Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KOASISTENSI BEDAH KASUS

VENEREAL SARCOMA PADA ANJING BETINA SIBERIAN HUSKY

Oleh:
ARIF SYAIFUDDIN
NIM. 1209006071

GELOMBANG IX GRUP N

LABORATORIUM BEDAH DAN RADIOLOGI


PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN KLINIK HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
Lembar Persetujuan Kasus

Venereal Sarcoma pada Anjing Betina Siberian Husky

Dosen Pembimbing Kelompok Dosen Pembimbing Kasus

Drh. I G. Agung Gde Putra Pemayun, M.P Drh. I Wayan Wirata, M.Sc
NIP. 19610612 198903 1 004 NIP. 19820825 200812 1 002

Dosen Penguji Kasus

Drh. A. A. Gde Jaya Wardhita, M.Kes


NIP. 19600201 198702 1 002

ii
KATA PENGANTAR

Penulis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya, sehingga penulisan laporan ini dapat diselesaikan dengan judul
VENEREAL SARCOMA. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada Rasulullah
Muhammad SAW yang telah menjadi teladan umat Islam dan penyelamat di akhirat kelak,
amiin.
Laporan ini merupakan salah satu syarat untuk kelulusan koasistensi di laboratorium
bedah dan radiologi di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Penulis menyadari
bahwa keberhasilan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari segala bantuan dan bimbingan yang
telah diberikan oleh berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis ingin menyampaikan rasa hormat
dan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. drh. I Nyoman Adi Suratma, M.P., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana yang pernah menasehati penulis untuk senantiasa bersyukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
2. Bapak Dr. drh. I Gusti Ngurah Sudisma, M.Si., selaku Pembimbing Akademik atas
bimbingannya untuk senantiasa berprestasi.
3. Bapak Drh. I G. Agung Gde Putra Pemayun, MP. selaku Pembimbing kelomok yang
penuh perhatian dan kesabaran dalam memberikan bimbingan dan saran kepada penulis.
4. Bapak Drh. I Wayan Wirata, M.Sc selaku Pembimbing kasus mandiri yang dengan penuh
perhatian telah memberikan motivasi, bimbingan, dan saran dalam penulisan laporan ini.
5. Bapak Drh. A. A. Gde Jaya Wardhita, M.Kes penguji laporan kasus yang telah
meluangkan waktu dan memberikan bimbingan, kritik, saran, serta nasehat yang
bermanfaat dalam penulisan laporan ini.
6. Kedua orang tuaku Ibu Lilik Rahmani dan Bapak Kusnadi tercinta atas kasih sayang,
doa, dukungan moral dan materi serta pengorbanan yang penuh keikhlasan sepanjang
masa.
7. Adikku Agung Risqi Alhana tercita atas kasih sayang, dukungan, dan semangat yang
telah diberikan.
8. Sahabat terbaikkku Durrotul Khotimah, Wahyu Tri Utomo, Jaya Utama, Yuda, Adistania,
Tyas, Caca, Jihan Bima Prakoso, dan Moh. Saiku, serta seluruh sahabat Hipoglossus
Kelas B angkatan tahun 2012 atas segala kebaikan, perjuangan, dan persahabatan yang
terus terjaga hingga akhir hayat.
Semoga kebaikan, doa, bimbingan, semangat, dan keikhlasan yang telah diberikan kepada
penulis mendapat balasan terbaik dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa penulisan laporan
ini masih jauh dari kesempurnaan dan mengandung banyak kekurangan, sehingga dengan
kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat konstruktif. Akhir kata,
semoga laporan ini bermanfaat dan bisa memberikan sumbangsih bagi kemajuan ilmu
pengetahuan.

Denpasar, 9 Mei 2017

ARIF SYAIFUDDIN
NIM. 1209006071

iii
DAFTAR ISI

lembar Persetujuan Kasus...........................................................................................................ii


