Anda di halaman 1dari 27

1.

LOKASI JEMBATAN
Lokasi jembatan terletak di desa oeteta, kecamatan sulamu, kabupaten kupang. Dengam,
lebar sungai 12 m meter.

Gambar 2.1 Peta Lokasi Jembatan

2. PERENCANAAN JEMBATAN
Dalam proses perencanaan jembatan, setelah dilakukan pengumpulan data dilanjutkan
dengan dilakukan analisis untuk penentuan bentang maupun kelas jembatan dan lain-lain serta
melakukan perhitungan detail jembatan.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam perancangan jembatan ini meliputi :
1. Analisis Lalu Lintas
2. Analisis Hidrologi
3. Analisis Tanah
1.1. Analisis Lalu Lintas
Besarnya volume lalu-lintas yang ada sangat mempengaruhi lebar efektif jembatan,
Perbandinganbanyaknya lalu lintas yang melewati jalur jalan tersebut akan menjadi dasar
perancangan geometri jalan dan lebar rencana jembatan.

1.1.1. Analisis Data Lalu Lintas


Data sekunder lalu lintas ruas jalan daerah sabu diperoleh dari tahun 2007-2016
adalah seperti tabel di bawah ini:

Tabel 1.1 Model LHR Jalan dan Jembatan


Tahun Sepeda Mobil Pick Up Pick Bus Truck Truck Truck Jumlah
Motor Penumpang Up Ringan Sedang Berat
Barang
MC LV LV LV HV HV HV HV
2007 1900 802 170 116 30 15 12 4 5056
2008 2003 810 177 123 34 18 19 6 5198
2009 2050 813 189 134 36 24 21 8 5284
2010 2111 828 200 138 40 29 24 9 5389
2011 2165 832 211 145 41 35 25 10 5475
2012 2194 845 232 151 43 40 31 12 5560
2013 2287 856 240 160 48 42 35 14 5695
2014 2313 870 255 168 52 46 38 16 5772
2015 2677 878 267 181 55 48 44 20 6185
2016 2820 890 270 184 58 52 46 22 6358

Model Sumber : Hasil Perhitungan


Tabel 1.2. Satuan Mobil Penumpang
Jumlah Kendaraan
jenis 2007 2008 2009 2010 2011
No SMP
kendaraan
kend SMP kend SMP kend SMP kend SMP kend SMP
1 Kend. Ringan 1 1088 1088 1110 1110 1136 1136 1166 1166 1188 1188
(LV)
2 Kend. Berat 1.3 61 79.3 77 100.1 89 115.7 102 132.6 111 144.3
(MHV)
3 Sepeda Motor 0.5 1900 950 2003 1001.5 2050 1025 2111 1055.5 2165 1082.5
(MC)
Jumlah 3049 2117.3 3190 2211.6 3275 2276.7 3379 2354.1 3464 2414.8

Tabel 1.3. Satuan Mobil Penumpang


Jumlah Kendaraan
No jenis kendaraan SMP 2012 2013 2014 2015 2016
kend SMP kend SMP kend SMP kend SMP kend SMP
1 Kend. Ringan 1 1228 1228 1256 1256 1293 1293 1326 1326 1344 1344
(LV)
2 Kend. Berat 1.3 126 163.8 139 180.7 152 197.6 167 217.1 178 231.4
(MHV)
3 Sepeda Motor 0.5 2194 1097 2287 1143.5 2313 1156.5 2677 1338.5 2820 1410
(MC)
Jumlah 3548 2488.8 3682 2580.2 3758 2647.1 4170 2881.6 4342 2985.4

Model Sumber : Hasil Perhitungan


1.1.2. Pertumbuhan Lalu Lintas
Perkiraan pertumbuhan lalu lintas dapat dihitung dengan menggunakan dua
macam metodeyaitu:
1) Metode Eksponensial
Perhitungan pertumbuhan lalu lintas dengan metode eksponensial dihitung
berdasarkan LHRT, LHRo serta umur rencana (n). Rumus umum yang dipergunakan
adalah
LHRT = LHRo (1+i)n
Dimana :
LHR = LHR akhir umur rencana
LHRo = LHR awal umur rencana
N = umur rencana (tahun)
i = angka pertumbuhan
Dengan menggunakan data sekunder maka nilai pertumbuhan (i) dapat dihitung
dan hasil perhitungannnya ditampilkan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

