Anda di halaman 1dari 10

Kata pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala tuntunan dan rahmatnya dan sehingga kami
dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca .
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat
lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang.
Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Daftar isi

Judul
Kata pengantar
Daftar isi

Bab I
Pendahuluan
1.1 latar belakang
1.2 tujuan dan kegunaan

Bab II
Pembahasan
2.1 klasifikasi ikan kakap merah
2.2 pemilihan habitat dan lokasi pemeliharaan
2.3 seleksi induk
2.4 pemijahan
2.5 penetasan telur
2.6 pemeliharaan larva
2.7 pemberian pakan
2.8 panen larva
2.9 pembesaran ikan kakap merah
2.10 pendederan ikan kakap merah
2.11 pemeliharaan ikan kakap untuk konsumsi
2.12 cara pemberian pakan
2.13 pengelolaan air
2.14 panen dan pemasaran
2.15 penyakit
Bab III
Penutup
3.1 kesimpulan
3.2 saran
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia memiliki potensi sumber daya perairan yang cukup besar untuk usaha budidaya ikan,
namun usaha budidaya ikan kakap belum banyak berkembang, sedangkan di beberapa negara seperti:
Malaysia, Thailand dan Singapura, usaha budidaya ikan kakap dalam jaring apung (floating net cage) di
laut telah berkembang. Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) atau lebih dikenal dengan nama
seabass/Baramundi merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis, baik untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Produksi ikan kakap di indonesia sebagian besar
masih dihasilkan dari penangkapan di laut, dan hanya beberapa saja diantarannya yang telah di hasilkan
dari usah pemeliharaan (budidaya). Salah satu faktor selama ini yang menghambat perkembangan usaha
budidaya ikan kakap di indonesia adalah masih sulitnya pengadaan benih secara kontinyu dalam jumlah
yang cukup.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan adalah untuk mengetahui dan memahami proses pembesaran budidaya ikan kakap putih di air
payau/tambak. Kegunaan yaitu agar dalam usaha budidaya ikan kakap putih dapat dikembangkan pada
kegiatan produksi serta mengetahui kendala dalam usaha budidaya ikan kakap putih.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1Klasifikasi ikan kakap merah


Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Family : Lutjanidae
Genus : Lutjanus
Species : Lutjanus sanguineus
Nama Lain : Ikan Kakap Merah