KATA PENGANTAR ...............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................................... 1
1.2 Tujuan ...................................................................................................................... 3
1.3 Manfaat .................................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................ 4
2.1 Venereal sarkoma .................................................................................................... 4
2.2 Etiologi .................................................................................................................... 5
2.3 Tanda Klinis............................................................................................................. 5
2.4 Diagnosis ................................................................................................................. 6
2.5 Prognosis ................................................................................................................. 7
2.6 Penanganan .............................................................................................................. 8
BAB III MATERI DAN METODE ......................................................................................... 10
3.1 Materi Operasi ....................................................................................................... 10
3.1.1 Hewan Kasus ................................................................................................ 10
3.1.2 Alat Operasi ................................................................................................. 10
3.1.3 Bahan Operasi .............................................................................................. 10
3.2 Metode Operasi ...................................................................................................... 10
3.2.1 Preoperasi ..................................................................................................... 10
3.2.2 Operasi ......................................................................................................... 14
3.2.3 Pasca Operasi ............................................................................................... 14
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................................. 16
4.1 HASIL.................................................................................................................... 16
4.2 PEMBAHASAN .................................................................................................... 17
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ........................................................................................ 20
5.1 Simpulan ................................................................................................................ 20
5.2 Saran ...................................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anjing merupakan salah satu hewan peliharaan yang banyak disukai masyarakat. Beberapa
alasan kenapa anjing lebih banyak dipelihara masyarakat yaitu karena kecerdasannya, sifatnya yang
setia, serta kemampuannya untuk berkomunikasi dengan pemiliknya (Fitriani, 2007). Di Bali sejak
zaman dulu, kehidupan masyarakatnya sudah akrab dengan anjing. Dari sekian banyak manfaat itu,
anjing sebagai penjaga rumah dan hewan kesayanganlah yang belakangan ini menonjol baik di Bali
maupun di Indonesia pada umumnya.
Anjing merupakan hewan yang rentan terhadap beberapa jenis penyakit infeksius, seperti
rabies, leptospirosis, distemper, parvo, dan lain-lain. Selain itu, kelainan fisik pada anjing juga
sering sekali diabaikan oleh pemiliknya seperti penyakit degenerasi dan gangguan pertumbuhan,
contohnya tumor kulit, dermatosis, kista, dan lain-lain. Tumor kulit pada anjing prevalensinya
cukup tinggi berkisar antara 9,5% - 51% dari keseluruhan kasus tumor pada anjing ras (Bronden et
al., 2010).
Tumor merupakan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol serta bersifat merugikan bagi
penderitanya. Semua anjing beresiko terkena tumor, tetapi jenis tumor tertentu lebih sering terjadi
pada ras anjing tertentu pula (Elizabeth et al., 2009). Transmissible venereal tumor (venereal
sarcoma) adalah salah satu tumor ganas yang khas pada hewan terutama anjing. Sel tumor venereal
sarcoma dapat menginfiltrasi jaringan tubuh baik pada jaringan kulit kelamin anjing jantan maupun
betina, tetapi anjing betina cenderung lebih peka terhadap tumor ini (Berata et al., 2011). Selain
menginfeksi alat genital, venereal sarcoma juga pernah dilaporkan menginfeksi daerah cervik,
punggung, flank, daerah abdomen, dan intranasal (Park et al., 2007; Marcos et al., 2007;
Papazoglou et al., 2001). Beberapa laporan terkait faktor umur juga pernah dilaporkan, dimana
sebagian besar kasus venereal sarcoma terjadi pada anjing dewasa (Pandey et al., 1997; Thacer and
Bradley, 1983).
Tumor atau neoplasma dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu benigna (tumor jinak)
dan malignant (tumor ganas). Ciri-ciri tumor ganas (malignant) antara lain pertumbuhan tumor
cepat, menyusup dalam jaringan, dan merusak jaringan sekitar, jaringan baru yang tumbuh
berlainan dengan jaringan sekitar, batas-batas tidak jelas (tidak berkapsul), dapat menyebar
(metastasis) ke jaringan tubuh yang lain, setelah operasi pengangkatan tumor mungkin bisa
kambuh lagi, pertumbuhan tumor dapat mengganggu pertumbuhan jaringan sekitar dan
mengganggu metabolisme umum dan fungsi organ lainnya. Sedangkan ciri-ciri tumor jinak
(benigna) adalah mempunyai kapsul dan dapat digerak-gerakkan, tidak terfiksir pada jaringan,
pertumbuhan lambat, umumnya tidak membahayakan, kematian dapat terjadi apabila lokasi dan
1
ukurannya sedemikian rupa sehingga menekan dan mengganggu jaringan dan organ sekitar,
umumnya setelah operasi tidak tumbuh lagi (Sudisma et al., 2006).
Anjing yang terserang tumor umumnya memiliki nafsu makan yang baik, tetapi akan
terjadi penurunan berat badan secara bertahap (tergantung jenis tumor). Nutrisi yang ada
seharusnya dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan maupun perkembangan fungsional tubuh,
tetapi sel tumor memanfaatkan nutrisi yang ada untuk tumbuh (Sudiono et al., 2003). Umumnya
penderita tumor mati dalam kondisi kaheksia. Untuk itu diperlukan penanganan untuk
menghilangkan tumor dari jaringan tubuh atau meminimalkan pertumbuhan sel tumor untuk
memaksimalkan kondisi fisiologis tubuh. Salah satu tumor yang cukup ganas dan sering
menyerang anjing adalah Venereal sarcoma.
Venereal sarcoma merupakan tumor yang menyerang organ genetalia dan sangat
menular pada anjing. Tumor ini diklasifiksikan menjadi 2 kelompok berdasarkan lokasi massa
tumor yaitu genital Venereal sarcoma dan Ekstragenital Venereal sarcoma. Genital Venereal
sarcoma ditularkan melalui perkawinan alam (koitus), sedangkan Ekstragenital Venereal
sarcoma karena kontak seperti mengendus atau pun menjilat saat koitus (Das, 2000). Secara
makroskopis Venereal sarcoma berupa massa berbentuk seperti bunga kol (cauliflower-like
mass) pada daerah genital atau permukaan kulit dengan disertai leleran berdarah dan juga
deformitas pada daerah mata atau hidung akibat invasi dari tumor.
Penanganan yang dapat digunakan untuk mengobati Venereal sarcoma antara lain yaitu
dengan pembedahan, radiasi maupun kemoterapi. Penanganan Venereal sarcoma dapat
dilakukan dengan eksisi/pengangkatan secara total (operasi) (Sudisma et al., 2006). Penanganan
Venereal sarcoma dengan pengangkatan total tumor termasuk pencegahan kemungkinan sel
tumor bermetastasis (pertumbuhan sekunder) ke tempat lain. Namun, pengangkatan tumor
dengan pembedahan tidak hanya memberikan hasil yang kurang memuaskan tetapi tumor juga
dapat tumbuh kembali. Tindakan tersebut dapat dibarengi dengan radioterapi sehingga tumor
dapat secara tuntas dihilangkan akan tetapi cara ini membutuhkan tenaga terlatih, peralatan
yang canggih, dan biaya yang mahal (Boscos and Ververidis, 2004).
Tindakan lain yang dapat dilakukan yaitu dengan cara kemoterapi. Kemoterapi dapat
memberikan hasil yang cukup baik terhadap regresi dari tumor. vincristine sulfat merupakan
bahan yang digunakan sebagai kemoterapi agen untuk menanganai kasus Venereal sarcoma
(Martins et al,. 2005). Venereal sarcoma mempunyai prognosa dubius (Mayer et al., 1959;
Spector, 1993; Martins et al,. 2005).
Studi tentang Venereal sarcoma memiliki dampak besar dalam dunia kedokteran hewan.
Dalam hal ini berbagai upaya diarahkan untuk mendapatkan standarisasi diagnosis, memahami
perilaku evolusi tumor, mengevaluasi faktor prognosis seperti morfologi. Pengetahuan terhadap
2
parameter ini sangat penting sebagai pilihan dan keberhasilan terapi, sehingga memperkecil
kambuhnya tumor dan peningkatan kelangsungan hidup.

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan laporan ini yaitu :
a) Mengetahui cara mendiagnosa, prosedur operasi dan rencana terapi kasus Venereal
sarcoma pada anjing betina siberian husky
b) Mengetahui dampak terapi pembedahan terhadap anjing betina Siberian Husky penderita
Venereal sarcoma.

1.3 Manfaat
Manfaat penulisan laporan ini adalah untuk memberikan informasi serta menambah
wawasan bagi praktisi dan mahasiswa Kedokteran Hewan dalam melakukan diagnosa dan
prosedur operasi pengangkatan tumor serta perawatan pascaoperasi Venereal sarcoma pada
anjing betina Siberian Husky.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Venereal sarkoma