Tabel 1.3. Model Perhitungan LHRT Eksponesial


LHRo LHRT i Tipe i
i Tipe i
No Tahun LHR n 1x Rumus
1 Rumus
(smp/jam) (smp/jam) 100 x 100
1 2007 2117.3 - - - 0 0 0 0
2 2008 2211.6 2117.3 2211.6 1 0.043 4.264 0.045 4.454
3 2009 2276.7 2211.6 2276.7 1 0.029 2.859 0.029 2.944
4 2010 2354.1 2276.7 2354.1 1 0.033 3.288 0.034 3.400
5 2011 2414.8 2354.1 2414.8 1 0.025 2.514 0.026 2.578
6 2012 2488.8 2414.8 2488.8 1 0.030 2.973 0.031 3.064
7 2013 2580.2 2488.8 2580.2 1 0.035 3.542 0.037 3.672
8 2014 2647.1 2580.2 2647.1 1 0.025 2.527 0.026 2.593
9 2015 2881.6 2647.1 2881.6 1 0.081 8.138 0.089 8.859
10 2016 2985.4 2881.6 2985.4 1 0.035 3.477 0.036 3.602
Pertumbuhan
(i) = 3.52%

2) Metode Regresi Linear


Perkiraan pertumbuhan lalu lintas menggunakan regresi linier merupakan metode
penyelidikan data dan statistik. Analisis tingkat pertumbuhan lalu lintas dengan meninjau
data LHR yang lalu, yaitu dari tahun 2007 sampai tahun 2016 lebih jelas tentang
pertumbuhan lalu lintas pada ruas jalan tersebut, dapat dilihat pada tabel hubungan antara
tahun dan LHR.

Tabel 4. Model Perhitungan Regresi Linear

LHR (smp)
Tahun X Y xbar = x - xr ybar= y - yr xbar^2 xbar . Ybar
2007 1 2117.3 -4.5 979.850 20.25 -4409.325
2008 2 2211.6 -3.5 1074.150 12.25 -3759.525
2009 3 2276.7 -2.5 1139.250 6.25 -2848.125
2010 4 2354.1 -1.5 1216.650 2.25 -1824.975
2011 5 2414.8 -0.5 1277.350 0.25 -638.675
2012 6 2488.8 0.5 1351.350 0.25 675.675
2013 7 2580.2 1.5 1442.750 2.25 2164.125
2014 8 2647.1 2.5 1509.650 6.25 3774.125
2015 9 2881.6 3.5 1744.150 12.25 6104.525
2016 10 2985.4 4.5 1847.950 20.25 8315.775
total 55 11374.5 0 13583 82.5 7553.6

Perhitungan :
55
Xr = = 10 = 5.5

11374,5
Yr = = = 1137,45
10

y = n.a +b.
11374,5 = 10.a + b.0
11374,5
a= = 1137,45
10

xy = a + b2
7553,6 = 0 + 82.5.b
7553,6
b= = 91,56
82.5

i = x 100 %
91,56
i = 1137,45 x 100 %

= 8.05 %
Berdasarkan kedua metode diatas, dipilih nilai I yang terbesar yaitu i = 8.05 %.

Misalkan dari hasil survey didapat arus jam puncak di jalan terjadi pada pukul
07.00 - 09.00 sebesar 105 smp/jam dengan persentase arah tujuan kendaraan 48 %,
sedangkan arus jam puncak di jalan sebesar 115 smp/jam dengan persentase arah tujuan
kendaraan 52 %.
Arus jam puncak = (48% x 105) + (52% x 115)
= 110,2 smp/jam
Berdasarkan MKJI 1997 untuk jalan luar kota, factor k diambil 0,11

Jadi, LHRT = ( )

110
= ( 0,11) = 918,33 smp/jam

LHRT yang diperoleh dari perhitungan berdasarkan data primer adalah 918,33
smp/jam. Masa pembangunan selama 1 tahun, umur rencana 50 tahun. Maka LHR tahun
rencana (LHR 2067);
LHRT2067= 918,33 x (1 + 0,0805)51
= 47616,414 smp/jam
1.1.3. Penentuan Kelas Jalan
Untuk menentukan kelas jalan mengacu pada buku Standar Perencanaan Geometrik
untuk Jalan Perkotaan 2004 sebagai berikut :

Tabel 1.5. Fungsi dan Kalsifikasi Jalan

Sumber : Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, 2004

Berdasarkanan perhitungan LHR Tahun Rencana bahwa ruas jalan tersebut digolongkan
pada jalan Arteri Sekunder kelas 1 (LHRT rencana = 47616,414 smp/jam) > 20000 smp/jam.