Pada umumnya Fauna khas yang dijadikan fauna identitas masing-masing provinsi biasanya adalah fauna
yang langka. Namun pada propinsi Kepulauan Riau berbeda dengan propinsi yang lain Fauna khas yang
dijadikan propinsi ini bukanlah fauna langka dan dilindungi melainkan fauna yang sebarannya cukup
banyak khususnya di perairan Indonesia. Ikan kakap merah (Lutjanus sanguineus) merupakan fauna khas
kepulauan Riau, ikan ini sudah banyak dibudidayakan disekitar perairan nusantara karena komoditasnya
yang bernilai tinggi.
Ciri-ciri morfologi dari ikan kakap merah ini adalah ; Badan lebar memanjang, kepala gepeng cembung,
bagian bawah penutup insang bergerigi. Selain itu juga gigi-gigi pada rahang tersusun dalam rahang, ada
gigi taring pada bagian terluar rahang atas, sirip punggung beruas dengan keras 11 dan lemah 14, sirip
anal beruas keras 3 lemah 8-9. Ikan ini termasuk ikan ikan karnivora, makannya adalah ikan kecil dan
invertebrata dasar laut. Ikan ini dapat tumbuh mencapai panjang 45-50 Cm. Warna sisik bagian atas
degradasi dari warna kemerah-merahan sampai kekuning-kuningan, di bagian bawah merah ke-putihan.
Garis-garis kuning kecil diselingi warna merah pada bagian punggung di atas garis rusuk. Ikan ini
menghuni perairan tropis maupun subtropis, walau tiga dari genus Lutjanus diketahui ada yang hidup di
air tawar. Bahkan juvenile (anak ikan kakap yang masih kecil) beberapa spesies dari genus ini lainnya
seringkali dijumpai pada hutan-hutan bakau yang ada perairan payau. Tidak jarang pula juvenil-juvenil
dari spesies yang bersangkutan ditemukan pada batang-batang sungai yang bermuara pada hutan bakau
tersebut. Ikan kakap merah atau red snapper merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki nilai
ekonomis penting yang cukup banyak tertangkap di perairan Indonesia. Jenis ikan tersebut biasanya
tertangkap di perairan paparan (continental shelf).
2.2 pemilihan habitat dan lokasi pemeliharaan
Pemilihan habitat atau tempat pemeliharan merupakan salah satu factor yang paling penting dalam
membudidayakan ikan kakap. Seperti yang telah diketahui, ikan kakap memiliki toleransi terhadap
salinitas yang cukup tinggi. Hal tersebut berarti bahwa ikan kakap dapat dipelihara di segala tipe air.
Tempat pemeliharan ikan kakap dapat dilakukan di tambak, kolam, ataupun pinggiran pantai.
Memperhatikan kualitas air juga amat penting dalam pemeliharaan ikan kakap. Karena ikan kakap
merupakan ikan tropis, pastikan bahwa sushu kolam berkisar antar 27-32 drajat celcius. Pastikan juga
bahwa kolam tidak terlalu keruh. Dan apabila anda memilih untuk memelihara ikan di tambak pinggir
laut, pastikan bahwa arus air tidak terlalu deras karena dapat merusak tambak.
2.3 SELEKSI INDUK
Kakap Putih bersifat hermaprodit protandri, sehingga dalam fase hidupnya dapat berubah kelamin dari
jantan ke betina, hal ini dapat terjadi ketika berat induk mencapai 2-3 kg/ekor. Kematangan induk jantan
dapat dilakukan dengan mengurut perut ikan kearah lubang kelamin, jika sperma yang keluar berwarna
putih susu dan kental berarti ikan siap dipijahkan (matang kelamin) sedangkan untuk induk betina
dilakukan dengan cara memasukan selang kanulasi ke lubang kelamin dan dihisap, telur yang
berdiameter > 40 mikron siap untuk dipijahkan. Induk jantan dan betina yang telah matang kelamin,
ditempatkan di bak pemijahan
2.4 PEMIJAHAN
Induk jantan dan betina matang kalamin dengan perbandingan 1 : 2 ditempatkan dalam bak serat kaca
(fibre glass) volume 15 ton. Teknik pemijahan manipulasi lingkungan yaitu dengan cara mengurangi air
media pemeliharaan hingga 50-60 cm pada pagi sampai sore hari, dibiarkan kena sinar matahari.
Fluktuasi suhu air yang terjadi akan merangsang induk untuk memijah. Pemijahan Kakap Putih mengikuti
fase peredaran bulan yang terjadi pada awal bulan (bulan gelap) pemijahan umumnya terjadi pada malam
hari antara pukul 21.00 24.00 WIB.
2.5 PENETASAN TELUR
Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna transparan dengan diameter 800
900 mikron. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Sebelum telur ditetaskan
direndam dengan larutan iodine sebanyak 3 ppm selama 1 3 menit. Telur ditetaskan dalam akuarium
volume 100 liter, kepadatan telur + 1.000 butir/liter. Telur akan menetas dalam waktu 18 22 jam setelah
pembuahan pada suhu 28o 30o C dan salinitas 30 32 psu. Larva yang baru menetas segera
dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan larva.
2.6 PEMELIHARAAN LARVA
Bak pemeliharaan larva volume 10 m3, terbuat dari beton atau serat kaca (fiber glass), air media suhu 26-
280C dan salinitas 29 - 32 ppt, aerasi dengan semburan lembut dipasang paling sedikit 18-20 titik,
usahakan bak dalam keadaan terlindung dari pengaruh sinar matahari langsung. Larva yang baru
menetas mempunyai panjang total 1,21 - 1,65 mm, ditebar didalam bak dengan padat penebaran awal 10
ekor/liter air.
2.7 PEMBERIAN PAKAN
Sejak pertama larva sudah harus diberi Chlorella kepadatan 3 - 4 x 10.000 sel/ml. dan Tetraselmisdengan
kepadatan 8 - 10 x 1000 sel/ml , hal ini dimaksudkan selain sebagai pakan larva, berfungsi pula sebagai
pengendali kualitas air. Hari ke 2 diberi Rotifera (Brachionus plicatilis) sampai hari ke 15 dan pada hari
ke 15 larva mulai diberi pakan Artemia, Setelah berumur 30 hari larva sudah dapat diberikan pakan
cacahan daging ikan segar.

