Anda di halaman 1dari 14

VULKANOSTRATIGRAFI

DAERAH BANDAR DAWUNG DAN SEKITARNYA,


KECAMATAN TAWANGMANGU, KABUPATEN KARANGANYAR,
PROVINSI JAWA TENGAH

Muhammad Ary Ismoeharto1,


Conradus Danisworo2 dan Mahap Maha2

1
Mahasiswa Teknik Geologi, UPN Veteran Yogyakarta
2
Staff Pengajar Teknik Geologi, UPN Veteran Yogyakarta

Alamat : Dusun Jodag RW 011 RT 004 Kelurahan Sumberadi Kecamatan Mlati


Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
E-mail: muhammadaryismoeharto@gmail.com

ABSTRAK
Daerah penelitian terletak di daerah Bandar Dawung dan sekitarnya, Kecamatan
Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada
koordinat 509000 mE 514000 mE dan 9151500 mN 9156500 mN (dalam koordinat UTM,
Zona 49 S). Daerah penelitian memiliki luas 5 x 5 km dengan skala peta 1 : 20.000.
Secara Gemorfologi daerah penelitian dibagi atas satu bentuk asal yaitu bentuk asal
vulkanik, kemudian dibagi menjadi bentuk lahan berupa lereng vulkanik tengah (V4), lereng
vulkanik bawah (V5), kaki vulkanik (V6), lembah vulkanik (V24) dan bukit intrusi (V25). Pola
pengaliran yang berkembang pada daerah telitian yaitu sub parallel, merupakan pola aliran
dasar yang dibentuk oleh kelerengan yang seragam serta mengalir melalui bedrock stream.
Stratigrafi daerah pelitian dibagi menjadi tujuh Satuan, urutan Satuan dari yang paling
tua ke muda adalah Satuan batugamping terumbu Sampung (Miosen Awal), Intrusi andesit
(Miosen Tengah), Satuan lava andesit Sidoramping (Plistosen), Satuan breksi piroklastik
Lawu (Holosen), Satuan lava andesit Lawu (Holosen), Satuan tuf Lawu (Holosen) dan Satuan
endapan lahar Lawu (Holosen).
Struktur geologi yang berkembang adalah kekar dengan arah umum berarah barat laut
tenggara dan sesar sesar naik maupun sesar mendatar dengan arah gaya utama berarah barat
timur dan utara - selatan.
Daerah penelitian dibedakan menjadi 2 jenis fasies gunungapi yaitu fasies proksimal
secara morfologi berkembang pada daerah lereng tengah lereng bawah disusun oleh intrusi
andesit, breksi piroklastik dan lava serta fasies medial yang secara morfologi berkembang pada
daerah kaki gunungapi lembah disusun oleh endapan lahar, sedangkan tatanan stratigrafi pada
daerah penelitian dikelompokkan menjadi 2 Satuan vulkanostratigrafi, urutan dari tua ke muda
yaitu Khuluk Sidoramping kemudian Khuluk Lawu.

Kata kunci : vulkanostratigrafi, fasies gunungapi, Khuluk Sidoramping, Khuluk Lawu,