Tabel 1.6. Kecepatan rencana

Sumber : Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, 2004


Berdasarkan tabel di atas, maka kecepatan rencana yang dipiih untuk jalan tipe Arteri
Sekunder yaitu 60 km/jam.

1.1.4. Kapasitas Jalan


Tabel 1.7. Lebar lajur jalan dan bahu jalan

Sumber : Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, 2004

Tabel 1.8. Lebar trotoar

Sumber : Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan, 2004

Direncanakan lebar lajur 3,60 meter. Rumus yang digunakan untuk menghitung kapasitas
jalan perkotaan berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997, adalah sebagai
berikut :
C = Co x FCw x FCSPx FCSF x FCCS
= 4500 x 0,93 x 1 x 0,94 x 1
= 3933,9
Di mana :
C = kapasitas (smp/jam)
Co =kapasitas dasar (smp/jam)
FCw =factor penyesuaian lebar jalur lalu lintas
FCSP =factor penyesuaian pemisah arah
FCSF =factor penyesuaian hambatan samping
FCCS = factor penyesuaian ukuran kota

1.1.5. Arus Jam Rencana (QDH)


QDH = k X LHRT
= 0,11 x 26141,50
= 2875,56 smp/hari
Di mana :
QDH = Arus jam puncak
k = 0,11 (MKJI 1997).
LHRT = lalu lintas harian rata-rata tahunan.

1.1.6 Derajat Kejenuhan (DS) pada Tahun Rencana


Dengan membndingkan kedua di atas :


DS =
= 2875,56
DS = = 0,73
3933,9

Dari hasil perhitungan nilai parameter tingkat kinerja jalan di atas, besarnya DS memenuh
ipersyaratan (DS ideal adalah 0,75), maka kondisi jalan dengan yang direncanakan masih
layak dipergunakan sampai umur rencana hingga tahun 2062. Klasifikasi Perencanaan Jembatan
dipergunakan jalan 2 lajur 2 arah tanpa median (2/2 UD) dengan kelas jalan arteri sekunder kelas
1, dan kecepatan rencana 60 km/jam.
Lebar Lajur = 2 x 3.60 m = 7.2 m
Lebar Trotoar = 2 x 1,50 m = 3,0 m
Lebar Bahu = 2 x 1.00 m = 2,0 m
Lebar Jembatan adalah = 12.2 m.
2. Analisa Hidrologi Untuk Jembatan
Data-data hidrologi yang diperlukan dalam merencanakan suatu jembatan antara lain
adalahsebagai berikut :
1. Peta topografi DAS
2. Peta situasi dimana jembatan akan dibangun
3. Data curah hujan dari stasiun pemantau terdekat
Data hidrologi diperlukan untuk mencari nilai debit banjir rencana yang kemudian
digunakan untukmencari clearence jembatan dari muka air tertinggi. Untuk lebih jelasnya data
hidrologi akandiolah menurut cara-cara berikut ini :

Gambar 1. Model Daerah Aliran Sungai


2.1. Analisa Curah Hujan
Data curah hujan yang didapat, dihitung curah hujan rencana dengan distribusi Gumbell.
Sebagai pendekatan analisis frekuensi curah hujan ini hanya dikhususkan pada curah hujan
maksimum dalam satu tahun. Dari data yang diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika,
curah hujan bulanan diambil dari data lima belas tahunan yaitu dari tahun 2001 2015 adalah
sebagai berikut :
Tabel 2.1. Curah Hujan Stasiun Klimatologi LAsiana Kupang