Venereal sarcoma atau sering disebut Venereal granuloma, Transmissible Venereal
Tumor (TVT), Transmissible lymphosarcoma atau Stiker tumor merupakan tumor pada anjing
yang secara umum menyerang alat kelamin luar tetapi terkadang juga dapat menyerang alat
kelamin bagian dalam. Venereal sarcoma merupakan jenis tumor ganas yang khas pada hewan,
terutama anjing. Venereal sarcoma dapat terjadi pada hewan betina maupun jantan, dimana
penularannya melalui koitus (Tella et al., 2004). Selain itu Venereal sarcoma dapat ditularkan
melalui transfer fisik sel tumor melalui kontak langsung dengan kulit yang terluka atau jaringan
mukosa (Stockmann et al., 2011). Hal ini umum terjadi karena kebiasaan seksual anjing yang
tidak terkontrol. Pada saat koitus sering terjadi perdarahan akibat kontak mukosa dari penis
dengan vagina sehingga transplantasi dari tumor akan menjadi mudah. Venereal sarcoma
umumnya menginfeksi alat genital jantan maupun betina (Rasul, 2009). Namun, anjing betina
lebih peka terhadap tumor ini (Berata et al., 2011).
Pada studi sebelumnya, bahwa jika dilakukan transplantasi sel tumor secara subkutan
maka dalam 2-3 minggu akan terjadi tumor berukuran 3-6 mm. Bentuk tumor akan mencapai
maksimum pada minggu ke-5 hingga minggu ke-7. Tumor dapat tumbuh 15-60 hari setelah
implantasi, dan tidak terdeteksi selama beberapa tahun (Lombart and Cabanie, 1968; Moulton,
1978). Pengelupasan dan transplantasi sel tumor selama kontak fisik merupakan penyebab
utama penularan ke mukosa genital, dan juga ke hidung atau mukosa mulut, saat kawin atau
menjilat alat kelamin anjing yang terkena Venereal sarcoma. Pertumbuhan tumor umumnya
dapat terlihat dalam waktu 2-6 bulan setelah kawin pertama. Venereal sarcoma dapat tumbuh
lambat selama bertahun-tahun atau lebih kemudian menjadi invasif dan akhirnya menjadi ganas
dan bermetastasis. Metastasis dilaporkan kurang dari 5-17% dari total kasus (Berata et al., 2011;
Utpal dan Arup Kumar, 2000).
Venereal sarcoma sering menjadi persoalan yang serius di seluruh dunia yang terjadi
pada frekuensi yang sama baik pada jantan maupun betina. Umumnya di temukan pada anjing-
anjing yang berhubungan dekat dengan yang lain. Di India di laporkan umumnya terjadi pada
anjing dengan kisaran 23-43% dari total kasus tumor pada populasi anjing. Kebiasaan sexual
yang tidak terkontrol menjadi salah satu alasan tingginya insiden TVT. Umur juga berkaitan
dengan penyakit ini dimana TVT umumnya terjadi pada usia 2-5 tahun

4
2.2 Etiologi
Venereal sarcoma pada anjing pertama kali ditemukan oleh Novinsky tahun 1876 yang
menjelaskan bahwa tumor dapat di transplantasikan di host yang memungkinkan ke yang lain
dengan inokulasi dari sel-sel tumor. Beberapa ahli menggangap tumor ini disebabkan oleh agen
virus, akan tetapi tumor tidak secara konsisten bisa ditrasmisikan oleh sel bebas. Pada anjing
Venereal sarcoma dapat terjadi karena tumor terimplantasi pada mukosa kelamin saat koitus
(Purohit, 2008). Transmisi tumor kelamin terjadi hanya dengan transplantasi sel tumor yang
layak dan bukan oleh virus yang mengubah sel-sel yang rentan (Rust, 1949). Partikel virus
onkogenik belum pernah terlihat dalam sel-sel tumor dengan mikroskop elektron (Murray et
al., 1969; Moulton, 1990).
Venereal sarcoma sering menjadi persoalan yang serius di seluruh dunia yang terjadi
pada frekuensi yang sama baik pada jantan maupun betina. Kejadian Venereal sarcoma ini
paling banyak terjadi di lingkungan tropis dengan temperatur hangat (Rogers, 1997). Menurut
Thakur and Bradley (1983), kejadian Venereal sarcoma terjadi pada hewan muda yang aktif
secara seksual, banyak menyerang anjing dengan kisaran umur 2-5 tahun. Venereal sarcoma
tidak hanya dapat ditularkan oleh sesama spesies anjing tetapi juga kepada hewan lainnya yang
masih termasuk family Canidae, seperti rubah (Higgins, 1966).

2.3 Tanda Klinis


Tanda klinis dari Venereal sarcoma ialah adanya bentukan seperti cauliflower berwarna
kemerahan yang biasanya terlihat pada daerah genital. Secara makroskopis, bentuknya
beragam, ada yang kecil maupun besar (5m-10cm), lunak maupun keras, abu-abu hingga
kemerahan, bentuk nodular maupun papilari.
Penampakan tumor pada anjing betina biasanya terdapat pada vestibula atau caudal
vagina, melintang sampai ke vulva. Harus diwaspadai adanya cairan hemoragi pada daerah
vulva yang bisa menyebabkan anemia permanen. Cairan ini bisa memancing pejantan dan
keadaan seperti ini pada anjing betina sering di kelirukan dengan estrus (Martins et al., 2005;
Mahmud, 2012). Tanda klinis yang tampak merupakan benjolan dan tetesan darah pada
vestibula, jika dilakukan palpasi maka akan terasa pertumbuhan yang tidak teratur (lobuler)
seperti buah anggur atau bunga kol (Mayer et al., 1959).
Tumor ini juga dapat ditemukan pada seluruh bagian mukosa vagina, sering pula
menyebar ke vestibula hingga labia. Ukuranya bervariasi dari nodular kecil hingga menyebar
ke lumen vulvovagina atau menjulur hingga diantara labia. Kelamin sering mengalami
perubahan yang regresif hingga mudah berdarah serta keluar leleran serous ataupun leleran
purulent dari vagina (Aiello et al., 2000).
5
Metastasis ditemukan pada jaringan subkutan, limponodus, mata, tonsil, hati, limfa, dan
mukosa mulut. Secara patologi anatomi Venereal sarcoma hampir selalu tampak seperti bunga
kol, atau peduncle, noduler, papiler atau multilobuler, berukuran 5 mm, superfisial biasanya
bernanah dan mengalami peradangan. Secara histopatologi Venereal sarcoma terletak pada
lapisan dalam stroma. Serat-serat retikuler mengandung kelompok sel tumor. Venereal sarcoma
terdiri atas limfoblast yang besar dengan sel tumor berbentuk bulat, polihedral, dan bersifat
uniform. Inti besar dan bundar dengan inti yang hiperkromatis dan banyak gambaran mitosis.
Ada 6-8 bentuk mitosis dalam satu daerah pandang dengan perbesaran besar. Sitoplasma sel
berwarna merah jambu pucat dengan sedikit granula. Venereal sarcoma cukup mengandung
vaskularisasi dan mengandung sedikit limfosit, makrofag, eosinofil, dan sel mast (Berata et al.,
2011).