endapan lahar, fasies proksimal, fasies medial
1. PENDAHULUAN dengan morfologi berupa lereng dengan
Indonesia tidak hanya menyimpan kemiringan lereng agak curam curam
sumberdaya alam seperti batubara, minyak (15 - 70%) berdasarkan klasifikasi van
ataupun endapan bijih lainnya, tetapi juga Zuidam, (1983) dan memiliki relief
indonesia memliki sumberdaya gunungapi antara 850 1100 mdpl dengan bentuk
yang sangat bisa memberikan profit untuk lembah V serta tingkat pelapukan dan
masyarakat yang ada sekitarnya. Tetapi pengerosian sedang. Pola pengaliran
penelitian tentang gunungapi pada saat ini yang berkembang adalah sub parallel.
masih sangat terbatas. Penelitian gunungapi Morfostruktur pasif berupa resistensi
yang sudah menjadi fosil atau gunungapi batuan yang kuat dan kelerengan serta
purba masih sangat kurang padahal litologi berupa lava andesit Lawu, lava
dahulunya pada daerah-daerah yang andesit Sidoramping, breksi laharik
merupakan bagian dari Ring Of Fire ini Lawu dan tuf Lawu. Morfostruktur aktif
terjadi aktifitas vulkanisme seperti pada atau aspek yang berhubungan dengan
saat ini. struktur geologi pada satuan bentuk
Daerah telitian yang terletak di lahan ini berupa proses vulkanisme,
Daerah Bandar Dawung dan Sekitarnya, gaya endogen dan sesar.
Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten 2. Satuan Geomorfik Lereng Vulkanik
Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, Bawah (V5)
merupakan daerah dengan kondisi geologi Satuan bentuk lahan ini terdapat
yang kompleks, yang dahulunya pada bagian tengah daerah penelitian
merupakan kompleks gunungapi, dan dan menempati luasan 25% dari seluruh
kenampakan sekarang ini menyerupai daerah penelitian. Satuan ini dicirikan
lereng-lereng hasil erupsi yang memanjang dengan morfologi berupa lereng dengan
yang dipengaruhi sesar geser maupun sesar kemiringan lereng miring agak curam
turun sehingga sangat ideal untuk dijadikan (7 - 30%) berdasarkan klasifikasi van
sebagai tempat latihan pemetaan geologi. Zuidam, (1983) dan memiliki relief
Selain keadaan struktur geologi yang antara 750 850 mdpl dengan bentuk
kompleks, daerah pelitian merupakan lembah V serta tingkat pelapukan dan
daerah lereng G. Lawu yang selalu menarik pengerosian sedang. Pola pengaliran
dipelajari untuk mengetahui kegiatan yang berkembang adalah sub parallel.
vulkanisme masa lampau dan fasies Morfostruktur pasif berupa resistensi
vulkaniknya. batuan yang sedang dan kelerengan serta
litologi berupa breksi laharik Lawu, tuf
2. GEOLOGI DAERAH PENELITIAN Lawu, lava andesit Sidoramping dan
2.1. Geomorfologi endapan lahar Lawu. Morfostruktur aktif
Berdasarkan klasifikasi bentang alam atau aspek yang berhubungan dengan
menurut van Zuidam (1983), daerah struktur geologi pada satuan bentuk
penelitian terdiri Bentukan Asal Vulkanik. lahan ini berupa proses vulkanisme,
Bentukan Asal Vulkanik ini terdiri dari struktur dan gaya endogen.
Bentuklahan Lereng Vulkanik Tengah 3. Satuan Geomorfik Kaki Vulkanik (V6)
(V4), Bentuklahan Lereng Vulkanik Bawah
(V5), Kaki Vulkanik (V6), Lembah Satuan bentuk lahan ini terdapat
Vulkanik (V24), dan Bukit Intrusi (V25). pada bagian tengah daerah penelitian
1. Satuan Geomorfik Lereng Vulkanik dan menempati luasan 25% dari seluruh
Tengah (V4) daerah penelitian. Satuan ini dicirikan
Satuan bentuk lahan ini terdapat dengan morfologi berupa kaki
pada bagian timur daerah penelitian dan gunungapi dengan kemiringan lereng
menempati luasan 35% dari seluruh hampir datar miring (0 - 15%)
daerah penelitian. Satuan ini dicirikan berdasarkan klasifikasi van Zuidam,
(1983) dan memiliki relief antara 650 kelerengan serta litologi berupa intrusi
750 mdpl dengan bentuk lembah V andesit dan batugamping terumbu
serta tingkat pelapukan dan pengerosian Sampung. Morfostruktur aktif atau
sedang. Pola pengaliran yang aspek yang berhubungan dengan
berkembang adalah sub parallel. struktur geologi pada satuan bentuk
Morfostruktur pasif berupa resistensi lahan ini berupa proses vulkanisme dan
batuan yang sedang dan kelerengan serta gaya endogen.
litologi berupa breksi laharik Lawu, tuf 2.2. Stratigrafi
Lawu, endapan lahar Lawu. Penulis menggunakan penamaan
Morfostruktur aktif atau aspek yang satuan stratigrafi dengan sistem penamaan
berhubungan dengan struktur geologi litostratigrafi tidak resmi, yaitu penamaan
pada satuan bentuk lahan ini berupa satuan batuan berdasarkan ciriciri fisik
proses vulkanisme dan struktur. litologi yang dapat diamati di lapangan
4. Satuan Geomorfik Lembah Vulkanik dengan melihat jenis litologi dan
(V24) keseragaman, dan posisi stratigrafi
Satuan bentuk lahan ini terdapat terhadap satuansatuan yang ada di bawah
pada bagian barat daerah penelitian dan maupun di atasnya. Satuan batuan dibagi
menempati luasan 7% dari seluruh berdasarkan dari karakteristik litologi,
daerah penelitian. Satuan ini dicirikan termasuk tekstur batuan, struktur batuan
dengan morfologi berupa lembah dan komposisi mineral serta dominasi
dengan kemiringan hampir datar - landai penyebaran suatu litologi. Hubungan