TAHUN JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOP DES
2001 49 0 118 0 1 5 3 0 0 0 113 40
2002 78 26 94 9 0 0 1 0 1 0 28 42
2003 101 59 43 9 0 4 2 0 0 0 5 102
2004 10 123 92 1 43 4 5 0 0 0 4 13
2005 16 52 34 20 0 0 0 1 0 9 63 105
2006 92 66 135 30 9 9 0 0 0 0 20 86
2007 41 81 43 13 10 34 1 4 0 14 16 67
2008 35 49 51 34 0 1 0 0 0 8 40 103
2009 64 62 239 3 1 0 9 0 10 0 29 49
2010 86 24 37 37 40 0 4 1 1 117 28 64
2011 52 46 48 38 37 0 2 0 0 0 25 48
2012 25 30 19 52.5 13 0 0 0 0 0 16.9 34
2013 120 45 41 12 25 32.3 3 0 0 1 34 87
2014 68 79 58 17 8 2 7 0 0 0 54 64
2015 56 36 34 23.6 0 1.3 0 0 0 0 24.4 42.4
JUMLAH 893 778 1086 299.1 187 92.6 37 6 12 149 500.3 946.4
RATA-RATA 59.53 51.87 72.40 19.94 12.47 6.17 2.47 0.40 0.80 9.93 33.35 63.09

Sumber : badan Meteorologi dan Geofisika


()^1
Sx = 1

Data yang digunakan untuk menghitung curah hujan rencana dengan Distribusi Gumbell
ini adalahdata hujan selama 15 tahun dari tahun 2000 2010. Debit banjir rencana ditentukan
untuk periode ulang 50 tahun.
Rumus Subarkah 1980 :
Kr = 0,78 x {-ln (1 (1/Tr)} 0,45
Tr 50 tahun
Kr = - 0,430
a. Untuk Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang
R50 = R + Kr x Sx
= 105 + (-0,43) x 44
= 86.175 mm
2.2. Analisis Debit Banjir (Q)
Analisis debit banjir diperlukan untuk mengetahui besarnya debit banjir pada periode
ulangtertentu. Periode ulang debit banjir yang direncanakan adalah 50 tahunan (QTr=Q50).
Berikut ini adalah data sungai , yang akan digunakan dalam perhitungan banjir rencana :

Gambar 2. Model elevasi sungai bagian hulu


Gambar 3. Model elevasi sungai bagian hilir
Gambar 4. Model DAS

Luas DAS (A) = 27,3071525 km2 =27307152,5 m2


panjangAliran Sungai (L) = 9,3574078 km =9357,4078 m
Perbedaan Ketinggian (H) = 191 m
Kemiringan Dasar Sungai (i) = 0,02041164
Perhitungan banjir rencana akan menggunakan formula Rational Mononobe:

Kecepatan aliran (V) = 72 [ ]0,6


= 72 [ ]0,6= 1,95 m /det


Time concentration (TC) =

9357,4078
= = 1342,44 detik = 0,373 jam
1,95
24
Intensitas hujan (I) = [ ]0,67
24
370,98 24
= [ ]0,67
24 0,373
= 251,72 mm/jam
Debit Banjir (QTr) = 0,278 (C.I.A)
= 0,278 (0,6 x 251,72 x 27,31)
= 1146,5 m3/detik

2.3. Analisis Tinggi Muka Air Banjir


Pada Analisis ini yang dihitung adalah tinggi muka air banjir yang dihasilkan oleh debit
banjir 50tahunan untuk mengetahui pengaruh tinggi muka air banjir rencana yang pada akhirnya
dapatdiperhitungkan tinggi jagaan (freeboard) dan tinggi jembatan itu sendiri.
Gambar 5. Model Penampang Sungai

1
Q = 2/3 1/2


R =

Dimana :
R = jari jari hidrolis
S = kemiringan saluran (sloope) = 0,00244
A = luas penampang basah
P = keliling basah
n = koefisien manning = 0,017 (keadaan saluran berbatu)
dengan menggunakan perhitungan hidrolika maka diperoleh:
n1 = 0,017
A1 = 6,75 (h 3)
P1 = 6,75 + h 3
1 6,75 (h 3)
R1 = =
1 6,75 + h 3
S1 = 0,00244
1 6,75 (h 3) 2/3
Q1 = { } 0,002441/2 {6,75 (h 3)}
0,017 6,75 + h 3

n2 = 0,017
A2 = 0,5 (2h 3)
P2 = 4,242
1 0,5 (2h 3)
R2 = =
1 4,242
S2 = 0,00244
1 0,5 (2h 3) 2/3
Q2 = { } 0,002441/2 {0,5 (2h 3)}
0,017 4,242

n3 = 0,017
A3 = 12 h
P3 = 12
1 12 h
R3 = =
1 12
S3 = 0,00244
1 12 h 2/3
Q3 = { } 0,002441/2 {12 h}
0,017 12