2.4 Diagnosis
Diagnosa bisa ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik dan sediaan histologi dimana
ditemukan sel-sel tumor dengan metode swab, aspirasi dengan jarum atau preparat jenuh
tumor.di tandai dengan adanya sejumlah aberasi dan secara morfologi terdapat kromosom yang
sesuai dengan sel TVT. Jumlah kromosom normal pada sel somatik anjing adalah 78 dimana
terdapat 2 kromosom acrosentrik.
Secara sitologi, sel Venereal sarcoma dapat beraneka ragam. Sel dapat berbentuk bulat
sampai oval dan terkadang terdapat gambaran mitosis dengan satu atau dua nukleulus (Singh et
al., 1996). Pemeriksaan histologi dari Venereal sarcoma umumnya menunjukkan pertumbuhan
massa sel. Akibat massa tumor yang terus bertambah, maka bentuk sel akan terlihat irregular
dan juga disertai munculnya fibroblast. Kemunculan fibroblast tersebut kemungkinan
merupakan indikasi sel tumor yang mengalami transformasi. Selain itu, sering juga ditemukan
adanya infiltrasi dari limfosit, plasma sel, dan makrofag yang merupakan tanda adanya sistem
kekebalan tubuh (Tella et al., 2004).
Menurut Sudisma et al., (2006), untuk menentukan diferensial diagnosis suatu tumor
dapat dilakukan dengan anamnesa yang baik, inspeksi, palpasi, biopsi, yang diikuti dengan
pemeriksaan mikroskopis. Anamnesa dari pemilik diperlukan untuk mengetahui sejarah
menyeluruh kesehatan anjing, awal timbulnya gejala, dan kemungkinan insiden yang mungkin
telah mendahului kondisi ini. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan mencari lokasi tumor, dan
dilakukan palpasi untuk mengetahui batas, ukuran, konsistensi, dan terasa nyeri atau tidak
(Sriwibowo, 2005).
Pada kasus Venereal sarcoma, tanda klinis bervariasi tergantung lokasi tumor. Secara
makroskopis, tumor pada anjing betina terlihat sama seperti pada anjing jantan dan kejadiannya
6
dapat terlokalisir pada daerah vestibulum, atau kaudal vagina, menyebar sampai vulva sehingga
sering menyebabkan deformitas pada daerah region perineal. Anjing dengan lokasi tumor pada
daerah genitalnya akan terlihat keluarnya cairan bercampur darah dari alat kelaminnya. Cairan
tersebut akan sering dikelirukan dengan kejadian erethritis, cystitis, atau prostitis (Rogers,
1997).
Pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk menegakkan diagnosa Venereal sarcoma
adalah dengan cara biopsi. Biopsi yang dilakukan untuk pemeriksaan histologi adalah metode
yang paling dapat diandalkan untuk diagnosis. Jika ada keraguan tentang diagnosis histologis,
dapat dilakukan diagnosis definitif dengan analisis kromosom, studi imunohistokimia, dan
elektron-mikroskopis juga akan membantu untuk mendeteksi Venereal sarcoma (Utpal dan
Arup Kumar, 2000).
Beberapa kasus Venereal sarcoma dengan lokasi ekstragenital (tidak pada alat kelamin),
diagnosa secara klinis lebih sulit dilakukan karena Venereal sarcoma menyebabkan gejala klinis
yang bervariasi tergantung dari lokasi terjadinya tumor secara anatomi seperti apistaksis,
epiphora, deformitas wajah atau mulut dan pembesaran limfonodus regional (Rogers, 1997).
Diagnosa definitif didapatkan berdasarkan pemeriksaan fisik dan gambaran mikroskopi dari
pemeriksaan laboratorium terhadap sel tumor yang didapatkan secara biopsi (Richardson,
1981).

2.5 Prognosis
Kasus tumor yang masih berada pada tahap awal atau terutama kasus yang kurang dari
1 tahun dan kasus independent atau tanpa metastasis, keberhasilan penyembuhan dengan
tindakan pembedahan yang dilanjutkan kemoterapi dengan vincristine bisa mencapai 100%.
Namun, apabila kasusnya sudah lebih lama serta telah terjadi metastasis, terapi yang dibutuhkan
akan lebih lama dan rata-rata angka kesembuhan lebih rendah. Efek samping kemoterapi juga
harus diperhitungkan (Boscos, 2004; Meutuah, 2012).
Pada prinsipnya penanganan tumor adalah mengangkat atau menghilangkan tumor
secara komplit, seperti halnya dalam kasus Veneral sarcoma. Pengangkatan harus dilakukan
sebaik mungkin tanpa menyisakan massa tumor sekecil apapun. Pada beberapa kasus biasanya
selalu diikuti dengan tindakan kemoterapi. Pada anjing dewasa sel tumor regresi secara spontan
setelah mengalami perkembangan imunitas tumor mencegah pertumbuhan tumor secara baik.
Sebaliknya, sel tumor tumbuh menjadi ulserasi dan metastasis pada induk semang yang tidak
kompeten secara imunologis sehingga prognosa dari penyakit Venereal sarcoma ini dari fausta
hingga infausta. Hal yang paling baik dilakukan untuk mendapatkan prognosa yang baik jika

7
pada kasus ini diimbangi dengan radiasi tambahan atau kemoterapi yang digunakan (Kutzler,
2013).
Beberapa penelitian imunologi menjelaskan bahwa Venereal sarcoma merupakan
antigenik pada anjing sehingga respon imun dari host terhadap tumor memainkan peranan yang
paling penting terhadap status kesembuhan dari penyakit (Mizuno et al., 1994). Pada anjing
yang pertumbuhan tumor mulai menurun secara spontan dan perkembangan imunitas terhadap
tumor untuk mencegah tumor kembali tumbuh terjadi secara baik prognosa kesembuhan akan
menjadi baik/fausta (Powers, 1968). Akan tetapi pada beberapa kasus dimana sistem imun
anjing tertekan atau tidak mampu memberikan kekebalan, tumor akan terus berkembang serta
mengalami metastasis dan prognosa kesembuhannya akan menjadi dubius atau bahkan infausta
(Cohen, 1985).