(0 - 7%) berdasarkan klasifikasi van stratigrafi antara satuan batuan yang satu
Zuidam, (1983) dan memiliki relief dengan yang lain berdasarkan pada posisi
antara 650 700 mdpl dengan bentuk stratigrafi.
lembah V serta tingkat pelapukan dan Kesebandingan dalam pembagian
pengerosian kuat. Pola pengaliran yang satuan batuan tersebut telah peneliti
berkembang adalah sub parallel. sebandingkan dengan stratigrafi daerah
Morfostruktur pasif berupa resistensi Tawangmangu, Karanganyar pada peta
batuan yang sedang dan kelerengan serta geologi lembar Ponorogo, Jawa Timur
litologi berupa breksi laharik Lawu dan (Sampurno dan Samodra, 1997) serta
endapan lahar Lawu. Morfostruktur aktif merujuk pada penamaan Satuan pada peta
atau aspek yang berhubungan dengan geologi Gunungapi Lawu, Jawa Tengah
struktur geologi pada satuan bentuk Jawa Timur (Abdurachman, Suganda,
lahan ini berupa proses vulkanisme dan Hendrasto dan Irianto, 2006). Maka penulis
struktur. membagi stratigrafi daerah penelitian
5. Satuan Geomorfik Bukit Intrusi (V25) menjadi 7 Satuan batuan. Urutan stratigrafi
Satuan bentuk lahan ini terdapat daerah penelitian dari tua sampai muda,
pada bagian tengah daerah penelitian sebagai berikut :
dan menempati luasan 8% dari seluruh 1. Satuan batugamping - terumbu
daerah penelitian. Satuan ini dicirikan Sampung
dengan morfologi berupa lereng dengan Satuan batugamping-terumbu
kemiringan lereng agak curam curam Sampung disusun oleh batuan sedimen
(15 - 70%) berdasarkan klasifikasi van karbonat non klastik yakni batugamping
Zuidam, (1983) dan memiliki relief terumbu dengan sisipan batuan karbonat
antara 1000 >1250 mdpl dengan klastik yaitu kalkarenit setebal 30 cm,
bentuk lembah V serta tingkat pemerian batugamping terumbu sebagai
pelapukan dan pengerosian sedang. Pola berikut warna Segar abu-abu, warna
pengaliran yang berkembang adalah sub lapuk coklat, struktur masif, tekstur
parallel. Morfostruktur pasif berupa amorf, dengan komposisi
resistensi batuan yang kuat dan monomineralik karbonat sedangkan
pemerian sisipan sebagai berikut warna Satuan batugamping - terumbu
Segar abu-abu, struktur masif, ukuran Sampung dengan jenis batuannya
butir arenit (0,062 2 mm), pemilahan intermediet andesit dan intrusi yang
baik, bentuk butir membundar, kemas menerobos Satuan breksi - piroklastik
tertutup, komposisi mineral disusun oleh Lawu dengan jenis batuannya
alokem berupa interklas, mikrit berupa intermediet andesit. Intrusi pertama
kalsit dan sparit berupa karbonat, nama dideskripsikan sebagai berikut, batuan
batuan adalah kalkarenit. beku intermediet andesit, warna Segar
Berdasarkan hasil analisa fosil abu-abu, warna lapuk coklat kehitaman,
pada LP 166 yang diambil melalui struktur masif, tekstur kristalinitas
sampel di permukaan didapatkan umur hipokristalin, granularitas fanerik halus
relatif menurut Blow (1969), yaitu N5 - kasar (<1 30 mm), bentuk kristal
N6 (Miosen Awal). Fosil Foram subhedral, relasi inequigranular
Plankton yang di dapatkan antara lain porfiritik, komposisi mineral secara
adalah Globigerina foliata, megaskopis berupa plagioklas, piroksen,
Globoquadrina globularis, Orbulina hornblende, kuarsa dan massa dasar
universa, Globigerina praebulloides, gelas. Sedangkan intrusi yang kedua
Globigerina leroy, Globigerina dideskripsikan sebagai berikut, batuan
venezuelana, Globorotalia siakensis. beku intermediet andesit, warna Segar
Dari data-data yang didapatkan tersebut, abu-abu, warna lapuk abu-abu
penulis menyimpulkan bahwa umur kecoklatan, struktur masif, tekstur
relatif Satuan batugamping-terumbu kristalinitas hipokristalin, granularitas
Sampung adalah N5 - N6 (Miosen afanitik fanerik sedang, bentuk kristal
Awal) berdasarkan kemunculan awal subhedral, relasi inequigranular
dari fosil Globigerina foliata dan vitroverik, dengan komposisi mineral
kemunculan akhir dari fosil plagioklas, hornblende, kuarsa, piroksen
Globoquadrina globularis. dan massa dasar gelas.
Sedangkan hasil dari analisa foram Penentuan umur dari intrusi ini
bentos kecil pada LP 166 yang mengacu pada peneliti terdahulu dan
dilakukan penulis menunjukkan didapatkan umur Miosen Awal - Miosen
lingkungan batimetri daerah pelitian Tengah (Sampurno dan Samudro, 1997).
berada di Neritik Tengah (Barker, 1960). Penentuan tersebut didasarkan peneliti
Dengan hadirnya fosil Textularia terdahulu karena peneliti tidak
pseudogramen, Loxostomum limbatum, melakukan dating pada batuan intrusi
Cassidulinoides parkerianus, Discorbis tersebut.
sp., Cibicides subhaidingerii, Lingkungan pengendapan dari
Pseudopolymorphina ligua, Nodosaria intrusi andesit ini adalah Darat. Hal
vertebralis. Satuan batugamping - tersebut didasarkan oleh struktur dari
terumbu Sampung memiliki hubungan singkapan yang ditemui di daerah
tidak selaras dengan intrusi andesit. penelitian relatif masif. Intrusi andesit
Dikarenakan intrusi tersebut memotong menerobos bidang perlapisan Satuan
bidang perlapisan Satuan batugamping- batugamping-terumbu Sampung yaitu
terumbu Sampung dengan dijumpai batulempung karbonatan. Hal tersebut
adanya matamorfisme kontak pada ditandai dengan adanya efek bakar yang