n4 = 0,017
A4 = 0,5 (2h 1) 1,25
P4 = 1,601
1 0,5 (2h 1) 1,25
R4 = =
1 1,601
S4 = 0,00244
1 0,5 (2h 1) 1,25 2/3
Q4 = { } 0,002441/2 {0,5 (2h 1) 1,25}
0,017 1,601

n5 = 0,017
A5 = 0,5 (2h 3) 3
P5 = 3,605
1 0,5 (2h 3) 3
R5 = =
1 3,605
S5 = 0,00244
1 0,5 (2h 3) 3 2/3
Q5 = { } 0,002441/2 { 0,5 (2h 3) 3}
0,017 3,605

n6 = 0,017
A6 = 0,5 (2h 7) 7
P6 = 7,071
1 0,5 (2h 7) 7
R6 = =
1 7,071
S6 = 0,00244
1 0,5 (2h 7) 7 2/3
Q6 = { } 0,002441/2 { 0,5 (2h 7) 7}
0,017 7,071

n7 = 0,017
A7 = 0,5 (2h 7,9) 8
P7 = 8 + h 7,9
1 0,5 (2h 7,9) 8
R7 = =
1 8+h 7,9
S7 = 0,00244
1 0,5 (2h 7,9) 8 2/3
Q7 = { } 0,002441/2 { 0,5 (2h 7,9) 8}
0,017 8+h7,9

Debit total saluran (Q) = Q1 + Q2 + Q3 + Q4 + Q5 + Q6 + Q7


1146,5 m3/detik = Q1 + Q2 + Q3 + Q4 + Q5 + Q6 + Q7
Dengan coba-coba didapatkan nilai :
h = 6,00 m
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka minimal tinggi jembatan dari dasar sungai
adalah:
tinggi jembatan = h + tinggi jagaan
= 6,00 + 1,50
= 7,50 m

2.4. Analisis Terhadap Penggerusan Dasar Sungai


Penggerusan (scouring) terjadi di dasar sungai di bawah abutment akibat aliran sungai
yang mengikis lapisan tanah dasar sungai. Dalamnya penggerusan dihitung dengan
menggunakan metode Lacey. Analisis penggerusan sungai diperhitungkan untuk keamanan dari
adanyagerusan aliran sungai.
Jenis tanah dasar adalah lanau
Dengan factor lanau (f) = 1Type equation here.
Bentang jembatan (L) = 45 m
Lebar alur sungai = 15 m


Untuk L < W d = H x( )0,6


Untuk L > W d = 0,473 x( )0,33

Dimana:
L = bentang jembatan (m)
W = lebar alur sungai (m)
d = kedalaman gerusan normal dari muka air banjir maksimum
H = tinggi banjir rencana
Q = debit maksimum (m3/det)
f = factor lempung

Tabel 9. Faktor Lempung Lacey Berdasarkan Kondisi Tanah


Diameter Faktor
No Jenis Material
(mm) (f)
Lanau sangat halus (very fine
1 silt) 0,052 0,40
2 Lanau halus (fine silt) 0,120 0,80
3 Lanau sedang (medium silt) 0,233 0,85
4 Lanau (standart silt) 0,322 1,00
5 Pasir (medium sand) 0,505 1,20
6 Pasir kasar (coarse sand) 0,725 1,50
7 Kerikil (heavy sand) 0,920 2,00

Tabel 10. Kedalaman Penggerusan


Penggerusan
No Kondisi Aliran Maksimal
1 Aliran lurus 1,27 d
2 Aliran belok 1,50 d
Aliran belok
3 kanan 1,75 d
4 Aliran sudut lurus 2,00 d
5 Hidung pilar 2,00 d

Rumusan yang dipakai untuk menganalisis gerusan sebagai berikut:



Untuk L > W d = 0,473 x( )0,6

Dimana:
d = kedalaman gerusan normal dari muka air banjir (m)
Q = debit maksimum (m3/det)
f = factor lempung yang merupakan keadaan tanah dasar

Dari rumus Lacey :


1146,5 0,33
d = 0,473 x( )0,33 = 0,473 x( ) = 4,836 m
1
Karena kondisi aliran sungai wolowona adalah lurus, maka:
Kedalaman penggerusan maximum = 1,27 d (Tabel 10)
= 1,27 x 4,836
= 6,14 m dari muka air banjir
Kedalaman penggerusan yang trjadi = d h
= 4,836 m 6,00 m
= - 1,164 m
dmaks = 1,27 x 1,164 = 1,478 m
jadi, kedalaman scouring maksimum adalah - 1,478 m dari muka air tanah (dasar sungai).