2.6 Penanganan
Penanganan beberapa kasus tumor ganas seperti Venereal sarcoma dapat dilakukan
dengan pengangkatan secara total (Sudisma et al., 2006). Penanganan dengan pengangkatan
total tumor termasuk pencegahan kemungkinan sel tumor bermetastasis ke tempat lain dapat
dilakukan dengan tindakan pembedahan dan pengobatan disertai dengan kemoterapi.
Pengobatan Venereal sarcoma yang paling efektif ialah dengan kemoterapi setelah
dilakukan pengangkatan massa tumor pada jaringan. Pada studi sebelumnya, menunjukan
pengobatan dengan vincristine hasilnya sangat baik. Vincristine diberikan setiap minggu
dengan dosis 0,5-0,7 mg/m2 dari area tubuh atau 0,025 mg/kg secara intra vena. Lama
pengobatan juga bervariasi 2-7 kali (Marcos et al., 2006; Nak et al., 2005; Papazoglou et al.,
2001). Vincristine merupakan kelompok vinca alkaloid yg merupakan obat kemoterapi.
Vincristine ialah ekstrak dari tanaman Vinca Rosea yang merupakan racun microtubule
(Brooks, 2008).
Perawatan Venereal sarcoma tidak terlalu mudah pada beberapa pengobatan termasuk
pembedahan. Pembedahan ekstensif dilakukan untuk Venereal sarcoma kecil, dengan angka
keberhasilan 56-68% tumor akan menyebar secara invasi. Kontaminasi melalui jalur bedah
dengan sel-sel Venereal sarcoma merupakan salah satu bentuk penularan.
Pemulihan lesi berlangsung secara perlahan walaupun kadang-kadang tidak disadari dan
signifikan pada permulaan pengobatan. Pengobatan komplit biasanya 2-7 kali injeksi dan
terjadi lebih dari 90% kasus yang di obati. Penyembuhan mencapai 100% pada kasus
pengobatan pada tahap regresi terutama untuk kasus yang kurang dari 1 tahun dan kasus
independent atau tanpa metastasis.

8
Jika kasusnya sudah lebih lama, terapi yang dibutuhkan juga lebih lama dan rata-rata
angka kesembuhan lebih rendah. Efek samping juga harus diperhitungkan. Komplikasi yang
sering terjadi dari pengobatan menggunakan vincristine yaitu munculnya lesi pada jaringan
lokal yang dapat berkembang menjadi nekrosis dengan crust. Selain itu juga vincristine juga
berdampak terhadap spermatogenesis. Spermatogenesis dapat terganggu secara sementara
maupun permanen akibat penggunaan agen yang bersifat sitotoksik. Penelitian menunjukan
bahwa vincristine merusak DNA dari sel germinal dan mengurangi perkembangan sel tersebut
(Mc Envoy, 1987).
Gen cystostatis seperti vincristine bisa menyebabkan myelosupresi dan gastrointestinal
efek. Leucopenia peripheral neuropati juga dapat terjadi. Agen kemoterapi lain yang
diindikasikan untuk pengobatan Venereal sarcoma termasuk cyclophosphamide (5mg/kg,
peroral untuk 10 hari sebagai obat tunggal atau diberikan bersamaan dengan prednisolon
3mg/kg selama 5 hari) selain itu obat mingguan vinblastine (0,1 mg/kg IV selama 4-6 minggu)
methotrexate (0,1 mg/kg per oral tiap hari lainnya) atau kombinasi ke-3 obat di atas. Untuk
kasus resistensi bisa diobati dengan doxorobian, 30 mg/m2 dengan 3 kali pemberian setiap 21
hari. Pada kasus yang gagal dengan kemoterapi, radioterapi dilaporkan memiliki efek yang
bagus. Imunitas tumor memainkan peranan dalam regresi tumor setelah kemoterapi (Choi et
al., 2014).

9
BAB III
MATERI DAN METODE

3.1 Materi Operasi


3.1.1 Hewan Kasus
Jenis hewan adalah Anjing Siberian Husky, jenis kelamin betina dengan warna
hitam putih. Nama hewan kasus adalah Casy, berumur 1 tahun 3 bulan dengan berat
badan14,3 kg. Casy dipelihara oleh bapak Mario dengan alamat Perumahan Taman Griya-
Jimbaran - Bali. Dari cerita bapak mario, Casy mengalami perdarahan dibagian vagina dan
mengeluaran bau yang sangat menyengat.

3.1.2 Alat Operasi


Alat yang digunakan dalam pembedahan ini adalah termometer, stetoskop,
stomach tube, endothraceal tube, scalpel, mata pisau (blade), allice forcep, artery clamp,
drape clamp, gunting operasi lurus dan bengkok, pinset bergigi, pinset fisiologis, needle
holder, jarum ujung segitiga, forcep tampon, dan tempat tampon, drape cloth, intravenous
catheter, infus set, jarum suntik 3 ml dan 1 ml.

3.1.3 Bahan Operasi


Bahan dan obat yg disediakan adalah, NaCl 0.9%, antiseptik (betadine), alkohol
70%, benang absorable (cutgut chromic), gloves, kasa steril, hipafix, leukoplas, dan
masker. Obat-obat yang dipersiapkan adalah premedikasi yaitu atropine sulphate, serta
anesthesi umum yaitu dengan kombinasi ketamine dan xylazine, isofluran sebagai
anastesi inhalasi, antibiotik penisilin-streptomisin, antibiotik amoxan, asam mefenamat,
enbatic serbuk, ivermectin, kemoterapi dengan vincristine, dan gusanex sebagai obat
semprot anti insekta.

3.2 Metode Operasi


3.2.1 Preoperasi
Agar operasi dapat berjalan sukses tanpa ada hal-hal yang mengganggu jalannya
operasi dan menghambat kesembuhan pasca operasi, maka diperlukan persiapan yang
matang. Persiapan yang penting dilakukan sebelum operasi dijalankan meliputi: 1)
persiapan alat, bahan, dan obat; 2) persiapan ruang operasi; 3) persiapan pasien (hewan);
dan 4) persiapan operator.

10
1) Persiapan Alat
Alat-alat atau instrumen bedah yang diperlukan dalam operasi harus disetrilisasi.
Sterilisasi alat dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya dengan autoclave atau cara
yang sederhana yaitu dengan menggunakan alkohol 70%. Sterilisasi alat bertujun untuk
menghindari terjadinya kontaminasi pada luka operasi yang dapat menghambat
kesembuhan luka. Sterilisasi alat-alat bedah dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
uap, kimia, plasma, dan radiasi ion.

2) Persiapan Ruang Operrasi


Persiapan ruang operasi harus bersih. Semua peralatan yang ada di dalam ruang
operasi hendaknya dibersihkan sebelum operasi dilaksanakan. Lantai dan meja operasi
hendaknya dibersihkan dan didisinfeksi dengan bahan disinfektan yang umum dijual di
pasaran.