lapisan batulempung karbonatan dan mengenai lapisan batulempung
batugamping terumbu berupa hornfels karbonatan, sehingga hubungan intrusi
dan marmer. andesit dengan Satuan lain adalah tidak
2. Intrusi andesit selaras.
Pada daerah penelitian terdapat 2 3. Satuan lava andesit Sidoramping
intrusi yaitu intrusi yang menerobos
Satuan lava-andesit Sidoramping memiliki komposisi mineral plagioklas,
disusun oleh batuan beku intermediet hornblende, kuarsa, matrik berupa
vulkanik yakni batuan beku andesit, batupasir tufan dan semen berupa silika.
warna Segar abu-abu, warna lapuk Penentuan umur dari Satuan
coklat, struktur berupa aliran, lubang breksi-piroklastik Lawu ini mengacu
lubang gas (scoria) dan masif, relasi pada peneliti terdahulu dan didapatkan
inequigranular vitroverik, kristalinitas umur Holosen (Sampurno dan Samudro,
hipokristalin, granularitas afanitik 1997). Penentuan tersebut didasarkan
fanerik sedang (<1 5 mm), bentuk peneliti terdahulu karena peneliti tidak
kristal subhedral, komposisi mineral melakukan dating pada sampel Satuan
secara megaskopis berupa plagioklas, tersebut.
piroksen, hornblende, kuarsa dan massa Satuan breksi-piroklastik Lawu
dasar gelas. diendapkan di lingkungan darat -
Penentuan umur dari Satuan lava- gunungapi dengan fasies proximal
andesit Sidoramping ini mengacu pada (Bogie & Mackenzie, 1998). Fasies ini
peneliti terdahulu dan didapatkan umur dicirikan dengan lokasi yang berada
Plistosen Tengah (Sampurno dan dekat dengan sumber atau fasies pusat.
Samudro, 1997). Penentuan tersebut Asosiasi batuan pada fasies ini
didasarkan peneliti terdahulu karena didominasi oleh breksi piroklastik
peneliti tidak melakukan dating pada dengan sisipan lava andesit serta
sampel Satuan tersebut. perulangan antara breksi piroklastik
Satuan lava-andesit Sidoramping dengan lava andesit. Hubungan Satuan
diendapkan di lingkungan darat - breksi-piroklastik Lawu dengan satuan
gunungapi dengan fasies proximal di atasnya yaitu Satuan lava-andesit
(Bogie & Mackenzie, 1998). Fasies ini Lawu yang merupakan produk primer
dicirikan dengan lokasi yang berada dari hasil erupsi Gunung Lawu adalah
dekat dengan sumber atau fasies pusat. selaras.
Asosiasi batuan pada fasies ini 5. Satuan lava andesit Lawu
didominasi oleh lava andesit. Hubungan Satuan lava-andesit Lawu disusun
Satuan lava-andesit Sidoramping oleh batuan beku intermediet vulkanik
dengan satuan di atasnya yaitu Satuan yakni batuan beku andesit, warna Segar
breksi-piroklastik Lawu yang abu-abu, warna lapuk coklat, struktur
merupakan produk primer dari hasil berupa lubang lubang gas (scoria),
erupsi Gunung Lawu adalah selaras. aliran dan masif, relasi inequigranular
Hubungan Satuan lava-andesit vitroverik, kristalinitas hipokristalin,
Sidoramping dengan satuan di atasnya granularitas fanerik halus fanerik
yaitu Satuan breksi-piroklastik Lawu sedang (<1 5 mm), bentuk kristal
yang merupakan produk primer dari subhedral, komposisi mineral secara
hasil erupsi Gunung Lawu adalah megaskopis berupa plagioklas,
selaras. hornblende, kuarsa dan massa dasar
4. Satuan breksi piroklastik Lawu gelas. Pada Satuan ini setempat terdapat
Satuan ini tersusun oleh litologi sisipan berupa breksi piroklastik yang
berupa breksi piroklastik dengan sisipan telah lapuk. Pemerian sisipan sebagai
lava andesit yang bergradasi dengan berikut, breksi piroklastik, warna coklat
pemerian sebagai berikut, breksi kehitaman, terpilah buruk, memiliki
piroklastik, warna abu- abu, terpilah kemas tertutup dengan bentuk butir agak
buruk, kemas terbuka, bentuk butir agak menyudut, memiliki ukuran butir mulai
menyudut, ukuran butir kerikil - dari kerikil berangkal (2 256 mm),
bongkah (2 - >256 mm) dengan struktur fragmen berupa andesit dan matrik
masif dan aliran, fragmen andesit, berupa pasir tufan.
Penentuan umur dari Satuan lava- Satuan tuf Lawu diendapkan di
andesit Lawu ini mengacu pada peneliti lingkungan darat - gunungapi dengan
terdahulu dan didapatkan umur Holosen fasies proximal (Bogie & Mackenzie,
(Sampurno dan Samudro, 1997). 1998). Fasies ini dicirikan dengan lokasi
Penentuan tersebut didasarkan peneliti yang berada agak jauh dari sumber dan
terdahulu karena peneliti tidak mendekati akhir dari fasies proksimal.
melakukan dating pada sampel Satuan Asosiasi batuan pada fasies ini
tersebut. didominasi oleh tuf bersisipan dengan
Satuan lava-andesit Lawu batulapili. Hubungan Satuan tuf Lawu
diendapkan di lingkungan darat - dengan Satuan di atasnya yaitu Endapan
gunungapi dengan fasies proximal lahar lawu yang merupakan produk
(Bogie & Mackenzie, 1998). Fasies ini primer dari hasil erupsi Gunung Lawu
dicirikan dengan lokasi yang berada adalah selaras.
dekat dengan sumber atau fasies pusat. 7. Satuan endapan lahar Lawu
Asosiasi batuan pada fasies ini Endapan lahar pada daerah
didominasi oleh lava andesit bersisipan penelitian sangat beraneka ragam
dengan breksi piroklastik. Hubungan komposisinya meliputi andesit, basal,
Satuan lava-andesit Lawu dengan satuan tuf, breksi piroklastik, material berupa