2.8 PANEN Larva


Pada bak pemeliharaan larva yang mempunyai saluran keluar maka akan lebih mudah dilakukan dengan
menempatkan scopnet pada saluran tersebut. Sedangkan yang tanpa saluran keluar, panen dilakukan
dengan cara mengurangi air pada bak pemeliharaan sampai kedalaman tinggal 10 20 cm, kemudian
benih ditangkap dengan scopnet. Agar larva kakap putih tidak mengalami stress pada saat panen,
dilakukan secara hati-hati dan pada penampungan sementara diberi aerasi secukupnya.

2.9pembesaran ikan kakap merah


Pemeliharaan ikan kakap dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pemeliharaan benih ikan kakap atau
biasa disebut pendederan, dan pemeliharaan ikan konsumsi atau pembesaran. Benih ikan kakap yang
diperoleh di alam dengan ukuran sekitar 5-10 cm langsung dibesarkan didalam tambak atau keramba.
Akan tetapi, benih yang diperoleh dari Balai Benih ikan sebaiknya lebih dahulu didederkan dikurungan
tersendiri.
2.10 Pendederan Ikan Kakap merah
Pendederan benih ikan kakap biasanya dilakukan dengan menggunakan keramba apung yang berukuran
kecil, seperti 1 x 1 x 1 meter. Benih yang didederkan berasal dari Balai pembenihan dengan ukuran 1,5-2
cm atau berumur sekitar 30-50 hari.

Untuk ukuran keramba seperti diatas, padat penebarannya sekitar 300-500 ekor. Pemeliharaan ikan
kakapdiatas berlangsung 2-3 bulan sehingga nantinya benih telah berukuran gelondong saat dipanen,
yaitu sekitar 5-8 cm. Ukuran ini sudah dapat ditebar ke dalam tambak.

Namun, bila didederkan lagi akan lebih baik, tetapi padat penebarannya sedikit dikurangi, yaitu 300-400
ekor. Setelah pemeliharaan sekitar 2-3 bulan, benih telah berumur mencapai 10 bulan atau lebih, dan
ukuran ini sangat baik berada ditambak maupun di KJA.
2.11 Pemeliharaan Ikan Kakap Untuk Konsumsi
Pemeliharaan ikan kakap ditambak dapat dilakukan dengan system monokultur (memelihara satu jenis
dalam spesies yang sama) dan polikultur (memelihara beberapa jenis ikan/lebih dari satu jenis dalam
spesies yang berbeda).

Budidaya monokultur dapat dilakukan dengan kepadatan 5.000-6.000 ekor per hectare dengan ukuran
benih yang ditebar antara 8-10 cm. Budi daya polikultur dapat dilakukan denagn mencampurkan ikan
kakapdengan ikan nila (Oreochromis niloticus) atau dengan rumput laut. Penebaran pertama untuk ikan
nila dengan padat penebaran 3.000-5.000 ekor per hectare, dan penebaran berikutnya, yaitu benih ikan
kakapdenagn padat penebaran 3.000-5.000 ekor per hectare, dan penebaran berikutnya, yaitu benih ikan
kakapdengan padat penebaran 3.000-5.000 ekor per hectare.

Untuk polikultur ikan kakap dengan rumput laut, padat penebaran ikan kakap ukuran gelondongan sekitar
3.000-5.000 ekor perhektare, dan bibit rumput rumput laut 3.000-5.000 kg per hectare. Bila pemeliharaan
dilakukan pada KJA, benih yang dipelihara disesuaikan dengan ukuran mata jarring. Hal ini untuk
mencegah lolosnya ikan-ikan yang berukuran lebih kecil dari mata jarring.

Kriteria Ukuran Mata jarring dengan ukuran Ikan yang Ditebar.


Ukuran mata jarring Ukuran panjang Ikan
0,5 cm 1,2 cm
1 cm 5-10 cm
2 cm 20-30cm
4 cm 30 cm
Padat penebaran di KJA untuk benih yang berukuran 10 cm atau lebih, yaitu 8-10 ekor per meter persegi.

2.12Cara Pemberian Pakan

Pemberian pakan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:


Berupa rucah ikan segar sebanyak 7-10 kg untuk 1kg ikan kakap yang dapat dipasarkan.

