bantu pasien dalam mengerti tentang kondisi dan faktor-faktor yang dapat
atau yang memperburuk situasi
1. Obat-obatan
a. Ajarkan pasien obat apa yang harus diminum dirumah, termasuk
nama, dosis, frekuensi, dan kemungkinan efek samping
b. b.Ajarkan pasien obat-obat apa yang harus dihindari
2. Diet
a. Ajarkan pasien untuk mewaspadai makanan tertentu yang dapat
mengganggu pencernaan
b. Ajarkan untuk menghindari kopi, alcohol, yang mempunyai
kekuatan pembentuk asam
c. Berikan dorongan makan teratur dalam suasana rileks dan untuk
menghindari terlalu banyak makan

3. Merokok
a. Ajarkan pasien bahwa merokok dapat mengganggu penyembuhan
ulkus
b. Buat pasien sadar terhadap program untuk membantu penghentian
merokok

4. Istirahat dan reduksi stress


a. Bantu pasien untuk waspada terhadap sumber-sumber stress dalam
keluarga dan lingkungan kerja
b. Bantu untuk mengidentifikasi periode istirahat selama siang hari
c. Evaluasi kebutuhan akan konseling psikologis lebih lanjut

5. Kesadaran akan Komplikasi: ingatkan pasien terhadap tanda-


tanda dan gejala-gejala komplikasi yang harus dilaporkan
a. Hemoragi: kulit dingin, kusut pikir, frekuensi jantung meningkat,
darah dalam feses
b. Perforasi: nyeri abdomen hebat, abdomen kaku dan keras, muntah
kenaikan suhu, frekuensi jantung meningkat
c. Obstruksi pilorik: mual, muntah, distensi abdomen, nyeri abdomen
6. Perawatan Pasca pengobatan
a. Ajarkan pasien bahwa supervisi tindak lanjut diperlukan selama
sekitar 1 tahun
b. Ajarkan bahwa ulkus dapat terjadi kembali dan untuk mencari
bantuan obat jika terjadi gejala
c. Informasikan pasien dan keluarga bahwa tindakan bedah tidak
menjamin kesembuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Baughman DC, Hackle JC. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta. EGC. 2000.

Capernito. JL.Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta. EGC.


1999

Corwin EJ. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta . EGC. 2000

Price SA. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta.


EGC.1994

Reeves CJ, Roux G, Lockhart R. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta.


Salemba Medika. 2001

Sodeman. Patofisiologi Mekanisme Penyakit. Jakarta. Hipocrates. 1995

Tambayong Jan. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta. EGC. 2000