di atasnya yaitu Satuan tuf Lawu yang pasir dengan ukuran yang sangat
merupakan produk primer dari hasil bervariasi mulai dari ukuran pasir
erupsi Gunung Lawu adalah selaras. hingga bongkah.
6. Satuan tuf Lawu Penentuan umur dari Endapan
Satuan tuf Lawu disusun oleh lahar Lawu ini mengacu pada peneliti
batuan piroklastik yakni tuf, warna terdahulu dan didapatkan umur Holosen
Segar abu-abu, warna lapuk coklat, (Sampurno dan Samudro, 1997).
struktur masif, ukuran butir debu halus Penentuan tersebut didasarkan peneliti
(<0,04 mm), pemilahan baik, bentuk terdahulu karena peneliti tidak
butir membundar, kemas tertutup melakukan dating pada sampel Satuan
dengan komposisi mineral yaitu mineral tersebut.
sialis berupa kuarsa, mineral Endapan lahar Lawu diendapkan
ferromagnesian berupa hornblende dan di lingkungan darat - gunungapi dengan
mineral tambahan berupa debu halus. fasies medial (Bogie & Mackenzie,
Pada satuan ini terdapat sisipan batuan 1998). Fasies ini dicirikan dengan lokasi
piroklastik lainnya berupa batulapili, yang berada jauh dari sumber dan
warna Segar abu-abu, warna lapuk menjadi awal mulainya perubahan
coklat, struktur masif, ukuran butir litologi dari breksi piroklastik menuju ke
lapilus (2 - 64 mm), pemilahan buruk, endapan lahar. Semakin ke arah barat
bentuk butir agak menyudut, kemas dan barat daya endapan lahar ini
terbuka dengan komposisi mineral yaitu semakin dominan keberadaannya.
mineral sialis berupa kuarsa, mineral Hubungan Satuan endapan-lahar Lawu
ferromagnesian berupa hornblende dan dengan Satuan batugamping-terumbu
mineral tambahan berupa debu halus. Sampung adalah tidak selaras, kemudian
Penentuan umur dari Satuan tuf hubungan Satuan endapan-lahar Lawu
Lawu Lawu ini mengacu pada peneliti dengan Satuan lava-andesit
terdahulu dan didapatkan umur Holosen Sidoramping adalah tidak selaras
(Sampurno dan Samudro, 1997). sedangkan hubungan Satuan endapan-
Penentuan tersebut didasarkan peneliti lahar Lawu dengan Satuan yang lainnya
terdahulu karena peneliti tidak adalah selaras.
melakukan dating pada sampel Satuan 2.3. Struktur Geologi
tersebut. 1. Pola Kelurusan
Pola kelurusan daerah penelitian empat tahap. Metode tersebut dituangkan
diperoleh dari hasil penarikan kelurusan dalam diagram alir dan tahapan dari metode
sungai, bukit dan punggungan itu adalah sebagai berikut:
berdasarkan citra SRTM dapat dibagi 1. Tahap Pendahuluan (Pre field)
menjadi 1 pola arah dengan interpretasi Pada tahapan ini dilakukan
yaitu baratlaut-tenggara. persiapan penelitian di antaranya
2. Kekar dengan penentuan batas lokasi daerah
Struktur kekar di daerah penelitian penelitian, perizinan dan administrasi,
berkembang secara sistematis dengan studi literatur serta analisis peta
jenis kekar gerus dan tarik. Penentuan topografi. Daerah telitian penulis secara
tegasan purba dianalisis berdasarkan geologi merupakan daerah yang
kekar gerus yang jauh dari zona rekahan kompleks. Dilihat dari Struktur
dan sesar yang kemungkinan terbentuk Geologi, litologi penyusun dan
tidak dipengaruhi oleh proses geomorfologi. Sehingga daerah
pensesaran. Hasil analisis tegasan purba tersebut merupakan daerah yang ideal
daerah penelitian berarah tenggara dalam latihan pemetaan geologi.
selatan-baratlaut utara (1 : 70, N 155 2. Tahap Penelitian Lapangan (Field)
E). Tahapan penelitian lapangan
3. Sesar bertujuan untuk melakukan
Struktur sesar di daerah penelitian pengambilan data-data geologi primer
berkembang secara sistematis dan daerah terkait data primer yang
memiliki pola yang tertentu. dikumpulkan dari pengambilan data
Berdasarkan pola kelurusan lembah dan lapangan antara lain pemetaan geologi
struktur sesar berdasarkan interpretasi permukaan, pemetaan hidrogeologi
citra SRTM memperlihatkan arah-arah berupa pemetaan muka airtanah
umum tertentu. Berdasarkan arah berdasarkan sumur gali dan mata air.
umum tersebut, struktur sesar di daerah 3. Tahap Analisis dan Pengolahan Data
penelitian dapat dikelompokkan (Studio)
menjadi 2 arah yaitu utara selatan dan Pada tahapan ini dilakukan
barat - timur. analisis dan pengolahan data yang
Sedangkan dari hasil pengamatan dilakukan di laboratorium dan studio
lapangan dan analisis laboratorium disertai diskusi antara penulis dengan
didapatkan nama sesar menurut Rickard, pembimbing. Analisis dan pengolahan
1972 yaitu Sesar Naik Kiri Grojogan data ini harus berdasarkan atas konsep-
Sewu (Left Reverse Slip Fault), Sesar konsep geologi dan juga didukung dari
Naik Giri Layu (Reverse Slip Fault), studi referensi tentang topik terkait.
Sesar Mendatar Kanan Sepanjang (Right Adapun analisis yang dilakukan pada
Slip Fault), Sesar Mendatar Kiri tahapan ini diantaranya: analisis
Sepanjang (Reverse Left Slip Fault), petrografi, analisis paleontologi,
Sesar Naik Kiri Tengklik (Left Reverse analisis struktur geologi dan analisis
Slip Fault), Sesar Mendatar Kanan vulkanostratigrafi.
Karanglo (Normal Right Slip Fault),
Sesar Naik Kiri Plumbon (Left Reverse 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Slip Fault) Dan Sesar Naik Kanan Pembagian batuan atau endapan