3. ANALISA TANAH JEMBATAN


Analisis tanah dimaksudkan untuk mengetahui sifat fisik dan teknis tanah di lokasi untuk
menentukan jenis pondasi yang sesuai dengan keadaan tanah pada jembatan. Pengetahuan yang
lengkap mengenai karakteristik tanah dimana akan dibangun suatu bangunan adalah hal yang
sangatbpenting mengingat seluruh beban baik beban sendiri bangunan maupun beban layan
seluruhnya akandisalurkan ke tanah melalui pondasi.
Dalam proyek bangunan sipil, hampir tidak ada dua tempat yang memiliki karakteristik
tanahyang persis sama. Oleh karena itu, untuk bangunan bangunan yang ikategorikan sebagai
bangunanberat adalah mutlak dilakukan penyelidikan tanah untuk memastikan agar bangunan
tersebut nantinyadapat berfungsi dengan baik dan stabil.
Pekerjaan sondir yaitu pekerjaan untuk mengetahui tahanan conus (conus resistance) yaitu
denganmenggunakan alat sondir berupa sebuah kerucut dari besi yang ditekan ke dalam tanah
pada titik-titiktertentu yang sudah ditentukan dengan gaya tertentu yang dapat dibaca skalanya
untuk setiap jenisdan kedalaman tanah. Pekerjaan sondir dilakukan pada dua titik sondir. Pada
pekerjaan sondir alatyang dipergunakan adalah sondir mesin hidrolis tipe Dutch Cone
Penetrometer dengan kapasitas10,00 ton dan tahanan konus (cone resistance) maksimum qc =
700,00 kg/cm 2 . Penyelidikan tanahdilakukan minimal tiga titik uji sondir yaitu SD1, SD2, dan
SD3.
Tabel 11. Nilai Conus Resistance dan Total Friction pada Pekerjaan Sondir
Conus
No Total Resitance Total Friction
Titik Kedalaman
(kg/cm2) (kg/cm)
SD 1 12 m 1 356
SD 2 12 m 3 332
SD 3 12 m 1 220
Model Sumber: Hasil Pengujian
Penentuan jenis pondasi dilihat dari kedalaman lapisan tanah pendukung. Bentuk alternative
pondasi tertera pada tabel di bawah ini:
Tabel 12. Jenis Pondasi Berdasarkan Kedalaman Lapisan
Jenis Pondasi Kedalaman Lapisan Pendukung
Pondasi langsung 0-2m
pondasi sumuran 2 - 15 m
pondasi tiang beton 15 - 60 m
Pondasi tiang baja 70 - m
Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa tanah keras pada SD1, SD2 dan
SD3 terletak padakedalaman - 12,00 m,maka sebaiknya pondasi yang digunakan yaitu pondasi
sumuran.
BAB III
PENUTUP

Analisa data hidrologi dan karakter/perilaku aliran air pada bangunan air yang ada(sekitar
jembatan), guna keperluan analisis hidrologi, penentuan debit banjir rencana (elevasimuka air
banjir), perencanaan drainase dan bangunan pengaman terhadap gerusan, river training (pengarah
arus) yang diperlukan serta penentuan lebar dan tinggi jembatan yangaman terhadap material
bawaan arus sungai ataupun penggerusan pada daerah abutmentdan pilar jembatan.
Analisa Pergerakan Lalu lintas dibutuhkan untuk menentukan besarnya arus lalu
lintasyang dilayani oleh jembatan selama umur rencana, dimana analisa lalu lintas harus
dapatdiprediksi besarnya sesuai umur rencana Jembatan agar selama pelayanan jembatan
tidakterjadi penyempitan arus lalu lintas pada area jembatan atau lebar lajur jembatan masih
dapatmenampung pergerakan arus lalu lintas tanpa mengalami kemacetan.
Analisa Mekanika tanah dan geologi dilakukan untuk mengetahui kedalaman
lapisanstabil sebagai dudukan pondasi atau pilar jembatan tanpa mengalami penurunan atau
mampumenahan beban beban jembatan yang didistribusikan ke lapisan tanah keras.