3) Persiapan Pasien
Sebelum dioperasi hewan yang akan dioperasi harus disiapkan dengan baik untuk
menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diingikan selama operasi berlangsung maupun
sesudahnya. Untuk itu perlu dilakukan anamnesa yang cermat, pemeriksaan fisik secara
menyeluruh yang meliputi pemeriksaan pulsus, frekuensi napas, temperatur dan
pemeriksaan seluruh sistem jantung, paru-paru, saluran pencernaan, hati, dan ginjal.
Sebelum dilakukan operasi, pasien sudah dalam keadaan siap untuk dioperasi dan
telah dipuasakan yaitu puasa makan selama 12 jam dan puasa minum selama 8 jam, nafsu
makan dan minum pasien baik.. Hasil pemeriksaan yang kami lakukan pada tanggal 27
April 2017, yaitu:
Nama Pemilik : Bapak Mario
Alamat : Perumahan Taman Griya, Jimabara, Bali
Telepon : 086739344322
Signalmen
Nama Hewan : Casy
Jenis Hewan : Anjing
Ras : Siberian Husky
Jenis Kelamin : Betina
Umur : 1 tahun 3 bulan
Berat badan : 14,3 kg
11
Pemeriksaan Fisik
Frek. Jantung : 109 kali/menit
Frek. Pulsus : 109 kali/menit
Frek. Nafas : 35 kali/menit
CRT : < 2 detik
Suhu Tubuh : 38,9o C
Anamnesa
Casy mengalami perdarahan dibagian alat kelain sekitar 1 bulan yang lalu, selama
mengalami perdarahan, casy hanya diberi obat semprot (gusanex) dan suplement
penambah darah. Nafsu makan dan minum masih bagus. Sudah diberi obat cacing dan
vaksin rutin tahunan.

Stabilisasi Pasien
Umumnya hewan yang akan dioperasi harus dalam kondisi yang memungkinkan
untuk dilakukan operasi. Apabila kondisinya tidak stabil, maka akan dapat
membahayakan keselamatan hewan itu karena setiap operasi akan menggunakan
premedikasi dan anestesi. Tindakan stabilisasi tergantung dari hasi pemeriksaan fisik
maupun laboratorium yang dilakukan antara lain: dehidrasi, infeksi, asidosis (pH < 7,2),
menderita penyakit kronis, perdarahan atau shock, dan pasien anemia.

Persiapan Cite (Daerah Operasi)


Hewan yang dinyatakan kondisinya stabil dan siap untuk dioperasi, maka langkah
selanjutnya yang harus dilakukan adalah mempersiapkan cite operasi (daerah operasi
yang akan dioperasi). Langkah yang dilakukan pertama kali adalah merestrain hewan
tersebut dengan cara-cara restrain yang umum dipakai, selanjutnya dilakukan pencukuran
bulu, cuci sampai bersih, dan diberi antiseptik seperti povidon iodin/ iodium tincture.
Pengerjaan persiapan cite operasi ini dilakukan di ruang persiapan operasi (di luar ruang
operasi).
Kemudian dilakukan pemberian premedikasi menggunakan atropine sulfate
dengan jumlah obat yang diberikan 1,5 ml yang diinjeksikan secara subkutan, dan
dilanjutkan dengan pencukuran bulu di daerah vulva menggunakan gunting dan silet.
Setelah daerah vulva selesai dicukur, dilakukan pemasangan infus melalui intravena. 15
menit setelah pemberian premedikasi, pasien dianestesi menggunakan Xylazine dengan
jumlah obat yang diberikan 1 ml dan ketamine dengan jumlah obat yang diberikan 0,7 ml
12
yang diinjeksikan secara intravena melalui saluran infus. Ketika pasien telah memasuki
fase anestesi, maka dilanjutkan dengan pemasangan endothrakeal tube untuk
memasukkan gas isofluran sebagai penjaga anastesi (memperpanjang durasi anastesi) dan
setelah itu pasien diposisikan dorso recumbency dan ditutup dengan kain drape, kemudian
pada daerah/site operasi didesinfeksi menggunakan Betadine.

4) Persiapan Operator
Untuk dapat melakukan operasi dengan benar, maka seorang operator harus memiliki
kompetensi berikut ini:
a) Memahami prosedur operasi
Operator yang tidak memahami prosedur operasi yang akan dilaksanakan tentu
tidak dapat melaksanakan operasi dengan benar. Oleh karena itu pemahaman
terhadap prosedur atau teknik operasi mutlak dimiliki seorang operator.

b) Dapat memprediksi hal-hal yang akan terjadi baik selama operasi


berlangsung maupun setelah operasi.
Karena itu pemahaman terhadap kondisi pasien yang akan dioperasi harus
diiliki dan harus mengatisipasi bila hal-hal yang tidak diinginkann terjadi, misalnya
perdarahan atau hewan mengalami shock.

c) Dapat memperkirakan (prognosis) hasil operasi


Tergantung jenis operasinya, prognosis, operasi bisa fausta, infausta dan
dubius. Apabila potensi komplikasinya minim dan pasien sembuh seperti semula
maka prognosisnya adalah fausta; bila kemungkinan sembuh sangat besar tetapi
terjadi beberapa komplikasi maka prognosisnya fausta; bila kemungkinan terjadi
komplikasi dan pasien sembuh dalam waktu yang lama atau atau tidak sembuh maka
prognosisnya adalah dubius dan bila pasien kemungkinan mengalami komplikasi
yang hebat dan tidak sembuh atau bahkan bisa mati selama atau setelah operasi, maka
prognosisnya infausta.

d) Personal hygiene
Seorang operator sebelum melakukan operasi terlebih dahulu harus melakukan
pembersihan diri, ia harus dalam kondisi sehat, mencuci tangan dengan sabun
antiseptic, memakai baju operasi, sarung tangan, masker dan penutup kepala.

13
e) Siap fisik dan mental
Operasi umunya dilakukan dengan berdiri dalam jangka waktu tertentu sesuai
jenis operasinya. Disamping itu selama operasi bisa terjadi hal-hal yang tidak terduga
seperti pendarahan, hewan mengalami shock atau bahkan mati. Untuk menghadapi
hal-hal tersebut diperlukan kesiapan fisik dan mental.

f) Terampil
Agar hasil operasi bisa sembuh dengan baik, maka operator dituntut harus
terampil dalam melakukan operasi dan menjahit luka operasi.

3.2.2 Operasi
Setelah tahapan pre-operasi selesai dilakukan, hewan diletakkan pada posisi
dorsal recumbency. Kasus Venereal sarcoma pada anjing betina dapat dilakukan
pembedahan dengan metode episiotomy
Pengangkatan tumor dilakukan secara hati-hati sehingga tidak menimbulkan
trauma pada urethra dan dapat mengangkat massa tumor semaksimal mungkin. Setelah
prosedurnya selesai, dilakukan penyiraman cairan butok untuk mebersihkan luka dari
ulat, lalu dilakukan penutupan pada daerah tumor yang telah pecah dengan membuat
insisi baru dengan menggunakan dua lapis jahitan simple interupted, yaitu pada bagian
subcutan dan bagian kulit. Daerah operasi dibersihkan, lalu bekas luka insisi diolesi
antiseptik (betadine) dan diberi enbatic serbuk.