Matesih (Right Reverse Slip Fault). gunungapi dimaksudkan untuk
menggolongkan batuan atau endapan
3. METODOLOGI PENELITIAN secara bersistem berdasarkan sumber,
Penelitian ini dilakukan berdasarkan deskripsi dan genesa (Sandi Stratigrafi
pemetaan geologi permukaan, Metode yang Indonesia, 1996). Batuan hasil dari
dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari kegiatan vulkanisme gunungapi merupakan
endapan primer, yang keluar ke permukaan lereng vulkanik bawah dan merupakan
bumi baik secara letusan/eksplosif atau penyusun morfologi dari pusat erupsi
secara lelehan/effusif. Pusat erupsi dapat hingga sampai ke daerah penelitian dan
berupa kepundan, kawah atau kaldera. masuk kedalam fasies proksimal.
Proses terbentuknya batuan atau endapan 4.1.2. Khuluk Lawu
gunungapi diwujudkan dengan istilah yang Khuluk Lawu ini terdiri dari
mencerminkan cara terbentuknya seperti beberapa Satuan penyusun stratigrafi
aliran lava, aliran piroklastik, dan intrusi. batuan gunungapi meliputi Satuan breksi-
Istilah Formasi yang lazim piroklastik Lawu, Satuan lava-andesit
digunakan untuk mandala sedimen diganti Lawu, Satuan tuf Lawu dan Satuan
dengan istilah Khuluk, mengacu pada SSI endapan-lahar Lawu.
(Sandi Stratigrafi Indonesia). Satuan Secara geografis daerah penelitian
stratigrafi yang lebih kecil dari Khuluk berada di barat daya dari pusat erupsi
adalah Gumuk. Sedangkan satuan yang Gunung Lawu ini. Produk erupsi Gunung
lebih besar dari Khuluk secara berurutan Lawu sangat bervariasi mulai dari jenis
adalah Bregada, Mandala dan Busur. material berupa aliran, batuan piroklastik
4.1. Vulkanostratigrafi Daerah jatuhan hingga endapan lahar hasil dari
penelitian letusan gunung tersebut kemudian terbawa
Berdasarkan hasil analisa data yang oleh media air hingga diendapkan pada
didapatkan, analisa secara langsung di suatu tempat. Letusan pada gunung ini
lapangan dan dari berbagai acuan, pada bertipe ekplosif atau letusan sehingga
lokasi penelitian secara vulkanostratigrafi materialnya pun sangat bervariasi, berbeda
dapat dikelompokkan menjadi 2 Khuluk dengan Gunung Sidoramping yang secara
yaitu Khuluk Sidoramping dan Khuluk erupsi bertipe effusif.
Lawu. Hal tersebut didasarkan atas susunan 4.1.3. Intrusi Gunung Purung
statigrafi hasil dari proses vukanisme Gunung Purung merupakan gunung
Gunung Sidoramping dan Lawu dalam yang berada di sebelah barat Gunung Lawu.
beberapa periode letusan yang tersusun Gunung ini terbentuk oleh suatu intrusi
oleh stratigrafi yang akan di urutkan dari yang menerobos Satuan breksi-piroklastik
yang tua ke yang muda. Lawu. Merupakan hasil kegiatan
4.1.1. Khuluk Sidoramping vulkanisme yang merupakan intrusi
Khuluk sidoramping ini hanya dangkal yang biasanya disebut sebagai
terdiri oleh satu Satuan yaitu Satuan lava- kerucut parasiter, pada saat magma akan
andesit Sidoramping. Satu-satunya hasil keluar terjadi pembekuan magma pada
produk erupsi dari Gunung Sidoramping tubuh gunungapi tersebut dan sebagian
yang masih meninggalkan jejak hingga saat keluar sebagai lava. Intrusi ini disusun oleh
ini (Sampurno dan Samodra, 1997). batuan beku intermediet vulkanik andesit.
Ciri khas lava andesit pada Satuan Dari pengamatan morfologi di lapangan
lava-andesit Sidoramping tersebut menunjukkan bahwa intrusi tersebut
berstruktur aliran, lubang-lubang gas merupakan bagian dari Satuan breksi-
(scoria) dan masif. piroklastik Lawu.
Aliran lava secara umum mengalir 4.1.4. Intrusi Gunung Gamping
ke arah barat hingga menyebar ke daerah Gunung Gamping merupakan bukit
penelitian, tipe letusan yang di hasilkan yang berada pada sebelah barat daya peta
oleh gunung tersebut adalah erupsi yang yang terbentuk oleh intrusi dengan litologi
bersifat effusif atau aliran sehingga tidak di berupa batuan beku intermediet vulkanik
jumpai batuan piroklastik jatuhan pada andesit. Intrusi tersebut menerobos Satuan
Khuluk Sidoramping ini. yang lebih tua pada daerah penelitian yaitu
Secara morfologi Satuan ini Satuan batugamping-terumbu Sampung.
menempati lereng vulkanik tengah hingga Secara morfologi, intrusi tersebut berada
pada daerah lembah vulkanik yang secara selain dari morfologi, juga dapat ditentukan
stratigrafi intrusi tersebut ditutupi oleh dari statigrafi penyusun daerah penelitian
batuan Gunungapi Lawu. Sehingga intrusi dapat dibagi atau dikelompokkan menjadi
ini lebih tua dari batuan Gunungapi Lawu sebagai berikut : Satuan lava andesit
(Sampurno dan Samodra, 1997). Sidoramping, Satuan breksi piroklastik
4.2. Prinsip Dasar Fasies Gunungapi Lawu, Satuan lava andesit Lawu dan
Fasies Gunungapi dapat dilakukan Satuan tuf Lawu.
dengan pendekatan-pendekatan geologi 4.2.2. Fasies Medial Daerah Penelitian
maupun geomorfologi dengan melihat Fasies medial merupakan fasies
adanya statigrafi penyusun, struktur yang terletak setelah fasies proksimal
geologi maupun sedimen dan dengan (proximal facies) yang menempati
melihat bentuklahan pada daerah morfologi kaki gunungapi lembah
penelitian. Pendekatan ini dapat dilakukan gunungapi pada daerah penelitian. Pada