Berupa anak-anak ikan mujair yang masih hidup : mula-mula ditebarkan 400 ekor ikan mujair yang
terdiri dari masing-masing 200 ekor berkelamin jantan dan betina dalam tambak seluas 2000 meter
persegi sebelum ditebarkan benih ikan kakap : dua bulan kemudian ditebarkan 3.125-6.250 ekor benih
kakap/ha yang berukuran 10-15 cm. Benih-benih kakap inilah yang nantinya akan memangsa anak-anak
ikan mujair.

2.13 Pengelolaan Air

Sumber air sepanjang pantai biasanya bermutu baik. Sebagian air ini harus diganti setiap hari pada
waktu air pasang melalui pintu air masuk dan pada waktu air pasang sedang menurun dengan jalan
membuka pintu air keluar. Pengaliran air keluar sebaiknya melalui bagian bawah tambak, sedang
pemasokannya dari permukaan. Banyaknya air harus cukup untuk mengisi tambak. Sebaiknya
disediakan pompa air bila memerlukan air lebih banyak. Yang penting juga diperhatikan adalah jaring
nylon yang dipakai untuk pintu air harus selalu bersih setiap hari dan PH air antara 7-8,5 dengan
kandungan oksigen 5-6 ppm.
2.14 Panen dan Pemasaran
Panen dilakukan selama kurang lebih setahun dengan produksi hanya sebesar 3.250-3.750 kg/ha/tahun.
Cara memanen ikan kakap dari tambak dapat dilakukan dengan berbagai cara. Untuk keperluan sedikit
dapat dilakukan dengan alat tangkap jaring, jala, bubu atau pancing. Untuk keperluan agak banyak
dengan tambak yang sangat luas dapat dilakukan dengan jaring trawl yang ditarik oleh perahu. Kemudian
ikan kakap tersebut akan dipanen semuanya dan sekaligus membersikan tambak, caranya dengan
menggunakan jaring diikuti dengan pengeringan air dalam tambak tersebut secara total. Pada umumnya
ikan-ikan kakap hasil tambak dijual kepasar dalam bentuk segar. Ikan-ikan kakap yang baru dipanen dari
tambak ditempatkan pada keranjang banbu atau keranjang plastik atau peti kayu dicampur dengan es
curah. Kemudian diangkut dengan truk, perahu atau kapal ke tempat pemasaran ikan. .
2.15Penyakit
Publikasi tentang penyakit yang menyerang ikan-ikan yang dibudidayakan di laut seperti ikan kakap
putih belum banyak dijumpai. Ikan kakap putih ini termasuk diantara jenis-jenis ikan teleostei. Ikan jenis
ini sering kali diserang virus, bakteri dan jamur. Gejala-gejala ikan yang terserang penyakit antara lain
adalah, kurang nafsu makan, kelainan tingkah laku, kelainan bentuk tubuh dll. Tindakan yang dapat
dilakukan dalam mengantisipasi penyakit ini adalah:
1. Menghentikan pemberian pakan terhadap ikan dan menggantinya dengan jenis yang lain;
2. Memisahkan ikan yang terserang penyakit, serta mengurangi kepadatan;
3. Memberikan obat sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.
BAB .III
PENUTUP

3.1 kesimpulan
Ikan kakap merah merupakan ikan komersial yang mempunyai nilai ekonomistinggi dengan daya saing
yang sangat meningkat. Diharapkan ikan ini dapatmenjadikan komoditas ekspor yang sangat bagus bagi
perikanan di Indonesia. Larvaikan kakap merah dapat dengan baik merespon pakan yang di berikan
seperti pakanalami jenis rotifer, artemia, udang jembret, serta pakan buatan komersial. Larva ikankakap
merah belum dapat meneruskan respon pakan yang di berikan sehingga larvaikan mengalami kematian,
akan tetapi jika larva mendapatkan pakan yang berukurantepat dengan ukuran mulutnya,di perkirakan
larva tersebut akan dapat meneruskanhidupnya

3.2 Saran

Sebaiknya dalam usaha budidaya ikan kakap merah, perlunya perhatian pemerintah dalam hal dapat
memberikan pemecahan masalah alternatif dalam penyedian sentral pembenihan guna untuk menunjang
komoditas masyarakat pembudidaya yang memiliki nilai yang baik dalam konsep pemasaranya.