3.2.3 Pasca Operasi


Setelah tindakan operasi pengangkatan massa tumor selesai dilakukan, pasien
diberikan antibiotik penisilin-streptomisin secara intramuskular sebanyak 1,3 ml untuk
mencegah adanya infeksi sekunder. Dan diinjeksikan ivermectin 0,4 secara subcutan.
Kemudian setalah 3 hari setelah oprasi, dilakukan kemoterapi dengan
menyuntikkan vincristine 0,4 ml secara intravena. Dan diberikan 5 kali dengan interval
satu minggu. Pemberian antibiotik amoxan 500 mg dengan pemberian 3 kali sehari 1
capsul selama lima hari. Amoksan (antibiotik) diberikan untuk mencegah infeksi bakteri.
Analgesik asam mefenamat 500 mg dengan pemberian 2 kali sehari 1/2 tablet secara per-
oral selama lima hari. Asam mefenamat diberikan sebagai analgesik yang juga memiliki
efek anti-inflamasi. Selain dilakukan treatment dengan pemberian obat, dilakukan juga
treatment lainya. Adapun treatmen yang dilakukan adalah dengan mengurangi gerak,
14
menjaga kebersihan daerah tempat tidurnya, pemasangan Elizabeth collar, dan
perlindungan terhadap luka jahitan dengan pemberian oxytetrasiclin salep 3%.

15
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Anjing yang telah dioprasi sekarang dalam keadaan sehat dan proses pembedahan
berjalan dengan lancar. Luka insisi sembuh setelah 7 hari pasca operasi. Cepatnya proses
penyembuhan luka insisi ini ditunjang oleh spemberian antibiotik selama 4 hari. Berikut tabel
kondisi kesehatan kucing pasca operasi.
Hari/Tgl - Terapi Keadaan Hewan
1 Asam mefenamat 500mg Keadaan fisik lemas, nafsu makan minum
28/4/2017 (0,5tab) kurang bagus, luka bekas oprasi mengalami
Amoxan 500mg (1 cap) peradangan dan tampak basah.
2 Asam mefenamat 500mg Keadaan fisik lemas, nafsu makan buruk,
29/4/2017 (0,5 tab) minum sudah mulai bagus, luka bekas oprasi
Amoxan 500mg (1 cap) mengalami peradangan dan basah
3 Asam mefenamat 500mg Sudah lincah, nafsu makan dan minum sudah
30/4/2017 (0,5 tab) mulai bagus, luka bekas oprasi mengalami
Amoxan 500mg (1 cap) peradangan tetapi lebih kecil dari sebelumnya
Vincristin 0,4 ml dan udah mengering, jahitan masih terlihat.
4 Asam mefenamat 500mg Sudah lincah, nafsu makan dan minum sudah
1/5/2017 (0,5 tab) mulai bagus, masih terlihat radang, jahitan
Amoxan 500mg (1 cap) masih terlihat.
5 Asam mefenamat 500mg hewan sudah lincah, makan minum bagus,
2/5/2017 (0,5 tab) masih terlihat radang, jahitan masih terlihat.
6 Asam mefenamat 500mg hewan sudah lincah, makan minum bagus,
3/5/2017 (0,5 tab) masih terlihat radang, jahitan masih terlihat.
7 Asam mefenamat 500mg hewan sudah lincah, makan minum bagus,
4/5/2017 (0,5 tab) masih terlihat radang, jahitan masih terlihat.
8 - hewan sudah lincah, makan minum bagus,
5/5/2017 masih terlihat radang, jahitan sudah tidak terlalu
terlihat.
9 - hewan sudah lincah, makan minum bagus,
6/5/2017 masih terlihat radang, jahitan sudah tidak terlalu
terlihat.
10 Vincristin 0,4 ml hewan sudah lincah, makan minum bagus,
7/5/2017 masih terlihat radang, jahitan sudah tidak
terlihat
11 - hewan sudah lincah, makan minum bagus, masa
8/5/2017 tumor tidak terlihat tumbuh

Selain dilakukan pemeriksaan hewan secara umum termasuk signalement, anamnesa,


dan status present juga dilakukan pemeriksaan laboratorium. Adapun pemeriksaan
laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan hematologi dan biopsi untuk pemeriksaan
histopatologi jaringan massa tumor. Berdasarkan hasil laboratorium penunjang, jenis tumor

16
yang ditemukan pada hewan kasus adalah Venereal sarcoma, sehingga diperlukan penanganan
yang lebih lanjut yaitu kemoterapi dengan vincristine.
Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan peningkatan nilai lymfosit, eosinofil, sel
darah merah, dan haemoglobin, sedangkan untuk pemeriksaan darah yang lain semua
menunjukkan normal (hasil pemeriksaan darah terlampir). Sedangkan untuk pemeriksaan
histopatologi menunjukkan bahwa hewan menderita tumor ganas yaitu Venereal sarcoma.
Adanya sel-sel tumor berupa sel-sel limfoblas, ukurannya homogen, tumor bersifat infiltratif,
banyak ditemukan sel-sel yang mengalami mitosis, dan ditemukan banyak stroma (hasil
pemeriksaan histopatologi terlampir).
Berdasarkan pemeriksaan fisik, sejarah lingkungan, pemeriksan klinis, hasil
laboratorium, dan pengamatan pasca operasi, hewan kasus telah didiagnosa menderita tumor
ganas yaitu Venereal sarcoma. Prognosa dari penyakit Venereal sarcoma ini termasuk dubius.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan terdiri dari faktor lokal, faktor tubuh
hewan itu sendiri, dan faktor luar. Faktor lokal terdiri dari keadaan vaskularisasi jaringan, jenis,
jumlah, dan virulensi bakteri serta lamanya serangan oleh bakteri tersebut, ada tidaknya benda
asing di tempat tersebut. Faktor umum adalah pemakaian obat-obatan tertentu yang
menghambat koagulasi protein, atau hewannya yang selalu gelisah. Usia hewan, gizi buruk, dan
faktor kekebalan yang tidak memadai akan memperlambat resolusi radang (Ibrahim, 2000).