pada suatu model gunungapi baik yang daerah penelitian fasies medial yang
mengalami letusan dan menjadi suatu terletak diantara kaki gunungapi lembah
kaldera. Pada dasarnya berdasarkan dari gunungapi dapat diinterpretasi dari pola
batuan gunungapi mulai dari pusat erupsi aliran yang berkembang pada daerah
sampai dengan daerah pengendapan paling tersebut. Pola aliran Subparallel dengan ciri
jauh, pada daerah penelitian dapat dibagi aliran yang berasal dari satu titik aliran dan
menjadi dua fasies yaitu fasies dekat bercabang ke beberapa arah aliran, yang
(Proximal Facies) dan fasies medial menandakan daerah tersebut merupakan
(Medial Facies). Fasies proksimal suatu dataran kaki gunungapi maupun
umumnya berada lereng atas hingga lereng lembah gunungpi.
bawah gunungapi sedangkan fasies medial Fasies medial pada daerah
berada pada kaki gunungapi hingga lembah penelitian tersusun oleh litologi berupa
gunungapi. Menurut Sutikno Bronto, 2006 Satuan endapan-lahar Lawu, berupa
berdasarkan dari litologi penyusun, fasies material campuran hasil letusan Gunung
dekat litologi penyusunnya adalah berupa Lawu berupa pecahan andesit, basal, tuf,
perlapisan tidak menerus aliran lava, breksi breksi piroklastik dan material pasir yang
piroklastik, aglomerat yang meliputi aliran terbawa oleh media air kemudian
dan jatuhan piroklastka, intrusi-intrusi kecil diendapkan pada lokasi yang jauh dari
yang dangkal dan tuf. Sedangkan fasies pusat erupsi dan belum mengalami
medial litologi penyusunnya adalah kompaksi. Satuan ini penyebarannya
endapan lahar, tuf dan breksi laharik. berada pada bagian tengah daerah
4.2.1. Fasies Proksimal Daerah penelitian hingga barat daya pada daerah
Penelitian penelitian. Satuan ini morfologinya berupa
Fasies proksimal merupakan fasies sungai-sungai yang berarah dari timur ke
yang terletak setelah fasies pusat (central barat dengan pola pengaliran yang
facies) yang menempati morfologi lereng berkembang adalah Subparallel.
tengah sampai lereng bawah pada daerah 4.3. Hasil Analisis
penelitian. Pada daerah penelitian fasies Dari penjelasan tersebut disertai
proksimal yang terletak diantara lereng dengan adanya bukti-bukti yang didapatkan
tengah lereng bawah dapat diinterpretasi dalam pengelompokan fasies gunungapi,
dari pola aliran yang berkembang pada Penulis juga mengacu kepada permodelan
daerah tersebut. Pola aliran Subparallel dari Bogie dan Mackenzine (1998) yang
dengan ciri aliran yang berasal dari satu menjelaskan pengelompokan fasies
titik aliran dan bercabang ke beberapa arah gunungapi juga dilihat dari kesamaan
aliran, yang menandakan daerah tersebut batuan penyusun yang terbentuk dari 2
merupakan suatu lereng dan punggungan erupsi pusat yaitu letusan Gunung
suatu gunungapi. Penentuan fasies ini Sidoramping dan Gunung Lawu maka
Penulis menarik kesimpulan bahwa pada Plumbon (Left Reverse Slip Fault) Dan
daerah penelitian dapat dibagi menjadi 2 Sesar Naik Kanan Matesih (Right
fasies gunungapi yaitu fasies proksimal dan Reverse Slip Fault).
fasies medial. 4. Daerah penelitian dibedakan menjadi 2
Sedangkan tatanan jenis fasies gunungapi yaitu fasies
vulkanostratigrafi gunungapi pada daerah proksimal dan fasies medial, sehingga
penelitian yang terbagi menjadi 2 khuluk dari pembagian kedua fasies tersebut
yaitu khuluk Sidoramping dan khuluk tatanan stratigrafi pada daerah
Lawu maka Penulis dapat menarik penelitian dapat dikelompokkan
kesimpulan yaitu pada daerah penelitian menjadi 2 Satuan vulkanostratigrafi,
urutan-urutan stratigrafi gunungapi dari tua urutan dari tua ke muda yaitu Khuluk
ke muda yaitu Satuan lava-andesit Sidoramping kemudian Khuluk Lawu.
Sidoramping, Satuan breksi-piroklastik
Lawu, Satuan lava-andesit Lawu, Satuan DAFTAR PUSTAKA
tuf Lawu dan Satuan endapan-lahar Lawu. Asikin, S. (1987) : Evolusi geologi Jawa
Tengah dan sekitarnya ditinjau dari
5. KESIMPULAN segi tektonik dunia yang baru
1. Daerah penelitian dibagi menjadi 5 (Geologi Struktur Indonesia).
Satuan geomorfik, yaitu : Satuan Laporan tidak dipublikasikan,
geomorfik Lereng Vulkanik Tengah disertasi, Dept. Teknik Geologi
(V4), Lereng Vulkanik Bawah (V5), ITB, Bandung.
Kaki Vulkanik (V6), Lembah Vulkanik Barker, R. W. (1960) : Taxonomic Notes.
(V24) dan Bukit Intrusi (V25). Society of Economic Paleontologist
2. Daerah penelitian dibagi menjadi 7 and Mineralogist, Oklahoma,
Satuan batuan. Urutan dari tua ke muda United States of America.
sebagai berikut : Satuan batugamping Bogie, I., and Mackenzie, M. (1998) : The
terumbu Sampung (Miosen Awal), Application of a Volcanic Facies
Intrusi andesit (Miosen Tengah), Model to an Andesitic stratovolcano
Satuan lava andesit Sidoramping Hosted Geothermal System at
(Plistosen), Satuan breksi - piroklastik Wayang Windu, Java, Indonesia.
Lawu (Holosen), Satuan lava andesit Proceedings of New Zealand
Lawu (Holosen), Satuan tuf Lawu Geothermal Workshop, Auckland
(Holosen), dan Satuan endapan - lahar New Zealand.
Lawu (Holosen). Blow, W.H. (1969) : Late Middle Eocene to
3. Struktur geologi pada daerah penelitian Recent planktonic foraminiferal
adalah kekar dan sesar dengan arah biostratigraphy. In Bronnimann P.,
umum kekar relatif berarah barat laut & Renz, H.H., eds., 1st. Conf. on
tenggara. Sedangkan dari hasil planktonic microfossils, Proc.
pengamatan lapangan dan analisis (Geneva,1967). E.J. Brill, Leiden, v.
laboratorium didapatkan nama sesar 1, h. 199-412.
menurut Rickard, 1972 yaitu Sesar Naik Bronto, S. (1994) : Erupsi gunungapi,
Kiri Grojogan Sewu (Left Reverse Slip bahaya dan penanggulangannya.
Fault), Sesar Naik Giri Layu (Reverse Simposium Nasional
Slip Fault), Sesar Mendatar Kanan MitigasiBencana Alam, Universitas
Sepanjang (Right Slip Fault), Sesar Gadjah Mada, 16-17September,
Mendatar Kiri Sepanjang (Reverse Left Yogyakarta, 20h.
Slip Fault), Sesar Naik Kiri Tengklik Bronto, S. (1996) : Fasies gunung api dan
(Left Reverse Slip Fault), Sesar aplikasinya. Jurnal Geologi
Mendatar Kanan Karanglo (Normal Indonesia, Vol. 1 No. 2.
Right Slip Fault), Sesar Naik Kiri
Bronto, S. (1996) : Volcanoes and their Sandi Stratigrafi Indonesia (1996) : Sandi
volcanic hazard map preparations. Stratigrafi Indonesia,
Prosiding EMNHD-2, Yogyakarta, dipublikasikan oleh Ikatan Ahli
V.3. Geologi Indonesia.
Bronto, S. (2000) : Merapi Volcano Simandjuntak, T.O., dan Barber, A.J.
Borobudur, Badan Geologi (1996) : Contrasting tectonic styles
Kementerian Energi dan in the Neogene orogenic belts of
Sumberdaya Mineral, Bandung. Indonesia. In: Hall, R., Blundell,
Dunham, R. J. (1962) : Classification of D.J. (Eds.), Tectonic Evolution of
Carbonate Rocks according to SE Asia. Geological Society of
depositional texture, in Ham, W. E., London Special Publication, 106, p.
ed., Classification of carbonate 185-201.
rocks. Am. Association Petroleum Siswowidjoyo, S., Suryo, I. dan Yokoyama,
Geologist Mem.1, p.108-121. I. (1995) : Magma eruption rates of
Fisher, R.V. dan Scmincke, H.U. (1984) : Merapi volcano, Central Java,
Pyroklastic Rocks, Springer Verlag, Indonesia during one century
h 472. (1890-1992). Bull. Volcanology 57.
Howard, A.D. (1967) : Drainage Analysis Streckeisen, A. (1974) : Classification and
in Geologic Interpretation, A. nomenclature of plutonic rocks :
Summation, The American Recommendations of the IUGS
Association of Petroleum Geologist Subcommission on the Systematics
Bulletin, Vol. 51, No. 11, 2246 of Igneous Rocks, Geologische
2259. Rundschau Internationale
Kusumadinta, K. (1979) : Data dasar Zeitschrift fr Geologie, Stuttgart.
Gunungaapi, Direktorat Tucker, M.E., and Wright. V.P. (1990) :
Vulkanologi, Bandung. Carbonate Sedimentology,
Paripurno, E, T. dan staff asisten. (2014) : Blackwell Scientific
Buku Panduan Praktikum Publication, London.
Vulkanologi, Laboratorium Untung, M. dan Sato, Y. (1978) : Gravity
Vulkanologi Jurusan Teknik and Geological Studies in Java,
Geologi, Fakultas Teknologi Indonesia, Geological Survey of
Mineral, Universitas Pembangunan Indonesia, Bandung dan Geological
Nasional Veteran Yogyakarta. Survey of Japan, Tokyo.
Pulunggono, A. dan Martodjojo, S. (1994) : Untung, M. dan Wiriosudarmo, G (1975) :
Perubahan Tektonik Paleogen Pola struktur Jawa dan Madura
Neogen merupakan Peristiwa sebagai hasil penafsiran
Tektonik Terpenting di Jawa, pendahuluan data gaya berat,
Prosiding Geologi dan Geotektonik Geologi Indonesia, vol. 2, no. 1, hal.
Pulau Jawa, Jurusan Teknik 1524.
Geologi UGM, 37-50. Sigurdsson, H. (2000) : Lahars. dalam
Rittman, A. (1953) : Magmatic character Encyclopedia of Volcanoes (Vol.1).
and tectonic position of the San Diego: Academic Press.
Indonesian volcanoes. Bull. Travis, R. B. (1955) : Classification of
Volcanology 14. Rocks 4th edition. Colorado School
Sampurno, and Samodra, H. (1996) : of Mines, Colorado.
Geological Map of The Ponorogo Van Bemmelen, R.W. (1949) : The
Quadrangle, Jawa scale 1: Geology of Indonesia, Vol. IA:
100.000, Geological Research and General Geology of Indonesia and
Development Center, Bandung. Adjacent Archipelagoes, The
Hague.
Van Gorsel, J.T., D. Kadar & P.H. Mey Roger G. Walker and Noel P.
(1989) : Central Java Fieldtrip 27- James, Geological Association of
30 October 1989. Indonesian Canada, June 1992 P. 265-406
Petroleum Association Field Trip Williams, H. dan McBirney, A.R. (1979) :
Guidebook, p.1-67. Volcanology. Freeman, Cooper, San
Van Zuidam (1983) : Guide to Francisco, h.135-142.
Geomorphologic Aerial Williams, H, Turner, F.J dan Gilbert C.M
Photographic Interpretation and (1982) : Petrography, An
Mapping. International For Introduction to the study of rocks in
Aerospace Surface And Earth thin section, 2st edition, W.H.
Science (ITC). Enschede. The Freeman and Company in New
Netherlands. hal 29-91. York, h 626.
Walker, (1984) : Facies Models : Response
to Sea Level Change, edited by

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Gambar 1. Peta Fasies Gunungapi daerah penelitian


Gambar 2. Pemerian Peta Fasies Gunungapi

Gambar 3. Pemodelan Fasies Gunungapi daerah penelitian


menurut Bogie dan Mackenzie, 1998
Gambar 4. Peta Vulkanostratigrafi daerah penelitian

Gambar 5. Kolom Vulkanostratigrafi daerah penelitian