4.2 Pembahasan
Pemeriksaan darah dilakukan sebelum tindakan operasi. Berdasarkan hasil pemeriksaan
darah hewan kasus tersebut mengalami peningkatan limfosit 34% (10-30%), hal ini
kemungkinan terjadi karena infeksi virus atau terjadi saat pasca vaksinasi. Selain itu infeksi
kronis suatu penyakit juga mengakibatkan limfositosis (Berata at al,. 2011).
Kenaikan eosinofil 14,4% (1-10 %) dikarenakan adanya infeksi parasit yaitu adanya
miasis pada bagian vagina. Selain itu, penyebab terjadinya kenaikan eosinofil pada kasus ini
karena hewan kasus juga mengalami infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri, sehingga
hasil dari pemeriksaan neutrofil tinggi. Hal ini dapat terjadi karena massa tumor pada hewan
kasus sudah mencapai bibir vulva sehingga vagina menjadi terbuka dan infeksi bakteri akan
dapat terjadi (Haper et al., 1979).
Kenaikan sel darah merah 8,95 (5,5 8,5 x 106/mm3) merupakan hasil dari
pemberian suplement penambah darah yang diberikan 2 minggu sebelum oprasi. Namun, untuk
hasil pemeriksaan darah yang lain semuanya menunjukkan kondisi normal. (Berata at al,. 2011).
Peneguhan diagnosa dilakukan dengan pemeriksaan biopsi dari jaringan tumor yang
dikirim ke Laboratorium Patologi Balai Besar Veteriner Denpasar untuk dilakukan pengujian
17
laboratorium. Hasil dari pengujian laboratorium menyatakan bahwa anjing yang bernama Casy
menderita Venereal sarcoma (hasil pemeriksaan terlampir). Hasil perkembangan kesembuhan
post-operasi anjing kasus dari hari ke hari mengalami peningkatan.
Veneral sarcoma disebabkan oleh terjadinya transplantasi tumor dari satu host rentan ke
yang lain dengan inokulasi sel-sel tumor melalui perkawinan (Utpal dan Arup Kumar, 2000).
Tindakan yang terbaik pada kasus anjing yang mengalami Venereal sarcoma adalah dengan
pembedahan untuk mengangkat massa tumor sebelum bermetastasis pada jaringan yang lainya.
Anjing dengan kasus Venereal sarcoma awalnya menunjukan keluarnya leleran
berdarah dari vulva. Kejadian ini kurang mendapatkan perhatian khususnya dari pemilik.
Menurut keterangan pemilik, tanda tumor baru teramati ketika keluar leleran darah dan massa
tumor semakin membesar. Namun, saat itu pemilik sudah melakukan pengangkatan massa
tumor hanya saja tidak dilakukan kemoterapi. Sehingga setelah 3 bulan pasca operasi tumor
tersebut tumbuh kembali.
Pada kasus ini jalan terbaik ialah melalui operasi pembedahan yang dilakukan pada 27
April 2017 bertujuan untuk mengangkat massa tumor sebelum menyebar lebih jauh dan mencari
serta menghentikan sumber perdarahan. Awalnya tumor di angkat pada bagian mukosa vagina
saja, kemudian setelah di palpasi lebih lanjut ke arah caudal ternyata masih terdapat tumor.
Sehingga dilakukan incisi pada vagina sepanjang 3cm. Pada saat pengangkatan massa tumor
terjadi perdarahan, dimana perdarahan yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah tepi akibat
tekanan dari tumor tersebut, sehingga tindakan dalam menghentikan perdarahan dengan ligasi
sangat diperlukan. Kesulitan yang tampak ialah dalam menemukan serta menghentikan
perdarahan yang terjadi, dimana perdarahan terjadi tidak pada lokasi insisi melainkan lebih ke
arah cranial (Sudisma dkk., 2006).
. Selanjutnya dilakukan penutupan pada daerah yang diinsisi, dimana subkutan ditutup
dengan jahitan simple interrupted, kulit dijahit dengan simple interrupted dengan chromic cat
gut 3/0. Kemudian untuk pengobatan luka incisi diberikan antibiotik Penicillin-Streptomycin
secara intramuscular sebanyak 1,3 ml untuk mencegah adanya infeksi sekunder. Serta
penetesan epineprin dibagianluka sebanyak satu ampul (1 ml) untuk menghentikan perdarahan.
Selanjutnya untuk resep pulang diberikan antibiotik amoxan 500 mg dengan pemberian 3 kali
sehari 1 tablet selama 4 hari untuk mencegah infeksi kuman dan analgesik asam mefenamat
500 mg sebagai anti inflamasi dengan pemberian 2 kali sehari setengah tablet selama 7 hari.
Oxytetraxyclin salep yang dioleskan pada daerah jahitan sebagai antibiotik untuk mencegah
infeksi. Kemoterapi dengan menggunakan vincristine diberikan dalam selang waktu seminggu
dengan dosis 0,4 ml secara intra vena. Lama pengobatan diberikan 5 kali.

18
Penanganan pasca operasi merupakan bagian yang sangat penting, dimana stadium
kesembuhan luka akibat insisi dimonitor dengan baik, dan untuk mengurangi infeksi sekunder
dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik. Kemoterapi dengan vincristine pada anjing
dilaporkan dapat sembuh 35 hari pasca operasi (Tella et al., 2004). Tumor akan muncul kembali
pasca operasi pembedahan jika tidak dilakukan kemoterapi dengan vincristine (Boscos and
Ververidis, 2004). Kesembuhan pada hewan kasus pasca operasi dan kemoterapi secara total
terjadi pada hari ke-10 dengan kesembuhan yang sangat bagus. Perubahan kondisi hewan kasus
pasca operasi sangat baik, tidak terlihat tanda-tanda terjadi kekambuhan sehingga operasi ini
dinyatakan berhasil.

19
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Adapun simpulan yang dapat ditarik adalah :
a. Berdasarkan hasil anamnesa, tanda klinis, dan ditunjang oleh pemeriksaan
laboratorium hematologi dan histopatologi, hewan kasus menunjukkan diagnosa
definitif Venereal sarcoma;
b. Tindakan pembedahan dilakukan untuk mengangkat serta menghilangkan massa
tumor dengan tujuan supaya tumor tidak bermetastasis pada jaringan lainya. Serta
tindakan kemoterapi diberikan dengan menggunakan vincristine guna melengkapi
proses penyingkiran massa tumor.
c. Pada kasus Venereal sarcoma ini, hewan kasus menunjukkan kondisi sembuh pada
hari ke-10 pasca operasi dengan kemoterapi sebanyak 2 kali, dan untuk penyembuhan
total, maka kemoterapi akan dilanjutkan hingga 5 kali.

5.2 Saran
Saran yang bisa deberikan dalam laporan ini adalah :
a. Hewan yang mengalami Venereal sarcoma harus segera dilakukan tindakan operasi
agar sel tumor tidak menyebar ke jaringan atau organ lain.
b. Setelah dilakukan operasi pengangkatan massa tumor sebaiknya dilanjutkan dengan
kemoterapi menggunakan vincristine injeksi. Karena Venereal sarcoma merupakan
jenis tumor ganas yang sangat mudah bermetastasis ke jaringan lain disekitarnya.
c. Bekas kandang/tempat hewan yang mengalami veneral sarcoma sebaiknya disterilkan
dengan desinfektan dan alkohol.
d. Selalu menjaga kebersihan kandang dan tempat peliharaan hewan
e. Pisahkan hewan yang sakit dan yang sehat agar terhindar dari penularan sebuah
penyakit.

20
DAFTAR PUSTAKA

21
LAMPIRAN

22